Artikelilmiahs
Menampilkan 51.641-51.660 dari 51.680 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51641 | 55064 | A1F021029 | Optimasi Suhu dan Waktu Pemanasan Transesterifikasi Pada Pembuatan Medium Chain Tryglyceride Oil Dari Virgin Coconut Oil Menggunakan Response Surface Methodology | Virgin Coconut Oil (VCO) mengandung asam lemak rantai sedang atau Medium-Chain Triglycerides (MCT) yang berpotensi dikembangkan menjadi minyak MCT bernilai ekonomi tinggi. Namun, kandungan MCT dalam VCO masih bercampur dengan asam lemak rantai panjang dan senyawa lainnya sehingga diperlukan beberapa tahap pengolahan, salah satunya transesterifikasi. Tahap ini dipengaruhi oleh suhu dan waktu pemanasan, karena kondisi yang tidak sesuai dapat menurunkan rendemen akibat terjadinya reaksi samping, seperti saponifikasi dan reaksi balik pembentukan trigliserida. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi suhu dan waktu pemanasan pada tahap transesterifikasi dalam pembuatan minyak MCT dari VCO, menganalisis pengaruh kedua faktor terhadap rendemen, serta menentukan karakteristik kimia produk yang dihasilkan. Proses penelitian meliputi netralisasi VCO, transesterifikasi VCO netral, isolasi medium-chain fatty acids (MCFAs), dan sintesis MCT. Optimasi dilakukan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan rancangan Central Composite Design (CCD) melalui perangkat lunak Design Expert versi 13. Hasil optimasi menunjukkan kondisi optimum transesterifikasi pada suhu 51,667°C selama 2,244 jam dengan prediksi rendemen sebesar 82,347%. Suhu dan waktu pemanasan menunjukkan interaksi berbanding terbalik, yaitu suhu yang lebih rendah memerlukan waktu pemanasan lebih lama, sedangkan suhu yang lebih tinggi memerlukan waktu lebih singkat. Kondisi suhu maupun waktu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi menurunkan rendemen. Minyak MCT hasil sintesis memiliki bilangan asam 0,34 mg KOH/g, bilangan peroksida 0,333 meq O₂/kg, dan bilangan iod 0,697 g I₂/100 g. Komposisi asam lemak produk masih didominasi oleh asam laurat dan asam miristat. | Virgin Coconut Oil (VCO) contains medium-chain fatty acids, or Medium-Chain Triglycerides (MCTs), which have the potential to be developed into high-value MCT oil. However, the MCT content in VCO is still mixed with long-chain fatty acids and other compounds, requiring several processing steps, one of which is transesterification. This stage is influenced by heating temperature and time, as inappropriate conditions can reduce yield due to side reactions, such as saponification and the reverse reaction leading to triglyceride formation. This study aims to optimize the heating temperature and time during the transesterification stage in the production of MCT oil from VCO, analyze the effects of these two factors on yield, and determine the chemical characteristics of the resulting product. The research process included the neutralization of VCO, the transesterification of neutralized VCO, the isolation of medium-chain fatty acids (MCFAs), and the synthesis of MCT. Optimization was performed using Response Surface Methodology (RSM) with a Central Composite Design (CCD) via Design Expert software version 13. The optimization results indicate that the optimal conditions for transesterification are a temperature of 51.667°C for 2.244 hours, with a predicted yield of 82.347%. Temperature and heating time exhibit an inverse relationship: lower temperatures require longer heating times, while higher temperatures require shorter heating times. Temperatures or heating times that are too low or too high reduce the yield. The synthesized MCT oil has an acid value of 0.34 mg KOH/g, a peroxide value of 0.333 meq O₂/kg, and an iodine value of 0.697 g I₂/100 g. The fatty acid composition of the product is still dominated by lauric acid and myristic acid. | |
| 51642 | 55054 | B1A022103 | Karakterisasi Morfologi dan Profil RAPD pada Empat Spesies Kantong Semar (Nepenthes spp.) | Kantong semar (Nepenthes spp.) merupakan tumbuhan karnivora yang keberadaannya dilindungi di dunia karena terancam punah akibat kerusakan habitat dan eksploitasi berlebihan. Sebanyak 80 spesies kantong semar dari total 181 spesies yang dilaporkan di dunia terdapat di Indonesia sehingga pendataan karakteristik setiap spesies sangat penting dilakukan untuk mendukung upaya konservasi. Identifikasi variasi intraspesies maupun perbedaan genetik interspesies sulit dilakukan jika hanya didasarkan pada karakter morfologi karena karakter tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan tahap perkembangan tanaman.Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan molekuler untuk mendapatkan informasi genetik yang lebih akurat. Salah satu penanda yang sering digunakan dalam studi genom tanaman adalah RAPD. Penggunaan penanda RAPD dipilih karena dianggap efektif, cepat, mudah, dan tidak memerlukan informasi sekuens DNA target. Integrasi analisis morfologi dan molekuler diharapkan dapat menghasilkan data yang lebih akurat dalam mendeteksi variasi intraspesies dan perbedaan genetik interspesies kantong semar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakter morfologi dan profil RAPD antar spesies kantong semar (N. ampullaria, N. mirabilis, N. gracilis, dan N. reinwardtiana), mengkaji keanekaragaman morfologi dan profil RAPD intraspesies, serta menentukan hubungan kekerabatan antar keempat spesies kantong semar tersebut.Penelitian dilakukan di Green House dan Laboratorium Genetika dan Molekuler Fakultas Biologi, serta di Laboratorium Riset Terpadu Universitas Jenderal Soedirman. Di dalam penelitian ini, digunakan pendekatan deskriptif dengan mengambil sampel koleksi Nepenthes yang dibudidayakan di Green House. Analisis data karakter morfologi kualitatif dilakukan secara deksriptif, kemudian dilakukan rekonstruksi fenogram menggunakan perangkat lunak MVSP 3.2. Data morfologi kuantitatif dilakukan uji ANOVA pada data yang terdistribusi normal, dan uji Kruskall-Wallis pada data yang terdistribusi tidak normal. Sementara itu profil pita DNA dikonversi menjadi data biner, kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak MVSP 3.2 untuk membangun fenogram yang menggambarkan hubungan genetik antar keempat spesies kantong semar. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan karakter morfologi antar spesies dapat dilihat dari bentuk dan permukaan beberapa organnya sedangkan RAPD mampu mendeteksi perbedaan genetik interspesies dan menghasilkan 53 fragmen DNA dengan tingkat polimorfisme total sebesar 96,23%. Keanekaragaman morfologi intraspesies dapat dilihat dari variasi warna tiap organ dari individu sejenis sedangkan profil RAPD mampu mendeteksi keanekaragaman intraspesies dan menghasilkan Nepenthes gracilis sebagai spesies dengan polimorfisme tertinggi dan N. reinwardtiana dengan polimorfisme terendah. Analisis hubungan kekerabatan berdasarkan morfologi menunjukkan Nepenthes ampullaria sebagai kerabat terjauh dari ketiga spesies lainnya sedangkan analisis kekerabatan menurut profil RAPD menunjukkan Nepenthes gracilis sebagai kerabat terjauhnya. | Pitcher plants (Nepenthes spp.) are carnivorous plants protected globally due to the threat of extinction caused by habitat destruction and over-exploitation. A total of 80 pitcher plant species out of the 181 species reported worldwide are found in Indonesia; therefore, documenting the characteristics of each species is crucial to support conservation efforts. Identifying intraspecific variation and interspecific genetic differences is difficult if based solely on morphological traits, as these traits are heavily influenced by the environment and the plant’s developmental stage. Therefore, a molecular approach is needed to obtain more accurate genetic information. One of the markers frequently used in plant genomics studies is RAPD. RAPD markers were chosen because they are considered effective, rapid, easy to use, and do not require target DNA sequence information. The integration of morphological and molecular analyses is expected to yield more accurate data for detecting intraspecific variation and interspecific genetic differences in pitcher plants. This study aims to identify differences in morphological characteristics and RAPD profiles among pitcher plant species (N. ampullaria, N. mirabilis, N. gracilis, and N. reinwardtiana), examine intraspecific morphological and RAPD profile diversity, and determine the phylogenetic relationships among these four pitcher plant species. The research was conducted at the Green house and the Genetics and Molecular Biology Laboratory of the Faculty of Biology, as well as at the Integrated Research Laboratory of Jenderal Soedirman University. In this study, a descriptive approach is employed, with samples collected from the Nepenthes collection cultivated in the Green house. Qualitative morphological data were analyzed descriptively and a dendrogram was reconstructed using MVSP 3.2 software. Quantitative morphological data were analyzed using ANOVA for normally distributed data and the Kruskal-Wallis test for non-normally distributed data. Meanwhile, DNA band profiles were converted into binary data and then analyzed using MVSP 3.2 software to construct a dendrogram illustrating the genetic relationships among the four pitcher plant species. The results showed that morphological differences between species could be observed in the shape and texture from surface of certain organs, whereas RAPD analysis successfully detected interspecific genetic variation and generated 53 DNA fragments with an overall polymorphism level of 96.23%. Intraspecific morphological variation was reflected in differences in the color and size of plant organs among individuals of the same species. RAPD analysis also detected intraspecific genetic variation, with Nepenthes gracilis exhibiting the highest level of polymorphism and N. reinwardtiana the lowest. Phylogenetic analysis based on morphology indicates that Nepenthes ampullaria is the most distantly related to the other three species, whereas phylogenetic analysis based on RAPD profiles indicates that Nepenthes gracilis is the most distantly related. | |
