Artikelilmiahs

Menampilkan 51.701-51.720 dari 52.044 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
517015850D1A007008PENGARUH LEVEL ETANOL DAN LAMA MASERASI KUNING TELUR PUYUH TERHADAP KOLESTEROL TOTAL, HDL, DAN LDLPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh level etanol, lama maserasi, dan interaksinya terhadap kadar kolesterol total, LDL, dan HDL tepung kuning telur puyuh. Materi yang digunakan adalah kuning telur puyuh sebanyak seribu tiga ratus lima puluh gram, dan etanol 70 % sebanyak lima ribu empat ratus mililiter. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pola faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah level etanol (P) yang terbagi menjadi tiga yaitu p1 100ml (50 gram kuning telur puyuh dengan 100 ml etanol), p2: 200 ml (50 gram kuning telur puyuh dengan 200 ml etanol), dan p3: 300 ml (50 gram kuning telur puyuh dengan 300 ml etanol), faktor kedua adalah lama maserasi (L) yang terbagi menjadi tiga yaitu l1 maserasi selama 10 menit, l2 maserasi selama 20 menit, dan l3 maserasi selama 30 menit, setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diukur yaitu kadar kolesterol total, HDL dan LDL. Hasil uji variansi menunjukkan bahwa level etanol berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap kadar LDL, sedangkan lama maserasi dan interaksi antara level etanol dan lama maserasi berpengaruh tidak nyata (P < 0,05) terhadap kadar kolesterol total, LDL dan kadar HDL tepung kuning telur puyuh. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa bahwa level etanol 300 ml dengan lama maserasi 30 menit mampu memperbaiki kualitas tepung kuning telur puyuh (kolesterol total dan LDL terendah serta HDL meningkat).The pusposes of research to evaluate the effect of level etanol, maceration period, and its interaction on total cholesterol, LDL, and HDL quail egg yolk powder. One thousand three hundred and fifty gram egg yolk quail and five thausand four hundred mililiter ethanol 70% were used. The research method is experimentally using Completely Randomized Design with factorial 3 x 3, the first factor level etanol (P) p1 100 ml (50 gram egg yolk quail with 100 ml etanol), p2 200 ml (50 gram egg yolk quail with 200 ml etanol), p3 300 ml (50 gram egg yolk quail with 300 ml etanol), second factor is maceration period (L) namely l1 maceration as long 10 minutes, l2 maceration as long 20 minutes and l3 maceration as long 30 minutes, each treatment combination was repeated three times. Variables measured the levels of total cholesterol, HDL and LDL. Analysis of variance showed that the etanol level significantly (P <0.05) effect on cholesterol levels, while maceration period and it’s interaction not significant (P <0.05) effect on total cholesterol, LDL and HDL quail egg yolk powder. Based on these results it can be concluded that level of etanol 300 ml with maceration period 30 minutes can improve quality quail egg yolk powder (the lowest total cholesterol and LDL and increased HDL).
5170245616J1A020017THE DIFFERENCES OF TRANSLATION TECHNIQUES ON TWO MODELS OF SIMULTANEOUS AND CONSECUTIVE INTERPRETING IN THE ASIALEX CONFERENCE 2021Penerjemahan lisan sangat penting untuk pertukaran budaya dan komunikasi di era globalisasi. Berdasarkan kepentingan tersebut, penelitian ini menganalisis perbedaan teknik penerjemahan dalam penerjemahan lisan simultan dan berurutan menggunakan data dari sesi Prof. Rufus Gouws di konferensi Asialex 2021. Menggunakan metode deskriptif-kualitatif, penelitian ini mentranskrip, mengategorikan, membandingkan, dan menganalisis 184 data dari masing-masing dua model interpreting dalam bahasa sumber dan bahasa target, dengan memanfaatkan teori Molina dan Albir untuk mengidentifikasi teknik terjemahan. Temuan penelitian mengungkapkan 12 teknik dalam penerjemahan simultan dan 11 teknik dalam penerjemahan berurutan. Dalam penerjemahan simultan, teknik seperti kompresi linguistik, terjemahan literal, dan reduksi menyederhanakan dan meringkas informasi, memastikan akurasi waktu nyata. Teknik seperti amplifikasi, padanan yang ditetapkan, modulasi, dan adaptasi menambah kejelasan dan relevansi budaya, sementara peminjaman menjaga konsistensi istilah. Dalam penerjemahan berurutan, amplifikasi linguistik dan terjemahan literal meningkatkan kejelasan dan efektivitas dengan menambah konteks dan meringkas informasi. Teknik seperti kompresi linguistik, transposisi, calque, dan modulasi menyesuaikan struktur dan terminologi, memastikan kesesuaian dengan bahasa target, sementara deskripsi dan padanan yang ditetapkan menjembatani kesenjangan dan menjaga konsistensi. Teknik seperti partikularisasi, kompensasi, substitusi, dan variasi tidak digunakan dalam kedua model.Interpreting is vital for cultural exchange and communication in the era of globalization. Based on that concern, this research analyzes translation technique differences in simultaneous and consecutive interpreting using data from Prof. Rufus Gouws' session at Asialex 2021. Employing descriptive-qualitative methods, the research transcribes, categorizes, compares, and analyzes 184 data from each of the two interpreting models in source and target languages, utilizing Molina and Albir's theory to identify. Findings revealed 12 techniques in simultaneous interpreting and 11 techniques in consecutive interpreting. In simultaneous interpreting, techniques such as linguistic compression, literal translation, and reduction streamline the process by simplifying and condensing information, ensuring real-time accuracy. Amplification, established equivalents, modulation, and adaptation add clarity and cultural relevance while borrowing maintains term consistency. In consecutive interpreting, linguistic amplification and literal translation enhance clarity and effectiveness by adding context and condensing information. Techniques like linguistic compression, transposition, calque, and modulation adjust structures and terminology, ensuring alignment with the target language, while description and established equivalents bridge gaps and maintain consistency. Techniques such as particularization, compensation, substitution, and variation are not used in either model.
5170340988E1A019325ANALISIS PERKARA PERDATA MENGENAI PERBUATAN MELAWAN
HUKUM DAN WANPRESTASI DALAM PENGHENTIAN PERJANJIAN
PEMBORONGAN PEKERJAAN SECARA SEPIHAK
(Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor : 708/K/Pdt/2021)
Penelitian ini dilakukan terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor
708/K/Pdt/2021 mengenai Perbuatan Melawan Hukum dan Wanprestasi dalam
Penghentian Perjanjian Pemborongan Secara Sepihak. Tujuan daripada penelitian
ini adalah untuk menganalisis tindakan yang dilakukan oleh Tergugat dalam
permasalahan hukum yang terjadi pada perkara Putusan Nomor 708/K/Pdt/2021
merupakan Perbuatan Melawan Hukum atau Wanprestasi. Selanjutnya, tujuan dari
penelitian ini juga dimaksudkan untuk menganalisis Pertimbangan Hukum Hakim
melalui rangkaian peradilan pada perkara Putusan Nomor 708/K/Pdt/2021. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif
dengan spesifikasi penelitian deskriptif analisis. Sumber data dalam penelitian ini
adalah bersumber dari data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, sekunder
dan tersier dengan menggunakan metode analisis data yang dilakukan secara
normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh hasil bahwa
tindakan Ny. Desiana selaku Pemberi Pekerjaan/Tergugat telah melakukan
Perbuatan Melawan Hukum (PMH) berupa penghentian perjanjian pemborongan
pekerjaan secara sepihak terhadap perjanjian kerjasama yang disepakati bersama
dengan Penggugat, H. Rif’al Arief selaku Pemborong. Akan tetapi, Tergugat
menjawab gugatan PMH atas dirinya oleh Penggugat merupakan hal yang keliru
dan tidak jelas sebab hubungan antara dirinya dan H. Rif’al Arief merupakan
hubungan hukum dengan dasar perjanjian (Kontrak) yang semestinya merupakan
perkara Wanprestasi. Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
diperoleh hasil bahwa Pertimbangan Hukum Hakim pada Putusan Nomor
708/K/Pdt/2021 dalam perkara yang terjadi melalui rangkaian peradilan hingga
memperoleh putusan dalam tingkat Kasasi yang melakukan pembatalan terhadap
Putusan Pengadilan Tinggi Semarang yang membatalkan Putusan Pengadilan
Negeri Jepara menyatakan Tindakan Tergugat merupakan Perbuatan Melawan
Hukum dinilai sudah tepat karena telah sesuai dan memenuhi unsur Perbuatan
Melawan Hukum (PMH).
