Artikelilmiahs

Menampilkan 51.621-51.640 dari 51.672 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5162155040A1D022151Aplikasi Pupuk N, P, K Dosis Rendah dan Pembenah Tanah terhadap Tinggi dan Jumlah daun Jagung Manis Sistem Companion PlantingPraktik pertanian konvensional yang bergantung pada penggunaan pupuk anorganik secara intensif dan sistem monokultur berpotensi menurunkan kualitas lingkungan dan kesuburan tanah. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perlakuan pemupukan, jenis kombinasi tanaman, dan interaksi terbaik antara pemupukan dan jenis kombinasi tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis pada sistem compantion planting. Penelitian dilaksanakan di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, dan Laboratorium Agroekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Waktu penelitian dimulai pada November 2025 hingga Maret 2026. Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial terdiri atas dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah pemupukan (N), yaitu N1 = biochar 2 t/ha + pupuk organik 5 t/ha; N2 = biochar 2 t/ha + NPK dosis 50%; N3 = pupuk organik 5 t/ha + NPK dosis 50%. Faktor kedua adalah jenis kombinasi tanaman (C) yaitu, C1 = jagung manis + bawang prei; C2 = jagung manis + kembang kol; C3 = jagung manis + mentimun mini. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan, jenis kombinasi tanaman jagung manis dengan bawang prei, kembang kol, dan mentimun mini, serta interaksi keduanya memberikan respons yang setara terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 14 dan 28 hst.Conventional agricultural practices that rely on the intensive use of inorganic fertilizer and monoculture systems have the potential to degrade enviromental quality and soil fertility. Therefore, efforts are needed to overcome this problem. This study aims to determine fertilization treatment, type of crop combinations, and the best interaction between fertilization and type of crop combinations on the growth and yield of sweet corn in a companion planting system. This study was conducted ini Karangnangka Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency, and at the Agroecology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The study period was from November 2025 to March 2026. The study employed a factorial Randomized Block Design (RBD) consisting of two factors. The first factor is fertilization (N); N1 = 2 t/ha biochar + 5 t/ha organic fertilizer; N2 = 2 t/ha biochar + 50% dose of NPK; N3 = 5 t/ha organic fertilizer + 50% dose of NPK. The second factor is plant combination (C); C1 = sweet corn + leek; C2 = sweet corn+ cauliflower; C3 = sweet corn + mini cucumber. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and if significantly different, the analysis was followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. The result of the study indicate that the fertilization treatments, the combinations of sweet corn with leek, cauliflower, and mini cucumber, as well as the interaction between the two factors, resulted in comparable responses in plant height and number of leaves at 14 and 28 days after planting (DAP).
5162255039A1D022131Uji Konsorsium Bacillus sp. dan Pseudomonas kelompok fluorescens untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Daun Bakteri Padi Varietas IR64 Secara in PlantaPenyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi yang dapat menurunkan produktivitas tanaman. Pengendalian HDB masih bergantung pada pestisida kimia sehingga perlu alternatif yang lebih ramah lingkungan, yaitu melalui penerapan bakteri antagonis dalam bentuk konsorsium. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas konsorsium dalam mengendalikan HDB dan mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman padi secara in planta. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan rumah kaca milik Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedriman di Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas pada Agustus 2025 hingga Februari 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non-faktorial dengan 5 perlakuan konsorsium bakteri Bacillus sp. dan Pseudomonoas kelompok fluorescens. Konsorsium bakteri yang digunakan merupakan hasil eksplorasi dari tanaman putri malu (Mimosa invisa) dataran menengah dan dataran rendah, baik yang berasal dari endofit maupun rizosfer. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga terdapat 32 unit percobaan. Masing-masing unit percobaan terdiri atas 4 tanaman per ember sehingga terdapat total 128 tanaman. Konsorsium diaplikasikan melalui perendaman benih, penyiraman pada media tanam saat persemaian, dan penyemprotan pada daun tanaman padi yang telah diinokulasi patogen. Perlakuan yang digunakan, yaitu P1 = kontrol sehat, P2 = kontrol sakit, P3 = kontrol bakterisida Streptomisin sulfat 20%, P4 = BEM 1.4 + BRM 13, P5 = PEM 1.5 + PRM 1.1, P6 = PEM 3.1 + PEM 15, P7 = PEM 3.1 + PRM 1.1 + PEM 1.5, dan P8 = PER 1.3 + PRR 1.4. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada taraf 5%. Jika hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh nyata (F hitung > F tabel), maka dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan's Multiple Range Test (DMRT). Konsorsium bakteri Pseudomonas kelompok fluorescens PEM 1.5 + PRM 1.1 menunjukkan kemampuan pengendalian yang terbaik dibandingkan perlakuan konsorsium lainnya, yang ditunjukkan oleh masa inkubasi terlama, intensitas penyakit terendah, nilai AUDPC terkecil, serta efektivitas pengendalian tertinggi. Konsorsium bakteri Pseudomonas kelompok fluorescens PEM 1.5 + PRM 1.1 juga memberikan respons positif terhadap pertumbuhan tanaman padi, yaitu dalam meningkatkan tinggi tanaman.Bacterial leaf blight (BLB) caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) is one of the major diseases affecting rice and can reduce crop productivity. The control of BLB still relies on chemical pesticides, so there is a need for more environmentally friendly alternatives such as application of antagonistic bacteria in the form of a consortium. This study aims to test the effectiveness of the consortium in controlling HDB and to determine its effect on rice plant growth in planta. The study was conducted at Plant Protection Laboratory and greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University in North Purwokerto District, Banyumas Regency from August 2025 to February 2026. This study used a non-factorial Randomized Block Design (RBD) with 8 treatments bacterial consortium of Bacillus sp. and Fluorescens Pseudomonas. The bacterial consortium used was isolated from sensitive plant (Mimosa invisa) specimens collected in midland and lowland areas, sourced from both endophytes and the rhizosphere. The bacterial consortia were applied through seed soaking, drenching of the growing medium during the nursery stage, and foliar spraying on rice plants previously inoculated with the pathogen. Each treatment was replicated four times, resulting in 32 experimental units. Each experimental unit consisted of four plants per bucket, for a total of 128 plants. The treatments used were P1 = healthy control, P2 = diseased control, P3 = Streptomisin sulfat 20% bactericide control, P4 = BEM 1.4 + BRM 13, P5 = PEM 1.5 + PRM 1.1, P6 = PEM 3.1 + PEM 15, P7 = PEM 3.1 + PRM 1.1 + PEM 1.5, and P8 = PER 1.3 + PRR 1.4. The data obtained from the research were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at the 5% significance level. If the analysis results indicate a significant effect (calculated F value > F table), then a post-hoc test was conducted using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The consortium of Fluorescens Pseudomonas isolates PEM 1.5 + PRM 1.1 demonstrated greater disease control compared with the other consortium treatments, as indicated by the longest incubation period, the lowest disease intensity, the lowest AUDPC value, and the highest control effectiveness. The consortium of Fluorescens Pseudomonas isolates PEM 1.5 + PRM 1.1 also had a positive effect on rice plant growth, particularly by increasing plant height.
5162355041A1H024002STUDI KETERSEDIAAN SULFUR DAN C-ORGANIK TANAH TERHADAP TANAMAN PADI DI DAS SERAYU TENGAH KECAMATAN PURWANEGARA KABUPATEN BANJARNEGARAProduktivitas tanaman padi dipengaruhi oleh tingkat kesuburan tanah, terutama ketersediaan sulfur (S) dan kandungan C-organik yang berperan dalam penyediaan unsur hara serta perbaikan kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status sulfur tersedia dan C-organik tanah, menganalisis hubungan kedua parameter tersebut terhadap hasil tanaman padi, serta menyusun rekomendasi pemupukan pada lahan sawah DAS Serayu Tengah Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan pendekatan purposive random sampling berdasarkan Satuan Lahan Homogen (SLH). Sampel tanah diambil pada kedalaman 0–25 cm dan 25–50 cm, kemudian dianalisis terhadap pH H₂O, pH KCl, daya hantar listrik, potensial redoks, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, sulfur tersedia, C-organik, serta hasil tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan sulfur tersedia pada seluruh lokasi termasuk kriteria sangat tinggi, sedangkan C-organik tanah berada pada kriteria sedang. Analisis korelasi menunjukkan sulfur tersedia dan C-organik memiliki hubungan yang lemah terhadap hasil tanaman padi. Berdasarkan kondisi tersebut, pemupukan sulfur tidak diperlukan, sedangkan penambahan bahan organik tetap direkomendasikan untuk mempertahankan kesuburan tanah dan produktivitas lahan.Rice productivity is strongly influenced by soil fertility, particularly available sulfur (S) and soil organic carbon, which play important roles in nutrient availability and soil quality improvement. This study aimed to evaluate the status of available sulfur and soil organic carbon, determine their relationship with rice yield, and formulate fertilization recommendations for paddy fields in the Middle Serayu Watershed, Purwanegara District, Banjarnegara Regency. A survey method with purposive random sampling based on Homogeneous Land Units (HLUs) was employed. Soil samples were collected at depths of 0–25 cm and 25–50 cm and analyzed for soil pH, electrical conductivity, redox potential, cation exchange capacity, base saturation, available sulfur, soil organic carbon, and rice yield. The results indicated that available sulfur was classified as very high, whereas soil organic carbon was generally classified as moderate. Correlation analysis showed weak relationships between available sulfur, soil organic carbon, and rice yield. Therefore, sulfur fertilization is unnecessary, while organic matter application is recommended to maintain soil fertility and sustainable rice production.