| 51643 | 55066 | C1C022041 | Pengaruh e-commerce, modal usaha, lingkungan keluarga, dan kreativitas terhadap minat berwirausaha | Penelitian berjudul “Pengaruh E-commerce, Lingkungan Keluarga, Modal Usaha, dan Kreativitas terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman” disusun berdasarkan persoalan proporsi pelaku kewirausahaan nasional yang masih tertinggal apabila disejajarkan dengan sejumlah negara lainnya. Permasalahan tersebut juga disertai banyaknya alumni perguruan tinggi yang belum memperoleh kesempatan memasuki pasar tenaga kerja. Fenomena demikian memperlihatkan perlunya langkah strategis untuk menumbuhkan ketertarikan dalam membangun usaha, terutama pada kelompok mahasiswa yang dinilai mempunyai kapasitas besar untuk menghadirkan kesempatan kerja. Kemajuan teknologi berbasis digital, peran keluarga, kecukupan pembiayaan usaha, serta daya cipta dinilai sebagai unsur yang berpotensi memperkuat ketertarikan mahasiswa terhadap aktivitas kewirausahaan. Kerangka konseptual yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu Theory ofPlanned Behavior (TPB). Ajzen (1991) menjelaskan kehendak individu dalam menjalankan tindakan tertentu terbentuk melalui tiga unsur pokok, yakni attitude toward behavior, subjective norm, serta perceived behavioral control. Attitude toward behavior berkaitan dengan cara individu mengevaluasi suatu perbuatan. Subjective norm merujuk pada tekanan, penerimaan, atau dorongan sosial yang berasal dari pihak-pihak di sekitar individu. Sementara itu, perceived behavioral control menggambarkan kepercayaan individu mengenai kapasitas dan peluang yang tersedia untuk melaksanakan tindakan terkait. Pada penelitian tersebut, kreativitas digunakan sebagai perwujudan attitude toward behavior, lingkungan keluarga ditempatkan sebagai cerminan subjective norm, sedangkan e-commerce beserta modal usaha diposisikan sebagai representasi perceived behavioral control. Keseluruhan unsur tersebut diperkirakan dapat menerangkan proses munculnya ketertarikan mahasiswa untuk menjalankan kegiatan kewirausahaan. Penelitian diarahkan untuk menguji keterkaitan e-commerce, lingkungan keluarga, modal usaha, serta kreativitas dengan ketertarikan berwirausaha pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Metode yang diterapkan berupa pendekatan kuantitatif dengan sasaran mahasiswa berstatus aktif pada jenjang Sarjana (S-1) di Universitas Jenderal Soedirman. Informasi penelitian diperoleh melalui penyampaian angket berbasis internet memakai Google Form. Pemilihan responden dilaksanakan dengan metode convenience sampling. Adapun besaran responden ditetapkan dengan merujuk pada metode proportionate stratified random sampling agar keterwakilan setiap fakultas dapat terpenuhi. Perangkat pengukuran dalam penelitian ini menerapkan skala Likert yang terdiri atas lima tingkatan nilai. Sebelum memasuki tahap pengolahan, seluruh informasi terlebih dahulu melewati pemeriksaan validitas dan reliabilitas guna menjamin setiap perangkat ukur memenuhi kriteria penggunaan. Setelah itu, dilaksanakan pemeriksaan asumsi klasik yang mencakup normalitas, multikolinearitas, serta heteroskedastisitas untuk memastikan persamaan regresi sesuai dengan ketentuan statistik yang berlaku. Pengolahan informasi menggunakan regresi linear berganda dengan dukungan perangkat lunak SPSS. Penilaian terhadap masing-masing dugaan penelitian dilakukan melalui pengujian parsial atau uji t. Sementara itu, kesesuaian persamaan dinilai melalui uji F beserta koefisien determinasi (Adjusted R²). Temuan penelitian membuktikan pemanfaatan e-commerce tidak memberikan dampak yang bermakna secara statistik terhadap ketertarikan mahasiswa untuk menekuni dunia usaha. Kondisi tersebut memperlihatkan penggunaan sarana perdagangan berbasis digital belum cukup kuat dalam mendorong mahasiswa mendirikan bisnis. Kalangan mahasiswa umumnya lebih sering menjadikan e-commerce sebagai tempat membeli berbagai kebutuhan daripada menggunakannya untuk mengelola aktivitas komersial. Keterbatasan pengetahuan mengenai pengoperasian layanan tersebut dan kecenderungan memilih bisnis secara offline menyebabkan e-commerce belum berperan sebagai penentu utama munculnya ketertarikan pada kewirausahaan. Sebaliknya, kondisi keluarga terbukti memberikan dampak searah dan bermakna terhadap ketertarikan tersebut. Perhatian dari orang tua, keharmonisan antaranggota keluarga, dan penguatan secara psikologis dapat menumbuhkan kemantapan mahasiswa dalam menjadikan kewirausahaan sebagai jalur profesi. Kecukupan dana awal turut memberikan dampak searah yang bermakna karena dukungan keuangan mampu menumbuhkan keberanian mahasiswa untuk merintis sekaligus memperbesar kegiatan bisnis. Kemampuan kreatif pun terbukti memberikan kontribusi searah dan bermakna. Individu yang cakap mencetuskan gagasan segar, menyesuaikan diri dengan dinamika keadaan, serta merumuskan pemecahan masalah secara inovatif biasanya memperlihatkan ketertarikan lebih besar untuk memasuki dunia kewirausahaan. Penelitian ini semakin menegaskan relevansi Theory of Planned Behavior sebagai landasan untuk menerangkan pembentukan ketertarikan mahasiswa terhadap kewirausahaan, terutama melalui kontribusi kondisi keluarga, kecukupan pendanaan, dan daya cipta. Meskipun demikian, pemakaian e-commerce belum terlihat sebagai unsur yang paling menentukan dalam menerangkan kecenderungan mahasiswa memasuki dunia bisnis. Bukti empiris tersebut memperlihatkan unsur yang berhubungan dengan teknologi digital tidak selalu secara otomatis memperkuat kehendak individu untuk mendirikan usaha. Temuan penelitian ini diharapkan mendorong mahasiswa agar senantiasa mempertajam kemampuan menciptakan gagasan, menangkap kesempatan bisnis, dan menjaga interaksi yang harmonis dengan keluarga sebagai pihak pemberi penguatan. Institusi pendidikan tinggi juga perlu memperbaiki kegiatan pembelajaran kewirausahaan agar kecakapan komersial mahasiswa semakin berkembang. | The research entitled “The Influence of E-commerce, Family Environment, Business Capital, and Creativity on Entrepreneurial Interest among Students of Universitas Jenderal Soedirman” was conducted based on the issue of the proportion of entrepreneurs in Indonesia, which remains relatively low compared with several other countries. This issue is also accompanied by the large number of university graduates who have not yet gained opportunities to enter the labor market. This phenomenon indicates the need for strategic efforts to foster interest in establishing businesses, particularly among university students who are considered to have significant potential to create employment opportunities. Advances in digital technology, the role of the family, the adequacy of business funding, and creativity are considered factors that may strengthen students’ interest in entrepreneurial activities. The conceptual framework applied in this research is the Theory of Planned Behavior (TPB). Ajzen (1991) explains that an individual’s intention to perform a particular behavior is formed through three main components, namely attitude toward behavior, subjective norm, and perceived behavioral control. Attitude toward behavior refers to how an individual evaluates a particular action. Subjective norm refers to the social pressure, acceptance, or encouragement originating from people around the individual. Meanwhile, perceived behavioral control describes an individual’s belief regarding their capabilities and the opportunities available to perform the relevant behavior. In this research, creativity is used as a manifestation of attitude toward behavior, family environment is positioned as a reflection of subjective norm, while e-commerce and business capital are positioned as representations of perceived behavioral control. These components are expected to explain the process through which students develop an interest in engaging in entrepreneurial activities. This research aims to examine the relationship between e-commerce, family environment, business capital, and creativity and entrepreneurial interest among students of Universitas Jenderal Soedirman. The research employed a quantitative approach targeting active undergraduate (S-1) students at Universitas Jenderal Soedirman. Data were collected through an online questionnaire distributed using Google Forms. Respondents were selected using the convenience sampling method. The number of respondents was determined by referring to the proportionate stratified random sampling method to ensure the representation of each faculty. The measurement instrument used a five-point Likert scale. Before the data were analyzed, all data underwent validity and reliability tests to ensure that each measurement instrument met the required criteria. Subsequently, classical assumption tests consisting of normality, multicollinearity, and heteroscedasticity tests were conducted to ensure that the regression model met the applicable statistical requirements. The data were analyzed using multiple linear regression with the assistance of SPSS software. Each research hypothesis was evaluated through a partial test or t-test. Meanwhile, the overall suitability of the regression model was assessed using the F-test and the coefficient of determination (Adjusted R²). The findings indicate that the use of e-commerce does not have a statistically significant effect on students’ entrepreneurial interest. This condition indicates that the use of digital commerce platforms is not yet sufficiently strong to encourage students to establish businesses. Students generally tend to use e- commerce as a platform for purchasing various necessities rather than utilizing it to manage commercial activities. Limited knowledge regarding the use of these services and a tendency to prefer offline businesses have resulted in e-commerce not yet becoming a major determinant of entrepreneurial interest. In contrast, the family environment has been proven to have a positive and significant effect on entrepreneurial interest. Parental attention, harmonious relationships among family members, and psychological support can strengthen students’ confidence in considering entrepreneurship as a career path. Adequate initial funding also has a positive and significant effect, as financial support can increase students’ confidence to start and expand business activities. Creativity likewise has a positive and significant contribution. Individuals who are capable of generating fresh ideas, adapting to changing circumstances, and developing innovative solutions tend to demonstrate greater interest in entering the world of entrepreneurship. This research further confirms the relevance of the Theory of Planned Behavior as a framework for explaining the formation of students’ entrepreneurial interest, particularly through the contributions of family environment, business capital, and creativity. Nevertheless, the use of e-commerce has not emerged as a significant factor in explaining students’ tendency to enter the business world. These empirical findings indicate that factors related to digital technology do not automatically strengthen an individual’s intention to establish a business. The findings are expected to encourage students to continuously improve their ability to generate ideas, identify business opportunities, and maintain harmonious relationships with their families as sources of support. Higher education institutions are also expected to improve entrepreneurship education programs so that students’ commercial competencies can be further developed. | |