This research was conducted on Supreme Court Decision Number
708/K/Pdt/2021 regarding Unlawful Acts and Default in the Unilateral
Termination of a Contracting Agreement. The purpose of this research is to
analyze the actions taken by the Defendant in the legal issues that occurred in the
case of Decision Number 708/K/Pdt/2021 which constitutes a tort or default.
Furthermore, the purpose of this research is also intended to analyze the Judges'
Legal Considerationsthrough a series of trials in case No. 708/K/Pdt/2021. The
research method used in this research is a normative juridical approach with
descriptive analysis research specifications. The data source in this research is
secondary data which includes primary, secondary and tertiary legal materials
using a normative qualitative data analysis method.
Based on the results of the research and discussion, it is found that the
actions of Mrs. Desiana as the Employer/Defendant have committed Unlawful Acts
(PMH in Indonesian) in the form of unilateral termination of the work contracting
agreement against the cooperation agreement agreed upon with the Plaintiff, H.
Rif'al Arief as the Contractor. However, the Defendant answered that the PMH
claim against him by the Plaintiff was wrong and unclear because the relationship
between him and H. Rif'al Arief was a legal relationship with the basis of an
agreement (Contract) which should be a case of Default. Furthermore, based on
the results of research and discussion, it is found that the Judge's Legal
Consideration in Decision Number 708/K/Pdt/2021 in a case that occurred
through a series of courts until obtaining a decision at the Cassation level which
overturned the Semarang High Court Decision which overturned the Jepara
District Court Decision stating that the Defendant's actions were Unlawful Acts
was considered correct because it was appropriate and fulfilled the elements of
Unlawful Acts (PMH in Indonesian).
5170449687F1A021119KENTONGAN SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI TRADISIONAL PADA ERA DIGITAL (STUDI PADA MASYARAKAT DESA TANGGERAN, KEBUMEN)Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi persepsi masyarakat dan kendala dalam memanfaatkan kentongan sebagai alat komunikasi tradisional. Teori yang digunakan ialah Teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer. Peneitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengetahui dan mendalami suatu fenomena yang membutuhkan penjelasan langsung masyarakat Desa Tanggeran mengenai persepsi dan kendala dalam memanfaatkan kentongan sebagai alat komunikasi tradisional pada era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, persepsi generasi tua dan generasi muda terhadap kentongan menunjukkan keterhubungan yang harmonis yaitu bagi generasi tua yang lebih dekat dengan era sebelum digitalisasi cenderung memaknai kentongan secara historis dan simbolik sebagai bagian dari identitas sosial desa sedangkan bagi generasi muda, kentongan tetap relevan hingga saat ini, khususnya dalam situasi darurat seperti bencana malam hari, saat alat komunikasi digital tidak efektif. Kedua generasi tersebut memandang kentongan bukan sebagai simbol yang usang, melainkan sebagai bagian dari sistem komunikasi yang tetap memiliki relevansi khususnya dalam mendukung solidaritas dan kesiapsiagaan masyarakat di tengah era digital. Kedua, kendala masyarakat dalam memanfaatkan kentongan meliputi jangkauan bunyi yang terbatas, minim regenerasi pengguna kentongan, dan persaingan dengan teknologi modern.
This research aims to identify community perceptions and constraints in utilizing the kentongan as a traditional communication tool. The theory used is Herbert Blumer's Symbolic Interactionism Theory. This research uses a descriptive qualitative method to know and explore a phenomenon that requires a direct explanation of the Tanggeran Village community regarding perceptions and constraints in utilizing kentongan as a traditional communication tool in the digital era. The results of the study show that first, the perceptions of the older generation and the younger generation towards the kentongan show a harmonious relationship, namely for the older generation who are closer to the era before digitalization tend to interpret the kentongan historically and symbolically as part of the village's social identity while for the younger generation, the kentongan remains relevant today, especially in emergency situations such as nighttime disasters, when digital communication tools are ineffective. Both generations view kentongan not as an obsolete symbol, but as part of a communication system that still has relevance, especially in supporting community solidarity and preparedness in the midst of the digital era. Second, community obstacles in utilizing kentongan include limited sound coverage, minimal regeneration of kentongan users, and competition with modern technology.
5170527230D1B017027PENGARUH LAMA POST THAWING TERHADAP MOTILITAS, VIABILITAS DAN ABNORMALITAS SEMEN BEKU SAPI PASUNDANPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama post-thawing terhadap tiga variabel yaitu motilitas, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa semen beku sapi pasundan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 straw semen beku Sapi Pasundan. Rancangan penelitian ini menggunakan RAL dengan perlakuan waktu berbeda-beda (P0 = 0 menit, P1 = 15 menit, P2 = 45 menit, P3 = 65 menit). Data diolah dengan uji F dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) atau Tukey apabila terjadi perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase rata-rata motilitas yang dihasilkan adalah P0 (40%) dan P1 (35%) berbeda nyata (P<0,05) terhadap P2 (31%) dan P3 (29%). Persentase viabilitas spermatozoa pada perlakuan P0 (67,5%), P1 (50%), P2 (41,8%) dan P3 (35,7%) berbeda nyata (P<0,05) antara satu dengan yang lainnya. Persentase abnormalitas spermatozoa pada perlakuan P0 (6,9%) berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap P1 (7,10%), P2 (7,2%) dan P3 (7,9%). Hasil penelitian disimpulkan bahwa hasil rata-rata motilitas yang paling baik pada perlakuan P0 dan viabilitas P0, sedangkan abnormalitas menunjukkan hasil rata-rata 7,28%.
Kata kunci : Motilitas, Viabilitas, Abnormalitas, Post-thawing
This research was aimed at knowing the effect of post thawing on motility, viability and abnormality spermatozoa frozen semen of Pasundan bulls. Fourty frozen semen of Pasundan bulls were used for this research. A completely randomized design was used in this research with time as the treatment (P0 = 0 minute, P1 = 15 minute, P2 = 45 minute and P3 = 65 minute). The data were then analyzed with F test and Honestly Significance Difference (HSD) or Tukey. Results of this research showed that the average percentage of motility was P0 (40%) and P1 (35%) were significantly different (P<0.05) with P2 (31%) and P3 (29%). Percentage of spermatozoa viability P0 (67.5%), P1 (50%),P2 (41.8%) and P3 (35.7%) were significantly different (P<0.05) to one another. Percentage of spermatozoa abnormality P0 (6.9%) were not significantly different (P>0.05) with P1 (7.10%), P2 (7.2%) and P3 (7.9%). The result showed that the average of the best motility was P0 (40%) and viability P0 (67.5%), whereas abnormality showed that the average was 7.28%.
Key words : Motility, Viability, Abnormality, Post-thawing
5170646709E1A020283URGENSI RATIFIKASI KONVENSI INTERNATIONAL LABOUR ORGANIZATION NOMOR 190 TAHUN 2019
(Studi tentang Perlindungan Tenaga Kerja Wanita dari Tindak Kekerasan dan Pelecehan dalam Dunia Kerja di Indonesia)
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Never Okay Project bersama International Labour Organization wanita cenderung menjadi korban kekerasan dan pelecehan di dunia kerja. Perlindungan hukum yang dimiliki Indonesia bagi kasus kekerasan dan pelecehan di dunia kerja saat ini adalah Kepmenaker Nomor 88 Tahun 2023 tentang Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Tempat Kerja yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang TPKS. Di sisi lain, ILO telah mengesahkan Konvensi ILO Nomor 190 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja pada tahun 2019, namun hingga saat ini Indonesia belum meratifikasi konvensi tersebut.
Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis urgensi Indonesia dalam meratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 Tahun 2019 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja dan menganalisis penerapan perlindungan tenaga kerja wanita dari tindak kekerasan dan pelecehan dalam dunia kerja di Indonesia. Tipe penelitian yaitu yuridis normatif dengan metode pendekatan yang digunakan adalah statute approach dan analytical approach. Spesifikasi penelitian yaitu deskriptif analitis. Metode pengumpulan data yaitu studi kepustakaan dengan menggunakan data sekunder yang disajikan dalam bentuk uraian sistematis yang kemudian dianalisis secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, urgensi Indonesia dalam meratifikasi Konvensi ILO 190 yaitu untuk menjamin kepastian hukum perlindungan tenaga kerja wanita dari tindak kekerasan dan pelecehan di dunia kerja serta sebagai langkah strategis untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan nomor lima terkait kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Penerapan perlindungan tenaga kerja yang diberikan Kepmenaker No. 88 Tahun 2023 dan UU TPKS berupa perlindungan preventif untuk pencegahan dan perlindungan represif. Perlindungan preventif diberikan dengan adanya kewajiban perusahaan untuk mengatur larangan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja dalam peraturan perusahaan. Perlindungan represif diberikan Kepmenaker No. 88 Tahun 2023 berupa sanksi administratif bagi pelaku, sedangkan untuk sanksi pidana dikaitkan dengan UU No. 12 Tahun 2022 tentang TPKS. Perlindungan tersebut hanya terfokuskan pada kekerasan dan pelecehan seksual.
According to a survey conducted by the Never Okay Project in collaboration with the International Labour Organization (ILO), women tend to be the victims of violence and harassment in the workplace. Indonesia currently has legal protections for workplace violence and harassment cases through the Ministry of Manpower Decree No. 88 of 2023 on Guidelines for the Prevention and Handling of Sexual Violence in the Workplace, which refers to Law No. 12 of 2022 on the Prevention and Eradication of Sexual Violence (TPKS). On the other hand, the ILO adopted Convention No. 190 on the Elimination of Violence and Harassment in the World of Work in 2019, but Indonesia has yet to ratify this convention.
The purpose of this study is to analyze the urgency for Indonesia to ratify ILO Convention No. 190 of 2019 on the Elimination of Violence and Harassment in the World of Work, and to examine the application of legal protection for female workers against violence and harassment in the workplace in Indonesia according to ILO Convention No. 190. This is a normative juridical study using a statute approach and an analytical approach. The study is descriptive-analytical in nature, and the data collection method is through literature review, using secondary data which is presented in a systematic narrative and then analyzed qualitatively in a normative manner.
Based on the results of the research, Indonesia's urgency in ratifying ILO Convention 190 is to ensure legal certainty in protecting women workers from violence and harassment in the world of work and as a strategic step to support sustainable development goal number five related to gender equality and women's empowerment. The implementation of labour protection provided by Kepmenaker No. 88 of 2023 and the TPKS Law is in the form of preventive protection for prevention and repressive protection. Preventive protection is provided by the company's obligation to regulate the prohibition of violence and harassment in the workplace in the company's regulations. Repressive protection is provided by Kepmenaker No. 88 of 2023 in the form of administrative sanctions for perpetrators, while criminal sanctions are associated with Law No. 12 of 2022 concerning TPKS. These protections are only focused on sexual violence and harassment.
5170747575A1D020173ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI RIZOSFER PADI PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI DESA MERDEN KECAMATAN PURWANEGARA KABUPATEN BANJARNEGARADi Desa Merden terdapat dua sistem budidaya yaitu sistem pertanian organik dan sistem pertanian konvensional atau anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah populasi bakteri rizosfer pada lahan pertanian padi sistem organik dan anorganik, dan mengetahui potensi PGPR pada pertanian organik dan anorganik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2024-Juni 2024 di Unit Mikrobiologi Laboratorium Agroekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Pengambilan sampel tanah dilakukan secara komposit dengan teknik pengambilan secara diagonal. Sampel tanah yang diperoleh kemudian dilakukan isolasi bakteri menggunakan metode pour plate pada medium Nutrient Agar. Isolat yang telah diperoleh selanjutnya dilakukan karakterisasi morfologi makroskopis dan morfologi mikroskopis, serta uji potensi PGPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi bakteri rizosfer yang berasal dari lahan pertanian organik lebih tinggi yaitu sebesar 12,34 x 108 CFU/mL dibandingkan dengan lahan anorganik yang hanya sebesar 1,91 x 108 CFU/ml. Setiap isolat bakteri memiliki morfologi yang berbeda, namun terdapat beberapa isolat yang sama dari sampel lahan pertanian organik (OG) dan lahan pertanian anorganik (ANK), yaitu OG6 dan ANK7 memiliki bentuk tidak beraturan, ukuran titik, tepi undulate, elevasi datar, dan warna putih, serta OG10, ANK1, dan ANK2 memiliki bentuk bulat, ukuran sedang, tepi entire, elevasi datar, dan warna putih. Lahan organik memiliki 1 bakteri Gram negatif dan 9 Gram positif, sedangkan lahan anorganik memiliki 2 bakteri Gram negatif dan 8 bakteri Gram positif dengan bentuk sel basil, kokus, dan spirilli. Hasil pengujian potensi PGPR menunjukkan bahwa seluruh isolat bakteri lahan organik memiliki kemampuan menambat nitrogen, sedangkan isolat bakteri lahan anorganik yang memiliki kemampuan menambat nitrogen yaitu ANK2, ANK3, ANK5, dan ANK8. Isolat yang memiliki kemampuan melarutkan fosfat yaitu OG4, OG6 dan OG9. In Merden Village there are two cultivation systems, namely organic farming systems and conventional or inorganic farming systems. This research aims to determine the population of rhizosphere bacteria in organic and inorganic rice farming systems, and determine the potential of PGPR in organic and inorganic farming. This research was carried out in March 2024-June 2024 at the Microbiology Unit of the Agroecology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Soil samples were taken compositely using a diagonal sampling technique. The soil samples obtained were then isolated for bacteria using the pour plate method on Nutrient Agar medium. The isolates that were obtained were then characterized by macroscopic morphology and microscopic morphology, as well as testing for PGPR potential. The research results showed that the population of rhizosphere bacteria originating from organic agricultural land was higher, namely 12.34 x 108 CFU/mL compared to inorganic land which was only 1.91 x 108 CFU/ml. Each bacterial isolate has a different morphology, but there are several isolates that are the same from organic agricultural land (OG) and inorganic agricultural land (ANK) samples, namely OG6 and ANK7 have irregular shapes, point sizes, undulate edges, flat elevations, and colors. white, as well as OG10, ANK1, and ANK2 have a round shape, medium size, entire edge, flat elevation, and white color. Organic land has 1 Gram-negative and 9 Gram-positive bacteria, while inorganic land has 2 Gram-negative bacteria and 8 Gram-positive bacteria in the form of bacilli, cocci and spirilli cells. The results of PGPR potential testing showed that all organic land bacterial isolates had the ability to fix nitrogen, while the inorganic land bacterial isolates that had the ability to fix nitrogen were ANK2, ANK3, ANK5, and ANK8. Isolates that have the ability to dissolve phosphate are OG4, OG6 and OG9.
