Artikelilmiahs
Menampilkan 9.921-9.940 dari 48.947 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 9921 | 11157 | A1C011015 | ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS DURIAN (Durio zibethinus) DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH MENJELANG ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 DI KABUPATEN BANYUMAS | Tahun 2015 akan diwujudkan ASEAN Economic Community (AEC), dengan salah satu elemen utamanya adalah arus bebas barang/produk pertanian. Hal ini menjadi tantangan dan peluang bagi Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara-negara ASEAN. Durian merupakan salah satu komoditas asli ASEAN yang potensial untuk dikembangkan karena konsumsi dan harga jual durian dunia cenderung meningkat. Permasalahan utama durian nasional adalah kualitas dan produksi yang masih rendah. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang menghasilkan durian berkualitas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing, dampak kebijakan pemerintah, dan pengaruh perubahan produktivitas, harga, dan kurs rupiah terhadap komoditas durian di Kabupaten Banyumas menjelang AEC 2015. Metode yang digunakan adalah Matriks Analisis Kebijakan (PAM) dan analisis sensitivitas. Hasil analisis menunjukkan komoditas durian di Kabupaten Banyumas memiliki daya saing, karena nilai Rasio Biaya Privat (PCR) dan Rasio Biaya Sumber daya Domestik (DRC) kurang dari satu serta nilai keuntungan privat dan sosial yang positif. Secara keseluruhan dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing durian di Kabupaten Banyumas memberikan insentif bagi petani, kecuali di sisi ouput karena harga jual durian lebih rendah dibanding harga sosialnya. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa produktivitas, harga durian, dan kurs rupiah mempengaruhi daya saing durian di Kabupaten Banyumas. Upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi dan kualitas durian perlu ditingkatkan agar petani durian di Kabupaten Banyumas mampu menghadapi AEC 2015. | The 2015 year will be manifested ASEAN Economic Community (AEC), one of main elements is free trade of agricultural products/goods. This is a challenge and opportunity for Indonesia to compete with ASEAN countries. Durian is one of the original ASEAN commodity which potential to be developed because the world’s durian consumption and price increase year by year. However, the domestic durian facing various problems, especially quality and production is still low. Banyumas regency is one of areas in Indonesia that produces high quality durian, so this research aims to analyze of the competitiveness, the government policy effect, and the influence of changes in productivity, price, and rupiah exchange rate against durian commodity in there towards AEC 2015. The methods are Policy Analysis Matrix (PAM), and sensitivity analysis. The results is durian commodity in Banyumas Regency have competitiveness, because the value of Private Cost Ratio and Domestic Cost ratio less than one and the value of private and social benefits are positive. For all, the impact of government policy for durian commodity incentively to the farmer, except in output, because the private price durian is cheaper than social price durian. Sensitivity analysis indicates that productivity, the price of durian, and rupiah exchange rate affect the competitiveness of durian in Banyumas regency. The Government must be efforted to increase production and quality of durian, so the durian farmer’s will ready in face of ASEAN Economic Community 2015 in Banyumas regency. | |
| 9922 | 9785 | E1A010036 | KAJIAN HUKUM INTERNASIONAL TERHADAP FUNGSI PENGAWASAN ORGANISASI PELARANGAN SENJATA KIMIA DALAM PENGGUNAAN SENJATA KIMIA OLEH NEGARA SURIAH TAHUN 2013 | Penggunaan senjata kimia dalam perang Dunia I dan II mengakibatkan dampak yang sangat mengerikan bagi para korbannya. Tahun 1992 tim ad hoc dalm Konferensi Perlucutan Senjata menyetujui teks Konvensi Senjata Kimia (Chemical Weapons Convention) mengatur mengenai pengembangan, produksi, penimbunan, penggunaan, serta pemusnahan senjata kimia. Saat ini KSK terdiri dari 191 Pihak, serta berfungsi sebagai pelaksanaaan KSK yaitu the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) atau Organisasi Pelarangan Senjata Kimia. Salah satu kasus mengenai penggunaan senjata kimia pada zaman modern ini adalah pada konflik di Suriah tahun 2013 antara pemerintah dengan pemberontak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi pengawasan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia terhadap negara-negara serta terhadap kasus penggunaan senjata kimia yang terjadi di Suriah. Pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan metode pendekatan kasus (case approach). Metode pendekatan perundang-undangan yaitu menelaah semua perundang-undangan yang berkaitan dengan penelitian. Metode pendekatan kasus yaitu pendekatan dengan cara menelaah kasus yang berkaitan dengan isu hokum yang berkaitan dengan penelitian. Kasus-kasus yang ditelaah merupakan kasus yang telah memperoleh putusan pengadilan berkekuatan hokum tetap. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) diatur dalam Pasal VIII Konvensi Senjata Kimia. Fungsi pengawasan OPCW bertujuan untuk keamanan dan stabilitas global sesuai dengan Pasal III KSK, untuk perlucutan senjata sesuai dengan Pasal IV dan V KSK, dan untuk pembangunan global sesuai dengan Pasal XI KSK. Pada kasus di Suriah OPCW melakukan pengawasan terhadap Suriah atas perintah PBB karena Suriah belum menjadi anggota OPCW, setelah Suriah menjadi anggota OPCW maka semua proses terkait kasus Suriah berada di bawah tanggung jawab OPCW. | The use of Chemical Weapons during World War I and II resulted devastating impact for the victims. In 1992 the ad hoc committee submitte to the Conference on Disarmament the agreed text Convention on the Prohibition of the Development, Production, Stockpiling, and Use of Chemical Weapons, and on Their Destruction or Chemical Weapons Conventions (CWC). Currently, the CWC comprises 191 States Parties, as well as a fully functioning implementing Organization, the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW). The use of Chemical Weapons can be seen in Syria’s case between the government vs belligerent. The purpose of this study is to determine the supervisory functions of the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons to all States and its application in Syria’s case. The approach used in this study is statute approach and case approach. Statute approach is a method to analyze the legislation related to this study. Case approach is a method to analyze the case related to legal issue, especially from case that has been concluded. Based on survey result revealed that the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons set in Article VIII of the CWC. The supervisory function of OPCW aims to maintain the international security and stability in accordance with Article III of the CWC, for general and complete disarmament in accordance with Article IV&V of the CWC, for global economic development in accordance with Article XI of the CWC. In Syria’s case OPCW has no mandate to do their function because at the time Syria was not OPCW member, the investigation in Syria was carried out under a UN mandate. After Syria’s ratified the CWC, then all the processes related to Syria’s case is under the OPCW responbility | |
| 9923 | 9778 | A1L010012 | SEBARAN HARA FOSFAT PADA LAHAN SAWAH DI KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan unsur hara P yaitu P total dan P tersedia di sebagian wilayah Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap dan memetakan sebaran hara P pada lahan sawah dengan skala 1: 50.000 di sebagian wilayah Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survei tanah pada bulan November 2013 – Maret 2014. Survei yang dilakukan adalah survei semi detail. Metode penentuan titik sampel dilakukan dengan porposional sampling yaitu 1 sampai 2 sampel tiap luasan 100 ha. Jenis sampel tanah berupa sampel tanah komposit, yang diambil pada tiap kedalaman 0–20 cm, 20–40 cm dan 40–60 cm. Hasil penelitian menunjukan P total di daerah penelitian, menghasilkan dua klasifikasi penilaian yaitu sangat tinggi dan tinggi, yang tergolong sangat tinggi seluas 1441,117 ha (88,88%) berada di SLH Ac0, Bb0, Ad0 dan Bd0 sebesar 0,084%, sedangkan P total yang tergolong tinggi seluas 180,257 ha (11,11%) berada pada SLH Bc0 dan Ae0 sebesar 0,052%. Sebaran hara P tersedia rata – rata tiap Satuan Lahan Homogen semuanya menunjukan harkat Sangat Rendah seluas 1621,374 ha (100%) dengan nilai P2O5 tersedia sebesar 1,824 ppm. | ABSTRACT This research was meant to find out the content of an element P nutrient namely P total and P available in some areas of the regency in district Kroya, Cilacap regency and mapped to distribution of P nutrient on paddy fields with scale of 1: 50.000 in some areas of the of the regency in district Kroya. Research carried out by using the method land survey in November 2013 - March 2014. Survey conducted is survey spring detail. Method of the determination of the points of samples conducted with porposional of sampling 1 to 2 space a sample of every 100 ha. A kind of soil samples composite, in the form of the soil samples taken at every the depth of 0-20 cm, 20-40 cm and 40-60 cm. The results showed p total in the research area, producing two classification judgment that is very high and lofty, which is quite high by 2,539 1441,117 ha ( 88,88 % ) was in Homogeneous Land Units Ac0, Bb0, Ad0 and bd0 as much as 0,084 %, while p the total high by 2,539 180,257 ha ( 11,11 % ) is at Homogeneous Land Units Bc0 and Ae0 of 0,052 %. To scatter P nutrient available average every a Homogeneous Land Units everybody showed very low by 2,539 1621,374 ha (100 %) with P2O5 available as much as 1,824 ppm. | |
