Artikelilmiahs
Menampilkan 10.061-10.080 dari 50.310 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 10061 | 9865 | A1C010061 | KAJIAN FINANSIAL USAHATANI MINA PADI DI KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS | Kecamatan Karanglewas merupakan salah satu daerah yang menerapkan sistem mina padi. Penelitian bertujuan untuk : mengetahui gambaran umum usahatani mina padi, mengetahui biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diterima pada usahatani mina padi, mengetahui tingkat efisiensi pada usahatani mina padi,dan mengetahui proporsi pendapatan masing-masing komoditas pada usahatani mina padi.Penelitian dilakukan di Desa Singasari, Pasir Kulon, dan Pasir Lor Kecamatan Karanglewas. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis finansial, dan proporsi pendapatan.Hasil penelitian menunjukan bahwa gambaran umum usahatani mina padi di Kecamatan Karanglewas selain mengusahakan padi juga melakukan dua sistem budidaya ikan di sawah, yaitu sistem penyelang dan tumpangsari. Jenis ikan yang dibudidayakan yaitu ikan mujaer, melem, tawes, nila, dan mas. Varietas padi yang digunakan yaitu Situbagendit dan Muncul. Lama pemeliharaaan sistem penyelang maupun tumpangsari masing-masing antara 20 sampai 35 hari. Benih yang ditebar sebagian besar ukuran 1 sampai 2 cm dan dipanen ukuran 3 sampai 5 cm. Biaya yang dikeluarkan usahatani mina padi Rp1.030.838,00 per 0,05 hektar dan pendapatan yang diterima Rp604.308,00 per 0,05 hektar dalam satu musim tanam padi. Ratio biaya dan penerimaan usahatani mina padi sebesar 1,59, hal ini berarti bahwa usahatani yang dilakukan sudah efisien. Proporsi pendapatan padi sebesar 58,30 persen dari keseluruhan pendapatan usahatani mina padi, proporsi pendapatan ikan sebesar 41,70 persen dari keseluruhan pendapatan usahatani mina padi. | Karanglewas Districtfor example by applying the system of Mina Padi. This study ainmed to : determines farming of Mina Padi’s overview, knowing the cost incurred and income earned on Mina Padi farmingin Karanglewas District Banyumas Regency, determine the level of efficiency in Mina Padi,and determine the proportion of the income of each commodity. This study conducted in Karanglewas District with the goal of research is farmers who applying mina padi farming in Singasari, Pasir Kulon and Pasir Lor Village Karanglewas Distric Data analysis using descriptive analysis, financial analysis, and the proportion of income.The result showed that farming mina padi’s overview agricultural operations in Karanglewas Distictdid two time of fish cultivation system of Mina Padi such as penyelang and tumpangsari system. The kind of fish that be cultivated there are mujaer, melem, tawes, nila and mas fish. The rice plant variety which be used are Situbagendit and Muncul. The cultivation time of penyelang and tumpangsari system each between 20 to 35 day. Seed which be spread the most of measure is 1 until 2 cm and it harvested measure 3 until 5 cm. The cost of Mina Padi Farming Rp1.030.838,00 per0,05 hectare and income received Rp604.308,00 per 0,05 hectare in a single rice growing season or five months. The ratio of costs and revenues of Mina Padi farming 1,59, it means that the farming is done already efficient. The proportion 41,70 percent of rice income for 58,30 percent of total mina padi farming income. | |
| 10062 | 9868 | A1L010070 | PENGUJIAN CAMPURAN MIKROBA ANTAGONIS UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT DI RUMAH KACA | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas campuran mikroba antagonis untuk pengendalian penyakit layu fusarium dan pertumbuhan tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca laboratorium perlindungan tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampau bulan juni 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang dicoba meliputi : kontrol, P. fluorencens P8, Bacillus sp B11, Bacillus sp B8, Bacillus sp B11+ Bacillus sp B8+ Trichoderma sp, Bacillus sp B11+P. fluorencen+ Trichoderma sp. Variabel yang diamati adalah masa inkubasi, intensitas penyakit, tinggi tanaman,jumlah daun, jumlah bunga,bobot akar dan bobot segar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan campuran mikroba antagonis Bacillus sp B8, Bacillous sp B11, P. fluorencen, dan Trichoderma efektif mengendalikan penyakit layu Fusarium, tetapi belum mampu meningkatkan efektifitas dengan perlakuan mandiri serta belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat. | Researched was aimed to know the efectivity of mixed antagonist microbial to control the wilt disease of Fusarium sp and Tomato Plants’ growth.. The research was carried out in screen house Laboratory of Plant Protection Faculty Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The research was done from March until Juny 2014. The research used Randomized Block Designed which consist of 7 treatments and 4 retreatments. The treatments tested were control, P. fluorencens P8, Bacillus sp B11, Bacillus sp B8, Bacillus sp B11+ Bacillus sp B8+ Trichoderma sp, Bacillus sp B11+P. fluorencen+ Trichoderma sp. Variable observed was incubation period, disease intensity, plants high, number of leaves, number of flower, roots weight, fresh plants weight. Results of the researched showed that the mixed antagonist microbial Bacillus sp B8, Bacillous sp B11, P. fluorencen, and Trichoderma were effective to control the wilt disease but it can’t increase the effectivity with individual treatment and not improved the growth of tomato plants. | |
| 10063 | 10851 | C1K010035 | THE IMPACT OF ONLINE SHOPS CREDIBILITY, PAYMENT SECURITY, WEBSITE INTERFACE AND EXPERIENCE OF NETWORK ON REPEATED PURCHASING FOR SHOPPING ONLINE | Penelitian ini merupakan penelitian survei pada pelanggan muda belanja online di Purwokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh variabel pengujian kredibilitas toko online, keamanan pembayaran, antarmuka situs web, dan pengalaman pengaruh jaringan terhadap pembelian berulang pada pelanggan muda belanja online di Purwokerto. Populasi dalam penelitian ini adalah orang-orang muda berusia minimal 17 tahun di Purwokerto yang sering melakukan belanja secara online, setidaknya dua kali sampai penelitian ini adalah melakukan. Penelitian ini menggunakan 100 responden agar memenuhi syarat jumlah minimum sampel. Convenience sampling digunakan sebagai penentuan sampel. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan analisis regresi menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan kredibilitas toko online ini, keamanan pembayaran, pengalaman jaringan pada pembelian berulang dengan belanja online. Dan tidak ada efek antarmuka website di pembelian berulang untuk belanja online. Penelitian ini difokuskan hanya untuk menguji dan mengetahui pengaruh toko kredibilitas online, keamanan pembayaran, antarmuka situs dan pengalaman jaringan pada pembelian berulang untuk belanja online, penelitian masa depan harus menyelidiki kemungkinan lain dari hubungan antara variabel | This research is survey research on young customer of shopping online in Purwokerto. The purpose of this study was to examine the effect of variables testing online shops credibility, payment security, web site interface, and the experience of network influence toward repeated purchasing on young customer of shopping online in Purwokerto. The populations in this research was young people minimum 17 years old in Purwokerto who often do shopping by online, at least twice until this study is conducting. This study used 100 respondents in order to qualify a minimum number of samples. Convenience sampling was used as the determination of the sample. Based on the research result and data analysis using regression Analysis shows that there is significant effect of online shop’s credibility, payment security, experience of network on repeated purchasing by shopping online. And there is no effect of website interface on repeated purchasing for shopping online. This study focused only to test and determine the effect of online shops credibility, payment security, website interface and experience of network on repeated purchasing for shopping online, future research should investigate other possibility of relations between variables. | |
