Artikelilmiahs

Menampilkan 51.801-51.820 dari 51.854 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5180155220A1A019114ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI SAWI HIJAU (Brassica juncea L.) DI DESA SUKALAKSANA KECAMATAN SAMARANG KABUPATEN GARUTUsahatani sawi hijau merupakan komoditas sayuran daun yang rentan terhadap fluktuasi harga pasar yang tinggi. Pemahaman terhadap struktur pembiayaan yang riil, termasuk komponen biaya implisit yang kerap tidak tercatat, penting untuk mengetahui kondisi finansial usahatani secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik petani serta menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan dan kelayakan finansial usahatani sawi hijau di Desa Sukalaksana.
Penelitian dilaksanakan di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada satu musim tanam. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan pengambilan sample menggunakan metode sensus, didapatkan 60 petani. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis dengan metode tabulasi biaya dan pendapatan, serta uji kelayakan finansial yang meliputi Revenue Cost Ratio (R/C Ratio), Break-Even Point (BEP), produktivitas modal, dan produktivitas tenaga kerja.
Pada musim tanam yang diamati, rata-rata usahatani sawi hijau di Desa Sukalaksana per 0,29 hektar memperoleh penerimaan sebesar Rp11.444.000 dan total biaya sebesar Rp2.720.941, sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp8.723.059 per musim tanam dan nilai keuntungan sebesar Rp8.314.726. Nilai R/C Ratio yang diperoleh adalah 4,26, dengan BEP Penerimaan sebesar Rp945.850, BEP Produksi sebesar 1.360,47 kg, dan BEP Harga sebesar Rp472,92/kg pada harga jual rata-rata Rp2.000/kg. Produktivitas modal (π/C Ratio) tercatat sebesar 310%, dan produktivitas tenaga kerja sebesar Rp408.879/HOK, yang berada di atas standar upah buruh tani harian lokal sebesar Rp50.000/HOK. Berdasarkan indikator-indikator tersebut, usahatani sawi hijau di Desa Sukalaksana layak secara finansial pada musim tanam yang diteliti. Hasil ini masih terbatas pada satu musim tanam dan kondisi harga saat penelitian dilakukan, sehingga tidak serta-merta mencerminkan kelayakan usaha secara berkelanjutan sepanjang tahun.
Green mustard (Brassica juncea L.) farming is highly vulnerable to extreme fluctuations in market prices at the middleman level. Understanding the actual cost structure, including implicit cost components that are often unrecorded, was important for assessing the financial condition of the farming business as a whole. This study aimed to describe the characteristics of farmers and to analyze the costs, revenue, income, and financial feasibility of green mustard farming in Sukalaksana Village. The research was conducted in the green mustard farming center located in Sukalaksana Village, Samarang Subdistrict, Garut Regency, West Java.
The study was carried out over one planting season. The method used was a descriptive research design with a quantitative approach using a survey method involving 60 farmer respondents selected through census sampling. Data were collected through field observations and interviews using structured questionnaires, then analyzed using cost and income tabulation methods and financial feasibility indicators, including the Revenue Cost Ratio (R/C Ratio), Break-Even Point (BEP), capital productivity, and labor productivity.
During the planting season observed, green mustard farming in Sukalaksana Village generated an average revenue of IDR 11,444,000 and total costs of IDR 2.720.941 per 0.29 hectares, resulting in a net income of IDR 8,318,550 per planting season. The R/C Ratio obtained was 4.62, with a Revenue BEP of IDR 945.850, a Production BEP of 1,360,47 kg, and a Price BEP of IDR 472,92/kg at an average selling price of IDR 2,000/kg. Capital productivity (π/C Ratio) was 310%, and labor productivity was IDR 408.879 per HOK (man-day), which was above the local daily farm wage standard of IDR 50,000 per HOK. Based on these indicators, green mustard farming in Sukalaksana Village was financially feasible during the planting season studied. These results, however, are limited to a single planting season and to the price conditions at the time of the study, and therefore do not necessarily reflect the feasibility of the business on a year-row
5180255221C1H019031THE IMPACT OF WORKPLACE WELL-BEING AND MENTAL HEALTH ON EMPLOYEE PERFORMANCE WITH ORGANIZATIONAL CULTURE AS A MODERATOR (A Case Study on Bank Jateng Cilacap Branch Office)Setiap perusahaan atau organisasi mengharapkan karyawannya untuk memberikan kinerja terbaik, dan Bank Jateng Kantor Cabang Cilacap tidak terkecuali. Banyak faktor yang dapat memengaruhi kinerja karyawan, seperti kesehatan mental, kesejahteraan di tempat kerja, dan budaya organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkaji: 1) pengaruh kesejahteraan di tempat kerja terhadap kinerja karyawan, 2) pengaruh kesehatan mental terhadap kinerja karyawan, 3) efek moderasi budaya organisasi terhadap hubungan antara kesejahteraan di tempat kerja dan kinerja karyawan, serta 4) efek moderasi budaya organisasi terhadap hubungan antara kesehatan mental dan kinerja karyawan di Bank Jateng Kantor Cabang Cilacap. Subjek penelitian ini adalah 48 karyawan tetap Bank Jateng Kantor Cabang Cilacap, yang semuanya menjadi sampel penelitian. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang didistribusikan kepada responden melalui Google Forms. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan PLS-SEM untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, serta efek moderasi. Temuan penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1) kesejahteraan di tempat kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan; 2) kesehatan mental memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan; 3) budaya organisasi memoderasi pengaruh kesejahteraan di tempat kerja terhadap kinerja karyawan; dan 4) budaya organisasi memoderasi pengaruh kesehatan mental terhadap kinerja karyawan di Bank Jateng Kantor Cabang Cilacap.
Kata kunci: Kesejahteraan di Tempat Kerja, Kesehatan Mental, Budaya Organisasi, Kinerja Karyawan
Every company or organization expects its employees to perform at their best, and Bank Jateng’s Cilacap Branch Office is no exception. Many factors can influence employee performance, such as mental health, workplace well-being, and organizational culture. This study aims to analyze and examine: 1) the effect of workplace well-being on employee performance, 2) the effect of mental health on employee performance, 3) the moderating effect of organizational culture on the relationship between workplace well-being and employee performance, and 4) the moderating effect of organizational culture on the relationship between mental health and employee performance at Bank Jateng’s Cilacap Branch. The subjects of this study were 48 permanent employees of Bank Jateng’s Cilacap Branch Office, all of whom served as the study sample. This study used a survey method, collecting data through a questionnaire distributed to respondents via Google Forms. The resulting data were analyzed using PLS-SEM to test the effects of the independent variables on the dependent variable, as well as the moderating effects. The research findings led to the following conclusions: 1) workplace well-being has a positive and significant effect on employee performance; 2) mental health has a positive and significant effect on employee performance; 3) organizational culture moderates the effect of workplace well-being on employee performance; and 4) organizational culture moderates the effect of mental health on the performance of employees at the Bank Jateng Cilacap Branch Office.


5180355218F1B019090IMPLEMENTASI GERAKAN KUDU SEKOLAH SEBAGAI PROGRAM PENANGANAN ANAK TIDAK SEKOLAH (ATS) DI DESA KESESI KECAMATAN KESESI KABUPATEN PEKALONGANPenelitian ini dilatarbelakangi tingginya jumlah anak tidak sekolah dan permasalahan dalam Gerakan Kudu Sekolah sebagai program penanganan anak tidak sekolah di Desa Kesesi. Tujuan penelitiannya yaitu untuk mendeskripsikan implementasi Gerakan Kudu Sekolah di Desa Kesesi. Metode penelitian adalah metode kualitatif pendekatan deskriptif. Penelitian ini menggunakan teori model implementasi kebijakan menurut George C. Edward III yang difokuskan pada aspek komunikasi, sumberdaya, disposisi, struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Gerakan Kudu Sekolah sudah cukup baik ditingkat kecamatan dan kabupaten, dan kurang baik ditingkat desa, hal ini dipengaruhi empat aspek. Komunikasi dilakukan melalui rapat koordinasi kabupaten dan kecamatan serta memanfaatkan media sosial dalam penyebaran informasi. Sumberdaya manusia tertuang dalam SK berisi keanggotaan tim setiap tingkatan dan tugasnya, sedangkan sumberdaya informasi tertuang dalam panduan pelaksanaan. Disposisi ditunjukkan melalui persepsi, dukungan, komitmen berupa pemahaman pelaksana. Struktur birokrasi tidak memiliki SOP resmi, hanya menyediakan mekanisme dalam panduan pelaksanaan, sedangkan fragmentasi dilakukan dengan koordinasi melalui grup WhatsApp. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa implementasi program masih kurang maksimal terutama ditingkat Desa Kesesi. Komunikasi belum melibatkan ATS dalam proses sosialisasi. Sumber daya anggaran tidak dialokasikan untuk insentif dan akomodasi pelaksana, sarana prasarana tidak diadakan. Disposisi kurang mendukung, tidak berkomitmen terhadap program. Terakhir struktur birokrasi, program tidak memiliki SOP.This research was motivated by the high number of children not attending school and problems in the “Gerakan Kudu Sekolah” as a program for handling children not attending school in Kesesi village. The aim of the research is to describe the implementation of the “Gerakan Kudu Sekolah” in Kesesi village. The research method is a qualitative method of descriptive approach. This research uses a policy implementation model theory according to George C. Edward III focused on aspects of communication, resources, disposition, bureaucratic structure. The research results show that the implementation of the “Gerakan Kudu Sekolah” is quite good at the sub-district and district levels, and not good at the village level, this is influenced by four aspects. Communication is carried out through district and sub-district coordination meetings and utilizes social media in disseminating information. Human resources are contained in the decree containing team membership at each level and task, while information resources are contained in the implementation guide. Disposition is demonstrated through perception, support, commitment in the form of understanding the implementer. The bureaucratic structure does not have an official SOP, only providing mechanisms in implementation guidance, while fragmentation is carried out by coordination through WhatsApp groups. The research conclusions show that program implementation is still not optimal, especially at the Kesesi village level. Communication has not involved ATS in the dissemination process. Budgetary resources are not allocated for incentives and accommodation for implementers, infrastructure is not provided. Disposition lacking support, not committing to the program. Finally, bureaucratic structures, programmes do not have SOP.
