Artikelilmiahs
Menampilkan 46.461-46.480 dari 48.727 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 46461 | 49842 | J1A021055 | Subtitling Strategies and Acceptability of Mo Sidik's Performance on YouTube | Penelitian ini membahas tentang strategi penerjemahan dan keberterimaan dalam penampilan Mo Sidik di YouTube. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tipe-tipe humor, strategi subtitle, dan kualitas terjemahan, khususnya keberterimaan terjemahan humor dalam penampilan Mo Sidik. Analisis tipe-tipe humor didasarkan pada teori Raphaelson-West (198), strategi takarir berdasarkan teori Gottlieb (2002), dan penilaian kualitas terjemahan oleh Nababan, dkk. (2012). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskripftif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua tipe humor yang teridentifikasi: Humor Universal (71,43%), Humor Budaya (23,21%), dan Humor Linguistik (5,36%) yang memfokuskan pada pengalaman pribadi Mo Sidik dan unsur-unsur budaya di dalamnya. Di antara strategi takarir yang digunakan, strategi transfer (32,14%) menjadi yang paling dominan digunakan, diikuti oleh kondensasi (21,43%), parafrasa (16,07%), ekspansi (16,07%), dan imitasi (1,79%). Penilaian kualitas menunjukkan bahwa sebagian besar (62,50%) hasil terjemahan dinilai dapat diterima dan sisanya (37,50%) kurang dapat diterima. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pemilihan strategi penerjemahan yang tepat untuk menjaga kelucuan dan makna humor agar tetap dipahami oleh audiens. | This study analyzes the subtitle strategies and acceptability of Mo Sidik’s performance on YouTube, focusing on the types of humor in humorous utterances throughout his performances on Stand Up Comedy Show Metro TV and Stand-Up Asia on YouTube. It aims to identify the types of humor, subtitling strategies, and translation quality, focusing specifically on the acceptability of humor translation. The analysis is based on Raphaelson-West’s (1989) classification of humor, Gottlieb’s (2002) subtitling strategies, and Nababan et al.’s (2012) model for translation quality assessment. Using a descriptive qualitative method, the study finds two types of humor: universal humor (71.43%), cultural humor (23.21%), and linguistic humor (5,36%), the latter reflecting Mo Sidik’s personal experiences and cultural references. The most frequently used subtitling strategy is transfer (32.14%), followed by condensation (21.43%), paraphrase (16.07%), expansion (16.07%), and imitation (1.79%). In terms of acceptability, 62.50% of the translations are deemed acceptable, while 37.50% are considered less acceptable. These findings highlight the importance of selecting appropriate translation strategies to ensure the humor remains effective and comprehensible for the audience. | |
| 46462 | 49843 | K1B021008 | PEMODELAN SPASIAL JUMLAH KASUS KUSTA DI JAWA TENGAH MENGGUNAKAN MODEL GEOGRAPHICALLY WEIGHTED GENERALIZED POISSON REGRESSION | Kasus kusta hingga saat ini masih menjadi prioritas dalam permasalahan kesehatan masyarakat global, termasuk di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan jumlah kasus baru kusta di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhinya secara signifikan dengan pendekatan spasial. Data jumlah kasus baru kusta yang digunakan merupakan data count yang menunjukkan gejala overdispersi. Oleh karena itu, pemodelan dilakukan menggunakan metode Generalized Poisson Regression (GPR) dan pendekatan spasial Geographically Weighted Generalized Poisson Regression (GWGPR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model GWGPR memiliki nilai AIC yang lebih kecil dari model GPR, sehingga metode GWGPR paling sesuai untuk memodelkan jumlah kasus baru kusta di Provinsi Jawa Tengah. Pemodelan GWGPR menghasilkan tujuh kelompok dengan kombinasi variabel signifikan yang berbeda-beda. Secara global, faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus baru kusta di Provinsi Jawa Tengah adalah jumlah penduduk, persentase rasio jenis kelamin dan persentase rumah tangga yang menempati rumah layak huni. | Leprosy cases remain a priority public health issue globally, including in Central Java Province. This study aims to model the number of new leprosy cases in Central Java based on significant influencing factors using a spatial approach. The data on new leprosy cases are count data exhibiting overdispersion. Therefore, modeling was conducted using the Generalized Poisson Regression (GPR) method and the spatial approach of Geographically Weighted Generalized Poisson Regression (GWGPR). The results show that the GWGPR model has a lower AIC value than the GPR model, indicating that GWGPR is the most appropriate method for modeling the number of new leprosy cases in Central Java. The GWGPR modeling identified seven groups with different combinations of significant variables. Globally, the significant factors affecting the number of new leprosy cases in Central Java are population size, gender ratio percentage, and the percentage of households living in decent housing. | |
| 46463 | 49844 | B1A021117 | EFEKTIVITAS Aspergillus sp.3 untuk DEKOLORISASI LIMBAH BATIK NAPTHOL pada BIOREAKTOR DOUBLE FILTER dengan VARIASI KONSENTRASI INOKULUM | Pesatnya industri batik menghasilkan limbah zat warna, terutama napthol, yang sulit terdegradasi dan berbahaya bagi kesehatan. Untuk mengurangi dampak ini,metode dekolorisasi berbasis organisme seperti jamur, khususnya Aspergillus sp.3,efektif menghilangkan warna hingga 99,9%. Namun, penerapan teknologi ini di lapangan, seperti melalui bioreaktor berbahan akrilik, masih memiliki keterbatasan,seperti durasi penggunaan jamur yang tidak bertahan lama. Penggabungan metode biologi, fisika, dan kimia terbukti meningkatkan efektivitas dekolorisasi limbah hingga 79%. Penelitian ini mengusulkan modifikasi bioreaktor double filter, dengan filter pertama mengadopsi metode fisika-kimia menggunakan Multi Soil Layering (MSL), dan filter kedua berbasis biologi menggunakan jamur. Efisiensi dekolorisasi dipengaruhi oleh konsentrasi inokulum spora jamur, yang menentukan keberhasilan proses. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Aspergillus sp.3 dalam mendekolorisasi limbah batik napthol pada bioreaktor double filter dengan variasi konsentrasi inokulum dan untuk mengetahui konsentrasi inokulum efektif dalam dekolorisasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Inokulum Aspergillus sp.3 dibagi menjadi 6 kelompok (kontrol dan perlakuan) yang masing-masing dilakukan pengulangan sebanyak empat kali. Semua perlakuan diberi limbah napthol dengan pemberian inokulum, sementara kontrol tanpa inokulum jamur. Kelompok yang dimaksud diantaranya P1 (kontrol tanpa jamur), P2 (konsentrasi inokulum 104 spora/ml), P3 (konsentrasi inokulum 106 spora/ml), P4 (konsentrasi inokulum 108 spora/ml), P5 (konsentrasi inokulum 1010 spora/ml), P6 (konsentrasi inokulum 1012 spora/ml). Parameter utama yang diukur adalah persentase dekolorisasi warna limbah batik dan parameter pendukungnya adalah nilai DO, berat kering miselium, suhu, dan pH. Variabel bebasnnya adalah konsentrasi inokulum dan variabel terikatnya kemampuan Aspergillus sp.3 untuk mendekolorisasi limbah cair batik dalam bioreaktor double filter. Data persentase dekolorisasi selanjutnya dianalisis menggunakan analisis variansi (ANOVA) dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aspergillus sp.3 pada bioreaktor double filter mampu mendekolorisasi limbah cair batik pada variasi konsentrasi inokulum dengan persentase dekolorisasi 0%-95,8%. Variasi konsentrsi inokulum paling efektif pada konsentrasi inokulum 108 spora/ml sebesar 95,8%. | The rapid development of the batik industry has led to the generation of colored wastewater, particularly containing napthol based dyes, which are highly resistant to degradation and pose significant health risks. To mitigate these impacts, biological decolorization methods using organisms such as fungi specifically Aspergillus sp.3 have demonstrated high efficacy, achieving