Artikelilmiahs

Menampilkan 46.501-46.520 dari 48.726 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4650149885L1A021019Analisis Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) Pada Mangrove Jenis Rhizophora stylosa dan Heritiera littoralis di Segara Anakan Timur, CilacapPencemaran minyak bumi yang mengandung senyawa Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) merupakan ancaman bagi ekosistem mangrove Segara Anakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi TPH pada air, sedimen, serta mangrove jenis Rhizophora stylosa dan Heritiera littoralis di kawasan Segara Anakan Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode random sampling berdasarkan keberadaan mangrove di 3 stasiun. Metode analisis data menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan nilai konsentrasi TPH pada air di Sleko Barat, Pertamina Barat dan Kali Panas sebesar 133,33 mg/kg, 266,67 mg/kg dan 366,67 mg/kg. Kemudian nilai konsentrasi TPH pada Sleko Barat, Pertamina Barat dan Kali Panas sebesar 56333,3 mg/kg, 65666,67 mg/kg dan 79633,3 mg/kg. Nilai akumulasi TPH pada mangrove Rhizophora stylosa sebesar 10.217 mg/kg dan pada Heritiera littoralis sebesar 15.500 mg/kg. Nilai BAF dan TF dari kedua spesies tersebut memiliki nilai ≤1, yang artinya tumbuhan kurang dapat mengakumulasi dan mentranslokasi kontaminan TPH ke dalam organnya.Oil pollution containing Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) compounds poses a threat to the Segara Anakan mangrove ecosystem. This study aims to analyse TPH concentrations in water, sediment, and Rhizophora stylosa and Heritiera littoralis mangroves in the East Segara Anakan area. Samples were collected using random sampling based on the presence of mangroves at three stations. Data analysis was conducted using quantitative descriptive methods. The results showed TPH concentrations in water at Sleko Barat, Pertamina Barat, and Kali Panas to be 133.33 mg/kg, 266.67 mg/kg, and 366.67 mg/kg, respectively. The TPH concentration values in Sleko Barat, Pertamina Barat, and Kali Panas were 56,333.3 mg/kg, 65,666.67 mg/kg, and 79,633.3 mg/kg, respectively. The TPH accumulation values in Rhizophora stylosa mangroves were 10,217 mg/kg and in Heritiera littoralis mangroves were 15,500 mg/kg. The BAF and TF values for both species were ≤1, indicating that the plants are less able to accumulate and translocate TPH contaminants into their organs.
4650249886L1A021028Analisis Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) Pada Mangrove Jenis Avicennia marina Dan Excoecaria agallocha Di Segara Anakan, CilacapSegara Anakan, Cilacap merupakan kawasan yang didominasi oleh ekosistem mangrove dan berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan, termasuk sebagai agen fitoremediasi terhadap polutan Total Petroleum Hydrocarbon (TPH). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi TPH pada air, sedimen, dan spesies mangrove Avicennia marina dan Excoecaria agallocha serta potensi BAF dan TF mangrove terhadap TPH. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif dan penentuan lokasi pengambilan sampel menggunakan metode random sampling pada tiga stasiun. Hasil penelitian menunjukkan nilai TPH tertinggi pada air terdapat di sekitar Industri Minyak (266,67 mg/L) dan nilai terendah terdapat di Plawangan Timur dan Sleko Barat (133,33 mg/L). Kemudian, hasil konsentrasi TPH tertinggi pada sedimen terdapat di sekitar Industri Minyak (65.666,7 mg/kg) dan nilai terendah terdapat di Plawangan Timur (45.666,7 mg/kg). Konsentrasi TPH pada spesies Avicennia marina memiliki nilai rata-rata tertinggi (13.666,7±2.668,8 mg/kg), dibandingkan dengan spesies Excoecaria agallocha (8.466,7±1.565,7 mg/kg). Konsentrasi TPH pada air dan sedimen di semua stasiun telah melewati baku mutu menurut PP No. 22 tahun 2021 untuk air dan menurut ANZECC dan ARMCANZ 2000 untuk sedimen. Nilai BAF dan TF dari kedua spesies tersebut memiliki nilai ≤ 1 yang artinya tumbuhan kurang memiliki kemampuan dalam mengakumulasi dan mentranslokasi kontaminan TPH dalam organnya.The Segara Anakan, Cilacap is an area dominated by mangrove ecosystems and plays a role in maintaining environmental balance, including as a phytoremediation agent against Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) pollutants. This study aims to analyze the concentration of TPH in water, sediment, and mangrove species Avicennia marina and Excoecaria agallocha as well as the potential of BAF and TF mangroves against TPH. The method used in this study is quantitative descriptive and the determination of sampling locations using a random sampling method at three stations. The results showed that the highest TPH value in water was found around the Oil Industry (266.67 mg/L) and the lowest value was found in East Plawangan and West Sleko (133.33 mg/L). Then, the results of the highest TPH concentration in sediment were found around the Oil Industry (65,666.7 mg/kg) and the lowest value was found in East Plawangan (45,666.7 mg/kg). The average TPH concentration in Avicennia marina (13,666.7±2,668.8 mg/kg) was highest compared to Excoecaria agallocha (8,466.7±1,565.7 mg/kg). TPH concentrations in water and sediment at all stations exceeded the quality standards set by Government Regulation No. 22 of 2021 for water and by ANZECC and ARMCANZ 2000 for sediment. The BAF and TF values of both species were ≤ 1, indicating that the plants lack the ability to accumulate and translocate TPH contaminants in their organs.
4650349887L1C021072Analisis Kesesuaian Lokasi Transplantasi Karang di Wilayah Perairan Tejakula, Buleleng, BaliFenomena degradasi ekosistem terumbu karang terjadi karena adanya ancaman lokal dan global. Transplantasi karang dilakukan sebagai salah satu upaya dalam memulihkan ekosistem terumbu karang yang rusak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai parameter fisikokimia air dan menganalisis nilai kesesuaian lokasi transplantasi karang di Perairan Tejakula, Buleleng, Bali. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan data secara langsung meliputi parameter kesesuaian lokasi transplantasi karang dan dihitung dengan indeks kesesuaian. Nilai kesehatan karang dianalisis menggunakan Coral Watch dan dianalisis menggunakan software Microsoft Excel. Genus karang diidentifikasi menggunakan Coral Finder dan data disajikan secara deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai parameter fisikokimia air masih berada pada kisaran nilai optimal yang dapat ditoleransi karang. Terdapat 4 stasiun yang dilakukan perhitungan dengan kategori sangat sesuai (S1) dengan nilai CRT = 80% pada stasiun 2, kategori sesuai (S2) dengan nilai CRT = 76,19% dan CRT = 78,10% pada Stasiun 1 dan 3, dan sesuai dikondisi tertentu (S3) dengan nilai CRT = 58,10% pada Stasiun 4. Wilayah Perairan Tejakula sesuai untuk dilakukan transplantasi karang berdasarkan metode yang digunakan dengan menggunakan media yang disesuaikan berdasarkan masing - masing karakter stasiun penelitian. The degradation of coral reef ecosystems occurs due to local and global threats. Coral transplantation is used to restored damaged coral reef ecosystems. The purpose of this study is to analyzed the values of physical and chemical water parameters and analyzed the suitability of coral transplantation sites in the waters of Tejakula, Buleleng, Bali. This study used a survey method with direct data collection covering coral transplantation site suitability parameters and calculated using a suitability index. Coral health values were analyzed using Coral Watch and analyzed using Microsoft Excel sofrware. Coral genera were identified using Coral Finder, and data were presented descriptive comparative. The results showed that the values of physical and chemical water parameters were still within the optimal range tolerable by corals. There were 4 stations where calculations were performed, categorized as highly suitable (S1) with a CRT value of 80% at Station 2, suitable (S2) with CRT values of 76.19% and 78.10% at Stations 1 and 3, and suitable under certain conditions (S3) with a CRT value of 58.10% at Station 4. Tejakula Waters are suitable for coral transplantation based on the method used by using media adapted based on each character of the research station.
