Artikelilmiahs

Menampilkan 6.341-6.360 dari 48.852 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
634116161F1B009008KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP PROGAM CAR FREE DAY DI PURWOKERTOCar free day atau hari bebas kendaraan bermotor adalah sebuah program Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas yang bertujuan untuk menambah ruang terbuka hijau (RTH) yaitu untuk meningkatkan kualitas lingkungan serta penghematan konsumsi bahan bakar yang intinya mengurangi polusi udara di Purwokerto. Dalam pelaksanaannya, car free day di Purwokerto masih terdapat beberapa permasalahan, antara lain ketepatan jadwal selesainya car free day, tataan parkir yang tidak rapih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan kepuasan masyarakat pengunjung Car Free Day di Purwokerto Studi Pada Pelaksanaan Perda Kabupaten Banyumas No. 10 Tahun 2011 mengenai setiap wilayah wajib menyediakan 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan sekitar kawasan car free day di alun – alun Purwokerto. Responden dalam penelitian ini adalah para pengguna program car free day di kawasan alun – alun Purwokerto. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan melakukan observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yng dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain.
Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan car free day di Jalan Jend Soedirman Purwokerto dilihat dari kepuasan masyarakat yang dikemukakan oleh Garvin secara keseluruhan sudah dilaksanakan namun masih terdapat kendala. Sasaran dan tujuan sudah tercapai namun beberapa standar kebijakan masih belum tercapi dalam 7 aspek yaitu kinerja (performence), kesesuaian desain spesifikasi (conformence of spesification), ciri – ciri atau keistimewaan ( features), keandalan (reliability), estetika (esthetic), kualitas yang dipersepsikan (perveied qulity), dan service abilty.

Car free day is a program which is held by Banyumas Regency Department of Transportation that aims to increase the green-open space (Ruang Terbuka Hijau) or (RTH). Specifically, it also aims to improve the environment quality and fuel consumption savings that essentially reduce air pollution in Purwokerto. In implementation, there are still some problems on the car free day in Purwokerto. They are the completion schedule accuracy and park settings that are not neatly. The purpose of this study is to describe people's satisfaction as Car Free Day visitors in Purwokerto. Study is on Implementation of Banyumas Regency Regulation No. 10 Year 2011 regarding each area is required to provide 30% of green open space (RTH).
This research is included as descriptive research with quantitative approach that carried around car free day area in the Purwokerto Main Square. Informants in this study were the participants of car free day program in the area of the Purwokerto Main Square. Data collection techniques was obtained by observation, questionnaire, and documentation. The Analysis technique that was used is quantitative-descriptive analysis which means the research is done on the independent variable, i.e the technique which is done without making comparisons or connect to other variables.
The result shows that the implementation of car free day at Jalan Jenderal Sudirman, Purwokerto which viewed from people satisfaction expressed by Garvin as an entirety has carried out but there are still obstacles. The goals and objectives have reached but some of standard policies were still not reached yet in seven aspects, i.e performance, the suitability of the design specification (conformance of specification), characteristics or privileges (features), reliability, aesthetic, perceived quality, and service ability.
634216182C1C012067ANALISIS PENGUKURAN KINERJA BERBASIS BALANCE SCORECARD

(Studi Kasus Pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Sehat RSUD Prof. Margono Soekarjo-Purwokerto)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja KPRI Sehat RSUD Prof. Margono Soekarjo dengan menggunakan metode balance scorecard. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena kinerja dalam suatu organisasi tidak hanya berdasarkan kinerja keuangannya (perspektif keuangan) saja namun juga berdasarkan aspek non keuangan (perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran)
Jenis penelitian ini adalah studi kasus pada KPRI Sehat RSUD Prof. Margono Soekarjo. Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu data primer yang berupa jawaban kuesioner kepuasan karyawan dan anggota serta hasil wawancara,dan juga data sekunder yang berupa laporan keuangan, laporan pertumbuhan anggota, gambaran umum KPRI Sehat RSUD Prof. Margono Soekarjo dan data lain yang menunjang penelitian ini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner, studi pustaka dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mengukur kinerja berdasarkan empat perspektif dalam balance scorecard kemudian mendeskripsikannya.
Hasil penelitian ini menunjukkan dari pengukuran terhadap empat perspektif pada balance scorecard dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja koperasi secara keseluruhan menunjukkan kondisi kinerja yang baik. Implikasi dari penelitian ini adalah penelitian ini menguatkan teori dibidang akuntansi manajemen, bahwa metode balance scorecard dapat diterapkan sebagai sistem pengukuran kinerja secara komperhensif di koperasi
The aim of the research is to determine KPRI Sehat RSUD Prof. Margono Soekarjo’s performances by using balance scorecard method. This research is important to be done because the performance in an organization is not only based on financial performance (financial perspective), but also by other aspects as customer perspective, internal business and learning and growth perspectives
Types of this research is case study at KPRI Sehat RSUD Prof. Margono Soekarjo. The data sources in this research were divided into two groups, first is primary data which are employee and members’ satisfaction survey question and interview along with secondary data which are financial statements, report of membership growth, an overview of KPRI Sehat RSUD Prof. Margono Soekarjo and other data that support this research. The data collection method in this research was based on questionnaires, literaturesreview, and interviews. Data analysis technique used is to measure performance based on four perspectives in balance scorecard. Balance scorecard analysis technique used is to measure performance based on four perspectives in balance scorecard and then describe it.
Based on results of research indicate measurement of the four perspectives in the balanced scorecard can be concluded that the overall performance of the cooperative showed good performance. The implication of this research is to bolster the theory in the field of management accounting, that the balance scorecard method can be applied as a comprehensive performance measurement system in a cooperative manner.
634316162C1G014060PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP) DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PADA KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE PRATAMA PURWOKERTODesain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain
kuantitatif dengan metode survei. Penelitian ini mengambil judul : ”Pengaruh Sistem
Pengendalian Intern pemerintah (SPIP) dan Kompetensi Sumber Daya Manusia
(SDM) terhadap Kualitas Pelayanan pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan
Cukai (KPPBC) Tipe Pratama Purwokerto”. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh sistem pengendalian intern pemerintah dan kompetensi sumber
daya manusia terhadap kualitas pelayanan. Populasi dalam penelitian ini adalah
pegawai dan/atau pejabat pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe
Pratama Purwokerto.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan aplikasi
SPSS (Statistical Package for Social Science) for Windows version 21 menunjukkan
bahwa: (1) Sistem Pengendalian Intern pemerintah berpengaruh positif terhadap
positif Kualitas Pelayanan, (2) Kompetensi Sumber Daya Manusia berpengaruh positif
terhadap Kualitas Pelayanan, (3) Sistem Pengendalian Intern Pemerintah dan
Kompetensi Sumber Daya Manusia secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap
Kualitas Pelayanan.
Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu perbaikan standar operasi dan prosedur
dan uraian tugas bagi para pegawai dan pejabat, keterbukaan dalam proses promosi,
remunerasi dan pemindahan pegawai, evaluasi secara terpisah atas kelemahan yang
ditemukan pada KPPBC Tipe Pratama Purwokerto. Selain itu, perlu juga untuk
memberikan pelatihan kepada para pegawai KPPBC Tipe Pratama Purwokerto dan
menambah sarana dan prasarana kantor guna menunjang pelayanan yang lebih baik
bagi para pengguna jasa.
This research entitled: "The Influence of Government Internal Control System
(SPIP) and Competence of Human Resources (HR) on the Quality of Service on Kantor
Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Pratama Purwokerto". The
purpose of this research was to determine the effect of the government internal control
system and human resource competencies to service quality. Based on the results of
research and data analyzing using SPSS (Statistical Package for Social Science) for
Windows version 21 determined that: (1) the Government Internal Control System has
positive effect on service quality, (2) Competence of Human Resources has positive effect
on the Quality of Service (3) Both the Government Internal Control System and the
Human Resource Competencies has positive effect on the Quality of Service
simultaneously.
The implications of this research are standard operations and procedures improvement
and job descriptions for the employee and managers, transparency in promotion process,
remuneration and rotation of the employee, separated evaluation on weakness in
Purwokerto KPPBC Tipe Pratama Purwokerto. In addition, it is also necessary to
provide training to KPPBC Tipe Pratama Purwokerto employee and enhance the office
facilities and infrastructure to support better services to stakeholders.
634416175P2BA14021DETEKSI MUTASI GEN pbp1A Helicobacter pylori YANG RESISTEN AMOXICILLIN PADA PASIEN DISPEPSIAABSTRAK