| 10064 | 9869 | A1C110003 | HUBUNGAN FAKTOR INTERNAL PETANI DENGAN TINGKAT ADOPSI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DI KECAMATAN MAOS, KABUPATEN CILACAP | Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah merupakan suatu inovasi budidaya padi yang dikembangkan oleh pemerintah dalam rangka mendukung program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Salah satu daerah yang menerapkan teknologi PTT adalah Kecamatan Maos yang merupakan sebuah Kecamatan di Kabupaten Cilacap yang berkontribusi besar dalam pasokan beras di Kabupaten Cilacap. Wilayah ini terletak pada ketinggian 8 m dpl, yang sebagian besar lahannya merupakan lahan pertanian. Tingkat adopsi terhadap komponen-komponen teknologi PTT berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama faktor internal petani itu sendiri, sehingga tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis tingkat adopsi petani terhadap teknologi PTT, (2) menganalisis komponen-komponen pembentuk PTT, (3) menganalisis hubungan antara tingkat adopsi PTT dengan faktor internal petani. Penelitian ini menggunakan metode survai, dengan penentuan desa dilakukan secara purposive yaitu Desa Mernek dan Maos Kidul, dari 400 petani peserta SLPTT musim tanam Tahun 2013/2014 di desa tersebut didapat 43 responden dengan metode pengambilan sampel multistage random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi langsung, dan wawancara. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat adopsi PTT di Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap berada pada kategori tinggi, (2) komponen pembentuk PTT dan tingkat adopsi masing-masing komponen adalah varietas unggul (tinggi), benih bermutu (tinggi), bibit muda (tinggi), jumlah bibit per lubang dan sistem tanam (tinggi), pemupukan P dan K sesuai PUTS (sedang), pemakaian bahan organik (tinggi), pengairan berselang (tinggi), pengendalian gulma secara terpadu (tinggi), PHT (tinggi), panen dan pasca panen (sedang), dan (3) terdapat hubungan nyata yang cukup erat secara positif antara tingkat adopsi PTT dengan faktor internal petani secara keseluruhan. Secara parsial, pendidikan, frekuensi mengikuti penyuluhan, dan sumber informasi yang didapatkan memiliki hubungan nyata atau memiliki hubungan tetapi tidak terlalu erat secara positif dengan tingkat adopsi PTT, sedangkan umur, pengalaman usahatani, luas dan status kepemilikan lahan, besarnya modal, dan tingkat komersialisasi usahatani tidak mempunyai hubungan yang nyata atau hubungannya sangat kecil dengan tingkat adopsi PTT. | The management of integrated plant is an innovation paddy developed by the government in supporting programs increased production of rice national. One of the areas a lot is applying technology District Maos, that is a District in the county of Cilacap who contributed large in the supply of rice in the county of Cilacap. This region is situated at an altitude of 8 m dpl, most of the land is agricultural land. The adoption level against components it is different technology. It affected by various factors especially the internal factor itself, farmers so the purpose of this research is : (1) analyzing the rate of adoption of technologies for farmers against of the management of integrated plant, (2) analyzing framer of the management of integrated plant components, and (3) analyzing the relationship between the rate of adoption the management of integrated plant with internal factors of farmers. This research survey, using methods with the determination of the village is done in purposive Village Mernek and Maos Kidul, than 400 farmers participants school airy integrated management of the plant growing season 2013 / 2014 in the village was collected 43 respondents with a method of the sample a multistage random sampling. The data, conducted by ways of direct observation and an interview. Data analysis using analysis descriptive and correlations rank spearman. The result showed that: (1) the rate of adoption the management of integrated plant in district of Cilacap Regency Maos is a high category, (2) Components forming of the adoption management of integrated plant and rate adoption each components are varieties superior (high), seed very (high), bibit young (high), the number bibit per holes and system cropping (high), fertilizing P unsure and K unsure according puts (median), discharging organic matter (high), irrigation intermittent (high), weed control integrally (high), pest management and disease in an integrated way (high), harvest and after harvest (median), and (3) There are real enough relations closely in a positive way between the rate of the adoption of a lot with the internal factor farmers as a whole.In a partial, education, the frequency of adhering to counseling, and the source of the information obtained having the relationship of real or having relation but not too closely in a positive way to level, the adoption of a lot while age, experience usahatani, broad and the status of land ownership, the amount of capital, and rate over-privatization usahatani real have no connection or relation very small on the level of the adoption of a lot. | |
| 10065 | 10869 | H1B010035 | PROGRAM PENJADWALAN KULIAH DI FMIPA UNSOED BERDASARKAN ALGORITMA GENETIKA | Penjadwalan kuliah adalah pengalokasian sejumlah kuliah kedalam resources terbatas seperti timeslot dan ruangan dengan cara sedemikian rupa agar memenuhi syarat penjadwalan. Banyaknya syarat dalam penyusunan jadwal menjadikan masalah ini semakin sulit diselesaikan dan menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode efektif untuk menyelesaikan masalah ini agar dihasilkan suatu solusi yang optimum. Salah satu metode yang dinilai efektif adalah menggunakan algoritma genetika. Pada penelitian ini dibangun suatu program penjadwalan berdasarkan algoritma genetika menggunakan software Microsoft Visual Studio. Tahapan penerapan algoritma dimulai dengan menentukan constraints, mengkodekan timetable kedalam kromosom, melakukan proses genetik yaitu crossover dan mutasi agar dihasilkan jadwal yang dapat memenuhi constraints yang telah dibuat. Data dari FMIPA UNSOED digunakan sebagai masukan untuk penjadwalan, jadwal yang dihasilkan memenuhi constraint, namun jadwal yang dihasilkan masih mempunyai kelemahan dalam pendistribusian kuliah. | The university course timetabling problem consists of allocating a number of courses to a limited set of resources such as timeslots and rooms in such a way to satisfy timetabling constraints. Many rules that must be considered in making a timetable makes these problems more difficult and time consuming. Therefore optimization techniques is needed to solve them. The genetic algorithm is considered as an efficient approach for solving this type of problems. In this study, a timetabling program based on genetic algorithm is constructed by using a software called Microsoft Visual Studio. The stages of implementation of the algorithm begins by determining the constraints, then encode the timetable into chromosomes, and applying ‘mutation’ and ‘crossover’ operations to the chromosomes in order to produce a timetable that can meet the constraints that have been made. A data set from FMIPA UNSOED is used as an input for timetabling. The produced timetable meets the constraints but it still has a weakness especially in the distribution of classes | |
