Artikelilmiahs

Menampilkan 51.561-51.580 dari 51.609 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5156154837J0B022043PEMBUATAN VIDEO PROMOSI BERBAHASA MANDARIN DI GEDUNG PERTUNJUKAN PAGUYUBAN WAYANG ORANG BHARATA JAKARTALaporan praktik kerja ini berjudul “Pembuatan Video Promosi Berbahasa Mandarin di Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata Jakarta”. Kegiatan praktik kerja dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2024 sampai dengan tanggal 12 Januari 2025. Tujuan dilaksanakan praktik kerja ini adalah menghasilkan video promosi berbahasa Mandarin yang menarik dan edukatif menggunakan teknik voice over kemudian diunggah di media sosial, yaitu Instagram dan Xiaohongshu milik Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata Jakarta agar wisatawan penutur bahasa Mandarin mengetahui keberadaan tempat wisata tersebut. Latar belakang praktik kerja ini adalah banyak penutur bahasa Mandarin datang ke Jakarta, namun media informasi tentang Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata Jakarta masih belum tersedia, sehingga banyak wisatawan belum mengetahuinya. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode wawancara, observasi, jelajah internet, dan dokumentasi. Pada kegiatan praktik kerja, penulis menggunakan metode penerjemahan komunikatif untuk menerjemahkan naskah video karena kalimat hasil terjemahan disesuaikan dengan tata bahasa dari bahasa sasaran sehingga mudah dipahami oleh wisatawan penutur bahasa Mandarin. Hasil dari kegiatan praktik kerja ini adalah video promosi berbahasa Mandarin dengan teknik voice over di Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata yang diunggah melalui media Xiaohongsu dan Instagram milik Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata Jakarta. Dengan adanya video promosi berbahasa Mandarin, wisatawan penutur bahasa Mandarin dapat mengetahui keberadaan Gedung Pertunjukan Paguyuban Wayang Orang Bharata dan timbul minat untuk berwisata ke sana.实习报告题目为《在雅加达Bharata Wayang Orang剧场运用配音技术制作中文宣传视频》。本次实习于2024年8月22日至2025年1月12日在雅加达Bharata Wayang Orang剧场开展。实习的主要目的是通过运用配音技术制作一部兼具吸引力与教育意义的中文宣传视频,并将其发布于该剧场的社交媒体平台,即Instagram与小红书,以提升该文化旅游景点在中文游客群体中的知名度。本次实习的开展的背景是随着赴雅加达的中文游客数量不断增加,然而有关雅加达Bharata Wayang Orang剧场的信息传播媒介仍相对匮乏,导致许多潜在游客对该文化艺术表演场所缺乏认知。因此,有必要通过制作中文宣传视频来弥补信息传播的不足,从而促进文化传播与旅游推广。在数据收集方面,本文采用了访谈法、观察法、网络资料搜集法以及文献分析法等多种方法,以确保数据的全面性与可靠性。在实习过程中,作者在视频脚本翻译环节采用了交际翻译法,使译文在忠实原意的基础上,更加符合目标语言的表达习惯与语法规范,从而提升信息传达的清晰度与可接受性。本次实习的最终成果为一部运用配音技术制作的中文宣传视频,该视频已成功发布于小红书及雅加达Bharata Wayang Orang剧场的Instagram官方账号。该宣传视频能提升了中文游客对该剧场的认知度,并有效激发了其参观兴趣,体现了配音技术与跨语言传播在文化推广中的积极作用。
5156254975A1D022017Pengaruh Bahan Organik Bermikroba dan Pola Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kubis pada Andisol DiengKubis (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di dataran tinggi Dieng. Tanah Andisol yang dominan di kawasan tersebut memiliki sifat fisik yang baik, tetapi mempunyai kemampuan mengikat fosfor yang tinggi sehingga dapat membatasi ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pengelolaan bahan organik yang diperkaya mikroba berguna serta penerapan sistem tanam yang sesuai dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh bahan organik bermikroba, sistem tanam, serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis pada Andisol Dieng. Penelitian dilaksanakan pada Juli–Desember 2025 di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada ketinggian 1.834 m dpl. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah bahan organik bermikroba yang terdiri atas kontrol dan pupuk organik yang diperkaya Pseudomonas spp. serta fungi Dark Septate Endophyte (DSE), sedangkan faktor kedua adalah sistem tanam monokultur dan tumpangsari. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang tiga kali dan setiap satuan percobaan menggunakan 15 tanaman sampel. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, nilai SPAD, bobot krop, tebal krop, dan diameter krop. Data dianalisis menggunakan analisis ragam pada taraf 5% dan analisis korelasi antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan organik bermikroba berpengaruh terhadap beberapa variabel pertumbuhan, yaitu tinggi tanaman umur 6 minggu setelah tanam (MST), jumlah daun umur 3 dan 9 MST, serta luas daun umur 6, 9, dan 12 MST. Sistem tanam berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan nilai SPAD. Interaksi kedua faktor berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 3 MST, jumlah daun umur 9 MST, serta beberapa komponen hasil. Korelasi terkuat pada komponen hasil terdapat pada hubungan antara bobot krop dan diameter krop dengan nilai r = 0,913. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan organik bermikroba dan sistem tanam secara terpadu berpotensi mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman kubis pada Andisol Dieng.Cabbage (Brassica oleracea L.) is a high-value horticultural crop widely cultivated in the highlands of Dieng. The Andisol soils predominant in the region have favorable physical properties but a high phosphorus fixation capacity, which may limit nutrient availability to plants. The application of organic amendments enriched with beneficial microorganisms, combined with an appropriate cropping system, may provide an alternative approach to improving crop growth and yield. This study aimed to evaluate the effects of microorganism-enriched organic amendments, cropping systems, and their interaction on the growth and yield of cabbage grown on Andisol in Dieng. The study was conducted from July to December 2025 in Pekasiran Village, Batur District, Banjarnegara Regency, Central Java, Indonesia, at an elevation of 1,834 m above sea level. A factorial Completely Randomized Design (CRD) was employed with two factors. The first factor was microorganism-enriched organic amendment, consisting of a control and an organic amendment enriched with Pseudomonas spp. and Dark Septate Endophyte (DSE) fungi, while the second factor was cropping system, consisting of monoculture and intercropping. Each treatment combination was replicated three times, with 15 sampled plants per experimental unit. The observed variables included plant height, leaf number, leaf area, SPAD value, head weight, head thickness, and head diameter. Data were subjected to analysis of variance at the 5% significance level, followed by correlation analysis among variables. The results showed that microorganism-enriched organic amendments affected several growth variables, including plant height at 6 weeks after planting (WAP), leaf number at 3 and 9 WAP, and leaf area at 6, 9, and 12 WAP. Cropping systems affected plant height, leaf number, leaf area, and SPAD value. The interaction between the two factors affected plant height at 3 WAP, leaf number at 9 WAP, and several yield components. The strongest correlation among yield components was observed between head weight and head diameter, with a correlation coefficient of r = 0.913. These findings indicate that the integrated application of microorganism-enriched organic amendments and appropriate cropping systems has the potential to support cabbage growth and productivity on Andisol soils in Dieng.
5156354805J0A023035PROMOTIONAL VIDEO PRODUCTION AS A BRANDING STRATEGY FOR BANYUMAS TOURISM : A CASE STUDY SAHABAT WISATA TRAVEL AGENT PURWOKERTO
Laporan akhir ini membahas pembuatan video promosi sebagai strategi branding pariwisata Banyumas yang dilaksanakan selama kegiatan magang di Sahabat Wisata Travel Agent Purwokerto pada tanggal 3 Agustus hingga 28 Oktober. Latar belakang penulisan laporan ini didasarkan pada potensi pariwisata Banyumas yang beragam, seperti wisata alam, budaya, dan kuliner, namun belum dikenal secara luas akibat keterbatasan strategi promosi, khususnya dalam media digital. Tujuan dari laporan ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan kegiatan magang, menghasilkan video promosi destinasi wisata Banyumas yang merepresentasikan strategi branding Sahabat Wisata, serta menjelaskan permasalahan dan solusi yang dihadapi selama proses magang dan pembuatan produk.

Metode yang digunakan dalam laporan ini meliputi observasi, dokumentasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan mengunjungi beberapa destinasi wisata di Banyumas untuk mengidentifikasi potensi dan karakteristiknya. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan bahan visual berupa foto dan video. Wawancara dilakukan dengan pembimbing dan pihak terkait untuk memperoleh informasi yang relevan.

Hasil dari laporan ini adalah sebuah video promosi yang menampilkan berbagai destinasi wisata Banyumas.Selama proses pembuatan video promosi, penulis menghadapi beberapa kendala, seperti kondisi cuaca yang kurang mendukung saat pengambilan footage di lokasi wisata terbuka, kurangnya pengalaman dalam mengambil video cinematic, serta kesulitan dalam proses dubbing karena pengkarakteran suara yang masih kurang sesuai dengan konsep video promosi. Untuk mengatasi kendala tersebut, penulis melakukan pengambilan ulang video dari berbagai angle, mencari referensi dari media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram, serta terus berlatih dalam proses dubbing dan editing video. Selain itu, hasil video yang telah dibuat kemudian diserahkan kepada pembimbing lapangan, yaitu Ibu Yuni, untuk mendapatkan evaluasi dan revisi agar hasil akhir menjadi lebih baik.
This final report discussed the production of a promotional video as a branding strategy for Banyumas tourism, conducted during the job training at Sahabat Wisata Travel Agent Purwokerto from August 3rd to October 28th. The background of this report was based on the fact that Banyumas has various tourism potentials, such as natural, cultural, and culinary tourism, but many of these destinations are not widely recognized due to limited promotional strategies, especially in digital media. The purposes of this report were to explain the implementation of job training, to produce a promotional video representing Sahabat Wisata’s branding strategy, and to explain the problems and solutions encountered during the job training process and in creating the product.