Amoxicillin adalah salah satu antibiotik yang digunakan dalam infeksi H. pylori. Penggunaan amoxicillin yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi H. pylori. Terjadinya mutasi gen pbp 1A pada H. pylori adalah penyebab dominan dari resitensi amoxicillin.
Tujuan : Mengevaluasi keberadaan H. pylori pada pasien dispepsia dengan metode non invasif HPSA (Helicobacter pylori stool antigen) dan invasif biopsi lambung dengan metode PCR amplifikasi gen pbp1A, serta mendeteksi mutasi gen pbp1A H. pylori yang resisten terhadap amoxicillin pada pasien dispepsia. Metode : Analisis 26 sampel feses dan 26 sampel biopsi lambung dari pasien dispepsia di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS. Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto. Amplifikasi DNA dilakukan dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) menggunakan primer gen pbp1A (penicillin binding protein) dengan panjang basa sekitar 800 base pair, selanjutnya dilakukan analisis titik mutasi dengan sekuensing DNA di First Base Malaysia Company.
Hasil : Dari 26 sampel dianalisis dengan uji non invansif HPSA diperoleh hasil negatif H. pylori. Metode PCR amplifikasi gen pbp1A didapatkan 12 sampel terdeteksi H. pylori. 14 sampel tidak munculnya pita kemungkinan terjadi karena dalam sampel biopsi tidak terdeteksi DNA H. pylori, hal ini mempertegas hasil uji HPSA. Analisis sekuensing DNA 12 sampel menunjukkan 2 sampel mengalami mutasi gen pbp1A di pbp motif ketiga yaitu perubahan asam amino Alanin599 menjadi Threonin, dan Threonin592 menjadi Alanin.
Kesimpulan : Metode deteksi H. pylori dengan PCR masih dinilai tetap lebih akurat dan spesifik. Penemuan adanya strain H. pylori mutan dari pasien dispepsia pada penelitian ini dapat menjadikan faktor resiko resistensi terhadap pengobatan amoxicillin.


Amoxicillin is one of the antibiotics commonly used for treatment H. pylori infection. Amoxicillin treatment may cause antibiotics resistance of H. pylori. pbp1A gene mutations in H. pylori are a dominant cause of amoxicillin resistance.
Aim : To evaluate the presence of H. pylori in patients with dyspepsia by using non-invasive method i.e. H. pylori stool antigen (HPSA) and invasive method i.e. gastric biopsy using PCR pbp1A gene amplification, and also evaluate the amoxicillin resistance of H. pylori by assessing gene mutations.
Method : Analysis of 26 feces and 26 gastric biopsies of patients with dyspepsia from Internal Disease of Prof. Dr. Margono Soekardjo Hospital in Purwokerto. DNA amplification was performed by PCR (Polymerase Chain Reaction) to detect the presence of pbp1A (penicillin binding protein) encoding gene with 800 base pairs, then the analysis of point mutations performed the by sequenced the DNA at First Base Malaysia Company.
Result : The data showed that a negative interpretation of H. pylori infected resulted from all feces samples by using non-invasive test HPSA. pbp1A gene amplification by using PCR obtained 12 positive samples of H. pylori infection. Total of 14 samples did not showed the positive interpretation, because there is no DNA bands emerged from biopsy samples of H. pylori, it reveals the test results HPSA. DNA sequencing analysis of 12 samples showed presence of two samples had mutations in the gene pbp1A PBP third motif that were amino acid changes Alanin599 into Threonin, and Threonin592 into Alanine.
Conclusion:
The detection of H. pylori infection by using PCR remains more accurate and specific method. The presence of H. pylori mutant strains of dyspeptic patients in this study may become the risk factors of resistance to amoxicillin treatment.
634516163F1J012050ANALISIS ISI PESAN MORAL DALAM ANIME “HEISEI TANUKI GASSEN PONPOKO” KARYA ISAO TAKAHATA
Penelitian ini membahas tentang Analisis Isi Pesan Moral dalam Anime Heisei Tanuki Gassen Ponpoko Karya Isao Takahata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan pesan moral yang muncul dalam anime Heisei Tanuki Gassen Ponpoko. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif. Anime ini dianalisis menggunakan teori struktural dan teori moral. Teori struktural digunakan untuk menganalisis sebagian unsur intrinsik sedangkan teori moral digunakan untuk mengungkapkan pesan moral yang muncul dalam anime tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada 3 pesan moral yaitu 1) pesan moral mengenai sikap dan kewajiban, 2) pesan moral mengenai akhlak dan budi pekerti, 3) pesan moral mengenai susila. Oroku dan Tsurugame mengajarkan para rakun untuk berkelakuan baik untuk menjaga lingkungan. Pembaca bisa belajar pesan moral kebaikan yang ada dalam anime.This study discusses the Analysis Contents of Moral Message in Anime Heisei Tanuki Gassen Ponpoko by Isao Takahata. The purpose of this study was to reveal the moral message that appears in the anime Heisei Tanuki Gassen Ponpoko. The method of this research is qualitative descriptive. The anime was analyzed using the structural theory and moral theory. Structural theory was used to analyze the intrinsic elements whereas most moral theory was used to express a moral message that appears in the anime. The results of this study indicate that there are three moral messages: 1) moral message about attitude and obligation, 2) moral message about morals and manners, 3) moral message about goodness of the moral. Oroku and Tsurugame teach raccoons to behave well to keep the environment. Readers can learn moral goodness in anime.
634616165F1J012010ANALISIS MAKNA WASEI EIGO BAHASA JEPANG Penelitian ini berjudul analisis makna wasei eigo bahasa Jepang. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna dan pemahaman wasei eigo oleh orang Jepang dalam bidang pariwisata. Metode yang digunakan adalah metode campuran, yaitu mendata 20 kosakata dari kamus Katakana Shingo Jiten dengan menggunakan teknik purposive sampling dan membagikan kuesioner kepada orang Jepang yang bekerja di bidang pariwisata. Analisis makna kata dilakukan dengan menggunakan kamus bahasa Jepang “Katakana Shingo Jiten” dan kamus bahasa Inggris “Cambridge Advanced Learner’s Dictionary”. Kedua kamus tersebut digunakan untuk mencari dan membandingkan makna kata dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Analisis dilakukan berdasarkan penggolongan karakteristik wasei eigo yang dikemukakan oleh Ishiwata Toshio. Ditemukan sepuluh data wasei eigo kategori kosakata majemuk yang dalam bahasa Inggris tidak digunakan, tiga data kategori wasei eigo yang mengalami perubahan makna, satu data wasei eigo yang mengalami penyingkatan bentuk kata, dan satu data wasei eigo dari kategori lain-lain. Hasil dari kuesioner adalah delapan data “maksud pembicaraan tidak tersampaikan jika menggunakan wasei eigo”, tiga data mengalami kebingungan saat menggunakaan wasei eigo. Berdasarkan hasil dari analisis angket, 11 data “menggunakan wasei eigo karena praktis”, dan satu data “wasei eigo bersifat keren”. Kesan orang Jepang terhadap wasei eigo adalah wasei eigo tetap digunakan karena praktis, walaupun wasei eigo dirasa cukup sulit dan membingungkan, karena tidak ada yang menjawab “wasei eigo mengganggu” dan “wasei eigo tidak dibutuhkan’. Arus globalisasi tidak dapat dihentikan, sehingga wasei eigo tidak dapat dihapuskan dari bahasa Jepang. This research’s title is “Analysis of Meaning of Japanese’ Wasei Eigo”. The purpose of this research is to describe the meaning of wasei eigo and the understanding of it by Japaneses in the field of tourism. The used methods are mix methods, then 20 words were collected from the “Katakana Singo Jiten” dictionary by using the purposive sampling technique. The questionnaire was distributed to the Japanese people who worked in the field of tourism. The analysis of meaning used Japanese dictionary "Katakana Singo Jiten" and “Cambridge Advanced Learner’s Dictionary”. Both dictionaries were used to find and compare the meaning either in English and Japanese. The analysis was done by categorization the characteristics of wasei eigo which described by Ishiwata Toshio. The finding of this research shows that (1) 10 compound words of wasei eigo are not used in English. (2) changes of meaning happened in 3 wasei eigo’s data, (3) 1 data had omission words, and 1 data from another category. The results of the questionnaire are, (1) 8 data "wasei eigo can not be understood by foreigners", (2) 3 data "when using English, wasei eigo can cause troubles". According to the results of the questionnaire, 11 data answered "we use it because it is convenient", and 1 data answered, "cool". The opinion of wasei eigo by Japanese people is to keep using wasei eigo although it is difficult and confusing, because no one answered “wasei eigo become trouble” and "we do not need wasei eigo ". The globalization is impossible to stop, so it is impossible to extinguish wasei eigo from Japanese.
634716166P2BA14019FAKTOR-FAKTOR EKOLOGIS YANG BERPENGARUH TERHADAP STRUKTUR POPULASI KUMBANG BADAK (Oryctes rhinoceros L. )Kumbang badak (Oryctes rhinoceros L.) dapat hidup dengan optimal dengan dukungan dari faktor ekologis yang cocok. Faktor ekologis meliputi habitat limbah material organik di vegetasi tersebut, musuh alami, musim, dan faktor cuaca (suhu, curah hujan dan kelembaban) diteliti pengaruhnya terhadap struktur populasi kumbang badak pada Oktober-Desember 2015. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pengambilan sampel dilakukan sebanyak empat kali, dua kali pada musim kemarau dan dua kali pada musim penghujan. Data dianalisis dengan analisis ANOVA dan untuk mengetahui faktor ekologis yang paling berpengaruh dilakukan uji lanjut dengan Duncan. Berdasarkan ANOVA, ada perbedaan antar habitat F=0,012 untuk perbandingan antara jerami dan serasah daun, 0,002 antara jerami dan tanpa limbah, 0,000 antara serasah daun dan tanpa limbah, serta 0,001 untuk batang pohon dan tanpa limbah (P<0,05). Untuk stadium pupa dan imago hasil analisis ANOVA menunjukkan hasil tidak berbeda nyata. Faktor musim memberikan hasil bahwa terjadi peningkatan di ketiga stadium yang ditemukan dengan jumlah yang berbeda. Stadium larva mengalami peningkatan sebanyak 381 larva, stadium pupa sebanyak 25 pupa, dan peningkatan sebanyak 166 ekor kumbang badak stadium imago. Setelah dilakukan uji statistik dengan uji t, jumlah populasi kumbang badak pada musim kemarau dan penghujan berbeda nyata dengan nilai uji t =0,000 untuk stadium larva, sedangkan pada pupa, t = 0,038 (P<0,05). Setelah dilakukan uji lanjut diperoleh hasil habitat limbah material organik merupakan faktor ekologi yang paling berpengaruh. Habitat limbah material organik yang paling berpengaruh adalah batang pohon, disusul dengan habitat serasah dan jerami.

