Artikelilmiahs

Menampilkan 49.821-49.840 dari 49.863 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4982152270C1C022111Analisis Abnormal Return dan Trading Volume Activity Akibat Invasi Rusia ke Ukraina pada Perusahaan Sektor Energi dan Sektor Barang Konsumsi Primer yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan abnormal return dan trading volume activity sebelum dan sesudah peristiwa invasi Rusia ke Ukraina pada perusahaan sektor energi dan sektor barang konsumsi primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022 merupakan peristiwa geopolitik berskala global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia, khususnya pada komoditas energi dan pangan. Perubahan kondisi global tersebut dapat memengaruhi persepsi risiko investor serta tercermin pada pergerakan harga saham dan aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode event study. Populasi penelitian mencakup perusahaan sektor energi dan sektor barang konsumsi primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian diperoleh melalui teknik purposive sampling dengan kriteria kelengkapan data harga saham harian dan volume perdagangan selama periode estimasi dan jendela peristiwa, sehingga diperoleh 141 perusahaan sebagai sampel penelitian. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang bersumber dari publikasi resmi Bursa Efek Indonesia dan Yahoo Finance. Periode estimasi ditetapkan selama 65 hari bursa sebelum peristiwa (t-65 sampai t-1), sedangkan jendela peristiwa mencakup 10 hari bursa di sekitar tanggal kejadian, yaitu lima hari sebelum (t-5 sampai t-1) dan lima hari sesudah (t+1 sampai t+5). Perhitungan abnormal return menggunakan Single Index Model. Analisis data dilakukan melalui statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, serta pengujian hipotesis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan pada sektor energi sebelum dan sesudah peristiwa invasi Rusia ke Ukraina. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa pasar merespons informasi geopolitik yang berkaitan langsung dengan komoditas energi. Trading volume activity pada sektor energi juga menunjukkan perbedaan signifikan yang mencerminkan peningkatan aktivitas perdagangan sebagai bentuk penyesuaian portofolio investor. Abnormal return pada sektor barang konsumsi primer tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa sektor tersebut relatif stabil terhadap guncangan geopolitik dalam jangka pendek. Trading volume activity pada sektor barang konsumsi primer menunjukkan perbedaan signifikan yang mencerminkan adanya penyesuaian intensitas transaksi meskipun perubahan harga tidak signifikan.

Temuan penelitian memberikan implikasi bahwa dampak peristiwa geopolitik terhadap pasar modal bersifat sektoral dan dipengaruhi oleh tingkat sensitivitas fundamental masing-masing industri terhadap perubahan kondisi ekonomi global. Sektor energi menunjukkan karakteristik yang lebih responsif terhadap informasi eksternal, sedangkan sektor barang konsumsi primer cenderung bersifat defensif. Hasil ini memberikan kontribusi empiris terhadap kajian reaksi pasar dalam kerangka Efficient Market Hypothesis bentuk semi-kuat serta memperkuat pentingnya strategi diversifikasi sektor dalam pengelolaan portofolio investasi.
This study aims to examine the differences in abnormal return and trading volume activity before and after the Russia-Ukraine invasion event in energy sector and consumer staples sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The Russia-Ukraine invasion on February 24, 2022, represents a global geopolitical event with the potential to disrupt global economic stability, particularly in energy and food commodities. Such global developments may influence investor risk perceptions and be reflected in stock price movements and trading activities in the Indonesian capital market.

This research adopts a quantitative approach using the event study method. The population consists of energy sector and consumer staples sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The sample was selected using purposive sampling based on the availability of complete daily stock price and trading volume data during the estimation and event windows, resulting in 141 companies as research samples. The data used are secondary data obtained from official publications of the Indonesia Stock Exchange and Yahoo Finance. The estimation period was set at 65 trading days prior to the event (t-65 to t-1), while the event window covered 10 trading days surrounding the event date, consisting of five days before (t-5 to t-1) and five days after (t+1 to t+5). Abnormal return was calculated using the Single Index Model. Data analysis was conducted through descriptive statistics, the Kolmogorov-Smirnov normality test, and hypothesis testing using the Wilcoxon Signed Rank Test.

The findings indicate a significant difference in abnormal return in the energy sector before and after the Russia-Ukraine invasion event. This result suggests that the market responded to geopolitical information directly related to energy commodities. Trading volume activity in the energy sector also shows a significant difference, reflecting increased trading intensity as investors adjusted their portfolios. Abnormal return in the consumer staples sector does not show a significant difference, indicating that this sector was relatively stable in the short term following the geopolitical shock. Trading volume activity in the consumer staples sector shows a significant difference, reflecting adjustments in trading intensity despite the absence of significant price changes.

