Artikelilmiahs
Menampilkan 50.981-50.994 dari 50.994 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 50981 | 54373 | J1E021012 | PRE-SERVICE TEACHERS’ EXPERIENCES IN DESIGNING COLLABORATIVE LEARNING IN SPEAKING CLASSROOM ACTIVITIES (A Narrative Inquiry of Students’ Teaching Practice Batch 2022 at SMK Kesatrian Purwokerto) | Aisyah, Dyas Nur. 2026. “Pre-Service Teacher Experiences in Designing Collaborative Learning in Speaking Classroom Activities (A Narrative Inquiry of Students’ Teaching Practice Batch 2022 at SMK Kesatrian Purwokerto)”. Skripsi. Pembimbing 1: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., Pembimbing 2: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd., Ketua Penguji: Slamet Riyadi, S.S., M.Pd., Penguji Eksternal: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.Tesol. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman calon guru dalam merancang aktivitas berbicara kolaboratif menggunakan pendekatan collaborative learning selama praktik mengajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan narrative inquiry sebagai desain penelitian. Partisipan dalam penelitian ini adalah tiga calon guru yang telah melaksanakan praktik mengajar pada kelas berbicara di SMK Kesatrian Purwokerto. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interviews) dan dianalisis menggunakan thematic analysis melalui proses coding, kategorisasi, dan pengembangan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan secara sengaja merancang aktivitas berbicara kolaboratif, seperti dialog, pair work, role play, dan group discussion, untuk menciptakan praktik berbicara yang interaktif dan bermakna di kelas. Partisipan meyakini bahwa aktivitas kolaboratif dapat mengurangi kecemasan siswa, meningkatkan kepercayaan diri, mendorong partisipasi, serta mendukung komunikasi autentik antarsiswa. Namun, partisipan juga menghadapi beberapa tantangan, seperti partisipasi yang tidak merata, siswa pasif, instruksi yang kurang jelas, dan keterbatasan waktu selama proses implementasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, partisipan menyesuaikan strategi pengajaran dengan menyederhanakan instruksi, memberikan bimbingan tambahan, mengatur interaksi antarsiswa, dan memotivasi siswa agar lebih aktif berpartisipasi. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman merancang aktivitas berbicara kolaboratif turut berkontribusi terhadap perkembangan pedagogis partisipan, khususnya dalam manajemen kelas, fleksibilitas pembelajaran, strategi pengajaran komunikatif, dan praktik reflektif. | Aisyah, Dyas Nur. 2026. “Pre-Service Teacher Experiences in Designing Collaborative Learning in Speaking Classroom Activities (A Narrative Inquiry of Students’ Teaching Practice Batch 2022 at SMK Kesatrian Purwokerto)”. Thesis Supervisor 1: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., Supervisor 2: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd.., Chief External Examiner: Slamet Riyadi, S.S., M.Pd., External Examiner: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.Tesol. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Language Education Study Program, Purwokerto. This study aimed to explored how pre-service English teachers designed collaborative speaking activities during their teaching practicum. A qualitative approach with a narrative inquiry design was employed to investigated the participants’ instructional experienced. The participants were three pre-service English teachers who had completed their teaching practicum at SMK Kesatrian Purwokerto. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings revealed that designing collaborative speaking activities involved a systematic and reflective instructional process rather than merely selecting collaborative learning techniques. The participants designed various collaborative speaking activities, including dialogues, pair work, role-play, and asking-and-giving-opinion activities, based on students’ learning needs and instructional objectives. They also organized classroom interaction by facilitating peer collaboration, sequencing speaking activities, and providing instructional guidance throughout the learning process. Furthermore, the participants integrated real-life contexts into collaborative speaking activities to promote meaningful communication and encourage students to express their own ideas rather than relying on memorization. During the instructional process, they continuously reflected on their classroom experiences and modified their teaching strategies by simplifying task instructions, reorganizing collaborative interaction, and providing additional learning support according to students’ responses. The findings also indicated that designing collaborative speaking activities contributed to the participants’ professional development by strengthening their pedagogical competence, classroom management skills, instructional flexibility, and professional confidence. | |
| 50982 | 54396 | H1C022003 | GEOLOGI DAN PENGAYAAN LITHIUM PADA MUD VOLCANO DAERAH CINIRU, KABUPATEN KUNINGAN, PROVINSI JAWA BARAT | Permintaan global terhadap kebutuhan critical element dalam beberapa tahun terakhir meningkat tajam, misalnya lithium yang saat ini sebagai komponen kunci Lithium-Ion Batteries (LIBs). Di Indonesia, potensi keberadaan lithium belum tereksplorasi dengan baik, sehingga perlu dilakukan penelitian secara sistematis terkait keberadaan lithium di Indonesia. Penelitian ini difokuskan pada potensi endapan lithium yang berasosiasi dengan sistem mud volcano (clay hosted) yang berada di daerah Ciniru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik pengayaan lithium serta unsur kritis lainnya pada mud volcano Ciuyah. Untuk mendukung tujuan penelitian tersebut dilakukan analisis yang sistematis, termasuk petrografi, XRD, ICPS-MS, dan XRF. Secara mineralogi, mineral lempung yang mendominasi sampel mud yang terdiri dari mineral illit dan kaolinit. Diikuti kehadiran mineral kuarsa, kalsit, aragonit, dan albit. Dikonfirmasi dengan karakteristik geokimia yang mempunyai komposisi unsur utama seperti SiO2, Al2O3, K2O, CaO, Na2O, MgO, TiO2 dan Fe2O3 yang siginifikan menunjukkan adanya dominasi mineral filosilikat (mineral lempung) sebagai penyusun utama pada sampel. Hasil analisis unsur jejak menunjukkan lithium pada sampel mud menunjukkan kadar tertinggi 102.5 ppm dan terendah 54.5 ppm. Secara keseluruhan konsentrasi lithium pada sampel mud memiliki nilai rata-rata 82.09 ppm (dibandingkan dengan konsentrasi lithium pada batuan sedimen 56.5 ppm dan pada kerak bumi 17 ppm). Beberapa mineral kritis (misalnya Cu dan Sc) memiliki konsentrasi 13.53 – 72,24 ppm. Terdapat kandungan REE dari sampel mud yang menunjukkan nilai rata-rata TREE