Artikelilmiahs

Menampilkan 1.741-1.760 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
17417782I1C006012GEOLOGI DAN ANALISIS KESTABILAN BENDUNGAN JATIBARANG KECAMATAN GUNUNGPATI KABUPATEN SEMARANG
JAWA TENGAH
Karena kebutuhan air di Kota Semarang yang terganggu maka Kementerian Pekerjaan Umum Bidang Sumber Daya Air bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Jawa Tengah memutuskan membangun Bendungan Jatibarang di Kecamatan Gunungpati Kabupaten Semarang. Dan untuk pembuatan bendungan dibutuhkan penelitian dalam aspek geologi dan geologi teknik.
Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi dua satuan bentuk lahan, yaitu satuan lahan perbukitan curam vulkanik dan satuan lahan lembah sangat curam sesar. Hal itu karena ada dua proses geologi yang mempengaruhi terbentuknya geomorfologi daerah penelitian. Pola aliran sungai di daerah penelitian adalah subdendritik dan tipe genetik sungainya adalah konsekuen dan subsekuen, sedangkan stadia sungainya adalah stadia muda.
Pada daerah penelitian terdapat 3 satuan batuan, yaitu Batulempung, Batupasir dan Breksi Vulkanik. Dan bila melihat umur kemudian distarakan dengan kolom stratigrafi peneliti sebelumnya, maka hanya ada dua Formasi pada daerah penelitian, yaitu Formasi Kerek dan Formasi Damar. Sesar naik yang memiliki arah jurus N 1200 E dan kemiringannya mencapai 800 yang terjadi pada pliosen, yang mengakibatkan Formasi Kerek (Batulempung) terangkat.
Berdasarkan hasil perhitungan dimana nilai Qf lebih kecil dari 2% dengan Qinflow rata-rata waduk (2% x 225,43 = 4,5086 m³/s atau 3,895 x105 m³/hari) yaitu Qf = 3,984 m3/hari yang lebih kecil dari 3,895 x105 m³/hari, nilai Kecepatan rembesan (1,73 x 10-7 m/s) lebih kecil dari kecepatan kritis (2,123 m/s), nilai Fs lebih besar dari 1,2 maka Bendungan Jatibarang dengan tipe urugan dinyatakan aman untuk dibangun dan digunakan.
Base of the need for water which was disrupted at Semarang make the Ministry of Public Works for Water Resources and Government of Central Java decided to build a Jatibarang dam in district Gunungpati Semarang. And to build a dam need a research in geology and geological engineering aspect.
Geomorphology of research area was devided into two units, that is steep vulcanic hill and very steep fault valley. That's because there were two geological processes that affect the formationof geomorpholical research area. The pattern of stream flow in the research area is subdendritik and genetic type of river is consequently and subsequently, while stadia river is new stadia.
There are 3 lithologies in research area, that is mudstone, sandstone and volcanic breccia. And when you see the age of the stone then compared with previous research of stratigraphic column, then there are only two formations at research area, that is Kerek formation and Damar formation. Reverse fault which has a stance towards N 1200 E and the slope reaches 800that occured in the Pliocene, which caused Kerek formation raised.
Based on calculation where Qf value is less than 2% with an average Qinflow reservoir (2% x 225,43 = 4,5086 m³/s or 3,895 x105 m3/day) Qf=3,984 m3/day which is smaller than 3,895 x105m3/day, seepage speed value (1,73 x 10-7 m/s) is smaller than the critical speed (2,123 m/s), the value of Fs is greater than 1.2. So, pile type at Jatibarang dam was declared to be build and used.
17427784B1J009041KEANEKARAGAMAN SERANGGA PENYERBUK DALAM MEMBANTU PENYERBUKAN TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.) DAN KEBERHASILAN PENYERBUKANNYA DENGAN PENGKAYAAN TUMBUHAN Euphorbia heterophyllaTanaman mentimun (Cucumis sativus L.) dalam proses penyerbukannya membutuhkan serangga penyerbuk. Keragaman dan kelimpahan serangga penyerbuk di lahan pertanian mulai berkurang sehingga menurunkan tingkat keberhasilan penyerbukan. Hal ini disebabkan berkurangnya sumber pakan bagi serangga penyerbuk ketika tanaman budidaya belum menghasilkan bunga. Oleh karena itu diperlukan pengkayaan lahan pertanian dengan spesies tumbuhan liar berbunga. Salah satu spesies tumbuhan liar yang potensial untuk pengkayaan lahan pertanian adalah Euphorbia heterophylla. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga penyerbuk pada lahan tanaman mentimun yang diperkaya E.heterophylla dan tingkat keberhasilan penyerbukannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisis data menggunakan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dan analisis korelasi regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkayaan E. heterophylla mampu meningkatkan keanekaragaman serangga penyerbuk dan keberhasilan penyerbukan bunga mentimun. Indeks keanekaragaman serangga penyerbuk tertinggi ditemukan pada perlakuan pengkayaan E. heterophylla 15%. Pollination process of cucumber plant ( Cucumissativus L. ) needs insect pollinators.The diversity and abundance of insect pollinators on farms began to decrease, so that reduce level of pollination success. It was caused by reduction in a source of feed for insect pollinators when cultivated plants not produce. Therefore enrichment agricultural land with a kind of wild flowering plant is required.One of various wild plants that potential for enrichment of agricultural land is Euphorbia heterophylla. The goal of this research was to know the diversity of pollination insects in cucumber land that has been enriched by E. heterophylla and pollination success rate. The method that has been used in this research was experiment method by a Completely Randomized Design (RAL). Analysis of the data was used variant analysis (ANOVA) after that; it was continued by Least Significant Difference (BNT) regression and correlation analysis.The result showed that E.heterophylla enriched to increase the diversity of pollination insect and pollination success of cucumber. The highest diversity index of insect pollinators were found in the enrichment treatment E. heterophylla 15%.
17437785B1J009060KERAGAMAN JENIS SERANGGA PENYERBUK DAN POPULASINYA PADA TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna unguiculata L.) YANG DIPERKAYA Euphorbia heterophyllaPenelitian tentang “Keragaman Jenis Serangga Penyerbuk dan Populasinya pada Tanaman Kacang (Vigna unguiculata L.) yang Diperkaya Euphorbia heterophylla” telah dilaksanakan di Desa Gandatapa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keragaman serangga penyerbukan serta populasi serangga yang berkunjung pada tanaman kacang panjang (V. unguiculata L.) yang diperkaya E. heterophylla dan pengaruh pengkayaan E. heteropylla terhadap tingkat keberhasilan penyerbukan kacang panjang (V. unguiculata L.). Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) sebagai perlakuan adalah tumbuhan E. heterophylla dengan jumlah 0, 5,10 dan 15% dari jumlah populasi tanaman kacang panjang. Data keanekaragaman serangga dianalisis dengan menggunakan indeks Shannon - Winner dan Shannon - Evennes, untuk mengetahui perbedaan dan pengaruh pengkayaan tumbuhan berbunga dianalisis menggunakan analisis varians yang dilanjutkan dengan uji lanjut BNT. Untuk mengetahui hubungan antara pengkayaan tumbuhan dengan keragaman serangga penyerbuk dan peningkatan keberhasilan penyerbukan dilakukan Analisis Korelasi dan Regresi. Hasil penelitian ini diperoleh 8 jenis serangga penyerbuk yang terdiri dari Ceratina sp., Trigona sp., Episyrphus balteatus, Neprothoma apendiculata, Appias lyncida, Eurema andersonii, Junonia almana dan Mycalesis horsfieldi. Pengkayaan dengan menggunakan E. heterophylla 15% mampu meningkatkan keberhasilan penyerbukan dan produksi buah kacang panjang. Terdapat hubungan positif antara tumbuhan liar dan tanaman kacang panjang dengan keberhasilan penyerbukan sebesar 81,93%.A study on "The diversity of pollinator insects population on beans (Vigna unguiculata L.) that were enriched by Euphorbia heterophylla" has been held in the Gandatapa village. This study was conducted to determine the diversity of pollinating insects and insect populations that visited bean plants (V. unguiculata L.) that were enriched by E. heterophylla and the enrichment effect on E. heteropylla for pollination success rate of long beans (V. unguiculata L.). This study used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) as the treatment plants were E. heterophylla with the number of 0, 5, 10 and 15% of the total population of bean plants. The diversity of insects were analyzed using Shannon-Winner and Shannon-Evenness Index test, to find out the differences and the effect of enrichment on flowering, data were analyzed using analysis of variance followed by of Least Significant Difference (LSD) test. Correlation and regression analysis were used to determine the relationship between enrichment plants and the increased diversity of pollinator insects and pollination success. This research obtained 8 species of insect pollinators consisting of Ceratina sp., Trigona sp., Episyrphus balteatus, Neprothoma apendiculata, Appias lyncida, Eurema andersonii, Junonia almana and Mycalesis horsfieldi. Enrichment by using E. heterophylla 15 % was able to increase the success of pollination and fruit production of beans. Positive relationship occurs between wild plants and bean plants with 81.93 % for pollination success.
17447786H1F008061GEOLOGI DAN POTENSI SUMBERDAYA ANDESIT
DAERAH KALISALAK DAN SEKITARNYA, KECAMATAN KEBASEN,
KABUPATEN BANYUMAS,
JAWA TENGAH
Lokasi penelitian berada di daerah Kalisalak, Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah secara geografis berada pada koordinat 91540000N - 91580000N dan 3030000E -3080000E dengan luas daerah penelitian sebesar 5,5x5,5 km². Daerah penelitian merupakan bagian dari Anggota Breksi Formasi Halang dan Formasi Halang berumur Miosen Tengah sampai Pliosen.