4650449888E1A021181Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Mempromosikan Judi Online Melalui Aplikasi Facebook (Analisis Putusan Nomor 124/Pid.Sus/2023/PN Pgp)Judi online merupakan salah satu jenis kejahatan siber yang sedang ramai terjadi
masyarakat akibat kondisi ekonomi yang sedang memburuk. Indonesia memiliki
peraturan tentang judi online yaitu Pasal 27 ayat (2) jo Pasal 45 ayat (2) UndangUndang Informasi dan Transaksi Elektronik yang berfungsi sebagai penegakkan hukum terhadap kejahatan judi online. Putusan Pengadilan Negeri Pangkalpinang provinsi Bangka Belitung nomor 124/Pid.Sus/2023/PN Pgp adalah satu contoh kasusnya. Penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai penerapan unsur-unsur tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa dan memberi kritik terhadap pertimbangan hukum majelis hakim ketika menjatuhkan putusan terhadap terdakwa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dan menggunakan pendekatan perundang-undangan serta pendekatan kasus. Hasil penelitian ini bahwa menyatakan terdakwa terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana mempromosikan judi online yang telah memenuhi unsur Pasal 27 ayat (2) jo Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Majelis hakim telah mempertimbangkan berdasarkan fakta persidangan, alat bukti dan barang bukti, serta keadaan yang memberatkan dan meringankan terdakwa dijatuhi sanksi pidana penjara selama 5 (lima) bulan dan denda sebesar Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah). Terhadap pidana penjara yang dijatuhkan hakim terlalu singkat karena tidak mempertimbangkan Pasal 303 ayat (1) KUHP.
Online gambling is one type of cybercrime that is currently happening in the
community due to worsening economic conditions. Indonesia has regulations
regarding online gambling, namely Article 27 paragraph (2) jo Article 45 paragraph
(2) of the Electronic Information and Transaction Law which serves as law
enforcement against online gambling crimes. The decision of the Pangkalpinang
District Court of Bangka Belitung province number 124/Pid.Sus/2023/PN Pgp is an
example of such a case. This study aims to discuss the application of the elements of the criminal offense committed by the defendant and to criticize the legal
considerations of the panel of judges when sentencing the defendant. The results of this study state that the defendant was legally proven guilty of committing the crime of promoting online gambling which has fulfilled the elements of Article 27 paragraph (2) jo Article 45 paragraph (2) of Law Number 19 of 2016 concerning Electronic Information and Transactions. The panel of judges has considered based on the facts of the trial, evidence and exhibits, as well as aggravating and mitigating circumstances the defendant was sentenced to imprisonment for 5 (five) months and a fine of Rp 10,000,000 (ten million rupiah). The imprisonment imposed by the judge is too short because it does not consider Article 303 paragraph (1) of the Criminal Code.
4650549889K1A021070PENGARUH LAJU ALIR LIMBAH CAIR RUMAH PEMOTONGAN AYAM TERHADAP PENURUNAN NILAI COD, BOD, DAN TSS MENGGUNAKAN METODE ELEKTROKOAGULASILimbah cair dari Rumah Pemotongan Ayam (RPA) merupakan salah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh industri pemotongan ayam dan dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan. Alternatif untuk mengatasi masalah pencemaran limbah cair RPA adalah dengan penerapan metode elektrokoagulasi menggunakan elektroda Fe. Aktivitas penguraian Fe pada anoda membentuk koagulan, yang dapat mendestabilisasi muatan listrik pada koloid limbah, muatan listrik yang dimiliki oleh limbah umumnya adalah muatan listrik negatif dan koagulan memiliki muatan listrik positif sehingga koagulan ini mengikat partikel koloid berdasarkan perbedaan muatan listrik membentuk flok-flok. Penelitian ini melakukan pengolahan limbah cair RPA menggunakan metode elektrokagulasi kontinu dengan elektroda Fe, yang bertujuan untuk mengetahui laju alir yang dapat menurunkan nilai BOD, COD, dan TSS secara maksimum dan persentase penurunan nilai BOD, COD, dan TSS pada laju alir terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan maksimum terjadi pada laju alir 5 mL/menit dengan persentase penurunan nilai BOD, COD, dan TSS limbah cair RPA setelah elektrokoagulasi pada kondisi tersebut berturut-turut adalah 84,83; 87,60; dan 91,17%.Liquid waste from Chicken Slaughterhouses is one type of waste produced by the poultry slaughtering industry and can become a source of environmental pollution. An alternative to address the pollution problem of RPA liquid waste is the application of the electrocoagulation method using Fe electrodes. The decomposition of Fe at the anode is carried out to form coagulants, which are able to destabilize the electrical charges on the colloids in the waste; the electrical charges generally possessed by the waste are negative, while the coagulants carry positive charges, thus allowing the coagulants to bind the colloidal particles through electrical charge differences and form flocs. In this study, the treatment of RPA liquid waste was conducted using a continuous electrocoagulation method with Fe electrodes, aimed at determining the flow rate that could reduce BOD, COD, and TSS values to the greatest extent, as well as the percentage reduction in BOD, COD, and TSS at the optimum flow rate. The results of the study showed that the maximum reductions were achieved at a flow rate of 5 L/min, with the percentage reductions in BOD, COD, and TSS values of RPA liquid waste after electrocoagulation under these conditions being 84.83%, 87.60%, and 91.17%, respectively.
4650649945F1F021035Tantangan Implementasi Kebijakan Pengurangan Tarif dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) terhadap Integrasi Ekonomi Negara Anggota (2022-2024)Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dibentuk sebagai
upaya untuk memperkuat integrasi ekonomi kawasan Asia-Pasifik melalui
liberalisasi perdagangan barang dan jasa, termasuk kebijakan penurunan tarif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan dalam implementasi kebijakan
penurunan tarif di RCEP pada tahap Free Trade Area (FTA) terhadap upaya
pencapaian integrasi ekonomi kawasan. Jenis penelitian yang digunakan dalam
menyusun penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan teori integrasi ekonomi menurut Bela Balassa, prakondisi integrasi
dan tahapan integrasi menurut Dominick Salvatore, serta kerangka problem
malignancy dan problem-solving capacity dari Miles dan Underdal untuk
menganalisis tantangan yang dihadapi. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa
implementasi kebijakan penurunan tarif di RCEP masih menghadapi berbagai
tantangan, antara lain banyaknya jadwal tarif, liberalisasi yang terbatas dan tidak
merata, margin preferensi yang rendah, proteksi sektor tertentu (pertanian,
otomotif, sumber daya alam), kompleksitas rules of origin, rendahnya pemanfaatan
perjanjian, serta asimetri struktural antar anggota. Kondisi ini menunjukkan
perlunya penguatan kapasitas kelembagaan dan harmonisasi kebijakan antar
anggota agar tujuan integrasi ekonomi kawasan dapat tercapai.
