Artikelilmiahs

Menampilkan 51.681-51.700 dari 52.045 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5168126775I1D015040POTENSI FLAKES MOCAF: BERAS MERAH DAN TEPUNG KACANG MERAH SEBAGAI ALTERNATIF SNACK PASIEN DM TIPE 2Latar Belakang: Indeks glikemik dan beban glikemik merupakan hal yang penting untuk mengontrol glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks glikemik, beban glikemik dan tingkat kekenyangan dari flakes mocaf: beras merah dan tepung kacang merah sebagai alternatif makanan selingan untuk pasien DM tipe 2.
Metodologi: Responden berjumlah 10 orang. Pangan uji yang digunakan adalah flakes mocaf: beras merah dan tepung kacang merah. Responden diminta untuk puasa di malam hari sebelum pemeriksaan. Pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada menit ke-0 (sebelum makan), 30, 60, 90 dan 120 (setelah makan). Perhitungan IG menggunakan metode incremental area under the blood glucose response curve (IAUC). Pengukuran tingkat kekenyangan menggunakan kuesioner Visual Analogue Scale (VAS).
Hasil Penelitian: Indeks glikemik flakes mocaf: beras merah dan tepung kacang merah adalah 50,72±20,97, sedangkan beban glikemiknya adalah 22,2±9,19. Hasil uji Paired t-test menunjukkan p-value 0,000 dan 0,002 pada indeks glikemik dan beban glikemik glukosa dan flakes (terdapat perbedaan). Puncak kekenyangan terdapat pada menit ke-30 dan perlahan menurun selama dua jam.
Kesimpulan:Indeks glikemik flakes termasuk kategori rendah. Beban glikemik flakes termasuk kategori tinggi. Terdapat perbedaan yang signifikan pada indeks glikemik dan beban glikemik glukosa dan flakes. Flakes dapat memberikan rasa kenyang dengan baik. Rekomendasi porsi untuk penderita DM Tipe 2 adalah 20 gram flakes.
Kata kunci: Flakes, indeks glikemik, beban glikemik, tingkat kekenyangan
Background: Glycemic index and glycemic load are important for controlling blood glucose in patients with type 2 DM. This study aims to determine the glycemic index, glycemic load and level of satiety of mocaf flakes: brown rice and red bean flour as alternative snack for patients with type 2 DM.
Methodology:The subjects in this study are 10 healthy people. The test food used in this study is mocaf flakes: brown rice and kidney bean flour. Respondents were asked to fast at night before the examination. Blood glucose tests are performed at 0 minutes (before meals), 30, 60, 90 and 120 (after meals). GI calculation uses the incremental area under the blood glucose response curve (IAUC) method. Measurement of satiety level uses the Visual Analogue Scale (VAS) questionnaire.
Results: The glycemic index of mocaf flakes: brown rice and red bean flour is 50.72±20.97, while the glycemic load is 22.2±9.19. Paired t-test results showed p-values are 0.000 and 0.002 on the glycemic index and the glycemic load of glucose and flakes (there are differences). The peak of fullness reached in the 30th minute and slowly decreases for two hours.
Conclusion: The glycemic index flakes categorized as low GI. The glycemic load of flakes categorized as high GL. There are significant differences in the glycemic index and the glycemic load of glucose and flakes. Flakes can provide a feeling of full well. Recommended portion for patients with type 2 DM is 20 grams of flakes.
Keywords: flakes, glycemic index, glycemic load, satiety level
5168214360G1B011058PENGARUH PENERAPAN SIKAP KERJA ERGONOMI TERHADAP PENURUNAN KELELAHAN KERJA PEKERJA TENUN BUKAN MESIN ATBM DI DESA PEDURUNGAN KABUPATEN PEMALANGIndustri Tekstil merupakan salah satu industri sektor informal yang kini perkembangannya cukup pesat di Indonesia, salah satunya industri tenun tradisional sedang meningkat pesat, akan tetapi tidak diiringi dengan penerapan ergonomi yang baik di tempat kerja hal ini dapat menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan salah satunya kelelahan kerja. Setyawati (2010) menyebutkan hasil survei di negara USA, 24% seluruh orang dewasa yang datang ke poliklinik mengalami kelelahan kerja kronis. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui pengaruh penerapan sikap kerja ergonomi terhadap penurunan kelelahan kerja pekerja tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Pedurungan Kabupaten Pemalang. metode penilitian ini menggunakan quasy experiment dengan one group pretest posttest design. Sampel penelitian 33 pekerja tenun dengan pengambilan sempel menggunakan teknik Purposive, menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi. Anlisis uji data menggunakan uji paired t test. Hasil penelitian hari pertama p value 0,005 (< 0,05), dan penelitian hari kedua p value 0,005 (< 0,05), dan penelitian hari ketiga p value 0,005 (< 0,05) sehingga ada hubungan tingkat kelelahan kerja sebelum dan sesudah penerapan sikap kerja ergonomi. Saran dalam penelitian ini adalah menerapkan sikap kerja ergonomi pada saat proses menenun sarung ATBM.

Textil industry is one of the informal industries that have fast developing in Indonesia. One of them is traditional textile industry that is developing faster now. But, it is not accompanied by applying good ergonomy in the workplace. It can generate kind of healts’ problems, one of them is the fatigue for the worker. Setyawati (2010) said that based on the result of survey in USA, there are 24% of people coming to polyclinic were caused by the fatigue of the working. The purpose of this research is to know the influence of applying ergonomy attitude on decreasing the fatigue of sarong weaving worker non-machine (ATBM) at Pedurungan Village, Distric Pemalang. The methodology of this research uses quasy experiment with one group pretest posttest design. There are 33 samples of sarong weaving worker with purposive technique as the technique of taking. The research uses inclusions and exclusion criterias. The analysis of data uses paires t test. The first result of measurements is p value 0,000 (<0,05), the second result of measurements is p value 0,000 (< 0,05), and the third result of measurements is p value 0,000 (<0,05). So, there is a correlation of weariness for sarong worker both of before and after on applying ergonomy attitude. The suggestion from this research is the worker has to apply ergonomy attitude in the weaving of ATBM sarong.

