Artikelilmiahs

Menampilkan 13.101-13.120 dari 49.629 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1310116438D1E012232PEMBERIAN PAKAN KOMPLIT TERFERMENTASI BERBAGAI LEVEL KONSENTRAT DAN HIJAUAN PADA KONSUMSI BO DAN PRODUKSI DAGING DOMBA JANTAN LOKALPenelitian ini mulai dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus 2016 sampai 2 Oktober 2016 di Experimentalfarm, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh imbangan pakan konsentrat dan hijauan dalam silase pakan pakan komplit terhadap konsumsi BO dan produksi daging pada domba jantan lokal. Materi penelitian menggunakan 5 macam imbangan hijauan dengan konsentrat dalam silase pakan komplit. Penelitian menggunakan metode experimental secara in vivo dengan rancangan penelitian Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri atas P1 (Rumput gajah 70% + konsentrat 30%), P2 (Rumput gajah 60% + konsentrat 40%), P3 (Rumput gajah 50% + konsentrat 50%), P4 (Rumput gajah 40% + konsentrat 60%), P5 (Rumput gajah 30% + konsentrat 70%). Peubah yang di ukur adalah konsumsi BO dan produksi daging. Data di analisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi BO maupun produksi daging. Berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) menunjukan bahwa konsumsi Bahan Organik P5 sangat berbeda nyata (P<0,01) terhadap P1, P2, P3 dan P4. (P5 232,0 ± 24,9b g/ekor/hari vs P1 342,5 ± 22,1a g/ekor/hari vs P2 349,9 ± 12,2a g/ekor/hari vs P3 354,3 ± 23,3a vs P4 232,0 ± 49,2a g/ekor/hari). Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada produksi daging menunjukan bahwa P1 berbeda sangat nyata dengan P3 dan P4 (P<0,01) sedangkan P1 berbeda nyata dengan P2 dan P5 (P<0,05). (P1 3,48 ± 0,353b vs P2 4,78 ± 1,094ab vs P3 5,96 ± 0,222a vs P4 5,37 ± 1,048a vs P5 4,91 ± 0,865ab). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pakan dengan kode P3 yaitu terdiri dari 50% rumput gajah dan 50% konsentrat merupakan imbangan pakan yang paling baik untuk produksi daging maupun konsumsi BO dibandingkan dengan imbangan pakan yang lain.This study was conducted, started from August 2nd 2016 to October 2nd 2016 at the Experimental farm, Faculty of Animal Husbandry, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto, Central Java. The purpose of this study was to determine the effect of the balance between concentrate feed to forage in complete feed silage on Organic Matter (OM) consumption and production of meat of local rams. The research materials were 5 different ratios of forage to concentrate in complete feed silage. The research us experimental methods by in vivo, the study design was completely randomized block design (CRBD). The treatments consisted of P1 (elephant grass 70% + concentrate 30%), P2 (elephant grass 60% + concentrate 40%), P3 (elephant grass 50% + concentrate 50%), P4 (elephant grass 40% + concentrate 60%) , P5 (elephant grass 30% + concentrate 70%). The variables measured were OM consumption and meat production. Data were analyzed using analysis of variance followed by Honesty Significant Difference test (HSD). The results showed that the treatment effect was highly significant (P <0.01) on the Organic Matter (OM) consumption and meat production. Based on the Hones Significant Difference test (HSD), the consumption of Organic Matter of P5 were significantly different (P <0.01) to P1, P2, P3 and P4. (P5 24.9b ± 232.0 g / head / day vs 342.5 ± P1 22.1a g / head / day vs P2 12.2a ± 349.9 g / head / day vs P3 354.3 ± 23.3a P4 vs 232.0 ± 49.2a g / head / day). The test of honesy Significant Difference (HSD) on the production of meat showed that P1 was highly significant to P3 and P4 (P <0.01), while P1, P2 and P5 were significantly different (P <0.05). (P1 0.353b ± 3.48 vs 4.78 ± 1.094ab vs P2 P3 P4 vs. 5.96 ± 0.222a 1.048a ± 5.37 vs 4.91 ± 0.865ab P5). The conclusion of this study is feed with the code of P3 which consisted of 50% grass and 50% concentrate is the best feed for meat production and OM consumption compared to other feeds in this study.
1310216444D1E012327PENGARUH BAHAN PEREKAT TEPUNG TAPIOKA, SAGU DAN BENTONIT PADA PELLET AYAM NIAGA PEDAGING PERIODE AKHIR TERHADAP HARDNESS DAN SUDUT TUMPUKANPenelitian ini bertujuan untuk mengukur penggunaan bahan perekat tepung tapioka, sagu dan bentonit terhadap hardness dan sudut tumpukan pada ransum ayam niaga pedaging periode akhir berbentuk pellet. Penelitian dilaksanakan tanggal 05 Maret sampai dengan 29 April 2016 di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan enam kali ulangan. Peubah yang diukur adalah hardness dan sudut tumpukan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Rataan hardness yang tertinggi yaitu pellet berperekat bentonit (T3) yaitu 18,06 lbs diikuti oleh tepung taipoka (T1) yaitu 17,80 lbs, dan terendah yaitu sagu (T2) yaitu 17,23 lbs. Rataan sudut tumpukan tertinggi yaitu pada pellet berperekat tepung taipoka (T1) sebesar 34,68°, diikuti oleh (T2) 33,86°, dan terendah bentonit (T3) 30,60° (P<0,05). Uji Duncan menunjukkan sudut tumpukan pada pellet berperekat tepung tapioka (T1) tidak berbeda nyata dengan pellet berperekat tepung sagu (T2). Pellet berperekat bentonit (T3) tidak berbeda nyata dengan pellet berperekat sagu (T2), tetapi tapioka (T1) berbeda nyata dengan bentonit (T3). Kesimpulan dari penelitian bahwa penambahan bahan perekat mempengaruhi sudut tumpukan pada pellet ayam niaga pedaging periode akhir dengan penambahan perekat tepung tapioka. Sudut tumpukan terendah pada pellet dengan perekat bentonit. Bentonit potensial digunakan sebagai bahan perekat.
The purpose of this study was to assess use of binders tapioca, sago and bentonite towards the hardness and angle of repose on pellet ration of broiler finisher. Conducted from 5th of March until 29th April 2016 at the Laboratory of Animal Nutrition and Feed Science, and Laboratory of Animal Feed Stuffs Science, Faculty of Animal Science, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto, this experimental research was arranged in a Completely Randomized Design with 3 treatments and 6 replicates. The parameters measured were hardness and angle of repose. Data were analyzed using analysis of variance. The average of the highest hardness is binder bentonite pellets (T3) 18.06 lbs, followed is tapioca (T1) 17.80 lbs, and the lowest is sago (T2) is 17.23 lbs. The average of the highest angle of repose on the binder pellets of tapioca (T1) is 34.68 °, followed is sago pellets (T2) 33.86 °, and the lowest is bentonite (T3) 30.60 ° (P<0,05). Duncan test showed that angle of repose on binder pellets of tapioca (T1) was not significantly different from the binder pellets sago (T2), binder bentonite pellets (T3) was not significantly different from the binder sago pellets (T2), but tapioca (T1) significantly different with bentonite (T3). The conclusion of the study that the addition of binders in broiler finisher pellet does not affect the hardness, however significantly affect angle of repose with the addition of binder tapiaoca pellets. The lowest in the angle of repose with binder bentonite pellets. Bentonite potentially be used as an binders.

