Artikelilmiahs

Menampilkan 46.401-46.420 dari 48.727 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4640149788H1E021074Integrating ANP and Benchmarking to Evaluate Mindi Wood SuppliersPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pemasok kayu mindi di PT. Kayu Lima Utama dengan menggunakan metode Analytic Network Process, sebuah pendekatan pengambilan keputusan multikriteria yang mempertimbangkan keterkaitan antar kriteria. Dalam industri manufaktur furnitur, kinerja pemasok sangat berpengaruh terhadap kelancaran produksi, kualitas, dan kepuasan. Penelitian ini mengidentifikasi enam kriteria utama dan tiga belas subkriteria melalui kajian pustaka dan validasi ahli, yang mencakup aspek kualitas, harga, pengiriman, pelayanan, dan ketersediaan material. Data dikumpulkan melalui kuesioner perbandingan berpasangan kepada pengambil keputusan perusahaan, lalu dianalisis menggunakan perangkat lunak Super Decisions. Hasil perhitungan bobot dan supermatriks terbatas menunjukkan urutan prioritas kinerja dari lima pemasok utama. Supplier B menempati peringkat tertinggi karena kinerjanya dalam subkriteria berdampak besar seperti harga dan ketepatan pengiriman. Sementara itu, Supplier E memiliki skor terendah dan membutuhkan perbaikan signifikan. Melalui pendekatan benchmarking, pemasok yang kurang unggul dibandingkan dengan pemasok terbaik pada masing-masing subkriteria untuk memberikan rekomendasi perbaikan yang terarah. Temuan ini memberikan kontribusi praktis bagi perusahaan dalam meningkatkan efektivitas evaluasi pemasok dan pengambilan keputusan strategis dalam rantai pasok.This study aims to evaluate the performance of mindi wood suppliers at PT. Kayu Lima Utama using the Analytic Network Process, a multi-criteria decision-making method that accounts for interdependencies among evaluation criteria. In the furniture manufacturing industry, supplier performance has a significant impact on production continuity, product quality, and customer satisfaction. The research identified six main criteria and thirteen subcriteria through literature review and expert validation, covering aspects such as quality, price, delivery, service, and material availability. Data were collected through structured pairwise comparison questionnaires administered to company decision-makers and analyzed using the Super Decisions software. The resulting weights and limiting supermatrix were used to determine the performance ranking of five key suppliers. Supplier B ranked highest due to strong performance in high-weighted subcriteria such as price and delivery punctuality, while Supplier E received the lowest score and requires substantial improvement. A benchmarking approach was applied by comparing each supplier’s lowest-performing subcriteria with the best-performing counterparts, enabling targeted improvement recommendations. The findings offer practical insights for PT. Kayu Lima Utama in identifying supplier strengths and weaknesses and serve as a strategic decision-support tool for ongoing supplier evaluation and development.
4640249787K1A021003KAJIAN TERMODINAMIKA ADSORPSI MALACHITE GREEN DENGAN N-METIL KITOSAN TERMODIFIKASI MAGNETIT
Pewarna malachite green banyak digunakan dalam industri tekstil dan memiliki
sifat toksik, sehingga perlu dihilangkan dari limbah cair melalui proses adsorpsi yang
efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dari NMK-M
serta parameter kinetika, termodinamika, dan kemampuan adsorpsi NMK-M terhadap MG.
Adsorben NMK-M berhasil disintesis dengan menginteraksikan N-metil kitosan dengan
Fe3O4@Na2SiO3 sehingga diperoleh produk berwarna kehitaman. Senyawa NMK-M hasil
sintesis kemudian dikarakterisasi dan dilakukan uji adsorpsi terhadap malachite green.
Analisis FTIR menunjukkan serapan gugus -NH pada 1630 cm-1 dan serapan Fe-O pada
567 cm-1 yang merupakan karakteristik NMK-M. Analisis XRD menunjukkan adsorben
berbentuk spinel kubik. Analisis SEM-EDX menunjukkan NMK-M berbentuk tidak
beraturan dan ukurannya bervariasi dengan komposisi Fe>O>C>N>Si>unsur lainnya.
Analisis BET menunjukkan NMK-M memiliki struktur mesopori dengan ukuran pori ratarata 5,68 nm. Analisis VSM menunjukkan NMK-M bersifat superparamagnetik dengan
nilai Ms sebesar ±3 emu/g. Adsorpsi malachite green dengan NMK-M dilakukan pada pH
5 dan waktu optimum 30 menit dengan variasi suhu 20, 30, dan 40 ˚C. Hasilnya proses
adsorpsi sesuai dengan model kinetika orde dua semu dengan nilai energi aktivasi sebesar
31,87 kJ/mol. Data isoterm adsorpsi paling sesuai dengan model Freundlich dengan nilai
R
2 maksimal sebesar 0,9888 dibandingkan model Langmuir dengan nilai R2 maksimal
0,9317 yang menunjukkan karakteristik adsorpsi multilayer pada permukaan heterogen.
Berdasarkan pengujian parameter termodinamika adsorpsi terjadi secara spontan dan
bersifat eksotermik dengan nilai ΔH˚ sebesar -4,3048 kJ/mol dan ΔS˚ sebesar -0,0073
kJ/mol. Nilai ΔG˚ diperoleh secara berturut-turut -2,1751; -2,1024; dan -2,0298 kJ/mol
pada suhu 20, 30, dan 40 °C yang menunjukkan spontanitas berkurang seiring kenaikan
suhu. Uji reusability dilakukan hingga lima siklus, dan hasilnya menunjukkan NMK-M
masih mempertahankan efisiensi adsorpsi hingga 65% pada siklus ke-5.
Malachite green dye is widely used in the textile industry and has toxic
properties, so it needs to be removed from liquid waste through an efficient
adsorption process. This study aims to determine the physicochemical
characteristics of NMK-M, as well as the adsorption kinetics parameters,
thermodynamics, and adsorption capacity of NMK-M toward MG. The NMK-M
adsorbent was successfully synthesized by interacting N-methyl chitosan with
Fe₃O₄@Na₂SiO₃, resulting in a black-colored product. The synthesized NMK-M
compound was then characterized and tested for adsorption of malachite green.
FTIR analysis showed absorption of the -NH group at 1630 cm-1 and Fe-O
absorption at 567 cm-1, which are characteristic of NMK-M. XRD analysis shows
that the adsorbent is in the form of cubic spinel. SEM-EDX analysis showed that
NMK-M has an irregular shape and varying sizes with a composition of
Fe>O>C>N>Si>other elements. BET analysis showed that NMK-M has a
mesoporous structure with an average pore size of 5.68 nm. VSM analysis showed
that NMK-M is superparamagnetic with an Ms value of ±3 emu/g. Malachite green
adsorption with NMK-M was conducted at pH 5 and an optimal time of 30 minutes
with temperature variations of 20, 30, and 40 °C. The results showed that the
adsorption process followed the pseudo-second-order kinetic model with an
activation energy of 31.87 kJ/mol. The adsorption isotherm data best fit the
Freundlich model with a maximum R² value of 0.9888 compared to the Langmuir
model with a maximum R² value of 0.9317, indicating multilayer adsorption
characteristics on a heterogeneous surface. Based on the thermodynamic
parameter testing, adsorption occurs spontaneously and is exothermic with a ΔH˚
value of -4,3048 kJ/mol and a ΔS˚ value of -0,0073 kJ/mol. The ΔG˚ values were
obtained sequentially as -2,1751; -2,1024; and -2,0298 kJ/mol at temperatures of
20, 30, and 40°C, indicating a decrease in spontaneity with increasing temperature.
Reusability testing was conducted up to five cycles, and the results showed that
NMK-M maintained adsorption efficiency up to 65% in the fifth cycle.