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) was formed as an
effort to strengthen economic integration in the Asia-Pacific region through the
liberalization of trade in goods and services, including tariff reduction policies. This
study aims to identify the challenges in implementing tariff reduction policies in
the RCEP at the Free Trade Area (FTA) stage to achieve regional economic
integration. The type of research used in conducting this study is descriptive
qualitative. This research employs Bela Balassa's theory of economic integration,
the preconditions for integration and stages of integration according to Dominick
Salvatore, as well as the problem malignancy and the problem-solving capacity
framework from Miles and Underdal, to analyze the challenges faced. This study
shows that the implementation of tariff reduction policies in the RCEP still faces
various challenges, including numerous tariff schedules, limited and uneven
liberalization, low preference margins, protection of certain sectors (agriculture,
automotive, natural resources), complex rules of origin, low utilization of the
agreement, and structural asymmetries among members. These conditions indicate
the need to strengthen institutional capacity and harmonize policies among
members to achieve the goal of regional economic integration.
4650749815A1H023011Aplikasi Wollastonite dan FABA (Fly Ash Bottom Ash) pada Sifat Kimia Tanah Entisol, Serapan Silika, dan Aspek Fisiologi Tanaman Pakcoy (Brassica Rapa L.)Entisol merupakan jenis tanah muda dengan kandungan bahan organik rendah dan kapasitas menahan hara yang terbatas, sehingga diperlukan upaya pembenahan untuk mendukung produktivitas tanaman. Pemanfaatan bahan amelioran seperti wollastonite (CaSiO₃) dan FABA (Fly Ash Bottom Ash) menjadi alternatif ramah lingkungan karena mengandung silika dan unsur hara yang dapat memperbaiki sifat kimia tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian FABA dan wollastonite terhadap sifat kimia tanah Entisol dan serapan silika pada tanaman pakcoy (Brassica rapa L.). Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan empat taraf dosis masing-masing bahan (0, 2, 4, dan 6 g Si/polybag) dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pH tanah, DHL, C-organik, rasio C/N, kandungan silika-tersedia tanah, serta kandungan silika batang dan aspek fisiologi tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian wollastonite berpengaruh dalam meningkatkan pH KCl tanah, sedangkan FABA meningkatkan daya hantar listrik pada 2 MST. Kedua bahan tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan C-organik,N-Total, rasio C/N, maupun silika-tersedia pada tanah. Serapan silika batang pakcoy dipengaruhi secara nyata oleh interaksi kedua bahan dengan nilai tertinggi diperoleh pada kombinasi FABA 4 g Si/polybag (setara 1,67 ton/ha) dan wollastonite 2 g Si/polybag (setara 0,65 ton/ha) sebesar 10,34 g/tanaman. Sementara itu, jumlah stomata, kerapatan stomata, dan kehijauan daun tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan. Kombinasi dosis tersebut dapat direkomendasikan untuk meningkatkan akumulasi silika pada batang pakcoy tanpa menimbulkan efek negatif pada sifat kimia tanah Entisol.
Entisols are young soils characterized by low organic matter content and limited nutrient retention, which require soil amendments to support crop productivity. The use of ameliorants such as wollastonite (CaSiO₃) and FABA (Fly Ash Bottom Ash) offers an environmentally friendly alternative because both materials contain silica and essential nutrients that can improve soil chemical properties. This study aimed to analyze the effect of FABA and wollastonite applications on the chemical properties of Entisols and the silica uptake in pakcoy (Brassica rapa L.). A factorial randomized block design was applied with four levels of each amendment (0, 2, 4, and 6 g Si per polybag) and three replications. Observed parameters included soil pH, electrical conductivity (EC), organic C, C/N ratio, available silica, as well as silica content in plant stems and several physiological traits.
The results showed that wollastonite significantly increased soil pH (KCl), while FABA enhanced soil electrical conductivity at 2 weeks after transplanting. Neither material had a significant effect on soil organic C, total nitrogen, C/N ratio, or available silica. Silica uptake in pakcoy stems was strongly influenced by the interaction between the two amendments, with the highest value (10.34 g/plant) obtained at a combination of 4 g Si/polybag of FABA (equivalent to 1.67 t/ha) and 2 g Si/polybag of wollastonite (0.65 t/ha). In contrast, leaf greenness, stomatal number, and stomatal density were not significantly affected. This combination of doses is recommended to enhance silica accumulation in pakcoy stems without negatively affecting the chemical properties of Entisols.
4650849890L1A021051Strategi Pengelolaan Perairan Berdasarkan Komposisi Cemaran
Sampah di Daerah Irigasi Banjaran
Pengelolaan yang kurang baik mengakibatkan terakumulasinya sampah di perairan. Sampah tersebut
sering kali menjadi penghambat dalam pendistribusian air, khususnya di Daerah Irigasi Banjaran yang
merupakan areal pemasok air ke daerah yang membutuhkan. Oleh karenanya, kajian tentang komposisi
sampah di daerah tersebut menjadi penting dilakukan sebagai data awal untuk menentukan strategi
pengelolaan sampah yang tepat di daerah Irigasi Banjaran. menganalisis
kelimpahan, kepadatan dan komposisi sampah serta merumuskan langkah pengelolaan berdasarkan
pendekatan untuk mengatasi permasalahan pencemaran sampah di Daerah Irigasi Banjaran. Penelitian
Penelitian ini bertujuan ini dilakukan pada bulan Januari dan Juni 2025. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dari
hasil analisis kelimpahan, kepadatan dan komposisi sampah serta analisis SWOT berdasarkan data
observasi, klasifikasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil analisis kelimpahan, kepadatan dan
komposisi sampah di Daerah Irigasi Banjaran didominasi oleh sampah jenis plastik. Berdasarkan jenis
resinnya, sampah jenis LDPE menjadi komposisi terbesar (46%) di Saluran Sekunder Logawa dan
sampah jenis bahan lainnya (OT) menjadi komposisi terbesar (40%) di Saluran Sekunder Sidabowa.
Selanjutnya, berdasarkan analisis SWOT didapatkan strategi utama yaitu strategi S-T yang berfokus
menghadapi ancaman dengan kekuatan internal.
Poor management has resulted in the accumulation of waste in waterways. This waste often hinders
water distribution, particularly in the Banjaran Irrigation Area, which supplies water to areas in need.
Therefore, it is important to conduct a study on the composition of waste in this area as preliminary data
for determining the appropriate waste management strategy in the Banjaran Irrigation Area. This study
aims to analyze the abundance, density, and composition of waste and formulate management steps
based on an approach to address waste pollution issues in the Banjaran Irrigation Area. The study was
conducted in January and June 2025. The methods used were quantitative descriptive analysis of waste
abundance, density, and composition, as well as SWOT analysis based on observation data,
classification, interviews, and documentation. The analysis of waste abundance, density, and
composition in the Banjaran Irrigation Area revealed that plastic waste dominated. Based on resin type,
LDPE waste constitutes the largest composition (46%) in the Logawa Secondary Channel, while other
materials (OT) constitute the largest composition (40%) in the Sidabowa Secondary Channel.