5162455043B1A022106Karakterisasi Morfologi dan Analisis RAPD pada Tanaman Nepenthes mirabilis dan Nepenthes rafflesianaNepenthes merupakan tanaman karnivora yang memiliki struktur berupa kantong untuk menangkap mangsa sebagai sumber nutrisi tambahan dan adaptasi terhadap lingkungan miskin nitrogen. Indonesia memiliki lebih dari 80 spesies Nepenthes, tetapi banyak di antaranya berada dalam kondisi terancam akibat degradasi habitat, kebakaran, serta alih fungsi lahan. Dalam upaya konservasi populasi yang makin menurun, ketepatan identifikasi spesies menjadi aspek penting sebagai dasar pengelolaan. Identifikasi dapat dilakukan berbasis morfologi melalui pengamatan karakter vegetatif tanaman. Namun, spesies Nepenthes yang sama dapat menunjukkan variasi morfologi sehingga identifikasi berdasarkan karakter morfologi saja sering kali tidak cukup akurat karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan fase pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu, pendekatan molekuler seperti Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) diperlukan untuk menentukan perbedaan genetik secara lebih objektif. Penelitian ini bertujuan mengarakterisasi morfologi serta menganalisis profil RAPD pada tiga taksa, yaitu N. mirabilis var. mirabilis, N. mirabilis var. globosa, dan N. rafflesiana, guna mengetahui perbedaan genetik antartaksa, keanekaragaman intrataksa, dan hubungan genetik.
Sampel Nepenthes diperoleh dari koleksi greenhouse Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Kajian dilakukan berdasarkan karakter morfologi secara kuantitatif dan kualitatif, serta analisis molekuler berbasis penanda RAPD. Karakter morfologi yang diamati meliputi batang, daun, sulur, dan kantong. Analisis molekuler dilakukan melalui ekstraksi DNA menggunakan metode CTAB, amplifikasi DNA dengan PCR RAPD, dan visualisasi fragmen DNA melalui elektroforesis. Data morfologi kualitatif dianalisis secara deskriptif, data morfologi kuantitatif dianalisis menggunakan Analisis Ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%, sedangkan data RAPD dianalisis berdasarkan persentase polimorfisme dan hubungan genetik menggunakan metode UPGMA.
Hasil analisis morfologi kualitatif menunjukkan bahwa N. rafflesiana memiliki perbedaan karakter pada daun dan kantong. Sementara itu, N. mirabilis var. mirabilis dan N. mirabilis var. globosa memiliki karakter batang dan daun yang serupa, tetapi berbeda pada morfologi kantong. Analisis morfologi kuantitatif menunjukkan bahwa hanya diameter batang yang berbeda nyata antartaksa. Analisis RAPD menghasilkan 40 fragmen DNA dengan persentase polimorfisme sebesar 80%. Berdasarkan analisis morfologi dan RAPD, seluruh sampel terkelompok ke dalam dua klaster utama, yaitu klaster N. rafflesiana dan klaster N. mirabilis, dengan klaster N. mirabilis terbagi menjadi dua subklaster, yaitu N. mirabilis var. mirabilis dan N. mirabilis var. globosa. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan penanda molekuler berbasis Sequence Characterised Amplified Region (SCAR) untuk mendukung identifikasi genetik Nepenthes.
Nepenthes is a carnivorous plant that possesses specialized pitchers to capture prey as an additional nutrient source and as an adaptation to nitrogen-poor environments. Indonesia harbours more than 80 Nepenthes species, many of which are threatened by habitat degradation, forest fires, and land-use change. Accurate species identification is therefore essential to support conservation efforts. Morphological identification based on vegetative characters is commonly used. however, individuals of the same Nepenthes species may exhibit morphological variation influenced by environmental conditions and developmental stages, limiting the reliability of morphology alone. Therefore, molecular approaches such as Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) are required to provide a more objective assessment of genetic differences. This study aimed to characterize the morphology and analyse RAPD profiles of three Nepenthes taxa, namely N. mirabilis var. mirabilis, N. mirabilis var. globosa, and N. rafflesiana, in order to determine intertaxon genetic differences, intrataxon genetic diversity, and genetic relationships.
Nepenthes samples were obtained from the greenhouse Collection of the Faculty of Biology, Universitas Jenderal Soedirman. The study was conducted using qualitative and quantitative morphological characterization and RAPD marker analysis. Morphological observations included stem, leaf, tendril, and pitcher characters. Molecular analysis involved DNA extraction using the CTAB method, RAPD-PCR amplification, and DNA fragment visualization by gel electrophoresis. Qualitative morphological data were analysed descriptively, whereas quantitative morphological data were analysed using analysis of variance (ANOVA) followed by Tukey's Honestly Significant Difference (HSD) test at the 5% significance level. RAPD data were analysed based on the percentage of polymorphism and genetic relationships using the UPGMA method.
Qualitative morphological analysis revealed that N. rafflesiana differed from N. mirabilis in leaf and pitcher characteristics. In contrast, N. mirabilis var. mirabilis and N. mirabilis var. globosa exhibited similar stem and leaf characteristics but differed in pitcher morphology. Quantitative morphological analysis indicated that stem diameter was the only quantitative character that differed significantly among the taxa. RAPD analysis generated 40 DNA fragments with an overall polymorphism of 80%. Based on the combined morphological and RAPD analyses, all samples were classified into two major clusters, namely the N. rafflesiana cluster and the N. mirabilis cluster, with the latter further separated into two subclusters corresponding to N. mirabilis var. mirabilis and N. mirabilis var. globosa. Future studies are recommended to develop molecular markers using the Sequence Characterised Amplified Region (SCAR) approach to improve the genetic identification of Nepenthes.
5162555045E1A022204GUGATAN GANTI RUGI BERDASARKAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN JUAL BELI RUMAH TERHADAP AHLI WARIS PADA PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1721 K/Pdt/2025Wanprestasi dalam perjanjian jual beli rumah merupakan permasalahan yang sering terjadi terutama apabila penjual meninggal dunia dan belum menyelesaikan pelaksanaan perjanjian tersebut. Permasalahan tersebut tercermin dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 1721K/Pdt/2025 yang berawal dari perjanjian jual beli rumah antara Penggugat yaitu Irawasni A. Jusuf (pembeli) dengan Alm.Iswan Amir, S.E (penjual) yang kemudian meninggal dunia, sedangkan Tergugat yaitu Kusmala Dewi (ahli waris penjual) menolak melanjutkan perjanjian meskipun pembeli telah membayar uang muka. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertimbangan hakim dalam menetapkan wanprestasi dan mengabulkan ganti rugi terhadap ahli waris. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Spesifikasi penelitian menggunakan preskriptif. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder melalui studi kepustakaan yang disajikan dalam bentuk teks naratif dan dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penetapan wanprestasi oleh Tergugat (ahli waris penjual) telah tepat karena terpenuhinya unsur-unsur wanprestasi didasarkan perjanjian yang sah antara Alm.Iswan Amir, S.E (penjual) dengan Penggugat (pembeli), Tergugat tidak berprestasi sama sekali karena tidak bersedia melanjutkan jual beli dengan menandatangani perjanjian di notaris serta adanya kesalahan dari penjual yang tetap tidak memenuhi prestasinya bahkan setelah diberikannya somasi. Pertimbangan hakim yang menghukum Tergugat mengembalikan uang muka sebesar Rp100.000.000,00 sudah tepat sesuai prinsip ganti rugi dalam KUHPerdata karena merupakan kerugian nyata dan memiliki hubungan kausal dengan wanprestasi oleh Tergugat. Namun, hakim belum memberikan pertimbangan yang memadai alasan penolakan tuntutan ganti rugi lainnya sehingga putusan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kepastian hukum.Breach of contract in a house sale agreement is a problem that often occurs, especially when the seller passes away before fulfilling the terms of the agreement. This issue is reflected in Supreme Court Decision No. 1721K/Pdt/2025, which began with a house sale agreement between the Plaintiff, Irawasni A. Jusuf (buyer) and the late Iswan Amir, S.E. (seller) who subsequently passed away, so that the Defendant, Kusmala Dewi (seller’s heir) refuse to continue the agreement even though the buyer had paid a down payment. This study aims to analyze the judge's legal considerations in determining a breach of contract and granting compensation to the heirs. This study uses a normative juridical research type with legislative, conceptual, and case-law approaches. The research specification using prescriptive. The data source in this study uses secondary data through a literature study, presented in narrative text and analyzed uses qualitative normative analysis. The results of the study indicate that the default committed by the Defendant (seller’s heir) was appropriate because the elements of default were fulfilled based on a valid agreement between the late Iswan Amir, S.E. (seller) and the Plaintiff (buyer), The Defendant did not fulfill the performance at all because she was unwilling to continue the sale and purchase process by signing the agreement document at the notary, and the seller was at fault for fail to fullfill the perfomance even after being given a summons. The judge's consideration in sentencing the Defendant to return the down payment of Rp. 100,000,000.00 was appropriate according to the principle of damages under the Civil Code because it is a actual loss and has a causal relationship to the Defendant's breach of contract. However, the judge has not provided adequate consideration reasoning for rejecting the other claims for damages so that the decision does not fully reflect legal certainty.
