Artikelilmiahs

Menampilkan 10.001-10.020 dari 48.948 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
100019824A1C010044Kajian Finansial Usaha Industri Rumah Tangga Teh Rakyat (Studi Kasus di Desa Pagenteran dan Pulosari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang Provinsi Jawa Tengah)Relatif sedikit petani teh yang memandang usaha perkebunan teh sebagai usaha yang menguntungkan, hal ini berkaitan dengan rendahnya kualitas pasar yang dimiliki petani teh. Selain itu, perkembangan industri teh tidak lepas dari keadaan sosial ekonomi petani teh yang masih kurang memadai. Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang Provinsi Jawa Tengah terdapat industri rumah tangga teh rakyat yang masih aktif, paling banyak di Desa Pagenteran dan Pulosari. Banyaknya industri rumah tangga teh rakyat yang ada di Desa Pagenteran dan Pulosari, menyebabkan para pengolah teh harus bersaing dalam menawarkan produk teh yang disukai oleh konsumen. Tujuan penelitian adalah: untuk mengetahui atribut mana yang menjadi pertimbangan utama konsumen dalam mengonsumsi teh rakyat berdasarkan persepsinya; dan untuk mengetahui keuntungan secara finansial industri rumah tangga teh rakyat di Desa Pagenteran dan Pulosari. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 28 Maret sampai 2 Mei 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus terhadap industri rumah tangga teh rakyat di Desa Pagenteran dan Pulosari, dengan rancangan pengambilan sampel yaitu sensus kepada 39 produsen teh serta judgment sampling kepada 25 konsumen teh. Metode analisis yang digunakan adalah: analisis deskriptif; analisis biaya, analisis penerimaan dan pendapatan; dan analisis R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan persepsi konsumen terhadap atribut teh rakyat, yang menjadi pilihan atau pertimbangan utama konsumen dalam mengonsumsi teh rakyat yaitu dari segi harga. Harga rata-rata teh rakyat di Kecamatan Pulosari Rp17.461,54 per kg, dinilai sangat terjangkau bagi para konsumen, namun secara finansial belum memberikan keuntungan bagi para pengolah. Kenyataan inilah yang menjadi perhatian industri rumah tangga teh rakyat teh di Desa Pagenteran dan Pulosari ketika menetapkan harga. Hasil kajian finansial menunjukkan bahwa usaha industri rumah tangga teh rakyat teh di Desa Pagenteran dan Pulosari tidak efisien. Hal ini dikarenakan pendapatan yang diperoleh negatif serta nilai R/C ratio yang diperoleh kurang dari 1.
Relatively few tea farmers who think the tea plantation business as a profitable business, it is due to the low quality of the market owned by tea farmers. In addition, the development of the tea industry can not be separated from the socio-economic situation of tea farmers who still inadequate. Pulosari District Pemalang Regency Central Java Province has home industry of “teh rakyat” which still active, most in the Pagenteran and Pulosari village. So many home industry of “teh rakyat” in the Pagenteran and Pulosari village, causing the tea producer must compete in offering tea products favored by consumers. This research was aimed to: know attributes which becomes consideration main consumers in people consuming tea based on perception and know the profit financially home industry of “teh rakyat” in Pagenteran and Pulosari village. Data obtaining was conducted on March 28th until May 2nd 2014. Research method is case study of home industry of “teh rakyat” in Pagenteran and Pulosari Village, while sampling which used is census to 39 tea producer, and judgment sampling to 25 tea consumer. Research analysis method is: descriptive analysis; cost analysis, revenue and income analysis; and R/C ratio analysis. Research results showed that consumers perceptions of the attributes of “teh rakyat , that becomes the main consideration or choice of the consumer in consumed the “teh rakyat” that is price. Price of the “teh rakyat” in the Pulosari district is Rp17.461,54 per kg, considered to be very affordable for consumers, but have not provide benefits financially for producer. This fact becomes concern for domestic home industry of the “teh rakyat” in the Pagenteran and Pulosari village when setting price. Financial results of the research showed that home industry of the “teh rakyat” in the Pulosari and Pagenteran village is inefficient. It because the obtained income is negative and the value of R/C is less than 1.
100029826A1C009075Pemanfaatan Lahan Marjinal dengan Ushatani Kacang Tanah di Kecamatan Kalibagor Kabupaten BanyumasLahan pertanian dibedakan menjadi lahan produktif dan lahan kurang produktif atau lahan marginal. Lahan marginal dijumpai baik pada lahan basah maupun lahan kering. Lahan kering merupakan lingkungan tumbuh utama kacang tanah. Kacang tanah merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang potensial untuk dikembangkan karena mempunyai banyak manfaat bagi manusia. Kecamatan Kalibagor mempunyai potensi yang cukup baik untuk pengembangan kacang tanah karena keadaan iklim dan tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kacang tanah dan sebagian besar areal lahan di Kalibagor merupakan lahan kering yang belum dimanfaatkan secara optimal khususnya di Desa Suro dan Srowot. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui biaya, penerimaan, pendapatan dan mengetahui efisiensi serta menganalisis pengaruh faktor produksi seperti luas lahan, benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja terhadap hasil produksi kacang tanah lahan marjinal di Kecamatan Kalibagor.
Metode Penelitian yang digunakan adalah survei. Rancangan pengambilan sampel menggunakan metode Simple Random Sampling, pengambilan data dilaksanakan mulai tanggal 3 Mei sampai 31 Mei 2014, pada petani kacang tanah lahan marjinal Desa Suro dan Srowot Kecamatan Kalibagor. Jumlah petani yang menjadi responden dalam penelitian sebanyak 28 orang. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, pendapatan, R/C, dan fungsi produksi Cobb-Douglas
Berdasarkan perhitungan penerimaan rata-rata per hektar petani kacang tanah di Kecamatan Kalibagor adalah Rp10.572.083,70 dan biaya produksi rata-rata per hektar sebesar Rp4.625.668,27, sehingga keuntungan atau pendapatan yang diterima adalah Rp5.946.415,39. Usahatani kacang tanah lahan marjinal di Kecamatan Kalibagor sudah efisien karena R/C lebih besar dari 1 yaitu 2,2. Faktor produksi yang berpengaruh pada usahatani kacang tanah lahan marjinal di Kecamatan Kalibagor adalah luas lahan dan pupuk urea, sedangkan faktor produksi pupuk kandang, pupuk SP-36, pupuk ponska, benih, pestisida, dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap usahatani kacang tanah lahan marjinal.
Agricultural land is differentiated into productive land and the less-land productive or marginal land. Marginal land is found both in wetlands and dry land. Dry land is a major peanut growing environment. Peanut is one of the food crops that are potential to be developed because it has many benefits for human. Sub-district Kalibagor has good potential for the development of peanut because the climate and soil suitable for growing peanuts and most of the land area Kalibagor is a dry land that has not been used optimally, especially in the village of Suro and Srowot. The purpose of the study is to determine the costs, revenues, income and determine the efficiency as well as to analyze the influence of factors of production such as land, seed, fertilizer, pesticides and labor to the production of peanut in Kalibagor’s marginal land.
The research method that used in this research was a survey. The design of sampling used simple random sampling method, data collection was conducted from May 3 until May 31, 2014, on marginal lands peanut farmers in Suro and Srowot village. The number of farmers who were become respondents in the study were 28 people. Data were analyzed using analysis of costs, revenues, R / C, and the Cobb-Douglas production function.
Based on the calculation of the average revenues per hectare of peanut farmers in Kalibagor is Rp10.572.083,70 and the average cost of production per hectare of Rp4.625.668,27, so that gain or income received is Rp5.946.415,39. Peanut farming of marginal lands in the Kalibagor already efficient as the R / C is greater than 1 is 2.2. Factors that influence the production of peanut farming of marginal lands in Kalibagor are the large of land and urea, while the factors of production of manure, fertilizer SP-36, ponska’s fertilizers, seeds, pesticides, and labor did not significantly affect peanut farming marginal land.
100036423E1A006218REKOMENDASI OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA
(STUDI KASUS PENERBITAN PERATURAN REKTOR NOMOR 408/P/SK/HT/2010 TENTANG PEMBERLAKUAN KARTU IDENTITAS KENDARAAN BERMOTOR (KIK) DI KAWASAN KAMPUS UGM)
Penelitian ini mengambil judul " Rekomendasi Ombudsman Republik Indonesia (Studi Kasus Penerbitan Peraturan Rektor Nomor 408/P/SK/HT/2010 Tentang Pemberlakuan Kartu Identitas Kendaraan Bermotor (KIK) di Kawasan Kampus UGM)”. Tujuan penelitian untuk mengetahui Rekomendasi Ombusman Republik Indonesia Terhadap Penerbitan Peraturan Rektor Nomor 408/P/SK/HT/2010 Tentang Pemberlakuan Kartu Identitas Kendaraan Bermotor (KIK) Di Kawasan Kampus Universitas Gajah Mada.
