Artikelilmiahs
Menampilkan 11.001-11.020 dari 50.398 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 11001 | 3920 | A1M008008 | PENGARUH PRE-DRYING DAN PROPORSI KOMPOSIT PATI GARUT TINGGI AMILOSA-PEKTIN SEBAGAI EDIBLE COATING TERHADAP KARAKTERISTIK FRENCH FRIES | Masalah utama yang sering terjadi pada french fries adalah tekstur yang kurang renyah, dan kenampakan berminyak karena penyerapan minyak yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menentukan lama pre-drying yang tepat untuk menghasilkan french fries dengan tekstur yang renyah dan tingkat penyerapan minyak rendah, 2) menentukan proporsi pati garut tinggi amilosa-pektin sebagai edible coating yang tepat sehingga didapatkan french fries dengan tingkat penyerapan minyak dan kadar lemak yang rendah, kenampakan tidak berminyak dan tekstur yang renyah,3) menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara lama pre-drying dan proporsi pati garut tinggi amilosa-pektin sebagai edible coatinguntuk menghasilkan french fries dengan tingkat penyerapan minyak dan kadar lemak rendah, kenampakan tidak berminyak dan tekstur renyah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba meliputi lama pre-drying: 0 (L1), 30 (L2), dan 60 menit (L3) serta proporsi pati garut tinggi amilosa-pektin: 100:0 (K1), 80:20 (K2), 60:40 (K3). Hasil penelitian menunjukkan lamapre-drying 60 menit menghasilkan french fries dengan tekstur yang renyah dan tingkat penyerapan minyak terendah (7,40%), proporsi pati garut tinggi amilosa-pektin 100: 0 menghasilkan french fries dengan kadar lemak dan tingkat penyerapan minyak terendah sebesar 25,7%bk dan 6,12%; kenampakan tidak berminyak dan tekstur mendekati renyah, hasil perlakuan terbaik diperoleh dari kombinasi perlakuan pre-dryingselama 60 menit dan proporsi pati garut tinggi amilosa-pektin = 100: 0 dengan kadar air 44,93%bb; kadar lemak 23,07%bk; tingkat penyerapan minyak sebesar 3,65%, kadar abu 3,51%bk, agak berminyak dan tekstur agak renyah. | The main problem that often occurs in french fries is less crispy texture, and oily appearance because of excessive oil absorption.This study aimed to: 1) determine the appropriate time of pre-drying to produce french fries with a crisp texture and a low oil absorption rate, 2) determine the proportion of high-amylose arrowroot starch-pectin as appropriate edible coating to obtain french fries with oil absorption rate and low fat content, appearance is not greasy and crispy texture, 3) determine the best treatment combination between old pre-drying proportion of high-amylose arrowroot starch-pectin as an edible coating to produce french fries with oil absorption rate and low fat content, not greasy appearance and crispy texture. Experimental design is used RAK with 3 replications. Factors tested include time ofpre-drying: 0 (L1), 30 (L2), and 60 minutes (L3) and the proportion of high-amylose arrowroot starch-pectin: 100:0 (K1), 80:20 (K2), 60:40 (K3). The results showed 60 minutes pre-drying produce french fries with a crisp texture and the lowest oil absorption rate (7.40%), the proportion of high-amylose starch-pectin arrowroot 100: 0 produce french fries with fat and oil absorption rates as low as 25,7%db and 6.12%, not oily appearance and slightly crispy texture, the best treatment results obtained from the combined treatment pre-drying for 60 minutes and the proportion of high-amylose arrowroot starch-pectin = 100: 0 with a water content of 44.93% wb; fat content of 23.07%db; rate of oil absorption 3.65%, ash content 3.51%db, slightly oily and slightly crispy texture. | |
| 11002 | 3916 | A1D007052 | PENGARUH VARIETAS KEDELAI LOKAL DAN JENIS PENGGUMPAL TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI TAHU | Tahu merupakan salah satu produk olahan kedelai yang memiliki nilai nutrisi tinggi. Pengunaan varietas kedelai dan jenis penggumpal yang berbeda akan menghasilkan tahu dengan sifat fisikokimia dan sensori yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengkaji sifat fisik, kimia, dan sensori tahu yang dibuat dari varietas kedelai lokal dan bahan penggumpal yang berbeda; 2) menetapkan kombinasi perlakuan terpilih berdasarkan sifat fisik, kimia dan sensori tahu yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 8 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Faktor yang dicoba terdiri atas 2 faktor, yaitu jenis kedelei (K) yang terdiri atas Rajabasa (K1); Tidar (K2); Mitani (K3); dan Impor (K4) serta jenis penggumpal (P) yang terdiri atas kalsium sulfat (P1) dan asam asetat (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Tahu yang dibuat dari berbagai varietas kedelai lokal (Rajabasa, Tidar, dan Mitani) menghasilkan sifat fisik dan kimia yang hampir sama, sehingga seluruh varietas tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku pengganti kedelai impor dalam pembuatan tahu. Kisaran kadar protein total, rendemen, kekerasan, dan kadar air tahu yang dihasilkan adalah 65,52–78,36% (bk), 172,12–216,07% (bb), 0,11–0,12 mm/g/s, dan 76,50–78,05% (bb). 2) Tahu dengan penggumpal kalsium sulfat lebih baik dibandingkan tahu dengan penggumpal asam asetat karena lebih disukai. Tahu ini memiliki sifat agak kenyal (skor 3,39) dan tidak berasa asam (skor 1,46). 3) Tahu dari varietas Mitani dengan penggumpal kalsium sulfat (K3P1) merupakan produk terpilih. Tahu ini memiliki 75,13% (bk) protein total; 211,71% (bb) rendemen; 0,12 mm/g/s kekerasan; 78,05% (bb) air; dan 5,05% (bk) abu. Tahu dengan sifat sensori terbaik dihasilkan kedelai varietas Rajabasa dengan penggumpal kalsium sulfat (K1P1). Kombinasi perlakuan ini memiliki warna putih keabuan (skor 2,43); aroma sedikit kuat (skor 1,78); tekstur kenyal (skor 3,60); rasa sedikit pahit (skor 1,78) dan tidak asam (skor 1,38); dan agak disukai (skor 2,90). | Tofu is one of soybean products that have high of nutritional value. The use of different soybean varieties and coagulant will produce different in physicochemical and sensory properties. The aimed of this research were to 1) examine the physic, chemical, and sensory properties tofu that produced from different local soybean and varieties coagulants; 2) determine select product based on physic, chemical and sensory properties. The research was used Randomized Block Design (RBD). There were 8 products and carry out in triplicate to obtain 24 example units. Two factors examined were:1) soybean varieties (K), consisting of Rajabasa (K1), Tidar (K2), Mitani (K3), and Import (K4); 2) type of coagulant (P), consisting of calcium sulfate (P1) and acetic acid (P2). The results showed that: 1) Local soybean varieties can be used as raw material alternative of tofu production because it had similar physic and chemical properties, ie 65.52–78.36% db protein; 172.12–216.07% wb yield; 0.11–0.12 mm/g/s hardness level; and 76.50–78.05% wb water content. 2) Tofu with calcium sulfate coagulant had better taste compared with acetic acid. The sensory properties of this product was moderately tender (3.39 point) and have no sour aroma (1.46 point). 3) The selected product based on physic and chemical properties was K3P1 (Mitani varieties with calcium sulfate coagulant). It had 75,13% db protein; 211.71% wb yield; 0.12 mm/g/s hardness level; 78.05% wb water and 5.05 % db ash. The selected product base on sensory properties was K1P1 (Rajabasa varieties with calcium sulfate coagulant). It had grayish-white color (2.43 point); slightly sour aroma (1.78 point); moderately tender (3.60 point); slightly bitter taste (1.78 point) and acid (1.38 point); and slightly like (2.90 point). | |
| 11003 | 3945 | G1B008028 | ANALISIS KANDUNGAN ZAT PEMANIS BUATAN SAKARIN DAN SIKLAMAT PADA MINUMAN ES YANG DIJUAL DI SD WILAYAH KECAMATAN PURWOKERTO UTARA | Sakarin dan siklamat merupakan zat pemanis buatan yang tidak memiliki kalori, dan biasanya dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus sebagai pengganti pemanis alami. Akan tetapi kini sakarin dan siklamat banyak ditambahkan didalam minuman es oleh pedagang di sekolah dasar dan dikonsumsi oleh anak-anak sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan serta kadar sakarin dan siklamat serta perbedaan kadar sakarin dan siklamat dalam minuman es terhadap faktor predisposisi (tingkat pendidikan, pengetahuan), faktor pendukung (harga, kemudahan mendapatkan) dan faktor penguat (pengawasan, penyuluhan). Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunkan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 30 pedagang minuman es pada SD Wilayah Kecamatan Puwokerto Utara Kabupaten Banyumas dengan uji t test independent. Berdasarkan hasil laboratorium 30 sampel mengandung sakarin dan siklamat dengan kadar maksimum sakarin sebesar 261,31 mg/l dan kadar maksimum siklamat 90,33mg/l, semua sampel memenuhi syarat karena dibawah batas maksimum yaitu 300mg/l. Hasil uji t test independent tidak ada perbedaan kadar sakarin dan siklamat pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, tidak ada perbedaan kadar sakarin dan siklamat pada tingkat pengetahuan baik dan kurang baik . Melihat tidak ada perbedaan kadar sakarin dan siklamat pada tingkat pendidikan dan pengetahuan disarankan perlu adanya membentuk pengetahuan dan kesadaran mengenai pemanis buatan dan dampak kesehatan, serta perlu adanya pengawasan terhadap penggunaan sakarin dan siklamat pada pedagang jajanan anak sekolah terutama pedagang minuman es. | Saccharin and cyclamate is an artificial sweetener substance that has no calories, and usually consumed by diabetics mellitus as a substitute for natural sweetener.However, now saccharin and cyclamate are commonly added in iced drinks by sellers at Elementary School and consumed by Elementary School students. This study aims to determine the content and amounts of saccharin and cyclamate and also the amount differences of saccharin and cyclamate in iced drinks to predisposing factors (level of education, knowledge), supporting factors (price, ease of obtaining) and reinforcing factors (control, counseling). This research was analytical study by using cross-sectional approach. The research samples were 30 iced drinks seller at Elementary Schools on the district of Northern Purwokerto with independent t-test. Based on the laboratory results, 30 samples contained saccharin and cyclamate with saccharin maximum levels of 261.31 mg/l and maximum levels of cyclamate was 90.33 mg/l. All samples were eligible for having under maximum limit.The test results of independent t test showed no difference in the levels of saccharin and cyclamate on elementary and secondary education level, there was no difference in the levels of saccharin and cyclamate neither on the level of good nor less. Noticing that there was no difference in the levels of saccharin and cyclamate on the level of education and knowledge, it was necessary to form the knowledge and awareness about artificial sweeteners and the health impacts, and the need for controlling the use of saccharin and cyclamate at school snack sellers, chiefly iced drinks sellers. | |
| 11004 | 3673 | E1A008031 | PERLINDUNGAN HUKUM PASIEN SEBAGAI KONSUMEN JASA DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TASIKMALAYA | Penelitian ini mengkaji tentang Perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa dalam pelayanan kesehatan di RSUD Tasikmalaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa dalam pelayanan kesehatan serta faktor-faktor apakah yang menunjang dan menghambat perlindungan hukum terhadap pasien di RSUD Tasikmalaya. Dalam penelitian ini penulis mengkaji sejauh mana perlindungan hukum terhadap pasien dalam pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit. Dengan metode yuridis sosiologis penulis mengkaji mengenai perlindungan hukum terhadap pasien dengan melihat sejauh mana hak-hak pasien dipenuhi oleh tenaga kesehatan serta rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa dalam pelayanan kesehatan di RSUD Tasikmalaya Baik, Faktor-faktor yang menghambat dan menunjang terdiri dari faktor Internal dan eksternal yang meliputi faktor komunikasi, Informasi, kesadaran hukum, fasilitas rumah sakit, lingkungan kerja serta sikap dari pasien. Kata Kunci : Perlindungan Pasien, Rumah Sakit, Faktor Internal, Faktor Eksternal | This study reviews about the legal protection of patients as consumers of health care services in RSUD Tasikmalaya. This study aims to determine how the legal protection of patients as consumers of services in the health service and whether factors that support and pursue the legal protection of patients in RSUD Tasikmalaya. In This study, the authors examine the extent to which the legal protection of patients in health care is carried out by medical workers at the hospital. With juridical studies of sociological method writer examines the legal protections for patients to see to what extent the rights of patients met by medical workers and hospitals. The results showed that the legal protection of patients as consumers of health care services in RSUD Tasikmalaya are good, Factors that support and pursue consists of internal factors and external factors as follow as communication, information, legal awareness, hospital facilities, the working environment and the attitude of the patients. Keywords: Protection of Patients, Hospital, Internal Factors, External Factors | |
| 11005 | 3922 | A1D007046 | kajian sifat fisikokimia dan sensori ekstrak etanol daun tembakau | Tembakau (Nicotiana tabacum) merupakan tanaman yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia terutama sebagai bahan utama rokok. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh bentuk daun, waktu ekstraksi dan rasio bahan : pelarut etanol terhadap sifat fisikokimia dan sensori ekstrak etanol daun tembakau. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Ada 3 faktor yang dicoba yaitu bentuk daun (A) yang terdiri atas 2 taraf yaitu daun utuh (A1) dan serbuk daun (A2), waktu ekstraksi (B) yang terdiri atas 3 taraf yaitu 1 jam (B1), 3 jam (B2) dan 5 jam (B3) serta rasio bahan : pelarut etanol (C) yang terdiri atas 2 taraf yaitu 1 : 10 (b/v) (C1) dan 1 : 15 (b/v) (C2). Variabel yang diamati adalah variabel fisikokimia yang terdiri dari rendemen dan pH serta variabel sensori yang terdiri dari aroma, warna dan tingkat kekeruhan. Data variabel fisikokimia dan sensori dianalisis dengan uji f dan bila terdapat keragaman dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan yang menghasilkan ekstrak daun tembakau dengan sifat fisikokimia dan sensori terpilih yaitu jenis daun segar, waktu ekstraksi 1 jam dan proporsi bahan : pelarut etanol 1 : 15 (b/v). Perlakuan ini menghasilkan rendemen 4,72 % dan pH 6,52. Kenampakan keruh (skor 3,9); warna hitam (skor 3,9) dan aroma tembakau kuat (skor 3,5). | Tobacco (Nicotianatabacum) is a plant that has been known and used by humans, especially as the main ingredient of cigarettes. The purpose of this study is to examine the influence of leaf shape, extraction time and the ratio of solvent ethanol to chemical physical and sensory properties of ethanol extract of tobacco leaves. This research uses experimental methods to Group Random Design (GRD). There are 3 factors tested, namely the shape of leaves (A), which consists of 2 level which leaves intact (A1) and leaf powder (A2), extraction time (B), which consists of 3 level, which is 1 hour (B1), 3 hours (B2 ) and 5 hours (B3) and the ratio of ingredients: ethanol (C), which consists of 2 level is 1: 10 (w / v) (C1) and 1: 15 (w / v) (C2). Variables are variables comprising physicochemical yield and pH and sensory variables consisting of fragrance, color and turbidity. Physicochemical and sensory data variables analyzed by f and when there is diversity followed by Duncan's Multiple Range Test Test (DMRT).The results showed that the interaction of treatment with tobacco leaf extracts physicochemical and sensory properties of the selected types of fresh leaves, extraction time of 1 hour and proportion of ingredients: ethanol, 1: 15 (w / v). This treatment produced yield of 4.72% and a pH of 6.52. Turbid appearance (score 3.9), black (score of 3.9) and a strong tobacco flavor (score 3.5). | |
| 11006 | 3924 | E1A008301 | Tinjauan Yuridis Peraturan Bupati Purbalingga Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pendelegasian Wewenang Pemberian Izin Mendirikan Bangunan Dan Izin Gangguan Tertentu Kepada Camat Di Kabupaten Purbalingga | Kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan merupakan suatu hal yang baru dan memerlukan banyak persiapan. Untuk menyelenggarakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan menyiapkan rancangan kebijakan serta juklak/juknis. Kecamatan yang memenuhi syarat segera akan diberikan rekomendasi kepada bupati untuk ditetapkan menjadi penyelenggara Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan (HO) didelegasikan kepada Camat di Kabupaten Purbalingga.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kewenangan Camat dalam Pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan (HO) di Kabupaten Purbalingga. Guna mencapai tujuan tersebut maka peneletian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data sekunder yang terkumpul kemudian diolah, disajikan, dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif. Hasil penelitian menyatakan bahwa, Penerapan izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan (HO) di Kabupaten Purbalingga di dasarkan pada Peraturan Bupati Purbalingga Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pendelegasian Wewenang Pemberian Izin Mendirikan Bangunan Dan Izin Gangguan Tertentu Kepada Camat Di Kabupaten Purbalingga yang bersifat teknis dan dapat langsung dilaksanakpan. Kewenangan Camat dalam Pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan (HO) di Kabupaten Purbalingga didasarkan pada Pasal 2 Peraturan Bupati Purbalingga Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pendelegasian Wewenang Pemberian Izin Mendirikan Bangunan Dan Izin Gangguan Tertentu Kepada Camat Di Kabupaten Purbalingga mencakup pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dengan ketentuan Rumah Tinggal yang dibangun oleh perorangan dengan luas maksimal 100 m2 (seratus meter persegi) dan Bangunan Tempat Usaha dengan luas maksimal 50 m2 (lima puluh meter persegi). . | Integrated Policy Administration Services District is a new thing and it requires a lot of preparation. To conduct the Integrated Administrative Services District to prepare a draft policy and operational