| 9924 | 9781 | P2CD12004 | ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI PADA BADAN LAYANAN UMUM PENDIDIKAN MENURUT TEORI KONTINJENSI LUDER | Badan Layanan Umum (BLU) merupakan instansi pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan melakukan kegiatannya berdasar prinsip efisienssi dan produktivitas. Menurut peraturan yang berlaku, satuan kerja BLU memiliki kewajiban untuk menyusun dua laporan keuangan, yaitu laporan keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). BLU memiliki karakteristik yang berbeda dari satuan kerja pemerintah pada umumnya. Oleh karenanya sudah sewajarnya akuntansi dan pelaporan keuangan BLU diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan khusus BLU. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis inplementasi pelaporan keuangan Badan Layanan Umum serta menganalisis kebutuhan Standar Akuntansi BLU ditinjau dari teori kontinjensi Luder. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus pada BLU Universitas Jenderal Soedirman dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah melalui observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaporan keuangan BLU Unsoed berdasarkan SAK dilakukan dengan berpedoman pada PMK Nomor 76/PMK.05/2008 tentang pedoman akuntansi dan pelaporan keuangan BLU. Hal ini disebabkan belum ada penjelasan secara spesifik SAK mana yang harus digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan bagi BLU. Implementasi pelaporan keuangan BLU Unsoed berdasarkan SAP secara umum telah sesuai dengan SAP Lampiran II. Aplikasi dari model teori kontinjensi Luder (1992) yang disesuaikan terhadap kebutuhan PSAP tentang penyajian laporan keuangan BLU terdiri atas stimuli, variabel struktural produsen informasi, pengguna informasi serta hambatan informasi. Stimuli pada penelitian ini adalah adanya inefisiensi terhadap sumber daya BLU. Variabel struktural dari produsen informasi berupa pemahaman dan kepatuhan BLU terhadap peraturan serta kinerja BLU. Variabel struktural dari pengguna informasi berupa interpretasi laporan keuangan BLU. Hambatan yang mungkin muncul dalam pengimplementasian PSAP tersebut antara lain ketentuan pada PP Nomor 23 Tahun 2005 pasal 26 ayat (2), sistem dan aplikasi yang mengakomodir serta sosialisasi dan pelatihan bagi SDM pelaporan keuangan BLU. | Public Service Agency (BLU) is a nonprofit oriented government agency established to provide service society and its activity is based on efficiency and productivity principles. According to effective regulation, BLU unit is responsible for arranging two financial statements namely Government Accounting Standard (SAP)-based financial statements and Financial Accounting Standard (SAK)-based financial statements. BLU has different characteristics from other governmental units in general. Consequently, it is common that BLU accounting and financial statement is regulated in Governmental Accounting Standard statemen on BLU. The research is aimed at analizing the implementation of BLU financial statement as well as analyzing the need of BLU Accounting Standard viewed from Luder Contingency Theory. It belongs to a case study research in BLU of Jenderal Soedirman University by appliying phenomenology approach. Techniques of data collection include observation, interviewed and library research. The results show that SAK-based financial statement of BLU Unsoed is conducted in accordance with PMK No.76/PMK.05/2008 on the guide of accounting and BLU financial statement. It occurs since there is no spesific clarification which SAK to be used as a basis to arrange financial statement for BLU. The implementation of SAP-based financial statement of BLU Unsoed has generally been in accordance with SAP of appendix II. The aplication of Luder Contongency Theory model (1992) which is adjusted to the need of PSAP on the presenting of BLU financial statements consist of stimuli, structural variables of information producer, information users an implementation barriers. Stimuli of this research are the inefficiencies on BLU resources. Structural variables of information producer comprises BLU understanding and obedience on regulation and BLU performance. Then, structural variables of information useris the interpretation of BLU financial statements. Potencial barriers in implementing the PSAP include the stipulation of PP No.23 Year 2005 article 26 sub section (2), accomodative system and application as well as socialization and training BLU financial statement human resources. | |
| 9925 | 9779 | E1A010227 | Tinjauan Yuridis Terhadap Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum berdasar Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). | Lembaga perbankan merupakan inti dari sistem keuangan dari sistem negara. Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik serta dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan adanya aturan tentang kesehatan bank ini, perbankan diharapkan selalu dalam kondisi sehat. Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 mengatur mengenai Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dengan ketentuan pelaksanaannya sesuai Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/24/DPNP/2011 yang menggantikan peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Bank Umum serta ketentuan pelaksanaanya Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui kewenangan Otoritas Jasa Keuangan dalam penilaian tingkat kesehatan bank umum berdasar Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 serta untuk mengetahui akibat yuridis bagi suatu bank umum yang tidak memenuhi tingkat kesehatan bank. Penelitan ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (Statue Approach) yang bersifat deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari bahan kepustakaan yang didukung dengan data primer dari hasil wawancara. Data diuraikan dalam bentuk teks naratif secara sistematis. Metode analisis data yang digunakan ialah metode normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan telah menerapkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dengan ketentuan pelaksanaannya sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia nomor 13/24/DPNP/2011 tentang Sistem Penilaian Tingkat Bank Umum dan dapat memberikan sanksi administratif apabila suatu tidak memenuhi kriteria bank sehat. | Banking institutions are the essence of the financial system from a State. A bank rate can be defined as ability of a bank to conduct banking operational normally and able to fulfill all of the duties properly to the procedure. With this regulation, hopefully the bank will always in a good condition. Bank Indonesia Regulation No. 13/1/PBI/2011 which regulates General Bank Rating System with the implementing previous based on Bank Indonesia Circular Letter No. 13/24/DPNP 2011 which replace the previous Bank Indonesia Regulation No. 6/10/PBI/2009 about General Bank Rating System and the implementing previous Bank Indonesia Circular Letter No. 6/23/DPNP. The purpose of this research to determine the authority of the Otoritas Jasa Keuangan (OJK) in General Bank Rating System based on Bank Indonesia Regulation No. 13/1/PBI.2011 and then to investigate the juridical consequence for general bank which not fulfill Bank Rating System. This research uses normative juridical with statue approach method in analytical descriptive. Source of data in this research using secondary data from the literature which supported the primary data by interviews result. The data described in text form narrative systematically. Data of analysis method used is normative qualitative methods. The research’s result showed that Otoritas Jasa Keuangan (OJK) has implemented Bank Indonesia Regulation No 13/1/PBI/2011 as a change to Bank Indonesia Regulation No.6/10/PBI/2004 about General Bank Rating System with the implementation accordance Bank Indonesia Circular Letter about General Bank Rating System and may provide administrative punishment if a bank does not fulfill the Bank Rating System’s Criteria. | |