1310316437D1E012052KADAR PROTEIN DAN VISKOSITAS SUSU DI KELOMPOK PETERNAK SAPI PERAH KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar protein dan viskositas susu serta mengetahui hubungan kadar protein dan viskositas susu di kelompok peternak sapi perah Andini Lestari I dan Andini Lestari II. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei. Sasaran penelitian yaitu 13 peternak sapi perah Andini Lestari I dan 7 peternak sapi perah Andini Lestari II. Materi yang digunakan adalah ternak sapi perah dengan sampel susu diambil sebanyak 20 liter diperoleh dari 13 peternak Andini Lestari I dan 7 peternak Andini Lestari II. Sampel diambil pada pemerahan pagi hari pukul 06.00 WIB secara komposit sebanyak 1 liter pada masing-masing peternak dan diulang 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji “t” dan regresi linier. Hasil penelitian menunjukan rataan kadar protein susu di kedua kelompok tidak memiliki perbedaan yang nyata (P>0,05). Demikian juga viskositas susu di kedua kelompok tidak memiliki perbedaan yang nyata (P>0,05). Hubungan kadar protein dengan viskositas susu di kelompok peternak Andini Lestari I dikategorikan kuat sedangkan di kelompok Andini Lestari II dikategorkan lemah dengan nilai r sebesar masing-masing 0,6200 dan 0,1192 sehingga diperoleh persamaan regresi masing-masing Y= (-0,9827) + 1,291 X dan Y= 2,839 + (-0,0557) X. Kesamaan hasil rataan kadar protein dan viskositas susu pada kedua kelompok disebabkan informasi tentang penanganan pascapanen dan budidaya sapi perah yang relatif sama.This study aimed to determine levels of a protein and viscosity of milk, to determine the relationship between levels of a protein and viscosity of milk in dairy farmer groups Andini Lestari I and Andini Lestari II. The research used survey method. Target research at 13 farmers of Andini Lestari I and 7 farmers of Andini Lestari II. Material used are the dairy cattle with a sample of milk taken as many as 20 liters obtained from 13 farmers of Andini Lestari I and 7 farmers of Andini Lestari II. Sample were taken at 06.00 am in composite by 1 liters from each cattle farmer, and 3 times replication. Data were analyzed using “t” test and linear regression. The results of the study shows from that the average levels of milk protein at the two group is not significantly different (P>0,05). Also the milk of viscosity at the two group is not significantly different (P>0,05). Levels of a protein relations with milk viscosity group farmers of Andini Lestari I has strong corelation while in group farmers of Andini Lestari II has low corelation with r value of each 0,6200 and 0,1192 order to obtain the regression equation is each Y= (-0,9827) + 1,291 X and Y= 2,839 + (-0,0557) X. The similarity of the result on the levels of a protein and milk viscosity in both groups caused by similar information about post-harvest handling and dairy cattle management.
1310416433A1M012006APLIKASI EDIBLE COATING BERBAHAN DASAR TAPIOKA DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK BATANG DAN DAUN KECOMBRANG TERHADAP MUTU BUAH STRAWBERRY SELAMA PENYIMPANANBuah strawberry merupakan salah satu komoditas produk hortikultura yang prospektif, namun cepat mengalami kerusakan selama penyimpanan. Pengawet alami diperlukan untuk memperpanjang masa simpannya. Penelitian ini menggunakan pengawet alami bagian dalam (empulur) batang dan daun kecombrang yang diekstrak menggunakan pelarut etanol. Penanganan pascapanen yang dilakukan adalah dengan pelapisan (coating). Tujuan penelitian ini adalah 1) menetapkan pengaruh ekstrak bagian kecombrang terhadap mutu buah strawberry; 2) menetapkan pengaruh metode coating terhadap mutu buah strawberry; 3) menetapkan pengaruh lama penyimpanan terhadap mutu buah strawberry; dan 4) menetapkan pengaruh interaksi perlakuan variasi tanaman kecombrang, metode coating, lama penyimpanan terhadap mutu strawberry ditinjau dari sifat kimia, mikrobiologi dan sensori. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3 kali pengulangan. Faktor yang diuji meliputi ekstrak bagian tanaman kecombrang yakni bagian dalam (empulur) batang (B1) dan bagian daun (B2); metode coating semprot (M1) dan celup (M2); lama penyimpanan hari ke-0 (L0), hari ke-3 (L1), hari ke- 6 (L3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bagian daun kecombrang memiliki kemampuan mempertahankan mutu buah strawberry yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak bagian dalam (empulur) batang kecombrang terhadap variabel kimia, mikrobiologi, dan sensori strawberry. Buah strawberry yang disimpan pada suhu ruang dengan pelakuan coating ekstrak kecombrang mampu bertahan selama 6 hari. Kadar air, kadar abu, pH, kadar total asam semakin menurun sedangkan kadar gula reduksi dan total plate count meningkat. Aroma alkohol dan rasa asam meningkat; tekstur, rasa manis dan kesukaan menurun. Penyimpanan hari ke-6 buah strawberry memiliki kadar air 88,16%; kadar abu 3,53%; pH 3; kadar total asam 0,05%; kadar gula reduksi 9,66%; total plate count 9,0x103CFU/ml; aroma alkohol kuat; tekstur tidak keras; rasa tidak manis dan asam; kesukaan kurang disukai.


Strawberry is prospective horticultural commodity product, but it is rapidly damage during storage. Natural preservative is necessary to extend its shelf life. This study used inner stem and leaves of kecombrang extracts using ethanol solvents. Post-harvest treatment on strawberry was done by edible coating. The purpose of this study were 1) to establish the effects of the extracts of kecombrang parts on the quality of coated strawberries; 2) to determine the effect of the coating methods on the quality of coated strawberries; 3) to determine the effect of storage time on the quality of strawberries; and 4) to establish an interaction effect of treatments of various kecombrang parts, coating method, duration of storage on the quality of coated strawberries in terms of the chemical, microbiological and sensory characteristics. This research was conducted using the experimental method with Randomized Design (RBD) arranged as factorial with three replications. Factors examined included extracts of plant parts of kecombrang, the inner stem (B1) and the leaves (B2); spraying coating method (M1) and deeping method (M2); storage time of day 0 (L0), day 3 (L1), the 6 day (L3). The results showed that the extract of kecombrang leaf had the ability to maintain the quality of coated strawberries higher than the inner stem of kecombrang in terms of chemical, microbiological and sensory charcteristics. Strawberries stored at room temperature with kecombrang extract coating treatments lasted for 6 days. Moisture content, ash content, pH, total acid content decreased while reducing sugar and total plate count increased. The aroma of alcohol and sour taste improved; as well as texture, sweetness and hedonic value of coated strawberries. Strawberriesstorage of 6 days had a water content of 88.16%; ash content of 3.53%; pH 3; total acid content of 0.05%; 9.66% reducing sugar; total plate count of 9.0x103CFU/ml; strong aroma of alcohol; the texture was not hard; sweet and sour taste were less.


1310516439B1J012111Keanekaragaman Laba-laba (Arachnida: Araneae) di Kebun Teh Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten PurbalinggaLaba-laba berperan penting sebagai agensia pengendali hayati populasi serangga hama. Berbagai aktivitas budidaya yang dilakukan oleh manusia pada lahan perkebunan saat ini sangat mempengaruhi kehadiran laba-laba seperti penggunaan pupuk dan pestisida, penyiangan, pemangkasan, pemanenan, serta pola tanam. Diversifikasi vegetasi di lahan perkebunan dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya monokultur dan polikultur yang masing-masing dapat mempengaruhi kelimpahan serta keanekaragaman laba-laba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman laba-laba pada kebun teh dan kebun tumpang sari (teh dan stroberi) di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.
Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan kelimpahan, indeks keragaman Shannon-Wiener, indeks kemerataan Evenness, dan indeks kesamaan Sorensen.
Sebanyak 575 individu laba-laba yang terdiri atas 10 famili Araneae dikumpulkan dari kebun teh dan kebun tumpang sari (teh dan stroberi), yaitu Araneidae, Clubionidae, Linyphiidae, Lycosidae, Nephilidae, Oxyopidae, Salticidae, Tetragnathidae, Theridiidae, dan Thomisidae. Famili Araneidae merupakan famili dengan kelimpahan terbanyak di kedua lahan. Kebun teh memiliki jumlah kelimpahan individu laba-laba lebih banyak dibandingkan kebun tumpang sari. Pada kebun teh didapat 379 individu dan di kebun tumpang sari didapat 196 individu. Keanekaragaman laba-laba di kebun tumpang sari lebih tinggi dibandingkan dengan kebun teh. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener di kebun teh H’= 1,873, sedangkan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener di kebun tumpang sari H’= 1,975.
