Artikelilmiahs

Menampilkan 51.761-51.779 dari 51.779 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5176155177A1F022079Aktivitas Antioksidan dan Flavonoid Kefir Sinbiotik Susu Kambing Dengan Penambahan Ekstrak Beras Hitam, Bit, dan Buah Naga sebagai Minuman FungsionalKefir sinbiotik merupakan minuman hasil fermentasi susu yang mengandung kombinasi probiotik dan prebiotik sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Manfaat dari kefir sinbiotik susu kambing berkaitan dengan kemampuannya dalams memodulasi mikrobiota usus serta menyediakan senyawa bioaktif penting yang dapat menekan stres oksidatif di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis ekstrak (beras hitam, bit, dan buah naga merah) serta konsentrasi penambahan ekstrak (0,5%; 1%; 1,5%; dan 2%) terhadap aktivitas antioksidan dan total flavonoid kefir sinbiotik susu kambing, sekaligus menentukan kombinasi terbaik berdasarkan parameter tersebut. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial dua faktor dengan tiga kali ulangan sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Pada seluruh perlakuan ditambahkan tepung kulit pisang sebanyak 1,5% sebagai sumber prebiotik. Data dianalisis menggunakan Two-Way ANOVA pada taraf kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jenis ekstrak (beras hitam, bit, dan buah naga merah) memberikan pengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan dan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap total flavonoid kefir sinbiotik susu kambing. Peningkatan konsentrasi ekstrak (0,5%, 1%, 1,5%, dan 2%) tidak berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan dan flavonoid. Formulasi terbaik berdasarkan aktivitas antioksidan pada perlakuan penambahan buah naga merah dengan konsentrasi 2% dan kandungan flavonoid tertinggi diperoleh pada perlakuan penambahan ekstrak bit dengan konsentrasi 0,5%. Karakteristik perlakuan terbaik tersebut memiliki aktivitas antioksidan sebesar 66,21% dan flavonoid sebesar 0,564 mg QE/g.Synbiotic kefir is a fermented milk beverage containing a combination of probiotics and prebiotics, making it a promising candidate for development as a functional food. The benefits of synbiotic goat milk kefir are linked to its ability to modulate the gut microbiota and provide important bioactive compounds that can reduce oxidative stress in the body. This study aims to analyze the effect of extract type (black rice, beet, and red dragon fruit) and extract concentration (0.5%; 1%; 1.5%; and 2%) on the antioxidant activity and total flavonoid content of synbiotic goat milk kefir, while determining the optimal combination based on these parameters. The study used a two-factor non-factorial completely randomized design (CRD) with three replicates, resulting in 36 experimental units. Banana peel powder was added at 1.5% to all treatments as a prebiotic source. Data were analyzed using two-way ANOVA at a 95% confidence level, followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at the 5% level. The results showed that the addition of different types of extracts (black rice, beet, and red dragon fruit) had a significant effect on antioxidant activity but no significant effect on the total flavonoid content of the goat milk synbiotic kefir. Increasing the extract concentration (0.5%, 1%, 1.5%, and 2%) had no significant effect on antioxidant activity or flavonoid content. The best formulation based on antioxidant activity was the treatment with 2% red dragon fruit extract, while the highest flavonoid content was obtained in the treatment with 0.5% beet extract. This optimal treatment exhibited antioxidant activity of 66.21% and flavonoid content of 0.564 mg QE/g.
5176255187A1A022099Faktor yang Mememngaruhi Resiliensi Petani Padi dalam Menghadapi Perubahan Iklim di Kecamatan Kemangkon Kabupaten PurbalinggaPerubahan iklim menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi sektor pertanian, khususnya usahatani padi yang sangat bergantung pada kondisi iklim. Perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, serta meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem berpotensi menurunkan produktivitas dan mengganggu keberlanjutan penghidupan petani. Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu wilayah sentra produksi padi yang turut menghadapi berbagai risiko tersebut sehingga diperlukan kemampuan resiliensi untuk mempertahankan keberlangsungan usahatani. Resiliensi petani dipengaruhi oleh berbagai aspek penghidupan yang tercermin dalam lima modal penghidupan (Sustainable Livelihood Framework), yaitu modal manusia, modal sosial, modal alam, modal fisik, dan modal finansial. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kerentanan dan resiliensi petani padi dalam menghadapi perubahan iklim serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi resiliensi petani padi di Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga.
Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga dengan metode survei terhadap 65 petani padi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer yang diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner serta data sekunder yang berasal dari berbagai instansi dan literatur terkait. Analisis tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi dilakukan menggunakan pendekatan Livelihood Vulnerability Index–Intergovernmental Panel on Climate Change (LVI-IPCC) karena pendekatan ini mampu mengelompokkan indikator ke dalam tiga komponen utama kerentanan menurut IPCC, yaitu exposure, adaptive capacity, dan sensitivity, sehingga memberikan gambaran mengenai tingkat kerentanan petani terhadap perubahan iklim. Analisis resiliensi dilakukan menggunakan kerangka Sustainable Livelihood Framework (SLF) yang terdiri atas lima modal penghidupan, yaitu modal manusia, modal sosial, modal alam, modal fisik, dan modal finansial. Kelima modal tersebut diukur menggunakan pendekatan Livelihood Vulnerability Index (LVI), kemudian nilai LVI ditransformasikan menjadi indeks resiliensi yang digunakan sebagai variabel dependen dalam analisis regresi linear berganda. Analisis regresi dilakukan menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25 untuk menguji pengaruh luas lahan, pengalaman bertani, akses irigasi, jumlah sumber pendapatan, dan keanggotaan kelompok tani terhadap resiliensi petani padi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan petani padi berdasarkan pendekatan LVI-IPCC tergolong rendah dengan nilai exposure sebesar 0,12 (rendah), adaptive capacity sebesar 0,48 (sedang), sensitivity sebesar 0,33 (rendah), dan nilai vulnerability sebesar -0,12. Hasil pengukuran resiliensi menggunakan kerangka Sustainable Livelihood Framework yang diadopsi melalui perhitungan Livelihood Vulnerability Index menunjukkan bahwa nilai LVI sebesar 0,41 termasuk kategori kerentanan sedang, yang setelah ditransformasikan menghasilkan nilai resiliensi sebesar 0,59 dengan kategori sedang. Berdasarkan lima modal penghidupan, modal alam dan modal fisik memiliki tingkat resiliensi tinggi, sedangkan modal manusia, modal sosial, dan modal finansial berada pada kategori sedang. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa secara simultan luas lahan, pengalaman bertani, akses irigasi, jumlah sumber pendapatan, dan keanggotaan kelompok tani berpengaruh signifikan terhadap resiliensi petani padi. Secara parsial, luas lahan, pengalaman bertani, akses irigasi, dan jumlah sumber pendapatan berpengaruh signifikan terhadap resiliensi, sedangkan keanggotaan kelompok tani tidak berpengaruh signifikan.
Climate change has become one of the major challenges facing the agricultural sector, particularly rice farming, which is highly dependent on climatic conditions. Changes in rainfall patterns, rising temperatures, and the increasing frequency of extreme weather events have the potential to reduce agricultural productivity and disrupt the sustainability of farmers’ livelihoods. Kemangkon District, Purbalingga Regency, is one of the rice-producing areas that faces these various climate-related risks, making farmers’ resilience essential to maintaining the sustainability of rice farming. Farmers’ resilience is influenced by various livelihood aspects reflected in the five livelihood capitals of the Sustainable Livelihood Framework (SLF), namely human, social, natural, physical, and financial capital. This study aimed to analyze the level of vulnerability and resilience of rice farmers in facing climate change and to examine the factors influencing the resilience of rice farmers in Kemangkon District, Purbalingga Regency.
This research was conducted in Kemangkon District, Purbalingga Regency, using a survey method involving 65 rice farmers selected through purposive sampling. The data consisted of primary data collected through interviews using questionnaires and secondary data obtained from relevant institutions and literature. The analysis of vulnerability and adaptive capacity was conducted using the Livelihood Vulnerability Index–Intergovernmental Panel on Climate Change (LVI-IPCC) approach. This approach was employed because it classifies indicators into the three main components of vulnerability according to the IPCC, namely exposure, adaptive capacity, and sensitivity, thereby providing an overview of farmers’ vulnerability to climate change. Resilience was analyzed using the Sustainable Livelihood Framework (SLF), which consists of five livelihood capitals: human, social, natural, physical, and financial capital. These five capitals were measured using the Livelihood Vulnerability Index (LVI) approach, and the LVI value was subsequently transformed into a resilience index, which served as the dependent variable in the multiple linear regression analysis. The regression analysis was conducted using IBM SPSS Statistics version 25 to examine the effects of land area, farming experience, irrigation access, number of income sources, and farmer group membership on the resilience of rice farmers.
The results showed that the vulnerability level of rice farmers based on the LVI-IPCC approach was categorized as low, with an exposure value of 0.12 (low), an adaptive capacity value of 0.48 (moderate), a sensitivity value of 0.33 (low), and an overall vulnerability value of -0.12. The measurement of resilience using the Sustainable Livelihood Framework, adopted through the calculation of the Livelihood Vulnerability Index, resulted in an LVI value of 0.41, which was categorized as moderate vulnerability. After transformation, the resilience index was 0.59, indicating a moderate level of resilience. Based on the five livelihood capitals, natural and physical capital demonstrated high levels of resilience, while human, social, and financial capital were categorized as moderate. The results of the multiple linear regression analysis showed that land area, farming experience, irrigation access, number of income sources, and farmer group membership simultaneously had a significant effect on the resilience of rice farmers. Partially, land area, farming experience, irrigation access, and number of income sources had significant effects on farmers’ resilience, whereas farmer group membership did not have a significant effect.
