Artikelilmiahs

Menampilkan 51.001-51.020 dari 51.070 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5100154412H1C022031ANALISIS GEOMEKANIKA 1D UNTUK ESTIMASI PORE PRESSURE DAN IN-SITU STRESS MENGGUNAKAN DATA WELL LOG PADA LAPANGAN X, CEKUNGAN SUMATRA UTARA Lapangan X merupakan salah satu lapangan migas yang terletak di Cekungan Sumatra Utara, Provinsi Sumatra Utara dengan kondisi overpressure yang memengaruhi tegasan in-situ dan kestabilan lubang bor. Penelitian ini bertujuan mengetahui model geomekanika 1D menggunakan data log untuk mengetahui estimasi pore pressure serta memahami rezim tegasan in-situ. Estimasi nilai geomekanika yang dilakukan antara lain tegasan vertikal (Sv) dari log densitas, pore pressure dari data RFT dan log sonic, tegasan horizontal minimum (Shmin) dari data leak off test, dan tegasan horizontal maksimum (SHmax) dari persamaan empiris Zoback. Selain itu, persamaan empiris juga banyak digunakan pada berbagai data log untuk mengisi nilai geomekanika yang tidak tersedia dan untuk menyusun properti mekanika batuan. Model geomekanika 1D menunjukkan Lapangan X berada pada rezim strike slip fault (SHmax > Sv> Shmin). Hasil pemodelan geomekanika satu dimensi menunjukkan Lapangan X memilki satu tren tegasan utama yaitu saat kondisi tekanan hidrostatik. Gradien nilai geomekanika pada kondisi tekanan hidrostatik Lapangan T memiliki rata-rata gradien tekanan pori sebesar 0,747 psi/ft, tegasan vertikal sebesar 0,859 psi/ft, tegasan horizontal minimum sebesar 0,822 psi/ft, dan tegasan horizontal maksimum sebesar 1.092 psi/ft. Zona overpressure teridentifikasi pada Formasi Keutapang akibat mekanisme loading. Berdasarkan hasil analisis kestabilan lubang bor, disarankan agar berat lumpur disesuaikan secara bertahap mengikuti perubahan kondisi tegasan dan tekanan pori. Arah pengeboran yang ideal untuk meminimalkan risiko ketidakstabilan adalah sejajar dengan arah tegasan horizontal maksimum. Oleh karena itu, perencanaan arah pengeboran dan berat lumpur perlu disesuaikan dengan kondisi tegasan in-situ agar lubang bor tetap stabil selama operasi pemboran.Field X is one of the oil and gas fields located in the North Sumatra Basin, North Sumatra Province, characterized by overpressure conditions that influence in-situ stress and wellbore stability. This study aims to develop a 1D geomechanical model using well log data to estimate pore pressure and understand the in-situ stress regime. The geomechanical parameters estimated include vertical stress (Sv) from density logs, pore pressure from RFT data and sonic logs, minimum horizontal stress (Shmin) from leak-off test data, and maximum horizontal stress (SHmax) using the Zoback empirical equation. In addition, empirical correlations were extensively applied across various log data to fill in missing geomechanical values and to construct rock mechanical properties. The 1D geomechanical model shows that Field X falls within a strike-slip faulting regime (SHmax > Sv > Shmin). The results of the one-dimensional geomechanical modeling indicate that Field X exhibits a single dominant stress trend under hydrostatic pressure conditions. The average geomechanical gradients under hydrostatic conditions in Field X are 0.747 psi/ft for pore pressure, 0.859 psi/ft for vertical stress, 0.822 psi/ft for minimum horizontal stress, and 1.092 psi/ft for maximum horizontal stress. An overpressure zone was identified within the Keutapang Formation, attributed to a loading mechanism. Based on the wellbore stability analysis, it is recommended that mud weight be adjusted incrementally in accordance with changes in stress and pore pressure conditions. The optimal drilling direction to minimize the risk of wellbore instability is parallel to the direction of maximum horizontal stress. Therefore, the planning of drilling direction and mud weight must be adjusted to the in-situ stress conditions to maintain wellbore stability throughout drilling operations.
5100254414C1B022094Pengaruh Kepemimpinan Inklusif terhadap Kinerja Karyawan dengan Budaya Organisasi sebagai Moderasi (Studi pada Kantor Pusat PERUMDA Tirta Satria Kabupaten Banyumas)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan inklusif terhadap kinerja karyawan, pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan, serta peran budaya organisasi dalam memoderasi hubungan antara kepemimpinan inklusif dan kinerja karyawan pada Kantor Pusat Perumda Tirta Satria Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei kuantitatif dengan data yang diperoleh dari 64 karyawan yang dipilih melalui teknik non-probability sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan inklusif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, yang menunjukkan bahwa keterbukaan, ketersediaan, dan kemudahan akses pimpinan mampu mendorong karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. Sebaliknya, budaya organisasi yang diukur melalui pendekatan budaya hierarkis dengan penekanan pada struktur formal, prosedur, pengawasan, dan stabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan serta tidak mampu memoderasi hubungan antara kepemimpinan inklusif dan kinerja karyawan. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam organisasi pelayanan publik yang memiliki karakteristik hierarkis, kinerja karyawan lebih banyak didorong secara langsung oleh praktik kepemimpinan inklusif dibandingkan dengan budaya organisasi yang berlaku. Penelitian ini memperluas penerapan Social Exchange Theory dengan menunjukkan bahwa hubungan timbal balik antara pimpinan dan karyawan dapat berlangsung secara mandiri tanpa bergantung pada penguatan dari budaya organisasi yang bersifat hierarkis. Hasil penelitian juga memberikan implikasi praktis bagi perusahaan daerah penyedia layanan air dalam memperkuat praktik kepemimpinan yang terbuka dan partisipatif.This study examines the effect of inclusive leadership on employee performance, the effect of organizational culture on employee performance, and the moderating role of organizational culture on the relationship between inclusive leadership and employee performance at the Head Office of Perumda Tirta Satria, Banyumas Regency. Using a quantitative survey approach, data were collected from 64 employees selected through non-probability sampling and analyzed using simple linear regression and moderated regression analysis (MRA). The results show that inclusive leadership has a positive and significant effect on employee performance, indicating that openness, availability, and accessibility of leaders encourage employees to perform better. In contrast, organizational culture, measured through a hierarchical-culture approach emphasizing formal structure, procedures, supervision, and stability, does not significantly affect employee performance and does not moderate the relationship between inclusive leadership and employee performance. These findings suggest that in a hierarchical public-service organization, employee performance is driven more directly by inclusive leadership practices than by the prevailing organizational culture. The study extends Social Exchange Theory by showing that reciprocal leader-employee exchange can operate independently of hierarchical cultural reinforcement, and offers practical implications for strengthening open, participative leadership in regional water-utility companies.
5100354416G1A019014KARAKTERISTIK PASIEN SKIZOFRENIA DI POLI JIWA RSUD BANYUMAS Latar Belakang: Tren kasus skizofrenia di RSUD Kabupaten Banyumas
meningkat signifikan, sehingga penelaahan karakteristik pasien diperlukan untuk
mengoptimalkan perencanaan tindakan klinis.
Tujuan: Mengetahui karakteristik demografi, perjalanan penyakit, dan
kemampuan fungsional terkini pasien skizofrenia di Poli Jiwa RSUD Banyumas.
Metode: Studi kuantitatif deskriptif univariat ini melibatkan 99 pasien skizofrenia
yang dipilih melalui simple random sampling pada tahun 2025 menggunakan
kuesioner, dilanjutkan analisis deskriptif kuantitatif.
Hasil: Mayoritas pasien laki-laki (65,83%), usia produktif 46-55 tahun (26.26%),
berpendidikan SMA (37,47%), dan belum menikah (54,55%). Sebagian besar
merupakan pasien kronis >4 tahun (59,60%) dengan terapi kombinasi >3 jenis obat
(80,81%). Secara fungsional, mayoritas pasien mampu bersosialisasi (84,85%),
bekerja (71,72%), dan mandiri dalam ADL (96,97%).