Metode pendekatan yang dipakai adalah yuridis normatif atau legal research. Konsep ini mengungkapkan, bahwa hukum identik dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat negara yang berwenang. Konsep ini, hukum melihat sebagai sistem normatif yang bersifat otonom, tertutup dan terlepas dari kehidupan masyarakat. Spesifikasi Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan objek yang akan diteliti untuk kemudian dianalisis berdasarkan teori-teori hukum dan praktik pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan tanpa maksud untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan yang berlaku umum.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa, Penerbitan Peraturan Rektor Nomor 408/P/SK/HT/2010 tentang Pemberlakuan Kartu Identitas Kendaraan Bermotor (KIK) di Kawasan Kampus UGM merupakan tindakan maladministrasi dan melanggar Pasal 23 A UUD 1945. Pihak UGM juga menyalahi peraturan mengenai badan pendidikan karena sejak Maret 2010 hingga Desember 2012, UGM berada pada masa transisi perubahan sistem badan hukum, dari Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN) menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka ORI telah memberikan surat rekomendasi kepada UGM berisi empat hal pokok yaitu agar pihak UGM :
1) Menata ulang sistem dan mekanisme pengendalian aksesibilitas publik untuk masuk-keluar lingkungan Universitas Gadjah Mada dengan basis pendekatan kendali pada orang, bukan kendaraan bermotor.
2) Menyiapkan sarana prasarana pendukung dan penyangga secara simultan bertahap seperti sepeda, kendaraan bermotor non emisi secara gratis areal parkir di luar lokasi kampus, sarana kebersihan.
3) Menghentikan pungutan disinsentif dan menggantinya dengan mekanisme identitas tunggal untuk civitas akademika, dan kartu identitas khusus untuk masyarakat umum yang akan masuk ke lingkungan Universitas Gadjah Mada.
4) Menyetorkan ke dalam Rekening Kas Negara Bendahara Umum Negara c.q Menteri Keuangan RI seluruh dana disinsentif yang selama ini dikumpulkan melalui pemberlakuan KIK, hal ini sesuai dengan Pasal 58 F angka (6) Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
This study took the title " Ombudsman of the Republic of Indonesia Recommendation (Case Study Rector Publishing Rule Number 408/P/SK/HT/2010 About Enforcement of Motor Vehicle Identity Card (CIC) at Gajah Mada University Area) ". Objective study to determine Ombusman Recommendations Against the Republic of Indonesia Rector Publishing Rule Number 408/P/SK/HT/2010 About Enforcement of Motor Vehicle Identity Card (CIC) at Gadjah Mada University Campus area .
Methods used approach is normative or legal research . This concept reveals, that the law is identical to the written norms are created and promulgated by agencies or officials of the state. This concept , see the law as a normative system of autonomous , closed and regardless of people's lives . Specifications research is descriptive analytical research that describes the state of the object to be examined and then analyzed based on legal theories and practices relating to the implementation of positive law issues without intent to draw conclusions that are commonly used.
Based on the results of research and discussion , it can be concluded that , Rector Publishing Rule 408/P/SK/HT/2010 Number of Motor Vehicle Enforcement of Identity Card (CIC) in the area of UGM is an act of maladministration and breach of Article 23 A of the 1945 Constitution. UGM also violates regulations because the education agency since March 2010 until December 2012, UGM is in transition system changes to legal entities, of Higher Education State Owned Legal Entity into the Public Service Agenc. In connection with the foregoing, the ORI has provided a letter of recommendation to the UGM contains four main points, namely that the UGM :
1. Resetting the system and controlling mechanisms for public accessibility of entry exit environment Gadjah Mada University on the basis of the control approach in people, not vehicles.
2. Setting up the supporting infrastructure and simultaneously buffer stages such as bicycles, motor vehicle emission free non parking area outside the campus location , facility cleanliness.
3. Stop the disincentive levy and replace it with a single identity mechanism for the academic community, and special identity cards to the general public will go to the University of Gadjah Mada .
4. Deposit into the State Treasury State Treasurer represented by the Minister of Finance during the entire funding disincentives KIK is collected through enforcement, this is in accordance with Article 58 of the F number (6) Government Regulation no. 66 Year 2010 on Amendment to Government Regulation No. 17 of 2010 Concerning the Management and Operation of Education .
100049828A1L010125Uji Kemempanan Isolat Trichoderma sp. Terhadap Nematoda Puru Akar TomatPenelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh empat isolat jamur Trichoderma sp.dan kombinasinya dalam menekan tingkat kerusakan akar pada tanaman tomat, 2) mengetahui pengaruh aplikasi empat isolat jamur Trichoderma sp. dan kombinasinya terhadap populasi nematoda puru akar tanaman tomat, dan 3) mengetahui pengaruh aplikasi empat isolat jamur Trichoderma sp. dan kombinasinya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat, 4) mengetahui pengaruh aplikasi empat isolat jamur Trichoderma sp. dan kombinasinya terhadap kandungan senyawa fenol (saponin, tanin, dan glikosida). Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juni 2014 di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 16 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas aplikasi Trichoderma sp. isolat jahe, Trichoderma sp. isolat nanas, Trichoderma sp. isolat pisang, Trichoderma sp. isolat bawang merah, dan kombinasinya serta nematisida dan kontrol. Variabel yang diamati adalah tingkat kerusakan akar, populasi nematoda, dan kepadatan akhir Trichoderma sp., tinggi tanaman, bobot segar tanaman, bobot segar akar, bobot kering tanaman, bobot kering akar, jumlah buah per tanaman, dan bobot buah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi isolat Trichoderma sp. belum mampu menekan populasi nematoda serta meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Akan tetapi, aplikasi isolat Trichoderma sp. dapat menekan tingkat kerusakan akar dan meningkatkan kandungan senyawa glikosida.The aims of this research were to: 1) know the effect of four isolates Trichoderma sp. and its combination in reducing level of root damage, 2) know the effect of four isolates Trichoderma sp. and its combination in reducing root knot nematode populations, 3) know the effect of four isolates Trichoderma sp. and its combination on the growth and yield of tomato, and 4) know the effect of four isolates Trichoderma sp. and its combination on content of phenolic compound (saponin, tannin, and glicoside). The research was conducted from March to June 2014 in Plant Protection Laboratory and eksperimental field belongs to Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman Purwokerto. Variables observed were level of root damage, nematode population, plant height, plant fresh weight, root fresh weight, plant dry weight, root dry weight, number of fruit, and fruit weight. This research used Randomized Complete Block Design (RCBD) with 16 treatments and 4 replications. The treatments consist of aplication of Trichoderma sp. ginger isolate, Trichoderma sp. pineapple isolate, Trichoderma sp. banana isolate, Trichoderma sp. shallot isolate and its combinations within nematicide and control. The results showed that application of Trichoderma sp. isolates was not able to reduce root knot nematode populations and improved growth and yield of tomato. However, application of Trichoderma sp. isolates could reduce the level of root damage and increase glicoside content.
1000510857H1B010006HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN TOTAL SISI AJAIB GRAF FIRECRACKER Fm,k

Misal diberikan sebuah graf G dengan himpunan titik V(G) dan himpunan sisi E(G). Sebuah himpunan kritis pada pelabelan total sisi ajaib graf G merupakan subhimpunan label sedemikian sehingga subhimpunan tersebut membangun pelabelan total sisi ajaib λ(G) secara tunggal. Jika himpunan kritis memiliki r elemen maka dikatakan bahwa himpunan kritis berukuran-r. Himpunan kritis yang memiliki jumlah elemen tersedikit disebut himpunan kritis minimal. Penelitian ini membahas tentang himpunan kritis pada pelabelan total sisi ajaib graf Firecracker Fm,k dengan k menyatakan banyaknya titik pada graf bintang dan m menyatakan banyaknya graf bintang. Himpunan kritis minimal dicari dari graf Firecracker Fm,k dengan m = 2 dan k =3, 4, 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa himpunan kritis minimal pada graf F2,3 berukuran 2, himpunan kritis minimal pada graf F2,4 berukuran 4, himpunan kritis minimal pada graf F2,5 berukuran 6, dan himpunan kritis minimal pada graf Fm,k berukuran m(k - 2).Suppose given a G graph with a set of vertex is V(G) and a set of edge is E(G). A critical set in edge magic total labelling of G graph is a subset such that it can forms the edge magic total labeling λ(G) uniquely. If the set has r elements it is said that the critical set sized-r. Critical set which the fewest number of elements is called the minimal critical set. This research discusses about critical set in edge magic total labelling on Firecracker Fm,k graph where k states many star graph and m denote the number of star graphs. Minimal critical set searched of the Firecracker Fm,k graph with m =2 and k = 3, 4, 5. The result showed that the minimal critical set of F2,3 graph sized-2, minimal critical set of F2,4 graph sized-4, minimal critical set of F2,5 graph sized-6, and minimal critical set of Fm,k graph sized m(k - 2).