Furthermore, based on the SWOT analysis, the main strategy identified is the S-T strategy, which
focuses on addressing threats using internal strengths.
4650949891A1D021039RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT TERPAPAR
SALINITAS UDARA TERHADAP JEDA WAKTU DAN VOLUME
PEMBILASAN PADA MEDIA TANAH PASIR PANTAI
Tomat merupakan tanaman hortikultura yang memiliki beragam manfaat dan
bernilai ekonomis tinggi sehingga banyak diminati oleh konsumen. Kegiatan
budidaya tomat masih dihadapkan oleh kendala seperti terbatasnya penggunaan
lahan, yang dapat diuapayakan dengan memanfaatkan lahan pasir pantai. Penelitian
ini bertujuan untuk menentukan jeda waktu pembilasan yang baik bagi fisiologi dan
pertumbuhan tanaman tomat terpapar salinitas udara, menentukan volume
pembilasan yang baik bagi fisiologi dan pertumbuhan tanaman tomat terpapar
salinitas udara, dan mengetahui interaksi terbaik bagi fisiologi dan pertumbuhan
tanaman tomat terpapar salinitas udara. Penelitian ini dilakukan maenggunakan
Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang disusun dengan 2 faktor, yaitu
jeda waktu pembilasan dengan 3 taraf perlakuan (0, 45, dan 90 menit) dan volume
pembilasan dengan tiga taraf perlakuan (0; 3,5; 7,0 mm). Data yang diperoleh
dianalisis menggunakan ANOVA, jika data menunjukan perbedaan nyata maka
dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perlakuan jeda waktu pembilasan menunjukkan peningkatan pada variabel bobot
segar daun, bobot segar tanaman, dan kerapatan stomata generatif. Jeda waktu 90
menit meningkatkan bobot segar daun tertinggi (15,53 g), bobot segar tanaman
tertinggi (63,36 g), dan kerapatan stomata tertinggi (10,78 mm²). Berdasarkan hasil
penelitian bahwa perlakuan volume pembilasan meningkatkan kerapatan stomata
generatif tertinggi pada 7 mm sebesar (10,82 mm²), namun menurunkan kadar
prolin vegetatif (1,63 μmol/g). Tidak terdapat interaksi antara jeda waktu
pembilasan dan volume pembilasan pada seluruh variabel pertumbuhan, fisiologi,
dan hasil tanaman.
Tomato is a horticultural crop with various benefits and high economic value,
making it highly favored by consumers. However, tomato cultivation still faces
challenges, such as limited land availability, which can be addressed by utilizing
coastal sandy soils. This study aims to determine the optimal rinsing interval for
improving the physiology and growth of tomato plants exposed to airborne salinity,
to identify the optimal rinsing volume, and to examine the best interaction between
rinsing interval and volume on the physiology and growth of tomato plants under
airborne salinity stress. The experiment was conducted using a Completely
Randomized Block Design (CRBD) with two factors: rinsing interval (0, 45, and 90
minutes) and rinsing volume (0, 3.5, and 7.0 mm). The collected data were analyzed
using ANOVA, and if significant differences were found, further analysis was
performed using DMRT at the 5% significance level. The results showed that the
rinsing interval treatment significantly increased leaf fresh weight, total plant fresh
weight, and generative stomatal density. A 90-minute interval resulted in the highest
leaf fresh weight (15.53 g), plant fresh weight (63.36 g), and stomatal density (10.78
mm²). The rinsing volume treatment resulted in the highest generative stomatal
density at 7.0 mm (10.82 mm²), but reduced vegetative proline content (1.63
μmol/g). There was no interaction between rinsing interval and rinsing volume for
all measured variables of plant growth, physiology, and yield.
4651049892A1D021189PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MELON TERPAPAR SALINITAS UDARA PADA
JEDA WAKTU DAN VOLUME PEMBILASAN MENGGUNAKAN MEDIA TANAH
PASIR PANTAI
Tanaman melon merupakan komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan
banyak dibudidayakan di Indonesia, namun produktivitasnya sering terkendala oleh
keterbatasan lahan. Lahan pasir pantai berpotensi dikembangkan untuk budidaya, meskipun terdapat kendala utama berupa salinitas. Salah satu solusi untuk mengatasi akumulasi garam akibat salinitas yaitu dapat melalui pembilasan air. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jeda waktu pembilasan dan volume pembilasan yang baik terhadap respon fisiologi dan hasil pertumbuhan tanaman melon terpapar salinitas, serta mengetahui interaksi jeda waktu dan volume pembilasan yang memberikan hasil pertumbuhan terbaik pada tanaman melon terpapar salinitas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari 2 faktor, yaitu jeda waktu pembilasan (0 menit, 45 menit, dan 90 menit) dan volume pembilasan (0 mm, 3,5 mm, dan 7 mm). Hasil penelitian menujukkan bahwa jeda waktu pembilasan menurunkan variabel pertumbuhan, fisiologi, hasil tanaman, dan hanya menunjukkan peningkatan pada kadar prolin vegetatif pada jeda waktu 90 menit (14,75 µmol/g). Berdasarkan hasil analisis bahwa volume pembilasan 7 mm meningkatkan kadar klorofil vegetatif (18,86 mg/L), kadar prolin vegetatif (7,36 µmol/g), dan bukaan stomata generatif (5,35 µm). Terdapat interaksi jeda waktu dan pembilasan pada kerapatan stomata generatif dan persentase bunga jadi.
Melon is a horticultural crop with high economic value and is widely cultivated in
Indonesia. However, its productivity is often limited by the availability of fertile land. Coastal
sandy soils offer potential for cultivation, despite their main constraint—salinity. One
approach to reduce salt accumulation due to salinity is through water rinsing. This study aimed to determine the optimal rinsing interval and water volume to improve physiological responses and growth performance of melon plants exposed to salinity, as well as to evaluate the interaction effects between these two factors. The experiment employed a Completely Randomized Block Design (RKAL) with two factors: rinsing interval (0, 45, and 90 minutes) and rinsing volume (0 mm, 3.5 mm, and 7 mm). The results showed that delayed rinsing negatively affected physiological and growth parameters, except for an increase in vegetative proline content at the 90-minute interval (14.75 µmol/g). A rinsing volume of 7 mm increased vegetative chlorophyll content (18.86 mg/L), vegetative proline (7.36 µmol/g), and generative stomatal aperture (5.35 µm). A significant interaction between rinsing interval and volume was observed in generative stomatal density and the percentage of flower set.