directives / guidelines. Sub eligible immediately will be given recommendations to the regents to set host the Integrated Administrative Service District. This study aims to determine the application of building construction permit (IMB) and Licensed Disorders (HO) delegated to the Sub District Purbalingga.Penelitian aims to determine the Granting Authority Head Building Permit (IMB) and Licensed Disorders (HO) in Purbalingga. To achieve this goal then peneletian performed using normative juridical approach. Secondary data are collected and processed, presented, and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text data. The results suggest that, implementation of building construction permit (IMB) and Licensed Disorders (HO) in Purbalingga in base Purbalingga decree No. 02 Year 2012 About the Delegation of Authority and Building Permit Granting Permission To Head In Specific Disorders Purbalingga a technical and can be directly dilaksanakpan. Granting Authority Head in the building permit (IMB) and Licensed Disorders (HO) in Purbalingga is based on Article 2 of the decree Purbalingga No. 02 Year 2012 About the Delegation of Authority and Building Permit Granting Permission To Head In Specific Disorders Purbalingga include service permit building (IMB) with provisions Residential built by individuals with a maximum of 100 M2 (one square meter) and Building Business Place with a maximum of 50 M2 (fifty square meters). Keywords: Authority, Head Sub District, in Building Permit | |
| 11007 | 3928 | A1D007028 | PEMANFAATAN ONGGOK SEBAGAI BAHAN PENGISI BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR KOMPOSIT TAPIOKA TERMOPLASTIS DAN Low Linear Density Polyethylene (LLDPE) | Plastik merupakan bahan yang banyak digunakan sebagai pengemas, namun mempunyai kelemahan yaitu tidak dapat dihancurkan dengan cepat secara alami. Salah satu alternatif membatasi penggunaan plastik yaitu melalui pembuatan plastik ramah lingkungan atau bioplastik, namun kelemahan bioplastik ada pada sifat mekaniknya. Pati merupakan salah satu bahan pembuatan bioplastik yang banyak digunakan. Indonesia merupakan negara yang kaya tanaman penghasil pati seperti singkong, sehingga limbah padat (onggok) yang dihasilkan melimpah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh penggunaan onggok dan gliserol dalam pembuatan pati termoplastik terhadap sifat mekanisnya, mengkaji sifat mekanis bioplastik komposit onggok-tapioka termoplastik dan LLDPE yang dihasilkan, mengevaluasi kemampuan bioplastik komposit onggok-tapioka termoplastik-LLDPE dalam menahan susut bobot buah anggur. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu (1) pembuatan nanopartikel onggok, (2) termoplastisasi onggok-tapioka, dan (3) pembuatan bioplastik komposit onggok-tapioka-LLDPE. Rancangan percobaan yang digunakan pada tahap termoplastisasi onggok-tapioka yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor yang dicoba meliputi proporsi onggok : tapioka (%), yaitu P0 = 0 : 100; P1 = 10 : 90; P2 = 20 : 80; P3 = 30 : 70. Konsentrasi gliserol (% v/b), yaitu G1 = 20; G2 = 25; G3 = 30. Faktor tersebut disusun secara faktorial dengan kombinasi perlakuan 4 x 3 sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut: P0G1; P0G2; P0G3; P1G1; P1G2; P1G3; P2G1; P2G2; P2G3; P3G1; P3G2; P3G3. Variabel yang diamati pada penelitian ini pada tahap termoplastisasi onggok-tapioka meliputi sifat mekanik (kuat tarik dan perpanjangan putus), sedangkan pada tahap pembuatan bioplastik variabel yang diamati meliputi sifat mekanik (kuat tarik dan perpanjangan putus) dan sifat fisik (laju transmisi uap air dan susut bobot buah anggur). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F, apabila berpengaruh nyata dilakukan uji pembedaan dengan metode Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik terdapat pada proporsi onggok 20% dan tapioka 80% ditambah gliserol sebesar 25% yang memiliki rata-rata kuat tarik sebesar 29,58 kg/cm2 dan rata-rata perpanjangan putus sebesar 14,33%. Proporsi termoplastik onggok-tapioka dengan LLDPE sebesar 10% berbanding 90% menghasilkan rata-rata kuat tarik terbesar dibanding kombinasi perlakuan bioplastik lain, yakni sebesar 203,795 kg/cm2 sedangkan proporsi termoplastik onggok-tapioka dengan LLDPE sebesar 30% berbanding 70% menghasilkan rata-rata perpanjangan putus terbesar yaitu 856,633%. | Plastic is a material which is mainly used as a packaging, however it has a weakness that cannot be naturally destroyed fast. One of the alternative to the usage of plastic is throughout manufacturing environmentally friendly plastic or bioplastic, however the weakness of bioplastic lies on its mechanical properties. Starch is one of material that mostly used in manufacturing bioplastic. Indonesia is a country that rich of its producing starch plant like cassava, therefore the producing solid waste from tapioca extraction (cassava bagasse) are increased. The purposes of this research are (1) to assess the effect of using solid waste and glycerol as material to manufacture thermoplastic starch against its mechanical properties, (2) to assess the mechanical properties of plastic from thermoplastic cassava bagasse tapioca with LLDPE, and (3) to evaluate its to hold the weight losses of grapes. The study was conducted in three stages, namely (1) the manufacture of cassava nanoparticles, (2) cassava bagasse-tapioca thermoplastication, and (3) the manufacture of composite bioplastic from cassava bagasse--starch-LLDPE. Experimental design used in cassava bagassse-tapioca thermoplastication stage was Completely Randomized Design (CRD) factorial. Factors tested include the proportion of cassava bagasse : tapioca (%), are P0 = 0 : 100; P1 = 10 : 90; P2 = 20 : 80; P3 = 30 : 70, and glycerol concentration (% v/b), are G1 = 20; G2 = 25; G3 = 30. These factors were arranged in factorial combination treatment with 4 x 3 to obtain 12 treatments combinations of the following: P0G1; P0G2; P0G3; P1G1; P1G2; P1G3; P2G1; P2G2; P2G3; P3G1; P3G2; P3G3. Variable observed for this phase was mechanical properties of thermoplastic cassava bagasse-tapioca (tensile strength and elongation at break), whereas on bioplastic making process level, variable observed include mechanic nature (tensile strength and elongation at break) and physical properties (water vapor transmission rate and weight losses of grape fruits). The data is obtained and analyzed with F test, if the effect is significant, it continues into Duncan Multiple Range Test (DMRT) method. The results showed that the best treatment found in the proportion of 20% cassava bagasse and tapioca 80% plus 25% glycerol for thermoplastication which have an average tensile strength of 29.58 kg/cm2 and average elongation at break of 14.33%. The proportion of thermoplastic cassava bagasse-tapioca with LLDPE at 10% versus 90% had the biggest average elongation at break compared to other bioplastic combination treatments on 203.795 kg/cm2 while proportion of thermoplastic cassava bagasse-tapioca with LLDPE at 30% versus 70% had the biggest average elongation at break off 856,633%. | |
| 11008 | 3930 | G1D008069 | PENGARUH HEALTH PROMOTION MODEL TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI KADER POSYANDU DI KELURAHAN KOBER KECAMATAN PURWOKERTO BARAT | Keaktifan kader di Posyandu dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan motivasi. Pengetahuan kader tentang Posyandu dan tugas-tugasnya serta motivasi kader akan berpengaruh terhadap kemauan dan perilaku kader untuk mengaktifkan kegiatan Posyandu, sehingga akan mempengaruhi terlaksananya program kerja Posyandu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Health Promotion Model terhadap peningkatan pengetahuan dan motivasi kader Posyandu di Kelurahan Kober Kecamatan Purwokerto Barat. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi eksperiment dengan pendekatan pretest and posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kader Posyandu di Kelurahan Kober yang berjumlah 97 kader. Sampel penelitian sebanyak 48 responden yang diambil dengan metode purposive sampling selama masa penelitian pada bulan Oktober 2012. instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan dianalisis dengan uji wilcoxon signed ranks test. Hasil analisis dengan uji wilcoxon signed ranks test diketahui bahwa nilai p=0,000, p < α (0,05). Sebelum dilakukan Health Promotion Model tingkat pengetahuan responden adalah 12,50% kurang baik, 81,25% cukup baik, 6,25% baik dan tingkat motivasi responden adalah 12,50% rendah, 72,92% sedang, dan 14,58% tinggi. Setelah dilakukan Health Promotion Model tingkat pengetahuan responden adalah 14,58% baik dan 85,42% cukup baik, sedangkan tingkat motivasi responden adalah 62,50% memiliki motivasi sedang dan 37,50% memiliki motivasi tinggi. Terdapat pengaruh Health Promotion Model terhadap peningkatan pengetahuan dan motivasi kader Posyandu di Kelurahan Kober Kecamatan Purwokerto Barat. | Liveliness of cadres in Posyandu are influenced by knowledge and motivation. The cadres’ knowledge about Posyandu,their duties and also their motivation will effect to willingness and behavior of cadres to perform the activities of Posyandu, so it will effect the implementation of work program in Posyandu. This research was done in order to know about the influence of Health Promotion Model to increase the knowledge and motivation cadres of Posyandu in the Kober Village West Purwokerto District . This research was a Quasi experimental with pretest and posttest design approach. The population in this research consist all of Posyandu’s Cadres in Kober village that have 97 of cadres. The number of sample research by 48 respondents were taken by purposive sampling method during the research period in October 2012. The instrument used was a questionnaire and analyzed by Wilcoxon signed ranks test. The results of analysis with wilcoxon signed ranks test was known that the value of p = 0.000, p <α (0.05). The knowledge level of respondents before the Health Promotion Model done was 12.50% is good less, 81.25% is quite good, 6.25% good, and the level of motivation of the respondents is 12.50% low, 72.92% moderate, and 14.58% higher. After the Health Promotion Model has been done, the knowledge level of respondents was 14.58% good and 85.42% quite good, while the level of motivation of the respondents is 62.50% were moderate motivated and 37.50% have a high motivation. There is the influence of Health Promotion Model to increase the knowledge and motivation cadres of Posyandu in the village Kober district west Purwokerto. | |