5180455222A1D022209Pengaruh Pemupukan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Aksesi Kunyit (Curcuma longa L.)Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan tanaman rimpang yang memiliki nilai ekonomi dan kesehatan serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, obat tradisional, dan berbagai produk berbasis bahan alam. Perbedaan aksesi dan pemupukan dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman kunyit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa aksesi kunyit serta mengetahui respons aksesi terhadap jenis pupuk yang diberikan. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2025 sampai Mei 2026 di screenhouse Desa Kebanggan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama terdiri atas aksesi Kebumen, Merauke, Halmahera Selatan, varietas Turina 1, dan varietas Turina 2. Faktor kedua terdiri atas tanpa pupuk, 100% pupuk organik kotoran kambing, 100% pupuk sintetik, serta kombinasi 50% pupuk organik dan 50% pupuk sintetik. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah batang, diameter batang, kandungan klorofil, jumlah rimpang, berat segar rimpang, berat segar tanaman, berat kering tanaman, dan karakteristik morfologi. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan DMRT pada taraf 5% apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan tidak mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil aksesi kunyit. Aksesi menunjukkan variasi pada tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, kandungan klorofil total, berat segar rimpang, berat segar tanaman, serta berat kering tanaman. Varietas Turina 1 menunjukkan pertumbuhan dan biomassa tertinggi, sedangkan Kebumen dan Turina 2 menghasilkan jumlah daun terbanyak, yaitu 8,33 helai pada 26 MST.Turmeric (Curcuma longa L.) is a rhizome plant with economic and health value that is widely used as a food ingredient, traditional medicine, and in various natural-based products. Differences in accession and fertilization can affect the growth and yield of turmeric plants. This study aimed to determine the effect of fertilization on the growth and yield of several turmeric accessions, as well as to determine the response of accessions to the type of fertilizer applied. The study was conducted from October 2025 to May 2026 in a screenhouse in Kebanggan Village, Sumbang District, Banyumas Regency. The study used a factorial Randomized Block Design (RBD) with two factors and three replications. The first factor consisted of the Kebumen, Merauke, and South Halmahera accessions, and the Turina 1 and Turina 2 varieties. The second factor consisted of no fertilizer, 100% organic goat manure fertilizer, 100% synthetic fertilizer, and a combination of 50% organic and 50% synthetic fertilizer. The observed variables included plant height, number of leaves, leaf area, number of stems, stem diameter, chlorophyll content, number of rhizomes, fresh rhizome weight, fresh plant weight, dry plant weight, and morphological characteristics. Data were analyzed using ANOVA, followed by DMRT at a 5% significance level when significant effects were found. The results showed that fertilization was unable to enhance the growth and yield of the turmeric accessions. The accessions showed variation in plant height, number of leaves, leaf area, stem diameter, total chlorophyll content, fresh rhizome weight, fresh plant weight, and dry plant weight. The Turina 1 variety showed the highest growth and biomass, while the Kebumen and Turina 2 accessions produced the highest number of leaves, at 8.33 leaves at 26 WAP.
5180555223A1D022178Karakter Agronomi Galur F3 Hasil Persilangan Padi Varietas Pandan Wangi dan Inpari 32Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan utama di Indonesia, persilangan varietas padi mampu
menjadi solusi terhadap permintaan selera konsumen yang semakin berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui dan mengevaluasi karakter agronomi galur F3 hasil persilangan antara varietas Pandanwangi dan
Inpari 32. Penelitian dilaksanakan di Experimental Farm dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas
Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian dimulai dari bulan Oktober 2025 hingga
Maret 2026. Rancangan yang digunakan adalah Augmented Design (RAK), mengevaluasi 14 genotipe F₃ terpilih
(F60, F16, F81, F21, F90, F80, F8, F73, F22, F38, F26, F41, F64, dan F63) dengan total 420 tanaman individu,
beserta lima varietas pembanding. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, umur berbunga, panjang
malai, jumlah gabah total per malai, jumlah gabah isi per malai, bobot 1000 butir, bobot gabah per rumpun,
jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, jumlah daun, dan aroma daun. Data kemudian dianalisis
menggunakan Sidik Ragam (ANOVA), Least Significant Increase (LSI), korelasi Pearson, dan analisis lintas.
Rice (Oryza sativa L.) is a primary food crop in Indonesia, and crossbreeding rice varieties offers a
potential solution to meet evolving consumer preferences. This study aimed to assess and evaluate the agronomic
traits of F3 lines derived from a cross between the Pandanwangi and Inpari 32 varieties. The research was
conducted at the Experimental Farm and Plant Breeding Laboratory of the Faculty of Agriculture, Universitas
Jenderal Soedirman, Purwokerto, from October 2025 to March 2026. An Augmented Design (Randomized Block
Design) was employed to evaluate 14 selected F3 genotypes (F60, F16, F81, F21, F90, F80, F8, F73, F22, F38,
F26, F41, F64, and F63)—comprising a total of 420 individual plants—alongside five check varieties. Observed
parameters included plant height, days to flowering, panicle length, total grains per panicle, filled grains per
panicle, 1000-grain weight, grain weight per clump, total tillers, productive tillers, leaf count, and leaf aroma.
The data were subsequently analyzed using Analysis of Variance (ANOVA), Least Significant Increase (LSI),
Pearson correlation, and path analysis.
5180655210F1B022116EFEKTIVITAS PEMANFAATAN APLIKASI JOGJA SMART SERVICE UNTUK MEWUJUDKAN TRANSPARANSI PELAYANAN PUBLIK DI BAPPEDA KOTA YOGYAKARTAPemanfaatan layanan publik berbasis digital melalui Aplikasi Jogja Smart Service (JSS) di Bappeda Kota Yogyakarta belum sepenuhnya optimal dalam mewujudkan transparansi pelayanan, ditandai dengan keterlambatan pembaruan informasi, gangguan sistem, dan keterbatasan fitur notifikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pemanfaatan JSS dalam mewujudkan transparansi pelayanan publik. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teori efektivitas Dwyer (2009) melalui aspek output dan outcome. Hasil penelitian menunjukkan bahwa JSS cukup efektif dalam meningkatkan kemudahan, kecepatan, keterbukaan informasi, dan akuntabilitas pelayanan. Namun, efektivitasnya belum optimal sehingga diperlukan peningkatan kualitas sistem dan konsistensi pembaruan informasi.The implementation of digital public services through the Jogja Smart Service (JSS) application at the Regional Development Planning Agency of Yogyakarta City has not been fully optimal in achieving service transparency, as indicated by delayed information updates, system disruptions, and limited notification features. This study aims to analyse the effectiveness of JSS utilisation in realising public service transparency. Using a descriptive qualitative method, this study applies Dwyer’s (2009) effectiveness theory through output and outcome aspects. The results show that JSS is fairly effective in improving service accessibility, speed, information openness, and accountability. However, its effectiveness remains suboptimal, requiring improvements in system quality and consistency of information updates
5180755224F1A022088Perubahan Solidaritas Sosial Masyarakat dalam Proses Pertambangan di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten PurworejoAktivitas pertambangan batu andesit di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo tidak hanya menimbulkan pertentangan terkait kepentingan atas sumber daya, tetapi juga memengaruhi solidaritas sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan solidaritas sosial masyarakat Desa Wadas pada tiga fase, yaitu sebelum konflik, saat konflik, pascakonflik, serta menganalisis rekonfigurasi solidaritas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebelum konflik, masyarakat Desa Wadas memiliki solidaritas mekanik. Pada saat konflik, terjadi pertentangan anterkelompok masyarakat yang menerima dan menolak, solidaritas melemah dan batasan kelompok menjadi semakin jelas. Di sisi lain, pertentangan antarkelompok meningkatkan kohesi internal masing-masing kelompok melalui organisasi, aksi kolektif, mekanisme komunikasi, pembagian peran, dan kerja sama mencapai tujuan kelompok. Pada pascakonflik, hubungan sosial membaik tetapi belum kembali seperti sebelum konflik. Perubahan pada fase pascakonflik kemudian menunjukkan adanya rekonfigurasi solidaritas yang dibangun berdasarkan kesamaan pengalaman konflik. Masyarakat juga mengembangkan adaptasi sosial sebagai upaya memperbaiki hubungan sosial dan hidup berdampingan. Dengan demikian, konflik pertambangan tidak menghilangkan solidaritas sosial, tetapi mengubah basis dan faktor pembentukannya dalam masyarakat Desa Wadas.
