Artikelilmiahs
Menampilkan 50.921-50.940 dari 50.998 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 50921 | 54328 | B1A021060 | Efektivitas Ekstrak Gulma Marsilea crenata Presl sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis | Kulit merupakan organ terluar tubuh manusia yang rentan mengalami infeksi bakteri, di antaranya Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis yang dapat menyebabkan berbagai infeksi kulit. Pengobatan infeksi bakteri dapat dilakukan dengan antibakteri yang diperoleh dari bahan alami, salah satunya ekstrak tanaman. Marsilea crenata diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antibakteri, namun informasi mengenai aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% M. crenata terhadap S. aureus dan S. epidermidis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antibakteri ekstrak M. crenata dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan S. epidermidis dan menentukan konsentrasi ekstrak M. crenata yang paling efektif di antara konsentrasi 20%, 40%, dan 60% dalam menghambat pertumbuhan S. aureus dan S. epidermidis. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas lima kelompok, yaitu ekstrak M. crenata 20%, 40%, 60%, kontrol negatif dan kontrol positif. Variabel bebas yang digunakan adalah konsentrasi ekstrak gulma M. crenata. Variabel terikat adalah daya hambat ekstrak M. crenata terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus dan S. epidermidis. Parameter utama yang diukur dalam penelitian ini adalah diameter zona hambat, sedangkan parameter pendukung yaitu kandungan senyawa aktif ekstrak M. crenata (flavonoid, tanin, dan saponin). Pembuatan ekstrak M. crenata menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% M. crenata positif mengandung flavonoid, tanin, dan saponin serta menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dan S. epidermidis. Konsentrasi ekstrak 60% menghasilkan diameter zona hambat terbesar, yaitu 10,2 mm terhadap S. aureus dan 10,0 mm terhadap S. epidermidis. Hasil uji Kruskal–Wallis menunjukkan bahwa variasi konsentrasi ekstrak berpengaruh signifikan terhadap aktivitas antibakteri (p < 0,05). Dengan demikian, ekstrak etanol 70% M. crenata berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber senyawa antibakteri alami terhadap kedua bakteri uji. | Skin is the outermost organ of the human body and is susceptible to bacterial infections, including those caused by Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis, which can lead to various skin infections. Bacterial infections can be treated using antibacterial agents derived from natural sources, one of which is plant extracts. Marsilea crenata is known to contain secondary metabolites, such as flavonoids, tannins, and saponins, which have potential antibacterial properties. However, information regarding the antibacterial activity of 70% ethanol extract of M. crenata against S. aureus and S. epidermidis remains limited. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of M. crenata extract against the growth of S. aureus and S. epidermidis and to determine the most effective concentration of M. crenata extract (20%, 40%, and 60%) for inhibiting the growth of S. aureus and S. epidermidis. This study employed an experimental design using a Completely Randomized Design (CRD). The treatments consisted of five groups: 20%, 40%, and 60% M. crenata extract, a negative control, and a positive control. The independent variable was the concentration of M. crenata extract, while the dependent variable was the inhibitory activity of the extract against the growth of S. aureus and S. epidermidis. The primary parameter measured was the diameter of the inhibition zone, whereas the supporting parameter was the presence of active compounds in the M. crenata extract (flavonoids, tannins, and saponins). The extract was prepared using the maceration method with 70% ethanol as the solvent. The data were analyzed using the Kruskal–Wallis test followed by the Mann–Whitney test. The results showed that the 70% ethanol extract of M. crenata tested positive for flavonoids, tannins, and saponins and exhibited antibacterial activity against both S. aureus and S. epidermidis. The 60% extract concentration produced the largest inhibition zones, measuring 10.2 mm against S. aureus and 10.0 mm against S. epidermidis. The Kruskal–Wallis test indicated that differences in extract concentration had a significant effect on antibacterial activity (p < 0.05). Therefore, the 70% ethanol extract of M. crenata has the potential to be developed as a natural source of antibacterial compounds against both test bacteria. | |
| 50922 | 54329 | B1A022046 | Upaya Memacu Pembentukan Umbi Mikro Dua Kultivar Kentang dengan Konsentrasi Sukrosa Berbeda dalam Kultur In Vitro | Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura penting yang berperan dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian. Produktivitas kentang di Indonesia yang masih relatif rendah memerlukan upaya peningkatan produksi, antara lain melalui penggunaan kultivar unggul dan penyediaan benih berkualitas secara efisien. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung penyediaan benih kentang adalah pembentukan umbi mikro secara in vitro. Keberhasilan pembentukan umbi mikro dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama genotipe atau kultivar dan komposisi media kultur. Sukrosa merupakan salah satu komponen penting media yang berperan sebagai sumber karbon sekaligus memengaruhi kondisi osmotik media sehingga dapat menentukan keberhasilan pembentukan dan pertumbuhan umbi mikro. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) menganalisis respons dua kultivar kentang terhadap berbagai konsentrasi sukrosa dalam pembentukan umbi mikro secara in vitro; dan (2) menentukan konsentrasi sukrosa yang paling efektif untuk pembentukan umbi mikro pada kedua kultivar kentang tersebut. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split-Plot Design), dengan kultivar kentang sebagai petak utama dan konsentrasi sukrosa sebagai anak petak. Petak utama terdiri atas dua kultivar kentang, yaitu M2 dan M3, sedangkan anak petak terdiri atas lima konsentrasi sukrosa, yaitu 3, 6, 9, 12, dan 15%. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 30 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi waktu terbentuknya umbi mikro, jumlah umbi mikro, diameter umbi mikro, dan panjang umbi mikro. Data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5% dan 1%, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dan uji regresi pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konsentrasi sukrosa memengaruhi pembentukan umbi mikro kentang secara in vitro dengan respons yang berbeda antara calon kultivar M2 dan M3. Calon kultivar M2 menunjukkan kapasitas pembentukan dan akumulasi biomassa umbi mikro yang lebih tinggi dibandingkan M3. Konsentrasi sukrosa yang efektif bersifat spesifik kultivar. Calon kultivar M2 memberikan respons pembentukan umbi mikro yang baik pada sukrosa 6–12%, dengan jumlah umbi tertinggi secara numerik pada 6%, sedangkan M3 cenderung memberikan respons lebih baik pada sukrosa 9% dan 15%. | Potato (Solanum tuberosum L.) is an important horticultural crop that contributes to food security and the economy. The relatively low productivity of potato in Indonesia highlights the need for strategies to increase production, including the use of superior cultivars and the efficient production of high-quality planting material. One approach to supporting the production of potato planting material is in vitro microtuber formation. The success of microtuber formation is influenced by several factors, particularly genotype or cultivar and the composition of the culture medium. Sucrose is an essential component of the culture medium, serving as a carbon source while also influencing the osmotic conditions of the medium, thereby affecting microtuber formation and growth. This study aimed to: (1) evaluate the responses of two prospective potato cultivars to different sucrose concentrations during in vitro microtuber formation; and (2) determine the most effective sucrose concentration for microtuber formation in both prospective cultivars. The experiment was conducted using a split-plot design, with potato cultivar as the main-plot factor and sucrose concentration as the sub-plot factor. The main-plot factor consisted of two prospective potato cultivars, M2 and M3, while the sub-plot factor comprised five sucrose concentrations (3, 6, 9, 12, and 15%). Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 30 experimental units. The parameters evaluated included time to microtuber formation, number of microtubers, microtuber diameter, and microtuber length. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level. The results demonstrated that sucrose concentration affected in vitro potato microtuber formation, with different responses observed between the prospective M2 and M3 cultivars. The prospective M2 cultivar exhibited a greater capacity for microtuber formation and biomass accumulation than M3. The effective sucrose concentration was cultivar-specific. M2 exhibited favourable microtuber formation responses at sucrose concentrations of 6–12%, with the numerically highest number of microtubers recorded at 6% sucrose. In contrast, M3 tended to exhibit better responses at sucrose concentrations of 9% and 15%. These findings indicate that the optimum sucrose concentration for in vitro microtuber production should be determined according to the specific response of each potato cultivar. | |
