Artikelilmiahs

Menampilkan 51.721-51.740 dari 51.779 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5172155142A1D019110Pengaruh Kombinasi Nutrisi dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat Ceri (Solanum lycopersicum var.cerasiforme) pada Budidaya Hidroponik SubstratPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui mendapatkan kombinasi nutrisi, jenis media tanam serta interaksi antara nutrisi dan media tanam yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat ceri pada budidaya hidroponik substrat. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor yaitu jenis nutrisi dan jenis media tanam. Kedua faktor dikombinasikan menjadi 9 perlakuan dangan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Satu unit percobaan terdiri dari 4 tanaman sehingga total tanaman adalah 108 tanaman. Variabel yang diamati meliputi variabel pertumbuhan dan hasil. Variabel pertumbuhan terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, dan umur panen pertama. Variabel hasil meliputi umur panen pertama, jumlah buah, bobot segar buah, diameter buah, bobot segar akar, bobot kering akar, kadar klorofil daun, dan total padatan terlarut. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji F ANOVA dengan taraf kesalahan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi nutrisi AB mix 50% diperkaya bahan organik bonggol pisang memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 35 HST sebesar 48,2 cm, jumlah daun 35 HST sebanyak 75 helai, dan umur panen pertama. Kombinasi media tanam arang sekam + cocopeat 1:1 memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 42 HST sebesar 80,7 cm, jumlah daun 35 HST sebanyak 71,8 helai, dan umur panen pertama. Kedua kombinasi perlakuan tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap variabel pertumbuhan dan hasil lainnya.This study aims to determine the optimal combination of nutrients, growing media, and the interaction between nutrients and growing media for the growth and yield of cherry tomatoes in substrate-based hydroponic cultivation. This study employed a Completely Randomized Block Design (CRBD) with two factors: nutrient type and growing medium type. These two factors were combined into 9 treatments with 3 replications, resulting in 27 experimental units. Each experimental unit consisted of 4 plants, for a total of 108 plants. The observed variables included growth and yield variables. Growth variables consisted of plant height, number of leaves, and time to first harvest. Yield variables included time to first harvest, number of fruits, fresh fruit weight, fruit diameter, fresh root weight, dry root weight, leaf chlorophyll content, and total dissolved solids. The observation results were analyzed using an F-test ANOVA with a significance level of 0.05. The results showed that the AB mix 50% nutrient combination enriched with organic banana stem material had a significant effect on plant height at 35 days after sowing (DAS) of 48.2 cm, the number of leaves at 35 DAS of 75 leaves, and the age at first harvest. The growing medium combination of rice husk charcoal and cocopeat in a 1:1 ratio had a significant effect on plant height at 42 HST (80.7 cm), the number of leaves at 35 HST (71.8 leaves), and the time to first harvest. Neither treatment combination showed a significant effect on other growth and yield variables.
5172255146D1A021050Identifikasi bagan kering dan bahan organik kompos feses kambing di desa Melung kecamatan Kedungbanteng kabupaten Banyumas Latar Belakang. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi proporsi bahan
kering (BK) dan bahan organik (BO) dalam produk kompos berbasis kotoran
kambing di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas.
Orientasi utama penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kandungan
makronutrien melalui proses observasi yang berlangsung selama lima bulan, dari
tanggal 22 Juni hingga 22 November 2023. Bahan dan Metode. Kotoran kambing
digunakan sebagai komponen dasar produksi pupuk. Melalui program magang
MBKM, konsep keberlanjutan lingkungan dipromosikan dalam bentuk
pemanfaatan nol limbah. Total bahan baku yang diolah mencapai 2 ton kotoran
kambing, yang didistribusikan secara merata ke dalam 20 gundukan percobaan.
Setiap gundukan berisi 100 kg kotoran kambing, dikombinasikan dengan 5 kg
serbuk gergaji dan abu kayu masing-masing, dan diperkaya dengan 2 kg kapur
dolomit dan 250 gram starter Stardek. Semua bahan dicampur secara homogen,
dibentuk menjadi gundukan setinggi 1 meter, kemudian didekomposisi selama 30
hari dengan pembalikan rutin sekali seminggu (sebanyak 4 kali). Evaluasi
proksimat periodik dilaksanakan secara berkala pada hari ke-0, 7, 14, 21, serta 28.
Fasilitas produksi ini diintegrasikan melalui Rumah Kompos yang diprakarsai oleh
unit PPK Ormawa untuk memfasilitasi kegiatan produktif pemuda setempat.
Indikator yang diamati meliputi konsentrasi bahan organik dan bahan kering.
Hasil. Pengujian laboratorium menunjukkan bahwa kandungan bahan kering
berkisar antara 49,46% hingga 59,75%, sedangkan kandungan bahan organik
tercatat antara 37,20% dan 47,62%.
Background. The purpose of this study was to determine the percentage of dry
matter (DM) and organic matter (OM) contained in goat manure compost
produced in Melung Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency.
Essentially, this study aims to assess macronutrient content through an
observation process that lasted for five months, from June 22 to November 22,
2023. Materials and Methods. Goat manure is used as a basic component of
fertilizer production. Through the MBKM internship program, the concept of
environmental sustainability is promoted in the form of zero waste utilization. The
total raw material processed reached 2 tons of goat manure, which was evenly
distributed into 20 experimental mounds. Each mound contained 100 kg of goat
manure, combined with 5 kg of sawdust and wood ash each, and enriched with 2
kg of dolomite lime and 250 grams of Stardek starter. All materials were mixed
homogeneously, formed into a mound 1 meter high, then decomposed for 30 days
with regular turning once a week (4 times). Periodic proximate evaluations were conducted on days 0, 7, 14, 21, and 28. This production facility was integrated
through the Compost House initiated by the PPK Ormawa unit to facilitate the
productive activities of local youth. The indicators observed included the
concentration of organic matter and dry matter. Results. Laboratory testing
showed that the dry matter content ranged from 49.46% to 59.75%, while the
organic matter content was recorded between 37.20% and 47.62%.
5172354875A1D019159Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada Merah (Lactuva sativa var. Crispa) Pada Sistem Hidroponik Wick Dengan Perlakuan Variasi Dosis AB Mix dan Bakteri Penghasil IAABudidaya selada merah secara hidroponik umumnya bergantung pada larutan nutrisi AB Mix dalam konsentrasi penuh sehingga biaya produksi menjadi relatif tinggi. Upaya pengurangan penggunaan nutrisi perlu dilakukan tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pemanfaatan bakteri penghasil indole-3-acetic acid (IAA) yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pengurangan konsentrasi AB Mix dan aplikasi bakteri penghasil IAA terhadap pertumbuhan serta hasil selada merah pada sistem hidroponik wick. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dua faktor. Faktor pertama terdiri atas konsentrasi AB Mix 100%, 75%, dan 50%, sedangkan faktor kedua meliputi tanpa bakteri, isolat N19, isolat S3, dan isolat N15. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, perkembangan akar, biomassa tanaman, karakter stomata, dan kandungan klorofil. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi AB Mix 75% mampu menghasilkan pertumbuhan dan biomassa yang setara dengan konsentrasi penuh, sedangkan konsentrasi 50% menurunkan performa tanaman secara nyata. Aplikasi bakteri penghasil IAA meningkatkan perkembangan akar, biomassa tanaman, dan lebar bukaan stomata, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan kandungan klorofil. Interaksi kedua faktor ditemukan pada jumlah daun, luas daun, dan bobot segar tanaman. Kombinasi terbaik diperoleh pada perlakuan AB Mix 75% dengan isolat S3. Temuan ini menunjukkan bahwa pengurangan nutrisi sebesar 25% dapat diterapkan secara efektif apabila dikombinasikan dengan bakteri penghasil IAA yang tepat.Red leaf lettuce cultivation in hydroponic systems generally relies on full-strength AB Mix nutrient solution, resulting in relatively high production costs. Reducing nutrient use without compromising crop productivity is therefore essential. One potential approach is the application of indole-3-acetic acid (IAA)-producing bacteria, which function as plant growth-promoting microorganisms. This study aimed to evaluate the effects of reduced AB Mix concentrations and the application of IAA-producing bacteria on the growth and yield of red leaf lettuce cultivated in a wick hydroponic system. The experiment employed a two-factor factorial randomized complete block design. The first factor consisted of three AB Mix concentrations: 100%, 75%, and 50%. The second factor included four bacterial treatments: no bacterial inoculation, isolate N19, isolate S3, and isolate N15. Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 36 experimental units. The observed parameters included vegetative growth, root development, plant biomass, stomatal characteristics, and chlorophyll content. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the 5% significance level. The results showed that the 75% AB Mix concentration produced growth and biomass comparable to the full-strength nutrient solution, whereas the 50% concentration significantly reduced plant performance. The application of IAA-producing bacteria enhanced root development, plant biomass, and stomatal aperture width but had no significant effect on plant height or chlorophyll content. Significant interactions between the two factors were observed for leaf number, leaf area, and fresh weight. The best treatment combination was 75% AB Mix supplemented with isolate S3. These findings indicate that a 25% reduction in nutrient concentration can be effectively implemented when combined with an appropriate IAA-producing bacterial isolate.