5170833334A1G018003ANALISIS RISIKO USAHATANI SAYURAN ORGANIK DI KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMASDesa Melung dan Windujaya merupakan daerah sentra usahatani sayuran organik yang berada di Kecamatan Kedungbanteng dan terletak di lereng Gunung Slamet. Usahatani sayuran organik ini didirikan karena semakin banyaknya permintaan konsumen untuk mengonsumsi sayuran organik. Permintaan produk sayuran organik meningkat pada saat pandemi Covid-19 dari 12,84% menjadi 15,46%. Namun, dalam usahatani tersebut sering terjadi risiko yang diakibatkan oleh ketidakmampuan petani untuk memprediksi mengenai hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang seperti, harga jual yang berfluktuatif, iklim dan kondisi alam. Risiko yang sering dihadapi petani adalah risiko produksi, harga, dan pendapatan. Risiko tersebut dapat menyebabkan penurunan produksi tanaman yang dihasilkan, sehingga akan berpengaruh terhadap pendapatan yang akan diterima petani. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menghitung risiko produksi, harga, dan pendapatan, 2) mengidentifikasi sumber-sumber risiko usahatani dan upaya yang dilakukan petani, 3) menghitung kontribusi pendapatan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Penentuan responden penelitian menggunakan metode sensus untuk petani sayuran organik diperoleh sebanyak 20 petani. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Risiko produksi dan harga memiliki risiko yang kecil sedangkan risiko pendapatan memiliki risiko yang sedang. Risiko tertinggi pada usahatani sayuran organik adalah caisim diikuti dengan selada, bawang daun, dan buncis 2) beberapa risiko yang sering terjadi seperti cuaca hujan yang terus menerus, adanya gangguan hama dan penyakit, serta kurangnya ketersediaan sarana produksi, 3) kontribusi pendapatan usahatani sayuran organik sebesar 53,48 dikategorikan tinggi yang menunjukkan bahwa pendapatan usahatani sayuran organik memiliki peranan sangat penting bagi rumah tangga petani.Melung and Windujaya villages are organic vegetable farming centers located in Kedungbanteng District and located on the slopes of Mount Slamet. This organic vegetable farm was founded because of the increasing demand for consumers to consume organic vegetables. However, in such farming there are often risks caused by the inability of farmers to predict things that will happen in the future such as unstable selling prices, unpredictable, volatile, and uncontrollable climate and natural conditions. The risks that are often faced by farmers are production, price and income risks. This risk can cause a decrease in crop production, so that it will affect the income that will be received by farmers. The purpose of this study to: 1) calculate the risk level of production, price, and income, 2) identify sources of farming risk and efforts made by farmers, 3) calculate income contribution. The study method used is a case study.
Determination of study respondents using the census method for organic vegetable farmers obtained as many as 20 farmers. The results of this study indicate that 1) Production and price risk has a small level of risk while income risk has a medium level of risk. The highest risk in organic vegetable farming is caisim compared to beans, lettuce, and leeks, 2) the biggest source of risk in organic vegetable farming is production risk such as continuous rainy weather, pest and disease disturbances, and lack of availability of production facilities, 3) the contribution of organic vegetable farming income is 53,48 categorized as high which indicates that organic vegetable farming income has a very important role for farmer households.
5170950910I1B021065Hubungan Tingkat Stres Akademik dengan Konsumsi Kopi Kekinian pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Mahasiswa keperawatan menghadapi tekanan akademik tinggi dari tugas, ujian, dan praktik klinis yang dapat memicu stres akademik. Untuk mengatasi stres dan meningkatkan fokus, banyak mahasiswa mengonsumsi kopi kekinian yang mengandung kafein sebagai stimulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres akademik dengan konsumsi kopi kekinian pada mahasiswa keperawatan Universitas Jenderal Soedirman
Metodologi: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 240 mahasiswa keperawatan yang dipilih dengan teknik stratified random sampling. Data diperoleh melalui kuesioner Student-Life Stress Inventory (SLSI) dan kuesioner kebiasaan minum kopi kekinian berbentuk Google Form. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik non parametric sommers’d
Hasil Penelitian: Responden berusia 18-22 tahun dengan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 209 responden (87,1%). Responden terbanyak berasal dari angkatan 2023 sebanyak 85 responden (35,4%), serta mayoritas responden memiliki besaran uang saku perbulan >Rp500.000,00 sebanyak 189 responden (78,8 %). Mayoritas memiliki tingkat stres akademik sedang 180 responden (75,0%) dan konsumsi kopi kekinian sedang 121 responden (50,4%). Hasil uji menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat tingkat stres akademik dengan konsumsi kopi kekinian dengan nilai p-value = 0,021, serta nilai koefisien sebesar 0,162 menunjukkan hubungan bersifat positif dengan kekuatan yang lemah.
Kesimpulan: Mahasiswa keperawatan memiliki tingkat stres akademik tidak terlalu tinggi, namun tetap memengaruhi perilaku konsumsi kopi kekinian.
Kata Kunci: Konsumsi kopi kekinian, mahasiswa keperawatan, tingkat stres akademik
Background: Nursing students face high academic pressure assignments, exams, and clinical practice, which can trigger academic stress. To cope with stress and improve focus, many students consume trendy coffee containing caffeine as a stimulant. This study aims to determine the relationship between academic stress levels and trendy coffee consumption among nursing students at Jenderal Soedirman University.
Methodology: This quantitative study used a cross-sectional approach in 240 nursing students selected using a stratified random sampling technique. Data were obtained through the Student-Life Stress Inventory (SLSI) questionnaire and a trendy coffee drinking habits questionnaire in the form of a Google Form. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods using the non-parametric Sommers'd statistical test.
Research Results: Respondents were aged 18-22 years, with the majority being female (209 respondents (87.1%). The largest number of respondents were from the class of 2023 (85 respondents) and the majority of respondents (189 respondents (78.8%) had a monthly allowance of more than Rp500,000. The majority of respondents (180 respondents) had moderate levels of academic stress, and 121 respondents (50.4%) had moderate consumption of contemporary coffee. The test results showed a significant relationship between academic stress levels and contemporary coffee consumption, with a p-value of 0.021, and a coefficient value of 0.162 indicating a positive relationship with weak strength.
Conclusion: Nursing students have a lower level of academic stress, but it still influences their current coffee consumption behavior
Keywords: Contemporary coffee consumption, nursing students, academic stress level
5171015200B1J012097STUDI FENOTIPE LIMA KULTIVAR PADI (Oryza sativa L.) BERDASARKAN KARAKTER ANATOMI DAUNPadi (Oryza sativaL.) merupakan sumber makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Usaha peningkatan hasil panen terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan padi yang semakin meningkat. Salah satu usaha yang dilakukan yaitu pemuliaan tanaman dengan perbaikan genetik tanaman sesuai dengan sifat-sifat yang diharapkan. Penelitian terus dilakukan sehingga menghasilkan berbagai kultivar padi yang memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Kultivar yang telah ada secara morfologi sulit dibedakan, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut berupa pengamatan karakter anatomi untuk membantu proses identifikasi dan klasifikasi serta menunjang pengembangan kultivar unggul tanaman padi. Berdasarkan pemikiran tersebut maka dilakukan penelitian dengan judul “Studi Fenotipe Lima Kultivar Daun Padi (Oryza sativaL.) Berdasarkan Karakter Anatomi Daun” pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotipe lima kultivar padi berdasarkan karakter anatomi daun. Penelitian ini menggunakan metode survai dengan teknik pengambilan sampel secara acak (Purposive Random Sampling) dari lima kultivar daun padi. Pembuatan preparat anatomi menggunakan metode parafin dan preparat segar. Variabel yang diamati berupa karakter anatomi daun. Parameter yang diukur meliputi tebal kutikula, tebal epidermis, tebal mesofil, ukuran stomata (panjang dan lebar), jumlah stomata dan trikomata per 1 mm2 luas daun serta jumlah sel motor. Data yang diperoleh dianalisis secara ANOVA model random dengan tingkat kepercayaan 95% atau 99%. Hasil analisis yang berbeda nyata dilakukan uji lanjut menggunakan BNT. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur anatomi daun kelima kultivar padi seragam yang terdiri dari 3 sistem jaringan yaitu epidermis, mesofil, dan berkas pengangkut. Pengamatan anatomi daun kelima kultivar padi menunjukan adanya perbedaan yaitu tebal epidermis bawah, tebal mesofil dan kerapatan stomata atas. Padi kultivar IR-64 memiliki epidermis bawah paling tebal dan padi kultivar Situbagendit paling tipis. Padi kultivar Ciherang memilliki mesofil paling tebal dan padi kultivar Situbagendit paling tipis. Kerapatan stomata atas yang tinggi pada Padi kultivar Logawa, sedangkan yang paling sedikit padi kultivar IR-64.


Rice (Oryza sativa L.) is a staple food source for the majority of the Indonesian people. Efforts to increase crop yields still continue to meet the increase needs of rice. One of the efforts is plant breeding by genetic improvement in accordance to the characteristics which are expected. The end results is to obtain a variety of rice cultivars which have superior characteristics. Cultivars that are available are morphologically indistinguishable, so further research is needed in the form of anatomical characters observation to assist the process of identification and classifications and to support the superior rice cultivar plant development. Based on these ideas, the research entitled “Phenotype characteristics of five rice leaves cultivars based on leaf anatomical characters” was carried out in December 2015 until May 2016.