Rhinoceros beetle (Oryctes rhinoceros L.) can live optimally with the support of a suitable ecological factors. Ecological factors which include habitat waste organic materials of vegetation, the natural enemies, the season, and the weather factors (such as:temperature, rainfalls, and humidity) were investigated by their effects on the population structure of the Rhinoceros beetle during October to December 2015.
This study is a survey of sampling which had been done four times, twice in the dry season and twice in the rainy season. The data were analyzed with multivariate analysis,whereas to determine the most ecological factors, it is needed a continued study by Duncan test.
The results of multivariate analysis of variance abundance of each stage of the rhinoceros beetle in some types of waste, season, temperature, habitat temperature, humidity, and moisture habitat and their interactions showed that the waste is a key ecological factor rhinoceros beetle larval development (P <0.10).
The results of further analysis by Duncan test showed that the leaf litter waste is a key factor for larval development (P <0.10), while the interaction of temperature and humidity habitat influence pupal stage (P <0.20). Results of multivariate analysis also showed that interaction between the type of waste with humidity and moisture habitat; types of waste with humidity; humidity humidity habitat with a variety of factors that affect the interaction of the abundance of the rhinoceros beetle larvae stage (P <0.10). The four factors that interact earlier showed important ecological factors that work together in influencing abundance rhinoceros beetle grub.
Unlike the grub abundance, pupa stage rhinoceros beetle abundance is determined by the interaction between the type of waste to the air temperature (P <0.10), or in other words, the interaction between the type of waste to the air temperature is a key factor in the development of rhinoceros beetle pupa stage. Meanwhile, the interaction between temperature humidity habitat with habitat; temperature and humidity habitat habitat as the sole factor refers to the ecological factors that influence the development of rhinoceros beetle pupa stage.
Keywords: ecological factors, Oryctes rhinoceros L., population structure, habitat, season
634816169F1G012039TRADISI MUDIK DALAM KUMPULAN CERPEN MUDIK KARYA MOHAMMAD DIPONEGORO, DKK.Skripsi ini berjudul “Tradisi Mudik Dalam Kumpulan Cerpen Mudik Karya Mohammad Diponegoro, Dkk”. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan tradisi mudik yang terdapat pada kumpulan cerpen Mudik karya Mohammad Diponegoro, Dkk.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan difokuskan pada tradisi mudik yang ada pada kumpulan cerpen Mudik karya Mohammad Diponegoro, Dkk. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah membaca dan memahami isi cerpen, kemudian mencatat data-data yang penting dan berkaitan dengan rumusan masalah berdasarkan struktur cerpen yang ada. Selanjutnya dianalisis dengan pendekatan Antropologi Sastra. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen Mudik karya Mohammad Diponegoro, Dkk, yaitu “Pulangnya Sebuah Keluarga Besar” karya Mohammad Diponegoro, “ Hati yang Damai Kembalilah Kepada Tuhan” karya Kuntowijoyo, “Salam Lebaran” karya Hamsad Rangkuti, “Malam Takbir” karya Hamsad Rangkuti, “Reuni” karya Hamsad rangkuti, “Parcel” karya Achmad Munif, “Wangon-Jatilawang” karya Achmad Tohari, “Lebaran Kami” karya Yudhistira ANM Massardi, “Pengangkut Sampah di Malam Takbir” karya Mustofa W Hasyim, dan “Mudik” karya Mustofa W Hasyim.
Hasil penelitian ini menjelaskan secara deskriptif mengenai tradisi mudik dalam kumpulan cerpen Mudik karya Mohammad Diponegoro secara keseluruhan mengangkat konteks momentum lebaran yang melahirkan peristiwa mudik yang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, dapat dihasilkan gambaran mengenai tradisi mudik dalam kumpulan cerpen Mudik tersebut sebagai suatu kenyataan seperti representasi alam dalam memahami permasalahan-permasalahan kehidupan secara sederhana.
The title of this thesis is “Tradisi Mudik dalam Kumpulan cerpen Mudik karya Mohammad Diponegoro.Dkk”. the thesis has a purpose to describe homecoming tradition in a short story collection entitled Mudik by Mohammad Diponegoro,Dkk.
The method used in this thesis is descriptive qualitative, and the focus is homecoming tradition in the short story collection entitled Mudik by Mohammad Diponegoro and friends. The technique to collect the data is trough reading and understanding the short stories, and then noting important data which are correlated with the research question based on the structure of the short stories. The next is analyzing the data using anthropology literature approach. There are 10 short stories in Mudik by Mohammad Diponegoro and friends which are used in this research, for example, “Pulangnya Sebuah Keluarga Besar” by Mohammad Diponegoro, “Hati Yang Damai Kembalilah Kepada Tuhan” by Kuntowijoyo, “Salam Lebaran” by Hamsad Ranguti, “Malam Takbir” by Hamsad Ranguti, “Reuni” by Hamsad Ranguti, “Parcel” by Achmad Munif, “Wangon-Jatilawang” by Achmad Tohari, “Lebaran Kami” by Yudhistira ANM Massardi, “Pengangkut Sampah di Malam Takbir” by Mustofa W Hasyim, and “Mudik” by Mustofa W Hasyim.
The result of this research descriptively shows homecoming tradition; moreover, each of the stories in the short stories collection entitled Mudik by Mohammad Diponegoro and friend creates different experiences of the homecoming tradition. Based on that, it can be seen that those short stories illustrate vivid homecoming tradition like the representation of nature in undestanding simple problem of lives.
634916170B1J011078HUBUNGAN KUALITAS AIR DENGAN KELIMPAHAN CYANOPHYTA DI WADUK PENJALIN KABUPATEN BREBESCyanophyta (ganggang hijau biru) merupakan salah satu divisi fitoplankton, organisme air berukuran mikroskopis yang beberapa di antaranya bersifat merugikan karena mengeluarkan racun dan menyebabkan terjadinya blooming sehingga perairan tercemar. Penelitian dilakukan di Waduk Penjalin, Kabupaten Brebes. Waduk ini dimanfaatkan oleh penduduk untuk aktivitas pertanian, peternakan, pembuangan limbah, dan aktivitas lain yang diperkirakan mempengaruhi kualitas air di waduk tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air di Waduk Penjalin ditinjau dari parameter fisik dan kimia, mengetahui kelimpahan Cyanophyta di Waduk Penjalin, serta mengetahui hubungan antara kualitas air dengan kelimpahan Cyanophyta di Waduk Penjalin.
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode survai. Teknik pengambilan sampel dilakukan pada enam stasiun yang dibedakan berdasarkan rona lingkungan. Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui kualitas air adalah metode deskriptif menggunakan tabel. Kelimpahan Cyanophyta dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hubungan faktor fisika dan kimia perairan dengan kelimpahan Cyanophyta dianalisis menggunakan analisis korelasi. Besarnya pengaruh faktor fisika dan kimia terhadap kelimpahan Cyanophyta dinyatakan dengan koefisien korelasi (r).
Hasil penelitian di perairan Waduk Penjalin didapatkan 25 spesies Cyanophyta dengan kelimpahan berkisar antara 838,16-1322,77 ind.l-1, dengan kelimpahan spesies tertinggi dimiliki oleh Microcystis sp. Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0,7-2,15 menunjukkan bahwa keanekaragaman Cyanophyta tergolong sedang, dan nilai indeks dominansi sebesar 0,009-0,29 menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang mendominasi. Kelimpahan Cyanophyta di Perairan Waduk Penjalin 37,89% dipengaruhi oleh parameter TDS (r = 0,455) dan Total P (r = 0,501) dengan persamaan Y = -701,5 + 33,4 (TDS) + 919,7 (Total P). Kualitas perairan Waduk Penjalin masih dalam kisaran baik dan layak untuk kehidupan organisme yang ada di waduk tersebut.
Cyanophyta (blue green algae) is one of the divisions of phytoplankton, microscopic aquatic organisms that some of them is harmful because secrete toxins and cause blooming so polluted waters. The purpose of this study was to determine the water quality in the reservoir Penjalin in terms of physical and chemical parameters, determine abundance of Cyanophyta in Reservoir Penjalin, as well as determine the relationship between water quality with an abundance of Cyanophyta in order to control the blooming of Cyanophyta in Reservoir Penjalin. The method applied in this research is survey. The analytical method used to determine the water quality is descriptive method with table. Abundance of Cyanophyta were analyzed qualitatively and quantitatively. The relationship between physics and chemistry waters with an abundance of Cyanophyta were analyzed using correlation analysis. The results of the research in the waters of the reservoir Penjalin obtained 25 species of Cyanophyta abundance ranged from 838.16 to 1322.77 ind.l-1, with the highest species abundance owned by Microcystis sp. Diversity index values ranged from 0.7 to 2.15 indicate that the diversity of Cyanophyta is classified, and the dominance index value of 0.009 to 0.29 indicates that no species dominates. Cyanophyta abundance in the waters of the reservoir Penjalin 37,89% influenced by parameter TDS and Total P (r = 0,501) with equation Y = -701,5 + 33,4 (TDS) + 919,7 (Total P). Reservoir water quality Penjalin still within the range of good and decent for the life of organisms present in the reservoir.
635015578D1E012121JUMLAH MIKROBA DAN DERAJAT KEASAMAN SUSU DI KELOMPOK PETERNAK SAPI PERAH TIRTO MARGO UTOMO DAN TIRTO MARGO MUKTI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah mikroba dan derajat keasaman yang terkandung di dalam susu serta mengetahui hubungan jumlah mikroba dengan derajat keasaman susu di kelompok peternak sapi perah Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Materi yang digunakan adalah susu segar sebanyak 20 liter, media pertumbuhan bakteri (Plate Count Agar), larutan 0,25 N NaOH, indikator phenolphthalein 2% dan alkohol 70%. Penelitian dengan metode survei dan laboratoris menggunakan uji “t” dengan perlakuan duplo. Variable yang diukur yaitu jumlah mikroba dan derajat keasaman. Rataan total mikroba di kelompok Tirto Margo Utomo yaitu 6.885 x 105 ± 196865.013 sedangkan di kelompok Tirto Margo Mukti yaitu 6.29 x 105 ± 236135.554. Rataan derajat keasaman di kelompok Tirto Margo Utomo yaitu 7.5 ± 0.95 sedangkan di kelompok Tirto Margo Mukti yaitu 7.1 ± 1.21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah mikroba pada susu di kelompok peternak Tirto Margo Utomo dan Tirto Margo Mukti tidak berbeda nyata (P>0,05). Derajat keasaman susu di Kelompok Tirto Margo Utomo dan Tirto Margo Mukti tidak berbeda nyata (P>0,05). Hubungan antara jumlah mikroba dengan derajat keasaman non signifikan (F hitung>0,05) (0,66>0,05) dan diformulasikan sebagai Y= 6,997 + 5.35E-07 X.This study aimed to determine the number of microbes and the rate of acidity contained in milk and to determine the relationship between the numbers of microbes and the acidity of milk in dairy farmer groups in Sumbang District of Banyumas. The research materials were 20 liter of fresh milk, bacterial growth media (Plate Count Agar), 0.25 N NaOH solvent, phenolphthalein indicator 2% and alcohol 70%. The research used survey and laboratory methods, analysis of milk used "t" test with Duplo sample per treatment. The variables were the number of microbes and acidity. The average of total microbes in the group Tirto Margo Utomo was 6.885 x 105 ± 196865.013, while that in Tirto Margo Mukti group was 6.29 x 105 ± 236135.554. The average degree of acidity in the group of Tirto Margo Utomo was 7.5 ± 0.95, while that in the Tirto Margo Mukti was 7.1 ± 1.21. The results showed that the number of microbes in milk at farmer groups of Tirto Margo Utomo and Tirto Margo Mukti is not significantly different (P>0.05). The acidity of the milk in the Group of Tirto Margo Utomo and Tirto Margo Mukti is not significantly different (P> 0.05). The relationship between the number of microbes and the degree of acidity is not significant (F count> 0.05) (0.66> 0.05) and was expressed in Y= 6.997 + 5.35E-07 X.