5162655050J1D022035Nilai Moral Tokoh Utama dalam Novel Petualangan Kuli Panti Asuhan Karya Gol A Gong dan Tias TatankaPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya nilai moral sebagai pedoman perilaku manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan menjelaskan fungsi nilai moral tokoh utama dalam novel Petualangan Kuli Panti Asuhan karya Gol A Gong dan Tias Tatanka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data berupa novel Petualangan Kuli Panti Asuhan. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan 20 data bentuk nilai moral, meliputi hubungan manusia dengan Tuhan sebanyak 4 data, hubungan manusia dengan diri sendiri sebanyak 8 data, dan hubungan manusia dengan sesama manusia sebanyak 8 data. Temuan tersebut menunjukkan moralitas Barli dominan melalui keteguhan pribadi dan kepedulian sosial. Selain itu, ditemukan 12 data fungsi nilai moral, terdiri atas fungsi edukatif sebanyak 5 data, fungsi pembentukan karakter sebanyak 4 data, dan fungsi refleksi kehidupan sebanyak 3 data. Fungsi tersebut menunjukkan bahwa nilai moral melalui tokoh Barli berperan memberikan pembelajaran, membentuk sikap positif, dan membantu pembaca memaknai pengalaman kehidupan. Dengan demikian, nilai moral dalam novel tidak hanya menggambarkan perilaku tokoh, tetapi juga berperan dalam pembelajaran sastra dan pendidikan karakter.This research is motivated by the importance of moral values as guidelines for human behavior in dealing with life problems. This research aims to describe the forms and explain the functions of moral values of the main character in the novel Petualangan Kuli Panti Asuhan by Gol A Gong and Tias Tatanka. This research employs a descriptive qualitative method. The data source is the novel Petualangan Kuli Panti Asuhan. Data were collected through reading and note-taking techniques and then analyzed using content analysis. The results show 20 data representing forms of moral values, consisting of 4 data concerning the relationship between humans and God, 8 data concerning the relationship between humans and themselves, and 8 data concerning the relationship between humans and others. These findings indicate that Barli’s morality is predominantly characterized by personal steadfastness and social concern. In addition, 12 data representing the functions of moral values were found, consisting of 5 data on the educational function, 4 data on the character-building function, and 3 data on the life-reflection function. These functions show that moral values conveyed through the character of Barli play a role in providing learning, fostering positive attitudes, and helping readers reflect on life experiences. Thus, moral values in the novel not only portray the character’s behavior but also contribute to literary learning and character education.
5162755036K2A024001Formulasi Nanoemulsi Hasil Fraksinasi Minyak Biji Pala dengan Energi Tinggi serta Uji Aktivitas AntibakteriBakteri patogen yang tersebar di udara kerap menjangkiti manusia. Resistensi bakteri dapat terjadi apabila senyawa antibakteri sintetis terus digunakan sehingga pencarian agen antibakteri alternatif alami masih dilakukan. Salah satu kekayaan alam Indonesia yang memiliki aktivitas antibakteri yaitu tanaman pala (Myristica fragrans). Minyak atsiri biji pala telah banyak diteliti sebagai agen antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi fraksi minyak atsiri biji pala menjadi alternatif antibakteri alami. Minyak atsiri biji pala difraksinasi menggunakan Distilasi Fraksinasi Vakum untuk kemudian diuji aktivitas antibakteri terhadap 4 strain bakteri. Spesies bakteri yang digunakan yaitu Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Propionibacterium acnes. Fraksi teraktif kemudian diformulasikan nanoemulsi energi tinggi untuk meningkatkan efektivitasnya. Surfaktan dan kosurfaktan yang digunakan yaitu Tween 80 dan Propilen Glikol dengan perbandingan 3:1. Konsentrasi gabungan surfaktan-kosurfaktan dalam formula dioptimasi terlebih dahulu untuk kemudian dibuat formula nanoemulsi dengan variasi konsentrasi fraksi teraktif yang ditambahkan yaitu 0% (FN0), 1% (FN1), 3% (FN3), 5% (FN5), dan 7% (FN7). Proses fraksinasi menghasilkan 5 fraksi (FR1, FR2, FR3, FR4, dan FR5). Fraksi teraktif didapatkan oleh FR5 (1000 ppm) dengan diameter zona hambat sebesar 2,02 – 3,58 mm. Konsentrasi gabungan surfaktan-kosurfaktan dalam formula yang terpilih setelah proses optimasi yaitu sebesar 45%. Kelima formula nanoemulsi memiliki karakteristik berwarna kuning jernih, beraroma khas tanaman pala, ukuran partikel rata-rata 13,35 – 59,67 nm, Poly Dispersity Index (PDI) 0,37 – 1, pH 6,8 – 7,4, viskositas 505 – 1325 cP, %Transmitan 10,6 – 96,1%, berjenis Oil in Water (O/W) dan tetap stabil terhadap gaya sentrifugal. Aktivitas antibakteri juga diujikan terhadap kelima formula nanoemulsi dan mendapatkan zona hambat sebesar 9,43 – 17,45 mm. Formula FN3 dipilih sebagai formula terbaik berdasarkan hasil uji karakteristik dan antibakteri.Pathogenic bacteria that spread through the air can cause infections in humans. The continuous use of synthetic antibacterial agents can lead to bacterial resistance, so the search for natural antibacterial agents is still needed. One natural resource in Indonesia that has antibacterial activity is nutmeg (Myristica fragrans). Nutmeg seed essential oil has been widely studied as an antibacterial agent. This study aimed to investigate the potential of nutmeg seed essential oil fractions as a natural antibacterial agent. The essential oil was separated into five fractions using Vacuum Fractional Distillation and tested for antibacterial activity against four bacterial strains, namely Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, and Propionibacterium acnes. The most active fraction was Fraction 5 at a concentration of 1000 ppm, with inhibition zones ranging from 2.02 to 3.58 mm. Fraction 5 was then formulated into a high-energy nanoemulsion to improve its effectiveness. Tween 80 and Propylene Glycol were used as surfactant and cosurfactant at a ratio of 3:1. The selected concentration of the surfactant-cosurfactant mixture after optimization was 45%. Fraction 5 was added to the nanoemulsion at concentrations of 0% (FN0), 1% (FN1), 3% (FN3), 5% (FN5), and 7% (FN7). All five nanoemulsion formulations were clear yellow and had a characteristic nutmeg aroma. The formulations had average particle sizes of 13.35–59.67 nm, a Polydispersity Index (PDI) of 0.37–1, pH values of 6.8–7.4, viscosities of 505 – 1325 cP, and %transmittance values of 10.6–96.1%. All formulations were Oil-in-Water (O/W) nanoemulsions and remained stable after the centrifugation test. The antibacterial activity test showed inhibition zones of 9.43–17.45 mm. Formula 3 was selected as the best formulation based on its characteristics and antibacterial activity.
5162855047I1D022031PERBANDINGAN KECUKUPAN ZAT BESI, PROTEIN, DAN ANEMIA DEFISIENSI BESI DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN BANYUMAS Latar Belakang : Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi 16,2%. Anemia pada remaja berdampak pada prestasi akademik serta meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan di kemudian hari. Salah satu faktor yang berperan adalah rendahnya asupan zat gizi. Selain itu, perbedaan geografis antara wilayah perdesaan dan perkotaan dapat mempengaruhi keterpaparan informasi mengenai anemia. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan tingkat kecukupan zat besi dan protein, serta kejadian anemia defisiensi besi antara siswi SMP di perdesaan dan perkotaan Kabupaten Banyumas.
