Artikelilmiahs

Menampilkan 46.481-46.500 dari 48.729 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4648149864H1A018053RANCANG BANGUN SISTEM PENGENDALI EC DAN PH AIR PADA TANAMAN HIDROPONIK BERBASIS IOTMelon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu jenis buah yang termasuk dalam famili cucurbitaceae atau suku labu-labuan. Buah ini dikenal kaya akan kandungan air, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan. Tanaman melon idealnya tumbuh pada ketinggian 300–900 meter di atas permukaan laut, dengan suhu optimal berkisar antara 25°C–30°C dan kelembapan udara 50%–70%. Pertumbuhan tanaman melon sangat bergantung pada kesesuaian kondisi lingkungan serta kecukupan nutrisi yang diberikan. Selain suhu dan kelembapan, parameter penting lain dalam budidaya melon secara hidroponik meliputi kadar pH dan konsentrasi nutrisi terlarut dalam air. Penelitian ini dilakukan dengan merancang sistem pengendali EC (Electrical Conductivity) dan pH air secara otomatis menggunakan mikrokontroler ESP32 berbasis Internet of Things (IoT). Pengukuran kadar nutrisi dilakukan menggunakan sensor EC DFR0300, sedangkan kadar pH diukur menggunakan sensor pH SEN0161. Penyesuaian nutrisi dan proses penyiraman dilakukan dengan bantuan pompa yang dikendalikan oleh mikrokontroler ESP 32. Berdasarkan hasil pengujian, sensor EC DFR0300 memiliki galat sebesar 1,51% pada larutan standar 1,413 mS/cm2 dan 4,57% pada larutan 12,88 mS/cm2. Sementara itu, sensor pH SEN0161 menunjukkan galat sebesar 5,11% pada larutan buffer pH 4,01, 3,35% pada buffer pH 8,68, dan 2,29% pada buffer pH 9,18. Sistem yang dirancang berhasil melakukan penyiraman otomatis pada pukul 08.15 dan 10.15 WIB. Sebelum penyiraman dilakukan, sistem akan menyesuaikan terlebih dahulu kadar nutrisi dan pH air sesuai dengan kebutuhan tanaman. Selain berfungsi secara otomatis, sistem ini juga dapat dioperasikan secara manual melalui dashboard aplikasi Blynk. Dashboard Blynk menampilkan pembacaan sensor EC dan pH, serta menyediakan tombol pengaturan mode otomatis/manual, kontrol pompa penyiraman, pompa pH up, pompa pH down, dan pompa nutrisi.Melon (Cucumis melo L.) is a type of fruit that belongs to the Cucurbitaceae family, commonly known as the gourd or squash family. This fruit is known for its high content of water, vitamins, and minerals that are beneficial to health. Melon plants ideally grow at an altitude of 300–900 meters above sea level, with optimal temperatures ranging from 25°C to 30°C and air humidity between 50% and 70%. The growth of melon plants greatly depends on suitable environmental conditions and adequate nutrient supply. In addition to temperature and humidity, other important parameters in hydroponic melon cultivation include the pH level and the concentration of dissolved nutrients in the water. This study was conducted by designing an automatic control system for water EC (Electrical Conductivity) and pH using an ESP32 microcontroller based on the Internet of Things (IoT). Nutrient concentration was measured using the EC sensor DFR0300, while the pH level was measured using the pH sensor SEN0161. Nutrient adjustment and irrigation processes were carried out using pumps controlled by the ESP32 microcontroller. Based on the test results, the EC sensor DFR0300 showed an error rate of 1,51% in a standard solution of 1,413 mS/cm2 and 4,57% in a solution of 12,88 mS/cm. Meanwhile, the pH sensor SEN0161 had an error rate of 5,11% in buffer solution pH 4,01, 3,35% in buffer pH 8,68, and 2,29% in buffer pH 9,18. The system successfully performed automatic irrigation at 08:15 and 10:15 AM (WIB). Before irrigation, the system first adjusted the nutrient concentration and water pH to meet the plants' requirements. In addition to automatic operation, the system can also be manually controlled via the Blynk application dashboard. The Blynk dashboard displays real time readings from the EC and pH sensors, and provides buttons to switch between automatic and manual modes, as well as to control the irrigation pump, pH up pump, pH down pump, and nutrient pump.
4648249863A1C021003PENGARUH PUPUK ORGANIK, KIMIA, DAN CAMPURAN TERHADAP
TINGKAT PEMADATAN TANAH PADA KEDALAMAN 0 – 50 CM
(12 BULAN SETELAH PERLINTASAN TRAKTOR RODA 2)
Perlintasan traktor dapat memadatkan tanah, berpotensi menurunkan kualitas struktur
tanah dan menghambat perakaran tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh jenis pupuk terhadap tingkat pemadatan tanah akibat perlintasan traktor roda 2 pada
kedalaman 0 – 50 cm setelah 12 bulan, serta menganalisis hubungan antar sifat fisik tanah.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 jenis pupuk (tanpa pupuk,
organik (kotoran kambing), kimia (NPK), dan campuran) dan 5 kedalaman tanah
(0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40 dan 40 – 50 cm).
Hasil menunjukkan bahwa pemberian jenis pupuk, terutama pupuk organik kotoran
kambing dapat menurunkan dry bulk density dan meningkatkan porositas, kadar air, serta
hydraulic conductivity. Semakin bertambah tingkat kedalaman tanah, pemadatan semakin
berkurang. Analisis statistik menunjukkan hubunan linier antar variabel sifat fisik tanah.
Pada 12 bulan setelah perlintasan traktor roda 2, dry bulk density lebih tinggi, sedangkan
porositas, kadar air, dan hydraulic conductivity lebih rendah dibandingkan 0 dan 6 bulan
pengamatan.
Two-wheeled tractor traffic can compact the soil, potentially reducing soil structure
quality and inhibiting plant root growth. This study aims to determine the effect of fertilizer type
on soil compaction levels caused by two-wheeled tractor traffic at a depth of 0 – 50 cm after 12
months, as well as to analyze the relationship between soil physical properties. The study
employed a completely randomized design with four types of fertilizer (no fertilizer, organic
(goat manure), chemical (NPK), and mixed) and five soil depth levels (0 – 10, 10 – 20, 20 – 30,
30 – 40, and 40 – 50 cm).
The results showed that the application of fertilizer types, particularly organic goat
manure, reduced dry bulk density and increased porosity, moisture content, and hydraulic
conductivity. As soil depth increased, compaction decreased. Statistical analysis revealed a
linear relationship between the physical properties of the soil. Twelve months after the 2-wheel
tractor pass, dry bulk density was higher, while porosity, moisture content, and hydraulic
conductivity were lower compared to 0 and 6 months of observation.
4648349865D1B023009PENGARUH FORTIFIKASI MINERAL MAGNESIUM DAN SULFUR DALAM PAKAN
DOMBA LOKAL TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN SERAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fortifikasi mineral Magnesium (Mg) dan
Magnesium (Mg) + Sulfur (S) dalam pakan terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar pakan domba
lokal, dan dilaksanakan pada 16 Mei - 18 September 2024. Materi yang digunakan yaitu 18 ekor domba
lokal jantan berumur 10-12 bulan dengan bobot badan rata-rata 24,2 ± 2,2 kg. Pakan basal yang
diberikan terdiri dari jerami padi amoniasi (JPA) dan konsentrat dengan perbandingan 25% : 75%,
pemberian berdasarkan 4,5% bahan kering (BK) dari bobot badan. Metode yang digunakan adalah
eksperimen in vivo dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola satu arah. Tiga perlakuan diuji, yaitu
P1 = Jerami Padi Amoniasi (JPA) (25%) + konsentrat (75%), P2 = P1 + Mg (0,005%) dari Bobot Badan
(BB) domba, P3 = P2 + S (0,83%) dari Bahan Kering (BK) pakan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 6
kali. Variabel yang diukur yaitu konsumsi dan kecernaan serat kasar (SK), data yang diperoleh
kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi (ANAVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
fortifikasi mineral Mg dan Mg + S tidak meningkatkan konsumsi serat kasar secara signifikan (P>0,05)
dengan rata-rata konsumsi adalah (P1) 121,42 ± 22,99 g/ekor/hari, (P2) 133,71 ± 15,43 g/ekor/hari,
dan (P3) 147,70 ± 31,96 g/ekor/hari. Fortifikasi mineral Mg dan Mg + S tidak meningkatkan kecernaan
serat kasar secara signifikan (P>0,05) dengan rata-rata kecernaan adalah (P1) 72,59 ± 1,45 %, (P2)
72,05 ± 3,23 %, dan (P3) 64,98 ± 10,57 %. Fortifikasi mineral Magnesium 0,005% dan Sulfur 0,83%
dalam pakan tidak meningkatkan konsumsi dan kecernaan serat kasar (SK) domba lokal.