635116171G1B012052Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang Melakukan Keterlambatan Pembayaran Iuran Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Rawat Inap di Kabupaten Banyumas Berbagai isu terkait penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah banyak terjadi salah satunya BPJS Kesehatan mengalami kondisi adverse selection. Hal ini dapat diasumsikan bahwa peserta BPJS kesehatan mendaftar menjadi peserta BPJS karena memang sudah akan memanfaatkan pelayanan kesehatan terutama pelayanan rawat inap, kemudian setelah tidak memanfaatkan mereka tidak membayar iuran sehingga tingginya angka keterlambatan pembayaran iuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peserta PBPU yang mengalami keterlambatan pembayaran iuran terhadap pemanfaatan rawat inap. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.Sampelnya sebanyak 197 keluarga peserta PBPU BPJS Kesehatan. Pengambilan data diambil dari data sekunder. Berdasarkan analisis multivariat dari delapan variabel indepeden terdapat tiga variabel yang berpengaruh pada pemanfaatan pelayanan rawat inap dengan tingkat signifikasi 1%, 5%, 10% yaitu variabel status kesehatan, umur, dan lokasi tempat tinggal. Diperoleh variabel status kesehatan dengan nilai p = 0,000, variabel umur memiliki nilai p = 0,072, dan variabel lokasi tempat tinggal memiliki nilai p = 0,056. Terdapat pengaruh yang signifikan antara status kesehatan, umur, lokasi tempat tinggal terhadap pemanfaatan rawat inap. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, pekerjaan, tingkat pendidikan, status ekonomi dengan pemanfaatan pelayanan rawat inap.The various issues related to the implementation of the National Health Insurance ( NHI ) have a lot of happening one BPJS Health conditions adverse selection. It can be assumed that BPJS Health participants registered to be BPJS participants because it will take the advantage of the health service especially the hospitalizations services, then after they did not take the advantage of the health service, they did not pay tuition so it will make high rate delays in the payment dues. This study aims to find out the factors that the influence of PBPU participants of doing the delays in the payment dues on the utilization of the hospitalizations. This study is the quantitative research with cross sectional approach. Sample as much as 197 family PBPU participants BPJS Health.The data taken from the data secondary. Based on multivariate analysis of eight variables independent, there were three variables that influential on the utilization of the hospitalizations services with the level of signification 1 %, 5 %, 10 % of the variable of health status, age, and location of residence. The data obtained from the health status variable with the value of p = 0,000, age variable has value p = 0,072, and location of residence variable has value p = 0,056. There is a significant influence between the status of health, life, location of residence toward the utilization of the hospitalizations. There is no significant influence between gender, the number of family members, work, level of education, economy status with the utilization of the hospitalizations services.
635216173F1F009069Distinct Identity of High Class Society Deployed through Luxury within Marina Bay Sands Singapore's Never Settle Campaign: A Critical Discourse AnalysisPenelitian yang berjudul “Distinct Identity of High Class Society Deployed through Luxury within Marina Bay Sands Singapore’s Never Settle Campaign: A Critical Discourse Analysis” bertujuan untuk menemukan bagaimana identitas yang khas dari masyarakat kelas tinggi digambarkan melalui bagian-bagian dalam kampanye tersebut yang mengindikasikan kemewahan. Iklan cetak dari kampanye Never Settle dianalisis dengan menggubakan Model Analisis 3D Fairclough. Analisis dari penelitian ini disajikan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berfokus pada unsur-unsur linguistik yang digunakan dalam kampanye tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi pustaka dimana buku, esai, artikel, dan laman internet menjadi sumber data yang mendukung penelitian ini
Ada tiga unsur signifikan yang berkaitan dengan penggambaran identitas khas dari masyarakat kelas tinggi disini, yaitu latar tempat, figur David Beckham, dan kata-kata dalam bagian-bagian iklan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampanye Never Settle menggunakan tempat-tempat yang paling eksklusif dan memiliki akses yang terbatas. Kemudian, bagian-bagian dalam iklan juga menunjukkan pembagian daripada pengunjung Marina Bay Sands Singapura. Selanjutnya, beberapa aktivitas yang ditunjukkan oleh iklan merupakan gaya hidup barat yang tidak sesuai dengan budaya Asia. Oleh karena itu, aktivitas-aktivitas tersebut dipandang sebagai ‘invasi’ kultural bagi penduduk asli Singapura.
The research entitled “Distinct Identity of High Class Society Deployed through Luxury within Marina Bay Sands Singapore’s Never Settle Campaign: A Critical Discourse Analysis” is aimed to find out how the distinct identity of high class society is depicted through the use of the campaign’s features which indicate luxury. The printed advetisement of Never Settle Campaign are analysed using Fairclough’s 3D Model of Analysis. The analysis is presented by using qualitative method that focuses on the linguistic features used in the campaign. Library research was applied to collect data from books, essays, articles, and internet websites to support the research.
There are three significant features used in the advertisements, i.e. the setting of place, the figure of David Beckham, and the words used in the parts of advertisements. The findings show that Never Settle Campaign uses the venues which are considered as the most exclusive in their kinds and have limited access. Moreover, the features used in the advertisements show segmentation among the visitors of Marina Bay Sands Singapore. Last, several activities shown in the advertisements are western lifestyles that do not suit Asian culture. Therefore, they are seen as cultural ‘invasions’ for native Singaporean.
635316158F1J012034MAKNA DAN FUNGSI ADJEKTIVA-I II DALAM DRAMA TELEVISI BIGINAAZU!Penelitian ini adalah penelitian linguistik yang berfokus pada sosiopragmatik dengan tujuan untuk mengetahui makna dan fungsi yang terkandung pada adjektiva ii. Sumber data yang digunakan adalah drama televisi Biginaazu dengan rumusan masalah yaitu: 1) Apakah makna adjektiva ii dalam drama televisi Biginaazu!. 2) Bagaimana fungsi masing-masing adjektiva ii tersebut dalam televisi drama Biginaazu!. Data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa tuturan yang dituturkan oleh pemeran utama Shimura Teppei yang mengandung adjektiva ii dengan teknik simak dan catat. Hasil penelitian, ditemukan 21 data adjektiva ii dengan beberapa makna antara lain: “bagus”; “tidak apa-apa”; “indah”; “boleh”; “baiklah”; “tidak peduli”, “sejuk” dan “menolak”. Penelitian ini menggunakan teori tindak tutur Searle kemudian diklasifikasikan dalam 4 jenis tindak tutur ilokusi, yaitu: 9 data jenis tindak tutur ilokusi direktif dengan fungsi menyuruh, meminta, menyarankan, 1 data jenis tindak tutur ilokusi komisif dengan fungsi mengancam dan berjanji, 5 data jenis tindak tutur ilokusi ekspresif dengan fungsi mengungkapkan rasa benci, mengungkapkan rasa senang, mengungkapkan rasa kesal, dan memberi maaf, serta 6 data jenis tindak tutur ilokusi asertif dengan fungsi menyatakan, menyimpulkan, memberi izin dan menolak. Pada drama ini, tidak ada yang dapat mengabaikan pemeran utamanya. Shimura Teppei mempunyai kualitas untuk menjadi pusat di kelas. Karena itu, tindak tutur yang banyak ditemukan adalah tindak tutur ilokusi direktif.This research is a linguistic research which focuses on sosiopragmatic in order to determine the meaning and the functions contained in the adjectives ii. The data source is gained from Biginaazu television drama with the formulation of the problem, namely: 1) What the meaning of adjectives ii in the Biginaazu television drama. 2) How the function of each adjectives ii is in the Biginaazu television drama. The data analyzed in this qualitative research is a speech that is spoken by main character Shimura Teppei containing adjektive ii with seeing and recording technique. The result of this research they are found that are 21 data of adjectives ii with several meanings, among others: the “good”; “no matter”; “beautiful”; “allright”, “careless”; “fresh”, “rejected”. This research use the speech act theory of Searle and then clasfied to 4 types illocutionary act which are: 9 directives data with commanding, requesting and suggest function, 1 commissive data with threaten and promising functions, 5 expressive data with a function to give hating expression, to give happiness expression, to give peevish expression, and forgiveness, 6 assertive data with a stating, conclude, giving permission and denying. In this drama, no one can ignore the main character. Shimura Teppei has qualities to be a centerpiece in the classroom. Therefore, the speech act that commonly found is directive illocutionary speech acts.
635416174F1F011003Translation Analysis of Addressing Terms in Laskar Pelangi by Andrea Hirata Translated into The Rainbow Troops by Angie KilbaneThe research entitled “Translation Analysis of Addressing Terms in Laskar Pelangi by Andrea Hirata Translated into The Rainbow Troops by Angie Kilbane” aims to find the types of addressing terms, and to find the translation techniques of addressing terms. Moreover, it tries to find the translation quality of addressing terms.