| 50923 | 54331 | L1A022098 | KARAKTERISASI BIOPLASTIK DAN PROFIL METABOLOMIK DARI EKSTRAK Eucheuma denticulatum BERDASARKAN PERBEDAAN MASA PANEN SEBAGAI BIOPRESERVASI PRODUK PERIKANAN | Peningkatan pencemaran plastik dan tantangan impor produk perikanan mendorong pengembangan bioplastik berbasis sumber daya hayati. Penelitian ini bertujuan mengetahui senyawa bioaktif Eucheuma denticulatum serta mengarakterisasi bioplastik sebagai biopreservasi produk perikanan berdasarkan perbedaan masa panen. Sampel dipanen pada hari ke-0/pra-penanaman, 25, 35, 45, kemudian diekstraksi menggunakan Microwave-Assisted Extraction dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol serta profil metabolomik dianalisis menggunakan LC-HRMS. Hasil penelitian mengidentifikasi nodes tertinggi diperoleh masa panen D-25 dan pelarut etil asetat, serta ditemukan enam senyawa bioaktif, yaitu erucamide, AC1L1X1Z, cholecalciferol, pheophorbide A, asperphenamate, dan 13-docosenamide yang berpotensi sebagai agen antibakteri dan plasticizer. Karakterisasi menunjukkan ketebalan tertinggi pada D-0 (±0,16 cm), nilai WAI terendah pada D-45 (714,87%), dan laju biodegradabilitas tertinggi pada D-0 (9,72%). Analisis FTIR mengidentifikasi gugus fungsi O–H, S=O, H–O–H, C–O, C–O–C sebagai karakteristik polimer karagenan. SEM menunjukkan permukaan paling halus pada D-45, sedangkan SEM-EDX mendeteksi unsur dominan C, O, S, Cl, Ca. Nilai tertinggi elastisitas pada D-45 (0,111 ± 0,013 GPa), elongasi D-0 (20,65 ± 10,89%), dan kuat tarik D-35 (6,078 ± 0,544 MPa). Uji sensori ikan tilapia menunjukkan bioplastik D-25 dan D-45 memberikan performa terbaik. Perbedaan masa panen diduga memengaruhi komposisi polisakarida sehingga memengaruhi karakteristik bioplastik. | Rising plastic pollution and challenges regarding fishery product imports have driven the development of bio-based bioplastics. This study aimed to identify the bioactive compounds of Eucheuma denticulatum and characterize the resulting bioplastics intended for the biopreservation of fishery products based on different harvest times. Samples were harvested at day 0/pre-planting and days 25, 35, and 45; extracts were obtained via Microwave-Assisted Extraction using n-hexane, ethyl acetate, and methanol, while metabolomic profiles were analyzed using LC-HRMS. Results showed the highest node values were obtained at the D-25 harvest time using ethyl acetate; six bioactive compounds were identified erucamide, AC1L1X1Z, cholecalciferol, pheophorbide A, asperphenamate, and 13-docosenamide which show potential as antibacterial agents and plasticizers. Characterization revealed the greatest thickness at D-0 (±0.16 cm), the lowest Water Absorption Index (WAI) at D-45 (714.87%), and the highest biodegradability rate at D-0 (9.72%). FTIR analysis identified O–H, S=O, H–O–H, C–O, C–O–C functional groups characteristic of carrageenan polymers. SEM imaging showed the smoothest surface at D-45, while SEM-EDX detected dominant elements: C, O, S, Cl, Ca. The highest values were observed for elasticity at D-45 (0.111 ± 0.013 GPa), elongation at D-0 (20.65 ± 10.89%), and tensile strength at D-35 (6.078 ± 0.544 MPa). Sensory testing on tilapia indicated that bioplastics from the D-25 and D-45 harvests performed best. Variations in harvest time are believed to influence polysaccharide composition, thereby affecting the characteristics of the bioplastics. | |
| 50924 | 54332 | E1A022132 | PERAN DEWAN PENGAWASAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN DALAM PENEGAKAN HUKUM PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT | Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mempunyai kewenangan dalam pengawasan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk pengaturan dan pengawasan atas pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit mitra. Permasalahan penelitian ini bermula dari laporan penolakan pelayanan dan mutu layanan yang buruk terhadap peserta JKN, sebagaimana dalam perkara Desi Erianti di Padang dan Irene Sokoy di Jayapura, yang mengindikasikan belum optimalnya fungsi pengawasan Dewan Pengawas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan fungsi pengawasan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan terhadap layanan rumah sakit serta mengidentifikasi kendala-kendala yang ditemukan. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach), menggunakan data sekunder yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan Dewan Pengawas bersifat atributif sebagaimana diatur dalam Pasal 22 dan Pasal 23 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS dan bahwa Dewan telah menjalankan dimensi pengawasan internal-eksternal serta preventif-represif. Analisis menggunakan teori pengawasan memfokuskan pada unsur kewenangan, prosedur, kapasitas kelembagaan, dan mekanisme sanksi. Pelaksanaan pengawasan menghadapi kendala, yaitu tumpang tindih kewenangan antarlembaga, keterbatasan kapasitas verifikasi dan audit, kelemahan mekanisme kredensialing, tidak optimalnya penegakan sanksi, serta lemahnya koordinasi dan sistem informasi. Oleh karena itu diperlukan reformasi normatif, kelembagaan, prosedural, dan koordinatif untuk memperkuat perlindungan hukum peserta. | The Supervisory Board of the Social Security Administration Agency (BPJS) for Health has the authority to oversee the implementation of the National Health Insurance (JKN) program, including the regulation and supervision of services provided by partner hospitals. The research problem stems from reports of service denials and poor service quality experienced by JKN participants, as seen in the cases of Desi Erianti in Padang and Irene Sokoy in Jayapura, which indicate that the Supervisory Board’s oversight functions are not yet optimal. This study aims to analyze the implementation of the BPJS Health Supervisory Board’s oversight functions regarding hospital services and to identify the obstacles encountered. The method used is normative legal research employing a statutory approach and a conceptual approach, utilizing secondary data analyzed qualitatively. The results of the study show that the Supervisory Board’s authority is attributive in nature, as stipulated in Articles 22 and 23 of Law No. 24 of 2011 on BPJS, and that the Board has carried out both internal and external, as well as preventive and repressive, dimensions of oversight. The analysis, based on oversight theory, focused on the elements of authority, procedures, institutional capacity, and sanction mechanisms. The implementation of oversight faces obstacles, namely overlapping authority among institutions, limited verification and audit capacity, weaknesses in credentialing mechanisms, and suboptimal. The analysis, using oversight theory, focuses on the elements of authority, procedures, institutional capacity, and sanction mechanisms. The implementation of oversight faces obstacles, namely overlapping authority among institutions, limited verification and audit capacity, weaknesses in credentialing mechanisms, suboptimal enforcement of sanctions, and weak coordination and information systems. Therefore, normative, institutional, procedural, and coordinative reforms are needed to strengthen legal protections for participants. | |