The study aims to examine the effect of mineral fortification of Magnesium (Mg) and Magnesium (Mg) + Sulfur (S) in feed on the consumption and digestibility of crude fiber of local sheep feed, and was conducted on May 16 - September 18, 2024. The material used was 18 local male sheep aged 10-12 months with an average body weight of 24.2 ± 2.2 kg. The basal feed provided consisted of ammoniated rice straw (JPA) and concentrate with a ratio of 25% : 75%, given based on 4.5% dry matter (DM) of body weight. The method used was an in vivo experiment with a one-way Completely Randomized Design (CRD). Three treatments were tested, namely P1 = Ammoniated Rice Straw (JPA) (25%) + concentrate (75%), P2 = P1 + Mg (0.005%) from the Body Weight (BB) of sheep, P3 = P2 + S (0.83%) from Dry Matter (DM) of feed. Each treatment was repeated 6 times. The variables measured were consumption and digestibility of crude fiber (CF), the data obtained were then analyzed using analysis of variance (ANOVA). The results of the study showed that Mg and Mg + S mineral fortification did not
significantly increase crude fiber consumption (P>0.05) with average consumption being (P1) 121.42 ± 22.99 g/head/day, (P2) 133.71 ± 15.43 g/head/day, and (P3) 147.70 ± 31.96 g/head/day. Mg and Mg + S mineral fortification did not significantly increase crude fiber digestibility (P>0.05), with average digestibility of (P1) 72.59 ± 1.45%, (P2) 72.05 ± 3.23%, and (P3) 64.98 ± 10.57%. Magnesium 0,005% and Sulfur 0,83% mineral fortification in feed did not increase crude fiber (CFR) intake and digestibility in local sheep.
4648449866A1D018190KERAGAMAN MORFOLOGI TUJUH GENOTIPE TANAMAN ANGGREK DENDROBIUM (Dendrobium spp.)Indonesia yang beriklim tropis memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk anggrek yang menjadi salah satu komoditas hortikultura bernilai estetika dan ekonomi tinggi (Hartati, 2019). Anggrek Dendrobium (Dendrobium spp.) dikenal memiliki keragaman morfologi yang mencolok pada bagian vegetatif maupun generatif, yang penting sebagai dasar konservasi, identifikasi taksonomi, dan pengembangan varietas unggul (Puspitaningtyas et al., 2021). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi keragaman morfologi tujuh genotipe anggrek Dendrobium di Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, berdasarkan karakter kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2025 di screenhouse Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 genotipe dan 3 ulangan. Variabel kuantitatif yang diamati meliputi panjang dan lebar daun, panjang dan lebar pseudobulb, panjang dan lebar bunga, panjang tangkai bunga, dan panjang rangkaian bunga. Variabel kualitatif meliputi bentuk dan warna daun, batang, dan bunga berdasarkan panduan karakterisasi dari Balai Penelitian Tanaman Hias. Data kuantitatif dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan keragaman morfologi yang signifikan pada beberapa karakter kuantitatif. Genotipe G1 (Caesar Red) memiliki performa terbaik pada hampir semua variabel kuantitatif, termasuk panjang daun (14,67 cm), panjang bunga (7,80 cm), dan panjang tangkai bunga (44,37 cm). Genotipe G2 dan G3 menunjukkan keunggulan pada lebar bunga, sedangkan G6 dan G7 cenderung memiliki nilai morfologi terendah. Variabel kualitatif memperlihatkan perbedaan bentuk dan warna bunga yang dapat menjadi potensi dalam pemuliaan. Keragaman yang ditemukan memberikan dasar penting dalam program konservasi dan pemuliaan anggrek Dendrobium untuk menghasilkan varietas unggul yang bernilai ekonomi tinggi.Indonesia’s tropical climate supports high biodiversity, including orchids, which are among the most valuable horticultural commodities in terms of aesthetics and economic potential (Hartati, 2019). Dendrobium orchids (Dendrobium spp.) are known for their remarkable morphological diversity in both vegetative and generative parts, which plays an essential role in conservation, taxonomic identification, and the development of superior varieties (Puspitaningtyas et al., 2021). This study aimed to identify and characterize the morphological diversity of seven Dendrobium orchid genotypes in North Purwokerto, Banyumas Regency, based on quantitative and qualitative traits. The research was conducted in July 2025 at the screenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, using a Completely Randomized Design (CRD) with seven genotypes and three replications. Quantitative variables observed included leaf length and width, pseudobulb length and width, flower length and width, flower stalk length, and inflorescence length. Qualitative variables included the shape and color of leaves, stems, and flowers based on the characterization guide from the Ornamental Plant Research Center. Quantitative data were analyzed using ANOVA, followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results revealed significant morphological diversity among several quantitative traits. Genotype G1 (Caesar Red) showed the best performance in nearly all quantitative variables, including leaf length (14.67 cm), flower length (7.80 cm), and flower stalk length (44.37 cm). Genotypes G2 and G3 excelled in flower width, while G6 and G7 tended to have the lowest morphological values. Qualitative traits showed differences in flower shapes and colors, which present potential for breeding purposes. The observed diversity provides an important foundation for conservation programs and the breeding of Dendrobium orchids to produce superior varieties with high economic value.
4648549867D1B023007Analisis Performa Produksi dan Keuntungan Usaha Berbasis IOFC. Studi
kasus : CV. Wijaya Farm
Studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja produksi dan efisiensi finansial ayam niaga petelur pada tiga kandang komersial di Wijaya Farm, Desa Winduherang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Studi kasus dilakukan secara deskriptif menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan selama umur ayam 35 hingga 38 minggu, meliputi parameter produksi telur (Hen Day
Production/HDP), konsumsi pakan, Feed Conversion Ratio (FCR), mortalitas, pendapatan peternak, dan Income Over Feed Cost(IOFC). Hasil studi menunjukkan rata-rata HDP di ketiga kandang adalah 91,07% (Kandang A), 91,02% (Kandang B), dan 91,09% (Kandang C), dengan nilai FCR berkisar antara 2,12 hingga 2,13. Mortalitas tercatat sangat rendah (<0,15%), mengindikasikan kesehatan ayam yang baik. Pendapatan mingguan masing-masing kandang berkisar antara Rp 3.477.249 hingga Rp 3.622.361, dengan nilai IOFC yang positif dan seragam, yaitu Rp 1.016.288 (Kandang A), Rp 1.041.943 (Kandang B), dan Rp 1.029.463 (Kandang C). Kesimpulan studi kasus ini adalah produksi ayam niaga petelur di Wijaya Farm menunjukkan performa teknis dan efisiensi finansial yang optimal, didukung oleh manajemen pakan dan kesehatan ayam yang baik, serta nilai IOFC yang stabil dapat dijadikan dasar evaluasi keberlanjutan usaha peternakan.