5172455144A1D019128Teknik Pengambilan Sampel pada Sistem Pertanian Padi Organik dan KonvensionalPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik dan cara pengambilan sampel tanah dan beras pada sistem pertanian padi organik dan konvensional. Penelitian ini menggunakan metode survei dan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Survei dilakukan terhadap petani padi di area Kabupaten Banyumas dan Pemalang untuk mengetahui informasi mengenai lahan pertanian padi organik, khususnya informasi lama budidaya padi yang telah dilakukan secara organik, pengolahan lahan, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetik, dan sistem air irigasi. Purposive random sampling dilakukan dengan kriteria lahan padi organik yang sudah melakukan budidaya padi organik selama dua tahun dan selama proses budidaya tidak menggunakan masukan kimia. Hasil dari penelitian ini didapatkan tiga sampel tanah komposit dan tiga sampel beras komposit pertanian padi organik serta tiga sampel tanah komposit dan tiga sampel beras komposit pertanian padi konvensional yang diambil dari tiga lokasi di Kabupaten Banyumas, yaitu Desa Dawuhan (Kecamatan Banyumas), Desa Cihonje (Kecamatan Gumelar), dan Desa Jipang (Kecamatan Karanglewas), serta tiga lokasi di Kabupaten Pemalang, yaitu Desa Kebonsari (Kecamatan Petarukan), Desa Ujunggede (Kecamatan Ampelgading), dan Desa Karangbrai (Kecamatan Bodeh).This study aims to determine the techniques and methods for collecting soil and rice samples in organic and conventional rice farming systems. This study used a survey method and purposive random sampling. A survey was conducted among rice farmers in Banyumas and Pemalang Regencies to gather information about organic rice farming, specifically regarding the duration of organic rice cultivation, land preparation, the use of synthetic chemical fertilizers and pesticides, and irrigation systems. Purposive random sampling was conducted based on the criterion that organic rice fields had been used for organic rice cultivation for two years and had not used any chemical inputs during the cultivation process. The results of this study included three composite soil samples and three composite rice samples from organic rice farms, as well as three composite soil samples and three composite rice samples from conventional rice farms, all collected from three locations in Banyumas Regency: Dawuhan Village (Banyumas Subdistrict), Cihonje Village (Gumelar Subdistrict), and Jipang Village (Karanglewas Subdistrict), as well as three locations in Pemalang Regency: Kebonsari Village (Petarukan Subdistrict), Ujunggede Village (Ampelgading Subdistrict), and Karangbrai Village (Bodeh Subdistrict).
5172555150D1A019123Tingkah Laku Makan Berbagai Jenis Bangsa SapiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkah laku makan pada tiga bangsa sapi yang berbeda, yaitu sapi Simental (Bos Taurus), sapi Pegon (Bos Sondaicus), dan sapi Peranakan Ongole/PO (Bos Indicus). Penelitian ini menggunakan 27 ekor sapi jantan dewasa dari 3 bangsa sapi tersebut. Perbedaan antara rumpun sapi Simental, PO, dan Pegon diuji dengan analisis variansi dari Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga bangsa sapi (Simmental, Pegon, dan PO) sebagai perlakuan dan ulangan setiap perlakuan 9 ekor. Perbedaan rerata perlakuan diuji dengan Duncan Multiplr Range’s Test (DMRT). Peubah respon yang diamati adalah: lama waktu makan dan ruminasi sapi. Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan (P<0.05) pada lama ruminasi siang, lama waktu ruminasi siang sapi Pegon lebih pendek dari kedua bangsa sapi lainnya. Akan tetapi tidak berbeda nyata (P>0.05) pada lama makan konsentrat pagi,
lama makan konsentrat siang, lama makan jerami pagi, lama makan hijauan sore, dan lama ruminasi malam. Terdapat persamaan dan perbedaan tingkah laku makan pada ketiga bangsa sapi yang berbeda.
This study aimed to determine the differences in feeding behavior in three different cattle breeds, namely Simental cattle (Bos Taurus), Pegon cattle (Bos Sondaicus), and Peranakan Ongole/PO cattle (Bos Indicus). This study used 27 adult bulls from these 3 cattle breeds. Differences between Simental, PO, and Pegon cattle breeds were tested by analysis of variance of a completely randomized design (CRD) with three cattle breeds (Simmental, Pegon, and PO) as treatments and 9 repetitions of each treatment. Differences in treatment means were tested with Duncan Multiplr Range's Test (DMRT). The response variables observed were: duration of cows consuming feed and duration of cow rumination. The results of this study showed a significant difference (P<0.05) in the duration of rumination in the afternoon, Pegon cows' afternoon rumination time was shorter than the other two cattle breeds. However, there was no significant difference (P>0.05) in the duration of cows consuming concentrate in the morning, duration of cows consuming concentrate in the afternoon, duration of cows consuming hay in the morning, duration of cows consuming forage in the afternoon, and duration of cows ruminating in the evening. There are similarities and differences in the feeding behavior of the three different cattle breeds.
5172655148D1A019136Analisis Ekonomi Peternakan Ayam Broiler di Kandang Siti Khomsiah Farm Desa Tambaksari Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen
(Economic Analysis of Broiler Chicken Farming at Siti Khomsiah Farm, Tambaksari Village, Kuwarasan District, Kebumen Regency)
Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan ekonomi usaha peternakan ayam broiler Siti Khomsiah Farm menggunakan pendekatan kuantitatif berlandaskan Teori Perusahaan. Analisis data primer dari siklus produksi Oktober-Desember 2023 mencakup struktur biaya, penerimaan, keuntungan, dan titik impas. Hasil menunjukkan usaha ini sangat layak dengan nilai Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) sebesar 1,18, mengindikasikan setiap Rp1,00 biaya menghasilkan penerimaan Rp1,18. Biaya variabel, khususnya pakan, menjadi komponen dominan. Analisis titik impas juga mengonfirmasi adanya margin keamanan yang signifikan, membuktikan efisiensi dan profitabilitas usaha.This study aims to analyze the economic feasibility of the Siti Khomsiah Farm broiler chicken business using a quantitative approach based on the Theory of the Firm[4]. An analysis of primary data[5] from the October–December 2023 production cycle covers cost structure, revenue, profit, and the break-even point. The results indicate that the business is highly feasible, with a Revenue-Cost Ratio (R/C Ratio)[6] of 1.18, signifying that every Rp1.00 of cost generates Rp1.18 in revenue. Variable costs—specifically feed—constitute the dominant component. Break-even analysis further confirms a significant margin of safety, demonstrating the business's efficiency and profitability.