The method used in this report included observation, documentation and interview. The observation was conducted by visiting selected tourism destinations in Banyumas to identify their potential and characteristics. Documentation was used to collect visual materials such as photos and videos. Interviews were conducted with the supervisor and related parties to obtain relevant information.

The result of this report is a promotional video showcasing various tourist destinations in Banyumas. During the process of creating the promotional video, the I faced several challenges, such as unfavorable weather conditions during footage collection at outdoor tourist locations, lack of experience in taking cinematic videos, and difficulties in the dubbing process due to voice characterization that was still not fully aligned with the concept of the promotional video. To overcome these challenges, the I retook videos from various angles, searched

for references on social media platforms such as YouTube, TikTok, and Instagram, and continuously practiced dubbing and video editing. In addition, the completed video was submitted to the field supervisor, Mrs. Yuni, for evaluation and revisions so that the final result could be improved further.
5156454984B1A022183Potensi Bakteri Asam Laktat Asal Susu Asam Alami sebagai Agen ProbiotikBakteri asam laktat (BAL) berperan penting dalam fermentasi produk susu, karena mampu menghasilkan metabolit antimikroba dan menjaga keseimbangan mikrobiota saluran pencernaan. Susu asam alami yang dihasilkan melalui fermentasi spontan oleh BAL endogen merupakan sumber isolat yang berpotensi memiliki sifat probiotik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa BAL dari susu asam alami mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, menghambat bakteri patogen, serta bersifat non-patogen. Namun, penelitian mengenai BAL yang diisolasi dari susu asam alami hasil fermentasi spontan menggunakan susu sapi pasteurisasi, dengan penambahan gula dan fermentasi dalam wadah kaca steril masih terbatas. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah BAL dapat diisolasi dari susu asam alami, bagaimana karakteristik BAL dari susu asam alami, dan apakah BAL dari susu asam alami memiliki potensi sebagai agen probiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri asam laktat dari susu asam alami, mengkarakterisasi BAL dari susu asam alami, dan mengetahui BAL dari susu asam alami yang memiliki potensi sebagai agen probiotik.
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan analisis deskriptif dan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling terhadap susu sapi murni. Tahapan penelitian meliputi pembuatan susu asam alami, analisis kimia dan mikrobiologi sampel susu segar, susu pasteurisasi dan sampel susu asam alami (total asam laktat, pH, dan Total Plate Count), isolasi dan pemurnian BAL, serta karakterisasi makromorfologi, mikromorfologi, sifat biokimia, sifat fisiologis, karakterisasi BAL sebagai kandidat probiotik, dan penilaian kumulatif potensi probiotik. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah isolat BAL dari susu asam alami, sedangkan variabel terikatnya adalah identitas dan potensi isolat BAL sebagai agen probiotik. Parameter utama yang diamati meliputi viabilitas BAL pada simulasi pH lambung dan usus manusia, viabilitas BAL pada kondisi garam empedu, aktivitas antimikroba, resistensi terhadap antibiotik, dan sifat hemolitik. Parameter pendukung yang diamati meliputi sifat dinding sel, motilitas sel, aktivitas katalase, pembentukan endospora, kemampuan tumbuh pada berbagai suhu, dan tipe fermentasi. Identifikasi isolat bakteri asam laktat dilakukan secara fenotipik dengan mengacu pada Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Penentuan isolat BAL yang berpotensi sebagai agen probiotik dilakukan melalui skoring kumulatif dengan parameter karakter probiotik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa susu segar memiliki nilai pH 6,53 dan total asam laktat 0,16%, kemudian setelah pasteurisasi nilai pH sedikit menurun menjadi 6,46 dengan total asam laktat meningkat menjadi 0,22%. Setelah fermentasi selama 48 jam, susu asam alami memiliki nilai pH 4,57 dan total asam laktat 0,95%, disertai jumlah BAL sebesar 1,65 × 10⁸ CFU/mL. Sebanyak 10 isolat bakteri asam laktat berhasil diisolasi dari proses fermentasi spontan susu sapi pasteurisasi. Hasil karakterisasi morfologi, biokimia, dan fisiologis mengidentifikasi isolat BAL yang diperoleh diduga sebagai genus Lactobacillus, Lactococcus, dan Streptococcus. Sebanyak enam dari sepuluh isolat BAL hasil isolasi asal susu asam alami memenuhi kriteria potensi sebagai probiotik, dengan isolat LSA03, LSA10, dan LSA11 menunjukkan potensi tertinggi berdasarkan persentase potensi probiotik kumulatif sebesar 88,88%.
Lactic acid bacteria (LAB) have an important role in the fermentation of dairy products, as they are capable of producing antimicrobial metabolites and maintaining the balance of the gut microbiota. Naturally fermented milk produced through spontaneous fermentation by endogenous LAB is a source of isolates with potential probiotic properties. Various studies have shown that LAB from spontaneously fermented milk are able to survive in the gastrointestinal conditions, inhibit pathogenic bacteria, and are non-pathogenic. However, research into BAL isolated from naturally fermented sour milk produced by spontaneous fermentation using pasteurised cow’s milk, with the addition of sugar and fermentation in sterile containers, remains limited. The research questions in this study are can LAB be isolated from naturally fermented milk, what are the characteristics of LAB from naturally fermented milk, and do LAB from naturally fermented milk have potential as probiotic agents. This study aims to isolate LAB from naturally fermented milk, characterise LAB from naturally fermented milk, and identify which LAB from naturally fermented milk that have potential as probiotic agents.
The study was conducted using a survey method with descriptive analysis and purposive sampling techniques on pure cow’s milk. The research stages included the production of naturally fermented milk, chemical and microbiological analysis of pasteurised and naturally fermented milk samples (total lactic acid, pH, and Total Plate Count), the isolation and purification of LAB, as well as the characterisation of morphology, biochemical, physiological, the characterisation of LAB as a candidate probiotic, and a cumulative assessment of probiotic potential. The independent variable in this study was the LAB isolate from naturally fermented milk, whilst the dependent variable was the identity and potential of the LAB isolate as a probiotic agent. The primary parameters observed included BAL viability in simulations of human gastrointestinal, BAL viability under bile salt conditions, antimicrobial activity, antibiotic resistance, and hemolytic properties. The secondary parameters observed included cell wall properties, cell motility, catalase activity, endospore formation, growth at various temperatures, and fermentation types. The identification of LAB isolates was carried out phenotypically with reference to Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. The determination of LAB isolates with potential as probiotic agents was carried out through cumulative scoring based on probiotic characteristics.
The results of the study show that fresh milk has a pH of 6.53 and a total lactic acid content of 0.16 %, following pasteurisation, the pH decreases slightly to 6.46, whilst the total lactic acid content increases to 0.22%. Following 48 hours of spontaneous fermentation, the naturally fermented milk had a pH of 4.57 and a total lactic acid content of 0.95%, accompanied by a LAB count of 1.65 × 10⁸ CFU/mL. A total of 10 LAB isolates were successfully isolated from the natural fermentation process of pasteurised cow’s milk. The results of morphological, biochemical and physiological characterisation identified the LAB isolates obtained as belonging to the genera Lactobacillus, Lactococcus and Streptococcus. Six out of ten BAL isolates derived from naturally fermented milk met the criteria for probiotic potential, with isolates LSA03, LSA10, and LSA11 showing the highest potential based on a cumulative probiotic potential percentage of 88.88%.
5156554991A1C022053Analisis Neraca Air Irigasi Berbasis Pemodelan Hidrologi pada Daerah Irigasi Banjaran Kabupaten BanyumasPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi besaran ketersediaan air, kebutuhan air irigasi, status neraca air (water balance), serta efisiensi kinerja fisik pada sistem interkoneksi Daerah Irigasi (DI) Banjaran di Kabupaten Banyumas yang melayani luasan baku sawah sebesar 1.406 Ha. Pemodelan hidrologi dilakukan menggunakan metode F.J. Mock yang diintegrasikan dengan data iklim satelit NASA POWER (2016 – 2025) yang telah divalidasi dan dikoreksi bias (linear scaling) terhadap data observasi stasiun BMKG Cilacap. Perhitungan curah hujan wilayah menggunakan metode Poligon Thiessen pasca-pengisian data hujan yang hilang melalui regresi linier. Penentuan luas area tangkapan air secara presisi dieksekusi melalui delineasi digital memanfaatkan peta DEMNAS pada perangkat lunak QGIS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalibrasi parameter metode F.J. Mock pada DAS Logawa menghasilkan persentase kesalahan relatif rata-rata sebesar 32%. Deviasi ini dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya kesalahan pencatatan oleh petugas pengamat, tingginya laju sedimentasi yang mengubah profil dasar sungai secara temporer, serta anomali cuaca ekstrem yang mendistorsi keakuratan tabel konversi lengkung debit (rating curve) pada papan duga (peilschaal). Meskipun demikian, perhitungan lain menggunakan metode PBIAS menunjukkan nilai eror 11% yang artinya dalam keadaan baik. Keselarasan fluktuasi debit simulasi menunjukkan hasil yang sangat representatif terhadap kondisi alaminya.
Analisis neraca air yang dievaluasi melalui dua pendekatan membuktikan bahwa pada skala akumulatif keseluruhan sistem, DI Banjaran memiliki surplus ketersediaan air yang tinggi pada musim penghujan dan hanya berpotensi mengalami defisit hidrologis pada puncak kemarau (Agustus – Oktober). Namun, pada area dengan tangkapan air (DAS) kecil di bagian hilir (seperti Sekunder Menyawak dan Kaliterus), defisit terjadi nyaris sepanjang tahun dan memiliki ketergantungan pada aliran suplesi.
