Artikelilmiahs
Menampilkan 51.621-51.640 dari 52.044 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51621 | 55389 | I4D025027 | Asuhan Gizi pada Pasien Anak Down Syndrome dengan Eisenmenger Syndrome, Intermediate AVSD, Pneumonia, dan Atresia Arteri Pulmonalis Sinistra di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro | Down syndrome merupakan salah satu kelainan genetik pada anak yang terjadi akibat adanya kegagalan pemisahan kromosom pada saat meiosis. Anak dengan down syndrome berisiko tinggi mengalami penyakit jantung bawaan dan infeksi saluran nafas. Eisenmenger syndrome merupakan manifestasi lanjut dari penyakit jantung bawaan akibat hipertensi pulmonal yang membalikkan aliran darah normal, sehingga darah yang kekurangan oksigen dipompa ke seluruh tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan serangkaian proses asuhan gizi terstandar pada pasien anak down syndrome dengan penyakit jantung bawaan kompleks sesuai kondisi dan kebutuhan gizi pasien. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian observasional dengan desian studi kasus yang dilakukan di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Asuhan gizi pasien dimulai dari skrining, asesmen, diagnosis, intervensi, monitoring dan evaluasi gizi. Intervensi diet jantung dan diet tinggi protein diberikan dalam bentuk makanan lunak, dengan pemberian bertahap mulai dari 80% kebutuhan kemudian ditingkatkan secara progresif sesuai dengan kondisi dan daya terima pasien. Monitoring dan evaluasi asupan menunjukkan adanya perbaikan selama intervensi ditandai dengan adanya peningkatan daya terima makanan dan tekstur makanan secara bertahap, namun pada beberapa parameter biokimia masih menunjukkan abnormalitas data. Sementara itu, kondisi fisik klinis menunjukkan adanya perbaikan pada gejala respirasi meskipun hipoksemia kronis masih terjadi hingga hari terakhir pasien dirawat inap. | Down syndrome is a genetic disorder in children that occurs due to the failure of chromosome separation during meiosis. Children with down syndrome have a high risk of developing congenital heart disease and respiratory tract infections. Eisenmenger syndrome is a late manifestation of congenital heart disease due to pulmonary hypertension, which reverses normal blood flow, resulting in oxygen poor blood being pumped throughout the body. The aim of this study was to conduct a series of standardized nutritional care processes for pediatric patients down syndrome with complex congenital heart disease according to the patient's condition and nutritional needs. This study is an observational study with a case study design conducted at Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital. Patient nutritional care begins with screening, assessment, diagnosis, intervention, monitoring, and nutritional evaluation. Cardiac diet and high-protein diet interventions are provided in the form of soft foods, with gradual administration starting at 80% of the requirement and then progressively increased according to the patient's condition and tolerance. Monitoring and evaluation of intake showed improvement during the intervention, marked by a gradual increase in food acceptance and food texture, however, several biochemical parameters still showed data abnormalities. Meanwhile, the clinical physical condition showed improvement in respiratory symptoms although chronic hypoxemia still occurred until the patient's last day of hospitalization. | |
| 51622 | 55434 | B1A022067 | DIAGRAM PROFIL POHON PADA HUTAN SUBMONTANA DAN MONTANA DI LERENG SELATAN GUNUNG SLAMET, BANYUMAS | Perbedaan ketinggian membentuk gradien lingkungan yang berkaitan dengan variasi struktur, komposisi, dan stratifikasi vegetasi hutan pegunungan. Perubahan kondisi lingkungan di sepanjang gradien elevasi dapat memengaruhi distribusi spesies, susunan tajuk, dan karakter komunitas vegetasi pada zona submontana maupun montana. Namun, informasi kuantitatif mengenai struktur vertikal hutan dan diagram profil pohon di Lereng Selatan Gunung Slamet masih terbatas, terutama yang membandingkan kedua zona elevasi tersebut. Penelitian ini bertujuan membandingkan struktur dan komposisi vegetasi serta mengarakterisasi diagram profil pohon pada hutan submontana dan montana di Lereng Selatan Gunung Slamet, Banyumas. Penelitian dilaksanakan pada Juni–Juli 2026 di Jalur Pendakian Juang Baturraden, KPH Banyumas Timur, pada elevasi 1.100 dan 1.343 mdpl yang mewakili zona submontana serta 1.559 dan 1.732 mdpl yang mewakili zona montana. Pengumpulan data dilakukan melalui survei langsung dengan memanfaatkan jalur pendakian sebagai transek, menggunakan plot utama berukuran 40 m × 20 m untuk menyusun diagram profil pohon dan plot kuadrat untuk menginventarisasi vegetasi. Struktur dan komposisi vegetasi dianalisis berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP), indeks kekayaan Margalef, indeks keanekaragaman Shannon–Wiener, dan indeks kemerataan Pielou. Parameter lingkungan yang diamati mencakup ketinggian, temperatur dan kelembapan udara, intensitas cahaya, kelembapan tanah, serta pH tanah. Diagram profil pohon dan stratifikasi vegetasi dianalisis menurut posisi, tinggi, dan karakter tajuk setiap individu menggunakan perangkat lunak SExI-FS. Perbedaan indeks ekologi antarketinggian diuji melalui ANOVA satu arah yang dilengkapi uji robust dan koreksi Holm, hubungan multivariat antara faktor lingkungan dan indeks ekologi dianalisis menggunakan Regularized Canonical Correlation Analysis (RCCA), uji permutasi eksak, dan analisis sensitivitas leave-one-plot-out. Hasil penelitian mencatat 419 individu di hutan submontana yang mencakup 43 spesies pada empat tingkat pertumbuhan dari 30 famili, sedangkan hutan montana terdiri atas 388 individu dengan 22 spesies dari 20 famili. Pada tingkat pohon, INP tertinggi di hutan submontana dimiliki oleh Schima wallichii sebesar 51,812 dan di hutan montana oleh Lithocarpus sp. sebesar 123,597, sementara nilai kekayaan dan keanekaragaman tertinggi ditemukan pada semai submontana dengan R = 4,415 dan H' = 2,635 serta seluruh nilai H' termasuk dalam kategori keanekaragaman sedang. Diagram profil memuat 99 individu pohon yang terdiri atas 36 individu pada stratum B dan 63 individu pada stratum C tanpa individu pada stratum A, dengan tajuk hutan submontana yang relatif lebih rapat dan saling bertumpang tindih dibandingkan hutan montana yang lebih terbuka; hasil ANOVA menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan indeks ekologi antarketinggian yang tetap signifikan setelah koreksi Holm. RCCA menunjukkan bahwa hubungan global yang signifikan hanya ditemukan pada tingkat tiang (ρ₁ = 0,6803; p Holm = 0,0468; redundansi = 30,6%), terutama berkaitan dengan ketinggian, temperatur udara, kelembapan tanah, dan pH tanah. | Differences in elevation create environmental gradients associated with variations in the structure, composition, and stratification of montane forest vegetation. Changes in environmental conditions along an elevational gradient may affect species distribution, canopy arrangement, and vegetation community characteristics in both submontane and montane zones. However, quantitative information on forest vertical structure and tree profile diagrams on the southern slope of Mount Slamet remains limited, particularly with respect to comparisons between these two elevational zones. This study aimed to compare vegetation structure and composition and to characterize tree profile diagrams in the submontane and montane forests on the southern slope of Mount Slamet, Banyumas. The study was conducted from June to July 2026 along the Juang Baturraden Hiking Trail within the East Banyumas Forest Management Unit at elevations of 1,100 and 1,343 m a.s.l., representing the submontane zone, and 1,559 and 1,732 m a.s.l., representing the montane zone. Data were collected through direct field surveys using the hiking trail as a transect, a 40 m × 20 m main plot for constructing tree profile diagrams, and quadrat plots for vegetation inventory. Vegetation structure and composition were analyzed using the Importance Value Index (IVI), Margalef richness index, Shannon–Wiener diversity index, and Pielou evenness index, while the environmental parameters comprised elevation, air temperature and humidity, light intensity, soil moisture, and soil pH. Tree profile diagrams and vegetation stratification were analyzed based on the position, height, and crown characteristics of each individual using SExI-FS software. Differences in ecological indices among elevations were tested using one-way ANOVA supplemented with robust tests and Holm correction, whereas multivariate relationships between environmental factors and ecological indices were analyzed using Regularized Canonical Correlation Analysis (RCCA), exact permutation tests, and leave-one-plot-out sensitivity analysis. The study recorded 419 individuals in the submontane forest, comprising 43 species across four growth stages and 30 families, whereas the montane forest contained 388 individuals with 22 species from 20 families. At the tree stage, the highest IVI was recorded for Schima wallichii in the submontane forest at 51.812 and for Lithocarpus sp. in the montane forest at 123.597, while the highest richness and diversity values were found among submontane seedlings, with R = 4.415 and H' = 2.635, and all H' values were classified as indicating moderate diversity. The profile diagrams included 99 tree individuals, consisting of 36 individuals in stratum B and 63 individuals in stratum C, with no individuals in stratum A; the submontane forest had a relatively denser and more overlapping canopy than the more open montane forest, while the ANOVA results indicated that no differences in ecological indices among elevations remained significant after Holm correction. RCCA revealed that a significant global relationship occurred only at the pole stage (ρ₁ = 0.6803; Holm-adjusted p = 0.0468; redundancy = 30.6%), primarily in association with elevation, air temperature, soil moisture, and pH. | |