5172755149D1A019056PENGARUH PENAMBAHAN BIOKULTUR TERHADAP KONSUMSI PAKAN, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN (PBBH), DAN KONVERSI PAKAN DOMBA PRIANGANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan biokultur terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), dan konversi pakan domba Priangan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 18 November 2021 sampai 8 Januari 2022 di Lumbung Ternak Wakaf, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Materi yang digunakan adalah domba Priangan jantan umur ± 6 bulan sebanyak 18 ekor. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan analisis Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 6 ulangan. Perlakuan meliputi P0 (40% konsentrat dan 60% hijauan), P1 (pakan kontrol + 1% biokultur), dan P2 (pakan + 2% biokultur). Variabel yang diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan biokultur memberikan pengaruh sangat nyata terhadap konsumsi pakan (P<0.01). Namun demikian, penambahan biokultur dengan level yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan konversi pakan.
The study aimed to determine the effect of adding bioculture on feed intake, average daily gain (ADG), and feed conversion ratio of Priangan sheep. The study was conducted from November 18, 2021, to January 8, 2022, at Lumbung Ternak Wakaf in Tasikmalaya Regency, West Java. The study subjects consisted of 18 male Priangan sheep aged approximately 6 months. An experimental design using a completely randomized design (CRD) was employed, comprising 3 treatments with 6 replicates. The treatments included P0 (40% concentrate and 60% forage), P1 (control feed + 1% bioculture), and P2 (control feed + 2% bioculture). The variables observed included feed intake, average daily gain (ADG), and feed conversion ratio. The results showed that the addition of bioculture had a highly significant effect on feed intake (P<0,01). However, the addition of bioculture at different levels had no significant effect on average daily gain (ADG) and feed conversion ratio.
5172855151C1G020013ANALYSIS OF FINANCIAL LITERACY AND DEMOGRAPHIC FACTORS ON THE INVESTMENT DECISIONS OF GENERATION Z AND MILLENNIALS IN CIREBON REGENCYPenelitian ini menganalisis pengaruh literasi keuangan dan faktor demografis terhadap keputusan investasi Generasi Z dan Milenial pada komunitas trader dan investor di Kabupaten Cirebon. Penelitian ini didasari oleh tingginya realisasi investasi daerah (Rp4,02 triliun) yang belum diimbangi kesiapan sumber daya, terlihat dari rata-rata lama sekolah yang berada di bawah standar provinsi dan nasional, serta kesenjangan antara indeks inklusi keuangan (80,51%) dan literasi keuangan (66,46%) menurut SNLIK OJK & BPS (2025). Literasi keuangan (financial knowledge, behavior, dan attitude) serta faktor demografis (usia, pendidikan, dan pendapatan) diposisikan sebagai variabel independen, dengan keputusan investasi sebagai variabel dependen. Melalui purposive sampling, diperoleh 155 responden dari komunitas trader dan investor Generasi Z dan Milenial di Kabupaten Cirebon. Data kuesioner skala Likert ditransformasi ke skala interval melalui Method of Successive Interval (MSI), kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda SPSS 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa financial knowledge, financial attitude, dan income berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan investasi, sedangkan financial behavior, usia, dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan. Income menjadi variabel paling dominan, diikuti financial attitude dan financial knowledge. Secara simultan, seluruh variabel berpengaruh signifikan dengan kontribusi model sebesar 73,4%.
This study analyzes the influence of financial literacy and demographic factors on the investment decisions of Generation Z and Millennials within the trader and investor community in Cirebon Regency. The study is motivated by the high level of regional investment realization (Rp4.02 trillion), which has not been matched by adequate human resource readiness, as reflected in the region's average years of schooling falling below the provincial and national averages, alongside a gap between the financial inclusion index (80.51%) and financial literacy index (66.46%) reported by OJK and BPS's SNLIK (2025). Financial literacy (financial knowledge, behavior, and attitude) and demographic factors (age, education, and income) were positioned as independent variables, with investment decisions as the dependent variable. Through purposive sampling, 155 respondents were obtained from the Generation Z and Millennial trader and investor community in Cirebon Regency. Likert-scale questionnaire data were transformed into an interval scale using the Method of Successive Interval (MSI) and analyzed using multiple linear regression in SPSS 27. The results show that financial knowledge, financial attitude, and income have a positive and significant effect on investment decisions, whereas financial behavior, age, and education level do not. Income is the most dominant variable, followed by financial attitude and financial knowledge. Simultaneously, all variables have a significant effect, with the model explaining 73.4% of the variance in investment decisions.
5172955152F1B022017Efektivitas Pelayanan Administrasi Kependudukan pada Website Gratis Kabeh di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten BanyumasPelayanan administrasi kependudukan berbasis digital dikembangkan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik, namun keberadaan layanan daring belum serta-merta menjamin pelayanan berjalan efektif. Kondisi tersebut juga terjadi pada Website Gratis Kabeh yang dikembangkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyumas, ditandai dengan pemanfaatan layanan online yang masih lebih rendah dibandingkan pelayanan offline serta adanya kendala dalam ketepatan waktu, sosialisasi, dan pemanfaatan layanan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pelayanan administrasi kependudukan pada Website Gratis Kabeh di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui proses wawancara, observasi, dokumentasi, dan data google analytics serta menggunkan konsep efektivitas menurut Budiani (2007). Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Website Gratis Kabeh telah memenuhi aspek ketepatan sasaran, sosialisasi, tujuan, dan pemantauan program, tetapi pelaksanaannya belum optimal. Layanan telah menjangkau seluruh wilayah Banyumas dan memberikan kemudahan serta efisiensi pelayanan. Namun, pemanfaatan secara mandiri masih terkendala rendahnya literasi digital, keterbatasan jaringan dan perangkat, kewajiban aktivasi IKD, keterbatasan sumber daya manusia, gangguan sistem, serta sosialisasi yang belum optimal. Data google analytics juga menunjukkan adanya pemanfaatan aktif Website Gratis Kabeh dengan 6.608 pengguna dan 1.896.826 peristiwa selama Januari–April 2026, termasuk 110.368 aktivitas pengajuan (form submit). Temuan tersebut menunjukkan bahwa efektivitas pelayanan ditentukan oleh keterkaitan antaraspek, sehingga penguatan sosialisasi, pendampingan pengguna, sumber daya manusia, dan kualitas sistem diperlukan untuk mengoptimalkan pelayanan administrasi kependudukan berbasis digital.Digital-based population administration services have been developed to improve access to and the quality of public services. However, the availability of online services does not necessarily guarantee effective service delivery. This condition is also evident in the Website Gratis Kabeh developed by the Department of Population and Civil Registration of Banyumas Regency, as indicated by the lower utilization of online services compared to offline services, as well as challenges related to timeliness, program socialization, and service utilization. This study aims to explore the factors influencing the effectiveness of population administration services through the Website Gratis Kabeh at the Department of Population and Civil Registration of Banyumas Regency. This study employed a qualitative method with a case study approach. Data were collected through interviews, observations, documentation, and Google Analytics data, using Budiani’s (2007) concept of program effectiveness as the analytical framework. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The results show that the Website Gratis Kabeh has fulfilled the aspects of program targeting, socialization, objectives, and monitoring; however, its implementation has not yet been optimal. The service has reached all areas of Banyumas Regency and has provided greater convenience and efficiency. Nevertheless, independent utilization remains constrained by low digital literacy, limited network connectivity and devices, the requirement to activate the Digital Population Identity (IKD), limited human resources, system disruptions, and suboptimal socialization. Google Analytics data also indicate active utilization of the Gratis Kabeh Website, with 6,608 users and 1,896,826 events recorded from January to April 2026, including 110,368 form submission activities. These findings indicate that service effectiveness is determined by the interrelationship among the four aspects. Therefore, strengthening socialization, user assistance, human resources, and system quality is necessary to optimize digital-based population administration services.