| 11009 | 3932 | C1J008023 | THE ROLE OF BOGOR BOTANICAL GARDEN AS AN ABSORBENT OF AIR POLLUTION AGAINST PUBLIC HEALTH (ECONOMIC VALUATION REVIEW) | Penelitian ini berjudul “Peran Kebun Raya Bogor sebagai Penyerap Polusi Udara Terhadap Kesehatan Masyarakat (Tinjauan Valuasi Ekonomi)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai Kebun Raya Bogor terhadap kesehatan masyarakat serta mengetahui besarnya nilai Oksigen yang dihasilkan Kebun Raya Bogor.Data yang digunakan merupakan data sekunder. Dengan metode analisis menggunakan PendekatanHargaPasar Modal Manusia(Pendekatan Biaya Kesehatan). Berdasarkan hasilanalisismenggunakan pendekatan biaya kesehatan masyarakat di Kecamatan Bogor Tengah lebih kecil dari biaya kesehatan masyarakat yang ada di Kecamatan Bogor Barat dan selisih dari kedua biaya tersebut menghasilkan nilai Kebun Raya Bogor. Hal ini menunjukkan Kebun Raya Bogor berpengaruh baik terhadap lingkungan di sekitarnya karena dapat menyerap polusi udara yang dihasilkan kendaraan bermotor dan menghasilkan oksigen. Berdasarkanhasilpenelitian, implikasidarikesimpulanpenelitianadalahpemerintah perlu membangun dan memelihara Ruang Terbuka Hijau seperti Kebun raya Bogor sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan daerah, khususnya Kota Bogor. Karena selain sebagai penyaring udara yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar dari segi kesehatan, adanya Kebun Raya Bogor juga dapat diandalkan sebagai habitat berbagai flora dan fauna, daerah peresapan air, serta memiliki peran dalam mengembangkan perekonomian masyarakat sekitar. Diharapkan pihak pengelola Kebun Raya Bogor juga turut serta mengembangkan dan memelihara fasilitas yang ada di Kebun Raya Bogor. | This research entitled "The Role of the Bogor Botanical Garden as an Absorbent of Air Pollution against Public Health (Economic Valuation Review)". This research aims to determine the value of the Bogor Botanical Garden to the public health as well as knowing the value of Oxygen generated by Bogor Botanical Garden. The data used are secondary data. With the method of analysis using the Human Capital (Healthcare Cost Approach). Based on the analysis using the cost approach to public health in the Sub-district of Central Bogor less than the cost of public health in West Bogor Sub-district and the difference of the two costs are generating value Bogor Botanical Garden. It shows that the Bogor Botanical Garden influence on the surrounding environment as it can absorb air pollution produced by motor vehicles and produce oxygen. Based on the results, the implications of the conclusion of the study is that the government needs to establish and maintain green open space such as Bogor Botanical Garden as one priority in regional development, especially the city of Bogor. Because in addition to the air filter that can provide great economic benefits in terms of health, the Bogor Botanical Garden can also be relied upon as habitat for flora and fauna, water catchment areas, as well as having a role in developing the economy of the surrounding communities. | |
| 11010 | 3935 | D1D005051 | ANALISIS KONTRIBUSI PENDAPATAN PETERNAK DALAM USAHA TERNAK KAMBING PERANAKAN ETTAWA DI KOTA BANJAR | Analisis Kontribusi Pendapatan Peternak Dalam Usaha ternak Kambing Peranakan Ettawa di Kecamatan Langensari kota Banjar. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui besarnya kontribusi pendapatan usaha peternakan kambing PE terhadap pendapatan keluarga peternak dan mengetahui besarnya pengaruh lama beternak, jumlah kepemilikan ternak, jumlah anggota keluarga peternak dan produksi susu terhadap kontribusi pendapatan keluarga peternak kambing PE di Kecamatan Langensari Kota Banjar. Hasil penelitian menunjukan bahwa kontribusi pendapatan usaha ternak kambing PE terhadap total pendapatan keluarga peternak sebesar 21,39 persen,secara parsial faktor-faktro yang mempengaruhi kontribusi pendapatan usaha ternak adalah jumlah kepemilikan ternak (P<0.01), lama beternak (P<0.05), dan produksi susu (P<0.05). Usaha ternak Kambing Peranakan Ettawa di Kecamatan Langensari Kota Banjar merupakan alternatif pilihan usaha sampingan guna meningkatkan pendapatan keluarga. | Revenue Contribution Analysis of Goat Ettawa Entepreneur in the District of Langensari Banjar. The purpose of this study were to know the amount of revenue contribution to the goat farm family income in the district and to know the magnitute of the influence of the old farm, the number of livestock ownership, education of farmers and ranchers, and the number of family members to family income in Langensari, the District Banjar. The results showed that the contribution of livestock revenue of PE goat ranchers ti total family income was 21,39 percent,the partial factors that affected the revenue contribution of the amount of ownership of livestock (P<0.01), the age of farm (P<0.05), and milk production (P0.05). Ettawa goat business in the District of Langensari, Banjar was an alternative choice of side business in order to increase family income. | |
| 11011 | 3934 | C1I006013 | PENGARUH PEMBERIAN KREDIT INVESTASI DAN KREDIT MODAL KERJA TERHADAP LABA USAHA PADA PT. BPR SURYA YUDHAKENCANA CABANG PURWONEGORO KABUPATEN BANJARNEGARA | Penelitian ini dilakukan pada PT. BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Banjarnegara dengan judul “Pengaruh Pemberian Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja Terhadap Laba Usaha Pada PT BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara” Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pemberian kredit investasi dan kredit modal kerja terhadap laba usaha pada PT. BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Banjarnegara. Untuk mengetahui manakah diantara pemberian kredit investasi dan kredit modal kerja yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap laba usaha PT. BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Banjarnegara. Hipotesis yang diajukan adalah pemberian kredit investasi dan kredit modal kerja mempunyai pengaruh positif secara bersama-sama terhadap laba usaha PT. BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Banjarnegara. Kredit investasi dan kredit modal kerja mempunyai pengaruh positif secara parsial terhadap laba usaha PT. BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Banjarnegara. Kredit modal kerja mempunyai pengaruh paling besar dibanding kredit investasi terhadap laba usaha PT. BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan data kredit investasi, kredit modal kerja dan laba usaha PT. BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Banjarnegara tahun 2005 – tahun 2009. Analisis data yang digunakan adalah regresi berganda. Dari hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan analisis regresi linear berganda diperoleh kesimpulan bahwa : Pemberian kredit investasi dan kredit modal kerja secara bersama-sama mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap laba usaha PT BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara. Pemberian kredit investasi dan kerdit modal kerja mempunyai secara parsial pengaruh positif dan signifikan terhadap laba usaha PT BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara. Pemberian kredit modal kerja mempunyai pengaruh paling besar terhadap laba usaha PT BPR Surya Yudhakencana Cabang Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut : Bagi bank yang bersangkutan penting untuk menjaga besarnya laba bank. Hal ini dikarenakan terdapat variabel yang konsisten dalam mempengaruhi perubahan laba bank. Perlu dilakukan adanya pengkajian secara terus menerus tentang kredit dalam berbagai sektor yang diberikan oleh bank, ini perlu dilaksanakan karena kredit memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian untuk menunjang pembangunan, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kemampuannya dalam meningkatkan pendapatan