Spiders play an important role as a natural control agent of insect pest populations. Various activities performed by human cultivation on plantation currently affect the presence of spiders such as using fertilizer and pesticides, weeding, pruning, harvesting and cropping patterns. Diversification of vegetation in plantations can be done in various ways include monoculture and intercrop each can influence the abundance and diversity of spiders. The study was aimed to determined the abundance and diversity of spider in tea plantation and orchard intercropping (tea and strawberries) at Serang village, Sub District of Karangreja, District of Purbalingga
The method used was survey method with purposive sampling techniques, sampling was conducted by hand collecting. Data were analyzed to determine the abundance, Shannon-Wiener diversity index (H’), Evenness index (E), Simpson dominance index (D), and Sorensen similarity index (IS).
The results showed a total of 575 individual spiders consists of 10 families Araneae was collected, they were Araneidae, Clubionidae, Linyphiidae, Lycosidae, Nephilidae, Oxyopidae, Salticidae, Tetragnathidae, Theridiidae, dan Thomisidae. Family Araneidae was a family with the highest abundance in both lands. Tea plantation had a number of individuals abundance of spider higher than orchard intercropping. In the tea plantation obtained 379 individual spiders and in the orchard intercropping obtained 196 individual spiders. Diversity of spiders in the orchard intercropping higher than the tea plantation. Shannon-Wiener diversity index in the tea plantation H’= 1.873, and Shannon-Wiener diversity index in the orchard intercropping H’= 1.975.
1310616440D1E012229PERBEDAAN BOBOT POTONG DAN PERSENTASE KARKAS SAPI PERANAKAN ONGOLE DAN SAPI PERANAKAN LIMOUSINPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan bobot potong dan persentase karkas sapi jantan yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) yang berada di desa tambaksari purwokerto. Materi penelitian yaitu sapi Peranakan Ongole (PO) 35 ekor dan sapi Peranakan Limousin (PL) 35 ekor. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk tabel deskriptif, kemudian di analisis dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukan bahwa ka sapi Peranakan Ongole menghasilkan rataan bobot potong 363,99 ± 27,853 kg, bobot karkas 155,83 ± 15,14 kg dan persentase karkas 42,91 ± 2,268 %. Sapi Peranakan Limousin menghasilkan rataan bobot potong 422,72 ± 30,359 kg, bobot karkas 178,32 ± 11,92 kg dan Persentase karkas 42,20 ± 1,569 %. Dari hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa sapi Peranakan Limousin mampu menghasilkan bobot potong dan bobot karkas lebih tinggi dari sapi Peranakan Ongole dan menunjukan perbedaan yang nyata (P < 0,01). Tetapi persentase karkas sapi Peranakan Ongole lebih unggul 0,71% dari persentase karkas sapi Peranakan Limousin dan tidak berbeda nyata (P > 0,05).The aim of this research was to perceive the differences between slaughter weight and carcass percentage of male cattle that were slaughter in a Slaughter House (SH) of Tambaksari, district of Purwokerto. The subject of research was Cross Breed Ongole Cattle, 35 bulls and Cross Breed Limousin Cattle, 35 bulls. This research’s method was survey method with the technique of data collections using purposive sampling. The collective data were presented in a format of descriptive table, then were analyzed with the t test. The results of the research showed that Cross Breed Ongole Cattle produced an average of slaughter weight of 363.99 ± 27.853 kg, carcass weight of 155.83 ± 15.14 kg and carcass percentage of 42.91 ± 2.268 %. Cross Breed Limousin Cattle produced an average of slaughter weight of 422.72 ± 30.359 kg, carcass weight of 178.32 ± 11.92 kg and carcass percentage of 42.20 ± 1.569 %. Based on the results, it showed that Cross Breed Limousin Cattle could produce slaughter weight and carcass weight higher than Cross Breed Ongole Cattle which showed a significant differences. But the carcass percentage of Cross Breed Ongole Cattle was excellent of 0.71% than the carcass percentage of Cross Breed Limousin Cattle and a not significant different (P > 0.05).
1310716441D1E012270Imbangan pakan konsentrat dan hijauan dalam silase pakan komplit terhadap konsumsi protein kasar dan serat kasar domba lokal jantanPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh imbangan pakan konsentrat dan hijauan dalam silase pakan komplit terhadap konsumsi protein kasar dan serat kasar domba lokal jantan. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 2 Agustus 2016 sampai 2 Oktober 2016 di Experimental Farm Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Materi penelitian menggunakan 5 macam imbangan hijauan dengan konsentrat dalam silase pakan komplit. Penelitian menggunakan metode eksperimental secara in vivo dengan rancangan penelitian Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri atas P1 (Rumput gajah 70% + konsentrat 26% + mineral 1,5% + garam 0,5% + urea 0,5% + molases 1,5%), P2 (Rumput gajah 60% + konsentrat 36% + mineral 1,5% + garam 0,5% + urea 0,5% + molases 1,5%), P3 (Rumput gajah 50% + konsentrat 46% + mineral 1,5% + garam 0,5% + urea 0,5% + molases 1,5%), P4 (Rumput gajah 40% + konsentrat 56% + mineral 1,5% + garam 0,5% + urea 0,5% molases 1,5%), P5 (Rumput gajah 30% + konsentrat 66% + mineral 1,5% + garam 0,5% + urea 0,5% + molases 1,5%). Peubah yang diukur adalah konsumsi protein kasar dan serat kasar. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi protein kasar maupun konsumsi serat kasar. Berdasarkan uji beda nyata jujur (BNJ) total rataan konsumsi protein kasar (P3) berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap P5 dan berbeda nyata (P<0,05) dengan P1, namun P1 tidak berbeda (P>0,05) dengan P2, P4 dan P5. (P3 131,01 ± 4,06 g/ekor/hari vs P2 117,04 ± 3,52 g/ekor/hari vs P4 113,87 ± 18,11 g/ekor/hari vs P1 105,92 ± 7,99 g/ekor/hari vs P5 90,64 ± 10,72 g/ekor/hari). Uji beda nyata jujur (BNJ) total konsumsi serat kasar kontrol (P1) berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap P3, P4 dan P5 tetapi P1 tidak berbeda (P>0,05) dengan P2. P2 berbeda nyata (P<0,05) terhadap P3. (P1 129,96 ± 8,48 g/ekor/hari vs P2 118,83 ± 2,36). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlakuan 3 merupakan imbangan terbaik untuk penggemukan domba lokal jantan karna kandungan protein kasar dan serat kasarnya seimbang dan telah memenuhi kebutuhan hidup dan produksi domba lokal jantan.This research aimed to examine the effect of The concentrate to forage ratio of complete feed silage on crude protein and crude fiber consumptions of the local male sheep. The research was conducted from August 2nd 2016 to October 2nd, 2016 at the Experimental Farm, Faculty of Animal Husbandry, University Jenderal Soedirman, Purwokerto, Central Java province. The material of this research were 5 different concentrate to forage ratio in complete feed silage. The research was used experimental methods by in vivo, by using completly randomised design (CRD). The treatments consisted of P1 (Napier grass 70% + concentrate 26% + 1.5% + mineral salts urea 0.5% + 0.5% + molasses 1.5%), P2 (Napier grass 60% concentrate 36% + mineral salts 1.5% + 0.5% + 0.5% urea molasses + 1.5%), P3 (Napier grass 50% + concentrate 46% + 1.5% + mineral salts + 0.5% urea 0 , 5% molasses + 1.5%), P4 (Napier grass 40% + concentrate 56% + 1.5% + mineral salts 0.5% + 0.5% urea molasses 1.5%), P5 (Napier grass 30% + concentrate 66% + 1.5% + mineral salts 0.5% + 0.5% urea molasses + 1.5%). The parameters measured were the consumptions of crude protein and crude fiber. The data were analyzed using analysis of variance followed by honestly significant difference test (HSD). The results showed that the treatment had highly significant (P <0.01) effect the consumptions of crude protein and crude fiber. Based on the test honesty significant difference (HSD), the average of total consumption of crude protein of P3 was highly significantly (P <0,01), different to P5 and significantly different (P <0.05) to P1, but P1 was not significantly different (P> 0.05 ) to P2, P4 and P5. (P3 131.01 ± 4.06 g / head / day vs P2 117.04 ± 3.52 g / head / day vs P4 113.87 ± 18.11 g / head / day vs 105.92 ± P1 7, 99 g / head / day P5 vs 90.64 ± 10.72 g / head / day). Based on significant difference test (HSD) the average consumption of crude fiber of P1 was highly significant (P <0.01) to P3, P4 and P5 but P1 was not significantly different (P> 0.05) to P2. P2 was significantly different (P <0.05) to P3. (P1 129.96 ± 8.48 g / head / day vs P2 118.83 ± 2.36). The conclusion of this study is, the third treatment was the best concentrate to forage ratio of complete feed silage on fattening because it has the highest crude protein and crude fiber consumptions and has accomplished the maintenance and production requirement for local male sheep.
