Artikelilmiahs

Menampilkan 1.861-1.880 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
186111511F1A011058STAND UP COMEDY : KOMODIFIKASI DAN RESISTENSI
(STUDI TERHADAP ACARA STAND UP COMEDY DI STASIUN TV METRO-TV DAN KOMPAS-TV)/STAND UP COMEDY : COMMODIFICATION AND RESISTANCE
(STUDY OF THE SHOW STAND UP COMEDY ON TV STATIONS METRO-TV AND KOMPAS-TV)
Penelitian ini berjudul Stand Up Comedy : Komodifikasi dan Resistensi (Studi Terhadap Acara Stand Up Comedy Di Stasiun TV Metro-TV Dan Kompas-TV). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan Stand Up Comedy (SUC) sebagai komoditi baru di televisi Indonesia dan untuk mendeskripsikan, serta menjelaskan SUC yang tayang di Metro-TV dan Kompas-TV sebagai resistensi slapstick comedy di televisi Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan analisis semiotika Ferdinand De Saussure. Dari hasil penelitian didapatkan bentuk dan proses komodifikasi serta resistensi SUC terhadap acara slapstick comedy.
Komodifikasi yang terjadi dalam acara SUC yakni komodifikasi produk yang ditunjukkan dengan produk Ezactly Confident, Andindonesia, dan melalui suara “ternyata showbiz ini adalah bisnis pertunjukan”. Komodifikasi pemain nampak dalam busana jas biru yang dikenakkan Abdur, timer di panggung SUC, baju kotak-kotak serta layanan SMS. Komodifikasi penonton ditunjukkan pada penonton yang bertepuk tangan. Komodifikasi kelas sosial ditunjukkan adanya cafe, dan kemiskinan. Sedangkan untuk resistensi SUC terhadap slapstick comedy ditunjukkan dalam busana komika yang berwarna hitam, melalui suara “Acara TV sebelah kampungan”, serta “Mari kita buat stand up comedy, comedy yang lain”. SUC sebagai budaya populer yang tayang dalam televisi selalu menyuguhkan logika ekonomi dengan menjadi komiditi baru. Dalam budaya populer SUC tidak hanya menjadi pergulatan ekonomi, namun sebagai perlawanan terhadap dominasi acara Slapstick Comedy di televisi lain, yang pada akhirnya membentuk keseimbangan dengan saling berkompromi.
This research is entitled Stand Up Comedy : Commodification And Resistance (Study Of The Show Stand Up Comedy On Tv Stations Metro-TV And Kompas-TV). This study aimed to describe and explain the Stand Up Comedy (SUC) as a new commodity in Indonesian television and to describe, and explain the SUC that aired on Metro-TV and Kompas-TV as resistance against slapstick comedy in television Indonesia. The method used is descriptive qualitative method using Ferdinand de Saussure's semiotic analysis. From the results, the form and the process of commodification and SUC resistance against slapstick comedy event.
Commodification that occur in the program is the commodification of products indicated by the products of Ezactly Confident, and Andindonesia, and through sound "Showbiz turns out this is show business". Commodification of players appeared in a blue jackets worn by Abdur, timer in stage SUC, plaid shirt and SMS services. Commodification audience shown in the audience who applauded. Commodification of social class indicated by cafe, and poverty. As for SUC resistance against Slapstick Comedy shown in black dress worn by komika, through sound "TV Sebelah Kampungan", and "Let's create a stand up comedy, comedy others". SUC as popular culture that aired on television always serve the economic logic into new commodities. In popular culture SUC not just be struggling economy, but as resistance to domination slapstick comedy event on television the other, which in turn form a balance with each other to compromise.
186211498H1C010038STUDI ANALISIS INTERKONEKSI PLTS DENGAN JALA-JALA LISTRIK SATU FASE MENGGUNAKAN HALF-BRIDGE INVERTER DENGAN HYSTERESIS CURRENT CONTROLLER DAN TRAFOSemakin tinggi kebutuhan listrik di dunia menunjukan bahwa energi listrik sangatlah penting. Akan tetapi sumber energi yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik masih banyak menggunakan energi konvensional. Pencarian energi alternatif yang terbarukan menjadi solusi penting dalam mengurangi penggunaan energi konvensional yang sudah semakin menipis. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan salah satu pembangkit terbarukan yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penghasil listrik. Alat utama untuk mengubah sinar matahari menjadi energi listrik adalah Panel Sel Surya atau Photovoltaic (PV). Keandalan Grid Connected PV tergantung dari banyak aspek, namun yang paling menunjang adalah pada perancangan inverter dengan penggunaan controller yang tepat. Perancangan rangkaian simulasi pada penelitian ini menggunakan half bridge inverter menggunakan kontrol arus histerisis. Dengan adanya sistem ini akan mengurangi tagihan listrik rumah tangga, dan memberikan nilai tambah pada pemiliknya. Penelititan ini menggunakan dua buah sumber PLTS yang berbeda, yaitu sumber DC ideal dan sumber PV. Hasil penelitian menggunakan sumber DC menunjukan nilai THD arus keluaran inverter sebesar 2.3 % pada saat arus referensi (Iref) 5A dan hysteresis band (HB) 0.1. Hal ini masih dalam standar yang diizinkan sehingga keluaran inverter dapat dikatakan baik. Nilai faktor daya yang dihasilkan sebesar 0.981. dengan daya aktif sebesar 816.496W, daya semu sebesar 831.629VA, dan daya reaktif yang dihasilkan 0.013927VAR. Untuk nilai efisiensi dari sistem didapat sebesar 98.856 % pada saat Iref 5A dan HB 0.1. Hal ini menunjukkan tingkat kehandalan yang baik dari sistem. Hasil penelitian menggunakan sumber PV array menunjukan nilai THD arus keluaran inverter sebesar 2.4 % pada saat arus referensi (Iref) 5A dan hysteresis band (HB) 0.1. Hal ini masih dalam standar yang diizinkan sehingga keluaran inverter dapat dikatakan baik. Nilai faktor daya yang dihasilkan sebesar 0.9817 dengan daya aktif sebesar 842.589W, daya semu sebesar 858.273VA, dan daya reaktif yang dihasilkan 0.456058VAR. Untuk nilai efisiensi dari sistem didapat sebesar 98.701 % pada saat Iref 5A dan HB 0.1. Hal ini menunjukkan tingkat kehandalan yang baik dari sistem.
The higher demand for electricity in the world shows that electrical energy is very important. However, the source of energy used to generate electricity still use conventional energy. Renewable alternative energy became an important solution to reduce the use of conventional energy are already dwindling. Solar Power Plant (SPP) is one of the renewable power plants that utilize the sun as a source of electricity. The main tool for converting sunlight into electrical energy is Panels Solar Cells or Photovoltaic (PV). Grid Connected PV reliability depends on many aspects, but the most support is in the design of the inverter with the proper use of the controller. The design of the circuit simulation in this study using a half bridge inverter using hysteresis current control. With this system will reduce household utility bills, and provide added value to its owner. This study was using two different sources of solar power, which is ideal DC source and the source of PV. The results using a DC source current THD value indicates the inverter output amounted to 2.3% at the time of the reference current (Iref) 5A and hysteresis band (HB) 0.1. It is still within the allowed standards so that the output inverter can be said to be good. Rated power factor generated by 0981. with active power of 816.496W, apparent power for 831.629VA, and reactive power generated 0.013927VAR. To value the efficiency of the system obtained for 98 856% during 5A and HB 0.1 Iref. This shows a good level of reliability of the system. The results using source PV array shows the value of the inverter output current THD of 2.4% at the time of the reference current (Iref) 5A and hysteresis band (HB) 0.1. It is still within the allowed standards so that the output inverter can be said to be good. The resulting power factor value of 0.9817 and active power of 842.589W, apparent power for 858.273VA, and reactive power generated 0.456058VAR. To value the efficiency of the system obtained for 98 701% during 5A and HB 0.1 Iref. This shows a good level of reliability of the system.