5176355181A1D021170Efektivitas Penambahan Pupuk Hayati pada Larutan AB Mix Hidroponik Tanaman Selada Keriting (Lactuca sativa L.) dengan Sistem WickPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi AB Mix, dosis pupuk hayati, dan interaksinya terhadap pertumbuhan serta hasil selada keriting (Lactuca sativa L.) pada sistem hidroponik wick. Penelitian menggunakan rancangan faktorial dua faktor di screenhouse, yang meliputi konsentrasi AB Mix (25%, 50%, 75%, dan 100%) serta dosis pupuk hayati (5, 10, dan 15 mL/L). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah dan luas daun, bobot segar serta kering tajuk, volume akar, kandungan klorofil, dan populasi mikroba. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi AB Mix berpengaruh nyata terhadap sebagian besar variabel pertumbuhan, dengan konsentrasi 75% sebagai takaran optimum yang paling efektif dan efisien. Sedangkan pemberian pupuk hayati dengan berbagai dosisi belum mampu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada keriting.
This study aimed to find out the effect of AB Mix concentration, biofertilizer dosage, and their interaction on the growth and yield of curly lettuce (Lactuca sativa L.) in a wick hydroponic system. The research used a two-factor factorial design in a screenhouse, including AB Mix concentrations (25%, 50%, 75%, and 100%) and biofertilizer doses (5, 10, and 15 mL/L). Observed variables included plant height, number and leaf area, fresh and dry weight of the canopy, root volume, chlorophyll content, and microbial population. The analysis results showed that AB Mix concentration had a significant effect on most growth variables, with a 75% concentration being the most effective and efficient optimum dose. Meanwhile, applying biofertilizer at various doses had not yet been able to affect the growth and yield of curly lettuce.
5176455180F1C020078TRANSFORMASI BUDAYA MUSIK KERONCONG DI ERA TEKNOLOGI DIGITAL: KAJIAN TERHADAP PERUBAHAN PRODUKSI, DISTRIBUSI, DAN APRESIASIPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk transformasi budaya musik keroncong di era teknologi digital pada aspek produksi, distribusi, dan pola apresiasi masyarakat di Purwokerto, serta mengidentifikasi peran teknologi digital, komunitas seni, dan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan dan revitalisasi musik keroncong. Urgency penelitian ini didasari oleh tantangan marginalisasi musik tradisional akibat dominasi budaya populer global berbasis digital, sehingga integrasi teknologi menjadi instrumen strategis untuk menjembatani tradisi dan modernitas demi keberlanjutan keroncong. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis paradigma konstruktivisme dan kerangka teori musikologi, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen yang dianalisis dengan reduksi data serta pengembangan validitas triangulasi sumber. Unit analisis atau sampel penelitian ini terfokus pada empat informan kunci dari dua kelompok musik lokal Purwokerto yang merepresentasikan transisi dari pola konvensional menuju digital, yaitu Fai dan Pina dari band X The Juno, serta Langtiep dan Refonda dari band Malacca. Hasil dan pembahasan penelitian menunjukkan bahwa transformasi produksi ditandai oleh pemanfaatan Digital Audio Workstation (DAW), sequencer, dan instrumen virtual untuk mengeksplorasi aransemen modern tanpa menghilangkan pakem serta identitas unik keroncong (seperti ritme instrumen cak dan cuk); transformasi distribusi bergeser dari panggung fisik ke media sosial dan platform streaming; sedangkan transformasi apresiasi tercermin dari perubahan persepsi generasi muda yang melihat keroncong secara lebih interaktif, fleksibel, dan relevan. Implikasi dari penelitian ini secara akademis memberikan kontribusi pada kajian ilmu komunikasi dan media baru mengenai mediasi budaya lokal, sedangkan secara praktis memberikan acuan strategi komunikasi serta kolaborasi kreatif bagi para pelaku seni dan komunitas untuk mengoptimalkan media digital dalam pelestarian warisan budaya.
5176555182J1E020046The Influence of College Students’ Listening Habit to English Songs on Digital Music Platforms to the Students’ Vocabulary Mastery (A Regression Analysis Study of Batch 2020 Students at English Education Study Program, Faculty of Humanities, Jenderal Soedriman University).Lagu-lagu berbahasa Inggris di platform musik digital memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk sering terpapar bahasa Inggris di luar ruang kelas, khususnya melalui aktivitas mendengarkan lirik dan input bahasa secara berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat penguasaan kosakata mahasiswa yang mendengarkan lagu berbahasa Inggris di platform musik digital, korelasi antara kebiasaan mendengarkan dan penguasaan kosakata, serta sejauh mana kebiasaan mendengarkan dapat memprediksi penguasaan kosakata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan analisis regresi linear sederhana. Partisipan penelitian terdiri dari 30 mahasiswa yang dipilih melalui teknik simple random sampling dari populasi 61 mahasiswa angkatan 2020 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jenderal Soedirman. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert lima poin dengan 15 butir pernyataan untuk mengukur kebiasaan mendengarkan serta tes kosakata pilihan ganda yang terdiri dari 30 butir soal yang diadaptasi dari Vocabulary Size Test. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, korelasi product-moment Pearson, dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata kebiasaan mendengarkan adalah 63,07 (SD = 6,214), sedangkan skor rata-rata penguasaan kosakata adalah 22,73 (SD = 3,194), dengan rentang skor antara 16 hingga 28. Analisis korelasi mengungkapkan adanya hubungan positif tingkat sedang antara kebiasaan mendengarkan dan penguasaan kosakata (r = 0,411; p = 0,024). Analisis regresi menunjukkan bahwa kebiasaan mendengarkan secara signifikan memprediksi penguasaan kosakata dan menjelaskan 16,9% variansnya (R² = 0,169). Dengan demikian, mendengarkan lagu berbahasa Inggris di platform musik digital memiliki hubungan positif dengan penguasaan kosakata mahasiswa, meskipun faktor-faktor lain juga turut berkontribusi terhadap pengembangan kosakata.English songs on digital music platforms provide college students with opportunities for frequent exposure to English beyond the classroom, particularly through repeated listening to lyrics and language input. This study aimed to examine the vocabulary mastery levels of college students who listened to English songs on digital music platforms, the correlation between their listening habits and vocabulary mastery, and the extent to which listening habits predicted vocabulary mastery. The study employed a quantitative approach with a correlational design and simple linear regression. The participants were 30 students selected through simple random sampling from a population of 61 Batch 2020 students in the English Education Study Program at Jenderal Soedirman University. Data were collected using a 15-item five-point Likert-scale questionnaire measuring listening habits and a 30-item multiple-choice vocabulary test adapted from the Vocabulary Size Test. The data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, Pearson product-moment correlation, and simple linear regression. The results showed that the mean listening-habit score was 63.07 (SD = 6.214), while the mean vocabulary mastery score was 22.73 (SD = 3.194), with scores ranging from 16 to 28. The correlation analysis revealed a moderate positive relationship between listening habits and vocabulary mastery (r = .411, p = .024). The regression analysis showed that listening habits significantly predicted vocabulary mastery and explained 16.9% of its variance (R² = .169). Thus, listening to English songs on digital music platforms was positively associated with students’ vocabulary mastery, although other factors also contributed to vocabulary development.
5176655183A1A019073Pengaruh Kesadaran, Persepsi dan Preferensi Konsumen Terhadap Perilaku mengonsumsi Buah-buahan di Pasar Tradisional Kota DepokSektor hortikultura berperan penting dalam pemenuhan gizi masyarakat, namun tingkat konsumsi buah di Kota Depok masih rendah, yaitu sekitar 28% dari rekomendasi WHO. Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku konsumen serta pengaruh kesadaran, persepsi, dan preferensi terhadap perilaku mengonsumsi buah-buahan di pasar tradisional Kota Depok. Penelitian menggunakan metode survei kuantitatif dengan pendekatan purposive di Pasar Tugu, Kota Depok, melibatkan 100 responden yang diperoleh melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumen didominasi oleh pembelian karena kebiasaan (habitual buying behavior) sebesar 82,2%. Secara simultan, variabel kesadaran, persepsi, dan preferensi berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen (p < 0,001), dengan kesadaran sebagai variabel berpengaruh paling dominan, dan model penelitian mampu menjelaskan 39,5% variasi perilaku konsumen. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran konsumen dapat menjadi strategi utama dalam mendorong perubahan perilaku konsumsi buah di pasar tradisional.The horticultural sector plays a vital role in fulfilling community nutrition, yet fruit consumption in Depok City remains low, at only about 28% of the WHO recommendation. This study aims to analyze consumer behavior and the influence of awareness, perception, and preference on fruit consumption behavior in Depok's traditional markets. A quantitative survey method with a purposive approach was used at Tugu Market, Depok, involving 100 respondents through Likert-scale questionnaires, analyzed using descriptive analysis and multiple linear regression. The results show that consumer behavior is dominated by habitual buying behavior at 82.2%. Simultaneously, awareness, perception, and preference significantly influence consumer behavior (p < 0.001), with awareness as the most dominant factor, and the research model explaining 39.5% of the variation in consumer behavior. These findings suggest that enhancing consumer awareness can serve as a key strategy for encouraging changes in fruit consumption behavior in traditional markets.
5176755184A1A022012Penentuan Harga Jual dan Analisis Nilai Tambah Media Tanam Cocopeat Block Plus di PT Uba Uhud InternationalSaat ini keberlanjutan sektor pertanian menghadapi ancaman yang serius yaitu berkurangnya luas lahan pertanian akibat alih fungsi lahan pertanian ke sektor non pertanian. “Cocopeat Block Plus” merupakan inovasi media tanam berbahan dasar cocopeat yang diperkaya dengan pupuk NZEO-SR Plus sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan media tanam berbasis tanah. PT Uba Uhud International sebagai perusahaan yang akan melakukan hilirisasi inovasi tersebut, perlu memiliki pemahaman yang jelas mengenai biaya yang dikeluarkan dan nilai tambah ekonomi yang dihasilkan dari suatu produk. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), harga jual, dan Harga Pokok Penjualan (HPPen), 2) menghitung estimasi penerimaan dan laba, 3) menghitung nilai tambah dari produk “Cocopeat Block Plus” pada PT Uba Uhud International.
Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dan PT Uba Uhud International cabang Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga dari bulan Januari hingga Maret 2026. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan responden yang terdiri dari pihak perusahaan, tim peneliti program SINERGI, dan pelaksana uji coba formulasi. Jenis data yang digunakan berupa data primer dan sekunder. Teknik pengambilan data berupa berupa observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Variabel yang digunakan antara lain biaya produksi, biaya nonproduksi, volume produksi, harga jual, penerimaan, dan laba. Penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) menggunakan metode full costing, dan penentuan harga jual menggunakan metode cost plus pricing. Analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Harga Pokok Produksi (HPP) sebesar Rp164.546.564 dengan volume produksi sebanyak 54.600 kg per bulan. Biaya per unit produk sebesar Rp3.100 dan harga jual yang disarankan sebesar Rp18.600. Harga Pokok Penjualan (HPPen) tanpa persediaan sebesar Rp164.546.564. Estimasi penerimaan yang akan diperoleh yaitu sebesar Rp1.015.560.000 per bulan. Estimasi laba bruto sebesar Rp851.013.436. Biaya nonproduksi diestimasikan sebesar 10% dari penjualan, yaitu sebesar Rp101.556.000 per bulan dan estimasi laba bersih sebelum pajak sebesar Rp749.457.436 per bulan. Analisis nilai tambah menunjukkan bahwa produk memberikan nilai tambah yang tinggi sebesar 79% dan tingkat keuntungan bagi perusahaan sebesar 77%. “Cocopeat Block Plus” masih pada tahap uji coba produksi dan belum dipasarkan secara komersial.
The sustainability of the agricultural sector currently faces a serious threat due to the declining availability of agricultural land resulting from the conversion of agricultural land to non-agricultural uses. “Cocopeat Block Plus” is an innovative growing medium made from cocopeat enriched with NZEO-SR Plus fertilizer as an alternative to reduce the use of soil-based growing media. PT Uba Uhud International, as the company responsible for the downstream commercialization of this innovation, needs to have a clear understanding of the costs incurred and the economic value added generated by the product. This study aimed to: 1) calculate the Cost of Goods Manufactured (COGM), selling price, and Cost of Goods Sold (COGS); 2) estimate revenue and profit; and 3) calculate the value added generated by the “Cocopeat Block Plus” product at PT Uba Uhud International.
The research was conducted at the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and at the Padamara branch of PT Uba Uhud International, Purbalingga Regency from January to March 2026. The sampling technique used was purposive sampling with respondents consisting of company representatives, the SINERGI program research team, and personnel involved in formulation trials. The data consisted of primary and secondary data. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The variables examined included production costs, nonproduction costs, production volume, selling price, revenue, and profit. The Cost of Goods Manufactured (COGM) was determined using the full costing method, while the selling price was determined using the cost plus pricing method. Value added analysis was conducted using the Hayami method.
The results showed that the Cost of Goods Manufactured (COGM) was IDR 164,546,564 with a monthly production volume of 54,600 kg. The production cost per unit was IDR 3,100 and the recommended selling price was IDR 18,600 per kg. The Cost of Goods Sold (COGS) assuming no inventory was IDR 164,546,564. Estimated monthly revenue was IDR 1,015,560,000 with estimated gross profit of IDR 851,013,436. Nonproduction costs were estimated at 10% of sales, amounting to IDR 101,556,000 per month, resulting in estimated monthly net profit before tax of IDR 749,457,436. The value-added analysis showed that the product generated a high value-added ratio of 79%, with a profit rate of 77% for the company. “Cocopeat Block Plus” is still in the production trial stage and has not yet been commercially marketed.
5176855185J0A021006Producing Banyumas Regional Public Service Agency (BLUD) English Tiktok Promotional Video of Touris Attractions in BanyumasRINGKASAN


Laporan Praktik Kerja ini berjudul “Producing Banyumas Regional Public Service Agency (BLUD) English TikTok Promotional Video of Tourist Attractions in Banyumas.” Praktik Kerja dilaksanakan di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Banyumas pada tanggal 5 Desember 2023 sampai dengan 29 Februari 2024. Tujuan dari laporan Praktik Kerja ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan Praktik Kerja di BLUD Banyumas, membuat video promosi objek wisata di Banyumas untuk media TikTok dengan menggunakan subtitle Bahasa Inggris, serta menjelaskan kendala yang dihadapi dan solusi yang diterapkan selama proses pembuatan video.

Dalam penyusunan laporan Praktik Kerja ini, penulis menggunakan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai objek wisata, fasilitas, jam operasional, aktivitas pengunjung, serta lokasi yang sesuai untuk proses pengambilan video. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai objek wisata, fasilitas, harga tiket, kegiatan promosi, dan informasi lainnya yang dibutuhkan dalam pembuatan video promosi. Dokumentasi dilakukan dengan
mengambil foto dan merekam video yang digunakan sebagai bahan dalam proses pembuatan video promosi.

Proses pembuatan video promosi terdiri atas tiga tahap utama, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Tahap pra-produksi meliputi penentuan konsep dan ide, penulisan naskah, pembuatan storyboard, serta penyusunan jadwal produksi. Tahap produksi meliputi pengambilan gambar dan perekaman voice-over Bahasa Indonesia. Tahap pasca-produksi meliputi pemilihan dan penyusunan video, proses editing, penyesuaian audio dan visual, penambahan musik latar, serta pemberian subtitle Bahasa Inggris dan elemen pendukung lainnya. Video yang dihasilkan dibuat sebagai konten promosi untuk TikTok dengan menampilkan objek wisata dalam bentuk video pendek yang lebih menarik dan informatif.

Dalam proses pembuatan video promosi, penulis menghadapi beberapa kendala, yaitu kesulitan dalam menentukan ungkapan Bahasa Inggris yang sesuai untuk subtitle, koordinasi jadwal dalam proses produksi video, serta kondisi lokasi pengambilan gambar di luar ruangan. Kendala tersebut diatasi dengan melakukan persiapan produksi secara lebih matang, berkoordinasi dengan pihak terkait, menyiapkan jadwal alternatif, melakukan survei lokasi sebelum pengambilan gambar, serta menyesuaikan kegiatan produksi dengan kondisi di lapangan.

Melalui Praktik Kerja ini, penulis memperoleh pengalaman dalam bidang promosi pariwisata, produksi video, penerjemahan Bahasa Inggris untuk konten promosi, serta pemanfaatan media sosial sebagai media promosi. Video promosi yang dihasilkan menjadi salah satu bentuk konten promosi digital untuk memperkenalkan objek wisata yang dikelola oleh BLUD Banyumas kepada masyarakat yang lebih luas melalui media TikTok.
SUMMARY


This Job Training Report is entitled “Producing Banyumas Regional Public Service Agency (BLUD) English TikTok Promotional Video of Tourist Attractions in Banyumas.” The Job Training was conducted at Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Banyumas from 5 December 2023 to 29 February 2024. The purposes of this Job Training Report are to describe the implementation of the Job Training at BLUD Banyumas, to produce promotional videos of tourist attractions in Banyumas for TikTok using English subtitles, and to explain the obstacles encountered and the solutions applied during the video production process.

In preparing this Job Training Report, the writer used three methods, namely observation, interview, and documentation. Observation was conducted to obtain information about the tourist attractions, facilities, operating hours, visitor activities, and suitable locations for video production. Interviews were conducted to obtain additional information about the tourist attractions, facilities, ticket prices, promotional activities, and other information needed for the promotional videos. Documentation was conducted by taking photographs and recording videos that were used as materials for the promotional video production.
The process of producing the promotional videos consisted of three main stages, namely pre-production, production, and post-production. The pre-production stage included determining the concept and ideas, writing the scripts, preparing storyboards, and arranging the production schedule. The production stage consisted of video shooting and Indonesian voice-over recording. The post-production stage included selecting and arranging video clips, editing the videos, adjusting the audio and visual elements, adding background music, and providing English subtitles and other supporting elements. The resulting videos were designed as promotional content for TikTok by presenting tourist attractions in a more engaging and informative short-video format.

During the production process, the writer encountered several obstacles. These included difficulties in preparing suitable English expressions for the subtitles, coordinating the video production schedule, and dealing with conditions at outdoor shooting locations. The writer overcame these obstacles by preparing the production process carefully, conducting coordination with the related staff, preparing alternative schedules, surveying the locations before shooting, and adjusting the production activities to the conditions at the locations.

Through this Job Training, the writer gained practical experience in tourism promotion, video production, English translation for promotional content, and the use of social media as a promotional medium. The promotional videos were produced as a form of digital promotional content to introduce tourist attractions managed by BLUD Banyumas to a broader audience through TikTok.