1310816443D1E012333KUALITAS FISIK DAGING AYAM NIAGA PETELUR AFKIR YANG DIRENDAM
BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) DENGAN
KONSENTRASI BERBEDA
Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh perendaman berbagai konsentrasi dan konsentrasi terbaik Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) terhadap kualitas fisik daging ayam niaga petelur afkir. Materi, 5 potong daging dada ayam niaga petelur afkir dan Belimbing Wuluh 1 Kg. Penelitian menggunakan metode eksperimental, Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan yaitu perendaman dengan akuades (P0), perendaman dengan Belimbing Wuluh 20% (P1), 40% (P2), 60% (P3), dan setiap perlakuan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan perendaman daging ayam niaga petelur afkir dalam Belimbing Wuluh dengan konsentrasi berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH dan keempukan daging namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya ikat air. Rataan pH masing-masing adalah P0: 6,30, P1: 5,89, P2:5,74, P3: 5,36, keempukan, P0: 0,059, P1: 0,071, P2: 0,074, P3: 0,081 mm/g/detik, dan daya ikat air, P0: 51,37, P1: 52,47, P2: 54,19, P3: 56,31%. Kesimpulan, penggunaan belimbing wuluh menghasilkan nilai pH daging lebih rendah dan keempukan daging lebih tinggi akan tetapi daya ikat air daging sama dibandingkan tanpa penggunaan belimbing wuluh dan konsentrasi belimbing wuluh 60% menghasikan kualitas fisik daging terbaik.The aims of the research was to determine the effect of soaking which various concentrations Averrhoa bilimbi L, and the best concentration on the physical quality of meat of culled laying Commercial Chicken. The materials were 5 pieces of meat of culled laying Commercial Chicken from breast area and Averrhoa Bilimbi L, 1 Kg. The method used was experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, soaking with distilled water (P0), soaking with distilled water plus Averrhoa bilimbi L, 20% (P1), 40% (P2), 60% (P3), and each treatment was repeated 5 times. The results showed that soaking of meat culled laying Commercial Chicken in distilled Averrhoa bilimbi L, has a highly significant effect (P<0.01) on the pH and tenderness of meat, but not a significant effect (P>0.05) on the water holding capacity. The average values of the pH were P0: 6,30, P1: 5,89, P2:5,74, P3: 5,36, that of tendenses were P0: 0,059, P1: 0,071, P2: 0,074, P3: 0,081 mm/g/second, and that of water holding capacity were P0: 51,37, P1: 52,47, P2: 54,19, P3: 56,31%. The conclusion is the use of Averrhoa bilimbi L, produces lower meat pH value and tenderness of meat is higher but the same water holding capacity of meat compared without using Averrhoa bilimbi L, and the concentration of Averrhoa bilimbi L, of 60% produces the best physical quality, of meat of culled laying Commercial Chicken.
1310916461H1E012024PENGARUH DURASI MILLING TERHADAP PENYERAPAN GELOMBANG MIKRO NEODIMIUM SRONSIUM FERITPembuatan material magnetik neodimium stronsium ferit menggunakan metode solide state reaction dengan variasi durasi milling telah berhasil dilakukan. Pembuatan (1-x)SrO: xNd2O3 : 6Fe2O3 dengan x = 0,2 mol menggunakan bahan dasar pasir besi alam, serbuk Nd2O3 (dengan kemurnian 99%), dan serbuk SrCO(dengan kemurnian 99%). Dalam penelitian ini ketiga bahan tersebut diproses menggunakan metode solid state reaction dengan variasi durasi milling selama 0 jam, 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Karakterisasi yang dilakukan meliputi pengujian XRD untuk mengetahui struktur kristal, VSM untuk sifat magnetik suatu material, dan VNA untuk mengetahui sifat penyerapan gelombang mikro. Hasil XRD menunjukan semakin banyak penambahan durasi milling, jumlah fasa SrFeO2,73 berkurang dan fasa SrNdFeO4 jumlahnya tetap serta meningkatnya ukuran kristal. Karakterisik sifat magnetik menunjukan nilai magnetisasi saturasi mengalami penurunan dan nilai medan koersivitas menurun. Sementara itu, penyerapan gelombang mikronya menurun dan penyerapan terbaik terjadi pada sampel MNSF1 pada frekuensi 8-11,7GHz.Neodymium stronsium ferit magnetic material manufacturing using solide state reaction with a variety of milling duration is done successfully. Making (1-x) SrO: xNd2O3: 6Fe2O3 with x = 0.2 mol using the basic ingredients of natural iron sand, powder Nd2O3 (about 99%), and SrCO powder (about 99%). In this study, the three ingredients are processed using solid state reaction method with a variety of milling duration for 0 hours, 1 hour, 2 hours and 3 hours. Caractererization is covered by XRD examination to determine crystal structure, VSM to know material magnetic caracteristic, and VNA for material microwave absorption identifying feature. The XRD results showed the more the addition of milling duration, number of phases and phase SrNdFeO4 SrFeO2.73 reduced fixed amounts. Characteristics of the magnetic properties showed the value decreased saturation magnetization and coercivity field value decrase. Meanwhile, the best wave absorption occurs in the sample at a frequency MNSF1 8-11,7GHz.
1311016446H1D011013PENGARUH GAYA PRATEGANG AWAL PADA PERKUATAN EKSTERNAL BALOK BETON BERTULANG MENGGUNAKAN KABEL BAJA 2D8Kegagalan struktur merupakan hal yang harus dihindari untuk semua bangunan, tidak terkecuali bangunan dengan material atau bahan konstruksi utama beton bertulang. Salah satu penyebab dari kegagalan struktur adalah kesalahan pada pelaksanaan konstruksi, misal pada penggalian tanah, kecelakaan alat, urutan pelaksanaan atau metode pelaksanaan yang tidak sesuai dengan perencanaannya, atau mengganti spesifikasi dengan sengaja untuk mendapat keuntungan yang mengakibatkan penurunan pada kapasitas struktur. Oleh karena itu, perlu dilakukan perkuatan sebagai bentuk mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh gaya prategang awal terhadap kinerja kabel baja 2D8 sebagai perkuatan eksternal balok beton bertulang. Parameter pengujian meliputi kapasitas lentur, kekakuan lentur, daktalitas, dan pola retak serta tipe keruntuhan. Penelitian dilakukan terhadap 9 buah balok beton bertulang, masing-masing 1 balok tanpa perkuatan atau balok kontrol (BK), 2 buah balok diperkuat dengan 2 kabel baja dengan gaya prategang awal sebesar 10% (BKH-1), 3 buah balok diperkuat dengan 2 kabel baja dengan gaya prategang awal sebesar 20% (BKH-2), dan 3 buah balok diperkuat dengan 2 kabel baja dengan gaya prategang awal sebesar 30% (BKH-3). Penampang benda uji balok berbentuk persegi dengan dimensi 100 mm x 150 mm x 1000 mm. Pengujian dilakukan dengan metode pembebanan third point loading. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapasitas momen lentur benda uji balok perkuatan mengalami peningkatan terhadap balok kontrol, dengan rasio rata-rata terbesar 1,71 pada benda uji perkuatan dengan gaya prategang awal 30%. Kekakuan efektif benda uji balok perkuatan juga mengalami peningkatan terhadap balok kontrol, dengan rasio rata-rata terbesar 1,43 pada benda uji perkuatan dengan gaya prategang awal 30%. Sedangkan indeks daktilitas benda uji balok perkuatan mengalami peningkatan terhadap balok kontrol, dengan rasio peningkatan terbesar 1,31 pada benda uji perkuatan dengan gaya prategang awal 20%. Pola retak yang terjadi untuk benda uji balok beton bertulang relatif seragam dapat dikategorikan tipe keruntuhan lentur.The failure of the structure is to be avoided for all buildings, include the building with the main construction material of reinforced concrete. One of the causes of structural failure is an error at the time of construction, example at excavation, accident tools, implementation method is not suitable planning, or change the spesification deliberately for profit which resulted in a decrease in the capacity of the structure. Therefore, there need strengthening as a mitigation. The aim of this reseach is the influence of initial prestressed force to the performance of 2D8 wire rope as an external strengthening of reinforced concrete beam. Experimental parameter consist of flexural capacity, effective stiffness, index of ductility, cracking pattern and type of failure. The experiment conducted on 9 reinforced concrete beams, which were a beam without strengthening as a control beam, 2 beam strengthened by 2D8 wire rope with 10% initial presstresed, 3 beam strengthened by 2D8 wire rope with 20% initial prestressed, 3 beam strengthened by 2D8 wire rope with 30% initial prestressed. Cross section of the specimen beam is rectangular with the dimension of 100 mm x 150 mm x 1000 mm. Thrid point loading was set up as a loading method. The results found the flexural capacity of strengthening beam was increased compared to control beam, with the largest ratio is 1,71 realated to the strengthened beam with 30% initial prestressed. Effective Stiffness of strengthening beam were increased compared to control beam, with the largest ratio is 1,43 realated to the sterngthened beam with 30% initial prestressed. While the index of ductility of beam increased compared to control beam, with the lowest ratio is 1,31 realated the strengthened beam with 20% initial prestressed. Cracking pattern of reinforced concrete beam is relatively uniform and can be categorized as flexural failures.
