Artikelilmiahs
Menampilkan 51.041-51.060 dari 51.065 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51041 | 54455 | F1A021092 | Eksistensi Profesi SPG (Sales Promotion Girl) Rokok Di Tengah Maraknya Kasus Pelecehan Seksual Di Kabupaten Banyumas | Profesi SPG (Sales Promotion Girl) memiliki peran penting dalam strategi pemasaran. Namun, terdapat kerentanan tinggi terhadap kasus pelecehan seksual akibat ketimpangan gender dan stigma sosial yang masih melekat pada profesi ini. Melalui hasil pra-survey, data nasional, dan kasus aktual menunjukan pelecehan seksual merupakan hal yang cukup sering mereka alami. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menjelaskan eksistensi, motivasi, serta pemaknaan SPG dalam fenomena pelecehan seksual. Penelitian ini diharapkan dapat memberi konstribusi terhadap pengembangan kajian sosiologi gender, khususnya dalam memahami dinamika peran dan pengalaman perempuan di sektor kerja yang sering kali terpinggirkan dari wacana kesetaraan. Eksistensi profesi SPG (Sales Promotion Girl) rokok di Kabupaten Banyumas masih cukup kuat dan berperan penting dalam strategi pemasaran perusahaan. SPG tidak hanya berfungsi sebagai tenaga penjual, tetapi juga sebagai representasi visual merek yang menuntut penampilan menarik dan kemampuan komunikasi yang baik. Selain itu, faktor ekonomi menjadi motivasi mereka untuk tetap bertahan, sementara pengalaman pelecehan seksual dimaknai sebagai risiko dari pekerjaan yang muncul akibat stigma negatif oleh masyarakat serta berbagai hambatan lainnya sehingga memengaruhi posisi sosial SPG sebagai pekerja perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif dari Miles, Huberman, dan Saldana, dan Validasi data menggunakan metode triangulasi. Informan utama berjumlah enam orang yaitu SPG (Sales Promotion Girl) rokok dan informan pendukung berjumlah empat orang yaitu 2 orang MD (Marketing Direct) rokok dan 2 oknum masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian Sosiologi khususnya Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial. Dukungan yang baik dari perusahaan, pemerintah khususnya UPTD PPA (Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak), maupun masyarakat diharapkan dapat mewujudkan lingkungan kerja yang adil dan aman. Sementara, pihak SPG sendiri diharapkan dapat lebih memahami hak-haknya sebagai pekerja. | The profession of Sales Promotion Girls (SPGs) plays an important role in marketing strategies. However, this profession is highly vulnerable to sexual harassment due to gender inequality and the persistent social stigma attached to SPGs. Findings from preliminary surveys, national data, and actual cases indicate that sexual harassment is a common experience among SPGs. The purpose of this study is to identify and explain the existence, motivations, and meanings attributed by Sales Pomotion Girl (SPGs) to the phenomenon of sexual harassment. This research is expected to contribute to the development of the sociology of gender, particularly in understanding the dynamics of women’s roles and experiences in the labor sector an area often marginalized in discourses on equality. The existence of cigarette SPGs in Banyumas Regency remains significant and continues to play a crucial role in corporate marketing strategies. SPGs function not only as sales promoters but also as visual representatives of a brand, requiring an attractive appearance and strong communication skills. Economic factors serve as the primary motivation for them to remain in the profession, while experiences of sexual harassment are often perceived as occupational risks arising from negative societal stigma and various workplace challenges that influence their social position as female workers. This study employed a descriptive qualitative method. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana, while data validity was ensured through triangulation. The study involved six main informants, namely cigarette Sales Promotion Girls (SPGs), and four supporting informants, namely two cigarette Marketing Directors (MD) and two members of the public. This study is expected to contribute to the development of Sociological studies, particularly in the fields of Gender Equality and Social Inclusion. Strong support from companies, the government especially the Regional Technical Implementation Unit for the Protection of Women and Children (UPTD PPA)—and society is essential in creating a fair and safe working environment. Meanwhile, SPGs are expected to develop a better understanding of their rights as workers. | |
| 51042 | 54458 | H1C022030 | GEOLOGI DAN STUDI FASIES BATUBARA FORMASI MUARA ENIM SERTA HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS BATUBARA DI TAMBANG BANKO TENGAH A, MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN | Variasi kualitas batubara dipengaruhi oleh kondisi geologi selama proses pembentukannya, terutama lingkungan pengendapan yang menghasilkan fasies batubara yang berbeda. Kajian mengenai hubungan antara fasies pengendapan dan kualitas batubara pada Formasi Muara Enim di Tambang Banko Tengah A masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menginterpretasikan kondisi geologi, mengidentifikasi fasies batubara, serta menganalisis hubungan antara fasies pengendapan dan kualitas batubara. Metode yang digunakan meliputi interpretasi kondisi geologi berdasarkan data geologi regional dan geomorfologi, analisis elektrofasies secara kualitatif menggunakan well log yang divalidasi dengan data inti bor, serta analisis parameter kualitas batubara yang meliputi nilai proksimat, nilai kalor, dan total sulfur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian termasuk ke dalam Formasi Muara Enim yang tersusun atas litologi batupasir, batulempung, dan batubara. Secara geomorfologi, daerah penelitian berada pada Satuan Perbukitan Denudasional Sayap Antiklin Muara Enim yang telah mengalami perubahan menjadi Satuan Ekskavasi Banko Tengah A akibat aktivitas penambangan. Hasil analisis sumur bor mengindikasikan lingkungan pengendapan upper delta plain hingga transitional lower delta plain. Batubara pada lingkungan upper delta plain cenderung memiliki kualitas sedikit lebih baik, ditunjukkan oleh nilai kalor yang lebih tinggi dan kandungan sulfur yang lebih rendah dibandingkan batubara pada lingkungan transitional lower delta plain. Berdasarkan ASTM D-388, batubara pada kedua lingkungan tersebut termasuk ke dalam peringkat sub-bituminous A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi lingkungan pengendapan memengaruhi karakteristik kualitas batubara, sedangkan peringkat batubara lebih dipengaruhi oleh proses pembatubaraan. | Variations in coal quality are influenced by geological conditions during the formation process, particularly the depositional environment, which produces different coal facies. Studies on the relationship between depositional facies and coal quality in the Muara Enim Formation at the Banko Tengah A Mine remain limited. Therefore, this study aims to interpret geological conditions, identify coal facies, and analyze the relationship between depositional facies and coal quality. The methods used include interpretation of geological conditions based on regional geological and geomorphological data, qualitative electrofacies analysis using well logs validated with core data, and analysis of coal quality parameters, including proximate analysis, calorific value, and total sulfur. The results of the study indicate that the study area is part of the Muara Enim Formation, which consists of sandstone, shale, and coal lithologies. Geomorphologically, the study area is located within the Denudational Hills Unit of the Muara Enim Anticline Wing, which has been transformed into the Banko Tengah A Excavation Unit due to mining activities. The results of the borehole analysis indicate a depositional environment ranging from an upper delta plain to a transitional lower delta plain. Coal from the upper delta plain environment tends to be of slightly better quality, as indicated by a higher calorific value and lower sulfur content compared to coal from the transitional lower delta plain environment. Based on ASTM D-388, coal from both environments falls into the sub-bituminous A grade. The results of this study indicate that variations in the depositional environment influence the quality characteristics of coal, whereas the coal grade is more strongly influenced by the coalification process. | |
| 51043 | 54459 | A1D022013 | ASPEK FISIOLOGIS DAN HASIL PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) AKIBAT APLIKASI PAKLOBUTRAZOL | Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi dan dimanfaatkan secara baik skala rumah tangga maupun industri baik dalam negeri maupun kebutuhan ekspor. Tingginya kebutuhan akan bawang merah namun produktivitasnya kurang stabil menyebabkan terjadinya fluktuasi harga, sehingga diperlukan peningkatan produktivitas bawang merah dalam negeri sebagai faktor pendukung produktivitas. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) menjadi faktor pendukung yang dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan bawang merah salah satunya yaitu penggunaan paklobutrazol. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh konsentrasi paklobutrazol yang efektif terhadap aspek fisiologis tanaman bawang merah, (2) mengetahui pengaruh konsentrasi paklobutrazol yang efektif terhadap hasil bawang merah. Penelitian ini dilakukan di lahan sawah di Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Laboratorium Agronomi dan Hortikultura dan Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian UNSOED pada bulan Juni 2025 hingga Januari 2026. Rancangan yang dilakukan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) non faktorial 5 ulangan yang terdiri dari 5 perlakuan konsentrasi masing-masing 52,5 ppm, 39,375 ppm, 26,250 ppm, 13,125 ppm dan 0 ppm. Data yang diperoleh dari penelitian di analisis ragam dan menggunakan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi paklobutrazol memberikan pengaruh nyata terhadap luas daun, jumlah daun, kerapatan stomata, bobot segar, bobot kering, indeks fitotoksisitas, kadar pati tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, dan kadar klorofil. Konsentrasi paklobutrazol yang efektif terhadap pertumbuhan, aspek fisiologis dan hasil tanaman bawang merah adalah 13,125 ppm. | Shallot (Allium ascalonicum L.) is a high-value horticultural crop widely utilized for household consumption as well as domestic and export industries. Despite its high demand, shallot productivity remains unstable, resulting in price fluctuations. Therefore, efforts to improve domestic shallot productivity are essential to ensure sustainable production. One approach to enhancing productivity is the application of plant growth regulators (PGRs), particularly paclobutrazol. This study aimed to (1) determine the effective concentration of paclobutrazol on the physiological characteristics of shallot plants and (2) determine the effective concentration of paclobutrazol on shallot yield. The experiment was conducted from June 2025 to January 2026 in a paddy field located in Datar Village, Sumbang District, Banyumas Regency, and at the Agronomy and Horticulture Laboratory and the Food Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The study employed a non-factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) with five replications and five paclobutrazol concentrations, namely 52.5, 39.375, 26.250, 13.125, and 0 ppm (control). The collected data were subjected to analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at the 5% significance level. The results showed that paclobutrazol concentration significantly affected leaf area, leaf number, stomatal density, fresh bulb weight, dry bulb weight, phytotoxicity index, and starch content, but had no significant effect on plant height or chlorophyll content. The application of paclobutrazol at a concentration of 13.125 ppm was the most effective treatment for improving plant growth, physiological characteristics, and yield of shallot. | |
| 51044 | 54460 | I1D022047 | PROPORSI TERIGU, IKAN LELE, DAN BIJI BUNGA MATAHARI DENGAN DAUN KELOR UNTUK PERTUMBUHAN BALITA | Latar Belakang: Asupan inadekuat dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berkaitan dengan pertumbuhan balita, sehingga diperlukan produk pangan sumber protein dan kalsium untuk mendukung pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula terbaik berdasarkan kandungan protein, kalsium, dan hedonik mi, serta kandungan lemak, abu, air, dan karbohidrat formula tersebut. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial, dengan 2 faktor yaitu proporsi tepung terigu, tepung ikan lele, dan tepung biji matahari (T) yaitu T1 (85%:10%:5%); T2 (72,5%:20%:7,5%); T3 (60%:30%:10%), serta tepung daun kelor (K), K1 (2,5 g) dan K2 (5 g). Analisis statistik kimia menggunakan two-way ANOVA. Apabila terdapat perbedaan dilakukan uji DMRT dengan taraf 5%. Analisis sensori hedonik menggunakan uji Friedman. Formula terbaik ditentukan menggunakan uji indeks efektivitas. Hasil: Proporsi tepung terigu, tepung ikan lele, dan tepung biji bunga matahari meningkatkan kadar protein (p=0,000), fluktuasi terhadap rasa (p=0,036), dan menurunkan kesukaan tekstur (p=0,000). Penambahan tepung daun kelor meningkatkan kadar kalsium (p=0,012) dan menurunkan kesukaan tekstur (p=0,013). Interaksi antar setiap perlakuan menurunkan kesukaan tekstur (p=0,000), tetapi tidak mengubah atribut lainnya. Formula mi terbaik terdapat pada perlakuan T2K1 dengan kandungan protein 12,6%, kalsium 94,2 mg/100 g, dan sensori hedonik cukup disukai pada skor rasa 4,54, aroma 4,52, warna 4,46, tekstur 4,64, dan keseluruhan 4,52. Takaran saji untuk produk mi sebesar 50 g. Kesimpulan: Formula terbaik terdapat pada mi dengan 72,5% tepung terigu, 20% tepung ikan lele, 7,5% tepung biji bunga matahari, dan 2,5 g tepung daun kelor. Produk mi ini dapat digunakan untuk mengoptimalkan pertumbuhan balita dengan serving size sebesar 50 g. | Background: Inadequate intake can lead to health problems related to children growth, making protein-rich food and calcium products essential for supporting growth. This study aims to identify the best formula based on its protein, calcium, and hedonic value, as well as its fat, ash, water, and carbohydrate content. Methods: This experimental study used a factorial randomized block design with two factors: the proportions of wheat flour, catfish, and sunflower seed (T), namely T1 (85%:10%:5%); T2 (72.5%:20%:7.5%); T3 (60%:30%:10%), and the amount of moringa leaf flour (K), K1 (2.5 g) and K2 (5 g). Statistical analysis of protein and calcium content used two-way ANOVA. Where differences were found, the DMRT test was performed at the 5% significance level. Hedonic sensory analysis was performed using the Friedman test. The best treatment was determined using the effectiveness index test. Results: The proportions of wheat flour, catfish flour, and sunflower seed flour increased protein content (p=0.000), affected flavor (p=0.036), and decreased texture acceptability (p=0.000). The addition of moringa leaf flour increased calcium content (p=0.012) and decreased texture acceptability (p=0.013). Interactions among the treatments decreased texture acceptability (p=0.000) but did not alter the other attributes. The best noodle formula was found in treatment T2K1, with a ratio of wheat flour, catfish flour, and sunflower seeds flour of 72.5:20:7.5 and 2.5 g of moringa leaf flour. The optimal formula contains 12.6% protein, 94.2 mg/100 g of calcium, and received favorable sensory ratings with scores of 4.54 for taste, 4.52 for aroma, 4.46 for color, 4.64 for texture, and 4.52 for overall evaluation. The serving size for this noodle product is 50 g. Conclusion: The optimal formula consists of noodles made with 72.5% wheat flour, 20% catfish meal, 7.5% sunflower seed meal, and 2.5 g of moringa leaf powder. This noodle product can be used to optimize the growth of toddlers, with a serving size of 50 g. | |
| 51045 | 54461 | L1A022035 | Efektivitas Kitosan Komersial sebagai Biokoagulan Dalam menurunkan Kadar Pencemar Limbah Domestik untuk Mendukung Pencapaian SDGs No.6: Clean Water and Sanitation | Pemanfaatan kembali air limbah domestik (water reuse) menjadi strategi krusial dalam mengatasi krisis air, di mana biokoagulan kitosan berpotensi sebagai media ramah lingkungan dalam proses polishing treatment. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi konsentrasi kitosan komersial serta menentukan konsentrasi optimumnya dalam menurunkan parameter pencemar effluent IPAL. Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan konsentrasi kitosan (Sigma-Aldrich, DD 75–85%), yaitu 0, 150, 300, dan 450 mg/L yang dikelompokkan dalam enam waktu sampling. Parameter yang diuji meliputi pH, TSS, BOD₅, dan kekeruhan, dengan analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji lanjut Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kitosan secara signifikan menurunkan nilai pH hingga kondisi asam (rata-rata 4,65) akibat pelarutan dalam asam asetat. Efisiensi penyisihan tertinggi dicapai pada konsentrasi 450 mg/L, dengan tingkat penyisihan TSS sebesar 48,54%, BOD₅ sebesar 49,99%, dan kekeruhan sebesar 44,42%. Meskipun menyebabkan penurunan pH di bawah ambang baku mutu, kitosan terbukti efektif sebagai biokoagulan polishing treatment dalam menyisihkan pencemar effluent IPAL guna mendukung pencapaian SDGs No. 6 (Clean Water and Sanitation). | The reuse of domestic wastewater is a crucial strategy for addressing the water crisis, and chitosan biocoagulant has the potential to serve as an environmentally friendly medium in the polishing treatment process. This study aims to analyze the effect of varying concentrations of commercial chitosan and to determine the optimal concentration for reducing pollutant parameters in wastewater treatment plant effluent. This experimental study employed a Randomized Block Design (RBD) with four chitosan concentration treatments (Sigma-Aldrich, DD 75–85%), namely 0, 150, 300, and 450 mg/L, grouped into six sampling time points. The parameters tested included pH, TSS, BOD₅, and turbidity, with data analyzed using the Kruskal-Wallis test and the Mann-Whitney post-hoc test. The results showed that the addition of chitosan significantly lowered the pH to acidic conditions (average 4.65) due to its dissolution in acetic acid. The highest removal efficiency was achieved at a concentration of 450 mg/L, with TSS removal rates of 48.54%, BOD₅ removal rates of 49.99%, and turbidity removal rates of 44.42%. Although it caused the pH to drop below the quality standard threshold, chitosan proved effective as a biocoagulant in polishing treatment to remove pollutants from WWTP effluent, thereby supporting the achievement of SDG No. 6 (Clean Water and Sanitation). | |
| 51046 | 54462 | F1B022049 | Collaborative Governance dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam Jenggala | Wisata Alam Jenggala di Desa Ketenger, Kabupaten Banyumas, merupakan destinasi wisata alam berbasis kawasan hutan negara yang dikelola secara kolaboratif oleh LMDH Gempita, KMP Mitra Jenggala Sejahtera, dan Pemerintah Desa Ketenger. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan collaborative governance dalam pengelolaan Wisata Alam Jenggala berdasarkan lima dimensi Ansell & Gash (2008), yaitu starting conditions, institutional design, facilitative leadership, collaborative process, dan outcome. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan ditentukan melalui purposive sampling dan accidental sampling, dengan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (2014), serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan kolaborasi ditunjang modal sosial kuat dan legalitas SK Kulin KK, desain kelembagaan yang jelas, kepemimpinan partisipatif, proses kolaborasi yang transparan, serta capaian berupa terbukanya lapangan kerja bagi sekitar 60 warga, pertumbuhan UMKM, dan terjaganya fungsi konservasi. Diperlukan penguatan pengawasan, kapasitas sumber daya manusia, dan kemitraan lintas sektor untuk keberlanjutan tata kelola kolaboratif ke depan. | Jenggala Nature Tourism in Ketenger Village, Banyumas Regency, is a nature-based tourism destination within a state forest area, managed collaboratively by LMDH Gempita, KMP Mitra Jenggala Sejahtera, and the Ketenger Village Government. This study analyzes the implementation of collaborative governance in managing Jenggala Nature Tourism based on the five dimensions proposed by Ansell and Gash (2008): starting conditions, institutional design, facilitative leadership, collaborative process, and outcome. This study employs a qualitative method with a case study approach. Informants were selected using purposive and accidental sampling, with data collected through in-depth interviews, observation, and documentation, analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña (2014), and validated through source triangulation. The findings show that collaboration is supported by strong social capital and the legal certainty of the Kulin KK decree, a clear institutional design, participatory leadership, and a transparent collaborative process, resulting in employment for approximately 60 local residents, the growth of micro and small enterprises, and continued conservation of the area. Strengthening supervision, human resource capacity, and cross-sector partnerships is necessary to sustain collaborative governance going forward. | |
