Artikelilmiahs
Menampilkan 51.701-51.704 dari 51.704 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51701 | 55119 | I1D022015 | HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI, POLA ASUH, DAN USIA MP-ASI DENGAN STUNTING DI PUSKESMAS I KEMBARAN | Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, seperti asupan gizi yang kurang, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan, dan pemberian MP-ASI. Meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanganan telah dilakukan, tetapi kenaikan kejadian stunting masih terjadi di berbagai wilayah. Kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas I Kembaran mengalami kenaikan dari 16,9% pada tahun 2024 menjadi 17,4% di tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan, dan riwayat usia pertama pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas I Kembaran. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan studi cross-sectional yang dilakukan dari bulan Januari-Februari 2026. Variabel independen yang diteliti yaitu pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan, dan riwayat usia pertama pemberian MP-ASI. Jumlah sampel sebanyak 58 responden yang ditentukan melalui cluster random sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui wawancara. Analisis data dilakukan secara univariat untuk melihat frekuensi, dan bivariat menggunakan uji Fisher’s exact untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel independen dengan kejadian stunting. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi ibu (p = 0,180), pola asuh makan (p = 0,208), dan riwayat usia pertama pemberian MP-ASI (p = 0,180) dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas I Kembaran Kabupaten Banyumas. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan, dan riwayat usia pertama pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas I Kembaran Kabupaten Banyumas. | Background: Stunting is a condition of impaired growth and development in children. Stunting is influenced by multiple factors such as inadequate nutritional intake, maternal nutritional knowledge, feeding, and complementary feeding practices. Although various efforts had been implemented, stunting still increased in several areas, such as Kembaran I Public Health Center where the prevalence increased from 16,9% in 2024 to 17,4% in 2025. Therefore, this study aimed to determine the relationship between maternal nutritional knowledge, feeding practices, and the age of complementary feeding initiation with the incidence of stunting in the working area of Kembaran I Public Health Center. Methods: This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach that was conducted from January to February 2026. The independent variables examined were maternal nutritional knowledge, feeding practices, and age of complementary feeding initiation. The sample consisted of 58 respondents that were selected with cluster random sampling. The data was collected through interviews with questionnaires as instruments. Data were analyzed with univariate analysis to determine frequencies and with bivariate analysis using Fisher's exact to determine the relationship between each variable with stunting. Results: Maternal nutritional knowledge (p = 0.180), feeding practices (p = 0.208), and age of complementary feeding initiation (p = 0.180) were not significantly associated with the incidence of stunting in the working area of Kembaran I Public Health Center, Banyumas Regency. Conclusion: No significant relationship was found between maternal nutritional knowledge, feeding practices, and the age of complementary feeding initiation with the incidence of stunting in the working area of Kembaran I Public Health Center, Banyumas Regency. | |
| 51702 | 55121 | A1A022050 | Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor Produksi Tahu Kuning Sari Delai di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas | Penelitian ini menganalisis mengenai efisiensi ekonomi produksi tahu di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Latar belakang penelitian ini didasari oleh ketergantungan produsen tahu terhadap bahan baku kedelai impor yang rentan mengalami fluktuasi harga, sehingga menjadi ancaman bagi keberlanjutan usaha tahu di Desa Kalisari. Analisis efisiensi ekonomi dilakukan untuk mengukur tingkat efisiensi ekonomi dari produksi tahu di Desa Kalisari guna mengetahui apakah para produsen sejauh ini telah berhasil mengelola sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan produk maksimal dengan biaya serendah mungkin di tengah harga bahan baku kedelai yang fluktuatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan total 53 responden produsen tahu kuning. Data yang digunakan terdiri atas data primer yang diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner, serta data sekunder yang diperoleh dari studi literatur. Variabel faktor produksi meliputi kedelai, kunyit, garam, air, tenaga kerja inti, tenaga kerja pendukung, kayu bakar, dan solar. Analisis data mencakup analisis deskriptif kuantitatif, analisis biaya dan pendapatan, uji asumsi klasik, serta analisis efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi dengan pendekatan Stochastic Frontier Analysis (SFA) menggunakan Frontier 4.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tahu yang dilakukan oleh produsen tahu di Desa Kalisari memberikan keuntungan dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp453.324,00 per satu kali produksi. Faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi tahu berupa kedelai, kunyit, air, tenaga kerja inti, dan solar. Produsen memiliki nilai rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,82, efisiensi alokatif sebesar 14,78, dan efisiensi ekonomi sebesar 12,11. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa produsen masih belum mencapai efisiensi ekonomi, sehingga disarankan untuk menambah penggunaan faktor produksi secara bertahap disertai dengan memperluas jangkauan pasar ke luar wilayah Desa Kalisari guna mengantisipasi risiko penumpukan produk akibat penambahan faktor produksi. | This research analyzes the economic efficiency of tofu production in Kalisari Village, Cilongok District, Banyumas Regency. The background of this research is based on the dependence of tofu producers on imported soybean raw materials which are susceptible to price fluctuations, so that they become a threat to the sustainability of the tofu business in Kalisari Village. The economic efficiency analysis was conducted to measure the level of economic efficiency of tofu production in Kalisari Village to find out whether producers have so far managed the available resources to produce maximum products at the lowest possible cost amid fluctuating soybean raw material prices. This research uses a quantitative approach with a survey method. The sampling technique used purposive sampling with a total of 53 respondents from yellow tofu producers. The data used consisted of primary data obtained through interviews using questionnaires, as well as secondary data obtained from literature studies. Variable factors of production include soybeans, turmeric, salt, water, core labor, supporting labor, firewood, and diesel. Data analysis includes quantitative descriptive analysis, cost and revenue analysis, classical assumption test, and technical, allocative, and economic efficiency analysis with the Stochastic Frontier Analysis (SFA) approach using Frontier 4.1. The results of the research show that tofu production carried out by tofu producers in Kalisari Village provides profits with an average income of Rp453.324,00 per one production. Production factors that affect tofu production are soybeans, turmeric, water, core labor, and diesel. Producers have an average value of technical efficiency of 0.82, allocative efficiency of 14.78, and economic efficiency of 12.11. These results indicate that producers still have not achieved economic efficiency, so it is recommended to gradually increase the use of production factors accompanied by expanding market reach outside the Kalisari Village area to anticipate the risk of product accumulation due to the addition of production factors. | |
| 51703 | 55122 | K1C019037 | Rekonstruksi Model Sesar Baribis-Kendeng Jawa Tengah Berdasarkan Data Anomali Magnetik Citra Satelit | Sesar Baribis merupakan struktur lipatan dan patahan naik Bogor – Baribis di perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah yang kemudian berbelok ke arah Selatan sehingga terlihat pola lipatan tersebut menyambung dengan Pegunungan Serayu Selatan yaitu: daerah Purwokerto, Kebumen, sampai Purworejo. Sementara itu sesar Kendeng merupakan kelanjutan dari zona Pegunungan Serayu Utara dengan batas barat adalah Gunung Slamet, kemudian di bagian utara terdapat FTB Pemalang – Pekalongan – Semarang yang kemudian akan berhubungan dengan FTB Kendeng di Jawa Timur. Penelitian dilakukan pada sesar Baribis-Kendeng pada wilayah Jawa Tengah dengan batas lintang dan bujur sebesar 108°13'00.0'' - 111°58'60.00'' BT dan 5°31'00.0'' - 7°58'59.99'' LS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan jenis sesar Baribis-Kendeng dengan menggunakan metode analisis First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) serta mengetahui litologi bawah permukaan dengan pemodelan 2D. hasil dari analisis derivative menunjukkan bahwa sesar Baribis-Kendeng didominasi oleh sesar naik. Hasil dari pemodelan 2D menunjukkan bawah sesasr Baribis Kendeng pada wilayah Jawa Tengah didominasi oleh batuan vulkanik dan sedimen Kendeng. Kata Kunci: Magnetik, First Horizontal Derivative (FHD), Second Vertical Derivative (SVD), sesar Baribis-Kendeng, suseptibilitas batuan, pemodelan 2D. | The Baribis Fault is a folding and thrust structure extending from the Bogor-Baribis region along the boundary between West Java and Central Java, which subsequently bends southward. This structural pattern appears to continue toward the Southern Serayu Mountains, extending from the Pungungkerto area, Kebumen, to Purworejo. Meanwhile, the Kendeng Fault represents a continuation of the Northern Serayu Mountains, with Mount Slamet forming its western boundary. In the northern part, the Pemalang–Pekalongan–Semarang Fold-and-Thrust Belt (FTB) is present and subsequently connects with the Kendeng Fold-and-Thrust Belt (FTB) in East Java. This study was conducted along the Baribis–Kendeng Fault in Central Java, covering a study area bounded by longitudes 108°13′00.0″–111°58′60.00″ E and latitudes 5°31′00.0″–7°58′59.99″ S. The objective of this study is to identify the presence and type of the Baribis–Kendeng Fault using First Horizontal Derivative (FHD) and Second Vertical Derivative (SVD) analyses, as well as to determine the subsurface lithology through 2D modeling. The derivative analysis indicates that the Baribis–Kendeng Fault is predominantly characterized by reverse faults. The results of the 2D modeling indicate that the subsurface along the Baribis–Kendeng Fault in Central Java is predominantly composed of volcanic rocks and Kendeng sedimentary rocks. Keywords: Magnetic, Fisrst Horizontal Derivative (FHD), Second Vertical Derivative (SVD), Kendeng-Baribis Fault, rock susceptibility, 2D modelling. | |