The findings imply that the impact of geopolitical events on the capital market is sector-specific and influenced by each industry's sensitivity to changes in global economic conditions. The energy sector demonstrates a higher responsiveness to external information, while the consumer staples sector tends to exhibit defensive characteristics. These results provide empirical support for market reaction studies within the semi-strong form of the Efficient Market Hypothesis and highlight the importance of sectoral diversification strategies in portfolio management.
4982252249D1A022017Hubungan Pendidikan dan Jumlah Ternak dengan Tingkat Adopsi Inovasi Pembuatan Pupuk Kompos pada Peternakan Domba Sakub di Kabupaten Brebes Penelitian dengan judul Hubungan Pendidikan dan Jumlah Ternak Dengan Tingkat Adopsi Inovasi Pembuatan Pupuk Kompos Pada Peternakan Domba Sakub Di Kabupaten Brebes dilaksanakan pada tanggal 28 Januari - 3 Februari 2026 di Desa Wanareja Kecamatan Sirampog dan Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata tingkat pendidikan peternak domba sakub di Kabupaten Brebes, mengetahui rata-rata jumlah ternak domba sakub di Kabupaten Brebes, mengetahui tingkat adopsi inovasi pembuatan pupuk kompos di Kabupaten Brebes, menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dan jumlah ternak domba sakub di Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, Pemilihan wilayah dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu dengan memilih kecamatan yang menjadi sentra pengembangan domba Sakub di Kabupaten Brebes. Kecamatan yang terpilih adalah kecamatan Sirampog dan kecamatan Paguyangan. Berdasarkan kecamatan terpilih selanjutnya diambil dua desa secara dipilih secara purposive sampling yaitu desa Wanareja dan desa Pandansari.
Banyaknya responden ditentukan menggunakan rumus slovin dengan margin of error sebesar 10%, responden dipilih secara acak yaitu 110 peternak. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa peternak domba di Kabupaten Brebes memiliki tingkat pendidikan dann jumlah kepemilikan ternak yang masih rendah. Peternak domba sakub di Kecamatan Sirampog dan Paguyangan sudah sadar adanya adopsi inovasi pembuatan pupuk kompos dari limbah ternak tetapi hanya 31.8% yang mengadopsi, karena beberapa faktor yang menghambat untuk mengadopsi inovasi. Hasil analisis Rank Spearman menunjukkan pendidikan dan jumlah ternak mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan tingkat adopsi inovasi pembuatan pupuk kompos.
The research entitled “The Relationship between Education Level and Number of Livestock with the Level of Innovation Adoption in Compost Production among Sakub Sheep Farmers in Brebes Regency” was conducted from January 28 to February 3, 2026, in Wanareja Village, Sirampog District, and Pandansari Village, Paguyangan District, Brebes Regency. This study aimed to determine the average education level of Sakub sheep farmers in Brebes Regency, identify the average number of livestock owned, analyze the level of innovation adoption in compost production, and examine the relationship between education level and number of livestock with the level of innovation adoption.
The research employed a survey method. The study area was selected using purposive sampling by choosing districts that serve as development centers for Sakub sheep in Brebes Regency, namely Sirampog and Paguyangan Districts. From these districts, two villages were further selected purposively, namely Wanareja Village and Pandansari Village.
The number of respondents was determined using the Slovin formula with a margin of error of 10%, resulting in 110 randomly selected farmers. The data were analyzed using descriptive analysis and Spearman Rank correlation analysis. The results showed that Sakub sheep farmers in Brebes Regency generally have low levels of education and relatively small-scale livestock ownership. Although farmers in Sirampog and Paguyangan Districts are aware of the innovation of compost production from livestock waste, only 31.8% have adopted it due to several inhibiting factors. The Spearman Rank analysis indicated that education level and number of livestock have a moderate relationship with the level of innovation adoption in compost production.
4982352250C0A023042Proses Arsip Dokumen Kredit dan Upload pada Sistem BRIMEN di PT. Bank Rakyat Indonesia. Artikel ini membahas peran perkembangan teknologi dan digitalisasi dalam mengubah sistem pengelolaan
dokumen di berbagai sektor, khususnya sektor perbankan, guna meningkatkan efisiensi operasional dan keamanan
data. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menerapkan sistem BRIMEN sebagai solusi atas berbagai permasalahan yang
muncul pada sistem pengarsipan manual, seperti keterbatasan ruang penyimpanan, lamanya proses pencarian
dokumen, dan tingginya risiko kehilangan atau kerusakan dokumen fisik (Syahrir, 2025). Studi ini menggunakan
pendekatan eksperimental alami untuk mengevaluasi dampak penerapan sistem BRIMEN dalam pengelolaan
dokumen di Bank BRI. Dalam Implementasi ini menunjukkan bahwa penerapan BRIMEN memberikan
peningkatan signifikan terhadap efisiensi pengelolaan dokumen, terutama dalam hal percepatan proses pencarian,
kemudahan penyimpanan, serta pengurangan penggunaan arsip fisik. Dibandingkan dengan sistem manual
sebelumnya, BRIMEN terbukti lebih efektif dalam menjaga keamanan dan ketersediaan dokumen. Namun
demikian, efektivitas implementasi sistem BRIMEN masih dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perbedaan
kebijakan antar unit kerja dan tingkat kompetensi sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem. Oleh
karena itu, karyawan agar pemanfaatan BRIMEN dapat berjalan lebih optimal, akurat, dan berkelanjutan.
This article discusses the role of technological development and digitization in the transformation of document
management systems in various sectors, particularly the banking sector, in order to improve operational efficiency
and data security. Bank Rakyat Indonesia (BRI) implemented the BRIMEN system as a solution to various
problems that arose in manual filing systems, such as limited storage space, time-consuming document search
processes, and a high risk of physical document loss or damage (Syahrir, 2025). This study uses a natural
experimental approach to evaluate the impact of the BRIMEN system implementation on document management
at Bank BRI. This implementation shows that the application of BRIMEN provides a significant improvement in
document management efficiency, particularly in terms of speeding up the search process, ease of storage, and
reducing the use of physical archives. Compared to the previous manual system, BRIMEN has proven to be more
effective in maintaining document security and availability. However, the effectiveness of the BRIMEN system
implementation is still influenced by several factors, such as differences in policies between work units and the
level of competence of human resources in operating the system. Therefore, periodic system updates, search
feature enhancements, and ongoing training for employees are necessary to ensure that the use of BRIMEN is
more optimal, accurate, and sustainable.
4982452251F1B022060Evaluasi Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima: Studi Kasus Pedagang Kaki Lima di Alun-Alun Kabupaten PurbalinggaPenurunan jumlah pedagang kaki lima di lokasi relokasi Purbalingga Food Center menunjukkan bahwa kebijakan relokasi belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberhasilan kebijakan relokasi berdasarkan enam kriteria William N. Dunn. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan model evaluasi single program after-only. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan kebijakan belum optimal, ditandai dengan penurunan jumlah pedagang, rendahnya kunjungan, serta pendapatan yang belum stabil. Penelitian ini menyimpulkan adanya kesenjangan antara tujuan kebijakan dan kondisi lapangan, sehingga diperlukan perbaikan pada fasilitas, pengelolaan lokasi, dan respons kebijakan.This study examines the declining number of street vendors (micro entrepreneur) at the Purbalingga Food Center relocation site, indicating that the policy has not been fully optimal. It aims to evaluate the success of the relocation policy using six criteria proposed by William N. Dunn. A qualitative approach with a single program after-only model was used. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed interactively. The results show the policy remains suboptimal, reflected in fewer vendors, low visitor levels, and unstable income. The study concludes that the policy has not been successful due to a gap between objectives and field conditions, requiring improvements in facilities, site management, and policy responsiveness.
4982552254H1B022001Analisis Kebutuhan Informasi Pejabat Pembuat Komitmen untuk Rancangan Sistem Informasi Pengendalian Proyek Konstruksi Berbasis WebPejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang juga menjabat sebagai akademisi sering kali menghadapi beban kerja ganda akibat tanggung jawab manajerial proyek konstruksi dan kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi. Peran ganda tersebut menciptakan tantangan besar dalam manajemen waktu dan pengawasan proyek konstruksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis prioritas kebutuhan informasi sebagai dasar perancangan sistem informasi berbasis web yang mampu mendukung efektivitas kerja PPK dengan mobilitas tinggi tersebut. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) untuk identifikasi awal, serta Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) untuk menentukan bobot prioritas berdasarkan perspektif 6 responden pakar. Hasil penelitian mengidentifikasi enam alternatif kebutuhan informasi utama, di antaranya Kurva S, Informasi Proyek & Perubahan Kontrak, Register Risiko & Isu Kritis, Hasil Uji Mutu, Dokumentasi & Laporan, serta Network Schedule. Temuan menunjukkan bahwa kriteria "Mengurangi Risiko Keterlambatan dan Pembengkakan Biaya" (K5) menjadi prioritas utama dengan bobot 0,313 diikuti oleh kriteria "Meningkatkan Akurasi Pelaporan dan Akuntabilitas" (K3) dengan bobot 0,276. Instrumen informasi yang paling krusial adalah Network Schedule dengan bobot 0,411 untuk aspek mitigasi risiko waktu, dan Dokumentasi & Laporan dengan bobot 0,377 untuk aspek akuntabilitas. Temuan ini merekomendasikan pengembangan fitur pelacakan lintasan kritis dan manajemen dokumen digital sebagai fokus utama dalam perancangan sistem informasi pengendalian proyek konstruksi.Project Owners (locally known as PPK) who also serve as academics often face a dual workload due to their project management responsibilities and the obligations of the Higher Education Tridharma. This dual role creates significant challenges in time management and the supervision of construction projects. Therefore, this study aims to identify and analyze the priority of information needs for Project Owners as a basis for designing a web-based information system. The method used is Systematic Literature Review (SLR) with the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) protocol for initial identification, and Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) to determine priority weights based on the perspectives of 6 expert respondents. The study identified six main information alternatives, including S-Curves, Project Information & Contract Changes, Risk Registers & Critical Issues, Quality Test Results, Documentation & Reporting, and Network Schedules. The results showed that the criterion "Reducing the Risk of Delays and Cost Overruns" (K5) was the main priority with a weight of 0.313, followed by "Increasing Reporting Accuracy and Accountability" (K3) with a weight of 0.276. The most crucial information instruments are the Network Schedule with a weight of 0.411 for time risk mitigation, and Documentation & Reporting with a weight of 0.377 for accountability aspects. These findings recommend focusing on critical path tracking and digital document management features as the main priorities in the design of construction project control information systems.
4982652255H1E022073USULAN STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK YOGHURT DRINK KELOMPOK TANI TERNAK SUPRAH
BERDASARKAN PREFERENSI KONSUMEN MENGGUNAKAN METODE CHOICE-BASED CONJOINT
(CBC)
Kelompok Tani Ternak (KTT) Suprah di Kabupaten Banjarnegara merupakan kelompok peternak sapi perah yang selama ini memasarkan susu segar sebagai produk utama. Namun, rendahnya nilai jual susu segar dibandingkan produk olahan membatasi peningkatan pendapatan peternak. Oleh karena itu, KTT Suprah
berupaya melakukan diversifikasi usaha melalui pengembangan produk olahan susu bernilai tambah, salah satunya yoghurt drink. Produk ini dipilih karena proses
produksinya relatif sederhana, memiliki masa simpan lebih panjang, serta semakin diminati konsumen seiring meningkatnya kesadaran terhadap pangan fungsional yang mengandung probiotik. Namun, keberhasilan pengembangan produk ini sangat dipengaruhi oleh kesesuaian atribut produk dengan preferensi konsumen.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pengembangan produk berdasarkan preferensi konsumen pada Kelompok Tani Ternak Suprah sebagai studi kasus pengembangan usaha olahan susu lokal. Metode yang digunakan adalah Choice-Based Conjoint (CBC) untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap tiga atribut utama, yaitu rasa (original dan jahe), kemasan (pouch dan botol kaca), serta kombinasi harga (Rp3.000/50 ml dan Rp5.000/100 ml). Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada 125 responden, kemudian dianalisis dengan Multinomial Logit Model (MNL) untuk mengestimasi nilai utilitas parsial, tingkat kepentingan relatif atribut, serta melakukan simulasi pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut rasa merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi keputusan konsumen (61,88%), diikuti oleh kemasan (32,82%), sedangkan harga memiliki tingkat kepentingan relatif paling rendah dan tidak signifikan secara statistik (5,30%). Secara spesifik, varian rasa original dan kemasan pouch memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi konsumen. Hasil simulasi pasar
menunjukkan bahwa kombinasi produk yoghurt drink rasa original dalam kemasan pouch dengan harga Rp3.000 memiliki probabilitas pilihan tertinggi sebesar 74%, jauh lebih tinggi dibandingkan kombinasi rasa jahe dalam botol kaca dengan harga Rp5.000 sebesar 26%. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa pengembangan produk yoghurt drink sebaiknya memprioritaskan rasa original serta penggunaan kemasan pouch, dibandingkan hanya berfokus pada strategi penurunan harga. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan dasar pengambilan keputusan strategis bagi pengembangan produk olahan susu bernilai tambah guna meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha peternak skala kecil.
The Suprah Livestock Farmer Group in Banjarnegara Regency is a group of dairy farmers who have been marketing fresh milk as their main product. However, the low selling price of fresh milk compared to processed products limits the increase in farmers' income. Therefore, KTT Suprah is trying to diversify its business by developing value-added dairy products, one of which is yoghurt drink. This product was chosen because its production process is relatively simple, it has a longer shelf life, and it is increasingly in demand by consumers as awareness of functional foods containing probiotics increases. However, the success of this product development is greatly influenced by the suitability of the product attributes to consumer preferences. This study aims to design a product development strategy based on consumer preferences in the Suprah Livestock Farmers Group as a case study of local milk processing business development. The method used was Choice-Based Conjoint (CBC) to analyse consumer preferences for three main attributes, namely taste (original and ginger), packaging (pouch and glass bottle), and price combinations (Rp3,000/50 ml and Rp5,000/100 ml). Data was collected through questionnaires administered to 125 respondents, then analysed using the Multinomial Logit Model (MNL) to estimate partial utility values, relative attribute importance levels, and perform market simulations. The results showed that flavour was the most dominant factor influencing consumer decisions (61.88%), followed by packaging (32.82%), while price had the lowest relative importance and was not statistically significant (5.30%). Specifically, the original flavour and pouch packaging had a positive and significant influence on consumer preferences. Market simulation results show that the combination of original flavour yoghurt drink in pouch packaging at a price of IDR 3,000 has the highest selection probability of 74%, much higher than the combination of ginger flavour in glass bottles at a price of IDR 5,000 at 26%. This study implies that the development of yoghurt drink products should prioritise the original flavour and the use of pouch packaging, rather than focusing solely on price reduction strategies. This study contributes to providing a basis for strategic decision-making in the development of value-added dairy products to improve the competitiveness and sustainability of small-scale dairy farmers' businesses.
4982726754G1I014038HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Abstrak