| 50925 | 54333 | H1B022047 | AUDIT DEFISIENSI INFRASTRUKTUR BERBASIS HAZARD IDENTIFICATION, RISK ASSESSMENT, AND RISK CONTROL (HIRARC) PADA LOKASI RAWAN KECELAKAAN BERDASARKAN ANGKA EKIVALEN KECELAKAAN (AEK) | Peningkatan angka kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung, khususnya pada ruas jalan kolektor sekunder, menuntut penanganan keselamatan yang terstruktur dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan menentukan ruas jalan yang tergolong lokasi rawan kecelakaan, mengaudit kondisi infrastrukturnya, serta menetapkan tingkat risiko kecelakaan sebagai dasar penentuan prioritas penanganan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif berdasarkan data kecelakaan periode 2019–2024 dari Polrestabes Bandung. Penentuan ruas prioritas dilakukan melalui analisis Angka Ekivalen Kecelakaan (AEK) dan Upper Control Limit (UCL), dilanjutkan dengan audit keselamatan jalan yang mencakup aspek geometrik, kondisi perkerasan menggunakan Pavement Condition Index (PCI), kelengkapan fasilitas perlengkapan jalan, dan kondisi area bebas (clear zone), serta analisis risiko menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jalan LRE Martadinata, Jalan Rajawali Timur, dan Jalan Prof. Dr. Soerya Soemantri merupakan lokasi rawan kecelakaan (black spot) dengan tingkat kerawanan tertinggi. Audit mengungkap berbagai defisiensi infrastruktur, antara lain jarak pandang henti yang tidak memenuhi standar, kerusakan perkerasan, marka jalan pudar, serta keberadaan objek tetap yang menjadi hazard pada area bebas. Analisis HIRARC mengidentifikasi potensi bahaya berkategori risiko tinggi, terutama pada aspek alat penerangan jalan dan jalur pejalan kaki (trotoar). Temuan ini menegaskan bahwa defisiensi elemen fisik jalan berkontribusi signifikan terhadap risiko keselamatan, sehingga rekomendasi penanganan diarahkan pada rekayasa teknik (engineering control) untuk aspek berisiko tinggi guna meningkatkan keselamatan jalan secara berkelanjutan. | The rising number of traffic accidents in Bandung City, particularly on secondary collector roads, calls for structured, data-driven safety interventions. This study aims to identify accident-prone road segments, audit their infrastructure conditions, and determine accident risk levels to establish handling priorities. A descriptive method combining quantitative and qualitative approaches was employed, using accident data for the 2019–2024 period obtained from Polrestabes Bandung. Priority segments were determined through Equivalent Accident Number (AEK) and Upper Control Limit (UCL) analysis, followed by a road safety audit covering geometric aspects, pavement condition using the Pavement Condition Index (PCI), completeness of road equipment facilities, and clear zone conditions, as well as risk analysis using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method. The results show that Jalan LRE Martadinata, Jalan Rajawali Timur, and Jalan Prof. Dr. Soerya Soemantri are identified as black spots with the highest vulnerability levels. The audit revealed various infrastructure deficiencies, including substandard stopping sight distance, pavement damage, faded road markings, and the presence of fixed hazardous objects within the clear zone. HIRARC analysis identified high-risk hazards, particularly related to street lighting and pedestrian facilities (sidewalks). These findings confirm that deficiencies in physical road elements contribute significantly to safety risk, and thus handling recommendations are directed toward engineering controls for high-risk aspects to sustainably improve road safety. | |
| 50926 | 54346 | C1H021026 | COMPARATIVE STUDY OF CONSUMER BEHAVIOUR BETWEEN UNIVERSITY STUDENTS IN INDONESIA AND JAPAN’S PERSPECTIVE TOWARDS E-COMMERCE | Penelitian ini mengkaji perbedaan cara konsumen di Indonesia dan Jepang dalam menggunakan e-commerce, dengan mahasiswa sebagai target responden. Indonesia merupakan negara berkembang dengan populasi besar yang saat ini terus mengalami pertumbuhan. Di sisi lain, Jepang telah mencatat pertumbuhan pesat di masa lalu dan mencapai posisi ekonomi yang tinggi di dunia, salah satunya berkat pemanfaatan e-commerce. Penelitian ini bertujuan untuk lebih memahami perbedaan perilaku konsumen terkait e-commerce di antara kedua kelompok tersebut, dengan sasaran utama memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat Indonesia dapat menghadapi tantangan atau menerapkan solusi terkait e-commerce di masa depan dengan mencontoh langkah Jepang. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi berbagai faktor lain, seperti peran unik dan berbeda dari e-commerce di masing-masing negara, persepsi budaya yang beragam terhadap e-commerce, serta hubungan antara literasi digital dan penggunaan e-commerce. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. | This study explores the differences between how consumers in Indonesia and Japan use e-commerce, with a target respondent of university students. Indonesia is a developing country with a large population and as of now, is continuing to grow as a country. Japan on the other hand, has had tremendous growth in the past and has achieved a high economic standing in the world in which one of the many ways it was done was, using e-commerce. This research aims to further understand the differences of consumer behaviour between the two groups about e-commerce, with a main objective of providing insights on how Indonesians may tackle future problems/solutions with e-commerce by following Japan’s footsteps. Additionally, several factors are explored in this research such as the unique and different roles of e-commerce in each country, how different cultures perceive e-commerce, the connection between digital literacy and e-commerce usage, and many more. Ultimately, this research aims to be helpful provide useful information towards the Indonesians. | |
| 50927 | 54334 | B1A022062 | Etnobotani Tumbuhan Obat untuk Pemulihan Ibu Pasca Persalinan pada Masyarakat Adat Bonokeling di Desa Adiraja, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap | Komunitas Masyarakat Adat Bonokeling merupakan kelompok masyarakat tradisional terbesar di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas dengan sekitar 70% penduduk sebagai pengikutnya dan kini telah tersebar hingga wilayah Cilacap bagian selatan. Masyarakat Adat Bonokeling memiliki tradisi kuat dalam memanfaatkan tumbuhan obat, termasuk pada perawatan ibu pasca persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies tumbuhan obat serta bentuk pemanfaatannya dalam praktik pemulihan pasca persalinan pada Masyarakat Adat Bonokeling di Desa Adiraja, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Penelitian ini dilaksanakan di desa Adiraja, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap pada bulan April sampai dengan Juni 2026. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei menggunakan teknik snowball sampling yang meliputi observasi di lapangan, wawancara semi terstruktur, dokumentasi, serta pengambilan sampel tumbuhan. Responden utama adalah tokoh masyarakat Bonokeling dan dukun bayi. Identifikasi tumbuhan dilakukan berdasarkan karakter morfologi, wawancara, serta merujuk pada literatur yang relevan. Analisis data mencakup analisis deskriptif kualitatif serta analisis deskriptif kuantitatif menggunakan indeks nilai guna (UVs), nilai bagian tumbuhan (PPV), dan tingkat kepercayaan (FL). Hasil penelitian diharapkan memberikan gambaran mengenai spesies tumbuhan yang digunakan, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, serta cara pemakaiannya, sekaligus mendukung pelestarian pengetahuan etnobotani masyarakat Bonokeling. Hasil penelitian didapatkan 40 spesies dan 1 takson tumbuhan yang teridentifikasi hingga tingkat genus, dikelompokan dalam 21 famili dan dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat untuk pemulihan pasca persalinan oleh Masyarakat Adat Bonokeling di Desa Adiraja. Tumbuhan obat ini diolah menjadi berbagai ramuan tradisional seperti uyup-uyup, kunir asem, beras kencur, empon-empon, galian singset, pilis, wedak, basuhan sirih, pupuh, dan beningan. Metode pengolahan yang paling banyak dilakukan adalah direbus, sedangkan metode pemanfaatannya dilakukan dengan cara diminum. Masyarakat umumnya memperoleh tumbuhan obat untuk pemulihan pasca persalinan melalui budidaya. Tumbuhan kunyit (Curcuma longa L.) memiliki nilai guna tertinggi 4,1. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah rimpang dan tingkat kepercayaan (Fidelity Level) tertinggi mencapai 100%. | The Bonokeling Indigenous Community is the largest traditional community in Pekuncen Village, Jatilawang District, Banyumas Regency, with approximately 70% of the village population adhering to its traditions. The community has since expanded to the southern part of Cilacap Regency. The Bonokeling people have a strong tradition in using medicinal plants, including for postpartum maternal care. This study aimed to identify the medicinal plant species and how they are used in postpartum recovery practices among the Bonokeling Indigenous Community in Adiraja Village, Adipala District, Cilacap Regency. This study was conducted in Adiraja Village, Adipala District, Cilacap Regency, from April to June 2026. A survey method with a snowball sampling technique was employed, involving field observations, semi-structured interviews, documentation, and plant specimen collection. The main respondents were community figures from Bonokeling and traditional birth attendants. Plant identification was carried out based on morphological characteristics, interview data, and relevant botanical literature. Data were analyzed using qualitative and quantitative descriptive approaches. Quantitative analysis included the Use Value Index (UVs), Plant Part Value (PPV), and Fidelity Level (FL). These findings provide comprehensive information on the medicinal plant species used for postpartum recovery, the plant parts utilized, and their methods of preparation and application. They also contribute to the preservation of the ethnobotanical knowledge of the Bonokeling Indigenous Community. The study documented 40 medicinal plant species and one plant taxon identified to the genus level, belonging to 21 families, that are utilized for postpartum recovery by the Bonokeling Indigenous Community in Adiraja Village. These medicinal plants are processed into various traditional herbal remedies, including uyup-uyup, kunir asem, beras kencur, empon-empon, galian singset, pilis, wedak, basuhan sirih, pupuh, and beningan. The most common processing method is boiling, and the medicinal plants are most commonly consumed by drinking. Most medicinal plant species are obtained through cultivation. Curcuma longa L. (turmeric) exhibited the highest Use Value Index (UVs) of 4.1. The rhizome was the most frequently utilized plant part, and the highest Fidelity Level (FL) reached 100%. | |