| 9926 | 9782 | C1B010033 | FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN KONSUMEN DALAM MEMILIH KLINIK PERAWATAN KULIT ERHA SKIN (Studi Kasus Pada Konsumen Erha Skin Purwokerto) | Penelitian ini berjudul: “Faktor-Faktor Yang Dipertimbangkan Konsumen Dalam Memilih Klinik Perawatan Kulit Erha Skin (Studi Kasus Pada Konsumen Erha Skin Purwokerto)”. Dari hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan analisis faktor diperoleh kesimpulan bahwa terdapat 12 faktor yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam memilih klinik Erha Skin di Purwokerto, yaitu: faktor emphaty yang terdiri dari variabel apotiker ramah, kasir ramah, resepsionis ramah, dokter ramah, pelayanan memuaskan. Faktor informasi yang terdiri dari variabel informasi dari suami/istri tentang Erha Skin, informasi dari saudara tentang Erha Skin, informasi dari anak tentang Erha Skin. Sikap yang terdiri dari percaya produk Erha dapat memenuhi keinginan konsumen, percaya produk-produk Erha aman untuk digunakan. Lokasi yang terdiri dari lokasi klinik yang strategis, akses transportasi dan visibilitas. Kelas sosial yang terdiri dari tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan yang diperoleh. Persepsi yang terdiri dari kepopuleran klinik dan image klinik yang baik. Motivasi yang terdiri dari keinginan memiliki kulit bersih, keinginan memiliki kulit sehat, keinginan memiliki kulit cerah dan keinginan tampil menarik. Produk yang terdiri dari kualitas produk yang ditawarkan dan jenis perawatan yang ditawarkan. Kelompok referensi yang terdiri dari meniru selebritis yang menjadi pelanggan Erha Skin dan informasi dari teman tentang Erha Skin. Image klinik yang terdiri dari suasana klinik yang nyaman, seragam karyawan yang rapi, dan keterkaitan terhadap nama klinik. Harga yang terdiri dari sistem pembayaran yang ditawarkan dan biaya perawatan serta bukti fisik yang terdiri dari ruang tunggu yang nyaman. Berdasakan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa faktor emphaty yang terdiri dari variabel-variabel apoteker ramah, kasir ramah, resepsionis ramah, dokter ramah, pelayanan memuaskan merupakan faktor yang paling dominan dipertimbangkan oleh konsumen dalam memilih klinik kecantikan Erha Skin di Purwokerto. Bagi segmen pasar yang potensial seperti konsumen klinik kecantikan Erha Skin, ternyata yang paling dominan dipertimbangkan oleh mereka dalam memilih klinik kecantikan Erha Skin di Purwokerto adalah faktor emphaty. | This study is titled: "Factors Considered by Consumers in Choosing Erha Skin Care Clinic (Case Study On Consumer Erha Skin Purwokerto) ". From the research and data analysis using factor analysis we concluded that there are 12 factors considered by consumers in choosing Erha Skin Clinic in Purwokerto, there are: the empathy factor consists of variables friendly pharmacist, friendly cashier, friendly receptionist, friendly doctor, satisfaction service. Factor information consists of variable information from the husband / wife about Erha Skin, information from relatives about Erha Skin, information from the child about Erha Skin. The attitude that consists of believing Erha products to satisfy consumer wants, trust Erha products are safe to use. Location consists of a strategic location clinics, transportation access and visibility. Social class consisting of level of education, employment, and income earned. Perception which consists of popularity clinics and good image clinics. Motivation which consists of the desire to have a clean skin, desire to have healthy skin, a desire to have a bright skin and a desire good looking. The products consist of quality of products offered and the type of treatment offered. Reference group consisting of imitating celebrities who become customers Erha skin and information from friends about Erha skin clinic. Image clinic consisting of comfortable atmosphere, suitable uniform, and suitable name of clinic. The price consists of the offered payment systems and the cost of maintenance of physical evidence consisting of a comfortable waiting room. Based on the research results, it is found that the empathy factor consists of variables friendly pharmacist, friendly cashier, friendly receptionist, friendly doctor, satisfactory service is the most dominant factor considered by consumers in choosing Erha Skin beauty clinic in Purwokerto. Potential for market segments such as consumer Erha Skin beauty clinic, it turns out that the dominant consideration by them in choosing a beauty clinic in Erha Skin Purwokerto is empathy factor. | |
| 9927 | 9783 | F1F007072 | REPRESENTATION OF ASIAN SOCIAL VALUE IN DRAGON SYMBOL ON FIREDRAKE CHARACTER OF DRAGON RIDER NOVEL BY CORNELIA FUNKE | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simbol naga yang muncul dalam Dragon Rider, refleksi nilai sosial masyarakat Asia dalam simbol naga dan bagaimana simbol dapat merefleksikan nilai sosial masyarakat Asia. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data dari novel Cornelia Funke yang berjudul Dragon Rider. Data dalam penelitian ini adalah novel Dragon Rider yang dianalisis menggunakan teori simbolisme dan teori semiotik. Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam menganalisis novel untuk menjawab rumusan masalah. Tahap pertama adalah membaca dan memahami novel. Tahap kedua adalah menemukan data untuk dianalisis, yaitu simbol naga, nilai sosial masyarakat Asia, dan hubungan antara simbol naga dan nilai sosial masyarakat Asia dalam novel Dragon Rider. Tahap ketiga adalah menganalisis sesuai rumusan masalah tentang simbol naga dalam karakter Firedrake, representasi nilai sosial masyarakat Asia dalam simbol naga, dan bagaimana simbol naga merefleksikan nilai sosial masyarakat Asia. Tahap keempat adalah menganalisa data yang berhubungan dengan teori simbolisme dan teori semiotik, dan tahap terakhir adalah membuat kesimpulan. Hasil penelitian menemukan dua simbol naga yang ada di dalam novel. Simbol itu adalah simbol kemakmuran dan simbol keberuntungan yang direpresentasikan lewat tiga objek simbolis (silver scale, Firedrake, dan moonlight). Dua simbol itu merupakan representasi dari nilai sosial seperti Han (konformitas dan penekanan terhadap atribut individual), Enyo (nilai diam-hormat), Gaman (pengorbanan diri demi yang lain). Untuk menunjukan nilai sosial itu, pengarang menggunakan silver/perak sebagai objek/penanda dari simbol kemakmuran karena perak diasosiasikan dengan kekayaan dan ketenangan. Cahaya bulan sebagai objek dari simbol keberuntungan karena cahaya bulan diasosiasikan dengan diam, pasif, dan keberuntungan. Nilai pengorbanan diri terefleksi lewat Firedrake sebagai refleksi dari rasa tanggung jawab seseorang kepada kepentingan masyarakat atau kelompoknya. | This thesis entitled “Representation of Asian social value in dragon symbol on Firedrake character of Dragon Rider novel by Cornelia Funke” is aimed to analyze dragon symbol which appears in Dragon Rider, Asian social value reflection in dragon symbol and how the symbol can reflect Asian social value. In this research, descriptive qualitative method was used to analyze the data from the novel by Cornelia Funke entitled Dragon Rider. The data of this study is Dragon Rider novel which was analyzed by using symbolism and semiotic theory. There were some steps done in extracting and analyzing the novel as the answer of research question. The first was reading and understanding the novel. The second was finding the data to be analyzed about dragon symbol, Asian social value and relation between dragon symbol and Asian social value in Dragon Rider novel. The third was analyzing them dealing with the research question about the dragon symbol in Firedrake character, Asian social value representation of dragon symbol, and how the symbol reflect Asian social value. The fourth was analyzing the data by connecting them to symbolism and semiotic theory. The last step was taking conclusion. From the research, there are two dragon symbols found in the novel. Those are symbol of prosperity and symbol of good luck or fortune that are represented by three symbolic objects (silver scale, Firedrake as silver dragon, and moonlight). Those symbols are representation of social value which are Han (conformity and suppression in individual attributes), Enyo (the conscious use of silence), and Gaman (self-sacrifice for the sake of others). To show the value, the author uses silver as symbolic object of prosperity symbol because silver is associated with wealth and calm, moonlight as symbolic object of good luck symbol because moonlight is associated with silence and fortune. Self-sacrifices are represented by Firedrake sacrifices as the reflection of a person responsibility feeling toward the society or group interest. | |