Evaluasi kinerja fisik jaringan irigasi yang dihitung secara spesifik pada masing-masing subsistem bendung utama mengonfirmasi terjadinya tingkat efisiensi pengaliran yang sangat rendah, jauh di bawah standar Kriteria Perencanaan Irigasi (KP-01). Efisiensi total sistem terburuk dicatatkan oleh subsistem Bendung Logawa (Saluran Induk Logawa) sebesar 50% dan Bendung Banjaran II (mencakup Induk Banjaran II, Sekunder Sidemung, Sidabowa, dan Kedungrandu) sebesar 53%. Penurunan nilai efisiensi secara drastis ini dipicu oleh akumulasi water losses akibat penyadapan air secara ilegal yang masif untuk operasional kolam ikan warga, kebocoran fisik dinding saluran, serta tingginya laju sedimentasi yang menghambat kelancaran distribusi. Terdapat kesenjangan yang besar antara ketersediaan air alamiah yang berstatus surplus dengan tingginya rasio lahan sawah yang tidak tertanami (bero) di area hilir pada saat musim hujan. Hal ini menyimpulkan bahwa krisis pasokan air di tingkat usaha tani murni disebabkan oleh kegagalan fungsi interkoneksi suplesi akibat rusaknya infrastruktur distribusi, bukan merupakan indikasi dari minimnya potensi sumber daya air alamiah.
This study aims to evaluate water availability, irrigation water requirements, water balance status, and physical performance efficiency in the interconnected system of the Banjaran Irrigation Area (DI) in Banyumas Regency, which serves a standard rice field area of 1,406 Ha. Hydrological modeling was conducted using the F.J. Mock method integrated with NASA POWER satellite climate data (2016–2025), which was validated and bias-corrected (linear scaling) against observational data from the BMKG Cilacap station. Areal rainfall calculation utilized the Thiessen Polygon method following the estimation of missing rainfall data through linear regression. Precise catchment area determination was executed via digital delineation utilizing DEMNAS maps on QGIS software.
The results indicated that the parameter calibration of the F.J. Mock method in the Logawa Watershed resulted in an average relative error of 32%. This deviation was triggered by several factors, including recording errors by observers, a high sedimentation rate that temporarily altered the riverbed profile, and extreme weather anomalies that distorted the accuracy of the rating curve on the staff gauge (peilschaal). Nevertheless, further evaluation using the PBIAS (Percent Bias) method demonstrated an error value of 11%, which is classified as 'Good'. The alignment of the simulated discharge fluctuations indicates that the results are highly representative of the natural conditions.
The water balance analysis, evaluated through a dual approach, proved that on a cumulative scale of the entire system, DI Banjaran has a high surplus of water availability during the rainy season and is only potentially prone to hydrological deficits during the peak of the dry season (August–October). However, in downstream areas with exceptionally small catchments (such as the Menyawak and Kaliterus Secondary Canals), deficits occur nearly year-round and have a dependence on supplementary flows.
The physical performance evaluation of the irrigation network, calculated specifically for each main weir subsystem, confirmed remarkably low conveyance efficiency levels, falling significantly below the Irrigation Planning Criteria (KP-01) standards. The poorest total system efficiencies were recorded by the Logawa Weir subsystem (Logawa Main Canal) at 50% and the Banjaran II Weir (covering Banjaran II Main Canal, and Sidemung, Sidabowa, and Kedungrandu Secondary Canals) at 53%. This drastic decline in efficiency was triggered by the accumulation of water losses caused by massive illegal water tapping for residents' fish ponds, physical leakage of the canal walls, and high sedimentation rates hindering distribution flow. A significant gap exists between the natural surplus of water availability and the high ratio of uncultivated (fallow) rice fields in the downstream areas during the rainy season. This concludes that the water supply crisis at the farming level is purely caused by the failure of the interconnection supplementation function driven by damaged distribution infrastructure, rather than an indication of minimal natural water resources potential.
5156650903A1A019103JANGAN"PAnik jika tarik tunai di ATM BRI uang tidak keluar Saldo terpotong? Ini solusinya yaUntuk Bantuan Transaksi Hubungi Call Center Wa.08159955204 Atau 1500017 Foto Nomor Mesin ATM yang Digunakan Catat Waktu, Tanggal dan Lokasi Transaksi Lapor ke Cabang Bank.Adapun waktu proses pengembalian dana nasabah, tergantung kepada kebijakan dari masing-masing bank. Anda bisa mengkonfirmasi kepada pihak bank untuk kejelasan dan kelanjutan dari proses permasalahan yang dialami. Setelah itu, Anda tinggal menunggu saldo rekening dikembalikan seperti semula sebelum terpotongCara Buka Blokir BRImo: Panduan Lengkap Reset Password, PIN, dan Username Tanpa ke Bank.
Untuk buka blokir BRImo Yg Terblokir karena Lupa Pin Berikut solusinya bisa menghubungi Call Center BRI di 08159955204 atau 1500017. Jelaskan masalah Anda dan ikuti instruksi yang diberikan oleh petugas.
Bagaimana Cara Membuka Akun BRImo yang Terblokir?
Untuk buka blokir BRImo Bank BRI bisa menghubungi Call Center BRI WhatsApp di 08159955204 atau (14017). Siapkan data diri dan Jelaskan masalah Anda dan ikuti instruksi yang diberikan oleh petugas.
5156755012J1E022085The Use of Digital Photo Strips to Improve Students’ Skills in Writing Descriptive Text
(A Pre-Experimental Study at Grade 8 of SMP Bruderan Purwokerto in the Academic Year 2025/2026)
Karin, Cecilia 2026. The Use of Digital Photo Strips to Improve Students’ Skills in Writing Descriptive Text (A Pre-Experimental Study at Grade 8 of SMP Bruderan Purwokerto in the Academic Year 2025/2026). Dosen Pembimbing 1: Weksa Fradita Asriyama S. Pd., M.Pd., Dosen Pembimbing 2: Novita Pri Andini S.Pd., M.Pd., Ketua Penguji Eksternal: Laxmi Mustika Cakrawati S.Pd., M.Pd., Penguji Eksternal: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Univeritas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto.

Penelitian ini mengkaji penggunaan Digital Photo Strip untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks deskriptif. Penelitian dilakukan dengan 14 peserta siswa kelas VIII di SMP Bruderan Purwokerto selama tahun akademik 2025/2026, menggunakan desain pre-eksperimental dengan one-group pre- and post-test. Peserta menyelesaikan penilaian menulis awal, mengikuti perlakuan multi-sesi menggunakan metodologi Digital Photo Strip, dan kemudian menyelesaikan post-test yang setara. Selain itu, peserta menyelesaikan kuesioner persepsi yang mengukur sikap, pengalaman, dan keterlibatan mereka terhadap media instruksional. Skor pre-test (M = 22,00, SD = 4,44) meningkat secara signifikan menjadi kinerja post-test (M = 29,79, SD = 2,12), mewakili peningkatan rata-rata sebesar 7,79 poin (peningkatan 35,4%). Wilcoxon Signed-Rank Test menghasilkan Z-score sebesar -3.304 dengan signifikansi asimptotik dua-ekor sebesar 0,001 (p < ,05), menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Secara khusus, semua 14 peserta menunjukkan skor keuntungan positif tanpa satu pun contoh penurunan atau stagnasi. Mengenai data persepsi, skor rata-rata kuesioner keseluruhan adalah 4,13 pada skala Likert lima poin (kategori Tinggi), dengan dimensi pengalaman mencapai rata-rata tertinggi (M = 4,43), diikuti oleh dimensi perilaku (M = 4,21) dan sikap (M = 3,79). Temuan konvergen ini mendukung kesimpulan bahwa Digital Photo Strip merupakan teknik yang divalidasi secara empiris dan bersifat pedagogis untuk meningkatkan kompetensi menulis deskriptif di antara siswa pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di sekolah menengah pertama, sambil secara bersamaan memupuk persepsi positif terhadap medium instruksional.
Karin, Cecilia 2026. The Use of Digital Photo Strips to Improve Students’ Skills in Writing Descriptive Text (A Pre-Experimental Study at Grade 8 of SMP Bruderan Purwokerto in the Academic Year 2025/2026). Thesis Supervisor 1: Weksa Fradita Asriyama S. Pd., M.Pd., Thesis Supervisor 2: Novita Pri Andini S.Pd., M.Pd., Chief External Examiner: Laxmi Mustika Cakrawati S.Pd., M.Pd., External Examiner: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Language Education Study Program, Purwokerto.

This study examined the use of Digital Photo Strip to improve students’ skills in writing descriptive text. The research was conducted with 14 eighth-grade participants at SMP Bruderan Purwokerto during the 2025/2026 academic year, utilizing a pre-experimental one-group pre- and post-test design. Participants completed a baseline writing assessment, engaged in a multi-session treatment employing Digital Photo Strip methodology, and subsequently completed an equivalent post-test. Additionally, participants completed a perception questionnaire measuring their attitudes, experiences, and engagement with the instructional medium. Pre-test scores (M=22.00, SD=4.44) increased significantly to post-test performance (M=29.79, SD=2.12), representing a mean gain of 7.79 points (35.4% improvement). The Wilcoxon Signed-Rank Test yielded a Z-score of -3.304 with asymptotic two-tailed significance of 0.001 (p < .05), indicating highly significant improvement. Notably, all 14 participants demonstrated positive gain scores with zero instances of decline or stagnation. Regarding perception data, the overall questionnaire mean score was 4.13 on a five-point Likert scale (High category), with the experience dimension achieving the highest mean (M=4.43), followed by behavior (M=4.21) and attitude (M=3.79) dimensions. These convergent findings support the conclusion that Digital Photo Strip constitutes an empirically validated and pedagogically sound technique for advancing descriptive writing competence among junior high school EFL learners, while simultaneously fostering positive perceptions of the instructional medium.
