Artikelilmiahs
Menampilkan 1.841-1.860 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1841 | 11411 | H1L009075 | SISTEM INFORMASI PAPERLESS OFFICE BERBASIS WEB (STUDY KASUS SMA NEGERI 3 PURWOKERTO) | Bagian surat menyurat rutin pada tata usaha SMA N 3 PURWOKERTO membutuhkan pengelolaan surat yang baik khusunya dalam pengolahan surat perintah perjalanan dinas, surat ijin, surat rapat dan surat masuk. Selama ini pendataan surat yang berjalan di instansi tersebut masih berjalan secara manual, sehingga mengakibatkan proses pencarian surat yang lama. Pengelolaan surat yang baik menyebabkan semua data surat yang berada di instansi dapat terorganisir dengan baik. Oleh karena itu, perlu dibuat sistem informasi paperless office berbasis web yang dapat mengolah surat perintah perjalanan dinas ( SPPD ), surat ijin, surat rapat, dan surat masuk surat dengan baik. Pembuatan sistem tersebut menggunakan beberapa metode diantaranya studi pustaka, observasi melakukan penelitian langsung ke instansi tersebut. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metode waterfall. Sistem informasi paperless office berbasis web mempunyai 6 menu utama yaitu menu pengguna, menu memo, menu SPPD, menu surat ijin, menu surat rapat,dan menu surat masuk. Pengujian sistem informasi paperless office bebasis web dilakukan dalam 2 tahap, yaitu pengujian oleh internal tim pengembang dan pengujian di depan jajaran Bagian surat menyurat rutin pada tata usaha SMA N 3 PURWOKERTO secara localhost. Setelah melalui proses pengujian sistem, didapat hasil dimana sistem informasi paperless office berbasis web bisa berjalan sesuai dengan keinginan instansi tersebut. | Part of routine correspondence on administrative SMA N 3 PURWOKERTO require a letter of good management especially in the processing of official travel warrant , license , letters and meetings incoming mail . During the data collection agency letter goes on is still running manually , resulting in a long search process letter . Management letter good cause all the data that is in the letter can be well-organized institution . Therefore , need to be made paperless office information system that can process warrant for official travel ( SPPD ) , licenses , letters , meeting and incoming mail a letter with the good . Making the system using several methods including literature review , observation conduct research directly to the institution. System development method used is the waterfall method . Information system web-based paperless office has 6 main menu user menu , menu memo , SPPD menu , menu permits , meeting the letter menu , and the menu inbox. Paperless office information system testing web bebasis done in two phases , namely testing by the internal team of developers and testing at the front line of Section routine correspondence on administrative SMA N 3 PURWOKERTO is localhost . After going through the process of testing the system , the result is that the system of web -based paperless office information can be run in accordance with the wishes of the institution. | |
| 1842 | 11412 | F1B111017 | COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN PRATISTHA HARSA DI KABUPATEN BANYUMAS | Tulisan ini mendeskripsikan tentang collaborative governance dalam pengelolaan Pratistha Harsa di Kabupaten Banyumas. Pratistha Harsa merupakan pusat produk dan kuliner Usaha Kecil dan Menengah yang pengelolaannya melibatkan pihak pemerintah, swasta dan masyarakat. Pratistha Harsa dilatar belakangi oleh usaha pemerintah dalam penataan dan pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pengembangan UKM. Oleh sebab itu penting untuk mengkaji yang berkaitan dengan collaborative governance dalam pengelolaan salah satu aset publik yaitu Pratistha Harsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan desain kelembagaan dn proses collaborative governance dalam pengelolaan Pratistha Harsa. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif.Sedangkan sasaran dalam penelitian ini yaitu pihak pemerintah, swasta dan masyarakat. Hasil dalam penelitian ini yaitu collaborative governance dalam pengelolaan Pratistha Harsa belum maksimal. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa ada beberapa aspek yang menurut Model Ansell dan Gash belum terpenuhi, yaitu meliputi aturan dasar, frekuensi dialog tatap muka, ketergantungan dan pelaksanaan rencana strategis. | This paper describes collaborative governance in the managemnt of the Pratistha Harsa in the Banyumas Regency. Pratistha Harsa was the Centre of culinary products small and medium enterpries who manage them involves the government, privat and community. Pratistha Harsa exposed by their Government efforts in structuring and empowerment of street vendors (PKL) and the development of SMES. Therefore, it is important to review related to collaborative governance in the management of public assets, one of the Pratistha Harsa. This study aims to describe the institutional design and the process of research methods used are descriptive qualitative research methodes. While the target in this research, namely the government, the privat and the public. This results in this study i.e collaborative governance in the management of the Pratistha Harsa hasn’t been fullest. Conclusion in this study that there are some aspects which according to Ansell Model and Gash has not fullfilled, that covers the basic rules, the frequency of face-to-face dialogue, dependency and the implementation of the strategic plan. | |
| 1843 | 11415 | D1E010016 | UKURAN JENGGER DAN SHANK PADA BERBAGAI AYAM SENTUL UMUR DELAPAN MINGGU | Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan ukuran jengger dan shank berbagai ayam Sentul umur delapan minggu. Penelitian ini di laksanakan di Experimental farm Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 250 ekor Day Old Chick (DOC) ayam Sentul. Penelitian ini menggunakan metode experimen, dengan Rancangan Acal Lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah lima macam ayam Sentul yaitu, Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas dan Sentul Geni. Setiap unit penelitian di ulang diulang lima kali. Peubah yang diamati adalah, ukuran jengger dan shank berbagai ayam Sentul umur delapan minggu. Hasil penelitian menunjukkan rataan tinggi jengger ayam Sentul jantan 18,20 mm dan ayam Sentul betina 6,65 mm. Rataan lebar jengger ayam Sentul jantan 5,28 mm dan ayam Sentul betina 4,54 mm. Rataan panjang jengger ayam Sentul jantan 27,68 mm dan ayam Sentul betina 14,43 mm. Rataan panjang shank ayam Sentul jantan 53,23 mm dan ayam Sentul betina 27,68 mm. Rataan lingkar shank ayam Sentul jantan 37,89 mm dan ayam Sentul betina 30 mm. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa berbagai ayam Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap ukuran jengger dan shank. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan ukuran jengger dan shank berbagai ayam Sentul umur delapan minggu. | The reseach is aimed to determine the size of comb shank of Sentul chickens at the age of eight weeks. The reseach at Experimental Farm Animal Science Faculty of Jenderal Soedirman University. The object used in this reseach was Sentul chickens with the range of 250 Day Old Chick (DOC) consisting of Sentul Abu, Sentul Batu, Sentul Debu, Sentul Emas and Sentul Geni. The research was done by using experimental method with a Completely Randomized Design (CRD). The were performed five times and each. The reseach concerned on the comb and shank size observed from different Sentul chickens between the ages of eight weeks. The data obtained was analyzed by using analysis of variance. The average high male chickens comb Sentul 18.20 mm, high female chickens comb Sentul 6.65 mm, midth of the male chickens comb Sentul 5.28 mm, width of the female chickens comb Sentul 4.54 mm, long male chickens comb Sentul 27.68 mm, long female chickens comb Sentul 5.45 mm, long shank Sentul male chickens 53.23 mm, long shank Sentul female chickens 27.68 mm, ring shank Sentul male chickens 37.89 mm, ring shank Sentul female chickens 30 mm. The results of analysis of variance showed that the size of comb and shank of Sentul chickens were not significant effact (P> 0.05) to the size of the cock's comb and shank of the Sentul chickens age of eight weeks. The conclusions of this study underlines that the size of comb and shank of Sentul chicken are relatively equal. | |