186311453C1B011023PENGARUH HUBUNGAN ATASAN DAN BAWAHAN, BUDAYA ORGANISASI, LOYALITAS KERJA TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR DAN KINERJA KARYAWAN PADA
PT. TELKOM INDONESIA CABANG PURWOKERTO
Penelitian ini berjudul: Pengaruh hubungan atasan dan bawahan, budaya organisasi, loyalitas kerja terhadap organizational citizenship behavior (OCB) dan kinerja karyawan pada PT. Telkom Indonesia Cabang Purwokerto
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh hubungan atasan dan bawahan, budaya organisasi, loyalitas kerja terhadap organizational citizenship behavior (OCB), dan menganalisis pengaruh organizational citizenship behavior (OCB) terhadap kinerja karyawan.
Sampel penelitian ini adalah 74 responden dari populasi seluruh karyawan yang berjumlah 90 orang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling.
Hipotesis yang diajukan adalah hubungan atasan dan bawahan, budaya organisasi, loyalitas kerja mempunyai pengaruh positif terhadap organizational citizenship behavior (OCB), dan organizational citizenship behavior (OCB) mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja karyawan.
Alat analisis yang digunakan adalah analisis analisis regresi berganda dengan uji determinasi (R2), uji F, uji t.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hubungan atasan dan bawahan, budaya organisasi, dan loyalitas kerja mempunyai pengaruh positif terhadap organizational citizenship behavior (OCB), dan organizational citizenship behavior (OCB) mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja karyawan.
The title of this research is : The Influence leader member exchange, organizational culture, loyalty working to the improvement of organizational citizenship behaviour (OCB) and employee performance in PT. Telkom Indonesia In Purwokerto
The purpose of this research is to know and analyze the influence of leader member exchange, organizational culture, loyalty working to organizational citizenship behaviour (OCB), and to analyze the effect of organizational citizenship behaviour (OCB) on employee performance.
The research sample about 74 respondents of total 90 member of population, teken by proportionate stratified random sampling.While used data collecting technique that is with interview and questioner.
The hypothesis’of this research are leader member exchange, organizational culture, loyalty working has a positive influence on organizational citizenship behaviour (OCB), and organizational citizenship behaviour (OCB) has a positive influence on employee performance.
The analytical tools that used are the analysis of multiple regression analysis with the determinasi (R2) test, F test, t test and Multiple and simple linear regression analysis.
Based on the results of this study concluded that the of leader member exchange, organizational culture, loyalty working has a positive influence on organizational citizenship behaviour (OCB), and organizational citizenship behaviour (OCB) has a positive influence on employee performance.
186411455H1D010003EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM ANTAR KOTA DALAM PROVINSI (AKDP)
(Studi Kasus: Jalur Transportasi Darat Kota Semarang – Kota Purwokerto)
Moda tranportasi bus umum banyak digunakan masyarakat untuk melakukan aktifitas pedagangan, pendidikan, atau hanya sekedar bepergian, salah satu rute perjalanan bus umum Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) yaitu Semarang-Purwokerto. Peningkatan kualitas pelayanan merupakan salah satu strategi bisnis yang harus dilakukan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kepuasan pelanggan bus umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penilaian kinerja dan kualitas pelayanan jasa serta tingkat kepuasan penumpang pada bus umum. Dari hasil penilaian penumpang tersebut, dapat diketahui atribut apa saja yang menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan agar para pelanggan tidak berpindah ke moda transportasi lain. Metode yang digunakan adalah Importance Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI). Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner yang menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah kuisioner yang dapat dianalisis lebih lanjut sebanyak 93 kuisioner.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Ada 25 atribut yang mempengaruhi tingkat kepuasan layanan bus umum yang terbagi menjadi lima parameter, yaitu : keandalan, ketanggapan, keyakinan, empati, dan berwujud; (2) Hasil analisis menggunakan metode IPA diperoleh letak masing-masing atribut di dalam kuadran, yaitu : kuadran I (prioritas utama) terdapat 7 atribut pelayanan; kuadran II (pertahankan prestasi) terdapat 7 atribut pelayanan; kuadran III (prioritas rendah) terdapat 7 atribut pelayanan; dan kuadran IV (berlebihan) terdapat 4 atribut pelayanan; (3) Atribut yang menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan guna memberikan kepuasan pelanggan bus umum ada 7 atribut pelayanan, yaitu: (a) Kemampuan memberikan pelayanan yang baik kepada pengguna bus umum (b) Jadwal pemberangkatan dan kedatangan bus, (c) Kemudahan memperoleh informasi yang jelas, (d) Kecepatan dalam menolong pelanggan saat dibus, (e) Kecepatan dan ketepatan memberikan informasi yang dibutuhkan pelanggan, (f) Ketersediaan asuransi atau jaminan keselamatan, (g) Keleluasaan ruang gerak penumpang, dan (4) Hasil analisis menggunakan metode CSI diperoleh nilai CSI sebesar 0,5395 yang berada pada interval 0,51 - 0,65 yang menunjukkan bahwa persepsi penumpang merasa “cukup puas” terhadap kinerja yang dilakukan. Maka didapat hubungan antara analisis IPA dengan analisis CSI adalah secara umum pelanggan sudah merasa cukup puas terhadap kinerja yang ada namun masih perlu adanya perbaikan pada beberapa atribut yang menjadi prioritas utama agar pelanggan semakin puas dan tidak berpindah ke moda transportasi lain.
Mode of transportation of public buses is commonly used by the public to carry out trade activities, education or just for travelling. One of travel routes for public buses Between Cities in the Province (AKDP) is Semarang-Purwokerto. Improved quality of service is one of the business strategies that should be carry out to maintain or even improve customers satisfaction on the public bus. This research aimed to determine performance evaluation and quality of service as well as the level of passengers’ satisfaction on the public buses. From the result of passengers’ assessment, it can be determined what attributes were a top priority to be improved so that the customers did not move to other modes of transportation. The method used was Importance Performance Analysis (IPA) and Customer Satisfaction Index (CSI). Data collection was conducted by distributing the questionnaire with using simple random sampling technique and the number of questionnaire that can be further analyzed was 93 questionnaires.
The research result indicated that: (1) there were 25 attributes that affect the level of satisfaction of public buses service which were divided into five parameters, they are: reliability, responsiveness, assurance, empathy and tangibles; (2) the analysis result with using IPA method obtained the location of each attribute in the quadrant, that is: quadrant I (top priority), there were 7 service attributes; quadrant II (maintain the achievement), there were 7 service attributes; quadrant III (low priority), there were 7 service attributes; and quadrant IV (excessive), there were 4 service attributes; (3) There were 7 service attributes that became the top priority to be improved in order to provide customer satisfaction on public bus, they are: (a) the ability to provide good service to the passengers of the public buses (b) Schedule of departure and arrival of the buses, (c) easiness to obtain clear information, (d) the quickness in helping customers in the buses, (e) the quickness and accuracy to provide information needed by customers, (f) availability of assurance or a guarantee of safety, (g) unrestricted passenger space, and (4) the result of analysis with using CSI method obtained the CSI value of 0.5395 which was in the interval of 0.51 – 0.65. This indicated that the passenger perception was “quite satisfied” on the performance. So, it can be obtained the relationship between IPA analysis and CSI analysis that in general, the customers were quite satisfied on the existing performance. However, the improvement was still needed on several attributes that became top priority so that the customers were more satisfied and did not move to other modes of transportation.