sebesar 142.97 ppm. Lithium pada sampel lumpur memiliki korelasi positif dengan Fe2O3 dan TiO2. Pengayaan lithium pada mud volcano Ciuyah terjadi melalui proses adsorpsi ion dan susbtitusi isomorfik dimana mineral seperti kaolinit dan illit berperan sebagai mineral pengikatnya. | Global demand for critical elements has surged sharply in recent years, for example lithium, which is currently a key component of Lithium-Ion Batteries (LIBs). In Indonesia, the potential for lithium has not been properly explored, therefore, systematic research on the existence of lithium in Indonesia needs to be conducted. This study focuses on the potential of lithium deposits associated with clay-hosted systems in the Ciniru area, Kuningan Regency, West Java. The objective of this study is to determine the enrichment characteristics of lithium and other important elements in the Ciuyah mud volcano system. This study aims to determine the characteristics of lithium enrichment and other critical elements in the Ciuyah mud volcano. To support the research objectives, systematic analyses were conducted, including petrography, XRD, ICPS-MS, and XRF. Mineralogically, the clay minerals dominating the mud samples consist of illite and kaolinite, followed by quartz, calcite, aragonite, and albite. This is confirmed by geochemical characteristics showing significant concentrations of major elements such as SiO₂, Al₂O₃, K₂O, CaO, Na₂O, MgO, TiO₂, and Fe₂O₃, indicating the dominance of phyllosilicate minerals (clay minerals) as the primary constituents of the samples. Trace element analysis show lithium in mud samples has a highest concentration of 102.9 ppm and a lowest concentration of 54.5 ppm. The overall average lithium content is 82.09 ppm (compared lithium concentration in sedimentary rocks of 56,5 ppm and earth's crust of 17 ppm). Several critical minerals (e.g., Cu and Sc) have concentrations ranging from 13.53 to 72.24 ppm. The mud samples contain rare earth elements (REE), with an average total rare earth element (TREE) concentration of 142.97 ppm. Lithium in the mud samples shows a positive correlation with Fe₂O₃ and TiO₂. Lithium enrichment in the Ciuyah mud volcano occurs through ion adsorption and isomorphic substitution processes, in which minerals such as kaolinite and illite act as binding minerals. | |
| 50983 | 54397 | H1C022016 | PEMODELAN RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBER DAYA HIDROKARBON BERDASARKAN ANALISIS FASIES LOG SUMUR DI LAPANGAN “X”, CEKUNGAN KUTAI, DELTA MAHAKAM | Cekungan Kutai merupakan salah satu penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia, salah satu formasi yang cukup produktif penghasil hidrokarbon adalah Formasi Pulau Balang yang tersusun atas batuan sedimen klastik berupa batupasir, batulanau, batulempung dan sisipan batugamping. Sistem delta pada Cekungan Kutai yang berumur Miosen Tengah berkembang secara cepat ke arah timur dan ke arah tenggara. Litologi batupasir yang terbentuk di delta plain dan delta front yang regresif berumur Miosen Tengah secara umum merupakan reservoar di sejumlah lapangan minyak dan gas bumi di Cekungan Kutai. Pada area penelitian terdapat beberapa interval yang sudah di kembangkan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, fokus utama pada penelitian ini berada pada lima interval di zona lower hingga deep yaitu pada zona gas pool. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan distribusi reservoir serta estimasi sumber daya hidrokarbon pada daerah penelitian. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan, reservoir pada daerah penelitian umumnya berupa litologi batupasir pada fasies channel yang terdistribusi pada area delta plain dengan pola distribusi berarah barat laut hingga tenggara, untuk ketebalan batupasir berkisar antara 0 hingga 34 meter dengan nilai porositas efektif berkisar antara 9,5 hingga 15,1 yang termasuk dalam kategori buruk hingga baik, nilai saturasi air berkisar antara 19,6 hingga 27,8 dan faktor volum formasi gas berkisar antara 0,404 hingga 0,423. Pada hasil perhitungan estimasi sumber daya berupa gas, didapatkan nilai total pada daerah penelitian sebesar 32 BSCF. Hasil tersebut menunjukan bahwa area tersebut layak untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut. | The Kutai Basin is one of the largest oil and gas producers in Indonesia. One of the most productive hydrocarbon-producing formations is the Pulau Balang Formation, which is composed of clastic sedimentary rocks in the form of sandstone, siltstone, claystone, and limestone intercalations. The delta system in the Kutai Basin, which is of Middle Miocene age, developed rapidly to the east and southeast. Sandstone lithology formed in the Middle Miocene regressive delta plain and delta front generally serves as a reservoir in a number of oil and gas fields in the Kutai Basin. In the study area, several intervals have been developed by previous researchers. The main focus of this study is on five intervals in the lower to deep zones, namely in the gas pool zone. This study was conducted to determine the characteristics and distribution of reservoirs and estimate hydrocarbon resources in the study area. From the results of the research that has been done, the reservoir in the research area is generally in the form of sandstone lithology in the channel facies distributed in the delta plain area with a distribution pattern trending northwest to southeast, for sandstone thickness ranging from 0 to 34 meters with effective porosity values ranging from 9.5 to 15.1 which are included in the poor to good category, water saturation values ranging from 19.6 to 27.8 and gas formation volume factors ranging from 0.404 to 0.423. In the results of the calculation of gas resource estimates, the total value in the research area is 32 BSCF. These results indicate that the area is worthy of further development. | |