Key words : Postur Of Work, fatigue Work
Reference : 45 ( 1996 – 2014 )
5168310316B1J010091Daya Serap Karbon Dioksida Pada Tanaman Jagung (Zea mays) Di Desa Gumelem Kecamatan Susukan Kabupaten BanjarnegaraPemanasan global merupakan masalah yang dihadapi dunia. Hal ini disebabkan karena konsentrasi karbon dioksida yang terus meningkat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer adalah dengan penyerapan karbon melalui penanaman vegetasi. Tanaman dapat mereduksi CO2 melalui fotosintesis. Jagung merupakan tanaman C4 yang efektif dalam melakukan fotosintesis dan termasuk tanaman yang cepat tumbuh. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi suatu tanaman dalam menyerap CO2 adalah umur tanaman. Tanaman yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah tanaman jagung umur 0 - 1 bulan, >1 - 2 bulan, dan >2 - 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur tanaman jagung (Z. mays) dengan daya serap CO2 dan mengetahui banyaknya CO2 yang mampu diserap oleh tanaman jagung. Metode penelitian menggunakan metode survei. Sampel daun tanaman jagung diambil dengan teknik stratified random sampling. Variabel yang digunakan pada penelitian ini meliputi umur tanaman jagung sebagai variabel bebas dan daya serap daun terhadap CO2 sebagai variabel terikat. Parameter yang digunakan meliputi massa karbohidrat daun, jumlah daun per pohon, luas permukaan daun, kerapatan tanaman, dan kandungan CO2 pada tiga strata umur tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%, kemudian dilakukan uji lanjut Duncan untuk mengetahui hubungan antara umur tanaman dengan daya serap CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur tanaman jagung dengan daya serap CO2. Tanaman jagung yang paling optimal menyerap CO2 yaitu pada umur .>2 -3 bulan dengan rata-rata daya serap CO2 tertinggi per helai daun per musim sebesar 13,96 g.helai-1.musim-1, rata-rata daya serap CO2 tertinggi per pohon per musim sebesar 1,35 x 10-4 ton.pohon-1.musim-1, dan rata-rata daya serap CO2 tertinggi per hektar per musim sebesar 9,58 ton.ha-1.musim-1.Global warming is a problem which is faced of world. This thing caused by the carbon dioxide’s concentrate that continue rising. The most effective way to reduced CO2 concentration in atmosphere with carbon sequestration through the planting of vegetation. Plants can reduce CO2 by photosynthesis. Corn is a plant of C4 that effective for photosynthesis and includes fast-growing species. One of the factors which can affected a plant to absorb CO2 is age of the plant. This research was used corn plant age 0 - 1 month, >1 - 2 months, and >2 - 3 months. This study aimed to investigate the relationship between age of corn plants (Z. mays) with the absorption of carbon dioxide and to know how much CO2 capable of being absorbed by corn plants. This research used survey methods. Plant leaf samples of corn were taken with stratified random sampling techniques. The variables were used in this study consists of corn plant’s age as the independent variable and the corn’s leaf absorption of CO2 as dependent variable. The parameter were used consists of carbohydrates mass on leaf, number of leaf per tree, leaf surface area, plant density, and CO2 contents on leaves in three corn plant age stratas. The data obtained was be analyzed by using ANOVA on the level of trust 95% and 99%, then will be a test according to Duncan to know of the relationship between the age of plant with CO2 absorption. The results showed that there is a relations between age of plant with CO2 absorption. Corn plants which most optimal absorb CO2 is the corn plant of >2 - 3 months with the highest average of CO2 absorption per leaf per season is 13,96 g.leaf-1.season-1, the highest average of CO2 absorption per tree per season is 1,35 x 10-4 ton.tree-1.ha-1, and the highest average of CO2 absorption per hectare per season is 9,58 ton.ha-1.season-1.
5168428539E1A116002TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENERAPAN PASAL 18 UNDANG – UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN MENGENAI PENCANTUMAN KLAUSULA EKSONERASI DALAM KONTRAK ELEKTRONIKPerlindungan terhadap konsumen semakin terasa penting, mengingat laju ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat semakin kompleks hubungan sosial manusia yang termasuk pula hubungan jual-beli. Teknologi yang semakin canggih melahirkan cara baru untuk manusia dalam melakukan perikatan, melalui kontrak elektronik. Penggunaan kontrak elektronik menimbulkan beberapa permasalahan, yang salah satunya merupakan pencantuman klausula eksonerasi yang tentunya merugikan konsumen. Skripsi ini membahas mengenai penerapan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen mengenai pencantuman klausula eksonerasi dalam kontrak elektronik.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Metode pengumpulan data yakni berdasarkan studi kepustakaan berupa inventarisasi peraturan perundang-undangan, dan literatur-literatur, yang disajikan dalam bentuk uraian sistematis dengan metode analisis normatif-kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrak elektronik dalam penelitian ini tidak menerapkan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 karena telah mencantumkan klausula eksonerasi dalam kontrak elektroniknya dimana hal ini dilarang dalam ketentuan Pasal 18 UUPK.
Consumer protection feels a lot crucial, concerning the progressing speed of science and technology that creates a more complex social relationship that includes commerce. The always advancing technology birth a new way for mankind to create relation, through electronic contract. The usage of electronic contract creates some problems of itself, one of them is the inclusion of exoneration clause that harm consumers. This essay will discuss the application of Article 18 Regulation number 8 year 1999 about consumer protection regarding the inclusion of exoneration clause within electronic contract
The research method used is normative juridical with descriptive research specifications. The data used are secondary data consisting of primary, secondary and tertiary legal material. The method of data collection is based on the study of literature in the form of an inventory of legislation, literature, and court decisions that are presented in the form of a systematic description with normative-qualitative analysis methods.
The results showed that the contracts in this essay does not apply the provision of Article 18 Regulation number 8 year 1999 for including some exoneration clause within their electronic contract, which is forbidden by the provision of Article 18.
5168548876C2C023047PENGARUH KONFLIK KERJA-STUDI, KETERIKATAN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA, MELALUI KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL MEDIASI : STUDI PADA MAHASISWA PEKERJA SISTEM PART-TIME DI UMKM WILAYAH PURWOKERTOPertumbuhan UMKM di Purwokerto mendorong peningkatan jumlah mahasiswa yang bekerja paruh waktu.
Peran ganda sebagai mahasiswa dan pekerja berpotensi menimbulkan konflik kerja-studi yang berdampak
pada kepuasan dan kinerja kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Konflik Kerja-Studi,
Keterikatan Kerja, dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Mahasiswa Pekerja Part-time, dengan Kepuasan
Kerja sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei
terhadap 213 responden dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling
(PLS-SEM). Hasil menunjukkan bahwa Keterikatan Kerja dan Lingkungan Kerja berpengaruh positif
signifikan terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja. Konflik Kerja-Studi berpengaruh negatif signifikan
terhadap Kepuasan Kerja, namun tidak berpengaruh langsung terhadap Kinerja. Kepuasan Kerja terbukti
memediasi secara signifikan hubungan antara Keterikatan Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja.
Selain itu, Kepuasan Kerja menjadi jalur mediasi yang memperkuat dampak negatif Konflik Kerja-Studi
terhadap Kinerja, di mana konflik tersebut menurunkan kepuasan kerja, yang pada akhirnya menurunkan
kinerja. Temuan ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan
memperkuat keterikatan kerja guna meningkatkan kinerja mahasiswa pekerja part-time di sektor UMKM.
The growth of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Purwokerto has contributed to an increase in the number of students engaging in part-time employment.
The dual roles of being both a student and a worker may give rise to work-study conflict, which can adversely affect job satisfaction and job performance.
This study aims to examine the influence of Work-Study Conflict, Work Engagement, and Work Environment on the Job Performance of Part-Time Working Students, with Job Satisfaction as a mediating variable.
A quantitative approach was employed, utilizing a survey method involving 213 respondents. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
The results indicate that both Work Engagement and Work Environment have a significant positive effect on Job Satisfaction and Job Performance.
Work-Study Conflict has a significant negative effect on Job Satisfaction, but does not directly affect Job Performance.
Job Satisfaction is found to significantly mediate the relationships between Work Engagement and Work Environment with Job Performance.
Furthermore, Job Satisfaction serves as a mediating pathway that amplifies the negative impact of Work-Study Conflict on Job Performance, wherein such conflict reduces job satisfaction, ultimately leading to lower performance.
These findings underscore the importance of fostering a supportive work environment and enhancing work engagement to improve the job performance of part-time working students in the MSME sector.
5168650471C2C021056The mediating role of trust, brand image, and brand awareness of the effect of social media marketing on purchase intentionPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemasaran media sosial terhadap minat beli pengguna layanan shopeefood di Purwokerto dengan kepercayaan, citra merek dan kesadaran merek sebagai variabel mediasi. Alat analisis pada penelitian menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner tertutup melalui google form kepada 160 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel social media marketing, kepercayaan, dan citra merek berpengaruh positif terhadap minat beli sedangkan kesadaran merek tidak berpengaruh terhadap minat beli. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa kepercayaan dan citra merek berperan dalam memediasi hubungan antara pemasaran media sosial dan minat beli. Sedangkan, variabel kesadaran merek tidak berperan dalam memediasi hubungan antara pemasaran media sosial dan minat beli.This study aims to determine how the influence of social media marketing on the purchase intention of shopeefood service users in Purwokerto with trust, brand image and brand awareness as mediating variables. The analytical tool in this study uses the Partial Least Square (PLS) approach using SmartPLS software. Sampling using purposive sampling technique. The data collection method in this study was using a closed questionnaire via google form to 160 respondents. The results of this study indicate that the variables of social media marketing, trust, and brand image have a positive effect on purchase intention while brand awareness has no effect on buying interest. The results of this study also found that trust and brand image play a role in mediating the relationship between social media marketing and purchase intention. Meanwhile, the brand awareness variable does not play a role in mediating the relationship between social media marketing and purchase intention.
5168748641I1C021007Penetapan Mutu Simplisia Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) dari Desa Kebumen Kecamatan Baturaden sebagai Bahan Obat TradisionalLatar Belakang : Penggunaan obat dari bahan alam telah lama dilakukan untuk penyembuhan dan perawatan kesehatan. Kayu manis (Cinnamomum burmanii) adalah salah satu tanaman yang dikenal mengandung senyawa bioaktif yang memiliki potensi farmakologis. Penggunaan obat tradisional yang terus meningkat, perlu standardisasi untuk memastikan kualitas dan keamanan bahan baku. Standardisasi meliputi parameter spesifik dan parameter non spesifik.