| 1844 | 11418 | H1F010031 | STUDI FASIES FORMASI HALANG DAERAH CIBALUNG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN CIMANGGU,KABUPATEN CILACAP, JAWATENGAH | Lokasi penelitian berada di wilayah Cibalung, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang daerah penelitian terdiri dari Formasi Halang, Kumbang dan Tapak.Berdasarkan pengukuran penampang startigrafi di sungai Cikawung dan Cimindi merupakan bagian dari Formasi Halang yang terdiri dari litologi batupasir, batalempung dan breksi. Berdasarkan hasil pengukuran penampang stratigrafi pada kedua lintasan melalui analisis fasies dan fosil dapat disimpulkan bahwa terdapat 7 lithofasies berdasarkan klasifikasi Stow (1985) yaitu fasies A1, B1, B2, C2, D2, E2 dan F2. Sedangkan asosiasi fasies daerah penelitian terbagi menjadi 4 berdasarkan model Mutti dan Ricchi Lucchi (1972) yaitu, asosiasi lereng, kipas dalam, kipas tengah dan kipas luar. | ABSTRACT The location of research is in the Cibalung region, Cimanggu district, Cilacap regency, Central Java . Based on the Geological Map Sheet Majenang study area consists of HalangFormation ,kumbang and tapak . Based on the cross-section measurements in the river startigrafiCikawung and Cimindi is part of Halang Formation consists of sandstone lithology ,batalempung and breccias .Based on the results of stratigraphic cross-section measurements on both the track through the analysis of facies and fossils can be concluded that there are 7 lithofasies based classification Stow ( 1985) is a facies A1 , B1 , B2 , C2 , D2 , E2 and F2 . While facies association study area is divided into 4 based model of Mutti and RicchiLucchi (1972 ), the association slope , the inner fan , the middle fan and outer fan . | |
| 1845 | 11419 | F1A010050 | Konstruksi Keperawanan dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami | ABSTRAKSI Wacana mengenai perempuan menjadi hal yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Secara umum perempuan selalu dimunculkan sebagai sosok yang bermasalah ketika dikaitkan dengan organ-organ tubuhnya termasuk keperawananya. Keperawanan merupakan salah satu konsep yang melekat pada perempuan, oleh sebab itu, ketika berbicara mengenai perempuan tak luput pula ikut membawa serta keperawanannya. Persoalan keperawanan di Indonesia merupakan hal yang dianggap tabu dan disakralkan, keperawanan menunjuk kepada serta mengukur kapasitas moral dan akhlak perempuan. Ayu Utami lewat novelnya Pengakuan Eks Parasit Lajang mencoba menghadirkan pandangan yang berbeda tentang keperawanan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konstruksi keperawanan dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang. Wujud Penelitian ini bersifat kualitatif yang mengkaji teks (kepustakaan). Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa bagi masyarakat Indonesia keperawanan merupakan hal yang harus dijaga selama perempuan belum menikah sedangkan sebaliknya, hilangnya keperawanan dianggap sebagai hal yang memalukan, dan mencoreng kehormatan diri perempuan. Tolak ukur keperawanan dalam masyarakat selama ini dilambangkan dengan tetesan darah. Seorang perempuan dianggap masih perawan apabila ada darah yang keluar pada saat persetubuhan pertamanya. Darah yang keluar menandakan sobeknya selaput dara yang melindungi alat kelamin perempuan, apabila darah keluar pada saat persetubuhan pertama seorang perempuan maka perempuan tersebut dianggap belum pernah melakukan persetubuhan sebelumnya Di Indonesia yang menganut Budaya Timur, persoalan keperawanan sudah menjadi budaya yang mengakar, keperawanan menunjuk pada serta mengukur kapasitas moral dan akhlak perempuan . Campur aduknya pengertian keperawanan antara perubahan fsisik dengan akhlak ini membuat perempuan melalui keperawanannya dapat dengan mudah dikelompokan dalam kelompok hina atau mulia. Namun menurut Ayu Utami keperawanan hanyalah sebuah konsep. Sesuatu yang dibuat oleh pikiran manusia untuk kepentingan tertentu. Ayu melihat konsep keperawanan yang hidup dalam masyarakat tidak adil, dimana moralitas seolah-olah hanya menjadi tanggung jawab perempuan, untuk itu Ayu lewat tokohnya A memilih untuk menjadi tidak perawan untuk melawan konsep keperawanan tersebut. Menurut Ayu konsep keperawanan yang menjerat perempuan dalam sarang laba-laba selaput dara. Keperawanan yang membuat perempuan bisa dihina, saat ini harusnya sudah tidak relevan lagi, karena banyak faktor yang akhirnya bisa menghilangkan keperawanan perempuan tanpa proses persetubuhan. Keperawanan seorang perempuan sejatinya menjadi hak sepenuhnya sang pemilik, maka hendak diberikan kepada siapa dan diperlakukan seperti apa ditentukan oleh perempuan itu sendiri. Perempuan seharusnya menjaga keperawanannya atas kehendak dan keinginan diri, sendiri tidak bergantung kepada penilaian individu atau masyarakat tentang keperawanan Pendobrakan nilai-nilai lama sangat diperlukan demi memunculkan kembali identitas seksual perempuan sebagai perempuan. Namun disisi lain pendobrakan tidak harus dilakukan dengan cara yang radikal, untuk mendobrak nilai yang mengagungkan keperawanan bukan berarti perempuan harus menjadi tidak perawan, karena perndobrakan yang utama berada ditingkat konseptual. | ABSTRAC Discourse on women be the thing which never runs out to talk about. Generally women always raised as problematic figure when associated with the organs on her body, including virginity. Virginity as a concept of attached women, because of that, when speaking about women, not participate escaped also take along her virginity. Virginity problem in Indonesia is one thing that considered taboo and sacred, virginity refers to and measure women moral. Ayu Utami on her novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang” try to presenting different views about virginity. This research aim to explain about the construct of virginity in novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang”. This is a qualitative studies that looked at the text (literature review). Use hermeneuthics method, so it focus on the text. The result of this research getting that for Indonesian, virginity is something that must guarded during unmarried women, in other hand loss virginity regarded as shame, and broke her honor. Parameter of virginity during this time in society signed by drops of blood. Woman considered as virgin if there is drops of blood in her first sexual intercourse. Blood coming out signify that breaks of hymen that protecs female genitalia, if blood coming out in the first sexual intercourse so that woman regarded she never do it before. In Indonesia that embrace eastern culture, women problem has been an entrenched culture, virginity pointed at as well as a measure of moral capacity and attitude of women. Intervening virginity understanding between physical change and attitude make the women through her virginity can be easily grouped in noble or ignoble. But aqccording to Ayu Utami virginity just a concept. Something that made by human mind to certain purpose. Ayu saw the concept of virginity which lives in our society is unfair, where morality as only the responsibility of women. So that Ayu through her figure A choose to become not virgin to against that concept. According to Ayu, concept of virginity which trapped women on nest of spiders the hymen. Virginity which make women can be despised, in this time shouldn’t relevant anymore, because so many factors which eventually coul deprive women virginity without the prosses of coition. Virginity of women actually become fully rights of the owner, then will given to whom and treated as what determined by women itself. Women should keep her virginity over initiative and desire self, not depend on the assesmen t on individual or society about virginity. For the break-in old value deeply in need to bring up back female sexual identity as women. But in other side, for the break-in should not take place in a radical manner, to break-in the value which embracing virginity does not mean that women have to become not a virgin, because the main break-in is in the conceptual level. | |