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Angger Widorotama

Latar Belakang : Tendangan Sabit merupakan jenis tendangan yang sering digunakan di pertandingan pencak silat. Dalam melakukan tendangan sabit dibutuhkan komponen kecepatan supaya tendangan dapat dengan cepat masuk ke sasaran pada lawan, untuk mendapatkan tendangan sabit yang berkualitas dibutuhkan komponen power otot tungkai. Power otot tungkai dimanfaatkan untuk menunjang daya ledak otot yang berkontraksi dan persendian yang bekerja pada saat melakukan tendangan sabit. selain power otot tungkai, panjang tungkai berfungsi untuk mencapai sasaran dengan jangkauan yang jauh dalam melakukan tendangan sabit.
Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai yang diukur dengan menggunakan tes standing board jump dan panjang tungkai yang diukur dengan menggunakan pita ukur terhadap kecepatan tendangan sabit yang diukur dengan menggunakan tes kecepatan tendangan selama 10 detik. Penelitian ini menggunakan sampel dari UKM pencak silat UNSOED diambil dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 33 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment dan korelasi berganda.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai korelasi sebesar 0,745. (2) Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan kecepatan tendangan dengan nilai korelasi sebesar kanan 0,509. (3) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai 0,792.
Kata Kunci : power otot tungkai, panjang tungkai, kecepatan tendangan sabit
Lampiran 5. Persetujuan Menjadi Responden 57
Lampiran 6. Profil Responden 58
Lampiran 7. Data Tes 59
Lampiran 8. Surat Ijin Penelitian 60
Lampiran 9. Hasil Analisis Deskriptif Putra 66
Lampiran 10. Hasil Analisis Deskriptif Putri 68
Lampiran 11. Uji Normalitas 70
Lampiran 12. Uji Linieritas 71
Lampiran 13. Uji Homogenitas 72
Lampiran 14. Hasil Analisis Korelasi Product Moment 73
Lampiran 15. Hasil Analisis Korelasi Berganda 74
Lampiran 16. Titik Persentase Distribusi F untuk Probabilita = 0,05 75
Lampiran 17. Dokumentasi 76


DAFTAR SINGKATAN

ASEAN : Association of Southeast Asian Nations
BAPPEDALITBANG : Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan ..Pengembangan
Cm : Centi Meter
H1 : Hipotesis 1
H2 : Hipotesis 2
H3 : Hipotesis 3
IPSI : Ikatan Pencak Silat Indonesia
KESBANGPOL : Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik
Kg : Kilo Gram
MP : Merpati Putih
MUNAS : Musyawarah Nasional
P value : Nilai Probabilitas
P : Probabilitas
PJKR : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
PKM : Pusat Kegiatan Mahasiswa
POM : Pekan Olahraga Mahasiswa
PSHT : Persaudaraan Setia hati Terate
R : Koefisien Korelasi
Rxy : Koefisien Korelasi X dan Y
Sig : Signifikan
SPSS : Statistical Package For The Social Sciences
UKM : Unit Kegiatan Mahasiswa
UNSOED : Universitas Jenderal Soedirman
X1 : Power Otot Tungkai
X2 : Panjang Tungkai
Y : Kecepatan Tendangan Sabit


Abstrak

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Angger Widorotama

Latar Belakang : Tendangan Sabit merupakan jenis tendangan yang sering digunakan di pertandingan pencak silat. Dalam melakukan tendangan sabit dibutuhkan komponen kecepatan supaya tendangan dapat dengan cepat masuk ke sasaran pada lawan, untuk mendapatkan tendangan sabit yang berkualitas dibutuhkan komponen power otot tungkai. Power otot tungkai dimanfaatkan untuk menunjang daya ledak otot yang berkontraksi dan persendian yang bekerja pada saat melakukan tendangan sabit. selain power otot tungkai, panjang tungkai berfungsi untuk mencapai sasaran dengan jangkauan yang jauh dalam melakukan tendangan sabit.
Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai yang diukur dengan menggunakan tes standing board jump dan panjang tungkai yang diukur dengan menggunakan pita ukur terhadap kecepatan tendangan sabit yang diukur dengan menggunakan tes kecepatan tendangan selama 10 detik. Penelitian ini menggunakan sampel dari UKM pencak silat UNSOED diambil dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 33 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment dan korelasi berganda.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai korelasi sebesar 0,745. (2) Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan kecepatan tendangan dengan nilai korelasi sebesar kanan 0,509. (3) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai 0,792.
Kata Kunci : power otot tungkai, panjang tungkai, kecepatan tendangan sabit