1000613664B1J011124PERTUMBUHAN STEK KRISAN (Chrysanthemum morifolium (L.) Ramat) PADA BERBAGAI MEDIA KULTUR IN VITROChrysanthemum (Chrysanthemum morifolium (L.) Ramat is one of ornamental plant commodities with high aesthetic value. As a consequence of increasing demand, the availability of seeds in adequate number is needed with method in vitro. This study aims to find out the effect of various in vitro culture media on the growth of chrysanthemum explants and to determine alternative media other than MS for in vitro growth of chrysanthemum explants. Experimental method arranged in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with four treatments and four blocks is applied. The treatments are Murashige and Skoog (MS), Vacint and Went (V&W), Knudson and modified media, while node position serves as block. Time of shoot emergence, shoot length, number of leaves on each shoot, and number of roots are measured. Data are analyzed using Analysis of Variance (F test) with confidence intervals of 95% and 99%. Least Significant Difference (LSD) test is applied when significant difference among variables is observed. Culture media shows significant effect on chrysanthemum explant in vitro growth. Knudson media is found as an alternative media besides MS sufficiently suitable to increase chrysanthemum explants in vitro growth.Chrysanthemum (Chrysanthemum morifolium (L.) Ramat is one of ornamental plant commodities with high aesthetic value. As a consequence of increasing demand, the availability of seeds in adequate number is needed with method in vitro. This study aims to find out the effect of various in vitro culture media on the growth of chrysanthemum explants and to determine alternative media other than MS for in vitro growth of chrysanthemum explants. Experimental method arranged in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with four treatments and four blocks is applied. The treatments are Murashige and Skoog (MS), Vacint and Went (V&W), Knudson and modified media, while node position serves as block. Time of shoot emergence, shoot length, number of leaves on each shoot, and number of roots are measured. Data are analyzed using Analysis of Variance (F test) with confidence intervals of 95% and 99%. Least Significant Difference (LSD) test is applied when significant difference among variables is observed. Culture media shows significant effect on chrysanthemum explant in vitro growth. Knudson media is found as an alternative media besides MS sufficiently suitable to increase chrysanthemum explants in vitro growth.
100079829A1L010119PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN OBAT BERKELANJUTAN DI KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk : Mengidentifikasi potensi pentingnya tanaman obat di Kecamatan Sumbang, mengetahui pola tanam dan lokasi budidaya tanaman obat yang dilakukan di Kecamatan Sumbang, dan mengetahui penerapan teknologi berkelanjutan dalam budidaya tanaman obat di Kecamatan Sumbang. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2014 di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode Survei ex-post facto, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik clustered purposive random sampling. Variabel pengamatan yang diamati yaitu aspek budidaya tanaman obat, pola pertanaman, variabel pendukung, komoditas non tanaman obat yang ditanam pada satu areal lahan, indikator efisiensi sistem pertanaman, dan kendala yang dijumpai dalam budidaya tanaman obat. Data-data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif, yaitu meliputi analisis kelayakan untuk mengetahui kondisi ekologis di daerah untuk budidaya tanaman obat. Hasil penelitian ini menunjukkan Wilayah Kecamatan Sumbang potensial untuk pengembangan tanaman obat karena iklim yang memadai. Tanaman obat dibudidayakan di lahan kering yaitu di pekarangan (NKL 0,74-2,7) dan di ladang (0,18-1,6), pola tanam tanaman obat yang dilakukan secara tumpangsari mempunyai NKL 0,74-2,7 dan sebagai tanaman sela dengan tanaman utama yaitu tanaman buahan mempunyai NKL 0,79-2,41. Penerapan teknologi budidaya tanaman obat seperti pengolahan tanah, jarak tanam, pemupukan, penyiangan, penyiraman, dan waktu panen oleh responden masih dilakukan dalam lingkup sederhana sehingga budidaya yang dilakukan sudah ada yang bersifat berkelanjutan dan belum berkelanjutan. Pola tanam berkelanjutan mempunyai nilai NKL lebih dari 1 dan yang belum berkelanjutan yaitu pola tanaman yang mempunyai nilai NKL kurang dari 1.This aims of study were to: Identify the potential importance of herbs in Sumbang Districts, know pattern, cropping pattern and location of herbs in Sumbang Districts, and determine the application of sustainable technologies in the cultivation of herbs. The study was conducted in April to May 2014 in Sumbang Districts, Banyumas. Study used ex-post facto methods, and the sampling technique used was clustered purposive random sampling technique. The aspects being observed herbs were cultivation, cropping pattern, supporting variables, non-commodity herbs grown on the land area, planting system efficiency indicators, obstacles encountered in the utility of their yards. The data were analyzed with descriptive methods. The method of analysis includes the description of the feasibility analysis to determine the ecological conditions in the area for the cultivation of herbs. The results showed Sumbang Districts is potential for development of herbs due to in adequate climatic. Herbs are cultivated in garden (LER 0,74-2,7) and in unirrigated field ( 0,18-1,6), the cropping pattern which are using intercopped have LER 0,72-2,7 and stripcrops with major crops fruit plant have LER 0,79-2,41. Application in cultivation technology of herbs such as tillage planting spacing, fertilizing, weeding, watering, and harvesting time applied were carried out within simple scope so the cultivation is sustainable and not sustainable. the sustainable croppng pattern have LER more than 1 and the unsustainable cropping pattern have LER less than 1.
100089830D1E010265TOTAL PADATAN DAN WAKTU LELEH ES KRIM YOGURT SUSU SAPI DENGAN PERSENTASE MENTEGA YANG BERBEDATujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh persentase mentega yang berbeda terhadap total padatan dan waktu leleh es krim yogurt susu sapi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah skim, stater yogurt, susu sapi, gula pasir, carboxymethyl cellulose, mentega, kuning telur, dan aquades. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu T1: penggunaan mentega 10%, T2¬: penggunaan mentega 12%, T3: penggunaan mentega 14% dan T4: penggunaan mentega 16%; dengan setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji orthogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mentega dengan persentase yang berbeda pada eskrim yogurt susu sapi berpengaruh sangat nyata terhadap total padatan es krim (P<0,01) dengan persamaan Y= 9,31 + 2,4425 X dan r = 0,81. Penggunaan mentega dengan persentase yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap waktu leleh es krim (P<0,01) dengan persamaan Y= 47,29 + 0,8041 X dan r = 0,93. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin tinggi persentase mentega sampai dengan 16% pada es krim yogurt susu sapi, maka total padatan semakin tinggi dan waktu leleh es krim akan semakin lama.The purpose of research was to knows the influence of butter with different percentages to the total solid and the melting time of cow’s milk. The experiment was conductedat the Laboratory of Animal Products Technology Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The materials used in study were skim milk, yogurt starter, cow’s milk, sugar, carboxymethyl cellulose, butter, egg yolks, and distilled water. The research design used was completely randomized design (CRD) with 4 treatments ie T1: the use of butter 10%, T2: the use of butter 12%, T3: the use of butter 14%, and T4: the use of butter 16%; with each treatment was repeated 5 times. The data were analyzed by using analysis of variance and continued with orthogonal polynomial test. The results showed that the use of different percentages of butter in cow's milk yogurt ice cream very significantly affected the total solid of ice cream (P <0.01) with an equation Y = 9.31 + 2.4425 X and r = 0.81. The use of different percentages of butter very significantly affected the melting rate of ice cream (P <0.01) with an equation Y = 47.29 + 0.8041 X and r = 0.93. The conclusion of this research is, about 16%, the higher use of butter in cow's milk yogurt ice cream. The total solid will be higher and the melting time of ice cream will be longer.
