Artikelilmiahs
Menampilkan 51.781-51.800 dari 52.044 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51781 | 10600 | E1A011128 | PEMBUKTIAN PERBUATAN UITLOKKING (MENGGERAKAN ORANG LAIN) DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg) | Tindak pidana korupsi akhir-akhir ini selalu mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan dengan tindak pidana lainnya mengingat bahwa dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindak pidana korupsi ini. Pembuktian dalam hal ini memiliki peranan yang penting untuk mengungkapkan adanya tindak pidana korupsi. Penelitian ini mengambil judul “Pembuktian Perbuatan Uitlokking (Menggerakan Orang Lain) Dalam Tindak Pidana Korupsi (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg)”. Tujuan penelitian ini mengetahui pembuktian perbuatan uitlokking (menggerakan orang lain) untuk korupsi dalam putusan perkara Nomor 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg bagi Terdakwa dan untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Semarang dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap tindak pidana korupsi pada putusan Nomor 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg. Metode penelitian yang dipakai adalah yuridis normatif dan spesifikasi penelitian adalah Preskriptif. Metode pengumpulan data dengan inventarisasi peraturan undang-undang dan metode analisa data menggunakan normatif kualitatif. Berdasarkan studi putusan dapat disimpulkan bahwa : pembuktian perbuatan uitlokking (menggerakkan orang lain) dalam tindak pidana korupsi dalam Putusan Nomor 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg adalah didasarkan pada ketentuan Pasal 183 KUHAP yaitu dengan minimum pembuktian menggunakan alat bukti dalam ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP berupa keterangan saksi serta keterangan terdakwa dan keyakinan hakim, serta mendasarkan pada unsur-unsur perbuatan uitlokking dalam Pasal 55 ayat (1) KUHP dan barang bukti yang diajukan dipersidangan. Pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan Putusan Nomor 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg, yaitu : 1) Pertimbangan Yuridis (Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP, ketentuan Pasal 183 KUHAP, alat bukti berupa keterangan saksi dan keterangan terdakwa dan didasarkan pada barang-barang bukti yang memiliki hubungan terhadap perkara ini yang diajukan dalam persidangan, 2) Pertimbangan Non Yuridis (Hal-hal yang memberatkan : Sifat dari tindak pidana korupsi sebagai kejahatan extra ordinary crime, yang dampaknya merusak sendi-sendi kehidupan perekonomian Negara dan juga perekonomian masyarakat, Perbuatan terdakwa sangat tercela dimata masyarakat karena menyalahgunakan nama keagamaan untuk kepentingan pribadinya dan hal tersebut dapat mengurangi kepercayaan pemerintah dan hal-hal yang meringankan : Terdakwa bersikap sopan di persidangan; Terdakwa menyesali perbuatannya; Terdakwa belum pernah dipidana; Terdakwa mempunyai tanggungan keluarga) Kata Kunci : pembuktian, uitlokking, tindak pidana korupsi | ABSTRACT Corruption act always give more respons than another crimes because this impact. Authentication has important position to knowing about corruption act. This research is entitled “The Authentication of Uitlokking (Moving Others) Act in Corruption (Juridical Review of the Verdict Number 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg)”. The purpose of this research is to find out the authentication of uitlokking (moving others) act to corrupt in the case of verdict Number 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg for the defendant and to discover the basic legal considerations of the judge of the Court of Corruption Act in Semarang in handing down the criminal verdict toward the corruption act in the verdict Number 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg. The research method used was normative juridical and the research specification was Prescriptive. The method employed in data collection was the inventory of law regulations and that used in data analysis was normative qualitative method. Based on the study of the verdict, it can be concluded that the authentication of uitlokking (moving others) act in corruption in the verdict Number 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg was based on the stipulation of Article 183 of Criminal Code that was by minimum authentication that used material evidences in the stipulation of Article 184 subsection (1) of Criminal Code and the judge’ conviction which is witness and defendant, as well as based on the elements of uitlokking act as defined in Article 55 subsection (1) of Criminal Code and material evidences failed to the court. The judge’s legal considerations in handing down the verdict Number 139/Pid.Sus/2013/PN.Tipikor.Smg, were: 1) Juridical Review (Article 3 Jo Article 18 of Act Number 31 of 1999 about Eradication of Corruption as amended with Act Number 20 of 2001 about the Amendment of Acts Number 31 of 1999 about the Eradication of Corruption Jo Article 55 subsection (1) of the two Criminal Codes, the stipulation of Article 183 of Criminal Code, evidences which is witness and defendant and was based on material evidences that had relationships to the case filed to court, 2) Non Juridicial Considerations (aggravating things: the nature of corruption as an extra-ordinary crime that effected on the damage of pivotal strengths of state and people’s economy; the accused’s act was very blamable on people eyes because he abused the religious name for his personal use and it could reduce the trust of government and alleviating things: the defendant was polite at court; the defendant regretted his act; the defendant had never been punished before; the defendant had family dependents) Keywords: authentication, uitlokking, corruption | |
| 51782 | 55463 | J0B023063 | PENERJEMAHAN SOP PEMINJAMAN DAN PERAWATAN KENDARAAN PERUSAHAAN BERBAHASA MANDARIN SEBAGAI MEDIA INFORMASI PEKERJA INDONESIA DI PT NEW HOPE FARM INDONESIA | kegiatan ini berjudul “Penerjemahan Dokumen SOP Peminjaman dan Perawatan Kendaraan Perusahaan dari Bahasa Mandarin ke dalam Bahasa Indonesia di PT New Hope Farm Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan di PT New Hope Farm Indonesia Cirebon Jawa Barat, pada bulan Agustus 2025 sampai dengan Januari 2026. Latar belakang dari kegiatan ini adalah adanya kendala bahasa yang dialami pekerja Indonesia dalam memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) Peminjaman dan Perawatan Kendaraan Perusahaan yang masih menggunakan bahasa Mandarin. Tujuan dari praktik kerja ini adalah untuk menerjemahkanSOP Peminjaman dan Perawatan Kendaraan Perusahaan berbahasa Indonesia agar pekerja Indonesia di PT New Hope Farm Indonesia tidak lagi terkendala dalam memahami SOP tersebut yang masih menggunakan bahasa Mandarin. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi jelajah internet, observasi langsung, wawancara, dan studi pustaka. Pada proses penerjemahan penulis menggunakan metode penerjemahan komunikatif, yang bertujuan untuk menyampaikan makna teks sumber dengan menyesuaikan tata bahasa dari TSu (Teks Sumber) ke TSa (Teks Sasaran) tanpa menghilangkan makna aslinya sehingga teks mudah dipahami oleh pembaca bahasa sasaran. Hasil dari kegiatan ini adalah terjemahan SOP Peminjaman dan Perawatan Kendaraan Perusahaan dalam bahasa Indonesia berupa dokumen cetak yang diberikan kepada departemen Administrasi yang dapat digunakan pekerja Indonesia di PT New Hope Farm Indonesia. Dengan adanya SOP Peminjaman dan Perawatan Kendaraan Perusahaan berbahasa Indonesia, pekerja Indonesia dapat memahami prosedur peminjaman dan perawatan kendaraan perusahaan secara jelas. Hal ini menyebabkan pekerja Indonesia dapat meningkatkan produktivitas dalam alur peminjaman dan perawatan kendaraan perusahaan. | The activity was entitled “Translation of the Standard Operating Procedure Document for Company Vehicle Borrowing and Maintenance from Mandarin into Indonesian at PT New Hope Farm Indonesia.” This activity was carried out at PT New Hope Farm Indonesia Cirebon Jawa Barat, from August 2025 to January 2026. The background of this activity was the language barrier experienced by Indonesian workers in understanding the Standard Operating Procedure for Company Vehicle Borrowing and Maintenance, which was still written in Mandarin. The purpose of this activity was to translate the Standard Operating