4651149893H1E021066PENERAPAN VEHICLE ROUTING PROBLEM (VRP) PADA DISTRIBUSI DARAH MENGGUNAKAN HYBRID ALGORITMA SWEEP DAN ALGORITMA GENETIKADarah memiliki supply chain yang kemudian disebut dengan Blood Supply Chain (BSC). BSC merupakan kegiatan yang kompleks karena blepood product bersifat perishable dan memiliki perbedaan shelf live umur simpan. Oleh karena itu, informasi perencanaan rute pengiriman menjadi penting guna mengoptimalkan pengiriman darah sehingga dapat meningkatkan efisiensi saat melakukan pengiriman darah. Permasalahan dalam penentuan rute pengiriman yang optimal dapat menggunakan Vehicle Routing Problem (VRP). VRP yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capacitated Vehicle Routing Problem (CVRP) dan Vehicle Routing Problem With Pick-Up And Delivery (VRPPD). Penyelesaian CVRP dan VRPPD dilakukan dengan menggunakan metode metaheuristic, yaitu hybrid algoritma sweep dan algoritma genetika. Selain itu, dilakukan perbandingan menggunakan hybrid algorithm dengan genetic algorithm dengan menggunakan acuan model matematis yang sama. Hybrid algorithm menghasilkan 2 cluster dengan total jarak tempuh kendaraan sebesar 225.60 Km. Sedangkan genetic algorithm menghasilkan 3 cluster dengan total jarak tempuh kendaraan sebesar 248.80 Km. Penggunaan dengan genetic algorithm menghasilkan total jarak tempuh yang lebih besar dibanding dengan menggunakan hybrid algorithm. Selisih total jarak tempuh pengiriman yaitu sebesar 10.28% atau sebesar 23.2 Km.The Blood Supply Chain (BSC) presents significant logistical challenges due to the perishable nature and varied shelf lives of blood products. Efficient delivery route planning is crucial for optimizing blood distribution and enhancing overall operational efficiency. This study addressed the complex problem of determining optimal delivery routes using variants of the Vehicle Routing Problem (VRP): the Capacitated Vehicle Routing Problem (CVRP) and the Vehicle Routing Problem with Pick-Up and Delivery (VRPPD).The solution of CVRP and VRPPD was done by using metaheuristic methods, namely hybrid sweep algorithm and genetic algorithm. In addition, a numerical comparison was made using this hybrid algorithm with a genetic algorithm, both applied to the same mathematical model. The comparative analysis revealed that the hybrid algorithm generated 2 clusters with a total vehicle mileage of 225.60 km, whereas the genetic algorithm yielded 3 clusters with a total vehicle mileage of 248.80 km. The genetic algorithm resulted in a 10.28% (23.2 km) increase in total mileage compared to the hybrid algorithm, demonstrating the superior efficiency of the hybrid approach for optimizing blood delivery routes.
4651249894A1C021051PENGARUH VARIASI JARAK TANAM DAN SISTEM TANAM TERHADAP PRODUKTIVITAS PADI KETAN DI LAHAN TERGENANGPadi ketan (Oryza sativa var. glutinosa) merupakan komoditas strategis dengan nilai ekonomis tinggi (Rp15.000–30.000/kg), namun produktivitas nasional masih rendah (4-5 ton/ha) sehingga bergantung pada impor. Kendala utama adalah keterbatasan lahan tergenang permanen di daerah rawan banjir. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh sistem tanam (langsung/T1 vs apung/T2) dan jarak tanam (20×20 cm²/J1 vs 30×30 cm²/J2) terhadap produktivitas padi ketan di lahan tergenang, serta menentukan kombinasi optimal. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 12 unit percobaan (2 sistem × 2 jarak × 3 ulangan). Variabel yang diamati meliputi jumlah anakan produktif, berat gabah basah/kering, jumlah gabah per malai, bobot 100 butir gabah, dan produktivitas. Data dianalisis dengan ANOVA dan uji DMRT 5%. Hasil menunjukkan kombinasi T1J2 (tanam langsung + jarak 30×30 cm²) memberikan produktivitas tertinggi (0,583 kg/m²) dengan jumlah anakan produktif 27,11±1,06 batang, berat gabah kering 38,33±0,58 g, dan bobot 100 butir gabah 2,87±0,03 g. Interaksi sistem tanam dan jarak tanam berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap semua parameter kecuali bobot 100 butir gabah.Glutinous rice (Oryza sativa var. glutinosa) is a strategic commodity with high economic value (IDR 15,000–30,000/kg), but national productivity remains low (4-5 tons/ha), leading to import dependency. The main constraint is limited permanently flooded land in flood-prone areas. This study aimed to evaluate the effect of planting systems (direct/T1 vs. floating/T2) and planting distances (20×20 cm²/J1 vs. 30×30 cm²/J2) on glutinous rice productivity in flooded land, and determine the optimal combination. A factorial Completely Randomized Design (CRD) was used with 12 experimental units (2 systems × 2 distances × 3 replications). Observed variables included productive tillers, wet/dry grain weight, grains per panicle, 100-grain weight, and productivity. Data were analyzed using ANOVA and DMRT 5%. Results showed the T1J2 combination (direct planting + 30×30 cm² spacing) yielded the highest productivity (0.583 kg/m²) with productive tillers of 27.11±1.06 stems, dry grain weight of 38.33±0.58 g, and 100-grain weight of 2.87±0.03 g. The interaction between planting system and distance significantly affected (p<0.01) all parameters except 100-grain weight.
4651349895F1D020019KOMERSIALISASI PENDIDIKAN DAN GERAKAN MAHASISWA: Studi tentang Aliansi Soedirman Melawan sebagai Respon Terhadap Kenaikan UKT Unsoed Tahun 2024Kenaikan UKT yang terjadi di Unsoed pada tahun 2024 melalui edaran Peraturan Rektor Nomor 6 Tahun 2024 memunculkan gelombang penolakan besar oleh mahasiswa Unsoed. Hal tersebut dikarenakan kenaikan UKT terjadi secara signifikan, yakni hingga mencapai 500 persen. Peraturan Rektor tersebut merupakan implikasi langsung dari kebijakan nasional melalui Permendikbud Ristek Nomor 2 Tahun 2024 yang mempertegas praktik komersialisasi pendidikan di sektor pendidikan tinggi. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis fenomena kenaikan UKT yang terjadi di Unsoed pada tahun 2024. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui teknik pengumpulan data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa, (1) tekanan neoliberalisme memicu kenaikan biaya dan ketimpangan, (2) advokasi mahasiswa yang terkoordinasi efektif menahan laju komersialisasi, dan (3) kegagalan komunikasi‐partisipasi merupakan titik lemah kebijakan UKT. Implikasinya, universitas dan pemerintah harus memperkuat mekanisme transparansi biaya, melibatkan mahasiswa dalam forum penetapan UKT, serta merancang skema subsidi silang yang jelas untuk menjamin akses pendidikan tinggi sebagai hak sosial, bukan komoditas.The increase in UKT that occurred at Unsoed in 2024 through the circular of Rector's Regulation Number 6 of 2024 gave rise to a wave of major rejection by Unsoed students. This was because the increase in UKT occurred significantly, namely up to 500 percent. The Rector's Regulation is a direct implication of national policy through Permendikbud Ristek Number 2 of 2024 which emphasizes the practice of commercialization of education in the higher education sector. The purpose of writing this article is to analyze the phenomenon of the UKT increase that occurred at Unsoed in 2024. This article uses a qualitative method with a phenomenological approach through data collection techniques from interviews, observations, and documentation. The results of this study reveal that, (1) neoliberal pressures trigger rising costs and inequality, (2) coordinated student advocacy effectively restrains the rate of commercialization, and (3) the failure of communication-participation is a weak point of the UKT policy. The implication is that universities and the government must strengthen cost transparency mechanisms, involve students in UKT setting forums, and design clear cross-subsidy schemes to ensure access to higher education as a social right, not a commodity.