186511458E1A111092GANTI RUGI IMMATERIIL AKIBAT PERBUATAN MELAWAN HUKUM KARENA PENCEMARAN NAMA BAIK (Tinjauan Yuridis Putusan Mahkamah Agung No.483 K/Pdt/2010)
ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “GANTI RUGI IMMATERIIL AKIBAT PERBUATAN MELAWAN HUKUM KARENA PENCEMARAN NAMA BAIK (Tinjauan Yuridis Putusan Mahkamah Agung No. 483 K/Pdt/2010)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hukum Hakim dalam menerapkan unsur-unsur Perbuatan Melawan Hukum dan dalam menentukan besarnya ganti rugi immateriil akibat Perbuatan Melawan Hukum karena pencemaran nama baik dalam Putusan Mahkamah Agung No. 483 K/Pdt/2010. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan hukum secara normatif, dengan metode analisis data secara kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa perbuatan Tergugat berupa pencemaran nama baik terhadap Penggugat dalam 5 media cetak dan surat merupakan perbuatan melawan hukum karena memenuhi unsur-unsur perbuatan melawan hukum yaitu melanggar hak subyektif orang lain berupa kehormatan dan nama baik, bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, serta bertentangan dengan kepatutan. Mahkamah Agung dalam mengabulkan tuntutan Penggugat atas kerugian immateriil berpedoman pada Pasal 1372 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan mempertimbangkan kedudukan Penggugat.
This research title is “Immaterial Compensation of Act against the Law due to Defamation (Juridical View of Supreme Court No. 48 K/Pdt/2010)”. The research purpose is finding out the justice consideration in applied the elements of Act against the Law and determining the amount of immaterial compensation due to Act against the Law because of defamation in Supreme Court Decision No. 48 K/Pdt/2010. The research method is normative justice approach and qualitative data analysing method.
Based on the research result is concluded that the Defendant action in the form of defamation toward the Claimant in 5 printed media and mail is an Act against the Law because of fulfilling the elements of Act against the Law which are violating of subjective right in the form of honor and reputation, contradicting with the justice obligation of Defendant and conflicting in decency. Supreme Court grants the Claimant claim for immaterial lost based on article 1372 paragraph (2), Book Civil Law by considering the position of Claimant.
186611461A1L111001PENGARUH PELAPISAN LILIN TERHADAP KUALITAS DAN UMUR SIMPAN BUAH SALAK PONDOH (Salacca edulis Reinw.) BANJARNEGARA PADA SUHU RUANGPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian lapisan lilin terhadap kualitas dan umur simpan buah salak pondoh Banjarnegara pada suhu ruang. Penelitian dilaksanakan di rumah beralamat di Jln. Ringin Tirto no. 20, Kelurahan Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas selama sebulan yaitu pada bulan Februari 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) factorial dengan 11 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati adalah kerusakan buah hingga 100%, susut bobot buah, kekerasan daging buah, total padatan terlarut, warna daging buah dan kilap kulit luar buah. Data pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F dilanjutkan dengan uji kontras ortogonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian lapisan lilin berpengaruh terhadap kerusakan buah, susut bobot, dan total padatan terlarut sedangkan tidak berpengaruh terhadap kekerasan daging buah, warna daging dan kilap kulit luar buah. Perlakuan konsentrasi terbaik untuk lilin karnauba yaitu pada 6-8% sedangkan untuk lilin lebah 10%.This study aims to determine the effect of a layer of wax on the quality and shelf life of Banjarnegara snake fruis at room temperature. The experiment was conducted at the home located at Ringin Tirto St. no. 20, Village Bancarkembar, North Purwokerto District, Banyumas regency, for a month that was in February 2015. The design used was a randomized block design (RBD) factorial with 11 treatments and repeated 3 times. The variables measured were up to 100% fruit damage, weight loss fruit, fruit pulp hardness, total dissolved solids, flesh color and luster of the outer skin of fruit. Data were analyzed using the F test followed by orthogonal contrast test. The results showed that the wax coating effect on fruit decay, weight loss, and total dissolved solids, while no effect on violence flesh, flesh color and luster of the outer skin of fruit. The best treatment for carnauba wax concentration is at 6-8%, while for 10% beeswax.
186711462D1E011234PENGARUH LAMA PEMBALURAN PERASAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP JUMLAH TOTAL BAKTERI, WARNA DAN BAU DAGING KAMBINGPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pembaluran daging kambing bagian Bicep femoris menggunakan perasaan jeruk nipis dengan level yang tepat terhadap jumlah total bakteri, warna dan bau. Materi penelitian yang digunakan yaitu 3,5 kilogram daging kambing Jawarandu bagian Bicep femoris dan 20 buah jeruk nipis. Metode penelitian secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk jumlah total bakteri dengan 4 perlakuan dan ulangan sebanyak 5 kali serta Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk warna dan bau dengan 4 perlakuan dan ulangan sebanyak 25 kali. Perlakuan yang diberikan adalah B0 yaitu daging kambing Bicep femoris tanpa pembaluran perasan jeruk nipis, B1 yaitu daging kambing bagian Bicep femoris yang dibalur dengan perasan jeruk nipis konsentrasi 10% selama 30 menit, B2 yaitu daging kambing bagian Bicep femoris yang dibalur dengan perasan jeruk nipis konsentrasi 10% selama 60 menit dan B3 yaitu daging kambing bagian Bicep femoris yang dibalur dengan perasan jeruk nipis konsentrasi 10% selama 90 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pembaluran daging kambing bagian Bicep femoris dengan perasan jeruk nipis konsentrasii 10% berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) terhadap jumlah total bakteri, warna dan bau. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lama pembaluran pada daging kambing bagian Bicep femoris menggunakan perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia) konsentrasi 10% dengan waktu 30 menit sudah dapat menurunkan jumlah total bakteri dan menghilangkan bau khas (prengus) daging kambing, namun menyebabkan warna daging menjadi gelap.The purpose of this study to determine the effect of long battering goat meat Bicep femoris piece using lime juice with an appropriate level to the total number of bacteria, color and smell. The research material used, 3,5 kilograms of Jawarandu goat meat Bicep femoris part and 20 lime. The research method experimentally using a completely randomized design (CRD) for total number of bacteria with 4 treatments and replicates much as 5 times and randomized block design for color and smell with 4 treatments and replicates much as 25 times. B0 treatment given is that of goat meat bicep femoris without battering lime juice, B1 is goat meat Bicep femoris part batter with lime juice concentration of 10% for 30 minutes, B2 is goat meat Bicep femoris part batter with lime juice concentration 10% for 60 minutes and B3 is goat meat Bicep femoris part batter with lime juice concentration of 10% for 90 minutes. The results showed that long battering goat meat Bicep femoris part use lime juice with a concentration of 10% was highly significant (P <0.01) of the total number of bacteria, color and smell. The conclusion of this study is long battering goat meat Bicep femoris part using lime juice (Citrus aurantifolia) concentration of 10% with 30 minutes already can reduce the total number of bacteria and eliminate smell typical (prengus) goat meat, but cause color of meat becomes dark.