5176955186A1D020031Identifikasi Keragaman Genetik Ulat Grayak Spodoptera frugiperda (J.E. Smith) pada Pertanaman Jagung di Wilayah Karesidenan BanyumasUlat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) merupakan hama utama tanaman jagung yang mengancam produktivitas pertanaman jagung di wilayah Karesidenan Banyumas. Terdapat perbedaan preferensi tanaman inang dan pola serangan yang dimiliki oleh dua jenis strain utama S. frugiperda (strain C (corn) dan strain R (rice)). Namun demikian, kedua strain tersebut tidak dapat dibedakan menggunakan identifikasi secara morfologi, sehingga diperlukan identifikasi secara molekuler. Identifikasi molekuler S. frugiperda di wilayah Karesidan Banyumas belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu identifikasi molekuler S. frugiperda di wilayah Karesidan Banyumas perlu dilakukan untuk menentukan jenis strain dan menganalisis hubungan kekerabatannya. Metode penelitian meliputi isolasi DNA, amplifikasi gen COI melalui PCR, dan sekuensing. Analisis data menggunakan acuan Nelly et al., (2021) untuk menentukan jenis strain berdasarkan hubungan kekerabatan dengan sekuens referensi U72976.1 (strain C) dan U72978.1 (strain R). Analisis hubungan kekerabatan menggunakan software MEGA XII untuk konstruksi pohon filogenetik (Neighbor-Joining, 1000 bootstrap). Hasil penelitian mengonfirmasi seluruh sampel teridentifikasi sebagai strain jagung (Corn-strain). Seluruh sampel membentuk satu klaster utama yang berkerabat dekat dengan isolat dari India (84% bootstrap). Penelitian ini dapat menjadi acuan dalam penyusunan strategi pengendalian hama S. frugiperda berbasis data molekuler yang lebih efektif di wilayah Karesidenan Banyumas.The fall armyworm (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) is a major pest of corn crops that threatens corn production in the Banyumas Residency area. There are differences in host plant preferences and attack patterns exhibited by the two main strains of S. frugiperda (the C (corn) strain and the R (rice) strain). However, these two strains cannot be distinguished through morphological identification, necessitating molecular identification instead. Molecular identification of S. frugiperda in the Banyumas Residency area has not been previously conducted. Therefore, molecular identification of S. frugiperda in the Banyumas Residency region is essential to determine the strain type and analyze its phylogenetic relationships. The research methods included DNA isolation, amplification of the COI gene via PCR, and DNA sequencing. Data analysis followed Nelly et al. (2021) to determine the strain type based on phylogenetic relationships with reference sequences U72976.1 (C-strain) and U72978.1 (R-strain). Phylogenetic analysis was conducted using MEGA XII software to construct a phylogenetic tree (Neighbor-Joining method, 1000 bootstrap replicates). The results confirmed that all samples were identified as the corn strain (C-strain). All samples formed a single main cluster closely related to isolates from India (84% bootstrap value). This study serves as an reference for formulating more effective molecular data-based management strategies for S. frugiperda in the Banyumas Residency region.
5177055188A1A019080Strategi Pemasaran Getuk Goreng di Kabupaten Banyumas (Studi Kasus di Getuk Goreng Ibu Diyem 02)Singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas lokal yang memiliki ketersediaan terbesar di Indonesia setelah padi dan jagung. Usaha pengolahan singkong menjadi produk konsumsi salah satunya adalah getuk goreng. Getuk Goreng Ibu Diyem 02 merupakan salah satu usaha getuk goreng yang berdiri di Sokaraja. Ibu Diyem 02 telah berdiri sejak 2002 di Jalan Jenderal Soedirman Nomor 146 Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Seiring berjalannya waktu, persaingan antara Ibu Diyem 02 dengan kompetitor getuk goreng lain semakin terasa. Hal ini mendorong Ibu Diyem 02 untuk menerapkan strategi pemasaran yang tepat untuk menjaga keberlangsungan dan pertumbuhan usaha di dunia bisnis yang kompetitif.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Juni 2026 di Getuk Goreng Ibu Diyem 02. Metode penentuan responden dalam penelitian ini adalah purposive atau responden ditunjuk secara sengaja. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian meliputi analisis deskriptif, analisis IFE, analisis EFE, analisis Internal-Eksternal, analisis SWOT, dan analisis QSPM.
Getuk Goreng Ibu Diyem 02 menerapkan strategi bauran pemasaran 7P yaitu produk, harga, promosi, tempat, proses, manusia, dan bukti fisik. Hal ini dianalisis dengan analisis deskriptif melalui wawancara dengan pemilik usaha dan observasi peneliti. Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemasaran Getuk Goreng Ibu Diyem 02 dianalisis melalui IFE dan EFE. Terdapat 5 faktor internal kekuatan yang dimiliki Ibu Diyem 02 dan 4 kelemahan internal. Terdapat 3 peluang eksternal dan 3 ancaman eksternal. Getuk Goreng Ibu Diyem berada di kuadran I dengan strategi tumbuh dan kembang (grow and build), dengan alternatif strategi dipilih melalui peringkat yang dihasilkan dari analisis QSPM. Strategi yang dapat diprioritaskan untuk dijalankan adalah pembuatan sistem pre-order pada laman toko.
Cassava (Manihot esculenta Crantz) is one of commodities with the highest stock in Indonesia, following rice and maize. There is one business that process cassava into food product. It is called getuk goreng. Getuk Goreng Ibu Diyem 02 is one of getuk goreng business that established in Sokaraja. Ibu Diyem 02 has been established since 2022 in Jalan Jenderal Soedirman Number 146 Sokaraja. As time went on, the competition between Ibu Diyem 02 and other competitors became more intense. This has led Ibu Diyem 02 to implement appropriate marketing strategies to maintain both sustainability and growth in the competitive business world.
The research was conducted from April to June 2026 at Getuk Goreng Ibu Diyem 02. The respondents were selected using a purposive method, where respondents were intentionally chosen based on predetermined criteria. The data used in the study included primary and secondary data. The data analysis included descriptive analysis, IFE analysis, EFE analysis, Internal-External analysis, SWOT analysis, and QSPM analysis.
According to research, Getuk Goreng Ibu Diyem 02 has adopted a 7p marketing strategy: product, price, promotion, place, process, human, and physical evidence. It is analysed by a descriptive analysis through interviews with business owner and researchers. Internal and external factors affecting the business were analyzed through IFE and EFE. There are 5 factors in the internal strengths and 4 internal weaknesses. There are 3 external opportunities and 3 external threats.Getuk Goreng Ibu Diyem 02 is in the I quadrant with the grow and build strategies, with the alternative strategies chosen through the ranking resulting from QSPM analysis. A prioritized strategy to run is the application of a pre-order system on the store's home page.
5177154339A1D022018Pengaruh Umur Simpan dan Priming terhadap Mutu Fisiologis Benih dan Pertumbuhan Vegetatif Wortel (Daucus carota L.)Wortel merupakan komoditas hortikultura yang berpotensi dikembangkan dalam skala industri dengan kandungan vitamin dan mineral esensial tinggi. Ketidakseimbangan permintaan dan produksi wortel belum dapat terpenuhi secara stabil oleh produksi nasional mengingat benih wortel tergolong benih yang mudah mengalami penurunan mutu fisiologis apabila disimpan dalam waktu yang cukup lama. Upaya yang dapat memperbaiki mutu fisiologis benih yaitu melalui teknik priming benih untuk mengaktifkan kembali proses metabolisme benih sebelum perkecambahan berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh umur simpan benih terhadap mutu fisiologis benih dan pertumbuhan vegetatif wortel, 2) mengetahui pengaruh perlakuan priming terhadap mutu fisiologis benih dan pertumbuhan vegetatif wortel, dan 3) mengetahui interaksi antara umur simpan benih dan perlakuan priming serta menentukan kombinasi perlakuan priming terbaik pada masing-masing umur simpan benih untuk meningkatkan mutu fisiologis benih dan pertumbuhan vegetatif wortel.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, dan Screenhouse di ketinggian 600 mdpl terletak di Desa Ketenger, Baturraden, Banyumas. Penelitian dilaksanakan dari bulan April 2026 sampai Juli 2026. Rancangan penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu percobaan laboratorium dan lapang. Percobaan laboratorium menggunakan rancangan Faktorial Petak Terbagi (Split Plot) rancangan lingkungan RAL dan percobaan lapang menggunakan rancangan Faktorial Petak Terbagi (Split Plot) rancangan lingkungan RAK. Faktor petak utama umur simpan terdiri dari 3 taraf dan anak petak perlakuan priming terdiri dari 5 taraf. Variabel yang diamati yakni daya berkecambah, kecepatan tumbuh, indeks vigor, berat kering kecambah normal, dan laju pertumbuhan kecambah, persentase tumbuh bibit, tinggi bibit, jumlah daun, panjang akar, berat segar, berat kering, dan faktor lingkungan pertanaman bibit wortel.
Hasil penelitian menunjukkan umur simpan benih berpengaruh terhadap mutu fisiologis kecuali kecepatan tumbuh benih dan pertumbuhan vegetatif kecuali tinggi bibit, jumlah daun, bobot segar, dan bobot kering bibit. Priming terbaik dapat meningkatkan mutu fisiologis dan variabel pertumbuhan vegetatif kecuali jumlah daun. Interaksi antara umur simpan benih dan priming menjadi perlakuan terbaik dalam meningkatkan daya berkecambah, kecepatan tumbuh, indeks vigor, berat kering kecambah normal, laju pertumbuhan kecambah, persentase tumbuh bibit, tinggi tanaman dan jumlah daun, serta panjang akar. Seluruh taraf umur simpan dengan priming PEG 10% selama 8 jam dapat meningkatkan mutu fisiologis benih, sedangkan untuk berat segar dan berat kering, perlakuan terbaik didapatkan priming PEG 10% selama 8 jam pada umur simpan 6 bulan dan 18 bulan, serta priming PEG 10% selama 12 jam pada umur simpan 12 bulan.
Carrots represent a horticultural commodity with significant potential for industrial-scale development, attributed to their high concentration of essential vitamins and minerals. However, the national production has not yet consistently met the demand for carrots, primarily because carrot seeds are prone to physiological quality deterioration during extended storage. To enhance the physiological quality of seeds, seed priming techniques can be employed. These techniques aim to reactivate the metabolic processes of seeds prior to germination. This study aims to 1) determine the effect of seed storage duration on seed physiological quality and carrot vegetative growth, 2) determine the effect of priming treatment on seed physiological quality and carrot vegetative growth, and 3) identify the interaction between seed storage duration and priming treatment, as well as determine the best priming treatment combination for each storage age to improve seed physiological quality and carrot vegetative growth.
The research was conducted at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, and a screenhouse at an altitude of 600 masl located in Ketenger Village, Baturraden, Banyumas. The study was carried out from April 2026 to July 2026. The experimental design consisted of two stages, a laboratory experiment and a field experiment. The laboratory experiment used a Split Plot Factorial Design with Completely Randomized Design (CRD) environmental design and the field experiment used a Split Plot Factorial Design with Randomized Complete Block Design (RCBD) environmental design. The main plot factor was seed storage duration, consisting of 3 levels, and the subplot priming treatment factor consisted of 5 levels. Observed variables included germination capacity, growth rate, vigour index, dry weight of normal seedlings, and seedling growth rate, seedling emergence percentage, seedling height, number of leaves, root length, fresh weight, dry weight, and environmental factors in carrot seedling cultivation.