| 51644 | 55065 | K1A022086 | Biosintesis Nanopartikel Emas (AuNPs) Menggunakan Ekstrak Rimpang Kencur Hitam (Kaempferia parviflora) dan Uji Antioksidannya | Radikal bebas merupakan penyebab utama berbagai penyakit degeneratif sehingga diperlukan penawar seperti antioksidan yang tentunya efektif dan ramah lingkungan. Nanopartikel emas (AuNPs) berpotensi sebagai antioksidan karena aktivitasnya yang tinggi dan dapat disintesis secara biosintesis dengan memanfaatkan senyawa flavonoid dan polifenol dari ekstrak rimpang K. parviflora sebagai agen pereduksi sekaligus penstabil. Penelitian ini bertujuan mensintesis nanopartikel emas dari ekstrak air rimpang K. parviflora (KP-AuNPs) dengan variasi konsentrasi HAuCl4 1; 2,5; dan 5 mM, mengkarakterisasi KP-AuNPs menggunakan spektrofotometer UV-Vis, FTIR, PSA, dan SEM-EDX+Mapping, serta menguji aktivitas antioksidannya dengan DPPH dan ABTS. Hasil penelitian menunjukkan biosintesis KP-AuNPs ditandai perubahan warna larutan menjadi merah anggur dan puncak Surface Plasmon Resonance (SPR) pada 500–550 nm. Karakterisasi FTIR mengonfirmasi keterlibatan gugus hidroksil, karbonil dan eter, sedangkan PSA dan SEM-EDX secara berturut-turut menunjukkan ukuran partikel optimal pada konsentrasi 1 mM 42 nm dan 39,32 nm dengan distribusi unsur Au yang merata. Uji antioksidan DPPH menunjukkan KP-AuNPs konsentrasi 1 mM memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai IC50 3,83 mM, sedangkan pada ABTS memiliki IC50 3,49 mM. Hasil kedua metode DPPH dan ABTS memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan ekstrak tanpa perlakuan. Ekstrak K. parviflora efektif untuk biosintesis AuNPs dengan potensi aktivitas antioksidan yang dimiliki. | Free radicals are major contributors to various degenerative diseases, highlighting the need for effective and environmentally friendly countermeasures such as antioxidants. Gold nanoparticles (AuNPs) have potential as antioxidant agents owing to their high activity and can be synthesized through a green biosynthetic approach using flavonoids and polyphenols present in Kaempferia parviflora rhizome extract as both reducing and stabilizing agents. This study aimed to synthesize gold nanoparticles using an aqueous extract of K. parviflora rhizomes (KP-AuNPs) at varying HAuCl4 concentrations of 1, 2.5, and 5 mM; characterize the resulting KP-AuNPs using UV–Vis spectrophotometry, FTIR, PSA, and SEM–EDX+mapping; and evaluate their antioxidant activity using DPPH and ABTS assays. The results showed that KP-AuNP biosynthesis was indicated by a change in solution color to wine red and the appearance of a surface plasmon resonance peak at 500–550 nm. FTIR characterization confirmed the involvement of hydroxyl, carbonyl, and ether functional groups, while PSA and SEM–EDX analyses showed that the 1 mM formulation yielded optimal particle sizes of 42 nm and 39.32 nm, respectively, with a homogeneous distribution of Au. The DPPH assay showed that KP-AuNPs synthesized at 1 mM exhibited the highest antioxidant activity, with an IC50 value of 3.83 mM, whereas the ABTS assay yielded an IC50 value of 3.49 mM. The antioxidant activities determined using both DPPH and ABTS assays were superior to those of the untreated extract. These findings demonstrate that K. parviflora extract is effective for the green biosynthesis of AuNPs and that the resulting nanoparticles exhibit promising antioxidant potential. | |
| 51645 | 54776 | F1D022002 | Analisis Kongruensi Janji Politik dengan Realisasi Kebijakan Publik melalui Program "Lapor Kuningan Melesat" di Kabupaten Kuningan | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kongruensi antara janji politik pasangan Dian Rachmat Yanuar–Tuti Andriani pada Pilkada Kabupaten Kuningan Tahun 2024 dengan realisasi kebijakan publik melalui Program Lapor Kuningan Melesat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pemetaan janji politik pada masa kampanye, penelusuran penerjemahan janji politik ke dalam program pemerintahan, dan analisis implementasi Program Lapor Kuningan Melesat. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian antara substansi program Pemerintah Gercep yang menekankan respons pemerintah, pelayanan publik, dan pemanfaatan teknologi dengan karakteristik Lapor Kuningan Melesat sebagai kanal pengaduan masyarakat berbasis teknologi. Namun, kongruensi tersebut tidak serta-merta menunjukkan keberhasilan penuh janji politik. Pada tahap implementasi masih ditemukan keterbatasan sumber daya, kebutuhan koordinasi antarperangkat daerah, serta penggunaan kanal pengaduan informal melalui media sosial kepala daerah. Dengan demikian, janji politik Pemerintah Gercep telah diterjemahkan ke dalam bentuk program yang kongruen, tetapi implementasinya masih belum sepenuhnya optimal. | This study aims to analyze the congruence between the political promises made by the Dian Rachmat Yanuar–Tuti Andriani ticket in the 2024 Kuningan Regency Regional Election and the implementation of public policies through the “Lapor Kuningan Melesat” Program. The study employs a qualitative method using a case study approach. The analysis was conducted in three stages: mapping political promises made during the campaign period; tracing the translation of political promises into government programs; and analyzing the implementation of the “Lapor Kuningan Melesat” program. The results indicate a alignment between the substance of the Gercep Government program—which emphasizes government responsiveness, public services, and the use of technology—and the characteristics of “Lapor Kuningan Melesat” as a technology-based public complaint channel. However, this congruence does not automatically indicate the full success of the political promises. During the implementation stage, limitations in resources, the need for coordination among local government agencies, and the use of informal complaint channels via the regional head’s social media accounts were still identified. Thus, the Gercep Government’s political promises have been translated into congruent programs, but their implementation has not yet been fully optimized | |
| 51646 | 55067 | I1E022042 | Pengaruh Latihan Daya Ledak Otot Tungkai Dan Kelincahan Terhadap Kemampuan Side Step Atlet Rugby Putri Kabupaten Banyumas | Kemampuan side step merupakan salah satu keterampilan penting dalam permainan rugby yang digunakan untuk menghindari hadangan lawan melalui perubahan arah secara cepat dengan tetap mempertahankan keseimbangan dan penguasaan bola. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan daya ledak otot tungkai dan kelincahan terhadap kemampuan side step atlet rugby putri Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu dengan rancangan one group pre test-post test. Subjek penelitian berjumlah 10 atlet yang dipilih menggunakan total sampling. Program latihan terdiri atas lateral bound, lateral box shuffle, dan T-drill yang dilaksanakan selama 14 pertemuan. Kemampuan side step diukur menggunakan Stop Side Step Test. Analisis data meliputi uji Shapiro-Wilk, paired sample t-test, dan effect size. Hasil penelitian menunjukkan penurunan rata-rata waktu SSST dari 5,2050 detik pada pre test menjadi 5,1850 detik pada post test. Uji paired sample t-test menunjukkan nilai t = 3,873 dengan p = 0,004. Nilai Cohen’s d sebesar 1,225 menunjukkan efek yang besar. Latihan daya ledak otot tungkai dan kelincahan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan side step atlet rugby putri Kabupaten Banyumas. | Sidestep ability is an important skill in rugby used to evade defenders through rapid changes of direction while maintaining balance and ball possession. This study aimed to determine the effect of leg muscle power and agility training on the sidestep ability of female rugby athletes in Banyumas Regency. The study used a quasi-experimental method with a one-group pretest-posttest design. Ten athletes were selected using total sampling. The training program consisted of lateral bound, lateral box shuffle, and T-drill exercises conducted over 14 sessions. Sidestep ability was assessed using the Stop Side Step Test. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test, paired-samples t-test, and effect size analysis. The results showed a reduction in mean SSST completion time from 5.2050 seconds at pretest to 5.1850 seconds at posttest. The paired-samples t-test produced t = 3.873 with p = 0.004. Cohen’s d was 1.225, indicating a large effect. Therefore, leg muscle power and agility training significantly affected the sidestep ability of female rugby athletes in Banyumas Regency. | |
