Artikelilmiahs

Menampilkan 13.141-13.160 dari 49.632 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1314116474H1A012042UJI TOKSISITAS DAN KARAKTERISASI PIGMEN Streptomyces K-2C DAN K-4BSalah satu pemanfaatan mikroorganisme Streptomyces yaitu sebagai penghasil zat warna alami intraseluler yang terdapat pada miselium. Zat warna ekstrak etanol Streptomyces dapat ditentukan nilai LC50 yang diuji dengan metode BSLT. Ekstrak etanol Streptomyces juga akan diuji stabilitas pada pengaruh suhu, penambahan asam dan basa, cahaya, reduktor dan oksidator. Miselium Streptomyces K-2C dan K-4B dapat di ekstraksi menggunakan metode sokletasi dan evaporasi. Hasil sokletasi dan evaporasi akan didapatkan zat warna Streptomyces K-2C dan K-4B yang kemudian dilakukan uji toksisitas dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Ekstrak uji yang menunjukkan nilai LC50 dilakukan karakterisasi suhu, pH, cahaya, reduktor, dan oksidator. Hasil uji BSLT ekstrak etanol Streptomyces K-2C dengan nilai LC50 yaitu 401,966 pada konsentrasi 400 ppm dan ekstrak etanol Streptomyces K-4B yaitu 458,775 pada konsentrasi 500 ppm. Ekstrak etanol Streptomyces K-2C dan K-4B dikategorikan toksik karena nilai LC50 pada konsentrasi kurang dari 1.000 ppm. Hasil karakterisasi ekstrak etanol Streptomyces K-2C dan K-4B lebih stabil pada suhu rendah (4 ºC), pada suasana asam akan membentuk warna merah, pada suasana basa akan membentuk warna kuning, dan tidak stabil dengan adanya senyawa reduktor-oksidator.
One of the utilization of microorganisms Streptomyces is as producer natural dyestuff intracellular that are found on the mycelium. The dye can be determined ethanol extract of Streptomyces LC50 values were tested with BSLT method. The ethanol extract Streptomyces will also be tested at the effects of temperature stability, the addition of acids and bases, light, reductant and oxidant. Mycelium Streptomyces K-2C and K-4B can in the extraction uses the soxhletation and evaporation . The soxhletation and evaporation will get dyestuff Streptomyces K-2C and K-4B and undergone a toxicity by using the method Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Extract test that reflects the LC50 done characterization temperature , ph , light , reducing agents , and oxidizing. Test results BSLT extract ethanol Streptomyces K-2C with value LC50 namely 401,966 at 400 ppm concentration and extract ethanol Streptomyces K-4B namely 458,775 at concentrations 500 ppm .Extract ethanol Streptomyces K-2C and k-4b categorized peroxide because the value of LC50 at concentrations of less than 1.000 ppm .Characterization extracts the results of ethanol Streptomyces K-2C and K-4B more stable at low temperatures (4 ºC) , acid in atmosphere will form a red color , in an atmosphere of bases will form a yellow color , and unstable with the existence of a compound reduktor-oksidator.
1314216475H1A012013PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK BIJI ALPUKAT (Persea gratissima) MELALUI REAKSI TRANSESTERIFIKASI MENGGUNAKAN METANOL DENGAN KATALIS KOHBiodiesel merupakan bahan bakar alternatif terbarukan yang dibuat dari minyak nabati. Dalam penelitian ini, minyak nabati yang digunakan untuk pembuatan biodiesel adalah minyak biji alpukat (Persea gratissima). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi katalis dan waktu terbaik dalam pembuatan biodiesel yang sesuai dengan syarat dan mutu menurut SNI 04-7182-2006 melalui reaksi transesterifikasi. Transesterifikasi dilakukan pada suhu 60 °C perbandingan molar minyak dan metanol 1:6 dengan variasi konsentrasi katalis 0,5%; 1%; dan 1,5% dari berat total serta dengan variasi waktu reaksi 60, 90, dan 120 menit. Hasil dari transesterifikasi dianalisis menggunakan GC-MS dan diuji parameter antara lain densitas, viskositas, angka asam, dan kadar air. Berdasarkan hasil penelitian konsentrasi katalis yang terbaik adalah 0,5% dan waktu yang terbaik 60 menit dengan produk biodiesel dihasilkan sebasar 71,34%. Hasil dari data analisis GC-MS menunjukkan senyawa utama yang terkandung dalam biodiesel yang dihasilkan adalah metil elaidat. Hasil uji parameter untuk densitas dan viskositas seluruh sampel memenuhi SNI. Hasil uji angka asam ada beberapa sampel yang tidak memenuhi standar. Serta pengujian kadar air seluruh sampel tidak sesuai dengan syarat dan mutu menurut SNI 04-7182-2006. Biodiesel is a renewable alternative fuel made from vegetable oil. In this study, the vegetable oils which used for biodiesel production was the seed oil of avocado (Persea gratissima). The purpose of this study to determine the best catalyst concentration and time in making biodiesel in accordance with the terms and quality according to SNI 04-7182-2006 through a transesterification reaction. Transesterification was carried out at a temperature of 60 °C and methanol oil molar ratio of 1:6 with a variation of the catalyst concentration of 0.5%; 1%; and 1.5% of the total weight and the reaction time variation of 60, 90, and 120 minutes. The results of the transesterification was analyzed using GC-MS and tested parameters include density, viscosity, acid number, and moisture content. Based on the research results that the best catalyst concentration was 0.5% and the best time of reaction was 60 minutes with the product of biodiesel produced was 71.34%. The results of GC-MS analysis of the data shows the main compound contained in the resulting biodiesel was methyl elaidic. The test results for the density and viscosity parameters of all samples meet the standards. Testing of the acid number there are some samples that do not meet the standards. As well as testing the water content of all samples was not in accordance with the terms and quality according to SNI 04-7182-2006.
1314316476D1E012020PENGGUNAAN LIMBAH IKAN TONGKOL DIHIDROLISIS ENZIM BROMELIN DAN POLLARD FERMENTASI SEBAGAI PENGGANTI KONSENTRAT TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN IOFC (Income Over Feed Cost) AYAM ARABTujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan limbah ikan tongkol dihidrolisis enzim bromelin dan pollard fermentasi sebagai pengganti konsentrat pabrik terhadap konsumsi pakan dan IOFC ayam Arab. Materi yang digunakan ayam Arab umur 7 bulan sebanyak 60 ekor. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental in vivo dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang di uji adalah R0= Penggunaan kepala Ikan Tongkol dan pollard fermentasi sebanyak 0% (sebagai kontrol), R1= Penggunaan kepala Ikan Tongkol dan pollard fermentasi sebanyak 12%, R2= Penggunaan kepala Ikan Tongkol dan pollard fermentasi sebanyak 24%, R3= Penggunaan kepala Ikan Tongkol dan pollard fermentasi sebanyak 36%. Peubah meliputi Konsumsi Pakan dan IOFC (Income Over Feed Cost). Data di Analisis variansi dilanjutkan uji BNJ. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan limbah ikan tongkol dihidrolisis enzim bromelin dan pollard fermentasi dalam ransum ayam Arab berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan, dan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) pada IOFC (Income Over Feed Cost). Rataan konsumsi pakan R0, R1, dan R2 relatif sama sedangkan R3 berbeda konsumsi pakan lebih sedikit. Analisis variansi Income Over Feed Cost R0, R1, R2, dan R3 relatif sama. Rataan konsumsi pakan hasil penelitian R0, R1, R2, R3, berturut-turut adalah 73,31 (g), 76,35 (g), 75,68 (g), 69,05 (g). Rataan Income Over Feed Cost adalah Rp. 357 Rp. 356 Rp. 330 Rp. 285. Kesimpulan dari penelitian adalah Pemberian limbah ikan tongkol dihidrolisis enzim bromelin dan pollard fermentasi pada ransum ayam Arab dalam level 36% terjadi penurunan pakan, dan IOFC (income over feed cost) relatif sama pada ayam Arab.