Kesimpulan: Pasien didominasi laki-laki usia produktif, lulusan SMA, belum
menikah, dan fase kronis dengan terapi kombonasi obat. Meski demikian, tingkat
kemandirian dan keberfungsionalan psikososial pasien secara umum tergolong
sangat baik.
Background: Schizophrenia cases at Banyumas Regional Hospital have increased
significantly, making patient characteristic analysis essential to optimize future
clinical planning.
Objective: To identify the demographic characteristics, disease course, and current
functional status of schizophrenia patients at the Psychiatric Clinic of Banyumas
Regional Hospital.
Methods: This quantitative descriptive univariate study involved 99 schizophrenia
patients selected via simple random sampling in 2025 using questionnaires,
followed by descriptive quantitative analysis.
Results: The majority of patients were male (65.83%), in the productive age range
of 46–55 years (26.26%), high school educated (37.47%), and unmarried (54.55%).
Most were chronic patients with an illness duration of >4 years (59.60%) receiving
combination drug therapy with >3 types of medications (80.81%). Functionally, the
majority of patients were capable of socializing (84.85%), working (71.72%), and
being independent in Activities of Daily Living (ADL) (96.97%).
Conclusion: Patients are predominantly working-age males, high school
graduates, unmarried, and in a chronic phase with combination drug therapy..
Nevertheless, their overall independence and psychosocial functioning are
excellent.
5100454419L1C022066HUBUNGAN PERSENTASE TUTUPAN KARANG DENGAN KELIMPAHAN IKAN KARANG DAN MEGABENTOS DI PERAIRAN DESA BONDALEM, KAB. BULELENG, BALIPerairan Desa Bondalem merupakan bagian dari KKPD Buleleng yang dimanfaatkan untuk wisata bahari dan memiliki ekosistem terumbu karang penting. Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase tutupan karang, kelimpahan ikan karang dan megabentos, serta menganalisis hubungan antara tutupan karang dengan kelimpahan kedua biota tersebut. Penelitian dilakukan pada tiga stasiun, yaitu Gumi Cenik, Sasahan, dan Pura Bingin, menggunakan metode survei dengan penentuan lokasi secara purposive sampling. Data tutupan karang dikumpulkan menggunakan Point Intercept Transect (PIT), ikan karang menggunakan Underwater Visual Census (UVC) - Belt Transect, dan megabentos menggunakan Benthos Belt Transect. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan korelasi Pearson setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan karang keras hidup berada pada kategori buruk hingga sedang, dengan nilai tertinggi di Sasahan (36,9%) dan terendah di Pura Bingin (13,8%). Kelimpahan ikan karang tertinggi ditemukan di Sasahan (0,165 ind/m²), sedangkan kelimpahan megabentos tertinggi ditemukan di Pura Bingin (0,011 ind/m²). Korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif sedang antara tutupan karang dengan kelimpahan ikan karang (r = 0,505; p = 0,663) dan hubungan negatif sangat kuat dengan kelimpahan megabentos (r = -0,861; p = 0,340). Kelimpahan biota asosiasi tidak hanya dipengaruhi oleh tutupan karang, tetapi juga oleh karakter substrat, sedimentasi, kompleksitas habitat, dan tekanan antropogenik.The coastal waters of Bondalem Village are part of the Buleleng Regional Marine Conservation Area, which is used for marine tourism and supports coral reef ecosystems. This study aimed to determine coral cover, reef fish and megabenthos abundance, and their relationship. The study was conducted at three stations, namely Gumi Cenik, Sasahan, and Pura Bingin, using a survey method with purposive sampling. Coral cover was assessed using the Point Intercept Transect (PIT), reef fish using Underwater Visual Census (UVC) with Belt Transect, and megabenthos using Benthos Belt Transect. Descriptive analysis and Pearson correlation analysis were performed after the Shapiro–Wilk normality test. The results showed that live hard coral cover was classified as poor to moderate, with the highest value recorded at Sasahan (36,9%) and the lowest at Pura Bingin (13,8%). Reef fish abundance was highest at Sasahan (0,165 ind/m²), while megabenthos abundance was highest at Pura Bingin (0,011 ind/m²). Pearson correlation showed a moderate positive relationship between coral cover and reef fish abundance (r = 0,505; p = 0,663) and a very strong negative relationship with megabenthos abundance (r = -0,861; p = 0,340). Associated biota abundance was influenced by substrate characteristics, sedimentation, habitat complexity, and anthropogenic pressures.
5100554420J0A023038Bilingual Fun Facts Education Zine: A Media to Explain Museum Sonobudoyo’s Collection for ChildrenLaporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan pelaksanaan Praktik Kerja
yang dilaksanakan di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, pada tanggal 19 Agustus
sampai dengan 14 Desember 2025. Laporan ini berjudul “Bilingual Fun Facts
Education Zine: A Media to Explain Museum Sonobudoyo’s Collection for
Children.” Tujuan penyusunan Tugas Akhir ini adalah mengembangkan mini zine
edukatif dwibahasa sebagai media pembelajaran bagi anak-anak yang berkunjung
ke Museum Sonobudoyo. Mini zine tersebut dirancang untuk menyajikan informasi
mengenai koleksi museum secara sederhana, menarik, dan sesuai dengan
karakteristik anak, serta memperkenalkan kosakata dasar bahasa Inggris melalui
penyajian konten dwibahasa. Dalam proses pengembangan produk, pengumpulan
data dilakukan melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari
Tugas Akhir ini berupa sebuah mini zine edukatif dwibahasa yang terdiri atas
halaman pembuka, halaman adventure mission, halaman petunjuk penggunaan,
delapan halaman koleksi pilihan Museum Sonobudoyo yang meliputi Pasren,
Menhir, Surjan, Wayang, Dakon, Topeng, Keris, dan Batik, halaman kosakata,
halaman aktivitas, serta halaman penutup. Setiap halaman koleksi memuat
pertanyaan pembuka (hook question), deskripsi singkat, bagian Learn English, Fun
Fact, Short Mission, dan aktivitas Let's Say It. Produk yang dihasilkan diharapkan
dapat digunakan sebagai media pembelajaran interaktif untuk membantu anak-anak
mengenal koleksi Museum Sonobudoyo dengan lebih mudah serta
memperkenalkan kosakata dasar bahasa Inggris melalui kegiatan eksplorasi
museum yang menyenangkan.
This final report is based on the job training conducted at Museum
Sonobudoyo, Yogyakarta, from August 19 to December 14, 2025. This report is
entitled “Bilingual Fun Facts Education Zine: A Media to Explain Museum
Sonobudoyo’s Collection for Children.” The purpose of this job training was to
develop a bilingual educational mini zine as a learning medium for children visiting
the museum. The mini zine was designed to present selected museum collections in
a simple, engaging, and child-friendly way while also introducing basic English
vocabulary through bilingual content. In completing this project, several methods
were used to collect data, including observation, interviews, and documentation. As
a result, the project successfully produced a bilingual educational mini zine
consisting of an introduction page, an adventure mission page, a how-to-use page,
eight selected museum collection pages (Pasren, Menhir, Surjan, Wayang, Dakon,
Topeng, Keris, and Batik), a vocabulary page, activity pages, and a closing page.
Each collection page includes a hook question, a short description, a Learn English
section, a Fun Fact section, a Short Mission, and a Let's Say It activity. The
completed mini zine can be used as an interactive educational medium to help
children explore Museum Sonobudoyo, understand its collections more easily, and
learn basic English vocabulary through enjoyable museum activities.