| 50984 | 54398 | D1A022143 | STUDI KASUS PROFIL HEMATOLOGI DARAH DOMBA POTONG BERDASARKAN PERBEDAAN BANGSA DI KTT HARAPAN JAYA, KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian yang berjudul “Studi Kasus Profil Hematologi Darah Domba Potong Berdasarkan Perbedaan Bangsa di KTT Harapan Jaya, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas” dilaksanakan di KTT Harapan Jaya Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dan analisis hematologi dilakukan di Laboratorium Kesehatan Hewan Purwokerto. Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui kadar atau nilai parameter profil hematologi pada tiga bangsa domba yang berbeda yaitu meliputi Red Blood Cell (RBC), Hemoglobin (HGB), Hematokrit (PCV), White Blood Cell (WBC), dan Platelet (PLT) dan untuk mengetahui perbedaan nilai atau kadar tersebut antar tiga bangsa domba yang berbeda. Sasaran penelitian yang digunakan yaitu domba potong betina dewasa (>1 tahun) yang dipelihara di KTT Harapan Jaya. Pengambilan sampel darah dilakukan secara purposive sampling menggunakan spuit syringe sebanyak 3 ml pada bagian vena jugularis (leher). Sampel diambil dari 21 ekor domba, dengan jumlah masing-masing 7 ekor pada tiap bangsa. Variabel bebas pada penelitian ini meliputi tiga bangsa domba yaitu Domba Ekor Tipis, Cross Merino, dan Cross Texel. Variabel terikat yaitu parameter hematologi meliputi WBC, RBC, HGB, PCV, dan PLT. Analisis dilakukan secara deskriptif dan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk serta analisis Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat perbedaan parameter hematologi pada tiap bangsa. Nilai RBC (Red Blood Cell) dari ketiga jenis domba memiliki nilai rata-rata tertinggi pada jenis Domba Ekor Tipis yaitu mencapai 11,5 ± 1,21 10⁶/µl, diikuti oleh domba Cross Merino sebesar 10,80 ± 2,17 10⁶/µl, dan rata-rata terendah pada domba Cross Texel yaitu sebesar 10,26 ± 2,40 10⁶/µl. Nilai Hemoglobin dari ketiga jenis domba memiliki nilai rata-rata tertinggi pada jenis Domba Ekor Tipis yaitu mencapai 26,34 ± 43,52 g/dL, diikuti oleh Cross Merino sebesar 12,61 ± 5,92 g/dL dan nilai rata-rata terendah pada domba Cross Texel yaitu sebesar 9,86 ± 2,17 g/Dl. nilai PCV dari ketiga jenis domba memiliki nilai rata-rata tertinggi pada jenis Domba Ekor Tipis yaitu sebesar 31,27 ± 43,52 %, diikuti oleh domba Cross Merino yaitu sebesar 31,16 ± 5,12 %, dan nilai rata-rata terendah pada domba Cross Texel yaitu 28,99 ± 6,25 %. Nilai WBC dari ketiga jenis domba memiliki nilai rata-rata tertinggi pada jenis domba Cross Merino yaitu sebesar 11,2 ± 2,24 x 10³/µl, diikuti oleh Domba Ekor Tipis 11,31 ± 3,52 x 10³/µl, dan nilai rata-rata terendah pada domba Cross Texel 10,92 ± 4,59 x 10³/µl. nilai PLT dari ketiga jenis domba memiliki nilai rata-rata tertinggi pada domba Cross Merino yaitu sebesar 452,94 ± 266,58 10³/µl, diikuti oleh Domba Ekor Tipis sebesar 359 ± 128,84 10³/µl, dan nilai rata-rata terendah pada domba Cross Texel yaitu sebesar 300,73 ± 225,49 10³/µl. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan nilai hematologi pada tiga bangsa domba yang berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor genetik yang mempengaruhi perbedaan kondisi fisiologis dan respon adaptasi pada tiap bangsa domba. | The study entitled "A Case Study of the Hematological Profile of Meat Sheep Based on Breed Differences at Harapan Jaya Farmer Group, Sumbang District, Banyumas Regency" was conducted at Harapan Jaya Farmer Group, Kotayasa Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Indonesia. Hematological analyses were performed at the Animal Health Laboratory of Purwokerto. This study aimed to determine the hematological profile parameters, including Red Blood Cell (RBC), Hemoglobin (HGB), Packed Cell Volume (PCV), White Blood Cell (WBC), and Platelet (PLT) counts, in three different sheep breeds and to evaluate the differences in these parameters among the breeds. The research subjects consisted of adult female meat sheep (>1 year old) reared at Harapan Jaya Farmer Group. Blood samples were collected using a purposive sampling method from the jugular vein with a 3 mL disposable syringe. A total of 21 sheep were sampled, comprising seven animals from each breed. The independent variable was sheep breed, consisting of Thin-Tailed Sheep, Cross Merino, and Cross Texel, while the dependent variables were the hematological parameters (RBC, HGB, PCV, WBC, and PLT). Data were analyzed descriptively and further evaluated using the Shapiro–Wilk normality test and the Kruskal–Wallis test. The results showed that hematological parameters varied among the three breeds. The highest mean RBC value was observed in Thin-Tailed Sheep (11.50 ± 1.21 × 10⁶/µl), followed by Cross Merino (10.80 ± 2.17 × 10⁶/µl) and Cross Texel (10.26 ± 2.40 × 10⁶/µl). The highest mean HGB concentration was found in Thin-Tailed Sheep (26.34 ± 43.52 g/dL), followed by Cross Merino (12.61 ± 5.92 g/dL) and Cross Texel (9.86 ± 2.17 g/dL). Similarly, the highest mean PCV value was recorded in Thin-Tailed Sheep (31.27 ± 43.52%), followed by Cross Merino (31.16 ± 5.12%) and Cross Texel (28.99 ± 6.25%). The highest mean WBC count was observed in Cross Merino (11.20 ± 2.24 × 10³/µl), followed by Thin-Tailed Sheep (11.31 ± 3.52 × 10³/µl) and Cross Texel (10.92 ± 4.59 × 10³/µl). The highest mean PLT count was also found in Cross Merino (452.94 ± 266.58 × 10³/µl), followed by Thin-Tailed Sheep (359.00 ± 128.84 × 10³/µl) and Cross Texel (300.73 ± 225.49 × 10³/µl). In conclusion, hematological values differed among the three sheep breeds. These differences were likely associated with genetic factors that influence physiological characteristics and adaptive responses in each breed. | |
| 50985 | 54400 | J1B022040 | PEMEROLEHAN FONOLOGI PADA ANAK DENGAN GANGGUAN ADHD USIA 7 TAHUN: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK | Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemerolehan produksi ujaran bahasa Indonesia berstruktur fonologi pada anak usia 7 tahun dengan gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang disertai speech delay, serta mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pemerolehan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan lima subjek yang mewakili presentasi ADHD dominan inatensi, dominan hiperaktivitas-impulsivitas, dan gabungan. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara, serta teknik rekam dan catat terhadap ujaran yang dihasilkan subjek melalui uji fonem. Analisis diarahkan pada penguasaan vokal, konsonan, diftong, serta proses fonologis berupa substitusi, asimilasi, dan elisi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kemampuan pemerolehan fonologi antarsubjek. Berdasarkan 382 kata yang diujikan pada setiap subjek, AAP menunjukkan penguasaan tertinggi dengan 296 kata, diikuti APB 246 kata, STC 211 kata, ZA 191 kata, dan AAM 66 kata. Kesalahan fonologis yang menonjol berupa substitusi fonem [r] menjadi [l] dan elisi fonem pada sejumlah kata. Variasi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan tipe ADHD, tetapi berinteraksi dengan kondisi kesehatan, keterlibatan orang tua, lingkungan sosial, keberlanjutan terapi, dan akses terhadap pendidikan inklusi. Temuan ini menunjukkan bahwa pemerolehan fonologi pada anak dengan ADHD bersifat heterogen sehingga intervensi bahasa perlu disesuaikan dengan profil individual dan konteks perkembangan setiap anak. | This study aims to describe the acquisition of Indonesian phonological speech production in seven-year-old children with Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) accompanied