Artikelilmiahs

Menampilkan 51.821-51.840 dari 52.044 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5182151806I2A024015ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN INTEGRASI LAYANAN
PRIMER (ILP) DI KABUPATEN PURBALINGGA
Latar Belakang: Integrasi pelayanan kesehatan primer adalah pelayanan kesehatan terpadu, komprehensif, mudah diakses, dan terjangkau bagi masyarakat. Pelayanan ini bertujuan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer diimplementasikan di seluruh Indonesia dan data dari tahun 2024 menunjukkan bahwa Kabupaten Purbalingga belum mengimplementasikannya secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan studi lebih lanjut mengenai implementasi kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana implementasi kebijakan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer di Kabupaten Purbalingga telah dilakukan.
Metode: Subjek penelitian adalah 22 Puskesmas di Kabupaten Purbalingga. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Prosedur pengambilan sampel: Survei lapangan untuk mengidentifikasi terkait ILP. Melakukan survei terhadap Puskesmas di Kabupaten Purbalingga mengenai implementasi ILP. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan staf Puskesmas dan observasi langsung terhadap implementasi ILP di Puskesmas Kabupaten Purbalingga. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif.

Hasil: Komponen masukan terdiri dari ketersediaan struktur organisasi, ketersediaan infrastruktur dan peralatan kesehatan, ketersediaan sumber daya manusia, perencanaan pendekatan klaster, ketersediaan ruang klaster. Komponen proses terdiri dari layanan siklus hidup, pemberdayaan masyarakat, pengembangan jaringan di wilayah kerja, pemantauan wilayah setempat, skrining kesehatan untuk setiap klaster, pendidikan kesehatan untuk setiap klaster. Komponen keluaran terdiri dari pelaporan jaringan di wilayah kerja dan pelaporan Puskesmas yang menerapkan Rekam Medis Elektronik (EMDR).
Kesimpulan: Dari penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan integrasi pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Purbalingga sedang berlangsung, meskipun masih terdapat keterbatasan, seperti sumber daya manusia, infrastruktur, kegiatan pemantauan wilayah setempat (PWS), dan pelaporan jaringan di wilayah kerja. Diharapkan dapat ditemukan solusi untuk semua keterbatasan tersebut di masa mendatang, sehingga implementasi kebijakan pelayanan kesehatan primer berjalan lancar dan memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat.
Kata kunci: Analisis, Implementasi, Kebijakan, Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer
Background: Primary service integration is an integrated, comprehensive, accessible, and accessible health service for the community. This service serves to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs) and improve degree public health. The primary service integration policy is implemented throughout Indonesia and data from 2024 shows that Purbalingga Regency has not implemented all of it. Therefore, further studies are needed in the implementation of primary service integration policies. The purpose of this study was to find out how far the implementation of the Primary Service Integration policy in Purbalingga Regency has been.
Methods: The research subjects were all 22 community health centers (Puskesmas) in Purbalingga Regency. The sampling technique used was cluster random sampling. Sampling procedure: Field survey to identify related ILP. Conducting a survey of Community Health Centers in Purbalingga Regency regarding the implementation of ILP. Data collection through interviews and observations. Data collection was conducted through interviews with community health center staff and direct observation of the implementation of the ILP at the Purbalingga Regency community health center. Data analysis using descriptive statistics.The collected data were then analyzed using descriptive statistics.
Results: The input component consists of the availability of organizational structure, availability of infrastructure and health equipment, availability of human resources, cluster approach planning, availability of cluster rooms. The process component consists of life cycle services, community empowerment, network development in the work area, local area monitoring, health screening for each cluster, health education for each cluster. The output component consists of network reporting in the work area and reporting of Community Health Centers implementing Electronic Medical Records (EMDR).
Conclusion: From the above study, it can be concluded that the implementation of the primary care integration policy in Purbalingga Regency is ongoing, although limitations remain, such as human resources, infrastructure, local area monitoring (PWS) activities, and network reporting in the work area. It is hoped that solutions can be found for all of these limitations in the future, so that the implementation of the primary care policy runs smoothly and provides significant benefits to the community.
Keywords: Analysis, Implementation, Policy, Primary Care Integration
518226899F1A007054KONFLIK PROSES PENATAAN ULANG PASAR WAGE DI PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan memberikan penjelasan tentang persepsi pedagang tentang proses penataan Pasar Wage dan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya konflik dalam proses penataan Pasar Wage. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sasaran utama dalam penelitian ini yaitu para pedagang Pasar Wage antara lain pedagang yang tidak memiliki kios, pedagang berkios, dan pedagang yang berada di pinggiran Pasar Wage. Sedangkan sasaran pendukung dalam penelitian ini yaitu pihak-pihak yang mempunyai kaitan erat dengan permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti. Pihak-pihak tersebut antara lain yaitu pembeli dan pengunjung pasar, dan anggota Satpol PP.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pedagang yang pro terhadap pemerintah adalah mereka pedagang besar yang memiliki langganan. Sehingga meskipun tempat relokasi kurang nyaman, namun tidak sepi pembeli. Sedangkan pedagang yang kontra terhadap kebijakan pemerintah adalah mereka yang merasa dirugikan yaitu pedagang yang ada di lantai dasar pasar, menurut mereka, apabila lokasi pedagang dipindah, maka mereka akan kehilangan pelanggan.
Saran yang diajukan adalah : Perlu dilakukan kajian ulang baik permasalahan makro maupun mikro oleh Pemerintah kabupaten. Pemerintah hendaknya konsisten dalam menegakkan peraturan yang telah dibuat, khususnya tentang penataan Pasar Wage. Para Pedagang para pedagang juga harus ikut menaati peraturan yang telah dibuat oleh Pemerintah, sembari tetap mempertahankan strategi untuk meningkatkan jumlah pembeli maupun omset penjualan, agar tercipta suasana pasar yang bersih dan teratur.
This study aims to provide an explanation of the perception of traders on the Market Wage structuring process and to know what are the factors that cause conflicts in the process of structuring the Market Wage. The method used in this research is descriptive qualitative. The main objectives of this research are market traders Wage among other traders who do not have a stall, berkios merchants, traders who are in the outskirts of Market Wage. While the goal of this research is supporting parties that have close links with the issues to be studied by researchers. These parties include the buyer's market and visitors, and members of the municipal police.
The results showed that the perception of the government's pro merchant wholesalers are those who have a subscription. So although the relocation less comfortable, but not deserted buyers. While traders are counter to government policy are those who feel aggrieved that existing traders on the ground floor of the market, according to them, if the merchant's location was moved, then they will lose customers.
The suggestions are: Need to be a review of both macro and micro issues by the district government. Government should be consistent in enforcing the rules that have been made, particularly on structuring Market Wage. The traders Traders should also follow obeying rules that have been made by the Government, while maintaining a strategy to increase the number of buyers and sales turnover, in order to create a market environment clean and orderly