| 51623 | 55435 | J1E022073 | An Analysis of Students’ Creativity in Creative Writing Projects (A Descriptive Qualitative Study of English Education Students at Jenderal Soedirman University in the Academic Year of 2024/2025) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kreativitas mahasiswa tercermin dalam proyek creative writing yang dihasilkan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jenderal Soedirman serta mengkaji bagaimana pengembangan isi dan organisasi teks menunjukkan kreativitas dalam proyek tersebut. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Data penelitian terdiri atas enam proyek akhir creative writing yang dihasilkan oleh mahasiswa Kelas A, B, dan C pada tahun akademik 2024/2025. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen dan dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan kategori analisis yang telah ditentukan. Kreativitas mahasiswa dianalisis melalui Kelancaran, Fleksibilitas, dan Orisinalitas berdasarkan kerangka Torrance (1966), sedangkan pengembangan isi dan organisasi teks dianalisis berdasarkan kerangka Brown (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga elemen kreativitas teridentifikasi, dengan Flexibilitas paling sering muncul melalui perubahan latar dan perspektif. Kelancaran tercermin melalui berbagai ide yang relevan dan saling berkaitan yang mendukung perkembangan narasi, sedangkan Originalitas ditunjukkan melalui ide naratif yang tidak umum dan elemen simbolis. Pengembangan isi ditemukan dalam keenam dokumen, meskipun tingkat pengembangannya bervariasi. Beberapa narasi mengembangkan karakter, peristiwa, dan konflik secara lebih rinci, sedangkan narasi lainnya menyajikannya secara lebih singkat. Organisasi teks tercermin melalui urutan yang logis dan penggunaan ungkapan transisional yang menghubungkan peristiwa dalam narasi. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menunjukkan kreativitas melalui proses menghasilkan, mengembangkan, dan mengorganisasi ide dalam narasi mereka. Oleh karena itu, proyek creative writing menyediakan konteks yang bermakna bagi mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mengembangkan kemampuan menulis dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. | This study aimed to analyze how students’ creativity was reflected in creative writing projects produced by English Language Education students at Jenderal Soedirman University and to examine how content development and text organization demonstrated creativity in the students’ creative writing projects. This study employed a descriptive qualitative design. The data consisted of six final creative writing projects produced by English Language Education students from Classes A, B, and C during the 2024/2025 academic year. The data were collected through document analysis and analyzed using thematic analysis based on predetermined analytical categories. Students’ creativity was examined through Fluency, Flexibility, and Originality based on Torrance’s framework (1966), while content development and text organization were analyzed based on Brown’s framework (2018). The findings showed that all three elements of creativity were identified, with Flexibility appearing most frequently through shifts in setting and perspective. Fluency was reflected through multiple relevant and interconnected ideas that supported narrative progression, while Originality was demonstrated through uncommon narrative ideas and symbolic elements. Content development was demonstrated in all six documents, although its degree varied. Some narratives developed characters, events, and conflicts in greater detail, while others presented them more briefly. Text organization was reflected through logical sequencing and transitional expressions that connected narrative events. Overall, the findings indicated that students demonstrated creativity through generating, developing, and organizing ideas in their narratives. Creative writing projects therefore provided a meaningful context for expressing creativity while developing writing in the EFL context. | |
| 51624 | 55436 | J1E022033 | Factors Motivating Students’ Interest in Learning English (An Exploratory Study to 5th Grade Students of SDN 2 Pamijen in the Academic Year of 2025/2026) | Minat siswa dalam mempelajari bahasa Inggris memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan pembelajaran Bahasa, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji proses pembelajaran bahasa Inggris dalam kaitannya dengan keterlibatan siswa berdasarkan School Engagement Theory dan (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang memotivasi minat siswa kelas V dalam mempelajari bahasa Inggris berdasarkan Self-Determination Theory. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksploratif. Partisipan penelitian terdiri atas guru bahasa Inggris dan siswa kelas V SDN 2 Pamijen yang dipilih menggunakan total sampling untuk observasi kelas dan purposive sampling untuk wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa secara umum memperlihatkan keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif yang positif selama pembelajaran bahasa Inggris, meskipun tingkat partisipasi mereka bervariasi bergantung pada aktivitas pembelajaran dan tingkat kesulitan materi. Selain itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa minat siswa dalam mempelajari bahasa Inggris dipengaruhi oleh terpenuhinya tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu autonomy, competence, dan relatedness. Dukungan guru, dukungan teman sebaya, kesempatan untuk membuat pilihan, aktivitas pembelajaran yang interaktif, serta kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan tugas memberikan kontribusi positif sebagai faktor eksternal dan internal yang memotivasi minat mereka dalam mempelajari bahasa Inggris. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lingkungan pembelajaran yang suportif, menarik, dan memberikan dukungan terhadap otonomi siswa dapat meningkatkan minat siswa sekolah dasar dalam mempelajari bahasa Inggris. | Students’ interest in learning English played an important role in supporting successful language learning, particularly at the elementary school level. This research aimed to (1) examine the English teaching and learning activities in relation to students’ engagement based on School Engagement Theory and (2) identify the factors motivating 5th grade students’ interest in learning English based on Self-Determination Theory. This research was conducted at SDN 2 Pamijen from May 11th – May 25th, 2026. This research employed a qualitative exploratory method. The participants consisted of an English teacher and 5th grade students of SDN 2 Pamijen, selected through total sampling for classroom observations and purposive sampling for semi-structured interviews. The data were collected through classroom observation, semi-structured interviews, and document analysis, and were analyzed by using thematic analysis. The observation results revealed that students generally demonstrated positive behavioral, emotional, and cognitive engagement during English lessons, although the level of participation varied depending on the learning activities and the difficulty of the materials. Furthermore, the finding from interviews also indicated that students’ interest in learning English was influenced by the fulfillment of three basic psychological needs, namely autonomy, competence, and relatedness. Teacher support, peer support, opportunities to make choices, interactive learning activities, and students' confidence in completing learning tasks contributed positively to their interest as external and internal factors in learning English. This study concluded that creating a supportive, engaging, and autonomy-supportive classroom environment can enhance elementary students' interest in learning English. | |