| 51047 | 54463 | I1D022055 | Hubungan Asupan Vitamin C, Magnesium, Seng, dan Tingkat Stres dengan Kadar Glukosa Darah Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 di Prolanis Pusekesmas Sumbang I | Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat. Kadar glukosa darah pada penyandang diabetes melitus tipe 2 dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk asupan vitamin C, magnesium, dan seng yang berperan sebagai antioksidan serta kofaktor dalam metabolisme glukosa, dan juga tingkat stres yang dapat meningkatkan hormon kortisol sehingga mengganggu kerja insulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan vitamin C, magnesium, seng, dan tingkat stres dengan kadar glukosa darah puasa pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di Prolanis Puskesmas Sumbang I. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 42 responden yang secara purposive sampling. Data asupan diperoleh melalui formulir food recall 2x24 jam, tingkat stres menggunakan kuesioner PSS-10, dan data kadar glukosa darah puasa diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Sebagian besar responden mengalami defisit asupan vitamin C, magnesium, dan seng tingkat berat, serta tingkat stres sedang. Sebanyak 54,8% responden memiliki kadar glukosa darah puasa tinggi. Tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan vitamin C (p=0,670), magnesium (p=0,484), maupun seng (p=0,772) dengan kadar glukosa darah puasa. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dengan kadar glukosa darah puasa (p<0,05; r=0,501) dengan arah hubungan positif berkekuatan sedang. Sebagian besar responden memiliki asupan vitamin C, magnesium, dan seng defisit tingkat berat. Asupan vitamin C, magnesium, dan seng tidak berhubungan signifikan dengan kadar glukosa darah puasa, sedangkan tingkat stres berhubungan signifikan dengan kadar glukosa darah puasa. Semakin tinggi tingkat stres, semakin tinggi kadar glukosa darah puasa. | Type 2 diabetes mellitus is one of the non-communicable diseases with a continuously increasing prevalence. Blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus are influenced by vitamin C, magnesium, and zinc as antioxidants and cofactors in glucose metabolism, as well as stress levels that may elevate cortisol and interfere with insulin function. This study aimed to determine the relationship between those factors and fasting blood glucose levels among patients with type 2 diabetes mellitus in the Prolanis Program at Sumbang I Public Health Center. This analytic observational study used a cross-sectional approach on 42 respondents selected by purposive sampling. Nutrient intake data were obtained through 2x24-hour food recall, stress levels through the PSS-10 questionnaire, and fasting blood glucose data from laboratory results. Bivariate analysis used Spearman correlation test. Most respondents had severe deficits in vitamin C, magnesium, and zinc intake, and experienced moderate stress levels. A total of 54.8% of respondents had high fasting blood glucose levels. There was no significant relationship between vitamin C (p=0.670), magnesium (p=0.484), or zinc intake (p=0.772) and fasting blood glucose levels. Stress levels showed a significant relationship with fasting blood glucose (p<0.05; r=0.501), with a positive moderate correlation. Most respondents had severe deficits in vitamin C, magnesium, and zinc intake. Vitamin C, magnesium, and zinc intake were not significantly associated with fasting blood glucose, whereas stress levels were significantly associated with fasting blood glucose levels. Higher stress levels were associated with higher fasting blood glucose levels. | |
| 51048 | 54464 | K1C022060 | ANALISIS PENGARUH VARIASI SUHU SINTERING TERHADAP SIFAT La₀.₆₇Ba₀.₃₃MnO₃ SEBAGAI MATERIAL PENYERAP GELOMBANG MIKRO DENGAN METODE PECHINI | Material La₀,₆₇Ba₀,₃₃MnO₃ (LBMO) berstruktur perovskit berpotensi digunakan sebagai penyerap gelombang mikro karena memiliki kombinasi rugi dielektrik dan rugi magnetik yang mendukung mekanisme absorpsi gelombang elektromagnetik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi suhu sintering (700 °C, 800 °C, dan 900 °C) terhadap struktur kristal, morfologi, dan kemampuan penyerapan gelombang mikro material LBMO yang disintesis menggunakan metode Pechini. Karakterisasi dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Transmission Electron Microscopy (TEM), dan Vector Network Analyzer (VNA) pada rentang frekuensi 8–12 GHz. Hasil XRD menunjukkan bahwa material terdiri atas fasa utama LBMO berstruktur ortorombik (space group Imma) dan fasa sekunder Mn₃O₄, dengan ukuran kristalit yang meningkat seiring kenaikan suhu sintering (33,88 nm; 42,48 nm; 47,25 nm), disertai peningkatan fraksi fasa Mn₃O₄ (5,19%; 15,08%; 23,56%) dan penurunan fraksi fasa utama LBMO. Hasil TEM mengonfirmasi peningkatan ukuran partikel rata-rata (84,408 nm; 89,006 nm; 92,571 nm) akibat mekanisme grain growth. Pengujian VNA menunjukkan bahwa sampel yang disinter pada 700 °C memiliki performa absorpsi terbaik dengan nilai reflection loss (R_L) minimum sebesar −12,49 dB pada frekuensi 11,64 GHz dan daya serap sebesar 94,36%, jauh lebih tinggi dibandingkan sampel 800 °C (73,78%) dan 900 °C (71,71%). Penurunan performa absorpsi pada suhu sintering yang lebih tinggi dijelaskan melalui degradasi struktur core–shell akibat pertumbuhan partikel dan meningkatnya fasa sekunder Mn₃O₄, yang mengurangi kesesuaian impedansi (impedance matching) material terhadap ruang bebas. Berdasarkan hasil tersebut, suhu sintering 700 °C direkomendasikan sebagai kondisi optimum untuk menghasilkan material La₀,₆₇Ba₀,₃₃MnO₃ dengan performa penyerap gelombang mikro terbaik. | La₀.₆₇Ba₀.₃₃MnO₃ (LBMO) with a perovskite structure has potential application as a microwave absorber due to its combination of dielectric loss and magnetic loss that supports electromagnetic wave absorption mechanisms. This study aims to analyze the effect of sintering temperature variations (700 °C, 800 °C, and 900 °C) on the crystal structure, morphology, and microwave absorption performance of LBMO synthesized via the Pechini method. Characterization was conducted using X-Ray Diffraction (XRD), Transmission Electron Microscopy (TEM), and a Vector Network Analyzer (VNA) in the 8–12 GHz frequency range. XRD results revealed that the material consists of a primary orthorhombic LBMO phase (Imma space group) and a secondary Mn₃O₄ phase. The crystallite size increased with higher sintering temperatures (33.88 nm, 42.48 nm, and 47.25 nm), accompanied by an increase in the Mn₃O₄ phase fraction (5.19%, 15.08%, and 23.56%) and a decrease in the primary LBMO phase fraction. TEM analysis confirmed an increase in average particle size (84.408 nm, 89.006 nm, and 92.571 nm) driven by the grain growth mechanism. VNA testing demonstrated that the sample sintered at 700 °C exhibited the best absorption performance, achieving a minimum reflection loss (R_L) of −12.49 dB at a frequency of 11.64 GHz and an absorption efficiency of 94.36%, significantly higher than the 800 °C (73.78%) and 900 °C (71.71%) samples. The decline in absorption performance at higher sintering temperatures is attributed to the degradation of the core–shell structure caused by particle growth and the increase in the secondary Mn₃O₄ phase, which reduced the material's impedance matching with free space. Based on these findings, a sintering temperature of 700 °C is recommended as the optimum condition for producing La₀.₆₇Ba₀.₃₃MnO₃ with optimal microwave-absorbing capabilities. | |
| 51049 | 54465 | J1E022030 | THE IMPLEMENTATION OF EDUCAPLAY AS A GAME-BASED LEARNING MEDIUM FOR ENHANCING ENGAGEMENT AND MOTIVATION IN ENGLISH LANGUAGE LEARNING | ABSTRAK Keterlibatan dan motivasi siswa merupakan aspek penting dalam pembelajaran bahasa Inggris yang efektif. Namun, pembelajaran bahasa Inggris dapat menjadi kurang menarik apabila kegiatan pembelajaran kurang memberikan pengalaman yang interaktif dan bervariasi, sehingga media pembelajaran berbasis permainan seperti Educaplay berpotensi digunakan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Educaplay sebagai media pembelajaran berbasis permainan dalam pembelajaran bahasa Inggris serta mengeksplorasi pengalaman siswa kelas XI Pemasaran dalam menggunakan Educaplay terkait dengan keterlibatan dan motivasi mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Purwokerto. Partisipan penelitian terdiri atas lima siswa kelas XI Pemasaran yang dipilih secara purposif dari kelas XI Marketing 1. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran dalam dua pertemuan, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Educaplay secara umum diimplementasikan secara sistematis melalui enam tahap Model ASSURE. Siswa menunjukkan keterlibatan emosional, perilaku, dan kognitif yang positif melalui rasa senang, partisipasi aktif, ketekunan, penyelesaian tugas, dan pemikiran yang cermat. Motivasi siswa tercermin dalam aspek otonomi, kompetensi, keterhubungan, dan pengalaman belajar bahasa kedua yang positif melalui koreksi diri, pemahaman dan kepercayaan diri yang lebih baik, interaksi dengan teman sebaya, serta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Meskipun terdapat beberapa kendala teknis dan instruksional, kendala tersebut tidak mengurangi pengalaman positif siswa secara keseluruhan. Dengan demikian, Educaplay secara umum diimplementasikan secara efektif dan sistematis serta mendukung keterlibatan dan motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris. | ABSTRACT Students’ engagement and motivation are important aspects of effective English language learning. However, English learning may become less engaging when classroom activities lack interactive and varied learning experiences, highlighting the potential of game-based learning media such as Educaplay. Therefore, this study aimed to describe the implementation of Educaplay as a game-based learning medium in English language learning and to explore eleventh-grade marketing students’ experiences of using Educaplay in relation to their engagement and motivation. This study employed a descriptive qualitative research design at SMK Negeri 1 Purwokerto. The participants were five eleventh-grade marketing students selected purposively from XI Marketing 1. Data were collected through classroom observations conducted in two meetings, semi-structured interviews, and document analysis. The data were analyzed using the Miles and Huberman model through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings showed that Educaplay was generally implemented systematically through the six stages of the ASSURE Model: Analyze Learners, State Objectives, Select Methods, Media, and Materials, Utilize Media and Materials, Require Learner Participation, and Evaluate and Revise. Regarding engagement, students demonstrated positive emotional, behavioral, and cognitive engagement through enjoyment, active participation, persistence, task completion, careful thinking, and the use of learning strategies. Regarding motivation, students’ experiences reflected autonomy through self-correction and repeated practice, competence through improved understanding and confidence, relatedness through peer interaction and collaboration, and positive L2 learning experiences through interactive and enjoyable English learning activities. Although minor technical and instructional challenges were encountered, they did not outweigh the overall positive experiences reported by the students. In conclusion, Educaplay was generally implemented effectively and systematically and supported students’ engagement and motivation in English language learning. | |
| 51050 | 54466 | E1A022201 | PEMBUKTIAN WANPRESTASI DAN PENETAPAN GANTI RUGI DEBITUR DALAM PERJANJIAN KREDIT (Studi Putusan Nomor 11/Pdt.G/2025/PN.Pati) | PEMBUKTIAN WANPRESTASI DAN PENETAPAN GANTI RUGI DEBITUR DALAM PERJANJIAN KREDIT (Studi Putusan Nomor 11/Pdt.G/2025/PN.Pati) Oleh: Aisya Tri karita E1A022201 ABSTRAK Wanprestasi dalam perjanjian kredit merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap kewajiban kontraktual yang menimbulkan akibat hukum berupa kewajiban pembayaran ganti rugi. Permasalahan tersebut tercermin dalam Putusan Nomor 11/Pdt.G/2025/PN.Pati yang memuat sengketa mengenai pembuktian wanprestasi debitur serta penetapan ganti rugi dalam perjanjian kredit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hakim dalam membuktikan unsur-unsur wanprestasi debitur serta dasar pertimbangan hakim dalam menetapkan bentuk dan besaran ganti rugi akibat wanprestasi. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Spesifikasi penelitian bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim telah mempertimbangkan terpenuhinya unsur-unsur wanprestasi dalam pertimbangan hukumnya, meskipun tidak menguraikan secara eksplisit bentuk wanprestasi yang terbukti. Berdasarkan analisis penulis, wanprestasi dalam perkara a quo merupakan keterlambatan memenuhi prestasi yang dibuktikan dengan tidak dipenuhinya kewajiban pembayaran angsuran bulanan sebesar Rp9.208.900,00 atas pinjaman yang telah direstrukturisasi sebesar Rp592.000.000,00, di mana debitur hanya melakukan lima kali pembayaran meskipun telah diberikan tiga kali surat peringatan (somasi). Mengenai ganti rugi, hakim mengabulkan pembayaran sisa pokok utang sebesar Rp581.607.686,00 dan bunga terutang sebesar Rp300.270.865,00, sedangkan tuntutan denda keterlambatan sebesar Rp748.206.100,00 tidak dikabulkan. Penetapan ganti rugi berupa sisa pokok pinjaman dan tunggakan bunga telah sesuai dengan ketentuan Pasal 1243 KUHPerdata karena mencerminkan pemulihan hak kreditur atas kerugian yang timbul akibat wanprestasi, sedangkan tuntutan denda keterlambatan tidak dikabulkan untuk menghindari pembebanan ganda kepada debitur. Kata Kunci; Debiur, Ganti Rugi, Pembuktian, Perjanjian Kredit, Wanprestasi. | PROOF OF DEFAULT AND DETERMINATION OF DAMAGES ARISING FROM A DEBTOR’S DEFAULT IN A CREDIT AGREEMENT (Study of Decision Number 11/Pdt.G/2025/PN.Pati) By: Aisya Tri Karita E1A022201 ABSTRACT Default in a credit agreement constitutes a breach of contractual obligations that gives rise to legal consequences in the form of liability for damages. This issue is reflected in Decision Number 11/Pdt.G/2025/PN.Pati, which concerns a dispute regarding the proof of the debtor's default and the determination of damages arising from a credit agreement. This study aims to analyze the judge's legal reasoning in establishing the elements of the debtor's default and the legal basis for determining the form and amount of damages resulting from such default. This research employed a normative juridical method using statutory and case approaches. The research is descriptive-analytical in nature and relies on secondary data obtained through library research, which were subsequently analyzed using a qualitative normative approach. The findings indicate that the judge considered the fulfillment of the elements of default in the legal reasoning, although the judgment did not explicitly identify the specific form of default that had been established. Based on the author's analysis, the default in the present case constituted a delay in the performance of contractual obligations, as evidenced by the debtor's failure to pay the monthly installments of IDR 9,208,900.00 on a restructured loan amounting to IDR 592,000,000.00. The debtor made only five installment payments despite having received three formal notices of default (somasi). With regard to damages, the court granted the creditor's claim for the outstanding principal debt amounting to IDR 581,607,686.00 and accrued interest amounting to IDR 300,270,865.00, while rejecting the claim for late payment penalties amounting to IDR 748,206,100.00. The award of damages in the form of the outstanding principal debt and accrued interest is consistent with Article 1243 of the Indonesian Civil Code (KUHPerdata), as it reflects the restoration of the creditor's rights for losses arising from the debtor's default. Meanwhile, the claim for late payment penalties was rejected to avoid imposing a double financial burden on the debtor. Keywords; Credit Agreement, Damages, Default, Proof, Debtor. | |
| 51051 | 54467 | B1A022004 | PENGARUH INTERAKSI ANTARA SUKROSA DAN BAP PADA PEMBENTUKAN UMBI MIKRO KENTANG (Solanum tuberosum L.) SECARA IN VITRO | Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber karbohidrat dan merupakan sumber pangan penting setelah gandum, jagung, dan beras. Umbi kentang mengandung kadar lemak dan kolesterol yang rendah, tetapi memiliki kandungan karbohidrat, natrium, serat pangan, protein, vitamin C, kalsium, zat besi, serta vitamin B6 yang cukup tinggi. Produksi kentang di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah introduksi kultivar baru kentang melalui teknik kultur in vitro. Faktor-faktor yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan eksplan dan pembentukan umbi mikro kentang adalah sumber karbon dan zat pengatur tumbuh yang digunakan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1) menganalisis pengaruh interaksi antara sukrosa dan BAP pada pembentukan umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro; 2) menentukan konsentrasi sukrosa dan BAP terbaik untuk pembentukan umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor yang dicobakan adalah sukrosa dengan 4 taraf konsentrasi (30, 60, 90, dan 120 g/L) dan BAP dengan 4 taraf konsentrasi (0, 2, 4, dan 6 mg/L). Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah konsentrasi sukrosa dan BAP. Variabel terikat yang diamati adalah pembentukan umbi mikro kentang. Parameter yang diukur meliputi waktu pembentukan umbi, jumlah umbi, diameter umbi, panjang umbi dan bobot umbi. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) pada tingkat signifikansi 5% dan 1%, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dan uji regresi pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara sukrosa dan BAP berpengaruh nyata terhadap jumlah, diameter, dan panjang umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah dan bobot kering umbi. Faktor tunggal sukrosa berpengaruh nyata terhadap jumlah dan diameter umbi, sedangkan faktor tunggal BAP tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Kombinasi sukrosa 60 g/L dan BAP 4 mg/L merupakan perlakuan yang paling efektif dalam mendukung pembentukan umbi mikro kentang calon kultivar M2 secara in vitro, karena menghasilkan perkembangan umbi yang paling baik berdasarkan jumlah, diameter, dan panjang umbi mikro. | Potato (Solanum tuberosum L.) is an important horticultural crop with considerable potential as a carbohydrate source and ranks among the world's major food crops after wheat, maize, and rice. Potato tubers are low in fat and cholesterol but are rich in carbohydrates, dietary fibre, protein, vitamin C, calcium, iron, vitamin B6, and contain relatively low levels of sodium. Despite its importance, potato production in Indonesia remains insufficient to meet national demand. One approach to addressing this challenge is the development and propagation of new potato cultivars through in vitro culture techniques. The success of explant growth and in vitro microtuber formation is strongly influenced by the composition of the culture medium, particularly the carbon source and plant growth regulators. Therefore, this study was conducted to: (1) evaluate the interaction between sucrose and 6-benzylaminopurine (BAP) on in vitro microtuber formation of the prospective M2 potato cultivar; and (2) determine the optimum concentrations of sucrose and BAP for promoting microtuber formation. The experiment was conducted using a completely randomised design (CRD) with a two-factor factorial arrangement. The experimental factors consisted of four sucrose concentrations (30, 60, 90, and 120 g L⁻¹) and four BAP concentrations (0, 2, 4, and 6 mg L⁻¹). Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 48 experimental units. The experimental factors were sucrose and BAP concentrations, while the response variable was in vitro microtuber formation. The parameters evaluated included time to microtuber formation, microtuber number, microtuber diameter, microtuber length, and fresh and dry microtuber weights. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level. The results demonstrated that the interaction between sucrose and BAP significantly affected the number, diameter, and length of microtubers produced by the prospective M2 potato cultivar under in vitro culture conditions, but had no significant effect on microtuber fresh or dry weight. The independent effect of sucrose significantly influenced microtuber number and diameter, whereas BAP had no significant effect on any of the parameters evaluated. The combination of 60 g L⁻¹ sucrose and 4 mg L⁻¹ BAP was identified as the optimum treatment for in vitro microtuber formation of the prospective M2 potato cultivar, producing superior microtuber development in terms of microtuber number, diameter, and length. | |
| 51052 | 54470 | H1C022073 | HUBUNGAN ZONASI MINERAL LEMPUNG TERAHADAP DISTRIBUSI EMAS PADA ENDAPAN EPITERMAL SULFIDA TINGGI DI DISTRIK BAKAN, KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA | Endapan epitermal sulfida tinggi merupakan salah satu tipe endapan hidrotermal yang berpotensi mengandung mineralisasi emas (Au). Mineral lempung hasil alterasi hidrotermal dapat digunakan sebagai indikator dalam mengenali zonasi alterasi dan hubungannya dengan mineralisasi emas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran zonasi mineral lempung dan kaitannya terhadap pola dari kadar Au pada zona mineralisasi. Metode penelitian yang digunakan berupa pemetaan geologi yang didukung dengan analisis petrografi, ore microscopy, mineral spectrometry (ASD), dan analisis fire assay untuk mengetahui kadar dari Au. Data yang digunakan berupa data hasil pemetaan serta data bor berupa data alterasi dan litologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun oleh tiga satuan dari tertua hingga termuda, yaitu Satuan Tuf, Satuan Tuf Breksia, dan Satuan Breksi Diatrem. Struktur geologi yang berkembang berupa sesar mendatar menganan berarah Timur Laut–Barat Daya dan sesar turun berarah Barat laut–Tenggara. Alterasi hidrotermal terbagi menjadi lima zona, yaitu Silicified (Vuggy), Silicified (Massive), Alunite ± Kaolinite – Quartz ± Pyrophyllite – Dickite, Illite – Kaolinite – Montmorillonite, dan Chlorite – Epidote. Hasil ore microscopy mengidentifikasi mineral bijih berupa pyrite, chalcopyrite, galena, sphalerite, goethite, malachite, chalcosite, dan covelite. Hubungan zonasi mineral lempung terhadap mineralisasi emas menunjukkan bahwa kadar Au high grade (mean = 0,75 ppm) umumnya dijumpai pada zona K-alunite yang memiliki fitur doublet absorbsi 1429–1440 nm dan <1480 nm (H₂O dan OH), single sharp absorbsi 1760 nm (H₂O), serta doublet pada absorpsi 2160–2170 nm (AlOH) yang berasosiasi dengan Zona Silicified (Vuggy) dan Silicified (Massive), sedangkan kadar Au menurun pada zona K-alunite–kaolinite–pyrophyllite–dickite dengan rata-rata 0,24 ppm hingga zona illite–kaolinite–montmorillonite dengan rata-rata 0,04 ppm. Pola tersebut menunjukkan bahwa kadar Au cenderung lebih tinggi pada zona yang berkembang di bagian pusat sistem hidrotermal dan menurun ke arah luar. Namun, persebaran kadar Au tidak hanya dipengaruhi oleh zonasi mineral lempung, tetapi juga oleh struktur geologi, permeabilitas batuan, dan litologi. | High-sulfidation epithermal deposits are one of the hydrothermal deposit types with significant potential for gold (Au) mineralization. Clay minerals formed by hydrothermal alteration can be used as indicators to delineate alteration zonation and to evaluate their relationship with gold mineralization. This study aims to determine the distribution of clay mineral zonation and its relationship with the distribution of Au grades within the mineralized zone. The research methods consisted of geological mapping supported by petrographic analysis, ore microscopy, mineral spectrometry (ASD), and fire assay analysis to determine Au grades. The dataset comprises geological mapping results and drillhole data, including lithological and alteration information. The results indicate that the study area is composed of three lithological units, from oldest to youngest: the Tuff Unit, Tuff Breccia Unit, and Diatreme Breccia Unit. The geological structures are represented by a northeast–southwest-trending dextral strike-slip fault and a northwest–southeast-trending normal fault. Hydrothermal alteration is classified into five alteration zones: Silicified (Vuggy), Silicified (Massive), Alunite ± Kaolinite–Quartz ± Pyrophyllite–Dickite, Illite–Kaolinite–Montmorillonite, and Chlorite–Epidote. Ore microscopy identified pyrite, chalcopyrite, galena, sphalerite, goethite, malachite, chalcocite, and covelite as the ore minerals. The relationship between clay mineral zonation and gold mineralization indicates that high-grade Au (mean = 0.75 ppm) is predominantly associated with the K-alunite zone, which is characterized by H₂O and OH doublet absorption features at 1429–1440 nm and <1480 nm, a sharp H₂O absorption feature at 1760 nm, and Al–OH doublet absorptions at 2160–2170 nm. This mineral assemblage is spatially associated with the Silicified (Vuggy) and Silicified (Massive) alteration zones. In contrast, Au grades decrease toward the K-alunite–kaolinite–pyrophyllite–dickite zone, with an average Au grade of 0.24 ppm, and further decline to the illite–kaolinite–montmorillonite zone, with an average Au grade of 0.04 ppm. This pattern indicates that Au grades are generally higher in the central part of the hydrothermal system and progressively decrease toward the peripheral zones. Nevertheless, the distribution of Au grades is controlled not only by clay mineral zonation but also by geological structures, rock permeability, and lithological. | |
| 51053 | 54473 | A1F022105 | KARAKTERISASI SIFAT FISIK, KIMIA DAN SENSORIS KERUPUK YANG DIBUAT DENGAN PENAMBAHAN KERANG SUMPIL (Faunus ater) | Kerang sumpil (Faunus ater) merupakan moluska Gastropoda yang banyak ditemukan di perairan payau, muara sungai, dan tambak di Indonesia, dengan populasi yang cenderung meningkat namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pangan sehingga berpotensi menjadi limbah perikanan dan mencemari lingkungan pesisir. Di sisi lain, kerupuk merupakan makanan ringan khas Indonesia yang sangat digemari masyarakat, namun kerupuk berbahan dasar tepung tapioka umumnya memiliki keterbatasan nilai gizi, terutama kandungan protein. Dengan kandungan protein kerang sumpil yang cukup tinggi, pemanfaatannya sebagai bahan tambahan kerupuk berpotensi meningkatkan nilai gizi produk sekaligus memberikan alternatif pengolahan sumber daya perairan lokal. Namun, penambahan daging kerang sumpil dan lama pengukusan diduga memengaruhi karakteristik fisikokimia dan sensoris kerupuk yang dihasilkan, sehingga diperlukan penelitian untuk menentukan kombinasi keduanya yang menghasilkan karakteristik terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi penambahan daging kerang sumpil dan lama pengukusan yang menghasilkan kerupuk dengan karakteristik terbaik, serta mengetahui karakteristik fisikokimia dan sensoris kerupuk formula terbaik yang meliputi kadar protein, tekstur, dan tingkat kesukaan konsumen. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) tipe Central Composite Design (CCD) dengan bantuan perangkat lunak Design Expert 13. Dua faktor perlakuan yang digunakan adalah persentase penambahan daging kerang sumpil (10%, 20%, 30%) dan lama waktu pengukusan (45, 60, 90 menit), dengan rancangan sebanyak 13 run perlakuan (4 titik faktorial, 4 titik aksial, dan 5 titik pusat) serta kadar protein sebagai respon utama. Analisis ANOVA dilakukan untuk memilih model matematis terbaik (linear, 2FI, kuadratik, atau kubik), dilanjutkan dengan optimasi numerik berbasis fungsi desirability untuk menentukan kondisi proses optimum, serta validasi dengan membandingkan nilai prediksi dan hasil aktual. Kerupuk formula optimum kemudian dianalisis proksimat (kadar air, protein, lemak, abu, dan karbohidrat), karakteristik fisik (kerenyahan menggunakan texture analyzer dan daya kembang), serta uji sensoris menggunakan metode hedonik terhadap atribut kenampakan, aroma, rasa, tekstur, dan penerimaan keseluruhan, dibandingkan dengan kerupuk kontrol (tanpa penambahan daging kerang). Analisis data dilakukan melalui uji t dan ANOVA menggunakan IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model linear terpilih sebagai model terbaik untuk respon kadar protein (p = 0,0016; lack of fit tidak signifikan; R² =0,7231), dengan persentase daging kerang berpengaruh sangat signifikan terhadap kadar protein (p = 0,0007), sedangkan waktu pengukusan tidak berpengaruh signifikan (p = 0,1292). Kondisi proses optimum diperoleh pada penambahan daging kerang 30% dan waktu pengukusan 90 menit, dengan nilai desirability 0,866 dan prediksi kadar protein 3,679%, yang setelah divalidasi menghasilkan kadar protein aktual sebesar 3,25% (persen validasi 88,36%). Karakteristik kerupuk kerang sumpil formula optimum meliputi kadar air 2,28%, kadar abu 1,74%, kadar protein 3,25%, kadar lemak 25,14%, kadar karbohidrat 67,59%, nilai kekerasan (hardness) 484,94 gf, dan daya kembang 83,30%, di mana sebagian besar parameter telah memenuhi persyaratan SNI 8646-2018. Hasil uji sensoris menunjukkan nilai kenampakan 7,46; aroma 8,3; rasa 