4640349792H1E020027Evaluasi Kondisi Penerapan SMK3L Perguruan Tinggi Saat Ini Dengan Metode Gap AnalysisKeselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya sistematis untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat, serta mencegah kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memiliki kewajiban menerapkan SMK3L sesuai regulasi dan standar akreditasi, sehingga dilakukan evaluasi penerapannya menggunakan metode gap analysis untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi saat ini dan standar yang dipersyaratkan. Penelitian ini mengkaji elemen transisi SMK3L melalui analisis dokumen, dan kuesioner. Hasil menunjukkan tingkat pemenuhan dokumen sebesar 38% (90 dari 237 dokumen), kuesioner 30%, dan checklist 38% yang tergolong rendah, dengan elemen 4 (pengendalian dokumen) memiliki nilai terendah 0% dan elemen 2 (perencanaan dan implementasi K3L) tertinggi 62%. Usulan perbaikan difokuskan pada elemen dengan skor terendah, meliputi: elemen 1.3.3 (peninjauan berkala penerapan SMK3L oleh manajemen) dengan pembuatan SOP Peninjauan SMK3L; elemen 1.4.2 (prosedur konsultasi terkait perubahan yang berdampak pada K3) dengan pembuatan SOP Pengendalian Risiko; elemen 2.1.2 (identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko oleh petugas berkompeten) dengan SOP Pengendalian Risiko; elemen 4 (pengendalian dokumen) dengan SOP Pengendalian Dokumen; elemen 6.2.5 (keterlibatan pengawas dalam konsultasi) dengan SOP Konsultasi K3; elemen 7.1.4 (penyusunan daftar periksa inspeksi) dengan SOP dan Form Inspeksi K3; elemen 7.2.2 (pemantauan/pengukuran lingkungan kerja) dengan SOP Pemantauan Lingkungan Kerja dan Form Inspeksi; elemen 7.4.5 (pencatatan pemantauan kesehatan civitas akademika) dengan SOP dan Form Pemeriksaan Kesehatan; elemen 8.1.1 (prosedur pelaporan bahaya) dengan SOP Pelaporan Bahaya; elemen 9.1.4 (penanganan bahan berbahaya dan limbah) dengan SOP Penanganan Limbah B3; dan elemen 12.3.1 (pelatihan K3 untuk seluruh civitas akademika) dengan SOP dan Formulir Pelatihan K3. Implementasi usulan ini diharapkan dapat meningkatkan kesesuaian penerapannya Occupational Safety and Health (OSH) is a systematic effort to create a safe and healthy work environment and prevent accidents and work-related illnesses. The Faculty of Engineering at Jenderal Soedirman University (Unsoed) has an obligation to implement SMK3L in accordance with regulations and accreditation standards, so an evaluation of its implementation was carried out using the gap analysis method to identify the gap between the current conditions and the required standards. This study examines the transition elements of the OSHMS through document analysis and questionnaires. The results show a document compliance rate of 38% (90 out of 237 documents), a questionnaire compliance rate of 30%, and a checklist compliance rate of 38%, which are considered low. Element 4 (document control) has the lowest score of 0%, while Element 2 (planning and implementation of K3L) has the highest score of 62%. Improvement recommendations focused on elements with the lowest scores, including: element 1.3.3 (periodic review of SMK3L implementation by management) with the creation of an SMK3L Review SOP; element 1.4.2 (consultation procedures related to changes affecting OSH) with the creation of a Risk Control SOP; Element 2.1.2 (hazard identification, risk assessment, and control by competent personnel) with an SOP for Risk Control; Element 4 (document control) with an SOP for Document Control; Element 6.2.5 (supervisor involvement in consultation) with an SOP for K3 Consultation; Element 7.1.4 (preparation of inspection checklists) with SOPs and OSH Inspection Forms; Element 7.2.2 (monitoring/measuring the work environment) with SOPs for Work Environment Monitoring and Inspection Forms; Element 7.4.5 (recording of health monitoring of academic staff) with SOPs and Health Examination Forms; Element 8.1.1 (hazard reporting procedures) with the Hazard Reporting SOP; Element 9.1.4 (handling of hazardous materials and waste) with the Hazardous Waste Handling SOP; and Element 12.3.1 (OHS training for all academic staff) with the OHS Training SOP and Form. The implementation of this proposal is expected to improve the consistency of its application.
4640449793B1A021133Kajian Mikroplastik pada Kerang Totok Geloina expansa (Mousson, 1849) di Perairan Mangrove Segara Anakan, Cilacap.Perairan Segara Anakan memiliki ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai habitat bagi banyak organisme akuatik. Akibat beberapa faktor seperti konversi mangrove, pencemaran air, dan pencemaran domestik, ekosistem mangrove Segara Anakan terancam mengalami kerusakan. Pencemaran mikroplastik menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi ekosistem ini, karena partikel-partikel plastik berukuran kecil tersebut terbuang dan dapat terakumulasi di lingkungan perairan. Sebagai organisme filter feeder, Bivalvia dapat menyaring dan memasukkan berbagai jenis partikel dan materi organik di lingkungan perairan, termasuk mikroplastik. Proses ini berpotensi membahayakan kesehatan Bivalvia dan organisme lain dalam rantai makanan, karena mikroplastik dapat membawa berbagai bahan kimia beracun yang dapat mempengaruhi kualitas makanan bagi hewan dan manusia. Geloina expansa atau kerang totok, menjadi salah satu spesies Bivalvia di perairan Segara Anakan yang masih dieksploitasi dengan sangat masif, karena merupakan kerang konsumsi penduduk setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan tertinggi, karakteristik dan jenis polimer mikroplastik pada G. expansa, sedimen dan air di perairan mangrove Segara Anakan.
Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih dua belas bulan dengan metode survei dan penentuan lokasi menggunakan teknik purposive sampling. Variabel penelitian meliputi karakteristik dan kelimpahan mikroplastik pada G. expansa, sedimen dan air. Parameter yang diamati pada variabel kelimpahan adalah jumlah mikroplastik, sedangkan parameter pada karakteristik mikroplastik meliputi tipe, warna, ukuran, dan jenis polimer. Data penelitian dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis untuk melihat perbedaan variabel antar kelompok (G. expansa, sedimen dan air) dan Mann-Whitney untuk membandingkan dua kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat kelimpahan rata-rata mikroplastik pada G. expansa sebesar 5,1 partikel/g, diikuti oleh air sebesar 1,17 partikel/L dan sedimen sebesar 0,32 partikel/g. Mikroplastik yang teridentifikasi berbentuk fiber, film, foam, fragmen, granule, dan pellet dengan ukuran berkisar antara 100-5000 µm dan warna yang mendominasi adalah hitam. Berdasarkan hasil analisis FTIR ditemukan enam jenis polimer yaitu Polypropylene (PP), Polyethylene (PE), Polystyrene (PS), Polyethylene-terefthalat (PET), Polyvinyl Chloride (PVC), Polyamide atau nylon (PA), dan Acrylonitril Butadiene styrene (ABS).
The Segara Anakan waters had a mangrove ecosystem that served as a habitat for many aquatic organisms. Due to several factors, such as mangrove conversion, water pollution, and domestic waste, the mangrove ecosystem in Segara Anakan was threatened with degradation. Microplastic pollution was one of the serious problems faced by this ecosystem, as small plastic particles were discharged and could accumulate in the aquatic environment. As filter-feeding organisms, bivalves were able to filter and ingest various types of particles and organic matter in the aquatic environment, including microplastics. This process had the potential to harm the health of bivalves and other organisms in the food chain, as microplastics could carry various toxic chemicals that might affect the food quality for animals and humans. Geloina expansa, or mangrove clam, was one of the bivalve species in Segara Anakan that was still being massively exploited, as it was consumed by the local population. This study purposed to determine the highest abundance, characteristics, and polymer types of microplastics in G. expansa, sediment, and water in the Segara Anakan mangrove waters.
The research was conducted over approximately twelve months using a survey method, with sampling locations determined by purposive sampling techniques. The research variables included the characteristics and abundance of microplastics in G. expansa, sediment, and water. The parameter observed for microplastic abundance was the number of particles, while the parameters for microplastic characteristics included type, color, size, and polymer type. The data were analyzed using the Kruskal–Wallis test to determine differences between groups (G. expansa, sediment, and water) and the Mann–Whitney test to compare two groups.
The results showed that the average microplastic abundance in G. expansa was 5.1 particles/g, followed by water with 1.17 particles/L, and sediment with 0.32 particles/g. The identified microplastics were in the form of fiber, film, foam, fragment, granule, and pellet, with sizes ranging from 100 to 5000 µm, and the dominant color was black. Based on FTIR analysis, six types of polymers were identified: Polypropylene (PP), Polyethylene (PE), Polystyrene (PS), Polyethylene terephthalate (PET), Polyvinyl chloride (PVC), Polyamide or nylon (PA), and Acrylonitrile butadiene styrene (ABS).