186811362E1A010239KAJIAN YURIDIS PERATURAN DAERAH KAB. BANYUMAS NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN
DARI PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN USAHA
Perlindungan hukum terhadap usaha kecil merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 khususnya pada ayat (4), di mana perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Perlindungan hukum pada sektor ritel dilakukan melalui beberapa Peraturan Perundang-undangan yang memberikan perlindungan kepada pelaku usaha kecil dan bersifat memberikan batasan.
Pada skripsi ini membahas bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap usaha kecil di Indonesia. Skripsi ini juga membahas analisis Peraturan Daerah Kab. Banyumas Nomor 3 Tahun 2010 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern (Perda No. 3/2010) dari perspektif Hukum Persaingan Usaha. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan Perundang-undangan.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian menyatakan bahwa perlindungan hukum terhadap pelaku usaha kecil di Indonesia berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 50 dan Pasal 51 Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Pasal 73 Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Di mana perlindungan hukum terhadap pelaku usaha kecil merupakan bentuk dukungan dan sebagai wujud keberpihakan Pemerintah kepada pelaku usaha kecil. Sedangkan terkait analisis Perda No. 3/2010 dari sudut pandang Hukum Persaingan Usaha pada perlindungan hukum meliputi Pengaturan Zonasi, Kemitraan,Trading terms dengan Pemasok, Perizinan, Jam Operasional, Kewajiban dan Larangan, serta Sanksi.
Menurut perspektif persaingan usaha hal tersebut memperlihatkan adanya persaingan usaha yang cukup ketat sehingga diperlukan regulasi yang melindungi para pelaku usaha kecil terlihat dari perkembangan munculnya toko modern dengan bentuk baru. Adanya perkembangan tersebut konsumen memiliki alternatif tambahan dalam berbelanja namun tentunya perkembangan toko modern tersebut harus patuh kepada Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di wilayah Kabupaten Banyumas.
Legal protection against small businesses is mandated by the Constitution of 1945 article 33 in particular in (4) section, where the national economy is organized based on economic democracy with the principles of togetherness, efficiency with justice, sustainability, environmental friendliness, independence and balancing economic progress and unity national. Legal protection in the retail sector is done through some legislation that provides protection to small businesses and nature imposes limits.
In this essay discusses how the forms of legal protection against small businesses in Indonesia. This paper also discusses the analysis of Regional Regulation Kab. Banyumas No. 3 of 2010 on the Management and Development of Traditional Markets, Shopping Centers and Modern Stores (Perda No. 3/2010) of the Competition Law perspective. The method used in this essay is a normative juridical approach legislation.
The conclusion of the study states that the legal protection of small businesses in Indonesia under Article 33 of the Constitution of 1945, Article 50 and Article 51 of Law No. 5 of 1999 concerning Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Competition, Article 73 of the Law Law No. 19 of 2003 on State-Owned Enterprises. Where legal protection against small businesses is a form of support and as a form of partisanship Government to small businesses. While the analysis related to Regulation No. 3/2010 from the standpoint of Competition Law on the protection of the law include setting Zoning, Partnership, Trading terms with suppliers, Licensing, Operating Hours, Obligations, Prohibition, and Sanctions.
According to business competition perspective it shows that there is quite fierce competition so that need for regulation that protect small businesses seen from the development of the emergence of modern stores with a new form. For the development of additional alternatives consumers have in the shop, but of course the development of the modern store must obey Legislation in force in the district of Banyumas.
186911444H1C010041STUDI PENGARUH KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN ANTAR FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI 20 KV DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ETAP 7.5.0 (STUDI KASUS GARDU INDUK KALIBAKAL FEEDER 01)
Pada sistem distribusi, ketidakseimbangan beban sering terjadi karena pembagian beban trafo distribusi yang tidak merata yang mengakibatkan mengalirnya arus netral di penghantar netral. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh ketidakseimbangan beban pada sistem distribusi penyulang Kalibakal 1. Parameter yang diteliti meliputi pengaruh ketidakseimbangan beban terhadap arus netral yang muncul beserta rugi daya akibat arus netral, jatuh tegangan dan rugi daya total pada penyulang. Metode pemerataan beban dilakukan dengan beberapa skenario untuk memperbaiki ketidakseimbangan beban. Pada kondisi awal pembebanan, nilai persentase ketidakseimbangan beban sebesar 38,67%. Dengan 3 skenario pemerataan beban yang dilakukan, nilai ketidakseimbangan beban berturut-turut mengalami penurunan menjadi 3,67%, 2,33% dan 0,63%. Nilai arus netral juga mengalami penurunan dari nilai awal sebesar 23,66A menjadi 2,09A, 1,41A, dan 0,60A. Dengan menurunnya arus netral, rugi total daya juga menurun dari nilai awal 1.652,77 W menjadi 1.153,29 W, 1.150,58 W, dan 1.150,08 W. Nilai persentase rugi daya dengan 3 skenario pemerataan beban menjadi 0,25% dari nilai awal 0,36%.In the distribution system, unbalance-loads frequently occurs because of mal-distribution in the transformer loads which resulting neutral current flowing in the neutral conductor. This research is done to analyze the influence of unbalance-loads to the distribution system in feeder1 Kalibakal. Researched parameters included the effect of unbalance-loads on neutral currents that appear along with the power loss due to neutral currents, voltage drop and total power loss at feeder. Loads spreading method has been done with several scenarios to repair unbalance-loads. At the beginning conditions of loading, the percentage value of unbalance-loads is 38,67%. With 3 commited loads spreading scenarios, unbalance-loads value successively decreased to 3,67%, 2,33% and 0,63%. Neutral current value also decreased from 23,66A to 2,09A, 1,41A, and 0,60A. By decreasing of netral current, the total power loss is also decreased from 1.652,77 to 1.153,29 W, 1.150,58 W, and 1.150,08 W. A new percentage value of power losses is decreased to 0,25% from the beginning value of 0,36% with using 3 scenarios loads spreading.