Andesite mining activities in Wadas Village, Bener Subdistrict, Purworejo Regency have not only sparked conflicts over resource interests but have also affected the community’s social solidarity. This study aims to examine changes in social solidarity among the residents of Wadas Village across three phases, before the conflict, during the conflict, and after the conflict, as well as to analyze the reconfiguration of solidarity. This study employs a qualitative method using a case study approach. Informants were selected using purposive sampling. Data were collected through non-participatory observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that prior to the conflict, the community of Wadas Village exhibited mechanical solidarity. During the conflict, tensions arose between community groups—those who accepted and those who rejected the conflict—causing solidarity to weaken and group boundaries to become increasingly distinct. On the other hand, these intergroup tensions strengthened the internal cohesion of each group through organization, collective action, communication mechanisms, role division, and cooperation toward achieving group goals. In the post-conflict phase, social relations improved but had not yet returned to their pre-conflict state. Changes during this phase subsequently revealed a reconfiguration of solidarity built upon shared experiences of the conflict. The community also developed social adaptations as an effort to repair social relations and coexist. Thus, the mining conflict did not eliminate social solidarity but transformed its basis and the factors shaping it within the Wadas Village community.
5180855225A1D022250Pengaruh Pemberian Pupuk Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Aksesi Kunyit (Curcuma longa L.) Kunyit merupakan tanaman rimpang yang pertumbuhan dan hasilnya dipengaruhi oleh faktor genetik dan ketersediaan
hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil dari
beberapa aksesi kunyit, mengetahui dosis optimal pemupukan dalam pertumbuhan dan hasil kunyit antar beberapa
aksesi, serta mengetahui respon hasil rimpang (indeks panen) terhadap perlakuan puuk pada aksesi kunyit yang berbeda.
Penelitian menggunakan rancangan faktorial dengan faktor pupuk yang terdiri atas P0 (tanpa pemupukan), P1 (100%
pupuk organik 20 ton/ha), P2 (100% pupuk kimia 500 kg/ha), dan P3 (50% pupuk kombinasi organik dan kimia) serta
faktor aksesi yang terdiri atas Batang, Abepura, Luwu, Turina 1, dan Turina 2. Parameter yang diamati meliputi karakter
pertumbuhan, kadar klorofil, biomassa, jumlah rimpang, dan indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian pupuk memberikan respons berbeda terhadap karakter pertumbuhan dan hasil. Pupuk organik 20 ton/ha
menghasilkan luas daun tertinggi (80,79 m2), sedangkan pupuk kimia 500 kg/ha menghasilkan indeks panen tertinggi
(0,34%). Turina 1 menunjukkan performa pertumbuhan dan hasil paling tinggi, terutama pada bobot segar tanaman
(306,31 g), bobot kering tanaman (41,35 g), dan bobot segar rimpang (104,82 g). Interaksi pupuk dan aksesi terlihat pada
jumlah rimpang dan indeks panen, dengan Abepura menunjukkan respons yang baik terhadap P1 dan P2. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa respons kunyit terhadap pemupukan dipengaruhi oleh karakter genetik aksesi.
Turmeric is a rhizome plant whose growth and yield are influenced by genetic factors and nutrient availability. This study
aims to determine the effect of fertilization on the growth and yield of several turmeric accessions, to identify the optimal
fertilization dose for the growth and yield of turmeric among different accessions, and to understand the response of
rhizome yield (harvest index) to fertilization treatments in different turmeric accessions. The research used a factorial
design with fertilizer factors consisting of P0 (no fertilization), P1 (100% organic fertilizer 20 tons/ha), P2 (100% chemical
fertilizer 500 kg/ha), and P3 (50% combination of organic and chemical fertilizer), as well as accession factors consisting
of Batang, Abepura, Luwu, Turina 1, and Turina 2. The parameters observed include growth characteristics, chlorophyll
content, biomass, number of tubers, and harvest index. The research results show that the application of fertilizers elicits
different responses in growth and yield characteristics. Organic fertilizer at 20 tons/ha produced the highest leaf area
(80.79 m²), while chemical fertilizer at 500 kg/ha resulted in the highest harvest index (0.34%). Turina 1 showed the
highest growth and yield performance, particularly in fresh plant weight (306.31 g), dry plant weight (41.35 g), and fresh
rhizome weight (104.82 g). The interaction between fertilizer and accession was evident in the number of rhizomes and
harvest index, with Abepura showing a good response to P1 and P2. These results indicate that turmeric's response to
fertilization is influenced by the genetic characteristics of the accession.
5180955226F1C022087PERAN KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM MEMBANGUN BUDAYA “AKHLAK” DI PT. KAI DAOP 5 PURWOKERTO

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana peran komunikasi organisasi dalam membangun budaya “AKHLAK” di PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto. Budaya “AKHLAK” di perusahaan ini merupakan core values yang menjadi pedoman perilaku bagi seluruh pegawai BUMN termasuk PT. KAI (PERSERO) sendiri. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas enam pegawai PT. KAI (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipatif, dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman dengan uji keabsahan data dengan triangulasi sumber.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi organisasi memiliki peran yang penting dalam membangun budaya “AKHLAK”. Dilihat melalui empat alur komunikasi organisasi menurut Robert McPhee yaitu negoisasi keanggotaaan diwujudkan melalui proses rekrutmen dan BDP sebagai sarana internalisasi, dan membangun identitas organisasi pada individu. Penataan diri dilakukan melalui penyampaian briefing apel pra-dinas, yel-yel AKHLAK, Koordinasi kegiatan tercerminkan melalui penggunaan media komunikasi seperti Handy Talky dan WhatsApp, koordinasi berlangsung melalui komunikasi lintas unit yang mendukung efektivitas operasional dan pelayanan. Posisi kelembagaan tercermin melalui interaksi orgaisasi dengan pelanggan sehingga terciptanya citra positif PT. KAI. Keempat alur tersebut membentuk proses internalisasi budaya yang bergerak melalui tingkat artefak, nilai-nilai yang dianut, dan asumsi dasar sebagai mana yang dijelaskan oleh Edgar Schein. Dengan demikian, komunikasi organisasi menjadi mekanisme utama, penggerak dalam membangun, menanamkan, dan mempertahankan budaya “AKHLAK” di lingkungan kerja PT. KAI (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto.
Kata kunci: Komunikasi Organisasi, Budaya Organisasi, Four Flows Robert McPhee, PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto
This study aims to analyze the role of organizational communication in fostering the “AKHLAK” culture at PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto. The “AKHLAK” culture at this company represents the core values that serve as a behavioral guideline for all employees of state-owned enterprises (BUMN), including PT. KAI (PERSERO) itself. This study employs a constructivist paradigm with a qualitative approach using the case study method. Informants were selected using purposive sampling, consisting of six employees of PT. KAI (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model, with data validity tested through source triangulation.
