Artikelilmiahs
Menampilkan 10.081-10.100 dari 48.949 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 10081 | 9879 | A1L009109 | PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR BASIS BIOMASSA Azolla microphylla 40 % TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum L) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) konsentrasi POC Basis Biomassa Azolla microphylla 40% (Am) optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah, (2) varietas menunjukkan respon pertumbuhan dan hasil terhadap pemberian konsentrasi POC Basis Biomassa Azolla microphylla 40% (Am), dan (3) ada tidaknya interaksi antara perlakuan konsentrasi POC Basis Biomassa Azolla microphylla 40% dengan varietas cabai merah yang dicoba. Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Karangwangkal, Purwokerto Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2013. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor yang dicoba dalam penelitian ini adalah macam varietas cabai merah terdiri dari 2 jenis yaitu V1 = TM 999 dan V2 = Laris dan faktor pemberian konsentrasi pupuk organik cair (POC) Basis Biomassa Azolla microphylla 40% yang terdiri dari 4 jenis yaitu K0 = 0 ml/l (kontrol), K1 = 3 ml/l, K2 = 6 ml/l dan K3 = 9 ml/l. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm), jumlah bunga (bunga), berat basah buah (g), berat kering buah (g) dan jumlah buah panen (buah). Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji F, jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji DMRT pada tingkat kepercayaan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemberian POC Basis Biomassa Am 40% pada konsentrasi 0 ml/l, 3 ml/l, 6 ml/l dan 9 ml/l tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah, (2) varietas cabai merah yang menunjukkan respon yang terbaik adalah varietas TM 999. TM 999 dapat menghasilkan berbeda sangat nyata pada tinggi tanaman sebesar 95,50 cm, bobot buah basah sebesar 4,128 g, berat kering buah sebesar 1,981 g dan jumlah buah pertanaman sebesar 2,809 buah, (3) tidak terjadi interaksi antara perlakuan konsentrasi POC Basis Biomassa Am 40% dengan varietas yang dicoba, sehingga belum diketahui konsentrasi perlakuan yang ideal. | This research aimed to know (1) optimal concentration of Azolla microphylla 40 % (Am) based biomass liquid fertilizer to the growth and yield of red chili, (2) varieties of red chili showed good response to concentration of Am 40 % based biomass liquid fertilizer, and (3) any interaction between application of Am 40 % based biomass liquid fertilizer and variety of red chili. The research was experimentally which was implemented at screen house at Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Karangwangkal, Purwokerto from July to December 2013. The research was employed RCBD with two factors. First factor was concentration of Am 40 % based biomass liquid fertilizer : (i) K0 = 0 ml/l (control), (ii) K1 = 3 ml/l, (iii) K2 = 6 ml/l and (iv) K3 = 9 ml/l. Second factor was variety of red chili namely V1=TM 999 and V2=Laris. The variables measured were height of plant (cm), stem diameter (cm), sum of flowers, fresh fruit weight basis (g), dry fruit weight basis (g), and the total (sum) of the frui/plant. Data was statiscally tested by the used of F-test, there that was followed by LSD-test to knew of any significantly different. The result of research were : (i) application concentration 0 ml/l, 3 ml/l, 6 ml/l and 9 ml/l of Am 40% based biomass liquid fertilizer was not affected to the growth and yield of red chili, (ii) the variety of TM 999 was showed the best response to liquid fertilizer. That plant achieved the highest plant of 95,50 cm, dry and fresh fruit basis were highest at 1,98 g and 4,13 g, and the sum of total yield was 2,81/plant, and (iii) there was no interaction between the application concentration of Am 40% based biomass liquid fertilizer and the variety of red chili. By this study, there could not be achieved which concentration of Am 40% based biomass liquid fertilizer was the best application to the plant. | |
| 10082 | 9878 | H1I012003 | Pertumbuhan Mutlak dan Retensi protein Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dengan Pemberian Pakan Pellet Berbahan Baku Tanaman Air yang Berbeda | Tanaman air merupakan bahan baku alternatif dalam pembuatan pellet ikan karena mempunyai nilai gizi tinggi. Tujuan penelitian, mengetahui pengaruh pellet berbahan baku tanaman air terhadap pertumbuhan mutlak dan retensi protein ikan gurami dan pellet berbahan baku tanaman air terbaik. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yaitu P0 (pellet tanpa tanaman air), P1 (pellet berbahan baku Azolla microphylla), P2 (pellet berbahan baku Lemna minor) dan P3 (pellet berbahan baku Hydrilla verticillata). Gurami dipelihara selama 30 hari dengan dosis pemberian pakan 2% dari biomassa ikan. Variabel yang diamati yaitu pertumbuhan mutlak dan retensi protein. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan mutlak dan retensi protein tidak berbeda (P>0,05) diantara perlakuan yang dicobakan. Pertumbuhan mutlak P0 (1,33±0,35 g), P1 (0,71±0,53 g), P2 (1,24±0,74 g) dan P3 (0,75±0,17 g), retensi protein P0 (7,91±19,50%), P1 (6,78±10,95%), P2 (7,24±18,88%) dan P3 (5,20±12,35%). Ikan gurami yang diberi pellet berbahan baku Azolla microphylla, Lemna minor, dan Hydrilla verticillata memiliki respon yang sama terhadap pertumbuhan dan retensi protein ikan gurami dengan pellet tanpa tanaman air. Tepung Azolla microphylla, Lemna minor, dan Hydrilla verticillata dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pellet ikan. | Aquatic plant is an alternative of raw materials in making of fish pellets because it has high nutritional value. The aims of this research were to know the influence of pellets were made by water plants for absolute growth, protein retention of giant gouramy, and the best pellets were made by aquatic plants. The study used an experimental methods. The research was arranged by completely randomized design with four treatments and four repetition. There were four treatments, P0 (pellets without aquatic plant), P1 (pellets which made by Azolla microphylla), P2 (pellets which made by Lemna minor), and P3 (pellets which made by Hydrilla verticillata). The fishes was maintained for 30 days with a dose of feeding 2% from fish biomass. There were two variables was observed, absolute growth and protein retention. The results showed that absolute growth and protein retention were not significant (P>0,05) among the treatment which tested. Absolute growth of P0 (1,33±0,35 g), P1 (0,71±0,53 g), P2 (1,24±0,74 g) and P3 (0,75±0,17 g), protein retention P0 (7,91±19,50%), P1 (6,78±10,95%), P2 (7,24±18,88%) and P3 (5,20±12,35%). The giant gouramy fed pellets was made by Azolla microphylla, Lemna minor, and Hydrilla verticillata have the same response for growth value and protein retention value with the giant gouramy fed pellets without aquatic plant. The flour of Azolla microphylla, Lemna minor, and Hydrilla verticillata can be used raw materials in making of fish pellets. | |
| 10083 | 9877 | A1G011017 | DAMPAK PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI DESA JATIMULYO KECAMATAN ALIAN KABUPATEN KEBUMEN | Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2013 jumlah penduduk miskin tercatat 28,07 juta jiwa atau 11,37 %. Sekitar 17,74 juta jiwa dari jumlah tersebut berada di perdesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan 80% berada pada skala usaha mikro yang memiliki luas lahan lebih kecil dari 0,3 hektar. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan program nasional dalam rangka pengentasan kemiskinan pada sektor pertanian yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian sejak tahun 2008. Program ini tidak hanya berupa pemberian dana bantuan penguatan modal kepada petani melalui Gapoktan saja, namun juga ada pelatihan dan penyuluhan dari penyuluh pertanian untuk mengatasi permasalahan yang ada. Tujuan penelitian adalah mengetahui dampak program PUAP terhadap produksi padi dan mengetahui dampak program PUAP terhadap pendapatan petani padi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Pengambilan data mulai 3 Maret hingga 3 Juni 2014 pada petani anggota Gapoktan Tanimulyo di Desa Jatimulyo. Penentuan responden menggunakan simple random sampling. Jumlah petani yang menjadi responden dalam penelitian ini sebanyak 52 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani padi setelah adanya bantuan program PUAP lebih menguntungkan dibandingkan usahatani sebelum adanya bantuan program PUAP. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa produksi sebelum adanya program PUAP sebesar 5.545 kg/ha dan setelah program PUAP 5.719 kg/ha. Biaya produksi rata-rata yang dikeluarkan petani padi sebelum program PUAP Rp 6.446.949/ha dan setelah program PUAP sebesar Rp 8.017.928/ha. Harga jual padi sebelum program PUAP Rp 3.000 per kilogram dan setelah program PUAP sebesar Rp 4.300 per kilogram. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa penerimaan rata-rata sebelum program PUAP yang diperoleh petani padi sebesar Rp 16.635.000/ha dan setelah program PUAP Rp 24.591.700/ha. Uji t dengan tingkat kesalahan (α)= 0,05, menunjukan usahatani padi sebelum dan sesudah adanya program PUAP terdapat perbedaan pendapatan. | Data from the Central Agency on Statistics (BPS) in march 2013 poor population recorded 28,07 million people or 11,37 %. Around 17,74 million of these are in the rural areas with the main livelihoods in agriculture and 80% are on the scale of micro enterprises which have a land area smaller than 0,3 hectares.Rural agribusiness development program ( PUAP ) is a national program in order poverty reduction in the agricultural sector that has been performed by Ministry of Agriculture since 2008. This program is not only a strengthening of capital grants to farmers through Gapoktan course, but there are also training and extension of agricultural extension to overcome the existing problems. Research purposes is to know the impact programs PUAP of rice production and knowing the impact of programs PUAP farmers income of rice. Research used are survey. Retrieval of data started on 3 March until 3 June 2014, on farmers Gapoktan Tanimulyo members in Jatimulyo Village. Determination of the respondents use simple random sampling. The number of farmers who were respondents in this research as many as 52 people. The results showed that rice farming after the aid program is more profitable than farming PUAP before PUAP assistance program. Based on the calculations can be seen that production of before the presence of program PUAP of 5.545 kg/ha and after program PUAP 5.717 kg/ha. The average cost of production incurred rice farmers before program PUAP Rp 6.446.949/ha and after program PUAP Rp 8.017.928/ha. The selling price of rice before program PUAP Rp 3,000 per kg and after program PUAP Rp 4.300 per kg. Based on calculations be seen that the average revenues before the program PUAP obtained farmers rice Rp 16.635.000/ha and after program PUAP Rp 24.591.700/ha. Test t with error rate (α)= 0,05, indicating rice farming before and after program PUAP there are differences income. | |
| 10084 | 9880 | F1G010052 | Karakteristik Cablaka dalam Naskah-Naskah Drama Karya Edi Romadhon | Skripsi ini berjudul Karakteristik Cablaka dalam Naskah-Naskah Drama Karya Edi Romadhon. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dialog, perwatakan tokoh dan alur, serta mendekskripsikan karakteristik cablaka dalam naskah-naskah drama karya Edi Romadhon. Metode yang digunakan untuk menganalisis adalah metode deskriptif analisis pendekatan Antropologi Sastra. Teknik pengumpulan data dengan cara membaca naskah berulang-ulang, menginventarisasi unsur intrinsik yang memuat karaktersistik cablaka dalam naskah, dan mengklasifikasikan data. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mendeskripsikan karakteristik cablaka dalam data, mendeskripsikan hasil analisis data serta menyimpulkan karakteristik cablaka dalam data. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam naskah-naskah drama karya Edi Romadhon memuat karakteristik cablaka. Hal itu disebabkan oleh latar belakang sosial pengarang sebagai sastrawan kelahiran Ajibarang Banyumas. Karakteristik cablaka dalam naskah-naskah drama karya Edi Romadhon dapat dilihat melalui dialog antartokoh, perwatakan tokoh dan alur. Setting Banyumas juga sangat jelas digambarkan melalui ulasan mitologi serta kepercayaan masyarakat Banyumas, pepatah Banyumas juga cerita rakyat dari Kabupaten Banyumas. | This thesis is entitled “Karakteristik Cablaka dalam Naskah-Naskah Drama Karya Edi Romadhon.” The research is aimed to describing dialogues, characterization, plot, and cablaka characteristics. Then the method, which was used to analyze them, was a descriptive analysis method Anthropology approach. The data-capture techniques in this research were done by means of reading the script over and over, listing intrinsic parts that contain of cablaka characteristics in the script, and clasifying the data. The data analysis technique was done by means of describing cablaka characteristics related the data, describing data analysis result, and concluding cablaka characteristics based on the data. The result showed that Edi’s drama scripts contain of cablaka characteristics. It was caused by the social background of the writer as a man of letters that was born in Ajibarang Banyumas. The cablaka characteristics in drama scripts by Edi Romadhon can be seen through the dialogue among the characters, characterization, and plot. Setting of place in Banyumas is also clearly defined through mitology review, the belief of Banyumas people, Banyumas proverbs, and Banyumas folklore. | |
| 10085 | 10880 | H1D008037 | AUDIT SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN PADA GEDUNG PROF. DR. SOELARTO RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI | Kebakaran bangunan merupakan suatu bencana yang merugikan bagi banyak pihak yang dapat mengakibatkan kerugian materil dan berpotensi terhadap kematian yang cukup besar sehingga memerlukan perhatian akan keselamatan penghuni bangunan. Oleh karena itu perlu disain bangunan yang memenuhi kriteria keamanan terhadap bahaya kebakaran. Bangunan yang digunakan sebagai objek penelitian adalah gedung Prof. Dr. Soelarto Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai keandalan sistem proteksi pasif, sistem proteksi aktif, sarana penyelamatan dan komponen kelengkapan tapak yang diterapkan oleh pengelola bangunan gedung Prof. Dr. Soelarto. Data primer didapatkan dari pengamatan langsung di lapangan sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari pengelola gedung itu sendiri, baik melalui wawancara maupun melalui gambar. Penilaian menggunakan alat bantu cheek list yang diambi dari Pd-T-11-2005-C, kemudian dinilai nilai keandalan sistem keselamatan bangunan tersebut. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa sistem proteksi pasif bernilai 21,16 %, sistem proteksi aktif bernilai 20,484 %, sarana penyelamatan bernila 21,13 % dan kelengkapan komponen tapak bernilai 19,909 %. Bangunan dinilai baik dan dapat menjamin keselamatan penghuni bangunan terhadap bahaya kebakaran karena nilai NKSKB (Komponen Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan) sebesar 82,683 % (B) sesuai peraturan Pd-T-11-2005-C. | Building fire is a disaster that affect many people like material losses and potentially enough leading to death. Therefore, the safety of the building occupants need to get attention. The building must has the standards required of the fire protection system. The building which used as the object of study is Prof. Dr. Soelarto building, Fatmawati Centrall Hospital. This study aims to determine the value of passive protection system against fire hazards, active protection system, safety facalities, and the completeness of the outdoor fire system infrastructure with case studies Prof. Dr. Soelarto building, Fatmawati Central Hospital. Primary data was obtained from direct observation in the field, while the secondary data was obtained from the data collected at building. Assessment and evaluation of the components fire protection system in buildings which refers to the standard assessment of Pd-T-11-2005-C. The study shows that passive protection system has a value 21.16%, active protection system 20.484%, safety facalities system 21.13% and the completeness of the outdoor fire system infrastucture 19.91%. The buildings included category B (good), that can guarantee the safety of the occupants of the building against fire with NKSKB (Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan) value 82.683% (B) in accordance as the rules pd-T-11-2005-C. | |