5156854976I4B025036Sudi Kasus: Penerapan Terapi Hand Held Fan Untuk Mengurangi Sesak Napas Pada Pasien Kanker ParuLatar belakang: Kanker paru merupakan penyakit keganasan dengan angka kejadian dan kematian tinggi serta sering menimbulkan sesak napas atau dispnea. Sesak napas dapat terjadi akibat massa tumor, obstruksi jalan napas, efusi pleura, gangguan ekspansi paru, serta ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi. Kondisi ini dapat menyebabkan napas terasa pendek, tidak lega, mudah lelah, cemas, serta menurunkan kenyamanan pasien. Selain terapi medis, terapi pendamping nonfarmakologis seperti hand held fan dapat diterapkan dengan mengarahkan aliran udara ke area wajah untuk membantu memberikan sensasi napas lebih lega, nyaman, dan rileks.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan terapi hand held fan terhadap penurunan sesak napas pada pasien kanker paru.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan penerapan Evidence Based Nursing (EBN). Subjek penelitian adalah satu pasien kanker paru dengan keluhan sesak napas yang dirawat di Ruang Cendana RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Intervensi terapi hand held fan dilakukan selama tiga hari, tiga kali sehari, dengan durasi ±5 menit setiap sesi. Evaluasi dilakukan menggunakan Modified Borg Dyspnea Scale (MBDS), pengukuran respiratory rate, saturasi oksigen, serta observasi respons subjektif dan objektif pasien.
Hasil: Setelah diberikan terapi hand held fan, terjadi penurunan tingkat sesak napas yang ditunjukkan dengan penurunan skor MBDS dari 5 dengan kategori sesak napas berat menjadi 3 dengan kategori sesak napas sedang. Frekuensi napas juga mengalami penurunan dari 26 x/menit
menjadi 22 x/menit. Selain itu, pasien mengatakan napas terasa lebih lega, tubuh lebih rileks, dan lebih nyaman setelah terapi dilakukan. Secara objektif, pasien tampak lebih tenang, pola napas lebih teratur, serta sesak napas tampak berkurang.
Kesimpulan: Terapi hand held fan berpengaruh dalam membantu menurunkan sesak napas pada pasien kanker paru. Terapi ini dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis berbasis Evidence-Based Nursing yang aman, sederhana, mudah diterapkan, dan dapat meningkatkan kenyamanan pasien.
Background: Lung cancer is a malignancy with high incidence and mortality rates and often causes shortness of breath or dyspnea. Dyspnea may occur due to tumor mass, airway obstruction, pleural effusion, impaired lung expansion, and ventilation-perfusion imbalance. This condition can cause shortness of breath, an uncomfortable breathing sensation, fatigue, anxiety, and decreased patient comfort. In addition to medical therapy, non-pharmacological complementary therapy such as a hand-held fan can be applied by directing airflow to the facial area to help provide a sensation of easier breathing, comfort, and relaxation.
Objective: This study aims to determine the effectiveness of hand-held fan therapy in reducing shortness of breath in lung cancer patients.
Method: This study used a descriptive case study design with the application of Evidence-Based Nursing (EBN). The subject was one lung cancer patient with shortness of breath who was treated in Cendana Ward, Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto. The hand-held fan therapy was performed for three days, three times a day, with a duration of approximately five minutes in each session. Evaluation was carried out using the Modified Borg Dyspnea Scale (MBDS), respiratory rate measurement, oxygen saturation, and observation of the patient’s subjective and objective responses.
Results: After the implementation of hand-held fan therapy, the patient’s level of dyspnea decreased, as indicated by a reduction in the MBDS score from 5, categorized as severe dyspnea, to 3, categorized as moderate dyspnea. The respiratory rate also decreased from 26 breaths/minute to 22 breaths/minute. In addition, the patient reported feeling more relieved, relaxed, and comfortable after the therapy. Objectively, the patient appeared calmer, the breathing pattern became more regular, and shortness of breath was reduced.
Conclusion: Hand-held fan therapy had an effect on reducing shortness of breath in lung cancer patients. This therapy can be used as a non-pharmacological nursing intervention based on Evidence Based Nursing that is safe, simple, easy to apply, and able to improve patient comfort.
5156954978J1E022050The Effectiveness of Presentation, Practice, and Production (PPP) Teaching Model Using Digital Talking Flashcards on Students' Pronunciation Skills (A Pre-experimental Study of the Fifth Grade Students of SDN 1 Piasa in the Academic Year 2025/2026)Purnama, Rere Adesta (2026). Efektifitas Model Pembelajaran Menggunakan Digital Talking Flashcards terhadap Kemampuan Pengucapan Siswa (Penelitian Pre-eksperimental pada Siswa Kelas Lima di SDN 1 Piasa Tahun Ajaran 2025/2026). Pembimbing skripsi 1: Drs. Ashari, M.Pd., Pembimbing Skripsi 2: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., Ketua Penguji Eksternal: Weksa Fradita Asriyama, S.Pd., M.Pd., Penguji Eksternal: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi S1 Pendidkan Bahasa Inggris, Purwokerto.
Penelitian ini membahas penggunaan digital talking flashcards yang diintegrasikan dengan model pengajaran Presentation, Practice, and Production (PPP) untuk mendukung pembelajaran pengucapan bahasa Inggris siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui implementasi model pengajaran menggunakan digital talking flashcards, (2) Mengetahui pengaruh penggunaan digital talking flashcards terhadap kemampuan pengucapan siswa, dan (3) mengidentifikasi persepsi siswa terhadap penggunaan digital talking flashcards dalam pembelajaran pengucapan bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one-group pre-test and post-test. Partisipan penelitian ini adalah 28 siswa kelas lima SDN 1 Piasa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi, tes pengucapan, dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pengajaran menggunakan digital talking flashcards diimplementasikan sesuai dengan prosedur pembelajaran yang telah direncanakan. Nilai rata-rata pengucapan siswa meningkat dari 63.21 pada pre-test menjadi 75.59 pada post-test. Uji Paired sample t-test menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara skor pre-test dan post-test, dengan nilai signifikansi 0.000 (p < 0.05). Hasil kuisioner juga menunjukkan bahwa siswa memiliki persepsi positif terhadap penggunaan digital talking flashcards, dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3,35. Temuan ini menunjukkan bahwa model pengajaran menggunakan digital talking flashcards efektif dalam mendukung peningkatan kemampuan pengucapan siswa dan memperoleh respons positif dari siswa.
Purnama, Rere Adesta (2026). The Effectiveness of a Teaching Model Using Digital Talking Flashcards on Students’ Pronunciation Skills (A Pre-experimental study of The Fifth Grade of SDN 1 Piasa in the Academic Year 2025/2026). Thesis Supervisor 1: Drs. Ashari, M.Pd., Thesis Supervisor 2: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., Moderator: Weksa Fradita Asriyama, S.Pd., M.Pd., External Examiner: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL. Ministry of Education, Culture, Research and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Education Study Program, Purwokerto.
This study deals with the use of digital talking flashcards integrated with the Presentation, Practice, and Production (PPP) teaching model to support students’ English pronunciation learning. It aims to investigate: (1) find out the implementation of the teaching model using digital talking flashcards, (2) Determine the significant effect of digital talking flashcards on students’ pronunciation skills, and (3) Identify students’ perception towards the use of digital talking flashcards in English pronunciation learning. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pre-test and post-test design. The participants were 28 fifth grade students of SDN 1 Piasa, selected through purposive sampling. The data were collected through an observation checklist, pronunciation tests, and a questionnaire. The results showed that the teaching model using digital talking flashcards was implemented according to the planned learning procedures. The students’ mean pronunciation score increased from 63.21 in the pre-test to 75.59 in the post test. The paired sample t-test showed a significance difference between the pre-test and post-test scores, with a significant value of 0.000 (p< 0.05). The questionnaire results also showed that students had positive perceptions towards the use of digital talking flashcards, with an overall mean score of 3.35. These findings indicate that the teaching model using digital talking flashcards was effective in supporting the improvement of students’ pronunciation skills and received positive responses from the students.
5157054979J0B022013Penerjemahan Papan Informasi Satwa Berbahasa Mandari Di Jogja Exotarium Mini ZooPraktik kerja ini bertujuan menghasilkan papan informasi satwa berbahasa Mandarin di Mini Zoo Jogja Exotarium Yogyakarta sebagai media informasi bagi pengunjung berlatar belakang bahasa Mandarin. Latar belakang kegiatan ini adalah belum tersedianya papan informasi satwa berbahasa Mandarin, sehingga pengunjung yang tidak memahami bahasa Indonesia mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi mengenai satwa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, jelajah internet, dan studi pustaka. Proses penerjemahan menggunakan metode penerjemahan komunikatif untuk menyampaikan pesan secara efektif dan mudah dipahami oleh pembaca sasaran. Sementara itu, teknik penerjemahan borrowing digunakan untuk menerjemahkan nama satwa yang belum memiliki padanan dalam bahasa Mandarin. Hasil kegiatan praktik kerja ini adalah papan informasi satwa berbahasa Mandarin. Dengan adanya papan informasi satwa berbahasa Mandarin dapat memberikan informasi lengkap tentang satwa yang ada di Jogja Exotarium Mini Zoo.This internship aimed to produce Mandarin-language animal information boards at Jogja Exotarium Mini Zoo in Yogyakarta as an information medium for visitors from Mandarin-speaking backgrounds. The background of this activity was the unavailability of Mandarin-language animal information boards, which made it difficult for visitors who did not understand Indonesian to obtain information about the animals. Data were collected through observation, interviews, internet research, and literature review. The translation process employed the communicative translation method to convey the message effectively and make it easily understood by the target readers. Meanwhile, the borrowing translation technique was used to translate animal names that did not have equivalents in Mandarin. The result of this internship was the production of Mandarin-language animal information boards. The availability of these boards provides comprehensive information about the animals at Jogja Exotarium Mini Zoo.