| 51704 | 55123 | A1D022022 | PENGARUH PEMANGKASAN (PRUNING) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) | Peningkatan produksi cabai rawit dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara perawatan tanaman yaitu pemangkasan (pruning). Pemangkasan pada tanaman cabai rawit dapat dilakukan dengan pemangkasan pucuk dan pemangkasan daun bawah. Informasi mengenai perbedaan respons berbagai genotip cabai rawit terhadap perlakuan pemangkasan masih terbatas, sehingga penelitian mengenai pengaruh pemangkasan pada berbagai genotip cabai rawit perlu dilakukan untuk memperoleh informasi yang dapat mendukung pengembangan teknik budidaya yang lebih efektif. Tujuan dari penelitian ini antara lain mengetahui teknik pemangkasan terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil cabai rawit, mengetahui varietas cabai rawit terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil cabai rawit, dan mengetahui interaksi antara teknik pemangkasan dan varietas cabai rawit terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian dilaksanakan di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dari bulan Februari 2026 hingga Juli 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas 2 faktor, yaitu pemangkasan (pruning) dan varietas cabai rawit. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, rerata luas daun, diameter batang, jumlah daun, jumlah cabang total, jumlah cabang produktif, umur berbunga, umur panen, panjang buah, diameter buah, jumlah buah, dan bobot buah. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan uji F pada taraf kesalahan 5%. Apabila hasil analisis menunjukkan perbedaan nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan dan varietas cabai rawit yang digunakan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil cabai rawit terhadap beberapa variabel. Perbedaan perlakuan pemangkasan pada tanaman cabai rawit berpengaruh pada variabel tinggi tanaman umur 28 HST, 42 HST, dan 56 HST, jumlah daun umur 42 HST dan 56 HST, umur berbunga, dan umur panen. Perbedaan perlakuan pemangkasan pada tanaman cabai rawit berpengaruh pada variabel rerata luas daun 56 HST dan diameter batang umur 42 HST dan 56 HST. Perbedaan varietas cabai rawit berpengaruh pada variabel tinggi tanaman, rerata luas daun 14 HST, diameter batang, jumlah daun 56 HST, jumlah cabang total, jumlah cabang produktif, panjang buah, diameter buah, dan bobot buah. Interaksi antara perlakuan pemangkasan dan varietas cabai rawit berpengaruh pada variabel jumlah daun 56 HST. Perlakuan pemangkasan daun bawah dan varietas Ori 212 memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman, diameter batang, umur berbunga, umur panen, panjang buah dan bobot buah. | The increasing of cayenne pepper production can be achieved through various methods, one of which is plant maintenance through pruning. Pruning of cayenne pepper plants can be carried out through shoot pruning and lower leaf pruning. Information regarding the differences in response of various cayenne pepper genotypes to pruning treatments is still limited, so research on the effect of pruning on various cayenne pepper genotypes needs to be conducted to obtain information that can support the development of more effective cultivation techniques. The objectives of this study include to determine the best pruning technique for the growth and production of cayenne pepper, to determine the best cayenne pepper variety under various pruning techniques applied to plant growth and yield, and to determine the interaction effect between pruning techniques and cayenne pepper varieties on the growth and yield. The research was conducted in Gandatapa Village, Sumbang District, Banyumas Regency, and at the Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from February to July 2026. This study used a factorial Randomized Block Design (RBD) consisting of 2 factors, namely pruning and cayenne pepper variety. The variables observed included plant height, average leaf area, stem diameter, number of leaves, total number of branches, number of productive branches, flowering age, harvest age, fruit length, fruit diameter, number of fruits, and fruit weight. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) with an F test at a 5% error level. If the analysis results showed significant differences, they were followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a 5% error level. The results showed that the pruning treatments and cayenne pepper varieties had an affect on the growth and yield of cayenne pepper. Differences in pruning treatment on cayenne pepper plants had an effect on the variables of plant height at 28, 42, and 56 days after planting (DAP), number of leaves at 42 DAP and 56 DAP, flowering age, and harvest age. Differences in pruning treatment on cayenne pepper plants also had an effect on the variables of average leaf area at 56 DAP and stem diameter at 42 and 56 DAP. Differences in cayenne pepper variety used had an effect on the variables of plant height, average leaf area at 14 DAP, stem diameter, number of leaves at 56 DAP, total number of branches, number of productive branches, fruit length, fruit diameter, and fruit weight. The interaction between pruning treatment and cayenne pepper variety had an effect on the variable of number of leaves at 56 DAP. The lower-leaf pruning treatment and the Ori 212 variety produced the best results for plant height, stem diameter, flowering age, harvest age, fruit lenght and fruit weight. |