Procedure for Company Vehicle Borrowing and Maintenance into Indonesian so that Indonesian workers at PT New Hope Farm Indonesia would no longer experience difficulties in understanding the procedure, which was previously written in Mandarin. The data collection methods used included internet research, direct observation, interviews, and literature review. In the translation process, the writer used the communicative translation method, which aims to convey the meaning of the source text by adapting the grammar from the Source Text to the Target Text without eliminating its original meaning, so that the text can be easily understood by readers of the target language. The result of this activity was an Indonesian translation of the Standard Operating Procedure for Company Vehicle Borrowing and Maintenance in the form of a printed document, which was provided to the Administration Department and can be used by Indonesian workers at PT New Hope Farm Indonesia. With the Standard Operating Procedure for Company Vehicle Borrowing and Maintenance available in Indonesian, Indonesian workers can clearly understand the procedures for borrowing and maintaining company vehicles. This enables Indonesian workers to improve their productivity in the process of borrowing and maintaining company vehicles. | |
| 51783 | 41980 | K1A019067 | Validasi Metode Analisis Penetapan Senyawa Tebukonazol pada Sampel Fungisida secara Spektrofotometri UV-Vis | Tebukonazol adalah fungisida triazol yang digunakan untuk melindungi tanaman pertanian terhadap jamur patogen. Bahan aktif tebukonazol dalam sampel fungisida yang beredar di pasaran perlu dianalisis kadarnya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis untuk mengetahui kesesuaian kadar sampel yang tercantum pada label kemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui validasi metode spektrofotometri UV-Vis pada penetapan kadar senyawa tebukonazol dalam sampel fungisida yang ditentukan berdasarkan parameter-parameter tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi, pengukuran parameter validasi metode (linieritas, LOD dan LOQ, presisi, akurasi, rentang metode, selektivitas), dan penetapan kadar tebukonazol dalam sampel fungisida. Hasil penelitian didapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9999 dan 0,9999; nilai LOD dan LOQ sebesar 0,1559 ppm dan 0,5197 ppm; nilai RSD atau KV sebesar 0,17% dengan nilai HORRAT sebesar 0,015; nilai rata-rata % recovery sebesar 98,01 %; nilai batas bawah (LOQ) dan batas atas sebesar 0,5197 ppm dan 23,0544 ppm; serta hasil selektivitas yang baik sehingga metode spektrofotometri UV-Vis yang digunakan dinyatakan valid karena sudah memenuhi parameter validasi metode analisis dan dapat digunakan untuk penetapan kadar. Kadar rata-rata tebukonazol dalam sampel fungisida sebesar 2,63 ppm. Kadar tersebut lebih rendah daripada kadar yang tercantum pada label kemasan | Tebuconazole is a triazole fungicide that is used to protect agricultural crops against pathogenic fungi. The active ingredient tebuconazole contained in fungicide samples in the market needs to be analyzed using the UV-Vis spectrophotometric method to determine the suitability of the sample levels listed on the packaging label. The purpose of this study was to validate UV-Vis spectrophotometric methods for determining the levels of tebuconazole compounds in fungicide samples, based on certain parameters. The methods used were determination of the maximum wavelength, preparation of calibration curves, measurement of method validation parameters (linearity, LOD and LOQ, precision, accuracy, method range, selectivity), and determination of tebuconazole levels in fungicide samples. The result of this research obtained value of coefficient correlation (r) and coefficient determination (R2) 0,9999 and 0,9999; LOD and LOQ value 0,1559 ppm and 0,5197 ppm; RSD or CV value 0,17% with HORRAT value 0,015; average of % recovery value 98,01%; lower and upper limit value (LOQ) 0,5197 ppm and 23,0544 ppm; and good selectivity result. Therefore, the UV-Vis spectrophotometric method that has been used is valid because it fulfills the validation method analysis parameters and can be used to determine the concentration of tebuconazole. The average concentration of tebuconazole within the sample was 2,63 ppm which is lower than the concentration listed on the packaging | |
| 51784 | 51906 | L1C022043 | ANALISIS KARAKTERISTIK MASSA AIR BERDASARKAN DATA CONDUCTIVITY TEMPERATURE DEPTH (CTD) PADA CRUISE SHIP MAREXPLORE TAHUN 2025 | Indonesia memiliki perairan yang strategis karena berada pada jalur global thermohaline circulation, sehingga berperan penting dalam pertukaran massa air antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial dan vertikal suhu, salinitas, dan densitas, mengidentifikasi lapisan tercampur, termoklin, dan lapisan dalam, serta menentukan karakteristik massa air di perairan Selat Bali, Selat Lombok, dan Selat Alas. Data profil vertikal diperoleh menggunakan instrumen CTD SBE 19 Plus V2 pada sembilan stasiun pengamatan selama ekspedisi MarExplore 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan perangkat lunak SBE Data Processing yang diintegrasikan dengan komputasi berbasis python. Penentuan lapisan perairan dilakukan melalui pendekatan metode ambang batas (threshold) dan gradien, sedangkan karakteristik massa air diidentifikasi berdasarkan referensi klasifikasi massa air regional yang telah ada. Hasil menunjukkan suhu permukaan berkisar ±29–30°C yang menurun hingga ±5°C pada kedalaman >600 m, diikuti peningkatan salinitas dari 30,9–32,5 PSU menjadi 34,5–34,6 PSU dan densitas hingga ±1032 kg/m³. Struktur kolom perairan memperlihatkan lapisan tercampur dangkal di Selat Bali, lapisan tercampur dan termoklin terdalam serta stabilitas tertinggi di Selat Lombok, dan karakter transisi di Selat Alas. Analisis diagram T–S mengidentifikasi enam massa air utama, yaitu Java Sea Water (JSW), Indonesian Upper Water (IUW), North Pacific Intermediate Water (NPIW), South Pacific Intermediate Water (SPIW), Banda Intermediate Water (BIW), dan Australian Mediterranean Water (AAMW), yang menunjukkan peran penting jalur Arus Lintas Indonesia dalam pembentukan struktur dan pencampuran massa air regional. | Indonesia has strategically important waters as they lie along the pathway of the global thermohaline circulation, playing a key role in the exchange of water masses between the Pacific and Indian Oceans. This study aimed to analyse the spatial and vertical distribution of temperature, salinity, and density, identify the mixed layer, thermocline, and deep layer structures, and determine water mass characteristics in the Bali Strait, Lombok Strait, and Alas Strait. Vertical profile data were acquired using a CTD SBE 19 Plus V2 instrument at nine observation stations during the MarExplore 2025 expedition. Data analysis was performed using a quantitative descriptive approach via SBE Data Processing software integrated with python-based computing. Water column stratification was determined using threshold and gradient methods, while water mass characteristics were identified based on existing regional water mass classifications. The results showed surface temperatures of approximately 29–30 °C, which decreased to about 5°C at depths greater than 600 m, accompanied by an increase in salinity from 30.9–32.5 PSU to 34.5–34.6 PSU and density up to approximately 1032 kg/m³. The water column structure is characterized by a shallow mixed layer in the Bali Strait, the deepest mixed layer and thermocline with the highest stability in the Lombok Strait, and transitional characteristics in the Alas Strait. T–S diagram analysis identified six main water masses: Java Sea Water (JSW), Indonesian Upper Water (IUW), North Pacific Intermediate Water (NPIW), South Pacific Intermediate Water (SPIW), Banda Intermediate Water (BIW), and Australian Mediterranean Water (AAMW), highlighting the important role of the Indonesian Throughflow in shaping regional water mass structure and mixing. | |