The study aimed to determine the phenotype characteristics of five rice cultivars by leaf anatomical characters. This study used survey method with purposive random sampling on five cultivars of rice leaves. Anatomy preparations were made using parafin method and fresh preparations. Variables observed were in in the form of leaf anatomical characters. The parameters measured including thickness of cuticle, epidermis, mesophyll, stomatal size (length and width), the amount of stomata and tricomata per 1 mm2 of the leaf area and also the amount of motor cells. The data obtained were analyzed by random models of ANOVA with signigicant level of 95% or 99% then continued by HSD test. After that the leaf anatomycal character of five cultivars were interpreted. The results showed that the anatomical structure of five rice leaves cultivars observed consisted of three systems that were epidermis, mesophyll, and vascular bundle. The anatomical observations of five leaf rice cultivars showed the differences in several observed parameter namely the thickness of epidermis, mesophyll and the density of the top of stomata.


5171147951F1C021056Analisis Resepsi Isu Boikot di X Oleh Pelanggan Starbucks Purwokerto (Studi Kasus Mahasiswa FISIP Unsoed) Keyword:
Starbucks
Media Sosial
Analisis Resepsi
Isu Boikot
Loyalitas Pelanggan
Studi ini menganalisis resepsi atau pemaknaan pelanggan Starbucks
Purwokerto terhadap isu boikot yang berkembang di media sosial X.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis
resepsi yang dikemukakan oleh Stuart Hall. Teori ini berfokus pada
pemaknaan khalayak atas media massa dan bagaimana
menginterpretasikan kembali isi pesan media. Penelitian ini
menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif, dengan
pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan tiga posisi resepsi
pelanggan yaitu Dominant Hegemonic Position, Negotiated Position,
dan Oppositional Position. Pada Dominant Hegemonic Position,
pelanggan menerima isu boikot sesuai dengan pesan yang
disampaikan di media sosial. Pada Negotiated Position, pelanggan
menerima sebagian pesan namun menyesuaikannya dengan
konteks pribadi. Sedangkan pada Oppositional Position, pelanggan
menolak pesan boikot dan memiliki pandangan yang berbeda.
Penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang sosial, budaya, dan
pengalaman individu memengaruhi resepsi pelanggan terhadap isu
boikot. Temuan ini memberikan gambaran tentang bagaimana media
sosial memengaruhi persepsi konsumen terhadap merek global
seperti Starbucks.
This study analyzes the reception or interpretation of Starbucks
Purwokerto customers regarding the boycott issue circulating on the
social media platform X. The theoretical framework used in this
research is Stuart Hall's reception analysis theory, which focuses on
how audiences interpret and reinterpret media messages. This
research employs a descriptive qualitative approach, with data
collected through observation and in-depth interviews. The findings
reveal three reception positions among customers: Dominant
Hegemonic Position, Negotiated Position, and Oppositional Position.
In the Dominant Hegemonic Position, customers fully accepted the
boycott issue as conveyed on social media. In the Negotiated Position, customers partially accepted the message but adapted it to
their personal context. Meanwhile, in the Oppositional Position,
customers rejected the boycott message and held opposing views.
This study highlights that social, cultural, and individual experiences
significantly influence how customers interpret the boycott issue. The
findings provide insights into how social media shapes consumer
perceptions of global brands such as Starbucks
5171238653H1E017020PENENTUAN RUTE TRUK PENGANGKUTAN SAMPAH DENGAN METODE CLARKE AND WRIGHT SAVINGS DAN METODE NEAREST NEIGHBOR (STUDI KASUS DI KABUPATEN PURBALINGGA)
Penentuan rute pengangkutan sampah yang optimal oleh pemerintah daerah merupakan faktor penting dalam memberikan pelayanan dan operasional pengelolaan sampah yang baik kepada masyarakat. Masalah penentuan rute pengangkutan sampah termasuk salah satu masalah Traveling Salesman Problem (TSP) dan tergolong dalam permasalahan combinatorial optimization NP-Complete. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rute truk pengangkutan sampah di Kabupaten Purbalingga, sehingga dapat meminimasi jarak, dan mengimplementasikan rute hasil metode optimal terpilih pada peta online yaitu Google Maps. Metode yang digunakan dalam penentuan rute dalam penelitian ini yaitu metode Clarke and Wright Savings dan metode Nearest Neighbor, yang dipilih salah satu metode optimalnya untuk dilakukan implementasi. Permasalahan pengangkutan sampah di Kabupaten Purbalingga yaitu terdapat 42 daerah yang kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok dan akan diangkut dengan 3 ditambah 1 unit truk. Berdasarkan hasil penelitian diketahui metode Clarke and Wright Savings dan metode Nearest Neighbor dapat meminimasi jarak tempuh truk pengangkut sampah. Pada penelitian ini metode terpilih adalah metode Nearest Neighbor dengan jarak tempuh dalam satu minggu yaitu 717,90 Km dan persentase penurunan jarak sebesar 2,57%. Rute dari metode Nearest Neighbor diimplementasikan ke dalam Google Maps sehingga didapatkan perkiraan perjalanan rute truk pengangkutan sampah pada kondisi sesungguhnya di lapangan.The regional government must determine the optimal route for waste collection in order to provide effective waste management services and operations to the public. Determining the route for waste transportation is a Traveling Salesman Problem (TSP) and an NP-Complete combinatorial optimization problem. This study aims to determine the optimal route for garbage trucks in Purbalingga Regency in order to minimize distance, and to implement that route on an online map, namely Google Maps. The Clarke and Wright Savings method and the Nearest Neighbor method were used to determine the route for this study; the method with the shortest distance will be implemented. The problem with waste collection in Purbalingga Regency is that there are 42 areas, which are subdivided into three groups, each of which must be serviced by 3 plus 1 additional trucks. The findings of this study indicate that the Clarke and Wright Savings method and the Nearest Neighbor method can reduce the distance traveled by garbage trucks. In this study, the Nearest Neighbor method was chosen with a one-week mileage of 717,90 km and a percentage reduction of 2,57%. The Nearest Neighbor route is implemented into Google Maps so that an estimate of the garbage truck's route can be obtained based on actual ground conditions.
5171347313I1J021012THE RELATIONSHIP BETWEEN NOMOPHOBIA AND TEXT NECK SYNDROME IN STUDENTS OF THE FACULTY OF HEALTH SCIENCES UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANLatar belakang: Perkembangan teknologi, terutama smartphone, meningkatkan prevalensi gangguan kesehatan seperti text neck syndrome. Penggunaan smartphone secara berlebihan juga dapat menyebabkan nomophobia, yang merujuk pada ketergantungan dan kecemasan saat jauh dari ponsel. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara nomophobia dan text neck syndrome pada mahasiswa.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan jenis desain cross sectional dengan 366 sampel yang diambil menggunakan Proportionate Random Sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) dan Neck Pain Disability Index (NDI-Q). Analisis data dilakukan menggunakan uji Somers’D.
Hasil: Mayoritas responden mengalami nomophobia ringan (69,1%) dan disabilitas text neck syndrome ringan (79,0%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai P-value < 0,001, yang mengindikasikan hubungan signifikan antara nomophobia dan text neck syndrome dengan koefisien korelasi 0,207 yaitu kategori hubungan lemah.
Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara nomophobia dan Text Neck Syndrome pada mahasiswa, meskipun kekuatannya berada pada tingkat lemah. Edukasi dan intervensi kesehatan diperlukan untuk mencegah dampak jangka panjang dari penggunaan smartphone berlebihan.
Background: Technological developments, especially smartphones, have increased the prevalence of health problems such as text neck syndrome. Excessive smartphone use can also cause nomophobia, which refers to dependence and anxiety when away from a cell phone. This study aims to identify the relationship between nomophobia and text neck syndrome in students.
Method: This research was a quantitative descriptive study with a cross sectional design with 366 samples taken using Proportionate Random Sampling. Data was collected through the Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) and Neck Pain Disability Index (NDI-Q) questionnaires. Data analysis was carried out using the Somers'D test.