up to 99.9% color removal. However, the practical implementation of this technology, particularly via acrylic-based bioreactors, remains limited by factors such as the short lifespan of fungal activity. Integrating biological, physical, and chemical approaches has been shown to enhance decolorization efficiency by up to 79%. This study proposes a modified double-filter bioreactor system. The first filter utilizes a physicochemical method based on Multi Soil Layering (MSL), while the second filter employs a biological treatment using fungal cultures. The success of the decolorization process is influenced by the concentration of fungal spore inoculum, which directly affects process efficiency. This research aims to evaluate the decolorization performance of Aspergillus sp.3 on napthol containing batik wastewater in a double-filter bioreactor across varying inoculum concentrations, and to determine the most effective inoculum concentration. The experiment was conducted at the Laboratory of Mycology and Phytopathology, Faculty of Biology, Universitas Jenderal Soedirman, employing a Randomized Block Design (RBD). The inoculum of Aspergillus sp.3 was divided into six treatment groups (including a control), each replicated four times. All treatment groups received napthol-containing wastewater with varying fungal inoculum concentrations, while the control group received no fungal inoculum. The treatment groups consisted of: P1 (control, no fungi), P2 (10⁴ spores/mL), P3 (10⁶ spores/mL), P4 (10⁸ spores/mL), P5 (10¹⁰ spores/mL), and P6 (10¹² spores/mL). The primary parameter measured was the percentage of color removal, while supporting parameters included dissolved oxygen (DO), fungal dry biomass, temperature, and pH. The independent variable is the inoculum concentration, while the dependent variable is the decolorization ability of Aspergillus sp.3 in treating batik wastewater using a double filter bioreactor. The color removal data were statistically analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 5% significance level. The results indicated that Aspergillus sp.3 in the double-filter bioreactor effectively decolorized batik wastewater at varying inoculum concentrations, achieving color removal rates ranging from 0% to 95.8%. The optimal inoculum concentration was identified at 10⁸ spores/mL, yielding the highest decolorization efficiency of 95.8%. | |
| 46464 | 49849 | H1E021078 | PERBANDINGAN KUALITAS PELAYANAN DI TECHNO PARK PEKALONGAN MENGGUNAKAN MODEL CARTER DENGAN TECHNO PARK SOLO, BANDUNG, DAN CIMAHI | Penelitian ini membandingkan kualitas pelayanan Techno Park Pekalongan dengan tiga Techno Park lainnya, yaitu Solo, Bandung, dan Cimahi. Techno Park Pekalongan merupakan kawasan inovasi berbasis sektor perikanan yang dikembangkan melalui Peraturan Wali Kota Pekalongan Nomor 39 Tahun 2018, dengan konsep ekonomi biru terpadu dari hulu ke hilir. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan penyebaran kuesioner kepada 64 responden, serta dianalisis menggunakan model CARTER, Customer Satisfaction Index (CSI), dan Importance Performance Analysis (IPA). Hasil menunjukkan Techno Park Pekalongan memperoleh nilai CSI tertinggi sebesar 87% kategori “Very Good” dan TKI sebesar 100,35%, menandakan pelayanan sedikit melampaui harapan pengguna. Dimensi Empathy menjadi kekuatan utama, sementara dimensi Compliance dan Responsiveness menunjukkan kesenjangan yang perlu dibenahi. Berdasarkan IPA, kiner/ja terbaik ditempati Techno Park Bandung, disusul Pekalongan, Cimahi, dan Solo. Peneliti menilai keunggulan kualitas pelayanan Pekalongan juga dipengaruhi oleh posisinya sebagai kebutuhan primer bagi sebagian besar pengunjung, sehingga tingkat kepuasan relatif tinggi. Strategi pengembangan yang diusulkan mencakup penguatan SOP, pelatihan staf berbasis empati, peningkatan responsivitas, sistem umpan balik digital, serta penyusunan roadmap pelayanan jangka menengah dan panjang. Usulan ini diperkuat prinsip 7-S dan regulasi daerah, termasuk pengembangan e-Respon Techno dan penguatan jejaring melalui Forum Inovasi Daerah. Dengan langkah strategis yang terintegrasi antara data, regulasi, dan kondisi lokal, Techno Park Pekalongan berpotensi menjadi model Techno Park daerah yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat. | This study compares the service quality of Techno Park Pekalongan with three other Techno Parks, namely Solo, Bandung, and Cimahi. Techno Park Pekalongan is an innovation hub in the fisheries sector, developed under Pekalongan Mayor Regulation No. 39 of 2018, with an integrated blue economy concept covering the entire value chain. The research employed a descriptive quantitative method by distributing questionnaires to 64 respondents and analyzed the results using the CARTER model, Customer Satisfaction Index (CSI), and Importance Performance Analysis (IPA). The findings indicate that Techno Park Pekalongan achieved the highest CSI score of 87%, categorized as “Very Good,” and a Customer Satisfaction Level (TKI) of 100.35%, suggesting that its services slightly exceed user expectations. The Empathy dimension emerged as its main strength, while Compliance and Responsiveness showed gaps that require improvement. Based on the IPA, Bandung ranked first in performance, followed by Pekalongan, Cimahi, and Solo. The researchers noted that Pekalongan’s high satisfaction level is also influenced by its position as a primary necessity for most visitors. Proposed development strategies include strengthening SOPs, conducting empathy-based staff training, enhancing responsiveness, implementing a digital feedback system, and formulating medium- and long-term service roadmaps. These strategies are supported by the 7-S framework and local regulations, including the development of the e-Respon Techno system and strengthening networks through the Regional Innovation Forum. With integrated steps combining data, regulations, and local conditions, Techno Park Pekalongan has the potential to become a model of a collaborative, sustainable, and socially impactful regional Techno Park. | |
| 46465 | 49847 | H1E021053 | An Integrated AHP-MABAC Approach for Infrastructure Development Prioritization: A Case Study of Adipala Village | Prioritas pembangunan infrastruktur merupakan isu penting dalam perencanaan desa. Penelitian ini menerapkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Multi-Attributive Border Approximation Area Comparison (MABAC) untuk menentukan peringkat prioritas proyek infrastruktur di Desa Adipala. AHP digunakan untuk menghitung bobot dari setiap kriteria, sedangkan MABAC mengurutkan 17 alternatif infrastruktur berdasarkan bobot tersebut. Survei kepuasan masyarakat dilakukan untuk mengevaluasi persepsi masyarakat sebelum dan sesudah pelaksanaan proyek. Hasilnya menunjukkan bahwa metode yang diusulkan menghasilkan rekomendasi yang lebih mencerminkan kebutuhan masyarakat dibandingkan dengan praktik yang ada saat ini. Pendekatan ini mendukung pengambilan keputusan yang lebih obyektif, transparan, dan berbasis data dalam perencanaan pembangunan pedesaan. | Infrastructure development prioritization is an important issue in village planning. This study applies the Analytical Hierarchy Process (AHP) and Multi-Attributive Border Approximation Area Comparison (MABAC) methods to determine priority rankings for infrastructure projects in Adipala Village. AHP is used to calculate the weight of each criterion, while MABAC ranks 17 infrastructure alternatives based on these weights. Community satisfaction surveys are conducted to evaluate public perception before and after project implementation. The results show that the proposed method produces recommendations that better reflect community needs compared to current practices. This approach supports more objective, transparent, and data-based decision-making in rural development planning. | |