5100654333H1B022047AUDIT DEFISIENSI INFRASTRUKTUR BERBASIS HAZARD IDENTIFICATION, RISK ASSESSMENT, AND RISK CONTROL (HIRARC) PADA LOKASI RAWAN KECELAKAAN BERDASARKAN ANGKA EKIVALEN KECELAKAAN (AEK)Peningkatan angka kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung, khususnya pada ruas jalan kolektor sekunder, menuntut penanganan keselamatan yang terstruktur dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan menentukan ruas jalan yang tergolong lokasi rawan kecelakaan, mengaudit kondisi infrastrukturnya, serta menetapkan tingkat risiko kecelakaan sebagai dasar penentuan prioritas penanganan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif berdasarkan data kecelakaan periode 2019–2024 dari Polrestabes Bandung. Penentuan ruas prioritas dilakukan melalui analisis Angka Ekivalen Kecelakaan (AEK) dan Upper Control Limit (UCL), dilanjutkan dengan audit keselamatan jalan yang mencakup aspek geometrik, kondisi perkerasan menggunakan Pavement Condition Index (PCI), kelengkapan fasilitas perlengkapan jalan, dan kondisi area bebas (clear zone), serta analisis risiko menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jalan LRE Martadinata, Jalan Rajawali Timur, dan Jalan Prof. Dr. Soerya Soemantri merupakan lokasi rawan kecelakaan (black spot) dengan tingkat kerawanan tertinggi. Audit mengungkap berbagai defisiensi infrastruktur, antara lain jarak pandang henti yang tidak memenuhi standar, kerusakan perkerasan, marka jalan pudar, serta keberadaan objek tetap yang menjadi hazard pada area bebas. Analisis HIRARC mengidentifikasi potensi bahaya berkategori risiko tinggi, terutama pada aspek alat penerangan jalan dan jalur pejalan kaki (trotoar). Hasil tersebut menjadi dasar dalam menetapkan rekomendasi penanganan yang diarahkan pada rekayasa teknik (engineering control) terhadap aspek infrastruktur dengan tingkat risiko tinggi guna meningkatkan keselamatan jalan secara berkelanjutan.The rising number of traffic accidents in Bandung City, particularly on secondary collector roads, calls for structured, data-driven safety interventions. This study aims to identify accident-prone road segments, audit their infrastructure conditions, and determine accident risk levels to establish handling priorities. A descriptive method combining quantitative and qualitative approaches was employed, using accident data for the 2019–2024 period obtained from Polrestabes Bandung. Priority segments were determined through Equivalent Accident Number (AEK) and Upper Control Limit (UCL) analysis, followed by a road safety audit covering geometric aspects, pavement condition using the Pavement Condition Index (PCI), completeness of road equipment facilities, and clear zone conditions, as well as risk analysis using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method. The results show that Jalan LRE Martadinata, Jalan Rajawali Timur, and Jalan Prof. Dr. Soerya Soemantri are identified as black spots with the highest vulnerability levels. The audit revealed various infrastructure deficiencies, including substandard stopping sight distance, pavement damage, faded road markings, and the presence of fixed hazardous objects within the clear zone. HIRARC analysis identified high-risk hazards, particularly related to street lighting and pedestrian facilities (sidewalks). These findings serve as a basis for determining treatment recommendations directed toward engineering controls for high-risk infrastructure aspects to sustainably improve road safety.
5100754421L1A022094ANALISIS PROFIL METABOLOMIK Kappaphycus striatus PADA BERBAGAI KONDISI BUDIDAYA DAN PERLAKUAN EKSTRAKSIKappaphycus striatus merupakan rumput laut merah yang mengandung berbagai senyawa metabolit bioaktif. Profil metabolit yang dihasilkan dapat berbeda bergantung pada metode budidaya, masa panen, kondisi sampel, metode ekstraksi, dan jenis pelarut yang digunakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil metabolomik K. striatus berdasarkan perbedaan metode budidaya, masa panen, kondisi sampel, metode ekstraksi, dan jenis pelarut menggunakan Liquid Chromatography–High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) berbasis molecular networking, serta mengidentifikasi senyawa yang terdereplikasi. Sampel berasal dari Teluk Ekas, Nusa Tenggara Barat, dengan perlakuan metode budidaya long line apung dan long line dasar, masa panen hari ke-0, 25, 35, dan 45, kondisi segar dan kering, metode ekstraksi Microwave-Assisted Extraction (MAE) dan maserasi bertingkat, serta pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol. Data dianalisis menggunakan GNPS, Cytoscape, Compass DataAnalysis, dan RStudio. Sebanyak 84 fitur metabolit terdeteksi dan enam senyawa berhasil terdereplikasi, yaitu pheophorbide A, 10S-hydroxypheophorbide a, cholecalciferol, cholesterol, erucamide, dan 13-docosenamide. Perbedaan masa panen menunjukkan variasi profil metabolomik, dengan jumlah node tertinggi diperoleh pada hari ke-25. Sementara itu, metode budidaya, kondisi sampel, metode ekstraksi, dan jenis pelarut tidak menunjukkan perbedaan jumlah node yang signifikan. Senyawa yang berhasil terdereplikasi dilaporkan memiliki potensi sebagai antikanker, antiinflamasi, dan antimikroba, serta berperan dalam metabolisme, sistem imun, dan stabilitas membranKappaphycus striatus is a red seaweed containing various bioactive metabolites. Its metabolomic profile may vary depending on cultivation method, harvest time, sample condition, extraction method, and solvent type. This study aimed to analyze the metabolomic profile of K. striatus under different cultivation methods, harvest times, sample conditions, extraction methods, and solvent types using Liquid Chromatography–High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) combined with a molecular networking approach, as well as to identify dereplicated compounds. Samples were collected from Ekas Bay, West Nusa Tenggara, Indonesia, and included floating and bottom long-line cultivation methods, harvest times of 0, 25, 35, and 45 days, fresh and dried sample conditions, Microwave-Assisted Extraction (MAE) and sequential maceration extraction methods, and n-hexane, ethyl acetate, and methanol as extraction solvents. The data were analyzed using GNPS, Cytoscape, Compass DataAnalysis, and RStudio. A total of 84 metabolite features were detected, and six compounds were successfully dereplicated: pheophorbide A, 10S-hydroxypheophorbide a, cholecalciferol, cholesterol, erucamide, and 13-docosenamide. Differences in harvest time were associated with variations in the metabolomic profile, with the highest number of nodes observed at day 25. In contrast, cultivation method, sample condition, extraction method, and solvent type did not result in significant differences in the number of nodes. The dereplicated compounds have been reported to possess anticancer, anti-inflammatory, and antimicrobial potential, as well as roles in metabolism, immune function, and membrane stability.
5100854422H1B022109ANALISIS PENGARUH JENIS KERUSAKAN JALAN BERDASARKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) TERHADAP KECEPATAN KENDARAAN (STUDI KASUS: JALAN JENDERAL SUDIRMAN, KABUPATEN BOGOR)Infrastruktur jalan memiliki peran penting dalam mobilitas masyarakat, namun kerusakannya sering kali menghambat arus lalu lintas dan menurunkan kecepatan kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis kerusakan jalan terhadap penurunan kecepatan kendaraan dengan studi kasus di Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi kondisi perkerasan adalah Pavement Condition Index (PCI), sedangkan analisis hubungan antara kerapatan kerusakan (density) dan perubahan kecepatan (ΔV) dilakukan menggunakan korelasi Spearman dan regresi linear sederhana. Data kecepatan dikumpulkan melalui survei lapangan menggunakan speed gun untuk tiga kategori kendaraan meliputi sepeda motor, mobil penumpang, dan truk/bus besar. Hasil penelitian menunjukkan kondisi perkerasan jalan bervariasi dari kategori Sempurna (excellent) hingga Gagal (failed), dengan jenis kerusakan meliputi retak kulit buaya, amblas, tambalan, lubang, dan pelepasan butir. Berdasarkan analisis statistik, ditemukan bahwa hanya kendaraan truk/bus besar yang menunjukkan hubungan signifikan secara statistik antara jenis kerusakan lubang (potholes) dengan perubahan kecepatan kendaraan, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,808 dan signifikansi 0,028, serta model regresi Y = 4,5749 + 1878,2051 X13 dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,577. ebaliknya, hubungan pada sepeda motor dan mobil penumpang tidak menunjukkan signifikansi statistik dalam data penelitian ini. Rekomendasi penanganan yang diberikan meliputi rekonstruksi untuk segmen dengan kategori gagal dan sangat buruk, rehabilitasi untuk kategori buruk, serta pemeliharaan rutin untuk segmen kontrol yang masih dalam kondisi sempurna, di mana penanganan kerusakan lubang perlu diprioritaskan karena dampaknya yang paling signifikan terhadap penurunan kinerja kecepatan lalu lintas, khususnya bagi kendaraan berat.