This case study aims to evaluate the production performance and financial efficiency of commercial
laying hens in three commercial coops at Wijaya Farm, Winduherang Village, Kuningan Regency, West
Java. The study was conducted descriptively using primary and secondary data collected during the
hens' age of 35 to 38 weeks, covering parameters such as egg production (Hen Day Production/HDP),
feed consumption, Feed Conversion Ratio (FCR), mortality, farmer income, and Income Over Feed Cost
(IOFC). The study results show that the average HDP in the three coops was 91.07% (Coop A), 91.02%
(Coop B), and 91.09% (Coop C), with FCR values ranging from 2.12 to 2.13. Mortality was very low
(<0.15%), indicating good chicken health. The weekly income for each coop ranged from Rp 3,477,249
to Rp 3,622,361, with positive and uniform IOFC values, namely Rp 1,016,288 (Coop A), Rp 1,041,943
(Coop B), and Rp 1,029,463 (Coop C). The conclusion of this case study is that egg production at Wijaya
Farm demonstrates optimal technical performance and financial efficiency, supported by good feed and
health management, and a stable IOFC value can serve as a basis for evaluating the sustainability of the
poultry business.
4648649869K1C021017ANALISIS STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN POTENSI GEOLOGI DI BAGIAN TIMUR KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI GGMPLUSPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan dan menduga potensi sumber daya alam di bagian timur Kabupaten Grobogan berdasarkan data anomali gravitasi. Analisis dilakukan melalui pemrosesan anomali Bouguer lengkap, reduksi ke bidang datar, pemisahan anomali residual dengan metode upward continuation, serta analisis turunan FHD dan SVD untuk mendeteksi struktur sesar. Hasil pemodelan 2D pada empat lintasan utama menunjukkan pola stratigrafi yang berlapis teratur serta mengidentifikasi 28 sesar, terdiri atas 14 sesar normal dan 14 sesar naik. Beberapa sesar berada di sekitar zona aktivitas gunung api lumpur seperti Bledug Kuwu, Bledug Kramesan, dan Bledug Cangkring, serta diduga menjadi jalur migrasi fluida ke permukaan. Analisis lebih lanjut menunjukkan enam zona potensial kemunculan gunung api lumpur baru, ditandai oleh anomali densitas lokal yang terletak di antara struktur sesar. Distribusi densitas berkisar antara 1,980 – 2,024 g/cm³ dan diasosiasikan dengan Aluvium, Formasi Tambakromo, Formasi Lidah, Formasi Selorejo, dan Formasi Mundu. Formasi Selorejo dan Formasi Mundu berpotensi sebagai batuan reservoir dan penutup, sedangkan Formasi Lidah sebagai batuan induk. Konfigurasi ini menunjukkan potensi sistem hidrokarbon dan akumulasi mineral di zona rekahan bawah permukaan, serta berkontribusi terhadap strategi mitigasi geologi dan perencanaan tata ruang wilayah.This study aims to identify subsurface geological structures and suspect the potential of natural resources in the eastern part of Grobogan Regency based on gravitational anomaly data. The analysis was carried out through complete Bouguer anomaly processing, reduction to a flat plane, separation of residual anomalies by upward continuation method, and FHD and SVD derivative analysis to detect fault structures. The results of 2D modeling on the four main trajectories showed a stratigraphic pattern that was regularly layered and identified 28 faults, consisting of 14 normal faults and 14 ascending faults. Several faults are located around the activity zone of mud volcanoes such as Bledug Kuwu, Bledug Kramesan, and Bledug Cangkring, and are suspected to be a fluid migration route to the surface. Further analysis showed six potential zones of the emergence of new mud volcanoes, characterized by local density anomalies located between fault structures. The density distribution ranges from 1,980 – 2,024 g/cm³ and is associated with the Alluvium, Formasi Tambakromo, Formasi Lidah, Formasi Selorejo, and Formasi Mundu. Formasi Selorejo and Formasi Mundu have the potential to be reservoir and overcover rocks, while the Formasi Lidah as the parent rock. This configuration demonstrates the potential for hydrocarbon systems and mineral accumulation in the subsurface rift zone, as well as contributing to geological mitigation strategies and regional spatial planning.
4648749868L1B021022Pengaruh Pemberian Probiotik Komersial dengan Dosis Berbeda terhadap Kualitas Air Pemeliharaan dan Sintasan Post Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik dengan dosis berbeda terhadap kualitasair dan sintasan post larva udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember2024 di Hatchery CPP Anyer, Banten, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuandan tiga ulangan, yaitu A (kontrol), B (10 ppm), C (15 ppm), dan D (20 ppm). Parameter yang diamati meliputisuhu, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), total padatan tersuspensi (TSS), kekeruhan, kelimpahanVibrio sp.,dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik dengan dosis berbeda berpengaruh nyataterhadap nilai DO dan sintasan (p < 0,05), namun tidak berpengaruh terhadap suhu, salinitas, pH, TSS,kekeruhan, dan kelimpahanVibrio sp. Perlakuan B (10 ppm) menghasilkan sintasan tertinggi sebesar 87,78%,secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kontrol (tanpa probiotik) yang hanya sebesar 65,56%. Dengandemikian, pemberian probiotik pada dosis yang tepat terbukti efektif dalam memperbaiki sebagian parameterkualitas air dan meningkatkan kelangsungan hidup post larva udang vaname.This study aims to determine the effect of administering probiotics at different doses on water quality and postlarvae survival of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei). The study was conducted in December 2024 at theCPP Anyer Hatchery in Banten, using a completely randomized design (RAL) with four treatments and threereplicates: A (control), B (10 ppm), C (15 ppm), and D (20 ppm). The parameters observed included temperature,salinity, pH, dissolved oxygen (DO), total suspended solids (TSS), turbidity,Vibrio sp. abundance, and survivalrate. The results showed that the administration of probiotics at different doses significantly affected DO levelsand survival rate (p < 0.05), but had no effect on temperature, salinity, pH, TSS, turbidity, andVibrio sp.abundance. Treatment B (10 ppm) yielded the highest survival rate of 87.78%, significantly higher than thecontrol (without probiotics) at 65.56%. Thus, the administration of probiotics at the appropriate dose was proveneffective in improving some water quality parameters and enhancing the survival rate of post-larvae of vanameshrimp.
4648849870F1A021058Hubungan Antara Persepsi Mahasiswa FISIP UNSOED tentang Konten Body Positivity dengan Respon Mahasiswa terhadap
Konten Body Positivity di Media Sosial
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan persepsi mahasiswa FISIP UNSOED tentang konten body positivity dengan respon mereka terhadap konten body positivity di media sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode berupa survei. Data diperoleh dari kuesioner. Teknik analisis data menggunakan korelasi Tau Kendall b. Jumlah populasi sebanyak 446 mahasiswa yang berasal dari angkatan 2021 jurusan Administrasi Publik, Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, Ilmu Politik, dan Sosiologi. Sampel berjumlah 82 mahasiswa yang ditentukan menggunakan teknik proportional random sampling. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa nilai korelasi tau kendall pada variabel persepsi mahasiswa sebesar 0,42 dengan nilai signifikansi 0,00. Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi mahasiswa tentang konten body positivity dengan respon mahasiswa tentang konten body positivity di media sosial. Persepsi positif mahasiswa tentang konten body positivity berkontribusi pada pembentukan respon kognitif, afektif, dan behavioral mereka. Mahasiswa yang terpapar konten body positivity cenderung lebih selektif dalam mengonsumsi konten, dengan memilih konten yang berasal dari sumber kredibel seperti dokter, psikolog, ahli gizi, aktivis gender, dan influencer yang kompeten. Adanya persepsi positif tentang konten body positivity membantu mahasiswa memfilter konten negatif dan membangun lingkungan media sosial yang inklusif. This study aims to determine how the relationship between FISIP UNSOED students perceptions of body positivity content and their responses to body positivity content on social media. This research is a quantitative research with a survey method. Data obtained from questionnaires. Technical data analysis using Kendall’s correlation. The total population was 446 students from the class of 2021 majoring in Public Administration, International Relations, Communication Science, Political Science, and Sociology. The sample amounted to 82 students who were determined using proportional random sampling technique. The results revealed that the value of Kendall’s tau correlation on the student perception variable was 0.42 with a significance value of 0.00. There is a significant relationship between student perceptions of body positivity content and student responses to body positivity content on social media. Students positive perceptions of body positivity content contribute to the formation of their cognitive, affective, and behavioral responses. Students who are exposed to body positivity content tend to be more selective in consuming content, by choosing content that comes from credible sources such as doctors, psychologists, nutritionists, gender activists, and competent influencers. Positive perceptions of body positivity content help students filter negative content and build an inclusive social media environment.
