Artikelilmiahs

Menampilkan 51.821-51.840 dari 51.854 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5182155235G1A021055PENGARUH BERBAGAI MODEL STRES KEKURANGAN WAKTU TIDUR TERHADAP JUMLAH RERATA SEL PIRAMIDAL CA1 HIPOKAMPUS PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus)Latar Belakang : Sleep deprivation adalah kurangnya durasi tidur yang dibutuhkan tubuh yang dapat memengaruhi jam sirkadian pusat dan perifer melalui mekanisme stress yang berdampak pada jumlah rerata sel piramidal CA1 hipokampus. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh berbagai model stres kekurangan waktu tidur terhadap rerata jumlah sel piramidal CA1 hipokampus tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Metode : Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan pendekatan posttest-only with control group design. Jumlah sampel adalah 30 ekor tikus putih jantan galur wistar yang terbagi dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol (K-I), tikus yang tidak diinduksi stres model paradoxical sleep deprivation dengan sleep recovery (K-II), tikus yang diinduksi stress model total sleep deprivation dengan sleep recovery (K-III), tikus yang diinduksi stres model paradoxical sleep deprivation (K-IV), tikus paradoxical sleep deprivation (K-V). Pengambilan sampel organ dilakukan pada hari ke-6 dan ke-11, lalu organ akan diamati secara mikroskopis melalui pengamatan preparat histopatologi. Data dianalisis menggunakan uji parametrik independent sample T-test. Hasil : Uji independent sample T-test kelompok kontrol terhadap kelompok PSD+SR, TSD+SR, PSD, dan TSD yakni 0,432; 0,879; 0,243; dan 0,043. Kesimpulan : Pemberian berbagai model stres kekurangan waktu tidur dapat berpengaruh terhadap rerata jumlah sel piramidal CA1 hipokampus pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus).Background: Sleep deprivation is a condition of insufficient sleep duration required by the body, which may affect central and peripheral circadian rhythms through stress mechanisms, thereby impacting the mean number of hippocampal CA1 pyramidal cells. Objective: To determine the effect of various sleep deprivation stress models on the mean number of hippocampal CA1 pyramidal cells in male white rats (Rattus norvegicus). Methods: This study was a true experimental study using a posttest-only with control group design. A total of 30 male Wistar rats were divided into five groups: control group (K-I), rats subjected to paradoxical sleep deprivation with sleep recovery (K-II), rats subjected to total sleep deprivation with sleep recovery (K-III), rats subjected to paradoxical sleep deprivation (K-IV), and rats subjected to total sleep deprivation (K-V). Organ samples were collected on days 6 and 11, and the organs were observed microscopically through histopathological examination. Data were analyzed using the independent sample t-test. Results: The independent sample t-test results comparing the control group with the PSD+SR, TSD+SR, PSD, and TSD groups were 0.432, 0.879, 0.243, and 0.043, respectively. Conclusion: Various sleep deprivation stress models may affect the mean number of hippocampal CA1 pyramidal cells in male white rats (Rattus norvegicus).
5182255244A0A021055IMPLEMENTASI PENYULUHAN BERBASIS DEMONSTRASI PADA KWT
SETIATANI DALAM BUDIDAYA TANAMAN CAISIM (Brassica juncea L.)
DI DESA KARANGRAU KECAMATAN BANYUMAS
Penyuluhan pertanian merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan inovasi budidaya. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah penyuluhan berbasis demonstrasi karena memberikan kesempatan kepada petani untuk memahami materi melalui praktik secara langsung. Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis implementasi penyuluhan berbasis demonstrasi pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Setiatani dalam budidaya tanaman caisim (Brassica juncea L.) di Desa Karangrau, Kecamatan Banyumas, serta mendeskripsikan proses pelaksanaannya mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui metode partisipasi aktif dengan pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan data sekunder. Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pelaksanaan penyuluhan. Hasil menunjukkan bahwa penyuluhan berbasis demonstrasi efektif meningkatkan pemahaman anggota KWT Setiatani terhadap teknik budidaya caisim melalui pembelajaran praktis secara langsung, mulai dari persiapan lahan, penyemaian, penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan. Pelaksanaan penyuluhan didukung oleh komunikasi dua arah, materi yang mudah dipahami, perencanaan yang terstruktur, partisipasi anggota, serta dukungan anggaran pemerintah. Namun, metode ini memiliki keterbatasan berupa kebutuhan waktu, alat, dan bahan yang relatif besar serta masih terdapat kendala partisipasi anggota. Oleh karena itu, penyuluhan demonstrasi perlu dilaksanakan secara berkala dan didukung dengan pemanfaatan media digital serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk meningkatkan keberlanjutan kegiatan budidaya caisim di KWT Setiatani.Agricultural extension is one of the efforts to improve farmers’ knowledge and skills in adopting cultivation innovations. One method that can be applied is demonstration-based extension, as it provides farmers with opportunities to understand the material through direct practice. This study aimed to analyze the implementation of demonstration-based agricultural extension for the cultivation of mustard greens (Brassica juncea L.) at the Setiatani Women Farmers Group (KWT) in Karangrau Village, Banyumas District, as well as to describe its implementation process. The activity was conducted through active participation, with data collected through observation, interviews, documentation, and secondary data. SWOT analysis was used to identify the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of the extension implementation. The results showed that demonstration-based extension was effective in improving KWT Setiatani members’ understanding of mustard green cultivation through direct practical learning, starting from land preparation, seedling, planting, maintenance, to harvesting. The implementation was supported by two-way communication, easily understood materials, structured planning, member participation, and government budget support. However, the method also faced several limitations, including the need for considerable time, equipment, and materials, as well as limited member participation. Therefore, demonstration-based extension should be conducted regularly and supported by the use of digital media and adequate facilities and infrastructure to improve the sustainability of mustard green cultivation activities at KWT Setiatani.
5182355245F1A022102Resiliensi Sosial Pengemudi Transportasi Berbasis Aplikasi di Purwokerto dalam Menghadapi Kerentanan Ekonomi Gig Perkembangan ekonomi gig melalui platform digital membuka kesempatan kerja yang lebih luas di industri transportasi berbasis aplikasi, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian yang mendorong pengemudi membangun strategi untuk mempertahankan keberlangsungan mata pencaharian dan mengubah kondisi yang merugikan. Penelitian ini bertujuan mengkaji bentuk prekarisasi yang dialami pengemudi, memahami pemaknaan mereka terhadap kondisi kerja dalam kehidupan sehari-hari, serta menganalisis resiliensi sosial yang dibentuk dalam menghadapi kerentanan ekonomi gig. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan enam pengemudi Grab, Gojek, dan Maxim di Purwokerto yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik fenomenologi Clark Moustakas. Analisis menggunakan teori Fenomenologi Alfred Schutz, konsep prekariat Guy Standing, serta konsep resiliensi sosial Keck dan Sakdapolrak. Penelitian menunjukkan berbagai bentuk prekarisasi, meliputi ketidakstabilan pendapatan, ketidakadilan komisi, minimnya perlindungan sosial dan keselamatan kerja, kaburnya kontrak kerja, pengendalian sistem aplikator, ketiadaan pelatihan dan jenjang karier, beban modal, serta minimnya ruang representasi dan aspirasi. Pengemudi memaknai kondisi tersebut sesuai pengalaman dan kondisi masing-masing, kemudian membangun resiliensi sosial melalui perpanjangan jam kerja, pengoptimalan lokasi dan waktu operasional, dukungan komunitas, serta aksi demonstrasi. Resiliensi sosial terbentuk melalui kemampuan individu untuk bertahan dan beradaptasi serta tindakan kolektif dalam menghadapi kondisi kerja yang menjadi sumber kerentanan.The growth of the gig economy through digital platforms has created more job opportunities in the app-based transportation industry. However, it also introduces uncertainties that force drivers to build strategies to maintain their livelihoods and cope with difficult working conditions. This study aims to examine the forms of precarity experienced by drivers, understand how they make sense of their daily work conditions, and analyze the social resilience they build to face gig economy vulnerabilities. Using a qualitative approach, this research focuses on six drivers from Grab, Gojek, and Maxim in Purwokerto, selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews, observation, and documentation, then analyzed using Clark Moustakas’s phenomenological method. The analysis uses Alfred Schutz’s phenomenology, Guy Standing’s precariat concept, and Keck and Sakdapolrak’s social resilience framework. The results show various forms of precarity, including income instability, unfair commission rates, a lack of social protection and safety, unclear work contracts, platform control, no training or career paths, driver-covered operational costs, and limited spaces to voice aspirations. Drivers interpret these conditions based on their personal experiences, then build social resilience by extending work hours, optimizing operating times and locations, relying on community support, and joining protests. Ultimately, social resilience is formed through individual coping strategies as well as collective action to face vulnerable work conditions.
