Artikelilmiahs

Menampilkan 46.421-46.440 dari 48.727 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4642149806B1A021039Kadar Sitokin Pro-Inflamasi (IL-1ß) pada Tikus Model Diabetes yang diberi Ekstrak Etanol Tubuh Buah Jamur Tiram Coklat (Pleurotus cystidiosus)Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang ditandai hiperglikemia akibat kekurangan atau resistensi insulin, memicu inflamasi. Salah satu mediator inflamasi adalah sitokin IL-1ß. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol jamur tiram coklat (Pleurotus cystidiosus) terhadap kadar IL-1ß pada tikus model diabetes, serta seberapa besar penurunan kadar IL-1ß yang terjadi. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Tikus dibagi menjadi enam kelompok: kontrol sehat (KS), kontrol negatif (KN, diinduksi STZ), kontrol positif (KP, diinduksi STZ + metformin), serta tiga kelompok perlakuan (P1, P2, P3) yang mendapatkan ekstrak etanol P. cystidiosus pada dosis 250, 500, dan 750 mg/kg BB. Variabel bebas adalah variasi dosis ekstrak, sedangkan variabel terikat adalah kadar IL-1ß. Parameter utama yang diukur adalah kadar IL-1ß, didukung berat badan tikus, kadar gula darah, dan identifikasi senyawa bioaktif jamur. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol P. cystidiosus dosis 500 mg/kg BB (P2) efektif menurunkan kadar IL-1ß secara signifikan, dengan rata-rata 11,46 ng/L. Nilai ini mendekati kadar normal kelompok sehat (KS: 10–35,07 ng/L). Temuan ini membuktikan ekstrak etanol P. cystidiosus mampu menurunkan inflamasi pada tikus model diabetes melalui penurunan kadar IL-1ß.Diabetes mellitus (DM) is a macromolecular metabolic disorder characterized by hyperglycemia due to insulin deficiency or resistance, which in turn triggers inflammation. Interleukin-1β (IL-1β) is one of the key inflammatory mediators in DM. This study aims to investigate the effects of ethanol extract from brown oyster mushrooms (Pleurotus cystidiosus) on IL-1β levels in diabetic mouse models and the extent of its reduction. The research method employed a Completely Randomized Design (CRD) with six groups of mice: healthy control (HC), negative control (NC) induced by streptozotocin (STZ), positive control (PC) induced with STZ and administered metformin, and three treatment groups (P1, P2, P3) receiving ethanol extract of P. cystidiosus at doses of 250, 500, and 750 mg/kg body weight (BW). The variation in extract dose was the independent variable, while IL-1β levels were the primary dependent variable. Supporting parameters included body weight, blood glucose levels in mice, and identification of bioactive compounds in the mushroom. The results showed that administration of P. cystidiosus ethanol extract at a dose of 500 mg/kg BW (P2) significantly reduced IL-1ß levels to an average of 11.46 ng/L, approaching the normal levels of healthy mice, which range around 10 ng/L. In comparison, the healthy control group (KS) had IL-1ß levels of 35.07 ng/L. This reduction indicates the potential of ethanol extract from brown oyster mushrooms in reducing inflammation in diabetic mouse models. In conclusion, P. cystidiosus ethanol extract effectively reduces IL-1ß inflammatory cytokine levels, thereby acting as an anti-inflammatory agent in diabetes mellitus. This study opens up opportunities for the development of brown oyster mushrooms as a supportive therapeutic agent for controlling inflammation in DM.
4642249807K1C020031Aplikasi Metode Magnetik untuk Identifikasi Akuifer pada Komplek Batuan Beku di Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari, Kabupaten PurbalinggaPenggunaan metode magnetik untuk identifikasi akuifer pada kompleks batuan beku vulkanik telah dilakukan di Desa Candiwulan, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Studi ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik akuifer pada kompleks batuan beku vulkanik di wilayah penelitian. Hasil studi ini berupa model 2D menggunakan metode pemodelan terbalik. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Proton Precession Magnetometer (PPM) pada area seluas 1500 m × 1500 m dengan jarak antar titik 100 m. Data yang diperoleh berupa data anomali medan magnet total, yang memerlukan koreksi untuk mendapatkan data anomali medan magnet total. Data kemudian dikurangi ke bidang datar, diangkat, dan dikurangi ke kutub, diikuti dengan pemodelan. Nilai anomali medan magnet yang dikurangi ke kutub berkisar antara -1310,1 hingga 1183,8 nT. Pemodelan dilakukan menggunakan perangkat lunak ZondGM2D, dan batuan lava andesit masif dengan nilai kerentanan 0,01603 hingga 0,01830 satuan cgs diinterpretasikan sebagai hijau dan kuning, serta batuan lava andesit berpori dengan nilai kerentanan berkisar antara 0,01762 hingga 0,02248 satuan cgs, diinterpretasikan sebagai merah muda. Jenis batuan ini, yang memiliki retakan, patahan, dan rongga kecil, diduga menjadi lokasi atau medium aliran air, yang sering disebut sebagai akuifer retakan.The use of magnetic methods for aquifer identification in igneous rock complexes has been carried out in Candiwulan Village, Kutasari District, Purbalingga Regency. This study aims to obtain information on the characteristics of aquifers in volcanic igneous rock complexes in the study area. The results of this study are in the form of a 2D model using inverse modeling. Data acquisition was carried out using a Proton Precession Magnetometer (PPM) over an area of 1500 m × 1500 m with a spacing of 100 m between points. The data obtained were total magnetic field anomaly data, which required correction to obtain total magnetic field anomaly data. The data was then reduced to a flat plane, uplifted, and reduced to the pole, followed by modeling. The values of the magnetic field anomaly reduced to the pole ranged from -1310.1 to 1183.8 nT. Modeling was performed using ZondGM2D software, and massive andesite lava rock with a susceptibility value of 0.01603 to 0.01830 cgs units was interpreted as green and yellow, also vesicular andesite lava rock with susceptibility values ranging from 0.01762 to 0.02248 cgs units, interpreted as pink. These rock types, which have fractures, faults, and small cavities, are suspected to be the location or medium for water flow, often referred to as fracture aquifers.
