Home
Login.
Artikelilmiahs
11419
Update
ADELIA ROSALINA
NIM
Judul Artikel
Konstruksi Keperawanan dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami
Abstrak (Bhs. Indonesia)
ABSTRAKSI Wacana mengenai perempuan menjadi hal yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Secara umum perempuan selalu dimunculkan sebagai sosok yang bermasalah ketika dikaitkan dengan organ-organ tubuhnya termasuk keperawananya. Keperawanan merupakan salah satu konsep yang melekat pada perempuan, oleh sebab itu, ketika berbicara mengenai perempuan tak luput pula ikut membawa serta keperawanannya. Persoalan keperawanan di Indonesia merupakan hal yang dianggap tabu dan disakralkan, keperawanan menunjuk kepada serta mengukur kapasitas moral dan akhlak perempuan. Ayu Utami lewat novelnya Pengakuan Eks Parasit Lajang mencoba menghadirkan pandangan yang berbeda tentang keperawanan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konstruksi keperawanan dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang. Wujud Penelitian ini bersifat kualitatif yang mengkaji teks (kepustakaan). Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa bagi masyarakat Indonesia keperawanan merupakan hal yang harus dijaga selama perempuan belum menikah sedangkan sebaliknya, hilangnya keperawanan dianggap sebagai hal yang memalukan, dan mencoreng kehormatan diri perempuan. Tolak ukur keperawanan dalam masyarakat selama ini dilambangkan dengan tetesan darah. Seorang perempuan dianggap masih perawan apabila ada darah yang keluar pada saat persetubuhan pertamanya. Darah yang keluar menandakan sobeknya selaput dara yang melindungi alat kelamin perempuan, apabila darah keluar pada saat persetubuhan pertama seorang perempuan maka perempuan tersebut dianggap belum pernah melakukan persetubuhan sebelumnya Di Indonesia yang menganut Budaya Timur, persoalan keperawanan sudah menjadi budaya yang mengakar, keperawanan menunjuk pada serta mengukur kapasitas moral dan akhlak perempuan . Campur aduknya pengertian keperawanan antara perubahan fsisik dengan akhlak ini membuat perempuan melalui keperawanannya dapat dengan mudah dikelompokan dalam kelompok hina atau mulia. Namun menurut Ayu Utami keperawanan hanyalah sebuah konsep. Sesuatu yang dibuat oleh pikiran manusia untuk kepentingan tertentu. Ayu melihat konsep keperawanan yang hidup dalam masyarakat tidak adil, dimana moralitas seolah-olah hanya menjadi tanggung jawab perempuan, untuk itu Ayu lewat tokohnya A memilih untuk menjadi tidak perawan untuk melawan konsep keperawanan tersebut. Menurut Ayu konsep keperawanan yang menjerat perempuan dalam sarang laba-laba selaput dara. Keperawanan yang membuat perempuan bisa dihina, saat ini harusnya sudah tidak relevan lagi, karena banyak faktor yang akhirnya bisa menghilangkan keperawanan perempuan tanpa proses persetubuhan. Keperawanan seorang perempuan sejatinya menjadi hak sepenuhnya sang pemilik, maka hendak diberikan kepada siapa dan diperlakukan seperti apa ditentukan oleh perempuan itu sendiri. Perempuan seharusnya menjaga keperawanannya atas kehendak dan keinginan diri, sendiri tidak bergantung kepada penilaian individu atau masyarakat tentang keperawanan Pendobrakan nilai-nilai lama sangat diperlukan demi memunculkan kembali identitas seksual perempuan sebagai perempuan. Namun disisi lain pendobrakan tidak harus dilakukan dengan cara yang radikal, untuk mendobrak nilai yang mengagungkan keperawanan bukan berarti perempuan harus menjadi tidak perawan, karena perndobrakan yang utama berada ditingkat konseptual.
Abtrak (Bhs. Inggris)
ABSTRAC Discourse on women be the thing which never runs out to talk about. Generally women always raised as problematic figure when associated with the organs on her body, including virginity. Virginity as a concept of attached women, because of that, when speaking about women, not participate escaped also take along her virginity. Virginity problem in Indonesia is one thing that considered taboo and sacred, virginity refers to and measure women moral. Ayu Utami on her novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang” try to presenting different views about virginity. This research aim to explain about the construct of virginity in novel “Pengakuan Eks Parasit Lajang”. This is a qualitative studies that looked at the text (literature review). Use hermeneuthics method, so it focus on the text. The result of this research getting that for Indonesian, virginity is something that must guarded during unmarried women, in other hand loss virginity regarded as shame, and broke her honor. Parameter of virginity during this time in society signed by drops of blood. Woman considered as virgin if there is drops of blood in her first sexual intercourse. Blood coming out signify that breaks of hymen that protecs female genitalia, if blood coming out in the first sexual intercourse so that woman regarded she never do it before. In Indonesia that embrace eastern culture, women problem has been an entrenched culture, virginity pointed at as well as a measure of moral capacity and attitude of women. Intervening virginity understanding between physical change and attitude make the women through her virginity can be easily grouped in noble or ignoble. But aqccording to Ayu Utami virginity just a concept. Something that made by human mind to certain purpose. Ayu saw the concept of virginity which lives in our society is unfair, where morality as only the responsibility of women. So that Ayu through her figure A choose to become not virgin to against that concept. According to Ayu, concept of virginity which trapped women on nest of spiders the hymen. Virginity which make women can be despised, in this time shouldn’t relevant anymore, because so many factors which eventually coul deprive women virginity without the prosses of coition. Virginity of women actually become fully rights of the owner, then will given to whom and treated as what determined by women itself. Women should keep her virginity over initiative and desire self, not depend on the assesmen t on individual or society about virginity. For the break-in old value deeply in need to bring up back female sexual identity as women. But in other side, for the break-in should not take place in a radical manner, to break-in the value which embracing virginity does not mean that women have to become not a virgin, because the main break-in is in the conceptual level.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save