Results showed that seed storage duration affected physiological quality except for seedling growth rate and vegetative growth except for seedling height, leaf number, fresh weight, and dry weight of seedlings. Optimal priming can improve physiological quality and vegetative growth variables except for leaf number. The interaction between seed storage duration and priming was the best treatment for improving germination rate, growth rate, vigor index, normal seedling dry weight, seedling growth rate, seedling emergence percentage, plant height and leaf number, as well as root length. All storage durations combined with PEG 10% priming for 8 hours were able to improve seed physiological quality, while for fresh weight and dry weight, the best results were obtained with PEG 10% priming for 8 hours at 6 months and 18 months storage duration, and PEG 10% priming for 12 hours at 12 months storage duration.
5177255189A1C022095Analisis Performansi Tungku Cor Semen Berdasarkan Jenis Bahan Bakar untuk Pembuatan Gula Kelapa CetakPengolahan nira kelapa menjadi gula cetak merupakan proses yang masih banyak dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tungku berbahan bakar biomassa yaitu tungku cor semen. Jenis bahan bakar yang digunakan dalam proses ini dapat memengaruhi kelancaran proses pemasakan, terutama dalam hal kebutuhan bahan bakar dan efisiensi pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui nilai kalor kayu rambutan dan kayu albasia sebagai bahan bakar biomassa pada proses pembuatan gula kelapa cetak. 2) menganalisis performansi tungku cor semen berdasarkan penggunaan kayu rambutan dan kayu albasia yang ditinjau dari efisiensi termal, konsumsi bahan bakar spesifik (SFC), laju konsumsi bahan bakar, dan lama pemasakan nira. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai nilai kalor kayu rambutan dan kayu albasia sebagai bahan bakar biomassa serta performansi tungku cor semen pada proses pembuatan gula kelapa cetak berdasarkan jenis bahan bakar kayu albasia dan kayu rambutan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi perajin gula kelapa mengenai karakteristik bahan bakar dan kebutuhan energi selama proses pemasakan nira hingga fase padat, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam memilih jenis bahan bakar yang lebih efisien. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat membantu perajin dan pelaku agroindustri gula kelapa dalam meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar serta menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan energi biomassa yang lebih efektif dan berkelanjutan pada industri kecil dan rumah tangga pengolahan gula kelapa.
Penelitian dilaksanakan di 3 tempat, yaitu di Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, serta di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Pertenakan, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai April 2026. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan, yaitu kayu rambutan dan kayu albasia, masing-masing dengan lima kali ulangan. Terdapat 3 jenis variable yang diamti yaitu variabel bebas (X) yaitu tungku cor semen, volume nira kelapa yang dimasak, jenis dan ukuran wajan (kuali) yang diseragamkan pada seluruh percobaan, serta teknik dan alat pengukuran yang digunakan, dan variabel terikat (Y) adalah “performansi tungku cor semen”, yang dinyatakan dalam “efisiensi temal tungku” dan”konsumsi bahan bakar”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu rambutan memiliki nilai kalor sebesar 20.741,05 kJ/kg, sedangkan kayu albasia sebesar 19.533,84 kJ/kg. Berdasarkan nilai rata-rata, penggunaan kayu rambutan menghasilkan efisiensi termal sebesar 10,94%, SFC sebesar 7,64 kg/kg, laju konsumsi bahan bakar sebesar 13,20 kg/jam, dan lama pemasakan sebesar 1,46 jam. Sementara itu, kayu albasia menghasilkan efisiensi termal sebesar 9,21%, SFC sebesar 8,20 kg/kg, laju konsumsi bahan bakar sebesar 14,66 kg/jam, dan lama pemasakan sebesar 1,70 jam. Secara deskriptif, kayu rambutan menunjukkan performansi tungku cor semen yang lebih baik berdasarkan nilai efisiensi termal yang lebih tinggi, SFC dan laju konsumsi bahan bakar yang lebih rendah, serta waktu pemasakan yang lebih singkat. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa parameter performansi yang diuji tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara penggunaan kayu rambutan dan kayu albasia. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi perajin gula kelapa dalam mempertimbangkan karakteristik dan penggunaan bahan bakar biomassa pada proses pemasakan nira.
The processing of coconut sap into molded coconut sugar is still widely carried out using traditional methods with biomass-fueled stoves, including cast-cement stoves. The type of fuel used in this process may affect the cooking process, particularly in terms of fuel requirements and energy utilization efficiency. This study aimed to: (1) determine the calorific value of rambutan wood and albasia wood as biomass fuels for molded coconut sugar production; and (2) analyze the performance of a cast-cement stove using rambutan wood and albasia wood based on thermal efficiency, specific fuel consumption (SFC), fuel consumption rate, and cooking time.
The study was conducted from January to April 2026 at three locations: Babakan Village, Karanglewas District, Banyumas Regency; the Laboratory of Food and Agricultural Product Processing Engineering, Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman; and the Laboratory of Animal Feed Science, Faculty of Animal Science, Universitas Jenderal Soedirman. An experimental method was used with two treatments, namely rambutan wood and albasia wood, with five replications for each treatment. The independent variable was fuel type, while the control variables included the cast-cement stove, coconut sap volume, type and size of the cooking pan, and measurement techniques and instruments. The dependent variable was cast-cement stove performance, assessed based on thermal efficiency, SFC, fuel consumption rate, and cooking time. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test, Levene's homogeneity test, and Independent Samples t-Test at a 5% significance level (α = 0.05).
The results showed that rambutan wood had a calorific value of 20,741.05 kJ/kg, while albasia wood had a calorific value of 19,533.84 kJ/kg. Based on the average values, the use of rambutan wood resulted in a thermal efficiency of 10.94%, an SFC of 7.64 kg/kg, a fuel consumption rate of 13.20 kg/h, and a cooking time of 1.46 h. Meanwhile, albasia wood resulted in a thermal efficiency of 9.21%, an SFC of 8.20 kg/kg, a fuel consumption rate of 14.66 kg/h, and a cooking time of 1.70 h. Descriptively, rambutan wood showed better cast-cement stove performance, as indicated by higher thermal efficiency, lower SFC and fuel consumption rate, and shorter cooking time. However, the statistical analysis showed that there were no significant differences in the measured performance parameters between the use of rambutan wood and albasia wood. These findings provide useful information for coconut sugar producers in considering the characteristics and use of biomass fuels during the coconut sap cooking process.
5177355190F1G022026 Indonesia’s Naval Modernization in Response to South China Sea Tensions (2018–2022).Laut Cina Selatan telah menjadi lingkungan keamanan maritim yang semakin kompleks akibat meningkatnya kapabilitas maritim Tiongkok, aktivitas gray-zone, dan peningkatan kehadirannya di kawasan. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran keamanan di Laut Natuna Utara, di mana aktivitas maritim Tiongkok bersinggungan dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Meskipun Indonesia bukan merupakan salah satu negara pengklaim utama dalam sengketa teritorial di Laut Cina Selatan, berbagai insiden maritim yang terjadi secara berulang, terutama selama insiden Natuna pada 2019–2020, meningkatkan kekhawatiran terhadap kedaulatan maritim dan kemampuan penegakan hukum Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persepsi ancaman Indonesia terhadap aktivitas maritim Tiongkok di Laut Cina Selatan mendorong internal balancing melalui modernisasi angkatan laut pada periode 2018–2022. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang meliputi dokumen pemerintah Indonesia, publikasi kebijakan pertahanan, pernyataan resmi, literatur akademik, laporan strategis, dan media yang kredibel. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis tematik dan kemudian diinterpretasikan melalui kerangka teori Defensive Realism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya aktivitas maritim Tiongkok dan operasi gray-zone berkontribusi terhadap meningkatnya persepsi Indonesia mengenai ancaman keamanan maritim, sehingga mendorong pemerintah untuk memperkuat kemampuan pertahanannya. Indonesia merespons melalui internal balancing daripada membentuk aliansi militer formal atau melakukan proyeksi kekuatan secara agresif. Modernisasi angkatan laut dilakukan melalui peningkatan patroli, penguatan sistem pengawasan maritim, pengembangan Pangkalan Angkatan Laut Ranai dan infrastruktur maritim lainnya, serta pengadaan dan modernisasi aset angkatan laut, khususnya kapal selam, fregat, dan kapal patroli. Langkah-langkah tersebut terutama bertujuan untuk memperkuat daya tangkal, melindungi kedaulatan maritim, dan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam memantau serta merespons aktivitas di Laut Natuna Utara. Temuan penelitian menunjukkan bahwa modernisasi angkatan laut Indonesia selama 2018–2022 pada dasarnya bersifat defensif dan sejalan dengan prinsip Defensive Realism, karena Indonesia berupaya meningkatkan keamanan dan mengurangi kerentanan tanpa mengorbankan otonomi strategis maupun meningkatkan eskalasi yang tidak diperlukan dengan Tiongkok. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bagaimana negara kekuatan menengah di Asia Tenggara dapat merespons perubahan dinamika maritim regional melalui internal balancing secara bertahap, pengembangan kapabilitas pertahanan yang bersifat defensif, dan strategic restraint.The South China Sea has become an increasingly complex maritime security environment due to China’s growing maritime capabilities, gray-zone activities, and expanding presence in the region. For Indonesia, these developments have created security concerns in the North Natuna Sea, where Chinese maritime activities overlap with Indonesia’s Exclusive Economic Zone (EEZ). Although Indonesia is not a primary claimant in the South China Sea territorial disputes, repeated maritime incidents, particularly during the 2019–2020 Natuna incidents, increased concerns regarding Indonesia’s maritime sovereignty and enforcement capabilities. This study examines how Indonesia’s threat perception of Chinese maritime activities in the South China Sea drove internal balancing through naval modernization between 2018 and 2022. The study employs a qualitative research design based entirely on secondary data, including Indonesian government documents, defense policy publications, official statements, academic literature, strategic reports, and credible media sources. The collected data are analyzed using thematic analysis, with the findings interpreted through a Defensive Realism framework. The study finds that growing Chinese maritime activities and gray-zone operations contributed to Indonesia’s perception of increasing maritime security threats, encouraging the government to strengthen its defensive capabilities. Indonesia responded through internal balancing rather than formal military alliances or aggressive power projection. Naval modernization included increased patrols, improved maritime surveillance, development of the Ranai Naval Base and other maritime infrastructure, and the procurement and modernization of naval assets, particularly submarines, frigates, and patrol vessels. These measures primarily aimed to strengthen deterrence, protect maritime sovereignty, and improve Indonesia’s ability to monitor and respond to activities in the North Natuna Sea. The findings demonstrate that Indonesia’s naval modernization during 2018–2022 was fundamentally defensive and consistent with the principles of Defensive Realism, as Indonesia sought to improve its security and reduce vulnerability while maintaining strategic autonomy and avoiding unnecessary escalation with China. The study therefore demonstrates how a Southeast Asian middle power can respond to changing regional maritime dynamics through gradual internal balancing, defensive capability development, and strategic restraint.