by speech delay and to identify factors influencing the acquisition. A qualitative descriptive approach was employed with five participants representing predominantly inattentive, predominantly hyperactive-impulsive, and combined ADHD presentations. Data were collected through participatory observation, interviews, and speech recording and note-taking using a phoneme elicitation test. The analysis focused on vowel, consonant, and diphthong acquisition as well as phonological processes including substitution, assimilation, and deletion. The findings demonstrate substantial inter-individual variation. From 382 target words tested for each participant, AAP produced 296 words, followed by APB with 246, STC with 211, ZA with 191, and AAM with 66. The prominent phonological processes included [r] to [l] substitution and phoneme deletion in several words. The variation was not determined by ADHD presentation alone but interacted with health conditions, parental involvement, social environment, continuity of therapy, and access to inclusive education. These findings indicate that phonological acquisition among children with ADHD is heterogeneous and that language intervention should be adapted to each child's individual developmental and contextual profile. | |
| 50986 | 54399 | F1A022006 | Peran Kelompok Wanita Tani dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga (Studi Pada Kelompok Wanita Tani Makmur Berkah Desa Kutasari) | Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal. Salah satu bentuk partisipasi tersebut diwujudkan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berperan dalam pemberdayaan perempuan sekaligus penguatan ketahanan pangan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kelompok Wanita Tani Makmur Berkah dalam meningkatkan ketahanan pangan keluarga di Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap anggota KWT, perangkat desa, penyuluh pertanian lapangan, serta konsumen. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, sedangkan validitas data dilakukan melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KWT Makmur Berkah berperan dalam meningkatkan ketahanan pangan keluarga melalui lima program utama, yaitu bidang pertanian, perikanan, pengolahan hasil pertanian, outing class, dan bank sampah organik. Program-program tersebut mampu meningkatkan ketersediaan pangan, diversifikasi konsumsi, nilai ekonomi hasil pertanian, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Analisis menggunakan teori modal sosial Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa keberhasilan KWT didukung oleh terbentuknya kepercayaan, norma, dan jaringan sosial yang memperkuat kerja sama antaranggota maupun kemitraan dengan pemerintah desa dan berbagai lembaga. Kata Kunci: Kelompok Wanita Tani, Ketahanan Pangan, Modal Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Ketahanan Pangan Keluarga. | Food security is a strategic issue in sustainable development that depends not only on government policies but also on community participation in managing local resources. One form of such participation is represented by Women Farmers Groups (Kelompok Wanita Tani/KWT), which contribute to women's empowerment while strengthening household food security. This study aims to analyze the role of the Makmur Berkah Women Farmers Group in improving family food security in Kutasari Village, Baturraden District, Banyumas Regency. The research employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving KWT members, village officials, agricultural extension officers, and consumers. Data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, while data validity was ensured through source triangulation. The findings reveal that KWT Makmur Berkah strengthens family food security through five major programs, namely agriculture, fisheries, agricultural product processing, outing class activities, and an organic waste bank. These programs improve food availability, diversify household food consumption, increase the economic value of agricultural products, and encourage community participation in environmental management. Based on Pierre Bourdieu's social capital theory, the success of the group is supported by trust, shared norms, and social networks that reinforce collaboration among members and partnerships with local government and related institutions. Keywords: Women Farmers Group, Food Security, Social Capital, Women Empowerment, Household Food Security. | |
| 50987 | 54401 | B1A022016 | Induksi dan Multiplikasi Kalus Malapari (Pongamia pinnata L.) secara In Vitro dengan Pemberian Konsentrasi 2,4-D dan BAP Berbeda | Malapari (Pongamia pinnata L.) merupakan salah satu tanaman potensial sebagai bahan baku biodiesel yang menjanjikan karena menghasilkan minyak biji dengan kadar tinggi dan berkualitas serta mampu tumbuh di lahan marginal. Namun, perbanyakannya masih menghadapi kendala karena benih bersifat rekalsitran dan daya perkecambahan yang rendah. Perbanyakan vegetatif melalui stek dan cangkok kurang efisien karena memerlukan waktu lama, tingkat keberhasilan tidak konsisten, perakaran kurang optimal, dan ketersediaan bahan tanam terbatas. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan teknik kultur in vitro melalui induksi dan multiplikasi kalus. Keberhasilan pembentukan kalus dalam kultur in vitro dipengaruhi oleh jenis eksplan dan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT). Daun muda dipilih sebagai eksplan karena memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi serta menyediakan bahan eksplan dalam jumlah banyak. ZPT berupa auksin 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dan sitokinin 6-Benzylaminopurine (BAP) berperan dalam merangsang pembelahan dan proliferasi sel selama pembentukan kalus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interaksi antara 2,4-D dan BAP terhadap induksi dan multiplikasi kalus malapari secara in vitro serta menentukan konsentrasi 2,4-D dan BAP terbaik untuk induksi dan multiplikasi kalus malapari secara in vitro. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi 2,4-D dengan 4 taraf, yaitu 0, 5, 10, dan 15 µM. Faktor kedua adalah konsentrasi BAP dengan 4 taraf, yaitu 0, 2, 4, dan 6 µM. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% dan 1%, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dan uji regresi pada taraf signifikansi 5% . Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara 2,4-D dan BAP berpengaruh terhadap ukuran kalus pada tahap induksi dan multiplikasi malapari secara in vitro, tetapi tidak berpengaruh terhadap persentase pembentukan dan pertambahan ukuran kalus. Kombinasi 2,4-D 15 µM dan BAP 4 µM merupakan kombinasi terbaik dalam penelitian ini untuk induksi dan multiplikasi kalus malapari, dengan mempertimbangkan respons pertumbuhan kalus dan persentase kalus embriogenik tertinggi sebesar 33,3%. | Malapari (Pongamia pinnata L.) is a promising plant species for biodiesel production due to its high seed oil content and oil quality, as well as its ability to grow on marginal land. However, its propagation remains challenging because of its recalcitrant seeds and low germination rate. Conventional vegetative propagation through cuttings and air layering is relatively inefficient due to the lengthy propagation process, inconsistent success rates, suboptimal rooting, and limited availability of planting material. One potential approach to overcoming these constraints is in vitro culture through callus induction and multiplication. The success of callus formation under in vitro conditions is influenced by explant type and the application of plant growth regulators (PGRs). Young leaves were selected as explants because of their high regenerative capacity and their potential to provide abundant explant material. The auxin 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) and the cytokinin 6-benzylaminopurine (BAP) play important roles in stimulating cell division and proliferation during callus formation. This study aimed to evaluate the interaction between 2,4-D and BAP concentrations on in vitro callus induction and multiplication of P. pinnata and to determine the optimum concentrations of 2,4-D and BAP for these processes. The experiment was conducted using a completely randomised design (CRD) with a two-factor factorial arrangement. The first factor was 2,4-D concentration at four levels (0, 5, 10, and 15 µM), while the second factor was BAP concentration at four levels (0, 2, 4, and 6 µM). Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 48 experimental units. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level. The results demonstrated that the interaction between 2,4-D and BAP significantly affected callus size during both the induction and multiplication stages but had no significant effect on the percentage of callus formation or the increase in callus size. The combination of 15 µM 2,4-D and 4 µM BAP was identified as the optimum treatment for in vitro callus induction and multiplication of P. pinnata under the conditions of this study, based on overall callus growth responses and the highest percentage of embryogenic callus formation (33.3%). | |
| 50988 | 54402 | J1E022018 | STUDENTS’ PERCEPTIONS TOWARD THE USE OF BLOOKET IN ENHANCING ENGLISH LEARNING MOTIVATION | Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi siswa terhadap penggunaan Blooket dalam meningkatkan motivasi belajar bahasa Inggris dan mengidentifikasi jenis motivasi yang tercermin dalam penggunaannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 36 siswa kelas X TM 2 SMK Negeri 2 Purwokerto. Data diperoleh melalui wawancara sebagai data utama dan kuesioner sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki persepsi positif terhadap Blooket karena membuat pembelajaran lebih interaktif, menyenangkan, dan meningkatkan partisipasi serta pemahaman siswa. Kendala yang ditemukan adalah masalah koneksi internet dan perangkat. Motivasi intrinsik memperoleh skor tertinggi (M = 4,37), menunjukkan bahwa kesenangan dan ketertarikan menjadi faktor utama dalam penggunaan Blooket. | This study aims to explore students’ perceptions of using Blooket to enhance English learning motivation and identify the types of motivation reflected in its use. This descriptive qualitative study involved 36 students of class X TM 2 at SMK Negeri 2 Purwokerto. Data were collected through interviews as the primary data and questionnaires as supporting data. The findings showed that students had positive perceptions of Blooket because it made learning more interactive and enjoyable and improved their participation and understanding. The main challenges were internet connection and device problems. Intrinsic motivation obtained the highest mean score (M = 4.37), indicating that enjoyment and interest were the main factors in students’ use of Blooket. | |
| 50989 | 54403 | D1B024025 | Kontribusi Usaha Ternak Kambing Terhadap Pendapatan Keluarga Peternak Di Kabupaten Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak, besaran pendapatan usaha, besaran kontribusi usaha ternak kambing skala kecil terhadap pendapatan keluarga peternak, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei terhadap 60 responden peternak kambing skala kecil yang dipilih secara accidental sampling di empat kecamatan, yaitu Gumelar, Wangon, Lumbir, dan Somagede. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik peternak kambing skala kecil didominasi oleh usia produktif (rata-rata 57,35 tahun), berpendidikan dasar (rata-rata lama pendidikan 7,53 tahun), dan rata-rata mencurahkan waktu kerja sebesar 5,15 jam/hari dengan kepemilikan ternak rata-rata 0,70 Satuan Ternak Kambing (STK). Rata-rata pendapatan dari usaha ternak kambing adalah sebesar Rp2.347.071 per tahun, sedangkan rata-rata pendapatan non-ternak mencapai Rp10.759.867 per tahun. Usaha ternak kambing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 23,85% terhadap total pendapatan rumah tangga peternak, sehingga dikategorikan sebagai sumber pendapatan tambahan (sampingan). Hasil uji F menunjukkan variabel jumlah ternak, umur, pendidikan, dan curahan jam kerja secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap kontribusi pendapatan. Namun secara parsial (uji t), hanya variabel jumlah ternak yang berpengaruh positif dan signifikan ($p < 0,05$), sedangkan umur, pendidikan, dan curahan jam kerja tidak berpengaruh nyata. Faktor utama yang membatasi besarnya kontribusi adalah skala kepemilikan yang kecil, produktivitas yang belum optimal, serta status usaha yang masih bersifat sampingan dan tabungan hidup (living bank). Disarankan adanya peningkatan skala kepemilikan ternak dan perbaikan manajemen pemeliharaan untuk mengoptimalkan pendapatan peternak. | This study aims to determine the characteristics of farmers, the amount of business income, the contribution of small-scale goat farming to the income of breeder families, and the factors affecting it in Banyumas Regency. The research was conducted using a survey method involving 60 small-scale goat farmers selected through accidental sampling across four sub-districts: Gumelar, Wangon, Lumbir, and Somagede. The data were analyzed using quantitative descriptive analysis and multiple linear regression analysis. The results showed that the characteristics of small-scale goat farmers were dominated by productive age (average 57.35 years old), basic education level (average 7.53 years of formal education), and an average labor allocation