“The study aimed to determine the effect of the use of Tuna Fish Waste Hidrolyzed with Bromelain Enzyme and Fermented Pollard as subtitute on feed intake and IOFC of Arab chicken. The material use in this research were 7 month of age of a total of 60 Arab chicken. Research using in vivo experimental methods and using a completely randomized design (CRD) with four treatments and five replications. The treatments is were R0= tuna fish waste Hidrolyzed with Bromelain Enzyme and Fermented pollard as much 0%; R1= tuna fish waste Hidrolyzed with Bromelain Enzyme and Fermented Pollard as much 12%; R2= tuna fish waste Hidrolyzed with Bromelain Enzyme and Fermented Pollard as much 24%; R3= tuna fish waste Hidrolyzed with Bromelain Enzyme and Fermented Pollard as much 36%. Variable analyzed were feed intake and IOFC (Income Over Feed Cost). Data were analyzed using BNJ. Results of analysis of variance showed that the use of Tuna Fish Waste Hidrolyzed with Bromelain Enzyme and Fermented Pollard showed that treatments has significant effect (P<0,05) on feed intake but not significant to IOFC (P>0,05), feed intake R0, R1,R2 were relatively the equal, while R3 showed less intake. Analysis of varians of IOFC treatments R0, R1, R2, and R3 are equal. Average consumtion of R0, R1, R2, R3 were 73,31 (g), 76,35 (g), 75,68 (g), 69,05 (g) respectively. Average IOFC were Rp. 357; Rp. 356; Rp. 330; Rp. 285. It can be concluded that Tuna Fish Waste Hidrolyzed with Bromelain Enzyme and Fermented Pollard in feed Arab chicken could be used to subtitute up to 36% of comersial concentrate with less intake and similar IOFC.
1314416477G1B012047FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSEPSI LAYANAN PEMERIKSAAN HIV PADA IBU HAMIL
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I WANGON
KABUPATEN BANYUMAS
Ibu hamil merupakan salah satu kelompok berisiko terhadap HIV. Pemeriksaan HIV dan sifilis telah terintregasi dalam layanan KIA, namun cakupannya masih rendah. Data Puskesmas I Wangon pada Januari-Maret 2016, hanya 195 (17,01%) ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi layanan pemeriksaan HIV pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif secara crossectional. Populasi berjumlah 509 ibu hamil dengan sampel 70 responden yang dipilih secara cluster random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara bertahap meliputi analisis univariat dan analisis bivariat (Chi square). Hasil penelitian menyatakan responden memiliki 64,3% pendidikan dasar, 91,4% pendapatan rendah, 64,3% pengetahuan baik, 57,1% membutuhkan layanan HIV, 61,4% dukungan bidan baik, 52,9% dukungan suami baik, 52,9% akses informasi kurang dan 52,9% memiliki persepsi positif terhadap pemeriksaan HIV. Berdasarkan analisis bivariat variabel tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, pengetahuan, kebutuhan, dukungan bidan, dukungan suami dan akses informasi tidak behubungan dengan persepsi ibu hamil (p>0,05). Tidak ada hubungan tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, pengetahuan, kebutuhan, dukungan bidan, dukungan suami dan akses informasi dengan persepsi layanan pemeriksaan HIV pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas I WangonPregnant women are one of the groups at risk of HIV. HIV and syphilis test have been integrated in the MCH services, but coverage is still low. Data Puskesmas I Wangon from January to March 2016, 195 (17.01%) pregnant women who had an HIV test. This study aims to determine the factors related with perception of HIV testing for pregnant women. This study used a quantitative analytical research with cross sectional design. Population of 509 pregnant women with a sample of 70 respondents selected by cluster random sampling. Data were collected through interviews using a questionnaire. Univariate and bivariate (Chi square) were used for analysis. The study states 64.3% of respondents had primary education, 91.4% low income, 64.3% good knowledge, 57.1% in need of HIV services, 61.4% good midwife support, 52.9% good husband support, 52.9% lack to access information and 52.9% have a positive perception of the HIV test. By bivariate analysis, education level, family income, knowledge, needs, midwife support, husband support and access to information does’t related with perception of pregnant women (p>0,05). Education level, family income, knowledge, needs, midwife support, husband support and access to information does’t related with perception HIV testing for pregnant women in Puskesmas I Wangon.
1314516478H1K012033EFEKTIVITAS ZONASI BERDASARKAN BIOMASSA IKAN TARGET DI TAMAN NASIONAL TELUK CENDERAWASIH, PAPUA BARATPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi terumbu karang hidup, biomassa ikan target dan efektivitas zonasi di TNTC. Penelitian dilakukan pada 19-29 April 2016. Pengambilan data tutupan karang menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) dan untuk data ikan target menggunakan Underwater Visual Census. Berdasarkan hasil penelitian, persentase tutupan karang hidup terendah terdapat pada stasiun Tj. Patah Hati yang termasuk dalam kategori buruk, sedangkan yang tertinggi terdapat pada stasiun Kwatisore Timur yang termasuk dalam kategori baik. Total biomassa ikan target di zona tangkap sebesar 5.832 kg/ha, sedangkan zona larang tangkap 10.963 kg/ha. Stasiun dengan biomassa ikan target tertinggi adalah stasiun Tj. Yenembre dengan nilai 1750,52 kg/ha dan terendah pada stasiun Tj. Nyurdepum dengan nilai 8,48 kg/ha. Rata-rata biomassa ikan target pada zona larang tangkap (783,12 kg/ha) lebih tinggi dibandingkan zona tangkap (388,83 kg/ha), sehingga dapat disimpulkan bahwa efektivitas zonasi di kawasan TNTC masih efektif.This study aims determine the condition of living coral, fish biomass targets and the effectiveness of zoning in Cenderawasih Bay National Park. The study was conducted on 19 to 29 April 2016. Data collection coral cover used Point Intercept Transect (PIT) and to the data of the target fish used Underwater Visual Census. Based on the results, the lowest percentage of live coral cover was on Tj. Patah Hati station that reflected as bad category, while the highest in East Kwatisore station can be considered as good category. The total biomass of targeted fish in Take Zone area was 5.832 kg/ha, while in No Take Zone area was 10.693 kg/ha. Stations with the highest value of the targeted fish biomass was on Tj. Yenembre station with a value 1750,52 kg/ha and the lowest at Tj. Nyurdepum station with a value of 8,48 kg/ha. The average biomass of targeted fish in the no-take zone area (783,12 kg/ha) was higher than take-zone area (388,83 kg/ha), it was concluded that the effectiveness of zoning in Cenderawasih Bay National Park was effective.
