Artikelilmiahs

Menampilkan 51.601-51.609 dari 51.609 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5160155011B1B019014FORMULATION OF PINEAPPLE EXTRACT-BASED INOCULUM FOR NATA DE COCO FERMENTATIONNata merupakan produk pangan fermentasi yang telah dikenal luas dan dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, baik sebagai bahan tambahan pangan, minuman, maupun camilan kaya serat. Proses fermentasi nata sebagian besar dilakukan oleh bakteri dari famili Acetobacteraceae, khususnya Acetobacter xylinum atau yang kini diklasifikasikan sebagai Komagataeibacter xylinus. Starter atau inokulum yang mengandung bakteri pembentuk selulosa merupakan salah satu komponen utama dalam produksi nata. Saat ini, starter nata telah diproduksi secara komersial dalam skala besar. Sebaliknya, starter yang berasal dari bahan alami masih sangat terbatas ketersediaannya. Salah satu alternatif yang dapat diusulkan adalah pemanfaatan buah nanas sebagai sumber bakteri sekaligus substrat untuk memproduksi starter nata, mengingat buah nanas mengandung beragam jenis mikroba, termasuk bakteri pembentuk selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh modifikasi formulasi starter ekstrak nanas terhadap kinerja starter dalam menghasilkan nata de coco.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, dengan menggunakan metode survei. Variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian ini berturut-turut adalah modifikasi formulasi starter ekstrak nanas dan proses produksi nata de coco. Parameter utama yang diamati meliputi karakteristik hasil fermentasi nata de coco. Parameter sekunder meliputi kepadatan mikroba pada starter dan/atau substrat air kelapa, serta tingkat keasaman (pH) substrat air kelapa. Tahapan penelitian ini meliputi pembuatan ekstrak nanas, formulasi starter, pengamatan parameter pada starter setelah masa inkubasi, proses fermentasi nata de coco, serta pengamatan parameter pada nata de coco setelah masa inkubasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.

Starter alami yang disiapkan dari buah nanas dalam penelitian ini belum mencapai kualitas yang memadai untuk produksi nata secara optimal, meskipun modifikasi formulasi terbukti dapat memengaruhi kinerja proses fermentasi. Formulasi starter ekstrak nanas yang menunjukkan hasil terbaik adalah formulasi ketiga, dengan penambahan gula sebanyak 35 gram per liter ekstrak nanas. Starter diinkubasi selama 9 hari dalam kondisi aerobik pada suhu ruang (28–32 °C) dan nilai pH 3,2. Selama masa inkubasi maupun saat digunakan dalam fermentasi air kelapa, starter tersebut membentuk lapisan permukaan berupa selulosa mikroba. Namun demikian, kinerja starter tersebut belum setara dengan starter komersial. Starter komersial secara konsisten menghasilkan lapisan nata yang tebal dan padat, serta mampu menurunkan nilai pH substrat air kelapa secara bersamaan. Penanaman pada media agar GYC juga tidak dapat mengonfirmasi keberadaan Bakteri Asam Asetat (BAA) pada sampel starter ekstrak nanas, sedangkan pada starter komersial terlihat terbentuk zona jernih yang samar. Keterbatasan ini kemungkinan berkaitan dengan komposisi, viabilitas, kepadatan populasi, serta kemampuan pembentukan selulosa dari komunitas mikroba yang tumbuh selama proses fermentasi alami berlangsung.
Nata is a well-known fermented food that is utilized in various forms, ranging from an additional food ingredient or beverage to a fiber-rich snack. The fermentation is done mostly by the Acetobacteraceae family, especially Acetobacter xylinum, which is currently classified as Komagataeibacter xylinus. A starter or inoculum consisting of cellulose producing bacteria is one of the main ingredients in nata production. Nowadays, nata starter is commercially produced on a large scale. However, naturally derived starters remain limited. One proposed alternative is utilizing the pineapple fruits as a source of bacteria and as asubstrate to produce nata starter, since there is a wide variety of microbes including cellulose producing bacteria associated with the fruit. This study aims to investigate the effects of modifications to the formulation of pineapple extract starter on the starter’s performance in producing nata de coco.