Result: The majority of respondents experienced mild nomophobia (69,1%) and mild text neck syndrome disability (79,0%). The statistical test results show a P-value < 0,001, which indicates a significant relationship between nomophobia and text neck syndrome with a correlation coefficient of 0,207, namely a weak relationship category.
Conclusion: There is a significant relationship between nomophobia and text neck syndrome in students of the Faculty of Health Sciences Universitas Jenderal Soedirman, although the strength is at a weak level. Education and health interventions are needed to prevent the long-term impacts of excessive smartphone use.
5171414829A1M012056PERBAIKAN HIGIENITAS DAN SANITASI TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU DALAM PENGOLAHAN GULA KELAPA DI INDUSTRI KECIL MENENGAH SARI BUMI KABUPATEN PURBALINGGASalah satu penyebab permasalahan mutu yang dihadapi oleh IKM (Industri Kecil Menengah) adalah kurangnya higienitas dan sanitasi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh sosialisasi dan pendampingan sistem pengolahan gula kelapa yang baik terhadap kondisi higienitas dan sanitasi, 2) Mengetahui pengaruh sosialisasi dan pendampingan kondisi higienitas dan sanitasi terhadap karakteristik mutu produk gula kelapa. Penelitian dilaksanakan pada lingkungan IKM gula kelapa Sari Bumi di Desa Bojong, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Sosialisasi dan pendampingan sistem pengolahan gula kelapa yang baik terhadap kondisi higienitas dan sanitasi dilakukan dengan metode kaji tindak. Responden merupakan seluruh anggota dan mitra IKM Sari Bumi yang berjumlah 40 orang, sedangkan sosialisasi dan pendampingan kondisi higienitas dan sanitasi terhadap karakteristik mutu produk gula kelapa digunakan metode ekperimental dengan rancangan faktorial tersarang. Faktor yang dicoba adalah unit pengrajin (P) terdiri dari 2 sampel pengrajin gula kelapa kristal setengah jadi (P1 dan P3); 2 sampel pengrajin gula kelapa cetak (P4 dan P5); 1 sampel gula kelapa kristal yang telah dikeringkan IKM Sari Bumi (P2); waktu sampling gula kelapa (W) terdiri dari minggu awal (W2); minggu 4 (W4); minggu 6 (W6); minggu 8 (W8); minggu 10 (W10); minggu 12 (W12). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dan pendampingan higienitas dan sanitasi dapat meningkatkan pengawasan terhadap hewan pengerat/serangga, perbaikan layout produksi, perawatan prasarana penunjang, kebersihan pra pengolahan, pengadaan suplai air yang bersih dengan cukup baik (skor 3), namun belum dapat memperbaiki higiene pengrajin (skor 2,4). Kegiatan sosialisasi dan pendampingan higienitas dan sanitasi memperbaiki karakteristik mutu gula kelapa pada bahan yang tidak larut air, kadar air, kadar abu, gula reduksi, sukrosa, dan dapat menekan kontaminasi mikrobia. Kadar air, kadar abu, gula reduksi, serta sensori gula kelapa sudah memenuhi SNI 01-3743-1995, namun jumlah mikrobia masih melebihi batas SNI 7388:2009. One of the causes of quality problems faced by Sari Bumi SME is the lack of hygiene and sanitation. This research aims: 1) To determine the effect of socialization and accompaniment good palm sugar processing systems to the hygiene and sanitation condition, 2) determine the effect of socialization and accompaniment of hygiene and sanitation conditions to the quality characteristics of coconut sugar. Socialization and accompaniment good palm sugar processing systems to the hygiene and sanitation condition conducted by the action research method. The respondents are all members and partners of Sari Bumi SME of 40 people, while socialization and accompaniment of hygiene and sanitation condition to the quality characteristics of coconut sugar used an experimental method with nested factorial design. Factors studied were craftsmen unit and the sampling time. The craftsmen unit consists of two craftsmen units semi-finished granule coconut sugar (P1 and P3), two craftsmen units of solidified coconut sugar (P4 and P5), and one craftsmen unit of granule coconut sugar that have been dried Sari Bumi SME (P2), while time of sampling consist of First Week (W2), Week 4 (W4) Week 6 (W6), Week 8 (W8), Week 10 (W10), and Week 12 (W12). The results showed that information dissemination and advocacy on hygiene and sanitation can improve its supervision of rodents / insects, improvement of production layout, maintenance infrastructures, cleanliness pre-processing, provision of water supply is clean with fairly good (score 3), but has not been able to improve hygiene craftsmen (score 2.4). Socialization and accompaniment hygiene and sanitation improve the quality characteristics of coconut sugar in water-insoluble materials, moisture content, ash content, reducing sugar, sucrose, and can reduce microbial contamination. Moisture content, ash content, reducing sugar, palm sugar and sensory already meet SNI 01-3743-1995, but the number of microbes still exceed the limit of SNI 7388: 2009.
5171555451A1F022066Pengaruh Rasio Grade Gula Kelapa Cetak dan Pengawet Nira Alami "Tangkis" terhadap Karakteristik Sensori dan Aktivitas Antioksidan Gula Kelapa KristalGula kelapa kristal merupakan pemanis yang umumnya diproduksi dengan bahan baku berupa nira kelapa segar yang memiliki kandungan air yang tinggi sehingga penangannya lebih sulit dibandingkan dengan gula kelapa cetak. Oleh karena itu, terdapat produsen dengan skala besar memproduksi gula kelapa kristal menggunakan bahan baku gula kelapa cetak. Gula kelapa cetak di pasaran umumnya memiliki mutu yang sangat beragam yang terdiri dari grade A, B, dan C sehingga dapat mempengaruhi kualitas gula kristal yang dihasilkan, terutama dari aspek mutu tekstural. Penambahan pengawet alami “Tangkis” yang mengandung kulit manggis, kayu nangka, dan kapur diharapkan dapat memperbaiki mutu dan meningkatkan aktivitas antioksidan gula kelapa kristal dengan bahan baku gula kelapa cetak. Tujuan penelitian yang telah dilakukan yaitu: 1) mengetahui pengaruh rasio grade gula kelapa cetak terhadap aktivitas antioksidan gula kelapa kristal; 2) mengetahui pengaruh konsentrasi pengawet nira alami “Tangkis” terhadap aktivitas antioksidan gula kelapa kristal; dan 3) mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan antara rasio grade gula kelapa cetak dengan penambahan pengawet nira alami “Tangkis” yang menghasilkan karakteristik sensori dan aktivitas antioksidan gula kelapa kristal terbaik.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua kali ulangan. Faktor penelitian terdiri dari 1) rasio gula kelapa cetak grade A:B:C (G) yaitu 3:2:1 (G1), 3:1:2 (G2), 2,5:1,5:2 (G3), 2:2:2 (G4), dan 2:2,5:1,5 (G5), serta 2) konsentrasi pengawet nira alami merek “Tangkis” (T) yaitu 0% (T0), 2% (T1), 4% (T2), dan 6% (T3). Pengujian dilakukan terhadap variabel sensori yaitu skoring terhadap parameter warna, aroma, rasa, dan kenampakan, serta hedonik terhadap parameter warna, aroma, rasa, kenampakan, dan keseluruhan. Selain itu, dilakukan pengujian terhadap aktivitas antioksidan dan total fenolik. Penentuan perlakuan terbaik berdasarkan parameter hedonik sensori menggunakan metode Uji Indeks Efektivitas De Garmo.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan rasio grade gula kelapa cetak dengan penambahan “Tangkis” meningkatkan karakteristik warna dan kenampakan gula kelapa kristal serta tingkat kesukaan (hedonik) warna, kenampakan, dan keseluruhan (overall). Kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan Uji Indeks Efektivitas yaitu rasio grade gula kelapa cetak 3:2:1 dengan penambahan “Tangkis” 2%. Kombinasi perlakuan tersebut mempunyai profil sensori warna cokelat kekuningan (1,9), aroma khas gula kelapa (3,7), rasa manis (4,1), serta kenampakan yang seragam dan agak menyebar (4,0) dengan aktivitas antioksidan sebesar 39,54% dan total fenolik 0,459 mg GAE/g gula kelapa kristal.