Abstract
THE RELATIONSHIP BETWEEN THE POWER OF LEG MUSCLE AND LENGTH LEG WITH THE SPEED OF TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT IN JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY PENCAK SILAT STUDENT ORGANIZATION
Angger Widorotama
Background : Tendangan Sabit is a kind of kick that is often used in Pencak Silat battle. This kick needs the speed component; therefore, the kick can quickly hit the target point of enemy, while leg muscle power component is needed to get a qualifield tendangan sabit. Leg muscle power is beneficial to support the muscle burst out capacity that has contraction and the joint that work while doing tendangan sabit. Beside leg muscle power, leg length is funcitioned to reach the target within the distan range while doing tendangan sabit.
Methods Research : This research is a correlational descriptive research that use the cross sectional approach to find out the relationship between free variable and bound variable. The relating factor of leg muscle power that is measured with the standing board jump test and leg length that is measured with the measuring tape on the tendangan sabit kanan. Sample from Jenderal Soedirman University Pencak Silat Student Organization with 33 people are taken as simple with the purposive sampling technique. Data analysis technique are the normality test, linearity test and homogenity test. Hypothesist test uses the product moment correlation and double correlation formula.
Result Research : The result of the study shows that : 1) there is significant relationship between leg muscle power and tendangan sabit kanan speed with the 0.745 correlation score. 2) there is significant relationship between leg length and tendangan sabit speed kanan with the 0.509 correlation score. 3) there is significant relationship between leg muscle power and leg length with the tendangan sabit kanan speed by 0.792 correlation score.
Keyword : leg muscle power, leg length, tendangan sabit speed
4982852256D1A022147PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN WARU DAN TEPUNG DAUN BAMBU SEBAGAI FEED ADITIF TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN PROTEIN KASAR DOMBA LOKALPenelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Tepung Daun Waru dan Tepung Daun Bambu Sebagai Feed Aditif Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Domba Lokal” telah dilaksanakan selama 3 bulan di Dusun II Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis terbaik penambahan tepung daun Waru (TDW) dan tepung daun Bambu (TDB) sebagai feed additive terhadap konsumsi dan kecernaan protein kasar domba lokal. Sejumlah 24 ekor domba ekor tipis jantan berumur 1-1,5 tahun dengan rataan bobot badan 37,18 ± 3,49 kg yang ditempatkan pada kandang individu diacak secara sempurna sesuai Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk menerima salah satu perlakuan berikut: P0 (silase tebon jagung + konsentrat); P1 ( P0 + TDW 2,49 g/kg konsentrat); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg konsentrat + 0,33 g/kg konsentrat); P3 (P0 + TDW 1,25 g/kg konsentrat + TDB 0,65 g/kg konsentrat) dan setiap perlakuan diulang 6 kali. Konsumsi bahan kering masing-masing domba adalah 4% dari bobot badan. Konsentrat diberikan sebanyak 2,8% dari bobot badan dan silase secara ad libitum terkontrol. Peubah yang diukur adalah konsumsi dan kecernaan protein kasar menggunakan metode koleksi total. Rataan konsumsi protein kasar 0,17 ± 0,04; 0,16 ± 0,01; 0,15 ± 0,01; 0,15 ± 0,02 untuk P0, P1, P2, P3. Rataan kecernaan protein kasar 79,38 ± 2,81; 77,97 ± 0,70; 76,92 ± 2,17; 76,02 ± 1,76 untuk P0, P1, P2, P3. Analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi protein kasar, akan tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap kecernaan protein kasar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung daun waru dan tepung daun bambu pada level perlakuan yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi protein kasar tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap kecernaan protein kasar domba lokal.The research entitled "Pengaruh Penambahan Tepung Daun Waru dan Tepung Daun Bambu Sebagai Feed Aditif Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Domba Lokal" was conducted for three months in Dusun II, Datar Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java Province, Indonesia. This study aimed to evaluate the optimal dosage of Waru leaf meal (TDW) and bamboo leaf meal (TDB) supplementation as feed additives on crude protein intake and digestibility in local sheep. A total of 24 thin-tailed male sheep aged 1–1,5 years with an average body weight of 37,18 ± 3,49 kg were housed individually and randomly assigned according to a Completely Randomized Design (CRD) to receive one of the following treatments: P0 (corn stover silage + concentrate); P1 (P0 + TDW 2,49 g/kg concentrate); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg concentrate + TDB 0,33 g/kg concentrate); and P3 (P0 + TDW 1,25 g/kg concentrate + TDB 0,65 g/kg concentrate), with six replications per treatment. Dry matter intake of each sheep was set at 4% of body weight. Concentrate was provided at 2,8% of body weight, while silage was offered ad libitum under controlled conditions. The variables measured were crude protein intake and crude protein digestibility using the total collection method. The average crude protein intake was 0,18 ± 0,03; 0,16 ± 0,01; 0,15 ± 0,01; and 0,15 ± 0,02 kg/head/day for P0, P1, P2, and P3, respectively. The average crude protein digestibility was 80,55 ± 1,21; 77,97 ± 0,70; 76,92 ± 2,17; and 76,02 ± 1,76% for P0, P1, P2, and P3, respectively. Analysis of variance showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on crude protein consumption, but had a very significant effect (P<0.05) on crude protein digestibility. Based on the results of the study, it can be concluded that the provision of hibiscus leaf flour and bamboo leaf flour at the treatment level used did not have a significant effect on crude protein consumption but had a very significant effect on crude protein digestibility of local sheep.
4982952258K1A022007DESAIN MATERIAL FOTOKATALIS AEROGEL BiVO4/g-C3N4/GO UNTUK DEGRADASI METILEN BIRU PADA IRADIASI CAHAYA TAMPAKMetilen biru (MB) merupakan zat warna kationik yang berbahaya dan memerlukan metode pengolahan yang efektif sebelum dilepaskan ke lingkungan. Pada penelitian ini, fotokatalis BiVO₄/g-C₃N₄/GO disintesis melalui metode kopresipitasi dengan variasi massa GO, lalu didapatkan massa optimum pada BGO-2, kemudian fotokatalis serbuk diimobilisasikan ke dalam matriks kitosan menjadi aerogel dengan variasi massa GO serupa dan didapatkan hasil variasi massa GO pada aerogel selaras dengan serbuk yaitu pada ABGO-2. Hasil karakterisasi XRD, SEM EDX, FTIR, dan UV–Vis DRS mengonfirmasi terbentuknya komposit terner BiVO₄/g-C₃N₄/GO. Penambahan GO terbukti meningkatkan luas permukaan spesifik dari 11,13 m² g⁻¹ (BiVO₄) menjadi 33,24 m² g⁻¹ pada komposit BGO-2, disertai penyempitan energi celah pita hingga 2,59 eV pada ABGO-2. Uji aktivitas fotokatalitik menunjukkan bahwa ABGO-2 mampu mendegradasi MB sebesar 75,78% pada pH 9 selama 180 menit, meskipun lebih rendah dibandingkan bentuk serbuk BGO-2 (94,82% pada 120 menit). Namun demikian, ABGO-2 menunjukkan keunggulan dalam stabilitas dan reusabilitas, dengan kinerja yang masih layak
hingga lima siklus penggunaan. Analisis statistik ANOVA menegaskan bahwa penurunan efisiensi degradasi antar siklus bersifat signifikan. Mekanisme degradasi MB pada sistem BiVO₄/g-C₃N₄/GO mengikuti mekanisme Z-scheme, dengan radikal superoksida (•O₂⁻) sebagai spesies reaktif dominan dan GO berperan sebagai mediator transfer elektron.
Methylene blue (MB) is a hazardous cationic dye that requires effective treatment prior to environmental discharge. In this study, the BiVO₄/g-C₃N₄/GO photocatalyst was synthesized via a coprecipitation method with varying GO mass, where the optimum composition was obtained at BGO-2. The powder photocatalyst was
subsequently immobilized into a chitosan matrix to form an aerogel with similar GO mass variations, yielding a consistent optimum at ABGO-2. Characterization by XRD, SEM-EDX, FTIR, and UV–Vis DRS confirmed the formation of the ternary BiVO₄/g-C₃N₄/GO composite. The addition of GO increased the specific surface
area from 11.13 m² g⁻¹ (BiVO₄) to 33.24 m² g⁻¹ in BGO-2, accompanied by band gap narrowing to 2.59 eV in ABGO-2. Photocatalytic activity tests showed that ABGO-2 degraded 75.78% of MB at pH 9 within 180 min, although this was lower than that of the powder BGO-2 (94.82% within 120 min). Nevertheless, ABGO-2
exhibited superior stability and reusability, maintaining acceptable performance over five cycles. ANOVA statistical analysis confirmed that the decrease in degradation efficiency between cycles was significant. The MB degradation mechanism in the BiVO₄/g-C₃N₄/GO system followed a Z-scheme pathway, with superoxide radicals (•O₂⁻) as the dominant reactive species and GO acting as an electron-transfer mediator.