| 50928 | 54335 | L1A022070 | Aspek Reproduksi Ikan Palung (Hampala macrolepidota) di Hilir Sungai Serayu Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah | Penelitian ini berjudul “Aspek Reproduksi Ikan Palung (Hampala macrolepidota) di Hilir Sungai Serayu Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah”. Ikan palung merupakan ikan spesies asli perairan Indonesia dari famili Cyprinidae yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio kelamin, indeks gonado somatik, indeks hepato somatik, dan indeks viscera somatik ikan palung di hilir Sungai Serayu Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Metode survey diterapkan dengan menggunakan teknik purposive sampling, dan data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan November-Desember 2025 di hilir Sungai Serayu stasiun Gambarsari dan Kebasen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio kelamin ikan palung adalah 1:1,2. IGS ikan jantan berkisar 7,84–10,23% dan ikan betina 9,75–9,91%, IHS ikan jantan berkisar 0,83–1,19% dan ikan betina 1,67–1,76%, sementara IVS ikan jantan berkisar antara 3,75–3,89% dan ikan betina 3,60 – 3,93%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ikan palung di hilir Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen berada pada tahap mulai matang gonad. | This study is entitled “Reproductive Aspects of Palung Fish (Hampala macrolepidota) in the downstream Serayu River Kebasen District, Banyumas Regency, Central Java”. The palung fish is a native freshwater species of Indonesia belonging to the Cyprinid and is widely consumed by local communities. This study aims to determine the sex ratio, gonado somatic index, hepato somatic index, and viscera somatic index of palung fish in the downstream of Serayu River Kebasen District, Banyumas Regency, Central Java. A survey method was applied using a purposive sampling technique, and the data were analyzed descriptively and quantitatively. Sampling was conducted during November–Desember 2025 at the Gambarsari and Kebasen stations in the downstream of Serayu River. The result showed that the sex ratio of palung fish was 1:1,2. The male GSI ranged from 7,84–10,23% and female fish 9,75–9,91%, the HSI of male fish ranged from 0,83–1,19% and female fish 1,67–1,76%. While, the VSI of male fish ranged from 3,75–3,89% and female fish 3,60–3,93%. This study concluded that palung fish in the downstream Serayu River, Kebasen District were in early gonadal maturation stage. | |
| 50929 | 54336 | A1F022030 | Pendugaan Umur Simpan Kopi Unsoed Varian Arabika Menggunakan Metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) Model Arrhenius | Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur simpan bubuk kopi Arabika Unsoed yang dikemas dalam kantong berdiri berbahan aluminium foil (15x0,1x22 cm), dengan menggunakan kadar air sebagai parameter kualitas kritis dalam kondisi penyimpanan dipercepat pada suhu 29°C dan 50°C. Biji kopi dari Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, diproses di BPU Universitas Jenderal Soedirman dan diuji dalam tiga ulangan selama 6 minggu, dengan analisis kadar air mingguan melalui pengeringan oven (ISO 11294:1994) dari awal 3,838% hingga titik kritis 12%. Data tersebut sesuai dengan kinetika orde pertama (R² = 0,546 pada 29°C, 0,718 pada 50°C), sehingga memungkinkan pemodelan Arrhenius (ln k = -1326,5x + 0,7083; Ea = 3392,8 cal/mol) untuk memprediksi masa simpan pada suhu normal. Kandungan air menurun secara bertahap menjadi 2,303% (29°C) dan 1,987% (50°C) pada minggu ke-6, dengan laju penurunan yang lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi akibat efek pengeringan yang semakin intensif terhadap degradasi kimia. Umur simpan yang diprediksi adalah 194 hari pada 29°C dan 146 hari pada 50°C, yang menegaskan sifat penghalang aluminium foil sekaligus menyoroti peran suhu dalam mempercepat penurunan kualitas. Penyimpanan yang optimal di tempat yang sejuk dan kering direkomendasikan untuk memperpanjang masa pakai melampaui batas-batas tersebut, sesuai dengan standar pangan Indonesia. | This study determined the shelf life of Unsoed Arabica coffee powder, packaged in aluminum foil standing pouches (15x0.1x22 cm), using moisture content as the critical quality parameter under accelerated storage conditions at 29°C and 50°C. Coffee beans from Baturraden District, Banyumas Regency, were processed at BPU Universitas Jenderal Soedirman and tested in triplicate over 6 weeks, with weekly moisture analysis via oven drying (ISO 11294:1994) from initial 3.838% to critical 12%. Data fit first-order kinetics (R²=0.546 at 29°C, 0.718 at 50°C), enabling Arrhenius modeling (ln k = -1326.5x + 0.7083; Ea=3392.8 cal/mol) to predict shelf life at normal temperatures. Moisture declined progressively to 2.303% (29°C) and 1.987% (50°C) by week 6, with faster loss at higher temperatures due to intensified drying effects on chemical degradation. Predicted shelf lives were 194 days at 29°C and 146 days at 50°C, confirming aluminum foil's barrier properties while highlighting temperature's role in accelerating quality loss. Optimal cool, dry storage is recommended to extend usability beyond these limits, aligning with Indonesian food standards. | |
| 50930 | 54338 | L1C022054 | Analisis Kondisi Kesehatan Lamun di Perairan Karang Tengah, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap | Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi dan mendukung produktivitas perairan. Namun, infomasi mengenai kondisi padang lamun di Perairan Karang Tengah, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis, komposisi, distribusi, kerapatan, persentase tutupan, dan kondisi kesehatan lamun di perairan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2026 menggunakan metode survei lapangan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengambilan data dilakukan pada tiga stasiun pengamatan menggunakan metode transek kuadrat. Analisis data meliputi komposisi jenis, pola distribusi berdasarkan Indeks Morisita, kerapatan, persentase tutupan, dan kondisi kesehatan lamun berdasarkan pedoman Rahmawati et al. (2017). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga spesies lamun, yaitu Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, dan Halodule pinifolia. Thalassia hemprichii memiliki komposisi jenis tertinggi pada seluruh stasiun penelitian, sedangkan Halophila ovalis dan Halodule pinifolia ditemukan dengan komposisi yang lebih rendah. Ketiga spesies menunjukkan pola distribusi mengelompok. Nilai kerapatan lamun tertinggi ditemukan pada T. hemprichii di Stasiun 1, sedangkan persentase tutupan menunjukkan kategori baik pada Stasiun 1 dan Stasiun 3 serta kategori sedang pada Stasiun 2. Penilaian kesehatan lamun menunjukkan bahwa seluruh stasiun termasuk dalam kategori sedang atau kurang sehat. Secara keseluruhan, padang lamun di Perairan Karang Tengah masih memiliki kondisi yang cukup baik untuk mendukung fungsi ekologisnya, namun diperlukan upaya pengelolaan dan pemantauan secara berkelanjutan dalam mendukung pelestarian ekosistem lamun. | Seagrass ecosystems are one of the coastal ecosystems that play an important role in maintaining ecological balance and supporting the productivity of coastal waters. However, information regarding the condition of seagrass beds in Karang Tengah Waters, Nusakambangan Island, Cilacap Regency, remains limited. This study aimed to analyze seagrass species, species composition, distribution pattern, density, percentage cover, and health status in the study area. The research was conducted in June 2026 using a field survey with a quantitative descriptive approach. Data were collected from three observation stations using the quadrat transect method. Data analysis included species composition, distribution pattern based on Morisita's Index, seagrass density, percentage cover, and seagrass health status based on the guidelines of Rahmawati et al. (2017). The results showed that three seagrass species were identified, namely Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, and Halodule pinifolia. Thalassia hemprichii had the highest species composition at all observation stations, while Halophila ovalis and Halodule pinifolia were found in lower proportions. All three species exhibited a clumped distribution pattern. The highest seagrass density was recorded for T. hemprichii at Station 1, whereas seagrass cover was categorized as good at Stations 1 and 3 and moderate at Station 2. The assessment of seagrass health indicated that all stations were classified as moderate or less healthy. Overall, the seagrass beds in Karang Tengah Waters were in a sufficiently good condition to support their ecological functions; however, continuous management and monitoring efforts are required to support the conservation of the seagrass ecosystem. | |