| 51785 | 46741 | F1B019083 | DESENTRALISASI PENGELOLAAN SAMPAH (STUDI KASUS DI PUSAT DAUR ULANG SAMPAH KAMANDAKA KELURUHAN BOBOSAN, KABUPATEN BANYUMAS) | Permasalahan sampah banyak ditemui di Indonesia, terkhusus di Banyumas. Majunya suatu negara akan banyak menimbulkan tumbuhnya kota-kota besar yang menyebabkan produksi sampah semakin meningkat. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 yang telah berhasil diterapkan adalah “Sumpah Beruang” (Sulap Sampah Berubah Uang). Dalam pengolahan sampah tersebut diperlukan tata kelola sampah yang berkelanjutan, seperti Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau Pusat Daur Ulang (PDU) yang dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Akibatnya, sampah yang dihasilkan semakin menyusut dan tercipta ekonomi sirkular di masyarakat Banyumas. Salah satu Pusat Daur Ulang yang ada di Banyumas adalah Pusat Daur Ulang Kamandaka, Kelurahan Bobosan, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivitasan desentralisasi pengelolaan sampah di tingkat kelurahan dengan menciptakan Pusat Daur Ulang (PDU) Sampah Kamandaka yang dikelola oleh Komunitas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di Kelurahan Bobosan, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dalam penelitian. Penelitian ini akan berkonsentrasi pada seberapa efektif program desentralisasi pengelolaan sampah melalui Pusat Daur Ulang (PDU) Sampah dalam mengelola sampah di Kabupaten Banyumas, serta faktor-faktor yang mendukung atau menghambat implementasinya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori efektivitas Menurut Muasaroh (2010) yang memiliki aspek-aspek; tugas dan fungsi, rencana atau program, ketentuan dan peraturan, serta tujuan atau kondisi ideal. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan beberapa konsep desentralisasi, yakni; peran organisasi lokal, penguatan organisasi lokal, kontribusi pemerintah, serta responsivitas. Berdasarkan aspek-aspek efektivitas dan beberapa konsep desentralisasi, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan sampah di PDU Kamandaka Kelurahan Bobosan, Kabupaten Banyumas sudah berjalan dengan semestinya. Kata kunci: Pengelolaan Sampah, Desentralisasi, Efektivitas Desentralisasi | Waste problems are encountered in Indonesia, especially in Banyumas. The progress of a country will cause a lot of growth in big cities which causes waste production to increase. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 that has been successfully implemented is the “Sumpah Beruang” (Sulap Sampah Berubah Uang). In the processing of waste, sustainable waste management is needed, such as Tempat Pembuangan Sementara (TPS) or Pusat Daur Ulang (PDU) managed by Non-Governmental Groups (KSM). As a result, the waste produced is shrinking and a circular economy is created in the Banyumas community. One of the Recycling Centers in Banyumas is the Kamandaka Recycling Center, Bobosan Village, Banyumas Regency. This study aims to determine the effectiveness of decentralization of waste management at the village level by creating the Kamandaka Pusat Daur Ulang (PDU) managed by Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) in Kelurahan Bobosan, Kabupaten Banyumas. The research method used is a type of qualitative research with a descriptive approach in research. This study will concentrate on how effective the decentralization of waste management program through the Pusat Daur Ulang (PDU) is in managing waste in Kabupaten Banyumas, as well as the factors that support or hinder its implementation. The theory used in this study is the Muasaroh (2010) theory of effectiveness which has aspects; duties and functions, plans or programs, provisions and regulations, and ideal goals or conditions. In addition, this research also uses several concepts of decentralization, namely; the role of local organizations, strengthening local organizations, government contributions, and responsiveness. Based on the aspects of effectiveness and several concepts of decentralization, it can be concluded that waste management in PDU Kamandaka, Bobosan Village, Banyumas Regency has been running properly. Keywords: Waste Management, Decentralization, Effectiveness of Decentralization | |
| 51786 | 37549 | I1E016007 | HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT LENGAN, KELENTUKAN TOGOK, DAN KOORDINASI MATA TANGAN DENGAN KEMAMPUAN PUKULAN LOB BULUTANGKIS | Bulutangkis adalah olahraga yang dimainkan oleh dua orang (untuk tunggal) atau dua pasang (untuk ganda) dan mengambil posisi berlawanan di bidang lapangan yang telah dibagi dua oleh sebuah jaring (net). Tujuannya adalah meraih angka dengan memukul bola berupa shuttlecock menggunakan raket sehingga melewati net dan shuttlecock jatuh di bidang permainan lawan. Melakukan pukulan lob membutuhkan kekuatan otot lengan, kelentukan togok, dan koordinasi mata tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot lengan, kelentukan togok, dan koordinasi mata tangan dengan kemampuan pukulan lob bulutangkis. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu teknik dengan menggunakan kriteria tertentu dalam melakukan pemilihan sample. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas, uji linearitas, dan uji korelasi. Berdasarkan interpretasi data penelitian sebagai berikut; (1) ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot lengan dengan kemampuan pukulan lob bulutangkis dengan nilai r 0,800 dan sumbangan efektif sebesar 36,88%. (2) ada hubungan yang signifikan antara kelentukan togok dengan kemampuan pukulan lob bulutangkis dengan nilai r 0,700 dan sumbangan efektif sebesar 23,87%. (3) ada hubungan yang signifikan antara koordinasi mata tangan dengan kemampuan pukulan lob bulutangkis dengan nilai r 0,760 dan sumbangan efektif sebesar 21,05%. (4) ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot lengan, kelentukan togok, dan koordinasi mata tangan dengan kemampuan pukulan lob bulutangkis dengan nilai R square 0,904. | Badminton is a sport played by two people (for singles) or two pairs (for doubles) and taking opposite positions on a field that has been divided in half by a net (net). The goal is to get points by hitting the ball in the form of a shuttlecock using a racket so that it passes over the net and the shuttlecock falls on the opponent's playing field. Doing a lob requires arm muscle strength, waist flexibility, and eye-hand coordination. This study aims to determine the relationship between arm muscle strength, waist flexibility, and hand eye coordination with badminton lob hitting ability. The research method used is descriptive quantitative research using a cross sectional design. The sample in this research uses purposive sampling, which is a technique by using certain criteria in selecting the sample. The data analysis in this study used the analysis prerequisite test, namely the normality test, linearity test, and correlation test. Based on the interpretation of the research data as follows; (1) there is a significant relationship between arm muscle strength and badminton lob hitting ability with an r value of 0.800 and an effective contribution of 36.88%. (2) there is a significant relationship between waist flexibility and badminton lob hitting ability with an r value of 0.700 and an effective contribution of 23.87%. (3) there is a significant relationship between hand eye coordination and badminton lob hitting ability with an r value of 0.760 and an effective contribution of 21.05%. (4) there is a significant relationship between arm muscle strength, waist flexibility, and hand eye coordination with badminton lob hitting ability with an R square value of 0.904. | |