| 1846 | 11420 | D1F012009 | PEMANFAATAN LIMBAH IKAN TONGKOL DIHIDROLISIS MENGGUNAKAN ASAM ASETAT DAN POLLARD DIFERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN PUYUH DITINJAU DARI KADAR LEMAK DAN PROTEIN TELUR | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan hidrolisis kepala ikan tongkol dan pollard difermentasi sebagai konsentrat buatan dalam pakan menggantikan konsentrat pabrik terhadap kadar lemak dan protein telur puyuh. Materi yang digunakan adalah 100 ekor puyuh umur 12 minggu, dipelihara selama 2 bulan. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental secara in-vivo, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri 4 perlakuan dan 5 ulangan, setiap unit terdiri 5 ekor puyuh. Perlakuan terdiri atas R0 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard difermentasi 0%), R1 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard difermentasi 10%), R2 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard difermentasi 20%), R3 (limbah ikan tongkol hidrolisis dan pollard difermentasi 35%). Peubah yang diamati adalah kadar lemak dan protein telur puyuh. Hasil penelitian untuk lemak telur pada R0, R1, R2, dan R3, masing - mansing 31,39; 31,24; 31,52; dan 31,09% menghasilkan rataan kadar lemak telur 31,09-31,52% sedangkan kadar protein telur adalah 11,33; 11,18; 11,58; dan 11,08% menghasilkan rataan 11,08-11,58%. Hasil analisis variansi antar perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) pada kadar lemak dan protein telur puyuh. Disimpulkan penggunaan hidrolisis limbah ikan tongkol dan pollard difermentasi sebagai konsentrat buatan sebanyak 35% dapat mengganti konsentrat pabrik dalam pakan burung puyuh pada kadar lemak dan protein telur relatif sama. | The purpose of the research was evaluate to examine the effect of hydrolyzed tuna waste by acetic acid and fermented Pollard on the levels of fats and proteins of quail egg. The materials used were 100 quails of 12 week old, maintained for 2 months. The study used experimental method by in-vivo, using Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, each replication consisted of 5 quails. The treatment consists of R0 (tuna waste hydrolyzed and pollard fermented 0%), R1( tuna waste hydrolyzed and pollard fermented 10%), R2(tuna waste hydrolyzed and pollard fermented 20%), R3(tuna waste hydrolyzed and pollard fermented 35%). The variables measured were the levels of fat and protein of quail’s eggs. The treatments of R0, R1, R2, and R3, had the values of 31.39%; 31.24%; 31.52%; and 31.09% resulted in the average fat contents of eggs from 31.09% to 31.52% while the protein contents of the eggs were 11.33%; 11.18%; 11.58%; yielded the average of 11.08% and 11.08 to 11.58%. The results of analysis of variance among treatments did not significantly (P> 0.05) affect the fat and protein of quail’s egg. It can be concluded that the use of hydrolized tuna waste using acetic acid and fermented pollard wine as much as 35% to replace grade quail factory concentrate in livestock feed resulted in similar fats and proteins of quail’s eggs. | |
| 1847 | 11435 | A1L011101 | STUDI KETINGGIAN TEMPAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KETELA POHON (Manihot utilissima Pohl.) DI WILAYAH SUB DAS LOGAWA KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengkaji pengaruh ketinggian tempat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman ketela pohon di wilayah Sub DAS Logawa Kabupaten Banyumas. (2) Mengkaji karakteristik lahan di wilayah Sub DAS Logawa yang memberikan pertumbuhan dan produksi tanaman ketela pohon paling baik. Model penelitian ini menggunakan metode survei. Penentuan titik sampel tanah dan lokasi tanaman ketela pohon menggunakan teknik Stratified random sampling, dengan perbedaan ketinggian tempat sebagai stratanya. Hasil penelitian ini, menunjukkan ketinggian tempat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman ketela pohon. Hal tersebut dibuktikan dari perbedaan yang nyata dari variabel jumlah daun dan jumlah umbi di tiap ketinggian tempat. Karakteristik lahan di Wilayah Sub DAS Logawa cukup baik untuk pertanaman ketela pohon walaupun pH agak asam, kurang dari 7,0 yaitu: 5,63; 6,14 dan 5,82 untuk masing - masing ketinggian tempat angka DHL tinggi lebih dari 4,0 µs/cm, yaitu 38,6 µs/cm; 73,2 µs/cm; dan 39,2 µs/cm. Ketinggian tempat yang paling baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman ketela pohon adalah pada ketinggian 106 m dpl, sementara yang terendah pada ketinggian 318 m dpl. Semakin tinggi suatu tempat menunjukkan semakin rendah pertumbuhan dan produksi tanaman ketela pohon. | This research aimed to: (1) Study the effect of altitude on the growth and yield of cassava in Sub Logawa watershed Banyumas. (2) Assess the best characteristics of the land in the Sub Logawa watershed that provide growth and yield of cassava. This research model using survey methods. Determination of soil sample point and the location of cassava plant using stratified random sampling technique, with an altitude as strata. The results of this study, showed the altitude effect on the growth and yield of cassava. This is evidenced from the real difference of the variable number of leaves and number of tubers at each altitude. Characteristics of land in Sub Logawa watershed area is good enough for planting cassava although the pH is slightly acid, less than 7.0, i.e. 5.63; 6.14 and 5.82, electrical conductivity (EC) value is high in each altitude, more than 4.0 µs/cm, i.e. 38.6 µs/cm; 73.2 µs/cm; and 39.2 µs/cm. The best place for growth and yield of cassava is at an altitude of 106 metres above sea level, while the lowest at an altitude of 318 metres above sea level. The higher altitude showed lower growth and yield of cassava. | |
| 1848 | 11437 | H1H010006 | PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza roxb) PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN, EFISIENSI PAKAN DAN SINTASAN NILA MERAH (Oreochromis sp) | Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan tepung temulawak (C. xanthorriza roxb) dengan dosis berbeda pada pakan komersial terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan, dan sintasan ikan Nila Merah (Oreochromis sp). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diteliti adalah pakan komersial tanpa penambahan tepung temulawak (P0), pakan komersial dengan penambahan tepung temulawak 1% (P1), pakan komersial dengan penambahan tepung temulawak 2% (P2), pakan komersial dengan penambahan tepung temulawak 3% (P3), dan pakan komersial dengan penambahan tepung temulawak 4% (P4). Variabel yang diamati yaitu pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan harian, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi pakan dan sintasan. Variabel pendukung yang diamati adalah kualitas air (suhu, oksigen terlarut, dan pH). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan nila merah yang diberi penambahan tepung temulawak dengan dosis berbeda pada pakan komersial menghasilkan pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan harian, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi pakan dan sintasan yang relatif sama. Nilai rata-rata pertumbuhan mutlak berkisar 1,45±0,65-2,91±1,01(g), laju pertumbuhan harian 0,05±0,02-0,10±0,03(g/hari), laju pertumbuhan spesifik 1,48±0,47-2,48±0,70(%/hari), efisiensi pakan 8,00±2,66-14,88±7,94(%), dan sintasan 30±16,33-57,5±19,15(%). | The aim of this study was to determine the effects of different dose curcuma flour (C. xanthorriza roxb) added in commercial feeds on growth, feed efficiency, and survival rate of tilapia (Oreochromis niloticus). This study was carried out experimentally based on completely randomized design with 5 treatments and 4 replications. The treatments used were commercial feed without curcuma flour (P0), commercial feed with 1% (P1), 2% (P2), 3% (P3), and 4% (P4) curcuma flour. The observed variables were absolute growth, daily growth rate, specific growth rate, feed efficiency, and survival rate. Advocates variables which observed are water quality (temperature, dissolved oxygen, and pH). The results showed fish feed with commercial feed added with curcuma flour relatively had the same absolute growth, daily growth rate, specific growth rate, feed efficiency, and survival rate with fish feed with commercial feed only. The average value of absolute growth was 1,45±0,65-2,91±1,01(g), daily growth rate was 0,05±0,02-0,10±0,03(g/day), specific growth rate was 1,48±0,47-2,48±0,70(%/day), feed efficiency was 8,00±2,66-14,88±7,94(%), and survival rate was 30±16,33-57,5±19,15(%). | |