bank dan penyerapan tenaga kerja dalam mewujudkan hasil-hasil pembangunan. Pihak perbankan dapat memperluas penyaluran kredit kepada masyarakat di berbagai sektor, disamping itu pemerintah daerah dapat mendukungnya melalui kebijakan yang dapat menunjang sektor moneter. | The research was conducted at PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara with the title " Effect of Investment Credit and Working Capital Credit Against Income At PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara ". The Purpose of this study is to investigate and analyze the effect of the investment credit and working capital loans to operating profit at PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara. To find out which of the investment credit and working capital loans that have the most impact on operating profit PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara. The hypothesis is that the investment credit and working capital loans have a positive effect jointly against operating profit of PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara. Investment credit and working capital loans have a positive effect on operating income partially PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara. Working capital loans have the most influence over the investment credit against income from operations of PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara. This study used data investment loans, working capital and operating profit of PT. BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro Banjarnegara year 2005 - the year 2009. Analysis of the data used is multiple regression. From the results of research and data analysis using multiple linear regression analysis concluded that: Investment credit and working capital loans have a positive and significant impact on operating income together with PT BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro. Investment credit and working capital loans have a positive and significant impact on operating income partially PT BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro. Provision of working capital loans have the greatests impact on operating income PT BPR Surya Yudhakencana Branch Purwonegoro. Based on the above findings, the authors provide suggestions as follows: For the bank it is important to keep the profits of the bank. This is because there is a consistent variable in affecting change in bank earnings. There needs to be a continuous assessment of the credit in a variety of sectors given by the bank, it needs to be implemented because of credit provide a substantial contribution to supporting development in the economy, both in terms of quantity and in terms to increase bank earnings and employment in the achieve development results. The banks to extend credit to people in various sectors, in addition to supporting local government support through policies that can support the monetary sector. | |
| 11012 | 3887 | C1H007046 | PENGARUH PRICE EARNING RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN DIVIDEND PAYOUT RATIO TERHADAP PRICE TO BOOK VALUE PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN REAL ESTATE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA | Hipotesis yang diuji adalah Price earning ratio, debt to equity ratio dan dividend patout ratio secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap price to book value. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Price earning ratio memberikan pengaruh positif terhadap price to book value. Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan price earning ratio mampu memberikan pengaruh terhadap peningkatan price to book value. 2. Debt to equity ratio memberikan pengaruh positif terhadap price to book value. Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan nilai debt to equity ratio mampu memberikan pengaruh terhadap peningkatan nilai price to book value. 3. Dividend payout ratio mampu memberikan pengaruh positif terhadap price to book value. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin meningkatnya nilai dividend payout ratio akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan nilai price to book value. 4. Price earning ratio, debt to equity ratio dan dividend patout ratio secara simultan berpengaruh terhadap price to book value. Hal ini menunjukkan kaberadaan tiga variabel tersebut penting dalam memprediksi price to book value. Implikasi dari penelitian ini bahwa untuk meningkatkan nilai price to book value, perusahaan hendaknya memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi price to book value, diantaranya yaitu price earning ratio, debt to equity ratio dan dividend payout ratio. Perusahaan hendaknya meningkatkan kinerja perusahaan dengan cara menggunakan aset, modal serta hutang yang dimiliki dengan cara optimal agar tingkat penjualan dapat meningkat dan berujung pada peningkatan keuntungan perusahaan. Dengan tingkat keuntungan yang diperoleh, maka pasar dan calon investor akan tertarik untuk bergabung dengan perusahaan dan pada akhirnya mampu meningkatkan harga saham dan price to book value. | The hypothesis being tested are the Price earnings ratio, debt to equity ratio and the dividend paid out ratio simultaneous and partially effect on price-to-book value. The analysis method used is multiple linear regression analysis. Based on the results of this study concluded that: 1. Price earning ratio had a positive influence on price to book value. This shows that increasing the price earnings ratio was able to give effect to an increase in price to book value. 2. Debt to equity ratio is a positive influence on price to book value. This shows that the increase in the value of debt-to-equity ratio was able to give effect to an increase in the value of price to book value. 3. Dividend payout ratio is able to provide a positive influence on price to book value. It shows that the increasing value of the dividend payout ratio will give effect to an increase in the value of price to book value. 4. Price earnings ratio, debt to equity ratio and dividend ratio Patout simultaneously influence the price to book value. This shows those three variables are important in predicting the price to book value. The implications of this research that in order to increase the value of price to book value, the company should consider the factors that influence the price to book value, such as the price earnings ratio, debt to equity ratio and dividend payout ratio. Companies should improve the performance of the company by using the asset, capital, and debt held by the optimal way in order to increase sales levels and lead to an increase in corporate profits. With the level of profits, the market and potential investors will be attracted to join the company and ultimately to increase the share price and the price to book value. | |
| 11013 | 3933 | A1D007042 | PENGARUH BENTUK DAUN, WAKTU EKSTRAKSI DAN RASIO PELARUT AIR TERHADAP AKTIVITAS ANTIKAPANG, SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI EKSTRAK TEMBAKAU | Tembakau mengandung fitokimia yang berperan sebagai komponen bioaktif yang memiliki aktivitas antimikroba. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengkaji kandungan fitokimia ekstrak tembakau; dan 2) Mengkaji pengaruh bentuk daun, waktu ekstraksi dan rasio pelarut air terhadap sifat fisikokimia, mikrobiologi dan sensori ekstrak tembakau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor yang dicoba terdiri atas 3 faktor, yaitu bentuk daun (A) yang meliputi A1 (daun utuh tembakau) dan A2 (serbuk daun tembakau); waktu ekstraksi (B) yang meliputi B1 (1 jam), B2 (3 jam) dan B3 (5 jam); dan rasio pelarut air (C) yang meliputi C1 (1 : 10) (b/v) dan C2 (1 : 15) (b/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Secara kualitatif, kandungan fitokimia ekstrak daun tembakau yang berpotensi sebagai antikapang adalah alkaloid, tanin, flavonoid, triterpenoid dan glikosida; dan (2) a. Serbuk daun tembakau menghasilkan ekstrak dengan pH yang lebih rendah (5,35), warna ekstrak hitam kecoklatan (3,6) dan zona hambat kapang yang lebih besar (12,39 mm) dibanding daun utuh, b. Waktu ekstraksi 3 jam menghasilkan ekstrak dengan rendemen 59,50%, aroma yang kuat (skor 3,5) dan zona hambat yang besar (15,30 mm) dibandingkan waktu ekstraksi 1 jam dan 5 jam, c. Rasio pelarut air 1 : 15 (b/v) menghasilkan ekstrak dengan rendemen lebih tinggi (63,18%), tingkat kekeruhan sedikit keruh (2,1) dan zona hambat kapang yang lebih besar (12,89 mm) dibandingkan rasio pelarut air 1 : 10 (b/v). | Tobacco contain phytochemical which play a role as a bioactive component which has an antimicrobial activity. The aims of this research are: 1) to study the phytochemical component of tobacco extract; and 2) to study the effect of form of leaf, periode of extraction and ratio of water solvent to psychochemical, microbiology and sensory characteristic of tobacco extract. Completely randomized design was used with 12 treatments combination and repeated twice. Factors tested were form of leaf (A), i.e., tobacco leaf (A1) and tobacco powder (A2); periode of extraction (B), i.e., 1 hour (B1), 3 hours (B2), 5 hours (B3); and ratio of water solvent (C), i.e., 1 : 10 (w/v) (C1) and 1 : 15 (w/v) (C2). Result of the research showed that: 1) Qualitatively, phytochemical component of tobacco which can play a role as antifungal were alcaoid, tannin, flavonoid, triterpenoid and glicoside; and 2.a) The yields of tobacco powder was smaller pH (5.35), extract color black-brownish (3.6) and fungal inhibition zone of 12.39 mm compare with tobacco leaf. b) The yields of periode of extraction 3 hours was higher yields (59.50%), stronger aroma (3.5) and fungal inhibition zone of 15,30 mm compare with periode of extraction 1 hour and 5 hours. c) The yields of ratio of water solvent 1 : 15 (w/v) was higher yields (63.18%), turbidity level a little bit turbid (2,1) and fungal inhibition zone of 12.89 mm compare with ratio of water solvent 1 : 10 (w/v) | |