Crystal coconut sugar is a sweetener commonly produced from fresh coconut sap, which has a high water content, making it more difficult to handle than molded coconut sugar. Therefore, some large-scale producers manufacture crystal coconut sugar using molded coconut sugar as the raw material. Molded coconut sugar on the market varies widely in quality and classified into grades A, B, C, which can affect the quality of the resulting crystal coconut sugar, particularly its textural properties. The addition of “Tangkis”, a natural preservative containing mangosteen peel, jackfruit wood, and lime (calcium hydroxide), is expected to improve the quality of crystal coconut sugar made from molded coconut sugar and increase its antioxidant activity. The objectives of this study were: 1) to determine the effect of the grade ratio of molded coconut sugar on the antioxidant activity of crystal coconut sugar; 2) to determine the effect of the concentration of the natural sap preservative “Tangkis” on the antioxidant activity of crystal coconut sugar; and 3) to determine the effect of the combined treatments of molded coconut sugar grade ratio and the addition of “Tangkis” natural sap preservative that produces crystal coconut sugar with the best sensory characteristics and antioxidant activity.
This study employed a Completely Randomized Design (CRD) with two replications. The factors studied were: 1) the grade ratio of molded coconut sugar A:B:C (G), namely 3:2:1 (G1), 3:1:2 (G2), 2,5:1,5:2 (G3), 2:2:2 (G4), and 2:2,5:1,5 (G5); 2) the concentration of the natural sap preservative “Tangkis” (T) namely 0% (T0), 2% (T1), 4% (T2), dan 6% (T3). Sensory variables were evaluated through scoring tests for color, aroma, taste, and texture, and hedonic tests for color, aroma, taste, texture, and overall acceptability. In addition, antioxidant activity and total phenolic content were analyzed. Determination of the best treatment based on sensory hedonic parameters using the De Garmo Effectiveness Index method
The results showed that the combined treatment of molded coconut sugar grade ratio and “Tangkis” addition improved the color and texture characteristics of crystal coconut sugar, as well as the hedonic preference levels for color, texture, and overall acceptability. The best treatment combination based on the Effectiveness Index method was the molded coconut sugar grade ratio of 3:2:1 with addition of 2% “Tangkis”. This treatment combination had a sensory profile of yellowish-brown color (1,9), characteristic coconut sugar aroma (3,7), sweet taste (4,1), and a uniform, slightly spreading texture (4,0). Its antioxidant activity was 39,54%, with total phenolic content of 0,459 mg GAE/g of crystal coconut sugar.
5171649017I1C021063EVALUASI POTENTIALLY INAPPROPRIATE MEDICATION
(PIM) PADA PASIEN GERIATRI BERDASARKAN BEERS
CRITERIA DI RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA
PURBALINGGA
Geriatri merupakan populasi yang rentan mengalami masalah terkait
obat akibat perubahan fisiologis. Potensi penggunaan obat yang tidak
tepat (PIM) dapat meningkatkan risiko efek samping. Beers Criteria
2023 digunakan untuk mengidentifikasi PIM pada pasien geriatri.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kejadian PIM pada pasien geriatri
rawat inap di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
Penelitian ini bersifat observasional retrospektif terhadap 98 pasien usia
≥60 tahun selama Januari–Desember 2024 dengan teknik purposive
sampling. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan Beers Criteria
2023. Hasil menunjukkan 88 dari 98 pasien mengalami PIM dengan total
212 kejadian. Kategori 1 (obat yang harus dihindari), dengan ketorolac
dan diazepam sebagai obat paling sering diresepkan secara tidak tepat,
kategori 2 (interaksi dengan penyakit) yaitu ketorolac dengan gagal
jantung, kategori 3 (obat yang digunakan dengan hati-hati) yaitu
furosemide, kategori 4 (interaksi antar obat) yaitu gabapentin dengan
opioid, dan kategori 5 (obat yang harus dihindari atau dengan
penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal) yaitu etoricoxib.
Prevalensi PIM pada pasien geriatri tergolong tinggi (89,8%), sehingga
diperlukan evaluasi terapi dan pemantauan penggunaan obat secara
berkala untuk meminimalkan risiko penggunaan obat yang tidak sesuai
pada pasien geriatri
The geriatric population is particularly vulnerable to drug-related
problems due to physiological changes associated with aging. The
potential use of potentially inappropriate medications (PIM) increases
the risk of adverse effects. The Beers Criteria 2023 is used to identify
PIM in elderly patients. This study aimed to evaluate the incidence of
PIM among hospitalized geriatric patients at RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata Purbalingga. This was a retrospective observational
study involving 98 inpatients aged ≥60 years during the period of
January–December 2024, using purposive sampling. Data were
analyzed descriptively based on the Beers Criteria 2023. The results
showed that 88 out of 98 patients experienced PIM, with a total of 212
occurrences. Category 1 (medications to be avoided) included ketorolac
and diazepam as the most frequently inappropriately prescribed drugs;
category 2 (drug–disease interactions) involved ketorolac in patients
with heart failure; category 3 (medications to be used with caution)
involved furosemide; category 4 (clinically significant drug–drug
interactions) involved gabapentin and opioids; and category 5
(medications to be avoided or dose-adjusted based on renal function)
involved etoricoxib. The prevalence of PIM among geriatric inpatients
was considered high (89.8%), indicating the need for regular therapy
evaluation and medication monitoring to minimize the risk of
inappropriate drug use in elderly patients.
5171728189A1C015019UJI PERFORMANSI TUNGKU BERBAHAN BAKAR SERBUK KAYU PINUS PADA PRODUKSI GULA CETAK (Studi Kasus di Desa Pernasidi Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas)
Konsumi energi nasional mencapai 1,23 miliar barrels oil equivalent (BOE) pada 2017. Berdasarkan data Kementerian Eenergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dari jumlah tersebut sebanyak 382.95 juta BOE atau hampir sepertiga konsumsi energi untuk rumah tangga.
Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas merupakan desa yang rata-rata mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai petani nira (gula). Warga biasanya membuat industri skala rumah tangga yang memproduksi gula cetak dan gula semut, serta masih menggunakan tungku berbahan bakar biomassa. Penggunaan bahan bakar biomassa karena murah dan memanfaatkan limbah kayu yang ada. Penelitian ini mengkaji performansi tungku tradisional berbahan bakar serbuk kayu pinus. Tujuan penelitian yaitu: (1) Mengetahui performansi tungku tradisional yang digunakan dalam produksi gula cetak, (2) mengetahui kebutuhan energi yang digunakan pada produksi gula cetak menggunakan tungku tradisional, (3) mengetahui nilai efisiensi tungku tradisional pada produksi gula cetak. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Oktober 2019.
Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata efisiensi tungku tradisional berbahan bakar serbuk kayu pinus ialah 16,91% dan mampu menghasilkan panas dengan rata-rata efisiensi sistem tersedia sebesar 16,60%. Kebutuhan energi rata-rata yang digunakan untuk produksi gula cetak ialah 136.295,86 kJ, dan rata-rata laju konsumsi bahan bakar ialah 14,35 kg/jam. Nilai efisiensi tungku dipengaruhi oleh massa nira yang dimasak, kondisi mula-mula tungku, suhu lingkungan dan kestabilan kondisi api pada saat pemasakan.
The national energy consumption reached 1.23 billion barrels of oil equivalent (BOE) in 2017. Based on data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM), of that number 382.95 million BOE or almost one-third of energy consumption for households.
Pernasidi Village, Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency is a village whose average livelihood is as a sugar palm. Residents usually make household-scale industries that produce printed sugar and ant sugar and still use biomass-fueled stoves. Use of biomass fuel because it is cheap and utilizes existing wood waste. This study examines the performance of traditional pine wood-burning stoves. The research objectives are: (1) Knowing the performance of traditional stoves used in the production of printed sugar, (2) knowing the energy requirements used in sugar production using traditional stoves, (3) knowing the value of efficiency of traditional stoves in the production of printed sugar. The study was conducted in June-October 2019.
The results showed the average value of efficiency of traditional pine wood-burning stoves was 16.91% and was able to produce heat with an average available system efficiency of 16.60%. The average energy requirement used for the production of printed sugar is 136,295.86 kJ, and the average fuel consumption rate is 14.35 kg/hour. The efficiency value of the stove is influenced by the mass of the cooked sap, the initial conditions of the furnace, the ambient temperature and the stability of the fire conditions at the time of cooking.