This study was conducted in the Microbiology Laboratory of the Faculty Biology, Jenderal Soedirman University, using a survey research design. The independent variable was the modifications to the formulation of pineapple extract starter, while the dependent variable was nata de coco production. The main parameters were the characteristics of the nata de coco fermentation. The secondary parameters were the microbial density of the starter and/or the coconut water substrate and the acidity of the coconut water substrate. The stages of this research included the preparation of pineapple extract, starter formulation, documentation of parameters for the starter following incubation, fermentation of nata de coco, and the documentation of parameters in the nata de coco post-incubation. The data were analyzed descriptively.
The spontaneous pineapple starter developed in this study did not meet the quality requirements for effective nata production, although modifications to the formulations may have influenced fermentation performance. The best formulation of the pineapple extract-based starter was the third formulation, which contained 35 g of sugar per liter of pineapple extract. The starters were incubated for 9 days under aerobic conditions at room temperature (28–32 °C) and pH 3.2. The starters formed a biocellulose-like surface pellicle both during incubation and in coconut water fermentation process, though they could not match the performance of the commercial starter. The commercial starter consistently produced thick, firm nata while simultaneously reducing the pH of the coconut water substrate. Cultivation on GYC agar also failed to confirm the presence of Acetic Acid Bacteria (AAB) in the pineapple extract starter samples, whereas the commercial starter produced a faint clear zone. This limitation is likely related to the composition, viability, population density, and cellulose-producing capacity of the microbial community that developed during spontaneous fermentation.
5160255019A1D022193STUDI KESEHATAN TANAMAN PADI MENGGUNAKAN INDEKS VEGETASI DAN ALGORITMA RANDOM FOREST BERBASIS FOTO UDARA MULTISPEKTRAL DI KABUPATEN BANYUMASPemantauan kesehatan tanaman padi secara konvensional seringkali terkendala oleh faktor subjektivitas, waktu yang lama, serta efisiensi yang rendah pada lahan luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan penginderaan jauh menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) multispektral dalam mengekstraksi nilai indeks vegetasi (Normalized Difference Vegetation Index / NDVI, Modified Soil-Adjusted Vegetation Index / MSAVI, dan Wide Dynamic Range Vegetation Index / WDRVI) serta mengukur tingkat akurasi algoritma machine learning Random Forest dalam mengklasifikasikan tingkat kesehatan tanaman padi di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan pendekatan purposive sampling di sembilan kecamatan yang mewakili variasi tingkat produksi dan topografi. Pengambilan foto udara dilakukan menggunakan drone DJI Mavic 3M, dilanjutkan dengan ekstraksi nilai indeks vegetasi, pemodelan klasifikasi Random Forest, serta validasi menggunakan Confusion Matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks MSAVI efektif mereduksi bias latar belakang tanah dan genangan air pada area berkanopi jarang, sedangkan WDRVI dan NDVI optimal mendeteksi variasi biomassa pada tajuk rapat. Pemodelan klasifikasi Random Forest dengan penyederhanaan tiga kelas utama menghasilkan akurasi keseluruhan (Overall Accuracy) sebesar 66,67% dengan koefisien Kappa sebesar 0,4486. Analisis tingkat kepentingan variabel (Variable Importance) mencatat WDRVI sebagai variabel tertinggi (74,40), diikuti oleh MSAVI (74,19), dan NDVI (70,77). Pemetaan status kesehatan tanaman padi secara umum didominasi oleh kelas "Tidak Sehat & Kurang Sehat", yang mencerminkan variasi fase pertumbuhan vegetatif pertengahan dengan penutupan kanopi yang belum merata secara optimal.Conventional rice health monitoring is often constrained by subjectivity, time consumption, and low efficiency over large areas. This study aims to analyze the utilization of remote sensing using a multispectral Unmanned Aerial Vehicle (UAV) to extract vegetation index values (NDVI, MSAVI, and WDRVI) and to measure the accuracy of the Random Forest machine learning algorithm in classifying the health level of rice plants in Banyumas Regency. The research was conducted using a survey method with a purposive sampling approach in nine sub-districts representing variations in production levels and topography. Aerial image acquisition was carried out using a DJI Mavic 3M drone, followed by vegetation index extraction, Random Forest classification modeling, and validation using a Confusion Matrix. The results showed that the MSAVI index effectively reduced soil background and water puddle biases in sparse canopy areas, while WDRVI and NDVI optimally detected biomass variations in dense canopies. Random Forest classification modeling simplified into three main classes yielded an Overall Accuracy of 66.67% with a Kappa coefficient of 0.4486. Variable Importance analysis recorded WDRVI as the highest variable (74.40), followed by MSAVI (74.19), and NDVI (70.77). The mapping of rice health status was generally dominated by the "Unhealthy & Less Healthy" class, reflecting variations in the mid-vegetative growth phase with suboptimal canopy closure.