Road infrastructure plays an important role in supporting community mobility, yet its deterioration often hampers traffic flow and reduces vehicle speeds. This research aims to analyze the influence of specific road damage types on the reduction of vehicle speed, using a case study of Jalan Jenderal Sudirman in Bogor Regency. The Pavement Condition Index (PCI) method was utilized to evaluate pavement conditions, while the relationship between damage density and speed change (ΔV) was analyzed using Spearman correlation and simple linear regression. Speed data were collected through field surveys using a speed gun for three vehicle categories including motorcycles, passenger cars, and large trucks/buses. The results indicated that road pavement conditions varied from Excellent to Failed, with identified damage types including alligator cracking, depression, patching, potholes, and weathering/raveling. Based on statistical analysis, it was found that only large trucks/buses showed a statistically significant relationship between potholes and vehicle speed changes, with a correlation coefficient of 0,808 and a significance of 0,028. The resulting regression model for heavy vehicles is Y = 4,5749 + 1878,2051 X13 with a coefficient of determination (R2) of 0,577. Conversely, the relationships for motorcycles and passenger cars did not show statistical significance in this study. Recommended treatments include reconstruction for segments in the failed and very poor categories, rehabilitation for the poor category, and routine maintenance for the control segment in excellent condition, where pothole repairs should be prioritized due to their significant impact on traffic speed performance, particularly for heavy vehicles.
5100954423E1A019135ANALISIS YURIDIS ATAS GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM TERKAIT PERJANJIAN PENGALIHAN PIUTANG ATAU CESSIE (Studi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Nomor : 683/Pdt.G/2022/PN.JKT.SEL) Suatu cara untuk mengalihkan suatu tagihan kebendaan dari kreditur lama ke kreditur baru dalam hukum perdata adalah dengan perjanjian pengalihan piutang atau cessie. Cessie merupakan salah satu instrumen hukum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang memindahkan hak atas piutang atas nama dari kreditur lama (cedent) kepada kreditur baru (cesionaris). Meskipun diatur secara normatif, dalam praktiknya pengalihan piutang kerap menimbulkan sengketa hukum ketika perbuatan yang dilakukan oleh para pihak—baik kreditur, debitur (cessiandis), maupun pihak ketiga—memenuhi unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata. Seperti halnya dalam perkara putusan nomor 683/Pdt.G/2022/PN.JKT.SEL. maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengkualifisir unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum para Tergugat dan Turut Tergugat dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Nomor : 683/Pdt.G/2022/PN.JKT.SEL serta untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan tuntutan Ganti Rugi Penggugat dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Nomor 683/Pdt.G/2022/PN.JKT.SEL Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Tergugat merupakan perbuatan melawan hukum yang bertentangan dengan hak orang lain berupa menguasai lahan serta bangunan yang dimiliki Penggugat, bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku berupa perlanggaran Pasal 10 Ayat 1 Peraturan Jasa Keuangan (PJOK) Nomor 35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan dan Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 613 tentang mengenai tata cara pengalihan atau pemindahan hak atas piutang dari kreditur lama ke kreditur baru, serta bertentangan dengan kepatutan yang ada di masyarakatOne method to transfer a material claim from an old creditor to a new creditor under Indonesian civil law is through a receivables assignment agreement, known as cessie. Cessie is a legal instrument regulated under the Indonesian Civil Code (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata or KUHPerdata) that transfers rights to registered receivables from the original creditor (cedent) to the new creditor (cessionary). Although normatively regulated, in practice, the assignment of receivables often gives rise to legal disputes when the actions committed by the involved parties—whether the creditor, debtor (cessiandus), or a third party—fulfill the elements of an Unlawful Act (Perbuatan Melawan Hukum) as stipulated in Article 1365 of the Civil Code. This is evident in Court Decision Number 683/Pdt.G/2022/PN.JKT.SEL. Therefore, the purpose of this study is to analyze the judge's legal considerations in qualifying the elements of the Unlawful Act committed by the Defendants and Co-Defendants in the South Jakarta District Court Decision Number 683/Pdt.G/2022/PN.JKT.SEL, as well as to determine the judge's legal considerations in granting the Plaintiff's claim for damages in the same decision. The method applied in this study is the normative juridical method. The results of the research indicate that the actions committed by the Defendant constitute an unlawful act, as they violate the rights of others by possessing land and buildings owned by the Plaintiff, breach the perpetrator's legal duty by violating Article 10 Paragraph 1 of the Financial Services Authority Regulation (POJK) Number 35/POJK.05/2018 concerning the Conduct of Business for Financing Companies and Article 613 of the Civil Code regarding procedures for assigning or transferring receivables from an old creditor to a new creditor, and run contrary to principles of propriety in society.
5101054424K1A022013Sintesis Beads Komposit Fotokatalis Selulosa Asetat/TiO2/Silika Sekam Padi untuk Degradasi Zat Warna Methylene BluePeningkatan pencemaran lingkungan akibat limbah zat warna sintetis mendorong pengembangan material fotokatalis yang efektif dan mudah dipisahkan dari larutan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis beads komposit selulosa asetat/TiO₂/silika sekam padi serta mengevaluasi karakteristik dan aktivitas fotokatalitiknya terhadap degradasi methylene blue. Komposit TiO₂/silika disintesis menggunakan silika yang berasal dari sekam padi dan selanjutnya diimobilisasi ke dalam matriks selulosa asetat sehingga terbentuk beads komposit SA/TiO2/sekam padi. Karakterisasi material dilakukan menggunakan X-ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS), dan UV-Visible Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV-Vis DRS). Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa komposit mengandung fase anatase dan rutile dengan ukuran kristalit sebesar 68,26 nm. Analisis SEM menunjukkan morfologi beads berbentuk sferis dengan distribusi partikel yang relatif merata, sedangkan hasil EDS mengonfirmasi keberadaan unsur C, O, Si, dan Ti. Hasil UV-Vis DRS menunjukkan nilai energi celah pita komposit TiO₂/silika sebesar 2,95 eV, beads kontrol SA/TiO₂ sebesar 3,33 eV, dan beads SA/TiO₂/silika sebesar 3,30 e Perbandingan massa selulosa asetat:komposit TiO2/silika sekam padi ditunjukkan pada perbanidngan (0,5:0,1), dengan pH otptimum aktifitas fotodegradasi pada pH 11, dan waktu optimum penyinaran 5 jam. Uji aktivitas fotokatalitik terhadap larutan methylene blue 10 ppm menunjukkan bahwa konsentrasi zat warna menurun hingga 0,87 ppm setelah 5 jam penyinaran dengan efisiensi degradasi sebesar 91,7%. Analisis kinetika menunjukkan bahwa proses degradasi mengikuti model kinetika pseudo orde nol dengan nilai konstanta laju reaksi sebesar 0,4885 ppm jam⁻¹ dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,977. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beads selulosa asetat/TiO₂/silika sekam padi berpotensi digunakan sebagai fotokatalis untuk pengolahan limbah zat warna.The increase in environmental pollution caused by synthetic dye waste has driven the development of effective photocatalytic materials that can be easily separated from solutions. This study aims to synthesize cellulose acetate/TiO₂/rice husk silica composite beads and evaluate their characteristics and photocatalytic activity toward the degradation of methylene blue. The TiO₂/silica composite was synthesized using silica derived from rice husks and subsequently immobilized into a cellulose acetate matrix to form SA/TiO₂/rice husk composite beads. Material characterization was performed using X-ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS), and UV-Visible Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV-Vis DRS). XRD analysis results showed that the composite contained anatase and rutile phases with a crystallite size of 68.26 nm. SEM analysis revealed that the beads had a spherical morphology with a relatively uniform particle distribution, while EDS results confirmed the presence of the elements C, O, Si, and Ti. UV-Vis DRS results showed a bandgap energy of 2.95 eV for the TiO₂/silica composite, 3.33 eV for the SA/TiO₂ control beads, and 3.30 eV for the SA/TiO₂/ silica at 3.30 e. The mass ratio of cellulose acetate to TiO₂/rice husk silica composite was set at 0.5:0.1, with an optimum pH for photodegradation activity at pH 11 and an optimum irradiation time of 5 hours. A test of photocatalytic activity on a 10 ppm methylene blue solution showed that the dye concentration decreased to 0.87 ppm after 5 hours of irradiation, with a degradation efficiency of 91.7%. Kinetic analysis showed that the degradation process followed a pseudo-zero-order kinetic model with a reaction rate constant of 0.4885 ppm h⁻¹ and a coefficient of determination (R²) of 0.977. The results of this study indicate that cellulose acetate/TiO₂/rice husk silica beads have the potential to be used as photocatalysts for dye wastewater treatment.