| 10066 | 9870 | H1C008036 | ANALISA SISTEM PENTANAHAN SUTT 150 KV UNTUK PERBAIKAN PROTEKSI TERHADAP GANGGUAN PETIR STUDI KASUS PT PLN (PERSERO) GITET KESUGIHAN CILACAP | Sambaran petir langsung yang menyambar suatu tiang transmisi pada kawat tanah, mengakibatkan terjadinya fenomena tegangan lebih. Tegangan lebih ini terjadi ketika nilai impedansi tahanan kaki menara relatif tinggi, sehingga arus dari petir yang mengalir akan dipantulkan kembali pada tiang transmisi dan mengenai tahanan isolator yang ada didekatnya. Berdasarkan simulasi yang penulis lakukan, besarnya arus petir yang mampu merusak suatu tegangan isolator rantai adalah 350 kA atau lebih, ini didapat ketika arus petir yang diinjeksikan memotong gelombang pada fasa terendah yaitu fasa C, maka terjadilah fenomena back flashover. Karena fasa C ini yang paling berpengaruh untuk menahan arus petir yang memantul dari pentanahan kaki menara. Arus petir yang melampaui batas kekuatan isolator, mengakibatkan isolator pecah dan rusak. Hal ini di pengaruhi oleh parameter- parameter seperti pengaruh isokraunic level, pengaruh ketinggian kawat tanah, pengaruh panjang rentengan isolator, pengaruh tahanan kaki menara.Untuk mengurangi gangguan akibat sambaran petir dapat menggunakan pentanahan dengan sistem counterpoise. | Direct clap to ground line of transmission pole causes back flashover phenomenon. It occurs when impedance value of tower foot resistance is relatively high, so the current of the clap will be deflected to transmission pole then hit the near isolator. Based on writers simulation, the clap current that is able to undermine voltage isolator chain is 350 kA or more. It is conducted when the clap current that is injected cuts the lowest phase, C phase of the wave. C phase has a significant role to dump the clap current that is deflected from grounding foot of the tower. Lightning current is beyond the power of the insulator, resulting in cracked and damaged insulators. It is influenced by parameters such as the influence of Isokraunic level, influence the height of the ground wire, the length of the insulator effect, effect custody foot tower. To reduce the disruption caused by a lightning strike with the system grounding counterpoise. | |
| 10067 | 9871 | H1G010018 | POTENSI LESTARI IKAN PEPETEK (Leiognathus equulus) DI PERAIRAN PANGANDARAN KABUPATEN PANGANDARAN JAWA BARAT | Leiognathus equulus merupakan jenis ikan yang banyak tertangkap diperairan Pangandaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Yield per recruitment dan mengetahui laju eksploitasi Leiognathus equulus diperairan Pangandaran. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dengan mengikuti secara langsung operasi penangkapan bersama dengan nelayan. Leiognathus equulus yang diperoleh langsung diukur diantaranya panjang total, panjang standar, tinggi ikan dan ditimbang beratnya. Jumlah ikan yang digunakan pada penelitian ini yaitu 1200 ikan. Analisis parameter pertumbuhan (L∞ dan K) dilakukan dengan menggunakan metode ELEFAN 1, hubungan panjang berat dengan regresi linear, mortalitas dengan metode Pauly dan laju eksploitasi serta analisis Yield per Rekrut dengan metode Beverton & Holt. Koefisien pertumbuhan (K) sebesar 1,30 pertahun dan Panjang asimtotik (L∞) 16,27 cm. Pola pertumbuhan L. equulus adalah allometrik negatif. Laju mortalitas total (Z) sebesar 3,5546 per tahun dengan mortalitas alaminya (M) sebesar 0,9629 dan laju mortalitas penangkapan (F) sebesar 2,5916. Nilai laju eksploitasi sebesar 0,729 dengan nilai yield per rekrut (Y/R) dan Biomassa per rekrut relatif (B/R) adalah 0,073 dan 0,092. Sedangkan nilai dugaan E optimum sebesar 0,318. Hal ini menunjukan bahwa hasil tangkapan Leiognathus equulus di Teluk Pananjung telah mengalami “lebih tangkap” karena nilai E sekarang telah mencapai 72,9% dari nilai optimumnya. | Leiognathus equulus is one of a demersal fish that mostly cought by beach seine in Pangandaran. This research aims to determine the value of yield per recruitment and exploitation rate of L. equulus. The primary data were collected from direct observation. First standart length, total length and height was measured to the nearest 0,1 m and weight to the nearest 0,01 g. The number of fish used in this study was 1200 fish. Growth parameter (L∞ and K) length and weight relationship, mortality and exploitation rate and yield per recruit were analyzed using ELEFAN 1, linear regression, Pauly method, Beverton & Holt method respectively. The result shows growth coefficient (K) of 1.30 per year and asimptotic length (L∞) 16,38 cm. The growth pattern of L. equulus was categorized as negative allometric. The rate of total mortality (Z) of 3.5546 per year with natural mortality (M) of 0.9629 and catch mortality rate (F) of 2.5916. The value of exploitation rate was 0,729. Yield per recruit (Y/R) and Biomassa per recruit (B/R) 0,073 and 0,092. While the estimated value of was 0.318 E optimum. The result suggested that the catch in the Gulf Pananjung, it was over fishing because the value of E has reached 72.9% of the optimum value. | |
| 10068 | 9872 | A1L010130 | PENGARUH ARANG KAYU DAN PUPUK NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH KULTIVAR SUMENEP PADA MEDIA PASIR PANTAI | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji pengaruh pemberian arang kayu, 2) mengkaji pengaruh pemberian pupuk nitrogen dan 3) mengetahui pola interaksi pemberian arang kayu dan pupuk N terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah kultivar Sumenep pada media pasir pantai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah arang kayu dengan 3 taraf yaitu 30, 60, dan 90 g/kg media atau setara dengan 91.56, 183.12, dan 274.68 ton/ha. Faktor kedua adalah dosis pupuk N dengan 3 taraf yaitu 121.5, 182.25, dan 243 kg N/ha. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, bobot tanaman segar dan kering, jumlah umbi, diameter umbi, bobot umbi segar dan kering, indeks panen. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F, apabila terdapat pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5% dan analisis regresi. Dosis arang kayu terbaik pada takaran 60 g/kg media atau setara dengan 183.12 ton/ha dan dosis pupuk N terbaik sebesar 158.05 kg/ha N. Pemupukan N dipengaruhi oleh keberadaan arang kayu. | This research aimed to evaluate 1) the effect of wood charcoal application and 2) the effect of nitrogen fertilization as well as, 3) to find out interaction pattern between wood charcoal application and nitrogen fertilization on the growth and yield of onion cv. Sumenep planted in the sandy soil. This experiment was arranged in randomized complete block design (RCBD) with three replication. Wood charcoal, as the first factor, consisted of 30, 60, and 90 g/kg media that was equivalent to 91.56, 183.12, and 274.68 ton/ha. N fertilization consisted of 121.5, 182.25, and 243 kg/ha N. Variable observed were plant height, number of leaves, number of tillers, fresh and dry weight of onion, number of bulbs, fresh and dry weight of bulbs, harvest index. The datas were anallized by F test and continuoud by duncan's multiple range test (DMRT) if there were any significant difference on 5% error and regression analysis. The best dose of wood charcoal was 60 g/kg media or equivalent with 183.12 ton/ha and N fertilizer dose consisted of 158.05 kg/ha N. The N fertilizing was affected by the existence of wood charcoal. | |
| 10069 | 9873 | A1C010053 | EFISIENSI PEMASARAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI KECAMATAN WANASARI KABUPATEN BREBES | Kecamatan Wanasari merupakan daerah sentra penghasil bawang merah di Kabupaten Brebes. Komoditas hortikultura telah mendapat perhatian tersendiri selain tanaman pangan dan bawang merah merupakan salah satu komoditas utama holtikultura. Pengembangan komoditas tersebut mendapatkan perhatian besar di tingkat daerah khususnya di Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui saluran pemasaran bawang merah di Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes, (2) Menghitung besarnya marjin pemasaran bawang merah pada setiap saluran pemasaran, (3) Menghitung farmer’s share, persentase biaya dan persentase keuntungan, (4) Mengetahui saluran pemasaran yang paling efisien bedasarkan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan rancangan pengambilan sampel yaitu two stage cluster sampling dan snowball sampling, diperoleh 28 responden petani dan 10 responden pedagang perantara. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis marjin, farmer’s share, analisis efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Terdapat 3 saluran pemasaran bawang merah di Kecamatan Wanasari, dengan rincian: Saluran I yaitu petani – pengumpul – pedagang besar – pengecer – konsumen, saluran pemasaran II yaitu petani – pengumpul – pengecer – konsumen, saluran pemasaran III yaitu petani – pengecer – konsumen. (2) Marjin pemasaran bawang merah di Kecamatan Wanasari pada setiap saluran pemasaran yaitu : Saluran I memiliki marjin pemasaran sebesar Rp10.500,00/kg, saluran pemasaran II sebesar Rp8.300,00/kg, saluran pemasaran III sebesar Rp3.500,00/kg. (3) Farmer’s share terbesar ada pada saluran pemasaran III sebesar 77,41%. Persentase biaya terkecil ada pada saluran III sebesar 28,2%. Persentase keuntungan terbesar pada saluran pemasaran III sebesar 71,80%. (4) Saluran pemasaran bawang merah yang paling efisien terdapat pada saluran III karena memiliki nilai indeks efisiensi teknis terkecil dan indeks efisiensi ekonomis terbesar. | District of Wanasari an onion-producing centers in the Brebes District. Horticulture Comodities has received special attention in addition to food crops, onion is one of the major horticultural commodities. The development of these commodities important to get enough attention at the local level, especially in the District Wanasari Brebes, the purpose of this study is (1)Knowing the onion marketing channels in the District Wanasari Brebes, (2) Calculate the amount of onion marketing margin on any marketing channel, ( 3) Calculate the the farmer's share of percentage ofthe costs and benefits, 4) determine the most efficient marketing channels bedasarkan technical efficiency and economic efficiency. The study was conducted by survey method with the sampling design Two Stage Cluster sampling and snowball sampling,with 28 respondents and 10 respondents farmer middlemen. Methods of data analysis using descriptive, margin analysis, the farmer'sshare,technical and economic efficiency analysis. The results showed that: (1) There are 3 shallots marketing channels in the District Wanasari, with details: Channel I that Farmers - collector - wholesaler - retailer - consumer, the farmer's marketing channels II - collectors - retailer - consumer, marketing channel III the farmer - retailer - consumer. (2) Margin onion marketing in District Wanasari in each marketing channel, namely: Channel I have a marketing margin of Rp10,500,00/kg, the second marketing channel for Rp8300,00/kg, the third marketing channel for Rp3,500,00/kg. (3) Farmer's largest share is in the third marketing channel by 77.41%. The smallest percentage of the cost is on the third line of 28.2%. The biggest percentage gain in the third marketing channel by 71.80%. (4) Marketing channels onion are the most efficient on the third line because it has the smallest index value of technical efficiency and economic efficiency largest index | |
| 10070 | 9874 | H1H009032 | KONVERSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) PADA SISTEM BIOFLOK DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TERIGU | Teknologi bioflok adalah teknik produksi yang memanfaatkan nitrogen menjadi biomassa bakteri (flok) dengan penambahan karbohidrat yang memperhatikan keseimbangan rasio C/N. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konversi pakan dan pertumbuhan ikan lele (Clarias gariepinus) pada sistem bioflok dengan penambahan tepung terigu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan. Ulangannya adalah jumlah individu (ikan) yang disampling tiap minggu sebanyak 40 ekor ikan tiap kolam.Adapun perlakuan yang diuji sebagai berikut: P1 : Tanpa penambahan tepung terigu pada kolam non bioflok (kontrol); P2 : Dosis penambahan tepung terigu pada kolam bioflok 15 g/m3; P3 : Dosis penambahan tepung terigu pada kolam bioflok 20 g/m3; P4 : Dosis penambahan tepung terigu pada kolam bioflok 25 g/m3. Penambahan dosis sumber karbohidrat didasari rasio C/N. Pemeliharaan benih dilakukan selama 35 hari di Kolam Percobaan Bioflok Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan Tekik, Universitas Jenderal Soedirman. Parameter penelitian meliputi konversi pakan dan pertumbuhan. Sedangkan parameter pendukungnya adalah kualitas air yang meliputi suhu, pH, dan total amoniak (TAN). Data dianalisis sidik ragam (Anova) dan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan nilai konversi pakan paling kecil yaitu pada kolam P3 (0,74).Pertumbuhan ikan lele pada sistem bioflok dengan perlakuan penambahan tepung terigu tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan lele, hasil pertumbuhan terbaik yaitu pada P1 (kontrol) (3,28 g) Pertumbuhan ikan lele sistem bioflok sangat dipengaruhi kondisi kualitas air utamanya Total Amoniak Nitrogen (TAN) pada minggu terahir pada P4 (1,02 ml/L). | Bioflok technology is production techniques that utilize nitrogen into bacterial biomass (FLOC) with the addition of carbohydrate that the balance ratio of C/N. The purpose of this study was to determine the feed conversion and growth of catfish (Clariasgariepinus) on bioflok system with the addition of flour. The method used in this study is the experimental method completely randomized design (CRD) with 4 (four) treatment. Deuteronomy it is the number of individuals (fish) were sampled every week as many as 40 fish per pond. The treatments were tested as follows : P1 : Without the addition of wheat flour in an non bioflok (control) ; P2 : Dose addition of wheat flour on an bioflok 15 g/m3 ; P3 : Dose addition of wheat flour on an bioflok 20 g/m3 ; P4 : Dose addition of wheat flour on an bioflok 25 g/m3 . The addition of carbohydrate source dose based on C/N ratio . Maintenance seeds for 35 days in Swimming Experiment Bioflok Department of Fisheries and Marine Resources , Faculty of Science and Engineering , University of General Soedirman . Research parameters include feed conversion and growth . While supporters are watr quality parameters which include temperature , pH , and total ammonia (TAN) . Data analysis of variance (ANOVA) and Tukey's test further . The results showed the smallest value of feed conversion is the pool P3 (0.74). Growth catfish on bioflok system with the addition of flour treatment did not affect the growth of catfish , the best growth results are in P1 (control) (3.28 g). Growth catfish bioflok system is influenced primarily water quality conditions Total Ammonia Nitrogen (TAN) in the last week on P4 (1.02 ml/L). | |
| 10071 | 9875 | A1H010032 | KESERAGAMAN DISTRIBUSI PEMBERIAN LARUTAN NUTRISI PADA PRODUKSI BENIH KENTANG (Solanum tuberosum L.) SECARA AEROPONIK DI DATARAN RENDAH | Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang mendapat prioritas untuk dikembangkan di Indonesia. Kendala utama adalah faktor ketersediaan kentang yang masih terbatas. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi bibit kentang adalah dengan sistem aeroponik. Aeroponik adalah memberdayakan udara, dimana akar tanaman dibiarkan menggantung di udara dan air yang berisi larutan hara disemburkan sampai mengenai akar tanaman. Kabut yang dihasilkan nozzle dapat mempengaruhi produksi tanaman, sehingga keseragaman dalam pemberian nutrisi penting diperhatikan dalam budidaya aeroponik. Keseragaman aplikasi air merupakan salah satu faktor penentu efisiensi irigasi. Perancangan jarak antar nozzle dan cara peletakan nozzle yang tidak tepat pada sistem aeroponik menyebabkan tanaman akan tumbuh tidak seragam dan terjadi pemborosan nutrisi yang menyebabkan tanaman kekurangan pasokan nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendapatkan koefisien keseragaman distribusi pada pemberian larutan nutrisi produksi benih kentang dalam box aeroponik, 2) mengetahui persebaran pemberian larutan nutrisi produksi benih kentang secara spasial. Tiga susunan rak berisi 12 titik pada rak atas, 12 titik pada rak tengah dan 12 titik pada rak bawah, rak dimasukkan dalam box dimana setiap titik tersebut diletakkan wadah yang digunakan untuk menampung air yang keluar dari nozzle pada saat penyemprotan. Interval waktu untuk pemberian nutrisi pada tanaman pada pagi hari yaitu 16 menit on 4 menit off dan pada malam hari 7 menit on 7 menit off. Keseragaman distribusi pemberian larutan nutrisi pada produksi benih kentang dalam box aeroponik adalah belum optimal, dengan nilai koefisien keseragaman pada interval waktu 16 