The results of this study indicate that organizational communication plays a crucial role in building the “AKHLAK” culture. Viewed through the four flows of organizational communication according to Robert McPhee, these include membership negotiation realized through the recruitment process and BDP as a means of internalization and the building of organizational identity in individuals. Self-regulation is carried out through pre-shift briefings and the “AKHLAK” chant activity coordination is reflected through the use of communication tools such as walkie-talkies and WhatsApp and coordination occurs through cross-unit communication that supports operational and service effectiveness. Institutional positioning is reflected through the organization’s interactions with customers, thereby creating a positive image for PT. KAI. These four flows form a cultural internalization process that operates through the levels of artifacts, shared values, and basic assumptions, as described by Edgar Schein. Thus, organizational communication serves as the primary mechanism and driving force in building, instilling, and maintaining the “AKHLAK” culture within the work environment of PT. KAI (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto.
Keywords: Organizational Communication, Organizational Culture, Robert McPhee’s Four Flows, PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO) DAOP 5 Purwokerto
5181054988A1D022170Pengaruh Inokulasi Rhizobakteria Penambat N₂ Asal Tanaman Tebu Terhadap
Pertumbuhan Bibit Single Bud Eye Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.)
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan komoditas perkebunan strategis
sebagai bahan baku utama industri gula nasional. Peningkatan produktivitas tebu
memerlukan bibit berkualitas dan teknologi budidaya yang ramah lingkungan, salah
satunya melalui pemanfaatan rhizobakteria penambat nitrogen sebagai Plant Growth-
Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian ini bertujuan memperoleh isolat
rhizobakteria penambat nitrogen asal rizosfer tebu yang berpotensi sebagai pupuk hayati
serta mengevaluasi pengaruh inokulasinya terhadap pertumbuhan bibit Single Bud Eye
tanaman tebu. Penelitian dilakukan melalui tahap isolasi dan karakterisasi rhizobakteria,
kemudian dilanjutkan dengan pengujian pada bibit Single Bud Eye menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas enam perlakuan, yaitu kontrol,
KMCP2, KMB4, KMBP4, KMAN1, dan KMA2 dengan empat ulangan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa diperoleh lima isolat rhizobakteria penambat nitrogen dengan
kemampuan penambatan nitrogen yang berbeda, dengan kemampuan tertinggi
ditunjukkan oleh isolat KMCP2 sebesar 2.047,5 ppm. Inokulasi rhizobakteria
berpengaruh nyata terhadap kehijauan daun, kadar klorofil a dan klorofil total, lebar
bukaan stomata, jumlah anakan, berat kering akar, panjang akar total, dan berat kering
tajuk. Isolat KMA2 menghasilkan kehijauan daun dan berat kering tajuk tertinggi,
sedangkan isolat KMAN1 menghasilkan kadar klorofil total dan jumlah anakan tertinggi.
Berdasarkan hasil tersebut, isolat KMAN1 dan KMA2 berpotensi dikembangkan sebagai
kandidat pupuk hayati untuk meningkatkan kualitas pembibitan Single Bud Eye tanaman
tebu.
Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is an important plantation crop serving as the
primary raw material for the sugar industry. Improving sugarcane productivity requires
high-quality planting materials and environmentally friendly cultivation technologies,
including the application of nitrogen-fixing rhizobacteria as Plant Growth-Promoting
Rhizobacteria (PGPR). This study aimed to obtain potential nitrogen-fixing
rhizobacterial isolates from the sugarcane rhizosphere and evaluate their effects on the
growth of Single Bud Eye sugarcane seedlings. The study consisted of rhizobacterial
isolation and characterization followed by greenhouse evaluation using a Randomized
Complete Block Design with six treatments (control, KMCP2, KMB4, KMBP4, KMAN1,
and KMA2) and four replications. The results showed that five nitrogen-fixing
rhizobacterial isolates exhibited different nitrogen fixation capacities, with KMCP2
showing the highest nitrogen fixation ability (2,047.5 ppm). Rhizobacterial inoculation
significantly increased leaf greenness, chlorophyll a and total chlorophyll contents,
stomatal aperture width, tiller number, root dry weight, total root length, and shoot dry
weight. KMA2 produced the highest leaf greenness and shoot dry weight, whereas
KMAN1 resulted in the highest total chlorophyll content and tiller number. Therefore,
KMAN1 and KMA2 are promising candidates for biofertilizer development to improve
the quality of Single Bud Eye sugarcane seedling production.
5181155227A1A022045ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN MAHASISWA UNSOED DI TOKO BUNGA FLORASEA GRENDENG PURWOKERTOPergeseran pola konsumsi mahasiswa pada era digital mengubah fungsi produk bunga dari kebutuhan seremonial menjadi bagian dari gaya hidup dan sarana ekspresi diri. Persaingan yang melibatkan 15 florist di Purwokerto menuntut Florasea untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian mahasiswa sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang melakukan pembelian di Florasea serta menganalisis pengaruh brand image, kualitas produk, harga, promosi media sosial, perceived value, dan gaya hidup terhadap keputusan pembelian.
Penelitian ini dilaksanakan di Toko Bunga Florasea Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah pada tahun 2025–2026. Pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan metode analisis regresi linear berganda digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berskala Likert 1–5 yang disebarkan kepada 110 mahasiswa Unsoed yang pernah melakukan pembelian di Florasea menggunakan teknik accidental sampling. Data ordinal hasil kuesioner dikonversi menjadi data interval menggunakan Method of Successive Interval (MSI) sebelum dilakukan analisis lanjutan. Pengujian asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas menunjukkan bahwa model memenuhi seluruh asumsi sehingga layak digunakan dalam analisis regresi linear berganda.
Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian mahasiswa dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) sebesar 0,892 menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan 89,2% variasi keputusan pembelian. Pengujian parsial menunjukkan bahwa variabel harga (sig. 0,001), gaya hidup (sig. 0,000), brand image (sig. 0,012), dan promosi media sosial (sig. 0,032) berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Variabel kualitas produk (sig. 0,303) dan perceived value (sig. 0,769) tidak berpengaruh signifikan secara parsial. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa mahasiswa sebagai konsumen Generasi Z lebih mempertimbangkan keterjangkauan harga, kesesuaian produk dengan gaya hidup, citra merek yang positif, serta promosi digital yang menarik dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Strategi pemasaran Florasea perlu memprioritaskan keempat faktor tersebut untuk meningkatkan keputusan pembelian mahasiswa.
The shift in students’ consumption patterns in the digital era has transformed the function of flower products from merely ceremonial needs into a part of lifestyle and a means of self-expression. The presence of 15 florists competing in Purwokerto requires Florasea to understand the factors influencing students’ purchasing decisions as a basis for developing effective marketing strategies. This study aims to identify the characteristics of Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) students who have purchased products from Florasea and to analyze the influence of brand image, product quality, price, social media promotion, perceived value, and lifestyle on their purchasing decisions.
This study was conducted at Florasea Flower Shop Grendeng, Purwokerto Utara District, Banyumas Regency, Central Java, in 2025–2026. A quantitative explanatory approach using multiple linear regression analysis was employed in this study. Data were collected through a Likert-scale questionnaire ranging from 1 to 5 and distributed to 110 Unsoed students who had previously purchased products from Florasea using an accidental sampling technique. The ordinal data obtained from the questionnaire were converted into interval data using the Method of Successive Interval (MSI) prior to further analysis. Classical assumption tests covering normality, multicollinearity, and heteroscedasticity indicated that the model satisfied all required assumptions, confirming its suitability for multiple linear regression analysis.
The results of the multiple linear regression analysis revealed that all independent variables simultaneously had a significant effect on students' purchasing decisions, with a significance value of 0.000. The coefficient of determination (Adjusted R²) value of 0.892 indicated that the model explained 89.2% of the variation in purchasing decisions. Partial test results showed that price (sig. 0.001), lifestyle (sig. 0.000), brand image (sig. 0.012), and social media promotion (sig. 0.032) significantly influenced purchasing decisions. Product quality (sig. 0.303) and perceived value (sig. 0.769) did not have a significant partial effect. The findings indicate that Generation Z students tend to consider price affordability, product suitability to their lifestyle, a positive brand image, and attractive digital promotional content when making purchasing decisions. Florasea should prioritize these four factors in its marketing strategy to enhance students' purchasing decisions.