| 10086 | 9881 | D1E010227 | PRODUKSI KARKAS BERBAGAI AYAM SENTUL JANTAN PERIODE AWAL | Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan berbagai produksi karkas bebagai Ayam Sentul periode awal. Materi yang digunakanadalah Day Old Chick (DOC) Ayam Sentulsebanyak 250 ekor yang dipelihara mulai umur 1 sampai umur 8 minggu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan yang diberikan adalah berbagai Ayam Sentul terdiri ataslimaperlakuan dan setiap perlakuan diulang lima kali. Perlakuan terdiri atas Sa = Ayam Sentul Abu , Sb = Ayam Sentul Batu, Sd = Ayam Sentul Debu, Se = Ayam Sentul Emas, dan Sg =Ayam Sentul Geni.Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi, kemudian jika berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata jujur (BNJ). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa berbagai Ayam Sentul terhadap berpengaruh tidak nyata (P<0,05) terhadap produksi karkas, kecuali bobot dan peersentase gizzard. Rataan bobot gizzard yaitu 21,14±5,74 g dengan kisaran 15,24 g sampai 25,94 g dan rataan persentase gizzard yaitu 4,07±0,97% dengan kisaran 2,89% sampai 4,79%. Berdasarkan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ), menunjukkan bahwa berbagai Ayam Sentul berbeda nyata (P<0,05) terhadap bobot dan persentase gizzard. Kesimpulan dari penggunaan berbagai jenis ayam jantan tidak bepengaruh terhadap produksi karkas, kecuali bobot dan persentase gizzard. | The purpose of the experiment was to khow the kinds ofdifferences inthe production chickencarcassSentul starter period. The materialsused areDay OldChick(DOC) 250tailSentulchickenrearedfromage1 toage8 weeks. Researchusing acompletely randomized design(CRD), the given treatment is various males Sentul Chicken which contains of five treatmentsandeachtreatment was replicatedfivetimes. Treatmentconsists ofAbuSa=ChickenSentul, SentulChickenStoneSb=Sd=ChickenDustSentul, SentulGoldSe=Chicken, ChickenSentulandSg=Geni. Data were analyzedusinganalysis of variance, and if thereal effectthencontinued withhonestSignificant Differencetest(HSD). Results ofanalysis of varianceshowedthat thevarietyofinfluentialSentulchickenis notsignificant (P<0.05) on the productionof carcass, exceptthe weightandpersentasegizzard. The meanweight of21.14±5.74gizzardiegwith a range of15.24g to25.94gandthe averagepercentage ofgizzardis4.07±0.97% with a range of2.89% to 4.79%. Under theAdvancedTestHonestlySignificant Difference(HSD), indicatingthata variety ofchickenSentulsignificantly different (P<0.05) on the weightandthe percentage ofgizzard. From the research it can be concluded that the treatment of a variety of Sentul chicken gives no difference to the production of male Sentul chicken carcass of starter period , except the production of carcass weight and percentage of gizzard. | |
| 10087 | 9882 | A1L009013 | Evaluasi Hasil dan Korelasinya dengan Luas dan Sudut Daun Bendera pada Galur-Galur F7 Hasil Persilangan G39 dan Silugonggo | Daun merupakan bagian penting dari suatu tanaman, yang mempunyai fungsi sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Pembedaan varietas padi satu dengan padi yang lainnya dapat menggunakan luas dan sudut daun bendera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) hasil dan umur panen galur-galur F7 padi gogo, (2) korelasi luas dan korelasi sudut daun bendera dengan hasil galur-galur F7 padi gogo. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Desa Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dimulai dari bulan Nopember 2013 sampai dengan bulan April 2014. Faktor yang dicoba adalah 11 genotip yang terdiri atas 6 galur harapan dan 5 varietas pembanding, yaitu G69-1-2-1, G69-1-2-3, G69-2-4-4, G69-3-1-3, G69-4-3-1, G69-5-3-3, Silugonggo, Inpago Unsoed 1, Situ Patenggang, Basmati, dan Cisadane. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok 3 ulangan. Variabel yang diamati yaitu luas daun bendera, sudut daun bendera, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, dan bobot gabah per rumpun. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (uji F) dan dilanjutkan dengan uji lanjut Least Significant Difference (LSD) pada taraf kesalahan 5% untuk luas dan sudut daun bendera dan Least Significant Increase (LSI) pada taraf kesalahan 5% untuk komponen hasil. Keeratan hubungan antara karakter komponen hasil dengan hasil dianalisis menggunakan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan 1) terdapat tiga galur F7 terpilih yaitu G69-1-2-3, G69-2-4-4, dan G69-4-3-1, dengan bobot gabah per rumpun 27,05 g, 24,65 g, dan 26,1 serta berumur genjah 118 hst, 124 hst, dan 119,67 hst. 2) terdapat dua karakter komponen hasil yang berkorelasi positif sangat nyata dengan luas daun bendera, yaitu panjang malai dan jumlah gabah per malai dengan nilai korelasi 0,522 dan 0,645, serta terdapat satu karakter komponen hasil yang berkorelasi negatif sangat nyata dengan luas daun bendera, yaitu persentase gabah isi per malai dengan nilai korelasi -0,33. | Leaf is an important part of plant, which has function as a venue for photosynthesis. Area and angle of rice flag leaf could be used for distinguish rice varieties. This study aimed to determine (1) the yield and date of harvest and, (2) the correlation of area and angle of rice flag leaf with the yield of F7 promising lines. This study was conducted of the rice field Village of Grendeng, subdistrict North Purwokerto, Banyumas, Central Java. The study was conducted for 6 month, from November 2013 to April 2014. This study used 11 genotypes, there are 6 promising genotype and 5 check varieties, namely G69-1-2-1, G69-1-2-3, G69-2-4-4, 3-1-G69-3, G69-4-3-1, G69-5-3-3, Silugonggo, Inpago Unsoed 1, Situ Patenggang, Basmati, and Cisadane. This study used randomized blocked design with three replications. Several variables observed are leaf flag area, leaf angle, panicle length, number of grains per panicle, percentage of filled grains per panicle, and grain weight per clumps. Data were analyzed with analysis of variance than continued to Least Significant Difference (LSD) at 5% error level of significant for flag leaf area and flag leaf angle and Least Significant Increase (LSI) at the 5% error level least of significant for yield component. Corelation test was used to test wether there was corelation betwen yield component traits with yield. The yield showed there are three type F7 is selected, namely G69-1-2-3, G69-2-4-4, and G69-4-3-1, with a weight of 27.05 g, 24,65 g, and 26,1 and the age 118 day after planting, 124 day after planting, dan 119,67 day after planting. There are two traits of yield components were positive highly correlated significant to the flag leaf area, namely panicle length and number of grains per panicle with correlation values 0,522 and 0,645. However, there is one of traits yield component have negative significant correlation with flag leaf area, that is the percentage of filled grains per panicle with correlation values -0,33. | |
| 10088 | 11167 | C1B011024 | ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA SBI, PERTUMBUHAN EKONOMI, HARGA MINYAK DAN HARGA EMAS TERHADA PERGERAKAN HARGA SAHAM | Penelitian ini merupakan studi empiris yang dilakukan di Bursa Efek Indonesia pada periode 2008-2013. Penelitian ini berjudul " Analisis Pengaruh Suku Bunga SBI, Pertumbuhan Ekonomi, Harga Minyak dan Harga Emas Terhadap Pergerakan Harga Saham". Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suku bunga SBI, pertumbuhan ekonomi, harga minyak dan harga emas terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan periode 2008-2013. Penelitian ini menggunakan model regresi berganda sebagai alat pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data saham Bursa Efek Indonesia, dan sampel merupakan data Indeks Harga saham Gabungan selama periode 2008-2013. Dari hasil penelitian didapatkan: (1) Pertumbuhan ekonomi dan harga minyak tidak berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2013, (2) Suku bunga SBI dan harga emas berpengaruh negatif terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2013. Implikasi dari kesimpulan diatas antara lain: (1) Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dapat mengambil kebijakan agar suku bunga SBI tetap stabil, (2) Investor juga harus memperhatikan harga emas sebelum memutuskan untuk berinvestasi di pasar modal khusunya di Indonesia. | This research is an empirical study on Indonesia Stock Exchange at period 2009-2013. The research entitled “Analysis of BI Rate, Economic Growth, Crude Oil Price, Gold Price on The Movement of Composite stock Price Index at Indonesia Stock Exchange 2008-2013 Period”. The aims of this research were to determine the effect of the BI rate, economic growth, crude oil price and gold price against movement Composite Stock Price Index 200-2013 period. Data collection techniques used the method of documentation, literature review and internet search. This research used multiple regression model as a means of testing the hypothesis. Population in this study was the data of all stocks on Indonesia Stock Exchange and sample was the data of Composite stock index in 2008-2013 period. The result of this research indicates that: (1) Economic growth and crude oil price had no significant effect on Composite Stock Price Index in 2008-2013 period; (2) BI rate and gold price had negatively affect on Composite stock Price Index in 2008-2013 period. As implications of the conclusion above, (1) Bank Indonesia as the monetary authority can take BI rate policy in order to remain stable, (2) Investors should also pay attention to gold price before deciding to invest in the stock market especially in Indonesia. | |