| 11014 | 3936 | C1A008039 | DAYA SAING DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI EKSPOR KARET ALAM INDONESIA KE AMERIKA SERIKAT, JEPANG, DAN CINA PERIODE 2001 - 2011 | Penelitian ini berjudul “Daya Saing dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ekspor Karet Alam (HS 4001) Indonesia ke Amerika Serikat, Jepang, dan Cina periode 2001-2011”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daya saing dan pengaruh variabel Produk Domestik Bruto riil (Amerika Serikat, Jepang, dan Cina), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, dan harga ekspor karet alam Indonesia serta untuk mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh terhadap ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat, Jepang, dan Cina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dan didukung analisis data sekunder yang bersifat kuantitatif dengan data dari International Trade Centre, Bank Indonesia, dan World Bank. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah daya saing dengan analisis Revealed Comparative Advantage (RCA), regresi linear berganda data panel, uji asumsi klasik dan uji statistik. Hasil penelitian yaitu karet alam Indonesia di Amerika Serikat, Jepang, dan Cina memiliki daya saing yang kuat karena nilai RCA nya lebih dari satu. Produk Domestik Bruto (PDB) riil dan harga ekspor karet alam Indonesia berpengaruh signifikan terhadap ekspor karet alam Indonesia. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak berpengaruh signifikan dan variabel yang paling berpengaruh terhadap ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat, Jepang, dan Cina adalah Produk Domestik Bruto (PDB) riil Amerika Serikat, Jepang, dan Cina. Diharapkan pemerintah perlu mengalokasikan dana peremajaan perkebunan karet rakyat yang sudah tidak produktif, menyalurkan subsidi yang tepat kepada para petani karet pada saat harga karet dunia anjlok akibat krisis ekonomi global. Dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi pasar karet alam di Indonesia maupun di pasar internasional bagi pelaku usaha/eksportir karet alam Indonesia. Diharapkan Bank Indonesia sebagai lembaga otoritas moneter dapat menjaga nilai tukar pada posisi yang stabil. Pemerintah/petani karet diharapkan untuk menjaga kenaikan harga yang stabil, sehingga memudahkan negara importir dalam mengestimasi atau memprediksi harga yang akan datang (tidak fluktuatif). Indonesia hendaknya tetap menjalin hubungan persahabatan yang baik dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Cina, misalnya mengadakan investasi yang saling menguntungkan. | This research entitled “The Competitiveness and Influencing Factors in Export of Indonesia Natural Rubber (HS 4001) to United States, Japan, and China in 2001-2011 period”. The aim of this research is to know the competitiveness and influencing of variables real Gross Domestic Product at (United States, Japan, and China), exchange rate to the US dollar, and the price export of Indonesia natural rubber and to know the most influencing variable toward the export of natural rubber to United States, Japan, and China. In this research, the using methods is study case and supported by quantitative secondary data analysis with data from the International trade center, Central Bank of Indonesia, and World bank. In this research, the methods use the competitiveness with Revealed Comparative Advantage (RCA) and panel data multiple linear regression, classic assumption test and statistic test. The result of research finds that Indonesia natural rubber in United States, Japan, and China have strong competitiveness because RCA value more than one. The real Gross Domestic Product (GDP) and the export price Indonesia natural rubber positively influences and significant toward export Indonesia natural rubber to United States, Japan, China. Whereas, IDR exchange rate toward US dollar no significant toward export of Indonesia natural rubber to United States, Japan, and China and the most influencing variable toward the export of natural rubber to United States, Japan, and China is the real Gross Domestic Product (GDP) at United States, Japan, and China. The government needs to allocate rejuvenation fund in the society’s rubber farm which no productive, at a time can give proper subsidy to rubber farmer when the price of rubber down caused by the global economic crisis. Rubber Industrialist could give a clear definition about rubber market condition in Indonesia and International. Be expected that Central Bank of Indonesia as an authority monetary institution can to keep the exchange rate stable position. The policy from the government related to the export price are retaining the export price natural rubber. It is undeniable that the price of natural rubber is more increase, seeing that condition government or rubber farmer should to retain the increasing stable price, thus will ease importer state in the estimate or predict the future price (no fluctuating). The Indonesian government should keep good fellowship with United States, Japan, and China, for example by providing mutual investment and doing other cooperation such as with the help of capital and expertise. | |
| 11015 | 3937 | F1B005141 | PEMBANGUNAN DESA MELALUI PROGRAM ONE VILLAGE ONE PRODUCT (OVOP) IKM PENGRAJIN RAMBUT DI DESA KARANGBANJAR KABUPATEN PURBALINGGA | One Village One Product (OVOP) atau satu desa, satu produk menciptakan manusia untuk lebih kreatif dan inovatif bagi daerahnya maupun bangsanya. Mengingat Program One Village One Product masih dianggap konsep pendekatan baru dan belum merata di seluruh wilayah Indonesia, maka pemerintah harus bisa memahami dan mengenal tradisi di masing-masing wilayah. Program OVOP yang tersebar di seluruh Indonesia, meskipun jumlahnya belum sepadan dengan jumlah wilayahnya, tidak sedikit yang mengalami kemajuan, Purbalingga salah satunya. Perkembangan Program OVOP membawa kemajuan yang sangat jelas kearah pembangunan terutama di Purbalingga, termasuk Desa wisata, Taman Pendidikan(Sanggaluri Park), Wisata alam(Bumi Perkemahan) dan Wisata air Keluarga (Owabong), Bojongsari merupakan kecamatan dengan pertumbuhan pendapatan desa tertinggi diwilayahnya. Namun apakah dengan berkembangnya teknologi didukung oleh pemerintah dan menjadikan masyarakat yang mandiri dalam pembangunan. Oleh karena itu maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Pembangunan Desa melalui program OVOP IKM pengrajin rambut di desa Karang Banjar Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara mendalam tentang pembangunan desa melalui “Satu Desa Satu Produk”(OVOP)di Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan informan dilakukan dengan Purposive sampling dan accidental sampling. Penelitian ini dilakukan di desa Karangbanjar dengan program OVOP pada IKM pengrajin rambut. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisa interaktif. Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menggunakan Triangulasi sumber. Menurut David C Korten, di dalam bukunya People center development pembangunan dinilai dari indikator masyarakat yang fair, inclusive, eternal melalui aksi warga negara secara sukarela. Berdasarkan hasil penelitian Pembangunan desa melalui program OVOP di kecamatan Bojongsari sudah dapat memenuhi standar kelayakan hidup oleh pemerintah daerah dan kosumen serta dapat mewujudkan visi dan misi OVOP dan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan desa berkelanjutan | One Village One Product (OVOP) or one village, one product created humans to be more creative and innovative for the region and the nation. Given the One Village One Product program is still considered new approaches and concepts have not been evenly distributed throughout Indonesia, the government should be able to understand and know the tradition in their respective regions. OVOP program spread across Indonesia, though the amount has not been commensurate with the amount of territory, not the least progress, Purbalingga one. The development of OVOP program brings obvious progress towards development especially in Purbalingga, including village tours, Wildlife Education (Sanggaluri Park), Nature tourism (camping grounds) and water Family Travel (Owabong), Bojongsari is a district with the highest rural income growth territory. But if the technology advances backed by the government and make independent community development. Therefore, the authors are interested to take the title "Rural Development through OVOP program IKM hair artisans in the village of Karang Banjar sub Bojongsari Purbalingga." Purpose of this study was to describe in depth about the development of the village through the "One Village One Product" (OVOP) in Sub Bojongsari Purbalingga. The research method used is descriptive qualitative method. Collection techniques informants conducted by purposive sampling and accidental sampling. The research was conducted in the village Karangbanjar the OVOP program on SME craftsmen hair. While the technique of data collection is done by interview, observation and documentation. The method of data analysis in this study using the interactive analysis. To ensure the validity of the data, researchers used triangulation of sources. According to David C. Korten, in his book People center development development of indicators assessed the fair, inclusive, eternal through voluntary citizen action. Based on the research results through the village development program in the district OVOP Bojongsari been able to meet the eligibility standards of living by local governments and customers in and can realize the vision and mission of OVOP and in accordance with the principles of sustainable rural development | |