187011472H1K009027POTENSI Gracilaria gigas DAN Gracilaria verrucosa HASIL BUDIDAYA DAN ALAMI SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI BIOETANOLRumput laut merah Gracilaria memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku dalam industri bioetanol. Ketersediaan rumput laut Gracilaria di Indonesia cukup melimpah dan dapat ditemukan baik secara alami maupun budidaya. Perbedaan faktor-faktor ekologi pada lingkungan budidaya dan alami mempengaruhi kandungan biokimia Gracilaria termasuk kandungan gula totalnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan gula total dan bioetanol yang dapat diproduksi oleh rumput laut Gracilaria gigas dan Gracilaria verrucosa hasil budidaya dan alami. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental. Tahapan produksi bioetanol meliputi dua proses utama, yaitu hidrolisis asam dan fermentasi menggunakan Sacharomyces cerevisiae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan gula total tertinggi sebelum dan sesudah proses hidrolisis adalah pada Gracilaria gigas alami yaitu 42,18% (g/g) dan 68,57% (g/g). Kandungan gula total terendah sesudah proses fermentasi ditunjukkan oleh Gracilaria gigas alami yaitu 26,74% (g/g). Kandungan bioetanol tertinggi dihasilkan oleh Gracilaria verrucosa alami yaitu 1,02 g/L. Penelitian lanjutan mengenai hidrolisis dan fermentasi diperlukan untuk mengoptimalkan produksi bioetanol berbahan baku rumput laut.Gracilaria are potential seaweed candidate which can be used as raw material in bioethanol industry due to their high carbohydrate content. The availability of Gracilaria in Indonesia is quite abundant and could be found both wild and cultivated. Ecological factor differences between natural and cultivation condition might influence Gracilaria biochemical content including total sugar content. This study aimed to investigate total sugar content and bioethanol which could be produced from wild and cultivated Gracilaria gigas and Gracilaria verrucosa. An experimental method was applied in this study. Bioethanol production consisted of two main processes, i.e. acid hydrolysis and fermentation using Saccharomyces cerevisiae. The result showed that the highest total sugar content before and after hydrolysis process was found in wild Gracilaria gigas (42,18% g/g and 68,57% g/g). The lowest total sugar content after fermentation process was showed by wild Gracilaria gigas (13,03% g/g). The highest bioethanol content was produced by wild Gracilaria verrucosa 1,02 g/L. Further researches regarding hydrolysis and fermentation are needed to optimize bioethanol production from seaweed.
187111474E1A110048PERTANGGUNGJAWABAN PERS BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertanggungjawaban pers berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (statute approach), spesifikasi penelitian adalah deskriptif analitis, sedangkan sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang dikumpulkan melalui identifikasi dan inventarisasi terhadap peraturan perundang-undangan dan buku kepustakaan serta dianalisis dengan metode normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa pertanggungjawaban pers berdasarkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers menganut sistem pertanggungjawaban korporasi, dimana yang menjadi subyek hukum atas terjadinya tindak pidana pers adalah badan hukum yaitu perusahaan pers-nya, bukan pribadi atau individu.
Sistem pertanggungjawaban korporasi yang dianut oleh UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers menerapkan sistem pertanggungjawaban pengganti, hal ini didasarkan pada Penjelasan Pasal 12 paragraf ketiga UU No. 40 Tahun 1999, bahwa penanggung jawab adalah penanggung jawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi.


ABSTRACT
And the method of approach that is used in this research is the approach of normative juridical, and specification of descriptive research, and the source of law material in this research includes the material of primary law and secondary law that collected with doing the literature study and documentation study then analyzed by using the method of qualitative normative.
187211476D1E011044Pengaruh Pelumuran Menggunakan Batang (Hati) Nanas dengan Lama Waktu Berbeda terhadap Kualitas Daging Dada Ayam Petelur AfkirPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh lama pelumuran menggunakan batang (hati) nanas terhadap kualitas daging dada (pH, daya ikat air, susut masak, dan keempukan) ayam petelur afkir. Materi yang digunakan adalah 20 potong daging dada ayam petelur afkir dan batang (hati) nanas sebanyak 30% dari berat daging. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu lama pelumuran daging dada ayam petelur afkir selama P0 (0 menit), P1 (15 menit), P2 (30 menit), P3 (45 menit), dan setiap perlakuan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukan lama pelumuran menggunakan batang (hati) nanas sebanyak 30% dari berat daging tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pH, daya ikat air, susut masak dan keempukan daging dada ayam petelur afkir. Rataan pH, daya ikat air, susut masak, dan keempukan daging dada ayam petelur afkir masing-masing adalah P0: 6.03, P1: 5.84, P2: 5.82, P3: 5.77; P0: 51.09%, P1: 51.00%, P2: 50.70%, P3: 47.14%; P0: 35.75%, P1: 36.68%, P2: 38.97%, P3: 42.59%; P0: 0.0585 mm/gr/dtk, P1: 0.0643 mm/gr/dtk, P2: 0.0683 mm/gr/dtk, P3: 0.0690 mm/gr/dtk. Kesimpulan, pelumuran menggunakan batang (hati) nanas sebanyak 30% dari berat daging dengan lama waktu pelumuran sampai 45 menit menghasilkan kualitas daging dada ayam petelur afkir yang sama.The aims of this research was assess the effect of the smearing time using pineapple core fruit on breast meat quality (pH, water holding capacity, cooking losses, and tenderness) of spent layer chicken. The materials used were 20 pieces breast meat of spent layer chicken and pineapple core fruit as much as 30% of the weight meat. The method used was an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments namely smearing time breast meat of spent layer chicken for P0 (0 minute), P1 (15 minutes), P2 (30 minutes), P3 (45 minutes), and each treatment was replicated 5 times. The results showed that the smearing time using pineapple core fruit as much as 30% of the weight meat not significant effect (P>0.05) on the pH, water holding capacity, cooking losses and tenderness of breast meat of spent layer chicken. The averages pH, water holding capacity, cooking losses, and tenderness values were P0: 6.03, P1: 5.84, P2: 5.82, P3: 5.77; P0: 51.09%, P1: 51.00%, P2: 50.70%, P3: 47.14%; P0: 35.75%, P1: 36.68%, P2: 38.97%, P3: 42.59%; P0: 0.0585 mm/gr/dtk, P1: 0.0643 mm/gr/dtk, P2: 0.0683 mm/gr/dtk, P3: 0.0690 mm/gr/dtk resfuctively. The conclusion is smearing time using pineapple core fruit as much as 30% of the meat weight with smearing time until 45 minutes produce similar breast meat quality of spent layer chicken.
187311478D1E011073PENGARUH PELUMURAN MENGGUNAKAN BATANG (HATI) NANAS DENGAN JUMLAH BERBEDA TERHADAP KUALITAS DAGING DADA AYAM PETELUR AFKIRPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh jumlah batang (hati) nanas sebagai bahan pelumur daging dada ayam petelur afkir selama 30 menit terhadap pH, Daya Ikat Air (DIA), susut masak, dan keempukan. Materi yang digunakan adalah 20 potong daging dada ayam petelur afkir dan batang (hati) nanas sejumlah 0%, 15%, 30%, dan 45% dari berat daging. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu pelumuran menggunakan batang (hati) nanas dengan jumlah 0% (P0), 15% (P1), 30% (P2), 45% (P3) dari berat daging dada ayam petelur afkir selama 30 menit, dan setiap perlakuan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan pelumuran daging menggunakan batang (hati) nanas selama 30 menit tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap nilai Ph, DIA, susut masak, dan keempukan. Rataan nilai pH, DIA, susut masak, dan keempukan masing-masing yaitu P0: 6.03, P1: 6.01, P2: 5.95, P3: 5.86; P0: 53.96%, P1: 54.90%, P2: 54.55%, P3: 53.74%; P0: 37.70%, P1: 38.33%, P2: 38.98%, P3: 38.75%; P0: 0.0613 mm/g/dtk., P1: 0.0615 mm/g/dtk., P2: 0.0634 mm/g/dtk., P3: 0.0655 mm/g/dtk. Kesimpulan, pelumuran menggunakan jumlah batang (hati) nanas yang berbeda selama 30 menit akan menghasilkan kualitas daging dada ayam petelur afkir yang sama.The aims of this research was to assess the effect of level pineapple core fruit on smearing of breast meat of spent layer chicken as long 30 minutes on pH, Water Holding Capacity (WHC), Cooking Losses (CL), and tenderness. The material used were 20 pieces breast meat of spent layer chicken and pineapple core fruit with level of 0%, 15%, 30%, and 45% of the meat weight. The method used an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, namely smearing using various level of pineapple core fruit of 0% (P0), 15% (P1), 30%(P2), 30% (P3) from the weight of breast meat of spent layer chicken, and each treatment was 5 replicated. The results showed that smearing on breast meat of spent layer chicken using of pineapple core fruit as long 30 minutes did not significantly (P>0.05) effect on the pH, WHC, CL, and tenderness of meat. The average of pH, WHC, CL, and tenderness were P0: 6.03, P1: 6.01, P2: 5.95, P3: 5.86; P0: 53.96%, P1: 54.90%, P2: 54.55%, P3: 53.74%; P0: 37.70%, P1: 38.33%, P2: 38.98%, P3: 38.75%; P0: 0.0613 mm/g/sec., P1: 0.0615 mm/g/sec., P2: 0.0634 mm/g/sec., P3: 0.0655 mm/g/sec resfuctively. The conclusion is, smearing using various level of pineapple core fruit as long 30 minutes produce similar of breast meat quality of spent layer chicken.