| 51647 | 55068 | F1B019106 | ANALISIS KOORDINASI DAN PEMANFAATAN SIMBADAMAS DALAM PENGELOLAAN ASET KENDARAAN OPERASIONAL DI SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BANYUMAS | Pengelolaan aset daerah merupakan aspek penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel. Pemerintah Kabupaten Banyumas memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah dan Aset Milik Daerah (SIMBADAMAS) sebagai upaya meningkatkan pengelolaan aset. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa ketidaksesuaian data aset, keterbatasan sumber daya manusia, dan belum optimalnya pemanfaatan sistem. Penelitian ini bertujuan menganalisis koordinasi antara Sekretariat Daerah dan Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), pemanfaatan SIMBADAMAS dalam pengelolaan aset kendaraan operasional dinas, serta hambatan dan solusi dalam implementasinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan informan yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi antara Sekretariat Daerah dan BKAD telah mendukung tertib administrasi pengelolaan aset, meskipun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar pengambilan keputusan strategis. SIMBADAMAS meningkatkan efisiensi pencatatan, pelaporan, transparansi, dan pengawasan aset, tetapi masih terkendala keterbatasan sumber daya manusia, sistem yang berbasis desktop, serta pembaruan data yang belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan sistem yang lebih adaptif, penguatan koordinasi, dan pemutakhiran data secara berkala untuk mewujudkan pengelolaan aset yang lebih efektif, transparan, dan akuntabel. | Regional asset management is an important aspect of achieving effective, transparent, and accountable governance. The Banyumas Regency Government has implemented the Regional Goods and Assets Management Information System (SIMBADAMAS) to improve asset management. However, its implementation still faces several challenges, including discrepancies between asset records and actual conditions, limited human resources, and the suboptimal utilization of the system. This study aims to analyze the coordination between the Regional Secretariat and the Regional Financial and Asset Agency (BKAD), examine the utilization of SIMBADAMAS in managing official operational vehicle assets, and identify the obstacles and solutions in its implementation. This study employed a qualitative research method with a descriptive approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation. Informants were selected using purposive sampling, while data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The validity of the data was ensured through source triangulation. The findings indicate that coordination between the Regional Secretariat and BKAD has supported orderly asset administration, although it has not been fully utilized as a basis for strategic decision-making. SIMBADAMAS has improved the efficiency of asset recording, reporting, transparency, and monitoring. Nevertheless, its implementation is still constrained by limited human resources, a desktop-based system, and inadequate asset data updates. Therefore, enhancing human resource capacity, developing a more adaptive system, strengthening inter-agency coordination, and updating asset data regularly are necessary to achieve more effective, transparent, and accountable regional asset management. | |
| 51648 | 55069 | F1A019114 | Interaksi Sosial Umat Islam, Kristen, dan Katolik di Desa Kedunguter Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas | Interaksi sosial umat beragama memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. Ajaran agama, nilai, dan norma membentuk pola pikir, sikap serta perilaku umat beragama dalam berinteraksi. Tulisan ini mencoba memahami secara mendalam dan objektif tentang dinamika sosial Desa Kedunguter yang muncul seperti kerja sama, toleransi, solidaritas, maupun potensi konflik. Selain itu, membantu mengurangi prasangka isu Kristenisasi dengan menghadirkan data dan fakta ilmiah, sehingga terjadi pemahaman yang lebih adil dan inklusif. Metode yang digunakan dalam studi ini yaitu menggunakan pendekatan kualitatif yang dianalisis secara deskriptif terhadap data primer yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan atau observasi lapangan, dan didukung oleh data sekunder yang diperoleh dari buku dan Jurnal. Hal yang dianalisis dalam studi ini adalah pola dan bentuk interaksi sosial umat beragama, cara pandang umat beragama dalam berinteraksi sosial, dan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya interaksi sosial umat beragama di Desa Kedunguter. Hasil studi menunjukkan bahwa interaksi sosial umat beragama di Desa Kedunguter bersifat asosiatif (positif), seperti kerja sama, saling menghormati, saling menghargai, toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial. Keharmonisan tersebut tidak muncul secara spontan, tetapi merupakan hasil dari proses interaksi yang terus terpelihara melalui komunikasi, saling memahami, dan internalisasi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. | Social interaction among religious communities has a significant influence on social life within society. Religious teachings, values, and norms shape the thoughts, attitudes, and behaviors of religious communities in their interactions. This study seeks to gain an in-depth and objective understanding of the social dynamics in Kedunguter Village, including cooperation, tolerance, solidarity, and potential conflicts. In addition, this study contributes to reducing prejudice related to the issue of Christianization by presenting scientific data and facts, thereby promoting a fairer and more inclusive understanding. The method used in this study is a qualitative approach analyzed descriptively. Primary data were obtained through interviews and field observations, while secondary data were obtained from books and journals. The aspects analyzed in this study include the patterns and forms of social interaction among religious communities, their perspectives on social interaction, and the factors underlying social interaction among religious communities in Kedunguter Village. The results show that social interaction among religious communities in Kedunguter Village is associative (positive), as reflected in cooperation, mutual respect, appreciation, tolerance, mutual assistance, and social concern. This harmony does not emerge spontaneously but is the result of an ongoing process of interaction maintained through communication, mutual understanding, and the internalization of tolerance values in community life. | |
| 51649 | 55044 | K1C022021 | SILIKA TONGKOL JAGUNG TERDISPERSI PADA MEMBRAN POLIMER KARBOKSIMETIL SELULOSA (CMC)/LITHIUM PERKLORAT (LiClO4) SEBAGAI ELEKTROLIT PADAT BATERAI SEKUNDER | Baterai sekunder memerlukan elektrolit yang memiliki konduktivitas ionik tinggi dan stabilitas yang baik untuk menunjang kinerja serta keamanan selama proses pengisian dan pengosongan energi. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis silika dari limbah tongkol jagung, memfabrikasi membran elektrolit padat berbasis carboxymethyl cellulose (CMC)/lithium perklorat (LiClO₄) dengan penambahan silika tongkol jagung, serta menganalisis karakteristik struktur kristal, morfologi permukaan, dan konduktivitas ioniknya. Membran difabrikasi menggunakan metode solution casting dengan variasi penambahan silika sebesar 0% dan 12%. Hasil EIS menunjukkan bahwa konduktivitas ionik meningkat dari 4,50 × 10⁻⁷ S/cm pada membran CMC/LiClO₄ menjadi 4,66 × 10⁻⁶ S/cm setelah penambahan silika tongkol jagung 12%. | Secondary batteries require electrolytes with high ionic conductivity and excellent stability to ensure efficient performance and safe operation during charge–discharge cycles. This study aimed to synthesize silica from corn cob waste, fabricate solid polymer electrolyte membranes based on carboxymethyl cellulose (CMC)/lithium perchlorate (LiClO₄) incorporating corn cob silica, and investigate their crystal structure, surface morphology, and ionic conductivity. The membranes were prepared using the solution casting method with silica loadings of 0% and 12%. EIS measurements showed that the ionic conductivity increased from 4.50 × 10⁻⁷ S/cm for the pristine CMC/LiClO₄ membrane to 4.66 × 10⁻⁶ S/cm after the incorporation of 12% corn cob silica. | |
| 51650 | 55070 | A1A021041 | PENDAPATAN USAHATANI PADI PROTANI MENGGUNAKAN UNIT OUTPUT PRICE COBB DOUGLAS PROFIT FUNCTION DI KELOMPOK TANI TIRTO MARGO MULYO DESA BOJANEGARA | Kelompok Tani Tirto Margo Mulyo merupakan salah satu kelompok tani yang melakukan budidaya Padi Protani Unsoed. Padi Protani merupakan varietas unggul berprotein tinggi hasil pemuliaan Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki keunggulan produktivitas lebih tinggi dibandingkan varietas padi konvensional, kandungan protein tinggi, serta ketahanan terhadap hama, penyakit, dan kondisi lingkungan tertentu. Meskipun demikian, peningkatan produktivitas belum tentu diikuti oleh peningkatan pendapatan petani, sehingga diperlukan analisis ekonomi usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani Padi Protani serta faktor-faktor yang memengaruhinya di Kelompok Tani Tirto Margo Mulyo Desa Bojanegara, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan bahwa Desa Bojanegara merupakan salah satu sentra budidaya Padi Protani dan belum banyak dilakukan evaluasi ekonomi usahataninya. Responden berjumlah 46 petani yang menanam Padi Protani pada musim tanam Februari–Mei 2025. Variabel yang diukur meliputi pendapatan usahatani, harga jual padi, luas lahan, penyusutan alat, harga benih, harga pupuk urea, harga pupuk phonska, harga pestisida, dan upah tenaga kerja. Analisis pendapatan dilakukan dengan menghitung selisih antara penerimaan dan total biaya produksi, sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan dianalisis menggunakan Unit Output Price Cobb Douglas Profit Function. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani Padi Protani memberikan pendapatan yang positif bagi petani. Rata-rata pendapatan tertinggi diperoleh oleh petani pemilik lahan yaitu Rp16.358.404,76 per usahatani, diikuti oleh petani sewa dengan pendapatan sebesar Rp6.890.312,50 per usahatani dan petani sakap sebesar Rp6.467.705,88 per usahatani. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pendapatan usahatani Padi Protani adalah penyusutan alat, harga benih, dan harga pupuk urea, sedangkan luas lahan serta variabel harga input produksi lain seperti harga pupuk phonska, harga pestisida, dan upah tenaga kerja tidak berpengaruh atau tidak signifikan. | The Tirto Margo Mulyo Farmer Group is one of the farmer groups that cultivates Protani Unsoed Rice Variety. Protani Unsoed Rice Variety is a high-protein superior variety resulting from plant breeding at Jenderal Soedirman University, which has advantages in higher productivity compared to conventional rice varieties, high protein content, and resistance to pests, diseases, and certain environmental conditions. However, increased productivity is not always followed by increased farmer’s income, therefore an economic analysis of farming activities is required. This study aims to analyze the income of Protani rice farming and the factors affecting it in the Tirto Margo Mulyo Farmer Group, Bojanegara Village, Padamara District, Purbalingga Regency. The research employed a quantitative descriptive approach using a survey method. The study location was selected purposively, considering that Bojanegara Village is one of the Protani rice cultivation centers and has not been widely evaluated from an economic perspective. The respondents consisted of 46 farmers who cultivated Protani rice during the February–May 2025 planting season. The variables observed included farm income, output price, land area, equipment depreciation, seed price, urea fertilizer price, phonska fertilizer price, pesticide price, and labor wages. Farm income was calculated as the difference between total revenue and total production costs, while the factors influencing income were analyzed using the Unit Output Price Cobb Douglas Profit Function. The results indicate that Protani rice farming generates positive income for farmers. The highest average income was obtained by landowner farmers at Rp16,358,404.76 per farming cycle, followed by tenant farmers at Rp6,890,312.50 and sharecroppers at Rp6,467,705.88 per farming cycle. The analysis shows that equipment depreciation, seed price, and urea fertilizer price significantly affect farm income, while land area and other input price variables such as phonska fertilizer, pesticide prices, and labor wages tend to have no effects or insignificant. | |