4648949876H1E021018Pengendalian Persediaan Obat Injeksi Menggunakan Klasifikasi MUSIC-3D Dengan Metode Hybrid System Pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit XYZ Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) XYZ menghadapi permasalahan dalam pengendalian persediaan obat injeksi generik, seperti tidak adanya sistem prioritas dan kebijakan pengadaan yang jelas, sehingga sering terjadi kekurangan atau kelebihan stok. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan obat injeksi generik dan memberikan usulan kebijakan persediaan yang optimal. Metode MUSIC-3D digunakan dengan pendekatan klasifikasi ABC (berdasarkan nilai konsumsi), VED (berdasarkan tingkat kekritisan), dan FSN (berdasarkan laju konsumsi) untuk menentukan tingkat prioritas dari 53 item obat injeksi generik. Obat yang masuk dalam kategori prioritas I kemudian dianalisis menggunakan metode Hybrid System, yaitu gabungan antara sistem pemesanan periodik dan kontinu, untuk menentukan kebijakan pengendalian persediaan. Parameter yang dihitung meliputi jumlah pemesanan, titik pemesanan ulang, maksimum persediaan, Safety stock, dan total biaya persediaan menggunakan pendekatan model Hadley-Within. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini mampu meminimalkan risiko kekurangan atau kelebihan stok serta menurunkan total biaya persediaan secara signifikan, yakni sebesar 71,05% dibandingkan dengan kondisi aktual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi metode MUSIC-3D dengan Hybrid System efektif dalam mengelola persediaan obat injeksi generik secara lebih efisien dan terstruktur di IFRS XYZ.The Pharmacy Installation of XYZ Hospital (IFRS XYZ) faces inventory management issues for generic injectable drugs, such as the absence of a priority system and clear procurement policies, often resulting in stockouts or overstocking. This study aims to classify generic injectable drugs and propose an optimal inventory control policy. The MUSIC-3D method is applied using ABC (based on consumption value), VED (based on criticality level), and FSN (based on usage rate) classifications to determine the priority level of 53 generic injectable drug items. Items classified as Priority I are further analyzed using the Hybrid System method, which combines periodic and continuous ordering systems to establish inventory control policies. The parameters calculated include order Quantity, Reorder point, maximum inventory, Safety stock, and total inventory cost using the Hadley-Within model. The results of the study indicate that this method is capable of minimizing the risk of stockouts or overstocking and significantly reducing total inventory costs by 71.05% compared to the actual condition. This study concludes that the integration of the MUSIC-3D method with the Hybrid System is effective in managing the inventory of generic injectable drugs more efficiently and systematically at IFRS XYZ.
4649049871A1F021004Pengaruh Jenis Kemasan dan Lama Penyimpanan terhadap Karakteristik Fisikokimia Cookies Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tumbuhan rimpang yang mengandung berbagai senyawa seperti kurkuminoid, minyak atsiri, pati, protein, lemak, selulosa, dan mineral serta berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol, anti jamur dan bakteri serta dapat meningkatkan nafsu makan. Kekurangan dari temulawak terletak pada aroma dan rasa yang begitu kuat sehingga saat pengaplikasian terhadap produk olahan tidak dapat hilang begitu saja, dan berpengaruh terhadap menurunnya minat masyarakat. Alternatif yang dapat dilakukan untuk menggurangi aroma dan rasa temulawak yaitu dengan melakukan proses mikroenkapsulasi. Salah satu pemanfaatan mikroenkapsulasi temulawak dapat dijadikan sebagai pangan fungsional. Cookies temulawak merupakan pangan fungsional yang diharapkan dapat diterima dari aspek rasa dan aroma yang memiliki karakteristik berupa adonan lunak, berkadar lemak tinggi, relatif renyah bila dipatahkan dan penampang potongannya bertekstur padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan dan lama penyimpanan terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori cookies temulawak serta untuk mengetahui lama penyimpanan terbaik dan jenis kemasan yang paling efektif untuk mempertahankan kualitas cookies temulawak selama penyimpanan pada suhu ruang.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor yang diteliti meliputi jenis kemasan (polyethylene, polypropylene, dan aluminium foil) dan lama penyimpanan (15, 30, 45, dan 60 hari). Variabel yang diamati berupa fisikokimia (kadar air, total fenol, aktivitas antioksidan DPPH, kurkumin, lightness (L*), redness (a*), dan yellowness (b*)) dan sensori (warna, aroma, rasa, aftertaste, tekstur, overall). Hasil data diuji menggunakan ANOVA dilanjut uji DMRT pada taraf 5% apabila berpengaruh nyata, uji friedman dan uji indeks efektivitas De Garmo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama penyimpanan berpengaruh terhadap kadar air, fenol, aktivitas antioksidan DPPH, kurkumin lightness (L*), dan redness (a*), sedangkan perlakuan jenis kemasan berpengaruh terhadap kadar air. Perlakuan terbaik diperoleh pada cookies temulawak penyimpanan 15 hari dengan jenis kemasan aluminium foil dengan nilai fisikokimia dan sensori kadar air 3,34%, total fenol 9,09 mg GAE/mL, aktivitas antioksidan DPPH 83,89%inhibisi, kurkumin 3,18 mg/mL, Lightness (L*) 69,13, redness (a*) 8,20, yellowness (b*) 53,35. Pada uji sensori warna 4,30 (cokelat kekuningan), aroma 2,30 (khas temulawak), rasa 3,80 (sedikit manis), aftertaste 4,43 (sedikit pahit), tekstur 1,93 (sangat keras), kesukaan secara keseluruhan (overall) 2,93 (sedikit suka).
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) is a rhizome plant that contains various compounds such as curcuminoids, essential oils, starch, protein, fat, cellulose, and minerals. It is effective in lowering cholesterol levels, fighting fungi and bacteria, and increasing appetite. The shortcomings of temulawak lie in the fragrance and taste that is so strong that when applying to processed products It cannot just disappear and has an effect on decreasing public interest. An alternative that can be done to reduce the fragrance and flavor of temulawak is to carry out the microencapsulation process. One of the utilizations of temulawak microencapsulation can be used as functional food. Functional foods made from microencapsulated temulawak are expected to be acceptable in terms of taste and aroma. One type of functional food that can be processed is cookies. Temulawak cookies are functional foods that are expected to be acceptable in terms of taste and aroma, with characteristics such as soft dough, high fat content, relative crispness when broken, and a dense texture when cut. This study aims to determine the effect of packaging type and storage duration on the physicochemical and sensory characteristics of temulawak cookies, as well as to determine the optimal storage duration and the most effective packaging type for maintaining the quality of temulawak cookies during storage at room temperature.
This study used a randomized group design (RAK). Factors studied included packaging type (polyethylene, polypropylene, and aluminum foil) and storage duration (15, 30, 45, and 60 days). The observed variables were physicochemical (moisture content, total phenolics, DPPH antioxidant activity, curcumin, lightness (L*), redness (a*), and yellowness (b*)) and sensory (color, fragrance, taste, aftertaste, texture, and overall). The data results were tested using ANOVA followed by DMRT testing at a 5% level if there was a significant effect, the friedman test, and the De Garmo effectiveness index test. The results showed that the storage time treatment had an effect on moisture content, phenol, DPPH antioxidant activity, curcumin, lightness (L*), and redness (a*), while the type of packaging treatment had a significant effect on moisture content. The best treatment was obtained at 15 days of storage for temulawak cookies with aluminum foil packaging, with physicochemical and sensory values of moisture content 3.34%, total phenols 9.09 mg GAE/mL, DPPH antioxidant activity 83.89% inhibition, curcumin 1.94 mg/mL, lightness (L*) 69.13, redness (a*) 8.20, and yellowness (b*) 53.35. In the color sensory test, 4.30 (yellowish brown), fragrance 2.30 (typical of temulawak), taste 3.80 (slightly sweet), aftertaste 4.43 (slightly bitter), texture 1.93 (very hard), and overall liking/overall 2.93 (slightly like).