Metodologi : Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 108 siswi di SMP Negeri 4 Kedungbanteng dan SMP Negeri 6 Purwokerto. Sampel di perdesaan diambil dengan total sampling, sedangkan di perkotaan menggunakan stratified random sampling. Variabel penelitian meliputi tingkat kecukupan zat besi dan protein, serta kejadian anemia defisiensi besi. Data asupan makan dikumpulkan menggunakan SQ-FFQ, pengukuran hemoglobin dengan Easy Touch GCHb dan HemoCue Hb 301. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan uji Fisher’s Exact.
Hasil Penelitian : Sebanyak 88,9% siswi di perdesaan dan 81,5% di perkotaan memiliki kecukupan zat besi kurang. Sebanyak 92,6% siswi di perdesaan dan 87% di perkotaan memiliki kecukupan protein kurang. Anemia ditemukan pada 7,4% siswi di perdesaan dan 14,8% di perkotaan. Tidak terdapat perbedaan tingkat kecukupan zat besi (p=0,279), protein (p=0,641), maupun kejadian anemia defisiensi besi (p=0,221) antara siswi di kedua wilayah.
Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan tingkat kecukupan zat besi, tingkat kecukupan protein, maupun kejadian anemia defisiensi besi antara siswi SMP di wilayah perdesaan dan perkotaan Kabupaten Banyumas.
Kata kunci : anemia defisiensi besi, perdesaan, perkotaan, protein, zat besi
Background : Anemia remains a public health problem in Indonesia, with a prevalence of 16.2%. Anemia in adolescents affects academic performance and increases the risk of complications during pregnancy and childbirth. Low iron and protein intake are contributing factors. Geographic differences between rural and urban areas may influence access to anemia information. This study aimed to determine differences in iron, protein adequacy, and iron deficiency anemia incidence among junior high school students in rural and urban Banyumas Regency.
Methods : An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted on 108 female students at SMP Negeri 4 Kedungbanteng and SMP Negeri 6 Purwokerto. Rural samples used total sampling, while urban samples used stratified random sampling. Variables included iron and protein adequacy, and iron deficiency anemia incidence. Data were collected using SQ-FFQ and hemoglobin measurements with Easy Touch GCHb and HemoCue Hb 301. Data were analyzed using Chi-square and Fisher’s exact tests.
Results : A total of 88.9% of rural and 81.5% of urban female students had inadequate iron adequacy. A total of 92.6% of rural and 87% of urban female students had inadequate protein adequacy. Anemia was found in 7.4% of rural and 14.8% of urban female students. No differences were found in iron adequacy (p=0.279), protein adequacy (p=0.641), or iron deficiency anemia incidence (p=0.221) between the two areas.
Conclusion : There were no differences in iron adequacy, protein adequacy, or iron deficiency anemia incidence among junior high school students in rural and urban areas of Banyumas Regency.
Keywords : iron, iron deficiency anemia, protein, rural, urban
5162955048B1B022002ALGAL FUNGAL IMMOBILIZED PELLETS (AFIP) AS NOVEL BIOREMEDIATION AGENTS FOR PHENOL FROM TEXTILE EFFLUENTSIndustri tekstil menghasilkan air limbah yang mengandung fenol, zat warna, bahan organik, padatan tersuspensi, padatan terlarut, serta residu nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan perairan dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Fenol merupakan senyawa toksik yang mudah larut dalam air dan memiliki struktur kimia yang stabil sehingga sulit dihilangkan melalui metode pengolahan konvensional. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi Algal Fungal Immobilized Pellets (AFIP) yang dikembangkan dari Spirulina sp. dan Cladosporium tenuissimum dalam matriks alginat sebagai agen bioremediasi fenol pada larutan fenol sintetis dan air limbah tekstil.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga ulangan. Tahapan penelitian meliputi kultivasi Spirulina sp. dan C. tenuissimum, pembentukan AFIP melalui teknik entrapment alginat, karakterisasi bead, optimasi dosis dan pH, analisis isoterm dan kinetika adsorpsi, pengujian penggunaan ulang (reusability), aplikasi pada air limbah tekstil, serta bioassay fitotoksisitas menggunakan kacang hijau (Vigna radiata). Konsentrasi fenol dianalisis menggunakan metode 4-aminoantipirin, sedangkan data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AFIP berhasil dibentuk sebagai bead kompak berwarna hijau kecokelatan yang tersusun atas trikoma Spirulina sp., hifa C. tenuissimum, dan matriks alginat. Dosis optimum AFIP sebesar 20% (v/v) menghasilkan efisiensi penyisihan fenol sebesar 79,40 ± 1,57%, serta menunjukkan kinerja yang stabil pada rentang pH 4-8. Analisis isoterm menunjukkan bahwa proses adsorpsi mengikuti model Freundlich dengan nilai R² = 0,994, sedangkan analisis kinetika mengikuti model pseudo-orde pertama dengan nilai R² = 0,889. Pada aplikasi terhadap air limbah tekstil, AFIP menghasilkan efisiensi penyisihan fenol sebesar 95,499%, dengan nilai COD 21,187 ± 1,973 ppm, BOD 0,573 ± 0,084 ppm, TSS 10,498 ± 1,330 ppm, TDS 269,756 ± 6,108 ppm, dan DO akhir 5,421 ± 0,067 ppm. AFIP juga mempertahankan efisiensi penyisihan sebesar 93,16% setelah tiga siklus penggunaan ulang serta mampu menurunkan tingkat fitotoksisitas, yang ditunjukkan oleh nilai Germination Index kacang hijau sebesar 92,161 ± 3,389% pada larutan fenol hasil perlakuan dan 86,699 ± 5,025% pada air limbah tekstil hasil perlakuan.
The textile industry produces wastewater containing phenol, dyes, organic matter, suspended solids, dissolved solids, and nutrient residues that can compromise aquatic and biological safety. Phenol is toxic, water-soluble, and structurally stable, making its removal difficult with simple treatment. This research evaluated Algal Fungal Immobilized Pellets (AFIP), formed from Spirulina sp. and Cladosporium tenuissimum in an alginate matrix, as a biological agent for phenol bioremediation in synthetic phenol solution and textile wastewater.
This research used an experimental method with a completely randomized design and three replications. The main stages included cultivation of Spirulina sp. and C. tenuissimum, AFIP formation using alginate entrapment, bead characterization, dosage and pH optimization, isotherm and kinetic analyses, reusability testing, textile wastewater application, and mungbean (Vigna radiata) phytotoxicity bioassay. Phenol was measured using the 4-aminoantipyrine method, and the data were analyzed using ANOVA followed by Duncan’s Multiple Range Test at a 5% significance level.
The main results showed that AFIP was formed as compact greenish-brown beads containing Spirulina sp. trichomes, fungal hyphae, and alginate matrix. The optimum AFIP dosage was 20% v/v with 79.40 ± 1.57% phenol removal, and the treatment remained stable at pH 4 to 8. In the isotherm analysis, AFIP was modeled using the Freundlich-type heterogeneous adsorption model, with R2 = 0.994. In the kinetic analysis, AFIP followed the pseudo-first-order model with R2 = 0.889. In textile wastewater, AFIP gave the strongest response with 95.499% phenol removal, COD of 21.187 ± 1.973 ppm, BOD of 0.573 ± 0.084 ppm, TSS of 10.498 ± 1.330 ppm, TDS of 269.756 ± 6.108 ppm, and final DO of 5.421 ± 0.067 ppm. AFIP also retained 93.16% removal performance after three reuse cycles and reduced phytotoxicity, shown by mungbean Germination Index of 92.161 ± 3.389% in treated phenol solution and 86.699 ± 5.025% in treated textile wastewater.