Metodologi : Penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium berdasarkan parameter spesifik meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, kadar sari larut etanol, kadar sari larut air, kadar fenol total, kadar flavonoid total serta parameter non spesifik meliputi susut pengeringan, kadar abu dan kadar abu tidak larut asam

Hasil Penelitian : Pengamatan makroskopik simplisia menunjukkan kulit kayu manis berbentuk pipih, menggulung, dengan warna coklat kekuningan dan rasa manis serta aroma khas kayu manis. Pengamatan mikroskopik simplisia menunjukkan fragmen terdiri dari sel minyak, sklereida dan sel sklerenkim. Kadar sari larut etanol sebesar 25,13±4,66% sedangkan kadar sari larut air sebesar 9±0,36%. Kadar fenol total pada simplisia sebesar 61,08±3,55 mg GAE/g, kadar flavonoid total 40,32±3,64 mg QE/g. Susut pengeringan sebesar 9,71±0,15%, kadar abu total 3, 28 ±0,09%; dan kadar abu tidak larut asam 0,23±0,04%.

Kesimpulan : Kayu manis memenuhi parameter spesifik berdasarkan pengamatan makroskopik, mikroskopik, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar fenol total, kadar flavonoid total serta parameter non spesifik seperti susut pengeringan, kadar abu serta kadar abu tidak larut asam sesuai persyaratan dari monografi resmi Farmakope Herbal Indonesia

Kata Kunci : Simplisia, Kayu Manis (Cinnamomum burmanii), Parameter Spesifiik dan Non Spesifik
Background : The use of natural-based medicines has long been practiced for healing and health maintenance. Cinnamon (Cinnamomum burmanii) is one such plant known to contain bioactive compounds with pharmalogical potential. With the increasing use of traditional medicines, standardization is essential to ensure the quality and safety of raw materials. Standardization involves both specific and non-specific parameters.

Methods : The experimental research was conducted in a laboratory based on specific parameters, including macroscopic, microscopic test, ethanol soluble extract content, water soluble extract content, total phenol content, and total flavonoid content, as well as non specific parameters such as loss drying, total ash content, and acid insoluble ash content

Results : Macroscopic test of simplicia showed that the cinnamon bark is flat, curled, yellowish brown in color, with a sweet taste and a characteristic cinnamon aroma. Microscopic test was identified fragments consisting of oil cells, sclereids, and sclerenchyma cells. The ethanol soluble extract content was 25,13±4,66%, while the water soluble extract content was 9±0,36%. The total phenol content of the simplicia was 61,08±3,55 mg GAE/g, and the total flavonoid content was40,32±3,64 mg QE/g. The loss drying was 9,71±0,15%, total ash content was 3,28 ±0,09%, and the acid insoluble ash content was 0,23±0,04%.

Conclusion : Cinnamon simplicia meets the requirements for specific parameters and non specific parameters in accordance with the requirements of the official monograph of the Indonesian Herbal Pharmacopoeia.