| 46466 | 49848 | F1A020099 | Kontribusi Gerakan Banyumas Zero Waste dalam Pembangunan Pedesaan Berkelanjutan (Studi Kasus pada Kelompok Swadaya Masyarakat di TempatPengolahan Sampah Terpadu Kedungrandu, Patikraja) | Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika proses pembentukan Gerakan Banyumas Zero Waste di tingkat pedesaan, termasuk aktor-aktor penggeraknya, menganalisis hambatan- hambatan sosial serta strategi komunitas dalam membangun partisipasi kolektif masyarakat desa dan menelaah peran gerakan ini dalam bentuk kesadaran kolektif dan kontribusinya terhadap transformasi sosial menuju pembangunan pedesaan yang berkelanjutan. Teknik pengambilan data melalui wawancara untuk mendapatkan data yang lebih komprehensif mengenai interaksi sosial dan kondisi di lapangan. Penelitian ini menggunakan beberapa referensi jurnal terkait yang sejalan dengan topik penelitian. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa fasilitas yang diberikan pemerintah dalam pengelolaan sampah berbasis Zero Waste dimulai dari tingkat desa hingga kabupaten dengan adanya TPST hingga TPA BLE. Hambatan yang dihadapi berasal dari kurangnya partisipasi masyarakat, fasilitas pengelolaan sampah masih terbatas dan kesenjangan literasi digital dan informasi. Strategi yang dapat diterapkan adalah meningkatkan peran pemerintah, penggunaan insentif sosial dan ekonomi serta peningkatan pengadaan sarana dan prasarana pengolah sampah. Dampak Gerakan Banyumas Zero Waste dalam pembangunan pedesaan berkelanjutan adalah dampak ekonomi, sosial dan lingkungan, seperti meningkatkan pendapatan tambahan masyarakat melalui bank sampah. perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah, pengurangan volume sampah, pengendalian pencemaran dan pelestarian ekosistem lokal. | This research aims to examine the dynamics of the formation process of the Banyumas Zero Waste Movement at the village level, including the driving actors, to analyze social barriers, and to explore community strategies in building collective participation among rural communities. It also investigates the role of this movement in fostering collective awareness and its contribution to social transformation toward sustainable rural development. Data collection was conducted through interviews to obtain comprehensive information about social interactions and on-the-ground conditions. This study also refers to several relevant academic journals aligned with the research topic. The main findings indicate that government-provided facilities for Zero Waste-based waste management range from the village to the regency level, including the existence of TPST (Waste Processing Sites) to BLE TPA (Regional Waste Disposal Sites). The obstacles faced include low community participation, limited waste management facilities, and gaps in digital and informational literacy. Strategies that can be implemented involve enhancing the role of the government, strengthening social and economic incentives, and improving the availability of waste processing infrastructure. The impact of the Banyumas Zero Waste Movement on sustainable rural development includes economic, social, and environmental benefits, such as increasing additional income through waste banks, changes in community behavior toward waste, reduction in waste volume, pollution control, and the preservation of local ecosystems. | |
| 46467 | 49850 | D1A021109 | ANALISIS KEBUTUHAN MODAL USAHA TERNAK SAPI POTONG PO KEBUMEN | Usaha peternakan sapi potong di pedesaan Indonesia sering menghadapi kendala pada modalnya terutama karena sifatnya masih tradisional dan turun temurun. Peternak belum memiliki informasi yang jelas tentang kebutuhan modal yang pasti. Tujuan penelitian ini adalah: (1). Mengetahui besarnya kebutuhan modal investasi dan modal kerja pada usaha ternak sapi potong di Kabupaten Kebumen.; (2). Mengetahui modal yang paling dibutuhkan dalam usaha ternak sapi potong di Kabupaten Kebumen.; (3). Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya modal investasi dan modal kerja pada usaha ternak sapi potong di Kabupaten Kebumen. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei terhadap peternak sapi potong PO di Kabupaten Kebumen. Sampel wilayah diambil dengan metode purposive sampling yaitu memilih enam kecamatan dengan populasi sapi PO terbanyak, yaitu Kecamatan Buluspesantren, Puring, Ambal, Klirong, Mirit, dan Petanahan. Jumlah responden dipilih menggunakan kuota sampling, diperoleh 90 peternak. Variabel yang diteliti yaitu penerimaan dari usaha ternak, umur peternak, pendidikan peternak, jumlah ternak, dan pekerjaan utama peternak. Analisis data meliputi analisis deksriptif untuk mendeskripsikan modal dan analasis regresi linier berganda untuk melihat pengaruh dari faktor-faktor yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Nilai rata-rata kebutuhan modal investasi peternak sapi potong PO di Kabupaten Kebumen yaitu sebesar Rp. 49.667.748 dan kebutuhan modal kerja yaitu sebesar Rp. 10.722.198.; 2). Modal yang paling dibutuhkan oleh peternak sapi potong PO di Kabupaten Kebumen adalah modal investasi untuk pembelian ternak indukan; 3). Modal investasi peternak sapi potong PO di Kabupaten Kebumen dipengaruhi signifikan oleh penerimaan (P<0,01), umur peternak (P<0,05), pendidikan peternak (P<0,05), dan jumlah ternak (P<0,01) sedangkan modal kerja peternak sapi potong PO di Kabupaten Kebumen dipengaruhi signifikan oleh penerimaan (P<0,01), dan jumlah ternak (P<0,01). | Beef cattle farming in rural Indonesia often faces challenges regarding capital, especially due to its traditional and hereditary nature. Farmers do not have clear information about the exact capital requirements. The goals of this research are: (1). To determine the amount of investment and working capital needed for beef cattle farming in Kebumen Regency; (2). To identify the most needed capital in beef cattle farming in Kebumen Regency; (3). To analyze the factors that influence the amount of investment and working capital in beef cattle farming in Kebumen Regency. The research was conducted using a survey method on PO beef cattle farmers in Kebumen Regency. The sample areas were selected using purposive sampling, choosing six sub-districts with the highest population of PO cattle, namely Buluspesantren, Puring, Ambal, Klirong, Mirit, and Petanahan. The number of respondents was chosen using quota sampling, resulting in 90 farmers. The variables studied are the income from livestock farming, the age of the farmer, the education of the farmer, the number of livestock, and the main occupation of the farmer. Data analysis includes descriptive analysis to describe capital and multiple linear regression analysis to see the influence of the studied factors. The results of the study show that: 1). The average investment capital requirement for beef cattle farmers in Kebumen Regency is Rp. 49.667.748 and the working capital requirement is Rp. 10.722.198; 2). The most needed capital by beef cattle farmers in Kebumen Regency is investment capital for the purchase of breeding livestock; 3). The investment capital of beef cattle farmers in Kebumen regency is significantly influenced by income (P<0.01), the age of farmers (P<0.05), the education of farmers (P<0.05), and the number of livestock (P<0.01), while the working capital of beef cattle farmers in Kebumen regency is significantly influenced by income (P<0.01) and the number of livestock (P<0.01). | |