Secara umum daerah penelitian terbagi menjadi tiga satuan geomorfologi yaitu Satuan Dataran Aluvial, Satuan Perbukitan structural Curam dan Satuan Perbukitan Denudasional Agak Curam. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah Sesar Mendatar Kanan Menaik Papringan, Sesar Mendatar Kiri Menaik Sawangan, Sesar Mendatar Kanan Dawuhan, Sesar Mendatar Kiri Naik Binangun, Sesar Mendatar Kiri Kalisalak. Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi empat satuan, dari tua hingga muda adalah Satuan Lava Andesit, Satuan Breksi Andesit, Satuan Batupasir dan Satuan Endapan Aluvial.
Perhitungan Cadangan Andesit pada Blok Prospek I dengan metode penampang tegak diperoleh cadangan sebesar : 4.226.696.810 Ton dan pada Blok Prospek II diperoleh cadangan sebesar : 3.272.600.691 Ton.
The study area is located in Kalisalak, District Kebasen Banyumas, Central Java Province is geographically located at coordinates 91540000N - 91580000N and 3030000E-3080000E with broad research area of 5.5 x5, 5 km ². The research area is part of the Breccia Member Halang Formation and Formation Halang from Middle Miocene to Pliocene.
There are three main geomorphologic unit in the study area that is Alluvial Plain Unit, Structural Steeply Hills Unit and Denudasional Moderately Steeply Hills Unit. Geological structure in this area that is Reverse Right Slip Fault of Papringan, Thrust Left Slip Fault of Sawangan, Right Slip Fault of Dawuhan, and Reverse Left Slip Fault of Binangun. Stratigraphic study area is divided into four units, from old to young is Andesite Lava Unit, Breccia Andesite Unit, Sandstone Unit and Alluvial Deposition Unit.
Calculation of andesite resources prospect on Block I with the vertical section method had obtainable as 4226696810 ton and prospects in Block II had obtainable as 3272600691 ton.
17457783I1C006023GEOLOGI DAN ANALISIS KERENTANAN LONGSORAN DI DAERAH PASEH DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BANJARMANGU, KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAHPenelitian tugas akhir ini terletak pada Desa Paseh dan sekitarnya, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dengan letak geografis daerah penelitian adalah 109° 38' 7.3" – 109° 41' 50.5" BT dan 7° 19' 29.9" – 7° 22' 11.8" LS.
Daerah penelitian terbagi menjadi empat satuan geomorfologi yaitu Satuan Bukit Intrusi Pekandangan, Satuan Punggungan Block Sesar Kendaga, Satuan Perbukitan Denudasional Paseh, dan Satuan Dataran Aluvial Banjarmangu yang secara umum memiliki stadia geomorfik dewasa. Urutan stratigrafi dari yang paling tua hingga yang paling muda adalah Satuan Batupasir, Satuan Intrusi Diorit, Satuan Breksi, dan Satuan Endapan Aluvial. Batuan pada satuan-satuan tersebut mulai diendapkan pada Jenjang Waktu N18 sampai dengan Resen dengan lingkungan pengendapan dari bathial atas, daerah transisi dan lingkungan pengendapan darat. Struktur geologi yang terekam pada daerah penelitian berupa Sesar Anjak Menganan Kendaga.
Peta kerentanan longsoran daerah penelitian dihasilkan dari metode Anbalagan (1992) yaitu berupa pendekatan numerik dengan tabel skema pengkelasan yang disebut Landslide Hazard Evaluation Factor (LHEF). Pada penelitian ini terdapat lima faktor yang diperhitungkan yaitu litologi, kemiringan lereng, relief relatif, tutupan lahan, dan kebasahan lahan. Kelima faktor tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan nilai Total Estimated Hazard (TEHD) sehingga didapatkan zonasi kerentanan longsoran di daerah penelitian. Untuk mendapatkan nilai LHEF dan TEHD menggunakan metode SIG (Sistem Informasi Geografis) pada perangkat lunak ArcGis.
Hasil akhir dari pengolahan tersebut menghasilkan peta zonasi kerentanan longsoran daerah penelitian yaitu Tingkat Kerentanan Longsoran Sangat Rendah sebesar 15% dari luas daerah penelitian, Tingkat Kerentanan Longsoran Rendah sebesar 10% dari luas daerah penelitian, Tingkat Kerentanan Longsoran Sedang sebesar 20% dari luas daerah penelitian, Tingkat Kerentanan Longsoran Tinggi sebesar 35% dari luas daerah penelitian, dan Tingkat Kerentanan Longsoran Sangat Tinggi sebesar 20% dari luas daerah penelitian. Tingkat kerentanan sangat rendah tersusun oleh breksi, dan endapan aluvial dengan kemiringan lereng <15o-26o, relief relatif <100m, tataguna lahan berupa persawahan dan pemukiman datar, serta kandungan air permukaan lembab, basah, dan merembes. Tingkat kerentanan rendah tersusun oleh breksi dengan kemiringan lereng <15o-26o, relief relatif <100m, tataguna lahan berupa persawahan dan pemukiman datar, serta kandungan air permukaan lembab, basah, dan merembes. Tingkat kerentanan sedang tersusun oleh breksi dengan kemiringan lereng <15o-45o, relief relatif 101-300m, serta tataguna lahan berupa persawahan, perkebunan dan pemukiman datar. Tingkat kerentanan tinggi tersusun oleh batupasir dan breksi dengan kemiringan lereng 16o-35o, relief relatif sedang >300m, tutupan lahan jarang, dan kandungan air permukaan lembab-basah. Sedangkan tingkat kerentanan sangat tinggi tersusun oleh breksi dan intrusi diorit dengan kemiringan lereng 36o->45o, relief relatif sedang >300m, tutupan lahan jarang, dan kandungan air permukaan merembes-mengalir.
This final report of the scholar research located in Paseh area and its surrounding, Banjarmangu District, Banjarnegara Regency, Central Java with lokal geography research is 109° 38' 7.3" – 109° 41' 50.5" BT and 7° 19' 29.9" – 7° 22' 11.8" LS
Study area was divided into four geomorphological units namely Unit of Pekandangan Hill Intrusion, Unit of Kendaga Fault Block ridge, Unit of Hills Denudasional Paseh, and Unit of Banjarmangu Alluvial Plain generally have geomorphic adult stadia. Stratigraphic sequence from the oldest to the youngest is Unit Sandstone, Diorite Intrusion Unit, Breccia Unit, and Alluvial Deposition Unit. Rock on these units began deposited on Study Time N18 up to Resen with bathial depositional environment of the above, the transition area and terrestrial depositional environment. Geological structure recorded Right Thrust Slip Kendaga.
Landslide susceptibility map of the study area resulting from the Anbalagan method (1992) is a numerical approach to the grading scheme table called Landslide Hazard Evaluation Factor (LHEF). In this study, there are five factors that accounted for, they are lithology, slope, relative relief, land cover, and soil wetness. These five factors are summed to obtain the value of Total Estimated Hazard (TEHD) to obtain zoning of landslide susceptibility in the study area. To get the value LHEF and TEHD, used GIS methods (Geographical Information Systems) in ArcGIS software.
The end result of such processing produces landslide susceptibility zonation map of the study area, namely Very Low Level Vulnerability Avalanches at 15% of the area of study, level of vulnerability Avalanche Low of 10% of the area of study, level of Landslide Susceptibility Medium by 20% of the area of research, High landslide Susceptibility level of 35% of the area of research, and Very High landslide Susceptibility rate of 20% of the area of study. Very low level of vulnerability breccia composed, and alluvial deposits with slope <15°-26°, relative relief <100m, land use and settlement in the form of flat rice fields, as well as the water content of the surface moist, wet, and seeps. Low vulnerability level is composed of breccia with slope <15°-26°, relative relief <100m, land use and settlement in the form of flat rice fields, as well as the water content of the surface moist, wet, and seeps. The level of vulnerability is being composed by a breccia with slope <15°-45°, relative relief of 101-300m, and land use in the form of rice fields, plantations and residential flat. High degree of vulnerability is composed by sandstones and breccias with 16°-35° slope, relative relief was >300m, rare land cover, and water content of moist-wet surface. While very high levels of vulnerability and intrusion breccia composed of diorite with slope 36°->45°, relatively moderate relief >300m, rare land cover, and content - flowing surface water seeps.
17467665H1F009044GEOLOGI DAN STUDI ALTERASI - MINERALISASI DAERAH AIR JANGKANG DAN SEKITARNYA KECAMATAN MERAWANG KABUPATEN BANGKA INDUK PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNGSecara geografis daerah penelitian terletak di 627765 mE – 9783450mN 623740mE – 977968mN tepatnya, di Air Jangkang Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka Induk Provinsi Kepulauan Bangka – Belitung dengan luas daerah penelitian 4 km x 3,5 km. Daerah penelitian merupakan daerah yang berhubungan dengan mineralisasi Sn. Adanya proses mineralisasi menandakan, bahwa pada daerah penelitian juga terjadi ubahan pada batuan yang ada.
Penelitian dilakukan dengan pemetaan geologi dan juga analisis laboratorium. Pemetaan geologi dilakukan untuk mengambil sampel batuan di lapangan. Analisis laboratorium, seperti analisis petrografi dilakukan untuk menentukan jenis batuan, analisis PIMA dilakukan untuk mengetahui mineral – mineral ubahan, analisis XRF dilakukan untuk mengetahui unsur logam, analisis mineragrafi dilakukan untuk mengetaui mineral - mineral logam pada sayatan poles.
Daerah penelitian memiliki dua satuan batuan, yakni satuan batupasir dan satuan granit. Satuan geomorfologi terbagi menjadi dua satuan. Satuan denudasional peneplain (D5) dan satuan struktural terdenudasi (S8). Struktur yang terdapat pada daerah penelitian adalah Sesar Mendatar Kanan yang terdapat pada daerah Air Jangkang. Alterasi yang terdapat pada daerah penelitian terbagi menjadi 3 zona, pertama zona kuarsa±biotit±serisit±klorit±pirit (albitised granite), zona kuarsa±muskovit±serisit (silisifikasi), zona kuarsa±kaolin±haloisit (kaolinisasi). Paragenesis mineralisasi daerah penelitian adalah greisen – hipotermal dengan mineral bijih yang ada adalah kasiterit, pirit, sphalerit. Berdasarkan hasil XRF, kadar Sn pada daerah penelitian berkisar antara 0,01% - 10,88%.