5181255232F1A022040KONTRIBUSI REMAJA DALAM PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN SITUS LEMAH WANGI DI DUSUN KALIPAGU, DESA KETENGER, KECAMATAN BATURRADEN, KABUPATEN BANYUMASSitus Lemah Wangi di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas merupakan situs warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual serta berpotensi dikembangkan sebagai wisata budaya dan religi. Namun, pelestarian dan pengembangannya masih menghadapi kendala, terutama keterlibatan remaja yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menjelaskan kontribusi remaja dalam pelestarian dan pengembangan Situs Lemah Wangi. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi remaja dalam pelestarian diwujudkan melalui kerja bakti dan pembersihan kawasan situs, persiapan serta pelaksanaan kegiatan adat Merti Bumi. Dalam pengembangan, remaja membantu pengunjung serta mengenalkan Situs Lemah Wangi melalui media sosial. Kontribusi tersebut didukung oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah desa. Sementara itu, hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu, rendahnya pemahaman budaya, pengaruh teknologi, serta belum optimalnya peran Karang Taruna. Secara keseluruhan, kontribusi remaja telah mendukung pelestarian dan pengembangan situs, tetapi masih bersifat individual dan belum terorganisasi secara optimal. Penguatan organisasi kepemudaan, edukasi budaya, dan kolaborasi antarpihak diperlukan untuk meningkatkan partisipasi remaja secara berkelanjutan.The Lemah Wangi Site in Kalipagu Hamlet, Ketenger Village, Baturraden Subdistrict, Banyumas Regency is a cultural heritage site of historical, cultural, and spiritual significance that has the potential to be developed as a cultural and religious tourist destination. However, its preservation and development still face challenges, particularly regarding the lack of optimal involvement of adolescents. This study aims to identify, describe, and explain the contributions of adolescents to the preservation and development of the Lemah Wangi Site. The study employed a descriptive qualitative method using purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using the interactive model developed by Miles, Huberman, and Saldana. Data validity was verified through triangulation of sources and techniques. The results indicate that adolescents’ contributions to preservation are manifested through community service and cleanup of the site area, as well as the preparation and implementation of the Merti Bumi traditional ceremony. As part of the development effort, adolescents assist visitors and promote the Lemah Wangi Site through social media. These contributions are supported by families, the community, and the village government. Meanwhile, the challenges they face include time constraints, limited cultural understanding, the influence of technology, and the suboptimal role of the Karang Taruna youth organization. Overall, the adolescents’ contributions have supported the preservation and development of the site, but they remain largely individual efforts and are not yet optimally organized. Strengthening youth organizations, cultural education, and collaboration among stakeholders are necessary to enhance sustainable youth participation.
5181355233A1F022014Pengaruh pH Larutan Perendam terhadap Karakteristik Mutu Tepung Kedelai Germinasi Varietas Grobogan dan Mallika Tepung kedelai germinasi merupakan produk yang dikembangkan sebagai subtitusi tepung gluten free dengan kadar protein tinggi. Perendaman merupakan salah satu pre-treatment yang kerap dilakukan dalam pengolahan tepung untuk meningkatkan sifat fungsionalitas dan kualitas gizi tepung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan varietas kedelai, pH larutan perendam, serta menentukan kombinasi perlakuan antara varietas kedelai dan nilai pH larutan perendam yang menghasilkan tepung kedelai dengan karakteristik fisik, kimia, dan daya cerna protein terbaik, serta membandingkan kualitas tepung kedelai germinasi terbaik dengan tepung kedelai non-germinasi.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu varietas kedelai (Grobogan dan Mallika) serta pH larutan perendam (tidak direndam, pH 4, pH 5, pH 7, pH 8, dan pH 9) dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati dalam seleksi tepung meliputi mutu fisik (rendemen, kelarutan, dan densitas kamba) dan kimia (kadar air dan protein terlarut). Karakterisasi perlakuan terbaik dilakukan dengan menilai daya cerna protein in vitro, analisis antioksidan IC50, analisis proksimat (kadar abu, protein total, lemak total, dan karbohidrat total), analisis derajat warna (L*, a*, dan b*), dan profil amilografi pati (RVA). Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf 5%, dilanjutkan DMRT, indeks efektivitas De Garmo dan T-test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas kedelai berpengaruh terhadap rendemen tepung germinasi, dengan K2 (35,42%) menghasilkan rendemen lebih tinggi dibandingkan K1 (33,33%). Berdasarkan uji indeks efektivitas, kombinasi perlakuan terbaik adalah P2K1 (kedelai Grobogan, pH ±4) dan P3K2 (kedelai Malika, pH ±5). Pada tepung kedelai germinasi P2K1 pre-treatment perendaman meningkatkan nilai daya cerna protein (24,14%). Namun, menurunkan kadar abu (3,97%), dan rendemen (33,33%). Sedangkan pada P3K2, pre-treatment perendaman meningkatkan kadar protein (34.17%). Namun, menurunkan nilai daya cerna protein (14.95%) dibandingkan dengan tepung kedelai non-germinasi.
Germinated soybean flour is a product developed as a high-protein substitute for gluten-free flour. Soaking is one of the pre-treatments commonly used in flour processing to improve the functional properties and nutritional quality of the flour. This study aimed to determine the effects of different soybean varieties and soaking solution pH, as well as to identify the optimal treatment combination of soybean variety and soaking solution pH that produces soybean flour with the best physical, chemical, and protein digestibility characteristics, and to compare the quality of the best germinated soybean flour with that of non-germinated soybean flour.
The study employed a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors, namely soybean variety (Grobogan and Mallika) and soaking solution pH (unsoaked, pH 4, pH 5, pH 7, pH 8, and pH 9) with three replications. The parameters observed in flour selection included physical quality (yield, solubility, and bulk density) and chemical quality (moisture content and soluble protein). Characterization of the best treatment was conducted by assessing in vitro protein digestibility, IC50 antioxidant analysis, proximate analysis (ash content, total protein, total fat, and total carbohydrates), color degree analysis (L*, a*, and b*), and starch amylography profile (RVA). Data were analyzed using ANOVA at a 5% significance level, followed by DMRT, De Garmo effectiveness index, and T-test.
The results of the study indicate that soybean variety affects the germination flour yield, with K2 (35.42%) yielding a higher yield than K1 (33.33%). Based on the effectiveness index test, the best treatment combinations were P2K1 (Grobogan soybeans, pH ±4) and P3K2 (Malika soybeans, pH ±5). In P2K1, the soaking pre-treatment increased protein digestibility (24.14%), but decreased the ash content (3.97%), and yield (33.33%). Meanwhile, in P3K2, the soaking pretreatment increased the protein content (34.17%) but decreased the protein digestibility (14.95%) compared to non-germinated soybean flour.
5181455234A1A020071Analisis Kelayakan Usaha Penggilingan Padi Di Desa Nusajati Kecamatan Sampang Kabupaten CilacapUsaha penggilingan padi memiliki peran penting dalam subsistem agribisnis hilir
karena berfungsi mengolah gabah hasil panen menjadi beras siap konsumsi sekaligus
meningkatkan nilai tambah komoditas padi. Rice Mill KUD Serba Usaha Sampang
merupakan salah satu unit usaha penggilingan padi yang dikelola oleh Koperasi Unit Desa
(KUD) Serba Usaha Sampang dan telah beroperasi sejak tahun 1985 dengan melayani
petani di Desa Nusajati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, beserta wilayah
sekitarnya. Usaha ini menjalankan sistem jasa penggilingan gabah milik pelanggan
sehingga seluruh penerimaan usaha bersumber dari biaya jasa penggilingan tanpa
melibatkan aktivitas pembelian gabah maupun penjualan beras. Penelitian ini bertujuan
menganalisis kondisi usaha berdasarkan aspek non finansial yang meliputi aspek teknis,
manajemen, hukum, dan lingkungan, serta menganalisis kelayakan usaha berdasarkan
aspek finansial yang meliputi biaya, penerimaan, pendapatan, dan Revenue Cost Ratio
(R/C Ratio).
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif
kualitatif dan kuantitatif pada satu unit usaha, yaitu Rice Mill KUD Serba Usaha
Sampang. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan penanggung
jawab serta tenaga kerja unit rice mill, sedangkan data sekunder diperoleh dari
dokumentasi pencatatan usaha dan publikasi instansi terkait. Data biaya, penerimaan, dan
pendapatan usaha dikumpulkan untuk periode April sampai dengan Juni 2026. Analisis
kelayakan non finansial dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan kondisi
nyata usaha terhadap kriteria kelayakan pada masing-masing aspek, sedangkan analisis
kelayakan finansial dilakukan melalui perhitungan biaya produksi, penerimaan,
pendapatan, dan R/C Ratio sebagai indikator kelayakan usaha.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rice Mill KUD Serba Usaha Sampang
dinyatakan layak pada seluruh aspek non finansial yang dikaji, meliputi aspek teknis,
manajemen, hukum, dan lingkungan. Hasil analisis finansial menunjukkan rata-rata total
biaya produksi sebesar Rp3.707.536 per bulan, rata-rata penerimaan sebesar Rp5.275.917
per bulan, dan rata-rata pendapatan sebesar Rp1.568.380 per bulan selama periode April
sampai dengan Juni 2026, dengan nilai R/C Ratio rata-rata sebesar 1,42. Usaha
penggilingan padi Rice Mill KUD Serba Usaha Sampang dinyatakan layak untuk
dijalankan dalam jangka pendek berdasarkan hasil analisis kelayakan finansial tersebut,
sehingga dapat dijadikan dasar pertimbangan bagi pengelola dalam menjaga
keberlanjutan dan mengembangkan usaha di masa mendatang
Rice Milling plays an essential role in the downstream agribusiness subsystem by
processing harvested paddy into consumable rice while increasing the added value of rice
commodities. Rice Mill KUD Serba Usaha Sampang is a Rice Milling enterprise managed
by the Serba Usaha Sampang Village Cooperative (KUD Serba Usaha Sampang) that has
been operating since 1985, providing Rice Milling services for farmers in Nusajati
Village, Sampang District, Cilacap Regency, and the surrounding areas. The enterprise
operates under a custom milling service system, in which customers bring their own
paddy for milling. Consequently, all business revenue is generated exclusively from
milling service fees without engaging in paddy purchasing or rice trading activities. This
study aimed to analyze the business feasibility from non-financial aspects, including
technical, managerial, legal, and environmental aspects; to evaluate its financial
feasibility based on production costs, revenue, income, and the Revenue-Cost (R/C)
Rasio.