5182453484A1F022088ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN ANAK-ANAK DAN UPAYA PENGEMBANGAN PRODUK PERMEN LIDAH BUAYA PADA UMKM ALZAVERA PURBALINGGA MENGGUNAKAN METODE KONJOIN DAN SCAMPER
UMKM Alzavera yang berlokasi di Tumanggal, Kabupaten Purbalingga, memproduksi permen lidah buaya (Aloe vera) secara komersial sejak tahun 2024. Produk ini menghadapi sejumlah permasalahan, antara lain belum adanya diferensiasi yang jelas dibandingkan permen konvensional di pasaran, kemasan yang kurang menarik bagi segmen anak-anak, serta harga yang belum sesuai dengan daya beli konsumen anak sekolah dasar. Alzavera saat ini memasarkan produk dalam kemasan toples dengan harga Rp40.000 dan Rp10.000, namun pengembangannya belum difokuskan pada segmen pasar tertentu. Mengingat lokasi produksi yang berdekatan dengan sekolah dasar, terdapat peluang pasar yang cukup nyata pada segmen anak-anak, sehingga diperlukan pengembangan produk yang lebih terarah berdasarkan preferensi konsumen.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai utilitas dan tingkat kepentingan atribut produk, menentukan kombinasi atribut terbaik berdasarkan preferensi konsumen anak-anak menggunakan analisis konjoin, serta merumuskan strategi pengembangan produk melalui pendekatan SCAMPER. Penelitian dilaksanakan selama empat bulan dari Desember 2025 hingga Maret 2026, dengan responden 100 siswa kelas 6 SD di wilayah Kecamatan Pengadegan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner disusun menggunakan pendekatan full-profile conjoint analysis berbantuan IBM SPSS Statistics 26 dengan empat atribut, yaitu variasi harga per butir, bentuk permen, cita rasa, dan desain kemasan, yang direduksi menjadi 9 stimuli melalui orthogonal fractional factorial design. Hasil uji instrumen menunjukkan seluruh item valid (r hitung 0,398–0,689) dan reliabel (Cronbach's Alpha = 0,744).

Analisis konjoin menunjukkan taraf atribut yang paling disukai konsumen anak-anak adalah harga Rp2.000 per 4 butir (utilitas = 0,186), bentuk buah (utilitas = 0,139), rasa buah (utilitas = 0,162), dan kemasan bergambar (utilitas = 0,261), dengan urutan tingkat kepentingan atribut yaitu bentuk (29,174%), harga (28,846%), kemasan (24,016%), dan rasa (17,965%). Model dinyatakan valid berdasarkan nilai Pearson's R sebesar 0,997 dan Kendall's Tau sebesar 0,944 (sig. = 0,000). Strategi pengembangan produk menggunakan metode SCAMPER menghasilkan empat rekomendasi: Substitute berupa penjualan eceran seharga Rp2.000 per 4 butir dalam kemasan sachet berbahan polipropilen (PP) atau oriented polypropylene (OPP), Combine berupa penggabungan beberapa rasa buah dalam satu kemasan, Adapt berupa penyesuaian cetakan permen menjadi bentuk buah beserta proses pengeringannya, serta Modify berupa pembaruan logo, jenis huruf, dan tagline kemasan agar lebih menarik bagi anak-anak.
UMKM Alzavera, located in Tumanggal, Purbalingga Regency, has commercially produced aloe vera candy since 2024. This product faces a number of problems, including the absence of clear differentiation compared to conventional candies on the market, packaging that is less appealing to the children's segment, and pricing that does not yet align with the purchasing power of elementary school aged consumers. Alzavera currently markets its products in jar packaging priced at Rp40,000 and Rp10,000, but its development has not been focused on any particular market segment. Given that the production location is close to an elementary school, there is a genuine market opportunity in the children's segment, making it necessary to develop a more targeted product based on consumer preferences.
This study aims to analyze the utility values and importance levels of product attributes, determine the best combination of attributes based on children's consumer preferences using conjoint analysis, and formulate a product development strategy through the SCAMPER approach. The research was conducted over four months, from December 2025 to March 2026, with 100 sixth grade elementary school students in the Pengadegan Subdistrict area selected as respondents using a purposive sampling technique. The questionnaire was designed using a full profile conjoint analysis approach assisted by IBM SPSS Statistics 26, with four attributes (price variation per piece, candy shape, flavor, and packaging design) reduced to 9 stimuli through an orthogonal fractional factorial design. Instrument testing results showed that all items were valid (r count 0.398 to 0.689) and reliable (Cronbach's Alpha = 0.744).
Conjoint analysis showed that the most preferred attribute levels among child consumers were a price of Rp2,000 per 4 pieces (utility = 0.186), fruit shape (utility = 0.139), fruit flavor (utility = 0.162), and pictorial packaging (utility = 0.261), with the order of attribute importance being shape (29.174%), price (28.846%), packaging (24.016%), and flavor (17.965%). The model was declared valid based on a Pearson's R value of 0.997 and Kendall's Tau of 0.944 (sig. = 0.000). The product development strategy using the SCAMPER method produced four recommendations. Substitute, in the form of retail sales at Rp2,000 per 4 pieces in sachet packaging made of polypropylene (PP) or oriented polypropylene (OPP). Combine, in the form of combining several fruit flavors within a single package. Adapt, in the form of adjusting the candy mold into fruit shapes along with the corresponding drying process. Modify, in the form of updating the logo, font, and packaging tagline to make it more appealing to children.
5182555241A1A021085Analisis Persepsi Petani Zilenial Terhadap Keberlanjutan Program Takara Merdaya di Kabupaten BanyumasProgram Takara Merdaya merupakan program pemberdayaan petani yang dilaksanakan untuk mendukung regenerasi petani serta meningkatkan kapasitas petani zilenial. Kendala dalam pelaksanaan program antara lain dalam pemilihan petani zilenial kurang selektif sehingga terdapat perbedaan tingkat antusiasme. Masalah tersebut mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan tingkat persepsi atau tanggapan petani zilenial sehingga memengaruhi minat dan keaktifan mereka pada program tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik petani zilenial peserta Program Takara Merdaya, mengetahui persepsi petani terhadap program, serta menganalisis hubungan karakteristik petani dengan persepsi terhadap Program Takara Merdaya.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Banyumas yang meliputi Kecamatan Sumbang, Baturraden, Cilongok, dan Sumpiuh yang ditentukan dengan teknik purposive. Objek pada penelitian ini adalah persepsi petani zilenial terhadap keberlanjutan Program Takara Merdaya yang diukur dengan indikator penyerapan terhadap rangsangan, pengertian atau pemahaman, dan penilaian atau evaluasi. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah survei dengan total sampel 42 petani. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara deskriptif, uji proporsi, dan uji korelasi Rank Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta Program Takara Merdaya didominasi oleh petani berusia 28–30 tahun, berpendidikan SMA/sederajat, memiliki pengalaman berusahatani kurang dari satu tahun, dan belum memiliki tanggungan keluarga. Persepsi petani zilenial terhadap Program Takara Merdaya berada pada kategori sangat baik dengan persentase 87,18%, dan hasil uji proporsi menunjukkan bahwa lebih dari 50% peserta memiliki persepsi baik. Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa pengalaman melakukan usahatani memiliki hubungan positif dan signifikan dengan persepsi, sedangkan umur, tingkat pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan persepsi petani terhadap Program Takara Merdaya.