5182355474G4A024003PENGARUH PREKONDISI TRIMETAZIDIN TERHADAP SEKRESI HGF PADA SEKRETOM SEL PUNCA MESENKIMALLatar Belakang: Sel Punca Mesenkimal (SPM) merupakan sel punca yang berasal dari jaringan dewasa yang bersifat multipotent yang saat ini mulai dikembangkan sebagai cell-free therapy dengan memanfaatkan sekretom SPM. Komponen penting dalam sekretom salah satunya adalah faktor pertumbuhan. Hepatocyte Growth Factor (HGF) merupakan salah satu faktor pertumbuhan yang dapat dimodulasi dengan prekondisi menggunakan agen farmakologi salah satunya dapat menggunakan trimetazidin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh prekondisi TMZ terhadap kadar sekresi HGF pada sekretom SPM. Metode: Penelitian ini menggunakan metode true experimental dengan post-test only with control group. Sel punca mesenkimal dari umbilical cord dikultur berdasarkan 4 kelompok perlakuan (tanpa prekondisi, TMZ 5 μM, TMZ 10 μM, TMZ 20 μM) dengan kultur selama 24 jam. Kadar HGF diukur dengan metode ELISA. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Kruskall-Wallis. Hasil: HGF ditemukan pada setiap kelompok perlakuan dengan prekondisi TMZ selama 24 jam pada konsentrasi yang berbeda dengan kadar HGF tertinggi pada prekondisi TMZ 5μM (1092,19 ng/L). Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat pengaruh signfikan antara kelompok perlakuan dengan prekondisi TMZ terhadap sekresi HGF pada
sekretom SPM (p<0,05). Kesimpulan: Prekondisi trimetazidin memiliki pengaruh signifikan antar kelompok perlakuan terhadap sekresi HGF pada sekretom sel punca mesenkimal.
Background: Mesenchymal Stem Cells (MSC) are stem cells that origin from adult tissue that are multipotent and are currently being developed as cell-free therapy by utilizing the secretome. One of the important components in the secretome is growth factors. Hepatocyte Growth Factor (HGF) is a growth factor that can be modulated by preconditioning using pharmacological agents, one of which can be trimetazidine. The aim of this study was to determine the effect of TMZ preconditioning on HGF secretion levels in the MSC secretome. Method: This study used a true experimental method with post-test only with control group design. MSC from umbilical cord were cultured based on 4 treatment groups (no preconditioning, TMZ 5 μM, TMZ 10 μM, TMZ 20 μM) for 24 hours. HGF levels measured using ELISA method. Statistical analysis used the Kruskall-Wallis test. Result: HGF was found in each treatment group with TMZ preconditioning for 24 hours at different concentrations with the highest HGF levels in 5μM TMZ preconditioning (1092.19 ng/L). The results of statistical analysis showed that there was a significant influence between TMZ preconditioning and HGF secretion in the MSC secretome (p<0.05). Conclusion: Trimetazidine preconditioning had a significant effect on HGF secretion in the secretome of mesenchymal stem cells.
5182455470A1D022198Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis Melo L.) Pada Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique dengan Aplikasi GiberelinPenambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) pada suatu tanaman mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui pemanjangan dan pembelahan sel dalam mendukung percepatan perkecambahan, pertumbuhan batang, perluasan daun, hingga peningkatan bobot buah dan kemanisan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saat aplikasi terbaik dan konsentrasi giberelin optimal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon, serta mengetahui adanya interaksi antara saat aplikasi dan konsentrasi giberelin terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Penelitian ini dilakukan di screenhouse Desa Pasir Kulon, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dengan dua faktor perlakuan. Petak utama yaitu saat aplikasi (fase vegetatif dan fase generatif) dan anak petak yaitu konsentrasi giberelin (0 ppm, 50 ppm, 100 ppm dan 150 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap jumlah daun (24 HST, 31 HST, 38 HST) dan umur berbunga tanaman melon baik bunga jantan maupun bunga betina. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan saat aplikasi dan konsentrasi giberelin pada jumlah daun maupun umur berbunga. The application of gibberellin, a plant growth regulator (PGR), promotes plant growth through cell elongation and division, thereby supporting faster germination, stem growth, leaf expansion, an increases in fruit weight and sweetness. This study aimed to determine the optimal application timing and gibberellin concentration for improving the growth and yield of melon plants, as well as to investigate the interaction between application time an gibberellin concentration on melon growth and yield. The study was conducted in a screen house in Pasir Kulon Village, West Purwokerto District, Banyumas Regency, Indonesia. The experiment was arranged using a split-plot design with two treatment factors. The main plot factor was application time, consisting of vegetative and generative phases, while subplot factor was gibberellin concentration, consisting of 0, 50, 100, and 150 ppm. The results showed that application time and gibberellin concentration did not significantly affect the number of leaves at 24, 31, and 38 days after planting (DAP) or the flowering time of male and female flowers in melon plants. Furthermore, no significant interaction was observed between application time and gibberellin concentration in terms of leaf number or flowering time.
518257678F1B007010IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DALAM PELAYANAN E-KTP DI KECAMATAN INDRAMAYU KABUPATEN INDRAMAYUKemajuan teknologi di Indonesia khususnya di bidang teknologi informasi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini karena semakin pentingnya informasi dan pengolahan data di dalam aspek kehidupan manusia. Perkembangan teknologi informasi, dalam hal ini komputer dapat menunjang pengambilan keputusan di dalam organisasi-organisasi modern yang memungkinkan suatu pekerjaan di dalam organisasi modern dapat diselesaikan secara tepat, akurat, dan efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam pelayanan e-KTP, yang dilaksanakan oleh Kecamatan Indramayu Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif Deskriptif, pengambilan Informan menggunakan teknik purposive sampling di mana teknik pemilihan informan ini berdasarkan pertimbangan (mereka adalah yang menerima dan merasakan pelayanan e-KTP). Penelitian ini menggunakan model Implementasi G. C. Edward III berpandangan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat aspek yakni Communication, Resources, Disposition, Bureaucratic Structure.
Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan program e-KTP yang telah dilakukan oleh Kecamatan Indramayu itu mengikuti proses perencanaan yang diberikan oleh pemerintah dengan cara mensosialisasikan program tersebut kepada seluruh warga masyarakat di Indramayu khususnya di Kecamatan Indramayu. Kecamatan Indramayu mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya baik itu kinerjanya, kelengkapan sarana dan prasarana, serta dukungan dari pihak luar. Pelayanan dalam program e-KTP di Kecamatan Indramayu dapat dikatakan kurang memuaskan dalam pelayanan e-KTP yang diberikan oleh Kecamatan Indrmayu kepada masyarakat, adapun kendalanya yaitu antrian yang panjang sehingga memakan waktu yang cukup lama dalam pembuatan e-KTP, kemudian masyarakat mengeluh rumitnya pembuatan e-KTP. Dengan adanya keputusan dari Mentri Dalam Negeri (MENDAGRI) bahwa adanya program e-KTP di Indonesia sangat efektif untuk mencegah adanya identitas ganda.

Development of technology in Indonesia, especially the sector of information, develop rapidily. This because of the most important of information and data processing in the aspect of human life. The information technology development, in this case computer, is able to support in decision making in modern organizations in finishing job exactly, accurately and efficiently.
The purpose of this research are to know and to describe the implementation of Information System Of Civil Administration in e-KTP service which is hold in Subdistrict of Indramayu, Indramayu Regency. This research uses qualitative method. In addition, the purposive sampling technique is used to select the informan based the consideration (They are whom receive and use the service of electronic ID). This research uses implementation model G. C. Edward III, who thinks that the success of implementation policy is influenced by four variables including Communication, Resources, Disposition, and Bureaucratic Structure.
Based on the result of the research, realization program of e-KTP which was done by Subdistric of Indramayu follows the planning process given by the government of Indonesia through socialize that program to the whole of society in Indramayu especially in Subdistrict of Indramayu. The Subdistrict agencies can optimize their capability they have including their performance, the completeness the facilities and infrastructures as well as external support. The services of e-KTP program can be said is not satistying given by district employee. The problems were long queue, so it takes too many times in making e-KTP. Then, the citizen is complaining the difficulties in making it. This relates to the decision of the Interior Minister (MENDAGRI) that the availability of e-KTP program in Indonesia is very effective to prevent the double identity.