4649149872D1A021137Evaluasi Pemberian Albendazole pada Kasus Nematodiasis Sapi Perah : Studi Kasus di Kelompok Ternak Tirta Sari Aji, Karanglewas, Kabupaten BanyumasPenelitian berjudul “Evaluasi Pemberian Albendazole pada Kasus Nematodiasis Sapi Perah : Studi Kasus di Kelompok Ternak Tirta Sari Aji, Karanglewas, Kabupaten Banyumas”. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2024 – Februari 2015 di Kelompok Ternak Tirta Sari Aji Desa Singasari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian albendazole dalam mengendalikan infeksi nematodiasis pada sapi perah dan mengetahui tingkat prevalensi penyebaran nematodiasis pada sapi perah. Materi yang digunakan adalah 28 ekor sapi perah betina dewasa tidak bunting, albendazole dosis 1 ml/12 kg bobot badan, kuisioner, wadah plastik, cooler box, es batu, alat tulis saringan, timbangan elektronik, beaker glass, object glass, cover glass, tabung reaksi, alat pengaduk, mikroskop, dan pipet pasteur. Metode yang digunakan meliputi pemeriksaan feses dengan metode apung dan McMaster sebelum dan setelah pemberian albendazole. Data dianalisis dengan uji Friedman menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistic 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi nematodiasis sebelum pemberian albendazole sebesar 25%, 42,86% pada hari ke-15, dan menurun 35,71% pada hari ke-30 setelah perlakuan. Jenis nematoda yang teridentifikasi meliputi Cooperia sp., Bunostomum sp., Ostertagia sp., Haemonchus sp., Oesophagostomum sp., Strongyle sp., dan Trichostrongyle sp. Uji statistik menunjukkan bahwa pemberian albendazole tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan kasus nematodiasis (p>0,05) yang diduga disebabkan karena adanya reinfeksi nematoda, resistensi albendazole, manajemen pemberian pakan, dan faktor lingkungan seperti iklim, suhu, serta kelembaban di sekitar kandang. Kesimpulannya, penggunaan albendazole pada kelompok ternak ini tidak efektif menurunkan infeksi nematodiasis, sehingga disarankan adanya evaluasi mengenai frekuensi pemberian obat, pergantian jenis obat serta perbaikan sanitasi dan manajemen kandang untuk memutus siklus infeksi.The research titled "Evaluation of Albendazole Administration in Cases of Nematodiasis in Dairy Cattle: A Case Study in the Tirta Sari Aji Livestock Group, Karanglewas, Banyumas Regency" was conducted from December 2024 to February 2015 in the Tirta Sari Aji Livestock Group, Singasari Village, Karanglewas District, Banyumas Regency. The study aimed to evaluate the effectiveness of albendazole in controlling nematodiasis infections in dairy cattle and to determine the prevalence of nematodiasis in dairy cattle. The materials used included 28 adult non-pregnant female dairy cows, albendazole at a dose of 1 ml/12 kg body weight, questionnaires, plastic containers, cooler boxes, ice, writing materials, filters, electronic scales, beaker glasses, object glasses, cover glasses, test tubes, stirrers, microscopes, and Pasteur pipettes. The methods employed included fecal examination using the flotation method and McMaster technique before and after the administration of albendazole. Data were analyzed using the Friedman test with IBM SPSS Statistics 27 software. The results showed that the prevalence of nematodiasis before the administration of albendazole was 25%, 42.86% on day 15, and decreased to 35.71% on day 30 after treatment. The identified nematode species included Cooperia sp., Bunostomum sp., Ostertagia sp., Haemonchus sp., Oesophagostomum sp., Strongyle sp., and Trichostrongyle sp. Statistical tests indicated that the administration of albendazole did not have a significant effect on the reduction of nematodiasis cases (p>0.05), which was suspected to be due to reinfection by nematodes, albendazole resistance, feed management, and environmental factors such as climate, temperature, and humidity around the barn. In conclusion, the use of albendazole in this livestock group was not effective in reducing nematodiasis infections; therefore, it is recommended to evaluate the frequency of drug administration, change the type of medication, and improve sanitation and barn management to break the infection cycle.
4649249873D1A021154PENAKSIRAN RESPON SELEKSI KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DOMBA GARUT MENGGUNAKAN TAHAPAN SELEKSI YANG BERBEDA DI UPTD BPPTDK MARGAWATI GARUTPenelitian bertujuan untuk menaksir respon seleksi karakteristik pertumbuhan Domba Garut meliputi bobot lahir, bobot sapih, dan pertambahan bobot badan harian (PBBH) menggunakan pendekatan seleksi diferensial dan simpang baku populasi. Penaksiran respon seleksi menggunakan pendekatan seleksi diferensial dilakukan berdasarkan nilai pemuliaan setiap individu, sedangkan pendekatan simpang baku populasi didasarkan pada intensitas seleksi teoritis yang merepresentasikan proporsi individu terseleksi dalam satu populasi. Penelitian dilakukan di UPTD BPPTDK Margawati Garut dengan jumlah sampel sebanyak 291 ekor Domba Garut. Data dikoreksi terhadap faktor non-genetik seperti jenis kelamin, tipe kelahiran, dan umur induk. Heritabilitas ditaksir menggunakan metode analisis kovariansi saudara tiri sebapak (paternal half-sib). Nilai pemuliaan individu dihitung berdasarkan rerata kelompok, kemudian digunakan untuk menentukan individu dengan performa genetik terbaik yang akan dipilih sebagai tetua. Respon seleksi menggunakan pendekatan seleksi diferensial (R1) ditentukan oleh heritabilitas (h2) dan seleksi diferensial (S). Respon seleksi menggunakan pendekatan simpang baku populasi (R2) ditentukan oleh heritabilitas (h2), intensitas seleksi (i) dan simpang baku populasi (σp). Tiga kategori intensitas seleksi digunakan yaitu rendah (75% individu terseleksi), sedang (50%), dan tinggi (25%). Nilai intensitas seleksi teoritis secara berurutan yaitu 0,42 (rendah); 0,8 (sedang); 1,27 (tinggi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan PBBH masing-masing adalah 3,50 ± 0,63 kg, 16,79 ± 3,07 kg, dan 131,86 ± 28,51 g/hari. Nilai heritabilitas tertinggi diperoleh pada bobot lahir sebesar 0,34 ± 0,18, diikuti bobot sapih sebesar 0,19 ± 0,15, dan PBBH sebesar 0,25 ± 0,17. Respon seleksi menggunakan pendekatan seleksi diferensial pada masing-masing tingkat intensitas seleksi untuk bobot lahir sebesar 0,08; 0,16; 0,25 kg, bobot sapih sebesar 0,21; 0,41; dan 0,71 kg, sedangkan PBBH sebesar 2,70; 5,42; 9,47g/hari. Sementara itu, respon seleksi menggunakan pendekatan simpang baku populasi untuk bobot lahir sebesar 0,09; 0,16; 0,26 kg, bobot sapih sebesar 0,23; 0,43; dan 0,68 kg, sedangkan PBBH sebesar 2,99; 5,69; dan 9,03 g/hari. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua pendekatan menghasilkan taksiran respon seleksi yang relatif konsisten terhadap karakteristik pertumbuhan domba Garut.