Program Takara Merdaya was an agricultural empowerment program implemented to support farmer regeneration and enhance the capacity of zilenial farmers. However, the program encountered challenges in participant selection, which resulted in varying levels of enthusiasm among farmers. These differences indicated that farmers had diverse perceptions of the program, which affected their interest and participation. Therefore, this study aimed to describe the characteristics of zilenial farmers participating in the Takara Merdaya Program, determine their perceptions of the program, and analyze the relationship between farmers’ characteristics and their perceptions.
The research was conducted in Banyumas Regency, covering the districts of Sumbang, Baturraden, Cilongok, and Sumpiuh, which were selected purposively. The object of the study was the perception of zilenial farmers toward the sustainability of the Takara Merdaya Program, measured through indicators of stimulus absorption, understanding, and evaluation. The study employed a survey method involving 42 farmers as respondents. Data were collected through interviews using questionnaires that had been tested for validity and reliability. The data were analyzed descriptively using proportion tests and Spearman Rank correlation analysis.
The results showed that most participants were farmers aged 28–30 years, had senior high school education, possessed less than one year of farming experience, and had no family dependents. Farmers’ perceptions of the Takara Merdaya Program were categorized as very good, with a percentage of 87.18%, and the proportion test indicated that more than 50% of participants had positive perceptions. The Spearman Rank correlation analysis revealed that farming experience had a positive and significant relationship with perception, while age, education level, and number of family dependents had no significant relationship with farmers’ perceptions of the Takara Merdaya Program.
5182654950K1B019015REGRESI LOGISTIK BINER DAN APLIKASINYA PADA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI STATUS KELULUSAN MAHASISWA FMIPA UNSOED TAHUN 2024
Prestasi akademik yang tercermin melalui status kelulusan merupakan indikator penting dalam mengukur mutu pendidikan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model persamaan terbaik regresi logistik biner, mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan, serta menginterpretasikan nilai odds ratio terhadap status kelulusan mahasiswa FMIPA Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) tahun 2024. Status kelulusan diklasifikasikan ke dalam dua kategori biner, yaitu Cumlaude (Y = 1) dan Tidak Cumlaude (Y = 0). Data primer diperoleh melalui kuesioner dan dokumentasi akademik dengan sampel sebanyak 142 lulusan yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dan teknik purposive sampling. Variabel prediktor yang dianalisis mencakup jenis kelamin, IPK, lama studi, status beasiswa, keaktifan organisasi, pekerjaan orang tua, dan riwayat penyakit. Hasil seleksi bertahap (stepwise backward elimination) menghasilkan model terbaik dengan nilai Akaike Information Criterion terkecil (AIC = 16,000) yang mempertahankan empat variabel bebas: IPK, lama studi, status beasiswa, dan keaktifan organisasi. Uji kesesuaian model (Deviance dan Pearson Chi-Square, p = 1,0000) membuktikan model sangat sesuai (fit) dengan data observasi. Uji serentak risio likelihood menunjukkan bahwa variabel terpilih berpengaruh signifikan secara simultan (G = 119,0036; p < 0,001). Peningkatan IPK (β = 382,0860) dan kepemilikan beasiswa terbukti menjadi faktor pendorong utama kelulusan cumlaude, sedangkan masa studi lebih dari 4 tahun (β = -36,4102, OR ≈ 0) serta ketidakaktifan dalam organisasi (β = -75,3514, OR ≈ 0) secara mutlak menurunkan peluang mahasiswa memperoleh predikat cumlaude.Academic achievement reflected in graduation status is a crucial indicator of higher education quality. This study aims to determine the best binary logistic regression model, identify determining factors, and interpret the odds ratio values regarding the graduation status of FMIPA Jenderal Soedirman University (UNSOED) graduates in 2024. The graduation status is classified into two binary categories: Cum Laude (Y = 1) and Non-Cum Laude (Y = 0). Data was collected through questionnaires and academic documentation with a sample of 142 graduates selected via purposive sampling based on the Slovin formula. Seven independent variables were analyzed: gender, GPA, study duration, scholarship status, organizational involvement, parents' occupation, and medical history. The stepwise backward elimination procedure yielded the optimal model with the lowest Akaike Information Criterion (AIC = 16.000), retaining four significant predictors: GPA, study duration, scholarship status, and organizational involvement. Goodness-of-fit tests via Deviance and Pearson Chi-Square confirmed that the model fits the empirical data well (p = 1.0000). The simultaneous Likelihood Ratio Test demonstrated a significant collective effect (G = 119.0036; p < 0.001). Higher GPA (β = 382.0860) and receiving scholarships substantially increased the odds of achieving Cum Laude status, whereas a study duration exceeding 4 years (β = -36.4102, OR ≈ 0) and organizational passivity (β = -75.3514, OR ≈ 0) significantly reduced the likelihood of graduating Cum Laude.
5182754514A1D022231PENGARUH ZPT AUKSIN DAN PUPUK KALIUM TERHADAP HASIL MELON (Cucumis melo L.) PADA SISTEM HIDROPONIK NUTRIENT FILM TECHNIQUE (NFT)Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan komoditas tanaman semusim yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia karena memiliki kandungan vitamin dan kalori yang penting untuk kesehatan, memiliki rasa yang manis dan tekstur yang renyah, serta warna kulit dan daging buah yang bervariasi tergantung dari varietas dengan aroma yang khas. Peningkatan produksi melon menjadi fokus penting pada sektor pertanian untuk memenuhi permintaan pasar, salah satunya dengan budidaya hidroponik yang lebih efisien yaitu penerapan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ZPT auksin dan pupuk kalium terbaik terhadap hasil melon pada hidroponik NFT. Penelitian dilaksanakan di screenhouse Dusun Dua, Karanglewas, Banyumas, pada November 2025 sampai Februari 2026. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ZPT auksin (0 ml/L, 1 ml/L, dan 3 ml/L) sedangkan faktor kedua yaitu konsentrasi pupuk kalium (0 g/L, 4 g/L, 8 g/L, dan 12 g/L). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ZPT auksin memberikan pengaruh pada total padatan terlarut buah. Pupuk kalium memberikan pengaruh nyata pada bobot buah dan berpengaruh sangat nyata pada total padatan terlarut buah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan ZPT auksin dan pupuk kalium dengan konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan mutu buah melon pada sistem hidroponik NFT.Melon plants (Cucumis melo L.) are a seasonal crop highly favored by the Indonesian people because they contain vitamins and calories important for health, have a sweet taste and crunchy texture, and their skin and flesh colors vary depending on the variety with a distinctive aroma. Increasing melon production has become an important focus in the agricultural sector to meet market demand, one of which is thru more efficient hydroponic cultivation, specifically the application of the Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic system. This research aims to determine the best concentration of auxin plant growth regulator (PGR) and potassium fertilizer on melon yield in NFT hydroponics. The study was conducted in the screenhouse of Dusun Dua, Karanglewas, Banyumas, from November 2025 to February 2026. The research used a factorial Randomized Block Design (RBD) with two factors. The first factor was the concentration of auxin plant growth regulator (0 ml/L, 1 ml/L, and 3 ml/L), while the second factor was the concentration of potassium fertilizer (0 g/L, 4 g/L, 8 g/L, and 12 g/L). The research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results showed that auxin plant growth regulator had an effect on the total dissolved solids of the fruit. Potassium fertilizer had a significant effect on fruit weight and a very significant effect on the total dissolved solids of the fruit. This study indicates that the selection of auxin plant growth regulator and potassium fertilizer with the appropriate concentrations can improve the quality of melon fruit in the NFT hydroponic system.