| 10089 | 11166 | E1A011077 | Konsekuensi Yuridis Terhadap Indikasi Penelantaran Hak Guna Usaha Oleh PT.Pakisaji Banyumas Di Desa Punggelan, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara | Pemegang Hak Guna Usaha (HGU) diwajibkan untuk memanfaatkan dan memberdayakan HGU yang telah diberikan kepadanya sesuai dengan surat izin pemberian HGU tersebut, karena jika dalam kenyataan pemegang HGU menelantarkan tanah yang menjadi haknya, maka HGU tersebut dapat dicabut. Ketentuan tersebut membuat penulis tertarik akan sebuah kasus yang terjadi di daerah Desa Punggelan, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, di desa tersebut ada sebuah perusahaan bernama PT. Pakisaji Banyumas yang mendapatkan HGU sejak tahun 1986 namun pada kenyataannya HGU tersebut ditelantarkan. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Data yang digunakan adalah data primer dan data skunder, data primer diperoleh melalui wawancara, sedangkan data skunder diperoleh dari peraturan perundang-undangan dan buku-buku. Data yang diperoleh dilapangan kemudian dilakukan analisis mengenai kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa Kasus penelantaran HGU milik PT. Pakisaji Banyumas dapat dikualifikasikan sebagai tanah terindikasi terlantar karena PT. Pakisaji Banyumas semenjak tahun 2000an sudah tidak melakukan aktifitas sama sekali terhadap tanah tersebut. Selain itu Kantor Pertanahan Kabupaten Banjarnegara dalam menindaklanjuti penelantaran yang dilakukan oleh PT.Pakisaji Banyumas telah melakukan proses penertiban tanah terlantar sesuai ketentuan, namun sampai dengan habisnya HGU PT.Pakisaji Banyumas Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia belum mengeluarkan Surat Keputusan Penetapan Tanah Terlantar atas HGU tersebut. Kedepannya diharapkan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia harus lebih cepat dalam hal mengeluarkan Surat Keputusan Penetapan Tanah Terlantar setelah adanya usulan dari Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional tingkat Provinsi agar penegakan hukum terhadap pelaku penelantaran tanah dapat berlaku efektif sehingga dapat mengurangi jumlah pelaku penelantaran tanah potensial. Kata Kunci: Proses Penertiban Tanah Terlantar, Hak Guna Usaha Dan Surat Keputusan Penetapan Tanah Terlantar. | As the holder of Cultivation Rights Title have the obligation to utilize and empower the cultivation rights title, which had been given suit with the license of the cultivation rights title because in reality, if the holders of cultivation rights title neglect the laid ground that has becomes his rights it can makes a revoked of his rights. These provisions motivate the witer interest to write about a case that occurred in the Punggelan village, district of Punggelan, Banjarnegara, on Central of Java. There is a company called PT. Pakisaji Banyumas in the village who had cultivation rights title since 1986 that had been abandoned. This research using the juridical normative methode. The used data are from the primary and secondary data. The primary data gained through some interviews, when the secondary data gained from the legislation and books. The obtained field data being analyzed with the suitability of the applicable legislation. Based on research, the case that neglect of cultivation rights title that owned by PT. Pakisaji Banyumas discovered as an indicated disqualification ground because since 2000 PT. Pakisaji Banyumas had no activity detected. Moreover the Ground Office in Banjarnegara district still process the case according to the appropriate rules. However until the expired of the cultivation rights title, PT. Pakisaji Banyumas had proven that the ground has been neglect and The national ground Agency of the Republic Indonesia has not publish the Decree of the neglect ground letter. Furthermore, hoping the National Ground Agency of Republic of Indonesia should be faster in terms of issuing the decree of the neglect ground. After following the presence of proposal from the National Ground Agency Regional, in order to make the law enforcement applied effectively so that to reduce the number of perpetrators of neglect the ground potential. Keyword: Process of Sweeping the Neglect Ground, Cultivation Rights Title, and the Decree of the Neglect Ground. | |
| 10090 | 9883 | A1C010019 | PERSEPSI PETANI TERHADAP KEBERADAAN SUB TERMINAL AGRIBISNIS DI KECAMATAN PANUMBANGAN KABUPATEN CIAMIS | Sub Terminal Agribisnis (STA) adalah institusi yang bergerak dalam bidang pelayanan pemasaran sentra produksi pertanian di Kecamatan Panumbangan, Ciamis, Jawa Barat. Optimalisasi STA diprioritaskan pada pengembangan produksi dan produktivitas pertanian komoditas unggulan daerah, pengembangan sarana dan prasarana pendukung investasi melalui pengembangan kelompok tani dan koperasi jasa agribisnis yang ditandai dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi (LPE). Saat ini petani STA Panumbangan telah menghasilkan produk holtikultura yang sebagian besar dipasarkan ke pasaran lokal. Produk-produk tersebut antara lain cabai merah, cabai keriting, tomat, buncis, kacang panjang, pakcoy, caisim dan mentimun. Pada penelitian ini produk yang diteliti dalam pemasarannya dibatasi yaitu cabai merah, tomat, dan mentimun. Produk dipilih berdasarkan produk yang paling banyak produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1)Menghitung tingkat pendapatan para petani pengguna STA, 2)Mengetahui presepsi petani terhadap keberadaan Sub Terminal Agribisnis (STA) dan 3)Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi presepsi petani terhadap keberadaan Sub Terminal Agribisnis. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada Mei 2014 sampai Juni 2014 dengan sasaran penelitian adalah petani pengguna Sub Terminal Agribisnis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan teknik pengambilan data secara sensus. Analisis data menggunakan analisis pendapatan, skala Likert’s, dan Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1)Tingkat pendapatan petani cabai merah rata-rata per luas lahan (0,19 ha) yaitu sebesar Rp18.624.950,00 dalam satu kali musim tanam.Tingkat pendapatan petani tomat rata-rata per luas lahan (0,11 ha) yaitu sebesar Rp6.161.398,00 dalam satu kali musim tanam. Tingkat pendapatan petani mentimun rata-rata per luas lahan (0,11 ha) yaitu sebesar Rp5.814.014,00. 2)Tingkat persepsi petani terhadap keberadaan Sub Terminal Agribisnis di Kecamatan Panumbangan sebesar 104 yang berada diantara median dan kuartil III termasuk dalam kategori tinggi. 3)Variabel tingkat pelayanan dan harga produk berpengaruh nyata terhadap persepsi petani sedangkan variabel usia, pendidikan, pengalaman usahatani, kondisi tempat dan penyediaan saprodi berpengaruh tidak nyata terhadap persepsi petani | Sub Terminal Agribisnis is the institution that concern in marketing service in agriculture production centers in Panumbangan District, Ciamis Regency, West Java. The STA optimization prioritized in production development and agriculture productivity of region comodity seed, tool development, the supporting investment infrastucture through The farmer groups, and Agribusiness Cooperative service union, which seen by increasing of the economics growth. Currently STA Panumbangan has produced horticultural products are mostly sold to the local market. The products include : red chili, chili curls, tomato, beans, long beans, pakcoy, caisim, and cucumber. In this research were examined in the marketing of products limited the red chili, tomato, and cucumber. Products are selected based on the most production products. The purpose of this research are to analyze : 1)To count the farmers who use STA. 2)To know The farmers’s perception about the existance of STA. 3)Analyze the factors that influence perception of the existance of STA. This research did in Panumbangan District, Ciamis Regency, on May 2014 until June 2014 with the target ist the farmers who use STA. The method that use in this research is Study case, by take the cencus. Analysis of the data using Income Analyze, Likert's scale, and Multiple Linear Regression. The result shown us that : 1)The chili farmers income per lard area (0,19 ha) average got Rp18.624.950,00 in every growing season. The tomato farmers income per lard area (0,11 ha) average got Rp6.161.398,00 in every growing season. The cucumbar farmers income per lard area (0,11 ha) average got Rp5.814.014,00 in every growing season. 2)The level of farmers perception to STA in Panumbangan District average got 104,between median and quartal III that counted as the high category. 3)The level of service and product price significantly influence the farmers perseption and The age variable, Education background, The farming expenence, The place condition, The provision of inputs are not significantly influence the farmer perception. | |