187411482G1A011113HUBUNGAN ANTARA TIPE KEPRIBADIAN DAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA TAHAP SARJANA KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTOLatar Belakang : Kepribadian merupakan faktor penggerak perilaku manusia, kepribadian seseorang dapat diperoleh dari sifat bawaan maupun pengalaman yang dialaminya. Kepribadian merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi belajar dan kepribadian merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan seseorang. Faktor belajar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademik.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara tipe kepribadian dan tingkat kecemasan dengan prestasi akademik pada mahasiswa tahap sarjana Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Metode : Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah mahasiswa tahap sarjana kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Subjek diambil menggunakan teknik Simple random sampling. Sebanyak 42 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang didapatkan dianalisis secara univariat dan bivariate dengan analisis statistik uji Kolmogorov-Smirnov.
Hasil : Terdapat hubungan antara tipe kepribadian dengan prestasi akademik dengan nilai p=0,018 dan tidak terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan prestasi akademik dengan nilai p=0,927 serta tidak terdapat hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat kecemasan dengan nilai p=0,252.
Kesimpulan : Terdapat hubungan antara tipe kepribadian dengan prestasi akademik sedangkan pada tingkat kecemasan dan prestasi akademik tidak terdapat hubungan serta tidak terdapat hubungan antara tipe kepribadian dan tingkat kecemasan.

Background: Personality was a factor driving human behavior, could be obtained from the person's personality traits and experiences that happened. Personality was the internal factors that could affect learning and personality was one of the factors that could affect a person's anxiety. Learning factor was one of the internal factors that influenced academic achievement.
Objective: To aim the relationship between personality type and anxiety level with academic achievement in medical graduate students in General Soedirman University Purwokerto
Methods: Design of the study was observational analytic design with cross-sectional approach. The samples of this research were medical graduate students in General Soedirman University Purwokerto. The samples were obtained by consecutive simple random. It was found 42 samples of this research who met the inclusion criteria. Obtained data were analyzed using univariate and bivariate with statistical analysis Kolmogorov-Smirnov test.
Results: There was a relationship between the type of personality with academic achievement, p = 0.018 and there was no correlation between the level of anxiety with academic achievement, p = 0.927 and there was no correlation between the type of personality with level of anxiety, p = 0,252.
Conclusion: There was a correlation between personality type with academic achievement and there was not a relationship between the level of anxiety and academic achievement and there was not a relationship between personality type with the level of anxiety.
187511483D1E011075DAYA IKAT AIR DAN KEEMPUKAN BAKSO YANG DIBUAT DARI DAGING SAPI DENGAN PENANGANAN YANG BERBEDAPenelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh penanganan daging sapi yang berbeda terhadap daya ikat air dan keempukan bakso daging sapi. Materi penelitian yang digunakan adalah bakso daging sapi, bahan yang digunakan adalah daging sapi bagian paha, tepung tapioka, sodium tripoliposfat, es batu, bawang putih, garam, dan lada. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 6 kelompok. Perlakuan yang diberikan yaitu T0 = Bakso dari daging sapi segar, T1 = Bakso dari daging sapi yang dilayukan (5oC selama 3 hari), T2 = Bakso dari daging sapi yang dibekukan (-18oC selama 3 hari), T3 = Bakso dari daging sapi yang dilayukan dibekukan (2 hari, 1 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging sapi dengan penanganan yang berbeda berpengaruh tidak nyata terhadap daya ikat air bakso dan memberikan perbedaan yang nyata terhadap keempukan bakso yang dihasilkan. Rataan daya ikat air bakso daging sapi sebesar T0= 59,5%, T1= 58,7%, T2= 51,1%, T3= 57,3%. Rataan keempukan bakso daging sapi sebesar T0= 0,086 mm/g/dt, T1= 0,093 mm/g/dt, T2= 0,054 mm/g/dt, T3= 0,057 mm/g/dt. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bakso dapat dibuat dari daging layu dan memiliki kualitas lebih baik dari bakso yang dibuat dari daging segar.The research aimed to study the effect of different beef handling of water holding capacity and tenderness of beef meatball. Research material used was beef balls, the material were beef, tapioca flour, sodium tripoliposfat, ice, garlic, salt, and pepper. Research method used was an experimental method using a Randomized Block Design (RAK) 4 treatments and 6 groups. Treatments were T0 = meatball from fresh beef , T1 = meatball from aging beef (5oC, 3 days), T2 = meatball from frozen beef (-18oC, 3 days), T3 = meatball from aged and frozen beef (2 days, 1 day). The result showed that beef with different handling have no significant effect on water holding capacity of meatball and have significant effect on tenderness of meatball. The average of meatball from fresh beef water holding capacity 59,5%, and tenderness 0,086 mm/g/s, meatball from aged beef water holding capacity 58,7% and tenderness 0,093 mm/g/s, meatball from frozen beef water holding capacity 51,1% and tenderness 0,054 mm/g/s, meatball from aged and frozen beef water holding capacity 57,3% and tenderness 0,057 mm/g/s. In conclusion, meatballs can be made from aged beef and have the best quality of meatballs made from fresh beef .