4642349808L1C021075Aktivitas Antibakteri dari Bakteri Asosiasi Tunikata Didemnum sp. di Perairan Tulamben, BaliResistensi antibiotik merupakan ancaman serius bagi kesehatan global akibat menurunnya efektivitas terapi karena meningkatnya patogen resisten. Kondisi ini mendorong eksplorasi sumber senyawa antibakteri baru dari organisme laut. Tunikata sebagai organisme filter feeder diketahui menjadi inang bagi mikroorganisme laut yang mampu menghasilkan metabolit bioaktif dengan aktivitas farmakologis, termasuk antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibakteri yang dihasilkan oleh bakteri asosiasi tunikata Didemnum sp. terhadap bakteri patogen yang resisten terhadap antibiotik. Penelitian dilakukan di Batu Kelebit, perairan Tulamben, Bali, yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut tinggi. Penelitian ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etil asetat untuk ekstraksi dan difusi kertas cakram untuk menguji aktivitas antibakteri terhadap Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Extended-Spectrum β-Lactamase (ESBL), Bacillus subtilis, dan Salmonella typhi. Hasil uji antibakteri menunjukkan adanya aktivitas antibakteri pada sebagian besar isolat dengan zona hambat lemah.Antibiotic resistance is a serious global health threat due to the reduced effectiveness of therapies as a result of increasing resistant pathogens. This condition drives the exploration of new antibacterial compounds from marine organisms. Tunicates, as filter-feeding organisms, are known to host marine microorganisms capable of producing bioactive metabolites with pharmacological activities, including antibacterial properties. This study aimed to analyze the antibacterial activity produced by bacteria associated with the tunicate Didemnum sp. against antibiotic-resistant pathogenic bacteria.. The research was conducted in Batu Kelebit, Tulamben waters, Bali, which is known for its high marine biodiversity. The study employed maceration with ethyl acetate for extraction and disc diffusion method to test antibacterial activity against Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Extended-Spectrum β-Lactamase (ESBL), Bacillus subtilis. The results showed that most isolates exhibited antibacterial activity with low inhibition zones
4642449809A1D018066PENGARUH BIOCHAR DAN DOSIS PUPUK KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TERONG (Solanum
melongena L.) SECARA FERTIGASI
Terong ungu (Solanum melongena L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang tergolong popular di Indonesia dan memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan. Menurut Badan Pusat Statistik (2023), produksi tanaman terong di Indonesia tahun 2020 yaitu 573.392 ton, tahun 2021 yaitu
676.339 ton dan tahun 2022 yaitu 704.223 ton, dari luasan tanam 37,740 hektar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk 1) Mengetahui respon tanaman terong pada pemberian dua sumber bahan organik pupuk kandang sapi dan biochar.
2) Mengetahui pengaruh dosis kalium terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terong. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto kampus Karangwangkal, dengan ketinggian tempat 110 mdpl. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Desember 2024 hingga Februari 2025. Bahan yang diuntukkan dalam penelitian ini adalah planter bag ukuran 32 liter (35cmx 35 cm) sejumlah 108, media tanah diambil dari lahan ex farm, bibit tanaman terong ungu, arang sekam, pupuk kandang, pupuk kalium, pupuk Ponska, dan Danke. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat tulis, alat budidaya, alat pengamatan, jaring pengaman untuk pagar petakan percobaan, serta jaringan irigasi tetes yang terdiri atas: selang irigasi tetes, selang rambut untuk distribusi air ke tiap planterbag, venturi untuk membagi pupuk yang dicairkan, serta stop kran untuk mengatur aliran air penyiraman.
Purple eggplant (Solanum melongena L.) is one of the most popular horticultural crops in Indonesia and has good nutritional content for health. According to the Central Statistics Agency (2023), eggplant production in Indonesia in 2020 was 573,392 tons, in 2021 it was 676,339 tons, and in 2022 it was 704,223 tons, from a cultivated area of 37,740 hectares. This study was conducted with the objectives of: 1) Determining the response of eggplant plants to the application of two organic fertilizer sources—cow manure and biochar. 2) Determining the effect of potassium dosage on the growth and production of eggplant plants.This study was conducted with the objectives of: 1) Determining the response of eggplant plants to the application of two organic fertilizer sources—cow manure and biochar. 2) Determining the effect of potassium dosage on the growth and production of eggplant plants. This study was conducted at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Karangwangkal campus, at an altitude of 110 meters above sea level. The study will be conducted from December 2024 to February 2025. The materials used in this study include 108 planter bags of 32 liters (35 cm x 35 cm), soil medium taken from the former farmland, purple eggplant seedlings, rice husk charcoal, manure, potassium fertilizer, Ponska fertilizer, and Danke. The tools used in this study include writing tools, cultivation tools, observation tools, safety nets for the experimental plot fences, and a drip irrigation system consisting of: drip irrigation hoses, hair hoses for water distribution to each planter bag, a venturi for dividing the dissolved fertilizer, and a stop valve for regulating the irrigation water flow.
4642549811B1A021061Kajian Etnobotani Tumbuhan Obat untuk Pemulihan Pasca Melahirkan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten BanyumasPemanfaatan tumbuhan obat sebagai kearifan lokal telah diwariskan turun-temurun, termasuk untuk perawatan dan pemulihan ibu pasca melahirkan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman dan pemanfaatan tumbuhan obat pasca melahirkan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik snowball sampling dan wawancara semi-terstruktur, dilengkapi analisis Species Use Value (SUV), Plant Part Value (PPV), dan Fidelity Level (FL). Ditemukan 39 spesies dari 21 famili, dengan daun sebagai bagian yang paling sering digunakan (39,5%) dan mayoritas diperoleh dari budidaya (60,4%). Perebusan menjadi metode pengolahan dominan (33,3%), sedangkan pemanfaatan utama adalah diminum (46,9%). Jenis ramuan yang digunakan meliputi jamu uyup-uyup, jamu beras kencur, jamu kunir asem, sambetan, pilis, pupuk, lulur, pupuh, banyu suruh, dan makanan pelancar ASI. Nilai SUV tertinggi terdapat pada kunyit (Curcuma longa L.) (3,63), FL tertinggi 100%, dan Index Cultural Significance (ICS) tertinggi pada padi (Oryza sativa L.) (62)The use of medicinal plants as a form of local wisdom has been passed down through generations, including for postpartum maternal care and recovery. This study aimed to identify the diversity and utilization of medicinal plants for postpartum care in Melung Village, Kedungbanteng Subdistrict, Banyumas Regency. The research employed a survey method with a snowball sampling technique and semi-structured interviews, complemented by analyses of Species Use Value (SUV), Plant Part Value (PPV), and Fidelity Level (FL). The results showed that 39 species from 21 families were recorded, with leaves being the most frequently used plant part (39.5%) and the majority sourced from cultivation (60.4%). Boiling was the dominant processing method (33.3%), while oral consumption was the primary mode of use (46.9%). The types of preparations used included jamu uyup-uyup, jamu beras kencur, jamu kunir asem, sambetan, pilis, pupuk, lulur, pupuh, banyu suruh, and lactation-enhancing foods. The highest SUV was recorded for turmeric (Curcuma longa L.) (3.63), the highest FL was 100%, and the highest Index of Cultural Significance (ICS) was recorded for rice (Oryza sativa L.) (62)