This study employed a case study method using descriptive qualitative and
quantitative approaches focusing on Rice Mill KUD Serba Usaha Sampang. Primary
data were collected through observations and interviews with the person in charge and
opeRational workers of the Rice Milling unit, while secondary data were obtained from
business records and publications from relevant institutions. Data on production costs,
revenue, and income were collected for the period of April to June 2026. Non-financial
feasibility was analyzed descriptively by comparing the actual business conditions with
the feasibility criteria for each aspect. Financial feasibility was evaluated through the
calculation of production costs, revenue, income, and the Revenue-Cost (R/C) Ratio as
indicators of business feasibility.
The results indicated that Rice Mill KUD Serba Usaha Sampang was feasible in
all evaluated non-financial aspects, namely the technical, managerial, market, legal, and
environmental aspects. The financial analysis showed that the average monthly
production cost was IDR 3,707,536, the average monthly revenue was IDR 5,275,917,
and the average monthly income was IDR 1,568,380 during the April–June 2026
observation period. The average Revenue-Cost (R/C) Ratio was 1.42. Based on these
findings, Rice Mill KUD Serba Usaha Sampang is financially feasible to operate in the
short term. Therefore, the results of this study can serve as a reference for the management
in maintaining business sustainability and supporting future business development.
5181555237D2A024009Nutrient digestibility and nitrogen utilisation in sheep fed ammoniated rice straw and a low level of concentrate supplemented with waru and bamboo leaf mealsPenelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh suplementasi kombinasi tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus; TDW) dan tepung daun bambu (Gigantochloa apus; TDB) terhadap kecernaan nutrien dan pemanfaatan nitrogen pada domba yang diberi jerami padi amoniasi (JPA) dan konsentrat pada taraf rendah. Sebanyak 24 ekor domba lokal Indonesia berumur 12-18 bulan, dengan bobot badan (BB) rata-rata 26,68 ± 2,58 kg dialokasikan secara acak untuk menerima salah satu dari empat perlakuan pakan: P0 (JPA ad libitum terkontrol + konsentrat 1,5% BB berdasarkan BK); P1 (P0 + 1,2 g TDW + 1,9 g TDB/kg BK konsentrat); P2 (P0 + 2,4 g TDW + 1,3 g TDB/kg BK konsentrat); P3 (P0 + 3,6 g TDW + 0,65 g TDB/kg BK konsentrat), dengan enam ekor domba per perlakuan dalam rancangan acak lengkap. Data dianalisis menggunakan analisis variansi yang dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Perlakuan tidak memengaruhi konsumsi nutrien pakan, kecernaan bahan kering, bahan organik, dan serat kasar, serta sintesis protein mikroba (P > 0,05). Namun, perlakuan berpengaruh terhadap kecernaan protein kasar, nitrogen feses, nitrogen tercerna, nitrogen urin, retensi nitrogen, pemanfaatan nitrogen bersih, dan nilai biologis (P < 0,01). Disimpulkan bahwa suplementasi 3,6 g TDW dan 0,65 g TDB/kg BK konsentrat menghasilkan respons terbaik terhadap kecernaan PK dan pemanfaatan nitrogen domba.This study evaluated the effects of combined supplementation with waru leaf meal (Hibiscus tiliaceus; WLM) and bamboo leaf meal (Gigantochloa apus; BLM) on nutrient digestibility and nitrogen utilisation in sheep fed ammoniated rice straw (ARS) and a low level of concentrate. Twenty-four Indonesian local male sheep aged 12–18 months, with an initial body weight (BW) of 26.68 ± 2.58 kg, were randomly allocated to one of four dietary treatments in a completely randomised design, with six sheep per treatment: T0 (controlled ad libitum ARS + concentrate at 1.5% BW on a dry matter (DM) basis); T1 (T0 + 1.2 g WLM + 1.95 g BLM/kg concentrate DM); T2 (T0 + 2.4 g WLM + 1.3 g BLM/kg concentrate DM); and T3 (T0 + 3.6 g WLM + 0.65 g BLM/kg concentrate DM). Data were analysed by analysis of variance followed by Tukey’s honestly significant difference test. Treatments did not affect nutrient intake, dry matter, organic matter or crude fibre digestibility, or microbial protein synthesis (P > 0.05). However, crude protein digestibility, faecal nitrogen, digested nitrogen, urinary nitrogen, nitrogen retention, net nitrogen utilisation and biological value were affected by treatment (P < 0.01). Among the combinations tested, supplementation with 3.6 g WLM and 0.65 g BLM/kg concentrate DM produced the most favourable response in crude protein digestibility and nitrogen utilisation.
5181655240I2B024007EFEKTIVITAS PEMBERIAN EDUKASI MELALUI VIDEO ANIMASI AUDIOVISUAL “CERDAS LOKAL” TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN ANAK BALITA STUNTINGEFEKTIVITAS PEMBERIAN EDUKASI MELALUI VIDEO ANIMASI AUDIOVISUAL “CERDAS LOKAL” TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN ANAK BALITA STUNTING
Sakti Ilham Alfadhil¹, Dian Ramawati², Wastu Adi Mulyono³
¹Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
²˒³Dosen Program Studi Magister Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
Email: saktiilhamalfadhil@gmail.com
Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pengetahuan dan sikap Ibu berperan dalam pemenuhan gizi dan pengasuhan balita. Puskesmas Baturraden II belum memiliki media edukasi audiovisual berbasis kearifan lokal, sementara studi pendahuluan menemukan 145 balita stunting pada September 2025. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengetahui efektivitas video animasi audiovisual “Cerdas Lokal” terhadap pengetahuan dan sikap Ibu dengan anak balita stunting.
Metode: Penelitian menggunakan Research and Development (R&D) model Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE) pada tahap pengembangan media dan quasi experiment dengan pretest-posttest control group design pada tahap uji efektivitas. Sebanyak 50 Ibu dipilih secara purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol, masing-masing 25 responden. Video berdurasi 5 menit 22 detik diberikan selama 7 hari. Validitas dan reliabilitas media diuji menggunakan Content Validity Index (CVI), Intraclass Correlation Coefficient (ICC), dan USE Questionnaire. Analisis efek menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil: Validasi konten menunjukkan I-CVI 0,83–1,00 dan ICC 1,00, sedangkan skor USE sebesar 90% yang menunjukkan media layak digunakan. Pada kelompok intervensi, skor pengetahuan meningkat dari mean 12,52 menjadi 13,08 (p=0,026) dan skor sikap dari 56,69 menjadi 59,16 (p=0,001). Pada kelompok kontrol, perubahan pengetahuan tidak signifikan (p=0,162) dan sikap tidak signifikan (p=0,088). Perbandingan posttest antar kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada pengetahuan (p=0,545; effect size=0,42), tetapi terdapat perbedaan bermakna pada sikap (p=0,006; effect size=0,49).
Kesimpulan: Video edukasi animasi audiovisual “Cerdas Lokal” berbasis kearifan lokal valid dan layak digunakan serta terbukti memberikan pengaruh terhadap sikap Ibu dengan anak balita stunting, tetapi belum menunjukkan perbedaan yang bermakna pada pengetahuan antar kelompok.
THE EFFECTIVENESS OF EDUCATION DELIVERED THROUGH THE AUDIOVISUAL ANIMATED VIDEO “CERDAS LOKAL” ON THE KNOWLEDGE AND ATTITUDES OF MOTHERS WITH STUNTED TODDLERS
Background: Stunting is a growth failure condition associated with chronic undernutrition, particularly during the first 1,000 days of life. Maternal knowledge and attitudes contribute to child nutrition and caregiving practices. Baturraden II Public Health Center had not previously used an audiovisual educational medium based on local wisdom, while a preliminary study identified 145 stunted toddlers in September 2025. This study aimed to develop and determine the effectiveness of the “Cerdas Lokal” audiovisual animated video on the knowledge and attitudes of mothers of stunted toddlers.