| 11016 | 3944 | A1D005044 | PEMBUATAN BIO GREASE MENGGUNAKAN MINYAK JELANTAH: KOMPARASI PENGADUKAN DENGAN MIXER DAN SECARA MANUAL | Pemanfaatan minyak jelantah di bidang pangan tidak memungkinkan untuk dilakukan karena telah mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh, maka perlu dicari alternatif pemanfaatan di bidang non pangan yang dapat meningkatkan nilai ekonomis minyak jelantah, salah satunya sebagai bahan dasar grease. Pengolahan minyak jelantah menjadi bahan dasar grease ini diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk mendirikan home industry. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui nilai tertinggi karakteristik grease yang dihasilkan dari perbedaan perlakuan dan (2) Mengetahui komparasi karakteristik grease yang dihasilkan dan perbedaan metode pengadukkan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian dan Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada bulan Juni 2011 sampai dengan bulan November 2011. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan 2 sub penelitian. Setiap sub penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 12 kombinasi dan 2 kali ulangan sehingga diperoleh 48 unit percobaan. Variabel yang diamati adalah daya tahan korosi, tingkat penetrasi, pH, rendemen, tingkat konsumsi gas dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tertinggi karakteristik grease pada pengadukan manual untuk variabel ketahanan korosi adalah 11,5 yaitu pada perlakuan bobot minyak 2 kg dengan waktu pengadukan 3 jam dan untuk variabel tingkat penetrasi adalah 231,5 yaitu pada perlakuan bobot 4 kg tanpa pengadukan. Sedangkan nilai tertinggi karakteristik grease pada pengadukan menggunakan mixer untuk variabel ketahanan korosi adalah 11 yaitu pada perlakuan dengan lama pengadukan 1 dan 2 jam pada bobot 2 kg dan pada lama pengadukan 0, 1 dan 2 jam pada bobot 3 kg dan untuk variabel tingkat penetrasi adalah 231,5 yaitu ada perlakuan bobot 5,5 kg dengan waktu pengadukan 1 jam dan bobot 4 kg tanpa pengadukan. Hasil pengukuran pH mempunyai kecenderungan yang sama baik pada bio grease dengan pengadukan menggunakan mixer maupun pada grease dengan pengadukan manual yaitu sebesar 9. Hasil pengukuran rendemen memiliki kencenderungan yang sama yaitu sebesar 100 % pada setiap variasi perlakuan baik pada pengadukan manual maupun mixer. Perbedaan metode pengadukan berpengaruh nyata terhadap variabel daya tahan korosi. Pengadukan dengan metode pengadukan manual menghasilkan bio grease dengan daya tahan korosi yang lebih baik. Metode pengadukan secara manual memiliki rata-rata daya tahan korosi sebesar 10,75 sedangkan untuk metode pengadukkan dengan menggunakan mixer memiliki rata-rata daya tahan korosi sebesar 9,63. | Utilization of used fried oil in the food sector is not possible to do because it already contains substances that are harmful to the body, so it is necessary to find alternative use in the field of non-food which can increase the economic value of used fried oil, one of them is as a base material of the grease. Processing of used fried oil as a base material of the grease is expected to open up opportunities for communities to set up a home industry. The aims of this research are 1) to know the highest grease characteristic which is produced from different characteristic, 2) to know the comparison of grease characteristic and the difference of stirring. This research was held at Agriculture Technology Laboratory of Agriculture Faculty and Livestock Product Technology Laboratory of Animal Science Faculty Jenderal Soedirman University, start from June 2011 until November 2011. This research was held experimentally with two sub research. Every single sub research used Randomized Block Design (RBD) which contain 12 combination and 2 replication that resulted 48 units of treatments. The observation variable are corrosion resistance, penetration rate, pH, rendemen, the rate of gas consumption and color. The result of this research are grease on stirring manual for corrosion resistance variable is 11.5 in the treatment of oil weight 2 kg with the stirring time is 3 hours and for a variable penetration rate was 231,5 in the treatment of weights 4 kg without stirring. While the highest value the characteristics of grease on a stirring using a mixer for variable corrosion resistance is 11 in the old stirring treatment 1 and 2 hours on the weight of 2 kg and in long stirring 0, 1 and 2 hours on the weighting 3 kg and for variable penetration rate is 231,5 i.e. There is a 5.5 kg weight with treatment time 1 hour stirring and weighs 4 kg without stirring. The results of the measurement of the pH has the same tendency in both bio grease with stirring using a mixer or grease with a manual stirring that amounted to 9. The results yield measurements have the same tendencies are of 100% on every variation of treatment either on manual as well as stirring mixer. The difference method of stirring effect of variable resistance to corrosion. Stirring with a manual stirring method produces bio grease with corrosion-resistant power better. Manually stirring method has an average of 10.75 corrosion durability as for stirring method by using the mixer has an average corrosion durability of 9.63. | |
| 11017 | 3947 | G1B008063 | PERAN GURU DALAM MEMBERIKAN INFORMASI DAN KONSELING KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA UNTUK MENGATASI KECEMASAN PADA REMAJA (Studi Kualitatif pada Siswa SMP Negeri 3 Kalibagor) | Masa remaja merupakan waktu kematangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang cepat. Perhatian remaja sangat besar terhadap penampilan dirinya, mereka sering mencemaskan bentuk tubuhnya yang kurang proporsional. Permasalahan yang terjadi pada remaja dapat diatasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan pemberian pendidikan kesehatan reproduksi melalui program Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peran guru dalam memberikan informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja untuk mengatasi kecemasan pada remaja di SMPN 3 Kalibagor. Desain penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Subyek penelitian terdiri dari 5 orang informan utama dan 3 informan pendukung. Teknik penentuan subyek penelitian dilakukan secara purposive. Teknik pengambilan data adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja. Sikap yang positif ditunjukkan oleh guru terhadap kegiatan pendidikan informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja. Peran guru sebagai fasilitator adalah dengan menyiapkan materi dengan baik, memfasilitasi siswa mengenai apa yang diperlukan, sehingga siswa dapat menerima materi lebih mudah. Peran guru sebagai motivator adalah mengupayakan pada hal-hal yang positif, memotivasi anak untuk menjaga diri, supaya anak menjadi pribadi yang baik, terutama yang berhubungan dengan hal reproduksi. Sarana dan prasarana yang ada adalah film, gambar, puzzle, LCD, satu set meja, papan pengurus, buku, dan alat peraga. | Adolescents have insightful attention on their appearance; they are often concerned about the lack of proportional body shape. Problems that occur on adolescents can be solved in various ways, one of which is by giving reproductive health education through the Information Center and Counseling of Adolescent Reproductive Health Program. The purpose of this study was to describe the teachers’ role in providing information and counseling to overcome adolescent reproductive health anxiety on adolescents in SMPN 3 Kalibagor. Research design used qualitative methods. The study subjects consisted of five key informants and three supporting informants. The technique of determining the subject of the research was performed purposively. Techniques of data collection were interviews, observation, and documentation. The results showed that teachers had the knowledge in accordance with the concept of adolescent reproductive health. Positive attitude is shown by teachers to the educational activities of reproductive health information and counseling. The role of the teachers as facilitator was to prepare the material well, facilitated the students about what they need, so that the students could understand the material more easily. The role of the teachers as motivator was to strive for on the positive things, motivated the students to take care of themselves, so that they became a good individual, particularly those associated with reproduction. Facilitations that could be used were movies, pictures, puzzles, LCD, a set of tables, board trustees, books, and teaching/visual aids. | |