5182855246C1L019012PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE BERBANTUAN MEDIA COUPLE CARD TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMIPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dipengaruhi oleh pembelajaran yang diperolehnya, pembelajaran diukur dengan hasil belajar yang baik. Salah satu alternatif yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar adalah think pair share berbantuan media couple card dan keaktifan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share berbantuan media couple card dan keaktifan terhadap hasil belajar ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif pendekatan quasi eksperimen non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPS tahun ajaran 2025/2026 pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Purwokerto yang berjumlah 248 siswa. Sampel penelitian berjumlah 71 siswa, terdiri atas kelas XI F-10 sebagai kelas eksperimen sebanyak 36 siswa dan XI F-11 sebagai kelas kontrol sebanyak 35 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan pretest dan posttest untuk mengukur hasil belajar serta kuesioner untuk mengukur keaktifan belajar. Analisis data menggunakan independent sample t-test dan analisis regresi. Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think Pair Share berbantuan media couple card dengan siswa yang menggunakan Teacher Centered Learning. (2) Keaktifan belajar berpengaruh positif terhadap hasil belajar ekonomi siswa yang mengikuti model pembelajaran Think Pair Share berbantuan media couple card.This study is motivated by the importance of the quality of Human Resources (HR), which is influenced by the learning experiences acquired; learning quality is measured by positive learning outcomes. One alternative method used to improve learning outcomes is the Think-Pair-Share cooperative learning model, supported by "couple card" media and student learning engagement. This study aims to determine the effect of the Think-Pair-Share cooperative learning model supported by couple card media and learning engagement on economics learning outcomes. This is a quantitative study employing a quasi-experimental, non-equivalent control group design. The population consists of 248 Grade XI Social Sciences (IPS) students taking Economics at SMA Negeri 3 Purwokerto during the 2025/2026 academic year. The sample comprises 71 students: Class XI F-10 (36 students) served as the experimental group, while Class XI F-11 (35 students) served as the control group. A non-probability sampling method specifically purposive sampling was used to select the participants. Data were collected via pre-tests and post-tests to measure learning outcomes and through questionnaires to assess learning engagement. Data analysis was conducted using an independent sample t-test and regression analysis. The analysis results indicate that: (1) There is a difference in economics learning outcomes between students taught using the Think Pair Share cooperative learning model (supported by couple card media) and those taught using Teacher Centered Learning. (2) Learning engagement has a positive effect on the economics learning outcomes of students participating in the Think-Pair-Share learning model supported by couple card media.
5182955247F1B022073Evaluasi Pengembangan Bandara Jenderal Besar Soedirman sebagai Bandara KomersialBandara Jenderal Besar Soedirman dikembangkan untuk meningkatkan konektivitas wilayah, mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Jawa Tengah bagian selatan. Namun, pemanfaatannya belum optimal, ditandai dengan penurunan jumlah penerbangan hingga terhentinya penerbangan komersial berjadwal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengembangan Bandara Jenderal Besar Soedirman sebagai bandara komersial menggunakan Model Evaluasi Kesenjangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan systematic thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara perencanaan dan kondisi aktual dalam pengembangan bandara, yang ditandai oleh keterbatasan fasilitas dan cakupan pelayanan, rendahnya permintaan penerbangan, serta belum optimalnya fungsi bandara sebagai pengumpan. Meskipun dukungan anggaran pembangunan telah tersedia, masih terdapat keterbatasan sumber daya manusia dan dukungan lintas sektor. Koordinasi antarpemangku kepentingan juga mengalami stagnasi, sementara berbagai upaya yang dilakukan belum mampu mendorong keberlanjutan penerbangan reguler. Kondisi tersebut menyebabkan pemanfaatan bandara masih didominasi penerbangan charter sehingga manfaat yang diharapkan, terutama peningkatan konektivitas dan aktivitas ekonomi regional, belum terwujud secara optimal. Secara keseluruhan, pengembangan Bandara Jenderal Besar Soedirman sebagai bandara komersial belum berjalan optimal karena belum terbentuknya permintaan penerbangan yang memadai untuk mendukung keberlanjutan operasional dan pencapaian tujuan pengembangannya.Jenderal Besar Soedirman Airport was developed to improve regional connectivity and support economic growth and tourism in southern Central Java. However, its utilization has not been optimal, as indicated by declining flight numbers and the discontinuation of scheduled commercial flights. This study aims to evaluate the development of Jenderal Besar Soedirman Airport as a commercial airport using the Discrepancy Evaluation Model. This study employed a qualitative approach with a case study method. Data were collected through interviews, observations, and documentation and analyzed using systematic thematic analysis. The findings reveal discrepancies between planning and actual conditions in the airport's development, including limited facilities and service coverage, low air travel demand, and the suboptimal functioning of the airport as a feeder airport. Although development funding has been provided, limitations remain in human resources and cross-sectoral support. Coordination among stakeholders has also stagnated, while various efforts have yet to sustain regular commercial flights. Consequently, airport utilization remains dominated by charter flights, and the expected benefits, particularly improved connectivity and regional economic activity, have not been fully realized. Overall, the development of Jenderal Besar Soedirman Airport as a commercial airport has not been optimal due to insufficient air travel demand to support sustainable operations and achieve its development objectives.
5183055248L1C019043ANALISIS KESESUAIAN LOKASI BUDIDAYA KEKERANGAN DI PERAIRAN SEGARA ANAKAN CILACAPPerairan Segara Anakan, Cilacap, memiliki potensi ekologis tinggi namun rentan terhadap tekanan antropogenik, dengan pemanfaatan kerang yang masih bergantung pada tangkapan alami. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis kekerangan, menganalisis parameter lingkungan, dan mengevaluasi kesesuaian lokasi budidaya di 6 stasiun pengamatan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan Ekman Grab, sedangkan analisis kelayakan lokasi menggunakan metode weighted sum terhadap 13 parameter. Ditemukan 9 spesies kekerangan, dengan kerang tahu (Meretrix meretrix) dan kerang bakau (Geloina erosa) memiliki persebaran terluas. Kelimpahan kekerangan berkisar 16–96 ind/m² dan tertinggi di Stasiun 2. Kualitas air mencerminkan estuari heterogen dengan salinitas 2–27 ppt dan DO 1,09–3,72 mg/L. Hasil pembobotan menempatkan Stasiun 2 (Sungai Sapuregel) pada kategori S2 (Sesuai) dengan skor 76, serta Stasiun 3 (Sungai Donan) pada kategori S3 (Sesuai Bersyarat) dengan skor 74. Stasiun 1, 4, 5, dan 6 tergolong TS1 (Tidak Sesuai). Budidaya disarankan berfokus pada pembesaran spesies euryhaline (M. meretrix dan G. erosa) menggunakan metode suspended culture.Segara Anakan waters, Cilacap, possess high ecological potential but remain vulnerable to anthropogenic pressures, with shellfish exploitation still relying on wild catches. This study aimed to identify shellfish species, analyze environmental parameters, and evaluate location suitability for aquaculture across 6 sampling stations. Sampling was conducted using an Ekman Grab, while site suitability was evaluated using the weighted sum method based on 13 parameters. Nine shellfish species were identified, with Asian hard clam (Meretrix meretrix) and mud clam (Geloina erosa) showing the widest distribution. Shellfish abundance ranged from 16 to 96 ind/m², peaking at Station 2. Water quality reflected a heterogeneous estuarine system with salinity ranging from 2 to 27 ppt and dissolved oxygen levels between 1.09 and 3.72 mg/L. Suitability scoring categorized Station 2 (Sapuregel River) as S2 (Suitable) with a score of 76, and Station 3 (Donan River) as S3 (Conditionally Suitable) with a score of 74. Stations 1, 4, 5, and 6 were classified as TS1 (Not Suitable). Aquaculture is recommended to focus on the grow-out stage of euryhaline species (M. meretrix and G. erosa) using suspended culture methods.