| 9928 | 11158 | C1K011035 | FACTORS INFLUENCING THE USE OF FINANCIAL DERIVATIVES AS HEDGING DECISION (Empirical Study on Manufacturing Companies Listed in Indonesia Stock Exchange) | Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan keuangan derivative sebagai keputusan lindung nilai (hedging). Penelitian ini memberikan informasi mengenai pengendalian resiko oleh perusahaan di Indonesia akibat fluktuasi pertukaran mata uang asing. Setelah menggunakan metode purposive sampling, total perusahaan yang memenuhi syarat adalah 23 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan manufaktur di Indonesia menggunakan keuangan derivative seperti interest rate swaps, cross currency swaps, foreign currency option, forward, and future contracts. Model Logistic digunakan untuk menguji apakah liquidity, profitability, firm size, growth asset, leverage, dan financial distress mempengaruhi perusahaan untuk meggunakan keuangan derivative sebagai keputusan lindung nilai (hedging). Pengujian terhadap model menyimpulkan bahwa model fit dengan data. Dari hasil penelitian, profitability, firm size, growth asset, dan financial distress adalah signifikan menjelaskan penggunaan keuangan derivative sebagai keputusan lindung nilai (hedging) sedangkan liquidity dan leverage tidak signifikan. Perusahaan dengan tingkat keuntungan yang cukup tinggi mengartikan bahwa perusahaan tersebut memiliki kesempatan pertumbuhan aset yang sangat tinggi, dan jauh dari kebangkrutan sehingga memampukan perusahaan tersebut melakukan ekspansi pasar. Untuk mencegah permasalahan keuangan yang muncul akibat fluktuasi pertukataran mata uang asing, perusahaan sebaiknya mengimplementasikan kebijakan lindung nilai (hedging) terhadap bisnis unitnya.Perubahan sekecil apapun yang terjadi di pasar akan memberikan kerugian besar kepada setiap perusahaan karena mereka telah terlibat dalam transaksi bisnis yang sangat besar. Meskipun aktivitas hedging mencegah perushaan dalam menghadapi kebangkrutan, perusahaan yang telah memiliki utang yang sangat besar sebaiknya mengurangi pengunaan keuangan derivative dikarenakan perusahaan harus menyediakan dana yang cukup tinggi dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut. | The main objective of this study is to determine factors influence derivative usage in Indonesian firms. This study provides a perspective on managing the risk that Indonesia firm’s face due to fluctuating exchange rates. After using purposive sampling method, the samples consist of 23 manufacturing companies listed on Indonesia Stock Exchange (IDX). Indonesia manufacturing company uses derivative financial instruments such as interest rate swaps, cross currency swaps, foreign currency option, forward, and future contracts. Logistic model was used to test whether the liquidity, profitability, size, growth, leverage and financial distress influence firms to use financial derivative as hedging decision. The accuracy test of models showed that the model fit with the data. From the result profitability, firm size, growth asset, leverage, and financial distress are significant to explain the derivative usage as hedging decision whereas liquidity and leverage are insignificant. Firm with high profitability and high growth asset means, this firm are far from the bankruptcy (low financial distress). This firm have more complicated and geographically dispersed operations. Therefore, this firm is required to reduce the risk via hedging as they are involved in a larger and international business trading.Any little changes in the market will cause the firm to suffer huge losses as they are involved in a huge amount of business transaction. Although, hedging activities prevent the firms from falling into insolvent situations or even face bankruptcy. The firms with higher debt suggested to not applying more of derivatives because they need to pay a lot to implement this policy and it may cause a very burden to the firm. | |
| 9929 | 9786 | C1B011084 | ANALISIS PENGARUH RESPON LINGKUNGAN BISNIS TERHADAP STRATEGI OPERASI DAN RESPON STRATEGI OPERASI TERHADAP KINERJA OPERASIONAL DENGAN ADOPSI TEKNOLOGI SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi pada Sentra Industri Knalpot di Purbalingga) | ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk menguji dan menganalisis peran lingkungan bisnis terhadap strategi operasi. (2) Untuk menguji dan menganalisis peran strategi operasi terhadap kinerja operasional. (3) Untuk memeriksa dan menganalisa peran adopsi teknologi dalam memperkuat pengaruh strategi operasi terhadap kinerja operasional. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan analisis regresi. Obyek penelitian ini adalah Sentra Industri Knalpot di Kabupaten Purbalingga. Sumber data yang diperoleh dari kuesioner sebagai data primer dan sastra sebagai data sekunder. Analisis aritmatika Hasil regresi menunjukkan persamaan regresi menjadi Y2 = 0,490 + 0,218 X + 0,473 Y1 + 0,378 M, berarti untuk menilai kinerja operasional akan meningkat 0.490 poin jika variabel lingkungan bisnis, strategi operasi, adopsi teknologi adalah 0 (nol). Kinerja operasional akan meningkat 0,218 poin jika variabel lingkungan bisnis sampai satu titik sedangkan variabel lainnya konstan. Kinerja operasional akan meningkat 0,473 poin jika variabel strategi operasi sampai satu titik sedangkan variabel lainnya konstan (tetap). Kinerja operasional akan meningkat 0,378 poin jika variabel adopsi teknologi naik satu poin sementara variabel lain konstan (tetap). Menilai koefisien determinasi (R Square) dari 0,509 berarti bahwa sumbangan pengaruh variabel lingkungan bisnis, strategi operasi, adopsi teknologi terhadap kinerja operasional sebesar 50,9 persen, sedangkan 49,1 persen sisa kontribusi variabel lain yang tidak diteliti. Kata kunci: Lingkungan Bisnis, Strategi Operasi, Adopsi Teknologi, Kinerja Operasional | ABSTRACT The purpose of this study is (1) To test and analyze the role of the business environment of the operation strategy. (2) To test and analyze the role of the operation strategy of operational performance. (3) To examine and analyze the role of technology adoption in strengthening the influence of the operation strategy of operational performance. This study used a survey method with regression analysis. Object of this study is the Center of Exhaust Industrial in Purbalingga Regency. Sources of data obtained from the questionnaire as the primary data and literature as secondary data. Analysis arithmetic result regression points out regression equation be Y2 = 0.490 + 0.218 X + 0.473 Y1 + 0.378 M, means to assess operational performance will increase by 0.490 point if the business environment variable, the operation strategy, the adoption of technology is 0 (zero). Operational Performance will increase by 0.218 point if the business environment variable up one point while the other variables constant. Operational performance will increase by 0.473 point if operation strategy variable up one point while the other variables constant (constant). Operational performance will increase by 0.378 point if the technology adoption variable moved up one point while the other variables constant (fixed). Assessing the coefficient of determination (R Square) of 0.509 means that the contribution the influence of business environment variables, the operation strategy, technology adoption of operational performance amounted to 50.9 percent, while the remaining 49.1 percent of the contribution of other variables not examined. Keywords: Business Environment, Operation Strategy, Technology Adoption, Operational Performance | |
| 9930 | 9787 | C1A009103 | FAKTOR- FAKTOR YANG MEMENGARUHI KUNJUNGAN OBJEK WISATA TAMAN MINI INDONESIA INDAH (TMII) PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA (DKI) JAKARTA | Penelitian ini berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kunjungan Objek Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta”. Penelitian ini bertu juan untuk menganalisis faktor- faktor yang memengaruhi kunjungan objek wisata Taman Mini Indonesia Indah. Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung objek wisata Taman Mini Indonesia Indah. Sampel yang diambil 100 orang responden dan ditentukan dengan Accidental Sampling. Variabel yang diteliti adalah biaya kunjungan ( X1 ), pendapatan (X2 ), sarana prasarana ( X3 ), pelayanan ( X4 ), pengalaman berkunjung ( X5 ). Alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Uji asumsi klasik menggunakan uji heteroskedastisistas, uji nornalitas, uji autokorelasi, uji multikolinearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi disesuaikan (adjusted R Square) sebesar 0,707, artinya bahwa biaya kunjungan, pendapatan, sarana prasarana, pelayanan, pengalaman berkunjung mampu menjelaskan variabel dependen yaitu kunjungan wisata sebesar 70,7 persen, sedangkan sisanya 29,3 persen dijelaskan oleh vari abel lain yang tidak diteliti. Berdasarkan hasil Uji F diketahui secara bersama- sama variabel biaya kunjungan, pendapatan sarana prasarana berpengaruh signifikan terhadap kunjungan wisata di objek wisata Taman Mini Indonesia Indah. Secara parsial dengan me nggunakan Uji t variabel biaya kunjungan, pendapatan, sarana prasarana, pelayanan, pengalaman berkunjung berpengaruh signifikan terhadap kunjungan wisata di objek wisata Taman Mini Indonesia Indah. | This research is titled “Factors that affecting to visit tourism object Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Province of Special Capital Region (DKI) Jakarta”. The objectives of this research is to analyze the factors that affecting to visit tourism object Taman Mini Indonesia Indah (TMII). The population of this research are the Taman Mini Indonesia Indah visitors. This research took a sample of 100 respondents and determined by Accidental Sampling. Research variabel are visit cost (X 1), income (X 2), infrastructure (X 3), services (X 4 ), and experience of previous visit (X 5 ). Data analysis method that utilized is multiple linear regression. Classical assumption test used heteroscedasticity test, normally test, autocorrelation test, and multicollinearity test. Research result shows that adjusted R -Square value is 0.707. It means that 70.7 percent of the visit tourism can be explainned by visit cost , income, infrastructure, services, and experience of previous visit , and the others 29.3 percent can be explained by another variable that not include in this research. F test shows that visit cost , income, infrastructure, services, and experience of previous visit simultaniously have significant effect to visit Taman Mini Indonesia Indah (TMII) . Partially used t test, visit cost , income, infrastructure, services, and experience of previous visit have significant effect to visit Taman Mini Indonesia Indah (TMII). | |