5157154980B1A022018Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Etil Asetat Jamur Tiram Cokelat (Pleurotus cystidiosus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Listeria monocytogenes dan Escherichia coliIndonesia menempati peringkat ke-72 dari 204 negara pada tingkat kematian akibat infeksi yang berkaitan dengan resistensi antimikroba menurut data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Listeria monocytogenes dan Escherichia coli merupakan contoh bakteri penyebab food-borne disease yang rentan mengalami resistensi antibiotik. Penelitian mengenai aktivitas antibakteri dari Pleurotus cystidiosus masih terbatas dibandingkan Pleurotus ostreatus. Variasi pelarut polar dan semi polar, perbedaan jenis bakteri, dan penggunaan ekstrak kental tanpa modifikasi juga menjadi faktor yang melatarbelakangi perlu dilakukannya penelitian ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol P. cystidiosus terhadap pertumbuhan bakteri L. monocytogenes dan E. coli dan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat P. cystidiosus terhadap pertumbuhan bakteri L. monocytogenes dan E. coli.
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental dengan variabel bebas penelitian berupa jenis pelarut, yaitu etanol dan etil asetat serta jenis bakteri, yaitu L. monocytogenes dan E. coli, sedangkan variabel terikat berupa aktivitas antibakteri. Parameter utama penelitian berupa diameter zona hambat, nilai Minimum Inhibitory concentration (MIC), dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC), sedangkan parameter pendukung penelitian berupa kandungan senyawa bioaktif pada ekstrak P. cystidiosus yang diuji dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Data zona hambat pertumbuhan bakteri, MIC dan MBC yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk gambar dan tabel. Data zona hambat pertumbuhan bakteri diukur dan ditentukan kemampuannya berdasarkan standar zona hambat antibiotik. Informasi mengenai kandungan senyawa bioaktif pada uji KLT yang digunakan sebagai parameter pendukung dianalisis secara deskriptif berdasarkan nilai Rf dan warna noda setelah diberi pereaksi semprot.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik ekstrak etanol maupun etil asetat P. cystidiosus memiliki aktivitas antibakteri terhadap L. monocytogenes dan E. coli. Hasil uji difusi cakram menunjukkan bahwa ekstrak etanol P. cystidiosus memiliki aktivitas antibakteri yang tergolong kuat pada L. monocytogenes, sedangkan efek terhadap bakteri E. coli tergolong sedang. Hasil uji difusi cakram ekstrak etil asetat P. cystidiosus menunjukkan aktivitas antibakteri yang tergolong kuat, baik terhadap bakteri L. monocytogenes maupun E. coli. Hasil uji MIC ekstrak etanol P. cystidiosus terhadap L. monocytogenes dan E. coli diperoleh pada konsentrasi berturut-turut 25% b/v dan 50% b/v, sedangkan hasil uji MIC ekstrak etil asetat P. cystidiosus terhadap L. monocytogenes dan E. coli diperoleh pada konsentrasi berturut-turut 12,5% b/v dan 25% b/v. Nilai MBC tidak dapat ditentukan karena ekstrak etanol dan etil asetat P. cystidiosus tidak memiliki efek bakterisidal. Hasil uji KLT menunjukkan ekstrak etanol dan etil asetat mengandung senyawa tanin, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ekstrak etanol maupun etil asetat P. cystidiosus memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri L. monocytogenes dan E. coli, namun hanya bersifat bakteriostatik.
Indonesia ranks 72nd out of 204 countries in terms of mortality from infections related to antimicrobial resistance, according to the Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Listeria monocytogenes and Escherichia coli are examples of bacteria that cause food-borne diseases that are prone to antibiotic resistance. Research on the antibacterial activity of Pleurotus cystidiosus is still limited compared to Pleurotus ostreatus. Variations in polar and semi-polar solvents, differences in bacterial types, and the use of pure extracts without modification are the conditions that underlie the need for research on the antibacterial activity of ethanol and ethyl acetate extracts of P. cystidiosus against the growth of L. monocytogenes and E. coli. The objectives of this study were to determine the antibacterial activity of P. cystidiosus ethanol extract against the growth of L. monocytogenes and E. coli and to determine the antibacterial activity of P. cystidiosus ethyl acetate extract against the growth of L. monocytogenes and E. coli.
This research was conducted using experimental methods with independent variables such as ethanol and ethyl acetate solvents and bacteria such as L. monocytogenes and E. coli, while the dependent variable was antibacterial activity. The main parameters of the study were the diameter of the inhibition zone, Minimum Inhibitory concentration (MIC), and Minimum Bactericidal concentration (MBC) values, while the supporting parameters were the content of bioactive compounds in the P. cystidiosus extract, which was tested using Thin Layer Chromatography (TLC). The data on the bacterial growth inhibition zone, MIC, and MBC obtained will be analyzed descriptively and presented in the form of figures and tables. The bacterial growth inhibition zone data were measured and determined based on the antibiotic inhibition zone standard. Information about the bioactive compound content in the TLC test, which is used as a supporting parameter, is analyzed descriptively based on the Rf value and the color of the spot after spraying with reagent.
The results of this research show that both the ethanol and ethyl acetate extracts of P. cystidiosus exhibit antibacterial activity against L. monocytogenes and E. coli. The disk diffusion test results showed that the ethanol extract of P. cystidiosus exhibited strong antibacterial activity against L. monocytogenes, while its effect on E. coli was moderate. The disk diffusion test results for the ethyl acetate extract of P. cystidiosus showed strong antibacterial activity against both L. monocytogenes and E. coli. The MIC results for the P. cystidiosus ethanol extract against L. monocytogenes and E. coli were obtained at concentrations of 25% w/v and 50% w/v, respectively, while the MIC results for the P. cystidiosus ethyl acetate extract against L. monocytogenes and E. coli were obtained at concentrations of 12.5% w/v and 25% w/v, respectively. MBC values could not be determined because the ethanol and ethyl acetate extracts of P. cystidiosus did not exhibit bactericidal effects. The TLC test results showed that the ethanol and ethyl acetate extracts contained tannins, flavonoids, alkaloids, and terpenoids. The conclusion of this research is that both the ethanol and ethyl acetate extracts of P. cystidiosus exhibit antibacterial activity against L. monocytogenes and E. coli.
5157254985B1A022017Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kencana Ungu (Ruellia tuberosa L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Cutibacterium acnesInfeksi kulit merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di daerah tropis seperti Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Cutibacterium acnes. Infeksi ini biasanya diobati dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah resistensi. Kondisi tersebut mendorong alternatif antibakteri alami dengan memanfaatkan tanaman Ruellia tuberosa L. yang mudah ditemukan dan memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian mengenai antibakteri tanaman R. tuberosa terhadap S. aureus dan C. acnes masih terbatas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun R. tuberosa, menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) ekstrak daun R. tuberosa terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes, serta menentukan nilai Minimum Bactericidal Concentration (MBC) ekstrak daun R. tuberosa terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Biologi dan Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Maret hingga Juni 2026 menggunakan metode survei dan eksperimental dengan analisis RAL satu arah yaitu konsentrasi ekstrak daun R. tuberosa. Penelitian ini meliputi sampling daun R. tuberosa, pembuatan ekstrak daun R.tuberosa, uji aktivitas antibakteri, menentukan nilai MIC dan MBC, uji aktivitas antibakteri pada perlakuan suhu, serta uji kandungan senyawa bioaktif daun R.tuberosa. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel bebas yang diamati yaitu konsentrasi ekstrak daun R. tuberosa, sedangkan variabel terikat yaitu kemampuan aktivitas antibakteri ekstrak daun R. tuberosa terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes. Parameter utama yang diamati yaitu aktivitas antibakteri, nilai MIC dan nilai MBC, serta parameter pendukung yang diamati adalah kandungan senyawa bioaktif daun R. tuberosa dan aktivitas antibakteri pada perlakuan suhu suhu. Data hasil eksperimen dianalisis menggunakan uji ANOVA pada tingkat signifikasi sebesar 95%, dilanjutkan dengan uji Duncan`s Multiple Range Test (DMRT), uji normalitas atau homogenitas tidak signifikan, maka dilakukan uji Kruskal-Wallis dan dilanjut dengan uji post hoc Dunn dengan koreksi Bonferroni.
Sampel daun R. tuberosa diperoleh sebanyak 265 g simplisia menghasilkan sebanyak 37 g ekstrak kasar. Terdapat aktivitas antibakteri ekstrak daun R. tuberosa terhadap S. aureus dan C. acnes. Namun pada S. aureus seluruh konsentrasi uji tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan diameter tertinggi sebesar 15,45±0,13 mm dan terendah sebesar 11,23±0,43 mm, sedangkan pada C. acnes perlakuan seluruh konsentrasi uji menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan diameter tertinggi sebesar 14,97±0,64 mm dan diameter terendah sebesar 8,75±0,68 mm. Nilai MIC ekstrak daun R.tuberosa pada bakteri S. aureus terdapat pada konsentrasi 250 mg/mL, sedangkan pada bakteri C. acnes terletak pada konsentrasi 1000 mg/mL. Nilai MBC belum ditemukan pada seluruh konsentrasi uji baik pada S. aureus maupun C. acnes. Hasil aktivitas antibakteri pada perlakuan pemanasan ekstrak menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri mengalami peningkatan setelah ekstrak dipanaskan pada suhu tinggi terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes. Ekstrak daun R. tuberosa mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin yang berpotensi sebagai antibakteri alami.