5182625441G1B012003FENOMENA GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA USIA SUBUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAMISFENOMENA GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA USIA SUBUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ( RSUD) CIAMIS

Rica Cahyani, Bambang Hariyadi, Heryanto


Latar Belakang :. Fenomena fisiologis normal pada remaja wanita yaitu menstruasi. Kualitas hidup seperti konsumsi makanan cepat saji, kurang aktivitas fisik dan melewatkan sarapan pagi dapat mempengaruhi gangguan menstruasi. Fungsi organ menstruasi juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan makan. Stres atau emosional dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen, kelenjar pituitari dan ovarium. akibatnya, ketidakseimbangan estrogen dan progesterone yang menyebabkan perubahan dalam siklus menstruasi dan keteraturan pada menstruasi

Metode : Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam kepada 5 subyek penelitian dan 1 informan yaitu bidan hasil wawancara di cross check wawancara bidan selaku petugas yang ada menangani pasien gangguan menstruasi.

Hasil Penelitian : Hasil penelitian menyatakan bahwa fenomena gangguan menstruasi yang terjadi pada wanita usia subur adalah pada gangguan siklus menstruasi, dismenore yang berkaitan dengan keadaan psikis atau stress, usia menarke, aktifitas sehari - hari, perubahan pada asupan makanan ketika menstruasi.

Kesimpulan : Keadaan psikis atau stress, usia menarke, aktifitas fisik / olahraga dapat menganggu terhadap terjadinya gangguan menstruasi terutama pada siklus menstruasi yang tidak teratur.

Kata Kunci : Fenomena gangguan menstruasi, Siklus menstruasi, Wanita usia subur
PHENOMENON OF MENSTRUAL CYCLE DISORDERS IN LUSH AGE WOMEN IN CIAMIS REGIONAL GENERAL HOSPITAL
Rica Cahyani. Bambang Hariyadi, Heryanto

Background : Normal physiological phenomena in young women, namely menstruation. Quality of life such as consumption of fast food, lack of physical activity and skipping breakfast can affect menstrual disorders. The function of menstrual organs can also be affected by eating habits. Stress or emotional disturbance can balance the hormones estrogen, pituitary gland and ovaries. consequently, the imbalance of estrogen and progesterone causes changes in the menstrual cycle and regularity in menstruation

Method : The design of this study is descriptive qualitative with data collection techniques with in-depth interviews with 5 research subjects and 1 informant, namely midwives interviewed on cross check interviews of midwives as existing officers dealing with patients with menstrual disorders.

Result : The results of the study state that the phenomenon of menstrual disorders that occur in adolescents is the disruption of the menstrual cycle, dysmenorrhea associated with psychological conditions or stress, age menarche, daily activities, changes in food intake during menstruation.

Conclusion : Psychological states or stress, age of menarche, physical activity / exercise can interfere with the occurrence of menstrual disorders, especially during irregular menstrual cycles.