| 10091 | 9884 | A1L010179 | PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS BAYAM (Amaranthus tricolor L) SECARA HIDROPONIK RAKIT APUNG | Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui varietas bayam yang paling responsif terhadap aplikasi pupuk organik cair secara hidroponik, (2) Mengetahui konsentrasi pupuk organik cair yang optimal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam secara hidroponik, (3) Mengetahui pengaruh interaksi antara konsentrasi pupuk organik cair dengan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam secara hidroponik. Penelitian ini dilaksanakan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada ketinggian tempat ± 110 m dpl pada bulan Maret 2014 – Juni 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan pola faktorial. Faktor yang dicoba meliputi varietas bayam (V) dan konsentrasi pupuk organik cair (P). Varietas yang digunakan yaitu varietas Maestro (V1), varietas Mira (V2), dan varietas Tahta (V3). Konsentrasi pupuk organik cair yang digunakan yaitu 5 ml/L (P1), 10 ml/L (P2), dan 15 ml/L (P3). Kombinasi perlakuan yang diperoleh sebanyak 9 kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah helai daun, luas daun, volume akar, bobot akar segar, bobot akar kering, bobot tajuk segar, dan bobot tajuk kering. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F, apabila terdapat pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5%, serta untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik cair yang optimal dilakukan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan tiga varietas bayam memberikan respon pada variabel tinggi tanaman dan jumlah helai daun. Varietas yang menunjukkan pertumbuhan dan hasil terbaik adalah varietas Tahta. Pemberian pupuk organik cair berpengaruh terhadap variabel tinggi tanaman dengan konsentrasi optimal 11,56 ml/L dan tingginya adalah 25,84 cm. Tidak terjadi interaksi antara penggunaan pupuk organik cair dengan varietas bayam. | Spinach (Amaranthus tricolor L.) is leaf vegetables that have high nutrition and loved by all levels of society, but in recent years production has decreased. Spinach cultivation can be done with the technology of hydroponics that uses a liquid organic fertilizer. Hydroponics is one of the alternatives that can be used to increase crop productivity. The use of liquid organic fertilizer is expected to create a health food. The purpose of this research is: (1) to know the spinach varieties are the most responsive to the liquid organic fertilizer application in hydroponics, (2) to know the concentration of liquid organic fertilizer optimal on growth and yield of spinach in hydroponics, (3) to know the effect of the interaction between the concentration of liquid organic fertilizer with varieties on growth and yield of spinach in hydroponics. The research was conducted in the screen house at the Faculty of Agriculture University of Jendral Soedirman with altitude of approximately 110 meters above sea level in March through June 2014. The experimental design in this research was a Randomized Complete Block Design (RCBD) with factorial pattern. Factors tested were composed of spinach varieties (V) and concentration of liquid organic fertilizer (P). The varieties used were variety of Maestro (V1), variety of Mira (V2) and variety of Tahta (V3). The concentration of liquid organic fertilizer used were 5 ml/L (P1), 10 ml/L (P2), and 15 ml/L (P3). Combination treatment gained as many as 9 combination treatments were repeated three times. Observed variables were plant height, number of leaves, leaf area, root volume, root fresh weight, root dry weight, fresh weight of upper plant, and dry weight of upper plant. The data were analyzed using the F test, if there was a treatment effect followed by DMRT (Duncan's Multiple Range Test) at the level of 5%, and to know the optimal concentration of the liquid organic fertilizer was done regression analysis. The experimental result showed that the use of three varieties of spinach influenced on plant height and number of leaves. Variety that showed best results was variety of Tahta. Application of liquid organic fertilizer affected on plant height with an optimal concentration of 11.56 ml/L and the height was 25.84 cm. There was no interaction between liquid organic fertilizer and the use varieties of spinach. | |
| 10092 | 9886 | A1H010086 | ANALISIS PINDAH PANAS PADA TUNGKU TRADISIONAL IMPROVED BERBAHAN BAKAR SERBUK GERGAJI KAYU LABAN | Tungku tradisional improved yang dimaksudkan dalam penelitian ini merupakan tungku yang digunakan untuk proses pemasakan gula kelapa. Pada umumnya, kehilangan panas pada proses pemasakan menggunakan tungku cukup tinggi dan sangat berpengaruh pada efisiensi pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan suhu selama proses pemasakan air, mengetahui besarnya kehilangan panas yang terjadi pada tungku selama proses pemasakan air, dan mengetahui efisiensi sistem pembakaran pada tungku terhadap jumlah bahan bakar. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sikapat menggunakan tungku tradisional improved yang telah didesain berbahan bakar serbuk gergaji kayu laban. Variabel pengukuran adalah konsumsi bahan bakar, suhu pada masing-masing bagian tungku, suhu air, suhu lingkungan dan kelembaban udara lingkungan. Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan persamaan pindah panas, sehingga diperoleh nilai perpindahan panas untuk mengetahui kehilangan panas dan efisiensi sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu ruang pembakaran rata-rata sebesar 126,83OC. Total rata-rata panas yang hilang pada bagian ruang pembakaran sebesar 178,80 kJ, bagian cerobong sebesar 37,40 kJ dan bagian wajan sebesar 90,30 kJ. Efisiensi total rata-rata sistem terhadap besarnya bahan bakar yang diberikan dan dihitung berdasarkan panas yang hilang dari sistem tungku adalah 92,83 %. | Traditional furnace improved in this research is a furnace that is used for the process of cooking coconut sugar. Usually, heat loss during cooking process is high and influent on the combustion efficiency. This research aims to determine the change of temperature during the water boiling process, to determine the amount of heat loss in the furnace during the water boiling process, and determine efficiency system to the amount of fuel used. This research was conducted in Sikapat Village using traditional furnace improved used sawdust laban. The research variables include measure the fuel consumption, the temperature of furnace, water temperature, ambient temperature and ambient relative humidity. Measurement data were analyzed using heat transfer equation to determine the amount of heat loss and efficiency system. The result of this research showed that the average temperature of combustion chamber is 126.83OC, the average heat loss in the combustion chamber is 178.80 kJ, in the chimney is 37.40 kJ and in the pan 90.30 kJ. The average total efficiency system to the amount of fuel and analyzed using heat loss furnace system is 92.83 %. | |