| 1849 | 11440 | P2CC11057 | Manajemen Program Praktik Kerja Industri Peserta Didik SMK Kompetensi Keahlian Multimedia di Kota Purwokerto | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen Program Praktik Kerja Industri (Prakerin) peserta didik SMK Program Keahlian Multimedia di Kota Purwokerto serta perbedaan manajemen Prakerin antara SMK Negeri dan SMK Swasta di Kota Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Instrumen penelitian berupa angket. Subyek dalam penelitian adalah adalah peserta prakerin dari kompetensi keahlian Multimedia kelas XI, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, guru mata pelajaran produktif, guru pembimbing prakerin di SMK kompetensi keahlian multimedia, Tata Usaha, dan pembimbing prakerin dari DU/DI tahun ajaran 2013/2014. Analisis data untuk pengujian hasil penelitian mengunakan analisis data deskriptif kuantitatif (persentase) kemudian diinterpretasi dengan tingkat kecenderungan variabel yang dibedakan menjadi empat katagori yaitu sangat baik, baik, kurang baik, dan tidak baik. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji perbedaan dua rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen Program Praktik Kerja Industri Prakerin peserta didik SMK Program Keahlian Multimedia di Kota Purwokerto berada dalam kategori baik, dan tidak terdapat perbedaan manajemen Prakerin peserta didik SMK Program Keahlian Multimedia antara SMK Negeri dan SMK Swasta di Kota Purwokerto. | This study aims to analyze the management in Industrial Practice Program (Prakerin) for Students of Multimedia Study Program in Vocational High School in Purwokerto and to find the differences of management in industrial practice program (Prakerin) for students of multimedia study program in vocational high school in Purwokerto. The research uses survey method. Its instrument is questionnaire. The subjects are multimedia students grade XI, school principals, vice principals, teachers of productive subject matters, mentor teachers, school administrators, and counselors in business and industrial enterprises during 2013/2014 school year. Data analysis for testing the results of the research is quantitative descriptive (percentage) which is then interpreted by the level tendency of variables that divided into four categories: excellent, good, less good and not good. To test the differentiation it uses normality test, homogeneity test and test of two average differences. The results show that the management in industrial practice program (Prakerin) for students of multimedia study program in vocational high school in Purwokerto is in a good category, and there isn’t much differences in management during the implementation of the prakerin program in state and private vocational high schools in Purwokerto. | |
| 1850 | 11447 | D1E011094 | PENGUJIAN IN VITRO PROTEIN KONSENTRAT BUNGKIL BIJI JARAK (Jatropha curcas) FERMENTASI SEBAGAI BAHAN PAKAN DITINJAU DARI KECERNAAN BAHAN KERING DAN ORGANIK | Penelitian berjudul Pengujian In Vitro Protein Konsentrat Bungkil Biji Jarak (Jatropha curcas) Fermentasi Sebagai Bahan Pakan Ditinjau dari Kecernaan Bahan Kering Dan Organik telah dilaksanakan pada tanggal 02 Maret sampai 21 Maret 2015. Bungkil biji jarak dapat dimanfaatkan sebagai pakan berkualitas, namun kendala utamanya adalah terdapat kandungan senyawa beracun. Agar dapat dimanfaatkan sebagai pakan yang berkualitas, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kandungan anti nutrisi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan fermentasi menggunakan Lactobacillus acidhophilus. Metode penelitian adalah eksperimental secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas RK ransum basal (80% tepung rumput gajah + 20% tepung rumput lamtoro), R0 (90% ransum basal + 10% PK-BBJ tanpa fermentasi), R1 (90% ransum basal + 10% PK-BBJF yang ditambah 2,5% bungkil kedelai), R2 (90% ransum basal + 10% PK-BBJF yang ditambah 2,5% tepung ikan), R3 (R1 +0,45% dicalsium phospat), R4 (R2 +0,45% dicalsium phospat). | A research entitled In Vitro Testing of Protein Concentrate of Jatropha curcas Seed meal Fermentation as Seen From Dry matter and Organic matter digestibility. This research was held from March 2nd until 15th March 2015. Jatropha curcas seed meal can be used as a quality feed, but the main obstacle is that there is a toxic compound. For the benefit as feed quality, efforts should be made to reduce the content of anti-nutrients. One of the efforts is by fermentation using Lactobacillus acidhophilus. The research method was experimental by in vitro using completely randomized design (CRD). The treatment were R0 (90% basal ration+ 10% Jatropha curcas L. seed meal without fermentation), R1 (90% basal ration+10% Jatropha curcas L. seed meal fermentation + 2.5% soybeans seed meal), R2 (90% basal ration+10% Jatropha curcas L. seed meal fermentation + 2.5% fish meal), R3 (R1 + 0.45% Dicalsium Phosphat), R4 (R2 + 0.45% Dicalsium Phosphat ) | |
| 1851 | 11448 | D1E011102 | PENAMBAHAN SUMBER NITROGEN DAN MINERAL PADA PROSES FERMENTASI PROTEIN KONSENTRAT BUNGKIL BIJI JARAK DITINJAU DARI PRODUKSI VFA DAN N-NH3 SECARA IN VITRO | Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penambahan sumber nitrogen dan sumber mineral pada protein konsentrat bungkil biji jarak (Jatropa curcas) fermentasi ditinjau dari produksi VFA dan N-NH3 secara in vitro. Penelitian dilakukan secara eksperimental, menggunakan uji in vitro. Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah (1) produksi VFA dan (2) produksi N-NH3. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Steel dan Torrie (1995), dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang akan diuji sebagai berikut: (R0 : 90% pakan basal + 10% PK-BBJ tanpa fermentasi, R1 : 90% pakan basal + 10% PK-BBJF yang mengandung 2,5% bungkil kedelai, R2 : 90% pakan basal + 10% PK-BBJF yang mengandung 2,5% tepung ikan, R3 : 90% pakan basal + 10% PK-BBJF yang mrngandung 2,5% bungkil kedelai dan 0,45% dicalsium phosphate, R4 : 90% pakan basal + 10%PK -BBJF yang mengandung 2,5% tepung ikan dan 0,45% dicalsium phosphate). | This research purpose was to assess the effect of the addition of nitrogen source and mineral resources on jatropha seed cake protein concentrates (Jatropa curcas) fermentation in terms of production of VFA and N-NH 3 in vitro. The research method was experimental, using an in vitro study. The parameters measured in this study were (1) the production of VFA and (2) the production of N-NH3. The experimental design used was Complete Randomized Design (CRD) according to Steel and Torrie (1995), with 5 treatments and 4 replications. Treatments consisted of : (R0: 90% + 10% basal feed protein concentrates of Jatropa curcas seed meal without fermentation, R1: 90% + 10% basal feed protein concentrates of Jatropa curcas seed meal fermentation containing 2.5% soybean meal, R2: 90% basal feed + 10% protein concentrates of jatropa curcas seed meal fermentation containing 2.5% fish meal, R3: 90% + 10% basal feed protein concentrates of Jatropa curcas seed meal fermentation containing 2.5% soybean meal and 0.45% dicalsium phosphate, R4: 90% baic feed + 10% protein concentrates of Jatropa curcas seed meal fermentation containing 2.5% fish meal and 0.45% dicalsium phosphate). | |