of 5.15 hours/day, with an average livestock ownership of 0.70 Livestock Unit (LU). The average annual income from goat farming was IDR 2,347,071, while the average non-farming income reached IDR 10,759,867 per year. Goat farming contributed an average of 23.85% to the total household income of the farmers, categorizing it as an alternative or supplementary income source. The F-test results revealed that livestock population, age, education, and labor allocation simultaneously had a significant effect on the income contribution. However, the t-test indicated that partially, only the livestock population variable had a positive and significant effect ($p < 0.05$), while age, education, and labor allocation had no significant effect. The main factors limiting the contribution were small scale of ownership, suboptimal productivity, and the business status which is still managed as a side job and a living bank. It is recommended to increase livestock ownership scale and improve rearing management to optimize farmers' income. | |
| 50990 | 54404 | J0B023015 | Pembuatan Buklet elektronik Berbahasa Mandarin Sebagai Upaya Meningkatkan Pelayanan Informasi Bangunan Bersejarah di Karaton Surakarta Hadiningrat | Karaton Surakarta Hadiningrat merupakan destinasi wisata sejarah yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara, termasuk wisatawan penutur bahasa Mandarin. Namun, ketersediaan media informasi berbahasa Mandarin di Karaton Surakarta Hadiningrat masih terbatas sehingga wisatawan penutur bahasa Mandarin mengalami kesulitan dalam memahami informasi wisata, khususnya terkait bangunan bersejarah. Selain itu, belum adanya pemandu wisata yang dapat berbahasa Mandarin juga menjadi kendala dalam pelayanan informasi sehingga wisatawan penutur bahasa Mandarin tidak dapat memperoleh informasi secara optimal karena adanya hambatan komunikasi. Permasalahan tersebut berdampak pada kualitas pelayanan informasi yang diterima oleh wisatawan mancanegara. Pembuatan buklet elektronik berbahasa mandarin dilakukan sebagai upaya meningkatkan pelayanan informasi di Karaton Surakarta Hadiningrat. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi bangunan bersejarah di Karaton Surakarta Hadiningrat. Dalam proses penerjemahan teks dari bahasa Indonesia ke bahasa Mandarin, metode penerjemahan komunikatif digunakan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh wisatawan penutur bahasa Mandarin tanpa mengubah makna aslinya. Hasil yang diperoleh berupa buklet elektronik berbahasa Mandarin yang menyajikan informasi sejarah dan fungsi bangunan bersejarah di Karaton Surakarta Hadiningrat secara jelas, ringkas, dan mudah dipahami. Buklet elektronik disebarluaskan melalui kode QR yang disediakan di loket Museum Karaton Surakarta Hadiningrat sehingga dapat diakses secara mandiri oleh wisatawan. Buklet elektronik ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi atas keterbatasan media informasi berbahasa Mandarin sehingga menjadi upaya awal dalam meningkatkan pelayanan informasi bagi wisatawan penutur bahasa Mandarin di Karaton Surakarta Hadiningrat. | Karaton Surakarta Hadiningrat is a historical tourist destination that attracts a large number of foreign tourists, including Mandarin-speaking tourists. However, the availability of Mandarin-language information media at Karaton Surakarta Hadiningrat remains limited, making it difficult for Mandarin-speaking tourists to understand tourism information, particularly regarding the historical buildings. In addition, the lack of tour guides who can speak Mandarin further hinders information services, leaving Mandarin-speaking tourists unable to obtain information optimally due to communication barriers. These issues affect the quality of information services received by foreign tourists. A Mandarin-language electronic booklet was developed as an effort to improve information services at Karaton Surakarta Hadiningrat. The data collection methods used include observation, interviews, literature review, and documentation of the historical buildings at Karaton Surakarta Hadiningrat. In translating the texts from Indonesian into Mandarin, the communicative translation method was applied so that the intended message could be easily understood by Mandarin-speaking tourists without altering its original meaning. The results show that the Mandarin-language electronic booklet was successfully developed, presenting historical information and the functions of the historical buildings at Karaton Surakarta Hadiningrat clearly, concisely, and comprehensibly. The electronic booklet is distributed through a QR code provided at the ticket counter of Karaton Surakarta Hadiningrat Museum, allowing it to be accessed independently by tourists. This electronic booklet is expected to serve as one of the solutions to the limited availability of Mandarin-language information media, thereby becoming an initial effort to improve information services for Mandarin-speaking tourists at Karaton Surakarta Hadiningrat. | |
| 50991 | 54405 | H1E022035 | PENERAPAN SIX SIGMA (DMAIC) DAN FUZZY FMEA UNTUK PERBAIKAN PROSES PRODUKSI JERSEY PADA CV.XYZ KONVEKSI | CV.XYZ merupakan perusahaan konveksi dan perdagangan umum yang memproduksi berbagai jenis pakaian, termasuk Jersey. Perusahaan masih menghadapi permasalahan pengendalian kualitas pada proses produksi Jersey. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis cacat dan faktor penyebab utama, mengusulkan perbaikan proses produksi, serta mengevaluasi dampak perbaikan menggunakan metode Six Sigma (DMAIC) dan Fuzzy FMEA. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi kasus, memanfaatkan data primer melalui observasi dan wawancara serta data sekunder berupa data produksi dan cacat pada periode Oktober 2025-Januari 2026 & Mei 2026-Juni 2026. Tahapan DMAIC diterapkan untuk mengidentifikasi, mengukur, menganalisis, dan memperbaiki permasalahan kualitas, sedangkan Fuzzy FMEA digunakan untuk menentukan prioritas penyebab kegagalan berdasarkan nilai Fuzzy Risk Priority Number (FRPN). Tahap Define mengidentifikasi empat jenis cacat, yaitu salah ukuran, salah desain, cacat potong, dan hasil cetak berbayang. Tahap Measure menghasilkan rata-rata DPMO sebesar 4.488,63 dan tingkat sigma sebesar 4,11. Tahap Analyze menunjukkan bahwa cacat salah desain merupakan cacat dominan dengan kontribusi sebesar 41,7% dari total cacat. Analisis fishbone menunjukkan penyebab cacat berasal dari faktor manusia, metode, material, mesin, lingkungan, dan pengukuran. Analisis Fuzzy FMEA menempatkan tidak adanya pemeriksaan akhir desain sebagai penyebab prioritas tertinggi dengan nilai FRPN sebesar 650. Tahap Improvement mengusulkan penambahan checkpoint pada surat perintah produksi sebagai