| 51787 | 40539 | C1A019094 | Analisis Pengaruh PAD, DAU, DAK, DBH, dan PDRB Terhadap Belanja Modal Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah | Belanja daerah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah masih memiliki kualitas yang rendah, hanya 30 persen dari APBD yang berdampak langsung kepada masyarakat. Belanja daerah lebih banyak digunakan untuk belanja operasional yang umumnya kurang produktif, sedangkan belanja modal paling sedikit dibandingkan belanja lainnya, padahal penggunaannya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Realisasi belanja modal pada provinsi Jawa Tengah masih di bawah 30 persen, belum mencapai target sesuai arahan Kementerian Dalam Negeri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari PAD, DAU, DAK, DBH, dan PDRB terhadap belanja modal. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) PAD dan DBH berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap belanja modal, 2) DAU dan DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal, 3) PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap belanja modal. Implikasi dari penelitian ini adalah Pemerintah Daerah harus mengoptimalkan penggalian sumberdaya yang memberikan kontribusi terhadap PAD dan DBH. Pemerintah Daerah lebih meningkatkan anggaran DAU dan DAK yang dialokasikan ke anggaran belanja modal untuk meningkatkan pelayanan publik. Pemerintah daerah dapat meminimalisir belanja rutin yang tidak perlu, lebih banyak dialokasikan pada belanja modal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendorong peningkatan ekonomi dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. | Regional expenditure carried out by the Regional Government is still of low quality, only 30 percent of the APBD has a direct impact on the public. Regional expenditure is used more for operational expenditure which is generally less productive, while capital expenditure is the least compared to other expenditure, even though their use can be felt directly by the public. The realization of capital expenditure in Central Java Province is still below 30 percent, it has not yet reached the target according to the direction of the Ministry of Home Affairs. The purpose of this study is to analyze the effect of PAD, DAU, DAK, DBH, and PDRB on capital expenditure. The data analysis technique in this study uses panel data regression analysis. The results of this study indicate that: 1) PAD and DBH have a positive effect but not significant on capital expenditure, 2) DAU and DAK have a positive and significant effect on capital expenditure, and 3) PDRB has a negative and significant effect on capital expenditure. The implication of this research is that Regional Government must optimize the extraction of resources that contribute to PAD and DBH. The Regional Government further increase the DAU and DAK budgets allocated to the capital expenditure budget to improve public service. Regional Government can minimize unnecessary routine expenditure, more allocated to capital expenditure in order to improve people’s welfare and encourage economic development and community self-sufficiency in a sustainable manner. | |
| 51788 | 39737 | D1B021004 | TOTAL MIKROBA DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) SUSU SAPI SEGAR YANG DISIMPAN PADA SUHU YANG BERBEDA | Latar Belakang. Susu merupakan suatu cairan yang didapatkan dari ambing hewan ternak perah. Susu segar merupakan susu yang diperoleh dari pemerahan pada ternak perah dan belum mengalami perlakuan selain pendinginan. Susu sapi segar memiliki kelemahan, yaitu mudah terkontaminasi mikroba sehingga susu segar tidak dapat bertahan lama. Proses terbentuknya mikroba mengakibatkan susu berubah menjadi asam, proses tersebut disebabkan oleh akumulasi laktat oleh mikroba dari proses glikolisis. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan dengan proses penyimpanan susu yang baik dengan suhu yang sesuai, karena suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Metodologi. Materi penelitian berupa susu sapi segar sebanyak 4 liter, medium plate count agar, aquades, label, kapas, alumunium foil dan alat yang digunakan adalah lactoscan, becker glass, inkubator, tabung reaksi, erlenmeyer, cawan petri, gelas ukur, micropipet, timbangan dan colony counter. Data penelitian diperoleh menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok kemudian diuji lanjut menggunakan regresi linier. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil yang didapatkan menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) suhu terhadap total mikroba dan derajat keasaman (pH) pada susu sapi segar. Hasil uji lanjut menggunakan regresi linier didapatkan persamaan untuk total mikroba pada suhu kulkas 4°C dan suhu ruang 29°C yaitu Y = 328985 + 27976X dengan R2 = 0,47 dan Y = 375189 + 98713X dengan R2 = 0,69, sedangkan untuk derajat keasaman (pH) pada suhu kulkas 4°C dan suhu ruang 29°C yaitu Y = 6,8156 - 0,0233X dengan R2 = 0,71 dan Y = 6,7029 - 0,0471X dengan R2 = 0,90. Berdasarkan persamaan yang diperoleh diketahui bahwa susu yang disimpan pada suhu 4°C akan mengalami peningkatan mikroba sebesar 27.976 CFU/ml perjam dan penurunan pH sebesar 0,0233 perjam, sedangkan susu yang disimpan pada suhu 29°C akan mengalami peningkatan mikroba sebesar 98.713 CFU/ml perjam dan penurunan pH sebesar 0,0471 perjam. Simpulan. Kesimpulan dari penelitian adalah suhu penyimpanan berpengaruh terhadap total mikroba dan derajat keasaman (pH) susu. | Background. Milk is a liquid obtained from the udders of dairy animals. Fresh milk is milk obtained from milking in dairy cattle and has not undergone treatment other than cooling. Fresh cow's milk has a weakness, which is easily contaminated with microbes so fresh milk cannot last long. The process of microbes forming causes the milk to turn sour, the process is caused by the accumulation of lactate by microbes from the glycolysis process. Therefore, it is necessary to prevent it with a good milk storage process with the appropriate temperature, because temperature can affect the growth of bacteria. Methodology. The research materials were fresh cow's milk as much as 4 liters, plate count agar medium, distilled water, labels, cotton, and aluminum foil, and the tools used were lactoscan, becker glass, incubator, test tube, erlenmeyer, petri dish, measuring cup, micropipette, scale and colony counter. Research data were obtained using a Randomized Group Design experimental design and then further tested using linear regression. Results. The results showed that there was a very significant effect (P<0.01) of temperature on total microbes and acidity (pH) in fresh cow's milk. The results of further tests using linear regression obtained equations for total microbes at 4°C refrigerator temperature and 29°C room temperature, namely Y = 328985 + 27976X with R2 = 0.47 and Y = 375189 + 98713X with R2 = 0.69, while for acidity (pH) at 4°C refrigerator temperature and 29°C room temperature, namely Y = 6.8156 - 0.0233X with R2 = 0.71 and Y = 6.7029 - 0.0471X with R2 = 0.90. Based on the equation obtained, it is known that milk stored at 4°C will experience an increase in microbes of 27.976 CFU/ml per hour and a decrease in pH of 0.0233 per hour, while milk stored at 29°C will experience an increase in microbes of 98.713 CFU/ml per hour and a decrease in pH of 0.0471 per hour. Conclusion. The study concludes that storage temperature affects the total microbes and acidity (pH) of milk. | |
| 51789 | 4582 | F1C008014 | Adegan Kekerasan dalam Serial Kartun Televisi (Analisis Isi Adegan Kekerasan dalam Serial Kartun One Piece, Spongebob Squarepants, dan Doraemon) | Penelitian ini mencoba untuk menganalisis adegan kekerasan dalam serial kartun televisi Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mencaritahu sejauh mana adegan kekerasan dalam serial kartun One Piece, Spongebob Squarepants dan Doraemon. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode analisis isi kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya tendensi frekuensi adegan kekerasan dalam serial kartun Spongebob Squarepants dan Doraemon dengan One Piece. One Piece merupakan salah satu serial kartun yang pernah dicekal KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) karena melanggar Peraturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siar (P3SPS) Pasal 23 tentang pelanggaran adegan kekerasan secara fisik dan Pasal 24 tentang ungkapan kasar dan makian. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tendensi kekerasan pada masing-masing judul serial kartun. Kategori pelanggaran kekerasan fisik sebanyak 62,62% paling banyak ditayangkan dalam serial kartun One Piece. Kategori pelanggaran kekerasan psikologis didominasi serial kartun Doraemon, yaitu sebanyak 59,73%. Kategori pelanggaran Pasal 23 paling banyak dilakuakan oleh serial One Piece, yaitu 49,31%. Serta kategori kekerasan pelanggaran Pasal 24 sebanyak 62,68% paling banyak ditayangkan serial kartun Doraemon. Kemunculan adegan kekerasan dalam serial kartun sebagai wujud berkurangnya kepekaan KPI terhadap makna kekerasan, dari sesuatu yang patut diwaspadai menjadi hal yang lumrah terjadi. Padahal kemunculan adegan kekerasan dalam serial kartun dapat membahayakan khususnya pada anak-anak. Dalam penelitian ini, perubahan makna tentang kekerasan tersebut dapat dijelaskan melalui teori kekerasan simbolik. Kata kunci: Adegan kekerasan serial kartun, One Piece, Spongebob Squarepants, Doraemon, P3SPS, Teori kekerasan simbolik | This research tried to analyze of violence scenes in Indonesian television cartoon series. The purpose of this research is how much the violence scenes appeared in One Piece, Spongebob Squarepants and Doraemon. This research is a descriptive quantitative research which uses content analysis method. The research result shows that there is a tendency of violence which high frequency has been displayed in cartoon movies which still appear in Indonesian station television like Spongebob Squarepants and Doraemon with One Piece. One Piece is the cartoon movie who has sturdied by KPI based regulation of P3SPS chapter 23 violented category about phisycs and chapter 24 violented category about coarse expression. The research result shows that there is a tendency of violence in four categories. The phisycs violated category has been displayed in One Piece cartoon movie with percentage 62,62%. The Phicycology violated category is dominated in Doraemon cartoon movie which has been displayed percentage 59,73%. The regulation of P3SPS violence scene has been displayed in One Piece cartoon movie with percentage 49,31%. And the regulation of P3SPS chapter 24 violented category about coarse expression with percentage 62,68% has been displayed in Doraemon cartoon movie. The cartoon movie that aired in television with violence scene, as being to lessen a sensitivity from KPI, from conscentious situation being to normaly happen. Whereas, the violence scenes appeared in cartoon movie may be harmful especially to children. In this research, the turning about this has been explaned with symbolic violence theory. Keywords: violence scenes, television cartoon movies, One Piece, Spongebob Squarepants, Doraemon, P3SPS, symbolic violence theory. | |
| 51790 | 55464 | G1B022010 | PERBEDAAN JUMLAH SEL PIKNOSIS, KARIOREKSIS, DAN KARIOLISIS SEL EPITEL MUKOSA BUKAL ANTARA PEROKOK KONVENSIONAL, ELEKTRIK, KOMBINASI, DAN NONPEROKOK PADA MAHASISWA USIA 18-25 TAHUN | Latar Belakang: Kebiasaan merokok banyak ditemukan di kalangan mahasiswa. Merokok dapat memicu stres oksidatif yang menyebabkan perubahan inti sel epitel mukosa bukal berupa piknosis, karioreksis, dan kariolisis. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan jumlah sel piknosis, karioreksis, dan kariolisis sel epitel mukosa bukal antara perokok konvensional, elektrik, kombinasi, dan nonperokok pada mahasiswa usia 18-25 tahun. Metode: Jenis penelitian ini yaitu observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan responden dilakukan dengan metode purposive sampling. Sampel pada penelitian ini merupakan mahasiswa dari 12 fakultas di Universitas Jenderal Soedirman yang berusia 18-25 tahun dan memiliki kebiasaan merokok elektrik, konvensional, kombinasi, dan nonperokok dengan jumlah 64 orang dan dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 16 orang. Sampel apusan mukosa bukal dari kedua sisi diambil dengan menggunakan cytobrush kemudian dibuat preparat dan dilakukan pewarnaan Papanicolaou. Preparat diamati dibawah mikroskop cahaya perbesaran 400x dengan bantuan Optilab dan dilakukan perhitungan jumlah sel piknosis, karioreksis, dan kariolisis per 1.000 sel. Hasil: Hasil uji statistik Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna jumlah sel piknosis, karioreksis, dan kariolis antara kelompok perokok konvensional, elektrik, kombinasi, dan nonperokok dengan nilai p > 0,05. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan jumlah sel piknosis, karioreksis, dan kariolisis pada sel epitel mukosa bukal antara perokok konvensional, elektrik, kombinasi, dan nonperokok pada mahasiswa usia 18-25 tahun. | Background: Smoking habits are common among university students. Smoking can induced oxidative stress, leading to nuclear changes in buccal mucosal epithelial cells, including pyknosis, karyorrhexis, and karyolysis. Objective: This study aimed to determine the differences in the numbers of pyknotic, karyorrhectic, and karyolytic cells in buccal mucosal epithelium cells among conventional smokers, e-cigarette users, dual users, and non-smokers among university students aged 18–25 years. Methods: This was an observational, analytical cross-sectional study. Respondents were selected using purposive sampling. Sixty-four undergraduate students from 12 faculties at Jenderal Soedirman University were selected using purposive sampling and divided equally into 4 groups. Buccal mucosal smears were collected bilaterally using a cytobrush, prepared, and stained with Papanicolaou stain. The slides were observed under a light microscope at 400× magnification with Optilab assistance. The numbers of pyknotic, karyorrhectic, and karyolytic cells were counted per 1,000 cells. Results: The Kruskal-Wallis test shows no significant difference in the numbers of pyknotic, karyorrhexis, and karyolysis cells among conventional smokers, e-cigarette users, dual users, and non-smokers (p > 0.05). Conclusion: There are no differences in the numbers of pyknotic, karyorrhexis, and karyolysis cells in buccal mucosal epithelial cells among conventional smokers, e-cigarette users, dual users, and non-smokers in university students aged 18–25 years. | |
| 51791 | 55465 | G1B022023 | PERBEDAAN RASIO LUAS NUKLEUS TERHADAP LUAS SITOPLASMA SEL EPITEL MUKOSA BUKAL ANTARA PEROKOK KONVENSIONAL, ELEKTRIK, KOMBINASI, DAN NONPEROKOK PADA MAHASISWA USIA 18-25 TAHUN | Latar Belakang. Perubahan sitomorfometri, seperti rasio luas nukleus terhadap luas sitoplasma sel epitel mukosa bukal berpotensi dipicu oleh nikotin, nitrosamin, akrolein, logam berat dan zat lain dalam rokok baik konvensional, elektrik, maupun kombinasi. Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan rasio luas nukleus terhadap luas sitoplasma sel epitel mukosa bukal antara perokok konvensional, elektrik, kombinasi, dan nonperokok pada mahasiswa usia 18-25 tahun. Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 64 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Sampel diklasifikasikan berdasarkan empat kelompok penelitian, yaitu kelompok K1 (perokok konvensional), kelompok K2 (perokok elektrik), kelompok K3 (perokok kombinasi), dan kelompok K4 (nonperokok). Pengukuran dilakukan menggunakan software ImageJ. Data rasio luas nukleus terhadap luas sitoplasma dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada rasio luas nukleus terhadap luas sitoplasma antara perokok konvensional, elektrik, kombinasi, dan nonperokok (p>0,05). Simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rasio luas nukleus terhadap luas sitoplasma antara perokok konvensional, elektrik, kombinasi, dan nonperokok pada mahasiswa usia 18-25 tahun | Background. Cytomorphometric changes, such as the nuclear-to-cytoplasmic area ratio in buccal mucosal epithelial cells, may be induced by nicotine, nitrosamines, acrolein, heavy metals, and others substances found in conventional cigarettes, e-cigarettes, or both. Purpose. The purpose of this study was to determine differences in the ratio of nuclear area to cytoplasmic area in buccal mucosal epithelial cells among conventional smokers, e-cigarette users, combination smokers, and nonsmokers among college students aged 18–25 years. Methods. This was an analytical observational study with a cross sectional design. The sample consisted of 64 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Sampling was conducted using purposive sampling. The sample was classified into four study groups: Group K1 (conventional smokers), Group K2 (e-cigarette smokers), Group K3 (combination smokers), and Group K4 (non-smokers). Measurements were taken using ImageJ software. Data on the ratio of nuclear area to cytoplasmic area were analyzed using a one-way ANOVA. Result. The result showed not significant difference in the ratio of nuclear area to cytoplasmic area in buccal mucosal epithelial among conventional smokers, e-cigarette users, combination smokers, and non-smokers (p>0,05). Conclusion. In conclusion, there are not significant differences in the ratio of nuclear area to cytoplasmic area in buccal mucosal epithelial cells among conventional smokers, e-cigarettes users, combination smokers, and non-smokers among college student aged 18-25 years. | |