4983052263F1F022076Peran Indonesia Africa Forum dalam Mendorong Inisiatif Pembangunan Berbasis Kemitraan Global South di Ethiopia Pada Tahun 2018-2024Indonesia-Africa Forum menjadi salah satu forum kerjasama lintas region yang berasaskan pada Kerjasama Selatan-Selatan. Selain itu, forum tersebut juga bertujuan sebagai upaya bersama lepas dari warisan kolonial dan paradigma kerjasama tradisional Utara-Selatan. Untuk memahami pergeseran paradigma ini diperlukan penggunaan kerangka teori pascakolonial serta pemahaman tentang landasan konseptual Global South. IAF berfokus pada penciptaan paradigma kerja sama baru berdasarkan prinsip-prinsip seperti kesetaraan, solidaritas, non-intervensi, dan saling menguntungkan, yang mempertanyakan dan berupaya menggantikan model bantuan tradisional kepada dunia berkembang yang didasarkan pada hubungan kekuasaan Utara-Selatan yang berkembang dari neokolonialisme dan struktur kekuasaan yang tidak setara. Secara kualitatif, penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka, analisis dokumen sekunder, serta analisis data yang dihasilkan dari kedua metode tersebut secara gabungan menggunakan metodologi studi kasus.The Indonesia-Africa Forum has become one of the cross-regional cooperation forums based on South-South cooperation. Furthermore, the forum also aims to serve as a collective effort to break free from the colonial legacy and the traditional North-South cooperation paradigm. To understand this paradigm shift, it is necessary to employ postcolonial theoretical framework and to understand the conceptual foundations of the Global South. The IAF focuses on creating a new paradigm of cooperation based on principles such as equality, solidarity, non-intervention, and mutual benefit, which challenges and seeks to replace the traditional model of aid to the developing world based on North-South power relations stemming from neocolonialism and unequal power structures. Qualitatively, this research employs a literature review, analysis of secondary documents, and a combined analysis of data generated from both methods using a case study methodology.
4983152260F1D022022Implementasi Program Makan Bergizi Gratis: Dinamika Ekonomi Politik dan Partisipasi Aktor Lokal di Banyumas
Penelitian ini mengkaji pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banyumas dengan menggunakan perspektif ekonomi politik kelembagaan dari Douglas North (1990). Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus di SD Negeri 2 Purwokerto Lor. Data diperoleh dari 15 informan yang terdiri atas kepala sekolah, guru, orang tua, siswa, serta penyedia makanan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program telah dijalankan sesuai prosedur dengan dukungan 219 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi jangkauannya masih terbatas, yakni hanya mencakup 11,23% sekolah dasar dan 18,32% siswa. Permasalahan utama yang ditemukan meliputi keterlambatan distribusi, keterbatasan sarana, serta penurunan kualitas makanan akibat keterikatan anggaran yang kaku (Rp8.000/porsi). Selain itu, struktur kelembagaan yang bersifat terpusat membatasi keterlibatan pihak sekolah, sehingga memunculkan ketegangan antara institusi formal (kebijakan pusat) dan institusi informal (penyesuaian di tingkat lokal). Para aktor lokal cenderung menerima program secara pragmatis: guru memandangnya sebagai kewajiban, orang tua sebagai bentuk bantuan, dan siswa sebagai manfaat langsung. Kondisi ini menciptakan hubungan yang tidak seimbang antara negara dan masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan yang mampu menyelaraskan insentif, memperluas partisipasi lokal, serta mengedepankan pendekatan berbasis hak guna menjamin keberlanjutan program.This research examines the implementation of the Free Nutritious Meal Program (MBG) in Banyumas Regency through the lens of Douglas North’s (1990) institutional political economy. A qualitative case study design was applied at SD Negeri 2 Purwokerto Lor. Data were gathered from 15 informants, including the principal, teachers, parents, students, and food providers, using observation, interviews, and documentation, and were analyzed with the interactive model of Miles and Huberman. The results indicate that the program has been carried out procedurally with the support of 219 Nutritious Fulfillment Service Units (SPPG), yet its coverage remains limited, reaching only 11.23% of primary schools and 18.32% of students. Key challenges identified include delays in distribution, limited facilities, and declining food quality due to inflexible budgeting (Rp8,000 per portion). Furthermore, the centralized institutional arrangement constrains school involvement, leading to tensions between formal institutions (central policies) and informal practices (local adjustments). Local actors tend to respond pragmatically: teachers perceive it as an obligation, parents as assistance, and students as a direct benefit. This situation contributes to an imbalanced relationship between the state and society. Accordingly, the study highlights the need for institutional reforms that align incentives, enhance local participation, and adopt a rights-based approach to sustain the program in the long term.
4983252261D1A021140Pengaruh Fortifikasi Mineral Magnesium (Mg) dan Sulfur (S) dalam Pakan Domba terhadap Kecernaan Total Digestible Nutrient (TDN) dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen secara In VitroPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fortifikasi mineral Magnesium (Mg)
dan Sulfur (S) terhadap kecernaan Total Digestible Nutrient (TDN) dan Bahan Ekstrak Tanpa
Nitrogen (BETN) pada pakan domba secara in vitro. Materi yang digunakan meliputi pakan
(jerami padi amoniasi 50% dan konsentrat 50%), cairan rumen domba, serta mineral MgO
dan S. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan tersebut adalah P1
(jerami padi amoniasi 50% dan konsentrat 50%), P2 (P1 + 0,11% Mg), dan P3 (P2 + 0,83%
S). Variabel yang diukur adalah nilai kecernaan TDN dan BETN. Data dianalisis
menggunakan analisis variansi (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan
berpengaruh cenderung nyata terhadap kecernaan BETN (P=0,08) dan berpengaruh sangat
nyata terhadap kecernaan TDN (P˂0,01). Fortifikasi mineral Magnesium (Mg) memberikan
efektivitas yang lebih tinggi dalam meningkatkan nilai kecernaan TDN dan BETN
dibandingkan dengan mineral Sulfur (S) dalam pakan domba.
This study aims to examine the effect of Magnesium (Mg) and Sulfur (S) mineral
fortification on the digestibility of Total Digestible Nutrients (TDN) and Nitrogen-Free
Extract (NTFE) in sheep feed in vitro. The materials used include feed (50% ammoniated
rice straw and 50% concentrate),sheep rumen fluid, and MgO and S minerals. The research
method used is experimental with a Completely Randomized Design (RUPS) consisting of 3
treatments and 6 replications. The treatments are P1 (50% ammoniated rice straw and 50%
concentrate), P2 (P1 + 0.11% Mg), and P3 (P2 + 0.83% S). The variables measured are the
digestibility values of TDN and NTFE. Data were analyzed using analysis of variance
(ANOVA). The results showed that the treatment had a significant effect on the digestibility
of BETN (P=0.08) and a significant effect on the digestibility of TDN (P˂0.01). Magnesium
(Mg) mineral enrichment provided higher effectiveness in increasing the digestibility of
TDN and BETN compared to Sulfur (S) minerals in sheep feed.
4983352264D1A022203PERAN PEMIMPIN KELOMPOK PETERNAK TERHADAP MINAT PETERNAK MELANJUTKAN USAHA DOMBA SAKUB DI KABUPATEN BREBESPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pemimpin kelompok sebagai motivator, sebagai guru, sebagai penasihat, dan minat melanjutkan usaha serta hubungan antara peran pemimpin kelompok dengan minat melanjutkan usaha. Penelitian dilaksanakan pada 28 Januari - 4 Februari 2026 bertempat di Kecamatan Sirampog dan Paguyangan, Kabupaten Brebes dengan responden sebanyak 90 anggota kelompok peternak domba sakub yang ditentukan secara sensus. Metode penelitian secara survei lalu data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menggambarkan bahwa peran pemimpin kelompok peternak domba sakub di Kabupaten Brebes tergolong sedang (77,78%), peran pemimpin berdasarkan indikator sebagai motivator termasuk kategori sedang (67,78%), sebagai guru termasuk kategori sedang (71,11%), dan sebagai penasihat termasuk kategori sedang (73,33%). Hasil uji korelasi Rank Spearman menggambarkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi sangat lemah antara peran pemimpin kelompok sebagai motivator dengan minat (ρ = 0,248; p 0,018), hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi cukup antara peran pemimpin kelompok sebagai guru dengan minat (ρ = 0,342; p < 0,001), serta hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi sangat lemah antara peran pemimpin kelompok sebagai penasihat dengan minat (ρ = 0,228; p 0,030). Kesimpulan penelitian ini adalah semakin baik peran pemimpin kelompok akan meningkatkan minat peternak melanjutkan usaha peternakan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah pemimpin kelompok peternak harus tetap menjalankan peran dan fungsinya secara optimal sehingga anggota kelompok akan tetap memiliki minat melanjutkan usaha yang kuat.This study aims to determine the role of group leaders as motivators, educators, and advisors, as well as to assess farmers’ interest in continuing their farming business and to analyze the relationship between the role of group leaders and the interest in continuing the business. The research was conducted from January 28 to February 4, 2026, in Sirampog and Paguyangan Subdistricts, Brebes Regency, involving 90 members of sheep farmer groups selected through a census method. The study employed a survey method, with data collected through interviews and observations. The data were then analyzed using descriptive analysis and Spearman Rank correlation. The results indicate that the overall role of group leaders in sheep farmer groups in Brebes Regency falls into the moderate category (77.78%). Specifically, the role as a motivator is categorized as moderate (67.78%), as an educator is moderate (71.11%), and as an advisor is also moderate (73.33%). The results of the Spearman Rank correlation test show a positive and significant relationship with a very weak correlation between the role of group leaders as motivators and farmers’ interest (ρ = 0.248; p = 0.018), a positive and significant relationship with a moderate correlation between the role as educators and farmers’ interest (ρ = 0.342; p < 0.001), and a positive and significant relationship with a very weak correlation between the role as advisors and farmers’ interest (ρ = 0.228; p = 0.030). In conclusion, the better the role of group leaders, the higher the farmers’ interest in continuing their livestock business. It is recommended that group leaders consistently perform their roles and functions optimally to maintain and strengthen farmers’ interest in sustaining their farming enterprises.
