Artikelilmiahs

Menampilkan 51.781-51.784 dari 51.784 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5178154808A1D022180Respons Tiga Varietas Sawi Hijau (Brassica juncea L.) pada Berbagai Media Tanam terhadap
Fisiologi dan Hasil secara Hidroponik Deep Flow Technique (DFT)
Sawi hijau (Brassica juncea L.) pada sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT) dapat
menunjukkan respons fisiologi dan hasil yang berbeda akibat perbedaan media tanam dan varietas.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh media tanam, varietas, serta interaksi keduanya terhadap
fisiologi dan hasil tanaman sawi hijau pada sistem hidroponik DFT. Penelitian dilaksanakan pada Februari–
Maret 2026 di Greenhouse Dusun Gupakan, Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas dan
Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian
menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split-Plot) dengan media tanam sebagai petak utama, yaitu
rockwool (M1), arang sekam (M2), dan cocopeat (M3), serta varietas sebagai anak petak, yaitu Shinta (V1),
Tosakan (V2), dan Kumala (V3). Sembilan kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 unit
percobaan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan DMRT taraf 5%. Media tanam berpengaruh nyata
terhadap ILD 21 HST, LPT, volume akar, dan bobot kering tajuk. Rockwool menghasilkan ILD 0,89, LPT
6,66 g m⁻² hari⁻¹, dan bobot kering tajuk 2,53 g, sedangkan volume akar tertinggi diperoleh pada cocopeat
sebesar 3,54 cm³. Varietas berpengaruh sangat nyata terhadap SPAD 21 dan 28 HST serta nyata terhadap
ILD 21 HST dan kerapatan stomata. Shinta menghasilkan SPAD 33,17 dan 35,26 pada 21 dan 28 HST, ILD
0,64, serta kerapatan stomata 413,45 stomata mm⁻². Interaksi media tanam × varietas berpengaruh nyata
terhadap LAB, dengan M1V3 tertinggi sebesar 1,31 mg cm⁻² hari⁻¹ dan M3V3 terendah sebesar 0,40 mg
cm⁻² hari⁻¹.
Mustard green (Brassica juncea L.) under Deep Flow Technique (DFT) hydroponics may show
different physiological and yield responses due to differences in growing media and varieties. This study
aimed to determine the effects of growing media, varieties, and their interaction on the physiology and yield
of mustard green under DFT hydroponics. The experiment was conducted from February to March 2026 in
a greenhouse in Gupakan Hamlet, Srowot Village, Kalibagor District, Banyumas Regency, and at the
Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman. A Split-
Plot Design was used, with rockwool (M1), rice husk charcoal (M2), and cocopeat (M3) as main plots and
Shinta (V1), Tosakan (V2), and Kumala (V3) as subplots. Nine treatment combinations were replicated three
times, resulting in 27 experimental units. Data were analyzed using ANOVA and DMRT at 5%. Growing
media significantly affected LAI at 21 days after planting, crop growth rate, root volume, and shoot dry
weight. Rockwool produced LAI of 0.89, crop growth rate of 6.66 g m⁻² day⁻¹, and shoot dry weight of 2.53
g, whereas cocopeat produced the highest root volume of 3.54 cm³. Variety had highly significant effects on
SPAD at 21 and 28 days after planting and significant effects on LAI at 21 days and stomatal density. Shinta
produced SPAD values of 33.17 and 35.26, LAI of 0.64, and stomatal density of 413.45 stomata mm⁻². The
interaction between growing media and variety significantly affected net assimilation rate, with M1V3
producing 1.31 mg cm⁻² day⁻¹ and M3V3 producing 0.40 mg cm⁻² day⁻¹.
5178255201A1C022056UJI PERFORMANSI GASIFIER DOWNDRAFT BERDASARKAN JENIS BIOMASSA
Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat, sementara ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang semakin menipis mendorong pengembangan energi alternatif yang berkelanjutan. Biomassa, khususnya limbah kayu sengon (Falcataria moluccana) dan mahoni (Swietenia macrophylla), berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan melalui teknologi gasifikasi menggunakan reaktor gasifier downdraft. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis uji performansi gasifier downdraft berdasarkan perbedaan jenis biomassa melalui empat parameter, yaitu analisis proksimat, sisa abu pembakaran, stabilitas pembakaran, dan karakteristik nyala api.