1314616484G1B012069FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP FUNGSI PARU PADA PEKERJA MEBEL DI KOTA PURWOKERTOIndustri mebel merupakan salah satu industri berpotensi menimbulkan polusi udara di tempat kerja yang berupa debu kayu. Debu kayu ini akan mencemari udara dan lingkungannya sehingga pekerja industri mebel dapat terpapar debu karena bahan baku, bahan antara ataupun produk akhir. Bahan pencemar tersebut dapat berpengaruh terhadap gangguan fungsi paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap fungsi paru pada pekerja mebel di Kota Purwokerto. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 41 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran kapasitas paru dengan menggunakan spirometer, pengukuran suhu dan kelembaban dengan thermo- hygrometer, penggunaan masker dengan observasi, dan kuesioner data pekerja. Analisis data dengan analisis univariat, bivariat dengan chi square, dan multivariate dengan regresi logistik berganda. Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya pengaruh bersama-sama antara penggunaan masker (p=0,02; OR=28,21) dan masa kerja (p=0,004; OR=41,70). Masa kerja dan penggunaan masker merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap fungsi paru. Saran, Diadakan pengadaan masker untuk pekerja serta tempat penyimpanan masker yang ideal.The furniture industry is one of many industries that potential to cause air pollution in the workplace in the form of wood dust. Wood dust will contaminate the air and the environment so that workers can be exposed to dust furniture industry for raw materials, intermediate materials or end products. Such contaminants can affect the pulmonary function impairment. The purpose of this study was to determine the factors that influence lung function in furniture informal workers in Purwokerto. The type of research is an analytical observational research with cross sectional study. The sample in this study as many as 41 samples. The data collection is done by measuring lung capacity using a spirometer, the measurement of temperature and humidity with a thermo-hygrometer, the use of mask by observation and questionnaires jobs data. Data analysis by univariate analysis, bivariate with chi square and multivariate by multiple regression logistic. Multivariate analysis indicated the presence of jointly between the use of masks (p = 0.02; OR = 28.21) and tenure (p = 0.004; OR = 41.70). Work period and the use of masks is the most influential factor on lung function. Held procurement of masks for workers as well as storage areas ideal mask.
1314716486H1D012022ANALISIS KRITERIA PEMBANGUNAN TRASE JALAN REL RUTE AJIBARANG-PURWOKERTO DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)Rencana pemilihan alternatif transportasi menggunakan kereta api, dimunculkan akibat keterbatasan pengangkutan semen Bima menggunakan armada truk dalam pendistribusiannya di jalan raya. Untuk menyediakan pelayanan yang baik maka dilakukan pemilihan alternatif transportasi menggunakan kereta api logistik. Dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap kriteria pemilihan jalur kereta api. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kriteria yang dihasilkan yaitu aspek teknis (kondisi geologi dan topografi, desain trase, dan kemudahan pelaksanaan), aspek kesesuaian lahan dan fisik lahan (manfaat lahan, dan kondisi fisik), aspek tata ruang (kesesuaian rencana tata ruang wilayah dan pengembangan kawasan), aspek integrasi dengan jaringan jalan dan jaringan moda transportasi lain (dampak lalu lintas) dan aspek lingkungan hidup dan sosial (cagar alam budaya, konflik sosial dan fisik). Hasil penelitian menunjukkan hasil pembobotan dari masing-masing kriteria. Faktor yang paling utama dalam penentuan jalur kereta rute Ajibarang-Purwokerto adalah kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah 32%, integrasi dengan jaringan jalan dan jaringan moda transportasi lain 22 %, dampak lingkungan hidup dan sosial 21%, kesesuaian lahan dan fisik lahan 14%, dan aspek teknis 11%. Dengan menggunakan metode AHP didapatkan hasil bahwa alternatif I yaitu trase jalan rel yang menggunakan jalur kereta api eksisting, sepanjang 30 km adalah alternatif terbaik dengan skor tertinggi yaitu 9,43. Alternatif III yaitu sebagian membangun trase baru sepanjang 10,2 km, sebagian lainnya menggunakan jalan rel eksisting sepanjang14,1 km dengan total Alternatif III sepanjang 24,3 km diurutan kedua dengan skor 9,29 dan urutan terakhir alternatif II yaitu trase sejajar jalan raya Nasional sepanjang 20,7 km dengan skor 8,66. The election plan alternative transportation by train, appear due to the limitations of transporting the cement truck use in Bima distribution on the highway is already very solid vehicle. To provide a good service then conducted the selection of the alternative transportation using railways logistics. In the study conducted an analysis of the criteria in the selection of the railway line.The analysis is done using analytical hierarchy process (AHP) method. The criteria are technical aspects (geological and topographical conditions, track, and ease of implementation), aspect land and physical suitability of land (land, benefits and the physical condition of land), aspect spatial (spatial plan compliance areas and development areas), aspect integration with the road network and the networks of other modes of transport (traffic impact) and aspect environmental and social (nature reserve of the cultural, social, and physical conflict).Research results showed the weighting of each criterion, that most major factors in determining the route of the railway line to Ajibarang-Purwokerto is conformity with the plan of spatial regions 32%, integration with the road network and the networks of other modes of transport 22%, social and environmental impact of 21%, land suitability and physical land 14%, and technical aspects11%. By using AHP method obtained the results that the alternative I namely for track railway was the way the rail using existing railroad, along the 30 km is the best alternative with the highest score 9.43. Alternative III that is partially built new throughout for track railway was 10.2 km, others existing along the rail road use 14.1 km with a total of alternative III all 24.3 km currently in second with a score of 9.29 and last alternative II, namely for track railway was aligned along the National highways 20.7 km with a score of 8.66 .
1314816127H1K011029ANALISIS MULTITEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT KAITANNYA DENGAN KLOROFIL-A DI PERAIRAN CILACAP MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH MODISPenginderaan jarak jauh telah dimanfaatkan secara luas sebagai sarana untuk memonitoring parameter oseanografi seperti suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a yang berperan penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat akurasi pendugaan suhu permukaan laut dari sensor MODIS dan mengetahui hubungan suhu permukaan laut terhadap konsentrasi klorofil-a dan ENSO di perairan Cilacap. Analisis tingkat akurasi Aqua-MODIS dan hubungan antara suhu permukaan laut dengan klorofil-a menggunakan metode regresi linear. Analisis hubungan antara suhu permukaan laut dengan klorofil-a secara multitemporal dilakukan dengan menghitung rata-rata bulanan kemudian dibagi berdasarkan musim dan saat terjadi ENSO. Hasil validasi suhu permukaan laut dari citra Aqua-MODIS menunjukkan tingkat akurasi yang positif sedangkan hubungan antara suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a adalah negatif dan dipengaruhi oleh musim, perubahan waktu serta fenomena ENSO.Remote sensing has been widely applied for monitoring oceanographic parameters such as sea surface temperature and chlorophyll-a concentration which plays important role due to primary productivity of waters. The purpose of study was to measure the accuracy of sea surface temperature from MODIS sensor, and to determine the relationship between sea surface temperature to chlorophyll-a concentration and ENSO in Cilacap waters. The accuracy of Aqua-MODIS and relationship between sea surface temperature to chlorophyll-a was analyzed by linear regression model. Relationship between sea surface temperature to multitemporally chlorophyll-a concentration determined by calculating its the monthly average, then divided by season and actually time of ENSO. Results showed that the validation of sea surface temperature from Aqua-MODIS had high accuracy while the relationship between sea surface temperature to chlorophyll-a concentration was negative and it influenced by seasonality, monthly variability and ENSO.