| 51792 | 20397 | H1K013036 | STUDI KEBERADAAN DAN FEEDING GROUND DUGONG (Dugong dugon) DI PULAU BAWEAN, KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR | Dugong (Dugong dugon) merupakan mamalia laut herbivor yang saat ini statusnya termasuk dalam rentan terhadap kepunahan. Penelitian ini dilakukan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang belum diketahui bagaimana keberadaan dan feeding ground dugong. Pengambilan data keberadaan dan feeding ground dilakukan di Desa Daun, Desa Legundi dan Desa Kumalasa menggunakan metode wawancara dan metode transek garis. Keberadaan dugong di Pulau Bawean dapat ditemukan di Desa Daun, Desa Legundi, dan Desa Kumalasa dimana semua responden masih sering melihat 1–3 dugong yang selalu ditemukan di daerah padang lamun dan juga ditemukan feeding trails dugong dengan cara grazing di Desa Daun. Jenis lamun yang ditemukan yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Halodule uninervis, H. pinifolia, dan Syringodium isoetifolium. Kondisi padang lamun termasuk kedalam kategori baik dengan petutupan lamun antara 28.699–82.677 % dimana jenis lamun didominasi oleh H. ovalis (553–2089 individu/m2). Keberadaan dugong erat hubungannya dengan sebaran jenis lamun seperti pada stasiun 1 dan 2 (Desa Daun) yang merupakan salah satu feeding ground dugong. Hal ini didasarkan dari keberadaan dugong yang ditemukan pada kawasan tersebut dan juga kelimpahan, kerapatan, penutupan jenis lamun didominasi oleh H. ovalis yang menjadi makanan kesukaan dugong. | Dugong (Dugong dugon) is a herbivorous marine mammals whose currently listed as vulnerable to extinction. This research was conducted in Bawean Island, Gresik Regency, East Java, which is not yet known how the existence and feeding ground dugong. Data of existence and feeding ground dugong were taken in Daun Village, Legundi Village and Kumalasa Village by using interview method and line transect method. The existence of dugong in Bawean Island can be found in Daun Village, Legundi Village, and Kumalasa Village where all of respondents still often see 1–3 dugong sightings that always found in seagrass meadow and found grazing trails of dugong in Daun Village. The diversity of seagrass type found are Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Halodule uninervis, H. pinifolia, and Syringodium isoetifolium. The seagrass meadow condition is included in good categories with seagrass cover between 28.699–82.677% which seagrass species is dominated by H. ovalis (553–2089 individual/m2). The existence of dugong closely related to the distribution of seagrass species such as in station 1 and 2 (Daun Village) which is one of feeding ground dugong. This is based on the existence of dugong that found in the area and also the abundance, density, coverage of seagrass species dominated by H. ovalis which became favorite food of dugong. | |
| 51793 | 38409 | C1L018031 | PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI DILIHAT DARI KEMANDIRIAN BELAJAR KELAS XI SMA NEGERI 1 PURWOKERTO | Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan kuasi eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui, menganalisis, dan menguji pengaruh model pembelajaran flipped classroom terhadap hasil belajar peserta didik melalui kemandirian belajar pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Purwokerto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI yang mendapatkan mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Purwokerto Tahun Ajaran 2022/2023. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Berdasarkan teknik tersebut, terdapat tiga kelas yang dijadikan sampel penelitian yaitu kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen, kelas XI IPS 2 sebagai kelas uji coba, dan kelas XI IPS 3 sebagai kelas kontrol. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier sederhana, sobel test, dan independent sample t-test. Berdasarkan analisis data, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Model pembelajaran flipped classroom berpengaruh terhadap hasil belajar; (2) Model pembelajaran flipped classroom berpengaruh terhadap kemandirian belajar; (3) Kemandirian belajar berpengaruh terhadap hasil belajar; (4) Model pembelajaran flipped classroom berpengaruh terhadap hasil belajar melalui kemandirian belajar; (5) Tidak terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik antara kelas yang diterapkan model pembelajaran flipped classroom dan model pembelajaran konvensional. | This research is a quantitative study with a quasi-experimental approach with the aim of knowing, analyzing, and testing the effect of the flipped classroom learning model on student learning outcomes through independent learning in economics subjects at SMA Negeri 1 Purwokerto.The population in this study were all students of class XI who received economics subjects at SMA Negeri 1 Purwokerto for the Academic Year of 2022/2023. The sampling technique used in this research is purposive sampling. Based on this technique, there are three classes that are used as research samples, namely class XI IPS 1 as an experimental class, class XI IPS 2 as a test class, and class XI IPS 3 as a control class. The analytical tools used in this research are simple linear regression, Sobel test, and independent sample t-test.Based on data analysis, the results of this study indicate that: (1) The flipped classroom learning model has an effect on learning outcomes; (2) The flipped classroom learning model has an effect on learning independence; (3) Independent learning has an effect on learning outcomes; (4) The flipped classroom learning model has an effect on learning outcomes through independent learning; (5) There is no difference in student learning outcomes between the classes that apply the flipped classroom learning model and the conventional learning model. | |
| 51794 | 47025 | G1A020098 | Perbedaan Faktor Risiko Skabies pada Laki-Laki dan Perempuan di Pondok Pesantren A.P.I Darul 'Ulum Cilacap | Latar belakang: Prevalensi skabies global masih tinggi, mencapai 300 juta kasus per tahun. Meskipun intervensi edukasi dan perilaku telah diterapkan di pondok pesantren, penurunan kasus belum signifikan. Faktor-faktor penyebabnya, termasuk peran jenis kelamin dalam risiko skabies, perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan: Mengetahui perbedaan faktor risiko skabies pada laki-laki dan perempuan di Pondok Pesantren A.P.I Darul ‘Ulum Cilacap. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri dari 37 santri Pondok Pesantren A.P.I Darul ‘Ulum Cilacap periode Februari hingga Maret 2024, dipilih menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan fisik, kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher untuk perbedaan antarvariabel. Hasil: Kejadian skabies ditemukan pada 10,8% responden (4 dari 37 santri) dan semuanya laki-laki. Mayoritas responden memiliki personal hygiene buruk (73,0%) dan status gizi normal (56,8%). Terdapat perbedaan signifikan kejadian skabies menurut jenis kelamin (p=0,036), tingkat pengetahuan (p<0,001), dan status gizi (p=0,003). Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara tingkat personal hygiene dan kejadian skabies (p=0,557). Responden laki-laki dengan status gizi underweight dan tingkat pengetahuan rendah memiliki risiko lebih tinggi terhadap skabies. Kesimpulan: Terdapat perbedaan faktor risiko skabies pada laki-laki dan perempuan di Pondok Pesantren A.P.I Darul ‘Ulum Cilacap. | Background: The global prevalence of scabies remains high, with 300 million cases reported annually. Despite the implementation of educational and behavioral interventions in Islamic boarding schools, the reduction in cases has been insignificant. The contributing factors, including the role of gender in scabies risk, need further investigation. Objective: To determine the differences in scabies risk factors between males and females at A.P.I Darul ‘Ulum Islamic Boarding School, Cilacap. Methods: This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 37 students from A.P.I Darul ‘Ulum Islamic Boarding School, Cilacap, during the February to March 2024 period, selected using total sampling. Data were collected through questionnaires and physical examinations and analyzed using the Fisher's exact test to examine relationships between variables. Results: Scabies was identified in 10.8% of the respondents (4 out of 37 students), all of whom were males. The majority of respondents had poor personal hygiene (73.0%) and normal nutritional status (56.8%). There were significant differences in the incidence of scabies based on gender (p=0.036), knowledge level (p<0.001), and nutritional status (p=0.003). No significant difference was found between personal hygiene level and the incidence of scabies (p=0.557). Male respondents with underweight nutritional status and low knowledge levels had a higher risk of scabies. Conclusion: There are differences in scabies risk factors between males and females at A.P.I Darul ‘Ulum Islamic Boarding School, Cilacap. | |