5183154773B1A022099Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Rumput Israel (Asystasia gangetica) terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidisJerawat (acne vulgaris) adalah peradangan/inflamasi yang terjadi di kulit yang ditandai dengan bintik merah. Jerawat disebabkan berbagai faktor, salah satunya yaitu kolonisasi bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan antibiotik untuk mengatasi jerawat seringkali menimbulkan efek samping seperti resistensi antibiotik, sehingga diperlukan alternatif antibakteri alami yang efektif untuk pengobatan, seperti menggunakan ekstrak tanaman. Ekstrak tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat yaitu rumput israel (Asystasia gangetica). Namun, belum terdapat penelitian spesifik mengenai aktivitas antibakteri A. gangetica terhadap C. acnes dan S. epidermidis. Berdasarkan analisis di atas, maka permasalahan yang dapat dikaji yaitu apakah ekstrak daun A. gangetica dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat dan berapa konsentrasi optimal ekstrak daun yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun A. gangetica terhadap C. acnes dan S. epidermidis serta menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC)
Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dan survei untuk megetahui nilai MIC, MBC, dan kandungan senyawa bioaktif yang terdapat pada daun A. gangetica. Penelitian ini menggunakan 2 jenis variabel, antara lain variabel bebas yaitu konsentrasi ekstrak daun A. gangetica (1000; 500; 250; 125; 62,5; 31,25; 15,625; dan 7,8 mg/mL), variabel terikatnya yaitu aktivitas penghambatan terhadap bakteri C. acnes dan S. epidermidis dan kandungan senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak daun A. gangetica. Parameter penelitian ini terdiri dari 2 jenis, antara lain parameter utama yaitu nilai MIC dan MBC serta parameter pendukungnya yaitu nilai absorbansi, jumlah koloni, dan jenis senyawa bioaktif dalam ekstrak dan stabilitasnya terhadap pemanasan.Penelitian diawali dengan pembuatan simplisia daun A. gangetica, kemudian diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dan etil asetat dan diuji kemampuan antibakterinya dengan metode difusi cakram, dan ditentukan nilai MIC dan MBC. Kandungan senyawa bioaktif ekstrak A. gangetica selanjutnya dianalisis dengan uji fitokimia. Seluruh data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif.
Ekstrak daun A. gangetica memiliki aktivitas antibakteri terhadap C. acnes dan S. epidermidis. Rata-rata indeks zona hambat terhadap C. acnes sebesar 1,34, sedangkan terhadap S. epidermidis sebesar 1,58. Nilai MIC ekstrak terhadap kedua spesies bakteri uji terdapat pada konsentrasi 125 mg/mL, tanpa memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri uji. Ekstrak daun A. gangetica memiliki berbagai senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri, antara lain saponin, tanin, alkalod, flavonoid, dan terpenoid. Senyawa bioaktif pada ekstrak daun A. gangetica bersifat termolabil. Hal ini ditunjukkan pada penurunan indeks zona hambat yang terbentuk setelah ekstrak dipanaskan pada suhu 80°C selama 30 menit. Ekstrak yang tidak dipanaskan menghasilkan indeks zona hambat terhadap C. acnes sebesar 1,29, sedangkan pada ekstrak yang dipanaskan sebesar 0,89 dan pada S. epidermidis, ekstrak tidak dipanaskan menghasilkan indeks zona hambat sebesar 1,28 sedangkan pada ekstrak yang dipanaskan sebesar 0,9.
Acne vulgaris is an inflammatory skin disorder characterized by the presence of erythematous papules or red lesions. Acne is caused by multiple factors, one of which is the colonization of Cutibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. The use of antibiotics for acne treatment often leads to adverse effects, particularly the development of antibiotic resistance. Therefore, effective natural antibacterial agents, such as plant extracts, are needed as alternative therapeutic options. One plant with potential antibacterial activity is rumput israel (Asystasia gangetica). However, there has been no specific study investigating the antibacterial activity of A. gangetica against C. acnes and S. epidermidis. Based on this background, the research questions addressed in this study are whether A. gangetica leaf extract is capable of inhibiting the growth of acne-causing bacteria and what concentration of the extract is optimal for inhibiting their growth. Accordingly, this study aimed to evaluate the antibacterial activity of A. gangetica leaf extract against C. acnes and S. epidermidis, as well as to determine its Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC).
This study employed an experimental design combined with a survey approach to determine the MIC, MBC, and the bioactive compounds present in A. gangetica leaves. Two types of variables were used in this study. The independent variable was the concentration of A. gangetica leaf extract (1000; 500; 250; 125; 62,5; 31,25; 15,625; dan 7,8 mg/mL), while the dependent variables were the inhibitory activity against C. acnes and S. epidermidis and the bioactive compounds contained in the leaf extract. The parameters of this study consisted of two categories: the primary parameters, namely the MIC and MBC values, and the supporting parameters, absorbance values, colony count, the types of bioactive compounds present in the extract, and their thermal stability upon heating. The study began with the preparation of A. gangetica leaf simplicia, followed by extraction using 96% ethanol and ethyl acetate as solvents. The antibacterial activity of the extracts was evaluated using the disc diffusion method, after which the MIC and MBC values were determined. The bioactive compounds in the A. gangetica leaf extracts were subsequently analyzed through phytochemical screening. All data obtained were analyzed descriptively.
The leaf extract of A. gangetica exhibited antibacterial activity against both C. acnes and S. epidermidis. The mean inhibition zone diameter against C. acnes was 1,34, while that against S. epidermidis was 1,58. The MIC of the extract against both bacterial species was 125 mg/mL; however, the extract did not demonstrate bactericidal activity against either test organism. Phytochemical analysis revealed that A. gangetica leaf extract contains several bioactive compounds with potential antibacterial properties, including saponins, tannins, alkaloids, flavonoids, and terpenoids. These bioactive compounds were found to be thermolabile, as evidenced by the reduction in inhibition zone diameter following heating of the extract at 80°C for 30 minutes. The unheated extract produced an inhibition zone diameter of 1.29 against C. acnes, whereas the heated extract produced a diameter of 0.89. Similarly, against S. epidermidis, the unheated extract produced an inhibition zone diameter of 1.28, while the heated extract produced a diameter of 0.9.
5183255249C1L019018PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TGT BERBANTUAN LUDO ECONOMY DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP EKONOMI SISWA KELAS X SMAN 3 PURWOKERTOPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman konsep ekonomi siswa yang belum optimal akibat materi kurva yang abstrak dan dominasi metode ceramah satu arah di sekolah. Salah satu alternatif yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman konsep tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media Ludo Economy dan kemandirian belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemahaman konsep ekonomi antara siswa yang menggunakan model TGT berbantuan Ludo Economy dengan siswa yang menggunakan pendekatan Teacher-Centered Learning (TCL), serta menganalisis pengaruh kemandirian belajar terhadap pemahaman konsep ekonomi pada kelas eksperimen. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif pendekatan quasi experiment dengan rancangan Posttest-Only Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X Fase E tahun ajaran 2025/2026 pada mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 3 Purwokerto yang berjumlah 396 siswa. Sampel penelitian berjumlah 63 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri atas kelas XE-9 sebagai kelas eksperimen sebanyak 30 siswa dan kelas XE-8 sebagai kelas kontrol sebanyak 33 siswa. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes pilihan ganda (posttest) untuk mengukur pemahaman konsep ekonomi serta kuesioner angket tertutup untuk mengukur tingkat kemandirian belajar siswa. Analisis data menggunakan uji independent sample t-test dan analisis regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Terdapat perbedaan pemahaman konsep ekonomi yang signifikan antara siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan media Ludo Economy dengan siswa yang menggunakan pendekatan TCL, di mana rata-rata kelas eksperimen (83,08) mengungguli kelas kontrol (60,14). (2) Kemandirian belajar secara individual terbukti tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman konsep ekonomi siswa yang mengikuti model pembelajaran TGT berbantuan media Ludo Economy karena perannya tergantikan oleh aktivitas diskusi kelompok yang sangat aktif di dalam kelas.This study is motivated by the sub-optimal understanding of students' economic concepts due to abstract curve materials and the dominance of one-way lecture methods in schools. One alternative method used to improve conceptual understanding is the Teams Games Tournament (TGT) cooperative learning model supported by Ludo Economy media and learning independence. This study aims to determine the difference in the understanding of economic concepts between students taught using the TGT model assisted by Ludo Economy and those taught using the Teacher-Centered Learning (TCL) approach, and to analyze the effect of learning independence on the understanding of economic concepts in the experimental class. This is a quantitative study employing a quasi-experimental approach with a Posttest-Only Nonequivalent Control Group Design. The population consists of all tenth-grade Phase E students taking Economics at SMA Negeri 3 Purwokerto during the 2025/2026 academic year, totaling 396 students. The research sample comprises 63 students selected through a purposive sampling technique: Class XE-9 (30 students) served as the experimental group, while Class XE-8 (33 students) served as the control group. Data were collected via a multiple-choice post-test to measure the understanding of economic concepts and through a closed-ended questionnaire to assess students' learning independence. Data analysis was conducted using an independent sample t-test and simple linear regression analysis. The analysis results indicate that: (1) There is a significant difference in the understanding of economic concepts between students taught using the TGT cooperative learning model (supported by Ludo Economy media) and those taught using the TCL approach, where the experimental group average (83.08) outperforms the control group (60.14). (2) Individual learning independence has no significant effect on the economics concept understanding of students participating in the TGT learning model supported by Ludo Economy media because its role is overshadowed by highly active group discussion activities in the classroom.