Methods: The study used Research and Development (R&D) with the Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE) model for media development and a quasi-experimental pretest-posttest control group design for effectiveness testing. Fifty mothers were selected using purposive sampling and divided equally into intervention and control groups. The 5-minute-22-second video was delivered for 7 days. Content validity and feasibility were assessed using the Content Validity Index (CVI), Intraclass Correlation Coefficient (ICC), and USE Questionnaire. The intervention effect was analyzed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests.
Results: Content validation showed I-CVI values of 0.83–1.00 and an ICC of 1.00, while the USE score was 90%, indicating that the media was feasible. In the intervention group, mean knowledge scores increased from 12.52 to 13.08 (p=0.026), and attitude scores increased from 56.69 to 59.16 (p=0.001). In the control group, changes in knowledge and attitudes were not significant (p=0.162 and p=0.088, respectively). Posttest comparisons between groups showed no significant difference in knowledge (p=0.545; effect size=0.42), but a significant difference in attitudes (p=0.006; effect size=0.49).
Conclusion: The “Cerdas Lokal” audiovisual animated educational video based on local wisdom was valid and feasible and significantly influenced maternal attitudes toward stunting, but did not produce a significant between-group difference in maternal knowledge.
5181755239I1E022114ANALISIS KEBUGARAN JASMANI MENGGUNAKAN TES KEBUGARAN JASMANI SISWA INDONESIA
FASE D DI SMP NEGERI 6 PURWOKERTO
Kebugaran jasmani merupakan salah satu aspek penting yang mendukung peserta didik dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari dan mengikuti proses pembelajaran. Namun, SMP Negeri 6 Purwokerto belum memiliki data mengenai profil kebugaran jasmani siswa yang diperoleh melalui pengukuran secara objektif dan terstandar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan profil kebugaran jasmani siswa kelas VII SMP Negeri 6 Purwokerto berdasarkan Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI) Fase D serta mengidentifikasi komponen kebugaran jasmani yang menjadi keunggulan dan kelemahan siswa.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 6 Purwokerto tahun ajaran 2025/2026 yang berjumlah 221 siswa. Sampel penelitian berjumlah 70 siswa yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik random sampling. Instrumen penelitian menggunakan Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI) Fase D yang terdiri atas sit-up test, T-test, hand and eye coordination test, bleep test, dan standing broad jump test. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase dengan bantuan program SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebugaran jasmani siswa putra didominasi kategori sedang sebesar 47,22% dan kategori kurang sebesar 41,67%. Sementara itu, tingkat kebugaran jasmani siswa putri didominasi kategori sedang sebesar 64,71% dan kategori kurang sebesar 35,29%. Komponen kebugaran yang menjadi keunggulan siswa adalah kekuatan dan daya tahan otot perut serta koordinasi mata-tangan. Sebaliknya, komponen yang masih perlu mendapat perhatian adalah daya tahan jantung-paru dan kelincahan.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kebugaran jasmani siswa kelas VII SMP Negeri 6 Purwokerto secara umum berada pada kategori sedang dan kurang. Kekuatan dan daya tahan otot perut serta koordinasi mata-tangan menjadi komponen yang relatif lebih baik, sedangkan daya tahan jantung-paru dan kelincahan menjadi komponen yang perlu ditingkatkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi guru PJOK dalam merencanakan dan menyusun pembelajaran serta program aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi kebugaran jasmani siswa.
Physical fitness is an important aspect that supports students in carrying out daily activities and participating in the learning process. However, SMP Negeri 6 Purwokerto did not yet have data describing students' physical fitness profiles obtained through objective and standardized measurements. This study aimed to determine and describe the physical fitness profile of seventh-grade students at SMP Negeri 6 Purwokerto based on the Indonesian Student Physical Fitness Test (TKSI) Phase D and to identify the physical fitness components that represented students' strengths and weaknesses.
This study employed a quantitative descriptive method with a cross-sectional design. The population consisted of all seventh-grade students of SMP Negeri 6 Purwokerto in the 2025/2026 academic year, totaling 221 students. The sample consisted of 70 students determined using the Slovin formula and selected through a random sampling technique. The research instrument was the Indonesian Student Physical Fitness Test (TKSI) Phase D, consisting of the sit-up test, T-test, hand-eye coordination test, bleep test, and standing broad jump test. The data were analyzed using descriptive statistics in the form of frequency distributions and percentages with the assistance of SPSS.
The results showed that the physical fitness level of male students was predominantly in the moderate category (47.22%), followed by the poor category (41.67%). Meanwhile, the physical fitness level of female students was predominantly in the moderate category (64.71%), followed by the poor category (35.29%). The students' strengths were observed in abdominal muscle strength and endurance and hand-eye coordination. In contrast, cardiorespiratory endurance and agility were identified as the components requiring greater improvement.
Based on the findings, it can be concluded that the overall physical fitness level of seventh-grade students at SMP Negeri 6 Purwokerto was generally in the moderate and poor categories. Abdominal muscle strength and endurance as well as hand-eye coordination were relatively better-developed components, whereas cardiorespiratory endurance and agility were the components that required improvement. The findings are expected to serve as evaluation material for physical education teachers in planning learning activities and physical activity programs that are appropriate to students' physical fitness conditions.
5181855191F1F022009EFEKTIVITAS KERJA SAMA INTERPOL DAN PEMERINTAH INDONESIA DALAM PENANGGULANGAN PERDAGANGAN SENJATA ILEGAL DI ASIA TENGGARA (2018-2023)Perdagangan senjata ilegal merupakan salah satu bentuk kejahatan lintas negara yang dapat mengancam keamanan dan stabilitas kawasan Asia Tenggara. Sifat lintas batas dari perdagangan senjata ilegal menyebabkan penanggulangannya memerlukan kerja sama internasional dan pertukaran informasi antarlembaga penegak hukum. Dalam konteks tersebut, INTERPOL berperan dalam memfasilitasi kerja sama kepolisian internasional, termasuk melalui pemanfaatan sistem informasi dan pelaksanaan operasi bersama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kerja sama INTERPOL dan Indonesia dalam penanggulangan perdagangan senjata ilegal di Asia Tenggara pada periode 2018–2023, khususnya melalui pemanfaatan sistem INTERPOL Illicit Arms Records and tracing Management System (iARMS) dan pelaksanaan Operation Trigger. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi dan penelusuran sumber-sumber resmi yang relevan. Analisis penelitian menggunakan Teori Efektivitas Rezim Internasional Duncan Snidal untuk melihat efektivitas kerja sama berdasarkan pelaksanaan aturan dan mekanisme kerja sama, pencapaian tujuan, serta kontribusinya terhadap penanganan permasalahan yang menjadi fokus kerja sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama INTERPOL dan Indonesia telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan pelacakan, pertukaran informasi, dan koordinasi dalam penanggulangan perdagangan senjata ilegal. Pemanfaatan iARMS mendukung proses pencatatan dan pelacakan senjata api secara internasional, sedangkan Operation Trigger memperkuat koordinasi dan pertukaran informasi melalui kegiatan operasi bersama. Meskipun demikian, efektivitas kerja sama masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama berkaitan dengan implementasi di tingkat nasional, koordinasi antarlembaga, serta keterbatasan akses terhadap data yang dapat digunakan untuk mengukur hasil kerja sama secara lebih komprehensif. Dengan demikian, kerja sama INTERPOL dan Indonesia pada periode 2018–2023 dapat dinilai telah berjalan secara efektif dalam mendukung mekanisme pelacakan dan penindakan terhadap perdagangan senjata ilegal, meskipun masih terdapat keterbatasan yang memengaruhi optimalisasi hasil kerja sama.Illicit arms trafficking is a form of transnational crime that poses a threat to security and stability in Southeast Asia. Its cross-border nature requires international cooperation and information exchange among law enforcement agencies. In this context, INTERPOL plays an important role in facilitating international police cooperation, including through the use of information systems and the implementation of joint operations. This study aims to analyze the effectiveness of cooperation between INTERPOL and Indonesia in addressing illicit arms trafficking in Southeast Asia during the 2018–2023 period, particularly through the utilization of the INTERPOL Illicit Arms Records and tracing Management System (iARMS) and the implementation of Operation Trigger. This research employs a qualitative method, with data collected through documentary research and the examination of relevant official sources. The analysis applies Duncan Snidal’s Theory of International Regime Effectiveness to examine the effectiveness of cooperation through the implementation of cooperation rules and mechanisms, the achievement of objectives, and its contribution to addressing the problems targeted by the cooperation. The findings indicate that cooperation between INTERPOL and Indonesia has contributed to improving tracing capabilities, information exchange, and coordination in addressing illicit arms trafficking. The utilization of iARMS supports the international recording and tracing of firearms, while Operation Trigger strengthens coordination and information exchange through joint operational activities. Nevertheless, the effectiveness of the cooperation continues to face several limitations, particularly regarding national-level implementation, inter-agency coordination, and limited access to data that can be used to comprehensively measure the outcomes of the cooperation. Therefore, the cooperation between INTERPOL and Indonesia during the 2018–2023 period can be considered effective in supporting mechanisms for tracing and addressing illicit arms trafficking, although several limitations remain that affect the optimization of the cooperation’s outcomes.