| 51795 | 23075 | B1J013175 | KARAKTERISTIK ANATOMI PADA DAUN TIGA KULTIVAR KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI KEBUN BENIH HOLTIKULTURA KLEDUNG, TEMANGGUNG, JAWA TENGAH | Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang tumbuh di Indonesia. Budidaya kentang di Indonesia dilakukan pada daerah dataran tinggi, dengan ketinggian antara 1000-3000 m dpl dan suhu optimal 18-21oC serta kelembaban 80-90%. Tempat budidaya kentang di Jawa Tengah salah satunya adalah Kebun Benih Holtikultura, Desa Kledung, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung terletak pada ketinggian 1399 m dpl dengan suhu 15-25oC. Jenis tanah pada Kebun Benih Holtikultura adalah regosol, tekstur tanah geluh pasiran dan berwarna coklat. Informasi morfologi, anatomi dan molekuler diperlukan guna mendukung kajian sistematika, pengembangan budidaya serta dalam bidang pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur dan karakter anatomi daun dari tiga kultivar kentang dan mengetahui perbedaan karakter anatomi daun dari tiga kultivar kentang. Teknik pengambilan sampel daun secara purposive random sampling. Daun kentang yang digunakan sebagai sampel adalah kultivar Dayang Sumbi; Atlantik; dan Olympus. Sampel daun kentang dibuat preparat mikroskopis menggunakan metode parafin dengan pewarnaan safranin 1% dalam alkohol 70%. Parameter yang diamati adalah tebal kutikula, tebal epidermis, tebal mesofil, ukuran stomata (panjang dan lebar), serta kerapatan stomata dan trikomata per 1 mm2 luas. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F dan uji lanjut BNT. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur anatomi daun kentang kultivar Atlantik, Olympus, dan Dayang Sumbi tersusun atas kutikula, epidermis atas, mesofil, berkas pengangkut, dan epidermis bawah serta derivat epidermis stomata dan trikomata. Hasil uji lanjut BNT pada karakter anatomi daun kentang kultivar Atlantik, Olympus, dan Dayang Sumbi berbeda pada tebal epidermis atas, lebar stomata bawah, dan kerapatan stomata atas. | Potato (Solanum tuberosum L.) is one of tubers type growing in Indonesia. Potato cultivation in Indonesia is held in plateau area, with altitude between 1000-3000 m asl and optimal temperature 18-21oC and humidity 80-90%. One of potato cultivation in Central Java is Kebun Benih Holtikultura in Kledung Village, Kledung District, Temanggung Regency is located at an altitude of 1399 m asl with temperature 15-25oC. Types of soil in the Seed Garden of Holtikultura is regosol, texture of the soil is sandy and brown. Morphological, anatomical and molecular information is needed to support systematic study, cultivation development and in the field of plant breeding. The purpose of this research was to understand the structure and character of leaf anatomy from three potato cultivars and to understand the difference of leaf anatomical character of three potato cultivars. Leaf sampling technique by purposive random sampling. Potato leaves used as samples were cultivars Dayang Sumbi; Atlantik; and Olympus. Leaf samples were turn into microscopic preparations using paraffin method with 1% safranin staining in 70% alcohol. The parameters observed were the thickness of the cuticle, the thickness of the epidermis, the thickness of the mesophyll, the stomata size (length and width), as well as the number of stomata and trichomata per 1 mm2 area. The observed data were analyzed by F-test and BNT advanced test. The results showed that the anatomical structure of potato leaves of Atlantik, Olympus, and Dayang Sumbi cultivar were composed of cuticle, upper epidermis, mesophyll, vascular bundle, and lower epidermis and epidermal derivatives were stomata and trichomata. The result of BNT advanced test on the anatomical character of Atlantik, Olympus, and Dayang Sumbi cultivar differ in upper epidermal thickness, lower stomata width, and upper stomatal density. | |
| 51796 | 24474 | C1I015043 | ANALYSIS OF THE READINESS OF MSMEs ACTORS IN THE IMPLEMENTATION OF SAK EMKM IN PURWOKERTO | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sikap, norma subjektif, kontrol perilaku persepsian, dan kesadaran terhadap niat pelaku UMKM dalam kesiapan pelaku UMKM untuk menerapkan SAK EMKM. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh UMKM di Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behavior dengan penambahan satu variabel yaitu kesadaran. Data penelitian diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner dengan teknik disproportionate stratified random sampling dan pendekatan kuantitatif dengan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap dan kontrol perilaku persepsian berpengaruh secara signifikan terhadap niat pelaku UMKM untuk menerapkan SAK EMKM. Norma subjektif dan kesadaran tidak berpengaruh secara signifikan terhadap niat pelaku UMKM untuk menerapkan SAK EMKM. Niat berpengaruh secara signifikan terhadap kesiapan pelaku UMKM dalam menerapkan SAK EMKM. | This study aims to analyze the influence of attitude, subjective norms, perceived behavioral control, and awareness on the intentions of MSMEs actors in the readiness of MSMEs actors in the implementation of SAK EMKM. The population in this study was all MSMEs in Purwokerto. This study used Theory of Planned Behavior with the addition of one variable, namely awareness. The research data was obtained directly from respondents through a questionnaire with disproportionate stratified random sampling technique and quantitative approaches of Partial Least Square (PLS). The results of this research indicate that the attitude and perceived behavioral control significantly influence the intention of MSMEs actors in the implementation of SAK EMKM. Subjective norms and awareness did not significantly influence the intention of MSMEs actors in the implementation of SAK EMKM. Intention significantly influence on the readiness of MSMEs actors in the implementation of SAK EMKM. | |
| 51797 | 38634 | A1C017027 | PENGARUH PASTEURISASI DAN KONSENTRASI GULA TERHADAP KUALITAS KOKTAIL BUAH NANAS DALAM KEMASAN ETILEN VINIL ALKOHOL (EVOH) SELAMA PENYIMPANAN SUHU RUANG | Indonesia dikenal dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah. Salah satunya adalah kekayaan jenis buah-buahan dengan citarasa yang khas. Salah satu buah yang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di iklim Indonesia adalah buah nanas. Nanas madu adalah salah satu spesies buah nanas lokal yang ada di Indonesia. Buah nanas mempunyai umur simpan yang terbatas, untuk dapat memperpanjang umur simpan dilakukan pengolahan buah nanas dalam kemasan evoh dengan menggunakan metode pasteurisasi. Beberapa jenis olahan yang dikembangkan pada industri makanan salah satunya ialah koktail buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gula terhadap kualitas buah nanas siap makan dalam kemasan dan mengetahui pengaruh lama pasteurisasi terhadap kualitas buah nanas siap makan dalam kemasan. Konsentrasi larutan gula yang digunakan pada penelitian ini yaitu 10%, 15% dan 20% dengan suhu 90oC selama 10 dan 30 menit menggunakan kemasan Etilen Vinil Alkohol (EVOH). Hasil pada penelitian ini yaitu perlakuan konsentrasi gula dan lama pasteurisasi berpengaruh sangat nyata terhadap kadar gula, perlakuan konsentrasi gula dan lama pasteurisasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai pH, tekstur, warna maupun vitamin C. | Indonesia is known for its abundant natural resource wealth. One of them is the richness of the types of fruit with a distinctive taste. One fruit that can grow and develop well in the Indonesian climate is pineapple. Honey pineapple is one of the local pineapple species in Indonesia. Pineapple fruit has a limited shelf life, in order to extend the shelf life, pineapple fruit is processed in evoh packaging using the pasteurization method. Several types of preparations developed in the food industry, one of which is fruit cocktail. This study aims to determine the effect of sugar concentration on the quality of ready-to-eat packaged pineapple and to determine the effect of pasteurization time on the quality of ready-to-eat packaged pineapple. The concentration of the sugar solution used in this study was 10%, 15% and 20% at 90oC for 10 and 30 minutes using Ethylene Vinyl Alcohol (EVOH) packaging. The results of this study were that the treatment of sugar concentration and pasteurization time had a very significant effect on sugar content, the treatment of sugar concentration and pasteurization time did not significantly affect pH value, texture, color or vitamin C. | |