100099831F1A010060Peran Orang Tua Dalam Pernikahan Dini Di Desa Pesodongan Kecamatan Kaliwiro Kabupaten WonosoboPernikahan dini merupakan sebuah perkawinan di bawah umur yang target persiapannya belum dikatakan maksimal, baik secara fisik, mental dan materi (Dlori, M. 2005: 5). Usia yang masih muda serta fisik dan mental yang belum matang mengharuskan orang tua berperan dalam pernikahan dini, karena mengingat banyaknya hal yang akan ditimbulkan akibat menikah pada usia muda. Penelitian ini mengambil lokasi penelitian di Desa Pesodongan Kecamatan Kaliwiro Kabupaten Wonosobo dengan menjadikan informan utama pada penelitian ini adalah orang tua dari pasangan yang menikah pada usia muda, sedangkan informan pendukungnya adalah pasangan nikah dini dan tokoh masyarakat di Desa Pesodongan. Cara menentukan sasaran penelitian menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan teknik pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam (indepth interview), dokumentasi dan observasi. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif dan menggunakan Analisis Interaktif untuk analisis data, dengan langkah : pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk memeriksa kevalidan data yang diperoleh dalam penelitian ini, peneliti memilih menggunakan triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa orang tua menikahkan anak perempuannya pada usia muda karena beberapa hal, pertama yaitu rendahnya pendidikan pelaku nikah muda dan orang tua pelaku nikah muda, kedua mengurangi beban hidup, ketiga yaitu karena anak tersebut sudah terlanjur hamil pada saat pacaran akibat pergaulan yang begitu bebas, keempat adalah perjodohan, kelima adalah cap perawan tua. Peran orang tua dalam kehidupan rumah tangga anaknya adalah mempersiapkan membiayai kehidupan sehari-hari anaknya, memberikan tumpangan tempat tinggal, pengasuhan penuh terhadap cucu. Orang tua harus bisa memahami dan belajar mengenai akibat pernikahan dini, untuk remaja yang belum menikah supaya bisa memberikan pengertian kepada orang tua, bagi pihak desa untuk mengeluarkan surat keterangan untuk mereka yang menikah siri, bagi pemerintah untuk merevisi UU 1/1974 menganai usia perkawinan perempuan.


Early marriage is a marriage under age that target preparation has not yet maximal, both physical, mental and material (Dlori, M. 2005: 5). A young age and the physical and mental immature requires parents role in premature marriage, because it is given the number of things that will be brought about as a result of being married at a young age. This study takes the research location in the village of Pesodongan sub-district of Kaliwiro Wonosobo Regency by making the main informant in this research are the parents of the couple are married at a young age, while the informant was an early proponent of marriage partners and community leaders in the village of Pesodongan. Target determination of research uses purposive sampling technique, while the data collection uses in-depth interviews (indepth interview), documentation and observation. Methods of qualitative research is descriptive and use Interactive Analysis for data analysis, with steps: data collection, data presentation, data reduction, and withdrawal of the conclusion. To check the data validation obtained in this study, the researcher chose to use triangulation source. The results of these studies mention that parents married off his daughter at a young age because of a few things, first that the low education of the children and the parents, second, reduce the burden of living, third, because they already pregnant at the time of going out due to the free sex, , the fourth is an arranged marriage,the five is cap spinster. The role of parents in the life of their childres’s household is fund their daily life, housing, and parenting full of grandchildren. Parents should be able to understand and learn about the consequences of early marriage, unmarried teens in order to give understanding to parents, on behalf of the village to issue a certificate for those who uncertified married, for the Government to revise the ACT 1/1974 marriage age of women.
100109780A1C010034EFISIENSI USAHATANI BAWANG DAUN DI DESA BATURSARI KECAMATAN PULOSARI KABUPATEN PEMALANGBawang daun merupakan salah satu jenis sayuran daun yang biasa digunakan untuk sayuran ataupun bumbu penyedap masakan serta pengobatan (terapi) suatu penyakit. Berbagai manfaat yang dimiliki bawang daun menyebabkan permintaan bawang daun dalam masyarakat kita terus meningkat. Desa Batursari Kecamatan Pulosari merupakan salah satu sentra produksi bawang daun di Kabupaten Pemalang Indonesia karena kondisinya yang sangat cocok untuk budidaya bawang daun. Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi usahatani bawang daun. (2) Menganalisis tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomis pada usahatani bawang daun. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-April 2014 di desa Batursari Kecamatan Pulosari Pemalang. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Lokasi penelitian di pilih secara purposive dengan pertimbangan Desa Batursari merupakan sentra bawang daun di kecamatan Pulosari. Metode pengambilan sempel pada penelitian ini menggunakan simple random sampling dan diperoleh sebanyak 48 responden. Data penelitian berupa data primer dan data sekunder diperoleh melalui wawancara, kuisioner, dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan model fungsi produksi frontier stokastik (stochastic frontier production function) dengan bentuk fungsional Cobb-Douglass yang ditransformasikan ke dalam bentuk linear logaritma natural, pendekatan rasio NPM/BKM, serta analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan (1) Faktor-faktor produksi yang berpengaruh secara signifikan terhadap produksi usahatani bawang daun di desa Batursari adalah bibit, pupuk organik, dan pestisida. Sedangkan variabel lain yaitu pupuk anorganik dan tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap produksi usahatani. (2) Rata-rata efisiensi teknis dan alokatif usahatani bawang daun di Desa Batursari adalah 0,7946 dan 3,4031. Hal ini berarti usahatani bawang daun di Desa Batursari belum efisien secara ekonomis.Scallion is one of the type of leaf vegetable commonly used for vegetables or food seasonings and treatment (therapy) a disease. Various benefits owned scallion cause the demand of scallion continues to rise in our society. Batursari Village District of Pulosari is one of scallion production centers in Pemalang Indonesia because of the condition is suitable for the cultivation of Scallion. This study aims (1) to analyze the factors that influence the production of scallion farm. (2) to analyze the level of technical, allocative, and economical efficiency of scallion farm. This study was conducted in March-April 2014 in the Batursari village District of the Pulosari Pemalang. This research was conducted by survey method. Location of the study purposively selected with consideration Batursari village is a scallion center in the Pulosari district. Sample retrieval methode in this study using simple random sampling and obtained 48 respondents. The research data in the form of primary data and secondary data obtained through interviews, questionnaires, and literature. Data were analyzed using stokastik frontier production model with Cobb-Douglass functional form that transformed into a natural logarithm linear form, NPM / BKM ratio approaches, and descriptif analysis The results showed (1) the factors of production that significantly affect farm production of scallion in Batursari are seeds, organic fertilizers, and pesticides. While other variables that inorganic fertilizers and labor has no effect on farm production. (2) Average technical efficiency and allocative of scallion farms are 0.7946 and 3.4031. This means scallion farm in Batursari economically have not been efficient yet.
100119832A1C010052PREFERENSI KONSUMEN DALAM MEMILIH MANISAN CARICA PODANG MAS DI KECAMATAN MOJOTENGAH
KABUPATEN WONOSOBO
Manisan carica merupakan makanan khas dari daerah Wonosobo. Berkembangnya industri pengolahan buah carica memberi peluang yang semakin banyak bagi produsen untuk memasarkan Manisan Carica dan mengakibatkan tingginya tingkat persaingan antar produsen. Hal ini menyebabkan Perusahaan Manisan Carica Podang Mas perlu mengetahui preferensi konsumennya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis perbedaan preferensi konsumen terhadap atribut manisan carica Podang Mas (2) Mengetahui kategori atribut yang menentukan preferensi konsumen manisan carica Podang Mas, dan (3) Menganalisis sikap konsumen terhadap atribut manisan carica Podang Mas. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan Accidental Sampling, dan jumlah sampel yang diperoleh berjumlah 100 responden. Data dianalisis dengan menggunakan Analisis Chi Square (x2) , analisis deskriptif, dan Analisis Multiatribut Fishbein. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan preferensi konsumen terhadap atribut-atribut yang ada pada manisan carica Podang Mas, (2) Kategori atribut yang menentukan preferensi konsumen manisan carica Podang Mas yaitu mudah didapatkan saat dibutuhkan, dengan harga antara Rp10.000,00 – Rp15.000,00, dengan daya simpan selama 1 tahun, dengan menggunakan kemasan botol, dan dengan ukuran 250 gram perkemasan, (3) Sikap konsumen terhadap atribut manisan carica Podang Mas ada pada kategori baik dengan skor +6,24. Secara keseluruhan atribut manisan carica Podang Mas dinilai baik oleh konsumen jika dilihat dari hasil skor evaluasi kepentingan dan tingkat kepercayaan konsumen semuanya bernilai positif.Candied carica is a typical food of the Wonosobo. Fruit processing industry developmentof carica gives more opportunities for producers to market their candied carica and resulting in a high degree of competition between manufacturers. This causes the candied carica Podang Mas Company need to know the preferences consumers. The study aims (1) to analyze the differences in consumer preferences for attributes of the candied carica Podang Mas, (2) to know the category attributes that determine consumer preferences in buying products candied carica Podang Mas, (3) to analyze consumer attitudes toward various attributes of the candied carica Podang Mas. The method used in this study is Accidental Sampling and the number of sample is 100 respondents. Data were analyzed using chi-square analysis (x2) and Fishbein Multiatribut analysis. The results showed that (1) there are differences in consumer preference towards attributes exist on candied carica Podang Mas, (2) category attributes which determine consumer preference candied carica Podang Mas that is accessible when needed, with prices between Rp10.000,00 – Rp15.000,00, with power save for one year, using a bottle, and with the size of 250 gram, (3) consumer attitude towards attribute candied carica Podang Mas there on good category with a score of 6,24. Overall attributes of candied carica Podang Mas judged good by the consumer if seen from the result of the evaluation and the level of interest based on consumer confidence everything is positive.