1314916507D1E012014PENGARUH BAHAN PEREKAT TEPUNG TAPIOKA, SAGU DAN BENTONIT PADA PELLET AYAM NIAGA PEDAGING PERIODE AKHIR TERHADAP BERAT JENIS DAN FAKTOR HIGROSKOPISPenelitian bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan bahan perekat tepung tapioka, sagu dan bentonit pada pellet ayam niaga pedaging periode akhir terhadap berat jenis dan faktor higroskopis. Materi yang digunakan jagung kuning 1200 g, bungkil kedelai 300 g, dedak halus 110 g, meat bone meal 220 g, bungkil kelapa 100 g, minyak kelapa 40 g, grit 20 g, premix 10 g, tepung tapioka 40 g, sagu 40 g, dan bentonit 40 g. Penelitian dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan terdiri dari 3 macam perlakuan yaitu R1 Ransum basal + 2% perekat tepung tapioka, R2 Ransum basal + 2% perekat sagu dan R3 Ransum basal + 2% perekat bentonit. Variabel yang diukur yaitu berat jenis dan faktor higroskopis. Rataan berat jenis dengan bahan perekat tepung tapioka, sagu dan bentonit yaitu R1 = 0,5227 ± 0,0166, R2 = 0,5352 ± 0,0174, R3=0,5503 ± 0,0069. Rataan faktor higroskopis dengan bahan perekat tepung tapioka, sagu dan bentonit yaitu R1 = 3,9903 ± 0,1960, R2 =3,9067 ± 0,4810, R3 =3,7120 ± 0,4617. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian bahan perekat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap berat jenis pakan pellet ayam niaga pedaging periode akhir. Perlakuan pemberian bahan perekat tidak berpengaruh nyata terhadap faktor higroskopis pakan pellet ayam niaga pedaging periode akhir. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahan perekat terbaik untuk menghasilkan berat jenis yang tinggi yaitu bentonit 2%. Sedangkan faktor higroskopis tidak dipengaruhi oleh bahan perekat dari tepung tapioka, sagu maupun bentonit. The research aimed to know the influence of the use of adhesive of sago, tapioca flour and bentonite in the pellet of broiler chicken diet on density and hygroscopic factor. The material used 1200 gram of yellow corn, 300 gram of soybeans, 110 gram of rice bran, 220 gram of meat bone meal, 100 gram of coconut cake, 40 gram of coconut oil, 20 gram of grit, 10 gram of premix, 40 gram of sago, 40 gram of tapioca flour and 40 gram of bentonite. Research with the experimental methods using Complete Randomized Design (CRD) with 3 treatments and 6 times replication. The treatments are R = basal ration, R1 + 2% of the basal ration is binder tapioca flour, R2 + 2% of the basal ration is binder sago and R3 + 2% of the basal ration is binder bentonite. The variables measured were density and hygroscopic. The average of density with adhesive matter tapioca flour, sago and bentonite respectively were R1 = 0,5227 ± 0,0166, R2 = 0,5352 ± 0,0174, R3 = 0,5503 ± 0,0069. The averages of hygroscopic factor with adhesive matter tapioca flour, sago and bentonite respectively were R1 = 3,9903 ± 0,1960, R2 = 3,9067 ± 0,4810, R3 = 3,7120 ± 0,4617. The results that treatment of granting binder materials has significant affect (P<0,05) toward density of feed pellets of broiler chicken diet. The treatment to the binder materials has not significant affect toward the feed pellets are hygroscopic factor of broiler chicken diet. The conclusion of the study is the best binder materials to produce high density is 2% bentonite.
1315015381C1A012007Analisis Permintaan Gula Pasir Pada Rumah Tangga di Kota Purwokerto
Penelitian ini berjudul “Analisis Permintaan Gula Pasir pada Rumah Tangga di Kota Purwokerto”. Gula pasir merupakan salah satu dari sembilan bahan makanan pokok di Indonesia. Sebagai bahan pemanis utama, gula telah digunakan secara luas dan dominan baik untuk keperluan konsumsi rumah tangga termasuk di Kota Purwokerto. Permintaan gula pasir pada rumah tangga di Kota Purwokerto dari 2010-2014 terus mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan jumlah penduduk Kota Purwokerto setiap tahunnya meningkat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh simultan dan pasrsial variabel harga gula pasir, harga gula merah, harga gula batu, harga teh, harga kopi, pendapatan rumah tangga, dan jumlah anggota keluarga terhadap permintaan gula pasir pada rumah tangga di Kota Purwokerto, serta variabel mana yang paling berpengaruh terhadap permintaan gula pasir pada rumah tangga di Kota Purwokerto. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer, dengan metode pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan teknik propotionate cluster sampling. Model analisis dalam penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda.
Berdasarkan hasil analisis regresi bahwa secara simultan variabel harga gula pasir, harga gula merah, harga gula batu, harga teh, harga kopi, pendapatan rumah tangga, dan jumlah anggota keluarga berpengaruh signifikan terhadap permintaan gula pasir pada rumah tangga di Kota Purwokerto. Kemudian secara parsial harga gula pasir berpengaruh negatif dan signifikan, pendapatan rumah tangga dan jumlah anggota keluarga berpengaruh positif dan signifikan, harga gula merah dan harga gula batu berpengaruh positif tidak signifikan, harga teh dan harga kopi berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap permintaan gula pasir pada rumah tangga di Kota Purwokerto, dari ketujuh variabel yang paling berpengaruh adalah harga gula pasir.
Implikasi yang dapat disampaikan, yaitu apabila harga gula pasir terus mengalami kenaikan maka permintaan gula pasir akan terus menurun. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah membuat kebijakan penetapan harga tertinggi (ceiling Price). Apabila pendapatan rumah tangga mengalami peningkatan, maka permintaan gula pasir juga akan meningkat. Dalam penelitian permintaan gula pasir di Kota Purwokerto lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi nasional, sehingga upaya yang dilakukan untuk menurunkan permintaan gula pasir adalah dengan cara mengurangi anggaran konsumsi gula pasir dari pendapatan rumah tangga digantikan dengan kebutuhan yang lainnya. Apabila jumlah anggota keluarga terus mengalami peningkatan, maka permintaan gula pasir-pun akan terus mengalami peningkatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar permintaan gula pasir tetap terpenuhi adalah dengan cara pemerintah daerah menjaga ketersediaan stok gula pasir, sehingga dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Kota Purwokerto.