The researcher used qualitative method in analyzing the data. The primary data were all addressing terms in novel Laskar Pelangi and its English version, The Rainbow Troops. To analyze the data, the researcher used data sheets and questionnaires. The data sheets consist of data, point of view, types of addressing terms, and translation techniques. Then, the questionnaires were given by the researcher to the raters to analyze the translation quality in terms accuracy and acceptability. Moreover, the results were discussed with the consultants.

The result reveals that there are 79 addressing terms in the novels. From the data, there are 4 types of addressing terms found, (21 in SL and 20 in TL) pronoun, (29 in SL and 22 in TL) title, (19 in SL and 21 in TL) name and (10 in SL and in TL) kinship. Moreover, title is the most dominant type. Then, there are 9 of 18 techniques proposed by Molina and Albir used to translate the addressing terms. They are (4) amplification, (21) borrowing, (1) generalization, (33) literal translation, (1) modulation, (4) particularization, (2) reduction, (6) transposition, and (1) variation. Besides, another technique proposed by Dinckan namely (6) omission is also used. In the nine translation techniques, literal translation is the most dominant technique used in the translation. However, the translation quality is accurate and acceptable. The researcher hopes this thesis will be useful for translator, students of English Language and Literature, and other researcher.
Penelitian yang berjudul “Translation Analysis of Addressing Terms in Laskar Pelangi by Andrea Hirata Translated into The Rainbow Troops by Angie Kilbane” ini bertujuan untuk menganalisis tipe kata sapaan, dan untuk mencari tahu teknik terjemahan kata sapaan. Selain itu, penelitian ini juga untuk mencari tahu kualitas terjemahan kata sapaan.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis data. Data utama yang digunakan adalah seluruh kata sapaan yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi and novel versi Bahasa Inggrisnya, The Rainbow Troops. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan lembaran data dan kuisioner. Lembaran data berisi data, sudut pandang yang digunakan, tipe kata sapaan, dan teknik terjemahan. Kemudian, kuisioner diberikan oleh peneliti kepada penilai untuk menganalisis kualitas terjemahan yang terdiri dari keakuratan dan keberterimaan. Selain itu, hasilnya didiskusikan dengan konsultan.