5163055049A1C022002Optimasi Konsentrasi Perekat dan Tekanan Briket Arang Sekam Menggunakan Metode Response Surface Methodology (RSM)Ketergantungan pada bahan bakar fosil mendorong pemanfaatan limbah biomassa seperti sekam padi sebagai sumber energi alternatif terbarukan. Karakteristik sekam padi yang memiliki kerapatan curah (bulk density) rendah serta kadar abu tinggi memerlukan proses densifikasi melalui briketisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi tekanan pengempaan dan konsentrasi perekat tapioka terhadap kadar air, kadar abu, dan nilai kalor briket arang sekam padi, serta menentukan kondisi proses paling optimal menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan rancangan Central Composite Design (CCD). Faktor yang diteliti meliputi tekanan pengempaan (80–220 kg/cm2) dan konsentrasi perekat tapioka (8%–22% b/b) dengan total 13 kombinasi perlakuan. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata kadar air 4,97% (3,80%–5,85%), kadar abu 5,51% (4,55%–6,38%), dan nilai kalor 5.286,9 kal/g (5.045,6–5.519,9 kal/g), di mana seluruh perlakuan memenuhi standar SNI 01-6235-2000. Konsentrasi perekat merupakan faktor dominan yang meningkatkan kadar air (F=1973,81; p<0,0001) dan kadar abu (F=1269,80; p<0,0001) akibat sifat higroskopis pati dan residu non-karbon. Sebaliknya, tekanan pengempaan merupakan faktor paling dominan yang meningkatkan nilai kalor (F=182,90; p<0,0001) karena memadatkan struktur pori dan meningkatkan densitas energi. Model kuadratik RSM terbukti valid dan presisi (R2>0,95; lack of fit p>0,05). Kondisi optimum tercapai pada kombinasi perlakuan T2K2 (tekanan 150 kg/cm2 dan perekat 15%) dengan nilai desirability sebesar 0,983 (prediksi sistem: 126,94 kg/cm2 dan perekat 13,07%).Growing fossil fuel depletion necessitates the utilization of agricultural residues such as rice husk for renewable biomass energy. The low bulk density of rice husk requires densification through briquetting. This study aims to analyze the effects of compaction pressure and tapioca adhesive concentration on the moisture content, ash content, and calorific value of rice husk charcoal briquettes, while determining the optimal process conditions using Response Surface Methodology (RSM) with Central Composite Design (CCD). Two factors were investigated: compaction pressure (80–220 kg/cm2) and tapioca adhesive concentration (8%–22% w/w) across 13 treatment runs. Results showed average moisture content of 4.97% (3.80%–5.85%), ash content of 5.51% (4.55%–6.38%), and calorific value of 5,286.9 cal/g (5,045.6–5,519.9 cal/g), fully complying with SNI 01-6235-2000 standards. Adhesive concentration predominantly increased moisture content (F=1973.81; p<0.0001) and ash content (F=1269.80; p<0.0001) due to starch hygroscopicity and non-carbon residues. Conversely, compaction pressure was the dominant factor increasing calorific value (F=182.90; p<0.0001) by compacting pore structures and enhancing energy density. Quadratic RSM models proved valid and accurate (R2>0.95; lack of fit p>0.05). Optimal processing conditions were achieved at treatment T2K2 (150 kg/cm2 pressure and 15% adhesive) with a desirability of 0.983 (system prediction: 126.94 kg/cm2 and 13.07% adhesive).
5163154901A1D022206Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Hayati (POH) dan NPK Dosis Rendah terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Stroberi (Fragaria sp.)Aplikasi pupuk NPK sintetis pada budidaya stroberi dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesuburan tanah dan kesehatan konsumen. Selain itu, pupuk NPK sintesis untuk budidaya stroberi tidak memperoleh subsidi sehingga harga pupuk tersebut lebih mahal. Oleh karena itu, perlu adanya kombinasi dengan pupuk organik seperti pupuk organik hayati (POH) untuk mengurangi dosis penggunaan pupuk NPK sintetis. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi Pupuk Organik Hayati (POH) dan NPK dosis rendah terhadap pertumbuhan serta hasil tanaman stroberi (Fragaria sp.). Penelitian dilaksanakan di Desa Serang, Purbalingga, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah dosis POH (0, 100, dan 200 mL) dan faktor kedua adalah dosis NPK (75%, 50%, dan 25% dari anjuran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi dosis NPK tidak memberikan pengaruh nyata pada seluruh variabel, mengindikasikan bahwa penggunaan dosis rendah (hingga 25%) sudah mencukupi kebutuhan hara di lokasi penelitian. Sebaliknya, aplikasi POH dosis 200 mL secara mandiri berpengaruh sangat nyata dalam meningkatkan tinggi tanaman (13,89 cm) dan jumlah daun (21,39 helai). Kombinasi POH 200 mL dan NPK 50% memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan kadar vitamin C buah (25,02 mg/mL), serta kombinasi POH 200 mL dan NPK 25% memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan bobot kering (10,37 g). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan POH efektif dalam menjaga pertumbuhan dan kualitas nutrisi stroberi sekaligus mendukung efisiensi pengurangan pupuk kimia sintetis.The long-term application of synthetic NPK fertilizer in strawberry cultivation may have negative impacts on soil fertility and consumer health. Furthermore, synthetic NPK fertilizer for strawberry cultivation is not subsidised, meaning that it is more expensive. Therefore, it is necessary to combine it with organic fertilizer, such as bio-organic fertilizer (POH), to reduce the application of synthetic NPK fertilizer. This study was conducted to evaluate the effect of applying POH and low-dose NPK on the growth and yield of strawberry plants (Fragaria sp.). The research was carried out in Serang Village, Purbalingga, using a factorial Randomised Block Design (RBD). The first factor was the POH dose (0, 100, and 200 mL) and the second factor was the NPK dose (75%, 50% and 25% of the recommended rate). The results showed that variations in NPK dosage had no significant effect on any of the variables, indicating that the use of low doses (up to 25%) was sufficient to cover the nutrient requirements at the research location. Conversely, the application of a 200 mL POH dose alone had a highly significant effect on increasing plant height (13.89 cm) and the number of leaves (21.39 leaves). The combination between 200 mL POH and 50% NPK had a significant effect on increasing fruit vitamin C content (25.02 mg/mL), also the combination between 200 mL POH and 25% NPK had a significant effect on increasing plant dry weight (10.37 g). This showed that the use of POH is effective in maintaining the growth and nutritional quality of strawberries whilst helping to reduce the use of synthetic chemical fertilizer.
5163255052A1F022073PENGARUH PENAMBAHAN WHEY PROTEIN CONCENTRATE TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI BUBUK CREAM CHEESE EKSTRAK KECOMBRANGCream cheese merupakan produk olahan susu yang memiliki kandungan gizi tinggi, tetapi umur simpannya relatif singkat akibat kadar air yang tinggi sehingga
memerlukan penyimpanan bersuhu rendah. Pengolahan cream cheese menjadi bubuk melalui metode foam mat drying dapat menjadi alternatif untuk
meningkatkan stabilitas dan memperpanjang umur simpan produk. Proses pengeringan tersebut berpotensi mempengaruhi karakteristik fisikokimia bubuk cream cheese sehingga diperlukan penambahan bahan penstabil. Whey protein concentrate (WPC) memiliki sifat fungsional yang berpotensi memperbaiki
karakteristik fisikokimia bubuk cream cheese ekstrak kecombrang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan WPC terhadap karakteristik fisikokimia bubuk cream cheese ekstrak kecombrang serta menentukan formulasi terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimia dan tingkat penerimaan konsumen. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yaitu konsentrasi WPC yang terdiri atas empat taraf, yaitu 0% (kontrol), 0,5%, 1%, dan 1,5%, dengan empat kali ulangan sehingga diperoleh 16 satuan percobaan. Bubuk cream cheese ekstrak kecombrang dibuat menggunakan metode foam mat drying. Parameter yang diamati meliputi rendemen, tekstur, warna, waktu rehidrasi, aktivitas air, kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar abu, dan pH. Uji sensori dilakukan terhadap atribut warna, aroma, kekentalan, kelembutan, rasa creamy, dan penerimaan keseluruhan. Data parameter fisik dan kimia dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%, sedangkan data sensori dianalisis menggunakan uji Friedman dan uji lanjut Wilcoxon. Perlakuan terbaik fisikokimia ditentukan menggunakan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi WPC berpengaruh nyata terhadap rendemen (17,46–20,11%) dan firmness (49,86–86,38 gf), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap parameter fisikokimia dan sensori lainnya (p>0,05). Formulasi dengan penambahan WPC 1% ditetapkan sebagai perlakuan terbaik berdasarkan analisis TOPSIS (nilai preferensi 0,02) dan didukung oleh nilai penerimaan keseluruhan tertinggi (4,30 ± 0,79). Perbandingan dengan cream cheese komersial menunjukkan bahwa formulasi tersebut memiliki tingkat penerimaan yang sebanding pada atribut warna, aroma, rasa creamy, dan penerimaan keseluruhan, namun masih berbeda pada atribut kekentalan dan kelembutan.