5101154425C1L022027Pengaruh Literasi Keuangan, Pengendalian Diri, dan Teman Sebaya Terhadap Perilaku Konsumtif Murid SMA Negeri 1 BaturradenAkselerasi inovasi teknologi meningkatkan aksesibilitas terhadap berbagai alternatif produk dan jasa, sehingga mempermudah aktivitas pemilihan dan pembelian. Aksesbilitas telah mengubah kepentingan kegiatan konsumsi yang tidak didasari lagi kebutuhan melainkan keinginan atau perilaku konsumtif. Fenomena perilaku konsumtif ditemukan di SMA Negeri 1 Baturraden yang terlihat dari padatnya intensitas murid di kantin sekolah, gawai bermerek, dan kebiasaan berkunjung ke tempat-tempat prestise seperti café. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh literasi keuangan, pengendalian diri, teman sebaya terhadap murid kelas XI SMA Negeri 1 Baturraden. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2025/2026 di SMA Negeri 1 Baturraden.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif melalui metode survei yang dilakukan kepada murid kelas XI SMA Negeri 1 Baturraden Populasi dalam penelitian ini terdiri dari murid kelas XI SMA Negeri 1 Baturraden yang berjumlah 386 murid, dengan sampel sebanyak 186 murid yang didapatkan dengan teknik proportionate random sampling. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi, dan kuesioner. Data yang diperoleh dari kuesioner dilakukan transformasi menggunakan Method of Succesive Interval (MSI). Pengolahan data dalam penelitian ini memanfaatkan perangkat lunak Statistical Package for the Social Science (SPSS) versi 25.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) literasi keuangan berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap perilaku konsumtif; (2) pengendalian diri berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap perilaku konsumtif; (3) teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif. Implikasi dari penelitian ini adalah: (1) literasi keuangan akan lebih berdampak apabila murid memiliki motivasi untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, (2) murid perlu membuat skala prioritas dalam kegiatan pembelian agar sesuai kebutuhan daripada pembelian dikarenakan keinginan, (3) murid perlu membetuk batasan diri dan selektif agar tidak mudah terpengaruh teman sebaya.
The acceleration of technological innovation increases accessibility to a variety of alternative products and services, simplifying selection and purchasing activities. Accessibility has shifted the importance of consumption activities, shifting them away from needs to desires, or consumer behavior. This consumer behavior phenomenon was found at SMA Negeri 1 Baturraden, evident in the high density of students in the school cafeteria, the prevalence of branded gadgets, and the habit of visiting prestigious establishments such as cafes. This study aims to analyze the influence of financial literacy, self-control, and peers on 11th-grade students at SMA Negeri 1 Baturraden. This study was conducted during the 2025/2026 academic year at SMA Negeri 1 Baturraden.
This is a quantitative study using a survey method administered to 11th-grade students at SMA Negeri 1 Baturraden. The population for this study consisted of 386 11th-grade students at SMA Negeri 1 Baturraden 1, with a sample of 186 students selected using the proportionate random sampling technique. Data collection was conducted through interviews, documentation, and questionnaires. Data obtained from the questionnaires were analyzed using the Method of Successive Intervals (MSI). Data processing in this study utilized the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) version 25.
The results of this study indicate that: (1) financial literacy has a positive but insignificant effect on consumer behavior; (2) self-control has a positive but insignificant effect on consumer behavior; (3) peers have a positive and significant effect on consumer behavior. The implications of this study are: (1) financial literacy will have a greater impact if students are motivated to apply their knowledge in daily life; (2) students need to prioritize their purchases based on needs rather than wants; (3) students need to set personal boundaries and be selective so they are not easily influenced by their peers.
5101254427J1G024004AN ANALYSIS OF MULTIMEDIA PRINCIPLES REFLECTED IN EFL TIKTOK VIDEO CONTENT
(A Qualitative Content Analysis of Multimedia Design in the @efeindonesia Account Based on Mayer’s Cognitive Theory of Multimedia Learning)
Platform media sosial seperti TikTok telah menjadi wadah inovatif untuk pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) secara informal melalui video edukatif berdurasi pendek. Namun, desain konten instruksional mungkin tidak selaras dengan prinsip-prinsip multimedia berdasarkan Teori Kognitif Pembelajaran Multimedia (CTML), yang dapat mendukung proses kognitif pelajar melalui kategori panduan untuk mengurangi pemrosesan yang tidak relevan, mengelola pemrosesan yang esensial, dan mendorong pemrosesan generatif. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip multimedia apa saja yang tercermin dalam konten EFL TikTok dari salah satu akun yang secara aktif menyediakan konten video pembelajaran bahasa Inggris, yaitu @efeindonesia. Penelitian ini menggunakan analisis konten kualitatif dengan pendekatan pengkodean berbasis teori dengan menganalisis 37 video dari akun tersebut sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelapan prinsip multimedia yang diadaptasi tercermin dalam video-video tersebut. Prinsip Koherensi tercermin dalam 33 video, yang menunjukkan bahwa sebagian besar video yang dianalisis mempertahankan fokus instruksional dan meminimalkan gangguan yang tidak perlu. Prinsip Pemberian Sinyal tercermin dalam seluruh 37 video, yang menunjukkan bahwa akun tersebut memprioritaskan penekanan pada poin-poin penting dengan dukungan isyarat visual. Prinsip Kontiguitas Spasial tercermin dalam 36 video, yang menunjukkan bahwa elemen-elemen instruksional yang terkait sebagian besar ditempatkan berdekatan satu sama lain. Prinsip Kontiguitas Temporal tercermin dalam 19 video, yang menunjukkan bahwa narasi lisan dan teks di layar tidak selalu ditampilkan secara bersamaan. Prinsip Segmentasi tercermin dalam 28 video, yang menunjukkan bahwa segmentasi informasi umumnya diterapkan. Prinsip Modalitas tercermin dalam 33 video, yang menunjukkan bahwa sebagian besar video menggabungkan elemen visual instruksional dengan penjelasan verbal. Prinsip Personalisasi tercermin hanya dalam 11 video, yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa percakapan jarang diterapkan karena penyajiannya yang ringkas. Prinsip Suara tercermin dalam 35 video, yang menunjukkan bahwa video yang dianalisis secara konsisten menggunakan narasi manusia sebagai penjelasan verbal. Secara keseluruhan, desain multimedia akun @efeindonesia memprioritaskan penyampaian informasi yang jelas dan efisien melalui instruksi berbasis teks yang terorganisir dengan baik, isyarat visual yang kuat, penyampaian yang ringkas, dan narasi manusia yang alami, daripada interaksi percakapan yang ekstensif. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip multimedia dalam konten video TikTok untuk pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) perlu dipahami sebagai desain instruksional yang fleksibel, karena prinsip-prinsip yang berbeda mungkin mendapat perhatian yang berbeda-beda tergantung pada tujuan pembelajaran, gaya komunikasi, dan karakteristik platform pembelajaran berdurasi pendek.Social media platforms such as TikTok have become innovative platforms for informal EFL learning through short-form educational videos. However, instructional content design may not align with multimedia principles based on the Cognitive Theory of Multimedia Learning (CTML), which could support learners’ cognitive processing through categories of guidance for reducing extraneous processing, managing essential processing, and fostering generative processing. Therefore, this research aimed to identify and analyze what multimedia principles were reflected in the EFL TikTok content of one of the accounts that actively provides English-learning video content, namely @efeindonesia. This research utilized a qualitative content analysis with a theory-driven coding approach by analyzing 37 videos from the account as the sample. This research showed that all eight adapted multimedia principles were reflected. Coherence Principle was reflected in 33 videos, indicating that most of the analyzed videos maintained instructional focus and minimized unnecessary distractions. Signaling Principle was reflected in all 37 videos, indicating that the account prioritized highlighting key points with the support of visual cues. Spatial Contiguity Principle was reflected in 36 videos, indicating that related instructional elements were mostly placed in proximity to one another. Temporal Contiguity Principle was reflected in 19 videos, indicating that spoken narration and on-screen text were not always displayed simultaneously. Segmenting Principle was reflected in 28 videos, indicating that information segmentation was generally applied. Modality Principle was reflected in 33 videos, indicating that most videos combined instructional visual elements with verbal explanations. Personalization Principle was reflected in only 11 videos, indicating that the use of conversational language was rarely applied due to the concise presentation. Voice Principle was reflected in 35 videos, indicating that the videos consistently used human narration as the verbal explanations. Overall, the multimedia design of the @efeindonesia account prioritized clear and efficient information delivery through well-organized text-based instruction, heavy visual cues, concise delivery, and natural human narration rather than extensive conversational interaction. These results suggest that the application of multimedia principles in EFL TikTok video content should be understood as a flexible instructional design, as different principles may receive different amounts of attention depending on instructional objectives, communication styles, and the characteristics of short-form learning platforms.