5160355022B1B019038SPECIES COMPOSITION AND ABUNDANCE OF COCKROACHES IN PURWOKERTO COMMERCIAL SEGMENTS
Lipas merupakan salah satu serangga hama pemukiman dan berpotensi menjadi vektor mekanik agen penyakit. Keberadaannya pada segmentasi komersial dapat mengganggu dari aspek Kesehatan, ekonomi dan estetika sehingga perlu dikendalikan. Upaya pengendalian yang efektif perlu didahului inspeksi dan monitoring terhadap jenis, komposisi, serta Tingkat populasinya. Pada segmentasi komersial, lipas umumnya dijumpai di area dapur/tenant makanan, tempat pembuangan sampah, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), maupun area lain yang mendukung ketersediaan pakan dan tempat bersarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, kelimpahan dan indeks populasi lipas pada segmentasi komersial di Kota Purwokerto.

Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik purposive sampling pada delapan lokasi segmentasi komersial di Kota Purwokerto (L1-L8). Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, sedangkan pemasangan jebakan pasa setiap sesi pengambilan sampel dilakukan selama tiga malam dengan lima kali ulangan pada masing-masing lokasi. Pengambilan sampel dilakukan pada dua area pengamatan yaitu indoor dan outdoor menggunakan metode jebakan berumpan dan vacuuming. Data komposisi dan kelimpahan lipas dianalisis secara deskriptif serta dihitung indeks populasi (IP).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lipas yang tertangkap terdiri atas dua spesies, yaitu Periplaneta americana dan Blatella germanica dengan total 205 individu. P. americana merupakan spesies yang paling dominan dengan jumlah 118 individu (57,56%), sedangkan B. germanica berjumlah 87 individu (42,44%). P. americana lebih banyak ditemukan pada area outdoor seperti IPAL/area penyimpanan, sedangkan B. germanica lebih dominan pada area indoor terutama dapur/tenant makanan. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) sebesar 0,68, menunjukkan keanekaragaman rendah hingga sedang dengan dominansi P. americana. Nilai indeks populasi (IP) berkisar antara 0,0-9,0, dengan IP tertinggi pada L1 (tenant) sebesar 9,0, diikuti L3 (IPAL) sebesar 98,5 dan L1 (IPAL) sebesar 7,6. Berdasarkan klasifikasi Permenkes No.2 Tahun 2023, lokasi dengan IP > 5 termasuk kategori investasi tinggi. Temuan ini menunjukkan adanya variasi tingkat infestasi lipas antar lokasi pada segmentasi komersial di Kota Purwokerto.