The study aimed to estimate the selection response of growth characteristics of Garut sheep including birth weight, weaning weight, and average daily gain (ADG) using a differential selection approach and population standard deviation. The estimation of selection response using the differential selection approach was carried out based on the breeding value of each individual, while the population standard deviation approach was based on the theoretical selection intensity representing the proportion of selected individuals in a population. The study was conducted at UPTD BPPTDK Margawati Garut with a total sample of 291 Garut sheep. Data were corrected for non-genetic factors such as sex, birth type, and dam age. Heritability was estimated using the paternal half-sib covariance analysis method. The breeding value of each individual was calculated based on the group mean, then used to determine individuals with the best genetic performance to be selected as parents. The selection response using the differential selection approach (R1) was determined by heritability (h²) and selection differential (S). The selection response using the population standard deviation approach (R2) was determined by heritability (h²), selection intensity (i) and population standard deviation (σp). Three categories of selection intensity were used, namely low (75% selected individuals), medium (50%), and high (25%). The theoretical selection intensity values were 0.42 (low), 0.8 (medium), and 1.27 (high), respectively. The results showed that the average birth weight, weaning weight, and ADG were 3.50 ± 0.63 kg, 16.79 ± 3.07 kg, and 131.86 ± 28.51 g/day, respectively. The highest heritability value was obtained in birth weight of 0.34 ± 0.18, followed by weaning weight of 0.19 ± 0.15, and ADG of 0.25 ± 0.17. The selection response using the differential selection approach at each level of selection intensity for birth weight was 0.08, 0.16, and 0.25 kg; weaning weight was 0.21, 0.41, and 0.71 kg; while ADG was 2.70, 5.42, and 9.47 g/day. Meanwhile, the selection response using the population standard deviation approach for birth weight was 0.09, 0.16, and 0.26 kg; weaning weight was 0.23, 0.43, and 0.68 kg; while ADG was 2.99, 5.69, and 9.03 g/day. These results indicate that both approaches produced relatively consistent estimates of the selection response to the growth characteristics of Garut sheep.
4649349874F1A018077STRATEGI ADAPTASI MAHASISWA MAGANG DALAM PROGRAM MBKM (Studi tentang Pola Adaptasi Mahasiswa Magang Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman Angkatan 2021 di DPPKBP3A Banyumas)Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi adaptasi yang dilakukan oleh mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2021 selama melaksanakan kegiatan magang di DPPKBP3A Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Sosiologi FISIP Unsoed angkatan 2021 mengikuti program magang di instansi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa secara konsisten membentuk pola adaptasi proaktif yang mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam menyesuaikan diri terhadap dinamika kerja dan interaksi sosial di lingkungan instansi. Hal ini tercermin dari beberapa strategi adaptasi yang dilakukan, seperti memperoleh bimbingan mentor, melakukan pendekatan kepada pegawai, aktif menanyakan tugas (jobdesk), serta menjaga etika dan sopan santun dalam lingkungan kerja. Teori AGIL dari Talcott Parsons digunakan untuk menganalisis peran strategi adaptasi dalam mendukung fungsi sosial mahasiswa selama proses magang berlangsung.This study aims to describe and analyze the adaptation strategies employed by Sociology students of the Faculty of Social and Political Sciences (FISIP), Jenderal Soedirman University, class of 2021, during their internship at the Office of Population Control, Family Planning, Women Empowerment, and Child Protection (DPPKBP3A) in Banyumas Regency. This research uses a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews and documentation. The informants in this study were Sociology students from FISIP Unsoed, class of 2021, who participated in the internship program at the institution. The findings indicate that students consistently developed a proactive adaptation pattern, reflecting their ability to adjust to the dynamics of work and social interactions within the institution. This is evident through several adaptation strategies, such as receiving guidance from mentors, building relationships with staff, actively asking about tasks (job descriptions), and maintaining ethics and politeness in the workplace. Talcott Parsons’ AGIL theory was used to analyze the role of these adaptation strategies in supporting the students’ social functioning throughout the internship process.
4649449875F1F018008Analisis Upaya Together for Yes dalam Mendorong Penghapusan Larangan Aborsi di Irlandia Tahun 2018Penelitian ini menganalisis mengenai strategi aktivisme digital yang diterapkan gerakan Together for Yes (TFY) dalam kampanye penghapusan Amandemen ke-8 Konstitusi Irlandia pada 2018, yang sebelumnya membatasi akses aborsi. Menggunakan kerangka empat elemen digital activism; aksesibilitas, visibilitas, popularitas, dan ekosistem. Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana TFY mengintegrasikan peluang politik, mobilisasi sumber daya, dan teknologi digital untuk membangun kampanye publik yang efektif. Melalui platform seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, TFY memanfaatkan kemudahan distribusi informasi, narasi personal, dan keterlibatan publik lintas generasi untuk mengubah opini masyarakat menjadi aksi nyata. Strategi aksesibilitas diwujudkan melalui penyediaan informasi kampanye dalam format yang mudah dijangkau dan inklusif; visibilitas diperkuat dengan kisah pribadi korban Amandemen ke-8; popularitas dicapai melalui kolaborasi dengan figur publik dan influencer; sedangkan ekosistem digital dibangun dengan memadukan berbagai platform daring untuk koordinasi, mobilisasi, dan advokasi. Hasil penelitian menegaskan bahwa keberhasilan TFY bukan hanya pada dimensi politik, tetapi juga pada inovasi dalam menggabungkan pendekatan gerakan sosial tradisional dengan potensi teknologi digital, dimana dalam hal tersebut penelitian ini merefleksikan bahwa model serupa dapat diadaptasi oleh gerakan sosial kontemporer lainnya yang mengusung isu hak asasi manusia, khususnya hak reproduksi.This research is analyzes the digital activism strategies employed by the Together for Yes (TFY) movement during the 2018 campaign to repeal the Eighth Amendment of the Irish Constitution, which restricted access to abortion. Using the framework of four digital activism elements; accessibility, visibility, popularity, and ecosystem. This research also demonstrates how TFY integrated political opportunity, resource mobilization, and digital technology to build an effective public campaign. Through platforms such as Facebook, Twitter, and Instagram, TFY leveraged rapid information distribution, personal narratives, and cross-generational engagement to transform public opinion into concrete action. Accessibility strategies were implemented by providing campaign information in inclusive and user-friendly formats; visibility was strengthened through personal stories of women affected by the Eighth Amendment; popularity was enhanced via collaborations with public figures and influencers; and a robust digital ecosystem was established by combining multiple online platforms for coordination, mobilization, and advocacy. The findings indicate that TFY’s success was not only political but also stemmed from innovation in combining traditional social movement approaches with the transformative potential of digital technology, this research also suggests that similar models can be adapted by contemporary social movements advocating for human rights, particularly reproductive rights.
4649549878C1C021006PENGARUH TINGKAT KESEHATAN KEUANGAN, KEPEMILIKAN MANAJERIAL, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, DAN PANDEMI COVID-19 TERHADAP MANAJEMEN LABAPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh tingkat kesehatan keuangan, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan pandemi COVID-19 terhadap manajemen laba. Populasi pada penelitian ini berjumlah 13 perusahaan sektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan total sampel terpilih menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 10 perusahaan. Data sekunder yang diperoleh akan diolah dan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS dan Eviews. Hasil pengujian menyimpulkan: (1) Tingkat kesehatan keuangan berpengaruh positif terhadap manajemen laba, (2) Kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, (3) Kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, dan (4) Pandemi COVID-19 tidak berpengaruh terhadap manajamen laba.This research is a quantitative study that aims to test and analyze the influence of the level of financial health, managerial ownership, institutional ownership, and the COVID-19 pandemic on earnings management. The population in this study amounted to 13 pharmaceutical sector companies listed on the Stock Exchange with a total selected using a purposive sampling technique of 10 companies. The secondary data obtained will be processed and analyze using SPSS and Eviews software. The test result conclude: (1) The level of financial health has a positive effect on earnings management, (2) Managerial ownership does not affect earnings maangement, (3) Institutional ownership does not affect earnings management, and The COVID-19 pandemic does not affect earnings management.