Keyword : Phenomenon of Menstrual Disorders, Menstrual Cycles, Women of Childbearing Age
5182751502C1G022018PENGARUH KUALITAS INSTITUSI TERHADAP FDI DI ASEAN PASCA KRISISPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas institusi terhadap arus Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara ASEAN pasca Krisis Keuangan Asia 1997–1998. Krisis tersebut tidak hanya menimbulkan kontraksi ekonomi yang signifikan, tetapi juga mengungkap kelemahan tata kelola, termasuk rendahnya efektivitas pemerintah, lemahnya supremasi hukum, serta tingginya tingkat korupsi. Penelitian ini menggunakan enam indikator Worldwide Governance Indicators (WGI), yaitu Voice and Accountability, Political Stability and Absence of Violence/Terrorism, Government Effectiveness, Regulatory Quality, Rule of Law, dan Control of Corruption sebagai variabel independen. Data panel sepuluh negara ASEAN periode 1998–2023 dianalisis menggunakan metode Fixed Effects Model (FEM) dan Feasible Generalized Least Squares (FGLS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Political Stability, Regulatory Quality, dan Control of Corruption berpengaruh positif dan signifikan terhadap FDI inflows. Sebaliknya, Voice and Accountability serta Government Effectiveness berpengaruh negatif signifikan terhadap FDI. Sementara itu, Rule of Law tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial. Secara simultan, seluruh indikator WGI berpengaruh signifikan terhadap FDI inflows. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas institusi berperan penting dalam menarik investasi asing, namun efek masing-masing dimensi tata kelola berbeda-beda di kawasan ASEAN.
This study aims to examine the impact of institutional quality on Foreign Direct Investment (FDI) inflows in ASEAN countries following the 1997–1998 Asian Financial Crisis. The crisis not only caused severe economic contraction but also exposed weaknesses in governance, including ineffective public administration, weak rule of law, and high levels of corruption. This research employs six dimensions of the Worldwide Governance Indicators (WGI): Voice and Accountability, Political Stability and Absence of Violence/Terrorism, Government Effectiveness, Regulatory Quality, Rule of Law, and Control of Corruption as independent variables. Panel data from ten ASEAN countries over the period 1998–2023 are analyzed using the Fixed Effects Model (FEM) and Feasible Generalized Least Squares (FGLS). The findings indicate that Political Stability, Regulatory Quality, and Control of Corruption have a positive and significant effect on FDI inflows. In contrast, Voice and Accountability and Government Effectiveness show a significant negative effect on FDI. Meanwhile, Rule of Law does not exhibit a statistically significant partial effect. Simultaneously, all WGI indicators significantly influence FDI inflows. These results suggest that institutional quality plays a crucial role in attracting foreign investment, although the impact of each governance dimension varies across ASEAN countries.
518284864E1A008134PERJANJIAN KERJASAMA KOTA KEMBAR (SISTER CITY)
(Studi Terhadap Kerjasama Sister City Antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Dengan Pemerintah Kota Rotterdam)
Kerjasama kota kembar (sister city) merupakan salah satu bentuk hubungan luar negeri yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Rotterdam telah lama menjalin kerjasama ini sejak tahun 1986 dengan berbagai macam bidang kerjasama, salah satunya adalah bidang Water Management.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan, mekanisme dan penerapan kerjasama kota kembar antara Jakarta dengan Rotterdam di bidang Water Management. Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis normatif. Sumber data yang diperoleh adalah data sekunder. Data ini disajikan secara sistematis serta dianalisis dengan metode normatif kualitatif.
Pengaturan kerjasama kota kembar terdapat dalam Undang-Undang No 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, Undang-Undang No 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Hubungan kerjasama kota kembar lebih eksplisit diatur dalam Permenlu No 9 Tahun 2006 tentang Panduan Umum Tata Cara dan Hubungan Kerjasama Luar Negeri Oleh Pemerintah Daerah serta Permendagri No 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Daerah Dengan Pihak Luar Negeri.
Kerjasama kota kembar antara Jakarta dan Rotterdam di bidang Water Management diterapkan dalam dua proyek penanganan banjir Jakarta yaitu Long Term Dredging Plan dan Development of Coastal Defence Strategy for DKI Jakarta yang mana kedua proyek ini terkait dengan proyek Pemerintah Pusat
Sister city is one of international relation that can be done by Local Government. Governor of Jakarta and Mayor city of Rotterdam have established sister city relation since 1986 in many kinds of field, one of them is Water Management.
This research is aimed in order to know arrangement, mechanism and implementation of sister ciy relation between Jakarta and Rotterdam in the field of Water Management. The approach method in this research is normative justice, with conceptual approach and case approach. The source of data is taken from secunder data. This data is served systematically and is analized with qualitative normative method.
Sister city’s arrangement existed among Law number 37 year 1999 on
International Relation , Law number 24 year 2000 on International Agreement and Law number 32 year 2004 on Regional Government. Sister city is arranged explicitly in Rule of Ministry of Foreign Affair number 9 year 2006 on The General Method of International Law for Local Government and also Rule of Ministry of Domestic Affair number 3 year 2008 on The Method of cooperation between Local Government with International Parties.
Sister city relation between Jakarta and Rotterdam in the field of Water Management is implemented on Jakarta’s flood handling projects. They are Long Term Dredging Plan dan Development of Coastal Defence Strategy for DKI Jakarta which are connected with Central Government’s projects.
5182943752I1A019036Evaluasi Program Kampung Iklim dengan Metode Evaluasi Context, Input, Process, Product di Desa Rempoah Kabupaten BanyumasLatar Belakang: Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan upaya adaptasi dan mitigasi yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengajak partisipasi masyarakat dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan memperkuat ketahanan Iklim. Salah satu Desa yang turut serta dalam program ProKlim adalah Desa Rempoah di Kabupaten Banyumas, yang berhasil meraih penghargaan ProKlim Utama tahun 2022. Evaluasi ProKlim di Desa Rempoah bertujuan untuk meningkatkan efektivitas program tersebut di wilayah tersebut, serta mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki guna mengoptimalkan dampak positifnya.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Total subjek penelitian yang diwawancarai adalah sebanyak 1 informan kunci, 6 informan utama, dan 3 informan pendukung. Sumber data diambil melalui wawancara mendalam serta dokumen-dokumen yang terkait dengan pelaksanaan ProKlim di Desa Rempoah. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan model interaktif dan dilakukan dengan bantuan software NVivo.
Hasil Penelitian: Pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim) di Desa Rempoah telah menjadi bagian penting dari inisiatif masyarakat setempat terkait berbagai masalah seperti darurat sampah, ketersediaan air bersih, dan ketahanan pangan sebelum ProKlim diperkenalkan. Dana desa dan dukungan sponsor seperti PT Astra International menjadi sumber utama pendanaan untuk infrastruktur ProKlim, dengan kepengurusan ProKlim memainkan peran kunci dalam pengumpulan data dan meningkatkan dukungan masyarakat. Proses implementasi ProKlim di Desa Rempoah telah mengikuti pedoman yang ditetapkan, meskipun ada kendala terkait keterbatasan waktu dari pengurus ProKlim. Meskipun belum dipastikan adanya penurunan emisi GRK, masyarakat Desa Rempoah telah terlibat aktif dalam ProKlim melalui kegiatan seperti Kelompok Wanita Tani (KWT), pengelolaan sampah, dan Posyandu.
Simpulan: Komponen yang belum sesuai dengan pedoman ataupun belum berjalan dengan baik yaitu komunikasi dan koordinasi dengan pihak DLH Kabupaten Banyumas selaku penanggungjawab ProKlim di Kabupaten Banyumas, koordinasi antar pengurus yang jarang dilakukan, serta pemantauan dan evaluasi yang tidak maksimal.
Background: The Climate Village Program (ProKlim) is an adaptation and mitigation effort initiated by the Indonesian Government to encourage community participation in reducing Greenhouse Gas (GHG) emissions and strengthening climate resilience. One of the villages participating in the ProKlim program is Rempoah Village in Banyumas District, which successfully received the main ProKlim award in 2022. The evaluation of ProKlim in Rempoah Village aims to enhance the effectiveness of the program in the area and identify aspects that need improvement to optimize its positive impact.
Method: This study adopts a qualitative research approach through a case study methodology. The total number of research subjects interviewed consists of 1 key informant, 6 primary informants, and 3 supporting informants. Data sources are gathered through in-depth interviews and documents related to the implementation of ProKlim in Rempoah Village. Data analysis employs an interactive model technique and is facilitated by NVivo software.
Research Findings: The implementation of the Climate Village Program (ProKlim) in Rempoah Village has become an integral part of the local community's initiatives addressing various issues such as waste emergencies, clean water availability, and food security prior to the introduction of ProKlim. Village funds and sponsor support from companies like PT Astra International serve as the primary sources of funding for ProKlim infrastructure, with ProKlim management playing a key role in data collection and enhancing community support. The implementation process of ProKlim in Rempoah Village has adhered to established guidelines, although there have been challenges related to time constraints faced by ProKlim administrators. While a reduction in GHG emissions has not yet been confirmed, the Rempoah Village community has actively engaged in ProKlim through activities such as Women Farmer Groups (KWT), waste management, and integrated health services (Posyandu).