Kata kunci: indeks populasi, kelimpahan, komposisi, lipas, segmentasi komersial
Cockroaches are one of the major urban insect pests and have the potential to act as mechanical vectors of disease causing agents. Their presence in commercial areas may adversely affect public health, economic activities and environmental aesthetics, making ffective control measures essential. Effective cockroach management should be preceded by inspection and monitoring of species composition, abundance and population index. In commercial settings, cockroaches are commonly found in kitchens or food stalls, waste sisposal areas, wastewater treatment facilities (WWTPs) and other locations that provide food sources and suitable harborages. This study aimed to determine the species composition, abundance and population index of cockroaches in commercial areas of Purwokerto City.

This study employed a survey method using purposive sampling at eight commercial sites (L1-L8) in Purwokerto City. The study was conducted over a three month period. During each sampling session, traps were deployed for three consecutive nights with five replications at each site. Cockroach sampling was carried out in both indoor and outdoor areas using baited traps and a vacuuming method. Data on species composition and abundance were analyzed descriptively and the population index (PI) was calculated.

The results showed a total of 205 cockroaches belonging to two species, Periplaneta americana and Blattella germanica, were collected. P. americana was the dominant species, accounting for 118 individuals (57,56%), whereas B. germanica comprised 87 individuals (42,44%). P. americana was predominantly found in outdoor areas, such as wastewater treatment facilities and storage areas, while B. germanica was more abundant in indoor areas, particularly kitchens and food stalls. The Shannnon Wiener diversity index (H’) was 0,68, indicating low to moderate species diversity with the dominance of P. americana. The population index (PI) ranged from 0,0 to 9,0, with the highest PI recorded at L1 (food stall) was 9,0, followed by L3 (wastewater treatment facility) was 8,5 and L1 (wastewater treatment facility) was 7,6. According to the Indonesian Ministry of Health Regulation No. 2 of 2023, locations with a PI greater than 5 are classified as having high infestation level. These findings indicate variations in cockroach infestation levels among commercial areas in Purwokerto City.

Keyword: abundance, cockroaches, commercial areas, population index, species composition
5160455021J0B023065Penerapan Metode Komunikatif dalam Penerjemahan Instruksi Penggunaan Mesin Berbahasa MandarinKendala bahasa menjadi salah satu hambatan yang dihadapi pegawai Indonesia dalam memahami dokumen instruksi penggunaan mesin produksi berbahasa Mandarin di PT Veronique Indonesia, Banjarnegara. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam memahami prosedur penggunaan mesin dan memengaruhi efektivitas kerja. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan proses penerjemahan dokumen instruksi penggunaan mesin produksi dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia sebagai upaya membantu pegawai Indonesia memahami informasi dan prosedur pengoperasian mesin. Kegiatan dilaksanakan di PT Veronique Indonesia pada September 2025 hingga Februari 2026. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan jelajah internet. Dalam proses penerjemahan, digunakan metode penerjemahan komunikatif dengan menyesuaikan penyampaian informasi pada tata bahasa dan tingkat pemahaman pembaca bahasa sasaran, tanpa menghilangkan makna dan informasi teknis dalam dokumen sumber. Hasil kegiatan berupa dokumen instruksi penggunaan mesin produksi dalam bahasa Indonesia yang diserahkan kepada manajer dan operator produksi untuk digunakan sebagai bahan pemahaman serta penyampaian informasi kepada pegawai Indonesia pada bidang pengelasan. Hasil penerjemahan tersebut membantu mengatasi kendala bahasa dalam memahami instruksi penggunaan mesin dan mendukung pemahaman prosedur kerja secara lebih efektif.Language barriers are one of the challenges faced by Indonesian employees in understanding Mandarin language production machine instruction documents at PT Veronique Indonesia, Banjarnegara. Such barriers may increase the risk of misunderstanding machine operating procedures and affect work effectiveness. This article aims to describe the translation of production machine instruction documents from Mandarin into Indonesian as an effort to assist Indonesian employees in understanding machine-related information and operating procedures. The activity was conducted at PT Veronique Indonesia from September 2025 to February 2026. Data were collected through observation, interviews, and internet browsing. The translation process employed the communicative translation method by adapting the delivery of information to the grammatical structure and comprehension level of the target-language readers while maintaining the meaning and technical information of the source document. The outcome was an Indonesian-language production machine instruction document submitted to the production manager and operators to support their understanding and facilitate the dissemination of information to Indonesian employees in the welding division. The translated document helps overcome language barriers in understanding machine operating instructions and supports a more effective understanding of workplace procedures.