8,6; tekstur 8,7; dan penerimaan keseluruhan 7,77, seluruhnya memenuhi persyaratan mutu sensori SNI 2346:2015 (nilai minimal 7). Hasil ini membuktikan bahwa penambahan daging kerang sumpil sebesar 30% dengan waktu pengukusan 90 menit mampu meningkatkan nilai gizi kerupuk sekaligus menghasilkan produk dengan mutu dan tingkat penerimaan konsumen yang baik. | Faunus ater, commonly known as sumpil shellfish, is a gastropod mollusk widely found in brackish waters, river estuaries, and ponds across Indonesia. Its population tends to increase over time, yet it remains underutilized as a food resource, posing a risk of becoming fishery waste that could pollute coastal ecosystems. Meanwhile, crackers are a popular traditional Indonesian snack, but those made primarily from tapioca starch generally have limited nutritional value, particularly in protein content. Given the relatively high protein content of sumpil shellfish, its use as an additional ingredient in crackers has the potential to enhance the nutritional value of the product while providing an alternative use for local aquatic resources. However, the amount of shellfish meat added and the steaming duration were suspected to affect the physicochemical and sensory characteristics of the resulting crackers, necessitating research to determine the optimal combination of both factors. This study aimed to determine the optimal combination of sumpil shellfish meat addition and steaming duration that produces crackers with the best characteristics, as well as to examine the physicochemical and sensory characteristics of the best formula, including protein content, texture, and consumer acceptance. This research was an experimental study employing the Response Surface Methodology (RSM) with a Central Composite Design (CCD), assisted by Design-Expert 13 software. Two treatment factors were used: the percentage of sumpil shellfish meat addition (10%, 20%, 30%) and steaming duration (45, 60, 90 minutes), resulting in 13 experimental runs (4 factorial points, 4 axial points, and 5 center points), with protein content as the main response. ANOVA was conducted to select the best mathematical model (linear, 2FI, quadratic, or cubic), followed by numerical optimization based on the desirability function to determine the optimum process conditions, and validation by comparing predicted and actual values. The optimum cracker formula was then analyzed for proximate composition (moisture, protein, fat, ash, and carbohydrate content), physical characteristics (crispness using a Texture Analyzer and expansion rate), and sensory attributes using a hedonic test on appearance, aroma, taste, texture, and overall acceptance, compared to a control cracker (without shellfish meat addition). Data were analyzed using t-tests and ANOVA with IBM SPSS Statistics version 26. The results showed that the linear model was selected as the best model for the protein content response (p = 0.0016; non-significant lack of fit; R² = 0.7231), with the percentage of shellfish meat having a highly significant effect on protein content (p = 0.0007), while steaming duration had no significant effect (p = 0.1292). The optimum process conditions were obtained at 30% shellfish meat addition and 90 minutes of steaming, with a desirability value of 0.866 and a predicted protein content of 3.679%, which upon validation yielded an actual protein content of 3.25% (validation percentage of 88.36%). The characteristics of the optimum sumpil shellfish cracker formula included a moisture content of 2.28%, ash content of 1.74%, protein content of 3.25%, fat content of 25.14%, carbohydrate content of 67.59%, hardness value of 484.94 gf, and an expansion rate of 83.30%, with most parameters meeting the requirements of SNI 8646-2018. Sensory evaluation results showed scores of 7.46 for appearance, 8.3 for aroma, 8.6 for taste, 8.7 for texture, and 7.77 for overall acceptance, all of which met the sensory quality requirements of SNI 2346:2015 (minimum score of 7). These findings demonstrate that the addition of 30% sumpil shellfish meat with a 90-minute steaming duration successfully improves the nutritional value of crackers while producing a product with good quality and consumer acceptance. | |
| 51054 | 54104 | J1B022020 | Prinsip Kesantunan Berbahasa pada Konten Roblox di Akun TikTok @iqbalperkerrr (Tinjauan Pragmatik) | Penelitian ini berfokus pada pentingnya penerapan prinsip-prinsip kesantunan berbahasa dalam komunikasi digital, khususnya pada tuturan antarkarakter atau avatar dalam konten Roblox di akun TikTok @iqbalparkerrr. Meskipun komunikasi berlangsung dalam suasana santai dan mencakup berbagai humor, tuturan yang dihasilkan tetap mencerminkan pematuhan dan pelanggaran terhadap prinsip kesantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pematuhan dan pelanggaran dalam tuturan berdasarkan teori prinsip kesantunan Leech serta menjelaskan fungsi tuturan berdasarkan pengelompokan maksim yang telah teridentifikasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data tuturan mengandung prinsip kesantunan diperoleh melalui metode Simak menggunakan teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) dan teknik catat. Data yang diteliti memakai metode padan pragmatis dengan teknik dasar Pilah Unsur Penentu (PUP) serta teknik lanjutan Hubung Banding Menyamakan (HBM) dan Hubung Banding Membedakan (HBB). Hasil penelitian menunjukkan adanya pematuhan dan pelanggaran terhadap maksim kesantunan Leech dengan dominasi bentuk pematuhan. Hal ini menunjukkan bahwa para partisipan berupaya membangun komunikasi yang harmonis, sementara pelanggaran digunakan tergantung konteks situasi tutur. Selain itu, penelitian ini menemukan tiga fungsi kesantunan, yaitu fungsi mengurangi jarak sosial (rapport building), fungsi melindungi muka (face saving function), dan fungsi estetik dan pemicu humor (humor generation). Ketiga fungsi tersebut menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa tidak hanya menjaga hubungan sosial, tetapi juga membangun efek humor sesuai dengan komunikasi digital. | This study focuses on the importance of applying the principles of politeness in digital communication, specifically regarding the speech exchanged between characters or avatars in Roblox content on the TikTok account @iqbalparkerrr. Although the communication takes place in casual atmosphere and involves various forms of humor, the resulting speech reflects both adherence to and violations of politeness principles. This research aims to describe the forms of adherence and violations within the speech based on Leech’s politeness principles and explain the function of speech based on identified maxims categories. This study uses a qualitative descriptive method. Speech data containing politeness principles were obtained through the Listening method using Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) technique and note-taking techniques. The data studied used the pragmatic matching method with the basic technique of Selecting Determining Elements (PUP) and the advanced techniques of Hubung Banding Menyamakan (HBM) and Hubung Banding Membedakan (HBB). The results indicate the presence of both adherence to and violations of Leech’s politeness maxims, with adherence being the dominant pattern. This suggests that participants strive to establish harmonious communication, while violations occur depending on the situational context. Furthermore, the study identifies three politeness functions: reducing social distance (rapport building), protecting face (face-saving function), and serving aesthetic and humor-triggering purposes (humor generation). These functions demonstrate that linguistic politeness not only maintains social relationships but also generates humorous effects suited to the digital communication context. | |
| 51055 | 54471 | I1D022053 | Perbedaan Pengetahuan dan Sikap terhadap Makanan dan Minuman Manis pada Anak Usia Sekolah dasar melalui Media Lift the Flap Book (Studi Kasus di SDN 2 Pandak Kecamatan Baturraden) | Latar Belakang: Tingginya konsumsi makanan dan minuman manis pada anak usia sekolah dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap yang lebih positif terhadap konsumsi makanan dan minuman manis adalah melalui edukasi gizi menggunakan media pembelajaran interaktif. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest yang melibatkan 24 siswa kelas V dengan teknik total sampling. Edukasi gizi menggunakan media lift the flap book “Flappy Gizi” diberikan dalam dua sesi dengan interval satu minggu. Pengetahuan dan sikap diukur menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon untuk pengetahuan dan paired t-test untuk sikap. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (58,3%), berusia 12 tahun (62,5%), memiliki status gizi baik (54,2%), dan memiliki median uang saku harian sebesar Rp7.000,00 dengan rentang Rp5.000,00–Rp10.000,00. Skor pengetahuan meningkat sebesar 15%, sedangkan skor sikap meningkat sebesar 7,5%. Terdapat perbedaan yang signifikan pada pengetahuan (p = 0,001) dan sikap (p = 0,021) sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Kesimpulan: Edukasi gizi menggunakan media lift the flap book dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap makanan dan minuman manis pada anak sekolah dasar serta dapat menjadi alternatif media interaktif dalam pelaksanaan edukasi gizi. | Background: High consumption of sweet foods and beverages among school-aged children contributes to obesity and non-communicable diseases. One strategy to improve children's knowledge and promote more positive attitudes toward the consumption of sweet foods and beverages is through nutrition education using interactive learning media. Methods: This quantitative study employed a quasi-experimental one-group pretest-posttest design involving 24 fifth-grade students selected using total sampling. Nutrition education using the lift the flap book "Flappy Gizi" was delivered in two sessions with a one-week interval. Knowledge and attitudes were assessed using questionnaires and analyzed using the Wilcoxon test for knowledge and paired t-test for attitudes. Results: Most respondents were female (58.3%), aged 12 years (62.5%), had normal nutritional status (54.2%), and had a median daily allowance of IDR 7,000.00 (range: IDR 5,000.00–10,000.00). Knowledge scores increased by 15%, while attitude scores increased by 7.5%. Significant differences were found in knowledge (p = 0.001) and attitudes (p = 0.021). Conclusion: Nutrition education using the lift the flap book improved knowledge and attitudes toward sweet foods and beverages among elementary school children and can serve as an interactive alternative for nutrition education. | |