Cream cheese is a dairy product with high nutritional value but a relatively short shelf life because of its high moisture content, requiring refrigerated storage. Converting cream cheese into powder using the foam mat drying method is a potential approach to improve product stability and extend shelf life. However, the drying process may alter product quality, requiring the use of a stabilizing agent. Whey protein concentrate (WPC) has functional properties that may improve the quality of powdered cream cheese enriched with torch ginger extract. Therefore, this study aimed to evaluate the effect of adding WPC on the physicochemical properties of powdered cream cheese containing torch ginger extract and to identify the optimum formulation based on physicochemical properties and consumer acceptability. The study employed a one-factor Completely Randomized Design (CRD), with whey protein concentrate (WPC) concentration as the factor consisting of four levels, namely 0% (control), 0.5%, 1%, and 1.5%, with four replications, resulting in 16 experimental units. Kecombrang extract cream cheese powder was produced using the foam mat drying method. The observed parameters included yield, texture, color, rehydration time, water activity, moisture content, fat content, protein content, ash content, and pH. A hedonic test was conducted to evaluate the attributes of color, aroma, viscosity, softness, creamy taste, and overall acceptance. Data from the physical and chemical parameters were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level, while sensory data were analyzed using the Friedman test and further analyzed using the Wilcoxon test. The best physicochemical treatment was determined using the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) method. The results showed that WPC concentration significantly affected yield (17.46–20.11%) and firmness (49.86–86.38 gf), while no significant effects were observed on the other physicochemical and sensory parameters (p>0.05). The formulation containing 1% WPC was identified as the optimum treatment based on the TOPSIS analysis (preference value = 0.02) and achieved the highest overall acceptability score (4.30 ± 0.79). Sensory evaluation against a commercial cream cheese demonstrated comparable consumer acceptance for color, aroma, creamy taste, and overall acceptability, whereas significant differences remained in thickness and smoothness.
5163355055F1B022071Implementasi Strategi dalam Meningkatkan Kapasitas Inovasi Daerah di Kabupaten PurworejoInovasi daerah berperan meningkatkan kualitas pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, dan daya saing daerah. Meskipun capaian Indeks Inovasi Daerah (IID) Kabupaten Purworejo mengalami peningkatan, masih terdapat tantangan belum meratanya pengembangan inovasi pada perangkat daerah baik pada keberlanjutan maupun pelaporan serta keterbatasan sumber daya. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi strategi dalam meningkatkan kapasitas inovasi daerah di Kabupaten Purworejo berdasarkan konsep Wheelen et al., (2017) yang meliputi program, anggaran, dan prosedur. Metode penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dianalisis menggunakan model interaktif Miles et al., (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi strategi telah berjalan, tetapi belum optimal. Pada aspek program, perumusan strategi selaras dengan kebijakan pembangunan daerah, pelaksanaan inovasi sesuai kebutuhan perangkat daerah, monitoring dan evaluasi masih cenderung berorientasi pada pemenuhan administrasi. Aspek anggaran telah terintegrasi dalam kegiatan dan subkegiatan perangkat daerah dengan pemanfaatan sumber daya dan kolaborasi. Pada aspek prosedur, masih terdapat perbedaan mekanisme pembinaan, kendala pelaporan dan pemenuhan data dukung, serta belum tersusunnya SOP inovasi di Bapperida.Regional innovation plays an important role in improving public service quality, governance, and regional competitiveness. Although Purworejo Regency has experienced an increase in its Regional Innovation Index (IID) score, challenges remain, including uneven innovation development across regional agencies, particularly in sustainability and reporting, as well as resource limitations. This study aims to analyze the implementation of strategies to enhance regional innovation capacity in Purworejo Regency, based on Wheelen et al., (2017), focusing ono programs, budgets, and procedures. A qualitative research approach was employed, utilizing purposive and snowball sampling techniques. Data were collected through interviews, observation, and documentation, and analyzed using Miles et al., (2014) interactive model. Research show that strategy implementation has been carried out but is not yet optimal level. Regarding programs, strategy formulation aligns with regional development policies and innovation implementation meets agency needs, monitoring and evaluation remain focused on administrative compliance. Budgeting have been integrated into agency activities and sub-activities through resource optimization and collaboration. Procedures inconsistencies remain in guidance mechanisms, obstacles related to reporting and the provision of supporting data, and a lack of established Standard Operating Procedures (SOPs) for innovation at Bapperida.
5163455056K1A022059SINTESIS g-C3N4/ Fe3O4 UNTUK PENURUNAN KONSENTRASI METILEN BIRU Metilen biru (MB) merupakan zat warna kationik yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menyintesis komposit g-C₃N₄/Fe₃O₄ sebagai adsorben magnetik untuk menurunkan konsentrasi MB. g-C₃N₄ disintesis melalui metode kalsinasi menggunakan melamin, sedangkan komposit g-C₃N₄/Fe₃O₄ dibuat melalui metode hidrotermal dengan variasi massa Fe₃O₄. Karakterisasi dilakukan menggunakan XRD, SEM-EDX, dan BET. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposit GF-3 memiliki aktivitas adsorpsi terbaik dengan persentase adsorpsi sebesar 77,49% pada penentuan massa optimum. Kondisi optimum adsorpsi diperoleh pada pH 9, waktu kontak 170 menit, dan konsentrasi MB 10 ppm dengan efisiensi adsorpsi sebesar 93,33%. Proses adsorpsi mengikuti model kinetika pseudo-orde kedua dan isoterm Langmuir dengan kapasitas adsorpsi maksimum 13,7741 mg/g. Uji reusability menunjukkan bahwa komposit masih menunjukkan efisiensi adsorpsi di atas 85% setelah lima siklus penggunaan, sehingga berpotensi sebagai adsorben magnetik yang dapat digunakan kembali.Methylene blue (MB) is a cationic dye that is difficult to degrade and may cause water pollution. This study aimed to synthesize g-C₃N₄/Fe₃O₄ composite as a magnetic adsorbent for reducing MB concentration. g-C₃N₄ was prepared by calcination using melamine, while the g-C₃N₄/Fe₃O₄ composite was synthesized through a hydrothermal method with different Fe₃O₄ mass. The materials were characterized using XRD, SEM-EDX, and BET. The results showed that GF-3 exhibited the best adsorption performance, with an adsorption percentage of 77.49% in the optimum mass test. The optimum adsorption condition was obtained at pH 9, 170 minutes contact time, and 10 ppm MB concentration, reaching 93.33% adsorption efficiency. The adsorption process followed the pseudo-second-order kinetic model and the Langmuir isotherm model, with a maximum adsorption capacity of 13.7741 mg/g. The reusability test showed that the composite maintained above 85% adsorption after the fifth cycle, indicating its potential as a reusable magnetic adsorbent.