mekanisme verifikasi desain sebelum produksi. Setelah implementasi, nilai DPMO menurun dari 4.488,63 menjadi 3.389,44, tingkat sigma meningkat dari 4,12 menjadi 4,21, dan persentase cacat menurun dari 1,80% menjadi 1,36%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penambahan checkpoint efektif dalam meningkatkan pengendalian kualitas pada proses produksi. | CV.XYZ is a convection and general trading company producing various apparel products, including Jerseys. The company still faces quality control problems in the Jersey production process. This study aims to identify Defect types and the main factors affecting product quality, propose production process improvements, and evaluate the impact of the proposed improvements using Six Sigma (DMAIC) and Fuzzy FMEA. The study employed a quantitative case study approach using primary data collected through direct observation and interviews, as well as secondary data consisting of production and Defect records for the periods of October 2025–January 2026 and May 2026–June 2026. The DMAIC methodology was applied to define, measure, analyze, improve, and control quality problems, while Fuzzy FMEA was used to prioritize failure causes based on the Fuzzy Risk Priority Number (FRPN). The Define stage identified four Defect types: wrong size, wrong design, cut Defect, and shadowed printing. The Measure stage obtained an average DPMO of 4,488.63 and an average sigma level of 4.11. The Analyze stage showed that wrong design was the dominant Defect, contributing 41.7% of the total Defects. Fishbone analysis indicated that the causes of Defects were related to man, method, material, machine, environment, and measurement factors. Fuzzy FMEA ranked the absence of final design verification as the highest-priority failure cause, with an FRPN value of 650. The Improvement stage proposed adding a checkpoint to the production order form as a design verification mechanism before production. After implementation, the DPMO decreased from 4,488.63 to 3,389.44, the sigma level increased from 4.12 to 4.21, and the Defect percentage decreased from 1.80% to 1.36%. These results indicate that the addition of the checkpoint effectively improved quality control in the production process. | |
| 50992 | 54406 | L1B022095 | MASKULINISASI LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DENGAN LAMA WAKTU PERENDAMAN YANG BERBEDA | Produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) jantan penting dalam budidaya karena memiliki pertumbuhan lebih cepat dibandingkan betina. Ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) mengandung xanthone yang berpotensi menghambat aromatase sehingga dapat digunakan sebagai bahan alami untuk maskulinisasi. Penelitian ini bertujuan menentukan lama perendaman ekstrak kulit manggis yang optimal dalam menghasilkan larva ikan nila jantan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu kontrol, 17α-metiltestosteron 6 mg/L selama 8 jam, serta ekstrak kulit manggis 40 mg/L selama 6, 8, dan 10 jam. Parameter yang diamati meliputi persentase kelamin jantan, kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan histologi gonad. Hasil penelitian menunjukkan persentase kelamin jantan sebesar 53,3%, 80,5%, dan 83,8% pada perendaman 6, 8, dan 10 jam. Analisis polinomial ortogonal menunjukkan waktu optimal secara estimasi sebesar 9,28 jam dengan persentase jantan 85,40%. Histologi menunjukkan perlakuan 10 jam memiliki jumlah sel spermatogenik tertinggi, yaitu 889 sel, dengan dominasi spermatid sebesar 53,5% dan spermatozoa sebesar 40,8%. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perendaman 6 jam sebesar 85,5%. Dengan demikian, ekstrak kulit manggis 40 mg/L selama 10 jam merupakan perlakuan aktual terbaik untuk maskulinisasi larva ikan nila dan menghasilkan perkembangan sel spermatogenik tahap lanjut pada pengamatan histologi gonad. | Male Nile tilapia (Oreochromis niloticus) production is important in aquaculture because males exhibit faster growth than females. Mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) contains xanthones, which have potential to inhibit aromatase and may therefore serve as a masculinizing agent. This study aimed to determine the optimal immersion duration of mangosteen peel extract for producing Nile tilapia larvae. A Completely Randomized Design with five treatments and three replicates was used, consisting of a control, 17α-methyltestosterone at 6 mg/L for 8 hours, and mangosteen peel extract at 40 mg/L for 6, 8, and 10 hours. The parameters included male sex percentage, survival rate, growth, and gonadal histology. The results showed male percentages of 53.3%, 80.5%, and 83.8% after 6, 8, and 10 hours of immersion. Orthogonal polynomial analysis estimated optimal duration at 9.28 hours, with an estimated male percentage of 85.40%. Histological analysis showed that the 10-hour treatment had the most spermatogenic cells, totaling 889 cells, with spermatids at 53.5% and spermatozoa at 40.8%. The highest survival rate was obtained after 6 hours of immersion (85.5%). Thus, 40 mg/L mangosteen peel extract for 10 hours was the best treatment for masculinizing Nile tilapia larvae. | |
| 50993 | 54407 | L1C022012 | Potensi Risiko Ekologis Berdasarkan Konsentrasi Logam Pb, Cr,Cd Pada Mangrove Rhizophora mucronata Kawasan Ekosistem Esensial Kali Ijo | Ekosistem mangrove rentan mengalami akumulasi logam berat, termasuk timbal (Pb), kromium (Cr), dan kadmium (Cd), akibat aktivitas antropogenik di sekitar kawasan pesisir. Muara Kali Ijo, Kabupaten Kebumen berpotensi mengalami pencemaran logam berat akibat menerima limbah dari aktivitas pertanian, perikanan, pertambakan, dan industri rumah tangga. Penelitian ini bertujuan mendeteksi kandungan Pb, Cr, dan Cd pada sedimen dan akar mangrove Rhizophora mucronata, menganalisis biokonsentrasi dengan nilai Bioconcentration Factor (BCF), serta menganalisis potensi risiko ekologis. Penelitian ini menggunakan metode survei pada enam stasiun secara purposive sampling. Konsentrasi logam diukur menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), dan risiko ekologis dianalisis menggunakan Contamination Factor, Enrichment Factor, Geo-accumulation Index, dan Potential Ecological Risk Index (RI). Hasil menunjukkan konsentrasi logam pada sedimen lebih tinggi dibandingkan akar, dengan Pb 0,240-0,367 mg/kg, Cr 0,020-0,040 mg/kg, dan Cd 0,215-0,322 mg/kg pada sedimen, seluruhnya di bawah ambang Sediment Quality Guidelines. Nilai BCF ketiga logam berada dibawah 1,mengindikasikan R. mucronata sebagai tumbuhan excluder dengan kemampuan akumulasi logam berat yang rendah. Nilai Potential Ecological Risk Index (RI) berkisar antara 21,70-32,15 menunjukkan potensi risiko ekologis yang tergolong rendah