1311116447H1D011031PENGARUH KADAR SEMEN DAN PERBANDINGAN CAMPURAN PARTIKEL AREN-BAMBU TERHADAP SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN SEMENSeiring dengan meningkatnya angka pembangunan konstruksi di Indonesia mengakibatkan berkurangnya ketersediaan kayu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sifat fisika dan mekanika papan semen. Bahan yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kayu yaitu limbah serutan bambu dan limbah serat aren yang diolah menjadi produk komposit papan semen.
Papan semen dibuat dengan mencampur semen, serutan bambu, serat aren, dan air lalu dicetak agar membentuk papan semen. Penelitian ini menggunakan rancangan acak dengan percobaan 2 faktorial yaitu faktor semen (1: 2, 1: 3, 1: 4) dan faktor kadar campuran partikel serat aren – serutan bambu (komposisi 100% - 0%, 50% - 50%, 0% - 100%). Hasil analisis varian yang berbeda kemudian diuji sifat fisika dan mekanika. Parameter yang diuji pada penelitian ini berdasarkan Standar ASTM D143 yaitu kadar air, berat jenis, penyerapan air, perubahan dimensi, kuat lentur (MOR) dan moudulus elastisitas (MOE).
Hasil penelitian menunjukan nilai maksimum dari kadar air yaitu 3,982%, berat jenis yaitu 2,73, perubahan dimensi yaitu 8,65%, penyerapan air yaitu 33,85%, kuat lentur yaitu 451,77 Kg/cm², modulus elastisitas (MOE) yaitu 32196,53 Kg/cm². Sebagian kriteria standar yang memenuhi standar komponen bangunan menurut FAO(1996), yaitu: penyerapan air dan pengembangan tebal/perubahan dimensi.
For the increasing building construction in Indonesia resulted in reduced availability of wood. The purpose of this study to determine the physical and mechanical properties of the cement board. Materials that can be used as an alternative to wood wood is bamboo particle and palm fiber processed into composite products such as cement board.
Cement board is made by mixing cement, bamboo shavings, palm fiber, and water and then molded to form the cement board. This study uses a randomized complete block design with two factorial experiment namely cement factor (1: 2, 1: 3, 1: 4) and factor levels mix palm fiber : bamboo particle mixture content factor (100% : 0%, 50% : 50%, 0 % : 100%). The results of the different variants analysis are tested in physics and mechanics. The parameters tested in this study is based on ASTM D143 standard of the water content, density, water absorption, dimensional change, the bending strength (MOR) and moudulus elasticity (MOE).
The results showed the maximum value of the water content is 3.982%, the specific gravity is 2.73, dimensional change is 8.65%, water absorption is 33.85%, bending strength (MOR) is 451.77 Kg / cm², modulus of elasticity (MOE) is 32196.53 Kg / cm². Most standard criteria which meet the standards of building components according to FAO (1996) is : water absorption and thickness swelling / dimensional change.
1311216448H1D011044PENGARUH GAYA PRATEGANG AWAL PADA PERKUATAN EKSTERNAL BALOK BETON BERTULANG MENGGUNAKAN KABEL BAJA 4D8Kegagalan struktur dapat mengakibatkan kerugian baik secara materil maupun korban jiwa. Oleh karena itu merupakan hal yang harus dihindari untuk semua bangunan, tidak terkecuali bangunan dengan material atau bahan konstruksi utama beton bertulang. Salah satu penyebab dari kegagalan struktur adalah material yang tidak bermutu. Meskipun terdapat sampel material yang diuji dan telah memenuhi spesifikasi teknis yang ada tetapi dapat saja terjadi cacat yang tidak terdeteksi dan baru diketahui setelah terjadi kegagalan sehingga tidak dapat dikategorikan kesalahan perencana atau pelaksana. Oleh karena itu, perlu dilakukan perkuatan sebagai bentuk mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh gaya prategang awal terhadap kinerja kabel baja 4D8 sebagai perkuatan eksternal balok beton bertulang. Parameter pengujian meliputi kapasitas lentur, kekakuan lentur, daktalitas, dan pola retak serta tipe keruntuhan. Penelitian dilakukan terhadap 4 buah tipe balok beton bertulang, masing-masing 1 balok tanpa perkuatan atau balok kontrol (BK),2 buah balok tipe 1 yang diperkuat dengan 4 kabel baja dengan gaya prategang awal sebesar 10% (BPA-1), 3 buah balok tipe 2 yang diperkuat dengan 4 kabel baja dengan gaya prategang awal sebesar 20% (BPA-2), dan 3 buah balok tipe 3 yang diperkuat dengan 4 kabel baja dengan gaya prategang awal sebesar 30% (BPA-3). Penampang benda uji balok berbentuk persegi dengan dimensi 100 mm x 150 mm x 1000 mm. Pengujian dilakukan dengan metode pembebanan third point loading. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapasitas momen lentur benda uji balok yang diberi perkuatan mengalami peningkatan terhadap balok kontrol, dengan rasio rata-rata terbesar mencapai 2,3. Kekakuan efektif benda uji balok perkuatan juga mengalami peningkatan terhadap balok kontrol, dengan rasio rata-rata terbesar mencapai 1,48. Sedangkan indeks daktilitas benda uji balok perkuatan relatif mengalami penurunan terhadap balok kontrol, dengan rasio rata-rata penurunan mencapai 0,87. Pola retak yang terjadi untuk benda uji balok beton bertulang relatif seragam dapat dikategorikan tipe keruntuhan lentur.

The failure of the structur can causes loss of both material and fatalities.
Therefore is to be avoided for all buildings, include the building with the main
construction material of reinforced concrete. One of the causes of structure
failure is a material that is not qualified. Although there are samples of material
were tested and found to meet the technical specifications that are present but
may occur defects are not detected and only discovered after a failure that can not
be categorized as fault of planner or executor. Therefore, there need
strengthening as a mitigation. The aim of this reseach is the influence of initial
prestressed force to the performance of 4D8 wire rope as an external
strengthening of reinforced concrete beam. Experimental parameter consist of
flexural capacity, effective stiffness, index of ductility, cracking pattern and type
of failure. In this experiment conducted on 9 reinforced concrete beams, which
were a 1 beam without strengthening as a control beam, 2 beam strengthened by
4D8 wire rope with 10% initial presstresed, 3 beam strengthened by 2D8 wire
rope with 20% initial prestressed, 3 beam strengthened by 4D8 wire rope with
30% initial prestressed. Cross section of the specimen beam is rectangular with
the dimension of 100 mm x 150 mm x 1000 mm. Thrid point loading was set up as
a loading method. The test results show that the flexural capacity of strengthening
beam was increased compared to control beam, with the largest ratio is 2,3
Effective Stiffness of strengthening beam were increased compared to control
beam, with the largest ratio is 1,48. While the index of ductility of beam decreased
compared to control beam, with the lowest ratio is 0,87. Cracking pattern of
reinforced concrete beam is relatively uniform and can be categorized as flexural
failures.