5163555057K1B022091Estimasi Fungsi Densitas Menggunakan Metode Kernel Pada Data Produksi Susu Sapi Perah di BBPTUHPT BaturradenBBPTUHPT Baturraden merupakan salah satu sentra pembibitan sapi perah di Jawa Tengah dengan volume produksi susu harian yang berfluktuasi dan tidak selalu mengikuti pola distribusi tertentu, sehingga pendekatan statistika nonparametrik diperlukan untuk mengestimasi fungsi densitasnya. Penelitian ini bertujuan mengestimasi fungsi densitas produksi susu sapi perah harian di BBPTUHPT Baturraden tahun 2025 menggunakan kernel serta membandingkan hasil estimasi berdasarkan pemilihan fungsi kernel dan bandwidth. Tiga fungsi kernel yang digunakan adalah Gaussian, Epanechnikov, dan Cosine, dengan bandwidth optimal ditentukan melalui metode Cross Validation (CV) dan Least Square Cross Validation (LSCV). Data yang digunakan berjumlah 365 pengamatan harian. Bandwidth optimal yang diperoleh untuk metode CV sebesar 16,3578 dan LSCV sebesar 16,32272. Keenam kombinasi kernel dan bandwidth menghasilkan kurva estimasi densitas berbentuk unimodal dengan puncak pada kisaran 930-940 liter/hari. Ukuran kebaikan yang digunakan untuk memperoleh perbandingan keenam kombinasi tersebut menggunakan nilai Mean Squared Error (MSE). Perbandingan menggunakan (MSE) menunjukkan kombinasi kernel Gaussian dengan bandwidth CV memberikan estimasi terbaik sebesar 0,0000006495397. Hasil estimasi fungsi densitas menunjukkan rentang produksi paling sering berkisar 910 – 950 liter/hari. Bentuk estimasi fungsi densitas terbaik pada produksi susu sapi perah di BBPTUHPT Baturraden adalah f ̂_h (x)=1/nh ∑_(i=1)^n▒〖1/√2π e^(-1/2 (((x-X_i ))/h)^2 ).〗BBPTUHPT Baturraden is one of the dairy cattle breeding centers in Central Java with a daily milk production volume that fluctuates and does not always follow a specific distribution pattern; therefore, a nonparametric statistical approach is required to estimate its density function. This study aims to estimate the density function of daily dairy cow milk production at BBPTUHPT Baturraden in 2025 using kernel methods and to compare the estimation results based on the selection of kernel functions and bandwidths. The three kernel functions used are Gaussian, Epanechnikov, and Cosine, with optimal bandwidths determined using the Cross Validation (CV) and Least Square Cross Validation (LSCV) methods. The dataset consisted of 365 daily observations. The optimal bandwidth obtained for the CV method was 16.3578, and for the LSCV method, it was 16.32272. All six combinations of kernel functions and bandwidths produced unimodal density estimation curves with peaks in the range of 930–940 liters/day. The Mean Squared Error (MSE) was used as the performance metric to compare the six combinations. The MSE comparison showed that the combination of the Gaussian kernel with the CV bandwidth provided the best estimate of 0.0000006495397. The results of the density function estimates indicated that the most frequent production range was between 910 and 950 liters/day. The best density function estimate for dairy cow milk production at BBPTUHPT Baturraden is f ̂_h (x)=1/nh ∑_(i=1)^n▒〖1/√2π e^(-1/2 (((x-X_i ))/h)^2 ).〗
5163655058A1D022252KERAGAMAN GENETIK MUTAN BLACK GINGER (Kaempferia parviflora Wall. ex Baker) HASIL IRADIASI SINAR GAMMA BERDASARKAN PENANDA MOLEKULER SIMPLE SEQUENCE REPEATS (SSR)Peningkatan keragaman genetik pada tanaman Kencur hitam (Kaempferia parviflora) dilakukan melalui iradiasi sinar gamma yang dapat merubah susunan DNA yang keberhasilannya perlu dievaluasi menggunakan penanda molekuler yang tepat, salah satunya Simple Sequence Repeats (SSR). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaman genetik tanaman mutan kencur hitam hasil iradiasi sinar gamma menggunakan data penanda molekuler SSR dan mengidentifikasi penanda molekuler SSR yang paling efektif dalam analisis keragaman genetik tanaman mutan kencur hitam hasil iradiasi sinar gamma. Penelitian dilaksanakan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Greenhouse Exfarm Fakultas Pertanian, Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi, Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Laboratorium Riset, dan Laboratorium Bioteknologi Peternakan IAB, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang berlangsung selama tujuh bulan sejak September 2025 hingga Maret 2026. Penelitian dilakukan menggunakan tanaman kontrol dan mutan hasil iradiasi pada beberapa dosis sinar gamma yang dianalisis menggunakan empat marka SSR (Kp03, Kp04, Kp07, dan Kp10). Data pola pita hasil elektroforesis dianalisis menggunakan metode Sequential Agglomerative Hierarchical and Nested (SAHN) dengan algoritma Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) pada perangkat lunak RStudio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh marka bersifat monomorfik pada kedelapan sampel yang diuji, masing-masing menghasilkan Na = Ne = 1 dengan PIC = 0. Hasil ini menunjukkan bahwa berdasarkan keempat marka SSR yang digunakan, tidak terdeteksi keragaman genetik pada populasi mutan kencur hitam hasil iradiasi sinar gamma, dan belum ditemukan marka SSR yang efektif (PIC > 0) untuk digunakan sebagai dasar seleksi dalam program pemuliaan kencur hitam berbasis mutasi induksi.The genetic diversity of Black Ginger (Kaempferia parviflora) can be enhanced through gamma-ray irradiation, which alters DNA composition; the success of this process needs to be evaluated using appropriate molecular markers, one of which is Simple Sequence Repeats (SSR). This study aimed to obtain information on the genetic diversity of gamma-irradiated Black Ginger mutants using SSR molecular marker data and to identify the most effective SSR molecular markers for genetic diversity analysis of these mutants. The research was conducted at the National Nuclear Energy Agency (BATAN), the Exfarm Greenhouse of the Faculty of Agriculture, the Plant Breeding and Biotechnology Laboratory, the Plant Tissue Culture Laboratory, the Research Laboratory, and the IAB Animal Biotechnology Laboratory, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, over a seven-month period from September 2025 to March 2026. The study used control and gamma-irradiated mutant plants at several irradiation doses, which were analyzed using four SSR markers (Kp03, Kp04, Kp07, and Kp10). Band pattern data from electrophoresis were analyzed using the Sequential Agglomerative Hierarchical and Nested (SAHN) method with the Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) algorithm in RStudio software. The results showed that all markers were monomorphic across the eight samples tested, each yielding Na = Ne = 1 with PIC = 0. These findings indicate that, based on the four SSR markers used, no genetic diversity was detected in the gamma-irradiated Black Ginger mutant population, and no effective SSR marker (PIC > 0) has yet been identified for use as a selection basis in mutation-induced breeding programs for Black Ginger.
5163755059A1D022196KERAGAMAN GENETIK MUTAN KENCUR HITAM (Kaempferia parviflora) BERDASAR PENANDA MOLEKULER PENYANDI GEN CHALCONE SYNTHASE (CHS) DALAM BIOSINTESIS ANTOSIANINKencur hitam (Kaempferia parviflora Wall. Ex. Baker) merupakan tanaman herbal yang kaya akan senyawa metabolit sekunder, salah satunya antosianin yang berperan sebagai pigmen alami dan memiliki aktivitas antioksidan. Peningkatan keragaman genetik dapat dilakukan melalui induksi mutasi iradiasi sinar gama yang mampu mengubah sifat fenotipik dan kandungan senyawa bioaktif melalui perubahan struktur DNA. Analisis keragaman genetik diperlukan untuk mengetahui perubahan genetik yang terjadi melalui marka molekuler fungsional yang menargetkan gen chalcone synthase (CHS). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan primer spesifik gen CHS dan menganalisis keragaman genetik mutan kencur hitam berdasarkan penanda molekuler penyandi gen CHS. Metode penelitian ini dilakukan dengan mendesain primer melalui National Center for Biotechnology Information (NCBI) dan Integrated DNA Technologies (IDT). Primer dengan karakteristik dan hasil uji kualitatif terbaik meliputi Tm (melting temperature), persentase GC, dan panjang amplikon dipilih untuk sekuensing. Sekuens hasil sekuensing dianalisis menggunakan perangkat lunak BioEdit 26.1 untuk penggabungan (contig assembly) dan pensejajaran (alignment), kemudian analisis keragaman genetik dilakukan dengan merekonstruksi pohon filogenetik dan jarak genetik menggunakan perangkat lunak Mega 12 untuk melihat hubungan kekerabatan antar genotipe. Hasil penelitian menunjukkan seluruh primer yang didesain mampu mengamplifikasi gen target CHS pada seluruh sampel. Primer CHS3 menghasilkan amplifikasi pita yang paling tebal, jelas, dan sesuai ukuran amplikon sehingga dipilih untuk analisis sekuensing. Hasil analisis sekuens menunjukkan beberapa mutasi berupa substitusi, insersi, dan delesi, tetapi sebagian besar sekuens masih identik. Analisis filogenetik dan jarak genetik dosis 2 Gy dan 50 Gy menunjukkan hubungan kekerabatan yang paling jauh terhadap kontrol, dan dosis 2 Gy dan 6 Gy memiliki jarak genetik paling jauh antar mutan, sehingga dapat dikatakan dosis 2 Gy menghasilkan variasi genetik paling tinggi dibandingkan mutan lainnya Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar informasi dalam mendukung kegiatan pemuliaan kencur hitam lebih lanjut seperti seleksi dan pengembangan vaeritas unggul dengan karakter yang lebih baik.Black ginger (Kaempferia parviflora Wall. Ex. Baker) is a medicinal plant rich in secondary metabolites, including anthocyanins, which serve as natural pigments and possess antioxidant activity. Genetic diversity can be enhanced through gamma irradiation induced mutation, which can alter phenotypic traits and the content of bioactive compounds by changing DNA structure. Genetic diversity analysis is necessary to identify genetic changes that occur using functional molecular markers targeting the chalcone synthase (CHS) gene. This study aims to develop CHS gene specific primers and analyze the genetic diversity of black kencur mutants based on molecular markers encoding the CHS gene. The research method involved designing primers using the National Center for Biotechnology Information (NCBI) and Integrated DNA Technologies (IDT). Primers with the best characteristics and qualitative test result including Tm (melting temperature), GC content, and amplicon length were selected for sequencing. The sequencing results were analyzed using BioEdit 26.1 software for contig assembly and alignment; genetic diversity analysis was then performed by reconstructing a phylogenetic tree using Mega 12 software to examine the relationships among genotypes. The results showed that all designed primers were capable of amplifying the target CHS gene in all samples. The CHS3 primer produced the thickest, clearest, and most size-appropriate amplification band and was therefore selected for sequencing analysis. Sequencing analysis revealed several mutations in the form of substitutions, insertions, and deletions; however, most sequences remained identical. Phylogenetic and genetic distance analyses revealed that the 2 Gy and 50 Gy doses exhibited the greatest genetic divergence from the control, while the 2 Gy and 6 Gy doses showed the greatest genetic distance between mutants, as a result it can be concluded that the 2 Gy dose produced the highest genetic variation compared to the other doses. The results of this study can serve as a basis for supporting further black ginger breeding activities, such as the selection and development of superior varieties with improved traits.