4642649813D1A021073PENGARUH CELUP PUTING IODIN 1% TERHADAP KEJADIAN MASTITIS SUBKLINIS, KENORMALAN SUSU, DAN TOTAL JUMLAH BAKTERI SUSU SEGAR PADA PETERNAKAN SAPI PERAH DI KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh celup puting dengan iodin 1% terhadap kejadian mastitis subklinis, kenormalan susu, dan total jumlah bakteri susu segar. Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas dan pengujian sampel dilakukan di Laboratorium Produksi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan rumus slovin. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Uji-t berpasangan (paired t-test). Uji Hipotesis diperlukan untuk mengetahui bagaimana variable bebas memberikan pengaruh terhadap variabel terikat menggunakan Beda “t” data berpasangan untuk mengetahui perbedaan nilai mastitis subklinis, kenormalan susu, dan total jumlah bakteri di Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. Berdasarkan analisis uji t tersebut menunjukan tidak berpengaruh nyata (0,083<0,0,5) antara celup puting dengan kejadian mastitis subklinis, sedangkan nilai uji t menunjukan tidak berpengaruh nyata (0,163>0,05) antara celup puting dengan kenormalan susu dapat disimpulkan bahwa Pencelupan puting (teat dipping) menggunakan iodin 1% mampu menurunkan kejadian mastitis subklinis berdasarkan nilai CMT yang dihasilkan, mampu menurunkan kerusakan susu berdasarkan hasil uji alkohol, meskipun secara statistik tidak signifikan, namun rata-rata kerusakan susu menurun setelah perlakuan celup putting dan mampu menurunkan total jumlah bakteri pada susu segar dengan hasil uji T beperngaruh nyata (0,001>0,05) sesudah adanya pencelupan puting (teat dipping) menggunakan iodin 1%.This study aims to examine the effect of teat dipping with 1% iodine on the incidence of subclinical mastitis, milk normality, and the total number of fresh milk bacteria. Sampling was carried out in Pekuncen District, Banyumas Regency and sample testing was carried out at the Dairy Livestock Production Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The sampling technique was carried out using purposive sampling and the Slovin formula. Data analysis in this study used a paired t-test. Hypothesis testing is needed to determine how the independent variable influences the dependent variable using the "t" difference of paired data to determine the difference in subclinical mastitis values, milk normality, and total bacterial counts in Pekuncen District, Banyumas Regency. Based on the t-test analysis, it shows a significant effect (0,083<0.0.5) between teat dipping and the incidence of subclinical mastitis and the total number of bacteria (TPC), while the t-test value shows no significant effect (1,453>0.05) between teat dipping and subclinical mastitis, while the t-test value indicates no significant effect (0.163 > 0.05) between teat dipping and milk quality. It can be concluded that teat dipping using 1% iodine is effective in reducing the incidence of subclinical mastitis based on the CMT values obtained, and in reducing milk damage based on alcohol test results, although this is not statistically significant, however, the average milk damage decreased after teat dipping treatment and was able to reduce the total bacterial count in fresh milk with a statistically significant t-test result (0.001 > 0.05) after teat dipping using 1% iodine.
4642749814C1C021033Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan pada Perusahaan Transportasi dan Logistik di Bursa Efek IndonesiaPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Intellectual Capital, khususnya pada komponennya, yaitu Human Capital Efficiency (HCE), Structural Capital Efficiency (SCE), Relational Capital Efficiency (SCE), dan Capital Employed Efficiency (CEE) terhadap kinerja keuangan pada perusahaan sektor transportasi dan logistik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2021-2024. Penelitian ini menggunakan unbalanced panel data dengan metode purposive sampling dalam pengambilan sampelnya. Jumlah sampel yang didapat adalah sebanyak 57 pengamatan. Data sekunder yang diperoleh akan diolah dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Eviews. Hasil pengujian menyimpulkan bahwa HCE berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan, SCE berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan, RCE tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan, dan CEE tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.This study aims to analyze the effect of Intellectual Capital, especially on its components, namely Human Capital Efficiency (HCE), Structural Capital Efficiency (SCE), Relational Capital Efficiency (SCE), and Capital Employed Efficiency (CEE) on the financial performance of transportation and logistics sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2021-2024. This study uses an unbalanced panel of data with a purposive sampling method in sampling. The number of samples obtained was 57 observations. The secondary data obtained will be processed and analyzed using the Eviews software. The test results concluded that HCE had a positive effect on financial performance, SCE had a negative effect on financial performance, RCE had no effect on financial performance, and CEE had no effect on financial performance.
4642849810L1A021071Potensi Ekowisata Perairan Pantai Widuri Di Kabupaten Pemalang
Jawa Tengah
Potensi ekowisata adalah kemampuan yang dapat dikembangkan karena daya tariknya untuk
dikunjungi di lokasi wisata alam. Pantai Widuri, misalnya, menawarkan berbagai potensi untuk
mendukung pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. Dari keindahan alam dan keanekaragaman
hayati lautnya hingga kekayaan budaya lokal yang dimilikinya, semuanya sangat menjanjikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi yang mendukung ekowisata berkelanjutan, serta
daya tampung dan daya dukung di Perairan Pantai Widuri. Kami menggunakan metode penelitian
kuantitatif dan kualitatif deskriptif, dengan analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal
(seperti kekuatan dan kelemahan) serta faktor eksternal (peluang dan ancaman) dan juga menganalisis
daya tampung kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Widuri memiliki potensi besar
untuk dikembangkan menjadi ekowisata perairan, didukung oleh kekuatan alam yang signifikan seperti
keaslian pantai, Dermaga Cinta, area yang luas, dan keberadaan hutan kecil. Kawasan ini dapat
menampung hingga 30.000 orang per hari, dengan luas area yang digunakan sekitar 6 hektar dan
beroperasi selama 11 jam setiap harinya. Walaupun kondisi kebersihan pantai cukup baik, masih ada
ruang untuk perbaikan. Di sisi lain, fasilitas, aktivitas wisata, dan keramahan masyarakat setempat
sudah cukup mendukung kenyamanan para pengunjung.
Ecotourism potential is a capability that can be developed due to its appeal as a destination for natural
tourism. Widuri Beach, for example, offers various potentials to support the development of sustainable
ecotourism. From its natural beauty and marine biodiversity to its rich local culture, everything is very
promising. This study aims to identify the potential supporting sustainable ecotourism, as well as the
carrying capacity and support capacity in the waters of Widuri Beach. We used quantitative and
qualitative descriptive research methods, with SWOT analysis to identify internal factors (such as
strengths and weaknesses) and external factors (opportunities and threats), as well as analyzing the
carrying capacity of the area. The research results indicate that Widuri Beach has significant potential
to be developed into a coastal ecotourism destination, supported by notable natural strengths such as
the authenticity of the beach, the Love Pier, a vast area, and the presence of a small forest. The area
can accommodate up to 30,000 people per day, with an area of approximately 6 hectares and operating
for 11 hours each day. Although the cleanliness of the beach is quite good, there is still room for
improvement. On the other hand, the facilities, tourist activities, and hospitality of the local community
are already sufficient to support the comfort of visitors
4642949812D1B023001PENGARUH PERBEDAAN LANTAI KANDANG TERHADAP PERFORMA AYAM BROILERPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan posisi lantai pada kandang bertingkat terhadap performa produksi ayam broiler di Khaerun Farm, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan pada 20.000 ekor ayam broiler strain Cobb CP 707 MV dipelihara dalam kandang bertingkat, dengan pembagian populasi masing-masing ±10.000 ekor per lantai. Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB), bobot badan akhir, deplesi, dan Feed Conversion Ratio (FCR). Penelitian menggunakan metode observasi yang dianalisis menggunakan uji-t untuk melihat signifikansi perbedaan antar lantai kandang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P>0,05) pada seluruh parameter performa ayam broiler antara lantai satu dan dua. Rataan suhu dan kelembaban yang sedikit berbeda antar lantai tidak cukup memengaruhi performa produksi secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa manajemen kandang yang baik mampu menjaga performa ayam tetap optimal, meskipun terdapat variasi letak lantai dalam kandang bertingkat.This study aimed to evaluate the effect of different floor levels in a multi-tiered housing system on the production performance of broiler chickens at Khaerun Farm, Purwojati District, Banyumas Regency. The research was conducted on 20,000 broiler chickens of the Cobb CP 707 MV strain, reared in a two-tiered house with approximately 10,000 birds per floor. The observed parameters included feed consumption, body weight gain (BWG), final body weight, depletion, and Feed Conversion Ratio (FCR). The study employed an data collection, which were analyzed using a t-test to determine the significance of differences between the floor levels. The results indicated that there were no statistically significant differences (P>0.05) in all performance parameters between the first and second floors. Although there were slight variations in temperature and humidity between the floors, these differences did not significantly affect production performance. These findings suggest that proper housing management can maintain optimal broiler performance regardless of floor level differences in a multi-tiered housing system.