| 50931 | 54340 | C1I022003 | THE EFFECT OF COMPETENCE AND TIME BUDGET PRESSURE ON AUDIT QUALITY WITH AUDITOR ETHICS AS A MODERATING VARIABLE | Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi dan tekanan anggaran waktu terhadap kualitas audit dengan etika auditor sebagai variabel moderasi pada auditor Inspektorat Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes menggunakan teknik sensus sampling, kemudian dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, regresi linier berganda, uji F, koesfisien determinasi, uji t, dan Moderated Regression Analysis (MRA) menggunakan SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi dan tekanan anggaran waktu berpangaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Sementara itu, etika auditor terbukti secara signifikan memoderasi pengaruh kompetensi terhadap kualitas audit, namun tidak terbukti memoderasi pengaruh tekanan anggaran waktu terhadap kualitas audit. Model regresi dinyatakan layak dengan nilai F sebesar 32,139 dan signifikan 0,000, serta Adjusted R2 sebesar 0,496. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas audit ditentukan oleh kualifikasi kompetensi teknik yang diperkuat oleh etika auditor serta pengelolaan tekanan anggaran waktu secara professional. Oleh karena itu, Inspektorat perlu memprioritaskan pengembangan kompetensi berkelanjuran, penguatan kepatuhan kode etika, serta penerapan sistem pengendalian mutu audit yang terstruktur | This study is a quantitative study using a survey method that aims to analyze the influence of competence and time budget pressure on audit quality with auditor ethics as a moderating variable among auditors at the Inspectorate of Tegal Regency and Brebes Regency using census sampling, followed by analysis using validity tests, reliability tests, classical assumption tests, multiple linear regression, the F test, the coefficient of determination, the t-test, and Moderated Regression Analysis (MRA) using SPSS 26. The results indicate that competence and time budget pressure have a positive and significant effect on audit quality. Meanwhile, auditor ethics were found to significantly moderate the effect of competence on audit quality, but were not found to moderate the effect of time budget pressure on audit quality. The regression model was deemed valid with an F-value of 32.139 and a significance level of 0.000, as well as an Adjusted R² of 0.496. These findings indicate that improvements in audit quality are determined by technical competence, reinforced by auditor ethics and the professional management of time budget pressure. Therefore, the Inspectorate needs to prioritize the continuous development of competencies, strengthen compliance with the code of ethics, and implement a structured audit quality control system. | |
| 50932 | 54341 | F1A019078 | Analisis Framing Pemberitaan Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Pondok Pesantren Lampung Pada Detik.com dan Kompas.com | Kasus kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan pondok pesantren menjadi persoalan sosial yang memperoleh perhatian luas karena melibatkan lembaga pendidikan keagamaan yang selama ini dipandang sebagai ruang pembentukan moral dan karakter. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Detik.com dan Kompas.com membingkai pemberitaan mengenai kasus kekerasan seksual terhadap anak di pondok pesantren di Provinsi Lampung. Dalam hal ini, media massa tidak hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi juga mengonstruksi realitas melalui proses pembingkaian (framing) sehingga mampu memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang meliputi pendefinisian masalah, penyebab masalah, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Data penelitian berupa enam berita yang diterbitkan Detik.com dan Kompas.com selama periode 2023–2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua media sama-sama membingkai kekerasan seksual sebagai tindak pidana serius yang memerlukan penegakan hukum. Akan tetapi, terdapat perbedaan orientasi pemberitaan. Detik.com lebih menonjolkan kronologi peristiwa, perkembangan proses hukum, dan tindakan aparat penegak hukum sehingga membentuk event-oriented framing. Sebaliknya, Kompas.com lebih menekankan aspek perlindungan anak, penyalahgunaan relasi kuasa, tanggung jawab moral lembaga pendidikan, serta pemenuhan hak-hak korban sehingga membentuk value-oriented framing. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik media berpengaruh terhadap konstruksi realitas yang diterima masyarakat mengenai isu kekerasan seksual terhadap anak. | Cases of child sexual abuse in Islamic boarding schools have become a major social concern because they occur within religious educational institutions that are widely perceived as centers of moral education. This study aims to analyze how Detik.com and Kompas.com frame news concerning child sexual abuse cases in Islamic boarding schools in Lampung Province. In this context, online media not only disseminate information but also construct social reality through framing, thereby shaping public understanding of the issue. A descriptive qualitative approach was employed using Robert N. Entman's framing analysis, consisting of problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and treatment recommendation. The research data consist of six news articles published by Detik.com and Kompas.com between 2023 and 2026. The findings indicate that both media portray child sexual abuse as a serious criminal offense requiring firm legal enforcement. However, each media outlet emphasizes different aspects. Detik.com primarily focuses on the chronology of events, legal proceedings, and law enforcement actions, resulting in an event-oriented framing. Meanwhile, Kompas.com highlights child protection, abuse of power, the moral responsibility of Islamic boarding schools, and the fulfillment of victims' rights, reflecting a value-oriented framing. These differences demonstrate that media characteristics significantly influence the construction of public understanding regarding child sexual abuse in Islamic boarding schools. | |
| 50933 | 54344 | L1A022042 | Kelimpahan dan Indeks Dominansi Ikan-Ikan Spesies Asli di Hilir Sungai Serayu Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas Jawa Tengah | Penelitian ini berjudul “Kelimpahan dan Indeks Dominansi Ikan-Ikan Spesies Asli di Hilir Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah”. Kelimpahan relatif adalah persentase dari jumlah individu suatu spesies terhadap jumlah seluruh individu semua spesies dalam komunitas. Tujuan penelitian ini untuk memahami kelimpahan dan indeks dominansi ikan-ikan spesies asli di hilir Sungai Serayu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2025 di hilir Sungai Serayu pada stasiun Gambarsari dan Kebasen serta Laboratorium FPIK Unsoed. Metode penelitian yaitu survey dan purposive sampling. Analisis data secara deskriptif-kuantitatif untuk menghitung kelimpahan relatif dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan ikan-ikan spesies asli di hilir Sungai Serayu dari 7 spesies yang ditemukan pada bulan Juni dan Juli yaitu ikan nilem, ikan baceman, ikan palung, ikan tawes, ikan brek, ikan gabus, dan ikan sidat tergolong melimpah dengan kelimpahan relatif berkisar 11–20%. Indeks dominansi yang diperoleh termasuk kategori rendah pada bulan Juni (0,150) dan Juli (0,144). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan ikan-ikan spesies asli tersebut masih mendukung kelestarian populasi ikan asli di hilir Sungai Serayu dan tidak terdapat spesies yang mendominasi. Kata kunci : Kelimpahan Ikan, Indeks Dominansi, Ikan Asli, Sungai Serayu, Kebasen | This research is entitled “Abundance and Dominance Index of Native Fish Species in the Downstream Serayu River, Kebasen District, Banyumas Regency, Central Java.” Relative abundance is the percentage of the number individuals of a species relative to the total number of individuals of all species in the community. The research aimed to understand the abundance and dominance index of native fish species in the downstream Serayu River. The research was conducted in June-July 2025 in the downstream Serayu River at Gambarsari and Kebasen stations and Unsoed FPIK Laboratory. The research methods included surveys and purposive sampling. Data analysis was descriptive-quantitative to calculate relative abundance and dominance index. The results showed that the abundance of native fish species in the downstream Serayu River including the 7 species identified in June and July namely nilem, baceman, hampala barb, silver barb, brek, gabus, and sidat was classified as abundant, with relative abundance ranging from 11-20%. The dominance index obtained were in the low category in June (0.150) and July (0.144). The conclusions this study indicate that the presence of native fish species continues to support the sustainability of native fish population in the downstream Serayu River and no single species dominates. Key words : Fish Abundance, Dominance Index, Native Fish, Serayu River, Kebasen | |