| 51625 | 32323 | E1A017026 | KEKUATAN ALAT BUKTI VISUM ET REPERTUM DAN AUTOPSI DALAM PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 116/Pid.B/2019/PN.Bms) | Pembuktian merupakan salah satu titik sentral dalam proses persidangan pidana, hal ini dikarenakan pembuktian bertujuan untuk mencari kebenaran materiil. Proses pembuktian menentukan bagaimana hakim akan menjatuhkan putusan pidana dan sebagai dasar untuk menentukan salah atau tidaknya terdakwa yang didasarkan pada keyakinannya serta alat bukti yang sudah ditentukan dalam undang-undang. Tujuan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan alat bukti Visum et Repertum dan Autopsi dalam pembuktian perkara pidana serta bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhi hukuman mati terhadap terdakwa. Metode penelitian yang digunakan pada penulisan ini adalah yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui kepustakaan dan diuraikan secara sistematis. Berdasarkan hasil penelitian pada Putusan Perkara Nomor 116/ Pid.B/2019/PN.Bms bahwa kekuatan pembuktian visum et repertum dan autopsi dalam tindak pidana pembunuhan berencana adalah memiliki nilai kekuatan pembuktian karena telah memenuhi syarat formil yakni diminta oleh penyidik Polres Banyumas dan syarat materiil yaitu dibuat dan ditandatangani oleh seorang ahli dr. HM. Zaenuri Syamsu H., Sp.KF, MSi.Med serta didukung dengan alat bukti lain yang memiliki kesesuaian sehingga menumbuhkan keyakinan hakim. Visum et repertum dan autopsi tidak mengkikat hakim karena kekuatan pembuktiannya bersifat bebas, sama seperti alat bukti yang lainnya. Namun alat bukti ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan hukum hakim karena hasil Visum et Repertum dan autopsi membuktikan bahwa potongan mayat yang diduga korban adalah benar Komsatun Wachidah. | Evidentiary is one of the central points in the criminal proceedings, this is because the evidence aims to seek material truth. The evidentiary process determines how the judge will hand down a criminal verdict and as the basis for determining whether or not the accused is based on his conviction as well as the evidence that has been determined in the law. The purpose of the study was to find out the power of evidence tools visum et repertum and autopsy in the evidentiary of criminal cases and how the judge's legal considerations in sentencing the death penalty against the accused. The research method used in this writing is normative juridical, with descriptive research specifications. This study uses secondary data obtained through literature and systematically deciphered. Based on the results of the study on the Verdict Of Case No. 116/Pid.B/2019/PN.Bms that the power of evidence tools visum et repertum and autopsy in the crime of premeditated murder is to have the value of evidentiary power because it has qualified formil that is requested by Banyumas Police investigators and material requirements that are made and signed by an expert dr. HM. Zaenuri Syamsu H., Sp.KF, MSi.Med and supported by other evidence that has conformity so as to foster the confidence of judges. Visum et repertum and autopsy do not attract judges because the evidentiary power is free, just like other evidence. However, this evidence can be used as a material for the judge's legal consideration because the results of Visum et Repertum and autopsy prove that the alleged victim's body piece is true Komsatun Wachidah. | |
| 51626 | 14267 | F1C012045 | PEMANFAATAN GRUP WHATSAPP HARMONI PERUBAHAN SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI ORGANISASI BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA (BEM) UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin maju dan kini telah digunakan di berbagai sektor, salah satunya pada sektor organisasi. Banyak organisasi yang memanfaatkan aplikasi pesan instan sebagai media komunikasi organisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan metode analisis kualitatif eksploratif. Subjek penelitian adalah anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman Periode 2015-2016 yang tergabung dalam grup WhatsApp Harmoni Perubahan. Teori yang digunakan adalah Teori Computer Mediated Coomunication (CMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa grup WhatsApp memiliki aspek strategis sebagai media baru dalam komunikasi organisasi. Semua anggota yang tergabung dalam grup memanfaatkan fitur-fitur yang ada pada WhatsApp untuk menunjang proses komunikasi organisasi, terutama saat terhalang secara fisik untuk bertemu untuk melakukan proses komunikasi langsung. Hal tersebut membuat koordinasi diantara mereka menjadi lebih baik karena proses komunikasi terus berjalan sehingga mengurangi terjadinya miss komunikasi. Grup WhatsApp mampu menjadi media penyebaran informasi yang efektif dan sarana bertukar ide dalam diskusi. Individu juga memanfaatkan grup WhatsApp sebagai sarana untuk melepas penat setelah melaksanakan program kerja. Hal ini dikarenakan grup tersebut membuat dinding pembatas antar staff dan pimpinan berkurang sehingga meningkatkan kedekatan psikologis diantara mereka. Diharapkan nantinya grup WhatsApp dapat menjadi media komunikasi diantara individu saat kepengurusan telah berakhir sehingga hubungan yang terjalin dapat terus bertahan. | The development of ICT (information and communication technology) nowadays have been increasing and it is used in many sectors of life, including organizations sector. Many organizations use instant messaging application as organizational communication media. This research uses qualitative method and qualitative explorative method. Subject of this research is members of Executive Student Organization of Jenderal Soedirman University in 2015-2016 period who have joined in Harmoni Perubahan WhatsApp group. It uses Computer Mediated Communication (CMC) Theory. Result of this research shows that WhatsApp group takes a very essential role in being a strategic aspect as a new media in organizational communication. All members that are included in this group use features of WhatsApp that support organizational communication process, especially when members cannot meet physically for direct communication process. That makes a good coordination between them because of the flowing process in exchanging communication message, thus reduces the miscommunication among them. WhatsApp group can be an effective media for information spreading and discussion forum in where members can exchange their ideas. Individuals can also take benefit from WhatsApp group as a refreshment after their project is done. This is because the group’s existence diminish the wall that separates members and leaders, in which case improve their psychological intimacy. It is hoped that in the future WhatsApp group can be a communication media between individuals when the period is over so there will be good relationships among members. | |
| 51627 | 25398 | F1F014039 | The Signification of the Color Red as Symbol Based on Patti Bellantoni's Color Theory in Lynna Ramsay's Film We Need to Talk about Kevin | Penelitian ini berjudul “The Signification of the Color Red as Symbol Based on Patti Bellantoni’s Color Theory in Lynne Ramsay’s film We Need to Talk about Kevin: A Semiotics Analysis”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu makna dari warna merah sebagai simbol berdasarkan theori warna milik Patti Bellantoni dalam film “We Need to Talk about Kevin” karya Lynne Ramsay dengan menggunakan teori semiotika milik Peirce. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Data penelitian didapatkan dari data primer beruba film “We Need to Talk about Kevin” dan data sekunder berupa literatur dan sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini. Selain itu, pembahasan penelitian dibagi menjadi empat bagian sesuai dengan empat dari enam sifat warna merah menurut teori makna warna. Bagian pertama menjelaskan simbol yang memiliki makna merah kuat. Simbol ini muncul sebagai rampu merah yang menyelimuti orang-orang dalam adegan insiden. Bagian kedua menjelaskan simbol yang memiliki makna merah menyimpang. Simbol ini muncul sebagai objek-objek berwarna merah yang muncul dalam adegan dimana Kevin menunjukan sifat menantangnya. Bagian ketiga menjelaskan simbol yang memiliki makna merah gelisah. Simbol ini muncul sebagai jam merah yang muncul dalam adegan dimana Eva dan suaminya sedang bersama. Bagian keempat menjelaskan simbol yang memiliki makna merah murka. Simbol ini muncul sebagai cat merah dan kaleng merah yang mengelilingi Eva dalam beberapa adegan. Di dalam setiap bagian pembahasan, simbol-simbol yang ada dianalisa dengan mengidentifikasi elemen-elemen tanda dan interpretasi kontekstual dan universal yang mereka miliki. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa film ini berfokus dalam menggunakan warna merah sebagai simbol untuk memaknakan emosi negatif, termasuk kekuatan, penyimpangan, kegelisahan, dan kemarahan. Hal ini dilakukan demi membangun tema dari film yang berpusat pada sudut pandang subjektif Eva mengenai kebiasaan dan perbuatan Kevin. | This research entitled “The Signification of the Color Red as Symbol Based on Patti Bellantoni’s Color Theory in Lynne Ramsay’s Film We Need to Talk about Kevin: A Semiotics Analysis”. It aims to figure out the signification of the color red as symbol based on Patti Bellantoni’s color theory in Lynne Ramsay’s film “We Need to Talk about Kevin” by using Peirce’s semiotic theory. This research uses qualitative method with semiotics approach. The research data is taken from primary data in the form of the film “We Need to Talk about Kevin” and also secondary data in the form of literatures and sources that support the research. Furthermore, the discussion of this study is divided into four main parts which correspondent with four out of the six characteristics that the color red has based on the color theory. The first part explains symbol that signifies powerful red. This symbol takes form as red light that engulfs the characters in the incident scenes. The second part explains symbol that signifies defiant red. This symbol takes form as seven red-colored objects in the scenes where Kevin is showing his defiant behaviors. The third part explains the symbol that signifies anxious red. This symbol takes form as red clock in scenes where Eva and her husband are together. The fourth part explains symbol that signifies angry red. This symbol takes form as red paint and red cans that surround Eva in some scenes. In every part of the discussion, the symbols are analyzed by identifying their sign elements and their contextual and universal interpretations. The research result concludes that the film focuses on utilizing the color red as symbol to signify negative emotions which include power, deviancy, anxiousness, and anger. This is done to build its theme which centers on Eva’s subjective perspective dealing with Kevin’s behavior and action. | |