Skin infections are common health problems in tropical regions such as Indonesia. These infections are caused by Staphylococcus aureus and Cutibacterium acnes. They are usually treated with antibiotics; however, inappropriate use of antibiotics can lead to resistance issues. This condition encourages the exploration of natural antibacterial alternatives, such as Ruellia tuberosa L., a plant that is easily found and contains secondary metabolites with potential antibacterial activity. Research on the antibacterial properties of R. tuberosa against S. aureus and C. acnes remains limited. Therefore, this study aimed to determine the antibacterial activity of R. tuberosa leaf extract, establish its Minimum Inhibitory Concentration (MIC) against S. aureus and C. acnes, and evaluate its Minimum Bactericidal Concentration (MBC) against both bacteria.
This study was conducted at the Microbiology Laboratory, Faculty of Biology, and the Research Laboratory of Universitas Jenderal Soedirman from March to June 2026, using survey and experimental methods with a one-way Completely Randomized Design (CRD) analysis based on the concentration of R. tuberosa leaf extract. This study included sampling of R. tuberosa leaves, preparation of R. tuberosa leaf extract, antibacterial activity testing, determination of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) values, antibacterial activity testing under temperature treatment, and analysis of the bioactive compound content of R. tuberosa leaves. Each treatment was replicated three times. The independent variable observed was the concentration of R. tuberosa leaf extract, while the dependent variable was the antibacterial activity of R. tuberosa leaf extract against S. aureus and C. acnes bacteria. The main parameters observed were antibacterial activity, MIC value, and MBC value, while the supporting parameters observed were the bioactive compound content of R. tuberosa leaves and antibacterial activity under temperature treatment. The experimental data were analyzed using ANOVA at a 95% significance level, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT). If the normality or homogeneity test results were not significant, the data were analyzed using the Kruskal-wallis test, followed by Dunn's post hoc test with Bonferroni correction.
A total of 265 g of R. tuberosa leaf simplicia yielded 37 g of crude extract. Antibacterial activity of R. tuberosa leaf extract was observed against S. aureus and C. acnes. However, for S. aureus, none of the tested concentrations showed a significant difference, with the highest inhibition zone diameter of 15.45±0.13 mm and the lowest of 11.23±0.43 mm, whereas for C. acnes, all tested concentrations showed significant differences, with the highest diameter of 14.97±0.64 mm and the lowest of 8.75±0.68 mm. The MIC value of R. tuberosa leaf extract for S. aureus was found at a concentration of 250 mg/mL, while for C. acnes it was found at a concentration of 1000 mg/mL. The MBC value was not found at any of the tested concentrations for either S. aureus or C. acnes. The results of the antibacterial activity test under extract heating treatment showed that antibacterial activity increased after the extract was heated at high temperature against both S. aureus and C. acnes. R. tuberosa leaf extract contains secondary metabolite compounds such as flavonoids, alkaloids, saponins, and tannins, which have potential as natural antibacterial agents.
5157354982A1D022143Aplikasi Pupuk N, P, K Dosis Rendah dan Pembenah Tanah terhadap Tinggi Tanaman (14 dan 28 HST) dan Jumlah Daun (14 dan 28 HST) Jagung Manis pada Sistem Companion PlantingPenurunan kesuburan tanah akibat praktik monokultur dan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dosis tinggi mendorong perlunya teknologi budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aplikasi pupuk N, P, K dosis rendah yang dikombinasikan dengan pembenah tanah, serta pola companion planting, terhadap pertumbuhan awal jagung manis yang meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 14 dan 28 hari setelah tanam (HST). Penelitian dilaksanakan di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah taraf pemupukan yang terdiri atas NPK 100%, NPK 50% + biochar, NPK 50% + pupuk organik, dan biochar + pupuk organik. Faktor kedua adalah kombinasi tanaman pendamping, yaitu jagung manis dengan timun kecil dan jagung manis dengan kembang kol. Data dianalisis menggunakan Uji F pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 14 dan 28 HST, baik perlakuan pupuk, kombinasi tanaman pendamping, maupun interaksi keduanya belum memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman maupun jumlah daun jagung manis. Tinggi tanaman pada 14 HST berkisar antara 5,65-6,97 cm dan pada 28 HST berkisar antara 15,26-19,24 cm, sedangkan jumlah daun pada 14 HST berkisar antara 3,33-4,04 helai dan pada 28 HST berkisar antara 5,71-6,13 helai. Belum munculnya pengaruh nyata pada fase ini diduga berkaitan dengan tahap awal perkembangan sistem perakaran tanaman serta proses dekomposisi bahan pembenah tanah yang belum berlangsung optimal, sehingga hara yang terkandung di dalamnya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh tanaman.The decline in soil fertility caused by monoculture practices and farmers' reliance on high doses of chemical fertilizers has encouraged the need for more efficient and environmentally friendly cultivation technologies. This study aimed to examine the effect of applying low-dose N, P, K fertilizer combined with soil conditioners, as well as a companion planting pattern, on the early growth of sweet corn, including plant height and leaf number at 14 and 28 days after sowing (DAS). The study was conducted in Karangnangka Village, Kedungbanteng Subdistrict, Banyumas Regency, using a factorial Randomized Block Design (RBD) with two factors and three replications. The first factor was the fertilization level, consisting of 100% NPK, 50% NPK + biochar, 50% NPK + organic fertilizer, and biochar + organic fertilizer. The second factor was the companion crop combination, namely sweet corn with small cucumber and sweet corn with cauliflower. Data were analyzed using an F test at the 5% level. The results showed that at 14 and 28 DAS, neither the fertilizer treatment, the companion crop combination, nor their interaction had a significant effect on the plant height or leaf number of sweet corn. Plant height at 14 DAS ranged from 5.65-6.97 cm and at 28 DAS ranged from 15.26-19.24 cm, while leaf number at 14 DAS ranged from 3.33-4.04 leaves and at 28 DAS ranged from 5.71-6.13 leaves. The absence of a significant effect at this stage is presumed to be related to the early stage of root system development and the incomplete decomposition of the soil conditioners, so that the nutrients contained therein could not yet be optimally utilized by the plants.
5157454986H1A022024PERANCANGAN SISTEM KENDALI SERVO PADA PESAWAT AEROMODELLING GLIDER F1A BERBASIS MIKROKONTROLERPenelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan timer mekanis berbasis sumbu bakar pada pesawat glider F1A yang memiliki keterbatasan dalam presisi waktu, ketahanan terhadap kondisi lingkungan, serta potensi gangguan mekanis yang memengaruhi performa penerbangan. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan sistem kendali multi-servo berbasis mikrokontroler sebagai alternatif timer mekanis untuk mengatur konfigurasi aktuator dan waktu transisi fase penerbangan secara terprogram. Sistem menggunakan Arduino Nano untuk mengendalikan servo rudder, elevator, dan hook melalui sinyal PWM, serta aplikasi Android melalui USB OTG untuk konfigurasi parameter yang disimpan pada EEPROM. Pengujian meliputi komunikasi aplikasi dan EEPROM, akurasi sudut servo, ketepatan durasi, algoritma Safe Zoom, jangkauan receiver determa, dan kinerja penerbangan. Hasil pengujian menunjukkan komunikasi aplikasi dan penyimpanan parameter pada EEPROM berhasil tanpa kegagalan. Servo rudder memiliki rata-rata error 1,50°–2,00%, sedangkan elevator sebesar 0,76%. Transisi fase zoom menghasilkan rata-rata error 9,58%, sedangkan flight time 120 detik memiliki rata-rata error 0,83%. Receiver determa mencapai keberhasilan komunikasi 100% pada jarak 100–600 meter. Lima kali pengujian penerbangan menunjukkan seluruh tahapan berhasil dijalankan sesuai parameter. Sistem mampu menjalankan fungsi timer dan pengendalian fase penerbangan secara otomatis, konsisten, dan dapat dikonfigurasi sebagai alternatif timer mekanis.This research was motivated by the use of a mechanical timer based on a fuse in F1A glider aircraft, which has limitations in timing precision, environmental durability, and potential mechanical failures that may affect flight performance. This research aims to design and implement a microcontroller- based multi-servo control system as an alternative to the mechanical timer for controlling actuator configurations and flight phase transition times. The system uses an Arduino Nano to control rudder, elevator, and hook servos through Pulse Width Modulation (PWM) signals, while an Android application connected via USB On-The-Go (USB OTG) is used to configure parameters stored in EEPROM. Testing included application and EEPROM communication, servo angle accuracy, timing accuracy, the Safe Zoom algorithm, determa receiver range, and flight performance. The results showed successful communication between the application and microcontroller, as well as reliable EEPROM parameter storage and retrieval. The rudder servo achieved an average error of 1.50%–2.00%, while the elevator servo achieved 0.76%. Zoom phase transitions resulted in an average error of 9.58%, while a 120-second flight time showed an average error of 0.83%. The determa receiver achieved 100% communication success at distances of 100– 600 meters. Five flight tests successfully completed all phases according to the configured parameters. The system can therefore serve as an automatic, consistent, and configurable alternative to the mechanical timer.
5157554987F2B021001KREATIVITAS GURU SOSIOLOGI DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA SMA DI KABUPATEN PURBALINGGARINGKASAN
Kreativitas guru sosiologi diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran untuk
menyesuaikan dinamika sosial yang terus berkembang, mengatasi keterbatasan
sarana dan prasarana pembelajaran, menghapus persepsi sosiologi sebagai mata
pelajaran yang membosankan, meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, serta
penyesuaian dalam perubahan kurikulum. Hal tersebut menjadi dasar penelitian
mengenai kreativitas guru dalam implementasi kurikulum merdeka. Upaya
menghadapi berbagai kendala dalam implementasi Kurikulum Merdeka dapat
memberikan gambaran model guru kreatif.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif lapangan (field research).