100129833A1C009057LOYALITAS DAN KEPUASAN PETANI TERHADAP PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) (Studi Kasus di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas)
Sektor pertanian adalah salah satu sektor lapangan usaha yang selalu diidentikan dengan kemiskinan dan keterbelakangan.Salah satu program nasional dalam rangka pengentasan kemiskinan pada sektor pertanian yaitu program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Program ini bagian dari pelaksanaan program PNPM Mandiri yang melakukan penyaluran bantuan modal usaha dalam upaya menumbuhkembangkan usaha agribisnis sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran, yang diwujudkan dengan penumbuhan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) pada Gapoktan. Penelitian ini bertujuan : 1) Menganalisis loyalitas petani terhadap program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dan 2) Menganalisis kepuasan petani terhadap program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).
Penelitian ini dilakukan pada 28Desember2013 sampai 31 Januari 2014 di gapoktan Suka Tani Desa Sokawera dengan sasaran penelitian para petani yang merupakan konsumen Gapoktan Suka Tani. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan metode Simple Random Sampling sebanyak 30 responden. Data penelitian berupa primer dan sekunder diambil dengan cara wawancara melalui kuisioner. Indikator kepuasan berdasarkan 5 dimensi produk dan jasa yang dirinci menjadi 30 atribut pertanyaan yang sebelumnya diuji validitas dan reliabilitasnya. Loyalitas konsumen dianalisis dengan menggunakan Piramida Loyalitas, sementara kepuasan konsumen dianalisis dengan menggunakan Important Performance Analysis dan Costumer Satisfaction Index.
Hasil penelitian menunjukkan atribut kepuasan yang termasuk kedalam kuadran I (Prioritas Utama) yaitu atribut yang harus diutamakan perbaikannya sebanyak 4 atribut, kuadran II (Pertahankan Prestasi) yaitu atribut yang sudah membuat konsumen merasa puas sehingga harus dipertahankan sebanyak 16 atribut, kuadran III (Prioritas Rendah) yaitu atribut yang tidak dianggap penting oleh konsumen sehingga tidak menjadi prioritas yang utama dalam perbaikan sebanyak 8 atribut, dan kuadran IV (Berlebihan) yaitu atribut yang pelaksanaannya dianggap berlebihan oleh konsumen sebanyak 2 atribut. Tingkat loyalitas konsumen menunjukkan piramida loyalitas terbalik yang berarti loyalitas konsumen Gapoktan Suka Tani tinggi,namun tingkat tertinggi yaitu Commited Buyer masih kecil besarnya yaitu 63,33%.Besarnya tingkat kepuasan konsumen Gapoktan Suka Tani dihasilkan sebesar 87,61% yang berada pada rentang “Sangat Puas”.
The agricultural sectoris onesector ofthe businessfieldthat is alwayssynonymouswithpovertyandunderdevelopment. One of thenationalprogramsin order toalleviate povertyinthe agriculturalsector, namely Rural Agribusiness Developmentprogram(PUAP). The program ispartof theimplementation ofPNPM Mandiri programchannelingventure capital assistancein the effortto developagribusinessin accordancewithagricultural potentialtarget village, whichis realized bythe growthof Microfinance Institutions(MFI-A) onGapoktan. This studyaims to: 1) Analyze theloyaltyof farmers toRural Agribusiness Developmentprogram(PUAP) and2) analyze the satisfactionof farmers toRural Agribusiness Developmentprogram(PUAP).
The research was conducted on December 28, 2013 until January 31, 2014 at Suka Tani village gapoktan Sokawera research targeting farmers who are consumers Suka Tani Gapoktan. Sampling was done by simple random sampling method by 30 respondents. Data in the form of primary and secondary research collected by interviews through questionnaires. Satisfaction indicators based on 5 dimensions of products and services are broken down into 30 attributes that question previously tested for validity and reliability. Customer loyalty is analyzed by using the Loyalty Pyramid, while consumer satisfaction was analyzed by using the Important Performance Analysis and Customer Satisfaction Index.
The results showed that satisfaction attributes included in quadrant I (High Priority) is an attribute that should be prioritized improvement by 4 attributes, quadrant II (Maintain Achievement) are attributes that have made consumers feel satisfied that must be preserved as much as 16 attributes, quadrant III (Low Priority ) are attributes that are not considered important by consumers thus not be a top priority in the improvement of as much as 8 attributes, and quadrant IV (excessive) is an attribute whose implementation is considered excessive by the consumer as much as 2 attributes. The level of consumer loyalty showed significant inverse pyramid loyalty customer loyalty Suka Tani Gapoktan high,however the highest rate of childhood Buyer Committed magnitude is 63.33%. The level of consumer satisfaction Suka Tani Gapoktan generated by 87.61%, which is in the range "Very Satisfied".
1001310863G1F011055AKTIVITAS ANALGETIK KOMBINASI EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) DAN DAUN COCOR BEBEK (Bryophyllum pinnata) PADA NYERI PERIFER DAN SENTRAL
Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan daun cocor bebek (Bryophyllum pinnata) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas anti nyeri, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai analgetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas analgetik kombinasi ekstrak etanol rimpang temulawak dan daun cocor bebek terhadap nyeri perifer dan nyeri sentral serta mengetahui perbandingan dosis kombinasi ekstrak yang mempunyai aktivitas analgetik paling baik.
Pada penelitian dilakukan dua uji yaitu uji geliat (writhing test) dan uji hot plate. Uji geliat dilakukan pada mencit dengan pemberian 5 tipe dosis kombinasi (200 mg/kgBB), aquades (kontrol negatif) dan aspirin 91 mg/kgBB (kontrol positif) dilanjutkan pemberian induksi nyeri asam asetat 0,6 % (10 ml/kgBB) secara ip. Persen daya inhibisi dihitung berdasarkan jumlah rata-rata geliat. Hot plate test dilakukan tanpa induksi asam asetat dan dengan kontrol positif petidin 13 mg/kgBB secara sc. Mencit ditempatkan di atas hot plate suhu 550C ± 10C. Waktu laten diukur melalui pengamatan respons melompat kemudian dihitung persen MPE. Data persen daya inhibisi dan persen MPE masing-masing dianalisis dengan analisis statistika Kruskal-Wallis yang dilanjutkan analisis statistika Mann-Whitney. Perbedaan dianggap signifikan pada p<0,05 dengan taraf kepercayaan 95%.
Pemberian kombinasi ekstrak temulawak dan cocor bebek dosis 25:75 (200 mg/kgBB) mempunyai aktivitas analgetik yang paling baik berdasarkan persen daya inhibisi (71,65%). Kombinasi dosis lain yang memiliki aktivitas analgetik yang baik adalah kombinasi dosis 75:25 (51,54%) dan 0:100 (51,34%). Kombinasi ekstrak dosis 50:50 mempunyai aktivitas analgetik paling baik pada nyeri sentral dilihat dari nilai persen MPE terbesar (6,95±3,29%) pada menit ke-45.
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) and cocor bebek leaves (Bryophyllum pinnata) are known to have analgetic activity, thereby potentially being developed as analgetic. The purpose of this study was to determine either the analgetic activity of the combination of ethanolic extract of temulawak and cocor bebek on pain of peripheral and central pain or the dose ratio combinations of extracts that have the best analgetic activity.