4640549794B1A021094Tingkat Kerentanan Ekosistem Mangrove di Ulujami Pemalang dan Randusanga BrebesHutan mangrove merupakan salah satu ekosistem unik yang biasanya terdapat di daerah pesisir dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Indonesia memiliki luas mangrove terbesar di dunia, namun ekosistem ini terus mengalami degradasi akibat deforestasi. Mangrove memiliki manfaat ekologis, biologis, dan ekonomi yang sangat penting. Mangrove berfungsi sebagai penstabil pantai, habitat bagi berbagai organisme laut, dan penyerap karbon. Kerusakan ekosistem mangrove terjadi di Pemalang dan Brebes akibat aktivitas pembukaan area tambak dan adanya abrasi. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas habitat, terganggunya fungsi ekologis mangrove, serta penurunan aktivitas ekonomi. Permasalahan tersebut menjadikan penelitian dalam memahami tingkat kerentanan mangrove dan faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan di Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes menjadi sangat penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan mangrove, menentukan faktor yang paling mempengaruhi tingkat kerentanan mangrove, dan membandingkan hasil analisis kerentanan mangrove di Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes.
Penelitian dilakukan di ekosistem mangrove Ulujami Pemalang dan Randusanga Brebes dengan menggunakan metode survei. Pengambilan data dilaksanakan bulan Juni 2024 menggunakan teknik purposive sampling untuk penentuan stasiun pengambilan data. Analisis tingkat kerentanan mangrove dilakukan menggunakan Mangrove Vulnerability Index (MVI), yang mencakup 13 parameter yang dinilai dengan skor 1-5. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode deskriptif komparatif untuk membandingkan hasil tingkat kerentanan mangrove di lokasi penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di kedua lokasi tergolong dalam tingkat Rentan (R). Nilai MVI di Randusanga berkisar antara 2,77–3,38 dengan rata-rata 3,06, sedangkan di Ulujami berada pada kisaran 2,54–3,08 dengan rata-rata 2,85. Faktor yang paling mempengaruhi tingkat kerentanan mangrove di Ulujami Pemalang meliputi kerapatan pohon mangrove, rentang pasang surut, abrasi, perubahan muka air laut dan aktivitas budidaya tambak. Faktor yang paling mempengaruhi tingkat kerentanan ekosistem mangrove di Randusanga Brebes yaitu kerapatan pohon mangrove, DBH dan tinggi mangrove, jarak dari garis pantai, rentang pasang surut, perubahan muka air laut, dan aktivitas budidaya tambak. Ekosistem mangrove di Randusanga cenderung lebih rentan dibandingkan mangrove Ulujami.
Mangrove forests are one of the unique ecosystems typically located in tropical and sub-tropical coastal areas and are influenced by tidal fluctuations. Indonesia has the largest mangrove area in the world (20%); however, this ecosystem continues to experience degradation due to deforestation. Mangroves provide essential ecological, biological, and economic benefits. They function as coastal stabilizers, habitats for various marine organisms, and carbon sinks. Mangrove ecosystem degradation in Pemalang and Brebes occurs due to the expansion of aquaculture areas and coastal abrasion. This condition can lead to a decline in habitat quality, disruption of the ecological functions of mangroves, and a decrease in economic incomes. These issues underline the importance of conducting research to understand the level of mangrove vulnerability and the main factors influencing this vulnerability in Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes.
This study purposed to analyzed the level of mangrove vulnerability, determined the main factors influencing mangrove vulnerability, and to compared the results of vulnerability analysis between Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes. The research was conducted in the mangrove ecosystems of Ulujami Pemalang and Randusanga Brebes using a survey method. Data collection was carried out in June 2024 using purposive sampling to determine data collection stations. The analysis of mangrove vulnerability was conducted using the Mangrove Vulnerability Index (MVI), which consists of 13 parameters assessed with scores ranging from 1 to 5. The collected data were analyzed using a descriptive-comparative method to compare the vulnerability levels of mangrove ecosystems at the study sites.
The results showed that the mangrove ecosystems in both locations fall into the Vulnerable (V) category. MVI in Randusanga ranged from 2.77 to 3.38 with an average of 3.06, while in Ulujami the values ranged from 2.54 to 3.08 with an average of 2.85. The factors that most affect the mangrove vulnerability in Ulujami Pemalang include mangrove tree density, tidal range, abrasion, sea-level changes, and aquaculture activities. The factors that most affect mangrove ecosystem vulnerability in Randusanga Brebes are mangrove tree density, DBH and height of mangrove trees, distance from the shoreline, tidal range, sea-level changes, and aquaculture activities. The vulnerability level of the mangrove ecosystem in Randusanga tends to be higher than in Ulujami.
4640649791A1D018179Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascolonicum L.) Terhadap Waktu Pemberian Pupuk dan Dosis Pupuk NZEO-SRPlusBawang merah termasuk komoditas holtikultura serta mempunyai nilai ekonomis
tinggi dan kaya akan kandungan gizinya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dosis
pupuk NZEO-SRPlus yang optimal untuk meningkatkan hasil tanaman bawang. Penelitian
dilaksanakan di Desa Pliken, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas dan Laboratorium Agrohorti
Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok
lengkap (RAKL) dengan dua faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah waktu
pemberian pupuk NZEO-SRPlus yang terdiri dari 2 macam yaitu, awal tanam 100% dan
awal tanam 50% dan 30 hst 50%. Faktor kedua adalah dosis pupuk NZEO-SRPlus yang
terdiri dari 5 taraf yaitu, tanpa NZEO-SRPlus, 125 Kg/ha, 250 Kg/ha, 375 Kg/ha, 500
Kg/ha, sehingga terdapat 10 kombinasi perlakuan. Perlakuan diulang 3 kali sehingga
terdapat 30 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman (cm), diameter
umbi (cm), jumlah anakan (buah), jumlah umbi (buah), bobo tanaman segar (g), bobot
tanaman segar (g),panjang akar (cm), bobou tmbi kering (g), bobot umbi segar (g). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa waktu pemberian pupuk NZEO-SRPlus berpengaruh nyata
terhadap variabel tingg tanaman (cm). Penambahan dosis pupuk NZEO-SRPlus
berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman (cm), bobot tanaman segar (g).
Interaksi waktu pemberian dan dosis pupuk NZEO-SRPlus berpengaruh nyata terhadap
variabel tinggi tanaman (cm), jumlah anakan (buah), jumlah umbi (buah).
Shallots are horticultural commodities and have high economic value and are rich
in nutrients. The purpose of this study was to determine the optimal dose of NZEO-SRPlus
fertilizer to increase onion crop yields. The study was conducted in Pliken Village,
Kembaran District, Banyumas Regency and the Agrohorti Laboratory of Jenderal
Soedirman University. This study used a completely randomized block design (RAKL) with
two factorials with 3 replications. The first factor is the time of NZEO-SRPlus fertilizer
application consisting of 2 types, namely, early planting 100% and early planting 50% and
30 days after planting 50%. The second factor is the dose of NZEO-SRPlus fertilizer
consisting of 5 levels, namely, without NZEO-SRPlus, 125 Kg/ha, 250 Kg/ha, 375 Kg/ha,
500 Kg/ha, so that there are 10 treatment combinations. The treatment was repeated 3
times so that there were 30 experimental units. . The observed variables were plant height
(cm), tuber diameter (cm), number of tillers (fruits), number of tubers (fruits), fresh plant
weight (g), fresh plant weight (g), root length (cm), dry tuber weight (g), fresh tuber weight
(g). The results showed that the time of NZEO-SRPlus fertilizer application had a
significant effect on the variable of plant height (cm). The addition of NZEO-SRPlus
fertilizer dose had a significant effect on the variable of plant height (cm), fresh plant
weight (g). The interaction of the time of application and the dose of NZEO-SRPlus
fertilizer had a significant effect on the variable of plant height (cm), number of tillers
(fruits), number of tubers (fruits).