| 1852 | 11451 | A1H010018 | UJI PERFORMANSI ALAT PENGGORENG TIPE SILINDER BERPUTAR HSF D50 PADA PENGGORENGAN KERUPUK UDANG | Penggorengan merupakan proses pemasakan pangan yang sudah lama di lakukan,melalui kontak dengan media penghantar panas dan dilakukan pada suhu tinggi. Penggunaanalat penggoreng tipe silinder degan media penghantr panas menggunakan pasir merupakan salah satu alternatif dalam proses penggorengan. Penelitian ini di lakukan menggunakan alat penggoreng kerupuk tipe silinder berputar HSF D50 manual. Uji performansi yang dikaji pada alat penggoreng kerupuk meliputi profil suhu, kapasitas optimal, waktu pemanasan pasir dan waktu pematangan kerupuk, kadar air bahan, jumlah air yang teruapkan, efisisensi termis, dan daya putar silinder. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kapasitas alat penggoreng tipe silinder berputar HSF D50 dalam menggoreng kerupuk, daya putar silinder pada alat penggoreng yang dibutuhkan dalam menggoreng kerupuk, efisiensi termal dari alat penggoreng tipe silinder berputar. Variable yang diamati meliputi kapasitas kerja alat penggoreng yang di tinjau dari profil suhu dan kapasitas optimal alat, waktu yang dibutuhkan untuk menggoreng kerupuk, kadar air bahan dan jumlah air yang teruapkan. Data hasil pengukuran yang di analisis adalah daya putar silinder dan efisiensi termal. Hasil penelitian menunjukan bahwa alat penggoreng mempunyai kapasitas optimum 8,186 kg/jam dan jumlah sekali proses penggorengan 0.52 kg/proses, daya putar silinder dengan menggunakan beban (pasir) 18,463 Watt, dengan masing-masing suhu suhu yaitu 185ºC≤ t <195ºC dan 195ºC≤ t <205ºC diperoleh nilai efisiensi termal 24,02%, dan 15,23%. | Frying is a cooking process of food that had long done, take place through contacts with the media and made of heat at high temperatures. The use of cylinder type fryer whith medium heat conductor using sand is one alternative in the frying process. This study used fryer crackers rotating cylinder type HSF D50 manually. Test performance is assessed in the profile include crackers fryer tempereature, optimal capacity appliance, heating time and the time of maturation crackers sands, the water content of the material, the amount of entrained water, thermal efficiency, and power rotary cylinder. The purpose of this study was to determine the capacity of a rotating cylinder type fryer deep fry crackers, turn the power clylinder to the required fryer deep fry crackers, the thermal efficiency of the rotating cylinder type fryer. Variables observed were working capacity fryer that in terms of the temperature profile and the optimal capacity of the tool, the time required, the water content of the material and the amount of entrained water. Measurement data is analyzed power and thermal efficiency rotary cylinder. The results showed that the optimal capacity fryer has 8,186 kg/hour and oce the amount of 0.52 kg/process, power rotary cylinder by using the load (sand) 18,463 Watts, each temperature is the temperature of 185ºC≤ t <195ºC and 195ºC≤ t <205ºC values obtained thermal efficiency of 24,02% and 15,23%. | |
| 1853 | 11617 | F1G011006 | PEMBENTUKAN VERBA MAJEMUK DALAM BAHASA INDONESIA | Penelitian ini berjudul “Pembentukan Verba Majemuk dalam Bahasa Indonesia”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembentukan dan makna gramatikal verba majemuk dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung verba majemuk dalam surat kabar Kompas, Radar, dan situs online Kompasiana.com. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak yang diwujudkan dengan teknik dasar sadap, dan teknik lanjutannya catat. Penelitian ini menggunakan dua metode analisis data yaitu agih dan padan. Metode agih digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yang pertama yaitu proses pembentukan verba majemuk dengan teknik dasar bagi unsur langsung dan teknik lanjutannya adalah teknik balik dan sisip. Metode padan digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yang kedua yaitu makna gramatikal verba majemuk dalam bahasa Indonesia dengan teknik dasar padan referensial dan teknik lanjutannya adalah hubung banding memperbedakan. Hasil penyajian data disajikan secara informal. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembentukan verba majemuk meliputi tiga jenis yaitu verba majemuk dasar (30 data) dengan lima komponen pembentukan yaitu verba + nomina (11 data), verba + verba (7 data), adjektiva + verba (3 data), verba + adjektiva (8 data), dan nomina + verba (1 data), verba majemuk berafiks (16 data) dengan tiga jenis pembentukan yaitu verba majemuk berafiks terikat (5 data), verba majemuk berafiks bebas dengan dasar verba (6 data), dasar nomina (3 data), dan dasar adjektiva (1 data), lalu verba majemuk berafiks yang pangkalnya telah berafiks terlebih dahulu (1 data), , dan verba majemuk berulang ( 1 data). Makna gramatikal verba majemuk terdapat tiga jenis yaitu makna yang berunsur idiomatis (10 data), semiidiomatis (12 data), dan nonidiomatis (25 data). | The tittle of this study is "The Formation of Compound verbs in Indonesian". The purpose of this study is to describe the process of formation and grammatical meaning of the compound verbs in Indonesian. This is a qualitative descriptive study. The data in this study are the sentences that are containing the compound verbs in Kompas daily, Radar daily, and Kompasiana.com websites. This study used observation method with tapping technique as the basic technique and noting technique as the subsequent techniques. This study used two methods to analyze the data, there are distributional method and identity method. Distributional method was used to analyze the first formulation of the problem: the formation process of compound verbs in Indonesian with immediate constituent analysis technique as the basic techniques while deletion and inline technique as the subsequent technique. Identity method was used to analyze the second formulation of the problem: grammatical meaning of the compound verbs in Indonesian with referential technique as the basic techniques while connect and compare distinguish technique as the subsequent technique. The results were presented in informal. Based on the analysis and discussion, it can be summarized that there are three types of compound verbs formations: basic compound verbs(30 data), affixed compound verbs (16 data), and repetitive compound verbs (1 data). From those compound verbs formation, there are five components of the basic compound verbs formation: verb + noun (11 data), verb + verb (7 data), adjective + verb (3 data), verb + adjective (8 data), and noun + verb (1 data), while there are three formation types of the affixed compound verbs: bound affixed compound verbs (5 data), affixed compound verbs with free basic verb (6 data), basic nouns (3 data), and basic adjectives (1 data), then the affixed compound verbs that the root have affixed first (1 data), and repetitive compound verbs (1 data). There are three types of grammatical meaning of compound verbs: idiomatic meaning element (10 data), semi-idiomatic (12 data), and non-idiomatic (25 data). | |
| 1854 | 11694 | G1D011053 | HUBUNGAN HARGA DIRI DENGAN KEPATUHAN PERAWATAN PASIEN DM TIPE 2 DI KECAMATAN WANGON | Latar Belakang: Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan. Cara yang dapat dilakukan adalah menjaga kadar glukosa darah tetap stabil. Menjaga agar kadar glukosa darah agar tetap stabil dapat dilaksanakan dengan menjalani kepatuhan terhadap perawatan pasien DM. Pasien dengan penyakit kronis seperti DM berpotensi mempengaruhi tingkat depresi. Pasien DM dengan depresi ditandai dengan menurunnya harga diri sehingga akan menimbulkan kehilangan minat, pandangan terhadap masa depan suram, serta tidak dapat melakukan kegiatan dengan baik termasuk juga dalam menjalani kepatuhan perawatan pasien DM tipe 2. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan harga diri dengan kepatuhan perawatan pasien DM tipe 2 di Kecamatan Wangon. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik quota sampling dengan jumlah sampel sebanyak 67 responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner DSMQ untuk mengukur kepatuhan perawatan pasien DM tipe 2 serta kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale untuk mengukur harga diri. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil: Hasil analisis menggunakan uji Spearman menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p<0,05) dan nilai r hitung sebesar 0,406. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara harga diri dengan kepatuhan perawatan pasien DM tipe 2 di Kecamatan Wangon | Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease which is not curable. The way to prevent this disease is by maintaining blood glucose in stable levels. Keeping blood glucose in stable levels can be implemented with the adherence of DM patient. Patients who suffer chronic disease such as DM can affect their level of depression. DM patients who depresive can be known from the decreasing of their self-esteem so that they will lose their interest, no view of future, and not capable to do anything well, including in doing adherence of type 2 DM. Objective: The objective of this study is to determine the relationship between self-esteem and adherence of type 2 DM patients at Wangon district. Methods: This study uses a cross sectional design. To collect the sample of the research, the researcher uses quota sampling technique with a total sample of 67 respondents. To collect the data, the researcher used DSMQ questionnaire for measuring the adherence of type 2 DM patients and used Rosenberg Self-Esteem Scale to measure the self-esteem. The result of the study will analysed by using Somers’d test. Result: The results of the analysis which use Somers’d test shows p score of 0,001 (p<0,05) and r score of 0,406. Conclusion: There is a significant relationship between self-esteem and adherence of type 2 DM patients at Wangon District. | |
| 1855 | 11768 | A1M011002 | Kajian Fisikokimia Dan Sensori Minuman Tradisional Berbahan Dasar Rempah-Rempah dan Nira Berbentuk Serbuk Dan Cair | Minuman tradisional dibuat dengan bahan dasar jahe, kunyit, temulawak, kencur, dan rempah-rempah tambahan berupa kapulaga, cengkeh, sereh dan sirih hijau. Penelitian ini menggunakan nira sebagai bahan dasar dan pemanis, serta minuman tradisional dibuat dalam bentuk serbuk dan cair. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jenis minuman dan bentuk minuman terhadap sifat fisikokimia dan sensoris minuman tradisional serta membandingkan sifat fisikokimia dan sensoris masing-masing jenis minuman bentuk serbuk dan cair. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan dengan 16 kombinasi perlakuan dan diulang 2 kali sehingga diperoleh 32 unit percobaan. Faktor yang dicoba meliputi tiga faktor yaitu 1) jenis minuman (A) terdiri dari jahe (A1); kunyit asam (A2); temulawak asam (A3); beras kencur (A4); 2) rempah tambahan (B) terdiri dari tanpa rempah tambahan (B1); dengan rempah tambahan (B2); 3) bentuk minuman (C) terdiri dari serbuk (C1); cair (C2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A4B1C2 (minuman beras kencur tanpa rempah tambahan bentuk cair) merupakan kombinasi jenis minuman terbaik dengan karakteristik pH sebesar 7,75, rendemen sebesar 26,00 %, warna cokelat kekuningan (3,45), kenampakan sedikit bening (3,13), rasa manis sedikit manis (3,55), rasa pahit kurang pahit (4,03), serta terdeteksi adanya senyawa flavonoid. | Traditional drink made with basic material such as ginger, saffron, curcuma, galingale, and additional spices such as cardamom, clove, and lemongrass. This research using coconut sap as the basic sweetening substance, Traditional drink made in from granule and liquid. The purpose of this researce is among others to know the influence of each type of drink, addition of spices on traditional drink, and the form of drink to physcochemical and sensory and compare the nature of physcochemical and sensory of each type of drink in from of granule and liquid. The method of this research is experimental method with randomized block design (RAK) which is arranged in a factorial with 16 combinations of treatment and repeated 2 times to obtain 32 units of trial. Factors to be tested includes three factors: 1) the type of drink (A) consists of; ginger (A1), saffron acid (A2), curcuma acid (A3), and rice galingale (A4); 2) additional of spices (B) consists of without additional spices (B1), and with additional spices (B2); 3) the form of drink (C) consists of granule (C1), and liquid (C2). The result showed that best treatment is A4B1C2 (beverages rice galingale without additional spices its liquid form ) which has a pH value of 7,75, has a yellowish brown color (3,45), slightly clear appearance (3,13), a slightly sweet taste (3,55), (2,433), bitter taste less bitter (4.03), slightly unpleasant flavor (3,25), as well as the level of favorite rather like (3,35), and positive contains flavonoids as bioactive containt. | |
| 1856 | 11751 | D1E011066 | HUBUNGAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN PENDAPATAN DAN PARTISIPASI PETERNAK AYAM KAMPUNG DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI KABUPATEN PURBALINGGA | Penelitian berjudul Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Pendapatan dan Partisipasi Peternak Ayam Kampung dalam Pengambilan Keputusan di Kabupaten Purbalingga dilaksanakan mulai bulan Februari 2015 sampai Maret 2015. Penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengetahui tingkat motivasi berprestasi peternak ayam kampung di Kabupaten Purbalingga, 2. Mengetahui tingkat pendapatan dan tingkat partisipasi peternak ayam kampung dalam pengambilan keputusan di Kabupaten Purbalingga, 3. Mengetahui hubungan tingkat motivasi berprestasi dengan tingkat pendapatan dan tingkat partisipasi peternak ayam kampung dalam pengambilan keputusan di Kabupaten Purbalingga. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Sasaran Penelitian adalah peternakan ayam kampung di Kabupaten Purbalingga. Penetapan sampel wilayah menggunakan metode Purposive Sampling yaitu dengan memilih kecamatan yang memiliki populasi ayam kampung paling paling banyak, yaitu Kecamatan Padamara, Kecamatan Kutasari, dan Kecamatan Kemangkon, dari masing-masing kecamatan dipilih dengan menggunakan metode Stratisfied Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi berprestasi masuk dalam kategori sedang, hal tersebut dikarenakan faktor motivasi eksternal lebih menonjol diantaranya adalah ayam kampung memiliki prospek yang menjanjikan dan permintaan daging ayam kampung yang tinggi, tingkat pendapatan peternak rendah karena jumlah ternak kebanyakan dibawah 15 ekor dan peternak memelihara ayam kampung sebagai hiburan maupun tambahan penghasilan keluarga, tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan di Kabupaten Purbalingga sedang, wujud dari partisipasi peternak yaitu memberi saran, pengaruh maupun partisipasi dalam pengambilan keputusan dalam memutuskan panca usaha ternak. Variabel motivasi berprestasi eksternal berhubungan dengan partisipasi dalam pengambilan keputusan dan pendapatan, motivasi berprestasi internal hanya berhubungan dengan partisipasi dalam pengambilan keputusan, sedangkan dengan pendapatan tidak berhubungan. | The study entitled relationship with Revenue Achievement Motivation and Participation in Decision Making Native Chicken Farmers of Purbalingga implemented starting in February 2015 until March 2015. This study aimed to 1. Knowing the level of achievement motivation native chicken farmers in Purbalingga, 2. Knowing the level of income and the level of participation chicken farmers in decision-making in Purbalingga, 3. Knowing the correlation between achievement motivation and the level of income and the level of participation chicken farmers in decision-making in Purbalingga. The study was conducted by survey method. Research targets are commercial native chicken farms in Purbalingga. Determination of the sample areas using purposive sampling methods was to choose a district that has a population of native chicken at most, the District Padamara, District Kutasari, and the District Kemangkon. From each district were selected using Stratisfied Random Sampling methods. The results showed that the level of achievement motivation was included in the category of medium, it is due to external motivation factors were more prominent among them including a promising prospect of native chicken and high demand of chicken meat, the low income of farmers was caused by the number of chicken ownership is under 15 chickens and farmers maintain native chicken for entertainment and side income, the level of participation in decision-making in Purbalingga was in medium category, forms of participation of farmers were giving advice, effect as well as participation in decision making in deciding five chicken business. Variable of external achievement motivation was related to participation in decision-making and income, internal achievement motivation was only related to participation in decision-making, while the income was not related. | |