In this study conducted two tests either writhing test or hot plate test. Writhing test performed on mice by administering 5 types of dose combinations, distilled water as negative control and aspirin 91 mg/kgBB as positive control and continued by administering of 0.6% acetic acid (10 ml/kg) by ip as pain inducer. Percent inhibition were calculated based on the average amount of writhing. Hot plate test was performed without induction of acetic acid while it used pethidine 13 mg/kg by sc as positive control. Mice were placed on a hot plate at 550C ± 10C. Latency time was measured by observing the jumping response then percent MPE was calculated. Percentages of inhibition of writhing and MPE were analyzed by Kruskal-Wallis and continued by Mann-Whitney statistical analysis. Differences were considered significant at p <0.05 with 95% confidence level.
Extracts combination of temulawak and cocor bebek dose 25:75(200 mg/kgBB) had the best analgesic activity based on the percent inhibition (71.65%). Another dose combination had good activity were dose 75:25 (51.54%) and 0: 100 (51.34%). Extract combination dose 50:50 had the best analgesic activity in central pain based on the highest percent MPE (6.95±3.29%) at the 45th minutes.
1001411317E1A011013KINERJA DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2006 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDENDewan Pertimbangan Presiden adalah sebuah lembaga negara yang dibentuk sebagai pengganti Dewan Pertimbangan Agung yang dihapuskan pada amandemen keempat Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dewan Pertimbangan Presiden bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dewan Pertimbangan Presiden berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan analitis. Sumber bahan hukum yang digunakan adalah data sekunder yang dapat diperoleh dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tersier. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian – uraian yang disusun secara sistematis, logis dan rasional, dimana data sekunder yang diperoleh disesuaikan dengan permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah Dewan Pertimbangan Presiden membuat laporan pertanggungjawaban kinerja berupa laporan tugas yang hanya dapat dilihat oleh Presiden, dan dalam menjalankan kinerjanya Dewan Pertimbangan Presiden mengalami beberapa kendala normatif karena terbatasnya pengaturan Dewan Pertimbangan Presiden.
Presidential Advisory Council is a state institution that was formed as a replacement for the Supreme Advisory Council was abolished in the fourth amendment to the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945. Presidential Advisory Council tasked with providing advice and advising the President referred to in Article 16 of the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945. Presidential Advisory Council positioned under the President and responsible to the President. This research uses normative juridical method with statute approach, conceptual approaches and analytical approach. Sources of legal materials used are secondary data that can be obtained from the primary legal materials, secondary law, and tertiary legal materials. The data obtained are presented in the form of descriptions arranged in a systematic, logical and rational, in which the secondary data obtained adapted to the issues to be investigated by researchers. The conclusion of this study was obtained from the Presidential Advisory Council made a statement in the form of performance accountability report that the task can only be seen by the President, and the running performance of the Presidential Advisory Council undergone some normative constraints due to limited regulation of the Presidential Advisory Council.
100159834F1F007152THE IMPLEMENTATION OF GUIDED CONVERSATION TECHNIQUE IN
ESP SPEAKING CLASS FOR BABYSITTERS
(A Case Study In LPK Prima Husada Purwokerto Academic Year 2013/2014)

ABSTRAK
Gunawan. 2014. The Implementation of Guided Conversation Technique In Esp Speaking
Class For Babysitters (A case study in LPK Prima Husada Academic Y ear
2013/2014). Skripsi. Jurusan Ilmu Budaya, Program Studi Bahasa dan Sastra
Inggris, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman.
Pembimbing I: Drs. Ashari, M.Pd. Pembimbing II: Erna Wardani, S.pd.,M.Hum.
Penguji: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum.
Keywords: Babysitter, Panduan Percakapan, ESP (Bahasa Inggris Untuk Tujuan Khusus).
Penelitian ini berjudul “The Implementation Of Guided Conversation Technique In Esp
Speaking Class For Babysitters (A case study in LPK Prima Husada Purwokerto Academic
Year 2013/2014) ”Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk menerapan teknik panduan dalam
percakapan bahasa Inggris untuk babysitter. (2) Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang di
alami oleh siswa-siswa dan guru dalam penerapan teknik ini. Penelitian ini menggunakan
metode tindakan kelas. Metode ini menyediakan panduan untuk guru dan siswa tentang
bagaimana cara untukvlebih baik dalam belajar.
Dalam penelitian ini, pada siklus 1, dilakukan tes penerapan teknik untuk mengetahui
kemampuan siswa dengan topik ‘Introduction’. Para siswa di harapkan dapat memproduksi
beberapa ekpresi seperti: how do you do?, what is your name?. Diketahui bahwa siswa-siswa
tersebut dapat menggunakan ekpresi-ekpresi yang diharapakan khususnya dalam topik ini.
Akan tetapi mereka masih membutuhkan motivasi yang lebih karena masih ada beberapa
kekurangan dalam mengekpresikannya.
Pada siklus 2, tes dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam berbicara
dengan menerapkan teknik guided conversation. Pada pertemuan ini, topik yang digunakan
adalah ‘At The Hospital’. Para siswa diharapkan dapat menghasilkan ekpresi seperti: have you
ever been in hospital?, have you ever had a blood tranfusion?. Hasil penelitian ini, menunjukan
bahwa para siswa mampu membuat ekspresi bahasa Inggris yang diharapkan. Para siswa
mampu menunjukkan meningkatan dalam kemampuan berbicara. Data penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengetahui peningkatan kemampuan dalam
kategori fluency (kelancaran), grammar (struktur), dan sebagainya.
ABSTRACT
Gunawan. 2014. The Implementation of Guided Conversation Technique In Esp Speaking
Class For Babysitters (A case study in LPK Prima Husada Academic Y ear
2013/2014). Thesis. Department of Humanities, English Language and Literature
Study Program, Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman
University. Supervisor I: Drs. Ashari, M.Pd. Supervisor II: Erna Wardani,
S.pd.,M.Hum. Examiner: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum.
Keywords: Babysitter, Guided Conversation, ESP (English for Specific Purposes).
The research is entitled “The Implementation of Guided Conversation Technique In Esp
Speaking Class For Babysitters (A Case Study in LPK Prima Husada Academic Y ear
2013/2014)”. The purposes of this research are (1) To find the implementation of guided
conversation technique in ESP speaking class for babysitter, (2) To find out the obstacles for
the students and the teacher in applying this technique. This research belongs to Classroom
Action Research (CAR). Action research provides a framework that guides the energies of
teachers toward a better understanding of why, when, and how students become better learners.
In this research, the students’ test in cycle 1 was done to know the result of the students’
ability in speaking by implemeting guided conversation technique. On this first meeting, the
topic was ‘Intr oduction’. The students were expected to produce expressions like for example:
how do you do?, what is your name?. The result showed that the students could make some
expected expressioms in English especially in introduction. The student need some motivation
how to make expression in conversation.
In the test cycle 2 was done to know the result of the students’ ability in speaking by
implementing guided conversation technique. On this second meeting, the topic was ‘At The
Hospital’. The students were expected to produce expressions like for example: have you ever
been in hospital?, have you ever had a blood tranfusion?. The result showed that the students
could make some expressions in English conversation. The students were able to show their
ability in speaking which is increased. The researcher analyzed from the data that the most of
them were able to increase their conversation in each category like fluency, gammar, and so
on.
100169835H1D007069ARTIKEL ILMIAH
KAJIAN RESIKO DAN KERENTANAN BAHAYA TSUNAMI
MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
DI KABUPATEN CILACAP JAWA TENGAH

KAJIAN RESIKO DAN KERENTANAN BAHAYA TSUNAMI
MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
DI KABUPATEN CILACAP JAWA TENGAH

Oleh:
Florentinus Lucky W. 1); Nastain 2) dan Arwan Apriyono 3)
INTISARI
Indonesia merupakan Negara dengan tingkat kegempaan tinggi karena kondisi geologi yang secara tektonik labil. Pada selatan Pulau Jawa dibawah Samudra Hindia terdapat zona subduksi lempeng Australia dan lempeng Sunda yang berpotensi gempa tektonik dan mengakibatkan tsunami. Kabupaten Cilacap terletak dipesisir selatan Pulau Jawa dengan pusat Kota Cilacap yang secara geografis terletak pada tepi pantai yang membentuk cekungan (teluk) dan menghadap langsung Samudra Hindia. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat resiko tsunami di wilayah Kabupaten Cilacap dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis yang menggambarkan daerah resiko dan rentan bahaya tsunami untuk menyediakan referensi bagi perencanaan wilayah dan pengembangan strategi kesiapsiagaan kepada semua pemangku kepentingan.