4651449896L1C021081Assesment Kondisi Terumbu Karang dan Ikan Karang di Pulau Tabuhan, BanyuwangiPulau Tabuhan, Banyuwangi memiliki potensi ekosistem terumbu karang yang tinggi dimanfaatkan dalam sektor wisata bahari dan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Penelitian ini dengan tujuan mengukur kondisi terumbu karang, menganalisis struktur komunitas dan biomassa ikan karang, serta mengetahui hubungan persentase tutupan karang hidup dengan kelimpahan dan biomassa ikan karang di Pulau Tabuhan, Banyuwangi. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Pengambilan data terumbu karang menggunakan Underwater Photo Transect (UPT), sedangkan pengambilan data struktur komunitas dan biomassa ikan karang menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC). Hubungan antara tutupan karang hidup dengan kelimpahan dan biomassa ikan karang dianalisis dengan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase tutupan karang hidup termasuk kategori sedang (39,8%). Kelimpahan ikan karang berkisar 1,22-5,91 ind/m2, indeks keanekaragaman sedang (H’=1,88-2,14), indeks keseragaman stabil (E=0,728-0,734), indeks dominansi rendah (C=0,15-0,20), dan biomassa dengan kategori rendah (70,34-283,55 kg/ha). Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa hubungan persentase tutupan karang hidup dengan kelimpahan dan biomassa ikan karang termasuk dalam kategori sangat kuat.Tabuhan Island, Banyuwangi, has a high potential coral reef ecosystem utilized in the marine tourism sector and fishing using explosives. This study aims to measure the condition of coral reefs, analyze the community structure and biomass of reef fish, and determine the relationship between the percentage of live coral cover with the abundance and biomass of reef fish on Tabuhan Island, Banyuwangi. The method used is a survey method. Coral reef data collection used the Underwater Photo Transect (UPT), while data collection of community structure and reef fish biomass used the Underwater Visual Census (UVC) method. The relationship between live coral cover with the abundance and biomass of reef fish was analyzed using Pearson correlation. The results showed that the average percentage of live coral cover is in the moderate category (39.8%). The abundance of coral fish ranged from 1.22 to 5.91 individuals/m2, with a moderate diversity index (H’=1.88 to 2.14), a stable uniformity index (E=0.728 to 0.734), a low dominance index (C=0.15 to 0.20), and a low biomass (70.34 to 283.55 kg/ha). The analysis revealed that the relationship between the percentage of live coral cover and the abundance and biomass of coral fish was categorized as very strong.
4651549740H1C021055Interpretasi Data Bawah Permukaan dan Analisis Petrofisika untuk Estimasi Sumberdaya Hidrokarbon Menggunakan Metode Volumetrik Pada Lapangan "ALD", Cekungan Jawa Barat UtaraSumberdaya minyak dan gas bumi sangat dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan energi, sehingga perlu dilakukan eksplorasi dan pengkajian ulang terhadap lapangan – lapangan yang sudah berproduksi sebelumnya. Lapangan “ALD” termasuk dalam salah satu lapangan produksi di wilayah Cekungan Jawa Barat Utara dan reservoir yang diteliti yaitu pada Lapisan “L” yang termasuk kedalam Formasi Cibulakan Atas bagian Mid Main Carbonate. Kegiatan pengkajian ulang dilakukan dengan mempertimbangkan aspek geologi dan geofisika. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan, nilai petrofisika reservoirnya, dan besaran sumberdaya hidrokarbon pada daerah penelitian. Data yang digunakan yaitu 5 data sumur yang berisikin data well log, data header log, data core, data core, data marker, dan data depth structure map, serta terdapat juga data seismik dari penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan yaitu analisis data seismik, analisis petrofisika, dan perhitungan sumberdaya hidrokarbon. Pada Lapangan “ALD” pada Lapisan “L” terdapat Formasi Cibulakan Atas, struktur utama berupa sesar normal dengan tegasan Barat Laut – Tenggara, geomorfologi bawah permukaannya berupa reef dengan tipe reef crest, litologi penyusunnya yaitu batulempung dan batugamping, dan elemen petroleum system-nya berupa batuan reservoir, batuan penutup, dan jebakan. Lapisan “L” pada Lapangan “ALD” memiliki ketebalan zona hidrokarbon sebesar 2 – 13,5 m dengan nilai volume shale 0,10 – 0,24 v/v, porositas efektif 0,12 – 0,15 v/v, saturasi air 0,46 – 0,76 v/v, dan permeabilitas 0,52 – 0,84 mD. Estimasi sumberdaya hidrokarbon pada Lapangan “ALD” di Lapisan “L” berdasarkan perhitungan Software Petrel sebesar 12.608.000 STB (stock tank barrel) dan perhitungan manual 12.054.928,86 STB (stock tank barrel). Besaran sumberdaya yang didapatkan pada penelitian ini masuk ke dalam zona produksi PT. Pertamina EP Zona 7.Oil and gas resources are essential to meet energy needs, thus requiring exploration and re-examination of previously producing fields. The "ALD" field is one of the producing fields in the North West Java Basin, and the reservoir studied is the "L" Layer, which is part of the Upper Cibulakan Formation, part of the Mid Main Carbonate. The re-examination was conducted by considering geological and geophysical aspects. This study was conducted to determine the subsurface geological conditions, the petrophysical value of the reservoir, and the magnitude of hydrocarbon resources in the study area. The data used are 5 well data containing well log data, header log data, core data, core data, marker data, and depth structure map data, as well as seismic data from previous studies. The methods used are seismic data analysis, petrophysical analysis, and hydrocarbon resource calculations. In the “ALD” Field in the “L” Layer there is the Upper Cibulakan Formation, the main structure is a normal fault with Northwest – Southeast emphasis, the subsurface geomorphology is a reef with a reef crest type, the constituent lithology is claystone and limestone, and the petroleum system elements are in the form of reservoir rocks, cap rocks, and traps. The “L” Layer in the “ALD” Field has a hydrocarbon zone thickness of 2 – 13.5 m with a shale volume value of 0.10 – 0.24 v/v, effective porosity of 0.12 – 0.15 v/v, water saturation of 0.46 – 0.76 v/v, and permeability of 0.52 – 0.84 mD. The estimation of hydrocarbon resources in the “ALD” Field in the “L” Layer based on Petrel Software calculations is 12,608,000 STB (stock tank barrel) and manual calculations of 12,054,928.86 STB (stock tank barrel). The amount of resources obtained in this study falls within the production zone of PT. Pertamina EP Zone 7.
4651649897A1A020082
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKSI KELAPA SAWIT DI DESA TANJUNG MAS MULYA
KECAMATAN MESUJI TIMUR, KABUPATEN MESUJI
PROVINSI LAMPUNG
Sektor perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu kelompok primadona yang memegang peran strategis dan mendukung peningkatan kondisi sosial ekonomis dan menjadi komoditas unggulan yang sudah menyumbang pendapatan negara. Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tenaga kerja, jumlah tanaman, jumlah pupuk urea, jumlah pupuk NPK, jumlah pestisida, dan luas lahan terhadap produksi kelapa sawit, serta untuk Mengetahui elastisitas produksi kelapa sawit.
Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada 6 November 2024 sampai 3 Desember 2024 di Desa Tanjung Mas Mulya, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan luas lahan kelapa sawit yang dimiliki Desa Tanjung Mas Mulya lebih luas dari pada yang lain yang berada di dataran rendah rawa, dengan kriteria bahwa kelapa sawit telah memiliki umur lebih dari atau sama dengan 5 tahun (umur produksi). Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data 1 tahun terakhir yaitu tahun 2023. Metode analisis yang digunakan adalah fungsi produksi Cobb Douglas dengan regresi linier berganda, kemudian di analisis menggunakan SPSS 27.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh nyata dan signifikan adalah variabel jumlah tanaman, jumlah pupuk urea, dan jumlah pupuk NPK. Adapun sisanya variabel tenaga kerja (HOK), jumlah pestisida, dan luas lahan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap produksi kelapa sawit Desa Tanjung Mas Mulya, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung. Nilai elastisitas produksi (Ep) sebesar 1,164 maka Ep > 1 artinya produksi berada dalam kondisi increasing returns to scale (skala hasil yang baik). Jadi, jika seluruh input ditingkatkan 1% maka output (Y) akan meningkat sekitar 1,164%.
The oil palm plantation sector is one of the leading industries that plays a strategic role in supporting improvements in socio-economic conditions and serves as a key commodity that contributes significantly to national revenue. The objective of this study is to examine the effects of labor, number of trees, amount of urea fertilizer, amount of NPK fertilizer, amount of pesticides, and land area on palm oil production, as well as to determine the elasticity of palm oil production.
This study employed a quantitative method and was conducted from November 6, 2024, to December 3, 2024, in Tanjung Mas Mulya Village, East Mesuji Sub-district, Mesuji Regency, Lampung Province. The research location was selected purposively, considering that Tanjung Mas Mulya has a larger oil palm plantation area compared to others in the lowland swamp region, with the criteria that the oil palms are at least five years old (productive age). The data used in this study were from the year 2023. The analysis method applied was the Cobb-Douglas production function using multiple linear regression, analyzed with SPSS version 27.
The results of the study indicate that the variables with a significant and substantial influence on palm oil production are the number of trees, the amount of urea fertilizer, and the amount of NPK fertilizer. Meanwhile, the variables of labor (measured in workdays), amount of pesticides, and land area do not have a significant effect on palm oil production in Tanjung Mas Mulya Village, East Mesuji Sub-district, Mesuji Regency, Lampung Province. Furthermore, the production elasticity (E) was found to be 1.164, which means Ep > 1, indicating that the production is in a state of increasing returns to scale. In other words, if all inputs are increased by 1%, the output (Y) will increase by approximately 1.164%.
4651749899F1C021021ANALISIS IMPLEMENTASI KOMUNIKASI PARTISIPATIF DALAM REVITALISASI KAMPUNG KREATIF KARISMA PERTAMINA (K3P) DI DESA KARANGRENA KABUPATEN CILACAPPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi komunikasi partisipatif dalam program revitalisasi Kampung Kreatif Karisma Pertamina (K3P) di Desa Karangrena, Kabupaten Cilacap. Program ini merupakan bagian dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis mengacu pada konsep komunikasi partisipatif Rahim (2004) yang meliputi empat aspek, yaitu heteroglasia, dialogis, poliponi, dan karnaval. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi partisipatif telah terimplementasi dalam tiga tahap utama yaitu pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan, dan pemanfaatan hasil program. Pada tahap pengambilan keputusan ditemukan adanya dominasi kelompok hortikultura yang anggotanya didominasi laki-laki, sementara Kelompok Wanita Tani (KWT) yang beranggotakan ibu rumah tangga cenderung kurang terwakili. Pada tahap pelaksanaan, keterlibatan masyarakat terwujud dalam partisipasi aktif pada pelatihan, sosialisasi, dan kegiatan produktif. Pada tahap pemanfaatan hasil, fasilitas seperti rumah produksi, sistem irigasi tenaga surya, dan alat gamelan dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok aktif, sedangkan kelompok yang kurang terlibat belum memanfaatkan secara penuh karena keterbatasan kapasitas dan jaringan. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun komunikasi partisipatif telah berjalan, masih terdapat tantangan berupa ketimpangan peran antar kelompok, rendahnya keterlibatan generasi muda, dan minimnya dukungan struktural dari pemerintah desa. Oleh karena itu, penguatan inklusivitas, pemerataan akses informasi, dan dukungan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan program pemberdayaan berbasis komunikasi partisipatif.This study aims to analyze the implementation of participatory communication in the revitalization program of Kampung Kreatif Karisma Pertamina (K3P) in Karangrena Village, Cilacap Regency. The program is part of the corporate social responsibility (CSR) initiative of PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, focusing on community empowerment based on local potential. This research employed a qualitative approach with data collection techniques consisting of in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The analysis refers to Rahim’s (2004) participatory communication framework, which encompasses four aspects: heteroglossia, dialogism, polyphony, and carnival. The findings reveal that participatory communication has been implemented across three main stages: decision-making, program implementation, and utilization of outcomes. In the decision-making stage, diverse community groups were involved; however, the horticulture group, predominantly male, tended to dominate discussions, while the Kelompok Wanita Tani (KWT) comprised mostly of housewives, was less represented. In the implementation stage, active participation was observed through training, socialization, and productive activities. In the utilization stage, facilities such as the production house, solar-powered irrigation system, and gamelan instruments were optimally used by active groups, while less-involved groups did not fully benefit due to limited capacity and social networks. These findings indicate that although participatory communication is present, challenges remain, including unequal group representation, low youth involvement, and limited structural support from the village government. Strengthening inclusivity, ensuring equal access to information, and sustaining institutional support are crucial to achieving long-term success in community empowerment through participatory communication.
4651849900F1D021001ANALISIS PENGETAHUAN DAN SIKAP KELOMPOK
PENYELENGGARA PEMUNGUTAN SUARA TERHADAP HAK-HAK
POLITIK PENYANDANG DISABILITAS TPS 8 DESA KARANGNANGKA
PADA PEMILU 2024
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji urgensi pengetahuan dan sikap KPPS mengenai hak-
hak politik penyandang disabilitas di TPS 8 desa Karangnangka, Kecamatan
Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini penting dikarenakan minimnya pengetahuan KPPS terhadap kebutuhan penyandang disabilitas saat pemilu yang
mengakibatkan tidak optimalnya sikap inklusif dan menyediakan kebutuhan penyandang
disabilitas. Teori yang digunakan yaitu Teori Pemilu Inklusif dan Pemilu Aksesibilitas.
Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Penelitian ini diperoleh dari sumber data primer dan data sekunder. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan dan sikap yang kurang inklusif
terhadap hak disabilitas disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, tidak ada
pembahasan khusus yang dilakukan PPS mengenai materi dan pelayanan disabilitas
saat pemilu sehingga KPPS di TPS 8 kurang memahami kebutuhan disabilitas dan
berimbas terhadap sikap KPPS dalam melayani disabilitas pada saat pencoblosan.
Kedua, pemilu di TPS 8 masih belum aksesibel pada beberapa aspek, yaitu kurangnya pengetahuan, anggaran yang terbatas, serta sikap kurang teliti KPPS terhadap fasilitas
yang dibutuhkan disabilitas.