Keywords : Simplicia, Cinnamon (Cinnamomum burmanii), Specific and Non Specific Parameters
5168838582C1A018024FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN MINUMAN ES KOPI SUSU PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANMeminum kopi di kedai kopi atau café kini sudah menjadi tren atau kebiasaan baru bagi semua kalangan baik untuk anak muda maupun orang tua. Salah satu minuman kopi yang banyak diminati oleh konsumen café yaitu minuman es kopi susu, es kopi susu menjadi menu minuman utama yang dijual oleh café untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan oleh konsumen. Selain minuman kopi tentunya setiap café menyediakan menu minuman lainnya untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen, adapun menu minuman lainnya yang disediakan oleh cafe seperti seperti minuman dengan olahan dari susu, teh, dan soda. Mahasiswa memilih minuman es teh sebagai pengganti minuman es kopi susu, dikarenakan es teh yang dijual di café relatif terjangkau dibandingkan dengan minuman olahan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis harga es kopi susu, harga minuman subtitusi, pendapatan, selera, dan mood terhdap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif serta teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dan kuesioner dengan teknik analisis yaitu regresi liner berganda. Objek penelitian ini adalah mahasiswa FEB Unsoed dengan jumlah sampel yaitu sebanyak 85 responden. Teknik pengambilan data yaitu menggunakan simple propotional random sampling. Lokasi penelitian ini berada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel harga, harga minuman subtitusi, pendapatan, selera, dan mood secara bersama-sama berpengaruh terhadap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed. Secara parsial variabel harga subtitusi, pendapatan, dan selera berpengaruh positif terhadap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed, sedangkan variabel harga es kopi susu berpengaruh negatif terhadap permintaan es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed. Dan variabel mood tidak berpengaruh terhadap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed.
Implikasi dari penelitian ini yaitu dalam upaya meningkatkan kepuasan pelanggan dan daya saing produk, produsen atau café sebaliknya memperhatikan setiap aspek yang berkaitan dengan produk dan pelayanan. Upaya yang dapat dilakukan seperti meningkatkan kualitas produknya, pelayanan, dan menjaga cita rasa produk. Sehingga minuman es kopi susu diharapkan dapat bersaing dengan beragam olahan minuman lain.
Kata kunci : permintaan, harga, harga minuman subtitusi, pendapatan, selera, mood, regresi linier berganda
Meminum kopi di kedai kopi atau café kini sudah menjadi tren atau kebiasaan baru bagi semua kalangan baik untuk anak muda maupun orang tua. Salah satu minuman kopi yang banyak diminati oleh konsumen café yaitu minuman es kopi susu, es kopi susu menjadi menu minuman utama yang dijual oleh café untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan oleh konsumen. Selain minuman kopi tentunya setiap café menyediakan menu minuman lainnya untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen, adapun menu minuman lainnya yang disediakan oleh cafe seperti seperti minuman dengan olahan dari susu, teh, dan soda. Mahasiswa memilih minuman es teh sebagai pengganti minuman es kopi susu, dikarenakan es teh yang dijual di café relatif terjangkau dibandingkan dengan minuman olahan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis harga es kopi susu, harga minuman subtitusi, pendapatan, selera, dan mood terhdap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif serta teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dan kuesioner dengan teknik analisis yaitu regresi liner berganda. Objek penelitian ini adalah mahasiswa FEB Unsoed dengan jumlah sampel yaitu sebanyak 85 responden. Teknik pengambilan data yaitu menggunakan simple propotional random sampling. Lokasi penelitian ini berada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel harga, harga minuman subtitusi, pendapatan, selera, dan mood secara bersama-sama berpengaruh terhadap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed. Secara parsial variabel harga subtitusi, pendapatan, dan selera berpengaruh positif terhadap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed, sedangkan variabel harga es kopi susu berpengaruh negatif terhadap permintaan es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed. Dan variabel mood tidak berpengaruh terhadap permintaan minuman es kopi susu pada mahasiswa FEB Unsoed.
Implikasi dari penelitian ini yaitu dalam upaya meningkatkan kepuasan pelanggan dan daya saing produk, produsen atau café sebaliknya memperhatikan setiap aspek yang berkaitan dengan produk dan pelayanan. Upaya yang dapat dilakukan seperti meningkatkan kualitas produknya, pelayanan, dan menjaga cita rasa produk. Sehingga minuman es kopi susu diharapkan dapat bersaing dengan beragam olahan minuman lain.
Drinking coffee in a coffee shop or café has now become a new trend or habit for all people, both for young people and the elderly. One of the coffee drinks that is in great demand by café consumers is iced coffee milk, iced coffee milk is the main drink menu sold by cafés to meet consumer needs or requests. In addition to coffee drinks, of course, each cafe provides a menu of other drinks to meet consumer needs or requests, as for other drink menus provided by cafes such as drinks made from milk, tea and soda. Students choose iced tea drinks as a substitute for iced coffee milk drinks, because iced tea sold in cafes is relatively affordable compared to other processed drinks. This study aims to analyze the price of iced coffee milk, the price of substitute drinks, income, tastes, and moods on the demand for iced coffee milk drinks among students of the Faculty of Economics and Business, Jenderal Soedirman University. This study used quantitative methods and data collection techniques by means of interviews and questionnaires with an analytical technique, namely multiple linear regression. The object of this study were FEB Unsoed students with a total sample of 85 respondents. The data collection technique is using simple proportional random sampling. The location of this research is at the Faculty of Economics and Business, Jenderal Soedirman University. The results of this study indicate that the variables of price, price of substitute drinks, income, taste, and mood jointly affect the demand for iced coffee milk drinks among FEB Unsoed students. Partially, the substitution price, income, and taste variables have a positive effect on the demand for iced coffee milk drinks for FEB Unsoed students, while the price variable for iced coffee milk has a negative effect on the demand for iced coffee milk for FEB Unsoed students. And the mood variable has no effect on the demand for iced coffee milk drinks for FEB Unsoed students.
The implication of this research is that in an effort to increase customer satisfaction and product competitiveness, producers or cafes on the other hand pay attention to every aspect related to products and services. Efforts that can be made such as improving product quality, service, and maintaining the taste of the product. So that ice coffee milk drinks are expected to compete with various other processed drinks.
5168931402J1B016038Register dalam Role Play (RP) Kpop dan Anime pada Media Sosial Twitter (Kajian Sosiolinguistik)Penelitian ini berjudul “Register dalam Role Play (RP) Kpop dan Anime pada media sosial Twitter (Kajian Sosiolinguistik)”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk register, makna yang terkandung dalam register, baik makna leksikal dan kontekstual, serta fungsi bahasa yang termuat di dalam register Role Play Kpop dan Anime pada media sosial Twitter. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian adalah tuturan yang merupakan unggahan dari autobase dan pemain Role Play. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode simak yang diwujudkan dengan teknik dasar teknik sadap, sementara teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik catat. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan dengan teknik dasar pilah unsur penentu. Teknik lanjutannya, berupa teknik hubung banding memperbedakan. Metode penyajian hasil analisis data yang digunakan berupa metode secara informal dan formal.
Hasil penelitian ini ditemukan sebanyak 48 data yang mengandung register Role Play (RP) Kpop dan Anime. Dari jumlah data yang ditemukan, terbagi berdasarkan bentuk register. 11 data berupa bentuk register kata tunggal, 2 data berupa kata berafiks, 2 data yang merupakan kata majemuk, 5 data berupa penggalan, 14 data berupa bentuk singkatan, 7 data berupa bentuk akronim, 2 data berupa bentuk hibrida, serta bentuk variasi seperti angka sebagai pengganti suku kata, kombinasi angka dan huruf, serta gabungan penggalan dan singkatan berjumlah 4 data.
Register yang ditemukan dalam Role Play melalui data tuturan pada unggahan autobase memiliki fungsi bahasa yang berbeda tergantung konteksnya. Fungsi bahasa register yang paling banyak ditemukan adalah fungsi heuristik, sebanyak 27 data. Fungsi bahasa lain yang ditemukan adalah fungsi instrumental, regulatori, informatif, interaksi, khayalan atau imajinasi, dan fungsi paling sedikit ditemukan adalah fungsi personal. Selain itu, ada beberapa data tuturan yang mengandung fungsi bahasa lebih dari satu.
This research is entitled “Registers in KPop and Anime Role Play on Twitter (Sociolinguistic Study)”. This study aims to describe the form of registers, the meaning intended--both lexical and contextual, as well as the linguistic function intended within the registers of the KPop and Anime Role Play itself on Twitter. This research is conducted in a qualitative descriptive method. The research data are taken from the speech posted through an autobase and from the Roleplayers itself. An observation method which is realized by the basics of tapping techniques is the method used in collecting the data required for this study, whereas the advanced technique used is note-taking technique. For data analysis, an equivalent method with the basic techniques in sorting the determinants is used in this research. The advanced technique is in the form of appeal-differentiation techniques. In presenting the result of data analysis, the methods used are in the form of formal and informal.
This study found around 48 supporting data regarding the registers of KPop and Anime Role Play (RP). From information found, those all divided into the several forms of register. 11 data in the form of single-word register, 2 data in the form of words with an affix, 2 data in the form of compound words, 5 data in the form of fragmented words, 14 data in the form of abbreviations, 7 data in the form of acronym, 2 data in the form of hybrid words, as well as variegated forms such as substitute syllables, combinations of numbers and letters, and a combination of fragments and abbreviations totalling 4 data.
The registers found in Role Play from speech data posted through autobase have different linguistic functions depending on its contexts. The most common linguistic function register is heuristic function, with 27 supporting data found. The other linguistic functions found are instrumental, regulatory, interaction, and imaginary functions, while the function that is least found is personal function. However, there are several speech data which contain more than one linguistic function.
5169045372D1A020128KERUGIAN EKONOMI PETERNAK SAPI POTONG AKIBAT PMK
di KABUPATEN KEBUMEN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang PMK dan
kemudahan akses pengobatan serta kerugian ekonomi peternak sapi potong di Kabupaten Kebumen.
Penelitian ini menggunakan metode survei. Sasaran penelitian adalah peternak sapi potong di Kabupaten
Kebumen yang ternaknya terkena PMK. Penentuan lokasi berdasarkan purposive sampling. Penentuan
jumlah sampel secara sensus sebanyak 120 orang peternak. Analisis data menggunakan analisis deskriptif
dan rank spearmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peternak tentang PMK
dengan kategori tinggi (38,33%) akses pengobatan tergolong mudah dan rata-rata kerugian ekonomi
peternak selama PMK di Kabupaten Kebumen sebesar Rp 11.255.667 per peternak. Hasil analisis Rank
Spearmen menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang PMK tidak berhubungan dengan kerugian
ekonomi peternak sapi potong di Kabupaten Kebumen, sedangkan kemudahan akses pengobatan
berhubungan dengan kerugian ekonomi peternak sapi potong di Kabupaten Kebumen.
This research aims to determine the relationship between the level of knowledge about PMK and
ease of access to treatment with the economic losses of beef cattle farmers in Kebumen Regency. This
research uses a survey method. The target of this research is beef cattle breeders in Kebumen Regency
whose livestock are affected by PMK. Location determination is based on purposive sampling. Determining
the sample size by census was 120 breeders. Data analysis uses descriptive analysis and spearmen rank
analysis. The results of the research show that the level of farmer knowledge about PMK is in the high
category (38.33%) with access to treatment in Kebumen Regency being relatively easy and the average
economic loss in Kebumen Regency is IDR 11,255,667. The results of the Spearmen Rank analysis show
that the level of knowledge about PMK does not significantly influence the economic losses of beef cattle
breeders in Kebumen Regency. Meanwhile, easy access to treatment has a significant impact on the
economic losses of beef cattle farmers in Kebumen Regency. Economic losses due to PMK can be
minimized by increasing access to treatment for farmers.
5169147000I1E021024PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN RENANG BERBASIS AUGMENTED REALITY (AR) UNTUK HASIL BELAJARLatar Belakang: Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan pada materi renang saat ini masih menggunakan metode konvensional dengan mengandalkan buku dan alat bantu sederhana. Media pembelajaran interaktif berbasis teknologi dapat mendukung proses belajar yang lebih menarik dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis Augmented Reality yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan Sugiyono. Tahapan pengembangan meliputi identifikasi masalah, pengumpulan informasi, desain produk, validasi ahli, uji coba produk, revisi, uji coba pemakaian, dan uji efektivitas. Penelitian melibatkan sampel siswa kelas VII dari SMP Negeri 1 Purwokerto dan SMP Negeri 9 Purwokerto. Instrumen penelitian untuk media dikumpulkan melalui angket validasi serta penilaian dari siswa dan guru, sementara aspek kognitif diukur menggunakan soal-soal yang telah melalui uji validitas. Data dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, serta uji efektivitas dengan metode kuasi-eksperimen untuk mengevaluasi pengaruh media pembelajaran berbasis Augmented Reality terhadap hasil belajar siswa.
Hasil Penelitian: Hasil validasi menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis Augmented Reality ini sangat layak digunakan, dengan penilaian dari ahli materi sebesar 88%, ahli media 86,67%, dan ahli bahasa 100%. Penilaian dari siswa mencapai 93,46%, sedangkan penilaian dari guru sebesar 96%. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kedua kelompok siswa. Uji efektivitas mengungkapkan bahwa media ini memberikan peningkatan signifikan terhadap hasil belajar siswa, dengan nilai signifikansi 0,000. Media ini terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya pada materi renang.
Kesimpulan: Media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) merupakan solusi inovatif yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa dengan menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan di era digital.
Kata Kunci: Augmented Reality, media pembelajaran, renang, hasil belajar, pendidikan jasmani
 
Background: The teaching of Physical Education, Sports, and Health for swimming materials currently relies on conventional methods, such as textbooks and simple teaching aids. Interactive, technology-based learning media have not yet been implemented to support a more engaging and effective learning process. This study aims to develop interactive learning media based on Augmented Reality (AR) that is expected to significantly improve students' learning outcomes.