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan perangkat yang memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan tingkat resiko dan kerentanan bahaya tsunami dengan pendekatan multikriteria dan memperhitungkan semua faktor yang berpengaruh sehingga mampu memodelkan secara menyeluruh dan melakukan analisis spatial secara kompleks. Cell Based Modeling (CBM) adalah metode permodelan SIG dalam penelitian ini untuk mempresentasikan kekompleksitasan dan interaksi di alam dengan suatu penyederhanaan. Analisis spatial pada data raster merupakan dasar dari metode CBM. Pada penelitian ini, pemetaan resiko tsunami ditentukan oleh faktor kerawanan (hazard) dan kerentanan (vulnerability). Faktor kerawanan tsunami didapatkan dari permodelan area genangan tsunami dengan membandingkan tinggi rayapan dengan elevasi daratan dari data DEM SRTM dimana perhitungan tinggi rayapan berdasarkan periode ulang kejadian tsunami dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2009 tentang Pedoman Perencanaan Umum Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Rawan Tsunami. Faktor kerentanan tsunami didapatkan dari metode weight overlay semua parameter kerentatan yang terdiri dari elevasi daratan, penggunaan lahan, kepadatan penduduk, jarak dari pantai dan kemiringan daratan dengan bobot masing – masing parameter dihitung menggunakan metode Pairwise Comparison Methode. Peta resiko tsunami didapatkan dari weight overlay antara peta kerawanan dan peta kerentanan dengan bobot seimbang.
Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa Kecamatan Adipala memiliki tingat kerawanan tsunami terluas, yaitu luas area sangat rawan 6885000 mᶜ. Kecamatan dengan tingkat kerentanan tsunami sangat rentan paling luas adalah Kecamatan Cilacap Selatan dengan luas area sangat rentan sebesar 1620000 m². Kecamatan Adipala memiliki luas area dengan tingkat resiko sangat tinggi terluas sebesar 6010200 m². Kecamatan Cilacap Selatan memiliki luas area pemukiman dengan tingkat resiko tsunami sangat beresiko terluas sebesar 761400 m².

Kata Kunci : Tsunami, Sistem Informasi Geografis, Weight Overlay, Pairwise Comparison Methode.
RISK ASSESSMENT AND TSUNAMI HAZARD VULNERABILITY
USING GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM ( GIS )
IN CILACAP DISTRICT OF CENTRAL JAVA

by :
Lucky Florentinus W. 1 ) ; Nastain 2 ) and Arwan Apriyono 3 )

ABSTRACT
Indonesia is a country with a high level of seismicity due to the geological conditions tectonically unstable. On the southern island of Java under the Indian Ocean there is a subduction zone between the Australian plate and the Sunda plate tectonic earthquake potential and resulting tsunami. Cilacap district located south coastal area of Java and Cilacap City which is geographically located at the edge of the beach that make up the basin (bay) and directly facing the Indian Ocean. This study aims to map the level of risk of a tsunami in Cilacap Regency using Geographic Information System that describes the risks and dangers of tsunami prone to provide reference for regional planning and development of preparedness strategies to all stakeholders.
Geographic information system (GIS) is a device that has the ability to visualize the level of risk and vulnerability to tsunami hazard multicriteria approach and take into account all the factors that influence so thoroughly able to model and perform the complex spatial analysis. Cell Based Modeling (CBM) is a GIS modeling method in this study to present the complexities and interactions in nature with a simplification. Spatial analysis on raster data is the basis of the CBM method. In this study, the tsunami risk mapping is determined by hazard factor and vulnerability factors. Hazard factors obtained from modeling tsunami inundation areas with high creep comparing with land elevation data from the SRTM DEM where high creep calculation is based on a return period of tsunami events in the Minister of Public Works No. 06 / PRT / M / 2009 on the General Planning Guidelines for Infrastructure Development in Tsunami Prone Regions. Vulnerability factors obtained from the method of weight overlay all parameters vulnerabilities that consists of land elevation, land use, population density, distance from shore and land slope with respective weights - each parameter is calculated using the AHP method. Risk map obtained from the weight overlay between map insecurity and vulnerability maps with balanced weight.
Based on the analysis done shows that the rank of the Subdistrict of Adipala has the largest tsunami hazard , an area that is very prone 6885000 m². Subdistricts with the vulnerability of the most widespread tsunami is very vulnerable is South Cilacap Subdistrict with a very vulnerable area of 1620000 m². Adipala Subdistrict has an area with a very high degree of risk widest at 6010200 m . South Cilacap Subdistrict has a residential area with very risky rate of tsunami risk widest at 761 400 m².
Keywords : Tsunami , Geographic Information Systems , Weight Overlay , Pairwise Comparison Method .
100179836A1C009027Analisis Risiko Usahatani Kacang Hijau dan Kacang Panjang di Desa Karangdadap Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas.Kacang hijau dan kacang panjang merupakan jenis palawija yang sering dipilih petani untuk dibudidayakan setelah musim tanam padi selesai. Kacang hijau dan kacang panjang memiliki kelebihan yaitu toleran terhadap kekeringan. Desa Karangdadap Kecamatan Kalibagor merupakan salah satu desa dengan lahan sawah irigasi setengah teknis, dimana masih kesulitan mendapatkan pengairan lahan pertanian pada musim kemarau dan mengakibatkan risiko usahatani yang tinggi. Keadaan tersebut membuat petani memilih tanaman kacang hijau dan kacang panjang untuk dibudidayakan di Desa Karangdadap. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan tingkat risiko dan perbedaan efisiensi usahatani usahatani kacang hijau dan kacang panjang di Desa Karangdadap Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas.
Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Metode pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling diperoleh sebanyak petani kacang hijau sebanyak 29 responden dan petani kacang panjang sebanyak 33 responden. Data penelitian berupa primer dan sekunder diambil dengan cara wawancara dan studi pustaka. Metode analisis yang digunakan analisis biaya dan pendapatan, analisis risiko, analisis revenue cost ratio dan uji-z.
Berdasarkan perhitungan analisis risiko menunjukkankoefisien varian kacang hijau sebesar 49 persen dan kacang panjang sebesar 41 persen, sehingga dapat disimpulkan usahatani kacang hijau dan usahatani kacang panjang memiliki tingkat risiko yang sama. Namun, usahatani kacang panjang lebih efisien dikarenakan hasil yang diperoleh dari usahatani kacang panjang berupa produk segar dan produk kering, serta harga jual kacang panjang lebih tinggi dibandingkan harga jual kacang hijau.
Long beans (Vigna sinesisi) and mung beans (Vigna radiate L.) are some type of palawija plants to cultivated by farmers. Karangdadap village, subdistrict of Kalibagor, Banyumas is village with semi technical irrigated land, which is still trouble getting agriculture irrigation on dry season and make farming system risk is high.Except, this condition make farmers to choose plants such as mung beans and long beans in karangdadap villages. As for this study aimed to determine level of risk and determine efficiency system farming of mung beans and kacang panjang in Karangdadap village subdistrict Kalibagor, Banyumas.
The research methods usedsurvey. The sampling methods used simple random sampling obtainable mung bean farmers about 29 respondents and long bean farmers about 33 respondent . the research data in the form of primary abd secondary was accepted with interviews and literature. Analysis methods used cost and income analysis, risk analysis, R/C ratio analysis and z- test.
The result of calculate risk analysis aimed to coefficientvariance of mung benas is 49 percent and long beans 41 percent, so it can be concluded mung beans and long beans farming have same level of risk. However, long beans farming more efficient than mung beans because result from long beans farming such as fresh product, dry product and has selling price more high than mung beans selling price.