Informan penelitian berjumlah 17 orang yang terdiri dari guru sosiologi, kepala
sekolah dan siswa pada sekolah penggerak Kabupaten Purbalingga serta pengawas
satuan pendidikan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan
dokumentasi. Informan dipilih dengan menggunakan puposive sampling. Analisis data
meliputi reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan
melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber.
Hasil penelitian memperlihatkan kreativitas guru yang ditunjukkan dengan
kemampuan mengajar secara kreatif dan mendorong siswa menjadi kreatif.
Pembelajaran kreatif dilakukan dengan berbagai model, metode pembelajaran serta
media pembelajaran. Kreativitas guru mendorong siswa belajar secara aktif.
Berdasarkan diferensiasi siswa, guru menyiapkan bahan ajar dan membebaskan
siswa memilih proses belajar yang sesuai dengan gaya belajar dan minatnya. Melalui
pembelajaran kreatif siswa menunjukkan kemampuan menyusun beragam produk
pembelajaran dalam pembelajaran dengan model Project Base Learning(PjBL).
Dengan memanfaatkan hasil asesmen formatif guru meningkatkan kualitas
pembelajaran. Guru menggunakan metode penilaian sumatif untuk melihat
ketercapaian tujuan pembelajaran dan tingkat penguasaan siswa.
Kreativitas guru diperlihatkan pada kemampuan mengatasi berbagai hambatan
dalam implementasi kurikulum merdeka. Untuk mengatasi kesulitan akses internet,
guru menggunakan beragam sumber belajar, media pembelajaran dan asesmen non
digital. Metode dan model pembelajaran yang bervariasi untuk mengatasi perbedaan
karakteristik dan motivasi siswa. Guru merancang model pembelajaran untuk
menyesuaikan dengan tugas tambahan lain yang membebani secara administratif.
Kreativitas guru sosiologi juga ditunjukkan dalam pembelajaran kolaboratif baik
dengan sesama guru maupun dengan narasumber pembelajaran dari luar sekolah.
Dalam implementasi kurikulum merdeka profil guru kreatif adalah guru yang dapat
menyajikan pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan model,
metode, media serta sumber belajar yang beragam, mampu memanfaatkan teknologi,
melibatkan siswa secara aktif, serta mampu mendorong kreatifitas siswa.
Kata Kunci: kreativitas guru, sosiologi pendidikan, pembelajaran sosiologi, Kurikulum
Merdeka
SUMMARY
Sociology teachers' creativity is needed in implementing learning to adapt to evolving
social dynamics, overcome limitations in learning facilities and infrastructure,
eliminate the perception of sociology as a boring subject, increase student interest
and learning outcomes, and adapt to curriculum changes. This serves as the basis for
research on teacher creativity in implementing the kurukulum merdeka. Efforts to
address various obstacles in implementing the kurikulum merdeka can provide an
overview of the creative teacher model.
This research uses a qualitative field research method (field research)The research
informants consisted of 17 people, consisting of sociology teachers, principals, and
students at the Purbalingga Regency driving schools, as well as educational unit
supervisors. Data collection was conducted through interviews, observation, and
documentation. Informants were selected usingpuposive samplingData analysis
includes data reduction, data presentation, and conclusions. Data validity was tested
through technical triangulation and source triangulation.
The research results demonstrate teacher creativity, demonstrated by their ability to
teach creatively and encourage students to be creative. Creative learning is carried
out using various models, learning methods, and learning media. Teacher creativity
encourages students to learn actively. Based on student differentiation, teachers
prepare teaching materials and give students the freedom to choose learning
processes that suit their learning styles and interests. Through creative learning,
students demonstrate the ability to develop various learning products in learning
using the model.Project Base Learning(PjBL). By utilizing formative assessment
results, teachers improve the quality of learning. Teachers use summative assessment
methods to determine the achievement of learning objectives and the level of student
mastery.
Teacher creativity is demonstrated in their ability to overcome various obstacles in
implementing the kurikulum merdeka. To overcome difficulties with internet access,
teachers utilize a variety of learning resources, learning media, and non-digital
assessments. They employ a variety of learning methods and models to address
differences in student characteristics and motivations. Teachers design learning
models to accommodate additional administratively burdensome tasks. Sociology
teachers' creativity is also demonstrated in collaborative learning, both with fellow
teachers and with learning resources from outside the school. In implementing the
kurikulum merdeka, the profile of a creative teacher is one who can provide enjoyable
learning using a variety of models, methods, media, and learning resources, is able to
utilize technology, actively engage students, and is able to encourage student
creativity.
Keywords: teacher creativity, sociology of education, sociology learning, Independent
Curriculum
5157654988A1D022170Pengaruh Inokulasi Rhizobakteria Penambat N₂ Asal Tanaman Tebu Terhadap
Pertumbuhan Bibit Single Bud Eye Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.)
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan komoditas perkebunan strategis
sebagai bahan baku utama industri gula nasional. Peningkatan produktivitas tebu
memerlukan bibit berkualitas dan teknologi budidaya yang ramah lingkungan, salah
satunya melalui pemanfaatan rhizobakteria penambat nitrogen sebagai Plant Growth-
Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian ini bertujuan memperoleh isolat
rhizobakteria penambat nitrogen asal rizosfer tebu yang berpotensi sebagai pupuk hayati
serta mengevaluasi pengaruh inokulasinya terhadap pertumbuhan bibit Single Bud Eye
tanaman tebu. Penelitian dilakukan melalui tahap isolasi dan karakterisasi rhizobakteria,
kemudian dilanjutkan dengan pengujian pada bibit Single Bud Eye menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas enam perlakuan, yaitu kontrol,
KMCP2, KMB4, KMBP4, KMAN1, dan KMA2 dengan empat ulangan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa diperoleh lima isolat rhizobakteria penambat nitrogen dengan
kemampuan penambatan nitrogen yang berbeda, dengan kemampuan tertinggi
ditunjukkan oleh isolat KMCP2 sebesar 2.047,5 ppm. Inokulasi rhizobakteria
berpengaruh nyata terhadap kehijauan daun, kadar klorofil a dan klorofil total, lebar
bukaan stomata, jumlah anakan, berat kering akar, panjang akar total, dan berat kering
tajuk. Isolat KMA2 menghasilkan kehijauan daun dan berat kering tajuk tertinggi,
sedangkan isolat KMAN1 menghasilkan kadar klorofil total dan jumlah anakan tertinggi.
Berdasarkan hasil tersebut, isolat KMAN1 dan KMA2 berpotensi dikembangkan sebagai
kandidat pupuk hayati untuk meningkatkan kualitas pembibitan Single Bud Eye tanaman
tebu.
Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is an important plantation crop serving as the
primary raw material for the sugar industry. Improving sugarcane productivity requires
high-quality planting materials and environmentally friendly cultivation technologies,
including the application of nitrogen-fixing rhizobacteria as Plant Growth-Promoting
Rhizobacteria (PGPR). This study aimed to obtain potential nitrogen-fixing
rhizobacterial isolates from the sugarcane rhizosphere and evaluate their effects on the
growth of Single Bud Eye sugarcane seedlings. The study consisted of rhizobacterial
isolation and characterization followed by greenhouse evaluation using a Randomized
Complete Block Design with six treatments (control, KMCP2, KMB4, KMBP4, KMAN1,
and KMA2) and four replications. The results showed that five nitrogen-fixing
rhizobacterial isolates exhibited different nitrogen fixation capacities, with KMCP2
showing the highest nitrogen fixation ability (2,047.5 ppm). Rhizobacterial inoculation
significantly increased leaf greenness, chlorophyll a and total chlorophyll contents,
stomatal aperture width, tiller number, root dry weight, total root length, and shoot dry
weight. KMA2 produced the highest leaf greenness and shoot dry weight, whereas
KMAN1 resulted in the highest total chlorophyll content and tiller number. Therefore,
KMAN1 and KMA2 are promising candidates for biofertilizer development to improve
the quality of Single Bud Eye sugarcane seedling production.
5157754989A1D022169Respon Pertumbuhan Bibit Mata Tunas Tunggal Tanaman Tebu (Saccharum
officinarum L.) Terhadap Inokulasi Rhizobakteria Pelarut Fosfat Dari Tanaman
Tebu
Fosfor merupakan salah satu unsur hara makro esensial yang berperan penting
dalam mendukung pertumbuhan tanaman tebu, namun sebagian besar fosfor di dalam
tanah berada dalam bentuk tidak tersedia sehingga efisiensi penyerapannya rendah.
Pemanfaatan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) pelarut fosfat menjadi
salah satu alternatif untuk meningkatkan ketersediaan fosfor secara biologis dan
mendukung pertumbuhan bibit tebu. Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan
mengarakterisasi bakteri pelarut fosfat asal rizosfer tanaman tebu serta mengevaluasi
pengaruh aplikasi isolat terpilih terhadap pertumbuhan bibit tebu (Saccharum officinarum
L.) metode Single Bud Eye (SBE). Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan
Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas enam perlakuan, yaitu kontrol dan lima isolat
bakteri pelarut fosfat (KMC2, KMAP3, KMBN4, KMBN1, dan KMCP1), dengan empat
ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan,
luas daun, panjang akar total, berat kering akar, berat kering tajuk, rasio tajuk–akar, dan
kerapatan stomata. Data dianalisis menggunakan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji
Duncan's Multiple Range Test (DMRT) taraf 5% serta analisis korelasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa aplikasi bakteri pelarut fosfat berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman, jumlah anakan, panjang akar total, berat kering akar, dan berat kering tajuk,
tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, luas daun dan kerapatan stomata.