4643049816D1A021124Hubungan antara Manajemen Pemerahan dengan Kejadian Mastitis Subklinis dan Kerusakan Susu pada Peternakan Sapi Perah di Kecamatan Cilongok dan PekuncenPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manajemen pemerahan dengan kejadian mastitis subklinis dan kerusakan susu pada peternakan sapi perah di Kecamatan Cilongok dan Kecamatan Pekuncen, serta membandingkan manajemen pemerahan antar kecamatan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu susu segar sapi perah, kemudian jumlah sampel susu segar yang dibutuhkan berdasarkan rumus slovin, sehingga sampel yang diambil sebanyak 21 peternak di Kecamatan Cilongok, dan 26 peternak di Kecamatan Pekuncen. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data primer berupa hasil uji California Mastitis Test (CMT) untuk mendeteksi mastitis subklinis dan uji alkohol untuk mendeteksi kerusakan susu, serta data sekunder melalui wawancara dengan peternak menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen pemerahan dengan kejadian mastitis subklinis di kedua kecamatan. Semakin baik manajemen pemerahan, maka semakin rendah kejadian mastitis subklinis. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen pemerahan dengan kerusakan susu di kedua kecamatan. Manajemen pemerahan berdasarkan uji T menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada kejadian mastitis subklinis dan kerusakan susu antara Kecamatan Cilongok dan Kecamatan Pekuncen. Dapat disimpulkan bahwa penerapan manajemen pemerahan yang baik sangat penting untuk menurunkan kejadian mastitis subklinis, meskipun belum berpengaruh langsung terhadap kualitas akhir susu berdasarkan uji alkohol. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan strategi manajemen pemerahan yang lebih baik bagi peternak.This study aims to determine the relationship between milking management and the incidence of subclinical mastitis and milk spoilage in dairy farms in Cilongok and Pekuncen Districts, as well as to compare milking management between districts. The material used in this study was fresh milk from dairy cows, then the number of fresh milk samples needed was based on the Slovin formula, so that samples were taken from 21 farmers in Cilongok District, and 26 farmers in Pekuncen District. The study was conducted with a quantitative approach using primary data in the form of the California Mastitis Test (CMT) results to detect subclinical mastitis and alcohol tests to detect milk spoilage, as well as secondary data through interviews with farmers using a structured questionnaire. The results showed a significant relationship between milking management and the incidence of subclinical mastitis in both districts. The better the milking management, the lower the incidence of subclinical mastitis. However, there was no significant relationship between milking management and milk spoilage in both districts. Milking management based on the T-test showed no significant difference in the incidence of subclinical mastitis and milk spoilage between Cilongok and Pekuncen Districts. It can be concluded that the implementation of good milking management is very important to reduce the incidence of subclinical mastitis, although it does not directly affect the final milk quality based on the alcohol test. This study is expected to be the basis for developing better milking management strategies for farmers.
4643149817I4B024007Tinjauan Sistematis : Efektivitas Teknik Pernapasan Buteyko dalam Mengurangi Kecemasan pada Pasien AsmaLatar Belakang: Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran napas yang dapat memperburuk kondisi psikologis, termasuk kecemasan. Kecemasan pada penderita asma dapat memperburuk gejala respirasi dan menurunkan kualitas hidup. Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang mulai banyak diteliti untuk mengatasi kecemasan dengan menggunakan teknik pernapasan Buteyko, yang diyakini mampu memperbaiki pola napas dan menurunkan gejala cemas.
Tujuan: Menilai efektivitas teknik pernapasan Buteyko dalam mengurangi kecemasan pada pasien asma melalui tinjauan sistematis terhadap literatur terbaru.
Metode: Tinjauan sistematis ini dilakukan berdasarkan protokol PRISMA. Pencarian artikel dilakukan melalui beberapa database seperti ScienceDirect, PubMed, Biomed Central, Scopus dan Google Scholar dalam rentang 10 tahun terakhir (2015–2024). Seleksi artikel dilakukan secara bertahap melalui skrining judul, abstrak, dan full-text. Kualitas metodologis artikel dinilai menggunakan JBI (the Joanna Briggs Institute) Critical Appraisal Checklist. Sepuluh artikel utama yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari tiga artikel randomized controlled trials (RCT) dan tujuh studi quasi-eksperimental.
Hasil: Hasil review menunjukkan penurunan kecemasan yang signifikan pada pasien asma setelah intervensi Buteyko, dengan pengukuran menggunakan skala seperti NQ, HAM-A, dan domain emosional AQLQ. Selain itu, teknik ini juga berkontribusi terhadap perbaikan fungsi respirasi dan pengurangan gejala asma.
Kesimpulan: Teknik pernapasan Buteyko merupakan intervensi nonfarmakologis yang potensial dan efektif dalam mengurangi kecemasan pada pasien asma. Penerapan teknik ini dapat menjadi bagian dari praktik keperawatan untuk mendukung manajemen holistik pada pasien asma.
Background: Asthma is a chronic inflammatory disease of the airways that can exacerbate psychological conditions, including anxiety. Anxiety in asthma patients may worsen respiratory symptoms and reduce quality of life. One non-pharmacological approach that has gained increasing attention for managing anxiety is the Buteyko breathing technique, which is believed to improve breathing patterns and reduce anxiety symptoms.
Objective: To evaluate the effectiveness of the Buteyko breathing technique in reducing anxiety among asthma patients through a systematic review of recent literature.
Methods: This systematic review was conducted following the PRISMA protocol. Article searches were carried out across several databases, including ScienceDirect, PubMed, Biomed Central, Scopus, and Google Scholar, covering publications from the past ten years (2015–2024). Articles were selected through a stepwise screening process involving title, abstract, and full-text review. The methodological quality of the included studies was assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist. Ten main articles that met the inclusion criteria were included, consisting of three randomized controlled trials (RCTs) and seven quasi-experimental studies.