4640749795L1B021070Hubungan ukuran tubuh dengan produksi telur lobster pasir Panulirus homarus (Linnaeus, 1758) dari perairan Kebumen Lobster pasir Panulirus homarus (Linnaeus, 1758) merupakan komoditas perikanan yang penting, memiliki nilai ekonomi tinggi dan bahkan merupakan produk ekspor andalan Indonesia serta berperan secara ekologi. Dengan demikian lobster merupakan target utama penangkapan nelayan karena nilai jualnya yang tinggi dan dalam aspek biologi lobster mendapat gangguan dalam regenerasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ukuran tubuh, produksi telur, hubungan dan perbedaan keduanya pada lobster pasir P. homarus (Linnaeus, 1758) bertelur yang hidup di perairan Kebumen. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari sampai Desember 2024. Pengukuran dilakukan dengan kaliper untuk panjang tubuh yaitu panjang total (TL), panjang karapas (CL), dan panjang perut (AL) dan timbangan analitik untuk menimbang berat (W) lobster dengan akurasi 0,01 g. Analisis fekunditas menggunakan metode gravimetrik, yaitu menghitung jumlah telur sub sampel 1 g yang dikalikan dengan total berat telur. Data dianalisis uji korelasi Pearson dan regresi linier sederhana serta uji beda pada p = 0,5 dengan software IBM SPSS versi 25. Hasil penimbangan berat lobster diperoleh 98,7-372,1 g dan W rataan 271 g. Panjang total didapat 17-23,6 cm dan TL rataan 20,31 cm. Panjang karapas diperoleh 5,5-10,5 cm dan CL rataan 8,37 cm. Panjang perut didapat 8-9,2 cm dan AL rataan 8,58 cm. Fekunditas diperoleh 44.159,80 – 212.282,4 butir dan F rataan 105.381,31 butir. Hubungan antara ukuran tubuh dan berat lobster dengan fekunditas diperoleh hubungan yang kuat kecuali panjang total dengan berat diperoleh hubungan sedang. Perbedaan berat, panjang karapas, panjang total, panjang perut didapatkan tidak berbeda (sig > 0,05). Perbedaan yang nyata diperoleh antara panjang karapas dengan fekunditas, yaitu semakin panjang karapas maka fekunditas semakin tinggi. Penting untuk menentukan kisaran panjang karapas potensial sebagai induk untuk memproduksi benih bening lobster (bbl).The schalloped lobster Panulirus homarus (Linnaeus, 1758) is an important fishery commodity with high economic value and is even a key export product of Indonesia, as well as playing an ecological role. As such, lobsters are a primary target for fishermen due to their high market value, and biologically, lobsters face disturbances in their regeneration. This study aims to analyze body size, egg production, and the relationship and differences between the two in barried schaloped lobsters P. homarus (Linnaeus, 1758) inhabit in Kebumen waters. The study was conducted from January to December 2024. Measurements were taken using a caliper for body length, including total length (TL), carapace length (CL), and abdominal length (AL), and an analytical scale to weigh the lobsters' weight (W) with an accuracy of 0.01 g. Fecundity analysis was conducted using the gravimetric method, which involves counting the number of eggs in a 1-g subsample and multiplying it by the total egg weight. Data were analyzed using Pearson correlation and simple linear regression tests, as well as difference tests at p = 0.5 using IBM SPSS version 25 software. The results of lobster weight measurements were obtained 98.7 to 372.1 g, with an average weight was 271 g. Total length were found between 17 to 23.6 cm, with an average TL was 20.31 cm. Carapace length were found between 5.5 to 10.5 cm, with an average CL was 8.37 cm. Abdominal length were obtained between 8 to 9.2 cm, with an average AL was 8.58 cm. Fecundity were found between 44,159.80 to 212,282.4 eggs, with an average fecundity was 105,381.31 eggs. A strong correlation was found between body size and lobster weight to fecundity, except for total length and weight, which showed a moderate correlation. Differences in weight, carapace length, total length, and abdominal length were not found significant difference (sig > 0.05). A significant difference was found between carapace length and fecundity, with longer carapaces resulting in higher fecundity. It is important to determine the potential range of carapace length for use as broodstock for producing clear lobster larvae (bbl).
4640849760J1E020028PARENTAL INFLUENCE ON STUDENTS’ ENGLISH FLUENCY OF ENGLISH EDUCATION STUDENT STUDY PROGRAM 2020’ BATCH AT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran orang tua terhadap kefasihan berbahasa Inggris mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, dengan mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi hasil pembelajaran bahasa melalui keterlibatan orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2020 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Jenderal Soedirman. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Bedasarkan kriteria, 4 mahasiswa dipilih sebagai partisipan wawancara. Selain itu, peneliti mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap perkembangan kefasihan berbahasa Inggris berdasarkan Batool & Raiz (2020), yaitu dukungan akademik, ketertarikan orang tua, dan dukungan emosional. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa memandang pengaruh orang tua sebagai faktor penting dalam kefasihan berbahasa Inggris mereka, terutama melalui pemantauan akademik, penyediaan sumber belajar, investasi finansial, dan dukungan emosional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterlibatan orang tua memainkan peran yang penting dan beragam dalam membentuk kefasihan berbahasa Inggris siswa.This research aims to explore the role of the parent on English fluency among students of English education study program, by uncovering the factors through which parental involvement affects language learning outcomes. This research used a qualitative method with narrative inquiry. The participants who took part in this study were from 2020 batch of English Education Student at Jenderal Soedirman University. Data were collected through interviews, and analysed using thematic analysis. Based on the criteria, 4 students were selected to be interviewees. Additionally, the researcher identified key factors parent contribute to the development of English fluency referring to Batool & Raiz (2020). These factors include academic support, parental interest and emotional support. The findings reveal that students perceive parental influence as a significant factor in their English fluency, particularly through academic monitoring, the provision of learning resources, financial investment and emotional support. This study concludes that parental involvement plays an important and multifaceted role in shaping student’s English fluency.
4640949591K1C021026ANALISIS ERROR PEMBACAAN INTERNAL
MEASUREMENT UNIT (IMU) MENGGUNAKAN WAVELET
TRANSFORM PADA BERBAGAI VARIASI LEVEL CAIRAN
PADA TANGKI DRONE
Sloshing pada tangki drone sprayer dapat menyebabkan error pembacaan sensor Internal Measurement Unit (IMU) yang berdampak terhadap kestabilan drone sprayer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi level cairan dalam tangki terhadap error pembacaan IMU akibat efek sloshing, dan menganalisis pengaruh metode Wavelet Transform dalam mengurangi noise pada data sensor IMU guna meningkatkan akurasi pembacaan. Metode denoising dilakukan menggunakan Discrete Wavelet Transform (DWT) dengan basis wavelet Daubechies 4 (db4) dan level dekomposisi 3. Dalam proses ini, komponen detail pertama (D1) dihilangkan, detail kedua (D2) dikenakan soft thresholding, sementara aproksimasi ketiga (A3) dan detail ketiga (D3) dipertahankan. Data diperoleh dari pembacaan sensor IMU pada drone dengan variasi level cairan 1 hingga 5 liter, masing-masing dilakukan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa error tertinggi terjadi pada level 1 liter dan 2 liter, dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) yang lebih besar akibat efek sloshing dari ruang kosong dalam tangki. Setelah dilakukan denoising, terjadi penurunan RMSE yang signifikan; sumbu y-acceleration pada level 1 liter menunjukkan penurunan tertinggi sebesar 65,90%, sedangkan penurunan terkecil sebesar 0,19% terjadi pada sumbu x-vibration di level 5 liter. Hasil ini menunjukkan bahwa metode DWT tidak hanya memperbaiki bentuk sinyal secara visual, tetapi juga meningkatkan akurasi pembacaan sensor, sehingga mendukung kestabilan sistem kendali drone dalam kondisi dinamis.Sloshing in the drone sprayer tank can cause errors in the Internal Measurement Unit (IMU) sensor readings, which affect the stability of the drone sprayer. This study aims to analyze the effect of liquid level variations in the tank on IMU reading errors due to sloshing, and to analyze the effect of the Wavelet Transform method in reducing noise in IMU sensor data to improve reading accuracy. The denoising method was performed using the Discrete Wavelet Transform (DWT) with the Daubechies 4 (db4) wavelet basis and a decomposition level of 3. In this process, the first detail component (D1) was removed, the second detail (D2) was subjected to soft thresholding, while the third approximation (A3) and the third detail (D3) were retained. Data were obtained from IMU sensor readings on a drone with liquid levels varying from 1 to 5 liter, each performed three times. The results showed that the highest error occurred at levels 1 liter and 2 liter, with a larger Root Mean Square Error (RMSE) value due to the sloshing effect from the empty space in the tank. After denoising, there was a significant decrease in RMSE; the y-acceleration axis at level 1 liter showed the highest decrease of 65.90%, while the smallest decrease of 0.19% occurred on the x-vibration axis at level 5 liter. These results indicate that the DWT method not only improves the visual form of the signal but also enhances sensor reading accuracy, thereby supporting the stability of the drone control system under dynamic conditions.