5160554879A1C022047Pertumbuhan dan Hasil Bibit Kentang pada Variasi Media Tanam dan Lingkungan Tumbuh dengan Sistem Fertigasi KapilerKentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas hortikultura penting sebagai sumber karbohidrat setelah beras, gandum, dan jagung, namun produksi kentang nasional masih belum sebanding dengan kebutuhan, salah satunya karena keterbatasan bibit kentang bermutu. Budidaya kentang umumnya dilakukan di dataran tinggi, namun praktik ini berisiko menimbulkan erosi akibat penggunaan lahan yang terus-menerus. Pengembangan budidaya kentang di dataran medium dapat menjadi opsi karena ketersediaan lahan yang lebih luas, meskipun iklim di dataran medium kurang optimal bagi pertumbuhan kentang. Untuk mengatasinya, digunakan screenhouse guna memodifikasi iklim mikro, dikombinasikan dengan sistem fertigasi sumbu kapiler yang efisien dalam penggunaan air pada skala pembibitan polybag.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi media tanam, lingkungan tumbuh, serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan dan produktivitas bibit kentang menggunakan sistem fertigasi kapiler di dataran medium. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu lingkungan tumbuh dan media tanam yang terdiri atas cocopeat, arang sekam, tanah utuh, dan pasir utuh. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah batang, diameter batang, jumlah daun, Leaf Area Index (LAI), biomassa basah, biomassa kering, dan jumlah umbi. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA untuk data yang memenuhi asumsi uji parametrik, sedangkan data yang tidak memenuhi asumsi dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan beberapa parameter biomassa, dengan media cocopeat menghasilkan pertumbuhan vegetatif terbaik dibandingkan media lainnya. Sebaliknya, faktor lingkungan tumbuh tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sebagian besar parameter pertumbuhan secara statistik, meskipun tanaman di dalam screenhouse cenderung memiliki kondisi mikroklimat yang lebih stabil dan menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik secara deskriptif. Interaksi antara lingkungan tumbuh dan media tanam juga tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sebagian besar variabel yang diamati. Secara keseluruhan, media cocopeat merupakan media tanam yang paling sesuai untuk budidaya bibit kentang dengan sistem fertigasi kapiler pada kondisi penelitian ini.
Potato (Solanum tuberosum L.) is an important horticultural commodity and a major source of carbohydrates after rice, wheat, and maize, yet national potato production in Indonesia still falls short of demand, partly due to a shortage of high-quality potato seedlings. Conventional potato cultivation is typically carried out in highland areas, but continuous use of these lands poses a serious risk of soil erosion. As an alternative, developing potato cultivation in medium-elevation areas is a promising strategy given the wider availability of such land in Indonesia, although the climate at these elevations is less optimal for potato growth. To overcome this climatic constraint, a screenhouse is used to modify the microclimate, combined with a capillary wick fertigation system that is water-efficient and well suited for polybag-scale seedling production.
This study aimed to evaluate the effects of different planting media, growing environments (inside and outside a screenhouse), and their interaction on the growth and productivity of potato seedlings cultivated using a capillary fertigation system in a medium-altitude area. The experiment employed a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors: growing environment and planting. Growth parameters observed included plant height, stem number, stem diameter, leaf number, Leaf Area Index (LAI), fresh biomass, dry biomass, and tuber production. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) for datasets meeting the assumptions of normality and homogeneity, while non-parametric Kruskal-Wallis tests were applied to datasets that did not satisfy these assumptions.