5173055154A1C022070Pengaruh Kadar Air dan Jenis Tanah Terhadap Luas Bidang
Kontak Pada Traktor Roda Dua Menggunakan Metode
Perhitungan ImageJ, Gravimetri, dan Regresi
Pengolahan tanah menggunakan traktor roda dua berpotensi menimbulkan
pemadatan tanah akibat tekanan mekanis roda yang dipengaruhi oleh jenis tanah, kadar
air tanah, serta besarnya luas bidang kontak dengan permukaan tanah, namun penelitian
mengenai hal ini masih terbatas sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh jenis tanah dan kadar air terhadap luas bidang kontak roda traktor roda dua
sekaligus mengukur luas bidang kontak roda menggunakan tiga metode pengukuran yaitu
ImageJ, Gravimetri, dan Regresi. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Banyumas pada
tiga lokasi dengan kelas tekstur tanah yang berbeda, yaitu tanah Andosol di Kecamatan
Sokaraja (lempung/loam), Latosol di Kecamatan Purwokerto Barat (lempung
berpasir/sandy loam), dan Podsolik di Kecamatan Patikraja (liat berdebu/silty clay).
Pengujian menggunakan dua perlakuan, yaitu jenis tanah (S1 = Andosol, S2 = Latosol,
S3 = Podsolik) dan kadar air tanah (W1 = rendah, W2 = sedang air, W3 = tinggi), sehingga
menghasilkan 9 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 7 kali
hingga diperoleh total 63 sampel penelitian.
Luas bidang kontak diukur dari sampel pola cetakan busa EVA foam menggunakan
tiga metode, yaitu pengolahan citra digital (ImageJ), rasio bobot massa material
(Gravimetri), dan persamaan matematika (Regresi), kemudian validasi metode
pengukuran dievaluasi menggunakan analisis Root Mean Square Error (RMSE) terhadap
20 variasi ukuran pola persegi geometri standar. Analisis data dilakukan menggunakan
Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh signifikan dari perlakuan
terhadap luas bidang kontak, uji Wilcoxon’s signed range test dengan koreksi Bonferroni
(0,0167) untuk mengetahui perbedaan signifikan luas bidang kontak roda dari ketiga
metode pengukuran, serta uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf
signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tanah dan kadar air berpengaruh nyata
terhadap luas bidang kontak roda, di mana jenis tanah Podsolik (S3) menghasilkan nilai
rata-rata tertinggi, diikuti oleh tanah Andosol (S1), dan terendah pada tanah Latosol (S2).
Tingkat kadar air tanah terbukti menjadi faktor paling dominan karena peningkatan kadar
air mereduksi kekuatan geser dan daya dukung tanah sehingga memicu roda amblas
(sinkage) lebih dalam dan memperluas area kontak secara signifikan seiring
bertambahnya kadar air (W3 > W2 > W1). Berdasarkan hasil uji validasi RMSE, metode
pengolahan citra digital ImageJ memiliki tingkat presisi dan akurasi paling tinggi dengan
nilai galat terkecil (RMSE = 1,951), diikuti metode Regresi (RMSE = 2,102), dan metode
Gravimetri dengan galat terbesar (RMSE = 3,380), sehingga metode ImageJ terbukti
paling presisi dan andal untuk pengukuran luas bidang kontak roda traktor di lapangan.
Tillage using two-wheel tractors potentially induces soil compaction due to
mechanical wheel pressure, which is influenced by soil type, soil moisture content, and
the wheel soil contact area; however, research addressing this issue remains limited.
Therefore, this study aimed to analyze the effects of soil type and moisture content on the
contact area characteristics of two wheel tractor wheels, while simultaneously measuring
the wheel contact area using three analytical methods: ImageJ, Gravimetry, and
Regression. The study was conducted in Banyumas Regency across three sites with
distinct soil texture classes: Andosol in Sokaraja Subdistrict (loam), Latosol in West
Purwokerto Subdistrict (sandy loam), and Podzolic in Patikraja Subdistrict (silty clay).
The experiment employed two treatments, namely soil type (S1 = Andosol, S2 = Latosol,
S3 = Podzolic) and soil moisture content (W1 = low, W2 = medium, W3 = high), using 9
treatment combinations that were each replicated 7 times to obtain a total of 63
experimental samples. The contact area was measured from imprint patterns on EVA foam
samples using three methods: digital image processing (ImageJ), material weight-to-
mass ratio (Gravimetry), and mathematical equation (Regression), after which the
validity of the measurement methods was evaluated using Root Mean Square Error
(RMSE) analysis against 20 size variations of standard geometric square patterns.
Data analysis was performed using Analysis of Variance (ANOVA) to determine the
significant effects of the treatments on the contact area, the Wilcoxon’s signed range test
with Bonferroni correction (0,0167) to identify significant differences in the wheel contact
area among the three measurement methods, and Duncan’s Multiple Range Test (DMRT)
at a 5% significance level. The results demonstrated that soil type and moisture content
had a significant effect on the wheel contact area, with the Podzolic soil (S3) generating
the highest average value, followed by Andosol (S1), and the lowest in Latosol (S2). Soil
moisture content proved to be the most dominant factor, as increasing moisture reduced
soil shear strength and bearing capacity, thereby triggering deeper wheel sinkage and
significantly expanding the contact area as moisture content increased (W3 > W2 > W1).
Based on the RMSE validation results, the ImageJ digital image processing method
exhibited the highest degree of precision and accuracy with the smallest error value
(RMSE = 1.951), followed by the Regression method (RMSE = 2.102), and the
Gravimetry method with the largest error (RMSE = 3,380), proving that the ImageJ
method is the most precise and reliable for measuring tractor wheel contact area in the
field.
5173155153J0A021032Creating A Bilingual E-booklet to Promote Kendalisada Art Festival at Dinkominfo BanyumasLaporan praktik kerja lapangan ini disusun berdasarkan kegiatan yang berlangsung pada tanggal 17 Juli – 17 Oktober 2023 di Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Banyumas. Instansi ini dipilih karena menyediakan informasi mengenai Festival Seni Kendalisada. Dinkominfo memiliki peran untuk mengumpulkan informasi dan mempublikasikannya di platform-platform mereka.
Laporan ini menjelaskan pelaksanaan pelatihan kerja melalui pembuatan e-booklet dwibahasa tentang Festival Seni Kendalisada dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mengunjungi festival di Kaliori, wawancara dilakukan dengan Bapak Sarip sebagai ketua panitia, sedangkan dokumentasi mencakup foto dan rekaman suara. E-booklet tersebut menjelaskan festival dalam kedua bahasa. Pembuatannya melibatkan lima langkah; menentukan tujuan, menyusun konten, menjaga konsistensi desain, membuat tata letak dua halaman yang interaktif, dan mengekspornya untuk penggunaan daring.