5177455191F1F022009EFEKTIVITAS KERJA SAMA INTERPOL DAN PEMERINTAH INDONESIA DALAM PENANGGULANGAN PERDAGANGAN SENJATA ILEGAL DI ASIA TENGGARA (2018-2023)Perdagangan senjata ilegal merupakan salah satu bentuk kejahatan lintas negara yang dapat mengancam keamanan dan stabilitas kawasan Asia Tenggara. Sifat lintas batas dari perdagangan senjata ilegal menyebabkan penanggulangannya memerlukan kerja sama internasional dan pertukaran informasi antarlembaga penegak hukum. Dalam konteks tersebut, INTERPOL berperan dalam memfasilitasi kerja sama kepolisian internasional, termasuk melalui pemanfaatan sistem informasi dan pelaksanaan operasi bersama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kerja sama INTERPOL dan Indonesia dalam penanggulangan perdagangan senjata ilegal di Asia Tenggara pada periode 2018–2023, khususnya melalui pemanfaatan sistem INTERPOL Illicit Arms Records and tracing Management System (iARMS) dan pelaksanaan Operation Trigger. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi dan penelusuran sumber-sumber resmi yang relevan. Analisis penelitian menggunakan Teori Efektivitas Rezim Internasional Duncan Snidal untuk melihat efektivitas kerja sama berdasarkan pelaksanaan aturan dan mekanisme kerja sama, pencapaian tujuan, serta kontribusinya terhadap penanganan permasalahan yang menjadi fokus kerja sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama INTERPOL dan Indonesia telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan pelacakan, pertukaran informasi, dan koordinasi dalam penanggulangan perdagangan senjata ilegal. Pemanfaatan iARMS mendukung proses pencatatan dan pelacakan senjata api secara internasional, sedangkan Operation Trigger memperkuat koordinasi dan pertukaran informasi melalui kegiatan operasi bersama. Meskipun demikian, efektivitas kerja sama masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama berkaitan dengan implementasi di tingkat nasional, koordinasi antarlembaga, serta keterbatasan akses terhadap data yang dapat digunakan untuk mengukur hasil kerja sama secara lebih komprehensif. Dengan demikian, kerja sama INTERPOL dan Indonesia pada periode 2018–2023 dapat dinilai telah berjalan secara efektif dalam mendukung mekanisme pelacakan dan penindakan terhadap perdagangan senjata ilegal, meskipun masih terdapat keterbatasan yang memengaruhi optimalisasi hasil kerja sama.Illicit arms trafficking is a form of transnational crime that poses a threat to security and stability in Southeast Asia. Its cross-border nature requires international cooperation and information exchange among law enforcement agencies. In this context, INTERPOL plays an important role in facilitating international police cooperation, including through the use of information systems and the implementation of joint operations. This study aims to analyze the effectiveness of cooperation between INTERPOL and Indonesia in addressing illicit arms trafficking in Southeast Asia during the 2018–2023 period, particularly through the utilization of the INTERPOL Illicit Arms Records and tracing Management System (iARMS) and the implementation of Operation Trigger. This research employs a qualitative method, with data collected through documentary research and the examination of relevant official sources. The analysis applies Duncan Snidal’s Theory of International Regime Effectiveness to examine the effectiveness of cooperation through the implementation of cooperation rules and mechanisms, the achievement of objectives, and its contribution to addressing the problems targeted by the cooperation. The findings indicate that cooperation between INTERPOL and Indonesia has contributed to improving tracing capabilities, information exchange, and coordination in addressing illicit arms trafficking. The utilization of iARMS supports the international recording and tracing of firearms, while Operation Trigger strengthens coordination and information exchange through joint operational activities. Nevertheless, the effectiveness of the cooperation continues to face several limitations, particularly regarding national-level implementation, inter-agency coordination, and limited access to data that can be used to comprehensively measure the outcomes of the cooperation. Therefore, the cooperation between INTERPOL and Indonesia during the 2018–2023 period can be considered effective in supporting mechanisms for tracing and addressing illicit arms trafficking, although several limitations remain that affect the optimization of the cooperation’s outcomes.
5177555192J0A022054PRODUCING AN ENGLISH PROMOTIONAL VIDEO OF OWABONG HOTEL PURBALIGGARINGKASAN

Saya membuat video promosi untuk mendukung kegiatan pemasaran Hotel Owabong. Tujuan dari video ini adalah untuk memperkenalkan fasilitas, layanan, dan suasana nyaman yang dimiliki Hotel Owabong kepada calon tamu melalui konten visual yang menarik. Video ini dirancang dalam bahasa Inggris agar dapat menjangkau wisatawan domestik maupun mancanegara, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hotel dan tingkat hunian kamar. Video promosi ini diharapkan dapat menjadi media komunikasi yang efektif antara Hotel Owabong dan calon pengunjung. Karena konten video digital lebih menarik dan mudah diakses pada era digital saat ini, penulis memilih video promosi sebagai sarana pemasaran yang dapat disebarluaskan melalui media sosial, khususnya Instagram dan TikTok yang banyak digunakan oleh masyarakat.

Proses pembuatan video promosi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan praktik langsung. Penulis mengamati fasilitas hotel, aktivitas tamu, serta konten promosi yang sebelumnya digunakan oleh Hotel Owabong. Data juga diperoleh melalui wawancara dengan staf hotel mengenai strategi pemasaran dan informasi yang perlu ditampilkan dalam video. Praktik langsung meliputi perencanaan konsep video, pengambilan gambar, hingga proses penyuntingan video untuk menghasilkan produk promosi yang menarik. Salah satu kendala yang dihadapi selama proses produksi adalah keterbatasan waktu pengambilan gambar karena aktivitas operasional hotel dan pertimbangan privasi tamu. Untuk mengatasi hal tersebut, penulis berkoordinasi dengan pembimbing dan staf hotel guna menentukan jadwal pengambilan gambar yang sesuai serta memperoleh informasi yang diperlukan sehingga video promosi dapat diselesaikan dengan baik.
SUMMARY
I created a promotional video to support the marketing activities of Hotel Owabong. The purpose of this video was to introduce the hotel’s facilities, services, and comfortable environment to potential guests through engaging visual content. The video was designed in English to help reach both domestic and international tourists, as well as increase public awareness and hotel occupancy. This promotional video is expected to serve as an effective communication medium between Hotel Owabong and prospective visitors. Since digital video content is more attractive and widely accessible in today's digital era, the writer chose video promotion as a marketing tool that can be distributed through social media platforms, especially Instagram and TikTok, which are widely used by the public.

The process of creating the promotional video was carried out through observation, interviews, and direct practice. The writer observed the hotel's facilities, guest activities, and previous promotional content used by Hotel Owabong. The data were also collected through interviews with hotel staff regarding the marketing strategies and information that should be highlighted in the video. The direct practice included planning the video concept, recording footage, and editing the video to produce an attractive promotional product. One of the challenges faced during the production process was limited time for recording due to hotel operational activities and guest privacy considerations. To overcome this issue, the writer coordinated with the supervisor and hotel staff to determine suitable filming schedules and obtain the necessary information for completing the promotional video effectively.
5177655193A1A019078Analisis Usaha Gula Merah Sukrosa CV. Srikandi Sukses Abadi Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa TengahUsaha gula merah merupakan salah satu sektor agroindustri yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan karena permintaan pasar yang terus ada serta didukung oleh ketersediaan bahan baku. Salah satu produsen gula yang memproduksi gula merah sukrosa di Kabupaten Purworejo yaitu CV. Srikandi Sukses Abadi. Meskipun usaha telah berjalan selama beberapa tahun, analisis kelayakan finansial belum pernah dilakukan sehingga belum diketahui apakah usaha yang dijalankan layak untuk dikembangkan dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar biaya total produksi dan penerimaan, menganalisis kelayakan finansial usaha, mengetahui berapa lama pengembalian modal, mengetahui titik impas produksi, dan menganalisis sensitivitas kelayakan usaha terhadap perubahan biaya bahan yang digunakan dalam proses produksi gula merah sukrosa.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode studi kasus. Penelitian dilaksanakan di CV. Srikandi Sukses Abadi yang berlokasi di Jalan Senepo Timur Gang Krajan II No. 7 RT 03/RW 07, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilakukan selama satu bulan yaitu periode 1 sampai 30 Juni 2026. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis biaya, penerimaan, pendapatan, R/C Ratio, Break Even Point (BEP), Payback Period (PP), dan analisis sensitivitas.