The results indicated that planting media significantly affected plant height, leaf number, and several biomass parameters. Cocopeat consistently produced superior vegetative growth and biomass compared with the other planting media. The growing environment did not significantly affect most observed variables, although plants grown inside the screenhouse generally exhibited better vegetative performance under more favorable microclimatic conditions. Furthermore, no significant interaction was found between planting media and growing environment for most growth and productivity parameters. Overall, cocopeat was identified as the most suitable planting medium for potato seedling cultivation using a capillary fertigation system under the conditions of this study.
5160655023L1C022076Asosiasi Makrozoobenthos Dengan Ekosistem Lamun di Pantai Karang Tengah, Nusakambangan, Cilacap Hubungan antara lamun dan makrozoobenthos penting dikaji karena perubahan kondisi vegetasi lamun dapat memengaruhi struktur komunitas organisme bentik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis, komposisi, kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobenthos, mengetahui tingkat kerapatan dan persentase tutupan lamun, serta menganalisis asosiasi antara tutupan lamun dengan kelimpahan makrozoobenthos di Pantai Karang Tengah, Nusakambangan, Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode transek kuadrat untuk pengamatan lamun dan pengambilan makrozoobenthos. Data dianalisis melalui perhitungan kerapatan, persentase tutupan, kelimpahan, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, serta analisis korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman makrozoobenthos tertinggi terdapat pada Stasiun 3 (2,344), diikuti Stasiun 1 (2,137) dan Stasiun 2 (1,889). Kelimpahan makrozoobenthos pada Stasiun 1 sebanyak 13 individu, Stasiun 2 sebanyak 26 individu, dan Stasiun 3 sebanyak 41 individu. Persentase tutupan lamun rata-rata sebesar 62,94%, dengan nilai tertinggi pada Stasiun 1 (74,92%), Stasiun 3 (61,08%), dan Stasiun 2 (52,83%). Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang kuat antara tutupan lamun dan kelimpahan makrozoobenthos (r = 0,731, p = 0,099). Hasil tersebut menunjukkan bahwa tutupan lamun memiliki kecenderungan positif terhadap kelimpahan makrozoobenthos, tetapi hubungan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lainnya.The relationship between seagrass and macrozoobenthos is important to investigate because changes in seagrass vegetation conditions may affect the community structure of benthic organisms. This study aimed to identify the species, composition, abundance, and diversity of macrozoobenthos, determine seagrass density and percentage cover, and analyze the association between seagrass cover and macrozoobenthos abundance at Karang Tengah Beach, Nusakambangan, Cilacap. This study employed the quadrat transect method for seagrass observation and macrozoobenthos sampling. Data were analyzed by calculating seagrass density, percentage cover, macrozoobenthos abundance, the Shannon-Wiener diversity index, and Pearson correlation analysis. The results showed that the highest macrozoobenthos diversity index was recorded at Station 3 (2.344), followed by Station 1 (2.137) and Station 2 (1.889). Macrozoobenthos abundance was 13 individuals at Station 1, 26 individuals at Station 2, and 41 individuals at Station 3. The average seagrass cover was 62.94%, with the highest value recorded at Station 1 (74.92%), followed by Station 3 (61.08%) and Station 2 (52.83%). Pearson correlation analysis showed a strong positive relationship between seagrass cover and macrozoobenthos abundance (r = 0.731, p = 0.099). These results indicate that seagrass cover tends to be positively associated with macrozoobenthos abundance, although this relationship may also be influenced by other environmental factors.