Penelitian ini menunjukan adanya kata sapaan di dalam novel dengan jumlah 79. Dari data tersebut, ditemukan 4 tipe kata sapaan yang digunakan, yaitu (21 dalam BSu dan 20 dalam BSa) kata ganti, (29 dalam BSu dan 22 dalam BSa) gelar, (19 dalam BSu dan 21 dalam BSa) nama, dan (10 dalam BSu dan BSa) kekeluargaan. Selain itu, gelar adalah tipe yang paling dominan. Kemudian, ditemukan 9 dari 18 teknik yang dikemukakan oleh Molina dan Albir yang digunakan untuk menerjemahkan kata sapaan. Yaitu (4) amplifikasi, (21) pinjaman, (1) generalisasi, (33) terjemahan harfiah, (1) modulasi, (4) partikularisasi, (2) reduksi, (6) transposisi, dan (1) variasi. Selain itu, ditemukan teknik lain yang dikemukakan oleh Dinckan yang bernama omission (6). Dari sembilan teknik terjemahan, terjemahan harfiah adalah teknik dominan yang digunakan dalam terjemahan. Namun demikian, kualitas terjemahannya adalah akurat dan berterima. Peneliti berharap penelitian ini akan bermanfaat untuk penerjemah, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, dan peneliti yang lain.
635516176G1D012046Hubungan Efikasi Diri dengan Tingkat Stres Pasien Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas 1 WangonLatar Belakang: Pasien DM dituntut untuk mentaati manajemen penyakit DM setiap hari. Manajemen penyakit DM yang kompleks memicu munculnya respon stres. Keyakinan diri yang dimiliki pasien DM dapat membantu mengelola manajemen DM dan mengatasi masalah manajemen DM.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan tingkat stres pasien DM di wilayah kerja Puskesmas 1 Wangon.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Besar sampel yang memenuhi kriteria inklusi adalah 71 reponden. Instrument penelitian yang digunakan yaitu The research instrument were The Diabetes Mellitus Management Self Efficacy Scale (DMSES), Diabetes Distress Scale (DDS), dan Diabetes Social Support Quitionare-Family (DSSQ-Family). Analisa data menggunakan uji chi square.
Hasil: Mayoritas responden perempuan (71,8%), pendidikan terakhir SD (69%), kadar gula darah buruk (71,8%), dengan komplikasi (9,9%), mendapat dukungan keluarga (63,4%), usia pertengahan responden adalah 53 tahun, lama sakit minimum 1 dan maksimum 10 tahun. Mayoritas dengan efikasi diri kurang yakin (50,7%), dan tingkat stres sedang (49,3%). Uji chi square pada efikasi diri dan tingkat stres menunjukkan p value 0,000.
Kesimpulan: Efikasi diri berhubungan dengan tingkat stres. Semakin tinggi tingkat efikasi diri maka semakin rendah tingkat stres.
Background: Patients with diabetes mellitus (DM) are required to comply the management of DM disease every day. The complex management of DM triggers a stress response. Confidence in patients with DM can help to improve self-management and overcome the problems related to the management of DM.
Objective: This research aimed to determine the correlation between self-efficacy and stress level of patients with DM in work area of Puskesmas 1 Wangon.
Method: This study used an analytic correlation with cross sectional approach. The sampling technique used total sampling technique. The sample size that met inclusion criteria was 71 respondents. The research instrument were The Diabetes Mellitus Management Self Efficacy Scale (DMSES), Diabetes Distress Scale (DDS), and Diabetes Social Support Quitionare-Family (DSSQ-Family). Chi square were was used to examine the correlation between self efficacy and stress level.
Result: The result revealed that the majority of respondents were female (71.8%), the last education of Elementary School (69%), high glucose level (71.8%), no diabetic complication (8,1%), getting family support (63.4%), the median of age 53 years old. Minimum duration of disease was 1 years and maximum duration of disease was 10 years. The majority of patients had less confident self-efficacy (50.7%), and moderate stress level (49.3%). Chi Square test on self-efficacy and stress level indicated p value of 0.000.
Conclusion: Self-efficacy had a correlation with stress level. The higher of self-efficacy, the lower stress level.
635616195G1B012070PENGARUH SAFETY BEHAVIOR TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KETERAMPILAN KADER KESEHATAN DI KECAMATAN CILONGOK Kecelakaan kerja pada penderes kelapa dapat terjadi karena keadaan yang berbahaya (unsafe codition) dan tindakan yang tidak aman (unsafe action). Upaya pencegahan perilaku tidak aman diperlukan untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja diantaranya dengan pendekatan manusia, yaitu dari kader kesehatan. Peran kader kesehatan dalam hal ini yaitu memberikan informasi safety behavior kepada penderes kelapa. Sedangkan, kemampuan kader dapat ditingkatkan melalui program pendampingan. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen tanpa pembanding. Sampel dalam penelitian ini adalah kader kesehatan di Desa Pageraji, Langgongsari, dan Rancamaya Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas sebanyak 30 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner dan checklist. Analisis data dengan untuk melihat perbedaan pretest dan posttest menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis uji statistic Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang signifikan sesudah pendampingan, dengan hasil analisis pengetahuan nilai p = 0,04 < α (0,05), hasil analisis sikap nilai p = 0,00 < α (0,05), hasil analisis keterampilan p = 0,00 < α (0,05). Terdapat peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang signifikan sesudah pendampingan. Safety behavior, kader kesehatan, pengetahuan, sikap, keterampilan.
Work accident on palm tappers can occur due to a dangerous state (unsafe codition) and unsafe acts (unsafe action). Efforts to prevent unsafe behaviors necessary to reduce the risk of such accidents with human approach, that of health cadres. The role of health cadres in this regard is to provide information to the safety behavior palm tappers. Meanwhile, cadres ability can be improved through a mentoring program. This research is a Quasi Experiment without comparison. The sample in this study is a health worker in the village Pageraji, Langgongsari, and RancamayaCilongok District of Banyumas regency as many as 30 people. The research instrument was a questionnaire and checklist. Data analysis to look at differences in pretest and posttest using the Wilcoxon test. Results of statistical analysis Wilcoxon test showed an increase of knowledge, attitudes and skills significantly after assistance, with the results of the knowledge value of p = 0.04 <α (0.05), the results of the analysis of the attitude of the value of p = 0.00 <α (0, 05), the results of the analysis of skills p = 0.00 <α (0.05). There is an increased knowledge, attitudes and skills significantly after mentoring.
635716177G1D012089EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN PERAWATAN KAKI MELALUI MEDIA VIDEO DAN BOOKLET TERHADAP PRAKTIK PERAWATAN KAKI DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PERSADIA CABANG PURBALINGGALatar Belakang: Kurangnya praktik perawatan kaki mengakibatkan meningkatnya risiko komplikasi kaki diabetik yang berdampak pada amputasi dan kematian. Pendidikan kesehatan perawatan kaki diberikan melalui media video dan booklet untuk meningkatkan praktik perawatan kaki serta untuk mengetahui perbedaan efektivitas kedua media tersebut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas pendidikan kesehatan perawatan kaki melalui media video dan booklet terhadap praktik perawatan kaki DM tipe 2.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperimental dengan desain Two Group Pre-Post Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Sampel penelitian berjumlah 40 responden dan dibagi menjadi 2 kelompok. Instrumen penelitian menggunakan Nottingham Assesment of Functional Foot-Care (NAFF). Analisis data menggunakan Dependent t-test dan Independent t-test.
Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, pada rentang usia 56-65 tahun, berpendidikan SMA, lama menderita DM yaitu pada rentang 5-9 tahun, sebagian besar responden tidak mengalami komplikasi, memiliki penghasilan 2-3 juta/bulan dan mayoritas responden sebagai pensiunan. Berdasarkan analisis, nilai pre-test kelompok video adalah 49,45 (SD 6,802) dan post-test meningkat menjadi 57,60 (SD 6,091). Nilai pre-test kelompok booklet adalah 52,65 (SD 5,869) dan post-test meningkat menjadi 59,75 (SD 3,596). Hasil uji Dependent t-test kelompok video dan booklet diketahui p value 0,000 (p<0,05), yang artinya terdapat perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil uji beda Independent t-test didapatkan p value 0,327 (p>0,05), yang artinya tidak terdapat perbedaan antara kelompok video dan booklet.
Kesimpulan: Media video dan booklet memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan praktik perawatan kaki.