This title reseach "Demand Analysis Granulated Sugar on Household in Purwokerto". Granulated sugar is one of nine staple food in Indonesia. As the primary sweetener, sugar has been used widely and dominant both for household consumption include in Purwokerto. Demand on the domestic sugar in Purwokerto from 2010-2014 continued to increase, this is because the population of Purwokerto City increasing annually.
The purpose of this research was to determine the effect of simultan and variable partial granulated sugar prices, price of brown sugar, price of stone sugar, price of tea, price of coffe, household income, and number of family members on the demand of granulated sugar in the household in Purwokerto.. As well as where the most influential variable to dependent variable.
This research is a quantitative, the method that used is survey method. Collected data in this research primary data, with the sampling method using a multistage random sampling with propotionate cluster sampling technique. Analysis model in this research using multiple linear regression model.
Based on the results of the simultan regression variable price of granulated sugar, price of brown sugar, price of stone sugar, price of tea, price of coffee, household income and number of family members gave a significant impact on demand for granulated sugar in the household in Purwokerto. Then the partial price of granulated sugar gave a significant and negative impact, household income and number of family members gave a positive and significant impact, price of brown sugar and price of stone sugar positive impact and not significant, price of tea and price of coffee gave significant and negative impact on the demand for granulated sugar in the houshold in Purwokerto, from the seven variable the most influential is price of granulated sugar.
The implication that can be delivered, if significant negative when the price of granulated sugar continues to rise, the demand for granulated sugar will continue to decline. One thing to do is create a policy of the highest price (ceiling Price). If the household income has increased, the demand for sugar will increase. In the research demand of sugar in Purwokerto higher than the national consumption, so that the efforts made to reduce demand for sugar is a way to reduce sugar consumption budget of the household income is replaced by other needs. If the number of family members continues to increase, the demand for sugar-will continue to increase. One effort to do so as demand for sugar remains unfulfilled is the way local governments maintain sufficient stock of sugar, so it can meet the needs of people in Purwokerto.
1315116488H1K012023REKRUTMEN KARANG (SCLERACTINIA) PADA TERUMBU BUATAN DENGAN KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTAPulau Pari termasuk salah satu pulau kecil Kepulauan Seribu dengan kondisi terumbu karang yang cenderung menurun dari waktu ke waktu. Terumbu buatan merupakan salah satu alternatif mengurangi tekanan akibat penangkapan ikan dan perusakan terumbu karang alami melalui pembuatan daerah penangkapan ikan baru yang produktif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kepadatan, keanekaragaman, dan kesamaan genus rekrutmen karang Scleractinia pada terumbu buatan dengan kedalaman yang berbeda di perairan Pulau Pari. Pengamatan rekrutmen karang pada terumbu buatan dilakukan dengan mengamati masing-masing 10 terumbu buatan pada kedalaman 3 m dan 7 m. Rekrutmen karang yang diamati dibatasi mulai dari koloni yang dapat diamati dengan mata hingga diameter koloni maksimal 10 cm. Kepadatan rekrutmen karang pada terumbu buatan kedalaman 3 m lebih besar yaitu 2,55 koloni/m² sedangkan pada kedalaman 7 m sebesar 2 koloni/m² dengan kategori sangat rendah. Indeks keanekaragaman pada kedalaman 7 m lebih besar yaitu 1,84 sedangkan pada kedalaman 3 m sebesar 0,97 termasuk kategori rendah dan sedang. Kesamaan genus rekrutmen karang pada kedalaman 3 dan 7 m sebesar 40%, sehingga terdapat perbedaan komposisi genus pada kedua stasiun penelitian.Pari Island is one of small islands in Seribu Island which its coral condition tend to decrease over time. Artificial reef is one of alternative to diminish the pressure caused by unsustainable fishing practice which degraded natural coral through the creation of new productive fishing ground. This research aim to figure out the density, biodiversity, and genus similarity toward the recruitment of Scleractinian coral with variety of depth in Pari Island. The observation conducted by observing 10 artificial coral reefs with 3 and 7 m depth. The recruitment limited to corals which are visible with bare eyes to maximum 10 centimeters diameter. The density of coral recruitment in 3 m depth is higher with 2,55 colony/m2 while in 7 m depth is 2 colony/m2 and categorised as low. Biodiversity index in 7 m depth is higher than 3m which are 1,87 and 0,97 respectively and categorised as moderate and low. Genus similarity of coral recruitment 3 and 7 m is 40℅, which indicates there are differences of genus composition within two stations.
1315216489A1H012029Analisis Kehilangan Panas Pengeringan Gula Kelapa Kristal Menggunakan Pengering Tipe Rak (Studi Kasus Di UD. Sansibar Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas).Pengeringan adalah proses pengeluaran atau pemisahan air dalam jumlah yang relatif kecil dari bahan dengan energi panas. Permasalahan yang sering terjadi dalam proses pengeringan bahan makanan yaitu efisiensi pindah panas yang diberikan oleh mesin pengering terhadap bahan yang dikeringkan rendah. Proses pindah panas merupakan hal yang penting dalam pengeringan gula kristal, agar produk gula kristal yang dihasilkan berkualitas bagus dan memiliki umur simpan yang lama. Tujuan dari penelitian ini yaitu menghitung nilai panas efektif dan kehilangan panas selama proses pengeringan gula kelapa kristal menggunakan pengering kabinet. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Variabel yang diukur yaitu perubahan suhu setiap 1 jam pada masing-masing bagian pengering dan kelembaban ruang pengering. Pengering kabinet yang digunakan dalam penelitian ini memiliki 33 loyang dengan kapasitas maksimal 231 kg gula kelapa kristal. Hasil dari penelitian menunjukkan nilai rata-rata panas efektif sebesar 49287,42 kJ dengan persentasi 75,35% dan rata-rata konsumsi bahan bakar sebesar 65412,167 kJ. Besarnya kehilangan panas pada pengeringan ini sebesar 16125,23 kJ dengan persentasi sebesar 24,65%. Kelembaban ruang pengering terendah mencapai 55,50% dengan rata-rata sebesar 58,96%.Drying is expenses or separation process of water in a relative small amount of material with thermal energy. Problems often occured in a drying process material food that heat transfer efficiency is given by the dryer to the dried material is low. The process of heat transfer is important in drying crystals sugar, so that the the resulting good quality and long shelf life of crystal sugar products. This research is aimed to calculated effective heat value and heat lossis during drying process coconut crystal sugar using cabinet dryer. The method used in this research is experimental. Variable measurement are temperature changes every 1 hour on each piece and humidity of drying chamber. Cabinet dryer used in this research have 33 pan with maximal capasity 231 kg coconut crystal sugar. The results of this research showed that average effective heat value of 49287,42kJ with persentage 75,35% and average fuel consumption of 65412.167 kJ. The amount of heat loss on drying of 16125,23 kJ with presentage 24,65%. Minimum humidity drying chamber was 55.50% with an average of 58.96%.
