Artikel Ilmiah : C1C012075 a.n. RIA AGUSTIN
| NIM | C1C012075 |
|---|---|
| Namamhs | RIA AGUSTIN |
| Judul Artikel | PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS PADA SEKTOR KEHUTANAN (STUDI KASUS PADA PERUM PERHUTANI KPH BANYUMAS TIMUR) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai lahan agrikultur yang sangat luas, salah satunya sektor kehutanan. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan. Hutan di Pulau Jawa dan Bali dikelola oleh Perum Perhutani. Perum Perhutani memiliki aset kehutanan yang merupakan aset biologis. Aset biologis merupakan makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan yang mengalami transformasi biologis. Transformasi biologis menyebabkan perubahan secara kualitatif dan kuantitatif pada makhluk hidup. Adanya transformasi biologis ini menyebabkan aset biologis perlu perlakuan akuntansi yang khusus. International Accounting Standard Board (IASB) telah mengeluarkan standar pelaporan keuangan yaitu International Accounting Standard (IAS) 41 Agriculture yang mengatur tentang perlakuan akuntansi aset biologis. Sektor kehutanan di Indonesia mempunyai standar pelaporan yaitu DOLAPKEU-PHP2H yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan. Evaluasi atas pelaporan asetnya diperlukan agar standar untuk perlakuan akuntansi aset biologis dapat dipertimbangkan untuk dibakukan dalam Standar Akuntansi di Indonesia (SAK). Penelitian ini dilakukan pada KPH Banyumas Timur yang merupakan pengelola hutan produksi di kawasan Banyumas Timur dan sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan penyajian aset biologis berdasarkan perlakuan akuntansi menurut IAS 41, PSAK 16 Aset Tetap, DOLAPKEU-PHP2H dengan perlakuan akuntansi menurut Perum Perhutani KPH Banyumas Timur. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perum Perhutani KPH Banyumas Timur tidak melaksanakan perlakuan akuntansi sesuai dengan standar yang dibandingkan. KPH Banyumas Timur mengakui seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan aset biologis sebagai biaya. Biaya tersebut diukur berdasarkan jumlah realisasi pengeluaran untuk kegiatan lapangan seperti persemaian, penanaman, pemeliharaan, dan eksploitasi hasil hutan. Pergantian kebijakan laporan keuangan yang dilakukan Perum Perhutani dianggap terlalu cepat sehingga laporannya tidak konsisten. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Indonesia is an agricultural country that has very broad agricultural land, one of which is the forestry sector. Forest is an ecosystem unity in the form of landscape with biological natural resources dominated by trees. Forests in Java and Bali managed by Perum Perhutani. Perum Perhutani has forestry assets which are biological assets. Biological assets are living animals or plants that have biological transformations. Biological transformation causes quantitative and qualitative changes in living things. Biological transformation causes biological assets need special accounting treatment. International Accounting Standard Board (IASB) has published financial reporting standards, namely International Accounting Standard (IAS) 41 Agriculture which regulates the accounting regulation for biological assets. The forestry sector in Indonesia has a reporting standard that is DOLAPKEU-PHP2H issued by the Ministry of Forestry. Evaluation of reporting the assetsis required to be the standard for the accounting regulation of a biological asset can be considered to be standardized in Indonesian Accounting Standard (PSAK). This research was conducted at the KPH Banyumas East which is the production forest managers in East Banyumas and surrounding region. The purpose of this study was to analyze the differences in the presentation of biological assets is based on the accounting treatment according to IAS 41, IAS 16 Fixed Assets, DOLAPKEU-PHP2H with the accounting treatment by Perum Perhutani KPH East Banyumas. This research is a case study with a qualitative approach. The results showed that Perum Perhutani KPH East Banyumas not carry out the accounting treatment in accordance with the standards compared. KPH Banyumas Eastern recognize all expenses related to biological assets as an costs. These costs are measured by the amount of expenditures for field activities such as nursery, planting, maintenance, and exploitation of forest products. Substitution policy of financial statements that do Perun Perhutani considered too fast so that the report is not consistent. |
| Kata kunci | aset biologis, IAS 41, perlakuan akuntansi, studi kasus, nilai wajar, penelitian kualitatif |
| Pembimbing 1 | Drs. Sugiarto, M.Si., Ak |
| Pembimbing 2 | Drs. Mafudi, M.Si., Ak |
| Pembimbing 3 | Dra. Yusriyati Nur Farida, M.Si., Ak |
| Tahun | 2016 |
| Jumlah Halaman | 11 |
| Tgl. Entri | 2016-10-29 20:49:39.104196 |