4641049796K1C021050Sistem Pemantauan dan Perekaman Suhu Kelembapan (SIPEKA) RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Menggunakan DHT22 Berbasis IoTStabilitas suhu dan kelembapan di ruang radiologi merupakan faktor penting yang secara langsung memengaruhi performa operasional alat CT-Scan. Perubahan kondisi lingkungan di luar batas toleransi operasional dapat memicu mekanisme lock system secara otomatis sebagai bentuk proteksi terhadap potensi kegagalan fungsi. Aktivasi sistem pengaman ini berdampak langsung pada terhentinya proses pencitraan, sehingga mengganggu kontinuitas diagnosa dan dapat menurunkan efisiensi layanan medis. Untuk mengatasi hal tersebut, dirancang sistem pemantauan dan perekaman suhu kelembapan (SIPEKA) berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu melakukan pemantauan secara real-time dan terintegrasi. Sistem terdiri atas dua node sensor DHT22 yang masing-masing dikendalikan oleh mikrokontroler ESP32, serta satu unit penerima yang mengelola data dari kedua node melalui komunikasi ESP-NOW. Data ditampilkan secara lokal melalui LCD I2C 20x4 dan dikirim ke Google Sheets secara otomatis menggunakan Google Apps Script. Selanjutnya, data divisualisasikan dalam dashboard web interaktif yang menampilkan pembacaan terkini, grafik tren, dan riwayat pengukuran. Pengujian sistem dilakukan selama 24 jam untuk mensimulasikan kondisi ruang radiologi. Berdasarkan data hasil perhitungan, akurasi pengukuran suhu pada node 1 mencapai 98,4% dan kelembapan 95,1%, sementara pada node 2 diperoleh akurasi sebesar 98,6% untuk suhu dan 95,1% untuk kelembapan. Sistem ini terbukti andal untuk mendukung upaya preventif dalam menjaga kestabilan lingkungan ruang CT-Scan, serta memberikan kemudahan pemantauan bagi operator secara lokal maupun daring.Temperature and humidity stability in the radiology room are important factors that directly affect the operational performance of CT-Scan equipment. Changes in environmental conditions beyond operational tolerance limits can trigger the lock system mechanism automatically as a form of protection against potential malfunctions. The activation of this safety system directly halts the imaging process, disrupting diagnostic continuity and potentially reducing medical service efficiency. To address this, an Internet of Things (IoT)-based temperature and humidity monitoring and recording system (SIPEKA) has been designed to enable real-time, integrated monitoring. The system consists of two DHT22 sensor nodes, each controlled by an ESP32 microcontroller, and one receiver unit that manages data from both nodes via ESP-NOW communication. Data is displayed locally via a 20x4 I2C LCD and automatically sent to Google Sheets using Google Apps Script. Furthermore, the data is visualized in an interactive web dashboard that displays current readings, trend graphs, and measurement history. The system was tested for 24 hours to simulate radiology room conditions. Based on the calculated data, the accuracy of temperature measurements at Node 1 reached 98.4% and humidity 95.1%, while at Node 2, the accuracy was 98.6% for temperature and 95.1% for humidity. This system has proven reliable in supporting preventive efforts to maintain the stability of the CT-Scan room environment, as well as providing ease of monitoring for operators both locally and remotely.
4641149797D1A021165Tingkat Kekerasan dan Profil Warna Dadih Susu Sapi dengan Lama Fermentasi BerbedaJudul. Penelitian ini berjudul tingkat kekerasan dan profil warna dadih susu sapi dengan lama fermentasi berbeda. Latar Belakang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap tingkat kekerasan dan profil warna dadih telah dilaksanakan pada 10 – 21 Februari 2025. Materi dan Metode. Materi utama yang digunakan adalah susu sapi dengan penambahan starter yogourmet dan susu skim. Perlakuan yang diberikan yaitu dadih dibuat dengan lama fermentasi 10 jam (P1); 20 jam (P2); 30 jam (P3); dan 40 jam (P4). Analisis data yang digunakan adalah analisis variansi (ANAVA). Metode rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan setiap perlakuan diulang 5 kali sehingga terdapat 20 unit percobaan. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berbeda dadih pada susu sapi berpengaruh tidak nyata terhadap tingkat kekerasan, kecerahan dan whiteness index (P>0,05). Namun demikian, lama fermentasi berbeda pada dadih susu sapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kemerahan dengan rataan hasil analisis variansi sebesar 2,603±0,206 – 3,292±0,361. Lama fermentasi berbeda pada dadih susu sapi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kekuningan dadih susu sapi dengan rataan hasil analisis variansi sebesar 6,787±0,200 – 7,877±1,109. Simpulan. Semakin lama fermentasi akan meningkatkan warna kemerahan dan kekuningan dadih susu sapi secara linear.
Title. This study is entitled the level of hardness and color profile of cow's milk curd with different fermentation times. Background. This study aims to determine the effect of fermentation time on the level of hardness and color profile of curd which was carried out on February 10-21, 2025. Materials and Methods. The main material used is cow's milk with the addition of yogurt starter and skim milk. The treatments given are curd made with a fermentation time of 10 hours (P1); 20 hours (P2); 30 hours (P3); and 40 hours (P4). Data analysis used is analysis of variance (ANOVA). The research design method used is a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and each treatment is repeated 5 times so that there are 20 experimental units. Results. The results showed that different fermentation times of curd in cow's milk had no significant effect on the level of hardness, brightness and whiteness index (P>0.05). However, different fermentation times in cow's milk curd had a significant effect (P<0.05) on redness with an average variance analysis result of 2.603±0.206 – 3.292±0.361. Different fermentation times in cow's milk curd had a very significant effect (P<0.01) on the yellowness of cow's milk curd with an average variance analysis result of 6.787±0.200 – 7.877±1.109. Conclusion. The longer the fermentation, the more the reddish and yellowish color of cow's milk curd will increase linearly.
4641249798D1A021116Total Padatan dan Persentase Produk Dadih Susu Sapi dengan Lama Fermentasi yang BerbedaJudul. Penelitian ini berjudul total padatan dan persentase produk dadih susu sapi dengan lama fermentasi berbeda. Latar Belakang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap total padatan dan persentase produk dadih telah dilaksanakan pada 10 – 21 Februari 2025. Materi dan Metode. Materi utama yang digunakan adalah susu sapi dengan penambahan starter yogourmet dan susu skim. Perlakuan yang diberikan yaitu dadih dibuat dengan lama fermentasi 10 jam (P1); 20 jam (P2); 30 jam (P3); dan 40 jam (P4). Analisis data yang digunakan adalah analisis variansi (ANAVA). Metode rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan setiap perlakuan diulang 5 kali sehingga terdapat 20 unit percobaan. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berbeda dadih pada susu sapi berpengaruh tidak nyata terhadap total padatan (P>0,05). Namun demikian, lama fermentasi berbeda pada dadih susu sapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase produk dengan rataan hasil analisis variansi sebesar 77,06±4,55 – 87,49±2,24. Simpulan. Semakin lama fermentasi menurunkan persentase dadih susu sapi secara linear.Title. This study is entitled the total solids and product yield of cow's milk curd with different fermentation times. Background. This study aims to determine the effect of fermentation time on the total solids and product yield of dadih which was carried out on February 10-21, 2025. Materials and Methods. The main material used is cow's milk with the addition of yogurt starter and skim milk. The treatments given are curd made with a fermentation time of 10 hours (P1); 20 hours (P2); 30 hours (P3); and 40 hours (P4). Data analysis used is analysis of variance (ANOVA). The research design method used is a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and each treatment is repeated 5 times so that there are 20 experimental units. Results. The results showed that different fermentation times of dadih in cow's milk had no significant effect on the total solids (P >0.05). However, different fermentation times in cow's milk curd had a significant effect (P<0.05) on product yield with an average variance analysis result of 77,06±4,55 – 87,49±2,24. Conclusion. The longer the fermentation decreased the product yield of cow's milk curd will increase linearly.