| 51628 | 22866 | E1A012200 | TINJAUAN YURIDIS TENTANG KURSI NEGARA UNI REPUBLIK SOSIALIS SOVIET SEBAGAI ANGGOTA TETAP DEWAN KEAMANAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA SETELAH MENJADI NEGARA FEDERASI RUSIA | Suksesi Federasi Rusia atas Uni Soviet tidak hanya menimbulkan perubahan sistem pemerintahan dan tata kelola pemerintahan, namun juga menimbulkan perubahan pada hubungan luar negeri, khususnya dalam hubungan organisasi internasional. Negara Uni Soviet merupakan salah satu dari lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki suatu hak istimewa, yaitu hak veto. Munculnya Negara Federasi Rusia di dunia internasional juga berpengaruh dalam keanggotaannya di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui latar belakang pemberian kursi negara Uni Republik Sosialis Soviet sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa kepada negara Federasi Rusia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, selanjutnya data tersebut diolah dan disajikan dalam bentuk naratif. Analisa yang digunakan adalah normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kursi Negara Uni Soviet sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa kepada negara Federasi Rusia dilakukan melalui memorandum kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dibuat oleh Presiden Federasi Rusia dan diakui sebagai pengganti hukum Negara Uni Soviet di dunia Internasional. Hal ini menjadi faktor penguat Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa menerima Rusia sebagai pengganti Uni Soviet sekaligus sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. | The succession of the Russian Federation over the Soviet Union not only led to changes in the system of governance and governance, but also led to changes in foreign relations, particularly in the relations of international organizations. The Soviet Union is one of the five permanent members of the United Nations Security Council which has a privilege, namely veto. The emergence of the Russian Federation in the international world also influences its membership in the United Nations Security Council. The purpose of this study was to find out the background of giving the seat of the Union state of the Soviet Socialist Republic as a permanent member of the United Nations Security Council to the state of the Russian Federation. This study uses normative juridical research methods. The data used are primary data and secondary data, then the data is processed and presented in narrative form. The analysis used is normative qualitative. The results of the study show that the granting of the seat of the State of the Soviet Union as a permanent member of the United Nations Security Council to the state of the Russian Federation was carried out through a memorandum to the United Nations made by the President of the Russian Federation and recognized as a substitute for the law of the Soviet Union in the international world. This was a reinforcing factor. The Secretary-General of the United Nations accepted Russia as a substitute for the Soviet Union as well as a permanent member of the United Nations Security Council. | |
| 51629 | 12367 | E1A011153 | FORCE MAJEURE DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERDATA (Tinjauan Yuridis Putusan Mahkamah Agung Nomor 587/PK/PDT/2010) | Keadaan memaksa (force majeure) merupakan suatu peristiwa yang menghalangi pelaksanaan kewajiban atau prestasi salah satu pihak dalam perjanjian baik dalam perjanjian sepihak maupun perjanjian timbal balik, sehingga tidak dilaksanakannya kewajiban atau prestasi oleh salah satu pihak dalam perjanjian tersebut membawa kerugian pada pihak lainnya. Dengan kondisi demikian, salah satu pihak yang dirugikan karena tidak dilaksanakannya prestasi tentu akan menuntut ganti kerugian melalui gugatan di pengadilan, sedangkan pihak yang lain akan mengemukakan terdapat peristiwa di luar kesalahan yang menghalangi pelaksanaan prestasinya. Peristiwa tersebut terjadi dalam perjanjian jual beli batubara Philipina dan perjanjian batubara Thailand antara CV. Borco Utama sebagai pihak penjual dengan Transenergy Grinding, Inc sebagai pihak pembeli. Penelitian normatif ini akan melakukan pengkajian mengenai bagaimana kriteria keadaan memaksa (force majeure) menurut konsep hukum perdata di Indonesia dan mengenai pertimbangan hukum serta putusan hakim dalam memutus ada tidaknya suatu keadaan memaksa (force majeure). Secara menyeluruh, hal tersebut akan dianalisis melalui fakta di dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 587/PK/Pdt/2010 dan akan diuraikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang utuh. Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 587/PK/Pdt/2010 ini terdapat perbedaan pendapat hakim mengenai ada atau tidaknya keadaan memaksa antara hakim Judex Facti dengan Hakim Judex Juris. Hakim Judex Facti pada pertimbangan hukumnya mengabulkan alasan keadaan memaksa sebagai penghalang pelaksanaan prestasi dalam perjanjian sedangkan hakim Judex Juris menolak alasan keadaan memaksa tersebut dengan mendasarkan pada salah satu kriteria keadaan memaksa yang terdapat dalam rumusan Pasal 1244 KUH Perdata. Adapun kriteria tersebut adalah peristiwa yang menghalangi pelaksanaan prestasi merupakan peristiwa yang tidak dapat diduga sebelumnya. | Force majeure is an event that blocks the implementation of obligation or accomplishment of one of the parties in the agreement whether for one-sided or reciprocity, so that the party who does not do the obligation or accomplishment will make the other parties injured. In that condition, the injured party being disadvantaged then they will claim to the court for indemnification, whereas the obstructed party will prove their proposition through the reasonable evidence that there are events outside the errors which can be the barriers of the accomplishment implementation. These events occurred in the Philippines and Thailand coal’s purchase agreement between CV Borco Utama as the seller and Transenergy Grinding, Inc. as the buyer. This normative research provides the analysis about criteria of force majeure based on Indonesia Civil Law’s concept and the law considerations that includes the decision from judges in the order to decide whether there is force majeure or not. Overall, it will be analyzed by facts based on Supreme Court Decisions No. 587/PK/Pdt/2010 and explained systematically as a whole. There are arguments differences among judges based on Supreme Court Decisions No. 587/PK/Pdt/2010, whether there is force majeure or not. Judges Judex Facti, in his law considerations, accepted the reason why force majeure blocks the implementation of obligation, whereas Judges Judex Juris rejected it, depends on one of the force majeure’s criteria in article 1244 Indonesia Civil Law. These criteria are unexpected events that block the implementation of accomplishment. | |
| 51630 | 20885 | G1A014082 | PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGI GASTER TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN: UJI TOKSISITAS KRONIK | Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) merupakan tanaman obat tradisional yang sering dikonsumsi untuk meningkatkan vitalitas pria. Senyawa aktif yang terkandung di dalam akar Purwoceng memiliki potensi toksik terhadap tubuh. Toksisitas suatu zat bisa diidentifikasi dengan melihat gambaran histologi organ khususnya gaster sebagai organ absorpsi peroral. Uji toksisitas kronik oral dilakukan untuk mengetahui tingkat keamanan suatu obat dan menyelesaikan fase praklinik dari pengembangan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran histologi gaster tikus (Rattus norvegicus) jantan yang diberikan ekstrak etanol akar purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) secara kronik. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan pendekatan post-test only terhadap tikus putih jantan galur Wistar. Intervensi dilakukan pada 24 ekor tikus yang terbagi ke dalam empat kelompok secara acak yaitu kelompok kontrol (A), kelompok perlakuan dengan dosis 21 mg/kgBB/hari (B), 42 mg/kgBB/hari, dan 84 mg/kgBB/hari. Kerusakan gambaran histologi gaster dihitung menggunakan skor Barthel Manja. Rerata skor total Barthel Manja kelompok A=8,23 ± 1,53, B=7,63 ± 1,58, C=15,77 ± 1,65, D=18,2 ± 1,34. Uji One Way Anova menunjukkan perbedaan kerusakan gambaran histologi yang bermana (p < 0,05). Uji Post hoc LSD menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok A dengan C dan D (p=0,00). Perbedaan kerusakan tidak bermakna ditemukan pada perbandingan kelompok A dan B (p=0,89). Pemberian ekstrak etanol akar purwoceng secara kronik merusak struktur histologi gaster tikus putih dengan dosis toksik minimal 42 mg/kgBB tikus/hari sedangkan dosis aman yang dapat digunakan 21 mg/kgBB/hari. | Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) is Indonesian herbal plants which can enhance male vitality. Active compounds of purwoceng roots are toxic compounds. The substance toxicity can be identified by observing the histology of organ, especially gaster. Oral chronic toxicity test is a test to detect the toxicity effect and to know drug safety. The objective of the study was to know the gaster histology of albino male rat (Rattus norvegicus) that was given ethanol extract of purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) roots by chronic administration. This study was an experimental study with post test only design. Intervention had been done during 90 days to 24 rats which was randomly divided into four groups, control group (A), treatment dosage 21 mg/kgBW/day (B), 42 mg/kgBW/day (C), and 84 mg/kgBW/day (D). The damage of gaster histology was calculated by Barthel Manja score. The mean of Barthel Manja score group A=8,23 ± 1,53, B=7,63 ± 1,58, C=15,77 ± 1,65, D=18,2 ± 1,34. One Way Anova test showed significant damage appearance (p < 0,05). Post hoc LSD test showed significant damage appearance (p<0,05) in group A with C and D, group B with C and D, and group C with D. No significant damage was found in group A and B. Chronic administration of ethanol extract of Purwoceng at dose 42 mg/kgBW/day damaged the male albino rat gaster while ethanol extract of Purwoceng at dose 21 mg/kgBW/day was a safe dose. | |