Methodology: This research employed the Research and Development (R&D) method with the Sugiyono development model. The development stages included problem identification, information gathering, product design, expert validation, product trials, revisions, usage trials, and effectiveness testing. The study involved Grade VII students from SMP Negeri 1 Purwokerto and SMP Negeri 9 Purwokerto as the sample. Research instruments for the media were collected through validation questionnaires and evaluations from students and teachers, while cognitive aspects were assessed using validated test items. Data were analyzed using validity and reliability tests, as well as effectiveness testing through a quasi-experimental method to evaluate the impact of Augmented Reality-based learning media on students' learning outcomes.

Results: Validation results showed that the Augmented Reality-based learning media is highly feasible for use, with ratings from subject matter experts at 88%, media experts at 86.67%, and language experts at 100%. Student evaluations reached 93.46%, while teacher evaluations scored 96%. The findings indicated a significant improvement in learning outcomes for both student groups. The effectiveness test revealed that the media significantly enhanced students' learning outcomes, with a significance value of 0.000. This media was proven effective, particularly in improving learning outcomes in swimming.

Conclusion: Augmented Reality (AR)-based learning media is an innovative solution capable of enhancing students' learning outcomes by providing a more engaging, interactive, and relevant learning experience tailored to the needs of education in the digital era.

Keywords: Augmented Reality, learning media, swimming, learning outcomes, physical education
5169226165E1A015266PENERAPAN PASAL 2 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DALAM KASUS KEPAILITAN PT. NJONJA MENEER (Putusan Pengadilan Niaga Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg)Kepailitan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa keadaan berhenti membayar utang-utang debitur yang telah jatuh tempo. Syarat untuk mengajukan permohonan pailit tercantum dalam Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diantaranya, adanya dua kreditur atau lebih, adanya utang, dan utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih. Penelitian ini membahas mengenai penerapan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dalam kasus kepailitan PT. Njonja Meneer (Putusan Pengadilan Niaga Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg).
Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan data sekunder berupa putusan pengadilan. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka berupa peraturan perundang-undangan, literature dan jurnal hukum yang relevan yang kemudian dianalisis secara normatif kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dasar pertimbangan hakim dalam putusan pailit nomor: 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/PN.Niaga.Smg terhadap PT. Njonja Meneer tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Hal ini karena syarat debitur tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih belum terpenuhi. Jika syarat permohonan pailit menurut Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak terpenuhi, maka debitur tidak bisa dinyatakan pailit.
Bancrupty was everything related to curcumtanse in which debitor stopped paying debitor that has matured. The condition to apply a bancrupty litted in Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty and Suspension At Obligation For Payment Of Debt. Which is a debtor having two or more creditors and failing to pay at least one debt which has matured and became payable, shall be declared bankrupt through a Court decision, either at his own petition or at the request of one or more of his creditors. This research discussed about implementation on Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty case of PT. Njonja Meneer (Distric-Commercial Court of Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg).
This research used juridist-normative as approachment method, the specification was descipritve which used court decision as secondary data. Library research such as law, literature and legal journal relevant to the research was used as data collection method in which then analysed by kualitative normative method.
This research showed that the judge’s legal considerant in Distric-Commercial Court of Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg was not completely with in anccordance with Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty and Suspension At Obligation For Payment Of Debt because the condition in debitor did not pay one debt that has matured and could be collected was not fulfilled. If the condition for bankcrupty according with Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty and Suspension At Obligation For Payment Of Debt was not fullfilled, then debitor could not be declarated bankcrupty
5169344640E1A020039PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN ATAS PENJUALAN PRODUK PANGAN OLAHAN TANPA IZIN EDAR DARI BOPM BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PUTUSAN NOMOR 409/Pid.Sus/2023/PN JmbPerlindungan Hukum Terhadap Konsumen Atas Penjualan Produk Pangan Tanpa Izin Edar Dari BPOM Berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Dalam Putusan Nomor 409/Pid.Sus/2023/PN Jmb
Oleh:
Putri Zahari Shofa
E1A020039
Abstrak
Penjualan produk pangan tanpa izin edar BPOM menjadi masalah serius di Indonesia, sebab mengancam kesehatan konsumen dan melanggar hukum perlindungan konsumen. Meskipun telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Pangan Olahan, mengenai larangan penjualan produk pangan tanpa izin edar tetapi masih banyak kasus penjualan ilegal, termasuk kasus Irwan Tomi di Jambi Timur. Penelitian ini menganalisis perlindungan hukum terhadap konsumen terkait penjualan pangan olahan tanpa izin edar BPOM, dengan tujuan menegakkan perlindungan konsumen dan memastikan kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi yang berlaku.

Penelitian ini menggunakan metode hukum yudiris normatif. pendekatan tersebut merupakan penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan atau data sekunder sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara mengadakan penelusuran terhadap peraturan-peraturan dan literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data studi kepustakan, kemudian data yang telah diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif yang dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif.

Berdasarkan hasil putusan Nomor 409/Pid.Sus/2023/PN Jmb, perlindungan konsumen terhadap penjualan pangan olahan tanpa izin edar BPOM ditegaskan. Irwan Tomi alias Joni dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana denda serta hukuman tambahan berupa perampasan produk pangan olahan yang akan dimusnahkan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Putusan ini menjadi landasan untuk memastikan kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi perlindungan konsumen serta memberikan jaminan bagi konsumen akan keselamatan dan kualitas produk pangan yang mereka konsumsi.
Kata Kunci: Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Pangan, Izin edar, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
LEGAL PROTECTION OF CONSUMERS ON THE SALE OF PROCESSED FOOD PRODUCTS WITHOUT A DISTRIBUTION PERMIT FROM BPOM BASED ON LAW NO. 8 OF 1999 CONCERNING CONSUMER PROTECTION IN THE DECISION NOMOR 409/Pid.Sus/2023/PN Jmb
By:
Putri Zahari Shofa
E1A020039
Abstract
The sale of food products without a BPOM distribution permit is a serious problem in Indonesia, as it threatens consumer health and violates consumer protection laws. Although it has been emphasized in law No. 8/2012 on Food and Regulation of the Head of the Indonesian Food and Drug Administration No. 12/2016 on the Registration of Processed Food, regarding the prohibition of the sale of food products without a distribution permit, there are still many cases of illegal sales, including the case of Irwan Tomi in East Jambi. This study analyses the legal protection of consumers related to the sale of processed food without a BPOM distribution permit, with the aim of upholding consumer protection and ensuring compliance of business actors with applicable regulation.

This research uses normative judicial legal methods. The approach is legal research conducted by examining secondary materials or data as a basis for research by conducting a search for regulations and literature related to the problem under study. This research uses a library study data collection method, then the data that has been obtained is presented in the form of narrative text which is abalyzed using qualitative normative methods.