Results The review results showed a significant reduction in anxiety among asthma patients following the Buteyko intervention, as measured by scales such as the NQ, HAM-A, and the emotional domain of the AQLQ. In addition, this technique also contributed to improved respiratory function and a reduction in asthma symptoms.
Conclusion: The Buteyko breathing technique is a promising and effective non-pharmacological intervention for reducing anxiety in asthma patients. Its application can be integrated into nursing practice to support a holistic approach in asthma management.
4643249818L1A021065Kesesuaian dan daya dukung Wisata Perairan Pantai Sodong
Cilacap
Pantai Sodong terletak di Desa Karang benda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Pantai
ini merupakan pantai yang memiliki daya tarik berupa pantai berpasir hitam yang landai dengan
pemandangan sekitar yang indah. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karang benda
Kabupaten Cilacap, pada bulan Mei 2025 dan bertujuan untuk Mengidentifikasi potensi
Kawasan Wisata Pantai Sodong, Mengetahui kesesuaian Wisata Pantai Sodong sebagai
Wisata Pantai, Menghitung daya dukung Wisata Pantai Sodong untuk menjadi kawasan
Wisata Pantai. Metode yang digunakan yaitu data primer pengambilan data analisis kualitas
air, metode penentuan kesesuaian kawasan berdasarkan perkalian skor dan bobot yang
diperoleh dari setiap paremeter, kedalaman, tipe pantai, lebar pantai, kecerahan, kecepatan
arus, material dasar perairan, pengamatan biota berbahaya, dan ketersediaan air tawar.
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan Potensi Wisata pantai di Pantai Sodong ada dua
kategori yaitu 1) Wisata kategori rekreasi untuk indeks kesesuaian kawasan kategori
ekowisata rekreasi yaitu 95,8% S1 (sangat sesuai). Daya dukung kawasan kategori ekowisata
rekreasi 256 (Orang/hari).
Sodong Beach is located in Karang Benda Village, Adipala District, Cilacap Regency. This
beach is a beach that has an attraction in the form of a sloping black sandy beach with beautiful
surrounding scenery. This research was conducted in Karang Benda Village, Cilacap Regency,
in May 2025 and aims to Identify the potential of the Sodong Beach Tourism Area, Determine
the suitability of Sodong Beach Tourism as Beach Tourism, Calculate the carrying capacity of
Sodong Beach Tourism to become a Beach Tourism area. The method used is primary data
collection of water quality analysis data, a method for determining the suitability of the area
based on the multiplication of scores and weights obtained from each parameter, depth, beach
type, beach width, brightness, current speed, water base material, observation of dangerous
biota, and availability of fresh water. Based on the results of research in the field, the potential
for beach tourism in Sodong Beach has two categories, namely 1) Recreational tourism for the
suitability index of the recreational ecotourism category area, namely 95.8% S1 (very suiTabel).
The carrying capacity of the recreational ecotourism category area is 256 (People/day).
4643349819L1B021042Penggunaan Probiotik Konsorsium Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus)

Ikan nila Nirwana (Oreochromis niloticus) adalah spesies ikan air tawar yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, keterbatasan pengetahuan dalam pengelolaan pakan dan daya serap nutrisi yang kurang maksimal menjadi kendala dalam budidaya ikan nila karena dapat menyebabkan pertumbuhan yang kurang optimal. Alternatif yang dapat digunakan yaitu penambahan probiotik pada pakan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dosis probiotik konsorsium yang optimal terhadap laju pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila. Penelitian telah dilakukan pada bulan Desember 2024 hingga Januari 2025. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu (P0) kontrol tanpa probiotik, (P1) 5 ml/kg pakan + 50 ml akuades, (P2) 10 ml/kg pakan + 100 ml akuades, (P3) 15 ml/kg pakan + 150 ml akuades. Probiotik yang digunakan yaitu probiotik konsorsium dengan kandungan bakteri probiotik Lactococcus lactis, Bacillus Thuringiensis, Bacillus cereus, Bacillus velezensis, dan Bacillus sp.. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) terhadap parameter bobot mutlak, panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan tidak signifikan pada parameter kelulushidupan. Hasil terbaik didapatkan pada P2 yaitu dengan nilai bobot mutlak 17,2±0,56 g, panjang mutlak 4,69±0,02 cm, laju pertumbuhan spesifik 4,55±0,06%hari-1, dengan kelulushidupan 100± 0%. Tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater fish species with significant potential for aquaculture development. However, limited knowledge in feed management and less than optimal nutrient absorption are obstacles in tilapia cultivation that can cause suboptimal growth. An alternative that can be used is the addition of probiotics to the feed. This research aimed to determine the optimal dose of a probiotic consortium on the growth rate and survival of tilapia. The research was conducted from December 2024 to January 2025. This research used a completely randomized design (CRD) method with 4 treatments and 3 replicates: (P0) control without probiotics, (P1) 5 ml/kg feed + 50 ml distilled water, (P2) 10 ml/kg feed + 100 ml distilled water, (P3) 15 ml/kg feed + 150 ml distilled water. The probiotic consortium used contained Lactococcus lactis, Bacillus Thuringiensis, Bacillus cereus, Bacillus velezensis, and Bacillus sp.. The results showed significant differences (p<0.05) in absolute weight, absolute length, specific growth rate (SGR), and insignificant in survival rate. The best results were obtained in P2 with absolute weight of 17.2 ± 0.56 g, absolute length of 4.69 ± 0.02 cm, specific growth rate of 4.55 ± 0.06%day-1, with survival rate of 100 ± 0%.
4643449820B1A021052PENGARUH PEMBERIAN BAKTERI SELULOLITIK DAN LIGNINOLITIK DALAM MENDEGRADASI JERAMI PADI Dekomposisi merupakan proses pemecahan bahan organik yang telah mati menjadi mineral dan humus dengan bantuan faktor biotik maupun abiotik. Proses ini penting dalam pengelolaan jerami padi, limbah pertanian kaya lignoselulosa, untuk menghasilkan kompos bernutrisi. Mikroorganisme seperti bakteri selulolitik dan ligninolitik berperan penting dalam mempercepat dekomposisi melalui penguraian selulosa dan lignin. Isolat bakteri selulolitik yang digunakan merupakan isolat bakteri dengan kode sampel KS5 dan SD5. Isolat SD5 (hasil isolasi dari sampah dapur) dan KS5 (hasil isolasi dari kotoran kambing) dipilih karena menunjukkan aktivitas selulolitik dan ligninolitik tinggi berdasarkan indeks degradasi, namun keduanya belum diketahui kemampuannya dalam mendegradsi jerami padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji kompatibilitas bakteri SD5 dan KS5, dan mengetahui pengaruh pemberian kombinasi bakteri SD5 dan KS5 terhadap proses dekomposisi jerami padi.
Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 jenis perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali, sehingga total terdapat 12 unit percobaan. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat adalah tingkat degradasi jerami padi, sedangkan variabel bebas yaitu variasi pemberian jenis isolat bakteri. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah rasio C/N dan parameter pendukung yaitu nilai C-Organik, nilai kandungan nitrogen, suhu, pH, total populasi bakteri, tekstur, warna, dan bau. Waktu pengomposan dilakukan selama 60 hari. Data rasio C/N dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kesalahan 5%.
Hasil penelitian diperoleh bahwa isolat bakteri selulolitik SD5 dan ligninolitik KS5 dapat tumbuh secara kompatibel tanpa menunjukkan antagonisme, yang ditunjukkan dengan tidak terbentuknya zona hambat pada media interaksi. Pemberian isolat SD5 dan KS5, baik secara tunggal maupun kombinasi, tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap dekomposisi jerami padi. Meskipun secara statistik perbedaannya tidak nyata, seluruh perlakuan menghasilkan rasio C/N antara 15,48 ± 0,32 hingga 17,25 ± 0,10, yang masih berada dalam rentang ideal sesuai SNI 19-7030-2004, sehingga kompos yang dihasilkan dapat dikategorikan telah matang setelah inkubasi selama 60 hari. Hasil pengamatan terhadap parameter lain turut mendukung bahwa seluruh perlakuan telah mencapai tahap kematangan kompos. Nilai pH akhir kompos berada pada kisaran 6,86-6,93, suhu berkisar antara 28–29°C, serta karakteristik visual seperti warna, bau, dan tekstur menunjukkan ciri khas kompos matang. Sebaliknya, kenampakan perlakuan kontrol (P0) masih menunjukkan tekstur yang kurang remah, menandakan dekomposisi yang berlangsung lebih lambat dibanding perlakuan pemberian dengan isolat.
Decomposition is the process of breaking down dead organic matter into minerals and humus with the assistance of both biotic and abiotic factors. This process is essential in managing rice straw, an agricultural waste rich in lignocellulose, to produce nutrient-rich compost. Microorganisms such as cellulolytic and ligninolytic bacteria play a key role in accelerating decomposition by degrading cellulose and lignin. The cellulolytic bacterial isolates used in this study were coded KS5 and SD5. Isolate SD5 (obtained from kitchen waste) and KS5 (obtained from goat manure) were selected due to their high cellulolytic and ligninolytic activities based on degradation index results; however, their ability to degrade rice straw has not yet been determined. This study aimed to assess the compatibility of bacterial isolates SD5 and KS5 and to examine the effect of applying a combination of SD5 and KS5 on the decomposition process of rice straw.
The research was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD), consisting of four treatments, each replicated three times, resulting in a total of 12 experimental units. The variables in this study consisted of dependent and independent variables. The dependent variable was the rate of rice straw degradation, while the independent variable was the variation in bacterial isolate application. The main parameter observed was the C/N ratio, while supporting parameters included organic C content, nitrogen content, temperature, pH, total bacterial population, texture, color, and odor. The composting process lasted for 60 days. The C/N ratio data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 5% error level.
The results showed that cellulolytic isolate SD5 and ligninolytic isolate KS5 were able to grow compatibly without exhibiting antagonistic interactions, as indicated by the absence of inhibition zones on the interaction media. The application of SD5 and KS5, whether individually or in combination, had no significant effect on rice straw decomposition. Although statistically insignificant, all treatments produced C/N ratios ranging from 15.48 ± 0.32 to 17.25 ± 0.10, which fall within the ideal range according to SNI 19-7030-2004, indicating that the compost could be categorized as mature after 60 days of incubation. Observations on other parameters supported that all treatments had reached compost maturity. The final compost pH ranged from 6.86 to 6.93, the temperature ranged from 28–29°C, and visual characteristics such as color, odor, and texture displayed the typical traits of mature compost. In contrast, the control treatment (P0) still exhibited a less crumbly texture, indicating slower decomposition compared to treatments with bacterial isolate application.
4643549826L1C021022PREFERENSI HABITAT PENELURAN PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) DI PANTAI KEMBAR TERPADU KEBUMEN JAWA TENGAHPeningkatan perburuan, perdagangan dan rendahnya perkembangbiakan penyu menyebabkan penurunan populasi di alam. Kegiatan eksploitasi penyu tanpa melihat segi kelestarian dapat mengancam keberadaan penyu dan dapat menyebabkan kepunahan penyu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah peneluran dan mengetahui preferensi habitat peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Kembar Terpadu, Kebumen, Jawa Tengah pada 2020–2025. Metode yang digunakan adalah survei lapang dengan menggunakan 3 stasiun dengan karakteristik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan jumlah peneluran penyu lekang sebesar 25¬200% per tahun. Habitat peneluran di Pantai Kembar Terpadu Kebumen Jawa Tengah sangat sesuai dengan (IKH) sebesar 78,3¬88,4%. Kondisi sarang peneluran dengan mempunyai karakteristik seperti substrat pasir sedang (62,4¬67,4%), suhu 25¬33°C, 34¬73%, pH 6,5, kemiringan 3,33¬7,27% , dengan vegetasi pantai yang terdiri dari tapak kuda (Ipomoea pes-caprae), kacang laut (Canavalia rosea), rumput lidah rusa (Dichanthelium clandestinum), rumput angin (Spinifex littoreus), katapang (Barringtonia asiatica), pandan laut (Pandanus odorifer). Increased poaching, trade and poor breeding of sea turtles have led to a decline in the natural population.. The exploitation of sea turtles without looking at sustainability can threaten the existence of sea turtles and can cause sea turtle extinction. This study aims to determine the number of nesting and determine the nesting habitat preferences of Olive Ridley Sea Turtle (Lepidochelys olivacea) in Kembar Terpadu Beach, Kebumen, Central Java in 2020-2025. The method used was field survey using 3 stations with different characteristics. The results showed an increase in the number of nesting Olive Ridley sea turtles by 25¬200% per year. The nesting habitat in Kembar Terpadu Beach Kebumen Central Java is very suitable with (IKH) of 78.3¬88.4%. The condition of nesting sites with characteristics such as medium sand substrate (62,4¬67,4%), temperature 25¬33°C, humidity 34¬73%, pH 6.5, slope 3,33¬7,27%, and beach vegetation consisting of horse tread (Ipomoea pes-caprae), sea beans (Canavalia rosea), deer tongue grass (Dichanthelium clandestinum), wind grass (Spinifex littoreus), katapang (Barringtonia asiatica), sea pandanus (Pandanus odorifer).