di seluruh stasiun, meskipun Cd memberikan risiko terbesar dibandingkan Pb dan Cr sehingga perlu diperhatikan. | Mangrove ecosystems are susceptible to the accumulation of heavy metals, including lead (Pb), chromium (Cr), and cadmium (Cd), due to anthropogenic activities around coastal areas. Muara Kali Ijo, Kebumen Regency has the potential to experience heavy metal pollution due to receiving waste from agicultural, fishery, aquaculture, and household industry activities. This study aims to detect Pb, Cr, and Cd content in the sediment and roots of Rhizophora mucronata mangroves, analyze bioaccumulation with Bioconcentration Factor (BCF) values, and analyze potential ecological risks. This study used a survey method at six purposive sampling stations, with metal concentrations measured using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), and ecological risks analyzed using Contamination Factor, Enrichment Factor, Geo-accumulation Index, and Potential Ecological Risk Index (RI). The results showed that the concentration of metals in sediments was higher than in roots, with Pb 0.240-0.367 mg/kg, Cr 0.020-0.040 mg/kg, and Cd 0.215-0.322 mg/kg in sediments, all below the Sediment Quality Guidelines threshold. The BCF value of the three metals is below 1, indicating R. mucronata as an excluder plant with a low ability to accumulate heavy metals. The Potential Ecological Risk Index (RI) value ranges from 21.70-32.15 indicating a relatively low potential ecological risk in all stations, although Cd poses the geatest risk compared to Pb and Cr so it needs to be considered. Keywords: Rhizophora mucronata, Heavy metals, Bioaccumulation, Ecological risk, Muara Kali Ijo. | |
| 50994 | 54408 | A1A022085 | Evaluasi dan Strategi Pengembangan Sistem Just In Time pada UMKM Jenang Jaket Asli di Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas | Penelitian ini dilaksanakan untuk mengevaluasi penerapan sistem Just In Time (JIT) melalui identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal, penentuan posisi strategi, serta perumusan strategi pengembangannya pada UMKM Jenang Jaket Asli. UMKM ini merupakan usaha pengolahan pangan tradisional yang berlokasi di Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, yang menerapkan sistem JIT untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi pemborosan, dan menyesuaikan proses produksi dengan permintaan pasar. Namun, dalam penerapannya masih terdapat berbagai tantangan, seperti keterbatasan bahan baku, fluktuasi permintaan, dan penyesuaian kapasitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi dan menganalisis faktor internal dan eksternal dalam penerapan sistem Just In Time pada UMKM Jenang Jaket Asli di Purwokerto Kabupaten Banyumas, (2) mengetahui posisi strategi penerapan sistem Just In Time pada UMKM Jenang Jaket Asli berdasarkan hasil analisis SWOT, (3) merumuskan strategi prioritas yang paling tepat dalam meningkatkan efektivitas penerapan sistem Just In Time menggunakan metode QSPM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif evaluatif dan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan penyebaran kuesioner kepada manajer, bagian pengadaan bahan baku, bagian produksi, pemasok utama, serta informan ahli. Analisis data dilakukan menggunakan Matriks IFE, Matriks EFE, Matriks IE, Matriks SWOT, serta QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem Just In Time pada UMKM Jenang Jaket Asli dipengaruhi oleh 22 faktor strategis yang terdiri atas 6 faktor kekuatan, 6 faktor kelemahan, 5 faktor peluang, dan 5 faktor ancaman. Hasil analisis Matriks IFE dan EFE menghasilkan skor masing-masing sebesar 2,811209 dan 3,139785, yang menempatkan UMKM pada Sel II Matriks IE (Grow and Build), sehingga menunjukkan bahwa sistem JIT memiliki peluang pengembangan yang besar melalui strategi pertumbuhan dan penguatan. Analisis SWOT menghasilkan sembilan alternatif strategi, sedangkan hasil analisis QSPM menunjukkan bahwa strategi prioritas yang direkomendasikan adalah meningkatkan pengawasan terhadap jadwal kedatangan dan kualitas bahan baku untuk mengurangi risiko keterlambatan produksi dan produk yang tidak sesuai standar dengan nilai Total Attractiveness Score (TAS) sebesar 6,270. | This research was conducted to evaluate the implementation of the Just In Time (JIT) system through the identification of internal and external factors, the determination of its strategic position, and the formulation of development strategies at Jenang Jaket Asli MSME. This MSME is a traditional food processing business located in East Purwokerto District, Banyumas Regency, which implements the JIT system to improve operational efficiency, reduce waste, and adjust production processes to market demand. However, its implementation still faces several challenges, including limited raw material availability, demand fluctuations, and adjustments in production capacity. This research aimed to: (1) identify and analyze the internal and external factors in the implementation of the Just In Time system at Jenang Jaket Asli MSME in Purwokerto, Banyumas Regency; (2) determine the strategic position of the Just In Time system implementation based on the SWOT analysis; and (3) formulate the most appropriate priority strategy to improve the effectiveness of the Just In Time system implementation using the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). This research employed a quantitative approach with a descriptive-evaluative research design and a case study method. Data were collected through in-depth interviews and questionnaires administered to managers, raw material procurement staff, production staff, main suppliers, and expert informants. Data analysis was conducted using the Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix, External Factor Evaluation (EFE) Matrix, Internal-External (IE) Matrix, SWOT Matrix, and Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). The results showed that the implementation of the Just In Time system at Jenang Jaket Asli MSME was influenced by 22 strategic factors consisting of 6 strengths, 6 weaknesses, 5 opportunities, and 5 threats. The results of the IFE and EFE Matrix analyses yielded scores of 2.811209 and 3.139785, respectively, placing the MSME in Cell II of the IE Matrix (Grow and Build). This position indicates that the JIT system has significant development potential through growth and strengthening strategies. The SWOT analysis generated nine alternative strategies, while the QSPM analysis identified the priority strategy as improving the monitoring of raw material delivery schedules and quality to reduce the risk of production delays and substandard products, with a Total Attractiveness Score (TAS) of 6.270. |