Geographycally, the study area is located in Air Jangkang area, Merawang Distict, Bangka Induk Regency, Bangka Belitung Island and has coordinat 622765mE – 978345mN, 623740mE – 977968mN with the wide area is 4km x 3,5km. The research area is related with mineralization process. This process is indicated rocks in the research area already altered too.
The study used geologycal mapping and laboratory analysis. Geologycal mapping is done to take sample in the research area. Laboratory analysis, as petrography analysis is done to determine of sample, PIMA analysis is done to know altered minerals, XRF analysis is done to know metals element, mineragraphy analysis is done to know ore minerals in polish section.
The research area have two stratigraphy unit. That is sandstone unit and granit unit. Geomorpholgycal unit is divide as two. That is peneplain unit (D5) and denudasional structural unit (S8). Structure of research area is right slip fault. Based on petrography and PIMA analysis, that alteration zone in research area is devide 3 zones, that is quartz±biotite±sericite±chlorite±pyrite zone ( Albitised Granite), quartz±muscovite±sericite zone (silisification), quartz±kaolin±halloysite zone (kaolinization). Paragenesis of mineralizatin in research area are greisen – hypothermal with cassiterite, pyrite, sphalerite as ore mineral. Result by XRF, content of Sn in the reseach area is range from 0,01% - 10,88%.
17477392E1A010114KEDUDUKAN PERATURAN KEBIJAKSANAAN (BELEIDSREGEL) DALAM PRAKTIK PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI INDONESIAPeraturan negara yang menjadi dasar penyelenggaraan negara terdiri dari Peraturan Perundang-undangan, peraturan kebijaksanaan, dan beschhikking. Peraturan kebijaksanaan merupakan instrumen pemerintahan yang digunakan oleh pemerintah dalam melakukan pengaturan atas dasar kebijaksaannya yang berdasarkan atas kewenangan bebas atau freies ermessen.
Pada dasarnya, peraturan kebijaksanaan bukanlah merupakan peraturan perundang-undangan. Peraturan kebijaksanaan merupakan instrumen hukum pemerintahan yang digunakan dalam pengaturan kedalam internal pemerintahan, akan tetapi dalam prakteknya peraturan kebijaksanaan seringkali dijadikan dasar yang sah dalam pengaturan secara umum. Peraturan kebijaksanaan tidak memiliki pembatasan secara yuridis sehingga dalam prakteknya seringkali merugikan masyarakat umum dan memungkinkan terlanggarnya norma peraturan perundang-undangan sehingga mengacaukan tatanan norma peraturan perundang-undangan. Secara hukum tidak ada pengaturan tentang pengujian peraturan kebijaksanaan, sehingga peraturan kebijaksanaan merupakan instrumen pemerintah yang merupakan instrumen tanpa batas.
Kajian terhadap instrumen hukum berupa peraturan kebijaksanaan sangatlah minim dan kurang dibahas secara komprehensif, maka penelitian dan kajian terhadap peraturan kebijaksaan merupakan hal yang penting untuk diteliti dan dikaji.
The state regulation that becomes the basis of the state implementation consists of legislation, discretion regulation, and beschikking. Discretion regulation is an instrument of government is used by the government in making arrangements on the basis of its wisdom are based on free authority or freies ermessen.
Basically, the discretion regulation is not the legislation. The discretion regulation is the legal instruments of government are used in setting into the internal government, but in its practice is often used as the basis valid in the general settings. The regulatory discretion has no juridical restrictions that in practice often detrimental to the public and allows the violation of the norms of legislation that screwed up the order of the norms of legislation. Legally there is no regulation regarding the testing rules of wisdom, so the discretion regulation is an instrument of government which is an instrument indefinitely.
The study of legal instrument in the form of discretion regulation is minimal and less comprehensively discussed, so the research and study of discretion regulation is important to be researched and studied.
17487788B1J009185DETEKSI KERAGAMAN SPESIES BAKTERI METANOGEN RUMEN SAPI MENGGUNAKAN KLONING GEN 16S rRNA DAN SEKUENSINGTernak ruminansia menghasilkan gas metan yang berkontribusi terhadap peningkatan efek rumah kaca di atmosfer. Sapi mengeluarkan gas metan tertinggi selama proses fermentasi pakan dalam rumen. Gas metan dihasilkan oleh bakteri metanogen dalam fermentasi anaerob karbohidrat. Bakteri metanogen sulit diperoleh informasi keragamannya karena sulit dikultur. Salah satu teknik molekuler yang dapat digunakan adalah kloning gen 16S rRNA dan sekuensing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman spesies bakteri metanogen rumen sapi menggunakan teknik kloning gen 16S rRNA dan sekuensing. Metode yang digunakan adalah metode survai. Berdasarkan hasil seleksi klon, diperoleh 51 klon dengan panjang ukuran insert sebesar 800 bp. Hasil sekuensing terhadap insert diperoleh 2 sekuen berbeda, yaitu uncultured bacterium clone 8-3L21 dan uncultured rumen methanogen clone BBS-12 16S ribosomal RNA gene partial sequence dengan similaritas 99% dan 100%. Genus dari sekuen gen 1 dan 3 adalah Prevotella (24%), Clostridium (1,5%), dan bakteri uncultured lain, sedangkan spesies dari sekuen gen 2 adalah Methanobrevibacter ruminantium (21,83%), M. millerae (29,17%), M. gottschalkii (6,47%), Methanosphaera stadtmanae, dan Methanobacterium alcaliphilum. Penelitian ini memberikan informasi ilmiah tentang keragaman spesies bakteri metanogen rumen sapi yang dapat dijadikan sebagai dasar pengendalian bakteri metanogen rumen sapi.