| 51631 | 48822 | K1A021069 | Pengaruh Penambahan Legum pada Fermentasi Oncom terhadap Kandungan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Antioksidannya | Peningkatan produksi pangan berdampak pada meningkatnya limbah, salah satunya ampas tahu. Ampas tahu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku oncom, produk fermentasi bergizi dan berharga terjangkau. Namun, oncom masih kurang diminati karena berasal dari limbah kedelai. Untuk meningkatkan minat masyarakat, dilakukan inovasi dengan menambahkan legum seperti lamtoro (Leucaena leucocephala) dan kacang hijau (Vigna radiata L) yang dikenal memiliki kandungan gizi tinggi dan sudah populer di masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penambahan legum terhadap kandungan. senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan oncom. Oncom difermentasi dengan penambahan lamtoro dan kacang hijau masing-masing sebanyak 10% dan 30%, kemudian dianalisis berdasarkan parameter warna, kadar protein, flavonoid, fenolik, terpenoid, serta aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, FRAP, dan ABTS. Hasil menunjukkan bahwa penambahan legum mengubah warna oncom dan meningkatkan kadar protein, dengan nilai tertinggi sebesar 30,849% pada oncom kacang hijau. Kandungan senyawa bioaktif tertinggi ditemukan pada oncom. lamtoro 10%, yaitu flavonoid sebesar 7,638 mg QE/g, fenolik 13,774 mg GAE/g. dan terpenoid 155.8 mg UAE/g. Sampel ini juga menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi berdasarkan tiga metode uji, yakni DPPH (ICsa: 2,104 mg/mL), FRAP (39,773 mg Fe SO-E/g), dan ABTS (IC: 0,8 mg/ml.). Dapat disimpulkan bahwa penambahan lamtoro dan kacang hijau memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan oncom. | The increase in food production also leads to a rise in food waste, such as tofu dregs, which can be utilized as raw material for oncom. Oncom is a fermented product that is nutritious and affordable but remains less popular due to its origin from soybean by-products. To increase public interest, this study introduces the addition of legumes such as lamtoro (Leucaena leucocephala) and mung bean. (Vigna radiata L), which are widely consumed and nutritionally rich. This study aims to evaluate the effect of lamtoro and mung bean addition on the bioactive compound content and antioxidant activity of oncom. Oncom was fermented with 10% and 30% additions of each legume, then analyzed based on color, protein content, flavonoids, phenolics, terpenoids, and antioxidant activity using DPPH. FRAP, and ABTS methods. The results showed that legume addition altered oncom color and increased protein content, with the highest protein level (30.849%) found in mung bean-enriched oncom. The highest levels of bioactive compounds were observed in 10% lamtoro oncom: flavonoids (7.638 mg QE/g), phenolics (13.774 mg GAE/g), and terpenoids (155.8 mg UAE/g). This sample also exhibited the highest antioxidant activity across all three methods: DPPH (IC32.104 mg/mL), FRAP (39.773 mg FeSO4E/g), and ABTS (IC300.8 mg/mL). In conclusion, the addition of lamtoro and mung bean significantly enhanced the bioactive compound. content and antioxidant activity of oncom, suggesting potential for developing more nutritious and acceptable fermented food products. | |
| 51632 | 16993 | B1J012118 | KEANEKARAGAMAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI BAHAN OBAT TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT KAMPUNG KUTA KABUPATEN CIAMIS | Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekargaman hayatinya. Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 40.000 spesies tumbuhan, 1.300 spesies diantaranya merupakan tumbuhan berkhasiat obat. Kampung Kuta merupakan Kampung adat yang masih mempertahankan aturan adat yang sifatnya mengikat masyarakatnya. Masyarakat Kampung Kuta sebagian besar menggunakan tumbuhan yang ada disekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik untuk dijadikan bahan makanan, bahan bangunan, dan obat-obatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional serta mengetahui pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat Kampung Kuta Kabupaten Ciamis. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik snowball sampling. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dengan kuesioner sebagai panduan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 38 spesies yang termasuk dalam 26 famili tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional di Kampung Kuta. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional adalah akar, batang, daun, buah, getah, rimpang, dan seluruh bagian tumbuhan. Penggunaan tumbuhan sebagai bahan obat dapat untuk mengobati penyakit luar dan penyakit dalam. Cara pengolahan tumbuhan sebagai bahan obat yaitu dengan direbus, diseduh dengan air hangat, atau dicuci. Cara pemanfaatannya yaitu dengan diminum, ditempelkan, dioleskan, atau dikonsumsi langsung. Spesies tumbuhan yang memiliki nilai guna paling tinggi adalah Curcuma longa L. (0,28), Kaempferia galanga L.(0,24), dan Zingiber officinale Roscoe (0,24). | Indonesia is a country with rich biodiversity. Biodiversity of plants in Indonesia include 40.000 species of plants, 1.300 is a useful plant as medicine. Kuta Village is a traditional village that still retains the customary rules that are binding on the public. People of Kuta Village use plants fredominantly in the vicinity to fulfill daily needs, either to be used as food, building materials, and medicines. This study aimed to determine the diversity of plant used as traditional medicine by Kuta Villagers, recognize part of plants used, and utilization process of the plants by Kuta Villagers. This research used survey method with snowball sampling. Data collection was done by a semi-structured interview with a questionnaire as a guideline. The result showed that there are 38 species consist of 26 families of plants that are commonly used as traditional medicine in the Kuta Village. Part of plants used as traditional medicine are root, stems, leaves, fruit, stem sap, rhizomes, and all parts of the plants. Plants as medicine can be used to treat external disease and internal disease. The Processing steps consist of boiling, pouring, and washing. The direct use of plants is done by drinking, affixing, semaring, or eating the plants. The most widely used species are Curcuma longa L. (0,28), Kaempferia galanga L. (0,24), and Zingiber officinale Roscoe (0,24). | |
| 51633 | 46802 | C1A021056 | Pengaruh Regional Spillover Effect terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah | Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran regional spillover effect dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Jawa Tengah. Fokus utama penelitian ini adalah mengevaluasi dampak interaksi antardaerah melalui empat saluran utama: (a) knowledge spillover, (b) industry spillover, (c) private investment spillover, dan (d) government expenditure spillover. Dengan menggunakan data dari 35 kabupaten/kota selama periode 2018–2023, penelitian ini menerapkan metode regresi panel spasial untuk menganalisis hubungan antarvariabel. Hasil analisis dengan menggunakan Spatial Durbin Model Random Effect mengindikasikan bahwa knowledge spillover, industry spillover, private investment spillover, dan government expenditure spillover memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu, efek limpahan ini memperlihatkan adanya autokorelasi spasial, yang menegaskan bahwa aktivitas ekonomi di suatu wilayah memiliki pengaruh signifikan terhadap wilayah sekitarnya. Penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan interaksi regional dan dimensi spasial dalam penyusunan kebijakan, khususnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan di Jawa Tengah. | ABSTRACT: This study aims to explore the role of regional spillover effects in driving the economic growth of districts and cities in Central Java. The primary focus is to evaluate the impact of interregional interactions through four main channels: (a) knowledge spillover, (b) industry spillover, (c) private investment spillover, and (d) government expenditure spillover. Using data from 35 districts and cities during the period 2018–2023, this research employs spatial panel regression to analyze the relationships between variables. The analysis results, utilizing the Spatial Durbin Model Random Effect, indicate that knowledge spillover, industry spillover, private investment spillover, and government expenditure spillover have a significant positive influence on economic growth. Moreover, these spillover effects exhibit spatial autocorrelation, highlighting that economic activities in one region significantly affect the neighboring areas. This study underscores the importance of considering regional interactions and spatial dimensions in policy formulation, particularly to foster equitable and sustainable economic growth in Central Java. | |