Penelitian dilaksanakan di PT. Astana Wirakarya dan Laboratorium Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, selama bulan Maret–Juli 2026. Kedua jenis biomassa dipersiapkan melalui tahap pembersihan dan pengeringan hingga kadar air di bawah 15%, kemudian diuji proksimat dan diproses dalam reaktor gasifier downdraft dengan pengamatan temperatur pada zona pirolisis, oksidasi, dan reduksi menggunakan termokopel tipe K, serta pengamatan visual terhadap karakteristik nyala api.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu sengon memiliki karakteristik proksimat yang lebih menguntungkan untuk gasifikasi dibandingkan mahoni, yaitu kadar air lebih rendah (13,90% berbanding 14,85%), kadar abu lebih rendah (1,44% berbanding 2,58%), dan kadar karbon terikat lebih tinggi (9,45% berbanding 7,78%). Sisa abu pembakaran menunjukkan rata-rata 3,42% pada sengon dan 3,08% pada mahoni. Pada aspek stabilitas pembakaran, sengon mencapai kondisi stabil lebih cepat (rata-rata 12,5 menit) dengan Fuel Consumption Rate lebih rendah (0,875 kg/jam) dibandingkan mahoni (22 menit dan 1,31 kg/jam). Karakteristik nyala api sengon menunjukkan bentuk memanjang, terarah, dan stabil, sedangkan mahoni menunjukkan nyala yang lebih berfluktuasi dengan ignition delay kayu sengon sebesar 0,875 kg/jam, sedangkan biomassa mahoni sebesar 1,31 kg/jam yang lebih lama. Secara keseluruhan, biomassa kayu sengon menunjukkan performansi gasifier downdraft yang lebih baik dibandingkan kayu mahoni pada kondisi pengujian penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah dalam pemilihan jenis biomassa yang lebih efisien untuk pengembangan teknologi gasifikasi berbasis energi terbarukan.
Indonesia's energy needs keep growing, and as fossil fuel reserves continue to shrink, there's a clear push toward developing sustainable alternative energy sources. Biomass—particularly wood waste from sengon (Falcataria moluccana) and mahogany (Swietenia macrophylla)—shows strong potential as a renewable energy source through gasification technology using a downdraft gasifier reactor. This study set out to evaluate the performance of a downdraft gasifier using these two biomass types, looking at four key parameters: proximate analysis, combustion ash residue, combustion stability, and flame characteristics.
The research was carried out at PT. Astana Wirakarya and the Laboratory of Thermal Systems and Renewable Energy Engineering, Department of Agricultural Technology, Jenderal Soedirman University, from March to July 2026. Both biomass types were first cleaned and dried until their moisture content dropped below 15%, then tested for proximate composition and processed in the downdraft gasifier reactor. Temperature was tracked across the pyrolysis, oxidation, and reduction zones using type-K thermocouples, alongside visual observation of the resulting flame.
The results showed that sengon wood had more favorable proximate properties for gasification than mahogany—lower moisture content (13.90% vs. 14.85%), lower ash content (1.44% vs. 2.58%), and higher fixed carbon (9.45% vs. 7.78%). Ash residue after combustion averaged 3.42% for sengon and 3.08% for mahogany. In terms of combustion stability, sengon reached a stable burn faster, averaging 12.5 minutes, and used fuel more efficiently, with a lower Fuel Consumption Rate of 0.875 kg/hour compared to mahogany's 22 minutes and 1.31 kg/hour. Sengon's flame was also more consistent—elongated, well-directed, and stable—while mahogany's flame fluctuated more and took longer to ignite. Overall, sengon wood delivered better downdraft gasifier performance than mahogany under the conditions tested in this study. These findings are expected to serve as a useful scientific reference for choosing more efficient biomass fuels going forward, supporting the broader development of renewable, gasification-based energy technology.
5178355202A1F022021PENDUGAAN UMUR SIMPAN SELAI NANAS MENGGUNAKAN METODE ACCELERATED SHELF LIFE TEST (ASLT) DENGAN PENDEKATAN MODEL ARRHENIUS Selai nanas merupakan produk olahan buah yang dapat meningkatkan nilai tambah nanas sekaligus memperpanjang masa simpan bahan baku. Namun, selama penyimpanan dapat terjadi penurunan mutu, terutama degradasi vitamin C yang dipengaruhi oleh suhu dan lama penyimpanan. Metode sterilisasi kemasan menggunakan perebusan dan pengukusan dapat memberikan perlakuan panas yang berpotensi memengaruhi kestabilan vitamin C. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menduga umur simpan selai nanas berdasarkan penurunan kadar vitamin C menggunakan metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) dengan pendekatan model Arrhenius serta mengkaji pengaruh metode sterilisasi perebusan dan pengukusan terhadap vitamin C, umur simpan, pH, total padatan terlarut, dan sifat sensori selai nanas.