| 46468 | 49851 | H1D018034 | USER EXPERIENCE ANALISYS USING THE GAME DESIGN FACTORS QUESTIONNAIRE A CASE STUDY OF MOBILE LEGENDS: BANG BANG | Perkembangan teknologi digital telah mendorong industri game tumbuh pesat, terutama game online yang memungkinkan pemain berinteraksi secara real-time dari berbagai belahan dunia. Salah satu game yang memiliki tingkat popularitas tinggi adalah Mobile Legends: Bang Bang, sebuah game bergenre multiplayer online battle arena (MOBA) berbasis smartphone yang dirilis oleh Moonton. Dengan lebih dari 500 juta unduhan dan jutaan pemain aktif bulanan secara global, game ini menjadi salah satu yang paling banyak dimainkan dan menghasilkan pendapatan tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis user experience pada game Mobile Legends: Bang Bang dengan menggunakan metode Game Design Factors Questionnaire. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 67 reponden yang merupakan pemain aktif game. Data yang didapat dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif dengan bantuan aplikasi SPSS 30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enam dari dua belas faktor yang diuji seperti game goals, game mechanism, sensation, game value, challenges, dan sociality dengan nilai rata-rata lebih dari 4 sehingga dikategorikan sangat baik. Sementara enam faktor lainnya yaitu interaction, freedom, game fantasy, narrative, mystery dan flow dengan nilai rata-rata lebih dari 3 namun kurang dari 4 maka dikategorikan cukup baik, sehingga disarankan adanya peningkatan dari pihak pengembang untuk mengoptimalkan pengalaman bermain pengguna. | The advancement of digital technology has significantly driven the growth of the gaming industry, particularly online games that allow players to interact in real-time across the globe. One of the most popular games today is Mobile Legends: Bang Bang, a smartphone-based multiplayer online battle arena (MOBA) game developed by Moonton. With over 500 million downloads and millions of monthly active players, the game ranks among the most played and highest-grossing titles in Indonesia. This study aims to analyze the user experience of Mobile Legends: Bang Bang using the Game Design Factors Questionnaire (GDFQ) method. A quantitative approach was employed by distributing questionnaires to 67 respondents who are active players of the game. The collected data were analyzed using descriptive statistical methods with the help of SPSS 30 software. The results showed that six out of the twelve evaluated factors namely game goals, game mechanism, sensation, game value, challenges, and sociality had an average score above 4 and were thus categorized as very good. Meanwhile, the remaining six factors were interaction, freedom, game fantasy, narrative, mystery, and flow received average score above 3 but below 4 and were therefore categorized as fair. Based of these findings, it is recommended that improvements be made by the developers in these areas to further enhance the user experience. | |
| 46469 | 49852 | F1C021070 | Dramaturgi Fans JKT48: Negosiasi Identitas dan Dua Panggung Fans Laki-laki (Studi Kasus Fanbase JKT48 Purwokerto) | Menjadi penggemar idol group perempuan seperti JKT48 bukanlah hal yang mudah bagi sebagian laki-laki, khususnya dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai maskulinitas tradisional. Aktivitas sebagai fans sering kali dianggap tidak sesuai dengan citra laki-laki yang kuat, dominan, dan rasional. Hal ini memunculkan dinamika sosial yang kompleks bagi para fans laki-laki, terutama dalam hal bagaimana mereka menampilkan dan menegosiasikan identitasnya di ruang publik dan ruang komunitas. Penelitian ini berfokus pada anggota fanbase JKT48 Purwokerto dan bertujuan untuk mengkaji bagaimana mereka menyikapi tekanan sosial tersebut melalui strategi dramaturgis yang mencerminkan dua panggung kehidupan: panggung depan dan panggung belakang. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, melibatkan lima informan laki-laki yang aktif di komunitas JKT48 Purwokerto. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan menyembunyikan identitas fandom mereka di ruang publik untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial, namun secara terbuka mengekspresikan minat dan identitas mereka dalam ruang komunitas fandom. Proses ini memperlihatkan adanya negosiasi identitas dan redefinisi maskulinitas, di mana mereka mulai menerima bahwa menjadi laki-laki tidak harus selalu tampil maskulin dalam pengertian konvensional. Pendekatan dramaturgi dari Erving Goffman memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana identitas ditampilkan dan disesuaikan tergantung pada konteks sosial yang dihadapi. | Being a male fan of a female idol group such as JKT48 is not always easy, especially in a society that upholds traditional norms of masculinity. Fan activities are often perceived as incompatible with the dominant image of men as strong, rational, and socially dominant. This creates a complex social dynamic for male fans, particularly in how they present and negotiate their identities in both public spaces and fan communities. This study focuses on male members of the JKT48 Purwokerto fanbase and aims to analyze how they respond to social pressures through dramaturgical strategies that reflect two life stages: the front stage and the back stage. Using a qualitative approach and a case study method, this research involves five male informants who are actively involved in the fan community. Data were collected through observation and in-depth interviews. The findings reveal that the informants tend to conceal their fan identities in public to align with social expectations, but express their true selves openly within the fan community. This process highlights an ongoing negotiation of identity and a redefinition of masculinity, where being a man also means having the freedom to express emotional and personal interests. Erving Goffman’s dramaturgical approach provides a valuable framework to understand how these individuals perform and adjust their identities based on the social context they are situated in. | |
| 46470 | 49853 | D1A021053 | HUBUNGAN ANTARA PERTAMBAHAN UKURAN LINIER TUBUH DAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN DOMBA EKOR TIPIS JANTAN DAN BETINA DI GRIYA TERNAK FARM | Latar Belakang: Domba adalah salah satu hewan ternak yang digemari dan dibudidayakan di masyarakat Indonesia untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Kelebihan yang dimiliki domba diantaranya mudah beradaptasi terhadap lingkungan meskipun di negara beriklim tropis, dapat berkembang biak dengan cepat bahkan dalam dua tahun dapat beranak tiga kali dan juga bersifat prolifik (beranak lebih dari satu). Tujuan pemeliharaan domba pada umumnya sebagai penghasil daging daripada sebagai penghasil susu, sehingga produktivitas domba harus selalu dijaga dengan cermat. Produktivitas domba dapat diukur dengan pertambahan bobot badan harian dan pertambahan ukuran linier tubuh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memahami keterkaitan antara pertambahan ukuran linear tubuh dan pertambahan bobot badan harian pada Domba Ekor Tipis. Metode: Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 12 ekor domba ekor tipis jantan dan 12 ekor domba ekor tipis betina yang berumur 6-12 bulan yang diperoleh dari Griya Ternak Farm, Dusun Kemiri, Kelurahan Wringinanom, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Alat yang digunakan berupa metline, timbangan digital, tali tambang dan alat tulis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara pertambahan ukuran linier tubuh dan pertambahan bobot badan harian Domba Ekor Tipis memiliki hubungan. Pada Domba Ekor Tipis jantan, semua variabel memiliki korelasi sangat kuat dengan pertambahan bobot badan harian yaitu pertambahan panjang badan (r = 0,929), pertambahan lingkar dada (r = 0,992) dan pertambahan tinggi badan (r = 0,972). Pada Domba Ekor Tipis betina, semua variabel memiliki korelasi sangat kuat dengan pertambahan bobot badan harian yaitu pertambahan panjang badan (r = 0,995), pertambahan lingkar dada (r = 0,985) dan pertambahan tinggi badan (r = 0,974). Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pertambahan ukuran linier tubuh dan pertambahan bobot badan harian domba ekor tipis jantan dan betina di Griya Ternak farm memiliki nilai korelasi sangat kuat dan relatif sama. | Background: Sheep are one of the most popular livestock animals and are cultivated in Indonesian society to meet the needs of animal protein. The advantages that sheep have include being adaptable to the environment even in tropical countries, can breed quickly even in two years can give birth three times and are also prolific (breeding more than one). The purpose of raising sheep is generally as a meat producer rather than as a milk producer, so sheep productivity must always be carefully maintained. Sheep productivity can be measured by daily body weight gain and linear body size gain. Purpose: This study aims to understand the relationship between linear body size gain and daily body weight gain in Thin-tailed Sheep. Methods: The materials used in this study were 12 male and 12 female thin-tailed sheep aged 6-12 months obtained from Griya Ternak Farm, Kemiri Hamlet, Wringinanom Village, Kertek District, Wonosobo Regency, within the Province of Central Java. The tools used are metline, digital scales, rope and stationery. Results: The results showed that the relationship between linear body size gain and daily body weight gain of Thin-Tailed Sheep has a relationship. In male Thin-Tailed Sheep, all variables have a very strong correlation with daily body weight gain, namely body length gain (r = 0.929), chest circumference gain (r = 0.992) and height gain (r = 0.972). In female Thin-Tailed Sheep, all variables have a very strong correlation with daily body weight gain, namely body length gain (r = 0.995), chest circumference gain (r = 0.985) and body height gain (r = 0.974). Conclusion: From the results of this study it can be concluded that the relationship between linear body size gain and daily body weight gain of male and female thin-tailed sheep in Griya Ternak farm has a very strong correlation value and is relatively the same. | |
| 46471 | 49855 | D1B023008 | Studi Kinerja Produksi Ayam Niaga Petelur Dalam Sistem Kandang Terbuka di Wijaya Farm, Kuningan, Jawa Barat | Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produktivitas ayam niaga petelur strain Lohmann Brown pada umur 33–37 minggu dengan jumlah 7.000 ekor yang dipelihara dengan sistem kandang open house di Wijaya Farm, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah observasi kuantitatif deskriptif selama lima minggu dengan pengukuran parameter konsumsi pakan, Hen Day Production (HDP), berat telur, Feed Conversion Ratio (FCR), dan mortalitas. Hasil menunjukkan konsumsi pakan rata-rata 107,94 gram per ekor per hari, HDP sebesar 88,67%, berat telur rata-rata 61,40 gram per butir, FCR 2,03, dan mortalitas 0,06%. Sistem kandang open house dengan manajemen yang baik mampu mendukung produktivitas ayam niaga petelur secara memadai, meskipun fluktuasi suhu dan kelembapan menjadi tantangan utama. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pengelolaan lingkungan kandang dan pemantauan kesehatan secara berkala untuk mengoptimalkan performa produksi. Selain itu, penerapan sistem kandang closed house dengan kontrol lingkungan yang lebih baik dapat menjadi alternatif untuk memaksimalkan potensi genetik ayam niaga petelur di masa depan. | This study aimed to evaluate the productivity of Lohmann Brown laying hens aged 33–37 weeks with a total of 7.000 laying hens raised in an open house system at Wijaya Farm, Kuningan Regency, West Java. A descriptive quantitative observational method was applied over five weeks, measuring feed consumption, Hen Day Production (HDP), egg weight, Feed Conversion Ratio (FCR), and mortality rate. The results showed an average feed consumption of 107.94 grams per bird per day, HDP of 88.67%, average egg weight of 61.40 grams per egg, FCR of 2.03, and mortality rate of 0.06%. The open house system with proper management adequately supports laying hen productivity, although fluctuations in temperature and humidity remain significant challenges. This study recommends improving environmental management and regular health monitoring to optimize production performance. Furthermore, implementing a closed house system with better environmental control could be an alternative to maximize the genetic potential of laying hens in the future | |
| 46472 | 49857 | K1C021043 | PEMODELAN 3D SEBARAN LAPISAN BATUBARA MENGGUNAKAN METODE GRAVITASI (STUDI KASUS: KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur bawah permukaan dan distribusi lapisan batubara di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara menggunakan metode gravitasi. Data yang digunakan berupa anomali udara bebas dan topografi dari satelit GGMPlus, yang dikoreksi menjadi Anomali Bouguer Lengkap (ABL). Data ABL kemudian diproyeksikan ke bidang datar dan dipisahkan menjadi anomali regional dan residual menggunakan metode upward continuation. Pemodelan 3 dimensi dilakukan dengan software Grablox 1.7 dan divisualisasikan menggunakan Bloxer 1.6e. Hasil pemodelan menunjukkan rentang densitas antara 1.00 hingga 2.68 g/cm³. Zona densitas rendah (1.00–1.84 g/cm³) muncul pada kedalaman 2–5 km dan 10–20 km, yang diduga sebagai batubara. Interpretasi geologi mengaitkan zona tersebut dengan Formasi Balikpapan, Pamaluan, dan Pulaubalang yang dikenal sebagai formasi pembawa batubara di Cekungan Kutai bagian selatan. Hasil ini memberikan gambaran awal potensi batubara dan struktur geologi bawah permukaan yang dapat menjadi acuan eksplorasi lebih lanjut. | This study aims to determine the subsurface structure and coal seam distribution in Penajam Paser Utara Regency using the gravity method. The data used were free-air anomaly and topography from the GGMPlus satellite, which were processed into Complete Bouguer Anomaly (CBA). The CBA was projected onto a flat plane and separated into regional and residual anomalies using upward continuation. Three-dimensional modeling was carried out using Grablox 1.7 and visualized in Bloxer 1.6e. The results show density values ranging from 1.00 to 2.68 g/cm³. Low density zones (1.00–1.84 g/cm³) were identified at depths of 2–5 km and 10–20 km, which are interpreted as coal-bearing layers. Geological interpretation suggests that these zones correspond to the Balikpapan, Pamaluan, and Pulaubalang Formations, known as coal-bearing units in the southern Kutai Basin. This study provides an initial overview of coal potential and subsurface structure as a basis for further exploration. | |
| 46473 | 49856 | H1C021066 | Karakteristik Pengayaan Nikel - Kobalt (Ni - Co) Pada Endapan Nikel Laterit Pulau Pakal, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara | Meningkatnya permintaan global terhadap kobalt, yang diproyeksikan mencapai 390 ribu ton pada tahun 2030, mendorong tumbuhnya perhatian terhadap potensi cebakan laterit sebagai sumber daya strategis, terutama di wilayah dengan batuan ultramafik seperti Indonesia timur. Penelitian ini dilakukan di Pulau Pakal, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi geologi serta karakteristik geokimia endapan nikel laterit dan pengayaan unsur kobalt (Co) di daerah tersebut. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi lapangan, pengambilan sampel batuan, serta analisis laboratorium petrografi, XRD, XRF, dan SEM-EDX. Hasil menunjukkan satuan Dunit dan Harzburgit mengandung mineral olivin, ortopiroksen, dan serpentin. Zona limonit mengandung hematit, goethit, dan lithiophorite, sementara zona saprolit mengandung garnierit dan enstatit. Pengayaan Co dominan pada lapisan limonit (0,12–0,15%) dan dipengaruhi oleh litologi, serpentinisasi, topografi, struktur geologi, dan iklim tropis. Distribusi vertikal Co menunjukkan korelasi terbalik dengan Ni. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman proses pembentukan dan karakteristik endapan nikel-kobalt laterit di wilayah Indonesia timur, serta menjadi dasar ilmiah bagi kegiatan eksplorasi mineral strategis berbasis kobalt di masa mendatang. Kata kunci: Eksplorasi mineral, Geokimia, Kobalt (Co), Limonit, Nikel laterit, Pulau Pakal, Serpentinisasi. | The increasing global demand for cobalt, projected to reach 390,000 tons by 2030, has drawn growing attention to the potential of laterite deposits as strategic mineral resources, particularly in ultramafic rock regions such as eastern Indonesia. This study was conducted on Pakal Island, Maba District, East Halmahera, North Maluku. It aims to examine the geological conditions, geochemical characteristics of nickel laterite deposits, and the enrichment of cobalt (Co) in the study area. The methods employed include geological field mapping, rock sampling, and laboratory analyses involving petrography, XRD, XRF, and SEM-EDX. The results show that the Dunit and Harzburgit units contain olivine, orthopyroxene, and serpentine minerals. The limonite zone contains hematite, goethite, and lithiophorite, while the saprolite zone contains garnierite and enstatite. Co enrichment is predominantly found in the limonite layer (0.12–0.15%) and is influenced by lithology, degree of serpentinization, topography, geological structures, and the tropical climate, which accelerates chemical weathering. The vertical distribution of Co shows an inverse correlation with Ni. These findings contribute to the understanding of the formation processes and characteristics of nickel cobalt laterite deposits in eastern Indonesia and provide a scientific basis for future exploration of cobalt-based strategic mineral resources. Keywords: Cobalt (Co), lateritic nickel, Pakal Island, geochemistry, serpentinization, limonite, mineral exploration. | |
| 46474 | 49854 | H1E021062 | OPTIMALISASI PENGERINGAN GABAH PADA MESIN DRYERDENGAN METODE TAGUCHI UNTUK MENDAPATKAN KADAR AIR TERBAIK(STUDI KASUS : PT. MITRA DESA PAMARICAN) | PT MDP menghadapi tantangan dalam proses pengeringan gabah, di mana kadar air akhir seringkali tidak stabil dan tidak sesuai dengan target Badan Pangan Nasional (BAPANAS) sebesar 14%. Fluktuasi ini berdampak pada kualitas dan rendemen beras yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan proses pengeringan gabah pada mesin dryer dengan menerapkan metode Taguchi guna menentukan kombinasi faktor dan level yang paling efektif untuk mencapai kadar air terbaik dan stabil. Metode eksperimen ini menggunakan matriks ortogonal L4(2³) dengan tiga faktor kontrol, yaitu kadar air awal (level 1: ≤25%; level 2: 26-30%), waktu pengeringan (level 1: 8 jam; level 2: 10 jam), dan suhu tungku (level 1: 90°C; level 2: 95°C). Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA dan Signal to Noise (S/N) Ratio dengan karakteristik Nominal is the Best. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah kadar air awal dengan kontribusi 91,62%, diikuti oleh suhu tungku sebesar 6,06%, sedangkan waktu pengeringan tidak berpengaruh signifikan. Kombinasi level optimal yang diperoleh adalah kadar air awal pada kualitas 1 (≤25%), waktu pengeringan selama 10 jam, dan suhu tungku 95°C. Hasil eksperimen konfirmasi dengan kombinasi ini menunjukkan rata-rata kadar air akhir sebesar 14,0% dan 14,1%, sangat mendekati target yang diinginkan dan membuktikan validitas pengaturan optimal tersebut. | PT MDP faces challenges in the grain drying process, where the final moisture content is often unstable and does not meet the National Food Agency's (BAPANAS) target of 14%. This fluctuation impacts the quality and yield of the resulting rice. This study aims to optimize the grain drying process in a rice dryer by applying the Taguchi method to determine the most effective combination of factors and levels to achieve the best and most stable moisture content. This experimental method uses an L4(2³) orthogonal matrix with three control factors: initial moisture content (level 1: ≤25%; level 2: 26-30%), drying time (level 1: 8 hours; level 2: 10 hours), and furnace temperature (level 1: 90°C; level 2: 95°C). Data analysis was performed using ANOVA and Signal-to-Noise (S/N) Ratio with the characteristic "Nominal is the Best." The results showed that the most influential factor was the initial moisture content with a contribution of 91.62%, followed by the furnace temperature at 6.06%, while the drying time had no significant effect. The optimal combination of levels obtained was the initial moisture content at quality 1 (≤25%), a drying time of 10 hours, and a furnace temperature of 95°C. The results of the confirmation experiment with this combination showed an average final moisture content of 14,0% and 14,1%, very close to the desired target and proving the validity of the optimal setting. | |
| 46475 | 49858 | F1A018051 | MAKNA BROMANCE DI KALANGAN NCTzen (FANBASE NCT) | Budaya Korea atau Korean Wave telah menyebar ke Indonesia. Penggemar K-pop di Indonesia didominasi wanita (28,2%) dan kelompok usia 20–25 tahun (40,7%) paling dominan. NCT berada di peringkat kelima dengan jumlah penggemar di Indonesia, sehingga interaksi antar anggota NCT menjadi konsumsi publik. NCTzens—fans NCT—yang tertarik pada interaksi antar anggota NCT selanjutnya sering disebut bromance. Penelitian ini bertujuan mengetahui makna bromance di kalangan NCTzen. Penggunaan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dari informan NCTzen Purwokerto, dianalisis secara interaktif menggunakan Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan interaksi simbolik di dalam pikiran (mind) informan, bromance dipandang sebagai perbedaan budaya, budaya Korea menganggapnya wajar, sementara budaya Indonesia menganggap kontak erat laki-laki secara fisik tabu. Informan berpendapat bahwa interaksi laki-laki lebih menarik daripada interaksi dengan lawan jenis. Bromance dipakai untuk mengekspresikan kasih sayang, dipengaruhi paparan budaya Korea, ikatan sosial seperti persahabatan, saudara, atau keluarga yang menekankan ekspresi emosi, bukan unsur seksual, interaksi simbolik diri (self) melibatkan looking-glass self, yaitu informan menyadari stigma, dan menyesuaikan perilaku, dan dalam masyarakat (society) informan berinteraksi dengan significant others dan reference groups. Maskulinitas industri K-pop mengalami pergeseran. Soft masculinity menantang norma tradisional, memperlihatkan sisi feminim laki-laki, yaitu penggunaan warna cerah dan rangka tubuh ramping,sedangkan hard masculinity ditandai warna gelap dan fisik kuat. | Korean culture, or the Korean Wave, has spread to Indonesia. K-pop fans in Indonesia are predominantly women (28.2%) and the 20–25 age group (40.7%) is the most dominant. NCT ranks fifth in the number of fans in Indonesia, so interactions among NCT members have become public consumption. NCTzens—NCT fans—who are interested in interactions among NCT members are often referred to as bromance. This study aims to determine the meaning of bromance among NCTzens. The qualitative method uses data collection through interviews, observations, and documentation from NCTzen informants in Purwokerto, analyzed interactively using Miles and Huberman. The 2 results show symbolic interaction in the minds of informants. Bromance is viewed as a cultural difference; Korean culture considers it normal, while Indonesian culture regards close male physical contact as taboo. Informants argue that male–male interactions are more interesting than interactions with the opposite sex. The mind’s symbolic interaction—bromance—is used to express affection, influenced by exposure to Korean culture, and serves as social bonds such as friendship, brothers, or family that emphasize emotional expression rather than sexuality. The self involves looking-glass self, with informants recognizing stigma and adjusting behavior, and in society, informants interact with significant others and reference groups. The K-pop industry’s masculinity has shifted. Soft masculinity challenges traditional norms, showing the more feminine side of men, using bright colors and a slender physique, while hard masculinity is marked by dark colors and a strong physique. | |