Conclusion: Components that do not comply with the guidelines or are not functioning effectively include communication and coordination with the Banyumas District Environmental Agency (DLH) as the responsible party for ProKlim in Banyumas District, infrequent coordination among administrators, and suboptimal monitoring and evaluation.
5183042411E1A019095PERBANDINGAN PENGATURAN PIDANA MATI DI INDONESIA DAN JEPANGPidana mati merupakan suatu jenis pidana yang masih diberlakukan di beberapa negara termasuk Indonesia dan Jepang, namun demikian terdapat persamaan dan perbedaan pada pengaturan pidana mati di masing-masing negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan perbandingan pengaturan pidana mati dalam hukum positif Indonesia dan Jepang. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan historis, dan pendekatan komparatif dengan spesifikasi penelitian yang bersifat deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dengan metode kepustakaan dan diolah menggunakan metode reduksi, display data, dan klasifikasi data yang disajikan dalam bentuk teks naratif dan tabel. Analisis dalam penelitian ini dilakukan secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan pidana mati di Indonesia diatur dalam KUHP 1946, KUHP 2023, dan beberapa undang-undang di luar KUHP yang mengatur pidana mati, sedangkan Jepang mengatur pidana mati dalam Japan Penal Code, Japan Code of Criminal Procedure, dan beberapa undang-undang lain di luar pengaturan tersebut seperti Juveniles Act dan lain-lain. Hasil penelitian ini juga menunjukkan terdapat persamaan dan perbedaan pengaturan pidana mati di Indonesia dan Jepang. Persamaannya terdapat pada klasifikasi pidana mati, tidak berlakunya pidana mati bagi anak, beberapa mekanisme pelaksanaan pidana mati, dan beberapa pengaturan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati. Perbedaannya terdapat pada prosedur pelaksanaan pidana mati dan masa tunggu pelaksanaan pidana mati, serta beberapa tindak pidana yang diancam dengan pidana mati. Pengaturan pidana mati di Indonesia lebih beragam, namun pengaturan pelaksanaan pidana mati di Jepang lebih memberikan kepastian hukum.Death penalty is a type of criminal punishment that is still enforced in several countries including Indonesia and Japan, however there are similarities and differences in the regulations of the death penalty in each country. This research aims to determine the evolution and the comparison on the regulations of death penalty in positive law in Indonesia and Japan. The research method used is normative juridical with statutory approach, historical approach, and comparative approach with descriptive analytical research specifications. The data used is secondary data collected by literature method and processed using the method of reduction data, data display, and data classification presented in the form of narrative text and tables. The analysis on this research is done by normative qualitative method. The research results shows that the regulation of death penalty in Indonesia is regulated in the KUHP 1946, KUHP 2023, and several laws outside KUHP which regulate the death penalty, while Japan regulates the death penalty in the Japan Penal Code, Japan Code of Criminal Procedure, and several criminal laws outside those regulations such as Juveniles Act and others. This research result also shows that there are similarities and differences on the regulations of the death penalty in Indonesia and Japan. The similarities including the classification of death penalty, the non-applicable death penalty on children and some mechanism of death penalty implementation, and several regulations on criminal acts punishable by death penalty. The differences are in the procedures for the death penalty implementations, the waiting period of death penalty executions, several criminal acts that are punishable by death penalty. The regulation of the death penalty in Indonesia is more diverse, but the regulation of the implementation of death penalty in Japan provides more legal certainty.
5183147521I1B021075GAMBARAN MANAJEMEN WAKTU PADA MAHASISWA S1 KEPERAWATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANLatar Belakang: Manajemen waktu merupakan keterampilan penting yang memengaruhi keberhasilan akademik dan kesejahteraan mahasiswa, terutama mahasiswa keperawatan yang menghadapi beban studi kompleks, seperti pembelajaran teori, praktikum laboratorium, ujian, dan praktik klinik. Ketidakmampuan dalam mengelola waktu secara efektif dapat menyebabkan dampak negatif seperti prokrastinasi akademik, stres, dan penurunan motivasi belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran manajemen waktu mahasiswa S1 Keperawatan di Unsoed.
Metodologi: Penelitian deskriptif kuantitatif dan korelasi analitik dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 268 mahasiswa S1 Keperawatan Unsoed dengan menggunakan stratified random sampling. Data diperoleh melalui pengisian kuesioner Time Management Questionnaire (TMQ) berbentuk google form kemudian diolah menggunakan analisis univariat.
Hasil Penelitian: Responden penelitian ini berusia minimum 18 tahun dan maksimum 24 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan responden terbanyak berasal dari angkatan 2023 dan 2024. Responden dengan tingkat manajemen waktu sedang sebanyak 177 mahasiswa (66%), tingkat rendah sebanyak 48 mahasiswa (17,9%), dan tingkat tinggi sebanyak 43 mahasiswa (16%). Berdasarkan karakteristik mahasiswa, mayoritas berada pada tingkat manajemen waktu tingkat sedang.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa keperawatan memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengelola waktu mereka, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal konsistensi perencanaan dan penetapan prioritas kegiatan.
Kata kunci: Manajemen waktu, Mahasiswa keperawatan
Background: Time management is an important skill that affects students' academic success and well-being, especially nursing students who face a complex study loads such as theoretical learning, laboratory practicum, examinations, and clinical practice. The inability to manage time effectively can lead to negative outcomes such as academic procrastination, stress, and decreased motivation to learn. The purpose of this study was to determine the description of time management among undergraduate nursing students at Unsoed.
Methodology: Quantitative descriptive research and analytic correlation with a cross-sectional approach involving 268 undergraduate nursing students at Unsoed using stratified random sampling. Data were obtained by completing the Time Management Questionnaire (TMQ) questionnaire in a Google form and then processed using univariate analysis and bivariate analysis, namely the Chi-Square test.
Results: The respondents in this study had a minimum age of 18 years and a maximum age of 24 years, female, and most of the respondents were from the classes of 2023 and 2024. Respondents of this study had moderate level of time management in as many 177 students (66%), low-level of time management in as many as 48 students (17,9%), and high-level of time manageemnt in as many as 43 students (16%). Based on the characteristics of the respondents, moderate levels of time management.
Conclusions: This study shows that most nursing students have a fairly good ability to manage their time, although there is still room for improvement, especially in terms of consistency in planning and prioritizing activities.
Keywords: Time Management, Nursing Students
5183246851H1A021085FORECASTING LUASAN KEBAKARAN HUTAN UNTUK OPTIMALISASI BIAYA PRODUKSIFluktuasi kebakaran hutan yang bergantung kepada faktor alam dan aktivitas manusia memberikan dampak yang buruk. Faktor utama yang mempengaruhi kebakaran hutan meliputi kondisi iklim seperti suhu udara, curah hujan, dan kelembapan. Musim kemarau juga meningkatkan terjadinya kebakaran hutan dikarenakan penyimpangan iklim atau kemarau panjang merupakan faktor yang mendukung terjadinya kebakaran hutan. Peramalan yang akurat tentang potensi kebakaran hutan sangat penting dilakukan. Pemanfaatan data historis kasus kebakaran hutan dan variabel pendukung lainnya, dapat dilakukan analisis statistik untuk memprediksi luas kebakaran hutan dimasa depan melalui metode machine learning. Penelitian ini diselesaikan menggunakan random forest regressor (RFR), sebuah metode berbasis pohon keputusan yang memungkinkan penanganan data yang bervariasi dan meminimalkan risiko overfitting. Model hasil forecasting yang dibangun dengan RFR mampu memprediksi dengan nilai MAPE sebesar 18%. Hasil prediksi ini digunakan untuk membangun model biaya produksi dengan fungsi tujuan meminimasi biaya produksi. Melalui uji skenario yang dilakukan, komponen biaya produksi dapat lebih optimal dan disesuaikan dengan jenis tanah terjadinya kebakaran, sehingga biaya produksi mengalami penurunan sebesar Rp 511.959.092 atau sebesar 1.85%.
The fluctuations in forest fires, influenced by both natural factors and human activities, have detrimental impacts. The main factors contributing to forest fires include climatic variables such as air temperature, rainfall, and humidity. The dry season also further heightens the occurrence of forest fires, as climate anomalies or prolonged droughts significantly increase the likelihood of such events. Accurate forecasting of potential forest fires is crucial. By utilizing historical forest fire data and other supporting variables, statistical analysis can be conducted to predict the future extent of fires using machine learning methods. This research employed the Random Forest Regressor (RFR), a decision-tree-based method that handles diverse data and minimizes the risk of overfitting. The forecasting model built with the RFR achieved a Mean Absolute Percentage Error (MAPE) value of 18%. These prediction results were then used to construct a production cost model with the objective of minimizing production costs. Through scenario testing, the production cost components can be more optimized and adjusted to the type of land where the fire occured, resulting in a cost reduction of Rp 511.959.092 or 1.85%.
5183316604G1A011095HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN KELUARGA PASIEN TENTANG INFORMED CONSENT PADA RUANG NIFAS RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOHUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN KELUARGA PASIEN TENTANG INFORMED CONSENT PADA RUANG NIFAS RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