Bases on the results of verdict Number 409/Pid.Sus/2023PN Jmb, consumer protection against the sale of processed food without a BPOM distribution permit is affirmed. Irwan Tomi alias Joni was found guilty and sentenced to a fine and additional punishment in the form of confiscation of processed food products to be destroyed. This is in accordance with Law Number 8 of 1999 on Consumer Protection and Law Number 18 of 2012 on Food. This verdict serves as a foundation and provide assurance for consumers on the safety and quality of the food products they consume.
Keyword: Consumer Protection, Food law, Circulation Permit, Food and Drug Monitoring Agency (BPOM)
5169449537F2C021008ANALISIS STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DIGITAL
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI) CABANG GOMBONG
DALAM UPAYA MENINGKATKAN JUMLAH PENGGUNA APLIKASI BRIMO
Abstrak
Transformasi digital perbankan telah mendorong Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengembangkan BRImo sebagai super app untuk layanan keuangan. Namun, di wilayah semi-perkotaan seperti Gombong, adopsi BRImo belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi pemasaran digital yang diterapkan oleh BRI Cabang Gombong dalam meningkatkan jumlah pengguna BRImo. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa strategi komunikasi BRI Gombong mengacu pada model AISAS yang ditopang oleh konten edukatif dan promosi digital, serta didukung pendekatan personal seperti edukasi komunitas dan aktivasi nasabah. Hambatan utama adalah rendahnya literasi digital, persepsi risiko keamanan, dan keterbatasan infrastruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi digital yang adaptif dan partisipatif efektif dalam mendorong adopsi BRImo.
Kata Kunci: komunikasi pemasaran digital, BRImo, BRI Gombong, model AISAS, literasi digital
Abstract
The digital transformation of banking has driven Bank Rakyat Indonesia (BRI) to develop BRImo as a financial service super app. However, in semi-urban areas such as Gombong, BRImo adoption remains suboptimal. This study aims to analyze the digital marketing communication strategy implemented by BRI Gombong Branch to increase the number of BRImo users. A qualitative case study approach was applied, using in-depth interviews, observations, and documentation. The results reveal that BRI Gombong’s communication strategy is based on the AISAS model, supported by educational content and digital promotions, alongside personal approaches such as community education and user activation. Key barriers include low digital literacy, perceived security risks, and limited infrastructure. The study concludes that adaptive and participatory digital communication strategies effectively promote BRImo adoption.
Keywords: digital marketing communication, BRImo, BRI Gombong, AISAS model, digital literacy
5169531413E1A113073PENERAPAN YURISDIKSI NEGARA TERHADAP PELAKU KEJAHATAN PENERBANGAN SIPIL
(Studi Tentang Kasus Pembajakan Pesawat Garuda Indonesia DC- Woyla Tahun 1981)
Seiring dengan semakin meningkatnya penggunaan pesawat sipil sebagai moda transportasi semakin meningkat pula tindak pidana penerbangan yaitu tindak pidana yang dilakukan di bidang penerbangan sipil, termasuk dilakukan di dalam pesawat udara. Salah satu kejahatan di bidang penerbangan adalah pembajakan pesawat (air hijacking). Peristiwa air hijacking salah satunya adalah pembajakan pesawat DC-9 Woyla pada 1981, sebuah pesawat sipil berbendera Indonesia yang berada di Thailand menimbulkan permasalahan yurisdiksi. Tidak seperti pembajakan di laut (piracy), yurisdiksi pada pembajakan udara memerlukan keikutsertaan negara-negara dalam konvensi anti pembajakan udara untuk mengekstradisi kejahatan tersebut. Inilah peristiwa pembajakan pesawat yang dilakukan teroris berkedok agama pertama dan satu-satunya di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan yurisdiksi negara pada pelaku kejahatan penerbangan sipil dengan studi kasus pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-Woyla 1981. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif dengan pendekatan yuridis normatif terhadap peraturan yang ada dan menggunakan metode penyajian teks naratif.
Kasus Woyla cukup menarik perhatian masyarakat internasional, karena bukan hanya merupakan sebuah kasus kejahatan terhadap penerbangan sipil, tetapi kasus ini melibatkan dua yurisdiksi negara yaitu Indonesia dan Thailand sehingga keduanya memiliki yurisdiksi untuk penentuan penghukuman pelaku pembajakan udara. Penentuan yurisdiksi tersebut didasarkan pada konvensi-konvensi pembajakan udara yaitu Konvensi Tokyo 1963, Konvensi Den Haag 1970, dan Konvensi Montreal 1971 yang masing-masing mempunyai yurisdiksi materiil sendiri-sendiri. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa yurisdiksi yang berlaku adalah yurisdiksi Indonesia sesuai dengan pengaturan dalam Konvensi Tokyo Tahun 1963.
In line with the increasing use of civilian aircraft as a mode of transportation, aviation crimes are also increasing, namely crimes committed in the field of civil aviation, including those committed on board aircraft. One of the crimes in the aviation sector is air hijacking. One of the air hijacking incidents was the air hijacking of the DC-9 Woyla plane in 1981, an Indonesian-flagged civilian aircraft that was in Thailand causing jurisdictional problems. Unlike piracy, jurisdiction over air hijacking requires the participation of states in extraditing the crime. This is the air hijacking incident committed by terrorists under the guise of religion, the first and only one in Indonesia
This research aims to determine the application of state jurisdiction to perpetrators of civil aviation crimes with the case study of air hijacking on Garuda Indonesia DC-Woyla in 1981. The research method used in this paper is descriptive with a normative juridical approach to existing regulations and uses the method of presenting narrative text.
The Woyla case has attracted the attention of the international community, because it is not only a crime case against civil aviation, but this case involves two jurisdictions of the state, namely Indonesia and Thailand so that both have jurisdiction to determine the punishment of air hijackers. The determination of jurisdiction is based on the air hijacking conventions, namely the 1963 Tokyo Convention, the 1970 Hague Convention, and the 1971 Montreal Convention, each of which has its own material jurisdiction. Based on the results of research and discussion, it can be concluded that the applicable jurisdiction is the jurisdiction of Indonesia in accordance with the provisions in the 1963 Tokyo Convention.
5169646197I1D020057Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Makro, Tingkat Stres dan Kualitas Tidur dengan Siklus MenstruasiAbstrak