5101354431F1F022003Faktor-Faktor Penghambat Implementasi Kepatuhan Indonesia terhadap Konvensi ILO No.182 dalam Penanganan Kasus Pekerja Anak (2022-2024)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penghambat implementasi kepatuhan Indonesia terhadap Konvensi ILO No. 182 tentang
Larangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak dalam Penanganan kasus pekerja anak periode 2022-2024. Meskipun Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut sejak tahun 2000 dan
mengintegrasikannya ke dalam berbagai instrumen hukum nasional, data Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa presentase pekerja anak usia 10-17 tahun tetap mengalami fluktuasi di atas 2% sepanjang 2022-2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data studi dokumen serta
dianalisis menggunakan non-compliance theory dari Chayes Chayes. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketidakpatuhan Indonesia bersumber dari tiga faktor struktural yang saling berkaitan.
This study aims to analyze the inhibiting factors behind Indonesia's compliance implementation with ILO Convention No. 182 on the Prohibition and Immediate Action for the Elimination of the Worst Forms of Child Labour in addressing child labor cases during the 2022-2024 period. Although Indonesia ratified the convention in 2000 and incorporated it into various national legal
instruments, data from the Central Statistics Agency (BPS) indicate that the percentage of child laborers aged 10-17 has consistently fluctuated above 2% throughout 2022-2024. This research employs a descriptive qualitative method with
document study as the data collection technique, analyzed through the non-compliance theory developed by Chayes Chayes. This study concludes that Indonesia's non-compliance is not driven by unwillingness to comply, but rather by
structural obstacles that require legal framework updates, institutional capacity strengthening, and adaptation to contemporary developments.
5101454438F1B019074ANALISIS KAPASITAS KELEMBAGAAN POKDARWIS DALAM PENGELOLAAN DESA WISATA PEKUNDENPokdarwis Wisanggeni merupakan organisasi berbasis komunitas yang mengelola Desa Wisata Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Meskipun telah meraih Juara 1 Lomba Desa Wisata se-Jawa Tengah (2022) dan masuk 75 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023, kondisi kelembagaannya belum dikaji secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas kelembagaan Pokdarwis Wisanggeni berdasarkan empat aspek: kapasitas sumber daya manusia (SDM), kapasitas organisasi, kapasitas keuangan, dan kapasitas jaringan, serta menganalisis pola interelasi antar keempat aspek tersebut. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap tujuh informan yang dipilih secara purposive sampling. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014). Hasil penelitian menunjukkan kapasitas kelembagaan Pokdarwis Wisanggeni berkembang secara tidak merata. Kapasitas SDM dan organisasi berada dalam kondisi cukup baik, kapasitas keuangan dalam tahap berkembang, dan kapasitas jaringan menunjukkan kondisi yang tidak merata antar segmen pemangku kepentingan. Penelitian ini menghasilkan lima temuan: (1) keberhasilan kompetisi sebagai katalis kapasitas multi-dimensi; (2) paradoks kemandirian finansial; (3) peran ganda sebagai hambatan struktural; (4) modal sosial personal sebagai pengganti kemitraan formal; dan (5) interelasi asimetris antar dimensi.Pokdarwis Wisanggeni is a community-based organization managing Pekunden Tourist Village, Banyumas Sub-District, Banyumas Regency. Despite achieving First Place in the Central Java Tourist Village Competition (2022) and being selected among the top 75 finalists of the 2023 Indonesian Tourist Village Award (ADWI), its institutional condition has never been studied scientifically. This study aims to analyze the institutional capacity of Pokdarwis Wisanggeni across four aspects: human resource (HR) capacity, organizational capacity, financial capacity, and network capacity, as well as the interrelation patterns among these four aspects. A descriptive qualitative approach was employed with data collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving seven purposively selected informants. Data analysis followed the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana (2014). Findings indicate that institutional capacity develops unevenly: HR and organizational capacities are in sufficiently good condition, financial capacity is in a developing stage, and network capacity shows uneven conditions across stakeholder segments. This study generates five key findings: (1) competition success as a multi-dimensional capacity catalyst; (2) the paradox of financial independence; (3) dual roles as a structural participation barrier; (4) personal social capital as a substitute for formal partnerships; and (5) asymmetric interrelations among capacity dimensions.
5101554429D1A022086PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA AYAM BRAHMA MENGGUNAKAN PENGENCER RINGER LAKTAT
Ayam Brahma merupakan ayam yang memiliki bobot badan besar dan postur tubuh tinggi tetapi dengan keunggulan tersebut, ayam Brahma kesulitan dalam melakukan perkawinan secara alami, maka dari itu diperlukan Inseminasi Buatan untuk perkembangbiakan yang lebih efektif. Faktor yang berperan dalam mempertahankan kualitas semen selama penyimpanan meliputi bahan pengencer yang digunakan dan kondisi penyimpanan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan lama penyimpanan (1, 3, 5, 7 jam) terhadap motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa ayam Brahma yang diencerkan dengan larutan Ringer Laktat. Materi yang digunakan yaitu 3 ekor ayam Brahma jantan umur 1,5-2 tahun dan bobot rata-rata 2-2,5 kg dengan rataan volume sperma 0,19 ml/ejakulasi. Variabel yang diamati motilitas, viabilitas dan abnormalitas. Perlakuan terbagi jadi empat yaitu P₁ (1 jam), P₂ (3 jam), P₃ (5 Jam) dan P₄ (7Jam) dan 5 ulangan. Terjadi penurunan persentase motilitas setiap lama penyimpanan spermatozoa dari waktu simpan 1, 3, 5, dan 7 jam dengan jarak setiap 2 jam sekali, dengan rerata tertinggi di P₁ sebesar (83,00%) dan rerata terendah di P₄ sebesar (56,00%). Nilai rerata tertinggi viabilitas P₁ (89,12 ± 1,79) dan nilai rerata terendah P₄ (63,25 ± 7,23). Persentase nilai abnormlitas tertinggi P₄ (21.86 ± 2.81) dan terendah P₁ (9,39 ± 2.80). Disimpulkan bahwa lama penyimpanan dengan kualitas spermatozoa yang optimum diperoleh pada penyimpanan 3 jam.