5183355250A0A021032BUDIDAYA SELADA (Lactuca sativa L.) SECARA ORGANIK DI CV .TANI
ORGANIK MERAPI DESA WUKIRSARI KECAMATAN CANGKRINGAN
KABUPATEN SLEMAN
YOGYAKARTA
Isi ringkasan PDF membahas budidaya selada (Lactuca sativa L.) secara organik di CV Tani Organik Merapi, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kegiatan dilakukan melalui Praktik Kerja Lapangan selama empat bulan, yaitu 11 September–29 Desember 2023. Tujuannya adalah memberikan pemahaman dan meningkatkan keterampilan praktis mengenai penerapan pertanian organik pada budidaya selada. Sistem pertanian organik diterapkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis dengan memanfaatkan bahan organik dan proses biologis alami. Selada merupakan komoditas hortikultura yang banyak dikonsumsi dan dapat tumbuh baik pada tanah subur dengan pH 5–6,5, ketinggian 500–2.000 m dpl, serta suhu optimum 15–25°C. Pertanian organik menekankan pengelolaan agroekosistem secara alami, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, serta menghindari pupuk dan pestisida sintetis.
This PDF summary outlines the organic cultivation of lettuce (*Lactuca sativa* L.) at CV Tani Organik Merapi in Wukirsari Village, Cangkringan District, Sleman Regency, Yogyakarta. The activities were conducted as part of a four-month field internship spanning September 11 to December 29, 2023. The objective was to foster understanding and enhance practical skills regarding the application of organic farming methods to lettuce cultivation. An organic farming system was employed to reduce reliance on synthetic chemicals by utilizing organic materials and natural biological processes. Lettuce is a widely consumed horticultural commodity that thrives in fertile soil with a pH of 5.0–6.5, at altitudes of 500–2,000 meters above sea level, and within an optimal temperature range of 15–25°C. Organic farming emphasizes agro-ecosystem management that is natural, environmentally friendly, and sustainable, while avoiding the use of synthetic fertilizers and pesticides.
5183455251F2C024006STRATEGI PROMOSI PROGRAM STUDI ILMU KEAGAMAAN
DI UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya promosi program Studi Ilmu Keagamaan di UIN Raden Mas Said Surakarta yang masih berorientasi pada promosi institusi secara umum. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi promosi, hambatan dan peluang, serta menganalisis implementasinya. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman serta triangulasi sumber dan teknik. Hambatan meliputi keterbatasan anggaran, segmentasi sasaran yang belum terarah, belum terintegrasinya promosi institusi dan program studi, serta rendahnya minat masyarakat. Implementasi strategi telah memanfaatkan berbagai unsur promotion mix, tetapi belum optimal dalam keterpaduan pesan, segmentasi, dan koordinasi. Temuan ini menunjukkan perlunya strategi promosi yang lebih terintegrasi dan spesifik sesuai karakteristik masing-masing Program Studi Ilmu Keagamaan.
Kata kunci: strategi promosi, promotion mix, Program Studi Ilmu Keagamaan, UIN Raden Mas Said Surakarta.
This study was motivated by the suboptimal promotion of the Religious Studies Program at UIN Raden Mas Said Surakarta, which remains focused on general institutional promotion. The study aims to identify promotional strategies, barriers, and opportunities, as well as to analyze their implementation. The research employs a constructivist paradigm with a qualitative descriptive approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model as well as triangulation of sources and techniques. Barriers include budget constraints, undirected target segmentation, a lack of integration between institutional and study program promotion, and low public interest. The implementation of these strategies has utilized various elements of the promotion mix but has not yet been optimal in terms of message coherence, segmentation, and coordination. These findings indicate the need for more integrated and specific promotional strategies tailored to the characteristics of each Religious Studies program.
Keywords: Promotional Strategies, Promotion Mix, Religious Studies programs, UIN Raden Mas Said Surakarta.
5183555252F1C022017STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN SANGGAR JAGABAYA NUSWANTARA DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI SENI PERTUNJUKAN SENDRATARI JAGABAYAN DI ERA MODERN Penelitian ini berfokus pada salah satu organisasi seni yaitu Sanggar Jagabaya Nuswantara yang berupaya mempertahankan kesenian tradisional sendratari di tengah era modern dan persaingan budaya asing. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan Sanggar Jagabaya Nuswantara dan Sendratari Jagabayan, mengetahui strategi komunikasi pemasaran yang digunakan Sanggar Jagabaya Nuswantara dalam menjaga eksistensi Sendratari di era modern, dan menganalisis strategi komunikasi pemasaran menggunakan pendekatan Integrated Marketing Communication (IMC). Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan model studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sanggar Jagabaya Nuswantara merupakan organisasi yang berfokus di bidang seni budaya dan sosial berbasis nirlaba, tujuan utama sanggar bukanlah untuk mendapat keuntungan ekonomi dari setiap program keiatan sanggar, melainkan sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni dan budaya Nusantara. Sanggar berupaya melestarikan kesenian tradisional di era modern dengan menghasilkan karya pertunjukan Sendratari Jagabayan melalui pendekatan adaptasi dengan memadukan antara unsur seni tradisional dengan unsur modern yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat ini. Strategi komunikasi pemasaran yang diterapkan Sanggar Jagabaya Nuswantara dilakukan melalui penentuan target audiens yang berfokus pada generasi muda, seniman, dan pelaku UMKM, aktif mengikuti perlombaan dan kegiatan seni budaya, menyelenggarakan pertunjukan gratis, menjalin kolaborasi dengan berbagai sanggar seni di Banyumas dan Purwokerto Dance Fest, serta pemanfaatan media sosial Instagram sebagai media promosi digital. Dari strategi-strategi komunikasi pemasaran yang diterapkan oleh sanggar, peneliti menemukan 5 elemen Integrated Marketing Communication (IMC), yaitu advertisting, sales promotion, public relation, personal selling, dan direct marketing.
Kata Kunci: Sanggar Jagabaya Nuswantara, Sendratari Jagabayan, Strategi Komunikasi Pemasaran, Integrated Marketing Communication, Pelestarian Budaya.
This study focuses on one of the art organizations, Sanggar Jagabaya Nuswantara, which strives to preserve traditional dance drama (sendratari) amid the modern era and the growing influence of foreign cultures. The objectives of this study are to describe Sanggar Jagabaya Nuswantara and Sendratari Jagabayan, to identify the marketing communication strategies used by Sanggar Jagabaya Nuswantara in maintaining the existence of sendratari in the modern era, and to analyze these marketing communication strategies using the Integrated Marketing Communication (IMC) approach. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results indicate that Sanggar Jagabaya Nuswantara is a nonprofit organization that focuses on the fields of arts, culture, and social activities. The primary objective of the organization is not to gain economic profit from its programs and activities but rather to serve as a form of dedication to preserving, maintaining, and developing Indonesian arts and culture. The organization seeks to preserve traditional arts in the modern era by producing the Sendratari Jagabayan performance through an adaptive approach that combines traditional and modern artistic elements in accordance with contemporary social developments. The marketing communication strategies implemented by Sanggar Jagabaya Nuswantara include identifying target audiences that focus on young people, artists, and micro, small, and medium-sized enterprises (MSMEs), actively participating in competitions and cultural events, organizing free performances, establishing collaborations with various art studios in Banyumas and the Purwokerto Dance Fest, and utilizing Instagram as a digital promotional medium. Among the marketing communication strategies implemented by the studio, the researcher identified five elements of Integrated Marketing Communications (IMC): advertising, sales promotion, public relations, personal selling, and direct marketing.