| 51651 | 55071 | A1D019174 | RESPON PERTUMBUHAN PLANTLET ANGGREK DENDROBIUM HASIL PERSILANGAN D. antennatum x D. stratiotes PADA PERBEDAAN KONSENTRASI IAA DAN BAP FASE SUB KULTUR | Dendrobium merupakan salah satu genus anggrek terbesar, namun pemenuhannya di Indonesia masih bergantung pada impor akibat keterbatasan metode perbanyakan cepat. Kultur jaringan menjadi solusi efektif untuk perbanyakan massal dalam waktu singkat, di mana keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh faktor eksplan, zat pengatur tumbuh (ZPT), dan media tanam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konsentrasi tunggal dan kombinasi IAA serta BAP terhadap pertumbuhan plantlet anggrek Dendrobium hasil persilangan in vitro pada fase subkultur. Metode eksprimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan berupa konsentrasi IAA dan BAP yang masing-masing terdiri atas empat taraf (0, 5, 10, dan 15 μM). Data dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut DMRT pada taraf 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi IAA 15 μM dan BAP 15 μM paling efektif meningkatkan tinggi tunas plantlet. Secara mandiri, aplikasi IAA 10 μM dan 15 μM berpengaruh nyata mengoptimalkan tinggi tunas, jumlah, panjang, serta waktu inisiasi akar. Sementara itu, aplikasi BAP 15 μM tunggal nyata meningkatkan jumlah daun, jumlah, tinggi, dan mempercepat inisiasi tunas. | Dendrobium is one of the largest orchid genera, yet its supply in Indonesia heavily relies on imports due to the lack of rapid propagation methods. Tissue culture offers an effective solution for mass propagation in a short period, with success highly influenced by explant types, plant growth regulators (PGRs), and culture media. This study aimed to analyze the effect of single concentrations and combinations of IAA and BAP on the growth of Dendrobium orchid plantlets from an in vitro cross during the subculture phase. The experimental method utilized a completely randomized design (CRD) in a factorial pattern with three replications. The treatment factors consisted of IAA and BAP concentrations, each with four levels (0, 5, 10, and 15 μM). Data were analyzed using ANOVA followed by DMRT at a 95% confidence level. The results showed that the combination of 15 μM IAA and 15 μM BAP was the most effective treatment for increasing plantlet shoot height. Individually, the application of 10 μM and 15 μM IAA significantly optimized shoot height, root number, root length, and accelerated root initiation time. Meanwhile, the single application of 15 μM BAP significantly increased leaf number, shoot number, shoot height, and accelerated shoot initiation. | |
| 51652 | 55072 | F2B024004 | Strategies for Utilizing Social Capital in the "Sapta Darma" Belief Community Amidst Social Stigma | Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat strategi pemanfaatan kapital sosial yang dilakukan oleh Komunitas Penghayat Kepercayaan “Sapta Darma” dalam menjaga eksistensi di tengah stigma negatif yang masih berkembang dalam masyarakat. Legalitas yang diterima berupa putusan Mahkamah Konstitusi No. 97/PUU-XIV/2016 tentang pencantuman penghayat kepercayaan pada kolom agama di KTP belum sepenuhnya dapat mengubah persepsi masyarakat terkait keberadaannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive yaitu kepada ketua dan anggota komunitas penghayat tersebut. Jumlah informan ada empat orang, terdiri atas satu laki-laki dan tiga perempuan. Mereka ada pada rentang usia 20-70 tahun. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis interaktif yang unsur tahapannya terdiri atas pengumpulan data, kondensasi data, sajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemanfaatan kapital sosial penghayat kepercayaan “Sapta Darma” dilakukan dengan tiga cara, yaitu: pertama, pengamalan ajaran “Sapta Darma” sebagai bentuk bonding capital yang berfungsi untuk memperkuat identitas dan merekatkan hubungan internal komunitas. Kedua, keterlibatan dalam kegiatan kemasyarakatan sebagai bentuk bridging capital yang membuka ruang pertukaran informasi dan menjadi wujud pengamalan ajaran budi luhur dalam relasi sosial. Ketiga, kerja sama dengan instansi pemerintahan sebagai bentuk linking capital yang memberikan akses lebih luas pada sektor publik dan mendukung keberlanjutan eksistensi komunitas. | The purpose of this research is to examine the strategies for utilizing social capital employed by the "Sapta Darma" Belief Community in maintaining its existence amidst the negative stigma that still persists in society. The legality received in the form of the Constitutional Court's decision No. 97/PUU-XIV/2016 regarding the inclusion of belief adherents in the religion column on ID cards has not fully changed public perception regarding their existence. This research is a qualitative study with data collection methods including observation, in-depth interviews, and documentation. The selection of informants was conducted purposively, specifically targeting the leader and members of the community of practitioners. The number of informants is four, consisting of one man and three women. They are in the age range of 20-70 years. The collected data were analyzed using interactive analysis techniques, which consist of data collection, data condensation, data presentation, and conclusion verification. The research results show that the strategy of utilizing social capital by the followers of the "Sapta Darma" belief is carried out in three ways: first, the practice of "Sapta Darma" teachings as a form of bonding capital that functions to strengthen identity and reinforce internal community relationships. Second, involvement in community activities as a form of bridging capital that opens up spaces for information exchange and embodies the practice of noble teachings in social relations. Third, cooperation with government agencies as a form of linking capital that provides broader access to the public sector and supports the sustainability of the community's existence. | |
| 51653 | 55073 | A1F022107 | Analisis Kadar Serat Kasar, Vitamin C, dan Antosianin Kefir Sinbiotik Susu Kambing dengan Penambahan Ekstrak Beras Hitam, Bit, dan Buah Naga. | Kefir sinbiotik merupakan minuman fermentasi yang mengombinasikan komponen probiotik dan prebiotik sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Susu kambing dipilih karena memiliki karakteristik yang relatif mudah dicerna dan mengandung protein serta mineral yang mendukung nilai gizi produk. Kandungan gizi tersebut menyediakan substrat yang mendukung aktivitas mikroorganisme selama fermentasi kefir. Penambahan ekstrak beras hitam, umbi bit, dan buah naga merah digunakan sebagai perlakuan yang berbeda karena masing-masing memiliki karakteristik kandungan bioaktif yang berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut diharapkan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kadar serat kasar, vitamin C, dan antosianin pada kefir sinbiotik susu kambing. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jenis, konsentrasi ekstrak, kombinasi keduanya terhadap karakteristik kimia kefir sinbiotik susu kambing yang meliputi kadar serat kasar, vitamin C, dan antosianin, serta menentukan perlakuan terbaik dari ketiga parameter tersebut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama terdiri atas ekstrak beras hitam, umbi bit, dan buah naga. Faktor kedua terdiri atas empat taraf konsentrasi ekstrak, yaitu 0,5%, 1,0%, 1,5%, dan 2,0%, sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan. Produk ini ditambahkan tepung kulit pisang sebagai sumber prebiotik dengan jumlah yang sama pada semua perlakuan dan difermentasi menggunakan kefir grains selama 24 jam. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (Two-Way ANOVA) pada taraf nyata 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) apabila terdapat perbedaan nyata, serta penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ekstrak berpengaruh nyata terhadap kadar serat kasar, vitamin C, dan antosianin kefir sinbiotik susu kambing. Konsentrasi ekstrak hanya berpengaruh nyata terhadap kadar vitamin C dan antosianin, sedangkan kombinasi antara jenis dan konsentrasi ekstrak hanya berpengaruh terhadap kadar antosianin. Berdasarkan hasil analisis TOPSIS terhadap ketiga parameter, perlakuan terbaik adalah kefir sinbiotik susu kambing dengan penambahan ekstrak buah naga merah 2%. Perlakuan terbaik tersebut memiliki kadar serat kasar sebesar 4,728%, vitamin C sebesar 45,467 mg/100 g, dan antosianin sebesar 31,978 mg/100 g. | Synbiotic kefir is a fermented beverage that combines probiotic and prebiotic components, making it a promising candidate for development as a functional food. Goat milk was selected as the milk base due to its relatively high digestibility and its protein and mineral contents, which contribute to the nutritional value of the product. These nutrients also provide substrates that support microbial activity during kefir fermentation. Extracts of black rice, beetroot, and red dragon fruit were incorporated as different treatments because each possesses distinct bioactive characteristics. These differences were expected to produce varying effects on the crude fiber, vitamin C, and anthocyanin contents of goat milk synbiotic kefir. This study aimed to determine the effects of extract type, extract concentration, and their interaction on the chemical characteristics of goat milk synbiotic kefir, including crude fiber, vitamin C, and anthocyanin contents, as well as to determine the best treatment based on these three parameters. The study employed a two-factor factorial Completely Randomized Design (CRD) with three replications. The first factor consisted of black rice, beetroot, and red dragon fruit extracts, while the second factor consisted of four extract concentrations, namely 0.5%, 1.0%, 1.5%, and 2.0%, resulting in 12 treatment combinations. Banana peel flour was added as a prebiotic source at the same concentration in all treatments, and the products were fermented using kefir grains for 24 h. The data were analyzed using two-way analysis of variance (ANOVA) at a 5% significance level, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) when significant differences were observed. The best treatment was determined using the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). The results showed that extract type significantly affected the crude fiber, vitamin C, and anthocyanin contents of goat milk synbiotic kefir. Extract concentration significantly affected vitamin C and anthocyanin contents, whereas the interaction between extract type and concentration significantly affected only anthocyanin content. Based on TOPSIS analysis of the three parameters, the best treatment was goat milk synbiotic kefir supplemented with 2% red dragon fruit extract. The selected treatment contained 4.728% crude fiber, 45.467 mg/100 g vitamin C, and 31.978 mg/100 g anthocyanins. | |
| 51654 | 55074 | A1D019168 | Serangan Hama Spodoptera frugiperda dan Keberadaan Musuh Alami Pada Tanaman Jagung di Kabupaten Banyumas | Fall armyworm (Spodoptera frugiperda) merupakan hama invasif penting pada tanaman jagung yang berpotensi menurunkan produktivitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui intensitas serangan S. frugiperda serta mengeksplorasi dan mengidentifikasi musuh alami lokal pada pertanaman jagung di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan Juli 2024–Februari 2025 melalui survei pada lima kecamatan, yaitu Sumbang, Baturraden, Kembaran, Kedungbanteng, dan Karanglewas. Pada setiap kecamatan dipilih lima desa, sehingga terdapat 25 lokasi sampel. Pada setiap lahan diamati 20 tanaman dengan pola diagonal. Variabel yang diamati meliputi intensitas serangan, jenis dan tingkat pemarasitan parasitoid, jenis dan populasi predator, serta praktik budidaya melalui wawancara petani. Data intensitas serangan dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf 5% dan dilanjutkan uji BNT 5% apabila berbeda nyata. Intensitas serangan S. frugiperda di Kabupaten Banyumas berkisar 7,50–32,00%. Rerata intensitas antar-kecamatan berkisar 17,05–22,71%, dengan nilai terendah di Karanglewas dan tertinggi di Baturraden. Pada tingkat desa, serangan terendah terdapat di Kebanggan, Sumbang (7,50%), sedangkan tertinggi di Karangsoka, Kembaran (32,00%). Tidak ditemukan parasitoid yang menyerang telur S. frugiperda selama pengamatan. Sebaliknya, ditemukan tujuh predator, yaitu Cheilomenes sexmaculata, Coelophora inaequalis, Solenopsis sp., Dolichoderus thoracicus, Sycanus sp., Oxyopes sp., dan Tetragnatha sp., dengan total 571 individu. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pengendalian hama oleh petani umumnya masih mengandalkan pestisida kimia dengan frekuensi aplikasi 1–4 kali dalam satu musim tanam. Keberadaan predator lokal menunjukkan adanya komponen pengendalian hayati yang berpotensi dipertahankan dan dikembangkan dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). | Fall armyworm (Spodoptera frugiperda) is an important invasive pest on corn crops that has the potential to reduce productivity. This study aimed to find out the intensity of S. frugiperda attacks and to explore and identify local natural enemies in corn farming in Banyumas Regency. The research was carried out from July 2024 to February 2025 through surveys in five districts: Sumbang, Baturraden, Kembaran, Kedungbanteng, and Karanglewas. In each district, five villages were selected, making a total of 25 sample locations. In each field, 20 plants were observed using a diagonal pattern. The variables observed included attack intensity, types and parasitism rates of parasitoids, types and populations of predators, as well as cultivation practices through farmer interviews. Attack intensity data were analyzed using ANOVA at a 5% level and followed by a 5% BNT test if there were significant differences. The intensity of S. frugiperda attacks in Banyumas Regency ranges from 7.50–32.00%. The average intensity between sub-districts ranges from 17.05–22.71%, with the lowest in Karanglewas and the highest in Baturraden. At the village level, the lowest attack was found in Kebanggan, Sumbang (7.50%), while the highest was in Karangsoka, Kembaran (32.00%). No parasitoids attacking S. frugiperda eggs were found during the observation. On the other hand, seven predators were found, namely Cheilomenes sexmaculata, Coelophora inaequalis, Solenopsis sp., Dolichoderus thoracicus, Sycanus sp., Oxyopes sp., and Tetragnatha sp., totaling 571 individuals. Interviews showed that farmers generally still rely on chemical pesticides for pest control, with application frequency 1–4 times per planting season. The presence of local predators indicates a potential biological control component that can be maintained and developed in implementing Integrated Pest Management (IPM). | |
| 51655 | 55075 | F1B019113 | IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN JALAN VIHARA PURWOKERTO | Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan perkotaan menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menjaga ketertiban ruang publik tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha masyarakat. Kawasan Jalan Vihara Purwokerto sebelumnya menjadi salah satu lokasi aktivitas PKL yang menimbulkan persoalan terkait ketertiban, kelancaran lalu lintas, kebersihan, dan kenyamanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Jalan Vihara Purwokerto berdasarkan Keputusan Bupati Banyumas Nomor 231 Tahun 2026 tentang Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn yang mencakup standar dan tujuan kebijakan, sumber daya, komunikasi antarorganisasi, karakteristik organisasi pelaksana, disposisi pelaksana, serta kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan politik. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan penataan PKL di Kawasan Jalan Vihara secara umum telah berjalan cukup baik. Relokasi pedagang berhasil mengembalikan fungsi Kawasan sebagai ruang publik yang tertib dan bersih. Namun, pelaksanaan kebijakan belum sepenuhnya optimal karena kendala penurunan omzet pedagang, keterbatasan fasilitas relokasi, serta tantangan keberlanjutan pengawasan. | Street Vendor management in urban areas is one of the government's efforts to maintain public space order without neglecting the sustainability of community businesses. The Jalan Vihara area in Purwokerto was previously an active location for street vendors, which raised issues regarding public order, traffic flow, cleanliness, and public comfort. This study aims to analyze the implementation of the street vendor management policy in the Jalan Vihara Purwokerto area based on the Regent of Banyumas Decree Number 231 of 2026 concerning the Location and Operating Hours of Street Vendor Activities. This research employs a descriptive qualitative method using Van Meter and Van Horn's policy implementation theory, which encompasses policy standards and objectives, resources, inter-organizational communication, characteristics of the implementing organization, disposition of implementers, and the social, economic, and political environment. Data were gathered through interviews, observations, and documentation involving nine informants. The results show that the implementation of the street vendor management policy in the Jalan Vihara area has generally run quite well. Regulatory clarity, inter-agency coordination, implementer commitment, persuasive communication, and community support serve as key success factors. Relocating vendors to Pasar Wage successfully restored the function of the Jalan Vihara area as an orderly and clean public space. However, policy execution is not yet fully optimal due to challenges such as decreased vendor income, limited relocation facilities, and ongoing enforcement sustainability issues. | |
| 51656 | 55076 | A1F022109 | Pengaruh Konsentrasi Enzim Rennet dan Ekstrak Kecombrang (Etlingera elatior) Terhadap Karakteristik Fisikokimia, Mikrobiologi, dan Sensori Cream Cheese | Cream cheese merupakan jenis keju lunak yang memiliki karakteristik tekstur lembut, berwarna putih, rasa sedikit gurih, dan mudah diaplikasikan pada produk pangan. Cream cheese menjadi produk olahan susu yang dibuat melalui proses penggumpalan menggunakan kultur bakteri asam laktat dan enzim koagulan yang menghasilkan curd sebagai bahan utama cream cheese. Penggunaan enzim rennet berperan mengkoagulasi protein kasein sehingga perbedaan konsentrasi rennet dapat memengaruhi karakteristik cream cheese. Penambahan ekstrak kecombrang berfungsi sebagai bahan alami untuk meningkatkan mutu cream cheese sebagai pangan fungsional yang mengandung senyawa antimikroba dan antioksidan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 kombinasi perlakuan dengan dua faktor yaitu konsentrasi enzim rennet (0,5%, 1%, 1,5% dan 2%) dan ekstrak kecombrang (2%, 5%, dan 7%) dengan tiga kali ulangan. Bahan baku yang digunakan berupa campuran susu sapi dan susu kambing dengan perbandingan 70% : 30% (b/b). Parameter yang diamati yaitu karakteristik fisikokimia (rendemen, sineresis, daya oles, warna, pH, kadar air, kadar protein, dan kadar lemak), mikrobiologi (total bakteri asam laktat), dan sensori (uji mutu hedonik dan hedonik). Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5% untuk data parametrik, dan data sensori dianalisis uji Friedman. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi enzim rennet berpengaruh nyata terhadap rendemen, sineresis, warna, pH, kadar protein, kadar lemak, kadar air, dan total bakteri asam laktat serta sebagian besar atribut sensori. Variasi konsentrasi ekstrak kecombrang berpengaruh nyata terhadap rendemen, sineresis, daya oles, warna, pH, kadar air, kadar protein, dan total bakteri asam laktat, serta atribut sensori. Berdasarkan analisis TOPSIS perlakuan terbaik karakteristik fisikokimia dan mikrobiologi yaitu perlakuan rennet 0,5% dan ekstrak kecombrang 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rennet 0,5% dan konsentrasi ekstrak kecombrang 5% merupakan konsentrasi yang lebih efektif dalam menghasilkan cream cheese dengan karakteristik fisik, kimia dan mikrobiologi berdasarkan atribut mutu secara objektif. Pada konsentrasi ekstrak kecombrang 7% menjadi perlakuan dengan nilai keseluruhan (overall) tertinggi. | Cream cheese is a type of soft cheese characterized by a smooth texture, white color, a mildly savory flavor, and ease of application to food products. It is a dairy product manufactured through a coagulation process using lactic acid bacteria cultures and coagulating enzymes, which yield the curd that serves as the primary ingredient. Rennet enzymes facilitate the coagulation of casein proteins; consequently, variations in rennet concentration can influence the characteristics of the cream cheese. The addition of Torch ginger extract serves as a natural means to enhance the quality of the cream cheese as a functional food, owing to the presence of antimicrobial and antioxidant compounds. This study employed a Randomized Block Design (RBD) featuring 12 treatment combinations based on two factors: rennet enzyme concentration (0.5%, 1%, 1.5%, and 2%) and kecombrang extract concentration (2%, 5%, and 7%), with three replications. The raw material consisted of a mixture of cow's milk and goat's milk in a 70:30 (w/w) ratio. The parameters observed included physicochemical characteristics (yield, syneresis, spreadability, color, pH, moisture content, protein content, and fat content), microbiological properties (total lactic acid bacteria), and sensory attributes (hedonic quality and hedonic tests). Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the 5% level for parametric data, while sensory data were analyzed using the Friedman test. The best treatment was determined using the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) method. The research results indicate that rennet enzyme concentration significantly affects yield, syneresis, color, pH, protein content, fat content, moisture content, total lactic acid bacteria, and most sensory attributes. Variations in kecombrang extract concentration significantly influence yield, syneresis, spreadability, color, pH, moisture content, protein content, total lactic acid bacteria, and sensory attributes. Based on TOPSIS analysis, the treatment yielding the best physicochemical and microbiological characteristics was the combination of 0.5% rennet and 5% kecombrang extract. The findings demonstrate that concentrations of 0.5% rennet and 5% kecombrang extract are more effective for producing cream cheese with desirable physical, chemical, and microbiological characteristics based on objective quality attributes. However, the treatment with 7% kecombrang extract achieved the highest overall score | |
| 51657 | 55082 | E1A019256 | PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG POLIS TERHADAP WANPRESTASI YANG DILAKUKAN PT. ASURANSI JIWA ADISARANA WANAARTHA DENGAN PUTUSAN NOMOR 1098/PDT.G/2022/PN. JKT. SEL | Industri perasuransian Indonesia menyimpan masalah serius, salah satunya pemegang polis kerap berada dalam posisi lemah ketika perusahaan asuransi tidak memenuhi kewajibannya. Kasus PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha membuktikan hal ini secara nyata. Perusahaan menolak membayar manfaat nilai tunai kepada pemegang polis dengan alasan pemblokiran rekening efek, padahal pemegang polis telah memenuhi seluruh kewajibannya. Kondisi ini menunjukkan adanya celah serius dalam pelaksanaan perjanjian asuransi jiwa di Indonesia. Penelitian Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Analisis dilakukan secara normatif kualitatif dengan menghubungkan fakta hukum dalam putusan dengan teori dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha terbukti melakukan wanprestasi dalam bentuk tidak memenuhi prestasi sama sekali. Perusahaan tidak membayarkan manfaat nilai tunai dan tidak membayar ganti rugi senilai Rp4.525.241.371 kepada penggugat, meskipun penggugat telah membayar premi secara penuh dan mengajukan somasi secara formal. Perlindungan hukum yang diterima pemegang polis berwujud perlindungan hukum represif. Melalui putusan pengadilan, majelis hakim menyatakan tergugat wanprestasi dan menghukumnya untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan Pasal 1267 KUHPerdata dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian. | The Indonesian insurance industry faces serious problems, one of which is that policyholders often find themselves in a vulnerable position when insurance companies fail to fulfill their obligations. The case of PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha clearly demonstrates this. The company refused to pay cash value benefits to policyholders on the grounds that their securities accounts had been frozen, even though the policyholders had fulfilled all their obligations. This situation highlights a serious gap in the implementation of life insurance contracts in Indonesia. This study employs a normative legal methodology using a case approach and a statutory approach. The analysis is conducted through qualitative normative analysis by linking the legal facts in the court decision with applicable theories and statutory regulations. The findings of the investigation show that PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha was found to have breached its contractual obligations by failing to fulfill them entirely. The company failed to pay the cash value benefits and did not pay compensation in the amount of Rp4,525,241,371 to the plaintiff, even though the plaintiff had paid the premiums in full and issued a formal demand letter. The legal protection afforded to the policyholder took the form of repressive legal protection. Through the court’s decision, the panel of judges found the defendant in breach of contract and ordered it to fulfill its obligations pursuant to Article 1267 of the Civil Code and Law No. 40 of 2014 on Insurance. | |
| 51658 | 55077 | A1D022208 | Pengurangan Dosis NPK Sintetis dan Aplikasi Photosynthetic Bacteria terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Daun (Allium fistulosum) | Bawang daun (Allium fistulosum) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan di dataran tinggi karena responsif terhadap suhu rendah, kelembaban tinggi, dan intensitas cahaya yang optimal. Peningkatan produksi selama ini bergantung pada pemupukan NPK sintetis, yang jika digunakan terus-menerus berpotensi menurunkan efisiensi pemupukan dan mengganggu kualitas lingkungan. Salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan tersebut adalah aplikasi Photosynthetic Bacteria (PSB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi PSB, pengurangan dosis NPK sintetis, serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang daun. Penelitian dilaksanakan di screenhouse kelompok tani Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, serta Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, pada September 2025–Januari 2026, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor: dosis PSB (0, 10, 20 mL/L air) dan pengurangan dosis NPK sintetis (0%, 25%, 50%, 75%). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, jumlah anakan, bobot segar dan kering tanaman, bobot segar akar, panjang akar, diameter pseudotunggang, dan kadar klorofil total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan dosis NPK sintetis tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh variabel pertumbuhan dan hasil. Aplikasi PSB dosis 20 mL/L berpengaruh nyata meningkatkan panjang daun pada umur 4, 6, dan 8 MST, sedangkan variabel lain tidak berbeda nyata. Tidak ditemukan interaksi nyata antara PSB dan pengurangan dosis NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang daun. | Welsh onion (Allium fistulosum) was a horticultural commodity widely cultivated in highland areas due to its responsiveness to cool temperatures, high humidity, and optimal light intensity. Production improvement had relied on high doses of synthetic NPK fertilizer, which, when applied continuously, potentially reduced fertilization efficiency and disrupted environmental quality. One alternative to reduce this dependency was the application of Photosynthetic Bacteria (PSB). This study aimed to determine the effects of PSB application, reduced synthetic NPK dose, and their interaction on the growth and yield of welsh onion. The study was conducted in a screenhouse belonging to a farmer group in Serang Village, Karangreja District, Purbalingga Regency, and at the Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman, from September 2025 to January 2026, using a factorial Randomized Block Design (RBD) with two factors: PSB dose (0, 10, and 20 mL/L water) and synthetic NPK dose reduction (0%, 25%, 50%, and 75%). Observed variables included plant height, leaf length, number of leaves, number of tillers, fresh and dry plant weight, fresh root weight, root length, pseudostem diameter, and total chlorophyll content. Results showed that reducing the synthetic NPK dose had no significant effect on any growth or yield variable. PSB application at 20 mL/L significantly increased leaf length at 4, 6, and 8 weeks after planting (WAP), while other variables showed no significant differences. No significant interaction was found between PSB application and NPK dose reduction on welsh onion growth and yield. | |