4641349799A1D021062TANGGAP VARIETAS PADI INPAGO UNSOED PROTANI TERHADAP VARIASI JAJAR LEGOWO DALAM SISTEM MINAPADI SALIBUProduksi padi perlu ditingkatkan sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang salah satunya dapat dilakukan dengan penggunaan varietas unggul dan teknik budidaya seperti jajar legowo, minapadi, dan sistem salibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggap varietas Protani terhadap variasi jajar legowo pada sistem minapadi salibu. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Panembangan, Cilongok, Banyumas yang berlangsung dari Agustus-November 2024. Perlakuan yang diuji adalah jajar legowo yang terdiri dari jarwo 2:1, 3:1, 4:1, dan 5:1. Penelitian dilaksanakan secara eksperimen menggunakan rancangan acak kelompok petak tersarang dengan 4 perlakuan dan diulang 6 kali (24 petak). Masing-masing petak percobaan memiliki luas 6 x 4 m. data penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam pada taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Protani memberikan tanggap pertumbuhan yang berbeda pada variasi jajar legowo, berdasarkan pada tinggi tanaman, jumlah anakan total, dan jumlah anakan produktif dimana perlakuan terbaik pada jarwo 2:1. Hasil varietas Protani tidak berbeda antar variasi jajar legowo. Laju pertumbuhan tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada jarwo 2:1, sedangkan laju pertumbuhan anakan dan laju pertumbuhan tinggi tunas diperoleh pada jarwo 3:1. Sementara itu, pertumbuhan salibu terbaik dihasilkan oleh jarwo 3:1.Rice production needs to be increased in line with increasing population growth, which can be achieved through the use of superior varieties and cultivation techniques such as jajar legowo, minapadi, and the Salibu system. This study aims to determine the responsiveness of the Protani variety to variations in jajar legowo in the minapadi Salibu system. The study was conducted inPanembangan Village, Cilongok, Banyumas which will take place from August-November 2024.The treatments tested were jajar legowo consisting of jarwo 2:1, 3:1, 4:1, and 5:1. The research was conducted experimentally using a randomized block design.nested plots with 4 treatments and repeated 6 times(24 plots). Each experimental plot has an area of 6 x 4 m. The research data were analyzed using analysis of variance at the 5% level. If there is a significant difference, it is continued with the DMRT test at the 5% level. The results of the study showed that the Protani variety provided different growth responses to the jajar legowo variation, based on plant height, total number of tillers, and number of productive tillers where the best treatment was jarwo 2:1. The results of the Protani variety did not differ between jajar legowo variations. The highest plant height growth rate was obtained at jarwo 2:1, while the tiller growth rate and shoot height growth rate were obtained at jarwo 3:1. Meanwhile, the best cross growth was produced by jarwo 3:1.
4641449800H1B021051ANALISIS RESPON BANGUNAN TERHADAP GEMPA PADA GEDUNG STRUKTUR BAJA DENGAN KETIDAKBERATURAN VERTIKAL DENGAN METODE TIME HISTORY LINIERIndonesia merupakan wilayah dengan tingkat aktivitas seismik yang tinggi akibat pertemuan tiga lempeng tektonik utama, sehingga perancangan bangunan tahan gempa menjadi hal yang sangat krusial. Salah satu tantangan dalam perencanaan struktur bangunan bertingkat adalah keberadaan ketidakberaturan vertikal, seperti kolom yang tidak menerus, yang dapat mempengaruhi perilaku dinamis bangunan saat terjadi gempa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon seismik bangunan struktur baja dengan ketidakberaturan vertikal menggunakan metode time history linier. Pemodelan dilakukan pada bangunan 10 lantai dengan satu model reguler dan tiga model ireguler dengan variasi letak kolom tidak menerus. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak ETABS dengan tiga data rekaman gempa dari jenis megathrust, benioff, dan shallow crustal. Parameter yang dianalisis meliputi gaya geser dasar (base shear), simpangan antar lantai (interstory drift), dan gaya dalam elemen struktur (momen dan gaya aksial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan gaya geser dasar, simpangan antar tingkat, dan gaya dalam. Model dengan letak kolom gantung di lantai 4 (model 2) memiliki nilai simpangan, gaya geser dasar, dan gaya dalam terbesar. Hal ini mengindikasikan bahwa bangunan dengan ketidakberaturan vertikal memiliki respon seismik yang lebih kompleks dan menuntut perhatian lebih dalam perancangannya agar memenuhi kriteria keamanan terhadap beban gempa.Indonesia is a region with high seismic activity due to the convergence of three major tectonic plates, making earthquake-resistant building design a crucial aspect of construction. One of the challenges in designing multi-story building structures is the presence of vertical irregularities, such as discontinuous columns, which can affect the dynamic behavior of a building during an earthquake. This study aims to analyze the seismic response of a steel structure building with vertical irregularities using the linear time history method. The modeling was carried out on a 10-story building consisting of one regular model and three irregular models with variations in the location of discontinuous columns. Simulations were conducted using ETABS software with three earthquake records representing megathrust, Benioff, and shallow crustal types. The analyzed parameters include base shear, interstory drift, and internal forces in structural elements (moment and axial force). The results indicate an increase in base shear, interstory drift, and internal forces. The model with discontinuous columns located on the 4th floor (Model 2) exhibited the highest values of drift, base shear, and internal forces. This suggests that buildings with vertical irregularities have more complex seismic responses and require greater attention in their design to ensure compliance with safety criteria against earthquake loads.
4641549965L1B021044DIFERENSIASI LEUKOSIT PADA IKAN NILEM (Osteochilus sp.) YANG DIBERI PAKAN DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG DAUN UBI JALAR TERFERMENTASIPakan adalah hal penting dalam budidaya ikan. Substitusi pakan dengan bahan alternatif seperti daun ubi jalar terfermentasi berpotensi menurunkan biaya produksi serta meningkatkan kesehatan ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pakan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi terhadap diferensiasi leukosit ikan nilem (Osteochilus sp.). Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang meliputi 4 perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan yang diberikan yaitu substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi dengan proporsi berbeda: 0% (P1), 25% (P2), 50% (P3), dan 75% (P4). Pemeliharaan ikan nilem dilakukan selama 50 hari. Data yang diamati yaitu diferensiasi leukosit dari preparat apusan darah ikan nilem dan dianalisis dengan ANOVA. Hasil pengamatan persentase limfosit berkisar antara 67±14% hingga 76±8%; monosit berkisar antara 7±3% hingga 13±5% dan polimorfonuklear berkisar antara 16±7% hingga 22±5%. Hasil analisis menunjukan bahwa pemberian pakan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap diferensiasi leukosit ikan nilem. Hasil pengukuran kualitas air antara lain pH berkisar antara 6,4-7,6; amonia berkisar 0-0,25 mg/L; nitrit berkisar antara 0-0,25 mg/L; dan nitrat 5-40 mg/L.Feed is crucial factor in fish farming. Substitution of conventional feed with alternative ingredients such as fermented sweet potato leaf meal has the potential to reduce production costs and enhance fish health. This study aimed to determine effect of substituting fermented sweet potato leaf meal on leukocyte differentiation in Nilem fish (Osteochilus sp.). Research was conducted using an experimental method with a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and four replications. Treatments involved different substitution levels of fermented sweet potato leaf meal: 0% (P1), 25% (P2), 50% (P3), and 75% (P4). Nilem fish were reared for 50 days. The observed parameter was leukocyte differentiation, which was analyzed from blood smear preparations and statistically evaluated using ANOVA. The results showed lymphocyte percentages ranging from 67±14% to 76±8%, monocytes from 7±3% to 13±5%, and polymorphonuclear cells from 16±7% to 22±5%. Statistical analysis indicated that the substitution of fermented sweet potato leaf meal in the feed had no significant effect (P>0.05) on leukocyte differentiation in Nilem fish. Water quality measurements during the study showed pH ranged from 6.4 to 7.6, ammonia from 0 to 0.25 mg/L, nitrite from 0 to 0.25 mg/L, and nitrate from 5 to 40 mg/L.