517189894E1A010061tindak pidana pencucian uang, unsur-unsur dakwaan, dan pertimbangan hakim.
Tujuan penulis dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui penerapan unsur-unsur dan untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan pidana terdakwa Tindak Pidana Pencucian Uang (money laundering) pada Putusan Perkara No.111/Pid.Sus/2011/PN.Clp. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini dengan menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) dan pendekatan kasus (Case Approach). Pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) digunakan karena yang akan diteliti adalah aturan hukum yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang tentang Pencucian Uang. Pendekatan kasus (Case Approach) digunakan karena yang akan diteliti adalah kasus yang telah diputus oleh hakim Pengadilan Negeri Cilacap.
Berdasarkan hasil penelitan dan pembahasan, Penerapan Unsur-unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) pada Perkara No. 111/Pid.Sus/2011/PN.Clp. Dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan diketahui bahwa terpenuhi unsur-unsur dalam dakwaan Keempat telah terpenuhi melanggar Pasal 5 ayat (1) jo Pasal 10 Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, sehingga terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam bentuk “Turut Serta Melakukan Pembantuan, atau Permufakatan Jahat Untuk Melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang, Telah Menerima atau Menguasai Penempatan, Pentransferan, Pembayaran Hibah, Sumbang, Penitipan, Penukaran, atau Menggunakan Harta Kekayaan Yang Diketahuinya atau Patut Diduganya Merupakan Hasil Tindak Pidana Narkotika”. Dalam Putusan Perkara No. 111/Pid.Sus/2011/PN.Clp., Hakim Pengadilan Negeri Cilacap telah sesuai menerapkan unsur-unsurnya. Dasar pertimbangan hukum Hakim dalam penjatuhan pidana bagi terdakwa sudah tepat, semua fakta yuridis yang terungkap di persidangan telah sesuai dan terbukti benarnya memenuhi unsur-unsur dalam dakwaan Keempat, dengan demikian telah membuat keyakinan Hakim sebagai dasar dalam memutus perkara.
Kata kunci : tindak pidana pencucian uang, unsur-unsur dakwaan, dan pertimbangan hakim.
The purpose of the authors in this study is to determine the application of the elements and to determine the legal reasoning of judges in imposing a criminal defendant Money Laundering (money laundering) in Case Decision 111 / Pid.Sus / 2011 / PN.Clp. The method used in this research is by using the method of normative juridical approach legislation (Statute Approach) and the approach of the case (Case Approach). Approach legislation (Statute Approach) is used because that will be examined is the rule of law is the Code of Penal (Penal Code) and the Law on Money Laundering. Approach cases is used because that will be examined is the case that has been decided by the District Court of Cilacap.
Based on the research results and discussion, the application of element of money laundering in case No, 111/Pid.Sus/2011/PN.Clp. From facts revealed at conference it showed that any element in fourth accusation was fulfilled, break section 5 verse (1) jo paragraph 10 law No. 8 year 2010 about prevention and eradication of money laundering, so that defendant proved validly and conviced guilty do doing an justice result “Doing Participate Assistance, or conspiracy to commit money laundering, or Mastering Received Placement, Transferring, Grant Payments, Donate, Custody, exchange, or Using The Assets known or reasonably suspected Represents results Narcotics Crime”. In case decision No. 111/Pid.Sus/2011/PN.Clp. Judge of district court Cilacap appropriate apply elements. Base judge law deliberation in drop criminal to defendent correct, all juridical facts revealed at conference appropriate andproved the true fulfil element in fourth accusation, there by make judge confidence as base in decide case.
Keywords : money laundering, the elements of the charges, and the consideration of the judges.
5171920060H1L013077 PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS KULINER UNTUK PENGUSAHA UMKM BERBASIS WEB
DI KABUPATEN PURBALINGGA
Usaha kuliner adalah sebuah usaha yang sangat berpotensi dan sangat baik untuk dikembangkan. Nilai manfaat ekonomi dan dampaknya sangat luas. Pengelolaan informasi dan dukungan promosi yang tepat akan sangat membantu peningkatan usaha di bidang kuliner Salah satu titik promosi yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan sumber informasi kuliner yang mudah diakses oleh masyarakat luas dan akurasi informasi yang baik. Dengan permasalahan tersebut, tersedianya sistem informasi geografis kuliner yang mudah digunakan akan memudahkan pengusaha dalam mempromosikan usahanya sehingga akan dapat meningkatkan penjualan. Sistem informasi ini sangat diperlukan bagi masyarakat karena masih banyak pengusaha umkm di bidang kuliner yang belum menyadari betapa pentingnya sebuah teknologi informasi dalam meningkatkan usaha yang mereka kelola.

The culinary business is a very potential and very good business to develop. The value of economic benefits and impacts is wide. Proper management of information and promotional support will greatly enhance the culinary effort. One of the promotional points that can be done is to provide a culinary information source that is easily accessible to the public and good information accuracy. With these problems, the availability of culinary geographic information system that is easy to use will facilitate entrepreneurs in promoting their business so it will be able to increase sales. This information system is very necessary for the community because there are still many UMKM enterpreneur in the culinary field who have not realized how important an information technology in improving the business they manage.

5172026476F1A015043PERAN BALAI PEMASYARAKATAN PURWOKERTO DALAM PROSES REINTEGRASI KLIEN PEMASYARAKATAN PENERIMA HAK PEMBEBASAN BERSYARATSulit bagi para mantan narapidana untuk bisa melaksanakan proses reintegrasi sosial setelah pernah terlibat tindakan pelanggaran hukum. Penelitian ini menggambarkan sejauh proses reintegrasi sosial yang dilakukan oleh Bapas Klas II Purwokerto terhadap mantan narapidana yang kemudian berstatus sebagai klien pemasyarakatan penerima hak Pembebasan Bersyarat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peran Balai Pemasyarakatan Klas II Purwokerto dalam melaksanakan proses penelitian kemasyarakatan (Litmas) dan bimbingan kepribadian yang dilaksanakan oleh Pembimbing Kemasyarakatan (PK) terhadap para klien pemasyarakatan.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode kualitatif dan penentuan narasumber secara purposive sampling. Penelitian ini juga menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi atas data yang bersumber dari data primer dan juga data sekunder yang tersedia (studi literatur, penelusuran di internet, buku, dan artikel ilmiah). Sedangkan, validasi data yang digunakan dalam penelitian dibuktikan dengan cara triangulasi data guna menghasilkan data yang jenuh dan juga deskripsi atas data yang informartif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Litmas dan bimbingan kepribadian oleh PK telah berjalan sesuai dengan alur dan tahapan yang ada. Namun, masih terdapat beberapa kendala yang dirasa menjadi penghambat bagi PK untuk bisa bekerja secara optimal dalam melaksanakan proses reintegrasi sosial para klien pemasyarakatan, sehingga, ada beberapa hal yang dirasa menjadi catatan penting untuk diperhatkan bagi Bapas Klas II Purwokerto agar pelaksanaan reintegrasi sosial dapat dilaksanakan lebih optimal.
It is difficult for ex-prisoners to be able to carry out a social reintegration process after having been involved in an act of violation of the law. This study illustrates the extent of the social reintegration process carried out by Bapas Klas II Purwokerto towards ex-prisoners who later became correctional clients of the supervised release program. The purpose of this study was to determine the extent of the role of Purwokerto Class II Penitentiary in carrying out the community research process (Litmas) and personality guidance carried out by the Community Guidance (PK) to correctional clients.
This research was conducted using qualitative methods and the determination of sources by purposive sampling. This study also uses interviews, observations, and documentation of data sourced from primary data and also available secondary data (literature studies, internet browsing, books and scientific articles). Meanwhile, the data validation used in the research is proven by triangulating data to produce saturated data and also an informative description of the data.
The results showed that the implementation of Litmas and personality guidance by PK’s had proceeded according to the in appropriate flow and stages. However, there are still some obstacles that are resist the PK’s to be able to work optimally in carrying out the social reintegration process of correctional clients. So, there are few thing considered to be important notes to be considered by Bapas Klas II Purwokerto so that the implementation of social reintegration can be more optimally.