Kata Kunci: diabetes melitus, pendidikan kesehatan, praktik perawatan kaki.
Introduction: The lack of foot care practices lead to increased risk of diabetic foot complications that resulted in amputation and death. Foot care health education is given through video and booklet as the media to improve the knowledge and practice of foot care, as well as to determine the differences of effectiveness in both Medias.
Objective: This research aimed to determine the difference of effectiveness of foot care health education through the media of video and booklet on foot care practice of type 2 diabetes mellitus.
Method: This research used Quasi Experimental method with Two Group Pre-Post Design. Sampling technique in this research used simple random sampling with the sample size of 40 respondents divided into 2 groups. The research instrument used Nottingham Assessment of Functional Foot-Care (NAFF). Data analysis used Dependent t-test and Independent t-test.
Result: Majority of the respondents were female, the age range of 56-65 years old, education level of Senior High School, had DM for 5-9 years, most of respondents did not experience complications, earns 2-3 million/month and the majority of respondents were pensioner. Based on the analysis, the pretest value in video group was 49,45 (SD 6,802) and increased in posttest to 57,60 (SD 6,091). The pretest value in booklet group was 52,65 (SD 5,869) and increased in posttest to 59,75 (SD 3,596). The result of Dependent t-test in video and booklet groups indicated p value of 0,000 (p<0,05), meaning that there was a difference before and after the intervention. The result of Independent t-test obtained p value of 0,327 (p>0,05), meaning that there was no mean difference in both video and booklet groups.
Conclusion: The media of video and booklet had the equal effectiveness in improving foot care practices.

Keywords: diabetes mellitus, health education, foot care practice.
635816178G1B012008ANALISIS FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEHAMILAN USIA MUDA ( < 20 TAHUN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I CILONGOKLatar Belakang: Kehamilan usia muda (<20 tahun) menyebabkan kematian ibu 2-4 kali lebih besar. Sebanyak 222 remaja hamil dan bersalin dibawah 20 tahun di wilayah kerja Puskesmas I Cilongok. Dampaknya adalah kasus BBLR (5,8%) dan kasus anemia (3,7%). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kehamilan usia muda di Wilayah Kerja Puskesmas I Cilongok.

Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi crossectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja hamil dan bersalin < 20 tahun tercatat di Puskesmas I Cilongok. Sampel penelitian dengan teknik cluster random sampling sebanyak 65 orang. Analisis bivariat menggunakn uji chi square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik

Hasil Penelitian: Analisis univariat menunjukkan responden merencanakan kehamilannya (84,6%), pengetahuan kurang baik (58,5%), sikap kurang baik (60%), seluruhnya berstatus menikah, akses informasi kesehatan kurang baik (50,8%), dan telah memanfaatkan pelayanan kesehatan dengan baik (84,6%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan pengetahuan ibu (0,00<α), sikap ibu (0,00<α), dan akses informasi kesehatan (0,00<α), sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan menunjukkan hasil yang tidak signifikan (1,00>α). Analisis multivariat menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh secara bersama antara semua variabel tersebut.

Kesimpulan: Tidak ada pengaruh secara bersama-sama antara pengetahuan ibu, sikap ibu, akses informasi kesehatan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan terhadap kehamilan usia muda.
Background: Pregnancy at young age (<20 years) cause of maternal mortality 2-4 times greater. A total of 222 adolescent pregnancy and maternity under 20 years in Puskesmas I Cilongok. The outcome was a case of low birth weight (5.8%) and anemia cases (3.7%). This research aimed to analyze the factors that influence young age pregnancy in Puskesmas I Cilongok.
Methods: This research is a quantitative research with cross sectional study design. The population research was the whole teenage pregnancy and maternity <20 years was recorded in Puskesmas I Cilongok. The research sample use cluster random sampling as many as 65 people. The bivariate analysis using chi square test and multivariate analysis using logistic regression.
Results: Univariate analysis showed that the respondents had been planning their pregnancies (84,6%), lack of good knowledge (58,5%), lack of good attitude (60%), all of the respondents had been married, health information access categorized as not good (50,8%), and the respondents had been take advantage from the health service very well (84,6%). Based on bivariate analysis showed that there are relationship between knowledge of the mother (0,00<α), attitude of the mother (0,00<α), and health information access (0,00<α), while the utilization of the health service showed a meaningless result (1,00<α). Based on multivariate analysis showed that there are no mutual effect of all these variables.
Conclusion: There was no effect jointly between mother’s knowledge, attitude mother, access to health information, and health service utilization against teenage pregnancy.
635916179G1D012085PERUBAHAN MOTIVASI MAHASISWA JUNIOR UNTUK MENJADI PERAWAT SETELAH MENDENGARKAN SENIOR STUDENTS CARING STORY DI JURUSAN KEPERAWATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANABSTRAK
Latar Belakang : Motivasi merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu. Cerita pengalaman caring merupakan salah satu motivasi ekstrinsik yang diduga dapat menumbuhkan motivasi menjadi perawat.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senior students caring story terhadap motivasi mahasiswa junior jurusan keperawatan untuk menjadi perawat.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan one group pre and post test design. Pengambilan sampel menggunakan metode total populasi. Besar populasi adalah 88 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan statistik korelasi uji t berpasangan.
Hasil : Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 75 orang (85,2%), dengan indeks prestasi yaitu 2,76-3,50 (78,4%) sebanyak 69 orang, dan mayoritas responden memilih jurusan keperawatan sebagai pilihan pertama, yaitu sebanyak 65 orang (73,9%). Uji statistiks uji t berpasangan pada motivasi menjadi perawat menunjukkan p value 0,000 dengan mean sebelum adalah 63,62 dan mean setelah adalah 70,59.
Kesimpulan : Terdapat perubahan yang signifikan terhadap motivasi mahasiswa menjadi perawat sebelum dan sesudah diberikan cerita pengalaman caring.

Kata kunci : cerita caring, motivasi, perawat
ABSTRACT
Background: Motivation is an impulse that causes someone to do something. The story of caring experience is one of extrinsic motivation that can allegedly increase motivation to be a nurse.
Objective: This research aimed to determine the influence of students caring story of senior on motivation of nursing department junior student to be a nurse.
Method: This research is a quantitative research with one group pre and post test design approach. The sampling in this research used total population. The population size was 88 respondents who met the inclusion criteria. Analysis of data used statistical correlation of paired t-test.
Result: The majority of respondents were female, it is 75 students (85,2%), with GPA of 2,76 to 3,50 (78,4%) is 69 students, and the majority of respondents chose nursing department as the first choice with the number of 65 students (73,9%). The statistical paired t-test on the motivation of becoming a nurse indicated p value of 0,000, while the mean before the test was 63,62 and the mean after the test was 70,59.
Conclusion: There was a significant change in the motivation of students to be a nurse before and after the story of caring experience.

Keywords: caring story, motivation, nurse
636016180F1J012015ANALISIS PENGGUNAAN KEIGO DI BIDANG PARIWISATA
Penelitian ini berjudul “Analisis Penggunaan Keigo di Bidang Pariwisata”. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan bentuk dan sistem penggunaan keigo serta faktor sosial yang melatarbelakangi pramuhubung tamu dalam berkomunikasi dengan wisatawan Jepang. Teori yang digunakan adalah teori sosiolinguistik, variasi bahasa, keigo dan faktor sosial dalam komunikasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan teknik simak dan catat. Data diperoleh dengan cara menyadap percakapan antara pramuhubung tamu biro tours dan travel Bali dengan wisatawan Jepang . Data dianalisis dengan menggunakan metode padan. Hasil dari penelitian ini untuk mendeskripsikan adanya tiga jenis keigo, yaitu bentuk sonkeigo berjumlah (33) ungkapan, bentuk kenjougo berjumlah (18) ungkapan, dan bentuk teinego berjumlah (7) ungkapan. Perubahan dalam bentuk dan sistem keigo berdasarkan gramatikal dan leksikal. Sedangkan faktor sosial yang melatarbelakangi penggunaan keigo di biro tours dan travel Bali diantaranya; 人間関係 ningen kankei `hubungan antar manusia` (立場的上下関係 tachibateki jouge kankei `hubungan atasan-bawahan berdasarkan posisi` dan 社会的親疎関係 shakaiteki shinso kankei `hubungan sosial`),場ba `tempat penggunaan`, dan 内外uchi-soto `orang luar-orang dalam`. Keigo yang paling banyak digunakan di biro Tours dan Travel Bali adalah ungkapan sonkeigo. Kesalahan penggunaan keigo oleh pramuhubung tamu biro tours dan travel yaitu pada penggunaan partikel dan konjugasi.
The research is entitled “An Analysis of The Use of Keigo in Tourism”. The purposes of this research are to describe the forms and the system of usage of keigo also to describe the social factors as the background of guest relation officer who talks with Japanese tourists. The theories which are applied include sociolinguistics, language variation, keigo and social factors in communication. This descriptive qualitative research uses the observation and writing technique. Data are obtained by tapping the conversation between guest relation officer of tours and travel agency with Japanese tourists. Data are analyzed by using comparing method. The result of this research is to describe sonkeigo consists of (33) expressions, kenjougo (18) expressions, and teinego (7) expressions. The change of the forms and the system of keigo are based on lexical and grammatical. Meanwhile, the social factors underlying the use of keigo in tours and travel agency include; 人間関係 ningen kankei `human relationship`, (立場的上下関係 tachibateki jouge kankei `upper-lower relationship based on position` and 社会的親疎関係 shakaiteki shinso kankei `social relationship`). Keigo that mostly used in tours and travel agency is sonkeigo expressions. The mistake that guest relation officer of tours and travel agency made is in particle and conjugation shakaiteki shinso kankei `social relationship`) , 場ba `the place of the use`, and 内外uchi-soto `internal-external people `.