4641649803J1E020003THE INFLUENCE OF SOCIOCULTURAL FACTORS ON ENGLISH SPEAKING ANXIETY: FROM STUDENTS’ PERSPECTIVE
(A Descriptive Qualitative Study on The Exchange Students
of Ibaraki University Batch 2023)
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh faktor sosiokultural terhadap kecemasan berbicara bahasa Inggris dari sudut pandang mantan mahasiswa pertukaran pelajar di Universitas Ibaraki angkatan 2023 yang juga bukan penutur asli bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara. Dalam menganalisis data, peneliti mendeskripsikan teori sosiokultural berdasarkan teori Vygotsky (1978): “Sosiokultural” mengacu pada berbagai elemen sosioekonomi dan budaya yang mempengaruhi sikap, perasaan, dan tindakan kita, yang pada akhirnya mempengaruhi kesehatan kita. Data disajikan dalam bentuk grafik dan tabel. Selain itu, peneliti mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan berbicara bahasa Inggris yang mengacu pada teori Gelman (2020) dan Young (1992). Faktor-faktor ini termasuk seperangkat norma perilaku yang dimiliki setiap budaya yang terkait dengan kepercayaan, pengetahuan, dan tradisinya. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa beberapa mantan mahasiswa pertukaran pelajar di Universitas Ibaraki yang juga merupakan penutur asli bahasa Inggris, memiliki rasa kurang percaya diri dalam berbicara bahasa Inggris dan setuju bahwa mereka mungkin memiliki kecemasan berbicara bahasa Inggris. Lima dari mereka telah memenuhi kriteria untuk berpartisipasi dalam wawancara mendalam dan berbagi wawasan tentang faktor-faktor sosiokultural yang mempengaruhi kecemasan berbicara bahasa Inggris berdasarkan latar belakang sosiokultural mereka dan strategi untuk mengelolanya. Lebih lanjut, penelitian ini menyoroti beberapa faktor signifikan yang mempengaruhi kecemasan berbicara bahasa Inggris siswa, termasuk faktor pendidikan, faktor sosiokultural, dan faktor linguistik.This study aims to explore the influence of sociocultural factors on English speaking anxiety from the perspectives of former exchange students in Ibaraki University batch 2023 who are also non English native speakers. It employs a qualitative method with descriptive analysis. Data were collected through questionnaires and interviews. In analyzing the data, the researcher describe the socioculture theory based on Vygotsky’s theory (1978): "Sociocultural" refers to the different socioeconomic and cultural elements that influence our attitudes, feelings, and actions, which ultimately affect our health. The data were presented in charts and tables. Additionally, the researcher identified the factors influencing English speaking anxiety referring to the theories of Gelman (2020) and Young (1992). These factors include a set of behavioral norms that every culture have which are connected to its beliefs, knowledge, and traditions. The findings revealed that some of former exchange students of Ibaraki University who are also non native English speakers, has lack of confidence in speaking English and agreed that they might have English speaking anxiety. Five of them has met the criteria to participated in in-depth interview and shared insights of the sociocultural factors that influenced their English speaking anxiety based on their sociocultural background and the strategies to managed it. Furthermore, the study highlighted several significant factors that influence students’ English speaking anxiety, including educational factors, sociocultural factors, and linguistic factors.
4641750009K1C021083ANALISIS DATA GEOLISTRIK UNTUK MENGIDENTIFIKASI KEBERADAAN AKUIFER MENGGUNAKAN METODE RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI DESA PLANA KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur geologi bawah permukaan dan keberadaan akuifer berdasarkan data geolistrik resistivitas di daerah perkebunan semangka Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan adalah metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Schlumberger pada tiga titik sounding, dengan panjang bentangan 200 meter, dan posisi geografis di antara 7°29’14”S dan 109°21’36”E - 7°29’15”S dan 109°21’37”E - 7°29’13”S dan 109°21’33”E . Data lapangan diolah menggunakan perangkat lunak Progress 3.0 melalui tahapan forward modeling dan inversi guna memperoleh model litologi bawah permukaan dan distribusi resistivitas batuan. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa litologi penyusun bawah permukaan terdiri atas lempung, lanau, pasir, kerikil, batupasir, dan alluvium. Keberadaan akuifer ditemukan pada lapisan ketiga titik sounding 1 (kedalaman 9,67–32,12 m; resistivitas 435,65 Ωm), lapisan kedua titik sounding 2 (kedalaman 7,67–68,65 m; resistivitares 236,53 Ωm), dan lapisan keempat titik sounding 3 (kedalaman >57,37 m; resistivitas 188,26 Ωm). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa wilayah Desa Plana memiliki potensi keberadaan akuifer yang cukup baik pada lapisan berlitologi kasar di kedalaman menengah hingga dalam.This study was conducted to determine the subsurface geological structure and the existence of aquifers based on resistivity geophysical data in the watermelon plantation area of Plana Village, Somagede District, Banyumas Regency. The method used was the Schlumberger configuration resistivity geophysical method at three sounding points, with a line length of 200 meters, and geographical coordinates between 7°29’14”S and 109°21’36”E - 7°29’15”S and 109°21’37”E - 7°29’13”S and 109°21’33”E. Field data were processed using Progress 3.0 software through forward modeling and inversion stages to obtain a subsurface lithology model and rock resistivity distribution. The interpretation results show that the subsurface lithology consists of clay, silt, sand, gravel, sandstone, and alluvium. Aquifers were found in the third layer of sounding point 1 (depth 9.67–32.12 m; resistivity 435.65 Ωm), the second layer of sounding point 2 (depth 7.67–68.65 m; resistivity 236.53 Ωm), and the fourth layer of sounding point 3 (depth >57.37 m; resistivity 188.26 Ωm). Based on these results, it can be concluded that the Plana Village area has good potential for aquifers in coarse lithology layers at medium to deep depths.
4641850010K1C021048PEMODELAN STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAERAH POTENSI PANAS BUMI GUNUNG CIREMAI JAWA BARAT BERDASARKAN DATA ANOMALI GRAVITASI GGMPLUSData gravitasi hasil citra satelit GGMPlus dimanfaatkan untuk memetakan anomali gravitasi di permukaan bumi, dan dalam penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi potensi panas bumi di kawasan Gunungapi Ciremai, Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat model tiga dimensi yang menjadi acuan dalam menginterpretasikan struktur batuan bawah permukaan di wilayah penelitian. Proses pengolahan data dimulai dengan koreksi bouguer, koreksi terrain, reduksi ke bidang datar, serta pemisahan anomali regional dan residual melalui metode upward continuation. Pemodelan inversi dilakukan menggunakan perangkat lunak Grablox 1.7 untuk menghasilkan model bawah permukaan berdasarkan data anomali residual. Hasil model kemudian dianalisis dan divisualisasikan menggunakan perangkat lunak Bloxer 1.6e dan Voxler 4. Hasil analisis menunjukkan adanya variasi densitas batuan yang signifikan di wilayah Gunungapi Ciremai, dengan batuan magma (1,50 – 2,03 g/cm³), batupasir dan breksi vulkanik serta lapili (2,03 – 2,55 g/cm³), andesit basaltik, lava andesit serta basalt (2,55 – 3,07 g/cm³), dan diorit, gabro, eklogit (3,07 – 3,60 g/cm³). Perbedaan densitas ini mengindikasikan potensi panas bumi yang signifikan, diperkirakan pada kedalaman 1.000 hingga 3.000 meter di bawah permukaan.Gravity data from GGMPlus satellite imagery is used to map gravity anomalies on the earth's surface, and in this study it is used to identify geothermal potential in the Ciremai Volcano area, West Java. The purpose of this study is to create a three-dimensional model that serves as a reference in interpreting subsurface rock structures in the study area. The data processing process begins with bouguer correction, terrain correction, reduction to a flat plane, and separation of regional and residual anomalies through the upward continuation method. Inversion modeling is carried out using Grablox 1.7 software to produce a subsurface model based on residual anomaly data. The model results were then analyzed and visualized using Bloxer 1.6e and Voxler 4 software. The analysis results showed significant variations in rock density in the Ciremai Volcano area, with magma rocks (1.50 - 2.03 g / cm³), sandstone and volcanic breccia and lapilli (2.03 - 2.55 g / cm³), basaltic andesite, andesite lava and basalt (2.55 - 3.07 g / cm³), and diorite, gabbro, eclogite (3.07 - 3.60 g / cm³). These density differences indicate significant geothermal potential, estimated at a depth of 1,000 to 3,000 meters below the surface.