| 10093 | 9887 | H1G010040 | PENGARUH WAKTU KONTAK LIMBAH CAIR TAHU DENGAN MODIFIKASI CONSTRUCTED WETLAND SISTEM FWS MENGGUNAKAN Nymphaea alba DALAM PERBAIKAN KUALITAS AIR | Industri tahu dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Limbah cair tahu biasanya langsung dibuang ke badan perairan tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Limbah cair tahu mengandung kadar BOD, TSS dan nitrat yang cukup tinggi, sehingga jika dibuang langsung ke badan perairan akan menurunkan daya dukung lingkungan. Salah satu pengolahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan constructed wetland sistem free surface flow dengan tanaman Nymphaea alba. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui besarnya penurunan kandungan BOD, TSS, dan nitrat menggunakan Nymphaea alba dengan waktu kontak 0,4,8,12, dan 16 hari, serta apakah sudah memenuhi baku mutu berdasarkan Perda Jateng No.5/2012 dan PP No.82/2001. Hasil penelitian menunjukkan kandungan BOD, TSS, dan nitrat pada hari ke 0,4,8,12, dan 16 secara berturut-turut yaitu 1060,7 mg/L, 56,9 mg/L (94,63%), 12,7 mg/L (98,80%), 5,1 mg/L (99,52%), dan 2,9 mg/L (99,70%); 322,2 mg/L, 232,6 mg/L (27,81%), 179,3 mg/L (44,36%), 196,1 mg/L (39,13%), 109,7 mg/L (65,96%); 14,7 mg/L, 10,9 mg/L (25,26%), 10,5 mg/L (28,18%), 8,4 mg/L (42,82%), 5,7 mg/L (60,93%). Dengan demikian kandungan BOD dan nitrat sudah memenuhi baku mutu sedangkan TSS masih diatas baku mutu yang ditetapkan. | Tofu’s industries generates waste, both solid waste and wastewater. Wastewater is usually released directly into water bodies without further processing. Wastewater usually contains high level of BOD, TSS, and nitrate. Thus discharging into water bodies will reduce the carrying capacity of the environment. One of the mitigation measure can be done is by using a constructed wetland system e.g. using a technique namely, free surface flow Nymphaea alba plants. The purpose of this research is to determine the extens of reduction in BOD, TSS, and nitrate using N. alba with different contact time i.e. 0,4,8,12, and 16 days. In a comparison of the result an environment threshold value based on Perda Jateng No.5/2012 and PP No.82/2001. The results indicated that BOD, TSS, and nitrate on days 0,4,8,12, and 16, were 1060,7 mg/L, 56,9 mg/L (94,63%), 12, 7 mg/L (98,80%), 5,1 mg/L (99,52%), and 2,9 mg/L (99,70%); 322,2 mg/L, 232,6 mg/L (27,81%), 179,3 mg/L (44,36%), 196,1 mg/L (39,13%), 109,7 mg/L (65,96%); 14,7 mg/L, 10,9 mg/L (25,26%), 10,5 mg/L (28,18%), 8,4 mg/L (42,82%), 5,7 mg/L (60,93%). Respectively through the comparison of BOD and nitrates has met quality standards while still above the TSS quality standards established. | |
| 10094 | 9888 | A1L010138 | Kekerabatan Padi-Padi Toleran Salin berdasarkan Mikrosatelit DNA | Karakterisasi varietas padi toleran salin sangat penting untuk memudahkan seleksi dalam program pemuliaan padi. Marka molekuler tidak terpengaruh oleh faktor lingkungan sehingga efektif untuk menyeleksi true-genotype. Di antara marka-marka molekuler yang ada, mikrosatelit DNA atau sering disebut simple sequence repeat (SSR) merupakan marka yang banyak digunakan dalam program MAS. Mikrosatelit adalah sekuen DNA dengan motif urutan basa yang sederhana dan berulang. Marka molekuler telah digunakan dalam program Molecular Assisted Selection (MAS) karena kelebihannya dibanding marka fisiologis dan atau agronomis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) mengidentifikasi mikrosatelit DNA yang polimorfik pada genotip padi yang diuji; dan 2) mengetahui kekerabatan antar genotip padi toleran salin yang diuji. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan dari Maret 2014 hingga Agustus 2014. Penelitian ini menggunakan delapan primer (forward dan reverse) mikrosatelit dan 22 genotip padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima dari delapan primer yang diuji (RM224, RM225, RM342, RM426 dan RM 528) menghasilkan pola pita DNA yang polimorfik pada populasi yang diuji dengan nilai rata-rata PIC (Polimorphic Information Content) 0,43. Analisis filogenetik berdasarkan lima marka yang polimorfik menunjukkan bahwa genotip-genotip yang diuji terbagi menjadi 14 kluster. | Characterization of saline tolerant rice varieties is important to facilitate effective selection in rice breeding program. Molecular marker is not influenced by environmental factor such that it is effective to select true-genotype. Among the known molecular markers, microsatellite DNA or simple sequence repeat (SSR) is widely used in MAS program. Microsatellite is a simple sequence of DNA with a repetitive motive. Molecular markers have been used in Molecular Assisted Selection (MAS) programs because of its advantages compared with physiological and or agronomic markers. The objectives of this research were to: 1) identify polymorphic microsatellite DNA on tested saline tolerant rice genotypes; and 2) determine the phylogenetic relationship of the tested saline tolerant rice genotypes. This research was conducted in Laboratory of Plant Breeding and Biotechnology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto started from March to August 2014. In this study, eight microsatellites primers (forward and reverse) were used to amplify microsatellites of DNA templates of 22 rice genotypes. The results showed that five out of eight primers (RM224, RM225, RM342, RM426 and RM528) generated polymorphic DNA banding pattern on the tested genotypes with an average value of PIC (Polimorphic Information Content) of 0.43. The phylogenetic analysis showed that the tested genotypes may be grouped into 14 clusters. | |
| 10095 | 9885 | A1H010037 | Pengaruh Warna Kemasan Dalam Mempertahankan Warna Hijau Pada Buah Jeruk Siam (Citrus nobilis Lour var. microcarpa Hassk) Selama Penyimpanan | Warna kemasan pada umumnya digunakan untuk meningkatkan daya tarik konsumen. Setiap warna bahan pengemas memantulkan warna cahaya yang bebeda, setiap warna cahaya memiliki panjang gelombang yang berbeda. Semakin panjang gelombangnya maka energi yang diserap atau dikandungnya akan semakin kecil, sehingga penggunaan warna kemasan diduga akan mempengaruhi perubahan warna buah akibat energi cahaya yang diserap, sesuai dengan panjang gelombang dari warna kemasan. Jeruk siam (citrus nobilis Lour var. microcarpa Hassk) merupakan salah satu jenis buah yang ketersediaanya hampir ada sepanjang tahun pengembangan teknologi dalam budidaya jeruk dan penanganan-penanganan panen dan pasca panen terus dikembangkan, jeruk yang telah dipanen akan mengalami proses hidup meliputi perubahan fisiologis, enzimatis dan kimiawi. Proses tersebut menyebabkan perubahan kandungan dalam jeruk dengan ditandainya perubahan warna tekstur rasa dan bau. Warna merupakan salah satu parameter mutu buah paling penting bagi konsumen untuk itu warna hijau pada buah jeruk siam perlu dipertahankan salah satunya dengan cara pengemasan. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi penurunan mutu jeruk siam (khususnya ketahanan warna buah) dengan cara pembungkusan/ pembrongsongan jeruk siam menggunakan kemasan/ kertas berwarna (kertas wajik). Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui jenis kemasan untuk mempertahankan warna hijau pada buah jeruk siam, 2) mengetahui jenis perlakuan yang tepat untuk mempertahankan mutu jeruk siam meliputi warna, gaya tekan dan kadar brix. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Data kemudian dianalisis secara grafis. Jeruk siam dikemas menggunakan berbagai perlakuan yaitu tanpa kemasan (P0), kemasan merah satu lapis (P1), kemasan merah dua lapis (P2), kemasan hijau satu lapis (P3), dan kemasan hijau dua lapis (P4). Variabel mutu yang diamati yaitu warna (Lab), gaya tekan dan kadar brix, yang diamati 2 hari sekali selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan jenis kemasan P3 dan P4 adalah jenis kemasan yang bisa mempertahankan mutu jeruk saiam. Untuk nilai a(+) dan a(-) dapat dipertahankan dengan baik oleh kemasan P3 sedangkan nilai L, b(+), gaya tekan dan kadar brix dapat dipertahankan dengan baik oleh kemasan P4. | Color packs are generally used to attrack consuments. Each color of packaging materials reflect light of different colors, each color of light has a different wavelength. The longer of wavelength, the energy absorbed or contains will be smaller. So the use of the color of packaging are expected to affect fruit color changes due to the absorbed light energy, as the wavelength of the color of packaging. Citrus (citrus nobilis Lour var. Microcarpa Hassk) is a type of fruit that almost throughout the year, the development of technology in the cultivation of citrus handlingband harvesting and in theaftermath of the harvest continues to be developed, which has been harvested oranges will experience life include changes in physiological processes, enzymatic and chemical. The process causes change in the content of citrus marked a change in color, texture taste and smell. Color is one of the most important fruit quality parameters for the consumers to the green color of the citrus fruit needs to be maintained one way packaging. This study was conducted to reduce the decline in the quality of citrus (particularly resilient fruit color) by wrapping/packing ripe material citrus/colored paper (wajik paper). This study aimed to 1) determine the type of packaging to retain the green color of the citrus fruit, 2) determine the type of treatment that is appropriate to maintain the quality of citrus include color, press style and brix levels. The study was conducted using a completely randomized design. Data was analyzed graphically. Citrus packed using various treatments without packaging (P0), the red packaging layer (P1), a red two-layer packaging (P2), a layer of green packaging (P3), and green packaging two layers (P4). The variable quality of the observed color (Lab), compression force and brix levels, was observed 2 days for 10 days. The results showed, P3 and P4 packaging are the type of packaging that can maintain the quality of citrus. To value a (+) and a (-) can be maintained well by packing P3 while the value of L, b (+), compression force and brix levels can be maintained well by packing P4. | |