Latar Belakang: Prevalensi gangguan siklus menstruasi di dunia mencapai 45% pada tahun 2012. Gangguan siklus menstruasi pada remaja putri dapat dipengaruhi asupan zat gizi, stres dan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecukupan zat gizi makro, tingkat stres dan kualitas tidur dengan siklus menstruasi.
Metodologi: Desain penelitian adalah cross sectional terhadap 70 siswi SMA IT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto berusia 15-17 tahun melalui teknik proportional random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner siklus menstruasi, Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire untuk kecukupan zat gizi, Perceived Stress Scale untuk tingkat stres dan Pittsburgh Sleep Quality Index untuk kualitas tidur. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Likelihood Ratio.
Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki tingkat kecukupan karbohidrat kurang (54,3%), kecukupan protein baik (47,1%), kecukupan lemak baik (45,7%), tingkat stres sedang (78,6%), kualitas tidur buruk (74,3%) dan siklus menstruasi normal (52,9%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat kecukupan karbohidrat (p=0,000), kecukupan protein (p=0,000), kecukupan lemak (p=0,000) dan kualitas tidur (p=0,014) dengan siklus menstruasi. Tidak terdapat hubungan antara tingkat stres (p=0,073) dengan siklus menstruasi.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat kecukupan karbohidrat, protein, lemak dan kualitas tidur dengan siklus menstruasi.
Abstrack
Background: The prevalence of menstrual cycle disorders worldwide reached 45% in 2012. Menstrual cycle disorders in adolescent girls can be influenced by nutrient intake, stress, and sleep quality. This study aimed to determine the relationship between the level of macronutrient adequacy, stress levels, and sleep quality with the menstrual cycle.
Methods: This study employed a cross-sectional design involved 70 female students aged 15-17 years from SMA IT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto, selected through proportional random sampling. The study used a menstrual cycle questionnaire, Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire for nutrient adequacy, Perceived Stress Scale for stress levels, and Pittsburgh Sleep Quality Index for sleep quality. Data analysis used the Chi-Square and Likelihood Ratio tests.
Results: The majority of respondents had insufficient carbohydrate intake (54.3%), sufficient protein adequacy level (47.1%), sufficient fat adequacy level (45.7%), moderate stress level (78.6%), poor sleep quality (78.8%) and normal menstrual cycle (52.9%). The results of the analysis showed a relationship between carbohydrate adequacy level (p=0.000), protein adequacy (p=0.000), fat adequacy (p=0.000) and sleep quality (p=0.014) with the menstrual cycle. There was no relationship between stress level (p=0.073) with the menstrual cycle
Conclusion: There was a relationship between carbohydrate adequacy level, protein adequacy level, fat adequacy level and sleep quality with the menstrual cycle.
516979857A1H010013SISTEM AEROPONIK DENGAN PENDINGINAN DAERAH
PERAKARAN UNTUK PRODUKSI TANAMAN KAILAN
(Brassica oleraceae var. alboglabra) DI DATARAN RENDAH
Kailan (Brassica oleraceae var. alboglabra) adalah salah satu sayuran daun
yang berasal dari Cina. Kailan memiliki nilai ekonomi serta kandungan gizi yang
tinggi seperti Vitamin A, Vitamin C, Ca dan Fe yang bermanfaat bagi kesehatan.
Permintaan kailan yang tinggi belum sebanding dengan produksinya. Produksi
kailan mengalami penurunan dari 287,30 Kw/Ha di tahun 2005 menjadi 253,70
Kw/Ha di tahun 2006. Penurunan produksi disebabkan penurunan luas lahan dari
5.897 Ha di tahun 2005 menjadi 5.461 Ha di tahun 2006. Sayuran daun di
Indonesia umumnya diproduksi di dataran tinggi. Penanaman sayuran di dataran
tinggi yang tidak memperhatikan konservasi lahan menjadi penyebab erosi yang
tinggi. Perluasan penanaman kailan ke dataran rendah merupakan salah satu
alternatif untuk membantu peningkatan produksi kailan dan mengatasi masalah
erosi lahan. Penanaman kailan di dataran rendah menghadapi kendala yaitu suhu
udara yang tinggi. Suhu udara yang tinggi menyebabkan respirasi dan transpirasi
meningkat, sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman menjadi rendah. Usaha yang
dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan sistem
aeroponik dan pendinginan daerah perakaran di dalam greenhouse. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendapatkan suhu larutan nutrisi yang sesuai untuk
produksi kailan melalui sistem aeroponik dengan pendinginan daerah perakaran di
dataran rendah.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian dan di
Greenhouse Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal
Soedirman. Penelitian dimulai pada bulan Mei sampai Juni 2014. Penelitian ini
menggunakan tiga perlakuan suhu yaitu suhu larutan nutrisi 15oC, 20oC dan
kontrol. Pengulangan dilakukan sebanyak tiga kali untuk setiap perlakuan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dilanjutkan dengan
analisis Least Significance Difference (LSD) α=5%. Pengukuran yang diamati
yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot basah tanaman dengan akar
(g) dan LAI (Leaf Area Index).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendinginan daerah perakaran
memberikan hasil yang berbeda dibandingkan tanpa pendinginan. Pendinginan
daerah perakaran pada suhu 15oC menghasilkan kailan terbaik berdasarkan ratarata
tinggi tanaman (20,33 cm), jumlah daun (10,08 helai), bobot basah tanaman
dengan akar (68,24 g), dan Leaf Area Index (10,68). Pendinginan daerah
perakaran dengan suhu 20oC memberikan pengaruh yang sama dengan suhu 15oC
pada tinggi tanaman dan jumlah daun dan berbeda pada bobot basah dengan akar
dan Leaf Area Index. Tanaman kailan dengan suhu kontrol memberikan hasil
terendah pada semua variabel pertumbuhan
Chinese broccoli (Brassica oleraceae var. alboglabra) is a leafy vegetable
form China. Chinese broccoli has high economic value and high nutrient such as
vitamin A, vitamin C, Ca and Fe that beneficial for health. Chinese broccoli
demand have not equal to production yet. Chinese broccoli production decreased
from 287,30 Kw/Ha in 2005 became 253,70 Kw/Ha in 2006. The decline in
production was due to a decrease in land area of 5,897 Ha in 2005 to 5,461 Ha in
2006. In Indonesia, leafy vegetables are generally produced in highland. Intensive
cultivation of such vegetables in highland is succeptable to land and environment
degradation. Expansion of cultivating Chinese broccoli to lowland is an
prospective alternative for increasing the production as well as reducing erosion
problem. Cultivating Chinese broccoli in lowland have problem with high air
temperature. High air temperature can increase respiration and transpiration, so
plant growth and production will be low. Aeroponic and root zone cooling is
expected to be an alternatif solution to overcome the above production. This study
is aimed to get an appropriate temperature nutrient solution for Chinese broccoli
using aeroponic system and root zone cooling in lowland.
This study was carried out in Agriculture Technology Laboratory and
Greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This
study started in May until June 2014. This study used three temperature
conditions, namely are 15°C, 20°C and control. All treatments were replicated
three times. This study used Complete Random Design (CRD) continued with the
analysis of the Least Significance Difference (LSD) α=5%. Plant height (cm),
amount of leaf (piece), fresh plant mass with root (g) and Leaf Area Index were
measured.
Result of this study showed that root zone cooling give different result from
the control. Root zone cooling at 15°C gives the best chinese broccoli with
average plant height of 20.33 cm, amount of leaves of 10.8 pieces, fresh weight
plant with the roots of 68,24 g and Leaf Are Index of 10,63. Root zone cooling at
20°C gives similar effect with that at 15°C at plant height and amount of leaf and
difference at fresh plant mass and Leaf Area Index. Control temperature shows
the lowest result for all measured variables
516989358C1A010060STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI KENTANG DI DESA KUTABAWA KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGAPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan metode survey. Penelitian ini mengambil judul: ”Strategi Pengembangan Usahatani Kentang di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi usahatani kentang di Desa Kutabawa, menganalisis strategi-strategi alternatif sehingga dapat meningkatkan pengembangan usahatani kentang di Desa Kutabawa dan menentukan strategi prioritas yang tepat untuk diimplementasikan dalam pengembangan usahatani kentang. Pada penelitian ini, alat analisis yang digunakan adalah analisis SWOT menggunakan matriks IFE, matriks EFE, matriks IE, matriks SWOT dan analisis Quantitative Strategic Planing Matriks (QSPM).
Berdasarkan identifikasi faktor internal, diperoleh 6 kekuatan dan 6 kelemahan. Kekuatan yang paling berpengaruh adalah potensi alam yang sangat cocok untuk lahan pertanian kentang dan kelemahannya yakni pada keterbatasan modal. Dari hasil identifikasi faktor eksternal, diperoleh 6 peluang dan 5 ancaman. Peluang utamanya adalah sarana transportasi/jalan di Desa Kutabawa yang mendukung dalam pengembangan usahatani kentang, dan ancaman utamanya yakni pengaruh cuaca serta hama yang mempengaruhi produksi kentang. Kemudian, berdasarkan hasil perhitungan matriks IFE dan EFE pada pengembangan usahatani kentang, total skor yang diperoleh yakni 2,99 dan 3,09. Berdasarkan penggabungan hasil dari total skor tersebut pada matriks IE, dapat diketahui posisi usahatani kentang saat ini berada pada kuadran II yang berarti usahatani kentang berada dalam tahap tumbuh dan bina (Grow and Build) dengan strategi intensif dan integratif.
Berdasarkan analisis SWOT yang dilakukan, menghasilkan 9 strategi alternatif. Strategi alternatif tersebut merupakan pencocokan dari faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dengan faktor eksternal (peluang dan ancaman). Setelah memperoleh startegi alternatif, selanjutnya adalah memilih strategi yang paling tepat untuk diimplemantasikan melalui analisis QSPM. Berdasarkan analisis QSPM, strategi aternatif yang terbaik adalah membentuk kelompok tani kentang di Desa Kutabawa dengan nilai Total Attractiveness Score 5,561.