4641950014A1F021019ANALISIS TINGKAT KEPENTINGAN DAN KEPUASAN KONSUMEN
TERHADAP WARUNG BANCAKAN SEAFOOD MAJENANG
Warung Bancakan Seafood merupakan salah satu usaha kuliner yang menyajikan berbagai olahan seafood dengan konsep makan ‘bancakan’ atau makanan digelar langsung diatas meja tanpa menggunakan piring. Namun, di tengah meningkatnya popularitas kuliner seafood dan bertambahnya jumlah pesaing, Warung Bancakan Seafood justru mengalami penurunan jumlah pelanggan dan belum melakukan inovasi maupun perbaikan terhadap produk dan layanannya. Situasi ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap persepsi konsumen, terutama terkait aspek yang dianggap penting dan tingkat kepuasan yang dirasakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis indeks kepuasan konsumen terhadap produk, mengidentifikasi atribut-atribut yang perlu diperbaiki, menganalisis akar masalah serta merumuskan strategi perbaikan produk.
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Majenang, Cilacap pada bulan Januari hingga Februari 2025. Data primer diperoleh dari penyebaran kuesioner menggunakan metode purposive sampling melalui kuesioner kepada 100 orang responden yang memenuhi kriteria berusia minimal 17 tahun dan pernah mengonsumsi produk dua kali selama tiga bulan terakhir. Terdapat beberapa tahap pada penelitian ini, yaitu penyusunan kuesioner, pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner, penyebaran kuesioner, identifikasi profil konsumen, penentuan indeks kepuasan konsumen, analisis tingkat kepentingan, kepuasan dan kesesuaian konsumen, penentuan atribut unggulan dan atribut perbaikan, serta penentuan strategi perbaikan produk menggunakan diagram fishbone.
Data dianalisis menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) untuk mengukur kepuasan konsumen, Importance Performance Analysis (IPA) untuk menentukan prioritas perbaikan dan Fishbone diagram untuk mengidentifikasi akar masalah. Berdasarkan analisis CSI, diketahui bahwa tingkat kepuasan konsumen berada pada kategori “sangat puas” dengan skor indeks sebesar 83,98. Selanjutnya berdasarkan analisis IPA terdeteksi lima atribut yang masih perlu mendapatkan perhatian, yaitu terkait aroma khas seafood yang menggugah selera, produk yang disajikan tidak berbau amis, informasi yang jelas mengenai menu yang disediakan, keseluruhan desain interior tempat yang menarik seperti saat ini, dan adanya promosi melalui media social (instagram, tiktok, whatsapp). Kemudian dirumuskan strategi perbaikan untuk atribut tersebut dengan mengecek kondisi rempah secara rutin, menerapkan metode FIFO, pembagian memasak menjadi beberapa batch, pemasangan exhaust fan, menerapkan standar operasional prosedur, penggunaan cool box di area memasak, memastikan wajan dibilas sebelum digunakan kembali, penentuan waktu memasak yang tepat, merevisi informasi pada buku menu, merekrut seorang graphic desainer, dan merekrut digital marketing freelancer.
Warung Bancakan Seafood is a culinary business that serves various seafood dishes with a "bancakan" dining concept, where the food is served directly on the table without using plates. However, amid the increasing popularity of seafood cuisine and the increasing number of competitors, Warung Bancakan Seafood has actually experienced a decline in the number of customers and has not made any innovations or improvements to its products and services. This situation indicates the need to evaluate consumer perceptions, especially regarding aspects considered important and the level of perceived satisfaction. The purpose of this study is to analyze the consumer satisfaction index towards the product, identify attributes that need to be improved, analyze the root cause of the problem, and formulate a product improvement strategy.
This research was conducted in Majenang District, Cilacap from January to February 2025. Primary data were obtained from distributing questionnaires using a purposive sampling method through questionnaires to 100 respondents who met the criteria of being at least 17 years old and having consumed the product twice in the last three months. There are several stages in this research, namely the preparation of the questionnaire, testing the validity and reliability of the questionnaire, distributing the questionnaire, identifying consumer profiles, determining the consumer satisfaction index, analyzing the level of importance, satisfaction and suitability of consumers, determining superior attributes and improvement attributes, and determining product improvement strategies using a fishbone diagram.
The data was analyzed using the Customer Satisfaction Index (CSI) to measure customer satisfaction, Importance Performance Analysis (IPA) to determine improvement priorities, and a Fishbone diagram to identify root causes. Based on the CSI analysis, it was found that the level of customer satisfaction was in the “very satisfied” category with an index score of 83.98. Furthermore, based on the IPA analysis, five attributes were detected that still needed attention, namely the distinctive aroma of appetizing seafood, the products served did not smell fishy, clear information about the menu provided, the overall interior design of the place is attractive as it is now, and the existence of promotions through social media (Instagram, TikTok, WhatsApp). Then, an improvement strategy was formulated for these attributes by checking the condition of spices regularly, implementing the FIFO method, dividing cooking into several batches, installing exhaust fans, implementing standard operating procedures, using a cool box in the cooking area, ensuring that the pan is rinsed before being reused, determining the right cooking time, revising the information in the menu book, recruiting a graphic designer, and recruiting a digital marketing freelancer.
4642049804K1A021080Pembuatan dan Karakterisasi Membran Nanofiber Kombinasi PVDF dan Nilon untuk Efektivitas Pengumpulan Air KabutMembran nanofiber berbasis PVDF dan nilon telah dikembangkan untuk aplikasi pengumpulan air dari uap kabut melalui mekanisme transportasi air dua arah. Membran disintesis menggunakan metode elektrospinning dengan PVDF berfungsi sebagai lapisan luar hidrofobik dan nilon berfungsi sebagai lapisan dalam hidrofilik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan mengukur efektivitas membran nanofiber dalam aplikasi pengumpulan air dari uap kabut. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa serat PVDF memiliki diameter lebih besar namun ketebalan membrannya lebih tipis dibandingkan membran nilon. Nanofiber berbasis PVDF bersifat hidrofobik sedangkan nanofiber berbasis nilon bersifat hidrofilik. Porositas membran nanofiber berbasis nilon lebih rendah dibandingkan nanofiber berbasis PVDF. Membran nanofiber PVDF sebagai lapisan luar hidrofobik dan nilon sebagai lapisan dalam hidrofilik menunjukkan efektivitas yang sangat baik untuk pengumpulan air dari uap kabut. Kombinasi material dan kondisi pemrosesan yang tepat menghasilkan struktur dengan ketebalan dan porositas yang mendukung efisiensi tinggi dalam pengumpulan air dari udara berkabut.Nanofiber membranes composed of PVDF and nylon were developed for water collection from fog vapor via a bidirectional water transport mechanism. The membranes were fabricated using the electrospinning technique, with PVDF serving as the outer hydrophobic layer and nylon as the inner hydrophilic layer. This study aims to characterize the membranes and evaluate their effectiveness in fog water collection. The results indicate that PVDF fibers possess a larger diameter yet form thinner membranes compared to nylon. PVDF-based nanofibers exhibited hydrophobic behavior, while nylon-based nanofibers were hydrophilic. Additionally, the porosity of nylon-based nanofiber membranes was lower than that of PVDF-based membranes. Membranes incorporating PVDF as the outer hydrophobic layer and nylon as the inner hydrophilic layer demonstrated excellent performance in fog water collection. The combination of appropriate materials and optimized processing conditions produced a structure with thickness and porosity that enabled high water collection efficiency from foggy air.