| 46476 | 49859 | H1E021004 | Implementasi Lean Healthcare untuk meminimasi waste dan meningkatkan pelayanan di RSIA UMMU HANI Purbalingga Menggunakan Metode VSM dan PAM | Rumah sakit sebagai institusi layanan kesehatan dituntut untuk memberikan pelayanan yang efisien, cepat, dan berkualitas. Namun, dalam praktiknya sering ditemukan pemborosan (waste) yang menghambat efektivitas pelayanan, khususnya dalam proses perpulangan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan yang terjadi di Instalasi Rawat Inap RSIA Ummu Hani Purbalingga menggunakan pendekatan Lean Healthcare, dengan alat bantu utama berupa Value Stream Mapping (VSM), Process Activity Mapping (PAM), dan analisis 5 Why. Berdasarkan hasil pemetaan current state VSM, ditemukan bahwa waktu tunggu pasien mencapai 10.813 detik, dengan hanya 18,8% aktivitas yang bernilai tambah (value added). Melalui analisis PAM, sebagian besar aktivitas dikategorikan sebagai non-value added dan necessary non-value added, terutama pada proses administrasi dan verifikasi rekam medis. Analisis akar masalah menunjukkan penyebab utama waste adalah belum terintegrasinya sistem informasi antarunit, kurangnya koordinasi, serta tidak adanya SOP terkait estimasi waktu pulang pasien. Setelah implementasi perbaikan, future state VSM menunjukkan peningkatan efisiensi signifikan dengan penurunan lead time menjadi 4.051 detik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan metode Lean Healthcare efektif dalam mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan, serta meningkatkan efisiensi dan mutu layanan rumah sakit | Hospitals as health service institutions are required to provide efficient, fast, and quality services. However, in practice, waste is often found that hinders the effectiveness of services, especially in the patient discharge process. This study aims to identify and reduce waste that occurs in the Inpatient Installation of RSIA Ummu Hani Purbalingga using the Lean Healthcare approach, with the main tools in the form of Value Stream Mapping (VSM), Process Activity Mapping (PAM), and 5 Why analysis. Based on the results of the current state VSM mapping, it was found that the patient waiting time reached 10,813 seconds, with only 18.8% of activities being value added. Through PAM analysis, most activities are categorized as non-value added and necessary non-value added, especially in the administration and verification processes of medical records. Root cause analysis shows that the main causes of waste are the lack of integration of information systems between units, lack of coordination, and the absence of SOPs related to the estimation of patient discharge times. After implementing improvements, the future state VSM showed a significant increase in efficiency with a decrease in lead time to 4,051 seconds. This study concludes that the implementation of the Lean Healthcare method is effective in identifying and reducing waste, as well as improving the efficiency and quality of hospital services. | |
| 46477 | 49860 | J1C020038 | Proses Belajar Individu dalam Anime Wakaokami wa Shougakusei Karya Hiroko Reijou | Penelitian ini membahas tentang proses belajar dari suatu individu dalam mencapai potensi barunya dengan bantuan individu yang lebih berpengetahuan berdasarkan teori konstruktivisme sosial Vygotsky. Penelitian ini berfokus pada proses belajar yang dilewati oleh tokoh Okko dalam anime Wakaokami wa Shougakusei dengan menggunakan perspektif Vygotsky. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana proses belajar individu melalui interaksi sosial dengan lingkungannya dapat membantu individu tersebut dalam mencapai potensi baru yang sebelumnya tidak dapat dicapai. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan menggunakan teknik dokumentasi. Sumber data yang digunakan merupakan anime Wakaokami wa Shougakusei karya Hiroko Reijou. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses belajar individu sangat dipengaruhi oleh interaksi sosialnya dengan lingkungan sekitar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dengan bantuan (scaffolding) dari individu yang lebih berpengetahuan (More Knowledgeable Others/MKO), suatu individu dapat dengan efektif belajar hal baru dan mencapai potensi (Zone of Proximal Development/ZPD) yang sebelumnya tidak dapat dicapai sendirian. | This study discusses the learning process of an individual in achieving their new potential with the help of a more knowledgeable others based on Vygotsky's social constructivism theory. This study focuses on the learning process undergone by the character Okko in the anime Wakaokami wa Shougakusei using Vygotsky's perspective. This study aims to identify how an individual's learning process through social interaction with their environment can help them achieve new potential that was previously unattainable. This is a qualitative descriptive study using documentation techniques. The data source used is the anime Wakaokami wa Shougakusei by Hiroko Reijou. The results of the study show that an individual's learning process is greatly influenced by their social interaction with their surroundings. The results of this study indicate that with the assistance (scaffolding) of more knowledgeable others (MKO), an individual can effectively learn new things and achieve potential (zone of proximal development/ZPD) that was previously unattainable on their own. | |
| 46478 | 49861 | J1E020013 | EXPLORING STUDENTS' EXPERIENTIAL LEARNING ON USING "MAGIC BOX" AS A LEARNING MEDIA TO IMPROVE STUDENTS' SPEAKING SKILLS | Penelitian ini membahas tentang pengalaman belajar mahasiswa dengan menggunakan Magic Box sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada mahasiswa kelas A semester 4 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman. Atas dasar hal tesebut, penelitian ini bertujuan antara lain untuk: (1) untuk mengetahui persepsi mahasiswa dalam penggunaan media Magic Box; (2) untuk mengetahui implementasi Magic Box sebagai media pembelajaran; (3) untuk mengetahui masalah dan solusi yang dialami pada implementasi Magic Box sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa. Penelitian ini menggunakan teori dari Sarhang & Furwana (2020) terkait Magic Box sebagai media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain narrative inquiry. Mahasiswa semester 4 kelas A sebanyak 27 mahasiswa menjadi populasi dalam penelitian ini. Lima mahasiswa digunakan dalam penelitian ini melalui kriteria yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan melalui interview dan document study. Hasil penelitian ini menunjukkan persepsi yang positif terhadap penggunaan Magic Box sebagai media pembelajaran. Pembelajaran menggunakan media Magic Box membuat materi menjadi lebih mudah dipahami dan membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan berbicara khususnya pada vocabulary, pronunciation, fluency, dan tingkat percaya diri. Sementara, masalah yang dialami siswa selama pembelajaran dengan Magic Box berupa sulitnya mencari konten dan kurangnya penguasaan kosa kata. Solusi yang diberikan dari permasalahan tersebut ialah mencari referensi dan membagi tugas sesama anggota kelompok. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar guru dapat menggunakan media Magic Box secara terus menerus pada berbagai jenis keterampilan berbahasa terutama untuk pemahaman membaca. | This study discusses about students' learning experiences using Magic Box as a learning media to improve speaking skills in 4th semester class A students majoring in English Education, Faculty of Humanities, Jenderal Soedirman University. Based on this, the research aims include: (1) to determine students' perceptions of using Magic Box media to improve students' speaking skills; (2) to determine the implementation of Magic Box as a learning media to improve students' speaking skills; (3) to find out the problems and solutions experienced in the implementation of Magic Box as a learning media to improve students' speaking skills. This research uses the theory from Sarhang & Furwana (2020) regarding Magic Box as a learning medium. This research uses a qualitative method with a narrative inquiry design. Class A 4th semester students in the English Language Education Department, Faculty of Humanities, Jenderal Soedirman University are the population of this research. Five students were involved in this research according to predetermined criteria. In this research, data collection was carried out through interviews and document study. The data was analyzed using thematic analysis and document analysis. The results of this research showed a positive perception of the use of Magic Box as a learning medium. Learning using Magic Box media maked the material easier to understand and helped students improved their speaking skills, especially vocabulary, pronunciation, fluency and level of confidence. Meanwhile, the problems experienced by students during learning with Magic Box included difficulty finding content and lack of mastery of vocabulary. The solution given to this problem is to look for references and divide tasks among group members. Therefore, researcher recommended that teachers be able to use Magic Box media continuously in various types of language skills especially for reading comprehension. | |