Hasil penelitian ini menunjukkan total biaya produksi gula merah sukrosa yang dikeluarkan oleh CV. Srikandi Sukses Abadi pada periode 1 sampai 30 Juni 2026 yaitu sebesar Rp211.780.272,61. Penerimaan yang diperoleh sebesar Rp239.190.000. Berdasarkan nilai R/C Ratio usaha gula merah sukrosa CV. Srikandi Sukses tergolong layak untuk diusahakan karena memiliki nilai R/C Ratio > 1 yaitu sebesar 1,13. Nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,13. Dengan demikian, terdapat keuntungan sebesar Rp0,13 untuk setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan, sehingga meskipun usaha tergolong layak, keuntungan yang diperoleh relatif kecil. Nilai Break Even Point (BEP) usaha gula merah sukrosa CV. Srikandi Sukses Abadi untuk BEP atas dasar produksi sebesar 1.028,14 kg, BEP atas dasar harga sebesar Rp18.593,53/kg, dan BEP penerimaan sebesar Rp20.920.712,38. Sementara itu, produksi aktual gula merah sukrosa sebesar 11.390 kg, dengan harga jual sebesar Rp21.000/kg, dan penerimaan sebesar Rp239.190.000. Nilai tersebut masing-masing lebih besar dari BEP produksi, BEP harga, dan BEP penerimaan. Hal ini menunjukkan bahwa volume produksi, harga jual, dan penerimaan yang diperoleh CV. Srikandi Sukses Abadi telah melampaui titik impas. Payback Period (PP) usaha gula merah sukrosa CV. Srikandi Sukses Abadi sebesar 2,75, artinya waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal investasi awal sekitar 2 tahun 9 bulan. Hasil analisis sensitivitas usaha gula merah sukrosa CV. Srikandi Sukses Abadi menunjukkan apabila terjadi kenaikan harga bahan-bahan sebesar 14% usaha masih layak dijalankan dengan nilai R/C Ratio 1,01 (> 1), namun apabila terjadi kenaikan harga sebesar 15% usaha dapat mengalami kerugian dengan nilai R/C Ratio 0,99 (< 1).
The brown sugar industry is one of the agro-industrial sectors with considerable potential for further development due to sustained market demand and the availability of raw materials. One of the producers of sucrose brown sugar in Purworejo Regency is CV Srikandi Sukses Abadi. Although the business has been operating for several years, no financial feasibility analysis has been conducted to determine whether the business is financially viable for long-term development. This research aims to determine the total production costs and rev-enue, analyze the financial feasibility of the business, determine the payback period, determine the break-even point, and analyze the sensitivity of the business feasibility to changes in the costs of raw materials used in the production process of sucrose brown sugar.
The method used in this research was a case study method. The research was conducted at CV. Srikandi Sukses Abadi, located at Jalan Senepo Timur Gang Krajan II No. 7, RT 03/RW 07, Kutoarjo District, Purworejo Regency, Central Java Province. The research was conducted for one month, from June 1 to June 30, 2026. The analyses employed in this research included cost analysis, revenue analysis, income analysis, R/C Ratio, Break-Even Point (BEP), Payback Period (PP), and sensitivity analysis.
The results of this research show that the total production cost incurred by CV. Srikandi Sukses Abadi for the production of sucrose brown sugar during the period from June 1 to June 30, 2026, amounted to IDR 211.780.272,61. The revenue generated amounted to IDR 239.190.000. Based on the R/C Ratio, the sucrose brown sugar business operated by CV. Srikandi Sukses Abadi is considered feasible, as it has an R/C Ratio greater than 1, with a value of 1,13. This value indicates that every IDR 1 spent generates revenue of IDR 1,13. Therefore, a profit of IDR 0,13 is generated for every IDR 1 spent. Thus, although the business is considered feasible, the profit generated is relatively low. The Break-Even Point (BEP) analysis shows that the production BEP for the sucrose brown sugar business operated by CV. Srikandi Sukses Abadi is 1.028,14 kg, the price BEP is IDR 18.593,53 per kg, and the revenue BEP is IDR 20.920.712,38. Meanwhile, the actual production of sucrose brown sugar reached 11.390 kg, with a selling price of IDR 21.000 per kg and total revenue of IDR 239.190.000. These figures are all higher than the respective production BEP, price BEP, and revenue BEP. This indicates that the production volume, selling price, and revenue generated by CV. Srikandi Sukses Abadi have exceeded the break-even point. The Payback Period (PP) of the sucrose brown sugar business operated by CV. Srikandi Sukses Abadi is 2,75 years, indicating that approximately 2 years and 9 months are required to recover the initial investment. The sensitivity analysis of the sucrose brown sugar business operated by CV. Srikandi Sukses Abadi shows that the business remains feasible if raw material prices increase by 14%, with an R/C Ratio of 1,01 (> 1). However, if raw material prices increase by 15%, the business may incur a loss, as the R/C Ratio decreases to 0,99 (< 1).
5177755194A1C022041Analisis DInamika Fluida pada Reaktor Gasifier Downdraft Portabel Menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD)Peningkatan kebutuhan energi di Indonesia masih diikuti oleh tingginya ketergantungan terhadap energi fosil, sehingga diperlukan pengembangan sumber energi terbarukan yang dapat memanfaatkan sumber daya lokal. Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar yang dapat dikonversi menjadi energi melalui teknologi gasifikasi. Gasifikasi merupakan teknologi konversi termokimia biomassa menjadi gas sintetis (syngas) melalui pemanasan dengan suplai udara terbatas. Pada downdraft gasifier, biomassa mengalami tahapan drying, pirolisis, oksidasi, dan reduksi secara berurutan. Distribusi temperatur, kecepatan aliran, dan tekanan di dalam reaktor dipengaruhi oleh laju udara dan geometri reaktor, sehingga diperlukan analisis CFD untuk mengetahui karakteristik aliran dan distribusi suhu secara lebih menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dinamika fluida pada reaktor downdraft gasifier, menganalisis pengaruh variasi kecepatan udara terhadap distribusi temperatur dan tekanan di dalam reaktor, serta memvalidasi hasil simulasi terhadap data temperatur hasil pengukuran eksperimen. Simulasi dilakukan menggunakan Ansys Fluent 19.2 dengan model tiga dimensi steady-state. Model Standard k–ε digunakan untuk merepresentasikan turbulensi, sedangkan persamaan energi dan Species Transport digunakan untuk menghitung perpindahan panas serta distribusi spesies gas hasil gasifikasi. Domain biomassa dimodelkan sebagai porous zone dengan porositas 0,45, kemudian proses reaksi volumetrik dan sumber energi diberikan untuk merepresentasikan proses termokimia yang terjadi di dalam reaktor. Variasi kecepatan udara pada inlet yang digunakan adalah 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 m/s.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa variasi kecepatan udara memberikan pengaruh terhadap distribusi temperatur, kecepatan aliran, dan tekanan di dalam reaktor. Temperatur maksimum yang diperoleh berturut-turut sebesar 650,7; 1.032,3; 945,2; dan 779,2 °C pada kecepatan udara 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 m/s. Temperatur maksimum tertinggi diperoleh pada kecepatan udara 1,0 m/s, sedangkan peningkatan kecepatan udara hingga 2,0 m/s menyebabkan temperatur maksimum menurun. Kecepatan aliran tertinggi terutama terbentuk pada daerah inlet, throat, dan outlet dengan nilai maksimum masing-masing sebesar 0,96; 2,18; 3,18; dan 2,94 m/s. Peningkatan laju udara juga menyebabkan peningkatan kehilangan tekanan, dengan pressure drop tertinggi sebesar 650,96 Pa pada kecepatan 2,0 m/s. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perubahan laju udara tidak hanya memengaruhi pola aliran, tetapi juga kondisi termal di dalam reaktor.
Validasi dilakukan menggunakan data temperatur dari empat titik termokopel yang mewakili zona reduksi (T1), oksidasi (T2), pirolisis (T3), dan drying (T4). Perhitungan RMSE dan MAPE dilakukan secara terpisah pada setiap titik. Hasil validasi menunjukkan nilai RMSE dan MAPE masing-masing sebesar 210,83 °C dan 31,53% pada T1, 89,72 °C dan 14,79% pada T2, 81,92 °C dan 29,44% pada T3, serta 337,00 °C dan 224,19% pada T4. Titik T2 menunjukkan kesesuaian paling baik antara hasil simulasi dan eksperimen, sedangkan penyimpangan terbesar terjadi pada T4. Deviasi tersebut berkaitan dengan penyederhanaan proses penguapan air pada zona drying, representasi reaksi heterogen biomassa, distribusi sumber panas, serta perbedaan antara kondisi steady-state simulasi dan kondisi eksperimen yang masih bersifat transien. Secara keseluruhan, model CFD mampu menggambarkan pola distribusi temperatur dan dinamika aliran di dalam reaktor serta menunjukkan pengaruh variasi kecepatan udara terhadap karakteristik operasional downdraft gasifier.
The increasing demand for energy in Indonesia is still accompanied by a high dependence on fossil fuels, creating a need to develop renewable energy sources that utilize local resources. Indonesia has substantial biomass potential that can be converted into energy through gasification technology. Gasification is a thermochemical biomass conversion process that produces synthesis gas (syngas) under limited air supply. In a downdraft gasifier, biomass undergoes drying, pyrolysis, oxidation, and reduction sequentially. Temperature, airflow, and pressure distributions are strongly affected by air velocity and reactor geometry; therefore, CFD is needed to analyze the flow and thermal characteristics inside the reactor. This study aimed to analyze the fluid dynamic characteristics inside the downdraft gasifier, investigate the effect of air velocity variations on temperature and pressure distributions inside the reactor, and validate the simulation results against experimentally measured temperature data. The simulation was performed using ANSYS Fluent 19.2 with a three-dimensional steady-state model. The Standard k–ε model was used to represent turbulence, while the energy equation and Species Transport model were applied to calculate heat transfer and the distribution of gasification products. The biomass domain was modeled as a porous zone with a porosity of 0,45, while volumetric reactions and energy sources were applied to represent the thermochemical processes occurring inside the reactor. The inlet air velocity variations were set at 0,5; 1,0; 1,5; and 2,0 m/s.