ABSTRAK
Latar belakang: Informed consent adalah suatu kesepakatan atau persetujuan pasien atas tindakan yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi mengenai segala manfaat dan risiko yang mungkin terjadi. Tujuan dari pemberian informasi tersebut adalah untuk memberikan pemahaman (persamaan persepsi) pasien dan dokter terhadap prosedur tindakan yang akan dilakukan.
Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent.
Metode: Penelitian ini menggunakan studi analitik observational dengan pendekatan potong lintang. Responden penelitian ini adalah keluarga pasien yang dirawat di RSUD Margono Soekarjo setelah menandatangani informed consent. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah keluarga pasien yang tidak bisa menggunakan bahasa indonesia, pasien dengan gangguan kejiwaan. Analisis bivariabel menggunakan uji nonparametric spearman.
Hasil: Keseluruhan responden yang mengikuti penelitian ini berjumlah 42 responden. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent (r = 0,5929 dan p = <0,001).
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna dengan korelasi sedang antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan keluarga pasien tentang informed consent
RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY EDUCATION LEVEL WITH KNOWLEDGE OF PATIENT INFORMED CONSENT AT THE POSTPARTUM ROOM MARGONO HOSPITAL SOEKARJO PURWOKERTO

ABSTRAK
Background: Informed consent is an agreement or consent of the patient on measures to be taken against his/her doctor after obtaining information on all the benefits and possible risks that will be happen. The purpose of the provision of such information is to provide an understanding (perception) patients and doctors with procedures for actions to be taken.
Purpose : Knowing whether there is a relationship between level of education and knowledge of the patient's family about informed consent.
Methode : This study uses an observational analytic study with cross sectional approach. Respondents are families of patients which treated in Margono Hospital Soekarjo after signing an informed consent. Exclusion criteria in this study were the families of patients who can not use Indonesia language, patients with psychiatric disorders. Bivariable analysis using Spearman nonparametric test..
Result : Overall respondents who join this research were 42 respondents. The results showed that there was a significant relationship between the level of education and knowledge about the patient's family informed consent (r = 0.5929 and p = <0.001).
Conclusion : There is a significant association with moderate correlation between level of education and knowledge of the patient's family about informed consent.

5183446330A1C020031ANALISIS REGRESI EVAPOTRANSPIRASI DAN PEMBUKAAN STOMATA PADA TANAMAN BAYAM MERAH DENGAN SISTEM PENANAMAN FONi (Fertigasi Otomatis Nirdaya)Sumber daya air dan lahan pertanian adalah dua hal yang sangat penting dalam sektor pertanian. Salah satu sistem fertigasi yang dapat diterapkan yaitu sistem FONi (Fertigasi Otomatis Nirdaya) yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air. Hal tersebut penting untuk diperhatikan karena air berperan penting dalam fotosintesis pada tambuhan. Air yang digunakan dalam fotosintesis akan mengatur pembukaan dan penutupan stomata. Pembukaan stomata merupakan pori kecil di permukaan daun berperan penting dalam fotosintesis dan transpirasi. Pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara pembukaan stomata dan evapotranspirasi dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan air dalam pertanian. Oleh sebab itu, perlu dilakukannya analisis regresi untuk mengatahui hubungan anatara evapotranspirasi dan pembukaan stomatanya. Pada penelitian ini dilakukan 3 kali pengambilan sampel pembukaan stomata dan pengukuran evapotranspirasi di setiap jamnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Menghitung nilai evapotranspirasi dengan memanfaatkan persamaan Penman-Monteith, 2) Menganalisis hubungan antara evapotranspirasi berdasarkan persamaan Penman-Monteith dan pembukaan stomata pada tanaman yang dibudidayakan dengan metode FONi (fertigasi otomatis nirdaya).
Prosedur penelitian yang dilakukan yaitu melakukan perencanaan dan persiapan, pengambilan data, dan pengolahan data. Variabel yang digunakan untuk menghitung evapotranspirasi (ET) meliputi radiasi matahari (Rs), suhu udara (T), kelembapan udara (RH), kecepatan angin (U), tekanan uap jenuh (es), dan tekanan uap aktual (ea). Sedangkan variabel untuk analisis regresi terdiri atas pembukaan stomata (Gs) dan evapotranspirasi (ET).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis regresi yang dilakukan tidak selalu berkorelasi positif, hal tersebut terjadi karena pembukaan stomata pada tanaman perlu penyesuaian dengan kebutuhan tanaman saat fotosintesis bukan hanya kondisi cuacanya saja. Sedangkan evapotranspirasi yang dihitung hanya bergantung pada kondisi cuaca saja.
Water resources and agricultural land are two very important things in the agricultural sector. One of the fertigation systems that can be applied is the FONi (Automatic Fertigation Without Power) system which can increase the efficiency of water use. This is important to note because water plays an important role in photosynthesis in plants. The water used in photosynthesis will regulate the opening and closing of stomata. Stomata opening is a small pore on the surface of the leaf that plays an important role in photosynthesis and transpiration. A better understanding of the relationship between stomata opening and evapotranspiration can help improve the efficiency of water use in agriculture. Therefore, it is necessary to conduct a regression analysis to determine the relationship between evapotranspiration and stomata opening. In this study, 3 times of stomata opening sampling and evapotranspiration measurements were carried out every hour. The objectives of this study were 1) To calculate the evapotranspiration value by utilizing the Penman-Monteith equation, 2) To analyze the relationship between evapotranspiration based on the Penman-Monteith equation and stomatal opening in plants cultivated using the FONi method (powerless automatic fertigation).
The research procedures carried out were planning and preparation, data collection, and data processing. The variables used to calculate evapotranspiration (ET) include solar radiation (Rs), air temperature (T), air humidity (RH), wind speed (U), saturated vapor pressure (es), and actual vapor pressure (ea). While the variables for the regression analysis consisted of stomatal opening (Gs) and evapotranspiration (ET).
The results of the study showed that the regression analysis carried out was not always positively correlated, this happened because the opening of stomata in plants needed to be adjusted to the needs of the plants during photosynthesis, not just the weather conditions. While the calculated evapotranspiration only depends on weather conditions.
5183511008C1A009052FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PENGRAJIN ATBM DI DESA PAKUMBULAN KECAMATAN BUARAN KABUPATEN PEKALONGANPenelitian ini merupakan penelitian survey pada pengrajin ATBM di Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pendapatan pengrajin, untuk mengetahui faktor manakah yang paling berpengaruh terhadap pendapatan pengrajin, dan untuk mengetahui KHL pengrajin.Penelitian survey ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Sampel penelitian ini adalah pengrajin ATBM di Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan yang diambil sebagai responden penelitian dengan jumlah responden sebanyak 70 orang. Dalam penelitian ini, data dianalisis dengan menggunakan tabulasi dan KHL yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Pekalongan pada bulan Juni 2014.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) semakin tinggi tingkat pendidikan maka produk yang dihasilkan semakin banyak (2) semakin lama jam kerja yang digunakan pengrajin untuk bekerja maka produk yang dihasilkan akan semakin banyak (3) semakin tua umur pengrajin maka produk yang dihasilkan akan semakin banyak (4) pendapatan yang diterima pengrajin perempuan lebih banyak daripada pengrajin laki-laki (5) semakin banyak jumlah produksi, maka pendapatan pengrajin juga semakin besar (6) meskipun jumlah tanggungan keluarga banyak namun tidak dapat menambah jam kerja (7) meskipun jumlah tanggungan keluarga banyak namun tidak dapat menambah jumlah produksi (8) dilihat dari segi pendapatan yang diterima pengrajin, pendapatan yang diterima pengrajin perempuan sudah dapat memenuhi standar KHL (9) pendapatan pengrajin laki-laki belum memenuhi standar KHL (10) secara keseluruhan pendapatan pengrajin sudah memenuhi KHL.
This research is motivated by the production and sale of handloom craft used to meet the daily needs by the craftsmen. Purpose of this study was to determine which factors most influence the craftsmen, the most influential factor for craftsmen, and artisans welfare level.
The method used in this research is descriptive questionnaire as a data collection tool, while the analysis tool used is the average tabulation. This research is simple purposive sampling with a sample size of 70 people in the village craftsmen Pakumbulan Buaran District of Pekalongan. The results showed that education, age, hours worked, number of production affects income artisans, whereas gender, family responsibility does not affect income artisans and craftsmen already prosperous income.
5183655471D1A022028PENGARUH TINGKAT KEPADATAN KANDANG TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN
SAPI BRAHMAN CROSS BULL DI PT BAQARA MUDA PERKASA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kepadatan kandang terhadap
pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Brahman Cross tipe bull pada sistem feedlot di PT
Baqara Muda Perkasa. Penelitian menggunakan tiga tingkat kepadatan kandang, yaitu P1 sebesar 1,92
m²/ekor, P2 sebesar 2,18 m²/ekor, dan P3 sebesar 2,33 m²/ekor. Setiap perlakuan terdiri atas enam pen
sebagai ulangan, dengan total 990 ekor sapi. P1 terdiri atas 300 ekor, P2 330 ekor, dan P3 360 ekor.
Pengamatan dilakukan selama 90 hari. Parameter yang dianalisis meliputi bobot badan awal, bobot
badan akhir, pertambahan bobot badan selama 90 hari, dan PBBH. Data PBBH pada tingkat pen
dianalisis menggunakan analisis variansi berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL), kemudian
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil menunjukkan bahwa tingkat kepadatan
kandang berpengaruh sangat nyata terhadap PBBH (P<0,01). Rataan PBBH P1, P2, dan P3 berturut
turut sebesar 1,52±, 1,64±, dan 1,76± kg/ekor/hari. Uji BNT 1% menunjukkan bahwa ketiga perlakuan
berbeda sangat nyata satu sama lain. PBBH tertinggi diperoleh pada P3 sebesar 1,76± kg/ekor/hari
dan terendah pada P1 sebesar 1,52± kg/ekor/hari.
This study aimed to determine the effect of stocking density on the daily weight gain (DWG) of
Brahman Cross bull cattle in a feedlot system at PT Baqara Muda Perkasa. Three stocking
densities were evaluated: P1 at 1.92 m²/head, P2 at 2.18 m²/head, and P3 at 2.33 m²/head. Each
treatment consisted of six pens as replications, with a total of 990 cattle: 300 in P1, 330 in P2,
and 360 in P3. The observation period was 90 days. The analyzed parameters included initial
body weight, final body weight, body weight gain over 90 days, and DWG. Pen-level DWG data
were analyzed using analysis of variance based on a Completely Randomized Design, followed by
the Least Significant Difference test. The results showed that stocking density had a highly
significant effect on DWG (P<0.01). Mean DWG for P1, P2, and P3 was 1.52±, 1.64±, and 1.76±
kg/head/day, respectively. The 1% LSD test showed that all treatments differed highly
significantly. The highest DWG was obtained in P3 (1.76± kg/head/day), while the lowest was
obtained in P1 (1.52± kg/head/day).
5183729772C1L016007PENGARUH KECERDASAN INTELEKTUAL (IQ) KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DAN LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA N 3 PURWOKERTOIndikator keberhasilan suatu proses pendidikan salah satunya prestasi belajar peserta didik. Prestasi belajar dipengaruhi beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar adalah kecerdasan intelektual (IQ), sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar adalah kompetensi profesional guru dan lingkungan keluarga. Penelitian ini membahas tentang pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) kompetensi profesional guru dan lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) terhadap perstasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto; 2) Menganalisis pengaruh kompetensi profesional guru terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto; 3) Menganalisis pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto.
Penelitian ini merupakan penelitian survei eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas X yang mengambil mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto yang berjumlah 240 siswa dengan sampel 150 siswa yang dihitung menggunakan teknik simple random sampling. Intrumen penelitian ini berupa kuesioner dan hasil tes IQ, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah uji t, uji F, uji koefisien determinasi, uji regresi linear berganda dan uji asumsi klasik.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, kecerdasan intelektual (IQ), kompetensi profesional guru, dan lingkungan keluarga berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi di SMA N 3 Purwokerto. Hal ini dibuktikan dengan F hitung > F tabel atau 12.262>2.67 dan nilai signifikansi < ɑ atau 0.000 < 0.05. Koefisien determinasi (R^2) sebesar 0.201 yang artinya 20,1% prestasi belajar dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual (IQ), kompetensi profesional guru, dan lingkungan keluarga. Sisanya 79,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.