| 11018 | 3938 | A1H008049 | TEKNIK PENGOLAHAN CITRA DIGITAL UNTUK MEMPREDIKSI KADAR AIR TANAH SAWAH MENGGUNAKAN SENSOR INFRARED WEBCAM (STUDI KASUS DI KELURAHAN KARANGWANGKAL, KECAMATAN PURWOKERTO UTARA, KABUPATEN BANYUMAS) | Pengukuran kadar air tanah secara real time menjadi sangat penting, karena pengukuran dengan metode gravimetrik membutuhkan waktu lama. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran kadar air tanah berdasarkan perubahan warna tanah.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengembangkan program pengolahan citra digital untuk mendapatkan parameter visual citra tanah menggunakan Visual Basic 6.0.(2) menganalisis hubungan antara kadar air tanah dengan parameter visual citra tanah lahan sawah (3) menentukan parameter visual yang tepat untuk dijadikan parameter pendugaan kadar air tanah lahan sawah (4) menemukan pengaruh perbedaan penggunaan sensor dengan webcam biasa dan infrared webcam terhadap citra yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter visual citra yang paling teliti dan tepat digunakan untuk mengukur nilai kadar air adalah intensitas. Nilai MPE intensitas dengan menggunakan infrared webcam adalah 9,78% sedangkan dengan menggunakan sensor webcam adalah 12,28%. | Real time measurement of soil moisture content becomes very important asusing gravimetric method is very time consuming.In this research, soil moisture content was measured based on its color change.This study aimed to (1) develop a program of digital image processing to obtain soil visual image parameters using Visual Basic 6.0. (2) analyze the relationship between soil moisture content and visual image parameters (3) determine the most appropriate visual parameters to be used as the estimation parameter of paddy field soil moisture content. (3) figure out the differences of images resulted by both regular webcam and infrared webcam. The results showed thatthe most appropriate visual parameter to predict the water content was intensity. MPE values of intensity using both regular and infrared webcam were 12.28% and 9.78%, respectively | |
| 11019 | 3939 | A1M008006 | AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FORMULA BUAH KECOMBRANG BERBENTUK SUSPENSI: PENGARUH PROPORSI GELATIN-MALTODEKSTRIN DAN PROTEIN KEDELAI-MALTODEKSTRIN SEBAGAI BAHAN PENGISI | Pengujian aktivitas antioksidan ini dilakukan dari ekstrak buah kecombrang. Pada formulasi ekstrak buah kecombrang diperlukan bahan tambahan lain yakni bahan pengisi dan penstabil yang bertujuan melindungi komponen aktif kecombrang serta menstabilkan formula. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis bahan pengisi, pengaruh proporsi bahan pengisi, pengaruh konsentrasi bahan pengisi, serta pengaruh interaksi antara jenis bahan pengisi, proporsi bahan pengisi dan konsentrasi bahan pengisi terhadap aktivitas antioksidan dan total fenolik formula buah kecombrang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua kali ulangan. Faktor yang dicoba yaitu jenis bahan pengisi gelatin-maltodekstrin (E1), protein kedelai-maltodekstrin (E2); proporsi bahan pengisi (b/b) 1:1 (P1), 1:2 (P2), 2:1 (P3) dan konsentrasi bahan pengisi (b/b) 2% (K1) dan 6% (K2) sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan. Variabel yang diamati adalah kadar total fenolik dan aktivitas antioksidan. Data dianalisis dengan analisis ragam (uji F) dlanjutkan dengan DMRT 5 persen.Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula dengan jenis bahan pengisi gelatin-maltodekstrin proporsi 1:2 (b/b) dan konsentrasi 2% (E1P2K1) memiliki nilai total fenolik tertinggi yaitu 16,2 mg/ml, sedangkan aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh dari formula dengan jenis bahan pengisi gelatin-maltodekstrin, proporsi 1:1 (b/b) dan konsentrasi 6% (E1P1K2) yaitu 29,22%. | The observation of antioxidant activity is conducted from kecombrang fruit extract. Kecombrang fruit extract formulation needs some other additional material such as filler and stabilizer material that directing to protect the active component from kecombrang and to stabilizing the formulation. The purposes from this observation are to find the effect from kinds of filler material, effect of filler material proportions, effect of filler material concentrations, and effect of interaction between the kinds of filler material, filler material proportions and filler material concentrations against antioxidant activity and total phenolic of kecombrang fruit formulations. This observation use factorial Cluster Random Scheme (CRS) with twice tests. Factors tried are kinds of filler material gelatin-maltodextrin (E1), soy bean protein-maltodextrin (E2); filler material proportions (w/w) 1:1 (P1), 1:2 (P2), 2:1 (P3); and filler material consentrations (w/w) 2% (K1); 6% (K2) so that gets 12 treating combinations. Variable observed are phenolic content and antioxidant activity. The data is analyzed with sort analysis (F test) continued by DMRT 5 percent. The results from this observation showed that formulation with kind of gelatin-maltodextin filler material proportion 1:2 (w/w) and consentration 2% (E1P1K1) has highest total phenolic content 16.2 mg/ml, meanwhile highest antioxidant activity obtains from formulation with kind of gelatin-maltodextrin filler material with proportion 1:1 (b/b) and consentration 6% (E1P1K2) such 29.22%. | |
| 11020 | 3490 | E1E004018 | KEKUASAAN YUDIKATIF SEBAGAI PELAKSANAAN TEORI TRIAS POLITIKA | kekuasaan negara berdasarkan teori demokrasi terutama mengacu pada teori trias politika. menurut ajaran teori trias politika, dalam setiap pemerintahan negara harus ada tiga jenis kekuasaan yang tidak dapat dipegang oleh satu tangan saja, melainkan masing-masing kekuasaan itu harus terpisah, yaitu kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. kekuasaan yudikatif sebagai salah satu kekuasaan yang diselenggarakan oleh negara berdasarkan undang-undang dasar 1945 disebut sebagai kekuasaan kehakiman. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) bagaimanakah pelaksanaan yudikatif sebagai pelaksanaan teori trias politika? (2) bagaimanakah kekuasaan yudikatif dalam penerapannya di indonesia? metodi pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perundang-undangan (statute approadh). spesifikasi dalam penelitian ini adalah deskripsi analitis. bahan yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis normatif kualitatif. berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kekuasaan yudikatif sebagai pelaksana teori trias politika adalah kekuasaan membentuk undang-undang. kekuasaan yudikatif memiliki fungsi mengadili yang berdiri sendiri dan terlepas dari pengaruh kekuasaan lain. kekuasaan yudikatif dalam penerapan nya di indonesia adalah kekuasaan kehakiman yang dilakukan oleh mahkamah agung (dan badan peradilan yang ada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, peradilanmiliter, dan lingkungan peradilan tata usaha negara) dan oleh sebuah mahkamah konstitusi. | the power of national according to conception of democracy, especially refers to theory of trias political. based on the teaching of trias political, in every state governance there are three kinds of power that can not be hold by one by hand only.,each of the power must be separated that is the power of executive, legislative, and judicative. the power of judicative isas one the power that is implemented by the state based on the UUD1945 it is called as the judical power. based on the background of problem above, so is can be formulated the problems as follow (1) how is the jucative power as the implementation of trias political theory? (2) how is the judicative power in ist implementations in indonesia? the method of approach that is used in this research is judicial approach. this research specification in this short thesis is analyticaldescriptif. material of law that is used in this research is material of primary law and material of secondary law. material of law that has been collected subsequently is analyzed by using the method of qualitative normative analysis. based on the research result and descussion so it can be concluded that the judicative power as the theory implementer of trias political is the power to enforce the ordinance. the judicative power has the function to judge that has being autonomous and separated from the influence of other power. the judicative power in the its implementation is the judical power that is conducted by supreme court (and other sub judiciary board in the general court environment, religion court environment, military court environment, and administrative court environment) and by a constitution of supreme court. |