| 51056 | 54472 | A1F022041 | Optimasi Penambahan ISP dan Bubuk Kecombrang Pada Pembuatan Sosis Vegan Jamur Tiram Menggunakan Metode SLD: Kajian Sifat Fisik dan Mikrobiologis | Sosis vegan merupakan salah satu produk daging nabati yang sering diinovasikan karena cara konsumsinya yang praktis dan fleksibel dalam pengembangannya. Secara umum, produk daging analog termasuk sosis vegan masih menghadapi berbagai tantangan dari segi tekstur, cita rasa, dan kestabilan produk. Sosis vegan berbasis jamur tiram juga pada umumnya memiliki kelemahan pada tekstur dan stabilitas emulsi. Isolated soy protein (ISP) merupakan protein nabati dengan kemampuan emulsifikasi, pembentukan gel, pembentukan buih dan kelarutan yang lebih baik dibandingkan protein nabati lain. Selain itu, sosis vegan juga harus memenuhi persyaratan mutu mikrobiologis yang aman dikonsumsi. Penambahan pengawet alami seperti bubuk kecombrang dapat dijadikan sebagai alternatif pengawetan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi penambahan isolated soy protein (ISP) dan bubuk kecombrang pada sosis vegan jamur tiram, melakukan karakterisasi sifat fisik dan mikrobiologis sosis vegan jamur tiram hasil optimasi, serta mengetahui karakteristik fisik dan mikrobiologis sosis vegan jamur tiram hasil optimasi dibandingkan dengan sosis vegan jamur tiram kontrol. Penelitian ini menggunakan metode Simplex Lattice Design melalui software Design Expert versi 13 untuk mengoptimalkan penambahan ISP dan bubuk kecombrang dengan respons berupa hardness dan total expressible fluid (TEF). Penelitian ini terdiri atas 10 unit percobaan. Formulasi optimum yang diperoleh dikarakterisasi dan dianalisis dengan uji normalitas serta dibandingkan dengan kontrol menggunakan Independent t-test atau Mann-Withney U test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ISP dan bubuk kecombrang memengaruhi hardness dan total expressible fluid sosis vegan jamur tiram. Berdasarkan hasil optimasi, diperoleh formulasi optimum dengan nilai desirability 1,00 yaitu penambahan 11,250 g ISP dan 2,250 g bubuk kecombrang dengan nilai hardness sebesar 3685,88 gf dan nilai total expressible fluid sebesar 0,042%. Formulasi optimum menghasilkan sosis vegan jamur tiram dengan karakteristik fisik berupa cohesiveness 0,261 ± 0,01; springiness 0,391 ± 0,02; chewiness 376,22 ± 62,83; pH sebesar 5,73 ± 0,04; aktivitas air 0,82 ± 0,01; susut masak 2,69 ± 0,06%; nilai L* 46 ± 1,06; nilai a* 26,3 ± 0,78; dan nilai b* 13,9 ± 1,15. Karakteristik mikrobiologisnya menunjukkan angka lempeng total sebesar (8,25 ± 4,96) x 105 CFU/g, sedangkan Enterobacteriaceae tidak terdeteksi. | Vegan sausage is one of the plant-based meat products that is widely developed due to its practicality and flexibility in formulation. However, plant-based meat products, including vegan sausage, still face challenges related to texture, flavor, and product stability. Oyster mushroom-based vegan sausages generally exhibit poor texture and emulsion stability. Isolated soy protein (ISP) is a soy protein isolate containing at least 90% protein and has been widely used in commercial meat sausages to improve physical properties. In addition, vegan sausages must meet microbiological quality standards to ensure product safety. The use of natural preservatives such as kecombrang powder can be an alternative method to extend product shelf life. This study aimed to optimize the addition of ISP and kecombrang powder in oyster mushroom vegan sausage, characterize the physical and microbiological properties of the optimum formulation, and compare its characteristics with those of the control sausage. This study employed the Simplex Lattice Design method in Design Expert version 13 software to optimize the addition of ISP and kecombrang powder, with hardness and total expressible fluid (TEF) as the response variables. The experimental design consisted of 10 experimental units. The optimum formulation was subsequently characterized and the data were subjected to a normality test before being compared with control using either an independent samples t-test or the Mann–Whitney U test The results indicated that the addition of ISP and kecombrang powder significantly affected the hardness and total expressible fluid of the vegan sausage. The optimum formulation consisted of 11,250 g ISP and 2,250 g kecombrang powder, with a desirability value of 1,00. This formulation exhibited a hardness of 3685,88 gf and a total expressible fluid value of 0,042%, indicating good emulsion stability. The optimum sausage showed cohesiveness of 0,261 ± 0,01; springiness of 0,391 ± 0,02; chewiness of 376,22 ± 62,83; pH of 5,73 ± 0,04; water activity of 0,82 ± 0,01; cooking loss of 2,69 ± 0.06%; and color values of L* 46.0 ± 1.06; a* 26,3 ± 0,78; and b* 13,9 ± 1,15. Microbiological analysis showed a total plate count of (8,25 ± 4,96) × 10⁵ CFU/g, while Enterobacteriaceae were not detected. | |
| 51057 | 54474 | I1E022070 | PENGARUH LATIHAN SHOOTING DRILL TERHADAP PENINGKATAN HASIL FREE THROW SISWA EKSTRAKURIKULER BASKET SMA IT AL-IRSYAD PURWOKERTO | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan tembakan bebas (free throw) yang merupakan salah satu aspek krusial dalam menentukan kemenangan dalam permainan bola basket. Banyak siswa ekstrakurikuler basket di SMA IT Al-Irsyad Purwokerto yang masih mengalami kesulitan dalam hal akurasi dan mekanika gerakan tembakan bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari latihan shooting drill yang terstruktur dengan penerapan prinsip BEEF (Balance, Eyes, Elbow, Follow Through) terhadap peningkatan akurasi tembakan bebas siswa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain pre-experimental berupa one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola basket di SMA IT Al-Irsyad Purwokerto tahun ajaran 2025/2026 dengan jumlah sampel 15 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen pengumpulan data berupa tes tembakan hukuman (free throw) dengan total 10 kali kesempatan menembak. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas (Shapiro-Wilk) dan uji homogenitas (Levene) serta uji hipotesis melalui paired sample t-test. Hasil uji normalitas menunjukan data berdistribusi normal (Sig. > 0,05) dan uji homogenitas menunjukan data homogen (Sig. 0,723 > 0,05). Nilai rata-rata free throw meningkat dari 3 poin menjadi 6 poin, dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,00 poin. Hasil uji paired t-test menunjukan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan. Kesimpulan penelitian menunjukkan latihan shooting drill berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil free throw siswa. | This study was initiated by the low proficiency of students in executing free throws, which represents a crucial element in securing victories during a basketball game. Many students participating in the basketball extracurricular program at SMA IT Al-Irsyad Purwokerto still encounter difficulties regarding the accuracy and movement mechanics of their free throws. This research aims to examine the effect of structured shooting drill training integrated with the BEEF (Balance, Eyes, Elbow, Follow Through) principles on enhancing students' free throw accuracy. This study employed an experimental approach with a pre-experimental design, specifically utilizing a one-group pretest-posttest configuration. The research population consisted of basketball extracurricular students at SMA IT Al-Irsyad Purwokerto during the 2025/2026 academic year, involving a total sample of 15 individuals. The sampling process was conducted using a total sampling technique. Data collection instruments consisted of a free throw penalty test with a total of 10 shooting attempts. Statistical analysis was executed using the Shapiro-Wilk normality test, Levene’s homogeneity test, and a paired sample t-test. The normality test results indicated that the data were normally distributed (Sig. > 0.05), and the homogeneity test confirmed that the data variances were homogeneous (Sig. 0.723 > 0.05). The mean free throw score demonstrated an increase from 3 points during the pre-test to 6 points in the post-test, reflecting an average improvement of 3.00 points. Furthermore, the paired sample t-test revealed a significance value of 0.000 < 0.05, establishing a statistically significant influence. It is concluded that shooting drill training exerts a significant positive influence on improving the free throw performance of basketball extracurricular students. Keywords: Shooting Drill, Free throw, Basketball. | |