Isolat KMAP3 memberikan respons pertumbuhan terbaik dengan menghasilkan tinggi
tanaman, jumlah anakan, luas daun, panjang akar total, serta biomassa tanaman yang lebih
tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Kemampuan pelarutan fosfat menunjukkan
hubungan positif dengan beberapa parameter pertumbuhan, terutama panjang akar total
dan berat kering tajuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat KMAP3 berpotensi
dikembangkan sebagai kandidat pupuk hayati untuk mendukung pertumbuhan bibit tebu.
Phosphorus is one of the essential macronutrients that plays a crucial role in
supporting sugarcane growth; however, most of the phosphorus in the soil is in an
unavailable form, resulting in low absorption efficiency. The use of phosphatesolubilizing Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) is one alternative for
biologically increasing phosphorus availability and supporting the growth of sugarcane
seedlings. This study aimed to isolate and characterize phosphate-solubilizing bacteria
from the sugarcane rhizosphere and to evaluate the effect of applying selected isolates on
the growth of sugarcane (Saccharum officinarum L.) seedlings using the Single Bud Eye
(SBE) method. The study was conducted using a Randomized Block Design (RBD)
consisting of six treatments—a control and five phosphate-solubilizing bacterial isolates
(KMC2, KMAP3, KMBN4, KMBN1, and KMCP1)—with four replicates. The observed
parameters included plant height, number of leaves, number of tillers, leaf area, total
root length, dry root weight, dry shoot weight, shoot-to-root ratio, and stomatal density.
The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan’s
Multiple Range Test (DMRT) at the 5% significance level and correlation analysis. The
results showed that the application of phosphate-solubilizing bacteria had a significant
effect on plant height, number of tillers, total root length, dry weight of roots, and dry
weight of the canopy, but had no significant effect on the number of leaves, leaf area and
stomatal density. The KMAP3 isolate exhibited the best growth response, producing taller
plants, a greater number of tillers, larger leaf area, longer total root length, and higher
plant biomass compared to the other treatments. Phosphate solubilization capacity
showed a positive correlation with several growth parameters, particularly total root
length and canopy dry weight. The results of this study indicate that the KMAP3 isolate
has the potential to be developed as a candidate biofertilizer to support the growth of
sugarcane seedlings.
5157854990F2B021004MAKNA TINDAKAN SOSIAL PELAKU PARIWISATA DALAM TRADISI RUWAT BUMI SEBAGAI MODAL BUDAYA PENGEMBANGAN PARIWISATA DI OBJEK WISATA AIR PANAS GUCI Abstrak
Tradisi Ruwat Bumi merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Selain memiliki fungsi sebagai ritual ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tradisi ini berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor pariwisata daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna tindakan sosial pelaku pariwisata dalam tradisi Ruwat Bumi serta mengidentifikasi kontribusinya terhadap pengembangan pariwisata di Objek Wisata Air Panas Guci. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan konstruktivisme. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, pemerintah desa, pelaku usaha wisata, masyarakat, wisatawan, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Tegal. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, sedangkan interpretasi hasil penelitian menggunakan teori tindakan sosial Max Weber dan perspektif pembangunan partisipatif Robert Chambers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan sosial pelaku pariwisata dalam tradisi Ruwat Bumi dimaknai sebagai bentuk tindakan tradisional, tindakan berorientasi nilai, tindakan afektif, serta tindakan rasional instrumental. Tradisi ini tidak hanya memperkuat identitas budaya masyarakat, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata, memperluas kesempatan kerja, menggerakkan sektor usaha mikro, serta memperkuat citra destinasi wisata budaya Kabupaten Tegal. Dengan demikian, Ruwat Bumi merupakan modal budaya yang memiliki peran strategis dalam pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.
Kata Kunci: tindakan sosial, Ruwat Bumi, pariwisata budaya, modal budaya, Weber.
Abstract

The Ruwat Bumi tradition is a form of local wisdom that continues to be preserved by the community of Guci Village, Bumijawa District, Tegal Regency. In addition to serving as a ritual expression of gratitude to Almighty God, this tradition has developed into a cultural tourism attraction that contributes to the development of the regional tourism sector. This study aims to analyze the meanings of social actions undertaken by tourism actors within the Ruwat Bumi tradition and to identify their contributions to tourism development at the Guci Hot Spring Tourism Site. This study employed a qualitative method with a constructivist approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving traditional leaders, village government officials, tourism business actors, local communities, tourists, and the Tegal Regency Tourism Office. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, while the findings were interpreted using Max Weber’s theory of social action and Robert Chambers’ perspective on participatory development. The results show that the social actions of tourism actors within the Ruwat Bumi tradition can be understood as traditional action, value-rational action, affective action, and instrumental-rational action. The tradition not only strengthens the cultural identity of the local community but also enhances tourist attraction, expands employment opportunities, stimulates micro-enterprises, and strengthens the image of Tegal Regency as a cultural tourism destination. Therefore, Ruwat Bumi constitutes a form of cultural capital that plays a strategic role in community-based tourism development.

Keywords: social action, Ruwat Bumi, cultural tourism, cultural capital, Weber
5157954992J0B022005Pembuatan Video Keselamatan Berwisata Berbahasa Mandarin di HeHa Sky View Yogyakarta Dalam Rangka Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)Laporan praktik kerja ini berjudul “Pembuatan Video Keselamatan Berwisata Berbahasa Mandarin di HeHa Sky View Yogyakarta Dalam Rangka Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)”. Kegiatan praktik kerja dilaksanakan di objek wisata HeHa Sky View, pada bulan Oktober 2024 hingga Maret 2025. Tujuan pelaksanaan praktik kerja ini untuk menyediakan informasi yang jelas dan mudah dipahami bagi wisatawan penutur bahasa Mandarin tentang petunjuk keselamatan. Latar belakang dilakukannya praktik kerja ini adalah untuk mendukung upaya peningkatan layanan keselamatan di HeHa Sky View Yogyakarta, yang terletak di atas bukit dan berisiko tinggi terhadap kecelakaan dan minimnya layanan keselamatan yang hanya tersedia dalam bentuk rambu tertulis, melalui pembuatan video Keselamatan Kerja (K3) berbahasa Mandarin. Dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan penutur bahasa Mandarin, penting untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan pengalaman berwisata yang nyaman dan aman selama berada di lokasi wisata. Metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah metode observasi, wawancara, studi pustaka, dan jelajah internet. Dalam proses penerjemahan teks video K3, penulis menggunakan metode penerjemahan komunikatif dan dengan teknik voice over. Hasil video diserahkan kepada pihak HeHa Sky View.This internship report is entitled “Pembuatan Video Keselamatan Berwisata Berbahasa Mandarin di HeHa Sky View Yogyakarta Dalam Rangka Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)”. The internship was conducted at HeHa Sky View, a tourist attraction in Yogyakarta, from October 2024 to March 2025. The purpose of this internship was to provide clear and easy-to-understand safety information for Mandarin-speaking tourists regarding safety guidelines. The background of this internship was the need to support efforts to improve safety services at HeHa Sky View Yogyakarta, which is located on a hill and has a relatively high risk of accidents. In addition, the safety information available at the site was limited to written signs. Therefore, the author produced a Mandarin-language Occupational Health and Safety (K3) video. With the increasing number of Mandarin-speaking tourists, it is important to ensure that they have a comfortable and safe experience while visiting the tourist attraction. The data collection methods used by the author were observation, interviews, literature review, and internet research. In translating the text for the K3 video, the author applied the communicative translation method and used the voice-over technique. The completed video was then submitted to the management of HeHa Sky View.
5158054993F1B019023Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Berbasis Gender dan AnakKekerasan Berbasis Gender dan Anak di Kabupaten Banyumas Masih menjadi tantangan yang kompleks. Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 3 Tahun 2015 yang disahkan sebagai salah satu payung hukum perlindungan korban. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan Peraturan Daerah tersebut menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumen, wawancara dan observasi dengan pelaksana di UPTD PPA Kabupaten Banyumas. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa implementasi Perda Nomor 3 Tahun 2015 memunculkan realitas paradoksal di lapangan. Berdasarkan enam variabel menemukan bahwa kebijakan tidak memiliki indikator dan mulai usang, membuat pelaksana mengadopsi regulasi lain sebagai pedoman harian; rasio antara SDM dan kasus sangat timpang, infrastruktur belum sesuai standar; komunikasi berjalan adaptif namun hambatan birokratis karena ketiadaan MoU dengan pihak eksternal; pelaksana saat ini dalam masa transisi dan kekosongan pemimpin definitive; kondisi sosial masyarakat memperparah sulitnya penjangkauan; pelaksana sangat militan dan inisiatif. Secara keseluruhan, disimpulkan bahwa secara operasional kebijakan ini hanya sebagai rujukan yuridis- normatif. perlindungan korban tidak digerakan oleh sistem melainkan komitmen moral dan dedikasi agen pelaksanaGender-Based and Child Violence in Banyumas Regency remains a complex challenge. This study aims to analyze the implementation of Banyumas Regency Regional Regulation Number 3/2015 with a qualitative method with data collection techniques through document studies, interviews, and observations with the implementers at the UPTD PPA Banyumas. The results of the study indicate that the implementation creates a paradoxical reality in the field. Based on the variables, it was found that the policy lacks indicators and has become obsolete, prompting implementers to adopt other regulations as daily guidelines; the ratio between human resources and cases is disproportionate, the infrastructure does not yet meet the standards; communication runs adaptively but faces bureaucratic obstacles due to the absence of MoU’s with external parties; the implementing agency is currently in a transition period and lacks a definitive leader; the social conditions of the community exacerbate the difficulty of outreach; and the implementers are highly militant and proactive. Overall, it is concluded that operationally, this policy solely serves as a juridical-normative reference and the protection system is driven by the moral and dedication of the implementing agents.