| 50934 | 54342 | L1A022050 | Aspek Reproduksi Ikan Baceman (Hemibagrus nemurus) di Hilir Sungai Serayu Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. | Penelitian ini berjudul “Aspek Reproduksi Ikan Baceman (Hemibagrus nemurus) di Hilir Sungai Serayu Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ikan baceman tergolong dalam famili Bagridae yang sering menjadi sasaran utama penangkapan oleh nelayan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasio kelamin, Indeks Gonado Somatik (IGS), Indeks Hepato Somatik (IHS), dan Indeks Viscera Somatik (IVS) ikan baceman. Pengambilan sampel dilakukan bulan November dan Desember 2025 di hilir Sungai Serayu pada stasiun Gambarsari dan Kebasen. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu survei dengan teknik purposive sampling kemudian data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian didapatkan rasio kelamin ikan baceman yaitu 1:1, berdasarkan uji Chi-square menunjukkan rasio kelamin dalam kondisi seimbang dimana χ2hitung (0) < χ2tabel (3,841), rata-rata IGS jantan berkisar 3,84%–4,18% dan betina berkisar 3,94%–4,15%, rata-rata IHS jantan berkisar 0,93%–0,98% dan betina berkisar 1,55%–1,73%, rata-rata IVS jantan berkisar 2,87%–3,30% dan betina berkisar 3,18%–3,51%. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ikan baceman masih dalam tahap perkembangan pematangan gonad. | This research entitled “Reproductive Aspects of the Baceman Fish (Hemibagrus nemurus) in the Lower Serayu River Kebasen Subdistrict, Banyumas Regency, Central Java.” The baceman fish belongs to the Bagridae family and often primary target of fishermen due to high economic value. The objective of this study is to analyze the sex ratio, Gonad Somatik Index (GSI), Hepato Somatik Index (HSI), and Viscera Somatik Index (VSI) of Baceman fish. Sampling was carried out in November-December 2025 in the lower of the Serayu River at Gambarsari and Kebasen stations. The method used in this study was a survey employing purposive sampling, followed by descriptive and quantitative analysis of the data. The results showed that the sex ratio of baceman fish was 1:1. Based on Chi-square test, sex ratio was found to be in balanced, where χ2calc (0) < χ2table (3.841). The average IGS males ranges from 3.84%–4.18% and females 3.94%–4.15%; average IHS males ranges from 0.93%–0.98% and females from 1.55%–1.73%; average IVS males ranges from 2.87%–3.30% while for females 3.18%–3.51%. The conclusion of this research is indicating that most baceman fish are still in the stage of gonadal maturation. | |
| 50935 | 54343 | L1A022073 | KEANEKARAGAMAN IKAN-IKAN SPESIES ASLI DI HILIR SUNGAI SERAYU KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH | Penelitian ini berjudul “Keanekaragaman Ikan-Ikan Spesies Asli di Hilir Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah”. Keanekaragaman mencakup berbagai macam kehidupan baik manusia, tumbuhan, hewan, serta ekosistem yang membentuk lingkungan hidup. Tujuan penelitian untuk memahami keanekaragaman ikan-ikan spesies asli di hilir Sungai Serayu. Penelitian dilaksanakan pada bulan November dan Desember 2025 di hilir Sungai Serayu dan Laboratorium FPIK Unsoed. Metode penelitian menggunakan survey dan purposive sampling. Analisis data menggunakan kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan dari 9 spesies ikan asli pada bulan November dan Desember termasuk kategori melimpah dengan kelimpahan relatif 11-20%. Indeks keanekaragaman ikan spesies asli termasuk dalam kategori sedang dengan H’ (2,192) pada bulan November dan H’ (2,189) pada bulan Desember. Indeks dominansi ikan spesies asli termasuk ke dalam kategori rendah pada bulan November (0,112) dan Desember (0,113). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies ikan asli cukup beragam, dengan kelimpahan ikan asli yang melimpah dan tidak terdapat spesies yang mendominasi. | This research is entitled "Diversity of Native Fish Species in the Lower Serayu River, Kebasen District, Banyumas Regency, Central Java". Diversity includes various kinds of life, including humans, plants, animals, and ecosystems that form the living environment. The aim of the research is to understand the diversity of native fish species in the lower reaches of the Serayu River. The research was conducted in November and December 2025 in the downstream of the Serayu River and the FPIK Unsoed Laboratory. The research method uses survey and purposive sampling. Data analysis utilized relative abundance, the Shannon-Wiener diversity index, and the dominance index. The results of the research showed that the abundance of 9 native fish species in November and December was included in the abundant category with a relative abundance of 11-20%. The diversity index of native fish species is included in the moderate category with H’ (2.192) in November and H’ (2.189) in December. The dominance index of native fish species was included in the low category in November (0.112) and December (0.113). The research conclusion shows that the diversity of native fish species is quite diverse, with an abundance of native fish and no dominant species. | |
| 50936 | 54345 | J1C022050 | Intimasi Tokoh Maria dan Tsugumi dalam Novel Tsugumi Karya Banana Yoshimoto (Kajian Psikososial Erikson) | Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tokoh Maria dan Tsugumi dalam novel Tsugumi karya Banana Yoshimoto yang diterbtkan pada tahun 1989 berdasarkan enam tahap awal teori psokososial Erik Erikson. Keenam tahap yang dikaji meliputi basic trust vs. basic mistrust, autonomy vs. shame and doubt, initiative vs. guilt, industry vs. inferiority, identity vs. role confusion, dan intimacy vs. isolation. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan metode deskriptif analitif dan teknik baca catat. Dalam delapan tahapan Psikososial Erikson, enam tahapan awal digunakan untuk penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Tsugumi dan tokoh Maria mengalami perkembangan psikososial yang berbeda namun saling melengkapi. Tokoh Maria menunjukkan basic trust yang stabil dengan orang di sekitarnya, industry yang berkembang, role confusion yang tersimpan dibalik kapasitas intimacy yang terbuka. Sementara itu, tokoh Tsugumi menunjukkan basic trust dan basic mistrust yang hampir seimbang, autonomy yang yang kuat sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk ketergantungan, initiative yang juga kuat meski disertai guilt yang tersembunyi, inferiority dan role confusion yang terbentuk sebagai dampak kondisi fisiknya yang lemah sejak lahir, dan intimacy yang menutupi isolation yang sesungguhnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel Tsugumi karya Banana Yoshimoto menggambarkan perkembangan psikososial manusi yang kompleks dan tidak linear, dipengaruhi oleh kondisi fisik, latar belakang, dan dinamika relasi antartokoh. | This study aims to explore the characters of Maria and Tsugumi in the novel Tsugumi by Banana Yoshimoto, published in 1989, based on the first six stages of Erik Erikson’s psychososial development theory. The six stages examined include basic trust vs. basic mistrust, autonomy vs.shame and doubt, initiative vs. guilt, industry vs. inferiority, identity vs. role confusion, and intimacy vs. isolation.this study employs a literary psychology approach with a descriptive-analytic methos and read-and-note technique. Within Erikson’s eight stages of psychosocial development, the first six stages will be used to analyze both characters. The findings indicate that the characters of Tsugumi and Maria undergo distinc yet complementary patterns of psychosocial development. Maria demonstrates stable basic trust towards those around her, developing industry, and role confusion concealed beneath her capacity for intimacy. Tsugumi, meanwhile, displays a nearly balanced coexistence of basic trust and basic mistrust, strong autonomy as a form of rejection againsts all forms of dependence, equally strong initiative accompanied by concealed guilt, inferiority and role confusion shaped by her frail physical condition since birth, and intimacy that masks an underlying isolation. This study concludes that Banana Yoshimoto’s novel Tsugumi portrays human psychosocial development as a complex and non-linear process, shaped by physical condition, personal background, and the dynamics of interpersonal relationships between characters. Keywords: Banana Yoshimoto, character personality development, Eriksonian psychosocial development, literary psychology, novel Tsugumi | |
