Artikel Ilmiah : A1C022095 a.n. LIVIA LATHIFAH CANDRANING TYAS
| NIM | A1C022095 |
|---|---|
| Namamhs | LIVIA LATHIFAH CANDRANING TYAS |
| Judul Artikel | Analisis Performansi Tungku Cor Semen Berdasarkan Jenis Bahan Bakar untuk Pembuatan Gula Kelapa Cetak |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Pengolahan nira kelapa menjadi gula cetak merupakan proses yang masih banyak dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tungku berbahan bakar biomassa yaitu tungku cor semen. Jenis bahan bakar yang digunakan dalam proses ini dapat memengaruhi kelancaran proses pemasakan, terutama dalam hal kebutuhan bahan bakar dan efisiensi pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui nilai kalor kayu rambutan dan kayu albasia sebagai bahan bakar biomassa pada proses pembuatan gula kelapa cetak. 2) menganalisis performansi tungku cor semen berdasarkan penggunaan kayu rambutan dan kayu albasia yang ditinjau dari efisiensi termal, konsumsi bahan bakar spesifik (SFC), laju konsumsi bahan bakar, dan lama pemasakan nira. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai nilai kalor kayu rambutan dan kayu albasia sebagai bahan bakar biomassa serta performansi tungku cor semen pada proses pembuatan gula kelapa cetak berdasarkan jenis bahan bakar kayu albasia dan kayu rambutan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi perajin gula kelapa mengenai karakteristik bahan bakar dan kebutuhan energi selama proses pemasakan nira hingga fase padat, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam memilih jenis bahan bakar yang lebih efisien. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat membantu perajin dan pelaku agroindustri gula kelapa dalam meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar serta menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan energi biomassa yang lebih efektif dan berkelanjutan pada industri kecil dan rumah tangga pengolahan gula kelapa. Penelitian dilaksanakan di 3 tempat, yaitu di Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, serta di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Pertenakan, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai April 2026. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan, yaitu kayu rambutan dan kayu albasia, masing-masing dengan lima kali ulangan. Terdapat 3 jenis variable yang diamti yaitu variabel bebas (X) yaitu tungku cor semen, volume nira kelapa yang dimasak, jenis dan ukuran wajan (kuali) yang diseragamkan pada seluruh percobaan, serta teknik dan alat pengukuran yang digunakan, dan variabel terikat (Y) adalah “performansi tungku cor semen”, yang dinyatakan dalam “efisiensi temal tungku” dan”konsumsi bahan bakar”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu rambutan memiliki nilai kalor sebesar 20.741,05 kJ/kg, sedangkan kayu albasia sebesar 19.533,84 kJ/kg. Berdasarkan nilai rata-rata, penggunaan kayu rambutan menghasilkan efisiensi termal sebesar 10,94%, SFC sebesar 7,64 kg/kg, laju konsumsi bahan bakar sebesar 13,20 kg/jam, dan lama pemasakan sebesar 1,46 jam. Sementara itu, kayu albasia menghasilkan efisiensi termal sebesar 9,21%, SFC sebesar 8,20 kg/kg, laju konsumsi bahan bakar sebesar 14,66 kg/jam, dan lama pemasakan sebesar 1,70 jam. Secara deskriptif, kayu rambutan menunjukkan performansi tungku cor semen yang lebih baik berdasarkan nilai efisiensi termal yang lebih tinggi, SFC dan laju konsumsi bahan bakar yang lebih rendah, serta waktu pemasakan yang lebih singkat. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa parameter performansi yang diuji tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara penggunaan kayu rambutan dan kayu albasia. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi perajin gula kelapa dalam mempertimbangkan karakteristik dan penggunaan bahan bakar biomassa pada proses pemasakan nira. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The processing of coconut sap into molded coconut sugar is still widely carried out using traditional methods with biomass-fueled stoves, including cast-cement stoves. The type of fuel used in this process may affect the cooking process, particularly in terms of fuel requirements and energy utilization efficiency. This study aimed to: (1) determine the calorific value of rambutan wood and albasia wood as biomass fuels for molded coconut sugar production; and (2) analyze the performance of a cast-cement stove using rambutan wood and albasia wood based on thermal efficiency, specific fuel consumption (SFC), fuel consumption rate, and cooking time. The study was conducted from January to April 2026 at three locations: Babakan Village, Karanglewas District, Banyumas Regency; the Laboratory of Food and Agricultural Product Processing Engineering, Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman; and the Laboratory of Animal Feed Science, Faculty of Animal Science, Universitas Jenderal Soedirman. An experimental method was used with two treatments, namely rambutan wood and albasia wood, with five replications for each treatment. The independent variable was fuel type, while the control variables included the cast-cement stove, coconut sap volume, type and size of the cooking pan, and measurement techniques and instruments. The dependent variable was cast-cement stove performance, assessed based on thermal efficiency, SFC, fuel consumption rate, and cooking time. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test, Levene's homogeneity test, and Independent Samples t-Test at a 5% significance level (α = 0.05). The results showed that rambutan wood had a calorific value of 20,741.05 kJ/kg, while albasia wood had a calorific value of 19,533.84 kJ/kg. Based on the average values, the use of rambutan wood resulted in a thermal efficiency of 10.94%, an SFC of 7.64 kg/kg, a fuel consumption rate of 13.20 kg/h, and a cooking time of 1.46 h. Meanwhile, albasia wood resulted in a thermal efficiency of 9.21%, an SFC of 8.20 kg/kg, a fuel consumption rate of 14.66 kg/h, and a cooking time of 1.70 h. Descriptively, rambutan wood showed better cast-cement stove performance, as indicated by higher thermal efficiency, lower SFC and fuel consumption rate, and shorter cooking time. However, the statistical analysis showed that there were no significant differences in the measured performance parameters between the use of rambutan wood and albasia wood. These findings provide useful information for coconut sugar producers in considering the characteristics and use of biomass fuels during the coconut sap cooking process. |
| Kata kunci | Gula cetak, efisiensi termal, kayu albasia, kayu rambutan, tungko cor semen, nilai kalor |
| Pembimbing 1 | Dr. Furqon, S.TP., M.Si. |
| Pembimbing 2 | Ir. Gigieh Henggar Jaya, S.T.P.,M.Sc. |
| Pembimbing 3 | - |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 106 |
| Tgl. Entri | 2026-08-26 19:30:14.796206 |