Home
Login.
Artikelilmiahs
9826
Update
RENY PUSPITASARI
NIM
Judul Artikel
Pemanfaatan Lahan Marjinal dengan Ushatani Kacang Tanah di Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Lahan pertanian dibedakan menjadi lahan produktif dan lahan kurang produktif atau lahan marginal. Lahan marginal dijumpai baik pada lahan basah maupun lahan kering. Lahan kering merupakan lingkungan tumbuh utama kacang tanah. Kacang tanah merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang potensial untuk dikembangkan karena mempunyai banyak manfaat bagi manusia. Kecamatan Kalibagor mempunyai potensi yang cukup baik untuk pengembangan kacang tanah karena keadaan iklim dan tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kacang tanah dan sebagian besar areal lahan di Kalibagor merupakan lahan kering yang belum dimanfaatkan secara optimal khususnya di Desa Suro dan Srowot. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui biaya, penerimaan, pendapatan dan mengetahui efisiensi serta menganalisis pengaruh faktor produksi seperti luas lahan, benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja terhadap hasil produksi kacang tanah lahan marjinal di Kecamatan Kalibagor. Metode Penelitian yang digunakan adalah survei. Rancangan pengambilan sampel menggunakan metode Simple Random Sampling, pengambilan data dilaksanakan mulai tanggal 3 Mei sampai 31 Mei 2014, pada petani kacang tanah lahan marjinal Desa Suro dan Srowot Kecamatan Kalibagor. Jumlah petani yang menjadi responden dalam penelitian sebanyak 28 orang. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, pendapatan, R/C, dan fungsi produksi Cobb-Douglas Berdasarkan perhitungan penerimaan rata-rata per hektar petani kacang tanah di Kecamatan Kalibagor adalah Rp10.572.083,70 dan biaya produksi rata-rata per hektar sebesar Rp4.625.668,27, sehingga keuntungan atau pendapatan yang diterima adalah Rp5.946.415,39. Usahatani kacang tanah lahan marjinal di Kecamatan Kalibagor sudah efisien karena R/C lebih besar dari 1 yaitu 2,2. Faktor produksi yang berpengaruh pada usahatani kacang tanah lahan marjinal di Kecamatan Kalibagor adalah luas lahan dan pupuk urea, sedangkan faktor produksi pupuk kandang, pupuk SP-36, pupuk ponska, benih, pestisida, dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap usahatani kacang tanah lahan marjinal.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Agricultural land is differentiated into productive land and the less-land productive or marginal land. Marginal land is found both in wetlands and dry land. Dry land is a major peanut growing environment. Peanut is one of the food crops that are potential to be developed because it has many benefits for human. Sub-district Kalibagor has good potential for the development of peanut because the climate and soil suitable for growing peanuts and most of the land area Kalibagor is a dry land that has not been used optimally, especially in the village of Suro and Srowot. The purpose of the study is to determine the costs, revenues, income and determine the efficiency as well as to analyze the influence of factors of production such as land, seed, fertilizer, pesticides and labor to the production of peanut in Kalibagor’s marginal land. The research method that used in this research was a survey. The design of sampling used simple random sampling method, data collection was conducted from May 3 until May 31, 2014, on marginal lands peanut farmers in Suro and Srowot village. The number of farmers who were become respondents in the study were 28 people. Data were analyzed using analysis of costs, revenues, R / C, and the Cobb-Douglas production function. Based on the calculation of the average revenues per hectare of peanut farmers in Kalibagor is Rp10.572.083,70 and the average cost of production per hectare of Rp4.625.668,27, so that gain or income received is Rp5.946.415,39. Peanut farming of marginal lands in the Kalibagor already efficient as the R / C is greater than 1 is 2.2. Factors that influence the production of peanut farming of marginal lands in Kalibagor are the large of land and urea, while the factors of production of manure, fertilizer SP-36, ponska’s fertilizers, seeds, pesticides, and labor did not significantly affect peanut farming marginal land.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save