Brahma chickens are characterized by their large body mass and tall stature; however, these physical traits make natural mating difficult, necessitating artificial insemination for effective breeding. Factors influencing semen quality during storage include the type of diluent used and the storage conditions. This study aimed to determine the effect of different storage durations (1, 3, 5, and 7 hours) on the motility, viability, and abnormality of Brahma chicken spermatozoa diluted with Lactated Ringer's solution. The study utilized three male Brahma chickens (aged 1.5–2 years, weighing 2–2.5 kg, with an average semen volume of 0.19 ml/ejaculate). The observed variables were motility, viability, and abnormality. Treatments were divided into four groups—P₁ (1 hour), P₂ (3 hours), P₃ (5 hours), and P₄ (7 hours)—with five replicates each. A decline in the percentage of motility was observed as storage duration increased (from 1 to 7 hours at 2-hour intervals); the highest mean motility was recorded in P₁ (83.00%) and the lowest in P₄ (56.00%). The highest mean viability was found in P₁ (89.12 ± 1.79) and the lowest in P₄ (63.25 ± 7.23). The highest percentage of abnormality was observed in P₄ (21.86 ± 2.81) and the lowest in P₁ (9.39 ± 2.80). It is concluded that optimal spermatozoa quality is achieved with a storage duration of 3 hours.

5101654399F1A022006Peran Kelompok Wanita Tani dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga (Studi Pada Kelompok Wanita Tani Makmur Berkah Desa Kutasari) Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal. Salah satu bentuk partisipasi tersebut diwujudkan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berperan dalam pemberdayaan perempuan sekaligus penguatan ketahanan pangan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kelompok Wanita Tani Makmur Berkah dalam meningkatkan ketahanan pangan keluarga di Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap anggota KWT, perangkat desa, penyuluh pertanian lapangan, serta konsumen. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, sedangkan validitas data dilakukan melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KWT Makmur Berkah berperan dalam meningkatkan ketahanan pangan keluarga melalui lima program utama, yaitu bidang pertanian, perikanan, pengolahan hasil pertanian, outing class, dan bank sampah organik. Program-program tersebut mampu meningkatkan ketersediaan pangan, diversifikasi konsumsi, nilai ekonomi hasil pertanian, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Analisis menggunakan teori modal sosial Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa keberhasilan KWT didukung oleh terbentuknya kepercayaan, norma, dan jaringan sosial yang memperkuat kerja sama antaranggota maupun kemitraan dengan pemerintah desa dan berbagai lembaga.
Kata Kunci: Kelompok Wanita Tani, Ketahanan Pangan, Modal Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Ketahanan Pangan Keluarga.
Food security is a strategic issue in sustainable development that depends not only on government policies but also on community participation in managing local resources. One form of such participation is represented by Women Farmers Groups (Kelompok Wanita Tani/KWT), which contribute to women's empowerment while strengthening household food security. This study aims to analyze the role of the Makmur Berkah Women Farmers Group in improving family food security in Kutasari Village, Baturraden District, Banyumas Regency. The research employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving KWT members, village officials, agricultural extension officers, and consumers. Data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, while data validity was ensured through source triangulation. The findings reveal that KWT Makmur Berkah strengthens family food security through five major programs, namely agriculture, fisheries, agricultural product processing, outing class activities, and an organic waste bank. These programs improve food availability, diversify household food consumption, increase the economic value of agricultural products, and encourage community participation in environmental management. Based on Pierre Bourdieu's social capital theory, the success of the group is supported by trust, shared norms, and social networks that reinforce collaboration among members and partnerships with local government and related institutions.
Keywords: Women Farmers Group, Food Security, Social Capital, Women Empowerment, Household Food Security.
5101754029E1A022157PERLINDUNGAN HUKUM MEREK TERKENAL “ZIPPO” ATAS TINDAKAN ITIKAD TIDAK BAIK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS
(Studi Putusan Nomor 114/Pdt.Sus-Merek/2024/PN.Niaga.Jkt.Pst)
Sistem pendaftaran merek di Indonesia menganut asas first to file guna mewujudkan kepastian hukum. Pada prakteknya asas ini kerap disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mendaftarkan merek dengan iktikad tidak baik, khususnya dengan meniru merek terkenal milik pihak lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelindungan hukum terhadap merek terkenal "ZIPPO" serta akibat hukum atas pembatalan merek "ZIPPER" yang terbukti didaftarkan dengan iktikad tidak baik berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 114/Pdt.Sus-HKI/Merek/2024/PN Niaga Jkt.Pst.
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Spesifikasi penelitian bersifat deskriptif analitis dengan memanfaatkan data sekunder hasil studi kepustakaan, yang selanjutnya disajikan secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Hakim secara tepat memberikan pelindungan hukum represif dengan mengakui status keterkenalan ZIPPO dan membatalkan pendaftaran ZIPPER karena terbukti memiliki persamaan pada pokoknya di Kelas 34. Akibat hukum dari putusan tersebut adalah hilangnya hak eksklusif Tergugat, kewajiban pencoretan merek oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, serta pemulihan keadaan hukum (restitutio in integrum) bagi Penggugat guna menjamin persaingan usaha yang sehat dan pelindungan konsumen.
The trademark registration system in Indonesia adheres to the first-to-file principle to achieve legal certainty. However, this principle is often abused by irresponsible parties to register trademarks in bad faith, particularly by imitating well-known marks belonging to others. This study aims to analyze the legal protection of the well-known mark "ZIPPO" and the legal consequences of the cancellation of the "ZIPPER" mark, which was proven to be registered in bad faith based on the Decision of the Central Jakarta Commercial Court Number 114/Pdt.Sus-HKI/Merek/2024/PN Niaga Jkt.Pst.
This research employs a normative juridical method with statutory and case approaches. The research specification is analytical descriptive utilizing secondary data gathered from library research, which is subsequently presented in a qualitative descriptive manner.
The results indicate that the Panel of Judges appropriately provided repressive legal protection by recognizing ZIPPO's well-known status and canceling the ZIPPER registration due to its proven essential similarity in Class 34. The legal consequences of the decision include the termination of the Defendant's exclusive rights, the obligation of the Directorate General of Intellectual Property to strike out the mark, and the restoration of the legal state (restitutio in integrum) for the Plaintiff to ensure fair business competition and consumer protection.
5101853722E1B022030JUDICIAL REVIEW OF THE APPLICATION FOR ANNULMENT ON BANI ARBITRATION AWARD
(Analysis of Supreme Court Decision Number 901 B/Pdt.Sus-Arbt/2025)
ABSTRAK

Putusan arbitrase pada dasarnya bersifat final dan mengikat, namun Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa tetap membuka ruang pembatalan melalui mekanisme pengawasan yudisial yang terbatas, sebagaimana tampak dalam sengketa antara Mitora Pte. Ltd. dan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi yang diperiksa hingga Putusan Mahkamah Agung Nomor 901 B/Pdt.Sus-Arbt/2025. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan analitis, dan pendekatan kasus untuk mengkaji pengaturan hukum mengenai syarat dan alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase serta pertimbangan hukum hakim dalam menolak permohonan pembatalan Putusan Arbitrase BANI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 membatasi alasan pembatalan secara limitatif pada tiga hal, yaitu dokumen palsu, dokumen yang disembunyikan, dan tipu muslihat, sehingga pengadilan tidak berwenang memeriksa kembali pokok sengketa. Penolakan permohonan pembatalan oleh Mahkamah Agung dinilai telah tepat secara yuridis karena Pemohon keliru menjadikan BANI sebagai pihak (error in persona) dan tidak dapat membuktikan unsur-unsur Pasal 70, yang diperkuat oleh keabsahan Perjanjian Kerja Sama Nomor 13 berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata, prinsip choice of forum dalam Hukum Perdata Internasional, serta nilai kepastian hukum menurut teori Gustav Radbruch.
ABSTRACT

An arbitral award is inherently final and binding; however, Law Number 30 of 1999 on Arbitration and Alternative Dispute Resolution still allows for annulment through a limited form of judicial supervision, as reflected in the dispute between Mitora Pte. Ltd. and Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, examined up to Supreme Court Decision Number 901 B/Pdt.Sus-Arbt/2025. This study employs a normative juridical method with statute, analytical, and case approaches to examine the legal regulation of the requirements and grounds for annulment petitions against arbitral awards, as well as the judges' legal reasoning in rejecting the annulment petition against the BANI arbitral award. The findings show that Article 70 of Law Number 30 of 1999 limits the grounds for annulment to three matters—forged documents, concealed decisive documents, and fraud—so that courts have no authority to re-examine the merits of the dispute. The Supreme Court's rejection of the annulment petition is legally sound, given that the Petitioner erroneously named BANI as a party (error in persona) and failed to prove the elements of Article 70, a conclusion reinforced by the validity of Cooperation Agreement Number 13 under Article 1320 of the Indonesian Civil Code, the choice-of-forum principle in Private International Law, and the value of legal certainty under Gustav Radbruch's theory.