This article aims to examine the urgency of KPPS (Polling Station Working Committee) knowledge and attitudes regarding the political rights of persons with disabilities at TPS 8, Karangnangka Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency. This research is important due to the limited knowledge of KPPS about the needs of persons with disabilities during elections, which leads to a lack of inclusive attitudes and insufficient provision of necessary accommodations. The theories used in this study are the Theory of Inclusive Elections and Electoral Accessibility. The research method employed is qualitative with a case study approach. Data were obtained from both primary and secondary sources. The results show that the lack of knowledge and inclusive attitudes towards the rights of persons with disabilities is caused by several factors. First, there
was no specific discussion held by the PPS (Village Election Committee) regarding materials and services for persons with disabilities during the election, resulting in a lack of understanding by KPPS at TPS 8 and consequently affecting their attitude in serving
persons with disabilities during the voting process. Second, the election at TPS 8 was still inaccessible in several aspects, including lack of knowledge, limited budget, and KPPS’s inattentiveness to the facilities needed by persons with disabilities.
4651949898A1D021004KARAKTERISASI DAN POTENSI BAKTERI Pseudomonas KELOMPOK fluorescens ASAL RIZOSFER PUTRI MALU DATARAN MENENGAH TERHADAP ANTRAKNOSA BUAH CABAI RAWIT PASCAPANENAntraknosa adalah penyakit utama pada cabai rawit yang disebabkan oleh
Colletotrichum capsici, yang mengakibatkan kerugian mencapai 60-80%. Pengendalian
umumnya menggunakan pestisida sintesis yang memberikan dampak negatif jika
digunakan terus-menerus. Oleh karena itu diperlukan alternatif pestisida yang lebih aman
bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri
Pseudomonas kelompok fluorescens asal rizosfer putri malu dataran menengah, dan
mengetahui potensinya sebagai PGPR, penghambat mikroba patogen dan pengendali
penyakit antraknosa pada cabai rawit pasca panen. Pengambilan sampel tanah dilakukan
dengan menggunakan metode purposive sampling. Sampel diambil dari tiga lokasi di
dataran menengah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga. Terdapat 10 isolat Pseudomonas
kelompok fluorescens rizosfer berhasil diisolasi dari sampel. Isolat memiliki karakteristik
koloni bulat, sel basil, elevasi rata, tepi halus, ukuran koloni 1-5 mm, berwarna kuning
kehijauan, berpendar, Gram negatif, menghasilkan enzim oksidase dan katalase. Hasil
penelitian menunjukan bahwa PFR2.2 menghambat Colletorichum capsici dengan
persentase penghambatan lebih dari 60%, PFR3.2 menghambat Rhizoctonia solani.
persentase penghambatan di atas 50%, PFR2.2 menghambat Fusarium oxysporum dengan
persentase penghambatan lebih dari 60%, PFR3.4 menghambat Xanthomonas oryzae
dengan diameter hambatan 2,49 mm, serta PFR2.2 dan PFR2.3 menghambat Ralstonia
solanacearum masing-masing diameter hambatan 2,53 mm. Isolat Pseudomonas kelompok
fluorescens PFR1.1 merupakan isolat terbaik karena mampu menurunkan persentase luas
serangan pada buah cabai sebesar 88% dibandingkan kontrol. Hal ini menunjukan bahwa
Pseudomonas kelompok fluorescens berpotensi sebagai biopestisida.
Anthracnose is the main disease affecting chili peppers, caused by Colletotrichum
capsici , resulting in losses of up to 60-80%. Control measures generally involve the use of
synthetic pesticides, which have negative impacts when used continuously. Therefore, safer
alternatives to pesticides are needed. This study aims to isolate and characterize
Pseudomonas fluorescens bacteria from the rhizosphere of medium-altitude chili plants,
and to assess their potential as PGPR, pathogen inhibitors, and disease controllers for
anthracnose in post-harvest chili peppers. Soil samples were collected using the purposive
sampling method. Samples were collected from three locations in the midland areas of
Banyumas and Purbalingga districts. Ten Pseudomonas fluorescens group isolates from the
rhizosphere were successfully isolated from the samples. The isolates exhibited round
colonies, bacillary cells, moderate elevation, smooth edges, colony size of 1–5 mm, yellow
green color, fluorescence, Gram-negative staining, produces enzymes oxidase and
catalase. The research results showed that PFR2.2 inhibited Colletorichum capsici with an
inhibition rate of over 60%, PFR3.2 inhibited Rhizoctonia solani. With an inhibition rate
above 50%, PFR2.2 inhibits Fusarium oxysporum with an inhibition rate of over 60%,
PFR3.4 inhibits Xanthomonas oryzae with an inhibition zone of 2.49 mm, and PFR2.2 and
PFR2.3 inhibit Ralstonia solanacearum with inhibition zones of 2.53 mm each. The
Pseudomonas fluorescens group isolate PFR1.1 is the best isolate because it reduces the
percentage of infection area on chili peppers by 88% compared to the control. This
indicates that the Pseudomonas fluorescens group has potential as a biopesticide.
4652049901F1F021074Kontruksi Peran Militer Cina dalam Operasi Militer Cina di Sudan Selatan (2012-2016) Melalui Film Wolf Warrior II: Kajian Narrative TheoryPenelitian ini menganalisis bagaimana film blockbuster Cina, Wolf Warrior II (2017), mengonstruksi peran militer Cina dalam misi perdamaian di Sudan Selatan (2012–2016). Sebagai produk industri film yang diawasi oleh negara, film ini dipahami sebagai instrumen soft power yang secara sadar membangun narasi yang mendukung kebijakan luar negeri Cina. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori naratif Gérard Genette, penelitian ini membongkar bagaimana lima elemen naratif—duration, frequency, mood, order, dan voice—secara sistematis digunakan untuk membentuk citra militer Cina yang ideal: heroik, efisien, dan humanis. Hasil analisis menunjukkan bahwa film ini secara aktif menyederhanakan, menyaring, dan meng-glorifikasi realitas melalui manipulasi tempo cerita, pengulangan simbol dan dialog, serta pengaturan sudut pandang. Namun, penelitian ini juga menemukan adanya kesenjangan yang signifikan antara narasi ideal yang dikonstruksi oleh film dengan realitas di lapangan yang lebih kompleks dan ambigu, yang diwarnai oleh motivasi kepentingan ekonomi dan kritik terhadap kinerja pasukan. Dengan demikian, disimpulkan bahwa Wolf Warrior II berfungsi sebagai alat propaganda yang efektif, bukan dengan cara mencerminkan realitas secara akurat, melainkan dengan membingkai ulang realitas tersebut untuk melayani tujuan strategis dan memperkuat citra Cina sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab.This research analyzes how the Chinese blockbuster film, Wolf Warrior II (2017), constructs the role of the Chinese military in the peacekeeping mission in South Sudan (2012–2016). As a product of a state-supervised film industry, this film is understood as an instrument of soft power that consciously builds a narrative that supports China's foreign policy. Using a qualitative approach and Gérard Genette's narrative theory, this research deconstructs how five narrative elements—duration, frequency, mood, order, and voice—are systematically used to shape an ideal image of the Chinese military: heroic, efficient, and humanist. The results of the analysis show that this film actively simplifies, filters, and glorifies reality through the manipulation of narrative tempo, repetition of symbols and dialogues, as well as the regulation of point of view. However, this research also finds a significant gap between the ideal narrative constructed by the film and the more complex and ambiguous reality on the ground, which was colored by the motivation of economic interests and criticism of the troops' performance. Thus, it is concluded that Wolf Warrior II functions as an effective propaganda tool, not by accurately reflecting reality, but by reframing that reality to serve strategic purposes and strengthen China's image as a responsible global power.