4643649938A1D021209Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kubis pada Salinitas Udara dan Jeda Waktu Pembilasan Air dalam Media Tanah Pasir PantaiKubis merupakan komoditas hortikultura penting dengan permintaan tinggi karena kandungan gizinya dan masa panen yang singkat. Terbatasnya lahan subur mendorong pemanfaatan tanah pasir pantai, meskipun menghadapi tantangan salinitas udara yang dapat mengganggu fisiologi tanaman dan menurunkan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk: Menentukan tingkat salinitas udara dan jeda waktu pembilasan air terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis pada media tanah pasir pantai, Menentukan jeda waktu pembilasan air yang tepat pada fisiologi tanaman kubis pada media tanah pasir pantai, dan Menentukan berapa konsentrasi salinitas udara dan jeda waktu pembilasan air yang dapat ditoleransi oleh tanaman kubis pada media tanah pasir pantai. Penelitian ini dilakukan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dari Juli hingga Oktober 2024, menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor: salinitas udara (0, 12, dan 24 mS/cm) dan jeda pembilasan air (0, 45, dan 90 menit), masing-masing tiga ulangan. Data dianalisis menggunakan uji F dan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas udara dan jeda waktu pembilasan air berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan fisiologi kubis. Salinitas 24 mS/cm dan jeda pembilasan 45 menit memberikan tinggi tanaman tertinggi. Namun, keduanya tidak meningkatkan hasil panen secara signifikan. Jeda waktu pembilasan air 90 menit meningkatkan fisiologi tanaman pada kerapatan stomata generatif tertinggi. Kubis masih mampu mentoleransi salinitas udara hingga 24 mS/cm dan jeda waktu pembilasan air hingga 90 menit, meskipun terjadi penurunan pada beberapa parameter fisiologis. Cabbage is an important horticultural commodity with high demand due to its nutritional value and short harvesting cycle. The limited availability of fertile land has encouraged the use of coastal sandy soils, despite the challenge of air salinity, which can disrupt plant physiology and reduce productivity. This study aimed to: determine the effects of air salinity levels and water flushing intervals on the growth and yield of cabbage in coastal sandy soil; identify the optimal water flushing interval for supporting cabbage physiology; and determine the salinity and flushing levels that cabbage can tolerate in this medium. The experiment was conducted in the screen house of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, from July to October 2024, using a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors: air salinity (0, 12, and 24 mS/cm) and water flushing intervals (0, 45, and 90 minutes), each with three replications. Data were analyzed using an F-test and DMRT at a 5% significance level. The results showed that air salinity and water flushing intervals significantly affected cabbage growth and physiology. A salinity of 24 mS/cm and a 45-minute flushing interval produced the tallest plants. However, neither treatment significantly increased yield. A 90-minute flushing interval improved physiological responses, indicated by the highest stomatal density during the generative phase. Cabbage showed tolerance to air salinity up to 24 mS/cm and flushing intervals up to 90 minutes, despite reductions in some physiological parameters.
4643749822A1D020180KAJIAN PUPUK NPK-SR, RESIDU JERAMI DAN ASAM HUMAT TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH, SERAPAN K DAN PERTUMBUHAN PADI IR-64Pupuk NPK-SR memiliki tingkat efisiensi pemupukan yang tinggi dan ramah terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NKP-SR asam humat, dan residu jerami terhadap sifat kimia tanah, serapan K dan pertumbuhan tanaman padi varietas IR-64. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 faktor, yaitu pupuk NPK-SR pada perbedaan grade N (5 aras), asam humat (2 aras), dan residu Jerami (2 aras). Jumlah perlakuan ialah 5 x 2 x 2 atau 20 kombinasi perlakuan, diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 60 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa variasi perlakuan pupuk NPK-SR berpengaruh pH KCl pada awal vegetatif (5,36), akhir vegetatif (6,23), jumlah daun pada akhir vegetatif tanaman (56,33 helai/rumpun), K-tersedia tanah (1,83 cmol(+)/kgK2O), dan K-total tanah (0,12 % K2O). Variasi perlakuan asam humat berpengaruh terhadap K-tersedia tanah (1,03 cmol(+)/kgK2O), K-total tanah (0,09% K2O), kadar K pada biji (3,28% K2O), tinggi tanaman pada akhir vegetatif tanaman (93,22 cm), jumlah daun pada awal vegetatif tanaman (7,5 helai/rumpun), dan jumlah anakan pada awal vegetatif (1,07 anakan/rumpun) serta akhir vegetatif tanaman (12,57 anakan/rumpun). Variasi perlakuan residu jerami berpengaruh terhadap K-tersedia tanah (1,24 cmol(+)/kgK2O) dan K-total tanah (0,09% K2O).NPK-SR fertilizer has a high level of fertilization efficiency and is environmentally friendly. This study aims to determine the effect of NKP-SR fertilizer humic acid, and straw residue on soil chemical properties, K absorption and growth of rice plants of IR-64 variety. This study used a Completely Randomized Design (CRD) method consisting of 3 factors, namely NPK-SR fertilizer at different N grades (5 levels), humic acid (2 levels), and straw residue (2 levels). The number of treatments was 5 x 2 x 2 or 20 treatment combinations, repeated 3 times to obtain 60 experimental units. The results showed that variations in NPK-SR fertilizer treatment affected KCl pH at the beginning of vegetative (5.36), end of vegetative (6.23), number of leaves at the end of vegetative plants (56.33 strands/clump), soil-available K (1.83 cmol(+)/kgK2O), and soil-total K (0.12% K2O). Variations in humic acid treatment affected soil-available K (1.03 cmol(+)/kgK2O), soil-total K (0.09% K2O), seed K content (3.28% K2O), plant height at the end of the vegetative period (93.22 cm), number of leaves at the beginning of the vegetative period (7.5 leaves/clump), and number of tillers at the beginning of the vegetative period (1.07 tillers/clump) and the end of the vegetative period (12.57 tillers/clump). Variations in straw residue treatment affected soil-available K (1.24 cmol(+)/kgK2O) and soil-total K (0.09% K2O).