Keywords: Sanggar Jagabaya Nuswantara, Sendratari Jagabayan, Marketing Communication Strategy, Integrated Marketing Communication, Cultural Preservation
5183655254F1D020023IDENTITAS KOLEKTIF DAN JARINGAN GERAKAN: Analisis Gerakan Sosisla Baru Koalisi Pejalan Kaki Kota Bandung dalam Membingkai Ulang Hak Ruang KotaTrotoar di Kota Bandung masih menghadapi persoalan fasilitas yang belum memadai serta kontestasi ruang dengan berbagai aktor, seperti PKL dan kendaraan. Kopeka Bandung hadir sejak 2014 sebagai gerakan sosial baru yang memperjuangkan hak pejalan kaki, namun mengalami pasang-surut gerakan. Penelitian terdahulu telah mengkaji kondisi fasilitas fisik pejalan kaki di Kota Bandung serta strategi framing dan pemanfaatan media sosial Kopeka di kota lain. Namun, penelitian tersebut belum secara mendalam mengkaji proses internal gerakan, yakni bagaimana identitas kolektif dibangun dan direkonstruksi lintas generasi aktor, serta bagaimana jaringan gerakan dipertahankan di tengah dinamika pasang-surut hingga mampu muncul kembali ke permukaan. Artikel ini bertujuan mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis pemaknaan trotoar sebagai arena simbolik, pembentukan identitas kolektif, serta jaringan dan strategi gerakan Kopeka Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, studi dokumentasi serta media sosial, dan dokumen sekunder penelitian terdahulu, dianalisis dengan model interaktif, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi data, dengan kerangka teori identitas kolektif Melucci (1989), dipadukan dengan produksi ruang dan hak atas kota dari Lefebvre (1991;1996). Hasil penelitian ini menunjukkan identitas kolektif Kopeka Bandung terus direkonstruksi melalui relasi pertemanan dan struktur organisasi fleksibel lintas generasi, sementara trotoar dimaknai sebagai ruang yang dihidupi secara relasional dengan penolakan terhadap infrastruktur yang meminggirkan pejalan kaki. Gerakan ini bergerak dengan aksi langsung, advokasi, serta media sosial dengan fase visible dan fase laten yang dijaga oleh Kopeka Nasional sebagai submerged networks.Sidewalks in Bandung City still face issues regarding inadequate facilities and spatial contestation involving various actors, such as street vendors and vehicles. Kopeka Bandung emerged in 2014 as a new social movement advocating for pedestrian rights, though it has experienced fluctuations in its activity levels. Previous research has examined the physical condition of pedestrian facilities in Bandung and Kopeka’s framing strategies and social media usage in other cities. However, such research has not deeply explored the movement's internal processes—specifically how collective identity is constructed and reconstructed across generations of actors, and how the movement's network is sustained amidst these fluctuations, enabling it to resurface. This article aims to fill this gap by analyzing the conceptualization of sidewalks as a symbolic arena, the formation of collective identity, and the networks and strategies of Kopeka Bandung. The study employs a qualitative approach using a case study method—drawing on in-depth interviews, field observations, documentation and social media analysis, and secondary documents from prior research—analyzed via an interactive model and validated through data triangulation. It utilizes Melucci’s (1989) collective identity theory framework, integrated with Lefebvre’s (1991; 1996) concepts of the production of space and the right to the city. The findings reveal that Kopeka Bandung’s collective identity is continuously reconstructed through friendships and a flexible, intergenerational organizational structure, while sidewalks are perceived as spaces brought to life through relationships, in opposition to infrastructure that marginalizes pedestrians. The movement operates through direct action, advocacy, and social media, spanning visible and latent phases—the latter maintained by Kopeka National as "submerged networks."
5183755255I1C022005Evaluasi Potentially Inappropriate Medications (PIMs) Pada Pasien Geriatri Berdasarkan STOPP Criteria di Puskesmas Sokaraja 1Pasien geriatri rentan mendapatkan Potentially Inappropriate Medication (PIMs) karena kompleksitas pengobatan yang meningkat seiring dengan perubahan fisiologis, peningkatan komorbiditas, serta kecenderungan polifarmasi. PIMs dapat meningkatkan risiko efek samping obat, rawat inap, dan penurunan kualitas hidup. Salah satu instrument yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi PIMs adalah STOPP criteria versi 3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat, persentase kejadian PIMs, dan jenis obat yang termasuk PIMs pada pasien geriatri peserta Prolanis di Puskesmas Sokaraja 1. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis pasien geriatri Prolanis yang menderita diabetes mellitus dan hipertensi di Puskesmas Sokaraja 1 dan Apotek Karya Sehat periode Oktober 2025-Maret 2026. Sampel penelitian berjumlah 102 pasien yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan STOPP criteria versi 3. Sebanyak 62 pasien (60,78%) teridentifikasi mengalami PIMs dengan total 80 kejadian. PIMs paling banyak ditemukan pada sistem endokrin 33 kejadian (41,25%), diikuti sistem renal 20 kejadian (25,00%), sistem kardiovaskular 19 kejadian (23,75%), sistem koagulasi 7 kejadian (8,75%), dan kategori indication of medication 1 kejadian (1,25%). Glimepirid merupakan obat yang paling sering teridentifikasi PIMs, diikuti oleh spironolakton, aspirin, dan metformin. Penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pasien geriatri teridentifikasi mengalami PIMs. Temuan ini menunjukkan pentingnya evaluasi terapi secara berkala untuk meningkatkan keamanan dan ketepatan penggunaan obat pada pasien geriatri.Geriatric patients are at risk of receiving Potentially Inappropriate Medications (PIMs) due to the increasing complexity of their treatment regimens, which is associated with physiological changes, an increase in comorbidities, and a tendency toward polypharmacy. PIMs can increase the risk of adverse drug reactions, hospitalization, and a decline in quality of life. One of the tools that can be used to identify PIMs is the STOPP criteria version 3. This study aims to determine the profile of medication use, the incidence of PIMs, and the types of medications classified as PIMs among geriatric patients enrolled in the Prolanis program at the Sokaraja 1 Public Health Center. This study is an observational study with a retrospective design using medical record data from Prolanis geriatric patients with type 2 diabetes mellitus and hypertension at the Sokaraja 1 Public Health Center and Karya Sehat Pharmacy from October 2025 to March 2026. The study sample consisted of 102 patients selected using simple random sampling. The data were analyzed descriptively based on the STOPP criteria version 3. A total of 62 patients (60.78%) were identified as having PIMs, with a total of 80 cases. PIMs were most frequently found in the endocrine system with 33 cases (41.25%), followed by the renal system with 20 cases (25.00%), the cardiovascular system with 19 cases (23.75%), the coagulation system with 7 cases (8.75%), and the indication of medication category with 1 case (1.25%). Glimepiride was the drug most frequently associated with PIMs, followed by spironolactone, aspirin, and metformin. This study shows that more than half of geriatric patients were found to have PIMs. These findings highlight the importance of periodic therapy evaluations to improve the safety and appropriateness of medication use in geriatric patients.