1315316490H1K012017REKRUTMEN KARANG (SCLERACTINIA) PADA TERUMBU BUATAN DAN TERUMBU ALAMI DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTAPulau Pari termasuk salah satu pulau kecil di Kepulauan Seribu dengan kondisi terumbu karang yang cenderung menurun dari waktu ke waktu. Rekrutmen karang penting karena potensi pemulihan terumbu karang tergantung pada proses rekrutmen karang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persentase tutupan karang, kepadatan, keanekaragaman dan kesamaan genus rekrutmen. Persentase tutupan karang menggunakan metode LIT dengan panjang 10 m 3 kali ulangan. Pengamatan rekrutmen karang di terumbu alami menggunakan metode bentik transek kuadrat 1 x 1 m2 dengan 9 kali ulangan. Pengamatan rekrutmen karang di terumbu buatan dilakukan dengan mengamati 6 terumbu buatan. Ukuran karang rekrutmen dibatasi dari ukuran koloni yang dapat diamati secara kasat mata hingga diameter koloni maksimal 10 cm. Persentase tutupan karang 36% dengan kategori sedang. Kepadatan rekrutmen karang di terumbu buatan 2.1 koloni/m2 lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan di terumbu alami 0.9 koloni/m2 dengan kategori sangat rendah. Indeks keanekaragaman rekrutmen karang di terumbu buatan 2.03 lebih tinggi dibandingkan dengan keanekaragaman di terumbu alami yaitu 1.73 dan termasuk dalam kategori sedang. Kesamaan genus rekrutmen karang di lokasi penelitian 26,67 % sehingga terdapat perbedaan pada komposisi genus di kedua stasiun tersebut. Tidak ada perbedaan signifikan (α > 0,05) kepadatan maupun keanekaragaman karang rekrutmen di terumbu buatan dan terumbu alami.Pari Island is one of small island in the Thousand Islands, coral reef condition in this area is likely to decline over time. Coral recruitment is important because the recovery of coral reef depend on coral recruitment process. This study was conducted to determine the percentage of coral live cover, density, diversity and genus similarity of Scleractinia coral recruitment. Observation of percentage live coral cover used the method of Line Intercept Transect (LIT). Observation of coral recruitment in natural reefs used benthic transect method 1 x 1 m2 with 9 replication. Observations on the artificial reef coral recruitment was done by observing the six artificial reefs. The size of recruitment is limited by range which can be observed with eye until maximum 10 cm diameter colony. Percentage coral live cover was 36 % and included in the medium category. The density of coral recruitment on artificial reefs higher at 2.1 colonies/m2 compared with the density of the natural reef, 0.9 colonies/m2 with a very low category. Diversity index of coral recruitment on artificial reefs higher at 2.03 compared to the diversity of the natural reef was 1.73 and included in the medium category. Genus similarity coral recruitment in the study site was 26.67%, so there was a difference in the composition of the genus in both stations. No significant difference (α > 0,05) in the density and diversity of coral recruitment on artificial reefs and natural reef.
1315416491C1L012002THE INFLUENCE OF ACCOUNTING INFORMATION SYSTEM QUALITY,
EFFECTIVENESS OF INTERNAL CONTROL, AND IMPLEMENTATION
OF GOVERNMENT ACCOUNTING STANDARDS TOWARDS
ORGANIZATIONAL PERFORMANCE ON BLUD PUSKESMAS IN
BANYUMAS REGENCY
Perubahan status Puskesmas menjadi BLUD di Indonesia merupakan topik
yang menarik untuk dibahas, karena perubahan status tersebut menuntut
puskesmas mengolah laporan keuangan secara mandiri. Penelitian ini mengambil
judul: “Pengaruh Kualitas Sistem Informasi Akuntansi, Efektivitas Pengendalian
Internal, dan Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah Terhadap Kinerja
Organisasi”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas sistem
informasi akuntansi, efektivitas pengendalian internal, dan penerapan standar
akuntansi pemerintah terhadap kinerja organisasi. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh seluruh Puskesmas BLUD yang terdaftar di Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas. Dengan menggunakan Purposive Sampling Method, total
sampel yang diambil sesuai dengan criteria penelitian adalah sebanyak 39 sampel.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa: (1)
Kualitas sistem informasi akuntansi, efektivitas pengendalian internal, dan
penerapan standar akuntansi pemerintah berpengaruh secara simultan terhadap
kinerja organisasi, (2) Efektivitas pengendalian internal merupakan variabel yang
berpengaruh paling dominan terhadap kinerja organisasi.
The reorganization of Puskesmas becoming into BLUD Indonesia is an
interesting topic to be discussed, because the change in status requires Puskesmas
to process financial reports independently. This research is entitled : "The
Influence of Accounting Information Quality, Effectiveness of Internal Control,
and Implementation of Government Accounting Standards Towards
Organizational Performance". The objective of this research is to determine the
influence of accounting information system quality, effectiveness of internal
control, and implementation of government accounting standards towards
organizational performance. The population in this study is all BLUD Puskesmas
listed on the Banyumas District Health Office. By using purposive sampling
method, the samples selected of this research are accordance with the criteria are
39 Puskesmas. The data then tested using ordinary least Square Regression.
The research and data analysis showed that: (1) Accounting information
system quality, effectiveness of internal control, and implementation of
government accounting standards simultaneously effect on organizational
performance, (2) Effectiveness of internal control variable is the most dominant
effect on organizational performance.
1315516492C1L012012THE INFLUENCE OF INTERNAL AND EXTERNAL FACTORS ON THE
PERFORMANCE OF ACCOUNTING INFORMATION SYSTEM
(Empirical Study on Retail Company in Kab. Banyumas)
Penelitian ini menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi
kinerja sistem informasi akuntansi. Faktor internal adalah ukuran organisasi,
dukungan manajemen puncak, pelatihan dan pendidikan pengguna, dan formalisasi
pengembangan sistem. Faktor eksternal: keterlibatan pengguna dan kemampuan
personel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data primer.
Dalam penelitian ini, data diperoleh dari kuesioner. Objek dalam penelitian ini adalah
UKM di sektor ritel di Banyumas. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ukuran
organisasi dan formalisasi pengembangan sistem tidak mempengaruhi kinerja sistem
informasi akuntansi pada UKM di sektor ritel di Banyumas. Implikasinya adalah
bahwa pemerintah harus mendukung pengembangan UKM sebagai dengan
memfasilitasi UKM dengan sosialisasi untuk meningkatkan kinerja SIA.
This study analyzes the factors that affect the internal and external accounting
information system performance. Internal factors are the size of the organization, top
management support, training and education of users, and the formalization of system
development. External factors: involvement of users and personnel capabilities. This
study uses a quantitative approach with primary data. In this study, the data obtained
from the questionnaire. The object in this study is SMEs in the retail sector in
Banyumas. Results of data analysis showed that the size of the organization and
formalization of system development does not affect the performance of the
accounting information system in SMEs in retail sector in Banyumas. The implication
is that the government should support the development of SMEs as by facilitating
SMEs with socialization to improve the performance of SIA.