Implikasi dari penelitian adalah (1) membetuk kelompok tani kentang di Desa Kutabawa agar dapat meningkatkan pengembangan usahatani kentang secara bersama-sama, (2) petani meningkatkan permodalan dengan memanfaatkan fasilitas peminjaman modal dari koperasi atau perbankan, (3) Pemerintah Desa Kutabawa dapat menjembatani antara petani dengan PT Indofood agar menjalin kerjasama usahatani kentang, (4) Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Purbalingga membantu petani kentang dalam memperluas pangsa pasar.
This research is a descriptive study using survey method approach. This study entitled: "Development Strategy of Potato Farming in the Village Kutabawa of District Karangreja, Purbalingga Regency". The purpose of this study was to determine the internal and external factors affecting the potato farm in the village of Kutabawa, analyzing alternative strategies that can enhance the development of potato farming in the village Kutabawa and determine the appropriate priority strategies to be implemented in the development of potato farming. This study used SWOT analysis as an analysis tool by using matrix IFE, EFE Matrix, IE Matrix, SWOT matrix and analysis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).
Based on the identification of internal factors, there are 6 strengths and 6 weaknesses. The most influential strength is the natural potential that is suitable for potato farms and the weakness is the limited capital. Based on the identification of external factors, there are 6 opportunities and 5threats. The main opportunity is the facility of transportation / road in the village of Kutabawa that supports the development of potato farming, and the main threat is the influence of weather and pests affecting potato production. Then, based on the results of the IFE and EFE matrix calculation on the development of potato farming, the total scores that obtained are 2.99 and 3.09. Based on the result of the merger of the total score on the IE matrix, it can be seen the position of the potato farming today is in quadrant II, which means the company in growing and building stage with intensive and integrative strategies.
SWOT analysis produces 9 alternative strategies. The alternative strategy is the matching of internal factors (strengths and weaknesses) and external factors (opportunities and threats). After obtaining an alternative strategy, the next step is to choose the most appropriate strategy to be implemented through QSPM analysis. Based on the QSPM analysis, the best alternative strategy is to form a potato farmer groups in the village Kutabawa with the value 5.561 of Total Attractiveness Score.
The implications of this study are (1) form a potato farmer group in the village of Kutabawa in order to improve the development of potato farming, (2) The potato farmers increase capital by utilizing borrowing facilities of a cooperative or banking capital, (3) the Government of Village Kutabawa can establish an ongoing relationship with PT Indofood in order to improve the farming of potatoes, (4) the Department of Agriculture Forestry and Plantation a Purbalingga help the farmers in expanding market share.
5169913991C1C011111ANALISIS REAKSI PASAR MODAL TERHADAP PERISTIWA KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)
(Event Study pada Seluruh Klasifikasi Sektor Perusahaan yang Terdaftar di BEI)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui reaksi pasar modal yang digambarkan dengan abnormal return saham terhadap pengumuman peristiwa kenaikan harga BBM tanggal 18 November 2014. Penelitian ini menggunakan metode analisis event study terhadap seluruh klasifikasi sektor yang ada di BEI. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dan diperoleh total sampel sejumlah 225 perusahaan yang selanjutnya digunakan metode complex random sampling untuk memperoleh sampel yang seimbangdari sembilan klasifikasi sektor yang ada di BEI. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data harga saham penutupan dan data IHSG pada periode pengamatanpenelitian yaitu 5 hari sebelum sampai 5 hari sesudah peristiwa pengumuman kenaikan harga BBM.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat abnormal return yang signifikan pada hari di sekitar peristiwa kenaikan harga BBM. Hal tersebut menjelaskan bahwa peristiwa pengumuman kenaikan harga BBM menyebabkan reaksi pasar karena memberikan abnormal return saham yang signifikan kepada investor, (2) tidak terdapat perbedaanabnormal return saham yang signifikan antara sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman kenaikan harga BBM, (3) terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan antara sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman kenaikan harga BBM di Sektor Industri Dasar dan Kimia serta sektor Properti dan Real Estate, dan (4) tidak ada perbedaan rata-rata abnormal return yang signifikan antara sembilan klasifikasi sektor yang ada di BEI pada periode peristiwa pengumuman kenaikan harga BBM.
This research aims to determine the reaction of capital market represented by abnormal return of stock to the announcement of increases of the fuel price event on November 18, 2014. This study uses event study analysis of the entire classification sector in Indonesian Stock Exchange or BEI. Determination of the number of samples using Slovin formula and obtained a total sample of 225 companies then used complex random sampling method to obtain a balanced sample of nine classifications sector in BEI.The data used in this study is the closing stock price data and data JCI or IHSG at the study observation period is 5 days before until 5 days after the announcement of the events of rising fuel prices.
The results showed that: (1) there is a significant abnormal returns on the day of the announcement events of rising fuel prices. It explains that the events announcement of the increases of fuel price led to capital market reaction because it provides significant abnormal stock return to investor, (2) there is no significant differencesof the stock abnormal returns before and after events announcement of the increase of fuel prices, (3)There are significant differences between the abnormal return before and afterevents announcement of the increasesof fuel price in the Basic Industry and Chemical, and the Property, Real Estate, and Building Construction Industry, and(4) there was no significant differences in average abnormal return between nine classification of sectors in the BEI during the period of the increases of fuel price announcement event.
5170038718J1B018017ANALISIS FAKTA CERITA DAN TEMA ATAS NOVEL TJIUNG WANARA KARYA AJIP ROSIDI (1968)Penelitian ini merupakan penelitian karya sastra (novel) yang bertujuan untuk mendeskripsikan sebuah struktur dalam cerita secara detail dan kompleks. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif serta data yang ada bersumber dari pengumpulan data, teknik membaca dan mencatat. Data yang terkumpul selanjutnya akan diuraikan berdasarkan teori struktural Robert Stanton meliputi fakta cerita dan tema. Langkah-langkah dalam teknik analisis data adalah reduksi data, penyajian data. Berdasarkan hasil penelitian ini menemukan hasil melalui novel Tjiung Wanara karya Ajip Rosidi berisi fakta cerita yang terdiri atas sebelas karakter sebagai konteks pertama. Ciung Wanara merupakan karakter utama dalam konteks kedua. Prabu Barma Wijaya Kusumah, Pohaci Naganingrum, Dewi Pangrenyep, Ki Lengser, Aki Nini Balangantrang, Patih Gajah Manggala, dan Patih Purwa Gading sebagai karakter penunjang. Alur yang digunakan adalah alur maju. Bagian awal mengilustrasikan berbagai konflik kedua istri baginda. Bagian tengah terdapat satu adegan kecil bercerita mengenai seorang anak bernama Ciung Wanara yang dihanyutkan oleh istri kedua baginda. Bagian akhir adanya sebuah naratif yang mengetengahkan suatu perselisihan tentang satu keluarga Kerajaan Galuh hanya karena Ciung Wanara sebagai fokus utama dalam keberlangsungan cerita. Latar tempat yang memberikan fungsi pada isi novel ini adalah Sungai Citanduy dan Sungai Cipamali. Salah satu latar waktu yang paling dominan adalah malam hari. Latar sosial-budaya mencitrakan kehidupan sosial bahwa Ciung Wanara dan keluarganya dalam membentuk suatu pembagian wilayah untuk keadilan pada sebuah kerajaan. Tema yang menjadi inti dari keutuhan cerita adalah perebutan kekuasaan. Penelitian ini menghasilkan unsur pembangun dalam karya sastra, yaitu ditemukan sebuah motivasi dari karakter utama bernama Ciung Wanara dalam mencari jati diri ke hulu negeri. Hal tersebut menunjukkan latar belakang tentang dirinya dan keluarganya yang dapat memberikan makna pada keterkaitan setiap unsur.This research is a literary work (novel) which aims to describe a structure in a story in detail and complex. This study uses a qualitative descriptive method and the data is sourced from data collection, reading and note-taking techniques. The collected data will then be described based on Robert Stanton's structural theory including story facts and themes. The steps in the data analysis technique are data reduction, data presentation. Based on the results of this study, the results of the novel Tjiung Wanara by Ajip Rosidi contain story facts consisting of eleven characters as the first context. Ciung Wanara is the main character in the second context. Prabu Barma Wijaya Kusumah, Pohaci Naganingrum, Dewi Pangrenyep, Ki Lengser, Aki Nini Balangantrang, Patih Gajah Manggala, and Patih Purwa Gading as supporting characters. The groove used is the forward groove. The first part illustrates various conflicts between his two wives. In the middle there is a small scene telling about a child named Ciung Wanara who was swept away by his king's second wife. The last part is a narrative that explores a dispute about a Galuh Royal family only because Ciung Wanara is the main focus in the continuity of the story. The setting of places that give function to the contents of this novel are the Citanduy River and the Cipamali River. One of the most dominant time settings is night. The socio-cultural background depicts the social life that Ciung Wanara and his family form in dividing a territory for justice in a kingdom. The theme that is at the core of the whole story is the struggle for power. This research produces a building element in literary works, namely finding a motivation from the main character named Ciung Wanara in searching for identity upstream of the country. This shows the background about himself and his family which can give meaning to the interrelationships of each element.