| 1857 | 11772 | A1M011045 | PENGARUH JENIS BAHAN PERENDAM DAN WAKTU PERENDAMAN PADA PEMBUATAN BERAS SORGUM INSTAN | Konsumsi beras meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan keterbatasan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan beras sebagai pangan pokok masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah diversifikasi pangan, yaitu pemanfaatan pangan non beras. Sorgum merupakan tanaman serealia yang berpotensi sebagai pengganti beras. Penelitian bertujuan untuk: 1. menentukan jenis bahan perendam dan lama perendaman yang tepat untuk menghasilkan beras sorgum instan dengan mutu terbaik dari aspek fisik, kimia, dan sensori; 2. menentukan kombinasi perlakuan antara jenis bahan perendam dan lama perendaman yang dapat menghasilkan beras sorgum instan terbaik dari aspek fisik, kimia, dan sensori. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor yang diteliti adalah jenis bahan perendam (J) terdiri atas : Na2HPO4 (J1), natrium bikarbonat (soda kue) (J2), dan air (J3); dan waktu perendaman terdiri atas 6 jam (L1), 9 jam (L2), dan 12 jam (L3). Diperoleh 9 kombinasi perlakuaan dengan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Kombinasi dengan hasil terbaik adalah perlakuan sorgum yang direndam dengan Na2HPO4 selama 6 jam (J1L1) dengan karakteristik beras sorgum instan sebagai berikut: kadar air (5,30% bb), protein (9,88% bk), lemak (6,47% bk), abu (1,41% bk), dan karbohidrat by difference (76,91%). Karakteristik nasi sorgum instan yang dihasilkan sebagai berikut: kadar air (57,20% bb), protein (11,79% bk), lemak (5,07% bk), abu (0,97% bk), dan karbohidrat by difference (24,95%), warna putih kekuningan (4,22), tekstur agak pulen (3,15), rasa enak (4,06), tidak langu (2,05), dan dengan kesukaan agak suka (3,71). | Rice consumption has been increasing since years ago alongside with the population growth have made an impact to the government on fulfilling rice demand as one of the society’s basic needs. One of the efforts that government has done is food diversification, the utilization of non-rice food. Sorghum is one of the cereals that have the potential as the substitution of rice. These research objectives are: 1. Determine the types of the marinate material and the duration of the marinate process to produce instant sorghum rice with best quality through various aspects such as physical, chemical, and sensory aspects; 2. Determine the treatment combination between types of marinate material and the duration of the marinate process that could create the best instant sorghum rice through physical, chemical, and sensory aspects. This research used factorial randomized complete block design (RCBD). Factor tested were kinds of the marinate material (J) : Na2HPO4 (J1) ; baking soda (J2) ; water (J3), and the duration of the marinate (L) : 6 hours (L1) ; 9 hours (L2) ; 12 hours (L3). Therefore was obtained 9 treatment combinations by 3 times repetition, so those were 27 experiment units. Observations were made on physical, chemical, and sensory variables instant sorghum rice. Physical variables consist of yield and bulk density. Chemical variables consist of proximate analysis (water content, ash content, protein, fat, and carbohydrate by difference). Sensory variable consist of color, flavor, off-flavor, texture, and hedonic preference. Combination with the best result is sorghum treatment that has been marinated with Na2HPO4 for 6 hours (J1L1) with the characteristics of instant sorghum rice: water content 5,30 (%wb), protein 9,88 (%db), fat 6,47 (%db), ash 1,41 (%wb), and carbohydrate by difference 76,91%. Characteristics of cooked instant sorghum rice: water content 57,20 (%wb), protein 11,79 (%db), fat 5,07 (%db), ash 0,97 (%db), and carbohydrate by difference 24,95%, with sensory feature such as the color of yellowish white, quite tender texture, delicious flavor, no unpleasant smell, and with favourability scored with “quite liked” by the respondents. | |
| 1858 | 11460 | B1J011115 | ANALISIS KEKERABATAN BEBERAPA KULTIVAR UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) BERDASARKAN PENANDA RAPD | Indonesia mempunyai tingkat keragaman plasma nutfah ubi jalar (Ipomoea batatas L.) yang tinggi yang diperoleh melalui upaya eksplorasi. Teknologi di bidang pemuliaan tanaman ubi jalar telah banyak menghasilkan kultivar baru yang lebih unggul. Informasi tentang hubungan kekerabatan sangat diperlukan untuk menjaga dan mempertahankan keragaman genetik yang tinggi guna mendukung pengembangan dan perakitan kultivar ubi jalar unggul yang baru. Informasi tentang hubungan kekerabatan genetik antar kultivar dapat diketahui berdasarkan karakter tanaman, salah satunya karakter molekuler yaitu dengan menggunakan penanda RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara 8 kultivar ubi jalar menggunakan 10 primer berdasarkan teknik RAPD. Kesepuluh primer yang digunakan yaitu OPA-1, OPA-2, OPA-3, OPA-4, OPA-9, OPA-11, OPA-13, OPA-15, OPA-16, dan OPA-18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 primer yang digunakan, diperoleh 9 primer yang menghasilkan pita polimorfik (90.4%) dan 1 primer lainnya yaitu OPA-18 mengahasilkan pita monomorfik. Tingkat kemiripan genetik berkisar antara 0.37-0.93. Dendogram yang dibangun menggunakan UPGMA pada program NTSYS pc-2.02i menunjukkan bahwa pada koefisien 55% terbentuk 2 kelompok yang tidak spesifik. Kelompok pertama terdiri dari satu kultivar (I. batatas ‘Cangkuang’) dan kelompok kedua terdiri dari tujuh kultivar (I. batatas ‘Antin’, ‘Ungu Tua’, ‘Borobudur’, ‘Sukuh’, ‘Sari’, ‘Beta’, dan ‘Kidal’). Tingkat kekerabatan paling dekat ditunjukkan oleh I. batatas ‘ Daya’ dan I. batatas ‘Borobudur’ dengan koefisien similaritas sebesar 93%, sedangkan kultivar yang memiliki hubungan kekerabatan paling jauh yaitu I. batatas ‘Cangkuang’ dengan I. batatas ‘Antin’ dengan koefisien similaritas mencapai 37%. Pengelompokkan menunjukkan kemungkinan bahwa kultivar-kultivar tersebut tersebar dari sumber daya genetik yang sama. | Indonesia has high diversity of sweet potato (Ipomoea batatas L.) germplasms that are produced by exploration efforts. Sweet potato plant breeding technology has already produced a great number of new high quality cultivars. Information about genetic relationship is needed to retain the high diversity of sweet potato cultivars. The information is based on their molecular characteristics. One way to analyze their relationship is by using RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) marker. The aim of this study was to determine the relationships among eight sweet potato cultivars by using ten primers based on RAPD technique. Ten primers that were use were OPA-1, OPA-2, OPA-3, OPA-4, OPA-9, OPA-11, OPA-13, OPA-15, OPA-16, and OPA-18. The results showed that nine out of ten primers could detect polymorphic bands (90.4%). OPA-18 was the one that produced monomorphic band. Genetic similarity level ranged from 0.37 to 0.93. Two unspecific groups were formed at coefficient of 55% from dendogram which are resulted from UPGMA on NTSys pc-2.02i program. The first group consisted one cultivar (i.e. Ipomoea batatas ‘Cangkuang’). The second group consisted of seven cultivars (i.e. Ipomoea batatas ‘Antin’, ‘Ungu Tua’, ‘Borobudur’, ‘Sukuh’, ‘Sari’, ‘Beta’, and ‘Kidal’). The nearest relationships were Ipomoea batatas ‘Borobudur’ and ‘Ungu Tua’ had the highest similarity coefficient with percentage of 93%. The lowest similarity coefficient were found between Ipomoea batatas ‘Cangkuang’ and ‘Antin’ with percentage of 37%, so both had the farthest relationships. Cultivars of each group indicated possibility of the same genetic resource. | |