Kata kunci : metanogen rumen sapi, kloning gen, 16S rRNA
Ruminants produce methane gas which contributes to enhanced greenhouse effect in the atmosphere. Cattle issued the highest methane during the fermentation of feed in the rumen. Methane gas produced by methanogen bacteria in carbohydrates anaerobic fermentation. Methanogen bacteria are difficult to obtain diversity information because difficult cultured. One technique can be used is molecular rRNA 16S gene cloning and sequencing. This study aims to determine the species diversity cattle's rumen methanogen bacteria using rRNA 16S gene cloning and sequencing techniques. The method was used survey method. Based on the clones selection results, obtained clones 51 with 800 bp insert size length. The sequencing results of insert obtained 2 different sequences, ie 8-3L21 clone bacterium uncultured and BBS-12 clone methanogens rumen uncultured rRNA 16S gene partial sequence with 99% and 100% similarity. Genus of 1 and 3 gene sequences were Prevotella (24%), Clostridium (1,5%), and other uncultured bacteria, whereas the 2 gene sequences of species was Methanobrevibacter ruminantium (21,83%), M. millerae (29,17%), M. gottschalkii (6,47%), Methanosphaera stadtmanae, and Methanobacterium alcaliphilum. This research provides scientific information about cattle rumen methanogen bacteria species diversity which can be used as a basis for control of cattle rumen methanogen bacteria.

Keywords : cattle rumen methanogens, gene cloning, rRNA 16S


17497789H1D008028ANALISIS KAPASITAS TAMPANG SALURAN DRAINASE LAPANGAN SEPAK BOLA GELORA BUNG KARNO JAKARTAOlahraga merupakan kegiatan positif di masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani. Salah satu jenis olahraga yang paling popular masyarakat Indonesia adalah sepak bola, baik oleh masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Lapangan sepak bola merupakan sarana terpenting untuk olahraga ini, akan tetapi lapangan sepak bola di Indonesia pada umumnya sering dihadapkan masalah genangan air pada waktu musim hujan. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan pengaturan sistem drainase yang baik, seperti pemilihan jenis tanah yang memiliki daya resap tinggi, pengaturan sistem drainase bawah permukaan, serta alternatifalternatif lain yang dapat meminimalisasi terjadinya genangan tersebut. Berdasarkan perhitungan, sistem drainase lapangan sepak bola stadion Gelora Bung Karno diperoleh hasil sebagai berikut: Struktur lapisan tanahnya terdiri dari campuran tanah dan pupuk (0,15 m), pasir beton (0,10 m), Ijuk (0,03 m) dan kerikil (0,30 m). Pipa yang digunakan berdiameter (D) = 4 inci dengan jarak pipa (L) = 7 m. Waktu yang diperlukan air untuk sampai ke pipa drain (T) = 34,349 mm/jam. Pada metode ABM terjadi genangan sebesar 64,039 mm/jam sedangkan pada metode Tadashi Tanimoto sebesar 20,694.Sport is a positive activity in the community which aims to improve the physical and spiritual health. One of the most popular kind of sport Indonesian people is football , both urban and rural communities. Football field is the most important means for this sport,but generally the football field in Indonesia are often faced problems of water stagnation during rainy season.This can actually be overcomed by setting a good drainage system, such as the selection of the type of soil that has a high penetrating power, setting the subsurface drainage system, as well as other alternatif that can minimize the occurrence of inundation. Based on calculations, the soccer field drainage system of Bung Karno stadium obtained the following results: The structure of the soil is composed of a mixture of soil and fertilizer (0.15 m), concrete sand (0.10 m), Ijuk (0.03 m) and gravel (0.30 m). Diameter pipe used (D) = 4 inches with a pipe spacing (L) = 7 m. The time it takes the water to get to the drain pipe (T) = 34.349 mm / hour. At ABM method occurs puddle of 64.039 mm/h, while the method of Tadashi Tanimoto 20.694.
17507790G1A009018HUBUNGAN UMUR, JENIS KELAMIN DAN POLA CEDERA EKSTREMITAS BAWAH DENGAN STATUS DISABILITAS AKIBAT KECELAKAAN LALU LINTAS PERIODE AGUSTUS SEPTEMBER 2012 DI IGD RUMAH SAKIT ORTHOPAEDI PURWOKERTOHUBUNGAN UMUR, JENIS KELAMIN DAN POLA CEDERA EKSTREMITAS BAWAH DENGAN STATUS DISABILITAS
AKIBAT KECELAKAAN LALU LINTAS
PERIODE AGUSTUS SEPTEMBER 2012
DI IGD RUMAH SAKIT ORTHOPAEDI PURWOKERTO

Abstrak
Latar Belakang : Penyebab cedera paling banyak di seluruh dunia adalah kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas menyebabkan kematian dan disabilitas (kecacatan) yang dapat meninggalkan beban penyakit dan perubahan besarbagi individu. Disabilitas dapat dinilai menggunakan status disabilitas.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan umur, jenis kelamin, dan pola cedera ekstremitas bawah dengan status disabilitas akibat kecelakaan lalu lintas periode Agustus September 2012 di IGD Rumah Sakit Orthopaedi Purwokerto.
Metode : Desain penelitian adalah cross sectional dengan30 responden dan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Variabel independen adalah umur, jenis kelamin, lokasi cedera, dan jenis cedera sementara variabel dependen adalah status disabilitas.
Hasil :Umur pasien didominasi kelompok 12-25 tahun yaitu 14 pasien (46,7%). Jenis kelamin pasien didominasi kategori laki-laki yaitu 22 pasien (73,3%). Jenis cedera didominasi kategori fraktur yaitu 17 pasien (73,3%). Lokasi cedera didominasi kategori cruris dan ankle yaitu 16 pasien (53,3%). Terdapat 24 pasien (80,0%) dengan status disabilitas tidak bermasalah dan 6 pasien (20%) dengan status disabilitas bermasalah. Analisis Kolmogorov Smirnov untuk mengetahui hubungan umur dengan status disabilitas menunjukkan angka 0,809 dan untuk mengetahui hubungan lokasi cedera dengan status disabilitas menunjukkan angka 0,181. Analisis Fisher untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dan status disabilitas menunjukkan angka 0,155 dan untuk mengetahui hubungan jenis cedera dengan status disabilitas menunjukkan angka 0,360. Oleh karena p>0,05 maka tidak terdapat hubungan umur, jenis kelamin, lokasi cedera, dan jenis cedera dengan status disabilitas pada penelitian ini.