1311316449D1E012077TOTAL MIKROBA DAN TINGKAT KEASAMAN SUSU DI KELOMPOK PETERNAK SAPI PERAH KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui total mikroba dan tingkat keasaman susu di kelompok peternak sapi perah Andini Lestari I dan Andini Lestari II. Metode penelitian yaitu survei dengan analisis data uji “t” dan analisis deskriptif dengan hasil wawancara/pengamatan/observasi lingkungan dan uji laboratorium. Variabel yang diukur yaitu total mikroba (cfu/ml) dan tingkat keasaman (%). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis uji “t”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total mikroba dan tingkat keasaman susu di kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P=0,096>0,05) untuk total mikroba dan (P=0,179>0,05) untuk tingkat keasaman. Kelompok peternak sapi perah Andini Lestari I memiliki rataan total mikroba sebesar 109846,2 cfu/ml (1,1 x 105 cfu/ml) ± 0,096, sedangkan di kelompok peternak sapi perah Andini Lestari II memiliki rataan total mikroba 323571,4 cfu/ml (3,2 x 105cfu/ml) ± 0,096. Kelompok peternak sapi perah Andini Lestari I memiliki rataan tingkat keasaman sebesar 0,169% ± 0,179, sedangkan di kelompok peternak sapi perah Andini Lestari II memiliki rataan tingkat keasaman 0,175% ± 0,179. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas susu di kedua kelompok cukup baik dan layak dikonsumsi karena berdasarkan total mikroba masih dibawah batas nilai maksimum cemaran mikroba yang disyaratkan oleh SNI (2011) yaitu tidak lebih dari 1 x 106 cfu/ml dan tingkat keasaman masih normal antara 0,10% - 0,26% (Hadiwiyoto, 1994).This research aimed to determine the total microbial and acidity levels of milk at the Andini Lestari I and Andini Lestari II dairy farmers group. The research method was survey with the "t" test analysis and a descriptive analysis of the results of the interview/observation /environmental observation and laboratory testing. The measured variable were the total microbial (cfu/ml) and acidity (%). Data were analyzed using "t" test analysis. The results showed that the total microbial and acidity level of milk in both groups showed no significant differences (P = 0.096> 0.05) for total microbial and (P = 0.179> 0.05) for acidity level. The Andini Lestari I dairy farmers group have the average total microbial 109,846.2 cfu/ml (1.1 x 105 cfu/ml) ± 0.096, while in Andini Lestari II dairy farmers group have a total microbial average of 323,571.4 cfu/ml (3.2 x 105 cfu/ml) ± 0.096. The Andini Lestari I dairy farmers group have average acidity level of 0,169% ± 0,179, while in the Andini Lestari II dairy farmers group have acidity level average 0,175% ± 0,179. The conclusion of this research was the quality of milk in both groups based on the total microbial and acidity level was still quite good and be consumed where total microbial was still below the maximum value as required by SNI (2011) which are not more than 1 x 106 cfu/ml and the acidity level was still normal between 0,10% - 0,26% (Hadiwiyoto, 1994).
1311416450D1E012013RENDEMEN DAN WARNA TEPUNG PUTIH TELUR YANG DIBUAT MENGGUNAKAN METODE FREEZE DRAYING DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDAPenelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh lama fermentasi terhadap rendemen dan warna tepung putih telur. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu putih telur ayam ras strain Lohman Brown sebanyak 4.145 gram dan Saccharomyces cereviceae sebanyak 8 gram. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dalam penelitian meliputi P1 : putih telur dengan lama fermentasi 3 jam, P2 : putih telur dengan lama fermentasi 6 jam, P3 : putih telur dengan lama fermentasi 9 jam dan P4 : putih telur dengan lama fermentasi 12 jam, setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Peubah yang diukur adalah rendemen dan warna. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa lama fermentasi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap rendemen, namun memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap warna. Rata-rata rendemen dan warna yang diperoleh yaitu 18,52±1,45% (P1), 17,96±2,50% (P2), 18,86±1,93% (P3) dan 18,59±2,28% (P4). Sedangkan untuk rata-rata warnanya yaitu 18,98±0,90% (P1), 19,04±0,85% (P2), 17,65±1,64% (P3), dan 15,47±1,08% (P4). Kesimpulan dari penelitian adalah lama fermentasi putih telur menggunakan Saacharomyces cereviceae menghasilkan rendemen yang tetap dan warna tepung putih telur yang semakin cerah.

The purpose of this research was to investigate the effects of fermentation time on rendement and color of egg white powder. A total of 4.145 g eggs of commercial strain Lohman Brown and eight g of Saccharomyces cereviceae were used in this resource. The research was conducted using experimental method with the design Complete Randomized Design (CRD). The treatments was P1 : egg white with fermentation for 3 hours, P2 : egg white with fermentation for 6 hours, P3 : egg white with fermentation for 9 hours and P4 : egg white with fermentation for 12 hours, each treatmen was 5 replicated. Variables were measured rendement and color. The results showed that fermentation time not significant effects on rendement, but significant effect on color egg white powder. The averages of the rendement and color of egg white powder were 18,52±1,45% (P1), 17,96±2,50% (P2), 18,86±1,93% (P3), 18,59±2,28% (P4) and 18,98±0,90% (P1), 19,04±0,85% (P2), 17,65±1,64% (P3), 15,47±1,08%, (P4) respectively. The conclusion of this resource showed that fermentation time until 12 hours of egg white by Sacccharomyces cereviceae can improve the color of egg white powder but the rendement similiar.
1311516451H1D012055OPTIMASI STRUKTUR RUMAH SUSUN 4 LANTAI TIPE-24 PURWOREJO UNTUK MENDAPATKAN EFISIENSI BIAYAStruktur bangunan gedung merupakan suatu elemen yang dipengaruhi oleh letak geografis dan fungsi bangunan tersebut. Perbedaan letak geografis akan menghasilkan kebutuhan struktur yang berbeda. Objek penelitian adalah rumah susun akademi kebidanan Purworejo dengan desain tipikal untuk beberapa wilayah. Pembangunan rumah susun dilakukan pada tahun 2015. Desain tipikal yang digunakan pada wilayah yang berbeda berpotensi boros karena kebutuhan struktur yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan efisiensi dengan mengoptimalkan desain elemen struktur sesuai letak geografis dan fungsi bangunan. Optimasi elemen struktur dengan memodelkan struktur dalam 3-D (space frame) menggunakan SAP 2000 tanpa merubah konfigurasi desain eksisting. Struktur redesain merupakan model eksisting dengan mengubah dimensi balok dan kolomnya. Analisa redesain dilakukan untuk mendapatkan penampang baru dan jumlah tulangan yang digunakan pada struktur redesain. Efisiensi biaya didapatkan dengan membandingkan antara biaya struktur eksisting dengan struktur redesain. Hasil analisis yang dilakukan menunjukan bahwa rata-rata rasio kapasitas penampang balok naik dari 0,3 menjadi 0,59 (49,98%) dan untuk elemen kolom naik dari 0,25 menjadi 0,51 (51,51%). Analisa biaya pada struktur eksisting sebesar Rp2.790.338.649 dan biaya redesain sebesar Rp2.322.295.638, efisiensi yang didapatkan yaitu sebesar Rp468.043.012 (16,77%).The building structure is an element that is influenced by the geographical location and function of the building itself. The differences in geographical location will result in different structural needs. The object of the study is the flat of Midwifery Academy in Purworejo with typical design for several areas. The building process started in 2015. The typical design which is used tends to be too extravagant due to the different structural needs. The purpose of this study is to obtain efficiency by optimizing the design of element structure based on the geographic location and building’s function. The optimizing of element structure is done by modeling the structure in 3-D (space frame) using SAP 2000 without changing the existing configuration design. The redesign structure can be defined as the existing design with the changes in beam and column dimension. Redesign analysis was done for obtaining new section and the amount of reinforcement used in the redesigned structure. Cost efficiency was obtained by comparing the existing and redesigned structure cost. The result of the analysis showed that the average of beam section capacity ratio increased from 0.3 to 0.59 (49.98%) and for column element increased from 0.25 to 0.51 (51.51%). The cost analysis of existing structure was at the rate of Rp2.790.338.649 and the redesign cost at the rate of Rp2.322.295.638, which means there is obtained cost efficiency of Rp468.043.012 (16.77%).