Indicator indicators of an educational process, one of which is the learning achievement of students. Learning achievement as well as several factors both internal and external factors. One of the internal factors that affect learning achievement is intellectual intelligence (IQ), while external factors that affect learning achievement are the professional competence of teachers and the family environment. This study discusses intellectual intelligence (IQ), professional competence of teachers and the family environment on student achievement in class X economic subjects at SMA N 3 Purwokerto. This study aims to 1) analyze intellectual intelligence (IQ) on the learning perspective of class X students in economics at SMA N 3 Purwokerto; 2) Analyzing the effect of teacher competence on student achievement in class X economic subjects at SMA N 3 Purwokerto; 3) Analyzing the influence of the family environment on the learning achievement of class X students in economics at SMA N 3 Purwokerto.
This research is an explanatory survey research with a quantitative approach. The study population was all students of class X who took economic subjects at SMA N 3 Purwokerto which could accommodate 240 students with a sample of 150 students who were calculated using simple random sampling technique. The research instruments were questionnaires and IQ test results, while the data analysis techniques used were t test, F test, determination coefficient test, multiple linear regression test and classical assumption test.
The results of this study indicate that intellectual intelligence (IQ), teacher professional competence, and the family environment have a positive effect on student achievement in class X economic subjects at SMA N 3 Purwokerto. This is evidenced by F count> F table or 12,262> 2.67 and a significance value <ɑ or 0.000 <0.05. The coefficient of determination (R ^ 2) is 0.201, which means 20.1% of the learning achievement of intellectual intelligence (IQ), the professional competence of teachers, and the family environment. The remaining 79.9% are innovated by other factors which are not true in this study.