187611484A1L011027UJI DAYA HASIL GALUR PADI PROTEIN TINGGI DAN KORELASI ANTARA HASIL DAN KUALITAS HASIL Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji hasil dan daya hasil sepuluh genotip padi protein dengan dua varietas pembanding, 2) mengkaji kandungan amilosa dan protein pada sepuluh genotip padi protein dan dua varietas pembanding, 3) mengkaji korelasi antara hasil dan kualitas hasil sepuluh genotip padi protein dan dua varietas pembanding, 4) mendapatkan genotip padi yang memiliki hasil tinggi dan protein tinggi. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan dari bulan September 2014 sampai Januari 2015 di Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan 12 genotip padi protein dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) genotip yang memiliki hasil tinggi dan komponen hasil ideal adalah P-G39//CH-GD-3, P-G39//CH-GD-8, P-G39//CH-GD-13. Genotip yang memiliki hasil tinggi tetapi komponen hasil kurang ideal adalah P-MW//LG-GD-61, P-MW//G39-GD-66, P-MW//G39-GD-67, P-SL//G39-GD-84, P-PS//MR-GD-93, P-CH//MR-GD-95, 2) Semua genotip memiliki kandungan protein yang sama. Genotip yang memiliki kandungan amilosa kategori rendah adalah P-G39//CH-GD-3, P-G39//CH-GD-8, P-G39//CH-GD-13, P-MW//LG-GD-50, P-MW//G39-GD-66, P-MW//G39-GD-67, P-PS//MR-GD-93, P-CH//MR-GD-95. Genotip yang memiliki kandungan amilosa kategori sedang adalah P-MW//LG-GD-61, P-SL//G39-GD-84, 3) Terdapat hubungan yang positif antara sifat hasil gabah per petak dan persentase gabah isi per malai (%) dan bobot 1000 biji (gram). Tidak terdapat hubungan antara hasil dan sifat kandungan protein dan sifat kandungan amilosa, 4) Genotip yang memiliki hasil tinggi dan kandungan protein kategori sedang adalah P-G39//CH-GD-3, P-G39//CH-GD-8, P-G39//CH-GD-13.The aims of the research are: 1) To assess the results and potential result of ten genotypes of protein paddy and two comparison varieties. 2) To assess the content of amylose and protein in ten genotypes of protein paddy and two comparison varieties. 3) To assess the correlation between the yield and the yield qualities of the ten genotypes of protein paddy and two comparison varieties. 4) To get the genotypes of paddy which have high yield and high protein. This research was conducted for 5 months. It started on September 2014 until January 2015 in Pasir Kulon village, Karanglewas, Banyumas. This research using randomized block design (RBD) with the treatments of 12 genotypes of protein paddy and 3 replications. The results of this research were: 1) Genotypes that had high yield and ideal yield components were P-G39//CH-GD-3, P-G39//CH-GD-8, P-G39//CH-GD-13. Genotypes that had high yield, but had less than ideal yield components were P-MW//LG-GD-61, P-MW//G39-GD-66, P-MW//G39-GD-67, P-SL//G39-GD-84, P-PS//MR-GD-93, P-CH//MR-GD-95, 2) All genotypes had the same protein content. Genotypes that had a low amylose content categories were P-G39//CH-GD-3, P-G39//CH-GD-8, P-G39//CH-GD-13, P-MW//LG-GD-50, P-MW//G39-GD-66, P-MW//G39-GD-67, P-PS//MR-GD-93, P-CH//MR-GD-95. Genotypes that had a moderate amylose content categories were P-MW//LG-GD-61, P-SL//G39-GD-84, 3) There was a positive correlation between and grain yield per plot the percentage of filled grains per panicle and 1000 grain weight (grams). There was no correlation between the yield and the nature of the protein content and amylose, 4) Genotypes that had high yield and protein content of the medium category were P-G39//CH-GD-3, P-G39//CH-GD-8, P-G39//CH-GD-13.
187711485H1C010059ANALISA KINERJA ESTIMASI KANAL MIMO-OFDM UNTUK TEKNOLOGI LTEPada teknologi LTE terdapat teknik multiple access yang memanfaatkan rentang frekuensi yang terbatas agar dapat digunakan oleh banyak pengguna. Salah satu teknik multiple access adalah Frequency Division Multiple Access (FDMA). Pengembangan dari teknik FDMA adalah teknik Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM). Teknik OFDM membagi frekuensi secara orthogonal sehingga lebih hemat dalam penggunaan bandwidth. Teknik OFDM ini dipakai untuk teknik multiple access pada downlink LTE. Dalam OFDM, kualitas sinyal terpengaruh fading dan noise yang mengakibatkan error dan turunnya kualitas sinyal. Pada OFDM, estimasi kanal sangat diperlukan untuk mengatasi fading dan noise. Metode estimasi kanal yang banyak digunakan ada dua yaitu metode Least Square (LS) dan metode Minimum Mean Square Error (MMSE). Kedua metode tersebut digunakan pada penerima diam dan penerima bergerak dengan modulasi QPSK, 16-QAM, 64-QAM, dan modulasi adaptif. Simulasi dilakukan untuk mengetahui metode estimasi kanal yang paling efektif pada penerima diam dan penerima bergerak. Hasil analisa menunjukkan bahwa estimasi kanal dengan metode MMSE lebih baik dibandingkan metode LS. Sedangkan pada penerima diam memiliki error yang lebih kecil dibandingkan pada penerima bergerak. On LTE technology there are multiple access techniques that make use of limited range of frequency that can be used by many users. One of the multiple access technique is Frequency Division Multiple Access (FDMA). The development of FDMA technique is a Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) technique. OFDM technique divide frequency in a orthogonal that is more efficient use bandwidth. OFDM used for multiple access techniques on lte downlink. In Ofdm, signal quality affected fading and noise that resulting error and decline quality of a signal. Channel estimation is needed to overcome fading and noise. Method of channel estimation there are two which is widely used method of Least Square (LS) and method of Minimum Mean Square Error (MMSE). Both of channel estimation method used on the fixed user and mobile user with QPSK, 16-QAM, 64-QAM, and adaptive modulation. The simulation conducted to determine most effective method of channel estimation on the fixed user and mobile user. Analysis results show that the channel estimation using the MMSE method better than LS method. Fixed user has an error smaller than mobile user.
187811479C1A011083ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI
SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN DI PROVINSI JAWA BARAT
Sektor industri pengolahan memiliki kontribusi yang besar terhadap pembentukan PDRB Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 dimana sektor industri pengolahan non migas memiliki peran yang paling besar dalam pembentukannya. Menurut Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia kode dua dijit sektor industri pengolahan non migas terbagi atas subsektor yaitu (31) industri makanan, minuman dan tembakau, (32) industri tekstil, barang kulit dan alas kaki, (33) industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, (34) industri kertas dan barang cetakan, (35) industri pupuk kimia dan barang karet, (36) industri semen dan barang galian bukan logam, (37) industri logam dasar besi dan baja, (38) industri alat angkutan mesin dan peralatannya dan (39) industri barang lainnya. Sebagai sektor yang paling dominan, share PDRB Provinsi Jawa Barat pada sektor industri pengolahan kurun waktu 2008-2013 cenderung mengalami penurunan.
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada sektor industri pengolahan perlu didukung dengan perencanaan investasi dimana dalam penelitian ini di fokuskan pada subsektor pada industri pengolahan non migas. Alat analisis yang digunakan untuk melakukan penelitian ini yaitu Shift Share untuk melihat perubahan struktur ekonomi subsektor industri pengolahan non migas Provinsi Jawa Barat. Kemudian Location Quotient (LQ) untuk melihat subsektor industri pengolahan yang merupakan sektor basis dan non basis. Selanjutnya menganalisis tingkat efisiensi investasi pada subsektor basis menggunakan ICOR (Incremental Capital Output Ratio) dan trend linear untuk memproyeksi nilai tambah 3 tahun kedepan dalam menghitung kebutuhan investasi di Provinsi Jawa Barat.