Selama proses pembuatan e-booklet, penulis menghadapi beberapa kendala. E-booklet ini tidak terkait langsung dengan Dinkominfo Banyumas karena festival biasanya ditangani oleh Dinas Pariwisata. Selain itu, informasi daring mengenai Festival Seni Kendalisada juga terbatas. Namun, kendala-kendala ini dapat diatasi karena Dinkominfo menyediakan informasi publik, dan penulis memperoleh informasi tambahan dari jurnal serta masyarakat setempat.
This job training report is based on the job training that happened during 17 July - 17 October, 2023 at the Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Banyumas. The institution gets chosen because it provides information regarding Kendalisada Art Festival. Dinkominfo has a role to gather information and publish it on their platforms.
This report explains the implementation of job training through the creation of a bilingual e-booklet about the Kendalisada Art Festival in English and Indonesian. The methods used were observation, interview, and documentation. Observation was conducted by visiting the festival in Kaliori, an interview was conducted with Mr. Sarip as the committee leader, and documentation included photos and voice recordings. The e-booklet explains the festival in both languages. Its creation involved five steps; defining objectives, organizing content, maintaining consistent design, creating interactive double-page layouts, and exporting it for online use.
During the creation of the e-booklet, the author faced several obstacles. The e-booklet was not directly related to Dinkominfo Banyumas because festivals are usually handled by the Tourism Department. There was also limited information about the Kendalisada Art Festival. However, these problems were overcome because Dinkominfo provides public information, and the author got more information from journals and the local.
5173255155D1A019029PENGKAJIAN TOTAL SOLID, LAKTOSA, DAN PROTEIN SUSU SEGAR DI KECAMATAN BATURRADEN DAN KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMASPenelitian dilakukan berdasarkan semakin tinggi produksi susu segar di Banyumas dalam skala peternakan rakyat sehingga perlu dilakukan pengkajian perbedaan kualitas susu berupa total solid, protein, dan laktosa. Materi penelitian yang digunakan adalah data kualitas susu segar dari koperasi PESAT yang diperoleh dari peternakan sapi perah di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Pekuncen yang diperoleh selama periode pemeliharaan pada Januari – Oktober 2023. Data diperoleh secara purposive sampling kemudian dianalisis secara parametrik menggunakan uji beda t dan analisis regresi linear berganda. Hasil dari analisis menunjukkan perbedaan rataan total solid, protein, dan laktosa di Kecamatan Baturraden secara berurutan, yaitu 12,02 ± 0,90%; 2,91 ± 0,17%; dan 4,37 ± 0,25%. Rataan total solid, protein, dan laktosa di Kecamatan Pekuncen secara berurutan, yaitu 12,65 ± 0,86; 3,20 ± 0,21%; dan 4,77 ± 0,26%. Analisis regresi linear berganda menunjukkan hasil persamaan Y = 1,166 – 1,196X1 + 3,249X2. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara protein, laktosa, dan total solid pada susu segar di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Pekuncen, kemudian kadar protein dan laktosa mempengaruhi total solid susu di kedua kecamatan tersebut.The research was conducted in response to the increasing production of fresh milk from smallholder dairy farms in Banyumas Regency, necessitating an assessment of differences in milk quality based on total solids, protein, and lactose contents. The research materials consisted of fresh milk quality data obtained from the PESAT cooperative, collected from dairy cattle farms in Baturraden and Pekuncen Districts during the January–October 2023 production period. Data were obtained using purposive sampling and analyzed parametrically using an independent samples t-test and multiple linear regression analysis. The results showed that the mean values of total solids, protein, and lactose in Baturraden District in order were 12.02 ± 0.90%, 2.91 ± 0.17%, and 4.37 ± 0.25%, Meanwhile, the mean values of total solids, protein, and lactose in Pekuncen District in order were 12.65 ± 0.86%, 3.20 ± 0.21%, and 4.77 ± 0.26%. Multiple linear regression analysis produced the equation Y = 1.166 − 1.196X₁ + 3.249X₂. It can be concluded that significant differences exist in the protein, lactose, and total solids contents of fresh milk between Baturraden and Pekuncen Districts. Furthermore, protein and lactose contents significantly influence the total solids content of fresh milk in both districts.
5173355157A1D022157Pengaruh Dosis Pupuk Kandang Kambing dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair Urin Kambing yang Diperkaya KCl terhadap Pertumbuhan dan Hasil EdamameEdamame merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang banyak diminati masyarakat karena mengandung protein nabati dan vitamin yang bermanfaat sebagai sumber gizi. Teknik budidaya untuk meningkatkan produktivitas edamame yaitu dengan pemanfaatan bahan organik dan pemupukan dengan dosis yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang kambing, pengaruh POC urin kambing yang diperkaya KCl, serta pengaruh kombinasi terbaik dan interaksi pupuk kandang kambing dan POC urin kambing yang diperkaya KCl terhadap pertumbuhan dan hasil edamame. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang kambing dengan 3 taraf yang terdiri dari P1= kontrol; P2= 10 ton/ha; dan P3= 20 ton/ha. Faktor kedua adalah konsentrasi POC urin kambing yang diperkaya KCl dengan 4 taraf yang terdiri dari U1= kontrol; U2= 50 ml/L + 3,75 g KCl; U3= 100 ml/L + 3,75 g KCl; dan U4= 150 ml/L + 3,75 g KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kandang kambing tidak berpengaruh nyata pada variabel pertumbuhan maupun variabel hasil. Konsentrasi pupuk organik cair urin kambing yang diperkaya KCl dapat meningkatkan jumlah daun trifoliat dengan konsentrasi terbaik yaitu 150 ml/L + 3,75 g KCl (U4). Kombinasi dosis pupuk kandang kambing dan konsentrasi pupuk organik air yang diperkaya KCl mampu meningkatkan tinggi tanaman, bobot polong perpetak, dan bobot segar brangkasan.Edamame is a horticultural commodity in high demand due to its content of plant-based protein and vitamins, which serve as valuable nutritional sources. Cultivation techniques to increase edamame productivity involve the use of organic materials and fertilization at the appropriate dosage. This study aims to determine the effect of goat manure, the effect of KCl-enriched liquid organic fertilizer (LOF) derived from goat urine, and best combination and interaction of goat manure and KCl-enriched goat urine LOF on edamame growth and yield. This study uses Randomized Block Design (RBD) with two factors and four replications. The first factor was the dosage of goat manure, comprising three levels: P1 = control, P2 = 10 tons/ha, and P3 = 20 tons/ha. The second factor was the concentration of KCl-enriched goat urine liquid organic fertilizer (POC), comprising four levels: U1 = control, U2 = 50 ml/L + 3.75 g KCl, U3 = 100 ml/L + 3.75 g KCl, and U4 = 150 ml/L + 3.75 g KCl. The results indicated that the dosage of goat manure did not have a significant effect on either growth or yield variables. The concentration of KCl-enriched liquid organic fertilizer derived from goat urine can increase the number of trifoliate leaves, with the optimal concentration being 150 ml/L + 3.75 g KCl (U4). The combination of goat manure dosage and KCl-enriched liquid organic fertilizer concentration is capable of increasing plant height, pod weight per plot, and fresh biomass weight.
5173455156E1B019034LEGAL PROTECTION FOR CONSUMERS PURCHASING MOBILE PHONES ONLINE THROUGH A PRE-ORDER SYSTEM BASED ON LAW NUMBER 8 OF 1999 CONCERNING CONSUMER PROTECTION (Case Study Of Decision Number. 1442/Pid.B/2023/PN.Tng).
Perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna suatu barang dan/atau
jasa masih sangat lemah di Indonesia. Perkembangan hukum bisnis saat ini berkembang sangat pesat. Perkembangan teknologi dan hukum harus mengikuti perkembangan zaman. Di Indonesia mulai berkembang istilah-istilah perbuatan yang disebut Transaksi Elektronik yang dapat menimbulkan masalah hukum.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap konsumen serta untuk mengetahui dan menjawab akibat hukum pelaku usaha yang mengakibatkan kerugian dalam transaksi elektronik penjualan Handphone melalui sistem Pre-order ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif, metode pendekatan kasus, pendekatan konseptual dan pendekatan undang-undang, spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan yang disajikan melalui uraian secara sistematis dan logis dengan teks naratif, dan dianalisis secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa dalam Putusan Nomor 1442/Pid,B/2023/PN.Tng, memperlihatkan bahwa perlindungan hukum bagi konsumen dapat ditelusuri melalui dua bentuk, yakni perlindungan preventif melalui kewajiban pelaku usaha untuk beritikad baik, memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur, serta memenuhi prestasi sesuai dengan kesepakatan dalam transaksi elektronik, serta perlindungan represif yang terwujud melalui penjatuhan pidana penjara dan pengabulan ganti kerugian. Akibat Hukum yang timbul terwujud melalui lahirnya hak pihak yang dirugikan untuk memperoleh pemulihan atas kerugiannya serta kewajiban pihak pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Legal protection for consumers of goods and/or services remains very weak in Indonesia. Business law is currently evolving at a rapid pace. Furthermore, technological and legal developments must keep pace with the times. In Indonesia, terms related to electronic transactions which can give rise to legal issues are beginning to emerge.
This study aims to examine legal protection for consumers and to identify and address the legal consequences for business entities resulting from electronic transactions involving the sale of cell phones through a pre-order system, as viewed under Law of Consumer Protection. This study employs a normative legal research design, utilizing a case study approach, a conceptual approach, and a statutory approach, with a descriptive-analytical research methodology. The data used are secondary data collected through a literature review, presented through systematic and logical descriptions using narrative text, and analyzed using a normative qualitative approach.
Based on the research results and data analysis, Judgment Number 1442/Pid.B/2023/PN.Tng demonstrates that legal protection for consumers can be categorized into two distinct forms: preventive protection, which imposes obligations on business actors to act in good faith, provide accurate, clear, and honest information, and fulfill obligations in accordance with electronic transaction agreements; and repressive protection, realized through the imposition of imprisonment and the granting of compensation for damages. The resulting legal consequences entitle the injured party to obtain restitution for their losses while obligating the perpetrator to hold full responsibility for their actions.
5173555158A1A022067FAKTOR-FAKTOR SOSIAL YANG MEMENGARUHI
KEPUTUSAN PERAJIN GULA KELAPA DALAM MENJALIN KEMITRAAN DENGAN PT BERKAT PETANI INDONESIA DI KECAMATAN CILONGOK
Kemitraan dilakukan untuk mendapatkan keuntungan yang didapatkan perusahaan dan perajin gula di Kecamatan Cilongok. Salah satu perusahaan yang melakukan kemitraan di Kecamatan Cilongok yaitu PT Berkat Petani Indonesia. Perajin gula di Kecamatan Cilongok tidak semua menjalin kemitraan dengan perusahaan. Permasalahan tersebut tersebut dapat diatasi dengan faktor yang digunakan untuk mengukur keputusan perajin menjalin hubungan kemitraan berupa faktor sosial melalui kepercayaan, norma timbal balik, jaringan sosial, persepsi manfaat, dan pengalaman historis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mekanisme dan bentuk kemitraan antara PT Berkat Petani Indonesia dengan perajin gula kelapa, dan menganalisis pengaruh faktor sosial terhadap keputusan kemitraan perajin dengan PT Berkat Petani Indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif, yang dilaksanakan di Kecamatan Cilongok pada rentang waktu bulan Oktober 2025 sampai Juli 2026. Sampel penelitian berjumlah 72 perajin yang dipilih menggunakan teknik Multistage Cluster Sampling dengan alokasi non-proprortionate. Bentuk dan mekanisme kemitraan dianalisis secara deskriptif, dan faktor-faktor sosial yang memengaruhi keputusan kemitraan dianalisis menggunakan regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kemitraan yang terjalin perusahaan dengan perajin menggambarkan karakteristik inti-plasma. Hasil regresi menunjukan secara simultan seluruh variabel independen berpengaruh secara signifikan. Secara parsial, kepercayaan dan persepsi manfaat berpengaruh secara positif signifikan, sedangkan norma timbal balik, jaringan sosial, dan pengalaman historis tidak berpengaruh secara signifikan. Penelitian ini menunjukan hubungan bahwa kemitraan yang terjalin untuk kepentingan bersama antara perusahaan dengan perajin gula kelapa. Peningkatan kepercayaan dan persepsi manfaat menjadi faktor utama dalam keputusan perajin menjalin kemitraan. Upaya tersebut perlu didukung dengan komunikasi yang baik antara perusahaan dengan perajin dengan pembenahan hubungan timbal balik dan jalinan sosial kemitraan untuk menjaga keberlanjutan kemitraan.
Partnerships are established to create mutual benefits for both companies and coconut sugar artisans in Cilongok District. One of the companies implementing such a partnership is PT Berkat Petani Indonesia, which collaborates with coconut sugar artisans in Cilongok District. However, not all coconut sugar artisans in the district participate in the partnership. This issue can be examined through social factors that influence artisans' decisions to engage in partnerships, namely trust, reciprocity norms, social networks, perceived benefits, and historical experience. This study aims to analyze the partnership mechanism and partnership model between PT Berkat Petani Indonesia and coconut sugar artisans, as well as to examine the influence of social factors on artisans' decisions to participate in the partnership.
This research employed a survey method with a quantitative approach and was conducted in Cilongok District from October 2025 to July 2026. A total of 72 coconut sugar artisans were selected using a multistage cluster sampling technique with disproportionate allocation. The partnership model and mechanism were analyzed descriptively, while the social factors influencing partnership decisions were examined using binary logistic regression.
The results indicate that the partnership between PT Berkat Petani Indonesia and coconut sugar artisans exhibits the characteristics of a nucleus–plasma partnership model. Simultaneously, all independent variables significantly influence artisans' partnership decisions. Partially, trust and perceived benefits have a positive and significant effect on the decision to participate in the partnership, whereas reciprocity norms, social networks, and historical experience have no significant effect. The findings suggest that the partnership is established to achieve mutual benefits for both the company and coconut sugar artisans. Strengthening trust and enhancing the perceived benefits of the partnership are the key factors influencing artisans' decisions to participate. Therefore, these efforts should be supported by effective communication between the company and artisans, along with strengthened reciprocal relationships and social networks, to ensure the sustainability of the partnership.
5173655159A1A022043PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN PENYULUH PERTANIAN
DI KELOMPOK TANI KARANGNANGKA DESA BANJARANYAR
KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS
Keberhasilan penerapan usahatani tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis
budidaya, tetapi juga oleh peran eksternal lainnya khususnya penyuluh pertanian.
Penyuluh pertanian memiliki tujuh peran yaitu sebagai motivator, edukator,
katalisator, komunikator, konsultan, fasilitator dan inovator. Namun, peran
tersebut belum sepenuhnya berjalan secara optimal, sehingga berpotensi
memengaruhi kegiatan usahatani para petani. Penelitian ini bertujuan untuk (1)
mengetahui persepsi petani terhadap peran penyuluh pertanian di Kelompok Tani
Karangnangka, (2) menganalisis dan mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang
memengaruhi persepsi petani terhadap peran penyuluh pertanian di Kelompok
Tani Karangnangka.
Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani Karangnangka, Desa
Banjaranyar dengan menggunakan metode penelitian studi kasus dengan
pendekatan kuantitatif. Penentuan responden dilakukan secara probability
sampling yaitu stratified random sampling terhadap populasi di Kelompok Tani
Karangnangka, Desa Banjaranyar sebanyak 80 petani. Data yang digunakan
adalah data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan menggunakan
analisis deskriptif, teknik skoring untuk mengukur persepsi petani, serta analisis
regresi berganda yang digunakan untuk menentukan faktor yang memengaruhi
persepsi petani terhadap peran penyuluh pertanian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran penyuluh di Kelompok Tani
Karangnangka memperoleh skor sebesar 91,89%, yang termasuk dalam kategori
sangat berperan. Variabel usia dan tingkat pendidikan merupakan faktor-faktor
yang tidak memengaruhi persepsi petani terhadap peran penyuluh pertanian.
Sebaliknya, faktor-faktor yang memengaruhi persepsi petani terhadap peran
penyuluh pertanian secara positif adalah luas lahan, lama bertani, dan keaktifan
dalam kelompok tani. Adapun variabel frekuensi mengikuti penyuluhan
berpengaruh secara negatif pada persepsi petani terhadap peran penyuluh
pertanian.
The success of farming implementation is determined not only by technical
cultivation aspects but also by other external roles, particularly agricultural
extension workers. Agricultural extension workers perform seven key roles:
motivator, educator, catalyst, communicator, consultant, facilitator, and
innovator. However, these roles have not yet been fully optimized, which
potentially affects farmers' agricultural activities. This study aims to: (1)
determine farmers' perceptions of the role of agricultural extension workers in the
Karangnangka Farmers Group, and (2) analyze and identify the factors
influencing farmers' perceptions regarding the role of agricultural extension
workers in the Karangnangka Farmers Group.
This research was conducted in the Karangnangka Farmers Group,
Banjaranyar Village, utilizing a case study research method with a quantitative
approach. The sample was selected using probability sampling—specifically
stratified random sampling—comprising 80 farmers from the population of the
Karangnangka Farmers Group in Banjaranyar Village. The data utilized
consisted of both primary and secondary data. Data analysis was carried out
using descriptive analysis, a scoring technique to measure farmers' perceptions,
and multiple linear regression analysis to identify the factors influencing farmers'
perceptions of the extension workers' roles.
The results of this study show that the role of agricultural extension workers
in the Karangnangka Farmers Group scored 91.89%, which falls into the highly
influential category. Age and education level are factors that do not affect
farmers' perceptions of the extension workers' role. Conversely, land area,
farming experience, and active participation in the farmers group positively
influence farmers' perceptions. Meanwhile, the frequency of attending extension
sessions has a negative effect on farmers' perceptions of the agricultural extension
workers' role.
5173755160A1C022063Pengaruh Penggunaan Implement Dan Kondisi Permukaan Tanah Terhadap Luas Bidang Kontak Roda Traktor Roda Dua: Metode Perhitungan Imagej, Gravimetri, Dan RegresiJenis implement dan kondisi permukaan tanah merupakan dua faktor penting yang memengaruhi luas bidang kontak roda traktor roda dua, yang pada akhirnya berkaitan erat dengan risiko pemadatan tanah pada kegiatan pengolahan lahan pertanian. Semakin kecil luas bidang kontak, semakin besar tekanan yang diterima tanah sehingga risiko pemadatan meningkat. Namun, kajian mengenai pengaruh kombinasi kedua faktor tersebut terhadap luas bidang kontak roda, serta perbandingan metode pengukurannya, masih terbatas. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan implement dan kondisi permukaan tanah terhadap luas bidang kontak roda traktor roda dua, serta membandingkan hasil pengukuran menggunakan metode ImageJ, gravimetri, dan regresi.
Penelitian dilaksanakan di lahan UPJA Kecamatan Sokaraja dan Lapangan Srianom Karangduren, Kabupaten Banyumas, pada Februari – Juli 2026. Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu jenis implement (tanpa implement, bajak garu, dan bajak singkal) dan kondisi permukaan tanah (permukaan polos, berbatu, dan berumput), sehingga diperoleh sembilan kombinasi perlakuan. Variabel yang diukur adalah luas bidang kontak roda melalui pola (replika) jejak roda menggunakan tiga metode: ImageJ, gravimetri, dan regresi.Pengukuran dilakukan dengan tujuh kali ulangan untuk setiap metode, sehingga diperoleh 3 × 3 × 7 = 63 hasil pengukuran untuk ketiga metode. Data luas bidang kontak dianalisis menggunakan ANOVA dua arah dan uji lanjut DMRT (Duncan's Multiple Range Test) dengan taraf 5%, serta diuji lanjut wilcoxon 5%, dan diuji keakuratannya menggunakan RMSE.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis implement berpengaruh nyata terhadap luas bidang kontak pada ketiga metode pengukuran; bajak singkal menghasilkan luas bidang kontak tertinggi, diikuti bajak garu, dan terendah pada perlakuan tanpa implement. Kondisi permukaan tanah juga berpengaruh nyata, di mana permukaan berumput menghasilkan luas bidang kontak terbesar, diikuti permukaan polos, dan terkecil pada permukaan berbatu. Terdapat interaksi antara kedua faktor, di mana kombinasi bajak singkal dengan permukaan berumput (A3B3) menghasilkan luas bidang kontak terbesar, sedangkan kombinasi tanpa implement dengan permukaan berbatu (A1B2) menghasilkan luas bidang kontak terkecil. Secara keseluruhan, penggunaan implement dengan beban yang lebih besar dan permukaan lintasan yang lebih lunak menghasilkan luas bidang kontak yang lebih besar.
The type of implement and soil surface condition are two important factors affecting the contact area of two-wheel tractor tires, which are closely related to the risk of soil compaction during agricultural land preparation. A smaller contact area results in greater pressure exerted on the soil, thereby increasing the risk of soil compaction. However, studies examining the combined effects of these two factors on tire contact area, as well as comparisons among measurement methods, remain limited. Therefore, this study aimed to analyze the effects of implement use and soil surface conditions on the tire contact area of a two-wheel tractor and to compare the measurement results obtained using ImageJ, gravimetric, and regression methods.
The study was conducted at the UPJA field in Sokaraja District and Srianom Field, Karangduren, Banyumas Regency, from February to July 2026. The treatments consisted of two factors: implement type (without implement, harrow, and moldboard plow) and soil surface condition (plain, rocky, and grass-covered surfaces), resulting in nine treatment combinations. The measured variable was tire contact area, determined from tire-track replicas using three measurement methods: ImageJ, gravimetric, and regression. Each treatment combination was measured with seven replications for each method, resulting in 3 × 3 × 7 = 63 measurements for each method. The data were analyzed using two- two-way ANOVA followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level, followed by the Wilcoxon test at a 5% significance level. The accuracy of the measurement methods was evaluated using Root Mean Square Error (RMSE).
The results showed that implement type had a significant effect on tire contact area across all three measurement methods. The moldboard plow produced the largest contact area, followed by the harrow, while the smallest contact area was observed without an implement. Soil surface condition also had a significant effect, with the grass-covered surface producing the largest contact area, followed by the plain surface, while the rocky surface produced the smallest contact area. An interaction between implement type and soil surface condition was also observed. The combination of the moldboard plow and grass-covered surface (A3B3) produced the largest contact area, whereas the combination of no implement and rocky surface (A1B2) produced the smallest contact area. Overall, the use of heavier implements and softer, more deformable surface conditions resulted in a larger tire contact area.