5183855257I1C022085Analisis Persepsi Pasien Anxiety Disorder Terhadap Willingness To Use Telefarmasi Di Rumah Sakit Umum Daerah BanyumasAnxiety disorder merupakan gangguan kesehatan mental dengan prevalensi tinggi yang masih menghadapi hambatan akses layanan kesehatan, seperti stigma, keterbatasan akses, waktu, dan biaya. Telefarmasi berpotensi mengatasi hambatan tersebut, namun layanan ini belum tersedia di RSUD Banyumas. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai persepsi dan willingness to use pasien terhadap telefarmasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat persepsi dan willingness to use telefarmasi serta menganalisis perbedaan persepsi antara pasien yang bersedia dan tidak bersedia menggunakannya. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 99 pasien anxiety disorder rawat jalan di RSUD Banyumas yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi dan willingness to use telefarmasi yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Independent T-Test. Sebanyak 95 responden (95,96%) memiliki persepsi positif dan 4 responden (4,04%) memiliki persepsi negatif terhadap telefarmasi. Sebanyak 80 responden (80,80%) bersedia dan 19 responden (19,20%) tidak bersedia menggunakan telefarmasi apabila tersedia di rumah sakit. Hasil Independent T-Test menunjukkan terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara pasien yang bersedia dan tidak bersedia menggunakan telefarmasi (p<0,001), dengan rata-rata skor persepsi masing-masing sebesar 118,687 dan 94,842. Mayoritas pasien anxiety disorder di RSUD Banyumas memiliki persepsi positif dan bersedia menggunakan telefarmasi apabila diterapkan. Persepsi yang lebih positif berkaitan dengan kesediaan yang lebih tinggi untuk menggunakan layanan telefarmasi.
Anxiety disorder is a highly prevalent mental health condition that faces barriers to healthcare access, such as stigma, limited access, time constraints, and costs. Telepharmacy has the potential to overcome these barriers, yet the service is not currently available at Banyumas Regional General Hospital (RSUD Banyumas). Therefore, a study regarding patients' perceptions and willingness to use telepharmacy is needed. This study aimed to determine the level of perception and willingness to use telepharmacy and to analyze differences in perception between patients willing and unwilling to use it. This quantitative study employed a cross-sectional approach involving 99 outpatients with anxiety disorders at RSUD Banyumas, selected via purposive sampling. Data were collected using a questionnaire on telepharmacy perception and willingness to use, which had undergone validity and reliability testing. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods, specifically the Independent T-Test. A total of 95 respondents (95.96%) held positive perceptions, while 4 respondents (4.04%) held negative perceptions regarding telepharmacy. Regarding willingness, 80 respondents (80.80%) were willing to use telepharmacy if it were made available at the hospital, whereas 19 respondents (19.20%) were unwilling. The Independent T-Test results revealed a significant difference in perception between patients willing and unwilling to use telepharmacy (p<0.001), with mean perception scores of 118.687 and 94.842, respectively. The majority of patients with anxiety disorders at RSUD Banyumas held positive perceptions and were willing to use telepharmacy if implemented. More positive perceptions were associated with a greater willingness to use telepharmacy services.
5183955258F1D022055Pemikiran Politik Shulamith Firestone tentang Dialektika Seks dalam Diskursus XenofeminismeArtikel ini menganalisis pemikiran politik tentang dialektika seks dalam diskursus xenofeminisme, menelusuri evolusi konsep gender dan gerakan feminis. Dimulai dari biografi Shulamith Firestone, studi ini mengkaji bagaimana latar belakang hidup dan perjuangan radikalnya memengaruhi tesisnya dalam The Dialectic of Sex, yang menyatakan bahwa penindasan perempuan berakar pada biologi reproduktif. Pemahaman historis tentang gender dari pra-modern hingga Abad Pencerahan, serta tinjauan gelombang feminisme dan aliran utamanya, menunjukkan lintasan panjang perjuangan kesetaraan. Artikel ini berargumen bahwa Firestone adalah prekursor krusial bagi xenofeminisme. Keduanya menolak naturalisme dan mengadvokasi penggunaan teknologi dan rasionalitas untuk melampaui batasan biologis dan merekonstruksi gender. Xenofeminisme memperluas visi Firestone, menawarkan proyek yang lebih universal dan anti-esensialis untuk menciptakan masa depan yang bebas dari hierarki seks dan gender, menegaskan teknologi sebagai alat pembebasan politik.
This article analyzes the political thought on the dialectic of sex within xenofeminist discourse, tracing the evolution of gender concepts and feminist movements. Beginning with Shulamith Firestone's biography, the study examines how her life and radical activism shaped the central claim of The Dialectic of Sex, namely that the subordination of women is anchored in reproductive biology. A historical overview of gender from pre-modern times to the Enlightenment, alongside an exploration of feminist waves and their main currents, reveals a long trajectory of the struggle for equality. This paper argues that Firestone is a crucial precursor to xenofeminism. Both reject naturalism and advocate for the use of technology and rationality to transcend biological limitations and reconstruct gender. Xenofeminism extends Firestone's vision, offering a more universal and anti-essentialist project to create a future free from sex and gender hierarchies, asserting technology as a tool for political liberation.
5184055259I1C022033Kajian Pola Peresepan Ramuan Jamu Saintifik Pasien Hipertensi pada Klinik Saintifikasi dan Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) di Kalibakung Kabupaten TegalProgram Saintifikasi Jamu dikembangkan untuk membuktikan keamanan dan
khasiat jamu melalui pendekatan ilmiah. WKJ Kalibakung Kabupaten Tegal
menerapkan ramuan jamu saintifik pada pasien hipertensi sehingga diperlukan
kajian pola peresepan untuk mengetahui penggunaan tanaman herbal dan
kombinasi simplisia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional dengan pendekatan retrospektif terhadap resep dan rekam medis
100 pasien hipertensi di WKJ Kalibakung Kabupaten Tegal periode Januari–
Desember 2024. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data
dianalisis secara deskriptif berdasarkan karakteristik pasien, jenis tanaman
herbal, dan kombinasi simplisia. Sebanyak 100 pasien menghasilkan 134 resep
dengan 7 formula kombinasi tanaman herbal. Formula terbanyak terdiri atas
meniran (Phyllanthus niruri), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kumis
kucing (Orthosiphon aristatus), pegagan (Centella asiatica), seledri (Apium
graveolens), dan kunyit (Curcuma longa) sebesar 82,09%. Tanaman yang paling
sering digunakan yaitu temulawak (93,28%), kunyit (92,54%), dan pegagan
(79,10%). Kombinasi simplisia berpotensi memberikan efek farmakologis yang
saling mendukung, namun perlu perhatian terhadap potensi gangguan
gastrointestinal pada kombinasi kunyit, jahe, kencur, dan temulawak serta
peningkatan aktivitas diuretik pada kombinasi kumis kucing dan alang-alang.
Pola peresepan ramuan jamu saintifik hipertensi di WKJ Kalibakung
menunjukkan variasi kombinasi tanaman herbal yang didominasi oleh tanaman
dalam pedoman Saintifikasi Jamu. Kombinasi simplisia berpotensi mendukung
efek terapi, tetapi pemantauan keamanan tetap diperlukan.
Jamu is a traditional herbal medicine that has been used for generations in
Indonesia, and the Jamu Scientification Program was developed to prove its
safety and efficacy through a scientific approach. WKJ Kalibakung, Tegal
Regency, applies scientific jamu formulations to hypertensive patients, making
it necessary to study prescribing patterns to determine the use of herbal plants
and simplicia combinations. This descriptive observational study used a
retrospective approach to prescriptions and medical records of 100 hypertensive
patients at WKJ Kalibakung, Tegal Regency, during January–December 2024,
using a total sampling technique, with data analyzed descriptively based on
patient characteristics, types of herbal plants, and simplicia combinations. A
total of 100 patients generated 134 prescriptions with 7 herbal plant combination
formulas, the most common consisting of meniran (Phyllanthus niruri),
temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kumis kucing (Orthosiphon aristatus),
pegagan (Centella asiatica), celery (Apium graveolens), and turmeric (Curcuma
longa), accounting for 82.09%. The most frequently used plants were
temulawak (93.28%), turmeric (92.54%), and pegagan (79.10%). Simplicia
combinations potentially provide mutually supportive pharmacological effects,
though attention is needed regarding potential gastrointestinal disturbances in
the combination of turmeric, ginger, kencur, and temulawak, as well as
increased diuretic activity in the combination of kumis kucing and alang-alang.
The prescribing pattern of scientific jamu formulations for hypertension at WKJ
Kalibakung shows variation in herbal plant combinations dominated by plants
included in the Jamu Scientification guidelines, and while these combinations
potentially support therapeutic effects, safety monitoring remains necessary.