4649649880D1A021049KARAKTERISTIK MORFOLOGI PANJANG DAN LEBAR DAUN RUMPUT
PAKCHONG PADA SISTEM TANAM CAMPURAN DENGAN GAMAL DAN UMUR
PANEN BERBEDA
Penelitian dengan judul “Karakteristik Morfologi Panjang dan Lebar Daun Rumput Pakchong pada
Sistem Tanam Campuran Gamal-Pakchong dan Umur Panen Berbeda” dilaksanakan pada bulan Maret
sampai September 2024 yang berlokasi di lahan Experimental Farm, Fakultas Peternakan, Universitas
Jenderal Soedirman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola tanam mixed cropping
Gamal–Pakchong dan perbedaan umur panen terhadap panjang dan lebar daun rumput Pakchong.
Materi yang digunakan yaitu rumput Pakchong sebanyak 708 stek dan 96 pohon Gamal dengan luas
lahan 316,16 meter2 dengan luas per petak 9,6 m2 dan jarak tanam sistem tanam 0,8 x 0,6 m. Metode
yang digunakan adalah Split Plot Design dengan rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan main plot
adalah sistem tanam (mixed cropping) (T1) dan sistem tanam monokultur (T2) sedangkan sub plot
adalah umur panen 42 HST=D1; 56 HST= D2; 70 HST= D3. Rata-rata panjang daun sebagai pengaruh
mixed cropping adalah 121,04±3,45 cm (T1) dan monokultur adalah 116,53±4,41 cm (T2) (P<0,05).
Rata-rata panjang daun sebagai pengaruh umur panen adalah 114,53±4,09 cm (D1), 119,61±2,56 cm
(D2) dan 122,23±2,92 cm (D3) (P<0,01). Rata-rata lebar daun sebagai pengaruh mixed cropping adalah
3,94±0,33 cm (T1) dan monokultur adalah 3,61±0,40 cm (T2) (P<0,05). Rata-rata lebar daun sebagai
pengaruh umur panen adalah 3,38±0,28 cm (D1), 3,84±0,21cm (D2) dan 4,11±0,19cm (D3) (P<0,01).
Sistem mixed cropping Gamal-Pakchong dapat meningkatkan panjang dan lebar daun rumput
Pakchong dan umur panen 70 HST menghasilkan panjang dan lebar daun terbaik.
The study titled "Morphological Characteristics of Leaf Length and Width of Pakchong Grass in a Mixed
Cropping System Gamal-Pakchong at Different Harvest Ages" has been carried out from March to
September 2024 which is located on Experimental Farm, Faculty of Animal Husbandry, Jenderal
Soedirman University. This study aims to determine the influenced of Gamal-Pakchong mixed
cropping planting patterns and the difference in harvest age on the length and width of Pakchong
grass leaves. The materials were 708 Pakchong stem cuttings and 96 Gamal trees with a land area of
316.16 meters2 from the planting bed measuring 9.6 m² and a planting distance of 0.8 × 0.6 m.. The
method used was a Split Plot Design with a Random Group design with the main plot were mixed
cropping system (T1), a monoculture system (T2) and a sub-plot were the harvest age 42 HST=D1; 56
HST= D2; 70 HST= D3. The average leaf length as a mixed cropping effect(T1) was 121.04±3.45 cm and
monoculture (T2) was 116.53±4.41 cm (P<0.05). The average leaf length as an effect of harvest age
were 114.53±4.09 cm (D1), 119.61±2.56 cm (D2) and 122.23±2.92 cm (D3) (P<0.01). The average leaf
width as a mixed cropping effect (T1) was 3.94±0.33 cm and monoculture (T2) was 3.61±0.40 cm
(P<0.05). The average leaf width as an effect of harvest age were 3.38±0.28 cm (D1), 3.84±0.21cm (D2)
and 4.11±0.19cm (D3) (P<0.01). The Gamal-Pakchong mixed cropping system can increase the length
and width of the leaves Pakchong grass and the harvest age of 70 HST.
4649749881F1A021082PERILAKU PEDAGANG PASAR MINGGON (SUNDAY MORNING) DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI WILAYAH GOR SATRIA PURWOKERTO Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan dan perilaku pedagang makanan dan minuman di Pasar Minggon (Sunday Morning) GOR Satria Purwokerto dalam pengelolaan sampah. Pasar yang hanya beroperasi setiap hari Minggu pagi ini menghasilkan volume sampah yang signifikan, terutama dari kemasan sekali pakai. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan teori perilaku sosial Skinner, penelitian ini menemukan bahwa meskipun beberapa pedagang telah menyadari pentingnya menjaga kebersihan, praktik pemilahan sampah masih minim. Perilaku pengelolaan sampah terbatas pada pengumpulan dan pembuangan ke titik tertentu tanpa adanya pemilahan. Faktor penghambat mencakup keterbatasan fasilitas, minimnya sosialisasi dan edukasi, serta lemahnya koordinasi antar pihak pengelola pasar dan pemerintah. Hasil studi menunjukkan bahwa perilaku pedagang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan penguatan yang diterima. Tanpa dukungan sistem reward dan punishment yang efektif, perubahan perilaku menuju pengelolaan sampah yang berkelanjutan sulit tercapai. Oleh karena itu, diperlukan adanya kerjasama dengan pemerintah terkait dalam menyediakan sarana dan prasarana, edukasi berkelanjutan, dan kebijakan pengelolaan sampah yang partisipatif.This study aims to describe the knowledge and behavior of food and beverage vendors at the Minggon Market (Sunday Morning) at the Satria Sports Hall in Purwokerto regarding waste management. This market, which operates only on Sunday mornings, generates a significant volume of waste, primarily from single-use packaging. Using a descriptive qualitative approach and Skinner's theory of social behavior, this study found that although some vendors are aware of the importance of maintaining cleanliness, waste sorting practices are still minimal. Waste management behavior is limited to collection and disposal at a designated point without any sorting. Inhibiting factors include limited facilities, minimal outreach and education, and weak coordination between market management and the government. The study results indicate that vendor behavior is influenced by the social environment and reinforcement received. Without the support of an effective reward and punishment system, behavioral change towards sustainable waste management is difficult to achieve.Therefore, collaboration with relevant government agencies is needed to provide facilities and infrastructure, ongoing education, and participatory waste management policies.
4649849883L1C021089Estimasi Stok Karbon Biomassa Mangrove dan Profil Vertikal Karbon Organik Sedimen Mangrove di Muara Kali Ijo, KebumenEkosistem mangrove memiliki kemampuan dalam menyerap karbon tiga kali lebih
banyak dari hutan terestrial lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi stok
karbon biomassa mangrove dan menganalisis profil vertikal karbon organik sedimen
di KEE Mangrove Muara Kali Ijo, Kebumen. Metode penelitian yang digunakan yaitu
survei dengan pengambilan data lapangan dan analisis laboratorium. Data kerapatan
mangrove, biomassa atas, dan sedimen diambil dari tiga stasiun dengan interval
kedalaman sedimen 0–15 cm, 15–30 cm, 30–50 cm, dan 50–100 cm. Analisis karbon
organik sedimen dilakukan dengan metode Walkley-Black, sedangkan biomassa
dihitung menggunakan persamaan alometrik. Hasil penelitian menunjukkan
kerapatan mangrove tergolong padat (7.707 ind/Ha), didominasi oleh mangrove jenis
Rhizophora stylosa (6.062 ind/Ha). Stok karbon biomassa atas mencapai (787,83 ton
C/Ha), dengan nilai tertinggi pada stasiun 3 sebesar 337,68 ton C/Ha. Spesies Nypa
fruticans menyimpan karbon lebih tinggi (10,21 ton C/Ha) dibandingkan Avicennia
alba (3,37 ton C/Ha). Profil vertikal karbon sedimen menurun seiring bertambahnya
kedalaman dengan rata-rata kandungan tertinggi pada lapisan permukaan dengan
kedalaman 10 cm sebesar 12,58%.