1315616493C1L012018THE INFLUENCE OF PROFESSIONAL ETHICS AND AUDITOR
BEHAVIORS TOWARD AUDIT QUALITY ON THE ACCOUNTING
PUBLIC FIRMS
Kantor akuntan publik sebagai penyedia jasa audit, harus mampu
mempertahankan kualitas auditnya untuk menjaga kepercayaan
masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah etika profesional dan
perilaku auditor berpengaruh terhadap kualitas audit di kantor akuntan publik.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Teknis analisis yang digunakan
adalah Regresi Linier Berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor
independen yang bekerja di kantor akuntan publik di Jawa Tengah. Purposive
Sampling Method digunakan dalam penentuan sampel penelitian. Sampel yang
diambil dalam penelitian ini sebanyak 42 auditor dalam 13 kantor akuntan publik.
Hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa: Etika Profesional
dan Perilaku Auditor berpengaruh positif secara signifikan terhadap kualitas audit.
Accounting Public firms as providers of audit services, should be able to
maintain the quality of the audit to maintain public trust.This study aims to determine
whether the auditor's professional ethics and behavior affect the quality of auditing in
the public accounting firm. This research is quantitative. Technical analysis is the
Multiple Linear Regression. The population in this study are all independent auditor
who work in public accounting firms in Central Java. Purposive sampling method
used in the determination of the study sample. Samples taken in this study were 42
auditors in 13 accounting public firms.
The results of the research and analysis of the data showed that:
Professional Ethics and Conduct Auditor positive and significant effect on audit
quality.
1315716494D1E012193KAJIAN PENAMBAHAN EKSTRAK JAHE EMPRIT (Zingiber Officinale Roscoe) TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN WARNA KUNING TELUR ASINTujuan dari penelitian ini untuk mengkaji aktivitas antioksidan dan warna kuning telur asin yang dibuat dengan penambahan ekstrak jahe emprit dengan konsentrasi yang berbeda. Data diambil dari tanggal 19 Juli sampai 12 Agustus 2016. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini dengan 4 perlakuan yaitu: J1= 37,5%, J2= 40%, J3= 42,5% dan J4= 45%, dan perlakuan diulang 5 kali. Data dianalisis dengan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji orthogonal polinomial. Hasil analisis variansi menunjukan bahwa penambahan ekstrak jahe berpengaruh sangat nyata pada aktivitas antioksidan dan warna kuning telur asin (P<0,01). Berdasarkan uji orthogonal polinomial, peningkatan konsentrasi ekstrak jahe emprit akan meningkatkan aktivitas antioksidan dan warna kuning telur asin mengikuti masing – masing persamaan Y= 2,10X – 144,01 (r= 0,90) dan Y= -0,61X + 71,77 (r= 0,96). Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi ekstrak jahe emprit hingga 45% dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan mencerahkan warna kuning telur asin.The aims of these research to investigate antioxidant activity and yolk color of salted egg that was made with different concentration emprit ginger extract. The data was taken from July 19th till August 12th, 2016. Randomized Complete Design was used in these research with four treatment namely: J1= 37,5%, J2= 40%, J3= 42,5% and J4= 45%, and it’s treatment was 5 replicated. The data were analyzed by analysis of variance and to be continued with orthogonal polynomial test. The result of the analysis variance show that added of ginger extract highly significance effect on antioxidant activity and yolk color of salted egg (P<0,01). Based on orthogonal polynomial test, the increase of extract emprit ginger concentration will be increasing antioxidant activity and yolk color of salted egg followed the equation Y= 2,10X – 144,01 (r= 0,90) and Y= -0,61X + 71,77 (r= 0,96), respectirely. The conclusion of the research show that added concentration of extract emprit ginger up to 45 percent can improve antioxidant activity and lightens the color of salted egg yolk.
1315816495D1E012105PENGARUH TEPUNG DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) TERHADAP JUMLAH SEL DARAH MERAH DAN SEL DARAH PUTIH PUYUH MENJELANG BERTELURPenelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penambahan tepung daun sukun (Artocarpus altilis) dalam pakan terhadap peningkatan jumlah sel darah merah dan sel darah putih puyuh menjelang bertelur. Materi Penelitian yang digunakan adalah puyuh betina umur 2 minggu sebanyak 100 ekor. Ransum pakan yang digunakan dalam penelitian terdiri atas jagung 55%, dedak padi 10,4 %, soybean meal 24%, tepung ikan 8%, premix 0,2%, lysin 1%, methionin 0,4%, kapur 1%. Parameter yang diukur adalah sel darah merah dan sel darah putih puyuh. Metode penelitian adalah metode eksperimental menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat taraf perlakuan yaitu S0 : Pakan basal tanpa suplementasi tepung daun sukun, S1 : S0 + tepung daun sukun 0,5% / kg pakan, S2 : S0 + tepung daun sukun 1% / kg pakan, S3 : S0 + tepung daun sukun 1,5% / kg pakan dan lima ulangan. Hasil penelitian diperoleh rataan jumlah sel darah merah puyuh menjelang bertelur berkisar antara 2,92 ± 0,45 106/µl sampai dengan 3,46 ± 0,60 106/µl dan rataan jumlah sel darah putih berkisar antara 7340 ± 1615 sel/µl sampai dengan 9740 ± 2179 sel/µl. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan tepung daun sukun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap jumlah sel darah merah maupun sel darah putih puyuh menjelang bertelur. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jumlah sel darah merah tertinggi terjadi pada taraf penambahan tepung daun sukun 1% dalam ransum yaitu 3,46 (106/µl) dan jumlah sel darah putih tertinggi terjadi pada taraf penambahan tepung daun sukun 0,5 % yaitu 9740 (sel/µl).The purpose of the research was to assess the effect of adding breadfruit leaf flour (Artocarpus altilis) in the feed to increase the on total erytrocyte and leukocyte of quail before the lay eggs. The research materials used were female quails of 2 week old as many as 100 birds. The feed diet used in this research consisted of corn 55%, rice bran 10.4 %, soybean meal 24%, fish meal 8%, premix 0.2%, lysin 1%, methionin 0.4%, chalk 1%. The research method was experimental method, using Completely Randomize Design (CRD) with four treatments, S0 : feed basal without suplementasi flour breadfruit leaves, S1 : S0 + flour breadfruit leaves 0.5% / kg feed, S2 : S0 + flour breadfruit leaves 1% / kg feed, S3 : S0 + flour breadfruit leaves 1.5% / kg feed, and five replications for treatment. The results obtained, the average number of erytrocyte of quail before the lay eggs, ranged between 2.92 ± 0.45 106/µl up to 3.46 ± 0.60 106/µl and the mean of leukocyte counts ranged from 7340 ± 1615 cell/µl to with 9740 ± 2179 cell/µl. The results of analysis of variance showed that the addition of breadfruit leaf flour had no significant effect (P> 0.05) on total erytrocyte and leukocyte of quail before the lay eggs. It can be concluded that the number of erytrocytes occurs at the highest level with the addition of 1% breadfruit leaf flour, 3.46 (106/µl), and the number of leukocyte at the highest level of addition, 0.5 % breadfruit leaf flour, is 9740 (sel/µl).