Kata Kunci : status disabilitas, cedera ekstremitas bawah, kecelakaan lalu lintas
ASSOCIATION BETWEEN AGE , SEX AND THE PATTERN
OF LOWER EXTREMITY INJURY WITH DISABILITY STATUS
DUE TO TRAFFIC ACCIDENT
IN THE PERIOD FROM AUGUST TO SEPTEMBER 2012
AT IGD RUMAH SAKIT ORTHOPAEDI PURWOKERTO

Abstract
Background : The cause of most injuries in worldwide is traffic accidents. Traffic accidents cause death and disability which can leave the burden of disease and a major change for the individual . Disability can be assessed using the disability status.
Objective : This study aims to determine the relationship between age, sex, and the pattern of lower extremity injury with disability status due to traffic accidents in the period from August to September 2012 at IGD Rumah Sakit Orthopaedi Purwokerto.
Methods : The study design was cross-sectional with 30 respondents and collecting data using questionnaires. Independent variables were age, sex, location of injury , and type of injury while the dependent variable is the disability status.
Results : Age of patients dominated with 12-25 years group ie 14 patients (46.7%). Patient sex dominated with male category ie 22 patients (73.3%). The type of injury is dominated with fracture category ie17 patients (73.3%). Location of injury dominated with cruris and ankle category ie 16 patients (53.3%). There were 24 patients (80.0%) with non problematic disability status and 6 patients (20%) with problematic disability status. Kolmogorov Smirnov analysis to determine the association between age with disability status shows the number 0.809 and to determine the association between the location of injury with disability status shows the number 0.181. Fisher analysis to determine the association between gender and disability status shows the number 0.155 and to determine the association between the type of injury with disability status shows the number 0.360 . Therefore, p>0.05 then there is no association between age, sex, location of injury, and type of injury with disability status in this study.

Keywords : disability status , lower extremity injury , traffic accident
17517792G1G009008SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NANOPARTIKEL FERRITE OKSIDE (Fe3O4)
KITOSAN SUPERPARAMAGNETIKMENGGUNAKAN TEMPLAT KANJI
UNTUK APLIKASIMATERIAL KONTRAS BERBASIS
MAGNETIK RESONANSI IMAGING (MRI)
Kanker merupakan penyakit yang ditandai kelainan siklus sel khas yang menimbulkan
kemampuan sel tumbuh tidak terkendali dan dapat menyebabkan kematian. Kanker dapat dicegah dengan cara diagnosa dini dengan menggunakan MRI yang ditambahkan dengan kontras agent berupa Fe3O4. Fe3O4 memiliki kecenderungan teragregasi akibat besarnya dipol-dipol magnetik antar partikel sehingga untuk mencegah terjadinya agregasi dibutuhkan tambahan selubung berupa kitosan dan kanji untuk meningkatkan momen magnet. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik hasil sintesis nanopartikel Fe3O4-kitosan templat kanji. Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni dengan membagi kelompok sampel menjadi 3, yaitu kelompok sampel A (Fe3O4), sampel B (Fe3O4-kitosan) dan sampel C (Fe3O4-kitosan templat kanji). Sintesis Fe3O4-kitosan templat kanji menggunakan metode kopresipitasi dari campuran larutan Ferrous sulphate heptahydrate (FeSO4.7H2O) dan Ferric chloride hexahydrate (FeCl3.6H2O ) dengan perbandingan mol 1 : 2 yang dipanaskan pada suhu 70oC selama 30 menit pada kondisi lingkungan tertutup, kitosan 1% dan kanji 0,5 %. Karakterisasi diuji menggunakan XRD, SEM dan VSM. Hasil penelitian ini menunjukkan sintesis nanopartikel Fe3O4-kitosan kanji dengan hasil uji XRD menunjukan sifat magnet yaitu (1 1 1), (2 2 0), dan (3 1 1). Hasil SEM menunjukkan reduksi ukuran partikel Fe3O4-kitosan sebesar 75 nm - 234 nm dengan Fe3O4-kitosan templat kanji menjadi sebesar 70 nm - 203 nm. Hasil VSM menunjukkan nanopartikel Fe3O4-kitosan templat kanji bersifat superparamagnetik dengan momen magnet sebesar 61.06 emu/gr. Simpulan penelitian ini adalah sintesis nanopartikel Fe3O4-kitosan templat kanji sudah dapat digunakan sebagai material kontras karena nilai momen magnet masih dalam rentang normal material kontras yaitu sebesar 60 - 90 emu/gr.
Cancer is a disease that characterize by an abnormalities typical cell cycle that give cell
an ability to grow out of control and can lead to death. Cancer can be prevented by early
diagnosis using MRI and were added by Fe3O4 as a contrast agent. Fe3O4 has a tendency aggregated due to the magnitude of the magnetic dipole-dipole inter-particle so as to prevent the aggregation it is required a sheath additional such as chitosan and starch to enhance the magnetic moment. The purpose of this study was to determine the characteristics result of nanoparticles synthesized Fe3O4-chitosan template starch. This research method is purely experimental laboratory by dividing the sample into three groups, namely group A samples (Fe3O4), sample B (Fe3O4-chitosan) and sample C (Fe3O4-chitosan template starch). Synthesis of Fe3O4-chitosan starch template using coprecipitation method from a mixed solution of Ferrous sulphate heptahydrate (FeSO4.7H2O) and Ferric chloride hexahydrate (FeCl3.6H2O) with a mole ratio of 1: 2 and heated at 70 ° C for 30 minutes in a closed environment, chitosan 1 % and 0.5% starch. Characterization tested using XRD, SEM and VSM. The results of the study Fe3O4-chitosan starch nanoparticles synthesis with the XRD test show that the magnetic properties is (1 1 1), (2 2 0), and (3 1 1). SEM results showed reduction of Fe3O4-chitosan particle size of 75 nm - 234 nm with Fe3O4-chitosan template starch amounted to 70 nm - 203 nm. VSM results showed Fe3O4-chitosan starch template nanoparticles are superparamagnetic with a magnetic moment of 61.06 emu / g. Conclusions of this study is the synthesis of Fe3O4-chitosan starch nanoparticles template can already be
used as a contrast material for magnetic moment because the value is still within the normal range of contrast material in the amount of 60-90 emu / g.
17527771B1J009198KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (Lepidoptera)
DI KEBUN RAYA BATURRADEN
Kupu-kupu (Lepidoptera) telah lama digunakan sebagai spesies indikator perubahan ekosistem hutan, baik di daerah tropis maupun subtropis. Hal ini disebabkan karena ketergantungan kupu-kupu terhadap keragaman tanaman dan kondisi habitat hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman kupu-kupu yang terdapat di Kebun Raya Baturraden. Penelitian ini dilakukan di Kebun Raya Baturraden dengan menggunakan metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan 3 kali pengulangan. Analisis data keragaman dilakukan dengan penghitungan Indeks Shannon-Wienner, Indeks Simpsons, dan Morisita-Horn dengan menggunakan program Biodiversity Pro 2 dan Program Estimates 6.01b. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 6 familia yaitu Danaidae, Lycaenidae, Nymphalidae, Satyridae, Papilionidae, dan Pieridae, dengan jumlah 24 spesies dan 187 individu. Nilai keragaman berdasarkan indeks keragaman Shanon-Wienner dan Simpsons yang tertinggi terdapat pada lokasi taman bunga (H’=2,649, D=0,917) diikuti air terjun beta (H’=2,272,D=0,886) dan yang terendah pada lokasi hutan damar (H’=2,183,D=0,851). Spesies yang paling jarang ditemukan adalah Jamides bochus, Amnosia decora, Elymnias ceryx (endemik), Tanaecia iapis, dan Chilades paradoxa (masing-masing 1 individu), sedangkan spesies yang paling banyak ditemukan adalah Lethe godana dan Ypthima nigrican (masing-masing 15 individu). Berdasarkan Indeks kesamaan Morisita-Horn menunjukkan kesamaan paling tinggi yaitu antara taman bunga dan hutan damar (CMH=79%), diikuti taman bunga dan air terjun beta (CMH=60,2%, dan yang kesamaan paling rendah yaitu antara lokasi air terjun beta dan hutan damar (CMH=60%). Perbedaan antar habitat yang dihitung dengan ANOVA menghasilkan Sig. 0,489>0,05, maka diartikan tidak ada perbedaan yang nyata antar lokasi pengamatan.