Mangrove ecosystems have the ability to absorb three times more carbon than other terestrial
forests. This study aims to estimate the carbon stock of mangrove biomass and analyze the
vertical profile of organic carbon in sediments at the KEE Mangrove Muara Kali Ijo, Kebumen.
The research methods used include field surveys and laboratory analysis. Data on mangrove
density, above-ground biomass, and sediment were collected from three stations at sediment
depth intervals of 0–15 cm, 15–30 cm, 30–50 cm, and 50–100 cm. Sediment organic carbon
analysis was conducted using the Walkley-Black method, while biomass was calculated using
allometric equations. The results showed that mangrove density was classified as dense (7,707
ind/Ha), dominated by the mangrove species Rhizophora stylosa (6,062 ind/Ha). Above-
ground biomass carbon stock reached (787.83 tons C/Ha), with the highest value at station 3
at 337.68 tons C/Ha. The species Nypa fruticans stores higher carbon (10.21 tons C/ha)
compared to Avicennia alba (3.37 tons C/ha). The vertical carbon profile of the sediment
decreases with increasing depth, with the highest average content in the surface layer at a depth
of 10 cm at 12.58%.
4649949882L1C021029Analisis Daya Serap Mangrove Rhizophora mucronata Terhadap Logam Berat Pb dan Cd di Ekosistem Mangrove Segara Anakan Bagian Timur, CilacapSegara Anakan bagian timur merupakan wilayah pesisir yang rentan terhadap pencemaran logam berat akibat aktivitas pelayaran, industri, dan permukiman di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran logam berat Pb dan Cd serta daya serapnya oleh Rhizophora mucronata. Metode penelitian menggunakan metode survei dan analisis Pb dan Cd menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi Pb dalam sedimen berkisar antara 8,94–14,88 mg∙kg-1 dan Cd berkisar antara 1,10–3,25 mg∙kg-1, yang menunjukkan bahwa konsentrasi Pb masih berada pada kisaran alami, sedangkan konsentrasi Cd telah melebihi kisaran alami di lingkungan. Akumulasi logam berat pada jaringan tanaman lebih tinggi ditemukan pada akar dibandingkan daun. Nilai faktor biokonsentrasi (BCF) untuk Pb dan Cd seluruhnya < 1, masing-masing berkisar antara 0,45–0,91 dan 0,62–0,97, sedangkan nilai faktor translokasi (TF) juga < 1, menunjukkan bahwa logam lebih banyak tertahan di akar. Variabel pendukung seperti bahan organik dan fraksi pasir berkorelasi positif terhadap akumulasi logam. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa R. mucronata mampu mengakumulasi logam Pb dan Cd dan berperan sebagai fitostabilisator, serta berpotensi menjadi indikator biologis pencemaran logam berat di kawasan pesisir.The eastern part of Segara Anakan is a coastal area vulnerable to heavy metal pollution due to surrounding shipping, industrial, and residential activities. This study aims to determine the contamination levels of heavy metals Pb and Cd and their absorption capacity by Rhizophora mucronata. The research employed a survey method, and Pb and Cd were analyzed using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). The results showed that Pb concentrations in sediments ranged from 8.94–14.88 mg∙kg⁻¹ and Cd from 1.10–3.25 mg∙kg⁻¹, indicating that Pb concentrations remain within the natural range, whereas Cd concentrations have exceeded the natural range in the environment. Heavy metal accumulation in plant tissues was higher in roots than in leaves. The bioconcentration factor (BCF) values for Pb and Cd were all < 1, ranging from 0.45–0.91 and 0.62–0.97, respectively, while translocation factor (TF) values were also < 1, indicating that metals were predominantly retained in the roots. Supporting variables such as organic matter and sand fraction showed a positive correlation with metal accumulation. These findings confirm that R. mucronata is capable of accumulating Pb and Cd and acts as a phytostabilizer, with potential as a biological indicator of heavy metal pollution in coastal areas.
4650049884D1A021041PENGARUH PENAMBAHAN WHEY PROTEIN ISOLAT DENGAN PERSENTASE
YANG BERBEDA TERHADAP SINERESIS, DAYA IKAT AIR, DAN TEKSTUR PADA
GREEK YOGURT DARI BERBAGAI SUSU
Penelitian bertujuan untuk mempelajari peningkatan kualitas greek yogurt susu
sapi, greek yogurt susu kambing, dan greek yogurt susu kombinasi yang
dimodifikasi dengan whey protein isolat. Kualitas greek yogurt yang diamati
meliputi sineresis, daya ikat air, dan tekstur. Materi yang digunakan yaitu susu
sapi, susu kambing, susu kombinasi sapi dan kambing 1:1, kultur starter yogurt
komersial, dan whey protein isolat komersial. Rancangan percobaan yang
digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 15 perlakuan dan 4
ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol yaitu tanpa penambahan whey protein
isolat, penambahan whey protein isolat 1,5%, whey protein isolat 3%, whey
protein isolat 4,5%, whey protein isolat 6%. Susu difermentasi menjadi yogurt
selama 4 jam 30 menit pada incubator (42oC) sebelum disaring selama 4 jam di
refrigerator (5-10oC). Penambahan whey protein isolat hingga 6% setelah proses
pembuatan greek yogurt menghasilkan greek yogurt dengan sineresis, daya ikat
air, dan tekstur yang tidak berbeda secara signifikan dengan greek yogurt tanpa
penambahan whey protein isolat terkecuali pada daya ikat air greek yogurt susu
kambing dan greek yogurt susu kombinasi. Terdapat perbedaan antara greek
yogurt susu sapi dan greek yogurt susu kambing pada nilai daya ikat air dan nilai
tekstur yang dihasilkan. Whey protein isolat dapat digunakan sebagai bahan
tambahan untuk meningkatkan protein pada greek yogurt susu sapi dan susu
kambing tanpa menurunkan kualitas fisik berupa sineresis, daya ikat air, dan
tekstur. Manfaat penelitian adalah memberikan informasi penggunaan whey
protein isolat ternyata dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk
meningkatkan kandungan protein pada greek yogurt susu sapi dan kambing
tanpa memengaruhi kualitas fisik berupa sineresis, daya ikat air, dan tekstur.
The research aimed to investigate the improvement in the quality of cow's milk
greek yogurt, goat's milk greek yogurt, and combined cow's and goat's milk greek
yogurt modified with whey protein isolate. The quality of greek yogurt observed
includes syneresis, water holding capacity, and texture. The materials used were
cow's milk, goat's milk, a 1:1 combination of cow's and goat's milk, commercial
yogurt starter culture, and commercial whey protein isolate. The experimental
design used was a completely randomised design (CRD) with 15 treatments and
4 replications. The treatments consisted of a control (0%), 1.5% whey protein
isolate, 3% whey protein isolate, 4.5% whey protein isolate, and 6% whey
protein isolate. The milk was fermented into yogurt for 4 hours and 30 minutes
in an incubator (42°C) before being filtered for 4 hours in a refrigerator (5–
10°C). The addition of whey protein isolate up to 6% after the greek yogurt
production process resulted in greek yogurt with syneresis, water holding
capacity, and texture that were not significantly different from greek yogurt
without whey protein isolate addition, except for the water holding capacity of
goat milk greek yogurt and combined milk greek yogurt. There are differences
between cow's milk greek yogurt and goat's milk greek yogurt in terms of water
holding capacity and texture. Whey protein isolate can be used as an additive to
increase protein content in cow's milk and goat's milk greek yogurt without
compromising physical quality, such as syneresis, water holding capacity, and
texture. The benefit of this research is to provide information on the use of whey
protein isolate, which can be used as an additive to increase protein content in
cow's milk and goat's milk greek yogurt without affecting physical quality, such
as syneresis, water holding capacity, and texture.