5173855161D2B025001THE EFFECT OF HOUSING FACTORS ON THE PRODUCTIVITY OF COMMERCIAL LAYING HENS (A CASE STUDY AT CV MKA, BANYUMAS REGENCY, CENTRAL JAVA)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepadatan populasi dalam kandang baterai terhadap produktivitas ayam petelur komersial di CV Mulia Kencana Abadi, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif-analitis yang didasarkan pada data produksi dan ekonomi periode 2023–2024. Data diperoleh dari empat kandang dengan total populasi 6.738 ekor ayam petelur yang dipelihara menggunakan dua variasi kapasitas kandang baterai: dua ekor dan tiga ekor per unit. Variabel produktivitas yang diamati meliputi konsumsi pakan (*Feed Intake*/FI), efisiensi konversi pakan (*Feed Conversion Efficiency*/FCE), dan produksi telur harian (*Hen Day Production*/HDP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kapasitas kandang berpengaruh signifikan terhadap FI, FCE, dan HDP (P<0,05). Kandang dengan kapasitas dua ekor menunjukkan efisiensi pemanfaatan pakan dan produktivitas telur yang lebih baik dibandingkan dengan kandang berkapasitas tiga ekor. This study aims to analyze the effect of battery cage stocking density on the productivity of commercial laying hens at CV Mulia Kencana Abadi, Banyumas Regency, Central Java. The study employed a quantitative approach using a descriptive-analytical method based on production and economic data from 2023–2024. Data were obtained from four cages with a total population of 6,738 laying hens reared under two battery cage capacity variations: two hens and three hens per unit. The observed productivity variables included Feed Intake (FI), Feed Conversion Efficiency (FCE), and Hen Day Production (HDP). The results showed that differences in cage capacity had a significant effect on FI, FUE, and HDP (P<0.05). Cages with a capacity of two hens demonstrated better feed utilization efficiency and egg productivity compared to those with a capacity of three hens.
5173955162F1B020032IMPLEMENTASI KEBIJAKAN IDENTITAS KEPENDUDUKAN DIGITAL DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN BATANGPerkembangan teknologi informasi yang pesat telah mendorong transformasi tata kelola pemerintahan menuju sistem yang lebih terbuka, efisien dan responsif. salah satu wujud nyata dari transformasi ini adalah penerapan electronic government atau yang biasa disebut e-government. pemerintah Indonesia melalui Kementerian dalam negeri (kemendagri) mendukung agenda digitalisasi dengan meluncurkan aplikasi IKD sebagai bagian dari inovasi pelayanan administrasi kependudukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan identitas digital (IKD) dalam meningkatkan pelayanan publik di Kabupaten Batang dengan model implementasi kebijakan George C. Edward III yang meliputi komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan sudah berjalan namun belum optimal karena masih terdapat kendala berupa sosialisasi yang belum merata, jaringan internet yang belum merata serta adanya kemungkinan kebocoran data. Oleh karena itu diperlukan penguatan sosialisasi berkelanjutan dan penguatan perlindungan data pribadi untuk mendukung optimalisasi pelayanan publik berbasis digital. This research aims to analyze the implementation of the Digital Population Identity (IKD) policy in improving public services in Batang Regency. This study employed a qualitative approach using George C. Edward III’s policy implementation model, which consists of communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using thematic analysis developed by Braun and Clarke. The results show that the implementation of IKD has been carried out fairly well, particularly in terms of disposition and bureaucratic structure. However, the implementation has not been optimal due to several challenges, including uneven dissemination of information, unequal internet access, and concerns regarding
digital data security. Therefore, continuous dissemination through collaboration with village and sub-district governments, as well as improvements in data security
and personal data protection, are needed to optimize digital-based public services.
5174055163A1A022046PERAN PENYULUH PERTANIAN DENGAN KINERJA KELOMPOK TANI DI KECAMATAN AYAH, KABUPATEN KEBUMEN
Keberhasilan kelompok tani tidak terlepas dari peran penyuluh pertanian dalam melaksanakan pembinaan dan pendampingan. Di Kecamatan Ayah, aktivitas pertemuan rutin kelompok tani telah dilaksanakan oleh 31 kelompok tani dari total 75 kelompok tani yang tersebar di 12 dari 18 desa. Kondisi tersebut menunjukkan adanya variasi aktivitas kelembagaan kelompok tani, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut mengenai peran penyuluh pertanian dalam mendukung kinerja kelompok tani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat peran penyuluh pertanian, tingkat kinerja kelompok tani, serta hubungan peran penyuluh terhadap kinerja kelompok tani di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen.
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen pada bulan Maret sampai Juli 2026. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner yang diberikan kepada penyuluh serta pihak terkait. Teknik pengumpulan data menggunakan cluster sampling berdasarkan topografi wilayah yang meliputi kawasan pesisir, perbukitan, dan dataran rendah dengan jumlah sampel sebanyak 57 responden yang tersebar di 19 kelompok tani. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, skoring skala Likert, dan analisis korelasi untuk mengetahui hubungan antara peran penyuluh pertanian dan kinerja kelompok tani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran penyuluh pertanian di Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen yang meliputi peran sebagai fasilitator, motivator, edukator, dan dinamisator secara keseluruhan termasuk dalam kategori tinggi, dengan peran sebagai dinamisator memperoleh penilaian tertinggi. Kinerja kelompok tani berada pada kategori tinggi sehingga menunjukkan bahwa kelompok tani telah mampu menjalankan fungsi kelembagaannya dalam mendukung kegiatan usahatani. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara peran penyuluh pertanian dengan kinerja kelompok tani, yang berarti semakin baik peran penyuluh, maka semakin baik pula kinerja kelompok tani. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi Balai Penyuluh Pertanian dalam menyusun strategi pembinaan kelompok tani, meningkatkan efektivitas pendampingan penyuluh, serta memperkuat program pengembangan kelembagaan petani.
The success of farmer groups is inseparable from the role of agricultural extension workers in carrying out coaching and mentoring. In Ayah District, routine meetings of farmer groups have been carried out by 31 farmer groups out of a total of 75 farmer groups spread across 12 out of 18 villages. This condition shows that there is a variation in the institutional activities of farmer groups, so further studies are needed on the role of agricultural extension workers in supporting the performance of farmer groups. This study aims to analyze the level of the role of agricultural extension workers, the level of performance of farmer groups, and the relationship between the role of extension workers and the performance of farmer groups in Ayah District, Kebumen Regency.
This research was carried out in Ayah District, Kebumen Regency from March to July 2026. The research uses a quantitative descriptive method with a survey approach. Research data was obtained through observations, interviews, and questionnaires given to extension workers and related parties. The data collection technique used cluster sampling based on regional topography covering coastal areas, hills, and lowlands with a total sample of 57 respondents spread across 19 farmer groups. Data were analyzed using descriptive analysis, Likert scale scoring, and correlation analysis to determine the relationship between the role of agricultural extension workers and the performance of farmer groups.
The results of the study show that the role of agricultural extension workers in Ayah District, Kebumen Regency, which includes the role of facilitator, motivator, educator, and dynamizer as a whole, is included in the high category, with the role of dynamizer obtaining the highest score. The performance of farmer groups is in the high category, which shows that farmer groups have been able to carry out their institutional functions in supporting farming activities. The results of the correlation analysis showed that there was a positive and significant relationship between the role of agricultural extension workers and the performance of farmer groups, which means that the better the role of extension workers, the better the performance of farmer groups. The results of this research are expected to be evaluation material for the Agricultural Extension Center in developing strategies for fostering farmer groups, increasing the effectiveness of extension assistance, and strengthening farmer institutional development programs.