menit on 4 menit off dan hari 7 menit on 7 menit off sebesar 75% dan 70,83%. Persebaran pemberian larutan nutrisi pada produksi benih kentang secara aeroponik tidak seragam, yang digambarkan pada distribusi spasial jumlah larutan nutrisi yang tertampung pada grid rak atas, rak tengah dan rak bawah. | Potato (Solanum tuberosum L.) is one of the vegetables that are given priority for developed in Indonesia. The main constraint is the availability of the potato is still limited. One way to increase the production of potato seed is the aeroponic system. Aeroponics is to empower the air, where the plant roots are left hanging in the air, and water containing a nutrient solution sprayed to the plant roots. Fog produced by nozzle can affect crop production, so that uniformity in spraying of nutrients should be considered in aeroponic cultivation. The uniformity of water application is one of the determining factors of irrigation efficiency. The design of the distance between the nozzle and ways of improper nozzle position on aeroponics system causing low uniformity growth of plant. It is also causes nutrient waste. The purpose of this research are 1) to get coefficient of uniformity in spraying nutrient solution in aeroponics potato seed production box, 2) to know the spatial distribution of nutrient solution in the box. Three stacking (top, middle, bottom) contains 12 point in the top rack, middle rack, and bottom rack, respectively. The racks is included in the box in which every point is placed containers used to hold water that comes out of the nozzle when spraying. The time interval for provision of nutrient solution to the plant in the morning is 16 minutes on and 4 minutes off while at night 7 minutes on and 7 minutes off. Distribution of nutrient solution on seed potato production in aeroponics box is not optimal, with a coefficient of uniformity of 16 ; 4 and 7 ; 7 is 75% and 70.83%, respectively. The spread of nutrient solution on seed potato production in aeroponics is low uniformity, which is depicted on the spatial distribution of the water hold by reservoir on each. | |
| 10072 | 11319 | G1A011037 | Perbedaan Nilai VO2MAX Sebelum dan Sesudah 5 Minggu Sprint Interval Training pada Anggota UKM Olahraga Kedokteran Unsoed | Latar Belakang: Daya tahan kardiorespirasi merupakan komponen penting pada kesegaran jasmani. Orang dengan kesegaran jasmani yang baik memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang dan menurunkan risiko kematian di usia lanjut. VO2MAX merupakan indikator objektif terbaik untuk daya tahan kardiorespirasi. VO2MAX dapat ditingkatkan dengan latihan fisik, salah satunya dengan latihan interval berintensitas tinggi. Salah satu jenis latihan interval berintensitas tinggi adalah Sprint Interval Training. Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai VO2MAX sebelum dan sesudah 5 minggu Sprint Interval Training pada anggota UKM Olahraga Fakultas Kedokteran Unsoed. Metode: Desain penelitian ini adalah eksperimental menggunakan pre and post test design tanpa kontrol. Subjek merupakan mahasiswa yang terdaftar dalam UKM Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman yang berusia 18-25 tahun dengan rentang IMT 19-25 kg/m2 dan beraktivitas fisik sedang. Metode sampling yang digunakan adalah non probability sampling yaitu consecutive sampling. Total subjek 34 orang. Perkiraan nilai VO2MAX diukur sebelum dan sesudah 5 minggu Sprint Interval Training menggunakan Mulltistage Bleeptest. Hasil: Analisis univariat didapatkan nilai rerata VO2MAX sebelum perlakuan yaitu 35,74 ± 0,79 ml/kg/menit. Nilai rerata VO2MAX setelah perlakuan yaitu 44,80 ± 0,94 ml/kg/menit. Analisis bivariat didapatkan perbedaan yang signifikan nilai VO2MAX sebelum dan sesudah 5 minggu Sprint Interval Training (p<0,001). Kesimpulan: Terdapat perbedaan rerata nilai VO2MAX sebelum dan sesudah 5 minggu Sprint Interval Training pada anggota UKM Olahraga Fakultas Kedokteran Unsoed. | Background: Cardiorespiratory endurance is the most important component in physical fitness. People who have good physical fitness have longer life expectancy and lower risks of death in old age. VO2MAX is a best objective indicator for cardiorespiratory endurance. VO2MAX can be improved by physical activity or exercise, one of the following effective and time-efficient exercise is high intensity interval training (HIIT). One type of HIIT is Sprint Interval Training (SIT). Objective: The aim of this study was to know the effect of 5 weeks Sprint Interval Training on VO2MAX in Medical Students of Jenderal Soedirman University. Methods: This study was an experimental study, with a pre and post test design without control. The subject was student of Medical Faculty, aged 18-25 years old with Body Mass Index 19-25 kg/m2 and moderately active. The sampling method was non probability sampling, consecutive sampling with 34 subjects. VO2MAX measured before and after 5 weeks Sprint Interval Training using Mulltistage Bleeptest. Result: Univariat analysis showed mean of VO2MAX before training was 35,74 ± 0,79 ml/kg/min. Mean of VO2MAX after training was 44,80 ± 0,94 ml/kg/min. Bivariat analysis showed significant effect of 5 weeks Sprint Interval Training on VO2MAX (p<0,001). Conclusion: There was an effect of 5 weeks Sprint Interval Training on VO2MAX in Medical Students of Jenderal Soedirman University. | |
| 10073 | 11320 | A1L011129 | PENGARUH PEMBERIAN GIBERELIN (GA3) PADA BERBAGAI KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN AWAL JERUK KUNCI (Citrfortunella microcarpa Bunge.) | Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi giberelin (GA3)terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal jeruk kunci (Citrofortunella microcarpa Bunge.), 2) Mengetahui pengaruh lama perendaman benih dalam larutan giberelin (GA3) terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal jeruk kunci 3) Mengetahui pengaruh interaksi antara konsentrasi dan lama perendaman giberelin (GA3) terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal jeruk kunci. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa TengahdanLaboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dengan ketinggian tempat 110 meter di atas permukaan laut pada bulan November sampai dengan Januari 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial terdiri dari atas 12 perlakuan yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah konsentrasi giberelin terdiri dari 4 taraf yaitu 0, 50, 75 dan 100 ppm. Faktor kedua adalah lama perendaman terdiri dari 3 taraf yaitu 2, 4 dan 6 jam. Data dianalisis dengan uji F, apabila hasil berbeda nyata antar pelakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa giberelin dengan konsentrasi 50 ppm adalah yang terbaik dalam meningkatkan daya kecambah, tinggi tanaman, panjang akar dan volume akar. Lama perendaman biji jeruk kunci dalam larutan giberelin (GA3) tidak berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan. Interaksi perlakuan lama perendaman dan berbagai konsentrasi larutan giberelin (GA3) tidak berpengaruh terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal jeruk kunci. | The research was amied to know 1)the effect of different concentrations of gibberellin on germination and early growth of key citrus (Citrofortunella microcarpaBunge.), 2) the effect of seed soaking periods in solution gibberellin on germination and early growth of key citrus, 3) the interaction between concentration and seed soaking periods gibberellin on germination and early growth of key citrus. The research was carried out in the Kelurahan Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ,Laboratory of Agronomy and Horticulture the Faculty of Agriculture, Jenderal SoedirmanUniversityPurwokerto,at 110 meters above sea level from November to January 2015. This experiment used Randomized Block Design which consisted of 12 treatments repeated three times. The first factor was the concentration of gibberellin with 4 levels i.e 0, 50, 75 and 100 ppm.The second factor was composed of seed soaking periods with 3 levels i.e 2, 4 and 6 hours. The data were analyzed by F test, if the results were significantly different between treatments followed by Least Significant Difference test (LSD) at 5% level. The results of research showed that concentration of 50 ppm gibberellin was the best in improving germination, plant height, root length and root volume. Seed soaking periods in gibberellins had no effect on all variables. The interaction between several concentrations and gibberellin seed soaking periods had no effect on germination and early growth of key citrus. | |