| 51798 | 13902 | G1A012101 | Korelasi Intensitas Pruritus dengan Kualitas Hidup Santri Penderita Skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen | Latar Belakang: Skabies merupakan penyakit kulit yang umum ditemukan pada anak dengan prevalensi di Indonesia mencapai 12,95%. Gejala utama dari skabies adalah rasa gatal yang amat sangat pada malam hari. Rasa gatal yang diderita dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, terutama pada dimensi fisik dan dimensi psikologis. Tujuan: Mengetahui korelasi intensitas pruritus dengan kualitas hidup santri penderita skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen. Metode: Penelitian observasional analisis dengan pendekatan cross-sectional dan teknik purposive sampling. Subjek penelitian berjumlah 40 santri penderita skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen. Variabel bebas yaitu intensitas pruritus dan variabel terikat adalah kualitas hidup. Hasil: Intensitas pruritus santri penderita skabies adalah termasuk kategori gatal sedang. Kualitas hidup santri penderita skabies adalah termasuk kategori derajat tinggi. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p = 0,151 dan r = -0,167 sehingga tidak terdapat korelasi yang bermakna. Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi bermakna antara intensitas pruritus dengan kualitas hidup santri penderita skabies di Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah, Kemranjen. | Background: Scabies is a common skin disease among children with its prevalence in Indonesia reached 12,95%. The major symptom of scabies is severe nocturnal pruritus. This pruritic feeling can cause degradation of quality of life, especially in physical and psychological domains. Objective: Knowing the correlation of pruritus intensity with quality of life in students suffering scabies at Wathoniyah Islamiyah Islamic Boarding School, Kemranjen. Method: Observational studied with cross-sectional approach and purposive sampling technique. Subjects were 40 students suffering scabies at Wathoniyah Islamiyah Islamic Boarding School, Kemranjen. The independent variable was pruritus intensity and the dependent variable was quality of life. Result: The pruritus intensity in students suffering scabies was moderate pruritus. The quality of life in students suffering scabies was high degree. Spearman’s correlation test resulted p = 0,151 and r = -0,167 which showed there was no significant correlation. Conclusion: There was no significant correlation between pruritus intensity with quality of life in students suffering scabies at Wathoniyah Islamiyah Islamic Boarding School, Kemranjen. | |
| 51799 | 51760 | C1B022045 | Pengaruh Pengungkapan Environmental, Social, and Governance, dan Pilar-Pilarnya terhadap Biaya Utang Perusahaan Non-Keuangan di ASEAN-6 | Isu keberlanjutan yang semakin mendapat perhatian dari investor dan kreditur mendorong perusahaan untuk meningkatkan pengungkapan Environmental, Social, dan Governance (ESG). Bukti empiris mengenai pengaruh pengungkapan ESG terhadap biaya utang di pasar berkembang masih menunjukkan hasil yang belum konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan ESG dan pilar-pilarnya terhadap biaya utang (cost of debt) pada perusahaan di ASEAN-6 selama periode 2020–2024. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 275 perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data ESG yang diperoleh dari Bloomberg Terminal dan dianalisis menggunakan regresi data panel dengan Fixed Effect Model (FEM), dengan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan ESG dan masing-masing pilar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap biaya utang. Temuan ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan tingkat pengungkapan ESG yang lebih tinggi dipersepsikan memiliki risiko yang lebih rendah oleh kreditur, sehingga memperoleh biaya pendanaan utang yang lebih rendah. Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa transparansi ESG berperan penting dalam penilaian risiko kredit di pasar berkembang serta berkontribusi pada pengembangan literatur sustainable finance di kawasan Asia Tenggara. | Sustainability issues that have increasingly attracted the attention of investors and creditors encourage companies to enhance their disclosure of Environmental, Social, and Governance (ESG) information. Empirical evidence on the effect of ESG disclosure on the cost of debt in emerging markets remains inconclusive. This study aims to examine the effect of ESG disclosure and its individual pillars on the cost of debt of companies in the ASEAN-6 region during the 2020–2024 period. The sample consists of 275 companies. This study adopts a quantitative approach, using ESG data obtained from the Bloomberg Terminal and analyzed through panel data regression with a Fixed Effect Model (FEM), with firm size included as a control variable. The results indicate that ESG disclosure and each of its pillars have a negative and significant effect on the cost of debt. These findings suggest that companies with higher levels of ESG disclosure are perceived by creditors as having lower risk, enabling them to obtain lower debt financing costs. This study provides empirical evidence that ESG transparency plays an important role in credit risk assessment in emerging markets and contributes to the development of sustainable finance literature in Southeast Asia. | |
| 51800 | 55466 | H2B024021 | PENGARUH PENGGUNAAN FIBER REINFORCED POLYMER (FRP) PADA BATANG KOMPOSIT KAYU DAN BAMBU LAMINASI TERHADAP BEBAN AKSIAL TEKAN | Kebutuhan material konstruksi yang berkelanjutan mendorong pemanfaatan kayu cepat tumbuh seperti sengon. Namun, sengon memiliki sifat mekanis yang rendah. Penelitian ini mengusulkan inovasi material komposit hibrid berupa kayu sengon sebagai inti (core) dan bambu petung laminasi sebagai kulit (facing). Untuk mencegah kegagalan prematur struktur sandwich dan delaminasi akibat beban tekan aksial, diaplikasikan pengekangan lateral menggunakan Fiber Reinforced Polymer (FRP) bersistem Externally Bonded (EB). Penelitian eksperimental ini menguji benda uji berukuran 5x5x20 cm dengan variasi jumlah balutan sabuk FRP (0, 2, 3, 4, dan 5 lapis). Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan FRP mampu meningkatkan kapasitas tekan maksimal (Pmax) karena sabuk tersebut efektif menahan ekspansi lateral dan mengikat material penyusun agar bekerja sebagai satu kesatuan yang utuh. Pola keruntuhan berhasil diubah dari delaminasi masif menjadi core crushing, shear crimping, dan dimpling of facing yang hanya terjadi pada area celah tanpa balutan FRP. Meskipun terjadi peningkatan daya dukung secara teknis, uji statistik ANOVA menyimpulkan bahwa peningkatan tersebut tidak memiliki perbedaan rerata yang signifikan secara statistik. | The demand for sustainable construction materials encourages the utilization of fast-growing timber such as Sengon wood. However, Sengon inherently possesses low mechanical properties. This study proposes an innovative hybrid composite material utilizing Sengon as the core and laminated Petung bamboo as the facing. To mitigate sandwich structure premature and delamination under axial compressive loads, lateral confinement using Externally Bonded Fiber Reinforced Polymer (EB-FRP) was applied. This experimental research tested 5x5x20 cm specimens with varying layers of FRP strips (0, 2, 3, 4, and 5 layers). The results demonstrated that the application of FRP increased the maximum compressive capacity (Pmax) by effectively restraining lateral expansion and binding the constituent materials to act as a unified whole. The failure mode successfully transitioned from massive delamination to core crushing, shear crimping, and dimpling of facing, which were strictly localized within the unconfined gaps. Despite the technical improvement in load-bearing capacity, the ANOVA statistical analysis concluded that the mean differences in the compressive strength increase were not statistically significant. |