4643849823A1D021072KARAKTERISASI Pseudomonas fluorescens RIZOSFER PUTRI MALU DATARAN RENDAH UNTUK MENGENDALIKAN ANTRAKNOSA BUAH CABAI RAWIT PASCAPANENPenyakit antraknosa menyebabkan kerugian hasil panen mencapai hingga 80% jika kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan patogen. Salah satu cara untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan menggunakan agensia hayati berupa Pseudomonas fluorescens yang berasal dari tanah sekitar tanaman putri malu. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri rhizosfer Pseudomonas fluorescens, mengetahui potensi sebagai antagonis patogen, dan sebagai Plant Growth Promoting Rizobacteria, serta efeketivitasnya dalam mengendalikan penyakit antraknosa. Penelitian dimulai dengan eksplorasi pada tanah sekitaran putri malu, kemudian di isolasi pada medium padat dan dikarakter berdasarkan bentuk koloni, sel, dan biokimia. Isolat Pseudomonas fluorescens kemudian diuji terhadap Colletotrichum capsici, Fusarium oxysporum, dan Rhizoctonia solani serta bakteri Xanthomonas oryzae dan Ralstonia solanacearum. Pengujian PGPR dilakukan pada benih mentimun dengan 3 isolat terbaik diaplikasikan pada buah cabai rawit, diamati kemampuan menghambat penyakit dengan 5 ulangan dan kontrol serta fungisida. Rancangan yang digunakan adalah RAL. Variabel berupa karakterisasi biokimia, uji antagonis, PGPR data in vivo cabai berupa luas serangan, indeks sampah, dan kadar gula. Hasil eksplorasi diperoleh 13 isolat dengan karakter sel berbentuk batang, Gram negatif, uji katalase dan oksidase positif. Uji antagonis dan PGPR diperoleh 3 isolat P. fluorescens terbaik. Perlakuan Clp 1.1; Clp 1.2; dan Clp 1.4 memiliki persentase efektivitas panjang akar terhadap kontrol masing-masing 25,10; 46,6; 42,3; dan 57,35. Isolat Clp 1.1 menunjukkan hasil paling efektif dalam mengendalikan antraknosa pada buah cabai rawit pascapanen dengan menekan masa inkubasi sebesar 68,71 %, luas serangan efektivitas sebesar 67,34 %, serta indeks sampah 71,41 % dibandingkan kontrol.Anthracnose is a major disease in chili that can cause up to 80% yield loss under favorable environmental conditions. This study aimed to isolate rhizospheric Pseudomonas fluorescens from the soil surrounding sensitive-creeping plant, evaluate its potential as an antagonist to plant pathogens, its role as Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), and its effectiveness in controlling postharvest anthracnose on bird’s eye chili fruit (Capsicum frutescens). Soil samples were collected, and bacterial isolation was performed on solid medium, followed by morphological and biochemical characterization. The isolates were tested against fungal pathogens (Colletotrichum capsici, Fusarium oxysporum, Rhizoctonia solani) and bacterial pathogens (Xanthomonas oryzae, Ralstonia solanacearum). PGPR activity was assessed using cucumber seeds. The three most promising isolates (Clp 1.1, Clp 1.2, Clp 1.4) were applied to chili fruit to assess their postharvest disease suppression ability, using a Completely Randomized Design with five replications, a control, and a fungicide treatment. Variables observed included biochemical characterization, antagonistic ability, PGPR parameters, and in vivo data from chili fruits such as disease severity, waste index, and sugar content. Thirteen isolates were obtained, characterized as Gram-negative rods with positive catalase and oxidase activity. Clp 1.1, Clp 1.2, and Clp 1.4 showed pathogen inhibition above 50% and promoted root growth by 25.10%, 46.6%, and 42.3%, respectively. Clp 1.1 showed the strongest inhibition against C. capsici (66.65%) and was the most effective in controlling postharvest anthracnose, reducing the incubation period by 68.71%, disease severity by 67.34%, and waste index by 71.41% compared to the control.
4643949824A1C021001PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP
TINGKAT PEMADATAN TANAH PADA KEDALAMAN 0 – 50 CM
(12 BULAN SETELAH PERLINTASAN TRAKTOR RODA DUA)
Perlintasan traktor dapat menyebabkan pemadatan tanah, yang merugikan sistem
perakaran tanaman serta sirkulasi air dan udara dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk
mempelajari pengaruh berbagai dosis pupuk kandang sapi terhadap tingkat pemadatan
tanah pada kedalaman 0 – 50 cm saat 12 bulan setelah perlintasan traktor roda dua, serta
mempelajari hubungan antar sifat fisik tanah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak
Lengkap dengan 4 taraf perlakuan dosis pupuk (0, 15, 20, 25 ton/ha) dan 5 kedalaman
tanah (0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40, dan 40 – 50 cm).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan dosis pupuk kandang sapi,
terutama dosis 25 ton/ha, menurunkan dry bulk density dan meningkatkan porositas,
kadar air, serta konduktivitas hidrolik jenuh. Semakin dalam tanah, pemadatan
semakin berkurang. Analisis regresi menunjukkan bahwa dry bulk density memiliki
hubungan linier negatif dengan konduktivitas hidrolik jenuh sedangkan porositas dan
kadar air memiliki hubungan linier positif dengan konduktivitas hidrolik jenuh.
Tractor crossings can cause soil compaction, which is detrimental to the plant's root
system as well as the circulation of water and air in the soil. This study aims to study the effect of
various doses of cow manure on soil compaction at a depth of 0 – 50 cm at 12 months after
crossing two-wheeled tractors, as well as to study the relationship between physical properties
of soil. The study used a Complete Random Design with 4 levels of fertilizer dose treatment (0,
15, 20, 25 tons/ha) and 5 soil depths (0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40, and 40 – 50 cm).
The results showed that the addition of the dose of cattle manure, especially the dose of
25 tons/ha, reduced dry bulk density and increased porosity, moisture content, and saturated
hydraulic conductivity. The deeper the soil, the less compaction. Regression analysis shows that
dry bulk density has a negative linear relationship with saturated hydraulic conductivity
whereas porosity and moisture content have a positive linear relationship with saturated
hydraulic conductivity.
4644049825C1L018023PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT BERBANTUAN MEDIA PEMBELAJARAN CARD SORT TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI PESERTA DIDIK DI MAN 1 BANYUMASPenelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian menggunakan non equivalent-control-group-design. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) berbantuan media pembelajaran card sort terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran ekonomi di MAN 1 Banyumas. Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas X di MAN 1 Banyumas Tahun Ajaran 2024/2025 dengan jumlah 509 peserta didik. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Berdasarkan reknik tersebut, sampel dalam penelitian ini sebanyak 76 peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas yang menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) berbantuan card sort dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil uji Mann Whitney di mana memperlihatkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikan sebesar 0,05. Dari hasil uji Mann Whitney tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas yang menggunakan model pembelajaran TGT berbantuan media pembelajaran card sort dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran ekonomi di MAN 1 Banyumas. Temuan ini didukung oleh hasil Uji N-Gain yang diperoleh hasil rata-rata pada kelas eksperimen sebesar 0.6888 sehingga masuk pada kategori cukup efektif. Kemudian nilai persentase N-Gain nya sebesar 68% sehingga masuk pada kategori yang sedang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran TGT berbantuan media pembelajaran card sort cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.This study is an experimental study with a non-equivalent control group design. The purpose of this study is to determine the difference between the Team Games Tournament (TGT) learning model assisted by card sort learning media and the learning outcomes of students in economics at MAN 1 Banyumas. The population in this study was 509 students in grade X at MAN 1 Banyumas in the 2024/2025 academic year. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Based on this technique, the sample in this study consisted of 76 students. Based on the research results and data analysis, there was a difference in learning outcomes between the class that used the Team Games Tournament (TGT) learning model assisted by card sort and the class that used the conventional learning model. Based on the Mann Whitney test results, the significance value was 0.000, which was smaller than the significance level of 0.05. From the results of the Mann Whitney test, it can be concluded that there is a difference in learning outcomes between classes that use the TGT learning model assisted by card sort learning media and classes that use conventional learning models in economics subjects at MAN 1 Banyumas. This finding is supported by the N-Gain test results, which obtained an average score of 0.6888 in the experimental class, thus falling into the fairly effective category. The N-Gain percentage value was 68%, placing it in the moderate category. Therefore, it can be concluded that the implementation of the TGT learning model assisted by card sort learning media is sufficiently effective in improving student learning outcomes.