| 51634 | 49792 | H1E020027 | Evaluasi Kondisi Penerapan SMK3L Perguruan Tinggi Saat Ini Dengan Metode Gap Analysis | Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya sistematis untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat, serta mencegah kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memiliki kewajiban menerapkan SMK3L sesuai regulasi dan standar akreditasi, sehingga dilakukan evaluasi penerapannya menggunakan metode gap analysis untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi saat ini dan standar yang dipersyaratkan. Penelitian ini mengkaji elemen transisi SMK3L melalui analisis dokumen, dan kuesioner. Hasil menunjukkan tingkat pemenuhan dokumen sebesar 38% (90 dari 237 dokumen), kuesioner 30%, dan checklist 38% yang tergolong rendah, dengan elemen 4 (pengendalian dokumen) memiliki nilai terendah 0% dan elemen 2 (perencanaan dan implementasi K3L) tertinggi 62%. Usulan perbaikan difokuskan pada elemen dengan skor terendah, meliputi: elemen 1.3.3 (peninjauan berkala penerapan SMK3L oleh manajemen) dengan pembuatan SOP Peninjauan SMK3L; elemen 1.4.2 (prosedur konsultasi terkait perubahan yang berdampak pada K3) dengan pembuatan SOP Pengendalian Risiko; elemen 2.1.2 (identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko oleh petugas berkompeten) dengan SOP Pengendalian Risiko; elemen 4 (pengendalian dokumen) dengan SOP Pengendalian Dokumen; elemen 6.2.5 (keterlibatan pengawas dalam konsultasi) dengan SOP Konsultasi K3; elemen 7.1.4 (penyusunan daftar periksa inspeksi) dengan SOP dan Form Inspeksi K3; elemen 7.2.2 (pemantauan/pengukuran lingkungan kerja) dengan SOP Pemantauan Lingkungan Kerja dan Form Inspeksi; elemen 7.4.5 (pencatatan pemantauan kesehatan civitas akademika) dengan SOP dan Form Pemeriksaan Kesehatan; elemen 8.1.1 (prosedur pelaporan bahaya) dengan SOP Pelaporan Bahaya; elemen 9.1.4 (penanganan bahan berbahaya dan limbah) dengan SOP Penanganan Limbah B3; dan elemen 12.3.1 (pelatihan K3 untuk seluruh civitas akademika) dengan SOP dan Formulir Pelatihan K3. Implementasi usulan ini diharapkan dapat meningkatkan kesesuaian penerapannya | Occupational Safety and Health (OSH) is a systematic effort to create a safe and healthy work environment and prevent accidents and work-related illnesses. The Faculty of Engineering at Jenderal Soedirman University (Unsoed) has an obligation to implement SMK3L in accordance with regulations and accreditation standards, so an evaluation of its implementation was carried out using the gap analysis method to identify the gap between the current conditions and the required standards. This study examines the transition elements of the OSHMS through document analysis and questionnaires. The results show a document compliance rate of 38% (90 out of 237 documents), a questionnaire compliance rate of 30%, and a checklist compliance rate of 38%, which are considered low. Element 4 (document control) has the lowest score of 0%, while Element 2 (planning and implementation of K3L) has the highest score of 62%. Improvement recommendations focused on elements with the lowest scores, including: element 1.3.3 (periodic review of SMK3L implementation by management) with the creation of an SMK3L Review SOP; element 1.4.2 (consultation procedures related to changes affecting OSH) with the creation of a Risk Control SOP; Element 2.1.2 (hazard identification, risk assessment, and control by competent personnel) with an SOP for Risk Control; Element 4 (document control) with an SOP for Document Control; Element 6.2.5 (supervisor involvement in consultation) with an SOP for K3 Consultation; Element 7.1.4 (preparation of inspection checklists) with SOPs and OSH Inspection Forms; Element 7.2.2 (monitoring/measuring the work environment) with SOPs for Work Environment Monitoring and Inspection Forms; Element 7.4.5 (recording of health monitoring of academic staff) with SOPs and Health Examination Forms; Element 8.1.1 (hazard reporting procedures) with the Hazard Reporting SOP; Element 9.1.4 (handling of hazardous materials and waste) with the Hazardous Waste Handling SOP; and Element 12.3.1 (OHS training for all academic staff) with the OHS Training SOP and Form. The implementation of this proposal is expected to improve the consistency of its application. | |
| 51635 | 45429 | K1C020035 | KORELASI INDEKS LABILITAS ATMOSFER TERHADAP VERTICAL WIND SHEAR PADA FASE TAKE-OFF DAN LANDING PESAWAT KOMERSIL DI BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA | Wind shear adalah aliran udara yang kecepatannya berbeda-beda dalam waktu singkat, baik secara horizontal maupun vertikal. Vertical wind shear dapat merugikan pesawat terutama saat fase take-off dan landing karena dipengaruhi cuaca buruk dan kondisi atmosfer yang tidak stabil, sehingga penelitian mengenai korelasi indeks labilitas atmosfer terhadap vertical wind shear sangat penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan pesawat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi indeks labilitas atmosfer terhadap vertical wind shear yang terjadi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Indeks labilitas atmosfer adalah indeks untuk menentukan kestabilan atmosfer dalam memprakirakan cuaca buruk yang mungkin terjadi. Indeks labilitas atmosfer SI, LI, KI, TT, SWEAT, dan CAPE diamati oleh perangkat radiosonde dan dihitung menggunakan software RAOB. Vertical wind shear diamati oleh perangkat wind profiler radar pada ketinggian 100-3000 m dan dihitung berdasarkan selisih arah angin ≥90° dan selisih kecepatan angin ≥15 knot. Seluruh data kedua variabel dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil menunjukkan bahwa selama tahun 2023 vertical wind shear lebih sering terjadi di bulan Juli dan September pada ketinggian 2000-3000 m. Indeks LI dan CAPE dapat dijadikan acuan untuk memprediksi vertical wind shear pada ketinggian 2000-3000 m karena memiliki korelasi kuat. Namun, indeks LI dan CAPE tidak dapat dijadikan acuan untuk memprediksi kejadian vertical wind shear pada fase take-off dan landing karena memiliki korelasi lemah. | Wind shear is the flow of air that varies in speed over a short period of time, both horizontally and vertically. Vertical wind shear can be detrimental to aircraft, especially during the take-off and landing phases due to bad weather and unstable atmospheric conditions, so research on the correlation of atmospheric lability index to vertical wind shear is very important to prevent aircraft accidents. This study aims to determine the correlation of atmospheric lability index to vertical wind shear that occurs at Soekarno-Hatta International Airport. Atmospheric lability index is an index to determine the stability of the atmosphere in predicting bad weather that may occur. Atmospheric lability indices SI, LI, KI, TT, SWEAT, and CAPE were observed by radiosonde devices and calculated using RAOB software. Vertical wind shear was observed by a radar wind profiler device at 100-3000 m altitude and calculated based on a wind direction difference of ≥90° and a wind speed difference of ≥15 knots. All data of both variables were analyzed using Pearson Product Moment correlation. The results show that during 2023 vertical wind shear is more common in July and September at 2000-3000 m altitude. The LI and CAPE indices can be used as a reference to predict vertical wind shear at 2000-3000 m altitude because they have a strong correlation. However, the LI and CAPE indices cannot be used as a reference for predicting vertical wind shear events in the take-off and landing phases because they have a weak correlation. | |
| 51636 | 18067 | A1M012072 | Pengaruh Suhu, Proporsi Laru Bubuk Kulit Manggis, Dan Waktu Penyimpanan Terhadap Perubahan Karakteristik Nira Kelapa. | Nira merupakan cairan manis yang mudah mengalami kerusakan karena fermentasi mikroba. Untuk mencegah kerusakan nira selama penyadapan, dilakukan penambahan “laru” baik alami maupun sintetis. Laru alami yang sering digunakan terdiri dari kapur dan kulit manggis serta tatal nangka. Penggunaannya dalam bentuk bubuk diharapkan akan lebih efektif. Upaya pengawetan nira setelah penyadapan selain dengan pemanasan dapat dilakukan dengan penyimpanan pada suhu rendah. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengkaji pengaruh konsentrasi laru bubuk kulit manggis terhadap karakteristik nira kelapa selama penyimpanan dan 2) Mengetahui pengaruh suhu penyimpanan terhadap karakteristik nira kelapa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Split Plot Design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sebagai rancangan dasar. Sebagai main plot adalah: Suhu Penyimpanan (S) yang terdiri dari 2 taraf (2°C(Refrigerator) dan (-20)°C(Freezer)). Sebagai sub plot yaitu 2) Konsentrasi bubuk kulit manggis (K) dalam 100 mL yang terdiri dari 5 taraf (0 % b/v ; 1 % b/v ; 2 % b/v ; 3 % b/v dan laru kontrol), dan Waktu Penyimpanan (W) yang terdiri dari 3 taraf (0 hari, 4 hari, dan 7 hari). Penelitian ini disusun secara faktorial dengan 30 kombinasi perlakuan dan 2 kali ulangan, sehingga terdapat 60 unit percobaan. Parameter yang diamati adalah parameter kimia berupa pH, total padatan terlarut, gula total, gula reduksi dan sukrosa, serta parameter mikrobiologi berupa total yeast. Semakin tinggi konsentrasi laru bubuk kulit manggis hingga penambahan 3%, penghambatan kerusakan nira semakin baik, yang ditandai dengan total yeast selama 7 hari penyimpanan semakin rendah dan penurunan pH yang kecil. Total yeast selama 7 hari penyimpanan pada perlakuan konsentrasi laru 0 %, 1%, 2% 3%, dan kontrol secara berturut-turut adalah 5,12 log CFU/ml ; 4,86 log CFU/ml ; 4,87 log CFU/ml ; 4,57 log CFU/ml ; dan 4,75 log CFU/ml. Penurunan pH nira pada perlakuan