| 46479 | 49862 | D1A021036 | PERBEDAAN DEPLESI DAN FEED CONVERSION RASIO ANTARA KANDANG TIMUR DAN KANDANG BARAT FARM RISWIYADI C DESA WONOSARI KEBUMEN | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan deplesi dan FCR antara kandang timur dan kandang barat di farm Riswiyadi C Desa Wonosari Kebumen. Penelitian dilaksanakan di farm Riswiyadi C Desa Wonosari Kebumen selama 41 hari pada tanggal 20 September 2024 – 31 Oktober 2024. Materi yang digunakan selama pemeliharaan ayam broiler di farm Riswiyadi C yaitu ayam broiler dengan populasi 53.900 ekor dengan strain Cobb CP 707 yang berasal dari hatchery Pakulaut Tegal. Farm Riswiyadi C terbagi menjadi 2 kandang yaitu kandang timur dan barat. Kandang timur dan barat masing-masing memiliki 3 lantai kandang dengan jenis kandang tipe closed house. Kandang timur berukuran panjang 51 meter, lebar 12 meter, dan tinggi 2 meter, sementara kandang barat berukuran panjang 48 meter, lebar 12 meter, dan tinggi 2 meter. Jumlah populasi ayam di kandang timur mencapai 27.489 ekor, sedangkan di kandang barat sebanyak 26.950 ekor. Suhu di kandang timur selama fase starter berkisar antara 30–33°C, fase grower 27–31°C, dan fase finisher 24–28°C. Sementara itu, suhu dalam kandang barat pada fase starter berada di kisaran 31–33°C, fase grower 28–32°C, dan fase finisher 25–28°C. Kode pakan untuk fase starter adalah S00, fase grower S11, dan fase finisher S12G. Metode yang digunakan adalah Uji T (test t). Parameter yang diamati meliputi deplesi dan Feed Conversion Ratio (FCR) selama satu periode pemeliharaan. Data rata-rata deplesi kandang timur ayam umur 1-6 minggu adalah 0.58 + 0.25 dan kandang barat 0.57 + 0.18. Data rata-rata FCR kandang timur ayam umur 1-6 minggu adalah 0.596 + 0.309 dan kandang barat 0.575 + 0.294. Hasil analisis menggunakan Uji T menunjukan bahwa deplesi dan FCR antara kandang timur dan kandang barat berbeda tidak nyata (P>0.05). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kandang timur dan kandang barat memiliki rata-rata deplesi dan FCR yang relatif sama. Kandang dengan manajemen pemeliharaan yang lebih optimal menunjukkan tingkat deplesi yang lebih rendah dan FCR yang lebih baik. Hal ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan efisiensi produksi dan kesehatan ayam di farm Riswiyadi C. | This study aims to determine the difference in depletion and FCR between the east and west cages at Riswiyadi C farm, Wonosari Village, Kebumen. The study was conducted at Riswiyadi C farm, Wonosari Village, Kebumen for 41 days on September 20, 2024 – October 31, 2024. The material used during broiler chicken maintenance at Riswiyadi C farm was broiler chickens with a population of 53,900 with the Cobb CP 707 strain originating from the Pakulaut Tegal hatchery. Riswiyadi C farm is divided into 2 cages, namely the east and west cages. The east and west cages each have 3 floors with a closed house type of cage. The east cage measures 51 meters long, 12 meters wide, and 2 meters high, while the west cage measures 48 meters long, 12 meters wide, and 2 meters high. The total population of chickens in the east cage reached 27,489, while in the west cage there were 26,950. The temperature in the east cage during the starter phase ranges from 30–33°C, the grower phase 27–31°C, and the finisher phase 24–28°C. Meanwhile, the temperature in the west cage during the starter phase is in the range of 31–33°C, the grower phase 28–32°C, and the finisher phase 25–28°C. The feed code for the starter phase is S00, the grower phase S11, and the finisher phase S12G. The method used is the T-test. The parameters observed include depletion and Feed Conversion Ratio (FCR) during one maintenance period. The average depletion data for the east cage of chickens aged 1–6 weeks is 0.58 + 0.25 and the west cage 0.57 + 0.18. The average FCR data for the east cage of chickens aged 1–6 weeks is 0.596 + 0.309 and the west cage 0.575 + 0.294. The results of the T-test analysis showed that the depletion and FCR between the east and west pens were not significantly different (P>0.05). The study concluded that the east and west pens had relatively similar average depletion and FCR. Pens with more optimal maintenance management showed lower depletion levels and better FCR. This is expected to serve as evaluation material for improving production efficiency and chicken health at Riswiyadi C's farm. | |
| 46480 | 49695 | H1D021092 | PENERAPAN METODE USER CENTERED DESIGN (UCD) DAN MODEL INCREMENTAL DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN UJI KOMPETENSI | Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UIN SAIZU mengalami hambatan dalam pelaksanaan uji kompetensi akibat belum tersedianya sistem informasi yang terintegrasi. Prosedur manual meningkatkan beban kerja, terutama pada tahap verifikasi, asesmen, dan pelaporan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun Sistem Informasi Manajemen Uji Kompetensi berbasis pendekatan User-Centered Design (UCD) untuk mengidentifikasi kebutuhan pengguna, dikombinasikan dengan model pengembangan Incremental yang disesuaikan dengan alur pelaksanaan uji kompetensi. Evaluasi akhir dilakukan dengan task-based usability testing terhadap tujuh responden, yang mewakili admin, asesi, dan asesor sebagai penggunanya. Hasil pengujian menunjukkan tingkat effectiveness sebesar 91,39%, time-based efficiency berkisar antara 3,17–5,68%, dan overall relative efficiency antara 80,79–96,17%. Selain itu, efisiensi waktu pada lima aktivitas utama meningkat signifikan, seperti penghematan waktu 99,97% pada pembuatan laporan rekap dan 85,3% pada proses verifikasi pendaftar. Skor System Usability Scale (SUS) sebesar 85,71 dikategorikan "Best Imaginable". Hasil ini menunjukkan bahwa sistem efektif, efisien, serta memenuhi kebutuhan pengguna dalam mendukung pelaksanaan uji kompetensi secara digital dan terstruktur. | The Professional Certification Institute (LSP) at UIN SAIZU faces obstacles in conducting competency assessments due to the absence of an integrated information system. Manual procedures significantly increase workloads, particularly during verification, assessment, and reporting stages. This study aims to design and develop a Competency Assessment Management Information System using a User-Centered Design (UCD) approach to identify user needs, combined with the Incremental development model tailored to the actual assessment process flow. The final evaluation employed task-based usability testing involving seven participants representing admins, candidates (asesi), and assessors (asesor). The results indicated an effectiveness rate of 91.39%, time-based efficiency ranging from 3.17% to 5.68%, and overall relative efficiency between 80.79% and 96.17%. Moreover, significant time savings were recorded in five core activities, including a 99.97% reduction in time for report generation and an 85.3% reduction for candidate verification. The System Usability Scale (SUS) score of 85.71 is classified as “Best Imaginable.” These findings demonstrate that the system is effective, efficient, and successfully addresses user needs in supporting a digital and structured competency assessment process. |