| 10074 | 11321 | A1L011133 | PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN LARUTAN NAA TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK BATANG TANAMAN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav) | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh konsentrasi larutan NAA terhadap pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav), 2) mengetahui pengaruh lama perendaman larutan NAA terhadap pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav), serta 3) mengetahui interaksi antara konsentrasi dan lama perendaman larutan NAA terhadap pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav). Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kedung Wuluh, Kecamatan Purwokerto Barat pada ketinggian tempat 80 m dpl. Penelitian ini dimulai dari 29 Oktober 2014 hingga 21 Januari 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 dengan 9 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah 3 taraf konsentrasi larutan NAA (100 ppm, 150 ppm, 200 ppm), dan faktor kedua adalah 3 taraf lama perendaman dalam larutan NAA (15 menit, 30 menit, dan 45 menit). Variabel pengamatan terdiri dari: persentase keberhasilan setek, saat tumbuh tunas, jumlah daun tunas, jumlah mata tunas, panjang tunas, luas daun tunas, berat segar tunas, berat kering tunas, jumlah akar, panjang akar terpanjang, volume akar, berat segar akar, berat kering akar. Data dianalisis menggunakan uji F, apabila ada beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pengaruh pada perlakuan konsentrasi dan lama perendaman larutan NAA terhadap pertumbuhan setek batang tanaman sirih merah. Interaksi konsentrasi dan lama perendaman larutan NAA berpengaruh terhadap variabel saat tumbuh tunas, namun tidak berpengaruh terhadap variabel lain. | This research aims to understand: 1) the influence of the concentration of a solution NAA on the growth of the Red Betel stem cutting (Piper crocatum Ruiz & Pav), 2) the influence of long immersion solution NAA on the growth of the Red Betel stem cutting (Piper crocatum Ruiz & Pav), and 3) an interaction between concentration and soaking NAA solution which on the growth of the Red Betel stem cutting (Piper crocatum Ruiz & Pav). The research was conducted in kelurahan Kedung Wuluh, in Purwokerto West at the height of 80 meters above sea level. The research began from October 29th, 2014 until January 21th, 2015. This research used the Randomised Block Design (RBD) faktorials 3 x 3 by 9 combination and 3 replication. The first factor is the 3 levels concentration NAA solution (100 ppm, 150 ppm, and 200 ppm), and the second factor is the 3 level long immersion on NAA solution (15 minute, 30 minute, and 45 minute). The observerd variabels consist of: bud growth time, shoots lenght, number of leaves bud, number of shoots, leaf area, shoot wet and dry weight, number of roots, maximum root lenght, volume of roots, root wet and dry weight, and life percentage of cutting. The F test was used to analyze the data and continued by LSD and Regression test. The result showed that concentration and long immersion treatments did not effect on the Growth of Red Betel stem cutting. The interaction of the treatment concentration and long immersion on NAA solution did effect on the growing bud, but did not effect on the other variables. | |
| 10075 | 11450 | H1D010017 | KEKUATAN DINDING PANEL BETON TULANGAN BAMBU DENGAN VARIASI JARAK ANTAR TULANGAN DAN BAHAN TAMBAH ABU SEKAM 10% | Peningkatan kebutuhan akan rumah dan bangunan gedung berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan akan bahan bangunan. Hal ini memungkinkan dilakukannya pengembangan bahan bangunan alternatif sebagai pengganti bahan bangunan konvensional yang sudah semakin terbatas. Salah satu bahan bangunan alternatif yang sedang dikembangkan adalah dinding panel beton menggunakan tulangan bambu dengan memanfaatkan limbah abu sekam padi Abu sekam padi sebagai bahan campuran memiliki banyak kelebihan dibandingan dengan material lain yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan dinding panel. Selain itu pemanfaatan abu sekam padi untuk pembuatan dinding panel juga dapat mengurangi jumlah limbah abu sekam padi yang ada. Pada kajian ini dilakukan pengujian dinding panel beton menggunakan variasi tulangan bambu. Parameter pengujian dinding panel beton yang dilakukan meliputi kekuatan lentur dari dinding panel beton tulangan bambu dan kekuatan lentur bahan pembanding konvensional berupa GFRC (Glass Fibre Reinforced Cement) dan Gypsum Board. Serta mengetahui pola retak dari dinding panel beton tulangan bambu. Penelitian ini dilakukan dengan membuat dinding panel beton berukuran 320 mm x 620 mm x 15 mm menggunakan variasi jarak tulangan bambu 5 cm ; 7,5 cm ; 10 cm dan 15 cm. Hasil pengujian yang didapat menunjukkan bahwa dinding panel tulangan bambu dengan bahan tambah abu sekam 10% tidak dapat melampaui kekuatan dinding panel konvensional GFRC (Glass Fibre Reinforced Cement) dan Gypsum Board yang memiliki kekuatan lentur sebesar 26,67 kg, dikaraenakan nilai rasio perbandingan masing-masing dinding panel hanya di bawah satu. Pengaruh besarnya kekuatan dinding panel di pengaruhi oleh jarak antar tulangan, dimana penggunaan jarak tulangan yang semakin jauh menghasilkan nilai kuat lentur yang rendah ini membuktikan bahwa pengaruh tulangan bambu bekerja terhadap beban lentur. Pola keretakan yang terjadi dikategorikan sebagai retak lentur karena retak tipikal terjadi hamper tegak lurus pada sumbu struktur dan terjadi pada daerah momen lentur yang besar. | The increase about needs of property is directly proportional to material construction needs. It provide a probability of developing alternative material construction as a conventional material replacement. One of the alternative materials which is developed are concrete panel with bamboo reinforcement and making the best use of rice husk ash. Rice husk ash as an admixture material has a lot of overplus than the common materials. Beside that, by using rice husk ash to make a wall panel could reduce a compost heap. In this research, bamboo reinforced concrete wall panel would be tested in several variant space of reinforement. The testing parameter is comparison between flexural strength of bamboo reinforced concrete wall panel and flexural strength of conventional panel like GFRC (Glass Fibre Reinforce Cement) dan Gypsum Board. It also shows the failure pattern of bamboo reinforced concrete wall panel. This research was working by making some concrete wall panels 320mm x 620mm x 15mm with different space of bamboo reinforcement; 5cm, 7,5cm, 10cm and 15cm (DBS10 ; DBS7,5 ; DBS10 and DBS15). The result is bamboo reinforced concrete wall panel with 10% rice husk ash can not pass over the strength of conventional panel with GFRC (Glass Fibre Reinforce Cement) and Gypsum Board which has 26,67 kgs in flexural strength, due to ratio value of each panel less than one. The strength of wall panel is influenced by space of each bamboo. The more farther the space is, the lower value of flexural strength would be got. It proved that bamboo reinforcement effected to bending loads. The failure pattern is categorized as a bending crack for a typical crack took place at the huge bending moment which had almost upright failure pattern. | |