Kata kunci : Kebun Raya Baturraden, Keanekaragaman, Kupu-kupu (Lepidoptera).
Butterflies (Lepidoptera) have long been used as an indicator species of forest ecosystem change, both in tropics and subtropics. This is due to the dependence of the butterfly and plant diversity of forest habitat conditions. The purpose of this study was to determine the diversity of butterflies found in Kebun Raya Baturraden. This research was conducted at the Kebun Raya Baturraden using survey method. The sampling technique is purposive sampling with 3 repetitions. Data analysis was performed by calculating the diversity Shannon-Wienner index, Simpsons Index, and Morisita-Horn by using Biodiversity Pro 2 program and 6.01b Estimates Program. The results showed that there were as 6 familia of Danaidae, Lycaenidae, Nymphalidae ,Satyridae, Papilionidae, and Pieridae with the number of 24 species and 187 individuals. The highest value of diversity index based on the Shannon-Wienner and Simpsons was found in the location of the flower garden (H'=2.649, D=0.917) followed by beta fall (H'=2.272, D=0.886) and the lowest was found in damar forest (H'=2.183, D=0.851). The most rare species was Jamides bochus, Amnosia decora, Elymnias ceryx (endemic), Tanaecia iapis, and Chilades paradoxa (each 1 individual), while the species most commonly found was Lethe godana and Ypthima nigrican (15 individuals each). Based on the Morisita - Horn similarity index, the highest similarity was between flower garden and damar forest (CMH=79%), followed by flower garden and beta fall (CMH=60.2%, and the lowest similarity was between the location of the beta fall and damar forest (CMH=60%). Differences between habitats were calculated by ANOVA produced Sig. 0.489>0.05, mean there was no real difference between the location of the observation.
Keywords : Kebun Raya Baturraden, Diversity, butterflies (Lepidoptera).
17537793G1D008095ANALISIS FAKTOR PENYEBAB TINGGINYA KEJADIAN AIDS DI KLINIK VCT CAHAYA PITA RSUD CILACAPANALISIS FAKTOR PENYEBAB TINGGINYA KEJADIAN AIDS DI KLINIK VCT CAHAYA PITA RSUD CILACAP

ABSTRAK
Wahyu Teten Rustendi 1), Atyanti Isworo 2), Nunung Unggul 3)

Latar Belakang : Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan sindrom dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penyebaran penyakit HIV/AIDS dapat melalui perilaku seksual, jenis pekerjaan, penggunaan jarum suntik tidak steril dan transfusi darah.
Tujuan : Studi ini untuk menganalisis faktor penyebab tingginya kejadian AIDS di klinik VCT Cahaya Pita RSUD Cilacap.
Metode : Penelitian diskriptif dengan pendekatan kasus kontrol (case control study) dengan kuisioner untuk pengumpulan data. Sampel penelitian ini berjumlah 80 responden dengan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis chi square dan regresi logistik.
Hasil :Berdasarkan analisis data pada faktor jenis pekerjaan p= 0,000 dan faktor perilaku seksual p=0,005 artinya terdapat hubungan dengan kejadian AIDS di klinik VCT Cahaya Pita RSUD Cilacap. Sedangkan pada pemakaian jarum suntik p=0,014 dan transfusi darah p=0,058 berdasarkan uji statistik tidak ada hubungan dengan kejadian AIDS di klinik VCT Cahaya Pita.
Kesimpulan :Ada hubungan antara perilaku seksual dan jenis pekerjaan terhadap tingginya kejadian AIDS klinik VCT Cahaya Pita RSUD Cilacap

Kata Kunci : HIV/AIDS, VCT
FACTOR ANALYSIS OF THE CAUSES OF THE HIGH INCIDENCE OF AIDS IN THE CAHAYA PITA VCT CLINIC OF RSUD CILACAP
ABSTRACT
Wahyu Teten Rustendi 1), Atyanti Isworo 2), Nunung Unggul3)

Background: Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) is a syndrome with symptoms of opportunistic disease or certain cancers due to decreased immune system by infection with Human Immunodeficiency Virus (HIV). The spread of HIV / AIDS can be through sexual behavior, type of work, the use of unsterilized needles and blood transfusions.
Objective: This study was to analyze the causes of the high incidence of AIDS in the Cahaya Pita VCT clinic of RSUD Cilacap.
Methods: The study was descriptive with approach control case (case control study) with a questionnaire for data collection. Sample size was 80 respondents with a purposive sampling method. Data were analyzed by chi-square analysis and logistic regression.
Results: Based on the analysis of data on the type of job factors and factor p = 0.000 p = 0.005 sexual behavior means there is a relationship with the incidence of AIDS in the Cahaya Pita VCT clinic of RSUD Cilacap. While the use of hypodermic needles p = 0.014 and p = 0.058 blood transfusions based on a statistical test no association with the incidence of AIDS in the Cahaya Pita VCT Clinic.
Conclusion: There is a relationship between sexual behavior and the type of work to the high incidence of AIDS in Cahaya Pita VCT Clinic of RSUD Cilacap.

Key Word : HIV/AIDS, VCT




________________________________________
1) The student of Nursing Department of Jenderal Soedirman University
2) Medical Surgical Departement, Nursing Departement, Faculty of Medicine and Health Sciences, Jenderal Soedirman University, Purwokerto
3) Nurse of Hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Paviliun Abiyasa dan Pusat Geriatri