1311616452C1C012075PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS PADA SEKTOR KEHUTANAN
(STUDI KASUS PADA PERUM PERHUTANI KPH BANYUMAS TIMUR)
Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai lahan agrikultur yang sangat luas, salah satunya sektor kehutanan. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan. Hutan di Pulau Jawa dan Bali dikelola oleh Perum Perhutani. Perum Perhutani memiliki aset kehutanan yang merupakan aset biologis. Aset biologis merupakan makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan yang mengalami transformasi biologis. Transformasi biologis menyebabkan perubahan secara kualitatif dan kuantitatif pada makhluk hidup. Adanya transformasi biologis ini menyebabkan aset biologis perlu perlakuan akuntansi yang khusus. International Accounting Standard Board (IASB) telah mengeluarkan standar pelaporan keuangan yaitu International Accounting Standard (IAS) 41 Agriculture yang mengatur tentang perlakuan akuntansi aset biologis. Sektor kehutanan di Indonesia mempunyai standar pelaporan yaitu DOLAPKEU-PHP2H yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan. Evaluasi atas pelaporan asetnya diperlukan agar standar untuk perlakuan akuntansi aset biologis dapat dipertimbangkan untuk dibakukan dalam Standar Akuntansi di Indonesia (SAK).
Penelitian ini dilakukan pada KPH Banyumas Timur yang merupakan pengelola hutan produksi di kawasan Banyumas Timur dan sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan penyajian aset biologis berdasarkan perlakuan akuntansi menurut IAS 41, PSAK 16 Aset Tetap, DOLAPKEU-PHP2H dengan perlakuan akuntansi menurut Perum Perhutani KPH Banyumas Timur. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perum Perhutani KPH Banyumas Timur tidak melaksanakan perlakuan akuntansi sesuai dengan standar yang dibandingkan. KPH Banyumas Timur mengakui seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan aset biologis sebagai biaya. Biaya tersebut diukur berdasarkan jumlah realisasi pengeluaran untuk kegiatan lapangan seperti persemaian, penanaman, pemeliharaan, dan eksploitasi hasil hutan. Pergantian kebijakan laporan keuangan yang dilakukan Perum Perhutani dianggap terlalu cepat sehingga laporannya tidak konsisten.
Indonesia is an agricultural country that has very broad agricultural land, one of which is the forestry sector. Forest is an ecosystem unity in the form of landscape with biological natural resources dominated by trees. Forests in Java and Bali managed by Perum Perhutani. Perum Perhutani has forestry assets which are biological assets. Biological assets are living animals or plants that have biological transformations. Biological transformation causes quantitative and qualitative changes in living things. Biological transformation causes biological assets need special accounting treatment. International Accounting Standard Board (IASB) has published financial reporting standards, namely International Accounting Standard (IAS) 41 Agriculture which regulates the accounting regulation for biological assets. The forestry sector in Indonesia has a reporting standard that is DOLAPKEU-PHP2H issued by the Ministry of Forestry. Evaluation of reporting the assetsis required to be the standard for the accounting regulation of a biological asset can be considered to be standardized in Indonesian Accounting Standard (PSAK).
This research was conducted at the KPH Banyumas East which is the production forest managers in East Banyumas and surrounding region. The purpose of this study was to analyze the differences in the presentation of biological assets is based on the accounting treatment according to IAS 41, IAS 16 Fixed Assets, DOLAPKEU-PHP2H with the accounting treatment by Perum Perhutani KPH East Banyumas. This research is a case study with a qualitative approach.
The results showed that Perum Perhutani KPH East Banyumas not carry out the accounting treatment in accordance with the standards compared. KPH Banyumas Eastern recognize all expenses related to biological assets as an costs. These costs are measured by the amount of expenditures for field activities such as nursery, planting, maintenance, and exploitation of forest products. Substitution policy of financial statements that do Perun Perhutani considered too fast so that the report is not consistent.
1311716453D1E012245PENGGUNAAN LIMBAH IKAN TONGKOL DIHIDROLISIS ENZIM PAPAIN DAN POLLARD FERMENTASI SEBAGAI PENGGANTI KONSENTRAT TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN IOFC (Income Over Feed Cost) AYAM ARABPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari Penggunaan Limbah Ikan Tongkol Dihidrolisis Enzim Papain dan Pollard Fermentasi Sebagai Pengganti Konsentrat Terhadap Konsumsi Pakan dan IOFC ( Income Over Feed Cost) ayam Arab. Manfaat dari penelitian untuk meningkatkan potensi pemanfaatan limbah ikan tongkol dan pollard fermentasi sebagai pengganti konsentrat pabrik untuk ayam Arab dan memberikan informasi penggunaan limbah ikan tongkol dihidrolisis enzim papain dan pollard fermentasi terhadap konsumsi pakan dan IOFC ayam Arab. Penelitian menggunakan metode eksperimental in vivo dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Materi yang digunakan adalah 60 ekor ayam Arab silver petelur umur 28 minggu. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian konsentrat buatan Limbah ikan Tongkol Dihidrolisis Enzim Papain dan Pollard Fermentasi pada level yang berbeda (0%, 12%, 24%, dan 36%) sebagai pengganti konsentrat pabrik. Parameter yang diamati selama penelitian adalah konsumsi pakan dan IOFC( Income Over Feed Cost) ayam Arab. Rataan Konsumsi pakan selama penelitian diperoleh R0 = 76,72 g, R1 = 75,35 g, R2 = 74,62 g, R3 = 69,76 g. Rataan IOFC( Income Over Feed Cost) ayam Arab R0 = Rp. 28.416 , R1 = Rp 26.864 , R2 = Rp 24.998, R3 = Rp 23.530. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa Penggunaan Limbah ikan Tongkol Dihidrolisis Enzim Papain dan Pollard Fermentasi Sebagai Pengganti Konsentrat Terhadap ayam Arab berpengaruh tidak nyata ( P > 0,05 ) terhadap konsumsi pakan, dan IOFC. Dapat disimpulkan bahwa Limbah ikan Tongkol Dihidrolisis Enzim Papain dan Pollard Fermentasi untuk menggantikan konsentrat pabrik sampai level 36 % menghasilkan konsumsi pakan dan income over feed cost (IOFC) yang relatif sama.The study aims to determine the effect of the use of Tuna Fish Waste with Hidrolyzed Papain Enzyme and Fermented Pollard as the Concentrate Substitute on Consumption Feed and IOFC (Income Over Feed Cost) Arab Chicken. The benefits of the research is to improve the potential for the utilization of Tuna Fish waste and fermented pollard as a substitute concentrate for Arab chicken and provide information on the use of hydrolyzed Tuna Fish waste with papain enzyme and fermented pollard of feed and IOFC Arab Chicken. Research using experimental methods in vivo and using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The materials used are 60 Arab chicken silver laying hens aged 28 weeks. The treatments were concentrate feed using Tuna Fish Waste with hydrolyzed Enzyme Papain and fermented Pollard at different levels (0%, 12%, 24% and 36%) as a substitute of concentrate. The parameters observed during the study were the consumption of feed and IOFC (Income Over Feed Cost). The average feed intake during the study was obtained R0 = 76.72 g, R1 = 75.35 g, R2 = 74.62 g, R3 = 69.76 g. The average of IOFC (Income Over Feed Cost) chicken Arab R0 = Rp. 28.416, R1 = Rp. 26.684, R2 = Rp. 24.998, R3 = Rp. 23.530. Results of analysis of variance showed that the use of tuna fish waste with hydrolyzed papain enzyme and fermented pollar as substitute concentrate has not significant (P> 0.05) effect on feed intake, and IOFC. The use of research results tuna fish waste with hydrolyzed papain enzyme and Fermented Pollard to replace the concentrates until level 36% produces feed consumption and income over feed cost (IOFC) are relatively the same.