| 10076 | 9876 | A1L009116 | PENGUJIAN BEBERAPA ISOLAT BAKTERI Pseudomonas fluorescens TERHADAP LARVA ULAT GRAYAK ( Spodoptera litura ) | Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengetahui patogenisitas bakteri Pseudo-monas fluorescens untuk mematikan larva Spodoptera litura, (2) Mengetahui instar larva Spodoptera litura yang rentan terhadap perlakuan bakteri P. fluorescens, (3)Memperoleh hasil isolat bakteri yang efektif untuk ulat S. litura. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian dilaksanakan selama 7 bulan, dari bulan Maret hingga Oktober 2013. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor pertama terdiri dari enam taraf (bakteri P. fluorescens P8, P. fluorescens P16, P. fluorescens P60, bakteri ulat (BESE), Insektisida kimia (profenofos), dan kontrol) dan faktor kedua adalah instar larva (instar 2, 3, dan 4). Percobaan diulang 3 kali. Percobaan kedua adalah pengaruh aplikasi P. fluorescens terhadap peletakan dan fertilitas telur. Perlakuan terdiri dari enam perlakuan termasuk kontrol (bakteri P. fluorescens P8, P. fluorescens P16, P. fluorescens P60, bakteri ulat (BESE), insektisida kimia (profenofos), dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri P. fluorescens P8, P. fluorescens P16 , P. fluorescens P60, bakteri ulat (BESE), mampu menyebabkan mortalitas pada larva sebesar 63,3, 66,7, 71,2, dan 72,2 persen Bakteri P. fluorescens tidak dapat menekan peletakan telur. Walaupun demikian, bakteri tersebut mampu menekan fertilitas telur. | The goal of this research was to: 1) Assess the pathogenicity of the bacterium Pseudomonas fluorescens on larvae of Spodoptera litura, (2) Determine instar larvae of S. litura were susceptible to the bacterium Pseudomonas fluorescens treatment, (3) Obtain effective results for bacterial isolates S. litura. The experiment was conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, General Soedirman University, Purwokerto. The experiment was conducted for 7 months, from March to October 2013. Experimental design used a factorial randomized block design. The first factor consisted of six level (the bacteria P. fluorescens P8, P. fluorescens P16, P. fluorescens P60, (BESE), chemical insecticide (profenofos), and control) and the second factor was instar larvae (instar 2, 3, and 4) . The experiment was repeated 3 times. The second experiment was effect of P. fluorescens application on egg laying and fertility. Consisted of five treatments including the control (bacteria P. fluorescens P8, P. fluorescens P16, P. fluorescens P60, (BESE), chemical nsecticides (profenofos), and control. Results showed P. fluorescens isolate P8, P16 P. fluorescens, P. fluorescens P60, bacterial caterpillar (BESE), capable of causing mortality of larvae was 63.3, 66.7, 71.2, and 72.2 percent. P. fluorescens can not suppress egg laying. However, the bacteria was able to suppress the fertility of eggs. | |
| 10077 | 9879 | A1L009109 | PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR BASIS BIOMASSA Azolla microphylla 40 % TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum L) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) konsentrasi POC Basis Biomassa Azolla microphylla 40% (Am) optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah, (2) varietas menunjukkan respon pertumbuhan dan hasil terhadap pemberian konsentrasi POC Basis Biomassa Azolla microphylla 40% (Am), dan (3) ada tidaknya interaksi antara perlakuan konsentrasi POC Basis Biomassa Azolla microphylla 40% dengan varietas cabai merah yang dicoba. Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Karangwangkal, Purwokerto Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2013. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor yang dicoba dalam penelitian ini adalah macam varietas cabai merah terdiri dari 2 jenis yaitu V1 = TM 999 dan V2 = Laris dan faktor pemberian konsentrasi pupuk organik cair (POC) Basis Biomassa Azolla microphylla 40% yang terdiri dari 4 jenis yaitu K0 = 0 ml/l (kontrol), K1 = 3 ml/l, K2 = 6 ml/l dan K3 = 9 ml/l. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm), jumlah bunga (bunga), berat basah buah (g), berat kering buah (g) dan jumlah buah panen (buah). Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji F, jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji DMRT pada tingkat kepercayaan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemberian POC Basis Biomassa Am 40% pada konsentrasi 0 ml/l, 3 ml/l, 6 ml/l dan 9 ml/l tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah, (2) varietas cabai merah yang menunjukkan respon yang terbaik adalah varietas TM 999. TM 999 dapat menghasilkan berbeda sangat nyata pada tinggi tanaman sebesar 95,50 cm, bobot buah basah sebesar 4,128 g, berat kering buah sebesar 1,981 g dan jumlah buah pertanaman sebesar 2,809 buah, (3) tidak terjadi interaksi antara perlakuan konsentrasi POC Basis Biomassa Am 40% dengan varietas yang dicoba, sehingga belum diketahui konsentrasi perlakuan yang ideal. | This research aimed to know (1) optimal concentration of Azolla microphylla 40 % (Am) based biomass liquid fertilizer to the growth and yield of red chili, (2) varieties of red chili showed good response to concentration of Am 40 % based biomass liquid fertilizer, and (3) any interaction between application of Am 40 % based biomass liquid fertilizer and variety of red chili. The research was experimentally which was implemented at screen house at Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Karangwangkal, Purwokerto from July to December 2013. The research was employed RCBD with two factors. First factor was concentration of Am 40 % based biomass liquid fertilizer : (i) K0 = 0 ml/l (control), (ii) K1 = 3 ml/l, (iii) K2 = 6 ml/l and (iv) K3 = 9 ml/l. Second factor was variety of red chili namely V1=TM 999 and V2=Laris. The variables measured were height of plant (cm), stem diameter (cm), sum of flowers, fresh fruit weight basis (g), dry fruit weight basis (g), and the total (sum) of the frui/plant. Data was statiscally tested by the used of F-test, there that was followed by LSD-test to knew of any significantly different. The result of research were : (i) application concentration 0 ml/l, 3 ml/l, 6 ml/l and 9 ml/l of Am 40% based biomass liquid fertilizer was not affected to the growth and yield of red chili, (ii) the variety of TM 999 was showed the best response to liquid fertilizer. That plant achieved the highest plant of 95,50 cm, dry and fresh fruit basis were highest at 1,98 g and 4,13 g, and the sum of total yield was 2,81/plant, and (iii) there was no interaction between the application concentration of Am 40% based biomass liquid fertilizer and the variety of red chili. By this study, there could not be achieved which concentration of Am 40% based biomass liquid fertilizer was the best application to the plant. | |
| 10078 | 9878 | H1I012003 | Pertumbuhan Mutlak dan Retensi protein Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dengan Pemberian Pakan Pellet Berbahan Baku Tanaman Air yang Berbeda | Tanaman air merupakan bahan baku alternatif dalam pembuatan pellet ikan karena mempunyai nilai gizi tinggi. Tujuan penelitian, mengetahui pengaruh pellet berbahan baku tanaman air terhadap pertumbuhan mutlak dan retensi protein ikan gurami dan pellet berbahan baku tanaman air terbaik. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yaitu P0 (pellet tanpa tanaman air), P1 (pellet berbahan baku Azolla microphylla), P2 (pellet berbahan baku Lemna minor) dan P3 (pellet berbahan baku Hydrilla verticillata). Gurami dipelihara selama 30 hari dengan dosis pemberian pakan 2% dari biomassa ikan. Variabel yang diamati yaitu pertumbuhan mutlak dan retensi protein. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan mutlak dan retensi protein tidak berbeda (P>0,05) diantara perlakuan yang dicobakan. Pertumbuhan mutlak P0 (1,33±0,35 g), P1 (0,71±0,53 g), P2 (1,24±0,74 g) dan P3 (0,75±0,17 g), retensi protein P0 (7,91±19,50%), P1 (6,78±10,95%), P2 (7,24±18,88%) dan P3 (5,20±12,35%). Ikan gurami yang diberi pellet berbahan baku Azolla microphylla, Lemna minor, dan Hydrilla verticillata memiliki respon yang sama terhadap pertumbuhan dan retensi protein ikan gurami dengan pellet tanpa tanaman air. Tepung Azolla microphylla, Lemna minor, dan Hydrilla verticillata dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pellet ikan. | Aquatic plant is an alternative of raw materials in making of fish pellets because it has high nutritional value. The aims of this research were to know the influence of pellets were made by water plants for absolute growth, protein retention of giant gouramy, and the best pellets were made by aquatic plants. The study used an experimental methods. The research was arranged by completely randomized design with four treatments and four repetition. There were four treatments, P0 (pellets without aquatic plant), P1 (pellets which made by Azolla microphylla), P2 (pellets which made by Lemna minor), and P3 (pellets which made by Hydrilla verticillata). The fishes was maintained for 30 days with a dose of feeding 2% from fish biomass. There were two variables was observed, absolute growth and protein retention. The results showed that absolute growth and protein retention were not significant (P>0,05) among the treatment which tested. Absolute growth of P0 (1,33±0,35 g), P1 (0,71±0,53 g), P2 (1,24±0,74 g) and P3 (0,75±0,17 g), protein retention P0 (7,91±19,50%), P1 (6,78±10,95%), P2 (7,24±18,88%) and P3 (5,20±12,35%). The giant gouramy fed pellets was made by Azolla microphylla, Lemna minor, and Hydrilla verticillata have the same response for growth value and protein retention value with the giant gouramy fed pellets without aquatic plant. The flour of Azolla microphylla, Lemna minor, and Hydrilla verticillata can be used raw materials in making of fish pellets. | |
| 10079 | 9877 | A1G011017 | DAMPAK PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI DESA JATIMULYO KECAMATAN ALIAN KABUPATEN KEBUMEN | Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2013 jumlah penduduk miskin tercatat 28,07 juta jiwa atau 11,37 %. Sekitar 17,74 juta jiwa dari jumlah tersebut berada di perdesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan 80% berada pada skala usaha mikro yang memiliki luas lahan lebih kecil dari 0,3 hektar. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan program nasional dalam rangka pengentasan kemiskinan pada sektor pertanian yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian sejak tahun 2008. Program ini tidak hanya berupa pemberian dana bantuan penguatan modal kepada petani melalui Gapoktan saja, namun juga ada pelatihan dan penyuluhan dari penyuluh pertanian untuk mengatasi permasalahan yang ada. Tujuan penelitian adalah mengetahui dampak program PUAP terhadap produksi padi dan mengetahui dampak program PUAP terhadap pendapatan petani padi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Pengambilan data mulai 3 Maret hingga 3 Juni 2014 pada petani anggota Gapoktan Tanimulyo di Desa Jatimulyo. Penentuan responden menggunakan simple random sampling. Jumlah petani yang menjadi responden dalam penelitian ini sebanyak 52 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani padi setelah adanya bantuan program PUAP lebih menguntungkan dibandingkan usahatani sebelum adanya bantuan program PUAP. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa produksi sebelum adanya program PUAP sebesar 5.545 kg/ha dan setelah program PUAP 5.719 kg/ha. Biaya produksi rata-rata yang dikeluarkan petani padi sebelum program PUAP Rp 6.446.949/ha dan setelah program PUAP sebesar Rp 8.017.928/ha. Harga jual padi sebelum program PUAP Rp 3.000 per kilogram dan setelah program PUAP sebesar Rp 4.300 per kilogram. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa penerimaan rata-rata sebelum program PUAP yang diperoleh petani padi sebesar Rp 16.635.000/ha dan setelah program PUAP Rp 24.591.700/ha. Uji t dengan tingkat kesalahan (α)= 0,05, menunjukan usahatani padi sebelum dan sesudah adanya program PUAP terdapat perbedaan pendapatan. | Data from the Central Agency on Statistics (BPS) in march 2013 poor population recorded 28,07 million people or 11,37 %. Around 17,74 million of these are in the rural areas with the main livelihoods in agriculture and 80% are on the scale of micro enterprises which have a land area smaller than 0,3 hectares.Rural agribusiness development program ( PUAP ) is a national program in order poverty reduction in the agricultural sector that has been performed by Ministry of Agriculture since 2008. This program is not only a strengthening of capital grants to farmers through Gapoktan course, but there are also training and extension of agricultural extension to overcome the existing problems. Research purposes is to know the impact programs PUAP of rice production and knowing the impact of programs PUAP farmers income of rice. Research used are survey. Retrieval of data started on 3 March until 3 June 2014, on farmers Gapoktan Tanimulyo members in Jatimulyo Village. Determination of the respondents use simple random sampling. The number of farmers who were respondents in this research as many as 52 people. The results showed that rice farming after the aid program is more profitable than farming PUAP before PUAP assistance program. Based on the calculations can be seen that production of before the presence of program PUAP of 5.545 kg/ha and after program PUAP 5.717 kg/ha. The average cost of production incurred rice farmers before program PUAP Rp 6.446.949/ha and after program PUAP Rp 8.017.928/ha. The selling price of rice before program PUAP Rp 3,000 per kg and after program PUAP Rp 4.300 per kg. Based on calculations be seen that the average revenues before the program PUAP obtained farmers rice Rp 16.635.000/ha and after program PUAP Rp 24.591.700/ha. Test t with error rate (α)= 0,05, indicating rice farming before and after program PUAP there are differences income. | |
| 10080 | 9880 | F1G010052 | Karakteristik Cablaka dalam Naskah-Naskah Drama Karya Edi Romadhon | Skripsi ini berjudul Karakteristik Cablaka dalam Naskah-Naskah Drama Karya Edi Romadhon. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dialog, perwatakan tokoh dan alur, serta mendekskripsikan karakteristik cablaka dalam naskah-naskah drama karya Edi Romadhon. Metode yang digunakan untuk menganalisis adalah metode deskriptif analisis pendekatan Antropologi Sastra. Teknik pengumpulan data dengan cara membaca naskah berulang-ulang, menginventarisasi unsur intrinsik yang memuat karaktersistik cablaka dalam naskah, dan mengklasifikasikan data. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mendeskripsikan karakteristik cablaka dalam data, mendeskripsikan hasil analisis data serta menyimpulkan karakteristik cablaka dalam data. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam naskah-naskah drama karya Edi Romadhon memuat karakteristik cablaka. Hal itu disebabkan oleh latar belakang sosial pengarang sebagai sastrawan kelahiran Ajibarang Banyumas. Karakteristik cablaka dalam naskah-naskah drama karya Edi Romadhon dapat dilihat melalui dialog antartokoh, perwatakan tokoh dan alur. Setting Banyumas juga sangat jelas digambarkan melalui ulasan mitologi serta kepercayaan masyarakat Banyumas, pepatah Banyumas juga cerita rakyat dari Kabupaten Banyumas. | This thesis is entitled “Karakteristik Cablaka dalam Naskah-Naskah Drama Karya Edi Romadhon.” The research is aimed to describing dialogues, characterization, plot, and cablaka characteristics. Then the method, which was used to analyze them, was a descriptive analysis method Anthropology approach. The data-capture techniques in this research were done by means of reading the script over and over, listing intrinsic parts that contain of cablaka characteristics in the script, and clasifying the data. The data analysis technique was done by means of describing cablaka characteristics related the data, describing data analysis result, and concluding cablaka characteristics based on the data. The result showed that Edi’s drama scripts contain of cablaka characteristics. It was caused by the social background of the writer as a man of letters that was born in Ajibarang Banyumas. The cablaka characteristics in drama scripts by Edi Romadhon can be seen through the dialogue among the characters, characterization, and plot. Setting of place in Banyumas is also clearly defined through mitology review, the belief of Banyumas people, Banyumas proverbs, and Banyumas folklore. |