| 9931 | 9789 | C1B011083 | ANALISIS PENGARUH MAKRO EKONOMI DALAM NEGERI DAN INDEKS HARGA SAHAM LUAR NEGERI TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2009-2013 | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh tingkat inflasi, BI rate, kurs valuta asing, indeks Dow Jones, indeks Nikkei 225 dan indeks Hang Seng terhadap pergerakan IHSG. Penelitian ini dilakukan selama periode Januari 2009 sampai Desember 2013. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, tinjauan pustaka dan pencarian internet. Penelitian ini menggunakan model regresi berganda sebagai sarana menguji hipotesis. Populasi dalam penelitian ini adalah Bursa Efek Indonesia, dengan menggunakan purposive sampling sebagai teknik sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi, BI rate, indeks Nikkei 225 dan indeks Hang Seng tidak berpengaruh signifikan terhadap IHSG, sedangkan kurs valuta asing dan indeks Dow Jones berpengaruh signifikan terhadap IHSG. | The purpose of this research was to analyze the effect of the inflation rate, the BI rate, foreign exchange rates, the Dow Jones, the Nikkei 225 index and the Hang Seng index againts movement Jakarta Composite Index. This research was conducted during the period January 2009 until December 2013. Data collection techniques used the method of documentation, literature review and internet search. This research used multiple regression model as a means of testing the hypothesis. Population in this study was the Indonesia Stock Exchange, using purposive sampling as a sampling technique. The results of this research showed that the rate of inflation, the BI rate, the Nikkei 225 index and the Hang Seng index had no significant effect on Jakarta Composite Index, while the foreign exchange rates and the Dow Jones index had significant effect on Jakarta Composite Index. | |
| 9932 | 6345 | P2BA11008 | MASKULINISASI IKAN CUPANG (Bettasplendens) DENGAN KOMBINASI PERENDAMAN MADU DAN PERLAKUAN FOTOPERIOD | Akuakultur merupakan kegiatan memproduksi organisme akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan dengan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Beberapa spesies ikan hias, yang dibudidayakan, menunjukan adanya perbedaan harga jual, laju pertumbuhan, tingkah laku, warna, bentuk, dan ukuran tubuh antara jantan atau betina. Sebagai contoh, ikan cupang (Betta splendens) jantan dan betina memiliki nilai jual berbeda. Ikan cupang jantan harganya jauh lebih tinggi dari pada betina dan lebih banyak diminati oleh penggemar ikan hias dan masyarakat pada umumnya. Adanya perbedaan nilai jual antara ikan cupang jantan dan betina mendorong fokus budidaya ikan berjenis kelamin dengan nilai jual lebih tinggi. Pemenuhan akan permintaan ikan dengan jenis kelamin tertentu dapat dilakukan dengan sistem budidaya monoseks, yaitu pemeliharaan ikan berjenis kelamin jantan atau betina saja. Salah satu cara untuk memproduksi ikan monoseks secara komersial adalah dengan metode sex reversal atau pengarahan kelamin. Kontrol terhadap siklus reproduksi ikan didalam kegiatan budidaya sangat diperlukan untuk mencapai benih ikan berkualitas, kuantitas mencukupi dan kontinuitas terjamin. Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk mengkaji kinerja reproduksi adalah dengan manipulasi fotoperiod. Penelitian maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens) dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian madu dan perlakuan fotoperiod terhadap maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens), mengetahui dosis optimal madu dan perlakuan fotoperiod yang efektif dalam maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens). Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap perlakuan. Tahap pertama persiapan pemijahan induk ikan cupang yang kemudian larva hasil pemijahan dilakukan perendaman sesaat setelah 20-30 jam dalam larutan madu dengan dosis 0, 5, 10, 15, dan 20 mL/L, masing-masing perlakuan direndam dalam larutan madu selama 10 jam. Tahap kedua setelah 10 jam perendaman masing-masing larva sesuai perlakuan dosis dipindah ke botol air mineral bervolume 500 mL dengan kepadatan larva 10 ekor setiap wadah, selanjutnya ditempatkan di rak yang sudah diatur untuk perlakuan fotoperiod yaitu L0 (12L:12D), L1 (14L:10D), L2 (10L:14D), kemudian dipelihara selama 30 hari. Larva ikan cupang yang dipelihara selama 30 hari kemudian dilakukan fiksasi pada hari ke-31 untuk selanjutnya dilakukan pembuatan preparat histologi untuk mengetahui struktur gonad dari larva cupang. Hasil pengamatan dan perhitungan membuktikan bahwa derajat penetasan telur materi penelitian berkisar antara 76,5 % sampai 97%, kelangsungan hidup larva cupang tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (p>0,05). Hasil pengamatan kelamin larva cupang dari gambaran histologi bakal gonad pada sampel perlakuan menunjukkan persentase larva cupang jantan tinggi pada perendaman madu 10 jam dosis 10 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang 10 jam gelap sebesar 83%. Persentase larva cupang jantan rendah pada perendaman madu 10 jam dosis 20 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang 10 jam gelap sebesar 17%. Rata-rata jumlah sel spermatogonia tertinggi pada perendaman madu 10 jam dengan berbagai dosis yang dikombinasi perlakuan fotoperiod diperoleh pada perlakuan perendaman madu dosis 15 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang 10 jam gelap sebesar 90,3±9,4. Rata-rata jumlah sel spermatogonia rendah pada perendaman madu 10 jam dengan berbagai dosis yang dikombinasi perlakuan fotoperiod diperoleh pada perlakuan perendaman madu dosis 5 mL/L dan fotoperiod 10 jam terang dan 14 jam gelap sebesar 43,0±9,2. Hasil analisis menunjukkan bahwa bakal gonad pada sampel perlakuan terdapat spermatogonia atau oogonia berbeda nyata antar kelompok perlakuan (p<0,05). Hasil analisis lanjut BNJ terhadap data rerata menunjukan bahwa perlakuan fotoperiod 14 jam terang dan 10 jam gelap sangat signifikan (p<0,01) dengan 10 terang 14 gelap dan 12 terang 12 gelap. Hasil analisis BNJ terhadap perlakuan perendaman madu menunjukan bahwa pada perendaman madu dosis 0 mL/L dan dosis 15 mL/L sangat signifikan, perendaman madu dosis 0 mL/L dan 20 mL/L signifikan, perendaman madu dosis 5 mL/L dan 15 mL/L sangat signifikan, perendaman madu dosis 5 mL/L dan 20 mL/L signifikan, perendaman madu dosis 10 mL/L dan 15 mL/L sangat signifikan, perendaman madu dosis 15 mL/L dan 20 mL/L signifikan. Hasil analisis regresi memberikan interaksi yang positif yaitu pada perlakuan perendaman madu dosis 0 mL/L dengan fotoperiod signifikan dengan respon kuadrater R2 = 41,56%. Perlakuan optimum madu diketahui yaitu dosis madu 15 mL/L dikombinasi fotoperiod 14 jam terang. Kesimpulan, perendaman madu dan perlakuan fotoperiod efektif untuk maskulinisasi cupang, terbukti dari hasil histologi larva cupang. Dosis perendaman madu dan perlakuan fotoperiod yang optimal dalam mempengaruhi maskulinisasi ikan cupang adalah madu dosis 15 mL/L dan fotoperiod 14 jam terang dan 10 jam gelap. | Aquaculture represents an activity producing aquatic organisms under controlled, friendly, and sustainable environment to achieve many advantages. Some ornamental fish cultured species differ in selling price, growth rate, behavior, color, shape, and body size for males or females. For instance, fighting fish (Betta splendens) males and females are sold in different prices. Fighting fish males are higher-priced than females since they are more attractive for hobbyists and communities. This encourages fish culturists to produce exclusively the higher-prices fish. To fulfill these fish, single-sex culture method offers a possibility to produce only male or female fish. Such method could be achieved by applying sex reversal method or a technique directs certain sex. Fish reproductive performance control is necessary to produce sufficient quality, quantity and sustainable fish fry or larvae. Fish reproductive performance could be mastered by photoperiod manipulations. A research on masculinization of fighting fish larvae was conducted to examine the effects of dipping in honey solutions and photoperiod regimes on masculinization of the fish. The research used experimental method to apply completely randomized design (CRD) in factorial pattern of two factors (i.e. different honey solutions for dipping and different photoperiod regimes). Produced from spontaneous spawning, fish larvae were then dip 20-30 h after hatching in 0, 5, 10, 15, and 20 mL/L honey solutions for 10 h. The larvae were subsequently moved to rearing bottles of 500 mL vol in a density of 10 individuals each. All bottles were placed under photoperiod regimes i.e. L0 of ambient light; L1 of 14 h light/10 h dark (14 L/10 D); L2 of 10L/14D, and were then reared for 30 d. After that, larvae were entirely fixed in Bouin solution and underwent classic