5160755024E1A022022Analisis Yuridis Mekanisme Konsinyasi dalam Sengketa Tumpang Tindih Alas Hak pada Pengadaan Tanah Proyek Jalan Tol Semarang-DemakPembangunan Jalan Tol Semarang-Demak menghadapi persoalan tumpang tindih alas hak antara Letter C dengan Sertifikat Hak Milik, sehingga Panitia Pengadaan Tanah (P2T) menempuh mekanisme konsinyasi ke Pengadilan Negeri Semarang sebagai jalan keluar administratif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi sengketa tumpang tindih alas hak tersebut terhadap proses administrasi pengadaan tanah, serta mengkaji keabsahan tindakan administratif berupa konsinyasi yang dilakukan P2T berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor 43/Pdt.G/2024/PN Smg. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus, yang dianalisis secara deduktif dengan menggunakan teori kepastian hukum dan teori pengadaan tanah bagi kepentingan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P2T bersifat ad hoc dan tidak memiliki kewenangan yudisial untuk memutus sengketa kepemilikan, sehingga sengketa tumpang tindih alas hak mengakibatkan terhambatnya proses administrasi pengadaan tanah dan penyelesaiannya ditempuh melalui konsinyasi. Keabsahan tindakan konsinyasi sah secara materiil menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 jo Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2016, namun secara prosedural masih dipertanyakan karena tidak terpenuhinya syarat berita acara musyawarah penetapan ganti kerugian, bertentangan dengan asas kecermatan dan tidak memenuhi prinsip kehati-hatian. Penelitian ini menegaskan perlunya penyempurnaan pengaturan mengenai konsinyasi agar mampu memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan terhadap hak para pihak dalam pengadaan tanah.

The land acquisition process for the Semarang–Demak Toll Road Project encountered overlapping land title disputes between Letter C documents and Freehold Title Certificates (SHM), prompting the Land Acquisition Committee (P2T) to implement a consignment mechanism through the Semarang District Court as an administrative solution. This study aims to analyze the implications of overlapping land title disputes on the administrative process of land acquisition and to examine the legality of the administrative action in the form of consignment carried out by the P2T based on the Decision of the Semarang District Court Number 43/Pdt.G/2024/PN Smg. This research employs a normative legal research method using statutory, conceptual, and case approaches. The collected legal materials are analyzed deductively based on the theory of legal certainty and the theory of land acquisition for public interest. The findings indicate that the P2T is an ad hoc body without judicial authority to adjudicate ownership disputes. Consequently, overlapping land title disputes impede the administrative process of land acquisition, and their resolution is pursued through the consignment mechanism. Substantively, the consignment action is legally valid under Law Number 2 of 2012 in conjunction with Supreme Court Regulation Number 3 of 2016. However, procedurally, its validity remains questionable due to the absence of the required official report of the compensation deliberation, rendering it inconsistent with the principles of accuracy and prudence in administrative law. This study emphasizes the necessity of improving the legal framework governing consignment to ensure legal certainty while providing adequate protection for the rights of all parties involved in land acquisition for public purposes.
5160855025I1J019001DESCRIPTION OF QUALITY OF LIFE IN MALE AND FEMALE
PATIENTS' CRONIC KIDNEY DISEASE
UNDERGOING HEMODIALYSIS
Latar Belakang: Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang menjalani hemodialisis dapat mengalami perubahan pada aspek fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dari kualitas hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kualitas hidup pasien laki-laki dan perempuan secara terpisah.
Metodologi: Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan 81 pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, yang terdiri dari 48 laki-laki dan 33 perempuan. Partisipan dipilih menggunakan teknik *convenience sampling*. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF dan dianalisis secara deskriptif.
Hasil: Pada pasien laki-laki, domain kesehatan fisik dan lingkungan sebagian besar berada dalam kategori sedang (85,4%), sedangkan domain psikologis dan hubungan sosial terdistribusi secara merata antara kategori sedang dan tinggi (masing-masing 50,0%). Pada pasien perempuan, domain kesehatan fisik (87,9%) dan lingkungan (81,8%) sebagian besar berada dalam kategori sedang, sedangkan domain psikologis (60,6%) dan hubungan sosial (54,5%) sebagian besar berada dalam kategori tinggi.
Kesimpulan: Pasien laki-laki memiliki kualitas hidup yang sebagian besar berada pada kategori sedang untuk domain kesehatan fisik dan lingkungan, sementara domain psikologis dan hubungan sosial terdistribusi secara merata antara kategori sedang dan tinggi. Pasien perempuan memiliki kualitas hidup yang sebagian besar berada pada kategori sedang untuk domain kesehatan fisik dan lingkungan, sementara domain psikologis dan hubungan sosial sebagian besar berada pada kategori tinggi.