1311816483G1B012071Efektivitas Pelatihan Pembuatan Media Film Animasi Anemia Ibu Hamil terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan pada Penyuluh Kesehatan di Kabupaten Banyumas.Anemia ibu hamil dapat mengakibatkan infeksi dan perdarahan, yang merupakan faktor utama kematian ibu bersalin. Untuk itu Kabupaten Banyumas melakukan penyuluhan anemia ibu hamil menggunakan leaflet, namun hal tersebut tidak efektif. Di sisi lain, film animasi lebih interaktif dan konsisten. Guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penyuluh kesehatan maka perlu diberikan pelatihan pembuatan media film animasi anemia ibu hamil. Desain penelitian quasy experimental with time series design. Populasi 58 orang penyuluh kesehatan di Kabupaten Banyumas dengan purposive sampling sehingga sampel 33 orang. Pengumpulan data menggunakan angket untuk pengetahuan dan observasi checklist untuk keterampilan. Uji normalitas data menggunakan Saphiro Wilk dan uji beda menggunakan Wilcoxon. Ada perbedaan pengetahuan dan keterampilan pada pretest dan posttest I. Hal tersebut sesuai dengan teori yaitu dalam pelatihan terdapat tahap edukasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang diinginkan. Tidak ada perbedaan pada posttest I dengan posttest II. Hal tersebut terjadi karena metode pelatihan yang lebih mengedepankan praktik membuat materi yang diberikan dapat terekam kuat pada diri responden dan tersimpan dalam memori jangka panjang responden.
Pregnant suffers anemia can lead to infection and bleeding, which is a major factor in maternal mortality. For that, Banyumas give education about pregnant suffers anemia using leaflets, but it is not effective. On the other hand, animated films can be more interactive and consistent than leaflet. To increase the knowledge and skills of health promoter, they should be given training on making animated films about pregnant suffers anemia. The design study is quasy experimental with time series design. The population is 58 health promoter in Banyumas with purposive sampling, so that the sample is 33 people. Collecting data using questionnaires for knowledge and observation with checklist for skills. For analyze the data’s normality its use Shapiro Wilk and to see the data’s difference its use Wilcoxon. There was a difference of knowledge and skills at pretest and posttest I. This is consistent with the theory that the training can increase knowledge and skill. There is no difference at posttest I with posttest II. This could happens because the method of the training that emphasizes the practice of making a given material can be recorded on the respondents strong and stored in long term memory of respondents.
1311916455C1B012044PENGARUH KONFLIK PEKERJAAN-KELUARGATERHADAP
STRESS KERJA:PERANAN DUKUNGAN SUPERVISOR SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI
(Studi pada Rumah Sakit Islam Purwokerto)

Penelitian ini adalah penelitian survey pada Rumah Sakit Islam Purwokerto. Penelitian ini berjudul “Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluarga terhadap Stres Kerja: Peranan Dukungan Supervisor sebagai variabel Pemoderasi (Studi pada Rumah Sakit Islam Purwokerto)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh konflik pekerjaan-keluarga terhadap stres kerja dengan dukungan supervisor sebagai variabel pemoderasi pada Rumah Sakit Islam Purwokerto.Sampel dalam penelitian ini adalah perawat Rumah Sakit Islam Purwokerto sebanyak 64 responden. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi moderasi dengan metode interaksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) konflik pekerjaan-keluargaberpengaruh signifikan positif terhadap stres kerja, (2)dukungan supervisor tidak memiliki pengaruh signifikan dalam memoderasi hubungan antara konflik pekerjaan-keluarga terhadap stress.This research study is a survey on Rumah Sakit Islam Purwokerto. This research entitled “ Influence of Work Family Conflict on Job Stres with Supervisor Support as Moderating Varibale ( Study in Rumah Sakit Islam Purwokerto)”. The aims of this research study is to analyze the influence of work family conflict on job stress with supervisor support as moderating variable at Rumah Sakit Islam Purwokerto. Sample in this research is nurse of Rumah Sakit Islam Purwokertoused 64 respondents. Analytical instruments that used at this research is regression analysis moderation with interaction method.The results showed: (1) work family conflict has positively significant influence on job stress, (2) supervisor support has no significant influence as moderating between work family conflict on job stress.
1312016456C1B012039ANALISIS PENILAIAN HARGA WAJAR SAHAM MENGGUNAKAN PENDEKATAN DIVIDEND DISCOUNT MODEL, PRICE EARNING RATIO DAN PRICE TO BOOK VALUE
(Studi pada Perusahaan Pertambangan Batubara yang Terdaftar di Indeks LQ45 Periode 2010-2014)
Penelitian ini bertujuan untuk menilai harga wajar saham atau nilai intrinsik perusahaan pertambangan batubara yang terdaftar di Indeks LQ45 selama tahun 2010-2014 dengan menggunakan pendekatan Dividend Discount Model (DDM) Pertumbuhan Berganda, Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) yang terdapat pada analisis fundamental perusahaan. Nilai intrinsik yang diperoleh ini kemudian dibandingkan dengan harga pasar sahamnya, untuk selanjutnya dijadikan salah satu dasar keputusan investasi yang tepat di pasar modal.Perbedaan nilai intrinsik saham dan harga pasar saham ini di uji menggunakan analisis Uji PerbedaanPaired Sample T-Test pada aplikasi SPSS versi 17.0.Untuk sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah PT. Adaro Energy Tbk (ADRO), PT. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT. Bukit Asam Tbk (PTBA).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga pasar saham perusahaan batubara yang terdaftar di indeks LQ45 lebih tinggi dari nilai intrinsiknya atau berada pada kondisi overvalued berdasarkan pendekatan DDM Pertumbuhan Berganda dan PBV. Sedangkan untuk pendekatan PER, harga pasar saham perusahaan pertambangan batubara berada pada kondisi undervalued atau harga pasar saham lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Untuk hasil uji signifikansi perbedaan menunjukkan bahwa harga wajar saham yang dinilai menggunakan pendekatan Dividend Discount Model (DDM) Pertumbuhan Berganda, Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) memiliki perbedaan yang signifikan terhadap harga pasar saham perusahaan batubara yang terdaftar di indeks LQ45.
Adapun implikasi dalam penelitian ini adalah saham dengan kondisi overvalued sebaiknya dijual bagi investor dengan orientasi jangka pendek, karena harga yang semakin tinggi ini akan merugikan investor. Namun, bagi investor dengan orientasi jangka panjang ada baiknya untuk mempertahankan saham karena grafik nilai intrinsik saham pada ketiga sampel menunjukkan adanya kenaikan yang berarti kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan semakin meningkat. Untuk saham dengan kondisi undervalued disarankan untuk dibeli baik oleh investor dengan orientasi jangka pendek maupun jangka panjang.
The purpose of this research is to determine the intrinsic value of coal mining company stock listed in LQ45 Index during 2010-2014 period used Dividend Discount Model (DDM) Pertumbuhan Berganda, Price Earning Ratio (PER) and Price to Book Value (PBV) approach. Intrinsic value will compared with market stock value ,henceforth be one of basic for taking investment decision in capial market. Difference of intrinsic stock value with market stock value is tasted by Paired Sample T-Test applies Statistical Package for Social Science (SPSS) 17.0 version software. For this research, the sample used is PT. Adaro Energy Tbk (ADRO), PT. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) and PT. Bukit Asam Tbk (PTBA).
The result of this research showed that the market stock value of the coal mining company listed in LQ45 Index is higher than intrinsic stock value (overvalued) based DDM Pertumbuhan Berganda and PBV approach. While based PER approach, the market stock value of the coal mining company is lower than intrinsic stock value (undervalued). And then, for the result of paired sample t-test showed that based on DDM Pertumbuhan Berganda , PER and PBV approach has a significant difference between intrinsic value with market stock value.
As for the implications of this research is shares with overvalued condition or considered expensive by market should be sell, especially for investor with a short-term orientation because the higher price will make investor loss. However, for investor with long-term should be hold because sample intrinsik stock value graphic showed is increase and its means that market confidance for prospects of the company is increasing too. Next, for shares with undervalued condition should be buy, either by short-term nor long-term orientation.