konsentrasi laru 0 %, 1%, 2% 3%, dan kontrol secara berturut-turut adalah 2,225 ; 0,9 ; 0,5 ; 0,325 dan 0,175. Penyimpanan pada suhu (-20)°C (freezer) menunjukkan penghambatan yang lebih baik dibandingkan penyimpanan pada suhu 2 °C (refrigerator). Peningkatan total yeast selama 7 hari penyimpanan pada refrigerator dan freezer adalah 1,13 log CFU/ml dan 0,35 log CFU/ml. Penurunan pH selama 7 hari penyimpanan pada refrigerator dan freezer adalah 1,17 dan 0,48. | Toddy is a sweet liquid that is easily damaged by microbial fermentation. To avoid breakage during tapping the sap (toddy), adding the syntetic or natural toddy preservatives was done. Natural preservatives which often used composed of limestone, peel of mangosteen and jackfruits wood. Using mangosteen peel in a powder form may be more effective. To avoid toddys damage after tapping can done by heating or low temperature storage. The aim of this research were 1) To examine the influences of mangosteen peel powder preservative consentration on characteristic of toddy during storage and 2) To know the effects of the storage temprature on the characteristic of toddy. The experimental design which being used Split Plot Design with Randomized Completely Design as a basic design. The main plot on this research was Storage Temprature (S) which is consist of: 2oC (Refrigerator) and -20oC (Freezer).While the Sub Plot of this research are Preservative Concentration (K) in 100 mL which is consist of 5 level: 0 % b/v (K0); 1 % b/v(K1) ; 2 % b/v (K2) ; 3 % b/v (K3) and as control (K4), and Storage Time (W) which is consist of 3 level: 0 day (W1), 4 days (W2) and 7 days (W3) storage time. This research is factorial experiment with 30 treatment combinations and 2 repetition, so there were 60 experiment units in total. Parameter observed were chemical parameter which are pH, total solid disolved, total sugar, reducing sugar and sucrose and also microbial parameter which is total yeast. The result of the research showed that higher the concentration of mangosteen peel powder preservative, prevention of toddy’s damage was better, which is showed for 7 days storage time the lower of yeast total and pH value. Total yeast for 7 days storage time on different concentration of preservative 0%, 1%, 2%, 3% and control were: 5,12 log CFU/ml; 4,86 log CFU/ml; 4,87 log CFU/ml; 4,57 log CFU/ml and 4,75 log CFU/ml, respectively. The decreasing of pH of toddy with different preservative concentration on 0%, 1%, 2%, 3% and control were 2,225; 0,9; 0,5, 0,325 and 0, 175, respectively. The storage on temperature of -20oC (Freezer) showed better preventionn activity than storage on temperature of 2oC (Refrigerator). Total yeast was getting higher during 7 days storage time on both -20oC (Freezer) and 2oC (Refrigerator), each total yeast of both storage temprature are 1,13 log CFU/ml and 0,35 log CFU/ml. The decreasing of pH for 7 days on refrigerator and freezer temprature were 1,17 and 0,48. | |
| 51637 | 50579 | A1F021008 | Variasi Waktu Ekstraksi Biji Kesumba dengan Kombinasi Maserasi - Microwave Assisted Extraction sebagai Pewarna serta Antimikroba Candida albicans | Kesumba (Bixa orellana L.) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili Bixaceae. Biji kesumba memiliki bentuk bulat, berukuran kecil, dan berwarna merah. Komponen utama dari biji kesumba adalah bixin dan norbixin. Bixin dan norbixin termasuk ke dalam golongan karotenoid yang memiliki rentang warna antara kuning dan merah. Selaput biji kesumba memiliki pigmen merah yang disebut annatto. Ekstrak annatto dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk produk pangan, tekstil, serta kosmetik. Ekstrak annatto selain dapat digunakan sebagai pewarna alami juga berpotensi sebagai antimikroba. Aktivitas antimikroba dari ekstrak annatto dihasilkan karena adanya senyawa bioaktif berupa saponin, senyawa fenolik, terpenoid, tokotrienol, flavonoid, dan alkaloid. Penelitian ini dilakukan dengan kombinasi metode ekstraksi maserasi dan MAE serta variasi waktu ekstraksi MAE menggunakan pelarut akuades pH 4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu ekstraksi biji kesumba dengan kombinasi ekstraksi maserasi dan MAE terhadap warna serta antimikroba, mengetahui perlakuan terbaik variasi waktu ekstraksi biji kesumba dengan kombinasi ekstraksi maserasi dan MAE sebagai pewarna serta antimikroba dalam menghambat C. albicans. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non-faktorial yang terdiri dari 9 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan variasi waktu ekstraksi yang terdiri dari 1 menit (T1), 1,5 menit (T2), 2 menit (T3), 2,5 menit (T4), 3 menit (T5), 3,5 menit (T6), 4 menit (T7), 4,5 menit (T8), dan 5 menit (T9). Ekstrak annatto yang dihasilkan dilakukan pengukuran warna L, a, dan b menggunakan color reader serta dilakukan pengujian aktivitas antimikroba dengan metode difusi, Minimal inhibititory Concentration (MIC), dan Total Plate Count (TPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu ekstraksi, maka tingkat kemerahan semakin meningkat dan aktivitas antimikroba semakin menurun. Perlakuan terbaik ekstrak annatto terdapat pada perlakuan waktu ekstraksi 2 menit (T3). Perlakuan ini menghasilkan zona hambat sebesar 6,05 mm yang tergolong pada penghambatan sedang, konsentrasi minimum penghambatan C. albicans pada konsentrasi 5% dengan nilai ΔOD sebesar 0,114 dan jumlah koloni sebesar 7,14 log CFU/mL. Perlakuan T3 juga menghasilkan tingkat kecerahan (L) sebesar 36,42, tingkat kemerahan (a) sebesar 16,28, dan tingkat kekuningan (b) sebesar 13,58. | Kesumba (Bixa orellana L.) is a plant belonging to the Bixaceae family. Kesumba seeds are round, small in size, and red in color. The main components of kesumba seeds are bixin and norbixin. Bixin and norbixin belong to the carotenoid group, which has a color range between yellow and red. The seed coat of kesumba contains a red pigment called annatto. Annatto extract is used as a natural dye for food products, textiles, and cosmetics. In addition to being used as a natural dye, annatto extract also has potential as an antimicrobial agent. The antimicrobial activity of annatto extract is due to the presence of bioactive compounds such as saponins, phenolic compounds, terpenoids, tocotrienols, flavonoids, and alkaloids. This study was conducted using a combination of maceration and MAE extraction methods, with variations in MAE extraction time using distilled water at pH 4 as the solvent. The objectives of this study were to determine the effect of varying extraction times of kesumba seeds using a combination of maceration and MAE extraction on color and antimicrobial activity, and to identify the optimal treatment for varying extraction times of kesumba seeds using a combination of maceration and MAE extraction as a colorant and antimicrobial agent in inhibiting C. albicans. This study employed an experimental method using a non-factorial Randomized Block Design (RBD) consisting of 9 treatments and 3 replications with extraction time variations of 1 minute (T1), 1.5 minutes (T2), 2 minutes (T3), 2.5 minutes (T4), 3 minutes (T5), 3.5 minutes (T6), 4 minutes (T7), 4.5 minutes (T8), and 5 minutes (T9). The resulting annatto extract was measured for L, a, and b color values using a color reader, and its antimicrobial activity was tested using the diffusion method, Minimum Inhibitory Concentration (MIC), and Total Plate Count (TPC). The results showed that the longer the extraction time, the higher the redness level and the lower antimicrobial activity. The best treatment for annatto extract was found in the 2 minute extraction time treatment (T3). This treatment produced an inhibition zone of 6.05 mm, classified as strong inhibition, a minimum inhibitory concentration (MIC) of C. albicans at 5% concentration with a ΔOD value of 0.114 and colony count of 7.14 log CFU/mL. The treatment T3 also produced a lightness (L) value of 36.42, a redness (a) value of 16.28, and a yellowness (b) value of 13.58. | |
| 51638 | 30202 | B1A016118 | STUDI KARAKTER ANATOMI DAN KANDUNGAN KLOROFIL BEBERAPA VARIETAS Catharanthus roseus (L.) G. Don. | Tapak dara (Catharanthus roseus L.) merupakan tanaman obat dari famili Apocynaceae yang sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Keragaman karakter anatomi dapat digunakan sebagai salah satu parameter untuk seleksi dalam program pemuliaan tanaman. Selain itu kandungan klorofil juga berpengaruh pada proses fotosintesis yang dapat digunakan untuk menentukan varietas unggul pada tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui karakter anatomi dan kandungan klorofil daun pada beberapa varietas C. roseus, 2) mengetahui perbedaan karakter anatomi dan kandungan klorofil pada beberapa varietas C. roseus. Penelitian dilakukan secara purpossive sampling masing-masing varietas dengan 3 ulangan tanaman. Sampel daun C. roseus diambil dari koleksi proyek Riset Peningkatan Kompetensi (RPK) di green house Fakutas Biologi Unsoed. Pembuatan preparat anatomi daun menggunakan metode parafin yang dimodifikasi, dengan pewarna safranin 1% dalam alkohol 70%. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan tingkat kesalahan 1% dan 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter anatomi pada enam varietas C. roseus memiliki nilai rata-rata tebal kutikula adaxial dan abaxial sebesar 3,47 μm dan 2,5 μm. Rata-rata tebal epidermis adaxial dan abaxial sebesar 15,69 μm dan 9,58 μm. Rata-rata tebal mesofil sebesar 150,42 μm. Rata-rata rasio palisade sebesar 1,01, Rata-rata panjang stomata adaxial dan abaxial sebesar 21,67 μm dan 20,83 μm, lebar stomata adaxial dan abaxial 17,78 μm dan 11,39 μm, Rata-rata kerapatan stomata adaxial dan abaxial sebesar 5,94 mm2 dan 10,89 mm2. Rata-rata kerapatan trikomata adaxial dan abaxial sebesar 0,94 mm2. Rata-rata kandungan klorofil pada klorofil a, klorofil b, dan klororfil total sebesar 6,18 mgl-1, 3,0 mgl-1, dan 0,94 mgl-1. Perbedaan karakter anatomi pada enam varietas C. roseus, terdapat pada tebal mesofil, panjang stomata abaxial, lebar stomata abaxial, dan kerapatan stomata abaxial dengan p<0,05. Kandungan klorofil a pada enam varietas C. roseus berbeda nyata dengan nilai p<0,05. | Tapak dara (Catharanthus roseus L.) is a medicinal plant from the Apocynaceae family which is often used to treat various diseases. The diversity of anatomical characters can be used as a parameter for selection in plant breeding programs. In addition, chlorophyll content also affects photosynthetic reactions which can be used to determine superior varieties in plants. This study aimed to 1) determine the anatomical characters and chlorophyll content of the leaves in several varieties of C. roseus, 2) to determine the differences in anatomical characters and chlorophyll content of several varieties of C. roseus. The study was conducted by purposive sampling for each variety with 3 replications of plants. C. roseus leaf samples were taken from the Competency Improvement Research (CIR) project collection at the green house of the Faculty of Biology, Unsoed. Leaf anatomical preparations were made using a modified paraffin method, with 1% safranin dye in 70% alcohol. Data was analyzed to use ANOVA test with an error rate of 1% and 5%, then continued with the BNT test. The results showed that the anatomical characters of the six varieties of C. roseus had an average thickness of the cuticle adaxial and abaxial thickness of 3.47 μm and 2.5 μm. The average thickness of the adaxial and abaxial epidermis was 15.69 μm and 9.58 μm. The average thickness of the mesophyll was 150.42 μm. The average palisade ratio was 1.01, the average length of the adaxial and abaxial stomata was 21.67 μm and 20.83 μm, the width of the adaxial and abaxial stomata was 17.78 μm and 11.39 μm, the average density of the adaxial stomata and abaxial was 5,94 mm2 and 10,89 mm2. The average adaxial and abaxial trichomata density was 0.94 mm2. The average chlorophyll content of chlorophyll a, chlorophyll b, and total chlororphyl was 6.18 mgl-1, 3.0 mgl-1, and 0.94 mgl-1. The differences in anatomical characters in the six varieties of C. roseus were found in the thickness of the mesophyll, length of the abaxial stomata, width of the abaxial stomata, and density of the abaxial stomata with value p<0.05. The chlorophyll a content of the six varieties of C. roseus was significantly different with a value p<0.05. | |
| 51639 | 14530 | D1E012096 | LEVEL PENGGUNAAN ANGKAK DALAM PROSES CURING DENGAN METODE CURING BASAH TERHADAP pH, KADAR AIR, DAN ORGANOLEPTIK KORNET DAGING AYAM | Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh penggunaan angkak terhadap pH, kadar air, dan organoleptik (warna dan rasa) kornet daging ayam. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3,7 kg daging ayam broiler. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk pengujian pH dan kadar air, dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk pengujian organoleptik. Perlakuan yang diuji adalah level penggunaan angkak terdiri atas 0%, 5%, 10%, 15% dari berat daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level penggunaan angkak dalam proses curing basah berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap pH dan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar air dan organoleptik (warna dan rasa) kornet daging ayam. Kesimpulan, penggunaan angkak dalam proses curing basah menurunkan pH dan kadar air, serta dapat memperbaiki organoleptik (warna dan rasa) kornet daging ayam. Level penggunaan angkak 5% menghasilkan kualitas kornet yang terbaik. | The aim of this research was to study the effect of the use of angkak on pH, moisture content, and organoleptic (flavor and color) of chicken corned. The material used in this research was 3.7 kg of broiler meat. The method used was experiment method with a Randomized Block Design (RBD) for pH and moisture content, and Completely Randomized Design (CRD) for organoleptic test. The treatment was level of angkak consisted of 0%, 5%, 10% , 15% of the weight of the meat. The results showed that the level of angkak had significantly effect (P<0.05) on pH and had highly significant effect (P<0.01) on the moisture content and organoleptic (flavor and color) of corned chicken. In conclusion, the level of angkak in the wet curing produced lower pH and moisture content, and can improve the organoleptic (flavor and color) of chicken corned. The level of used of angkak of 5 % produced the best corned quality . | |
| 51640 | 26802 | I1I017011 | EFEKTIVITAS PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) PEMULIHAN BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS KROYA I KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP | EFEKTIVITAS PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) PEMULIHAN BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS KROYA I KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP Nur Azizah, Endo Dardjito, Dika Betaditya Latar Belakang : Indonesia masih menghadapi masalah gizi. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi balita gizi kurang 13,8 %. Untuk mengatasi kekurangan gizi pada balita, perlu diselenggarakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi. PMT P sasarannya adalah balita gizi kurang dari keluarga miskin, dengan hari makan anak (HMA) 60 hari berupa susu dengan kandungan energi 350-400 Kkal dan Protein 10-15 gram. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas PMT P balita gizi kurang diwilayah kerja UPTD Puskesmas Kroya I Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperimental dengan rancangan penelitian One Group Pretest Posttest, secara kuantitatif untuk menguji perbedaan sebelum dan sesudah pemberian PMT. Jumlah sampel untuk penelitian ini sejumlah 16 sampel, dengan cara Total sampling, yaitu seluruh balita gizi kurang BB/U yang mendapat PMT, terdiri dari 62,5 % laki-laki dan 37,5 % perempuan. Penelitian ini dilakukan selama 60 hari, dengan pemantauan BB balita setiap minggunya, terdapat peningkatan berat badan 0,8 Kg pada laki-laki setelah pemberian PMT dan 0,7 Kg pada perempuan. Dengan nilai z score sebelum PMT P -3,3 menjadi -3,1 pada 30 hari pemberian dan -2,8 setelah 60 hari pemberian. Perubahan status gizi sebelum PMT P yaitu 87,5 % gizi buruk dan 12,5 % gizi kurang menjadi 56,25 % gizi buruk, 31,25 % gizi kurang dan 12,5 % gizi baik. Rata-rata konsumsi PMT P balita selama 60 hari adalah 77 %, artinya asupan energinya adalah 353,66 KKal dan 11 gram protein, dan ini sudah sesuai dengan standar pemberian PMT P oleh Kemenkes, 2014. Data status gizi ditentukan oleh nilai z score berdasarkan BB/U untuk mengetahui perbedaan status gizi BB/U sebelum dan sesudah PMT P dengan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil Penelitian :Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan BB, dan terdapat perbedaan status gizi BB/U sebelum dan sesudah pemberian PMT P. Kesimpulan : PMT P selama 60 hari efektif meningkatkan status gizi. | EFFECTIVENESS OF ADDITIONAL FOOD (PMT) RECOVERY OF NUTRITIONAL UNDER FIVE YEAR IN LESS IN WORKING AREA UPTD PUSKESMAS KROYA I KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP Nur Azizah, Endo Dardjito, Dika Betaditya Background: Indonesia still faces nutritional problems. Based on 2018 Riskesdas, the prevalence of underfive malnutrition was 13.8%. To overcome nutritional deficiencies in infants, it is necessary to organize Supplementary Feeding (PMT) which aims to improve nutritional status. PMT P is the target of under-fives nutrition from poor families, with a 60-day-old children's meal (HMA) in the form of milk with an energy content of 350-400 Kcal and 10-15 gram protein. The purpose of this study was to determine the effectiveness of PMT P underfive malnutrition in the work area of the UPTD Puskesmas Kroya I, Kroya District, Cilacap Regency Methodology: This study uses a Quasi Experimental design with a One Group Pretest Posttest research design, quantitatively to test differences before and after PMT administration. The number of samples for this study were 16 samples, by means of total sampling, namely all underweight malnourished children under five who received PMT, consisted of 62.5% men and 37.5% women. This research was carried out for 60 days, with monitoring of toddlers BB every week, there was an increase in body weight of 0.8 kg in men after giving PMT and 0.7 kg in women. With the z score before PMT P -3.3 to -3.1 at 30 days of administration and -2.8 after 60 days of administration. Changes in nutritional status before PMT P, namely 87.5% malnutrition and 12.5% malnutrition to 56.25% malnutrition, 31.25% malnutrition and 12.5% good nutrition. Under five year consumption shows that 77%. The total energy intake of children under five per day when consuming 353.66 KKal and 11 grams of protein, according to Ministry of Health standards, 2014. Nutritional status data is determined by the z score based on weight / U to determine differences in status BB / U nutrition before and after PMT P using Wilcoxon test. Results: The results showed that there was an increase in BW, and there were differences in the nutritional status of BB / U before and after PMT P. Conclusion: PMT Recovery for 60 days effectively improves nutritional status. |