4983452277F1B022089Prioritas Penanganan Pengangguran Di Kabupaten Banyumas: Studi Tentang Implementasi Program Promosi Penanaman ModalProgram Promosi Penanaman Modal sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam
mengurangi pengangguran melalui peningkatan investasi. Namun, peningkatan investasi
belum diikuti penurunan pengangguran karena didominasi investasi padat modal yang
memiliki daya serap tenaga kerja rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
kinerja implementasi program tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif
dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta
penentuan informan secara purposive sampling pada Bappedalitbang dan DPMPTSP yang
dianalisis menggunakan model interaktif dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa implementasi program belum optimal, ditandai dengan keterbatasan
kemampuan SDM dalam bahasa asing dan teknologi informasi, orientasi pelaksana yang masih
prosedural, serta koordinasi yang belum berfokus pada penyerapan tenaga kerja. Selain itu,
kebijakan kawasan industri turut membatasi investasi padat karya.
The Investment Promotion Program is an effort by the Banyumas Regency Government to
reduce unemployment by increasing investment. However, this increase in investment has not
been accompanied by a decrease in unemployment due to the dominance of capital-intensive
investments with low labor absorption. This study aims to describe the performance of the
program's implementation. The method used was descriptive qualitative, with data collection
techniques through interviews, observation, and documentation. Informants were selected
through purposive sampling at the Bappedalitbang and DPMPTSP. The analysis used an
interactive model with source triangulation. The results indicate that program implementation
is suboptimal, characterized by limited human resource skills in foreign languages and
information technology, procedural implementation, and coordination that does not focus on
labor absorption. Furthermore, industrial area policies also limit labor-intensive investment.
4983552265D1A022198HUBUNGAN ANTARA JUMLAH ANGGOTA DAN LAMA BERGABUNG DENGAN SIFAT KONFORMITAS ANGGOTA KELOMPOK PETERNAK DOMBA SAKUB
DI KABUPATEN BREBES
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah anggota, lama bergabung, serta tingkat konformitas anggota kelompok peternak domba Sakub di Kabupaten Brebes, serta menganalisis hubungan antara jumlah anggota dan lama bergabung dengan sifat konformitas anggota kelompok. Penelitian dilaksanakan di Desa Wanareja Kecamatan Sirampog dan Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan dengan jumlah responden sebanyak 90 peternak yang dipilih secara sensus. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anggota kelompok tidak memiliki hubungan yang nyata dengan sifat konformitas (rs = 0,031), sedangkan lama bergabung memiliki hubungan positif sangat kuat dan signifikan dengan sifat konformitas (rs = 0,847). Tingkat konformitas anggota kelompok sebagian besar berada pada kategori sedang (67,78%), yang menunjukkan bahwa anggota cukup mampu menyesuaikan diri dengan norma dan keputusan kelompok. Kesimpulan penelitian ini adalah lama bergabung dalam kelompok berpengaruh nyata terhadap pembentukan konformitas anggota, sedangkan jumlah anggota tidak berpengaruh signifikan terhadap konformitas dalam kelompok peternak domba Sakub di Kabupaten Brebes.This study aims to determine the number of members, length of membership, and the level of conformity among members of Sakub sheep farmer groups in Brebes Regency, as well as to analyze the relationship between the number of members and length of membership with the conformity behavior of group members. The research was conducted in Wanareja Village, Sirampog District, and Pandansari Village, Paguyangan District, involving 90 farmers selected using a census method. Data were collected through interviews and observations, and analyzed using descriptive analysis and the Spearman Rank correlation test. The results showed that the number of group members had no significant relationship with conformity behavior (rs = 0.031), while the length of membership had a very strong and significant positive relationship with conformity behavior (rs = 0.847). The level of conformity among group members was predominantly in the moderate category (67.78%), indicating that members were sufficiently able to adapt to group norms and decisions. In conclusion, the length of membership significantly influences the formation of conformity among group members, whereas the number of members does not have a significant effect on conformity within Sakub sheep farmer groups in Brebes Regency.
4983652268D1A022100PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN WARU DAN DAUN BAMBU TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN SERAT KASAR PAKAN DOMBA LOKALPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis terbaik tepung daun Waru (TDW) dan Bambu (TDB) terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar pakan domba lokal. Penelitian berlangsung di Dusun II, Datar, Kec. Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah selama 3 bulan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 18 ekor domba lokal jantan dengan rataan bobot badan 37,18 ± 3,49 kg dengan umur 1 – 1,5 tahun. Domba tersebut ditempatkan pada kandang individu dan diacak secara sempurna untuk menerima perlakuan: P0 (silase tebon jagung + konsentrat); P1 (P0 + TDW 2,49 g/kg konsentrat); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg konsentrat + TDB 0,33 g/kg); P3 = P0 + TDW 1,25 g /kg konsentrat + TDB 0,65 g /kg konsentrat). Dengan demikian Rancangan Acak Lengkap (RAL) unequal dapat digunakan pada penelitian ini. Perlakuan P0 dan P3 diulang 4 kali dan perlakuan P1 dan P2 diulang 5 kali. Konsentrat diberikan sebanyak 2,8% dari bobot hidup ternak dan silase tebon jagung secara adlibitum terkontrol. Peubah yang diukur adalah konsumsi dan kecernaan serat kasar menggunakan metode koleksi total. Rataan konsumsi serat kasar 0,19 ± 0,05, 0,18 ± 0,02, 0,17 ± 0,01, 0,17 ± 0,03 kg/ekor/hari untuk P0, P1, P2, dan P3. Rataan kecernaan serat kasar 32,92 ± 10,84, 36,54 ± 3,12, 31,46 ± 5,52, 34,20 ± 7,66% untuk P0, P1, P2, dan P3. Analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung daun waru dan daun bambu pada level perlakuan yang digunakan belum mampu meningkatkan konsumsi dan kecernaan serat kasar pada domba lokal.This study aims to examine the effect of the best dose of Waru leaf flour (TDW) and Bamboo (TDB) on the consumption and digestibility of crude fiber in local sheep feed. The study took place in Dusun II, Datar, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java for 3 months. The material used in this study were 18 male local sheep with an average body weight of 37.18 ± 3.49 kg and aged 1 – 1.5 years. The sheep were placed in individual pens and completely randomized to receive the following treatments: P0 (corn stalk silage + concentrate); P1 (P0 + TDW 2.49 g/kg concentrate); P2 (P0 + TDW 1.87 g/kg concentrate + TDB 0.33 g/kg); P3 = P0 + TDW 1.25 g/kg concentrate + TDB 0.65 g/kg concentrate). Thus, an unequal Completely Randomized Design (CRD) can be used in this study. Treatments P0 and P3 were repeated 4 times and treatments P1 and P2 were repeated 5 times. Concentrate was given as much as 2.8% of the livestock's live weight and corn stalk silage was given ad libitum under controlled conditions. The variables measured were crude fiber consumption and digestibility using the total collection method. The average crude fiber consumption was 0.19 ± 0.05, 0.18 ± 0.02, 0.17 ± 0.01, 0.17 ± 0.03 kg/head/day for P0, P1, P2, and P3. The average crude fiber digestibility was 32.92 ± 10.84, 36.54 ± 3.12, 31.46 ± 5.52, 34.20 ± 7.66% for P0, P1, P2, and P3. Analysis of variance showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on crude fiber consumption and digestibility. Based on the results of the study, it can be concluded that the administration of hibiscus leaf and bamboo leaf flour at the treatment level used was not able to increase crude fiber consumption and digestibility in local sheep.