Background: Patients with Chronic Kidney Disease (CKD) undergoing hemodialysis may experience
changes in physical, psychological, social, and environmental aspects of quality of life. This study
aimed to describe the quality of life of male and female patients separately.
Methodology: This quantitative descriptive study involved 81 CKD patients undergoing routine
hemodialysis at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital, consisting of 48 males and 33
females. Participants were selected using convenience sampling. Quality of life was measured using
the WHOQOL-BREF questionnaire and analyzed descriptively.
Results: Among male patients, the physical health and environmental domains were predominantly in
the moderate category (85.4%), while the psychological and social relationship domains were equally
distributed between moderate and high categories (50.0% each). Among female patients, the physical
health (87.9%) and environmental (81.8%) domains were predominantly moderate, whereas the
psychological (60.6%) and social relationship (54.5%) domains were predominantly high.
Conclusion: Male patients had predominantly moderate quality of life in the physical health and
environmental domains, while the psychological and social relationship domains were equally
distributed between moderate and high categories. Female patients had predominantly moderate
quality of life in the physical health and environmental domains, while the psychological and social
relationship domains were predominantly high.
5160955028A1A022083PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU AGROINDUSTRI GULA SEMUT DI CV HUGO INOVASI KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMASPengendalian persediaan bahan baku berperan penting dalam menjaga kelancaran produksi gula semut di CV Hugo Inovasi, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Permintaan gula semut yang tinggi belum diimbangi dengan sistem pengendalian persediaan yang sistematis, sehingga berisiko menimbulkan kelebihan maupun kekurangan stok. Penelitian ini bertujuan mengetahui sistem pengendalian persediaan yang diterapkan perusahaan, menentukan jumlah pemesanan optimal, safety stock, dan reorder point, serta menghitung total biaya persediaan bahan baku dengan metode Economic Order Quantity (EOQ). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode studi kasus. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi atas data kebutuhan bahan baku periode Januari–Desember 2025, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan EOQ, safety stock, reorder point, dan total inventory cost (TIC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan saat ini memesan 2.000 kg bahan baku sebanyak 24 kali per bulan tanpa menerapkan safety stock maupun reorder point. Metode EOQ menghasilkan jumlah pesanan optimal sebesar 6.684,31 kg dengan frekuensi 7,08 kali per bulan, safety stock 4.650,14 kg, dan reorder point 15.537,99 kg. Total biaya persediaan perusahaan sebesar Rp19.020.768,00 per bulan, sedangkan dengan metode EOQ hanya sebesar Rp4.249.215,86 per bulan, sehingga metode EOQ terbukti memberikan pengendalian persediaan yang lebih efisien.Raw material inventory control plays an important role in ensuring the smooth production of coconut sugar at CV Hugo Inovasi, Kebasen District, Banyumas Regency. The high demand for coconut sugar has not been matched by a systematic inventory control system, creating a risk of overstock or stockout. This study aims to identify the company's current inventory control system, determine the optimal order quantity, safety stock, and reorder point, and calculate the total inventory cost using the Economic Order Quantity (EOQ) method. This study employed a quantitative approach with a case study method. Primary and secondary data were collected through interviews, observation, and documentation of raw material requirement data for the period January–December 2025, then analyzed descriptively and quantitatively using EOQ, safety stock, reorder point, and total inventory cost (TIC). The results show that the company currently orders 2,000 kg of raw material 24 times per month without applying safety stock or reorder point. The EOQ method resulted in an optimal order quantity of 6,684.31 kg with an ordering frequency of 7.08 times per month, a safety stock of 4,650.14 kg, and a reorder point of 15,537.99 kg. The company's total inventory cost was IDR 19,020,768,00 per month, while under the EOQ method it was only IDR 4,249,215,86 per month, indicating that the EOQ method provides more efficient inventory control.