histological process to assess their gonad structure. Results of the research revealed that hatching rate of eggs and survival rate of larvae ranged 76.5-97% and 70-90%, respectively, and no difference between treatments (p>0.05). Histological assessment demonstrated that male larvae were higher (83%) than female ones (17%) in honey solution dose of 10 mL/L and under 14 L/10 D photoperiod. Contrarily, 17% of male larvae were observed in honey solution dose of 20 mL/L and under 14 L/10 D photoperiod. The highest average number of spermatogonia cells (90.3±9.4%) was obtained in honey solution dose of 15 mL/L and under 14 L/10 D photoperiod. However, the lowest average number of spermatogonia cells (43.0±9.2%) was in honey solution dose of 5 mL/L and under 10 L/14 D photoperiod. Statistical analysis showed that gonadal larvae contained both spermatogonia or oogonia cells in all treatments being significantly different (p<0.05). HSD-test showed that regime of 14 L/10 D photoperiod was highly significant different (p<0.01) with 10 L/14 D or ambient photoperiod regimes. The test was also revealed that dipping in honey solutions of 0 mL/L and 5 mL/L doses were significantly different with 15 mL/L and 20 mL/L doses. Dipping in honey solution dose of 10 mL/L was highly significantly different with 15 mL/L dose, and 15 mL/L dose with 20 mL/L. Regression analysis revealed positive interaction between 0 mL/L dose and photoperiod responses, where R2 was equal to 41.56%. The optimum dose of honey solution was 15 mL/L and should be combined with 14 L/10 D photoperiod. In conclusion, dipping honey solutions combined with photoperiod regimes effectively led fighting fish larval gonad to become mostly male. Effective honey solution dose was 15 mL/L and should be combined with 14 L/10 D photoperiod to achieve successfully masculinization results. | |
| 9933 | 9788 | A1H010060 | KARAKTERISTIK KERUPUK KENTANG GORENG PASIR PADA BERBAGAI SUHU DENGAN ALAT PENGGORENGAN TIPE HSF D50 MANUAL | Penggorengan kerupuk kentang biasanya menggunakan minyak. Namun, hal ini dapat menimbulkan permasalahan. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji perubahan kadar air pada kerupuk kentang, tingkat kerenyahan kerupuk kentang, dan tingkat kesukaan panelis terhadap kerupuk kentang goreng pasir pada berbagai suhu (161°C-180°C, 181°C-200°C, dan 201°C-220°C). Variabel pengukuran yang diamati yaitu waktu pematangan, kadar air selama penggorengan, tingkat kekerasan/ kerenyahan, karakteristik (warna, aroma, rasa, tekstur) dan tingkat kesukaan panelis terhadap kerupuk kentang goreng pasir. Diperoleh persamaan penurunan kadar air yaitu Mθ=Mi.exp {(-3310,98)(exp (-5402,9)/( T kelvin)) .θ }dengan nilai tingkat kesalahan (nilai error) rata-rata 19,092%. Hasil pengukuran kerenyahan didapat nilai rata-rata sebesar 0,033 N/mm2 (sangat renyah). Hasil uji organoleptik kerupuk kentang goreng pasir memiliki warna netral sampai cerah, aroma netral sampai sedap khas kentang, tekstur renyah sampai sangat renyah, rasa netral sampai enak, dan kerupuk kentang disukai dan dapat diterima oleh panelis. | Frying a potatoes usually use an oil. But this methode caused some problem. The purpose of the study was to assess the changes of water content in potato crackers, crispy crackers potatoes level, and to level of preference panelist on crackers fries sand at various temperatures (161°C-180°C, 181°C-200°C, dan 201°C-220°C). The observed variables were the time of cooking, water content during frying, hardness / crispness, the characteristics (color, aroma, flavor, texture) and A-level of panelists against crackers fries sand. Obtained similarities that moisture reduction Mθ=Mi.exp {(-3310,98)(exp (-5402,9)/( T kelvin)) .θ } with the value of the error rate (error rate) on average 19.092%. The results of measurements of crispness obtained an average value of 0.035 N / mm2 (very crispy). The results of organoleptic tests crackers fries sand has neutral colors to bright, neutral to savory aromas typical of potatoes, until very crispy crunchy texture, neutral to taste good, and preferably potato crackers and acceptable by the panelists. | |
| 9934 | 9790 | F1A010071 | Representasi Sistem Pendidikan Sekolah Dasar Di India Dalam Film Taare Zameen Par | Film ini mengangkat permasalahan seputar sistem pendidikan sekolah dasar terkait dengan praktik pendidikan, diskriminasi pendidikan dan kekerasan dalam pendidikan di India. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian diawali dengan pengumpulan data terkait dengan tujuan penelitian, yaitu mengenai proses pendidikan dan sistem pendidikan ideal yang direpresentasikan oleh film. Kemudian, melakukan kategorisasi terhadap data dan dianalisis secara sosiologis dengan metode analisis semiotika Charles Sanders Pierce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pendidikan dalam film Taare Zameen Par digambarkan dengan pola pendidikan yang diterapkan tidak sensitif terhadap keberagaman siswanya. Seperti praktik pendidikan yang diskriminatif terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak dari kasta rendah atau suku yang terpinggirkan. Bahkan kasus kekerasan oleh guru terhadap siswa sering terjadi. Sedangkan, kebijakan untuk mengatasi permasalahan sistem pendidikan dasar di India direpresentasikan dalam adegan yang menampilkan program pendidikan untuk semua. Kebijakan ini memberikan hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan secara baik, dimana keberagaman diperkenankan, diakui sebagai proses pendidikan didalamnya. Kurikulum, serta pendekatan dan metode pengajaran ditandai dengan menekankan pada aspek sosial pembelajaran, dialog, kepekaan terhadap kebutuhan dan minat anak. sehingga semua anak, juga anak-anak yang mengalami hambatan belajar, termasuk anak-anak penyandang cacat, memunyai hak atas pendidikan berkualitas di sekolah. | This movie reflects about elementary school educational system that related to practical discrimination, and violation toward the education in India. This research is qualitative descriptive research. The research begins wirh colleting data realted the purpose which is education and ideal educational system that represented by the movie. Furthermore, the data is classified and analyzed sociologically by using semiotic analysis method from Charles Sanders Peirce. The result shows that the educational process in the Taare Zameen Par movie, id described by apllied education pattern is insensitive towards the student diversity, such as discrimination practical education toward special student, lower caste or marginal tribe student. Moreover, the violation case from teacher to student always happen. Meanwhile, the policy to overcome elemntary educational system problems in India are represented by the scene which is showing “Educational For All” program. This policy gives a right for each student to get better education, which the diversity is allowed. Asknowledge as education process. Curriculum, as well as approachment and teaching method are symbolized by emphasizing social aspect learning, dialog, awarness toward the needs of student. In conclusion, every student whether have the complex learning disease or disabilities student have the same right for better education in the school. | |
| 9935 | 10824 | H1D010004 | VARIASI KADAR SERAT DARI LIMBAH KALENG TERHADAP KUAT LENTUR DINDING PANEL CAMPURAN ABU SEKAM PADI DENGAN METODE PENGEMPAAN | Sekam padi merupakan buangan dari proses penumbukan atau penggilingan padi biasanya digunakan sebagai bahan utama dalam pembakaran batu bata yang nantinya akan menjadi limbah. Abu sekam padi memiliki sifat pozolan yang tinggi karena mengandung silika yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Selain itu terdapat salah satu limbah lain yang tidak dapat terurai yaitu kaleng bekas. Serat kaleng bekas memiliki kekuatan dan modulus elatisitas yang relatif tinggi. Tingginya kebutuhan akan bahan bangunan, dan sebagai upaya untuk mengurangi limbah maka dicoba dikembangkan dinding panel campuran abu sekam padi dengan serat kaleng bekas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar serat kaleng terhadap peningkatan kuat lentur dinding panel campuran abu sekam padi dengan gaya pengempaan tertentu. Penambahan serat pada adukan akan membuat proses pengerjaan menjadi lebih sulit, sehingga pemberian gaya kempa yang konstan berguna untuk membantu proses pencetakan. Dimensi benda uji lentur yang digunakan adalah 30 cm x 10 cm x 3 cm dan variasi kadar serat yang digunakan 1,25% ; 1,50% ; 1,75% ; 2,00% ; 2,25% dengan pengempaan sebesar 0,30 MPa. Pengujian kuat lentur dilakukan pada benda uji umur 28 hari. Hasil penelitian yang mendapat campuran optimum dalam keadaan kering yaitu 1 : 0,41 : 0,59 dengan komposisi campuran semen, abu sekam padi kondisi lapangan, dan air. Untuk variasi kadar serat dengan hasil kuat lentur tertinggi antara 1,25% - 2,25% didapat pada kadar serat 1,75% yaitu rata-rata sebesar 2,56 Mpa. Namun terjadi penurunan sebesar 14,29% dibandingkan dengan benda uji yang tidak menggunakan kadar serat (kadar serat 0%), nilai kuat lentur rata – ratanya lebih tinggi yaitu sebesar 3,009 MPa. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan serat dengan pengempaan sebesar 0,30 MPa belum mampu meningkatkan kuat lentur dinding panel. | Rice husk is the residue from the process of comminution or milling that usually used as the main ingredient in baking bricks that will become waste. Rice husk ash has a high Pozolan properties because it contains silica which can be used as a building material. Besides that, there is another thing that can not be decomposed that is tin cans. Fiber cans strength and modulus of elasticity is relatively high. The high demand for building materials, and as an attempt to reduce waste, so it can be developed as wall panels with a mixture of rice husk ash cans fiber. The purpose of this study is to know the effect from percentage levels of fiber cans that can increase the flexural strength of wall panels rice husk ash with compression force. The addition of fiber will make the mix process more difficult, so giving a constant force felt useful to assist the process of printing. Dimensional bending test specimen used is 30 cm x 10 cm x 3 cm and variations fiber percentage used 1.25%; 1.50%; 1.75%; 2.00%; 2.25% by compression of 0.30 MPa. Flexural strength testing performed on the test object after 28 days. The results of the research gets the optimum mix in the dry state is 1: 0.41: 0.59 with a mixed composition of cement, rice husk ash in field conditions, and water. The fiber percentage of 1.75% is the highest bending strength value with an average of 2.56 Mpa between fiber percentage 1,25% - 2,25%. However, it get a decline around 14.29% compared with the specimen that does not use can fiber (fiber percentage 0%), the bending strength average value is of 3.009 MPa. It shows that the addition of fiber to the compression of 0.30 MPa has not been able to increase the flexural strength wall panels. | |
| 9936 | 10852 | F1C010035 | Studi Deskriptif Strategi Komunikasi Pemasaran Larissa Aesthetic Center Purwokerto dalam Menciptakan Produk Alami pada Konsumen | Penelitian ini berjudul Studi Deskriptif Strategi Komunikasi Pemasaran Larissa Aesthetic Center Purwokerto dalam Menciptakan Produk Alami pada Konsumen. Perumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana strategi komunikasi pemasaran Larissa Aesthetic Center Purwokerto dalam menciptakan produk alami pada konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikannya. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan yang dipakai, menggunakan purposive sampling. Sasaran penelitian ini difokusikan pada perusahaan Larissa Purwokerto. Peneliti menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi pada pengumpulan data. Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif. Data yang dihasilkan dari metode ini berasal dari wawancara, serta dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian ini. Untuk menguji validitas data, peneliti menggunakan teknik triangulasi data dan triangulasi metode. Hasil dari penelitian diperoleh beberapa kesimpulan, bahwa Larissa Purwoketo memiliki strategi pemasaran, yaitu merchant, demo/event, corporate, dan iklan. Strategi-strategi tersebut dibuat dengan tujuan memperkenalkan, menginformasikan, mempromosikan dan membujuk masyarakat untuk menggunakan produk-produk alami dari Larissa, serta dapat mengembangkan perusahaan Larissa agar terus berkembang, dan memiliki pelanggan yang banyak. Strategi tersebut mancakup dari semua perencanaan pemasaran, agar produk yang dipasarkan dapat diterima dengan baik oleh target sasaran. Larissa juga memiliki tagline yang berbunyi “back to nature” untuk menunjukan bahwa produk-produk Larissa terkandung dari bahan-bahan alami. Pada tahap proses pemasaran, Larissa ditargetkan oleh pusat untuk membuat event minimal empat kali dalam setahun, sedangkan alat-alat yang diperlukan dalam sebuah event, masih harus meminjam dari pusat atau menunggu dari cabang Larissa lain hingga selesai dipakai, hal tersebut sangat menghambat dalam berjalannya proses pemasaran. Begitupun dengan iklan banner yang dibuat oleh Larissa Purwoketo, masih kurang mampu untuk menarik perhatian masyarakat, sehingga hasil dari pemasaran dalam banner tidak sesuai dengan harapan. | The title of this research is Descriptive Study of Larissa Aesthetic Center Purwokerto Marketing Communication Strategy to Create Natural Products for Consumers. The problem occurred in this research is how Larissa Aesthetic Center Purwokerto uses marketing communication strategy. The aim of this research is to find out and describe how Larissa Aesthetic Center Purwokerto uses marketing communication strategy to create natural products for consumers. The analysis method used in this research is descriptive qualitative. The informant selection technique used in this research is purposive sampling. The objective of this research is Larissa Aesthetic Center Purwokerto. This research classified the data into two kinds; primary and secondary. The data analysis method used in this research is data collection, reduction, presentation, and conclusion. The data is obtained by in-depth interview with the informant, observation, and documentation that is relevant with this research. To examine the data validation, researcher uses data triangulation technique and method triangulation. The result of this research can be concluded in several points; Larissa Aesthetic Center Purwokerto has a strategy to promote their products. The strategy includes merchant, demo/event/, corporate and advertisement. The aim of the strategy is to introduce, inform, promote and persuade their products to society to use it. The strategy also aims at company goal which is to develop and to get many consumers. Larissa also has a tagline, that is, “back to nature”, to show that all the products they produce are consisted of natural ingredients. In the process of marketing held by Larissa Aesthetic Center Purwokerto, Larissa Aesthetic Center Purwokerto is being targeted by by the head center to hold an event four times minimum, contrary to the fact that Larissa Aesthetic Center Purwokerto still has to borrow the facilities from the head center or other office. That exactly becomes the burden Larissa Aesthetic Center Purwokerto has to hold. Another problem also comes from the advertisement on banner which is ineffective to attract consumers’ attention. So, the result of marketing through banner does not meet the expectation. | |
| 9937 | 9791 | C1B007125 | PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, KEPERCAYAAN DAN KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN (STUDI PADA PO. EFISIENSI PURWOKERTO) | Perkembangan perusahaan jasa pada saat ini yang cukup pesat dan salah satunya adalah PO Efisiensi. Tingginya persaingan yagn terjadi mengharuskan perusahaan menentukan strategi-strategi jitu yang bisa menarik konsumen. Disisi lain perusahaan otobus tidak hanya bisa menarik konsumen saja, akan tetapi harus mempertahankan konsumennya agar bisa menjadi pelanggan yang loyal pada perusahaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan, kepercayaan konsumen dan kepuasan konsumen terhadap loyalitas pelanggan pada PO. Efisiensi di Purwokerto. Penelitian ini merupakan survey pada pelanggan bus PO. Efisiensi yang pernah menggunakan jasa bus trayek Purwokerto - Yogyakarta, dilakukan dengan survey menggunakan kuesioner. Alat analisis yang digunakan dalam penelitiani ni adalah analisis jalur dengan uji F dan uji t. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan, kepercayaan konsumen dan kepuasan konsumen mempunyai pengaruh yang positif secara bersama-sama terhadap loyalitas konsumen. Hal ini menunjukkan semakin tinggi kualitas pelayanan konsumen, semakin tinggi kepercayaan konsumen yang tertanam di benak konsumen dan semakin tinggi kepuasan yang dirasakan konsumen PO Efisiensi Purwokerto, hal tersebut akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan loyalitas para konsumen. Implikasi dari penelitian ini bahwa peningkatan loyalitas dilakukan dengan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan tanpa memandang status sosial, terus berupaya meningkatkan tanggung jawab kepada semua konsumen yang menggunakan jasa dari PO Efisiensi dan memberikan fasilitas yang dibutuhkan konsumen dan memberikan informasi yang sejelas mungkin kepada kosumen baik jadwal keberangkatan, transit, maupun semua informasi yang dibutuhkan konsumen sehingga konsumen merasa nyaman dan aman menggunakan jasa PO Efisiensi dan selalu memiliki persepsi positif terhadap jasa yang ditawarkan. | Development services company at this time is quite fast, and one of which is PO efficiency. High competition that occurs requires companies determine surefire strategies that can attract consumers. On the other hand auto bus companies can not only attract customers, but also have to retain customers in order to be a loyal customer to the company. This study aims to analyze the impact of service quality, consumer confidence and consumer satisfaction on customer loyalty in the PO. Efficiency in Purwokerto. This study is a survey on customer PO bus. Efficiency ever use the route bus services Purwokerto - Yogyakarta, conducted by using a questionnaire survey. Analysis tools used in penelitiani ni is the path analysis with F test and t test. Based on the results of the study showed that the quality of service, consumer confidence and consumer satisfaction have positive influences together on consumer loyalty. This shows the high quality of customer service, the higher the confidence of consumers that are embedded in the minds of consumers and the higher the perceived consumer satisfaction PO Efficiency Purwokerto, it will give effect to an increase in consumer loyalty. The implications of this study that the increase in loyalty is done by improving service to customers regardless of their social status, continues to improve its responsibility to all consumers who use the services of the PO efficiency and give consumers the necessary facilities and provide information as accurately as possible to customers in both the scheduled departure time, transit, as well as all the required information consumers so that consumers feel comfortable and safe using the services of PO Efficiency and always have a positive perception of the services offered. | |