1315916496H1D009062HUBUNGAN VOLUME, KECEPATAN DAN KEPADATAN LALU LINTAS DENGAN METODE UNDERWOOD
(Studi Kasus : Ruas Jalan Ahmad Yani Purbalingga)
RELATIONSHIP OF VOLUME, SPEED AND TRAFFIC DENSITY
WITH UNDERWOOD METHOD
(Case Study: Ahmad Yani Street Purbalingga)
Jalan Ahmad Yani Purbalingga merupakan jalan di pusat kota terdiri dari dua jalur empat lajur dengan median. Jalan Ahmad Yani merupakan jalan yang menghubungkan pusat kota dengan fasilitas lain seperti pusat perbelanjaan, kantor, sekolah, pariwisata, alun-alun, pabrik dan fasilitas umum lainnya. Di Purbalingga terdapat beberapa industri dengan bahan baku rambut, dan industri knalpot, disaat waktu masuk serta waktu pulang pekerja memberikan tambahan volume lalu lintas. Sering terlihat masyarakat menggunakan sela-sela median jalan sebagai celah ketika menyeberang menuju seberang jalan. Aktivitas samping jalan Ahmad Yani termasuk kategori tinggi karena digunakan sebagai tempat parkir sepeda motor, mobil penumpang, pick-up, angkutan kota, sepeda, dan becak dalam durasi lama.
Data primer meliputi data arus lalu-lintas, data geometrik jalan dan data kecepatan kendaraan diperoleh dari survei di jalan Ahmad Yani Purbalingga pada hari kerja yang diwakili hari Kamis, 2 Juni 2016 dan pada hari libur yang diwakili hari Minggu, 5 Juni 2016. Volume (V), kecepatan (Us) dan kepadatan (D) adalah data primer yang merupakan parameter utama yang digunakan dalam analisis. Data primer selanjutnya dianalisis untuk memperoleh model hubungan antara kecepatan-kepadatan-volume secara matematis dan grafis menggunakan metode Underwood. Tingkat pelayanan jalan didapat menggunakan nilai V/C ratio menurut MKJI 1997.
Dari hasil analisis model Underwood diperoleh persamaan matematis hari kerja sebagai berikut: Us = 38,21 exp(-D/149,81); V = Us 149,81 ln(38,21/Us); V = 38,21 D exp(-D/149,81). Persamaan matematis hari libur sebagai berikut: Us = 45,77 exp(-D/57,40); V = Us 57,40 ln(45,77/Us); V = 45,77 D exp(-D/57,40). Berdasarkan V/C rasio jalan Ahmad Yani Purbalingga memiliki tingkat pelayanan B. Usulan untuk memperbaiki tingkat pelayanan jalan Ahmad Yani Purbalingga adalah dengan meniadakan parkir di badan jalan dan menutup U-turn.
Ahmad Yani street Purbalingga is an urban road consists of two lanes four rows with a median. Ahmad Yani street Purbalingga is a road that connects downtown with other facilities such as shopping malls, offices, schools, tourism, squares, factories and other public facilities. In Purbalingga there are some hair industry with raw materials, and industrial exhaust, while check-in time and return time workers provide additional traffic volume. Ahmad Yani street Purbalingga there are median as line deviders. People often using the road median sidelines to cross the street. Ahmad Yani street Purbalingga side activity was high as a parking for motorcycles, passenger cars, pick-up, public transportation, bicycles, and tricycles in a long duration.
Primary data includes traffic flow, street geometric and vehicle speed obtained from the survey on the Ahmad Yani street Purbalingga on Thursday, June 2, 2016 and on Sunday, June 5, 2016. Volume (V), speed (Us) and the density (D) are the primary data used in the analysis. Primary data was further analyzed to obtain a model of the relation between speed-density-volume mathematically and graphically using Underwood methods. Level of service obtained using the values of V/C ratio according to MKJI 1997.
The analysis of mathematical models Underwood found the equation for Thursday, June 2, 2016 as follows: Us = 38,21 exp (-D / 149,81); V = Us. 149,81 ln (38,21 / Us); V = 38,21 D exp (-D / 149,81). The mathematical equation for Sunday, June 5, 2016 as follows: Us = 45,77 exp (-D / 57,40); V = Us 57,40 ln (45,77 / Us); V = 45,77 D exp (-D / 57,40). By the V/C ratio of Ahmad Yani street Purbalingga have a B level of service. The suggest to improve the level of service Ahmad Yani street Purbalingga is eliminating parking on the road and closing the U-turn.
1316016498A1L010030MORTALITAS BEBERAPA SPESIES KUTU DAUN YANG DISEBABKAN PERLAKUAN MIKROBA ANTAGONIS
Pseudomonas fluorescens
Kutu daun merupakan hama yang penting pada tanaman pertanian. Serangga hama tersebut dapat dikendalikan dengan memanfaatkan musuh alami termasuk mikroba patogenik. Bakteri Pseudomonas fluorescens diketahui dapat membunuh beberapa jenis serangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perlakuan P. fluorescens terhadap mortalitas dan lama hidup kutu daun serta mendapatkan konsentrasi yang efektif dalam membunuh kutu daun tersebut. Penelitian dilaksanakan di Screen house Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan faktor konsentrasi P. fluorescens yang terdiri dari K0 (0 ml/L), K1 (2 ml/L), K2 (4 ml/L), dan K3 (6 ml/L). Jenis kutu daun yang digunakan yaitu Aphis glycines, Aphis craccivora dan Rophalosiphum maydis. Semua perlakuan diberikan kepada semua jenis kutu daun. Variabel yang diamati yaitu mortalitas dan lama hidup kutu daun. Data dianalisis menggunakan uji F dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri P. fluorescens dapat menyebabkan mortalitas kutu daun. Tingkat kematian tertinggi pada masing-masing spesies yaitu A. craccivora sebanyak 68%, A. glycines sebanyak 45% dan R. maydis sebanyak 75%. Konsentrasi P. fluorescens yang paling efektif dalam membunuh kutu daun adalah 2 ml/L.Aphids are important pests in agricultural crops. The insect pest could be regulated by using natural enemies including entomopathogenic microbes. Bacterium Pseudomonas fluorescens is known be able killing some insects. The goals of this research were to examine effect of application of P. fluorescens against mortality and life spend of aphid population and determine the best concentration of P. fluorescens. The research was conducted at Screen house of Plant Protection Faculty of Agriculture Jenderal Soedirman University. This research used non factorial randomized block design with concentration factor P. fluorescens which consisted of K0 (0 ml/L), K1 (2 ml/), K2 (4 ml/L) and K3 (6 ml/L). This research used three species of aphids were Aphis glycines, Aphis craccivora and Rophalosiphum maydis. All treatment were given to all aphids. The variables were mortality and life spend of aphid. Data were analyzed by F test and followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) in 5% error. The research showed that P. fluorescens was killed some aphids. The highest mortality of some aphids was A. glycines about 45%, A. craccivora 68% and R. maydis 75%, with 2 ml/L respectively. The most effective concentration of P. fluorescens to kill aphid was 2 ml/L