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yaitu metode sterilisasi yang terdiri atas perebusan dan pengukusan, dengan enam kali ulangan. Sampel disimpan pada suhu 30°C, 40°C, dan 50°C selama 28 hari dengan pengamatan pada hari ke-1, 7, 14, 21, dan 28. Kadar vitamin C dianalisis menggunakan metode titrasi iodometri dan digunakan sebagai parameter kritis dalam pendugaan umur simpan. Nilai kritis vitamin C ditetapkan sebesar 50% dari kadar awal. Penentuan orde reaksi dilakukan dengan membandingkan nilai koefisien determinasi (R²) orde nol dan orde satu, kemudian pendugaan umur simpan dilakukan menggunakan model Arrhenius pada suhu 25°C. Parameter pendukung meliputi pH, total padatan terlarut (°Brix), serta uji hedonik terhadap 37 panelis semi terlatih dengan atribut warna, aroma, rasa, daya oles/tekstur, dan kesukaan keseluruhan. Perbedaan antar perlakuan dianalisis menggunakan uji statistik independent samples t-test dan wilcoxon signed ranks test pada uji hedonik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar vitamin C mengikuti kinetika reaksi orde satu pada suhu 30°C, 40°C, dan 50°C pada perlakuan perebusan maupun perebusan. Nilai konstanta laju reaksi meningkat seiring peningkatan suhu, yaitu 0,0182–0,0344 pada perlakuan perebusan dan 0,0171–0,0565 pada perlakuan pengukusan. Pendugaan umur simpan pada suhu 25°C menghasilkan rata-rata 32,67 ± 10,30 hari untuk perebusan dan 43,50 ± 8,48 hari untuk pengukusan. Namun, hasil uji independent samples t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode terhadap umur simpan (p=0,075). Nilai pH berkisar 3,51–3,73 dan °Brix 57,92–64,58, dengan tidak terdapat perbedaan signifikan antar perlakuan. Uji Wilcoxon juga menunjukkan bahwa metode sterilisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap seluruh atribut sensori, dengan skor rata-rata 3,73–4,19. Dengan demikian, metode perebusan dan pengukusan tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap mutu utama selai nanas.

Pineapple jam is a fruit-based product that can increase the added value of pineapple while extending the shelf life of the raw material. However, quality deterioration may occur during storage, particularly vitamin C degradation, which is influenced by storage temperature and duration. Packaging sterilization using boiling and steaming provides heat treatment that may affect vitamin C stability. Therefore, this study aimed to estimate the shelf life of pineapple jam based on vitamin C degradation using the Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) method with the Arrhenius model approach and to evaluate the effects of boiling and steaming sterilization on vitamin C content, shelf life, pH, total soluble solids, and sensory characteristics of pineapple jam.
The study used a Completely Randomized Design (CRD) with one factor, namely sterilization method, consisting of boiling and steaming treatments, with six replications. Samples were stored at 30°C, 40°C, and 50°C for 28 days and observed on days 1, 7, 14, 21, and 28. Vitamin C content was analyzed using iodometric titration and used as the critical parameter for shelf-life estimation. The critical value of vitamin C was set at 50% of the initial content. The reaction order was determined by comparing the coefficients of determination (R²) of zero-order and first-order reaction models, followed by shelf-life estimation using the Arrhenius model at a reference temperature of 25°C. Supporting parameters included pH, total soluble solids (°Brix), and a hedonic test involving 37 semi-trained panelists evaluating color, aroma, taste, spreadability/texture, and overall acceptance. Appropriate statistical tests were applied to determine differences between treatments.
The results showed that vitamin C degradation followed first-order kinetics at 30°C, 40°C, and 50°C for both sterilization methods. The reaction rate constants increased with increasing storage temperature, ranging from 0.0182–0.0344 for boiling and 0.0171–0.0565 for steaming. The estimated shelf life at 25°C was 32.67 ± 10.30 days for boiling and 43.50 ± 8.48 days for steaming. However, the independent samples t-test showed no significant difference between the two sterilization methods in terms of shelf life (p=0.075). The pH values ranged from 3.51–3.73 and total soluble solids ranged from 57.92–64.58°Brix, with no significant differences between treatments. The Wilcoxon test also indicated that sterilization method had no significant effect on any sensory attribute, with mean scores ranging from 3.73–4.19. Therefore, boiling and steaming sterilization did not significantly differ in their effects on the main quality characteristics of pineapple jam.
5178455203A1A022107Efisiensi Pemasaran Gula Kelapa Kristal di Kecamatan Sumpiuh Kabupaten BanyumasGula kelapa kristal merupakan salah satu komoditas unggulan yang diproduksi oleh perajin di Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Potensi produksi dan permintaan pasar yang terus berkembang memberikan peluang peningkatan pendapatan perajin, tetapi kondisi pemasaran masih menghadapi beberapa kendala. Panjangnya rantai pemasaran, perbedaan harga antar lembaga, serta keterbatasan akses informasi pasar dapat mengurangi bagian harga yang diterima perajin. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola saluran pemasaran, margin pemasaran, farmer’s share, biaya dan keuntungan pemasaran, serta menentukan saluran pemasaran gula kelapa kristal yang paling efisien.