Hasil analisis shift share menunjukkan kinerja pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat (Gj) pada sektor industri pengolahan non migas relatif lebih lambat dibandingkan pertumbuhan PDB Nasional (Nj) untuk sektor yang sama dimana hal tersebut terlihat pada nilai penyimpangan yang negatif. Untuk analisis Location Quotient diketahui subsektor basis yaitu industri tekstil barang kulit dan alas kaki (LQ=1,97), industri alat angkutan mesin dan peralatannya (LQ=1,57) dan industri barang lainnya (LQ=2,85). ICOR subsektor basis yang dilakukan tahun 2008-2013 pada subsektor basis relatif efisien jika dibandingkan dengan ICOR Nasional sebesar 4,39. Kebutuhan investasi untuk tahun 2014-2016 untuk subsektor basis cenderung meningkat. Hal tersebut didukung pada target laju pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen sesuai pada RPJPD Jawa Barat Tahun 2005-2025. Kebutuhan investasi tertinggi terdapat pada industri alat angkut mesin dan peralatannya, diikuti industri tekstil barang kulit dan alas kaki dan industri makanan minuman dan tembakau. Total kebutuhan investasi seluruh subsektor secara berturut-turut yaitu Rp 4.052.851 miliar (2014), Rp 4.118.810 miliar (2015) dan Rp 4.253.176 miliar (2016).
The manufacturing sector has a major contribution to the GDP formation of West Java Province 2008-2013 period which non-oil manufacturing sector has the greatest role in its formation. According to the Classification of Indonesia's Business Sector two-digit code of the non-oil manufacturing sector is divided into subsectors (31) food, beverages and tobacco industry, (32) textiles, leather goods and footwear industry, (33) wood and other forest products industry, (34) paper and printing industry, (35) chemical, fertilizer and rubber goods industry (36) cement and non-metal mineral products industry (37) base metal iron and steel industry, (38) transport and machinery equipment industry (39) other goods industry. As the most dominant sector, share GDP of West Java Province in the manufacturing sector 2008-2013 period tended to decrease.
To increase economic growth of manufacturing sector needs supported by investment plan which focused in this research are subsector of non-oil manufacturing industry. The analytical tools are used to conduct this research which is shift share to see changes in the economic structure on subsector of non-oil manufacturing industry West Java Province. Location Quotient (LQ) to see which is subsector of non-oil manufacturing industry are base and non-base sector. Further to analyze the efficiency of investment in base subsector using ICOR (Incremental Capital Output Ratio) and linear trend for projecting added value in the next 3 years used for calculating investment are needed in West Java Province.
Shift share analysis results showed GDP growth performance of West Java Province (Gj) in the non-oil manufacturing sector is relatively slower than the national GDP growth (Nj) for the same sector which is seen in a negative deviation value. Location Quotient showed there is three industry are base sector, namely textiles, leather goods and footwear industry (LQ = 1,97), transport and machinery equipment industry (LQ = 1,57) and other goods industry (LQ = 2,85). ICOR on the base sector conducted in 2008-2013 period is relatively efficient when compared with the national ICOR 4,39. Investment are needed on 2014-2016 for base sector are increasing. It is supported on the economic growth target 8 percent according to the West Java RPJPD 2005-2025. The highest investment is transportation equipment industry machinery and equipment, followed by textiles, leather goods and footwear industry and also food, beverages and tobacco industry. Total investment are needed for all subsectors Rp 4.052.851 billion (2014), Rp 4.118.810 billion (2015) and Rp 4.253.176 billion (2016).
187911501A1L010140PEMBERIAN FORMULA BIOAKTIVATOR DAN MIKORIZA TERHADAP PENEKANAN PENYAKIT KUNING DAN PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI MERAHPenelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh formula bioaktivator terhadap penekanan penyakit kuning dan pertumbuhan tanaman cabai merah; 2) mengetahui pengaruh mikoriza terhadap penekanan penyakit kuning dan pertumbuhan tanaman cabai merah; 3) mengetahui pengaruh formula bioaktivator dan mikoriza terhadap penekanan penyakit kuning dan pertumbuhan tanaman cabai merah. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan semi rumah kasa Agroekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah komposisi formula bioaktivator yaitu tanpa bioaktivator tanpa ditulari virus; tanpa bioaktivator ditulari virus; bioaktivator tanpa ditulari virus; dan bioaktivator ditulari virus. Faktor kedua adalah pemberian mikoriza yaitu tanpa pemberian mikoriza dan pemberian mikoriza. Jumlah kombinasi perlakuan dari kedua faktor tersebut 8. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pemberian formula bioaktivator dan mikoriza secara terpisah maupun kombinasinya belum mampu menunda masa inkubasi, menekan intensitas penyakit, meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah tunas pada tanaman cabai merah.This research aims to: 1) determine the effect of bioactivator formula for yellow disease suppression and red chili growing. 2) determine the effect of mycorrhizal on yellow disease suppression and red chili growing. 3) determine the effect of combination formula bioactivator and mycorrhizal and suppression of yellow disease and red chili growing. This research was conducted in the Laboratory of Plant Protection and home semi gauze Agroecology, Agriculture faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research was conducted from March to July 2014. Experimental design used was a randomized block design with 2 factors and 3 replications. The first factor is the composition formula of bioactivator that is without bioactivator formula without transmission virus; without bioactivator formula transmission virus; formula bioactivator without transmission virus; and formula bioactivator transmission virus. The second factor is the provision of the mycorrhizal that is without giving mycorrhizal and the giving mycorrhizal number of combined treatment of both factors is 8. The results was obtained from this research were bioactivator formula separately or a combined not been able to delay the incubation period, not suppress the disease intensity, can not increased plant height, leaf number, and number of buds on red chili.
188011502H1C010040PERANCANGAN SISTEM PEMISAH BARANG BERDASARKAN UKURAN BENDA MENGGUNAKAN SENSOR LASER BERBASIS SCADA PADA KONVEYOR MELSEC FX-2N-32MRPerkembangan dunia industri semakin pesat untuk dewasa ini, menjadikan produsen semakin meningkatkan produksi dan kualitas barang. Dalam proses peningkatan tersebut perlu adanya sebuah sistem yang mampu menjaga kualitas barang, salah satunya dapat menggunakan PLC untuk mengontrol produksi. Sistem konveyor MELSEC FX-2N 32 MR merupakan suatu peralatan yang mampu menyeleksi barang berdasarkan ketinggian low, medium plastik, medium besi, dan high dengan menggunakan modul sensor LASER dan sensor induksi yang digunakan untuk menentukan benda besi atau non besi. Dengan bantuan modul dan sensor induksi konveyor mampu memisahkan benda dengan baik, tanpa dipengaruhi oleh kondisi cahaya luar dan gangguan lingkungan, dan dengan presentasi kesalahan 0% dari total 55 kali pengujian, sehingga dapat dikatakan sistem ini cukup mampu untuk memisahkan benda dalam pengujian yang banyak. Dengan dibantu HMI SCADA maka dapat memudahkan user untuk mengontrol, mengakuisi data serta record kerja komponen konveyor dan sistem login pada suatu bentuk file document, sehingga mampu dilakukan pengawasan.More rapid development of the industrial world for today, making more and more manufacturers improve production and quality of the goods. In the process of increasing the need for a system that is able to maintain the quality of the goods, one can use a PLC to control the production. Conveyor system MELSEC FX-2N 32 MR is an apparatus that is able to select items based on the low altitude, plastic medium, medium iron, and high using LASER sensor module and induction sensors are used to determine the ferrous or non-ferrous objects. With the help of induction conveyor modules and sensors able to separate things well, without being influenced by external light conditions and environmental disruption, and with the presentation of error of 0% of the total 55 times of testing, so we can say the system is quite able to separate things in the test that much. With the assistance of the SCADA HMI can allow a user to control, acquire data and work record of conveyor components and systems to log in a form of document files, so it is able to do oversight.