5163855060I1E022094ANALISIS KEMAMPUAN TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL AND CONTENT KNOWLEDGE (TPACK) MAHASISWA PESERTA PROGRAM ASISTENSI MENGAJAR SATUAN PENDIDIKAN (AMSP)Perkembangan teknologi pada era digital menuntut calon guru memiliki kemampuan mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan materi pembelajaran yang dikenal dengan Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan TPACK mahasiswa calon guru Pendidikan Jasmani yang mengikuti Program Asistensi Mengajar Satuan Pendidikan (AMSP). Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 95 mahasiswa calon guru PJOK yang dipilih dari populasi 125 mahasiswa menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert yang terdiri atas 62 butir pernyataan setelah melalui uji validitas dan reliabilitas, serta mencakup tujuh komponen TPACK, yaitu Technological Knowledge (TK), Pedagogical Knowledge (PK), Content Knowledge (CK), Technological Pedagogical Knowledge (TPK), Technological Content Knowledge (TCK), Pedagogical Content Knowledge (PCK), dan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPCK). Data dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase indeks dan kategori. Hasil penelitian menunjukkan TK sebesar 75,3%, PK 81,5%, CK 81,1%, TPK 77,9%, TCK 71,2%, PCK 80,7%, dan TPCK 79,3%. Secara keseluruhan kemampuan TPACK memperoleh nilai 78,3% dan berada pada kategori tinggi. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa calon guru PJOK pada program AMSP secara umum telah memiliki kemampuan yang baik dalam mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan materi pada pembelajaran PJOK, meskipun kemampuan TK dan terutama TCK masih menjadi bagian yang perlu dioptimalkan.The development of technology in the digital era requires prospective teachers to integrate technology, pedagogy, and content knowledge, known as Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK). This study aimed to determine the TPACK abilities of prospective Physical Education teachers participating in the Educational Assistance Program (AMSP). This study employed a descriptive quantitative method. The sample consisted of 95 prospective Physical Education teachers selected from a population of 125 students using simple random sampling. The research instrument was a five-point Likert-scale questionnaire consisting of 62 statements after validity and reliability testing, covering seven TPACK components: Technological Knowledge (TK), Pedagogical Knowledge (PK), Content Knowledge (CK), Technological Pedagogical Knowledge (TPK), Technological Content Knowledge (TCK), Pedagogical Content Knowledge (PCK), and Technological Pedagogical Content Knowledge (TPCK). Data were analyzed descriptively using index percentages and categories. The results showed that TK was 75.3%, PK 81.5%, CK 81.1%, TPK 77.9%, TCK 71.2%, PCK 80.7%, and TPCK 79.3%. Overall, TPACK obtained a score of 78.3%, classified as high. These findings indicate that prospective Physical Education teachers participating in AMSP generally have good ability to integrate technology, pedagogy, and content into Physical Education learning, although TK and particularly TCK still need further optimization.

5163955061I1E022107Pengaruh Latihan Shadow Terhadap Kemampuan Passing Bawah Dan Keleincahan Pada Srikandi-Bratasena Volleyball Club BanyumasPassing bawah dan kelincahan merupakan komponen penting dalam permainan bola voli yang mendukung keberhasilan menerima servis, mengontrol bola, dan membangun serangan. Latihan shadow merupakan salah satu bentuk latihan gerak kaki yang dilakukan dengan berpindah ke berbagai arah secara cepat dan terkontrol sesuai pola gerakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan shadow terhadap kemampuan passing bawah dan kelincahan pada atlet SrikandiBratasena Volleyball Club Banyumas. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 16 atlet putra yang dipilih menggunakan purposive sampling. Program latihan shadow diberikan sebanyak 14 kali pertemuan. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan passing bawah dan shuttle run test 4×10 meter untuk mengukur kelincahan. Analisis data meliputi statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-wilk, uji homogenitas Levene, dan paired sample t-test. Hasil menunjukkan rata-rata kemampuan passing bawah meningkat dari 13,13 pada pretest menjadi 16,81 pada posttest, dengan peningkatan rata-rata 3,68 poin. Rata-rata waktu kelincahan menurun dari 12,465 detik menjadi 12,008 detik, dengan peningkatan performa sebesar 0,457 detik. Hasil paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,001 pada kedua variabel (p<0,05). Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest setelah pemberian latihan shadow. Latihan shadow dapat digunakan sebagai salah satu alternatif program latihan untuk meningkatkan kemampuan passing bawah dan kelincahan atlet bola voli.
Kata kunci: bola voli, latihan shadow, passing bawah, kelincahan.
The underhand pass and agility are important components of volleyball that support successful service reception, ball control, and attack initiation. Shadow training is a form of footwork exercise involving rapid and controlled movement in various directions according to predetermined movement patterns. This study aimed to determine the effect of shadow training on underhand passing ability and agility among athletes of Srikandi-Bratasena Volleyball Club Banyumas. A quantitative method with a one-group pretest-posttest design was employed. The sample consisted of 16 male athletes selected through purposive sampling. The shadow training program was administered for 14 sessions. The instruments were an underhand passing ability test and a 4×10-meter shuttle run test for agility. Data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro-wilk normality test, Levene's homogeneity test, and paired sample t-test. The results showed that mean underhand passing ability increased from 13.13 at pretest to 16.81 at posttest, with a mean improvement of 3.68 points. Mean agility time decreased from 12.465 seconds to 12.008 seconds, indicating an improvement of 0.457 seconds. The paired sample ttest yielded a significance value of 0.001 for both variables (p<0.05). Thus, there was a significant difference between pretest and posttest scores following shadow training. Shadow training can be considered an alternative training program for improving underhand passing ability and agility in volleyball athletes.
5164055062E1A021232IMPLEMENTASI HUKUM PERLINDUNGAN DATA PRIBADI KESEHATAN PASIEN PADA FASILITAS KESEHATAN RUMAH SAKIT
(STUDI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROF. DR. MARGONO SOEKARJO)
Perkembangan teknologi dan informasi yang berlangsung sangat pesat membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mendorong rumah sakit untuk mengadopsi digitalisasi dalam pelayanan medis dan pelayanan kesehatan namun memunculkan risiko kebocoran data kesehatan yang dikategorikan sebagai data spesifik bersifat sensitif. Penelitian ini ditujukan untuk meneliti implementasi hukum perlindungan data pribadi kesehatan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. Margono Soekarjo serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan kualitatif, data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan informan tenaga kesehatan serta petugas rekam medis, data sekunder berasal dari studi kepustakaan, adapun data-data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi perlindungan data pribadi kesehatan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo telah dilaksanakan secara berkesinambungan melalui tahapan penyelenggaraan rekam medis elektronik mulai dari registrasi, pendistribusian, pengisian informasi klinis, pengolahan, penyimpanan dengan sistem pengamanan dan cadangan data, hingga transfer isi rekam medis dalam proses rujukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi ini meliputi faktor hukum, sumber daya manusia, teknologi dan sistem keamanan informasi, sarana dan prasarana, serta kesadaran dan budaya men-jaga kerahasiaan data. Meskipun regulasi dan standar prosedur operasional telah tersedia serta didukung kesadaran tenaga kesehatan, faktor penghambat seperti keterbatasan in-frastruktur teknologi yang masih hybrid dan gangguan jaringan masih ditemukan dalam praktiknya.The rapid development of technology and information has brought major changes in various aspects of human life, encouraging hospitals to adopt digitalization in medical and health services but giving rise to the risk of health data leakage categorized as specific sensitive data. This study aims to examine the implementation of the law on the protection of patient personal health data at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital (RSUD) and the factors that influence it. This study uses an empirical juridical method with a qualitative approach, primary data was obtained through direct interviews with health worker informants and medical record officers, secondary data comes from literature studies, while the data obtained were then analyzed using descriptive-qualitative analysis methods. The results of the study indicate that the implementation of personal health data protection at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital has been implemented continuously through the stages of organizing electronic medical records starting from registration, distribution, filling in clinical information, processing, storage with a security system and data backup, to the transfer of medical record content in the referral process. Factors influencing this implementation include legal issues, human resources, technology and information security systems, facilities and infrastructure, and awareness and a culture of maintaining data confidentiality. Although regulations and standard operating procedures are in place and supported by awareness among healthcare workers, inhibiting factors such as limited hybrid technology infrastructure and network disruptions are still encountered in practice.