5183855472L1C022040Keterkaitan Variabilitas Suhu Permukaan Laut, Angin, dan Kelembapan dengan Curah Hujan Kemarau Basah di Perairan Barat SumatraFenomena kemarau basah merupakan kondisi ketika curah hujan berada di atas normal klimatologis pada periode yang seharusnya musim kemarau. Perairan barat Sumatra dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi laut dan dinamika atmosfer. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola variabilitas spasio-temporal curah hujan, suhu permukaan laut (SPL), angin, dan kelembapan serta keterkaitannya dengan curah hujan pada periode kemarau basah di perairan barat Sumatra tahun 1996–2025. Penelitian menggunakan data bulanan ERA5 Reanalysis v5 dengan resolusi spasial 0,25° × 0,25°, meliputi curah hujan, SPL, angin pada level 850 hPa, dan kelembapan relatif pada level 850 hPa. Identifikasi kemarau basah dilakukan berdasarkan kriteria sifat hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, yaitu curah hujan kategori atas normal (>115% klimatologi) pada Juni–Juli–Agustus (JJA). Analisis variabilitas dilakukan menggunakan anomali dan Empirical Orthogonal Function (EOF), sedangkan keterkaitan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi spasial Spearman pada setiap grid berdasarkan nilai anomali masing-masing variabel pada tahun-tahun yang mengalami kemarau basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemarau basah terjadi pada tahun 1996, 1998, 2010, 2021, dan 2022. Variabilitas curah hujan, SPL, dan kelembapan lebih kuat di bagian selatan, sedangkan angin menunjukkan pola dipol antara wilayah utara dan selatan. Pada tahun kemarau basah, kelembapan menunjukkan korelasi positif paling kuat dengan curah hujan (0,51–0,89). SPL berkorelasi negatif sedang di perairan barat Sumatra (−0,52–−0,59), sedangkan hubungan angin dengan curah hujan di wilayah perairan umumnya lemah atau tidak signifikan. Hasil menunjukkan bahwa kondisi atmosfer lembap merupakan variabel yang menunjukkan keterkaitan paling konsisten.Wet dry season refers to a condition in which rainfall exceeds its climatological normal during what is typically the dry season. The waters west of Sumatra are shaped by interactions between oceanic conditions and atmospheric dynamics. This study analyzes the spatio-temporal variability of rainfall, sea surface temperature (SST), wind, and humidity, and their relationships with rainfall during wet dry seasons in the waters west of Sumatra from 1996 to 2025. Monthly ERA5 reanalysis v5 data at 0.25° × 0.25° resolution were used, covering rainfall, SST, 850 hPa wind, and 850 hPa relative humidity. Wet dry seasons were identified using the rainfall classification of the Indonesian Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics, defined as above-normal rainfall (>115% of climatology) in June–July–August (JJA). Variability was examined through anomalies and Empirical Orthogonal Function analysis, while relationships among variables were assessed using grid-based Spearman spatial correlation applied to the anomaly values of each variable during wet dry years. Wet dry seasons were found in 1996, 1998, 2010, 2021, and 2022. Rainfall, SST, and humidity varied more strongly in the southern area, whereas wind exhibited a dipole pattern between the northern and southern regions. During wet dry years, humidity showed the strongest positive correlation with rainfall (0,51–0,89). SST displayed a moderate negative correlation with rainfall in the waters west of Sumatra (−0,59 to −0,52), while the relationship between wind and rainfall was generally weak or not significant. Overall, humid atmospheric conditions emerged as the variable with the most consistent relationship with rainfall.
5183955475E1A022229PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK MEREK TERKENAL “HANKE” BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS
(Studi Putusan Nomor 2/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst )
Penelitian dilatarbelakangi sengketa pendaftaran merek terkenal "HANKE" antara Junxiong Deng sebagai Penggugat melawan PT HANKE Trading Indonesia selaku Tergugat. Penggugat mengajukan gugatan pembatalan merek Tergugat pada kelas 18 karena dinilai memiliki persamaan pada pokoknya dan diajukan dengan iktikad tidak baik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perlindungan hukum bagi pemegang hak merek terkenal serta menganalisis akibat hukum pembatalan merek berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis dalam Putusan Nomor 2/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst.
Penelitian menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Data bersumber dari studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif untuk disajikan secara deskriptif analitis.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa perlindungan preventif pendaftaran merek belum optimal sehingga Penggugat menempuh upaya perlindungan represif. Majelis Hakim menyatakan bahwa merek Tergugat terbukti memiliki persamaan pada pokoknya secara visual, fonetik, dan konseptual dengan merek terkenal "HANKE" milik Penggugat serta didaftarkan dengan iktikad tidak baik guna membonceng reputasi. Penggugat diakui secara yudisial sebagai pemegang merek terkenal. Merek milik Tergugat dibatalkan sehingga hak eksklusifnya hilang dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual diperintahkan mencoret merek tersebut dari Daftar Umum Merek.
This study was prompted by a dispute over the registration of the well-known trademark “HANKE” between Junxiong Deng, as the Plaintiff, and PT HANKE Trading Indonesia, as the Defendant. The Plaintiff filed a petition to cancel the Defendant’s trademark in Class 18 on the grounds that it was substantially similar and had been filed in bad faith. The objective of this study is to examine the legal protection afforded to holders of well-known trademarks and to analyze the legal consequences of trademark cancellation under Law No. 20 of 2016 on Trademarks and Geographical Indications, as reflected in Judgment No. 2/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst.
This study employs a normative legal method through legislative, conceptual, and case-based approaches. Data were sourced from a literature review and analyzed qualitatively to be presented in a descriptive-analytical manner.
Based on the findings of the investigation and deliberations, it was concluded that preventive protection through trademark registration had not been optimal, leading the Plaintiff to pursue repressive protection measures. The Panel of Judges ruled that the Defendant’s trademark was proven to be substantially similar visually, phonetically, and conceptually to the Plaintiff’s well-known “HANKE” trademark and had been registered in bad faith to free-ride on its reputation. The Plaintiff was judicially recognized as the owner of the well-known trademark. The Defendant’s trademark was invalidated, thereby forfeiting its exclusive rights, and the Indonesian Directorate General of Intellectual Property was ordered to remove the trademark from the General Trademark Register.
5184046717I1D020068HUBUNGAN ANTARA ASUPAN PROTEIN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN MASSA OTOT MAHASISWA PENDIDIKAN JASMANI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANMahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani mempunyai potensi untuk menjadi seorang atlet pada cabang olahraga tertentu. Seorang atlet yang memiliki kebiasaan berolahraga akan mengalami peningkatan massa otot yang lebih besar. Asupan protein dan aktivitas fisik yang teratur menjadi dua faktor utama yang mempengaruhi pembentukan massa otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan protein dan aktivitas fisik dengan massa otot Mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilakukan secara cross sectional pada 49 responden. Sampel diambil secara total sampling. Pengambilan asupan protein dilakukan menggunakan wawancara food recall 2x24 jam, aktivitas fisik menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF) dan massa otot menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Analisis data dilakukan dengan uji statistik Likelihood Ratio. Sebagian besar asupan protein responden termasuk kurang sebesar 77,6%, aktivitas fisik responden termasuk kategori rendah sebesar 42,9% dan massa otot responden termasuk kategori tinggi sebesar 34,7%. Tidak terdapat hubungan antara asupan protein dengan massa otot (p=0,610). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan massa otot (p=0,317). Tidak terdapat hubungan antara asupan protein dan aktivitas fisik dengan massa otot (p>0,05).Students majoring in Physical Education have the potential to become an athlete in certain sports. An athlete who has a habit of exercising will experience a greatar increase in muscle mass. Protein intake and regular physical activity are the two main factors that influence the formation of muscle mass. This study aims to determine the relationship between protein intake and physical activity with muscle mass of Physical Education Students of Jenderal Soedirman University. The study was conducted cross sectionally on 49 respondents The samples was taken by total sampling. Protein intake was taken using a 2x24 hour food recall interview, physical activity using the International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF) questionnaire and muscle mass using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Data analysis was analyzed using the Likelihood Ratio statistical test. Most of respondents protein intake was poor at 77,6%, physical activity was low at 42,9% and muscle mass was high at 34,7%. There is no correlation between protein intake and muscle mass (p=0,610). There is no correlation between physical activity and muscle mass (p=0,317). There was no correlation between protein intake and physical activity with muscle mass (p>0,05).