4983752269D1A022065PERTUMBUHAN DIAMETER BATANG DAN KADAR KLOROFIL RED NAPIER (Pennisetum purpureum cv. Red) PADA PERBEDAAN SISTEM TANAM DAN BERBAGAI LEVEL KOMPOSPenelitian dengan judul “Pertumbuhan Diameter Batang dan Kadar Klorofil Red Napier (Pennisetum purpureum cv. Red) pada Perbedaan Sistem Tanam dan berbagai Level Kompos” telah dilaksanakan di lahan Experimental Farm, Laboratorium Agrostologi, dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi sistem tanam dan level kompos terhadap diameter batang dan kadar klorofil a, klorofil b, dan total klorofil rumput Red Napier. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput Red Napier (Pennisetum purpureum cv. Red) yang ditanam dengan stek sejak awal penelitian, sedangkan tanaman Gamal (Glirisidia sepium) yang digunakan merupakan tanaman yang telah berumur satu tahun dengan tinggi sekitar ± 80 cm. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kompos dari feses sapi potong sebagai perlakuan dengan dosis 0, 15, dan 30 ton/ha. Lahan yang digunakan sebanyak 24 petak dengan luas setiap petak 7,2 m2 dengan total luas lahan 172,8 m2. Metode penelitian menggunakan jenis experimental dengan rancangan Split Plot Design (SPD). Perlakuan diulang sebanyak empat kali. Sistem tanam sebagai petak utama terdiri atas monokultur dan tumpangsari, sedangkan level kompos sebagai anak petak terdiri atas tiga dosis 0 ton/ha, 15 ton/ha, dan 30 ton/ha. Peubah yang diamati meliputi diameter batang serta kadar klorofil a, b, dan total klorofil Red Napier. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara sistem tanam dan level kompos, maupun pengaruh masing-masing faktor secara tunggal terhadap diameter batang dan kadar klorofil a, klorofil b, dan total klorofil rumput Red Napier (P>0,05). Rataan diameter batang 17,2 ± 0,38 mm pada sistem monokultur dan 16,8 ± 0,49 mm pada sistem tumpangsari (P>0,05). Rataan klorofil a 0,69 ± 0,06 mg /g pada sistem monokultur dan 0,64 ± 0,05 mg /g pada sistem tumpangsari (P>0,05). Rataan klorofil b 0,47 ± 0,12 mg /g pada sistem monokultur dan 0,46 ± 0,02 mg /g pada sistem tumpangsari (P>0,05). Rataan total klorofil 1,16 ± 0,17 mg /g pada sistem monokultur dan 1,10 ± 0,06 mg /g pada sistem tumpangsari (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan sistem tanam tumpangsari dan level kompos hingga 30 ton/ha tidak meningkatkan diameter batang dan kadar klorofil rumput Red Napier.The study with the title "Stem Diameter Growth and Chlorophyll Content of Red Napier (Pennisetum purpureum cv. Red) in Different Planting Systems and Various Compost Levels " has been carried out on the land of the Experimental Farm, Agrostology Laboratory, and Animal Feedstuff Laboratory, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University. This study aims to examine the effect of the interaction of the planting system and compost level on the stem diameter and chlorophyll content (chlorophyll a, chlorophyll b, and total chlorophyll) of Red Napier grass. The material used in this study was Red Napier grass (Pennisetum purpureum cv. Red) which planted with cuttings since the beginning of the study, while the Gamal plant (Glirisidia sepium) used was a one-year-old plant with a height of about ± 80 cm. The fertilizer used is compost fertilizer from beef cattle feces. The land used is 24 plots with each plot having an area of 7.2 m2 with a total land area of 172.8 m2. The research method uses an experimental type with a Split Plot Design (SPD) design. The treatment was repeated four times. The planting system as the main plot consists of monoculture and intercropping, while the compost level as a subplot consists of three doses of 0 tons/ha, 15 tons/ha, and 30 tons/ha. The observed variables included stem diameter and chlorophyll content of Red Napier. The data was analyzed using multiple analysis (ANOVA) at the level of 5%. The results showed that there was no interaction between the planting system and the compost level, nor the influence of each factor individually on the stem diameter and the level of chlorophyll a, chlorophyll b, and total chlorophyll of Red Napier grass (P>0.05). The average stem diameter was 17.2 ± 0.38 mm in the monoculture system and 16.8 ± 0.49 mm in the intercropping system (P>0.05). The average chlorophyll a was 0.69 ± 0.06 mg/g in the monoculture system and 0.64 ± 0.05 mg/g in the intercropping system (P>0.05). The mean chlorophyll b was 0.47 ± 0.12 mg/g in the monoculture system and 0.46 ± 0.02 mg/g in the intercropping system (P>0.05). The average chlorophyll total was 1.16 ± 0.17 mg/g in the monoculture system and 1.10 ± 0.06 mg/g in the intercropping system (P>0.05). Based on the results of the study, it was concluded that the application of an intercropping system and a compost level of up to 30 tons/ha did not increase the stem diameter and chlorophyll content of Red Napier grass.
498386123G1G009009RESPON HIDROFOBISITAS BAKTERI PEMBENTUK PLAK GIGI
(Streptococcus sanguinis) TERHADAP PAPARAN EKSTRAK UMBI
TANAMAN SARANG SEMUT (Myrmecodia pendens)
DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR
Plak gigi merupakan penyebab terjadinya gingivitis. Bakteri S. sanguinis memilikidaya hidrofobisitas kuat, sehingga dapat melekat erat pada permukaan gigi, berperan menjadi perantara melekatnya bakteri lain. Umbi tanaman sarang semut (M. pendens) merupakan salah satu alternatif bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri.Tujuan penelitian ini adalah mengkaji konsentrasi ekstrak M. pendens dari 40%, 20%, 10%, 5% dalam sediaan obat kumur yang mampu menurunkan respon hidrofobisitas bakteri S. sanguinis. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan post test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari 21, terbagi dalam 7 perlakuan dengan pengulangan triplo, meliputi kontrol (+) Chlorhexidine gluconate 0,2%, 4 konsentrasi formulasi obat kumur M. pendens, kontrol (-) aquades steril, dan blanko (formulasi obat kumur non ekstrak). Metode preparasi ekstrak menggunakan maserasi, pembuatan formulasi obat kumur dilanjutkan evaluasi stabilitas dan pH, serta uji hidrofobisitas menggunakan spektrofotometer UV-Vis gelombang 550 nm.Data absorbansi dianalisis menggunakan One Way Anova dan LSD. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p= 0,000; p<0,05) antara obat kumur M. pendens dengan aquades dan Chlorhexidine gluconate 0,2%, serta terdapat penurunan rerata nilai indeks hidrofobisitas seiring dengan kenaikan konsentrasi, dengan konsentrasi 5% (Ab= 51,22%), 10% (Ab= 45,26%), 20% (Ab= 24,78%), dan 40% (Ab= 12,17%). Simpulan penelitian ini adalah ekstrak M. pendens sebagai sediaan obat kumur dapat menurunkan respon hidrofobisitas bakteri S. sanguinis.
Dental plaque is the caused gingivitis. Bacteria S. sanguinis has a strong hydrophobicity, so it can attachedfirmly to the tooth surface, it acts to mediate attachment of other bacteria. Tuber ant (M. pendens) is one of potential alternative natural materials as an antibacterial. The purpose of this study is to examine M. pendensextract concentration of 40%, 20%, 10%, 5% in the mouthwash that can reduce the response of the bacteria S. sanguinishydrophobicity. This research is an experimental laboratory with a post-test only control group design. The sample consisted of 21, divided into 7 treatment with repetition triplo, including control (+)Chlorhexidine gluconate0,2%, 4 concentrations of mouthwash formulations M. pendens, control (-) sterile distilled water, and blank (non extract mouthwash formulations). Extract preparation use macerationmethod, making mouthwash formulation, evaluation pH and stability, and then hydrophobicity test use UV-Vis spectrophotometry absorbance 550 nm. Absorbance data were analyzed use One Way Anova and LSD. Results showed that there is a significant difference p= 0,000 (p<0,05) between mouthwash M. pendens with distilled water and Chlorhexidine gluconate0,2%. There is a decrease in absorbance values from higher concentrations, at a concentration of 5% (Ab = 51.22%), 10% (Ab = 45.26%), 20% (Ab = 24.78%), and 40% (Ab = 12 , 17%).The conclusion of this study is extract of M. pendensin mouthwash can decrease the hydrophobicity of bacterial S. Sanguinis.
4983952266D1A022040HUBUNGAN MOTIVASI DAN ETOS KERJA DENGAN PENDAPATAN PETERNAK DOMBA SAKUB DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi dan etos kerja peternak serta menganalisis hubungan antara motivasi dan etos kerja dengan pendapatan peternak domba Sakub di Kabupaten Brebes. Penelitian dilaksanakan di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan dan Desa Wanareja Kecamatan Sirampog dengan jumlah responden sebanyak 110 peternak yang dipilih secara random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi peternak berada pada kategori sedang (64,55%) dengan indikator kebutuhan fisiologis sebagai motivasi dominan. Etos kerja peternak berada pada kategori tinggi (57,27%) yang tercermin dari sikap disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras dalam menjalankan usaha ternak. Pendapatan peternak domba Sakub tergolong rendah, di mana 52,72% peternak memiliki pendapatan di bawah Rp18,057,292.92 per tahun atau Rp.1.504.774,41 per bulan. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa motivasi memiliki hubungan negatif sangat lemah (rs = 0,172), sedangkan etos kerja memiliki hubungan positif sangat lemah (rs = 0,017) terhadap pendapatan peternak. Kesimpulan penelitian ini adalah motivasi dan etos kerja peternak belum memiliki hubungan yang nyata terhadap pendapatan, yang dipengaruhi oleh kondisi usaha ternak sebagai usaha sampingan, skala usaha yang kecil, serta fluktuasi harga ternak yang menurun.
This study aims to determine the level of motivation and work ethic of farmers and to analyze the relationship between motivation and work ethic with the income of Sakub sheep farmers in Brebes Regency. The research was conducted in Pandansari Village, Paguyangan District, and Wanareja Village, Sirampog District, involving 110 respondents selected through random sampling. The research method used was a survey with a quantitative approach. Data were analyzed using descriptive analysis and the Spearman Rank correlation test. The results showed that farmers' motivation was in the moderate category (64.55%), with physiological needs as the dominant motivating factor. The work ethic of farmers was categorized as high (57.27%), reflected in discipline, responsibility, and hard work in managing livestock enterprises. The income of Sakub sheep farmers was relatively low, with 52.72% of farmers earning below Rp18,057,292.92 per year or Rp1,504,774.41 per month. The correlation analysis indicated that motivation had a very weak negative relationship (rs = 0.172), while work ethic had a very weak positive relationship (rs = 0.017) with farmers' income. The study concludes that motivation and work ethic do not have a significant relationship with farmers' income, which is influenced by livestock farming as a side business, small-scale operations, and declining livestock prices.