The simulation results showed that variations in air velocity affected the temperature distribution, airflow characteristics, and pressure inside the reactor. The maximum temperatures obtained were 650,77 °C; 1.032,34 °C; 945,29 °C; and 779,24 °C at air velocities of 0,5; 1,0; 1,5; and 2,0 m/s, respectively. The highest maximum temperature was obtained at an air velocity of 1,0 m/s, whereas increasing the air velocity to 2,0 m/s resulted in a decrease in the maximum temperature. The highest airflow velocities were mainly observed around the inlet, throat, and outlet regions, with maximum values of 0,96; 2,18; 3,18; and 2,94 m/s, respectively. Increasing the air flow rate also increased the pressure loss, with the highest pressure drop of 650,96 Pa occurring at an air velocity of 2,0 m/s. These results indicate that changes in air velocity affect not only the flow pattern but also the thermal conditions inside the reactor.
Validation was performed using temperature data obtained from four thermocouple locations representing the reduction zone (T1), oxidation zone (T2), pyrolysis zone (T3), and drying zone (T4). RMSE and MAPE were calculated separately for each measurement point. The validation results showed RMSE and MAPE values of 210,83 °C and 31,53% for T1, 89,72 °C and 14,79% for T2, 81,92 °C and 29,44% for T3, and 337,00 °C and 224,19% for T4, respectively. T2 showed the best agreement between the simulation and experimental results, while the largest deviation occurred at T4. These deviations were associated with the simplified representation of moisture evaporation in the drying zone, the representation of heterogeneous biomass reactions, the distribution of the energy source, and the difference between the steady-state simulation conditions and the transient nature of the experimental process. Overall, the CFD model was able to represent the temperature distribution and flow dynamics inside the reactor and demonstrated the influence of air velocity variations on the operating characteristics of the downdraft gasifier.
5177855195A1C022078Uji Performansi Sistem Kontrol Kepekatan Nutrisi Dan pH Berbasis Fuzzy Inference Pada Budidaya Hidroponik Selada Sistem NFT Penelitian ini menguji performansi sistem kontrol kepekatan nutrisi (Electrical Conductivity/EC) dan pH berbasis Fuzzy Inference pada budidaya hidroponik selada (Lactuca sativa L.) sistem Nutrient Film Technique (NFT). Pengendalian EC dan pH merupakan faktor penting dalam budidaya hidroponik karena memengaruhi ketersediaan dan penyerapan unsur hara oleh tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menguji dan mengevaluasi kemampuan sistem kontrol berbasis Fuzzy Inference dalam mempertahankan nilai EC dan pH sesuai set point, serta membandingkan pertumbuhan tanaman selada yang dibudidayakan menggunakan sistem kontrol dengan budidaya tanpa sistem kontrol. Penelitian dilaksanakan di Experimental Farm Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman menggunakan dua sistem budidaya hidroponik NFT, yaitu sistem dengan kontrol Fuzzy Inference dan sistem tanpa kontrol. Nilai set point EC ditetapkan sebesar 1,2 mS/cm pada umur tanaman 5 hari, 2,1 mS/cm pada umur 10 hari, dan 1,8 mS/cm pada umur 15–35 hari, sedangkan pH dipertahankan pada kisaran 5,7–6,0. Evaluasi performansi sistem dilakukan dengan membandingkan nilai EC dan pH aktual terhadap set point menggunakan persentase performa, Mean Absolute Error (MAE), Mean Square Error (MSE), dan Root Mean Square Error (RMSE). Selain itu, diamati pula kondisi iklim mikro greenhouse serta pertumbuhan tanaman berdasarkan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, dan berat segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kontrol berbasis Fuzzy Inference mampu mengatur nilai EC dan pH secara otomatis mengikuti perubahan set point selama masa budidaya. Pengendalian pH menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan pengendalian EC, sedangkan nilai EC masih cenderung berada di batas atas set point. Meskipun sistem kontrol dapat mempertahankan kondisi larutan nutrisi secara otomatis, pertumbuhan tanaman pada perlakuan dengan sistem kontrol belum menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan tanpa sistem kontrol. Hasil penelitian ini memberikan informasi mengenai performansi sistem kontrol berbasis Fuzzy Inference pada budidaya hidroponik selada sistem NFT serta menjadi dasar untuk pengembangan sistem kontrol yang lebih akurat dan adaptif.This study evaluated the performance of a Fuzzy Inference-based control system for regulating nutrient concentration (Electrical Conductivity; EC) and pH in Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic cultivation of lettuce (Lactuca sativa L.). Controlling EC and pH is essential in hydroponic cultivation because these parameters directly affect nutrient availability and uptake by plants. Therefore, this study aimed to evaluate the ability of the Fuzzy Inference-based control system to maintain EC and pH at their designated set points and to compare the growth of lettuce cultivated using the control system with that of lettuce grown without the control system. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, using two NFT hydroponic systems: one equipped with a Fuzzy Inference control system and another operated without automatic control. The EC set points were established at 1.2 mS/cm for 5-day-old plants, 2.1 mS/cm for 10-day old plants, and 1.8 mS/cm for plants aged 15–35 days, while the pH was maintained within the range of 5.7–6.0. The control system performance was evaluated by comparing the actual EC and pH values with their respective set points using performance percentage, Mean Absolute Error (MAE), Mean Square Error (MSE), and Root Mean Square Error (RMSE). In addition, greenhouse microclimate conditions and plant growth parameters, including plant height, number of leaves, root length, and fresh weight, were observed. The results showed that the Fuzzy Inference-based control system was able to regulate EC and pH automatically in response to changes in the set points throughout the cultivation period. The pH control exhibited better performance than the EC control, while the EC values tended to remain above the designated set points. Although the control system was capable of automatically maintaining the nutrient solution conditions, plant growth under the controlled treatment was not superior to that of the treatment without the control system. These findings provide information on the performance of the Fuzzy Inference-based control system in NFT hydroponic lettuce cultivation and may serve as a basis for the development of more accurate and adaptive control systems
5177955198A1A020081Strategi Pemasaran Untuk Peningkatan Penjualan Sayuran Selada di Hidroponik Fresh SayurkuPenelitian ini di latar belakangi oleh potensi besar komoditas sayuran selada hidroponik sebagai bagian dari urban farming di Kabupaten Banyumas, namun usaha Hidroponik Fresh Sayurku masih menghadapi kendala berupa fluktuasi pendapatan, keterbatasan kapasitas tempat produksi, ketiadaan tenaga kerja operasional, serta belum optimalnya promosi digital di tengah ketatnya persaingan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP), mengidentifikasi bauran pemasaran (7P), serta merumuskan dan menetapkan prioritas strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan penjualan sayuran selada.
Menggunakan metode studi kasus deskriptif kuantitatif, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada informan kunci (owner, konsumen, mitra ritel, dan pesaing) yang dianalisis menggunakan matriks IFE, EFE, IE, SWOT, serta QSPM. Matriks IFE dan EFE diawali dengan identifikasi faktor internal dan eksternal. Setelah identifikasi faktor internal dan eksternal, kemudian membuat strategi alternatif berdasarkan faktor internal dan eskternal tersebut dengan menggunakan matriks SWOT. Strategi alternatif di perhitungkan kembali dengan daya tarik dari responden menggunakan alat analisis QSPM.
Hasil penelitian menunjukkan segmen pasar berfokus di Kabupaten Banyumas pada masyarakat menengah ke atas dan mitra B2B (supermarket serta restoran), dengan positioning sebagai penyedia selada hidroponik segar, higienis, dan berharga terjangkau. Identifikasi bauran pemasaran (7P) menunjukkan keunggulan pada mutu produk, kesesuaian harga, lokasi strategis, dan proses SOP budidaya, meski masih terbatas pada jangkauan promosi serta skema pengelola tunggal (single-operator). Perolehan skor IFE sebesar 2,76 dan EFE sebesar 3,28 menempatkan posisi usaha pada Kuadran II (Grow and Build) matriks IE yang mendukung strategi agresif/ekspansi (Strength-Opportunity). Berdasarkan analisis matriks QSPM, prioritas strategi utama yang dirumuskan adalah mengatasi kapasitas produksi yang terbatas dan kurangnya tenaga kerja guna memanfaatkan tingginya permintaan produk dengan memperluas tempat produksi serta menambah kuantitas tenaga kerja, dengan skor Total Attractive Score (TAS) tertinggi sebesar 5,751.  
This research is motivated by the great potential of hydroponic lettuce as part of urban farming in Banyumas Regency, however, the Fresh Sayurku Hydroponic business still faces obstacles such as income fluctuations, limited production capacity, lack of operational workers, and suboptimal digital promotion amidst tight competition. Therefore, this study aims to analyze Segmenting, Targeting, and Positioning (STP), identify the marketing mix (7P), and formulate and prioritize appropriate marketing strategies to increase lettuce sales.
Using a quantitative descriptive case study method, data were obtained through observation, interviews, and questionnaires with key informants (owners, consumers, retail partners, and competitors) which were analyzed using the IFE, EFE, IE, SWOT, and QSPM matrices. The IFE and EFE matrices begin with the identification of internal and external factors. After identifying internal and external factors, alternative strategies are then created based on these internal and external factors using the SWOT matrix. Alternative strategies are recalculated with the attractiveness of respondents using the QSPM analysis tool.
The research results show that the market segment focuses on the middle to upper class society in Banyumas Regency and B2B partners (supermarkets and restaurants), with positioning as a provider of fresh, hygienic, and affordable hydroponic lettuce. The identification of the marketing mix (7P) shows advantages in product quality, price suitability, strategic location, and cultivation SOP processes, although still limited to promotional reach and a single-operator scheme. The IFE score of 2.76 and EFE of 3.28 places the business in Quadrant II (Grow and Build) of the IE matrix which supports an aggressive/expansion strategy (Strength-Opportunity). Based on the QSPM matrix analysis, the main strategic priority formulated is to overcome limited production capacity and lack of labor in order to take advantage of high product demand by expanding production sites and increasing the quantity of labor, with the highest Total Attractive Score (TAS) of 5.751.