5181955238I1E020032MANAJEMEN PEMBINAAN SEPAK BOLA PADA SEKOLAH SEPAK BOLA (SSB) DI KECAMATAN KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen pembinaan sepak bola dari segi fungsi manajemen meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian dilakukan di PPSB Mitra Perkasa dan PSB Bungkanel dengan sampel berjumlah 20 peserta yang dipilih melalui Purposive Sampling meliputi manajer, pelatih, dan atlet. Penelitian ini dilakukan pada April - Mei 2025 yang disertai dengan surat izin penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Fungsi perencanaan di PPSB Mitra Perkasa berfokus pada pembinaan atlet dan peningkatan mutu kepelatihan. Sedangkan di PSB Bungkanel masih hanya berfokus pada pembinaan atlet. 2) Fungsi pengorganisasian di kedua SSB sudah berjalan namun masih terdapat rangkap tugas. 3) Fungsi pengarahan di kedua SSB dilakukan oleh manajer dengan baik, pembagian tugas disesuaikan dengan kemampuan dan SDM yang ada. 4) Fungsi pengawasan mencakup pemantauan langsung, laporan melalui WhatsApp, ataupun dokumentasi foto/video yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja pelatih dan pelaksanaan program latihan.Backround: This research aims to understand football development manajement in terms of manajement functions, including planning, organizing, actiating, and controlling. This research uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The research was conducted at PPSB Mitra Perkas and PSB Bungkanel with a sample of 20 participants selected using purposive sampling. This research was conducted in April - Mei 2025 and was accompanied by a research permit latter. The research results indicatethat : 1) The planning function at PPSB Mitra Perkasa focuses on athlete development and improving the quality of coaching. Mainwhile, at PSB Bungkanel, it still focuses solely on athlete development. 2) The organizing function in both SSBs has been implemented, but overlapping duties still exist. 3) The actuating function at both SSBs is carried out well by the manager, the division of duties is adjusted to match the available capabilities and human resources. 4) The controlling function includes direct monitoring, reports via WhatsApp, or documentation of photos/videos used to evaluate the performance of coaches and the implementation of training programs.
5182055242A1F022115EVALUASI TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN DAN PRIORITAS PERBAIKAN TERHADAP KUALITAS KOPI SUSU GULA AREN DI ELS KOFFIE PURWOKERTO

Industri kopi di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat yang turut mendorong tumbuhnya coffee shop di Kota Purwokerto, termasuk Els Koffie yang memproduksi dan menjual produk kopi susu gula aren. Meskipun demikian, Els Koffie menghadapi keluhan konsumen terkait inkonsistensi cita rasa kopi susu gula aren yang cenderung terlalu manis dan berubah-ubah akibat pergantian shift barista, sehingga berdampak pada penurunan penjualan dari 1.104 produk pada bulan September menjadi 800 produk pada bulan Desember, mengindikasikan adanya potensi permasalahan pada atribut produk yang memengaruhi kepuasan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil tingkat kepentingan dan kepuasan konsumen menggunakan metode Customer Satisfaction Index (CSI), menentukan atribut yang menjadi prioritas perbaikan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA), serta merumuskan strategi perbaikan kopi susu gula aren di Els Koffie Purwokerto.
Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan dari Mei hingga Juli 2026 di Els Koffie Purwokerto menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner tertutup kepada 102 responden menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan rumus Cochran pada tingkat kepercayaan 95%. Responden yang dipilih merupakan konsumen berusia lebih dari 17 tahun yang telah membeli dan mengonsumsi produk kopi susu gula aren di Els Koffie Purwokerto minimal dua kali. Variabel yang diamati mencakup 14 atribut yang dikelompokkan menjadi tiga variabel utama, yaitu organoleptik kopi susu gula aren, tempat dan service, serta harga dan promosi. Data dianalisis menggunakan metode CSI dan IPA berbantuan Microsoft Office Excel.
Hasil analisis CSI menunjukkan nilai sebesar 90,59% yang termasuk dalam kategori “Sangat Puas”, namun masih terdapat gap antara kinerja aktual dengan harapan konsumen yang perlu ditingkatkan. Hasil analisis IPA menunjukkan 2 atribut masuk Kuadran I sebagai prioritas utama perbaikan yaitu cita rasa kopi dan tingkat kemanisan kopi susu gula aren; 6 atribut masuk Kuadran II yang perlu dipertahankan yaitu aroma, kebersihan dan kenyamanan tempat, pelayanan, waktu tunggu, kesesuaian harga dengan kualitas, dan kesesuaian harga dengan porsi minuman; 3 atribut pada Kuadran III yaitu kemudahan akses lokasi, kebersihan penyajian, dan informasi produk pada menu; serta 3 atribut pada Kuadran IV yaitu kekentalan minuman, gradasi warna kopi gula aren, dan media sosial Els Koffie yang kinerjanya telah melampaui harapan konsumen. Strategi perbaikan yang diprioritaskan meliputi standardisasi resep dan takaran gula aren pada setiap penyajian guna menjaga konsistensi rasa manis, optimalisasi rasio antara ekstrak kopi, susu, dan gula aren untuk menciptakan keseimbangan cita rasa, kontrol kualitas bahan baku secara berkala, serta pelatihan barista secara konsisten guna menjaga konsistensi cita rasa dan tingkat kemanisan produk kopi susu gula aren di Els Koffie Purwokerto.
The coffee industry in Indonesia has experienced rapid growth that has encouraged the emergence of coffee shops in the city of Purwokerto, including Els Koffie, which produces and sells palm sugar milk coffee products. Nevertheless, Els Koffie faces consumer complaints regarding the inconsistency of the palm sugar milk coffee's taste, which tends to be overly sweet and varies due to barista shift changes, resulting in a decline in sales from 1,104 products in September to 800 products in December, indicating a potential problem in the product attributes affecting consumer satisfaction. This study aims to evaluate the results of consumer importance and satisfaction levels using the Customer Satisfaction Index (CSI) method, determine the attributes that are the priority for improvement using the Importance Performance Analysis (IPA) method, and formulate an improvement strategy for palm sugar milk coffee at Els Koffie Purwokerto.
The research was conducted over three months from May to July 2026 at Els Koffie Purwokerto using a quantitative descriptive approach with a survey method through the distribution of closed questionnaires to 102 respondents using a purposive sampling technique based on the Cochran formula at a 95% confidence level. The selected respondents were consumers over 17 years old who had purchased and consumed palm sugar milk coffee products at Els Koffie Purwokerto at least twice. The variables observed covered 14 attributes grouped into three main variables, namely the organoleptic properties of palm sugar milk coffee, place and service, and price and promotion. The data were analyzed using the CSI and IPA methods with the assistance of Microsoft Office Excel.
The CSI analysis results showed a value of 90.59%, which falls into the “Very Satisfied” category, although a gap between actual performance and consumer expectations still remains and needs to be improved. The IPA analysis results showed that 2 attributes fell into Quadrant I as the main priority for improvement, namely coffee taste and the sweetness level of palm sugar milk coffee; 6 attributes fell into Quadrant II, which need to be maintained, namely aroma, cleanliness and comfort of the place, service, waiting time, price-quality suitability, and price-portion suitability; 3 attributes fell into Quadrant III, namely ease of location access, cleanliness of presentation, and product information on the menu; and 3 attributes fell into Quadrant IV, namely beverage viscosity, the color gradation of the palm sugar coffee, and Els Koffie's social media, whose performance has exceeded consumer expectations. The prioritized improvement strategies include standardizing the recipe and palm sugar dosage for each serving, optimizing the ratio of coffee extract, milk, and palm sugar to create a balanced taste, conducting periodic raw material quality control, and providing consistent barista training to maintain the consistency of taste and sweetness level of the palm sugar milk coffee product at Els Koffie Purwokerto