| 9938 | 9792 | H1G010021 | ANALISIS KEANEKARAGAMAN DAN KERAPATAN MANGROVE BERDASARKAN POTENSI KUALITAS PERAIRAN DAN SEDIMEN DI PULAU RANGSANG KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI RIAU | Penelitian ini berjudul “Analisis Keanekaragaman dan Kerapatan Mangrove Berdasarkan Potensi Kualitas Perairan dan Sedimen di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau”.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat keanekaragaman dan kerapatan mangrove, mengetahui kualitas perairan dan sedimen serta mengetahui hubungan antara keanekaragaman dan tingkat kerapatan mangrove dengan kualitas perairan dan sedimen di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara Stratified Sampling.Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif komparatif dan korelasi serta regresi dengan menggunakan Minitab 17.Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman tahapan semai, pancang dan pohon dikategorikan rendah (H’ < 3) dan sedang (1 > H’ < 3). Kerapatan mangrove tahapan semai dikategorikan sangat buruk (≤ 2.000 ind/ha), tahapan pancang dikategorikan sangat buruk (≤ 1.000 ind/ha), tahapan pohon dapat dikategorikan sangat padat (≥ 1.500 ind/ha). Kualitas perairan dan sedimen seperti salinitas, pH, pasang surut, gelombang salinitas tanah, pH tanah, tekstur tanah, nitrtat, fosfat dan pirit masih sesuai untuk kehidupan vegetasi mangrove.Berdasarkan analisis korelasi dan regresi, menunjukkan bahwa keanekaragaman dan kerapatan mangrove memiliki keeratan yang nyata dengan kualitas perairan dan sedimen | This research, entitled “ The Analysis Mangrove Diversity and Density Base on Water and Sediment Quality in Rangsang Island of Meranti Islands District, Riau ”. This research aimed to determine biodiversity and density level of mangroves, to know water quality sediment and to know relation between biodiversity and density of mangroves with water quality and sediment in Rangsang Island of Meranti District Islands, Riau.This research was conducted on June 2014, the method of this research use survey method and Stratified Sampling. The data were analyzed by comparative descriptive, correlation and regression using Minitab 17.The result showed that biodiversity of seedling, sapling and trees were categorized as low (H < 3) and medium (1> H < 3). Density seedling was categorized as very bad (≤ 2.000 ind/ha), sapling was categorized very bad (≤ 1.000 ind/ha), trees of mangrove can be categorized as very good (≥ 1,500 ind/ha). Water and sedimen quality, such as salinity, pH, tidal, wave, soil salinity,soil pH, soil texture, nitrtat, phosphate and pyrite sustainable to mangrove grow.Based on the correlation and regression analysis, showed that the diversity and density of mangrove have high relation with the quality of the waters and sediments | |
| 9939 | 9793 | E1A010171 | KEMAMPUAN CALON SUAMI SEBAGAI DISPENSASI KAWIN (Suatu Studi Terhadap Putusan Pengadilan Agama Purwokerto Nomor : 0045/Pdt.P/2014/PA.Pwt) | Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, mengatur batasan umur kawin, yaitu bagi seorang wanita minimal berumur 16 tahun dan pria minimal berumur 19 tahun untuk dapat melangsungkan perkawinan. Dalam hal penyimpangan terhadap batasan umur kawin tersebut memerlukan dispensasi kawin dari pengadilan. Obyek penelitian ini berupa putusan hakim dalam perkara Nomor : 0045/Pdt.P/2014/PA.Pwt yang telah mempertimbangkan bahwa calon pengantin wanita belum mencapai umur kawin, tetapi hakim telah menganggap cukup matang dan telah dewasa untuk berumah tangga, serta calon pengantin pria sudah bekerja dan berpenghasilan. Penelitian atau studi mengenai dispensasi perkawinan ini menjadi penting agar terdapat kejelasan bagaimana seharusnya dispensasi kawin dapat dikabulkan. Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan metode pendekatan secara yuridis normatif. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah preskriptif. Metode analisis bahan hukum adalah normatif kualitatif. Dasar pemikiran yuridis hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi kawin bagi calon pengantin wanita yang masih berumur dibawah 16 tahun pada Putusan Pengadilan Agama Purwokerto Nomor : 0045/Pdt.P/2014/PA.Pwt adalah Pasal 7 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 j.o Pasal 15 s/d Pasal 18 dan Pasal 39 Kompilasi Hukum Islam, serta mendasarkan pada kaidah fiqih yaitu mendahulukan untuk menutup kemudlaratan dari pada mengambil kemaslahatan, calon pengantin wanita dianggap cukup matang walaupun belum memenuhi batas umur kawin dan calon pengantin pria sudah mandiri. Seharusnya pertimbangan Hakim sesuai dengan maksud pembentuk Undang-Undang dalam hal batas umur dan fokus pada kondisi calon pengantin wanita sesuai dengan legal standing Pemohon dan tidak mendasarkan pertimbangannya pada kondisi calon pengantin pria. Kata Kunci : Dispensasi kawin, batasan umur kawin. | Principles of law in the Act Number 1 Year 1974 on Marriage respecting the banning child marriage. Hence specified limits the days of one woman at least 16 years old and man at least 19 years. In terms of irregularities against the minimum limits of those ages need to request court to marriage dispensation. Object of this research is judgment in the case Number : 0045/Pdt.P/2014/PA.Pwt that judge consideration in the implementation the bride was considered mature enough and the groom is already independently income. This dispensation research of marriage is important that there is clarity of dispensation of marriage. Author use normative juridical approach to investigation these objectives. The prescriptive is used to specifications research. Analytical method is normative qualitative legal materials. The judge consideration to accept the application of marriage dispensation for the bride who was under 16 years old in Religious Judgment of a court Purwokerto at Number 0045/Pdt.P/2014/PA.Pwt are Article 7 of Act Number 1 Year 1974 j.o Article 15 to 18 and article 39 in Compilation of Islamic Law, and basing on the rules of fiqh that precede of close losses in taking advantage, the bride was considered mature enough and the groom is already independently. Based on the conclusions can be suggested that the judge in granting the marriage dispensation in this case judge consideration should be focus on the brides woman condition in accordance with the applicant of legal standing, therefore do not base their reasoning on the groom conditions. Keyword : dispensation of marriage, limitation of marriage age | |
| 9940 | 9794 | D1E010279 | PENGGUNAAN AZZOLA MICROPHYLLA DALAM PAKAN ITIK PEKING JANTAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN PENDAPATAN ATAS BIAYA PAKAN | Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penggunaan Azolla microphylla dalam meningkatkan laju pertumbuhan dan pendapatan atas biaya pakan itik Peking jantan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik Peking jantan umur 3 minggu sebanyak 60 ekor. Penelitian ini menggunakan rancangan dasar percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Setiap unit percobaan ditempatkan tiga ekor itik peking jantan, setiap perlakuan diulang lima kali. Hasil laju pertumbuhan absolut itik Peking dengan rataan berkisar 207.150 ± 12.058 sampai 295.800 ± 4.891 g, sedangkan hasil perhitungan IOFC secara total adalah Rp 462.260,- dengan rataan Rp 23.113.0 ± 6342.1. Hasil analisis menunjukkan bahwa, pemberian ransum dengan penambahan Azolla microphylla berpengaruh sangat nyata terhadap Laju Pertumbuhan dan Pendapatan Atas Biaya Pakan (P<0,01). | The purposes of this research was to study the influence of the use of Azolla microphylla on growth rate and Income Over Feed Cost of male Peking duck’s. The materials used in this research were 60 heads of 3 week old male Peking duck’s. This research used completely randomized design. Every unit of experiment consisted of three male Peking duck’s, every treatment was repeated five times. The results showed that the average absolute growth rates of male Peking duck’s were in the range of 207.150 ± 12.058 up to 295.800 ± 4.891 g, while the calculation of total IOFC was Rp 462.260,- with an average of Rp 23.113.0 ± 6342.1. The analysis results showed that, feeding of ration with the addition of Azolla microphylla very significantly affected growth rate and Income Over Feed Cost (P<0,01). |