| 1859 | 11504 | A1C008020 | EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI KENTANG PROGRAM SLPHT DI KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA | Kentang merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura pengganti beras yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Komoditas kentang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat yang berguna dalam menunjang diversifikasi pangan non beras dan bernilai gizi tinggi. SLPHT merupakan program sekolah lapang pengendalian hama terpadu yang mempunyai tujuan untuk meminimalisir penggunaan bahan-bahan kimia dan menekan gangguan organisme pengganggu tanaman. Kecamatan Karangreja merupakan salah satu wilayah yang telah lama menjadi sentra tanaman hortikultura salah satunya kentang. Tujuan penelitian adalah mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh petani, mengetahui pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani kentang terhadap hasil produksi kentang, dan mengetahui efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani kentang di Kecamatan Karangreja. Metode Penelitian yang digunakan adalah survei. Pemilihan desa dilakukan secara purposive yaitu di Desa Kutabawa dan Desa Serang dikarenakan hanya di dua desa tersebut terdapat petani kentang yang menerapkan program SLPHT. Penentuan responden secara sensus, karena petani peserta SLPHT hanya 30 orang. Pengambilan data dilaksanakan dari 4 September sampai 27 November 2014, dengan sasaran penelitian petani peserta program SLPHT. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, pendapatan, fungsi produksi Cobb-Douglas, dan analisis efisiensi penggunaan faktor produksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: penerimaan rata-rata per hektar per musim tanam pada usahatani kentang di Kecamatan Karangreja adalah Rp91.673.394,00, biaya produksi per hektar sebesar Rp39.471.359,00 dan pendapatan per hektar sebesar Rp52.202.035,00. Faktor produksi yang berpengaruh nyata pada usahatani kentang adalah luas lahan dan tenaga kerja, sedangkan faktor produksi benih, pupuk urea, ZA dan pestisida berpengaruh tidak nyata. Penggunaan faktor produksi luas lahan belum efisien karena nilai NPMXi/PXi lebih besar dari satu, sedangkan penggunaan faktor produksi tenaga kerja tidak efisien karena nilai NPMXi/PXi lebih kecil dari satu. | Potato is one of the horticultural crops commodities that subtitutes rice which has a high economic value. The potato commodity has the potential to be developed as a source of carbohydrates which are useful in supporting non-rice food diversification and high nutritional value. Karangreja sub-district, is an one area that has long been a center for horticultural crops, one of them is potato. The research objective was to determine the amount of costs incurred and the income earned by the farmer, to know the influence of the factors of production in potato farming to potato production results, and to determine the efficiency of the use of factors of production in potato farming in the Karangreja subdistrict. The method used in this research was a survey. The village selection is done surposively in the village of Kutabawa and Serang because in these two villages there are potato farmers who apply the SLPHT program. Determination of the respondents conducted by census, since farmers participating in SLPHT are 30 people. The data collection was carried out in September to November 2014, with targeted research is a program participants FFS farmers. Data were analyzed using analysis of costs, revenues, Cpbb-Douglas production function, and analysis of the use of factors of production. The results showed that: the average revenues per hectare of potatoes demand in the Karangreja subdistrict is Rp91,673,394.00. And the average cost of production per hectare is Rp39,471,359.00. The factors that is affecting the production of the farm is land and labor, while the factors of production of seed, fertilizer urea, ZA, and pesticides had no effect. The use of factors of land area production is not yet efficient because the value of NPMxi / PXI is greater than one, while the use of factors of labor production is inefficient because the value NPMxi / PXI is smaller than one. | |
| 1860 | 11446 | E1A011228 | Perlindungan Hukum terhadap Korban Tindak Pidana Perkosaan dalam Proses Pemeriksaan di Tingkat Kepolisian (Studi di Polda Metro Jaya) | Berdasarkan sifat alaminya negara memiliki tanggung jawab dalam memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya, dalam hal ini termasuk kepada korban perkosaan. Selama ini korban terlupakan dalam sistem peradilan pidana, aturan yang ada cenderung berorientasi pada pelaku. Dalam proses pemeriksaan oleh kepolisian korban hanya diposisikan sebagai alat bukti sedangkan haknya seringkali terabaikan. Korban tidak hanya menderita kerugian fisik dan psikis, bahkan harta benda sehingga sudah sepantasnya korban mendapat perlindungan hukum guna memulihkan kondisinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis perlindungan hukum yang diberikan kepolisian dalam proses pemeriksaan terhadap korban perkosaan dan mengetahui hambatan yang dihadapi oleh kepolisian. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis dan spesifikasi penelitian deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer berupa hasil wawancara dan observasi terhadap kepolisian serta korban dan data sekunder berupa peraturan perundangan, buku literatur, dokumen resmi, serta situs internet. Metode penentuan informan menggunakan Purposive Sampling dengan Criterian Based Selection dan metode analisis data secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa perlindungan hukum yang diberikan oleh kepolisian terhadap korban perkosaan dalam proses pemeriksaan berlandaskan pada Pasal 5 (1) dan Pasal 6 UU No 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, namun terdapat sejumlah hak yang belum diberikan. Hal yang menghambat perlindungan hukum berasal dari faktor hukum dan faktor sarana dan fasilitas. Saran yang diberikan adalah dibuat aturan mengenai prosedur pemberian perlindungan hukum, diadakan pemenuhan sarana dan fasilitas bagi kepolisian, dilakukan peningkatan kualitas dan kuantitas penyidik dan perlu sosialisasi bagi masyarakat mengenai kesadaran hukum serta bagi kepolisian mengenai pentingnya perlindungan hukum bagi korban. | Based on its nature the state has a responsibility to provide legal protection to its citizens, in this case, including the victim of rape. This whole time, victims tend to be forgotten in the criminal justice system, the rules tend to be oriented to the perpetrators. In the process of investigation by the police, victim only positioned as an evidence, while their rights are often neglected. Victims not only suffer physical and psychological damages, but also the lost of property so it is appropriated that the victims received appropriate legal protection in order to restore the physical and psychological condition. The purposes of this research was to determine and analyze the legal protection provided by the police in the process of investigation the victim of rape and determine the obstacles faced by the police in Polda Metro Jaya. This research formulated by using sociological juridical approach and the specifications was descriptive. The data used are primary data in the form of interviews and observations of the police also the victims of rape and secondary data in the form of legislation, literature books, official documents , also internet sites. The method of determining informants used Purposive Sampling with Criterian Based Selection and qualitative data analysis. Based on the results of the research found that the legal protection provided by the police to the victims of rape in the process of investigation is based on Article 5 (1) and Article 6 of Law No. 31 Year 2014 on the Amendment of Law No. 13 of 2006 on the Protection of Witnesses and Victims, however there are a number of victim’s right who has not been granted by the police. Things that impede legal protection comes from legal factors also the means and facilities factors. The advice given is made rules that explicitly describes the procedures for granting legal protection, the fulfillment of facilities for police, improvement the quality and quantity of investigators at Polda Metro Jaya, and socialization to the public about the awareness of law also the police awareness of the importance of legal protection for victims. |