1001810828C1C011031PENGARUH PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013, SOSIALISASI PERPAJAKAN DAN PEMAHAMAN PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK UKM
(Studi Empiris UKM pada Sektor Industri dan Perdagangan di Kabupaten Banyumas)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji Penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013, Sosialisasi Perpajakan, dan Pemahaman perpajakan, terhadap kepatuhan wajib pajak UKM pada sektor industri dan perdagangan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan menggunakan metode survei dalam pengumpulan datanya. Kuesioner dibagikan kepada 85 responden yang merupakan pemilik UKM pada sektor industri dan perdagangan di Kabupaten Banyumas. Analisis regresi linier berganda digunakan sebagai alat analisis dalam penelitian ini. Kesimpulan yang dihasilkan adalah Penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013, Sosialisasi Perpajakan, dan Pemahaman perpajakan secara simultan berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan wajib pajak UKM pada sektor industri dan perdagangan di Kabupaten Banyumas. Serta secara parsial Penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 dan Pemahaman perpajakan, berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kepatuhan wajib pajak UKM pada sektor industri dan perdagangan di Kabupaten Banyumas sedangkan Sosialisasi perpajakan tidak berdampak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak UKM pada sektor industri dan perdagangan di Kabupaten Banyumas. This study aims to examine the adoption of Government Regulation No. 46 Year 2013, the socialization of Taxation , and the understanding of taxation , on tax compliance SMEs in industry and trade sector in Banyumas . This research is a quantitative research and survey method in data collection . Questionnaires were distributed to 85 respondents who are the owners of SMEs in the industrial and trade sectors in Banyumas . Multiple linear regression analysis was used as a tool of analysis in this study . The resulting conclusion is Implementation of Government Regulation No. 46 Year 2013, the socialization of Taxation , and the understanding of taxation simultaneously affect the increase taxpayer compliance SMEs in the industrial and trade sectors in Banyumas . As well as the partial adoption of Government Regulation No. 46 Year 2013 and the understanding of taxation , a significant effect on the increase taxpayer compliance SMEs in industry and trade sector in Banyumas whereas taxation Socialization no significant impact on taxpayer compliance SMEs in the industrial and trade sectors in Banyumas .
100199744F1F008088AN ANALYSIS OF VERBAL HUMOR TRANSLATION TECHNIQUES AND ITS INFLUENCE TOWARDS HUMOROUS IDEA SPOKEN BY THE MAIN CHARACTER IN THE DICTATOR MOVIEPenelitian ini bertujuan untuk memaparkan teknik-teknik penerjemahan dalam menerjemahkan ide-ide humor dari film The Dictator dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan untuk menemukan efek penerjemahan tersebut terhadap ide-ide humor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena data penelitian ini berbentuk kata-kata tertulis dan peneliti mengklasifikasikan dan mendeskripsikan data. Data penelitian ini diambil dari subtitle film The Dictator berbahasa Indonesia dan teks dialog dalam bahasa Inggrisnya. Ada 77 data yang digunakan sebagai sampel analisis teknik penerjemahan dari 41 kalimat humor oleh tokoh utama di film ini.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada dua belas macam teknik yang diterapkan dalam menerjemahkan ide humor yang diucapkan oleh pemeran utama dari film The Dictator. Teknik-teknik tersebut adalah structural addition (4 data atau 5,12%), subtraction (21 data atau 26,92%), transposition (16 data atau 20,51%), borrowing (8 data atau 10,25%), cultural equivalence (1 datum atau 1,28%), componential equivalence (1 data atau 1,28%), synonym (3 data atau 3,84%), amplification (1 data atau 1,28%), semantic addition (11 data atau 14,10%), omission (7 data atau 8,97%), modulation (1 datum atau 1,28%), dan other categorized techniques (3 data atau 3,84%).
Efek penerjemahan terhadap ide humor dianalisis dengan analisis konteks dan analisis isi untuk membandingkan ide humor sebelum dan sesudah penerjemahan. Di antara 41 data kalimat dengan ide humor, ada 40 (97,56%) data dikategorikan sebagai humor dengan potensi yang tidak berubah untuk menimbulkan tawa dan hanya 1 (2,43%) data dikategorikan sebagai humor dengan potensi yang berubah untuk menimbulkan tawa. Ini berarti teknik-teknik penerjemahan yang digunakan sebagian besar menjaga ide humor dan ide-ide humor tersebut diterjemahkan secara baik sehingga potensinya untuk menimbulkan tawa tetap terjaga.
This research was conducted to describe the translation techniques in translating humorous idea of The Dictator movie from English into Indonesian and to find out the effect of the translation techniques towards the humorous idea’s potency to raise laughter. It used descriptive qualitative method since the data were in the form of written words and the researcher classified and described the data. The data were taken from Indonesian subtitle of The Dictator movie and the English script. There were 77 data that were used as samples of technique translation analysis from 41 sentence of humor by the main character in this movie.
The result shows that there are twelve techniques applied in translating humorous idea spoken by the main character of The Dictator movie. They are structural addition (4 data or 5,12%), subtraction (21 data or 26,92%), transposition (16 data or 20,51%), borrowing (8 data or 10,25%), cultural equivalence (1 datum or 1,28%), componential equivalence (1 datum or 1,28%), synonym (3 data or 3,84%), amplification (1 datum or 1,28%), semantic addition (11 data or 14,10%), omission (7 data or 8,97%), modulation (1 datum or 1,28%), and other categorized techniques (3 data or 3,84%).
The effect towards humorous idea is analyzed by context analysis and content analysis to compare the humorous idea before and after translation. Among 41 data of sentences containing humorous idea, there are 40 (97,56%) data categorized as humor with unchanged potency to arise laughter and only 1 (2,43%) datum categorized as humor with changed potency to arise laughter. It means that the techniques used are mostly keep the humorous idea and the humorous ideas were well translated so their potency to raise laughter is preserved.
100209843G1B010013ANALISIS ABILITY TO PAY DAN WILLINGNESS TO PAY CALON PESERTA JKN PEKERJA BUKAN PENERIMA UPAH TERHADAP PREMI BPJS (Studi Kasus di Kabupaten Banyumas)Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah salah satu program pemerintah di bidang kesehatan. PBPU tercatat sebagai salah satu pekerja kelompok informal yang memiliki resiko sakit lebih tinggi dan bukan merupakan sasaran program pemerintah. Menurut Riskesdas (2013) 50,5% penduduk Indonesia belum memiliki jaminan kesehatan. Menurut BPS (2012) di Kabupaten Banyumas peserta PBPU hanya 0,84% yang terdaftar di BPJS. Ability dan willingness to pay merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang mengikuti jaminan kesehatan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis ATP dan WTP responden terhadap premi JKN. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data melalui wawancara dengan kuesioner. Jumlah populasi sebanyak 711.452 jiwa, jumlah sampel 99 responden, diambil melalui teknik accidental sampling. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat kesesuaian antara ATP, WTP dan premi JKN pada kategori beberapa pekerjaan PBPU (petani, buruh, wiraswasta dan karyawan swasta). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ATP WTP masing-masing pekerjaan yaitu petani Rp.23.432,61 dan Rp.16.521,74 ; buruh Rp.23.876,85 dan Rp.20.739,13 ; karyawan swasta Rp.43.988,46 dan Rp.35.192,31 serta wiraswasta Rp.48.765,59 dan Rp.24.518,52. Dengan rata-rata keseluruhan ATP WTP responden sebesar Rp.35.843,32 (perkeluarga) dan Rp.24.585,86 (perorang). Dari keempat kelompok pekerja tersebut nilai ATP lebih kecil dari nilai WTP, dan nilai WTP lebih besar dari premi JKN. Berdasarkan data pengeluaran rumah tangga pengeluaran rokok masih sangat tinggi, sehingga disarankan kepada masyarakat untuk bisa mengalokasikan pengeluaran rokok untuk biaya pelayanan kesehatan.The National Health Insurance is one of goverment program in health sector. PBPU is informal workers who are have more risk of illness and not a target of the goverment program. According Riskesdas (2013) 50,5% of the population in Indonesian has not had health insurance. According BPS (2012) in Banyumas Regency, participants PBPU only 0,84% listed in BPJS. Ability and willingness to pay is one of the factors influence person to follow health insurance. The goals of this research to analyze ATP and WTP respondents on JKN premi. This research is quantitative descriptive with cross-sectional approach. The data was collected by interviews with a questionnaire. The population is 711.452 people with sample 99 respondents, taken with accidental sampling technique. Data were analyzed descriptively to compare the ATP, WTP and JKN premi on several job categories PBPU (farmers, labor, self employed, and employees). The result showed the avarage of ATP and WTP for several job Rp.23.432,61 and Rp.16.521,74 for farmers ; Rp.23.876,85 and Rp.20.739,13 for labor ; Rp.43.988,46 and Rp.35.192,31 for employeess, and Rp.48.765,59 dan Rp.24.518,52 for self employed. With the overall avarage ATP WTP respondents is Rp.35.843,32 (family) and Rp.24.585,86 (person). From the four groups of workers, value of ATP less than WTP and value of WTP more than the JKN premi. Based on data from household expenditure, cigarette expenditure is very high, so it is advisable to people to allocate the expenditure of cigarettes for health care costs.