| 51659 | 55079 | B3A020001 | POTENSI DAUN KITOLOD (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) SEBAGAI AGEN ANTIPROLIFERASI DAN PRO APOPTOSIS SEL KANKER SERVIKS PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI BENZO[A]PYRENE | Kanker serviks merupakan salah satu keganasan yang banyak terjadi pada perempuan dan ditandai oleh peningkatan proliferasi sel serta gangguan mekanisme apoptosis. Pengembangan agen kemopreventif berbahan alam menjadi salah satu pendekatan yang berpotensi dalam menghambat perkembangan kanker. Daun kitolod (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekstrak etanol daun kitolod sebagai agen antiproliferasi dan proapoptosis pada sel kanker serviks tikus Wistar (Rattus norvegicus) betina yang diinduksi Benzo[a]pyrene (B[a]P), berdasarkan ekspresi Ki-67, p53, Bcl-2, dan caspase-3 serta gambaran histopatologi serviks. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan desain post-test only control group. Sebanyak 25 ekor tikus Wistar betina dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing terdiri atas lima ekor, yaitu kelompok kontrol sehat, kelompok kontrol negatif yang diinduksi B[a]P, serta tiga kelompok perlakuan yang diinduksi B[a]P dan diberikan ekstrak etanol daun kitolod dengan dosis 100, 200, dan 300 mg/kgBB/hari selama 30 hari. Ekstrak daun kitolod dikarakterisasi melalui skrining fitokimia dan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Ekspresi Ki-67, p53, Bcl-2, dan caspase-3 pada jaringan serviks dianalisis menggunakan pemeriksaan imunohistokimia, sedangkan perubahan morfologi jaringan diamati melalui pemeriksaan histopatologi dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (H&E). Data dianalisis menggunakan one-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun kitolod mampu menurunkan ekspresi Ki-67 dan Bcl-2 serta meningkatkan ekspresi p53 dan caspase-3 dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Perubahan tersebut menunjukkan kecenderungan yang bergantung pada peningkatan dosis, dengan efek paling kuat pada dosis 300 mg/kgBB/hari. Pemeriksaan histopatologi juga menunjukkan perbaikan gambaran jaringan serviks pada kelompok perlakuan, terutama pada dosis 300 mg/kgBB/hari, yang menunjukkan gambaran jaringan lebih mendekati kondisi normal. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa ekstrak etanol daun kitolod memiliki aktivitas antiproliferasi melalui penurunan ekspresi Ki-67 serta aktivitas proapoptosis yang ditunjukkan oleh peningkatan p53 dan caspase-3 disertai penurunan Bcl-2. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun kitolod (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) berpotensi sebagai agen antiproliferasi dan proapoptosis pada model karsinogenesis serviks tikus Wistar betina yang diinduksi Benzo[a]pyrene. Potensi tersebut ditunjukkan melalui modulasi ekspresi Ki-67, p53, Bcl-2, dan caspase-3 serta perbaikan gambaran histopatologi jaringan serviks, dengan respons paling kuat pada dosis 300 mg/kgBB/hari. Temuan ini mendukung potensi daun kitolod sebagai kandidat bahan alam untuk dikembangkan lebih lanjut dalam penelitian kemoprevensi kanker serviks. Kata kunci: Benzo[a]pyrene, Bcl-2, caspase-3, Hippobroma longiflora (L.) G. Don, kanker serviks, Ki-67, p53. | Cervical cancer is one of the most common malignancies affecting women and is characterized by increased cell proliferation and impaired apoptotic mechanisms. The development of natural-product-based chemopreventive agents represents a potential approach to inhibiting cancer progression. Kitolod (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) leaves contain various bioactive compounds with potential antioxidant and anticancer activities. This study aimed to evaluate the potential of ethanol extract of kitolod leaves as an antiproliferative and pro-apoptotic agent in cervical cancer cells of female Wistar rats (Rattus norvegicus) induced with Benzo[a]pyrene (B[a]P), based on the expression of Ki-67, p53, Bcl-2, and caspase-3, as well as cervical histopathological changes. This laboratory experimental study employed a post-test-only control group design. A total of 25 female Wistar rats were divided into five groups, with five rats in each group: a healthy control group, a negative control group induced with B[a]P, and three treatment groups induced with B[a]P and administered ethanol extract of kitolod leaves at doses of 100, 200, and 300 mg/kg BW/day for 30 days. The kitolod leaf extract was characterized using phytochemical screening and Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). The expression of Ki-67, p53, Bcl-2, and caspase-3 in cervical tissues was assessed by immunohistochemical examination, while tissue morphological changes were evaluated by histopathological examination using hematoxylin and eosin (H&E) staining. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by Bonferroni post hoc tests, with p<0.05 considered statistically significant. The results demonstrated that ethanol extract of kitolod leaves reduced Ki-67 and Bcl-2 expression while increasing p53 and caspase-3 expression compared with the negative control group. These changes showed a dose-dependent trend, with the strongest effect observed at 300 mg/kg BW/day. Histopathological examination also demonstrated improvement in cervical tissue morphology in the treatment groups, particularly at 300 mg/kg BW/day, with tissue morphology approaching that of the normal condition. These findings indicate that ethanol extract of kitolod leaves exerts antiproliferative activity through reduced Ki-67 expression and promotes apoptosis through increased p53 and caspase-3 expression accompanied by decreased Bcl-2 expression. Conclusion: Ethanol extract of kitolod leaves (Hippobroma longiflora (L.) G. Don) has potential as an antiproliferative and pro-apoptotic agent in a B[a]P-induced cervical carcinogenesis model in female Wistar rats. This potential is demonstrated by modulation of Ki-67, p53, Bcl-2, and caspase-3 expression and improvement in cervical histopathological features, with the strongest response observed at 300 mg/kg BW/day. These findings support the potential of kitolod leaves as a natural-product candidate for further development in cervical cancer chemoprevention research. Keywords: Benzo[a]pyrene, Bcl-2, caspase-3, cervical cancer, Hippobroma longiflora (L.) G. Don, Ki-67, p53. | |
| 51660 | 55078 | I1E022011 | PENGARUH METODE SMALL-SIDES GAMES TERHADAP KONDISI & KETERAMPILAN TEKNIK DASAR PEMAIN SEPAK BOLA U-17 SSB JAYA MANDIRI PETANAHAN KEBUMEN | Kondisi fisik dan keterampilan teknik dasar merupakan dua komponen penting dalam menunjang performa pemain sepak bola. Hasil observasi awal pada pemain U-17 SSB Jaya Mandiri Petanahan Kebumen menunjukkan bahwa beberapa komponen kondisi fisik dan keterampilan teknik dasar masih belum optimal. Salah satu metode latihan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kedua aspek tersebut secara terpadu adalah Small-Sided Games (SSG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode Small-Sided Games terhadap kondisi fisik dan keterampilan teknik dasar pemain sepak bola U-17 SSB Jaya Mandiri Petanahan Kebumen. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu dengan desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian berjumlah 30 pemain yang dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok eksperimen sebanyak 15 pemain serta kelompok kontrol sebanyak 15 pemain. Kelompok eksperimen mendapatkan latihan Small-Sided Games, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan latihan konvensional. Program latihan dilaksanakan selama enam minggu dengan total 16 kali pertemuan. Pengukuran kondisi fisik meliputi Push Up Test, Standing Broad Jump Test, Illinois Agility Test, Sprint 20 Meter Test, Yo-Yo Intermittent Recovery Test, Stork Stand Test, dan Wall Toss/Foot Tap Test. Keterampilan teknik dasar diukur melalui Passing Test, Dribble Test, Shooting Accuracy Test, dan Control/Juggling Test. Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk, Levene's Test, Paired Sample t-test, dan Independent Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok Small-Sided Games mengalami peningkatan kondisi fisik dari nilai rata-rata 69,40 pada pretest menjadi 82,13 pada posttest. Hasil Paired Sample t-test menunjukkan nilai t = -12,846 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Pada keterampilan teknik dasar, nilai rata-rata kelompok SSG meningkat dari 69,40 menjadi 82,13, dengan nilai t = -12,748 dan signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil Independent Sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok SSG dan kelompok kontrol pada kondisi fisik (t = 4,787; p = 0,000) dan keterampilan teknik dasar (t = 4,982; p = 0,000). Metode Small-Sided Games berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kondisi fisik dan keterampilan teknik dasar pemain sepak bola U-17 SSB Jaya Mandiri Petanahan Kebumen. | Physical condition and basic technical skills are two important components supporting football players' performance. Initial observations of U-17 players at SSB Jaya Mandiri Petanahan Kebumen indicated that several components of physical condition and basic technical skills were not yet optimal. One training method that can develop both aspects simultaneously is Small-Sided Games (SSG). This study aimed to determine the effect of the Small-Sided Games method on the physical condition and basic technical skills of U-17 football players at SSB Jaya Mandiri Petanahan Kebumen. The study employed a quasi-experimental method using a pretest-posttest control group design. The sample consisted of 30 players selected through purposive sampling and divided into an experimental group of 15 players and a control group of 15 players. The experimental group received Small-Sided Games training, while the control group received conventional training. The training program was conducted for six weeks with a total of 16 sessions. Physical condition was measured using the Push Up Test, Standing Broad Jump Test, Illinois Agility Test, Sprint 20 Meter Test, Yo-Yo Intermittent Recovery Test, Stork Stand Test, and Wall Toss/Foot Tap Test. Basic technical skills were measured using the Passing Test, Dribble Test, Shooting Accuracy Test, and Control/Juggling Test. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test, Levene's Test, paired sample t-test, and independent sample t-test. The results showed that the SSG group experienced an increase in physical condition from a mean score of 69.40 at pretest to 82.13 at posttest. The paired sample t-test produced t = -12.846 with p = 0.000 < 0.05. Basic technical skills also increased from 69.40 to 82.13, with t = -12.748 and p = 0.000 < 0.05. The independent sample t-test indicated significant differences between the SSG and control groups in physical condition (t = 4.787; p = 0.000) and basic technical skills (t = 4.982; p = 0.000). Therefore, the Small-Sided Games method significantly improved the physical condition and basic technical skills of U-17 football players at SSB Jaya Mandiri Petanahan Kebumen. |