| 50937 | 54208 | B1A022194 | Optimasi Induksi dan Multiplikasi Kalus Padi Varietas Inpari Unsoed 79 Agritan pada Media dengan Penambahan 2,4-D dan IAA | Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama Indonesia yang berperan penting dalam ketahanan pangan nasional, namun peningkatan produktivitasnya masih terkendala oleh keterbatasan varietas unggul yang adaptif serta lamanya proses pemuliaan tanaman. Varietas Inpari Unsoed 79 Agritan adalah padi sawah irigasi hasil persilangan yang memiliki potensi hasil tinggi dan toleran terhadap cekaman salinitas, sehingga berpeluang untuk dikembangkan kembali melalui pendekatan bioteknologi. Salah satu metode yang mendukung pengembangan varietas unggul tersebut adalah teknik kultur in vitro melalui induksi dan multiplikasi kalus. Pembentukan kalus dalam kultur in vitro dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh, khususnya auksin seperti 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dan indole-3-acetic acid (IAA), yang berperan dalam proses dediferensiasi dan proliferasi sel. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji pengaruh jenis dan konsentrasi auksin pada induksi dan multiplikasi kalus padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan dalam kultur in vitro, serta menentukan perlakuan jenis dan konsentrasi auksin terbaik untuk induksi dan multiplikasi kalus padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan dalam kultur in vitro. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola perlakuan rancangan petak terpisah (split-plot design). Jenis auksin (2,4-D dan IAA) digunakan sebagai petak utama dan konsentrasi auksin (0; 5; 10; 15; dan 20 µM) sebagai anak petak. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali sehingga diperoleh 50 unit percobaan. Variabel bebas yang dicobakan adalah jenis dan konsentrasi sitokinin. Variabel tergantung yang diamati adalah pembentukan dan multiplikasi kalus padi Inpari Unsoed 79 Agritan. Parameter yang diukur meliputi persentase eksplan yang membentuk kalus, diameter kalus, tipe dan warna kalus. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% dan 1%, dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dan uji regresi pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan jenis dan konsentrasi auksin berpengaruh nyata terhadap induksi dan multiplikasi kalus padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan secara in vitro. Jenis auksin 2,4-D mampu menginduksi kalus, sedangkan IAA tidak mampu menginduksi kalus. Peningkatan konsentrasi 2,4-D meningkatkan persentase pembentukan kalus, diameter kalus induksi dan multiplikasi, serta persentase kalus embriogenik. Analisis regresi menunjukkan adanya hubungan positif antara peningkatan konsentrasi 2,4-D dan respons pertumbuhan kalus, sedangkan hasil uji DMRT menunjukkan bahwa kisaran konsentrasi 10 - 20 µM memberikan respons yang relatif setara. Perlakuan terbaik untuk induksi dan multiplikasi kalus adalah 2,4-D 20 µM, karena menghasilkan persentase eksplan membentuk kalus, diameter kalus induksi, diameter kalus multiplikasi, dan persentase kalus embriogenik tertinggi. | Rice (Oryza sativa L.) is the principal staple food crop in Indonesia and plays a crucial role in ensuring national food security. However, further improvements in rice productivity remain constrained by the limited availability of superior cultivars with broad adaptability and the lengthy process required for conventional breeding. The irrigated lowland rice cultivar Inpari Unsoed 79 Agritan, developed through hybridisation, possesses high yield potential and tolerance to salinity stress, making it a promising candidate for further improvement through biotechnological approaches. One such approach is in vitro culture, particularly callus induction and multiplication, which provides an effective platform for plant improvement. Callus formation under in vitro conditions is strongly influenced by plant growth regulators, especially auxins such as 2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) and indole-3-acetic acid (IAA), which play essential roles in cellular dedifferentiation and proliferation. Therefore, this study was conducted to evaluate the effects of auxin type and concentration on the induction and multiplication of callus from the rice cultivar Inpari Unsoed 79 Agritan under in vitro culture conditions and to identify the optimum auxin treatment for promoting callus induction and multiplication. The experiment was conducted using a completely randomised design (CRD) with a split-plot arrangement. The main plot consisted of two auxin types (2,4-D and IAA), while the sub-plot comprised five auxin concentrations (0, 5, 10, 15, and 20 µM). Each treatment combination was replicated five times, giving a total of 50 experimental units. The experimental factors were auxin type and concentration, whereas the response variables were callus induction and multiplication of the Inpari Unsoed 79 Agritan rice cultivar. The parameters evaluated included the percentage of explants producing callus, callus diameter, and callus type and colour. The data were subjected to analysis of variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) and regression analysis at the 5% significance level. The results showed that auxin type and concentration significantly affected in vitro callus induction and multiplication of the Inpari Unsoed 79 Agritan rice cultivar. Among the auxins evaluated, 2,4-D successfully induced callus formation, whereas IAA failed to induce callus under the experimental conditions. Increasing the concentration of 2,4-D enhanced the percentage of explants producing callus, callus diameter during both the induction and multiplication stages, and the percentage of embryogenic callus. Regression analysis revealed a positive relationship between increasing 2,4-D concentration and callus growth responses, while Duncan's Multiple Range Test (DMRT) indicated that concentrations ranging from 10 to 20 µM produced statistically comparable responses. The optimum treatment for callus induction and multiplication was 20 µM 2,4-D, which resulted in the highest percentage of explants producing callus, the largest callus diameter during both the induction and multiplication stages, and the highest percentage of embryogenic callus. | |
| 50938 | 54347 | A1D022175 | Pengaruh Aplikasi Ekstrak Daun Pepaya dan Daun Kenikir terhadap Ulat Plutella xylostella pada Tanaman Kubis (Brassica oleracea L.) | Tanaman kubis (Brassica oleracea var. capitata L.) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dikonsumsi di Indonesia, namun produksinya sering menurun akibat serangan hama salah satunya Plutella xylostella (Linnaeus, 1753). Upaya pengendalian hama diperlukan untuk mempertahankan produksi komoditas ini, salah satunya melalui pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia, seperti ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) dan daun kenikir (Cosmos caudatus Kunth). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak daun pepaya dan daun kenikir, baik secara tunggal maupun kombinasi dalam menekan intensitas serangan dan populasi P. xylostella, pengaruh terhadap berbagai jenis hama, musuh alami, serangga peran lain, fitotoksisitas, dan bobot krop segar kubis. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima perlakuan dan lima ulangan, yaitu kontrol, insektisida berbahan aktif klorantraniliprol, ekstrak daun pepaya, ekstrak daun kenikir, dan kombinasi keduanya dengan total 450 tanaman. Variabel yang diamati meliputi intensitas serangan dan populasi P. xylostella, populasi hama, musuh alami, serangga peran lain, fitotoksisitas, dan bobot krop segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun pepaya dan daun kenikir mampu menurunkan intensitas serangan masing-masing sebesar 1,38% dan 1,12% dengan populasi hama menurun hingga 0,06 dan 0,08 larva/tanaman. Perlakuan kombinasi kedua ekstrak juga mampu menekan intensitas serangan dan populasi hama, meskipun efektivitasnya masih berada di bawah perlakuan tunggal. Di sisi lain, seluruh perlakuan tidak memengaruhi populasi hama non-target, musuh alami, serangga peran lain, maupun bobot krop kubis, serta tidak menimbulkan gejala fitotoksisitas. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dan daun kenikir berpotensi digunakan sebagai pestisida nabati yang efektif, selektif, dan aman dalam mengendalikan P. xylostella pada tanaman kubis. | Cabbage (Brassica oleracea var. capitata L.) is a widely consumed horticultural crop in Indonesia, but its production often declines due to pest infestations, one of which is Plutella xylostella. Pest control measures are necessary to maintain the production of this crop, including the use of botanical pesticides which are more environmentally friendly than chemical pesticides such as papaya (Carica papaya L.) leaf extract and kenikir (Cosmos caudatus Kunth) leaf extract. This study aimed to determine the effect of papaya leaf and kenikir leaf extracts both individually and in combination on reducing the intensity of infestation and the population of P. xylostella, as well as their effects on various pest species, natural enemies, other insects, phytotoxicity, and the fresh weight of cabbage. The study was conducted using an experimental method with a Randomized Block Design (RBD) consisting of five treatments and five replicates: control, an insecticide containing the active ingredient chlorantraniliprole, papaya leaf extract, kenikir leaf extract, and a combination of the two, for a total of 450 plants. The variables observed included the intensity of infestation and population of P. xylostella, pest population, natural enemies, other insects, phytotoxicity, and fresh crop weight. The results showed that the application of papaya leaf extract and kenikir leaf extract reduced attack intensity by 1.38% and 1.12%, respectively, with pest populations decreasing to 0.06 and 0.08 larvae per plant. The combined treatment of both extracts also reduced attack intensity and pest populations, although its effectiveness was still lower than that of the single treatments. On the other hand, none of the treatments affected the populations of non-target pests, natural enemies, or other insects, nor did they affect cabbage yield; furthermore, they did not cause any symptoms of phytotoxicity. These results indicate that papaya leaf and kenikir leaf extracts have the potential to be used as effective, selective, and safe botanical pesticides for controlling P. xylostella on cabbage plants. | |
| 50939 | 54348 | L1A022053 | DNA BARCODING DAN METABOLOMIC PROFILING RUMPUT LAUT MERAH Eucheuma sp. DI TELUK EKAS BUANA SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIBAKTERI | Peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik mendorong pengembangan agen antibakteri baru berbasis bahan alam. Rumput laut merah Eucheuma sp. dari Teluk Ekas diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies Eucheuma sp., mengetahui kandungan senyawa bioaktif, dan mengevaluasi potensinya sebagai antibakteri. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi, anatomi, dan DNA barcoding. Senyawa bioaktif dianalisis menggunakan LC-HRMS setelah ekstraksi bertingkat dengan n-heksan, etil asetat, dan metanol (5:25 b/v; 2×24 jam), kemudian diproses melalui GNPS dan divisualisasikan dengan Cytoscape. Uji antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus menggunakan metode Kirby–Bauer selama 3×24 jam. Hasil menunjukkan karakter morfologi dan anatomi yaitu spesies Eucheuma denticulatum, sedangkan analisis molekuler menggunakan marka cox2-3 spacer menunjukkan kedekatan genetik dengan kelompok Eucheumatoid. Profil metabolomik Eucheuma sp. berbeda pada setiap masa panennya. Sebanyak 12 senyawa berhasil didereplikasi. Node tertinggi pada D-0 (1.574), kemudian D-25 (1.318), D-35 (1.266), dan D-45 (1.246). Aktivitas antibakteri hanya ditemukan oleh ekstrak n-heksana dengan aktivitas tertinggi pada D-25 terhadap P. acnes dan S. aureus. Hasil ini menunjukkan bahwa Eucheuma sp. berpotensi sebagai sumber senyawa antibakteri alami. | The increase in bacterial resistance to antibiotics drives the development of new antibacterial agents based on natural materials. The red seaweed Eucheuma sp. from Teluk Ekas is known to contain bioactive compounds with potential antibacterial properties. This study aims to identify the species of Eucheuma sp., determine the content of bioactive compounds, and evaluate its potential as an antibacterial agent. Identification was carried out based on morphology, anatomy, and DNA barcoding. Bioactive compounds were analyzed using LC-HRMS after sequential extraction with n-hexane, ethyl acetate, and methanol (5:25 v/v; 2×24 hours) and then processed thru GNPS and visualized with Cytoscape. Antibacterial tests against Propionibacterium acnes and Staphylococcus aureus were conducted using the Kirby–Bauer method for 3×24 hours. The results showed the morphological and anatomical characteristics of the species Eucheuma denticulatum, while molecular analysis using the cox2-3 spacer marker indicates genetic proximity to the Eucheumatoid group. The metabolomic profile of Eucheuma sp. differs at each harvest period. A total of 12 compounds were successfully replicated. The highest node was at D-0 (1.574), followed by D-25 (1.318), D-35 (1.266), and D-45 (1.246). Antibacterial activity was only found in the n-hexane extract, with the highest activity at D-25 against P. acnes and S. aureus. These results indicate that Eucheuma sp. has the potential to be a source of natural antibacterial compounds. | |
| 50940 | 54339 | A1D022018 | PENGARUH UMUR SIMPAN DAN PRIMING TERHADAP MUTU FISIOLOGIS BENIH DAN PERTUMBUHAN VEGETATIF WORTEL (Daucus carota L.) | Wortel komoditas hortikultura berpotensi industri dengan kandungan vitamin dan mineral esensial tinggi, namun produksi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan secara konsisten akibat penurunan mutu fisiologis benih selama penyimpanan, sehingga diperlukan teknik priming benih untuk mengaktifkan kembali proses metabolisme benih sebelum perkecambahan priming terhadap mutu fisiologis benih dan pertumbuhan vegetatif wortel, serta mendapatkan perlakuan priming terbaik pada setiap umur simpan untuk meningkatkan mutu fisiologis benih dan pertumbuhan vegetatif wortel. Penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu percobaan laboratorium dan lapang. Variabel yang diamati yakni daya berkecambah, kecepatan tumbuh, indeks vigor, berat kering kecambah normal, dan laju pertumbuhan kecambah, persentase tumbuh bibit, tinggi bibit, jumlah daun, panjang akar, berat segar, berat kering, dan faktor lingkungan pertanaman bibit wortel. Interaksi antara umur simpan dan priming didapatkan pada seluruh variabel pengamatan. Perlakuan priming PEG 10% selama 8 jam menjadi perlakuan terbaik pada seluruh taraf umur simpan benih. Priming PEG 10% selama 8 jam pada umur simpan 12 bulan dan 18 bulan menunjukkan keunggulan terhadap variabel daya berkecambah sebesar 71,25% dan 67,00%, kecepatan tumbuh 9,17%/hari dan 9,23%/hari, indeks vigor 49,75% dan 53,75%, berat kering kecambah normal 0,047 g, laju pertumbuhan kecambah 0,70 g/KN dan 0,66 g/KN, persentase tumbuh sebesar 100%, tinggi tanaman dan jumlah daun 14 HST – 35 HST, panjang akar 8,06 cm dan 12,43 cm. | Carrots are a horticultural commodity with significant industrial potential due to their high content of essential vitamins and minerals. However, domestic production has struggled to consistently meet demand, primarily due to the decline in physiological seed quality during storage. This necessitates the use of seed priming techniques to reactivate seed metabolic processes prior to germination. This study aimed to assess the impact of priming on the physiological quality of carrot seeds and their vegetative growth, as well as to determine the optimal priming treatment for each storage duration to enhance seed quality and vegetative growth. The research was conducted in two phases: laboratory and field experiments. The variables observed included germination rate, growth speed, vigour index, normal seedling dry weight, seedling growth rate, percentage of seedling emergence, seedling height, leaf number, root length, fresh weight, dry weight, and environmental factors affecting carrot seedling cultivation. An interaction between storage duration and priming was observed across all variables. The treatment involving PEG 10% priming for 8 hours was identified as the most effective across all seed storage durations. Specifically, PEG 10% priming for 8 hours at storage durations of 12 and 18 months yielded superior results, with germination rates of 71,25% and 67,00%, growth speeds of 9,17%/day and 9,23%/day, vigour index of 49,75% and 53,75%, normal seedling dry weight of 0,047 g, seedling growth rates of 0,70 g/NS and 0,66 g/NS, 100% seedling emergence, and plant height and leaf number measured at 14 DAP to 35 DAP, with root lengths of 8.06 cm and 12.43 cm. |