4984052267G1A022066PENGARUH NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL PADA MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4)PENGARUH NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL PADA MENCIT YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4)
Shafa Hilyatunnissa1, Dody Novrial2, Dhadhang Wahyu Kurniawan3
1Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman
3Departemen Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Soedirman

Email: shafa.hilyatunnissa@mhs.unsoed.ac.id

ABSTRAK

Latar belakang: Gagal Ginjal Akut merupakan gangguan pada ginjal yang terjadi secara cepat dan singkat. Salah satu etiologi GGA akut adalah nefrotoksisitas. Senyawa kimia yang dapat memberikan efek toksik pada ginjal diantaranya adalah karbon tetraklorida (CCl4). Senyawa tersebut dapat mempengaruhi gambaran histopatologi ginjal melalui proses inflamasi. Sambiloto diketahui mempunyai beberapa efek farmakologis, seperti antidiabetes, antiinflamasi, antioksidan, dan antikanker. Namun, sambiloto mempunyai biovailabilitas yang rendah. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) mempunyai struktur gabungan lipid yang dapat meningkatkan bioavailabiltas senyawa aktif.Tujuan: engetahui pengaruh pemberian Nanostructured Lipid Carrier (NLC) ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata) terhadap gambaran histopatologi ginjal pada mencit yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4).
Metode: Penelitian ini menggunakan mencit (Mus musculus) jantan strain Balb/C, usia 6 minggu, dan berat badan 20±4 gram. Penelitian ini terdiri dari empat kelompok, yakni kelompok A (kontrol sehat), kelompok B (kontrol sakit) diberikan induksi CCl4, kelompok C diberikan NLC dan ekstrak etanol sambiloto (EES), D diberikan EES saja, dan E diberikan NLC saja. Preparat ginjal mencit diamati menggunakan mikroskop cahaya pada 5 lapang pandang. Skoring histopatologi ginjal menggunakan skoring histologi Endotelial, Glomerulus, Tubulus, dan Interstisial (EGTI). Hasil: Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan pengaruh NLC ekstrak etanol sambiloto terhadap gambaran histopatologi ginjal yang signifikan secara statistik pada parameter tubulus (p=0,001), endotel (p=0,033), dan interstisial (p=0,009). Kesimpulan: NLC ekstrak etanol sambiloto dapat menurunkan kerusakan pada histopatologi ginjal akibat induksi CCl4

Kata kunci: ekstrak etanol sambiloto, histopatologi ginjal, karbon tetraklorida, NLC
THE EFFECT OF NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) OF SAMBILOTO (Andrographis paniculata) ETHANOL EXTRACT ON KIDNEY HISTOPATHOLOGY IN MICE (Mus musculus) INDUCED BY CARBON TETRACHLOROIDE (CCl4)
Shafa Hilyatunnissa1, Dody Novrial2, Dhadhang Wahyu Kurniawan3
1Medical Education Program, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
2Department of Anatomical Pathology, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
3Department of Pharmacy, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University

Email: shafa.hilyatunnissa@mhs.unsoed.ac.id
Background: Acute Renal Failure is a kidney disorder that occurs quickly and briefly. One of the etiologies of acute ARF is nephrotoxicity. Chemical compounds that can have toxic effects on the kidneys include carbon tetrachloride (CCl4). This compound can affect the histopathology of the kidneys through the inflammatory process. Sambiloto is known to have several pharmacological effects, such as antidiabetic, anti-inflammatory, antioxidant, and anticancer. However, sambiloto has low bioavailability. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) has a lipid compound structure that can increase the bioavailability of active compounds. Object: Ddetermined the effect of administering Nanostructured Lipid Carrier (NLC) ethanol extract of sambiloto (Andrographis paniculata) on the histopathology of the kidneys in mice induced by carbon tetrachloride (CCl4). Methods: This study used male mice (Mus musculus) strain Balb/C, aged 6 weeks, and weighing 20±4 grams. This study consisted of four groups, namely group A (healthy control), group B (sick control) was given CCl4 induction, group C given NLC and bitter ethanol extract (EES), D given EES only, and E given NLC only. Mice kidney preparations were observed using a light microscope in 5 fields of view. Kidney histopathology scoring used Endothelial, Glomerular, Tubular, and Interstitial (EGTI) histology scoring. Results: The results of the Kruskal Wallis test showed a statistically significant effect of NLC of sambiloto ethanol extract on the histopathological features of the kidneys in tubular (p=0.001), endothelial (p=0.033), and interstitial (p=0.009) parameters. Conclusion: NLC ethanol extract of sambiloto can reduce damage to kidney histopathology due to CCl4 induction.

Keywords: ethanol extract of sambiloto, kidney histopathology, carbon tetrachloride, NLC,