| 51058 | 54475 | C1A022013 | PENGARUH KEPADATAN PENDUDUK, GARIS KEMISKINAN, DAN RLS TERHADAP KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI PROVINSI DIY (2014-2024) | Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki karakteristik pembangunan yang khas, yaitu mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik, tetapi masih menghadapi tingkat ketimpangan distribusi pendapatan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepadatan penduduk sebagai dampak dari urbanisasi, garis kemiskinan sebagai indikator tekanan biaya hidup, dan rata-rata lama sekolah sebagai indikator tingkat pendidikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan kabupaten/kota di Provinsi DIY. Penelitian ini menggunakan data sekunder berbentuk data panel lima kabupaten/kota selama periode 2014-2024 sehingga diperoleh 55 observasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi data panel. Model estimasi yang digunakan adalah Random Effect Model (REM) berdasarkan hasil Uji Chow dan Hausman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan variabel kepadatan penduduk dan garis kemiskinan tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan. Sementara itu, variabel rata-rata lama sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan di Provinsi DIY. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa upaya mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta perlu dilakukan melalui pemerataan akses dan kualitas pendidikan yang diikuti dengan peningkatan keterkaitan antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, pemerintah daerah perlu mendorong pemerataan pembangunan ekonomi antarwilayah melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan, peningkatan infrastruktur, serta perluasan kesempatan usaha dan lapangan kerja agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata. | The Special Region of Yogyakarta has a distinctive development characteristic, as it has consistently recorded strong economic growth while continuing to experience a high level of income inequality. This study aims to analyze the effect of population density as a proxy for urbanization, the poverty line as an indicator of cost-of-living pressure, and mean years of schooling as an indicator of educational attainment on income inequality across regencies and municipalities in the Special Region of Yogyakarta. This study employs secondary panel data covering five regencies/municipalities during the 2014–2024 period, resulting in a total of 55 observations. This study adopts a quantitative approach using panel data regression analysis. Based on the Chow and Hausman tests, the Random Effect Model (REM) was selected as the appropriate estimation model. The findings indicate that increases in population density and the poverty line have no significant effect on income inequality. Meanwhile, mean years of schooling has a positive and statistically significant effect on income inequality in the Special Region of Yogyakarta. The findings imply that efforts to reduce income inequality in the Special Region of Yogyakarta should focus on improving the equity of access to and quality of education while strengthening the linkage between education and labor market needs. In addition, the local government should promote more balanced regional economic development through the establishment of new growth centers, infrastructure improvement, and the expansion of business opportunities and employment to ensure that the benefits of economic growth are distributed more equitably. | |
| 51059 | 54248 | B1B022006 | Acid Mine Drainage, Enzyme Activity, Manganese Peroxidase, Metal Stress, Trichoderma sp. | Coal mine acid mine drainage (AMD) adalah masalah lingkungan yang ditandai dengan pH rendah, konsentrasi sulfat tinggi, dan peningkatan kadar logam berat terlarut yang dapat berdampak buruk pada ekosistem. Trichoderma sp. dikenal karena kemampuannya untuk mentoleransi lingkungan asam dan terkontaminasi logam melalui berbagai mekanisme fisiologis, termasuk produksi enzim ekstraseluler. Namun, informasi mengenai aktivitas mangan peroksidase (MnP) pada Trichoderma sp. di bawah tekanan AMD tambang batubara masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai konsentrasi AMD tambang batubara terhadap aktivitas MnP pada Trichoderma sp. dan untuk menentukan pola aktivitas MnP pada peningkatan konsentrasi AMD tambang batubara. Desain Acak Lengkap (CRD) digunakan dengan konsentrasi AMD tambang batubara sebagai faktor perlakuan. Kultur Trichoderma sp. dipaparkan pada berbagai konsentrasi AMD tambang batubara, dan aktivitas MnP ditentukan secara spektrofotometri pada 610 nm menggunakan uji fenol merah. Biomassa jamur dan pH setelah inkubasi dievaluasi sebagai parameter pendukung. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah diikuti dengan uji post hoc yang sesuai pada tingkat kepercayaan 95%. Pengamatan morfologi mengkonfirmasi identitas Trichoderma sp., sementara karakterisasi AMD tambang batubara awal menunjukkan adanya ion Cu²⁺, Zn²⁺, Fe²⁺/Fe³⁺, Mn²⁺, dan sulfat. Konsentrasi AMD tambang batubara memiliki pengaruh signifikan terhadap aktivitas MnP (p < 0,001). Aktivitas MnP menurun dari 7,661 U/mL pada perlakuan AMD tambang batubara 0% menjadi 2,162 U/mL pada perlakuan 100%, menunjukkan pola penurunan yang konsisten dengan meningkatnya konsentrasi AMD tambang batubara. Biomassa jamur dan pH akhir setelah inkubasi juga menunjukkan tren penurunan, memberikan bukti tambahan tentang respons fisiologis Trichoderma sp. di bawah tekanan AMD tambang batubara. Perlakuan kontrol mengkonfirmasi bahwa aktivitas MnP yang terdeteksi sebagian besar berasal dari Trichoderma sp. yang aktif secara biologis. alih-alih dari proses non-biologis. Secara keseluruhan, peningkatan konsentrasi AMD tambang batubara secara signifikan menghambat aktivitas MnP dari Trichoderma sp., sementara biomassa jamur dan pH akhir setelah inkubasi mendukung interpretasi bahwa AMD tambang batubara memberikan tekanan fisiologis pada jamur. | Coal mine acid mine drainage (AMD) is an environmental problem characterized by low pH, high sulfate concentrations, and elevated levels of dissolved heavy metals that can adversely affect ecosystems. Trichoderma sp. is known for its ability to tolerate acidic and metal-contaminated environments through various physiological mechanisms, including extracellular enzyme production. However, information regarding manganese peroxidase (MnP) activity in Trichoderma sp. under coal mine AMD stress remains limited. Therefore, this study aimed to evaluate the effect of different concentrations of coal mine AMD on MnP activity in Trichoderma sp. and to determine the pattern of MnP activity across increasing coal mine AMD concentrations. A Completely Randomized Design (CRD) was employed with coal mine AMD concentration as the treatment factor. Trichoderma sp. cultures were exposed to different coal mine AMD concentrations, and MnP activity was determined spectrophotometrically at 610 nm using the phenol red assay. Fungal biomass and pH after incubation were evaluated as supporting parameters. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by the appropriate post hoc test at a 95% confidence level. Morphological observations confirmed the identity of Trichoderma sp., while preliminary coal mine AMD characterization indicated the presence of Cu²⁺, Zn²⁺, Fe²⁺/Fe³⁺, Mn²⁺, and sulfate ions. Coal mine AMD concentration had a significant effect on MnP activity (p < 0.001). MnP activity decreased from 7.661 U/mL in the 0% coal mine AMD treatment to 2.162 U/mL in the 100% treatment, demonstrating a consistent decreasing pattern with increasing coal mine AMD concentration. Fungal biomass and the final pH after incubation also exhibited decreasing trends, providing additional evidence of the physiological response of Trichoderma sp. under coal mine AMD stress. Control treatments confirmed that the detected MnP activity originated predominantly from biologically active Trichoderma sp. rather than from non-biological processes. Overall, increasing coal mine AMD concentration significantly inhibited the MnP activity of Trichoderma sp., while fungal biomass and the final pH after incubation supported the interpretation that coal mine AMD imposed physiological stress on the fungus. | |
| 51060 | 54477 | C1A019118 | PENGARUH MODAL, TENAGA KERJA, PELATIHAN, E–COMMERCE, DAN PENGGUNAAN QRIS TERHADAP PENDAPATAN UMKM KULINER DI KECAMATAN PURWOKERTO UTARA | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh modal, tenaga kerja, pelatihan, e-commerce, dan QRIS terhadap pendapatan UMKM kuliner di Kecamatan Purwokerto Utara. Subjek penelitian ini yaitu pelaku UMKM kuliner di Jalan HR. Bunyamin, Kecamatan Purwokerto Utara. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 152 UMKM kuliner, dengan jumlah sampel sebanyak 110 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan aplikasi e-views 13.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel modal, tenaga kerja, pelatihan, e-commerce, dan QRIS berpengaruh signifikan terhadap pendapatan UMKM kuliner di Kecamatan Purwokerto Utara. Secara parsial, variabel modal dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan UMKM, sedangkan variabel pelatihan, e-commerce, dan QRIS tidak berpengaruh terhadap pendapatan UMKM kuliner di Kecamatan Purwokerto Utara. Implikasi dari penelitian ini diharapkan pelaku UMKM kuliner dapat meningkatkan pengelolaan modal, mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, serta meningkatkan pemanfaatan teknologi digital seperti e-commerce dan QRIS dalam kegiatan usaha. Selain itu, pemerintah daerah dan Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UMKM diharapkan dapat memberikan pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan guna meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan. | This research aims to analyze the influence of capital, labor, training, e-commerce, and QRIS on the income of culinary MSMEs in North Purwokerto District. The subjects of this research were culinary MSMEs on HR. Bunyamin Street, North Purwokerto District. The type of data used in this research is primary data obtained through distributing questionnaires to respondents. The population in this research amounted to 152 culinary MSMEs, with a sample of 110 respondents. The sampling technique used was purposive sampling. The data analysis method used was multiple linear regression analysis using the e-views 13.0 application. The results of the research indicate that capital, labor, training, e-commerce, and QRIS variables simultaneously significant effect the revenue of culinary MSMEs in North Purwokerto District. Partially, capital and labor variables have a positive and significant effect on MSME revenue, while training, e-commerce, and QRIS variables have a positive but insignificant effect on the revenue of culinary MSMEs in North Purwokerto District. The implications of this research are expected to enable culinary MSMEs to improve capital management, optimize workforce utilization, and increase the use of digital technologies such as e-commerce and QRIS in business activities. Furthermore, local governments and the Department of Manpower, Cooperatives, and MSMEs are expected to provide ongoing training and mentoring to enhance MSMEs' capabilities in business development and revenue growth. |