Penelitian menggunakan metode survei yang dilaksanakan di Desa Ketanda, Desa Banjarpanepen, dan Desa Selanegara, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Sebanyak 60 perajin dipilih secara purposive, sedangkan lembaga pemasaran ditelusuri menggunakan snowball sampling. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dilengkapi dengan data sekunder yang relevan. Analisis dilakukan secara kuantitatif deskriptif melalui identifikasi saluran pemasaran, perhitungan margin pemasaran, farmer’s share, biaya pemasaran, keuntungan pemasaran, Indeks Efisiensi Teknis (IET), dan Indeks Efisiensi Ekonomis (IEE).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua pola saluran pemasaran gula kelapa kristal. Saluran I terdiri atas perajin, pedagang pengumpul, dan koperasi, sedangkan Saluran II terdiri atas perajin, pedagang pengumpul, pedagang besar, kemudian importir dan koperasi. Saluran II menjadi jalur yang paling banyak digunakan perajin, dengan proporsi 83,33 persen. Saluran I memiliki total margin pemasaran sebesar Rp1.000/kg, sedangkan Saluran II mencapai Rp19.242/kg. Perbedaan tersebut berkaitan dengan jumlah lembaga dan fungsi pemasaran yang lebih banyak pada Saluran II. Nilai farmer’s share Saluran I mencapai 95,45 persen, sedangkan Saluran II sebesar 52,84 persen. Biaya pemasaran Saluran I sebesar Rp113/kg dan Saluran II sebesar Rp7.408/kg, sementara keuntungan pemasaran masing-masing mencapai Rp1.000/kg dan Rp11.834/kg. Saluran I juga memiliki IET sebesar 5,9 dan IEE sebesar 8,4, sedangkan Saluran II memiliki IET sebesar 41,3 dan IEE sebesar 1,3. Kedua saluran tergolong efisien berdasarkan farmer’s share yang lebih dari 50 persen, tetapi Saluran I menunjukkan kinerja paling efisien secara teknis dan ekonomis karena memiliki margin serta biaya lebih rendah, farmer’s share lebih tinggi, IET lebih rendah, dan IEE lebih tinggi. Saluran II tetap memiliki keunggulan berupa volume penyerapan produk yang lebih besar dan jangkauan pasar yang lebih luas hingga pasar ekspor. Penguatan kemitraan, transparansi harga, penyampaian informasi pasar, serta peningkatan pengelolaan penyimpanan dan pengangkutan diperlukan agar manfaat pemasaran dapat diterima secara lebih optimal oleh seluruh pelaku.
Crystal coconut sugar was one of the leading agricultural commodities produced by farmers in Sumpiuh District, Banyumas Regency. Growing production potential and market demand provided opportunities to increase farmers’ income, while the existing marketing system faced several constraints. Long marketing chains, price differences among marketing institutions, and limited access to market information reduced the share of the final price received by farmers. This study aimed to analyze marketing channels, marketing margins, farmer’s share, marketing costs and profits, and to determine the most efficient marketing channel for crystal coconut sugar.
The research employed a survey method in Ketanda, Banjarpanepen, and Selanegara Villages, Sumpiuh District, Banyumas Regency. A total of 60 farmers were selected purposively, while marketing institutions were identified through snowball sampling. Primary data were obtained through observation, interviews, questionnaires, and documentation, and were complemented by relevant secondary data. Quantitative descriptive analysis was applied to identify marketing channels and calculate marketing margins, farmer’s share, marketing costs, marketing profits, Technical Efficiency Index (TEI), and Economic Efficiency Index (EEI).
The results revealed two marketing channel patterns for crystal coconut sugar. Channel I consisted of farmers, collecting traders, and a cooperative, while Channel II consisted of farmers, collecting traders, wholesalers, and subsequently importers and cooperatives. Channel II was the most widely used route, accounting for 83.33 percent of farmers. Channel I generated a total marketing margin of Rp1,000/kg, whereas Channel II generated Rp19,242/kg. The difference was associated with the greater number of marketing institutions and functions involved in Channel II. Farmer’s share reached 95.45 percent in Channel I and 52.84 percent in Channel II. Marketing costs amounted to Rp113/kg in Channel I and Rp7,408/kg in Channel II, while marketing profits reached Rp1,000/kg and Rp11,834/kg, respectively. Channel I recorded a TEI of 5.9 and an EEI of 8.4, whereas Channel II recorded a TEI of 41.3 and an EEI of 1.3. Both channels were classified as efficient based on farmer’s share values above 50 percent, but Channel I was identified as the most efficient from both technical and economic perspectives because it had a lower margin and marketing cost, higher farmer’s share, lower TEI, and higher EEI. Channel II had advantages in product absorption and wider market coverage extending to export markets. Stronger partnerships, transparent price setting, better market information, and improved storage and transportation management were needed to increase the benefits received by all marketing participants.