17547797B1J009195Penggunaan Limbah Medium Tanam Pleurotus sajor-caju dan Auricularia auricula dalam Dekolorisasi Limbah Batik pada Waktu Kontak yang BerbedaLimbah medium tanam jamur yang masih mengandung miselium dan selulosa dapat digunakan sebagai agen dekolorisasi limbah batik. Prinsip pengolahan limbah batik yaitu untuk menghilangkan kadar bahan pencemar (zat warna) yang terkandung dalam limbah batik, supaya memenuhi syarat untuk dibuang ke lingkungan. Penelitian ini meggunakan aplikasi teknologi pengolahan kombinasi antara biologi dan fisika, yaitu dengan memanfaatkan limbah medium tanam Pleurotus sajor-caju dan Auricularia auricula sebagai agen dekolorisasi. Secara biologi adalah dengan memanfaatkan miselium jamur dan secara fisika yaitu melalui proses adsorpsi oleh selulosa dalam limbah medium tanam jamur. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan limbah medium tanam P. sajor-caju dan A. auricula dengan waktu kontak berbeda dalam mendekolorisasi limbah batik dan mengetahui waktu kontak optimum pada penggunaan limbah medium tanam P. sajor-caju dan A. auricula yang menghasilkan persentase dekolorisasi limbah batik tertinggi. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental yang disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan split plot design dalam sepuluh perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah lama waktu kontak (W) yaitu 24 jam (W1), 72 jam (W2), 120 jam (W3), 168 jam (W4) dan 216 jam (W5) sebagai main plot dan jenis limbah medium tanam P. sajor-caju (B1) dan A. auricula (B2) sebagai sub plot. Parameter utama adalah persentase dekolorisasi limbah batik sedangkan parameter pendukungnya adalah pengukuran pH serta suhu pada awal dan akhir perlakuan. Data persentase dekolorisasi yang diperoleh dianalisis menggunakan uji varian (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% dan 99% kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan waktu kontak menggunakan limbah medium tanam jamur P. sajor-caju dan A. auricula berpengaruh nyata terhadap dekolorisasi limbah batik. Lama waktu kontak optimum dalam dekolorisasi limbah batik adalah 72 jam menggunakan limbah medium tanam P. sajor-caju (W2B1), dengan persentase dekolorisasi sebesar 55,82%.The spent planting medium of mushroom contains mycelium and cellulose used as decolorization agent on the colour batik waste. Processing principles of batik dye wastewater is for eliminate pollutant levels, in order to qualify for discharged into the environment. This research applied a combination of biology and physics technologies, namely used spent mushroom of Pleurotus sajor-caju and Auricularia auricula as the decolorization agent. Biologically is use mycelium of P. sajor-caju and A. auricula, and physically is use adsorbsing by cellulose from spent mushroom. The aims of research are to determine the ability of spent mushroom. P. sajor-caju and A. auricula with different contact time on decolorization batik waste, and to know the optimum contact time with highest decolorization batik waste percentage using spent mushroom. P. sajor-caju and A. auricula. Method used was experimental method that arranged based on completely randomized design (CRD) with split plot design in ten treatments and three times replication. Tested treatment was contact time (W) that was 24 hours (W1), 72 hours (W2), 120 hours (W3), 168 hours (W4) and 216 hours (W5) part of main plot and types of spent mushroom P. sajor-caju (B1) and A. auricula (B1) as sub plot. The main parameter is the percentage decolorization batik waste while supporting parameter is pH measurements and temperature at the beginning and end of treatment. The data obtained were statistically analyzed using Varian Test (ANOVA) on confidence level of 95% and 99% then continued with Honest Significant Difference Test (BNJ) with 95% confidence level. The result show that variation contact time treatment used spent mushroom P. sajor-caju and A. auricula provide significant effect on batik waste decolorization. The optimum contact time is 72 hours used spent mushroom P. sajor-caju, with decolorization percentage is 55,82%.
17557794J1A006032ANALISIS KERAPATAN DAN MORFOLOGI VEGETASI MANGROVEDI PESISIR KABUPATEN PEMALANGPengamatan menunjukan jenis tumbuhan mangrove yang tumbuh dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan di lokasi penelitian adalah Avicennia alba, Avicennia officinalis, dan Rhizophora apiculata, karena di daerah tersebut merupakan daerah rehabilitasi mangrove. Kegiatan rehabilitasi ini dilakukan oleh masyarakat sekitar dan dibantu oleh OISCA dan Pemerintah Kabupaten Pemalang bersama kelompok masyarakat Pelita Bahari yang disponsori oleh Tokio Marine Insurance. Potensi regenerasi kerapatan tumbuhan mangrove di Desa Mojo untuk potensi semai, anakan dan pohon masih rendah dikarenakan Ekosistem mangrove banyak yang mati. Selain sampah plastik hantaman ombak yang terlalu besar. Secara umum vegetasi mangrove pada stasiun 1, stasiun 2, dan stasiun 3 di Desa Mojo di dominasi oleh 3 jenis tanaman mangrove diantaranya Avicennia alba, Rhizophora apiculata dan Avicennia officianalis. Rhizophora apiculata banyak ditemukan di stasiun 1 karena stasiun 1 merupakan zona yang mendekati laut. Pengamatan morfologi yang dilakukan yaitu mengamati jenis vegetasi di setiap stasiun dan mengambil gambar bunga, daun, buah, batang dan akar mangrove.Observations showed that mangrove plant species grown and able to adapt to the environmental conditions in the sites are Avicennia alba , Avicennia officinalis , and Rhizophora apiculata , caused the area as an area of mangrove rehabilitation . Rehabilitation activity has ben done by the local community and assisted by the OISCA with all district government with community groups sponsored by Pelita Marine Tokio Marine Insurance . Potential density mangrove regeneration in the village of Mojo for potential seedlings , saplings and trees are still low due to mangrove ecosystems are dying. In addition to plastic trash waves that are too big blow . Generally mangrove vegetation in Station 1, Station 2, and Station 3 at Mojo village were dominated by three plant of species mangrove were Avicennia alba, Rhizophora apiculata and Avicennia officianalis. Rhizophora apiculata is found at station 1 for station 1 is approaching the sea zone. Morphological observations were made to observe the type of vegetation at each station and take pictures of flowers, leaves, fruits, stems and roots of mangroves
17567795B1J009043ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN DAMAR (Agathis lorantifolia (Lamb.) Rich.) DI RESORT PEMANGKUAN HUTAN BATURRADEN Telah dilakukan penelitian tentang “Analisis Vegetasi Tumbuhan Bawah Pada Tegakan Damar (Agathis lorantifolia (Lamb.) Rich.) di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Baturraden”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan bawah, jenis-jenis tumbuhan bawah yang dominan, serta mengetahui keanekaragaman dan kesamaan jenis tumbuhan bawah antar strata ketinggian tempat di atas permukaan laut (dpl). Penelitian ini menggunakan metode survei, sedangkan pengambilan sampel menggunakan kuadrat yang diletakkan pada sub-sub transek pada setiap strata ketinggian tempat di atas permukaan laut. Data vegetasi tumbuhan bawah dianalisis secara dekriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tegakan damar di RPH Baturraden terdapat 109 jenis tumbuhan bawah yang termasuk ke dalam 49 famili dan 98 genus. Jenis-jenis tumbuhan bawah yang mendominasi pada ketinggian 800 m dpl, 900 m dpl, 1.000 m dpl, dan 1.100 m dpl berturut-turut adalah Gleichenia linearis Clarke (INP=2.84%), Homalomena occulta (Lour.) Schoott. (INP=2.80%), Selaginella plana Hieron. (INP=4.94%) dan Curculigo latifolia L. (INP=5.21%). Indeks keanekaragaman pada ketinggian 800 m dpl, 900 m dpl, 1.000 m dpl, dan 1.100 m dpl tergolong memiliki keanekaragaman yang tinggi yaitu berturut-turut 4,3460, 4,1536, 3,7546 dan 3,0456. Indeks kesamaan komunitas tumbuhan bawah antar ketinggian tempat di atas permukaan laut menunjukkan kesamaan yang cukup tinggi.An analysis of understorey vegetation has been carried out at dammar stands in the area of Forest Management Resort (RPH) Baturraden. The aims of this research are to find out the structure, composition, domination, diversity, and similarity of understorey vegetation base on altitude. The study used survey method with quadratic plots sampling technique which is placed on the sub-sub transects. Data were analyzed descriptively. The result of this study showed that there were 109 understorey species consisting of 49 familiaes and 98 genera. Understorey species in each altitude 800 m, 900 m, 1,000 m, and 1,100 m above sea level, respectively were dominated by Gleichenia linearis Clarke (IVI=2.48 %), Homalomena occulta (Lour.) Schoott (IVI=2.63 %), Selaginella plana Hieron (IVI = 4.49 %), and Curculigo latifolia L. (IVI = 5.21 %). The diversity Index at 800 m, 900 m, 1,000 m, and 1,100 m above sea level had high diversityof were 4.3460, 4.1536, 3.7546, and 3.0456 respectively. But the simmilarity analysis showed that the understorey vegetation structure between the altitudes were fairly high.
17577791B1J009036ANALISIS VEGETASI TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN PINUS (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN BANYUMAS TIMUR
Telah dilakukan analisis vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) di Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyumas Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan bawah pada tegakan pinus di RPH Kebasen dengan RPH Baturraden. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri sub-sub transek. Parameter yang diukur adalah jumlah jenis dan individu masing-masing jenis tumbuhan bawah, faktor lingkungan seperti kelembapan udara, pH tanah, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan bawah di RPH Kebasen berjumlah 32 jenis yang terdiri dari 23 famili, yang didominasi oleh Polyscias scutellaria dengan INP 20,89 %, sedangkan di RPH Baturraden yang tercatat sebanyak 23 jenis yang terdiri dari 16 famili yang didominasi oleh Oplismenus compositesdengan INP 14,2 %. Komunitas tumbuhan bawah tegakan pinus RPH Kebasen berbeda dengan RPH Baturraden dengan nilai Indeks Kesamaan (IS) sebesar 65,78 %.
Analysis of Understorey Vegetation At Pine Stand (Pinus merkusii Jungh . et de Vriese) has been done in the Forest Management Unit East Banyumas. This research was aimed at compare in the structure and composition of vegetation under the pine stands (P.merkusii) in RPH Kebasen and RPH Baturraden,. The method used was survey method with quadratic plots sampling technique which is placed on the right and left of sub-transect. The parameters observed is included the number of species and individuals of each understorey species, environmental factors such as humidity, soil pH, and light intensity. The result of this study showed that the structure and composition of understorey vegetation in RPH Kebasen are 32 species consist of 23 families, with the most dominant species is Polyscias Scutellaria with IVI 20.89 %, while at RPH Baturraden there were 23 species consisting of 16 families, with the most dominant species is Oplismenus composites with IVI 14.2 %. Plant communities under pine stands in RPH Kebasen is different from RPH Baturraden with Value Similarity Index of 65.78 %.
17587798H1F009014GEOLOGI DAN STUDI ALTERASI HIDROTERMAL DAERAH AIR JANGKAT DAN SEKITARNYA KECAMATAN BADAU KABUPATEN BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNGSecara geografis lokasi penelitian berada pada koordinat 816750 mE – 821000 mE, 9698250 mN - 9701250 mN tepatnya di Daerah Air Jangkat Kecamatan Badau Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan luas daerah penelitian ±12 km². Secara fisiografi daerah penelitian termasuk ke dalam Sunda Land dan merupakan bagian terangkat dari Peneplain Sunda.
Satuan batuan daerah penelitian dimulai dari terbentuknya Satuan Batupasir pada umur Karbon Akhir, kemudian terbentuk satuan Batupasir Kuarsa pada umur Permian Awal – Permian Akhir di lingkungan pengendapan laut. Setelah terbentuk kemudian di intrusi oleh Satuan Granit pada Trias Awal.
Berdasarkan hasil analisis PIMA, petrografi, dan mineragrafi diketahui zona alterasi daerah penelitian terbagi menjadi dua zona, yaitu zona kuarsa±kaolin±muskovit (Silisifikasi) yang terbentuk pada suhu 200˚C – 275˚C dan zona kaolin±haloisit±kuarsa±muskovit±serisit (Kaolinisasi) yang terbentuk pada suhu 110˚C – 275˚C.
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berupa rekahan – rekahan tensional yang terisi oleh mineral kuarsa dan K-feldspar, memiliki arah dominan Baratlaut – Tenggara.
Geographically, the study sites are located 816750 mE – 821000 mE, 9698250 mN – 9701250 mN Air Jangkat area Badau District Belitung Regency – Bangka Belitung Archipelago Province, the area + 12 km². physiographic areas of research including into Sunda Land and lifted part from Sunda Peneplain .
The rock units areas starting from Sandstone unit at Late Carbon, then formed Quartz Sandstone unit at early Permian – late Permian in the marine depotitional environment. After the two rocks are formed next in intrusion by granit intrusion unit at early triassic.
Based on the petrographic, mineragraphic, and PIMA analysis known alteration zone of the study area is divided into two zones, they are quartz±kaoline±sericite zone (Silisification) the temperature is 200oC-275oC and kaoline±halloysite±quartz±muscovite±sericite (Kaolinisation) zone the temperature is 110oC-275oC.
Geological structures developed in this research area is form tensional fracture filled by quartz and K-feldspar, has a dominant direction Northwest – Southeast.
17597706G1D010077HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMAMPUAN BERSOSIALISASI PADA PASIEN GANGGUAN JIWA DI KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN, KABUPATEN BANYUMASABSTRAK