5101954430L1C020035Studi Prevalensi Penyakit Karang pada Karang Keras (Scleractinia) di Wilayah Barat Kepulauan KarimunjawaTerumbu karang merupakan ekosistem laut dengan fungsi ekologis penting, namun rentan terhadap tekanan lingkungan, termasuk penyakit karang yang dapat menurunkan kesehatan karang keras (Scleractinia) dan memicu degradasi terumbu. Penelitian ini bertujuan menganalisis tutupan karang keras, mengidentifikasi jenis penyakit karang, serta menentukan prevalensi penyakit di wilayah barat Kepulauan Karimunjawa. Lokasi penelitian ini dipilih karena merupakan kawasan yang sering dikunjungi wisatawan untuk kegiatan penyelaman diving dan snorkeling. Pengambilan data tutupan karang keras dilakukan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT), sedangkan penyakit karang dilakukan dengan metode Visual Census. Data tutupan karang keras dianalisis menggunakan aplikasi CPCe, sedangkan prevalensi penyakit dihitung menggunakan rumus prevalensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata tutupan karang keras pada ketiga stasiun termasuk dalam kategori sedang, yaitu 47,79%. Kemudian, terdapat tujuh jenis penyakit karang yang teridentifikasi, yaitu White Syndrome, White Plague, Growth Anomalies, White Spot, White Band Disease, Black Band Disease, dan Pink Spot. Nilai rata-rata prevalensi penyakit karang pada ketiga stasiun tersebut mencapai 43,79%. Nilai prevalensi penyakit tersebut menunjukkan adanya gangguan kondisi perairan yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan karang sehingga diperlukan upaya pengamatan jangka panjang di lokasi tersebut.Coral reefs are marine ecosystems with important ecological functions; however, they are highly vulnerable to environmental pressures, including coral diseases that can reduce the health of hard corals and accelerate reef degradation. This study aimed to analyze hard coral cover, identify coral disease types, and determine disease prevalence in the western waters of the Karimunjawa Islands. The study sites were selected because they are frequently visited for marine tourism activities. Hard coral cover data were collected using the Underwater Photo Transect (UPT) method, while coral disease data were obtained through the Visual Census method. Hard coral cover was analyzed using Coral Point Count with Excel extensions (CPCe) software, whereas disease prevalence was calculated using the prevalence formula. The results showed that the average hard coral cover across the stations was classified as moderate, with a value of 47.79%. Seven coral disease types were identified, namely White Syndrome, White Plague, Growth Anomalies, White Spot, White Band Disease, Black Band Disease, and Pink Spot. The average coral disease prevalence across the stations reached 43,79%. This value indicates potential disturbances in environmental conditions that may adversely affect coral growth, highlighting the need for long term observation in the study area.
5102054432B1A022166Upaya Meningkatkan Vigor Tunas Kentang (Solanum tuberosum L.) dengan Pemberian Sukrosa dan BAP Berbeda dalam Kultur in VitroKentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman penghasil umbi yang bersifat semusim dan termasuk dalam famili Solanaceae. Kentang banyak dikembangkan di Indonesia karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Namun, peningkatan produksi kentang terkendala oleh ketersediaan bibit yang sangat terbatas dan berkualitas rendah. Salah satu pilihan dalam meningkatkan produksi adalah penyediaan bibit melalui teknik kultur in vitro. Keberhasilan kultur in vitro dipengaruhi oleh faktor media yang digunakan. Pembentukan tunas dapat dipacu dengan penggunaan 6-Benzylaminopurine (BAP) dan sukrosa untuk menghasilkan vigor tunas yang baik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: 1) menguji pengaruh interaksi antara sukrosa dan BAP pada pertumbuhan dan vigor tunas mikro kentang calon kultivar M2 dalam kultur in vitro; 2) menentukan konsentrasi sukrosa dan BAP yang terbaik untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan vigor tunas mikro kentang calon kultivar M2 dalam kultur in vitro.
Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial 2 faktor. Faktor pertama adalah sukrosa dengan empat taraf konsentrasi (20, 30, 40, dan 50 g/L). Faktor kedua adalah BAP dengan empat taraf konsentrasi (0, 4, 9, dan 13 µM). Kombinasi kedua faktor menghasilkan 16 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali, sehingga total terdapat 48 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah konsentrasi sukrosa dan BAP. Variabel terikat yang diamati adalah pertumbuhan dan vigor tunas mikro kentang, dengan parameter yang diukur meliputi jumlah tunas, panjang tunas, diameter tunas, jumlah daun, jumlah akar dan laju pertumbuhan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% dan 1%, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dan regresi dengan tingkat signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan interaksi sukrosa dan BAP berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas baru, panjang tunas baru, dan jumlah daun kentang calon kultivar M2 dalam kultur in vitro, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap LPR jumlah tunas, diameter tunas, LPR jumlah daun, dan jumlah akar. Secara terpisah, sukrosa berpengaruh terhadap panjang dan diameter tunas, sedangkan BAP berpengaruh terhadap panjang tunas, jumlah daun, LPR jumlah daun, dan jumlah akar. Kombinasi media tanpa BAP dengan sukrosa 40 g/L merupakan perlakuan yang paling direkomendasikan karena menghasilkan jumlah tunas mikro baru terbanyak. Meskipun demikian, parameter pertumbuhan lain, seperti panjang tunas, jumlah daun, diameter tunas, dan jumlah akar, menunjukkan respons optimum pada kombinasi atau konsentrasi perlakuan yang berbeda.
Potato (Solanum tuberosum L.) is an annual tuber-producing crop belonging to the family Solanaceae and is widely cultivated in Indonesia because of its high economic value. However, potato production is constrained by the limited availability and poor quality of planting material. One promising approach to overcoming this constraint is the production of planting material through in vitro culture. The success of in vitro culture is largely determined by the composition of the culture medium. In particular, shoot formation can be stimulated through the application of 6-benzylaminopurine (BAP) in combination with sucrose to promote vigorous microshoot development. Therefore, this study was conducted to (1) evaluate the interaction between sucrose and BAP on the growth and vigour of microshoots of the prospective M2 potato cultivar under in vitro culture conditions, and (2) determine the optimum concentrations of sucrose and BAP for promoting growth and improving microshoot vigour.
The experiment was conducted using a completely randomised design (CRD) with a two-factor factorial arrangement. The first factor was sucrose concentration at four levels (20, 30, 40, and 50 g L⁻¹), while the second factor was BAP concentration at four levels (0, 4, 9, and 13 µM). The two factors generated 16 treatment combinations, each of which was replicated three times, giving a total of 48 experimental units. The experimental factors were sucrose and BAP concentrations, whereas the response variables were the growth and vigour of potato microshoots. The parameters evaluated included the number of new shoots, shoot length, shoot diameter, leaf number, root number, and the relative growth rate of shoots and leaves. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level.
The results demonstrated that the interaction between sucrose and BAP significantly affected the number of new shoots, new shoot length, and leaf number of the prospective M2 potato cultivar under in vitro culture conditions, but had no significant effect on the relative growth rate of shoot production, shoot diameter, the relative growth rate of leaf production, or root number. Independently, sucrose significantly influenced shoot length and shoot diameter, whereas BAP significantly affected shoot length, leaf number, the relative growth rate of leaf production, and root number. The culture medium supplemented with 40 g L⁻¹ sucrose without BAP was identified as the most suitable treatment for microshoot multiplication, as it produced the highest number of new microshoots. However, other growth parameters, including shoot length, leaf number, shoot diameter, and root number, exhibited optimum responses under different treatment combinations or concentrations.