| 10096 | 9889 | H1G010006 | POTENSI LESTARI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) YANG DIDARATKAN DI TPI SUKAJAYA, KARAWANG JAWA BARAT | Perairan Desa Sukajaya merupakan salah satu lokasi daerah penangkapan rajungan (Portunus pelagicus) di Kabupaten Karawang dengan hasil tangkapan utama adalah rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lestari dan laju eksploitasi rajungan di Perairan Desa Sukajaya. Penelitian dilakukan selama 2 bulan yaitu pada bulan Juli dan bulan Agustus 2014. Data yang diambil menggunakan metode survei dengan cara pengambilan data menggunakan metode simple random sampling dan mengukur panjang karapas dan berat rajungan. Analisis parameter pertumbuhan (L∞ dan K) dilakukan dengan menggunakan metode ELEFAN I, hubungan panjang dan berat dengan regresi linear, mortalitas dengan metode Pauly dan laju eksploitasi serta analisis Yield per Rekrut dengan metode Beverton & Holt. Rajungan yang tertangkap didominasi rajungan jantan dengan panjang minimum 4 cm dan panjang maksimum 9 cm. Koefisien pertumbuhan (K) rajungan jantan sebesar 1,40 per tahun dan rajungan betina sebesar 1,50 per tahun, panjang asimptotik (L∞) sebesar 9,56 cm baik rajungan jantan ataupun rajungan betina. Pola pertumbuhan rajungan adalah allometrik negatif. Nilai laju eksploitasi sebesar 0,5345 untuk rajungan jantan dan 0,5487 untuk rajungan betina. Hasil per rekrut relatif (Y/R) dan Biomassa per rekrut relatif (B/R) rajungan jantan adalah 0,088 dan 0,066 sedangkan rajungan betina adalah 0,091 dan 0,062. Eksploitasi rajungan di Perairan Desa Sukajaya sudah melampaui nilai E50 (0,353) dan mendekati nilai Emax (0,595) sehingga perlu dikendalikan agar tidak melebihi nilai Emax. | Sukajaya waters is the fishing ground of blue crab (Portunus pelagicus) in Karawang, West Java. The aims of this research were to know the sustainable yield and exploitation rate of blue crab in Sukajaya waters. This research was conducted for 2 months, from July to August 2014. Data were collected using a survey. Samples were obtained using simple random sampling. The carapace length was measured to the nearest 0,1 cm and weighted to the nearest 1 gr of blue crab. Growth parameter (L∞ dan K), length and weight relationship, mortality and exploitation rate and yield per recruit were analyzed using ELEFAN I, linear regression, Pauly method, Beverton & Holt method respectively. Blue crab samples were dominated by male with minimum length 4 cm and maximum length 9 cm. Growth coefficient (K) of male was 1,40 per year and female was 1,50 per year, both of them had asimptotic length (L∞) 9,56 cm. The growth pattern of blue crab was categorized as negative allometric. The value of exploitation rate was 0,5345 for male and 0,5487 for female. Yield per recruit (Y/R) and Biomassa per recruit (B/R) of male was 0,088 and 0,066 where as female was 0,091 and 0,062. Exploitation of blue crab in Sukajaya waters had already exceeded the value E50 (0,353) and close to the value Emax (0,595) that needs to be maintained under Emax value. | |
| 10097 | 10875 | H1D009034 | PENGARUH KEKASARAN PASIR TERHADAP SUSUT BETON NORMAL | Kerusakan pada beton bukan hanya diakibatkan karena pembebanan yang ditumpu pada beton namun dapat berasal dari beban beton itu sendiri, jika beton mengalami susut dan rangkak yang berlebih maka beton akan mengalami retak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyusutan pada beton normal dengan variasi gradasi agregat halus yaitu pasir kasar (golongan 1), pasir agak kasar (golongan 2), pasir agak halus (golongan 3), pasir halus (golongan 4). Setelah mendapatkan data dari hasil penelitian di laboratorium, penyusutan yang terjadi akan dibandingkan dengan suatu metode perhitungan yaitu metode ACI 209R-92 Pengujian terdiri dari uji material, kuat tekan beton dan uji susut. Uji kuat tekan beton dilakukan pada umur 28 hari dengan kuat tekan rencana fc’ 27 MPa dan uji susut dilakukan selama 28 hari. Untuk kuat tekan beton benda uji dibuat silinder berdiameter 15cm dan tinggi 30cm, sementara itu benda uji susut berukuran balok 7,5cm x 7,5cm x 25cm (Standar ASTM C490-04). Hasil penelitian menunjukkan persentase susut terkecil pada sampel variasi golongan 1 sebesar 0,056%, persentase terbesar pada sampel variasi golongan 3 sebesar 0,096%. Setelah dibandingkan dengan metode ACI 209R-92, pengujian susut yang dilakukan di laboratorium memiliki nilai susut yang lebih besar dibandingkan dengan perhitungan, selisih yang terjadi cukup besar, selisih paling kecil terjadi pada sampel variasi gradasi pasir golongan 1 sebesar 0,000385 mm. Selisih yang terjadi dapat disebabkan oleh proses pembuatan beton, perawatan beton, suhu ruangan yang berubah-ubah, getaran yang terjadi disekitar tempat praktikum. | Damage of concrete is not only caused by loading on concrete but can be derived from the concrete load itself. If the shringkage and creep of concrete experiencing excessive, then it would have cracked. Shringkage research that has been done is to use additional fiber or high strength concrete. The aims of this study was to determine on normal concrete with fine aggregate gradation variation are coarse sand (class 1), sand rather coarse (class 2), rather find sand (class 3), soft sand (class 4). After getting data from research in laboratory, the shringkage on concrete will be compared with a calculation method, the method from ACI 209R-92. The test consist of test material, concrete compressive strength and shringkage test. Concrete compressive strength test performed at 28 days with a plan of compressive strength f’c 27 MPa and shringkage test performed at 28 days. Concrete compressive strength test specimen were made cylinder with diameter 15 cm and a height 30 cm. While the shringkage specimen beam shaped 7,5 cm x 7,5 cm x 25 cm (ASTM standard C490-04) Results of laboratory studies showed the smallest percentage of shringkage in the sample variation class 1 as big as 0,056 %, the largest percentage sample variation in class 3 in as big as 0,096 %. After compared with ACI method 209R-92, shringkage test conducted in the laboratory have bigger shringkage value than the calculation, the smallest difference occurs in the sample of gradation variation sand class 1 as big as 0,000385 mm the differences is quite huge. Differences may occur due to the process of making concrete, concrete treatment, room temperature changing, and vibrations that occur around the laboratory. | |
| 10098 | 9890 | A1C010083 | PERANAN MODAL SOSIAL DALAM EKSISTENSI KOPERASI UNIT DESA (KUD) (STUDI KASUS PADA KUD ARIS DAN KUD BAHTERA DI KABUPATEN BANYUMAS) | Koperasi sebagai suatu sistem sosial ekonomi tidak dapat dipisahkan dari interaksi komponen yang terdapat di dalamnya. Komponen organisasi koperasi adalah hubungan antar anggota, kegiatan – kegiatan ekonomi anggota, dan perusahaan koperasi. Eksistensi koperasi tentunya dapat terwujud jika komponen – komponen tersebut saling berintegrasi. Koperasi memiliki dua karakter, yaitu sebagai organisasi perusahaan dan organisasi sosial, tetapi pada kenyataannya tidak semua koperasi mampu bertahan dengan dua karakter tersebut. Sinergitas antara modal sosial dan modal ekonomi anggota koperasi diharapkan mampu berperan dalam eksistensi sebuah koperasi. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mengidentifikasi kondisi modal sosial yang dimiliki oleh KUD ARIS dan KUD Bahtera, 2) Mengidentifikasi kondisi unsur – unsur modal sosial yang dimiliki oleh KUD ARIS dan KUD Bahtera, dan 3) Mengidentifikasi peranan modal sosial dalam eksistensi koperasi. Penelitian dilaksanakan di KUD ARIS Kecamatan Banyumas dan KUD Bahtera Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan pengambilan sampel menggunakan tabel random sampling. Data yang diperoleh adalah data primer dan sekunder dengan metode wawancara dan pencatatan. Metode analisis yang digunakan adalah Mann-Whitney U-Test untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independen dan perhitungan skoring modal sosial dengan menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kondisi modal sosial, KUD ARIS lebih baik dari KUD Bahtera. KUD ARIS memiliki keunggulan dalam partisipasi dan rasa saling mempercayai, sedangkan KUD Bahtera memiliki keunggulan dalam resiprositas dan jaringan. Kondisi modal sosial berperan terhadap eksistensi koperasi yang diukur dengan nilai kondisi ekonomi yang terdiri atas modal, keaktifan unit usaha, mitra bisnis, volume usaha, dan keuntungan usaha. Kondisi ekonomi KUD ARIS jauh lebih unggul dibandingkan KUD Bahtera. | Cooperative as social economic system can’t be separated by interaction components. Cooperative organizations components are the relation of each member, economic activity members, and cooperative company. Cooperative existence can be realize if there is integration of each components. Cooperative have two charachter, i.e as a company organization and social organization, but in fact not all are able to stand with it. Synergy between social capital and economic capital of the cooperative members are expected to play a role in cooperative existence. This research was aimed to : 1) Identify the condition of cooperative members social capital in KUD ARIS and KUD Bahtera, 2) Identify the social capital condition and element owned by KUD ARIS and KUD Bahtera, and 3) Identify the role of social capital in cooperative existence. The research was conducted in KUD ARIS Banyumas District and KUD Bahtera Baturraden District, Banyumas Regency. The method that used in this research is case study method with sample removal use random sample table. The data are primary and secondary data obtained through interview and quotation. Analytical method used Mann-Whitney U-test to test comparative hypotheses of two independent sample and scoring the social capital with Microsoft Excell. The result of this research showed that the KUD ARIS social capital condition is better than KUD Bahtera’s. KUD ARIS has special quality in participation and trust, even so KUD Bahtera has special quality in reciprocity and networking. Social capital condition have a role with cooperative existence, measure by the value of economical condition consist of capital, liveliness business unit, business partner, business volume, and business profit. KUD ARIS economical condition is far superior than KUD Bahtera . | |
| 10099 | 9891 | A1C110015 | EVALUASI KELAYAKAN FINANSIAL PERKEBUNAN TEH (Studi Kasus di PT. Pagilaran Unit Produksi Jatilawang Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah) | PT. Pagilaran Unit Produksi Jatilawang merupakan salah satu perusahaan besar milik swasta di Jawa Tengah yang mengusahakan teh secara komersial dengan tujuan utama untuk ekspor. Harga teh di pasar internasional maupun pasar domestik yang fluktuatif menyebabkan posisi keuangan perusahaan tidak tabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan, mengetahui kelayakan finansial dan sensitivitas perusahaan jika terjadi kenaikan biaya produksi, volume produksi dan harga jual teh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada PT. Pagilaran Unit Produksi Jatilawang. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan April 2014 sampai Mei 2014. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya, penerimaan dan pendapatan; analisis kelayakan finansial menggunakan perhitungan kriteria investasi (NPV, IRR, Net B/C ratio, dan Payback Period) dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) rata-rata penerimaan per hektar dalam satu tahun PT. Pagilaran Unit Produksi Jatilawang sebesar Rp7.537.580,58 dengan rata-rata biaya produksi per hektar dalam satu tahun yaitu sebesar Rp4.194.374,98 dan dihasilkan rata-rata pendapatan per hektar dalam satu tahun sebesar Rp3.434.205,61. (2) PT. Pagilaran Unit Produksi Jatilawang ditinjau dari aspek kelayakan finansial layak diusahakan dan menguntungkan (NPV > 0), IRR lebih besar dari 17 persen, Net B/C ratio lebih dari satu. PT. Pagilaran Unit Produksi Jatilawang menunjukan NPV pada tingkat suku bunga (df) 17 persen sebesar Rp4.214.884.052,00, IRR sebesar 23,44 persen, Net B/C sebesar 1,61. Terakhir (3) PT. Pagilaran Unit Produksi Jatilawang sensitif terhadap kenaikan biaya produksi sebesar 26 persen serta penurunan volume produksi dan harga jual teh sebesar 12 persen. | Pagilaran Company is one of the big Tea Plantation Companies in Central Java which is export to be a primary aim. Tea price in international and domestic market which is fluctuated caused the position of the company is not stable. This research aims to: determine the total costs, revenue and operating income; feasibility financial and sensitivity of the company if there are change of cost of production, volume of production and price of sales. This research used case study method in Jatilawang Unit Production of Pagilaran Company. Data were collected in April till May 2014. The analytical method was used to (NPV, IRR, Net B/C ratio, and Payback Period) and sensitivity analysis. The results showed that: (1) the average income per hectare Unit Production of Pagilaran Jatilawang company from 1993 to 2013 of Rp7,537,580.58 with the average total cost incurred per hectare Rp4,194,374.98 and the result average of total revenues per hectar Rp3,434,205,61. (2) The Unit Production of Pagilaran Jatilawang from the aspect of financial feasibility and profitable (NPV > 0, IRR > 17%, Net B/C ratio > 1). The Unit Production of Pagilaran Jatilawang shows NPV on interest rates (df) 17 percent of Rp Rp2,464,058,788.00 IRR of 23,44 percent, Net B/C by 1.61 and PBP by 6.07 or for 6 years 8 months 12 days. Finally, Unit Production of Pagilaran Jatilawang Company in Regency of Banjarnegara is sensitive to the increase of production costs 26 percent, decrease volume of production 12 percent and decrease of tea sales 12 percent. | |
| 10100 | 9892 | A1H010004 | UJI PERFORMANSI PENGGORENGAN MAKARONI MENGGUNAKAN TIPE SILINDER BERPUTAR HSF D50 MANUAL | Penggorengan merupakan proses pemasakan yang unik, menarik, dan banyak ragam makanan yang dimasak dengan cara tersebut, serta telah dilakukan sejak lama sampai kini. Penggoreng tipe silinder dengan media penghantar panas menggunakan pasir merupakan salah satu alternatif dalam proses penggorengan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis unjuk kerja penggoreng kerupuk tipe silinder berputar HSF D50 manual meliputi: kapasitas optimum, waktu pemanasan pasir, waktu pematangan makaroni, efisiensi termal, dan daya putar silinder. Variabel yang diamati meliputi kapasitas kerja penggoreng yang ditinjau dari profil suhu dan kapasitas optimum penggoreng, waktu yang dibutuhkan untuk memanaskan pasir, waktu yang dibutuhkan untuk pematangan makaroni, kadar air bahan dan jumlah air teruapkan. Data hasil pengukuran yang dianalisis adalah daya putar silinder dan efisiensi termal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggoreng mempunyai kapasitas optimum 16,481 kg/jam dan jumlah sekali proses penggorengan 0,35 kg/proses. Pada suhu 171 – 190°C dibutuhkan pemanasan pasir selama 960 sekon (16 menit) dan suhu 191 – 210°C dibutuhkan pemanasan pasir selama 1320 sekon (22 menit). Waktu pematangan makaroni untuk suhu 171 – 190°C dengan rata – rata waktu pematangan selama 99,67 sekon dan suhu 191 – 210°C dengan rata – rata waktu pematangan selama 81,3 sekon. Nilai efisiensi termal pada suhu yaitu suhu 171 – 190°C diperoleh 15,77% dan 191 – 210ºC diperoleh 19,0%. Daya putar silinder dengan menggunakan beban (pasir) dengan kecepatan putar 30 rpm diperoleh daya sebesar 18,463 Watt. | Frying is a cooking process that is unique, interesting, and a wide variety of food cooked in this way, and have done a long time until now. Fryer of type cylinder with a heat conducting medium using sand is one of the alternatives in the process of frying. The purpose of this research are to analyze the performance of chips fryer using type of rotating cylinder HSF D50 manual includes: optimum capacity, time of heating the sand, time of frying the macaroni, thermal efficiency, and power swivel cylinder. The observed variables include the working capacity of the fryer profile of temperature and the optimum capacity of the fryer, the time needed to heat up the sand, the time required for frying the macaroni, moisture content of materials and the amount of water are sputtered or evaporated. The measurement results are analyzed. Data is power swivel cylinder and thermal efficiency. The results showed that fryer has the optimum capacity 16,481 kg/hour and the amount once the process of frying 0.35 kg/process. At a temperature of 170 - 190°C heating of sand required during 960 seconds (16 minutes) and the temperature 190 - 210ºC heating of sand during 1320 seconds (22 minutes). The time of macaroni frying for temperatur 171 – 190ºC with an average time of frying during 99,67 seconds and temperature of 191 - 210ºC an average time of frying during 81,3 seconds. The Value of the thermal efficiency at the temperature of 171 – 190ºC obtained 15,77% and 191-210ºC obtained 19,0%. Power swivel cylinder using expenses (sand) and speed dial 30 rpm obtained power of 18,463 Watts. |