Latar belakang: Gangguan jiwa merupakan masalah psikologis yang tidak mudah disembuhkan, perlu adanya dukungan keluarga dalam proses penyembuhan pada pasien, keluarga perlu memperbaiki kemampuan pasien untuk bersosialisasi karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan kemampuan bersosialisasi pasien gangguan jiwa di Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional dan teknik purposive sampling terhadap 25 responden yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden perempuan (56%), tingkat pendidikan adalah SD (40%), mayoritas responden bekerja (68%) dan lama pasien sakit lebih dari 10 tahun (76%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 2 bentuk dukungan keluarga yang tidak berhubungan dengan kemampuan bersosialisasi, yaitu dukungan informasional (p value 0,160) dan penghargaan (p value 0,097), bentuk dukungan keluarga yang berhubungan yaitu dukungan instrumental (p value 0,004) dan emosional (p value 0,002).
Kesimpulan: Bentuk dukungan keluarga yang paling dominan adalah dukungan instrumental dengan nilai Exp B = 32,392, dukungan instrumental memiliki kekuatan 32,4 kali lebih besar dalam meningkatkan kemampuan bersosialisasi pasien gangguan jiwa dibandingkan dengan dukungan yang lain.

Pustaka: 44 (1998 – 2013)
ABSTRACT
Background: Mental disorder is psychological problems which is not easily cured, it needs the family support in the healing process of patients, family needs to improve the patient's ability to socialize because humans are essentially social beings and can not live alone.
Objective: The purpose of this study is to determine the relationship between family support and the ability to socialize toward mental disorder patients at the District of South Purwokerto, Banyumas.
Methods: This research used an analytical method with cross-sectional correlation and purposive sampling of 25 respondents who fulfilled the inclusion criteria.
Results: The results showed that the majority of female respondents (56%), the level of their education were primary school (40%), majority respondents work (68%) the duration of mental disorder patients more than 10 years (76%). The results showed that there were two forms of family support that didn’t relate to the social skills, it was informational support (p value 0,160) and reward (p value 0,097), the form of family support which was related each other was instrumental support (p value 0,004) and emotional (p value 0,002).
Conclusion: The form of support of the most dominant family is instrumental support with the value of Exp B = 32,392, the instrumental support has a 32,4 times greater strength in improving the social skills of patients with mental disorders compared with other support.

Reference: 44 (1998 – 2013)
17607800B1J009104Kemampuan Dekolorisasi Empat Isolat Trichoderma spp. Yang Ditumbuhkan Pada Limbah Cair BatikTrichoderma merupakan salah satu jamur yang mempunyai potensi sebagai agen bioremediasi seperti mendekolorisasi limbah cair batik. Limbah cair batik mempunyai karakteristik mengandung zat warna, pH dan suhu tinggi, serta kadar BOD dan COD tinggi. Pembuangan limbah cair batik ke lingkungan perairan tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu dapat mengakibatkan timbulnya masalah pencemaran lingkungan dan kesehatan karena limbah bersifat toksik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan beberapa isolat Trichoderma spp. dalam mendekolorisasi limbah cair batik serta mengetahui isolat terbaik dalam mendekolorisasi limbah cair batik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data persentase dekolorisasi yang diperoleh dianalisis menggunakan uji varian (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% dan 99% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kepercayaan 95%. Data bobot kering miselium dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa keempat isolat Trichoderma spp. mampu mendekolorisasi limbah cair batik. Isolat terbaik adalah Trichoderma isolat pisang (T4) yang menghasilkan rata-rata persentase dekolorisasi dan bobot kering miselium tertinggi yaitu masing-masing sebesar 53,50% dan 1,74 g. Trichoderma is one of fungus that have capability as a bioremediation agent for example for decolorization of batik wastewater. The characteristics of batik wastewater are it contain with dyes, pH and high temperature, and high levels of BOD and COD. Batik effluent into the aquatic environment without treatment could result environment pollution and health problems because the waste is toxic. This study aims to determine the ability of four isolates of Trichoderma spp. in batik effluent decolorization and to know about the best isolates in batik wastewater decolorization method. The method used in this study is an experimental design of completely randomized design (CRD). Decolorization percentage data were analyzed using the variance test (ANOVA) at the 95% and 99% confidence level and continued to Honestly Significant Difference (HSD) test with a confidence level of 95%. Mycelium dry weight data were analyzed descriptive. The result showed that the four isolates of Trichoderma spp. have capability on batik effluent decolorization. The best isolates is Trichoderma isolates banana (T4) that could produce an average highest decolorization percentage and the highest mycelium dry weight, respectively by 53,50% and 1,74 g.