Artikelilmiahs
Menampilkan 51.481-51.500 dari 51.522 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51481 | 54895 | K1C022098 | ANALISIS NILAI SIGNAL TO NOISE RATIO DAN CONTRAST TO NOISE RATIO BERDASARKAN BMI PADA CITRA MRI KNEE JOIN | Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan modalitas imaging non-pengion yang digunakan untuk memeriksa struktur anatomi kompleks seperti knee joint, dengan kualitas citra yang dapat diukur secara kuantitatif melalui Signal-to-Noise Ratio (SNR) dan Contrast-to-Noise Ratio (CNR), yang dipengaruhi oleh faktor teknis maupun faktor eksternal berupa Body Mass Index (BMI) pasien. Parameter MRI di rumah sakit umumnya diseragamkan tanpa mempertimbangkan variasi BMI, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai SNR dan CNR berdasarkan kategori BMI pada pemeriksaan MRI Knee Joint potongan sagital. Penelitian kuantitatif non-intervensional ini dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dadi Keluarga, Purwokerto, dengan melibatkan 40 pasien yang dikelompokkan ke dalam lima kategori BMI berdasarkan klasifikasi Asia-Pasifik WHO (underweight, normal weight, overweight, obese I, dan obese II), di mana analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak RadiAnt melalui penempatan Region of Interest (ROI) pada area femur dan background. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SNR dan CNR cenderung meningkat seiring bertambahnya kategori BMI akibat kontribusi jaringan adiposa yang memperbaiki filling factor, namun kecenderungan ini mulai menurun pada kategori Obese II. nilai SNR dan CNR meningkat seiring bertambahnya kategori BMI hingga mencapai nilai tertinggi pada kategori Obese I, kemudian menurun pada kategori Obese II, menunjukkan bahwa hubungan BMI dan kualitas citra bersifat non-linear dengan titik ambang batas tertentu, sehingga evaluasi parameter MRI perlu mempertimbangkan kategori BMI pasien secara spesifik guna mengoptimalkan kualitas citra diagnostik. | Magnetic Resonance Imaging (MRI) is a non-ionizing imaging modality used to examine complex anatomical structures such as the knee joint, with image quality that can be quantitatively measured through Signal-to-Noise Ratio (SNR) and Contrast-to-Noise Ratio (CNR), which are influenced by both technical factors and external factors such as patient Body Mass Index (BMI). MRI parameters in hospitals are generally standardized without considering BMI variation, so this study aims to analyze the SNR and CNR values based on BMI categories in sagittal MRI Knee Joint examinations. This quantitative, non-interventional study was conducted at the Radiology Installation of Dadi Keluarga Hospital, Purwokerto, involving 40 patients grouped into five BMI categories based on the WHO Asia-Pacific classification (underweight, normal weight, overweight, obese I, and obese II), with data analysis performed using RadiAnt software through the placement of Region of Interest (ROI) on the femur and background areas. The results showed that SNR and CNR values tended to increase with rising BMI category due to the contribution of adipose tissue, which improves the filling factor, although this trend began to decline in the Obese II category. SNR and CNR values increased with rising BMI category, reaching the highest values in the Obese I category, before decreasing in the Obese II category, indicating that the relationship between BMI and image quality is non-linear with a certain threshold point, so that MRI parameter evaluation needs to specifically consider the patient's BMI category to optimize diagnostic image quality. | |
| 51482 | 54898 | A1D022107 | Aplikasi pupuk N, P, K dan pembenah tanah terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun jagung manis pada umur 14 dan 28 hari setelah tanam dalam sistem companion planting | Budidaya jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) dalam sistem companion planting memerlukan pengelolaan pemupukan yang tepat agar pertumbuhan awal tanaman berlangsung optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi pupuk NPK dan pembenah tanah serta kombinasi tanaman pendamping terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun jagung manis pada umur 14 dan 28 hari setelah tanam (HST). Penelitian dilaksanakan di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas pada bulan Oktober 2025–Februari 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu perlakuan pemupukan (NPK 100%, NPK 50%+biochar, NPK 50%+pupuk organik, dan biochar+pupuk organik) dan kombinasi tanaman pendamping (jagung manis dengan bawang prei dan jagung manis dengan bunga kol), yang diulang sebanyak tiga kali. Data dianalisis menggunakan uji F pada taraf 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan's Multiple Range Test (DMRT) apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan, kombinasi tanaman pendamping, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun jagung manis pada umur 14 dan 28 HST. Tinggi tanaman pada 14 HST berkisar 5,63–7,31 cm dan pada 28 HST berkisar 15,75–18,77 cm, sedangkan jumlah daun pada 14 HST berkisar 3,62–4,20 helai dan pada 28 HST berkisar 5,58–6,25 helai. Hal ini mengindikasikan bahwa pada fase awal pertumbuhan vegetatif, pertumbuhan tanaman masih banyak didukung oleh cadangan makanan pada biji dan belum sepenuhnya dipengaruhi oleh perbedaan sumber maupun dosis hara yang diberikan, serta bahwa jagung manis dapat dikombinasikan dengan bawang prei maupun bunga kol tanpa menimbulkan kompetisi yang berarti pada fase awal pertumbuhan. | The cultivation of sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) in a companion planting system requires appropriate fertilization management to support optimal early plant growth. This study aimed to determine the effect of NPK fertilizer and soil amendments application, as well as companion crop combinations, on the plant height and leaf number of sweet corn at 14 and 28 days after planting (DAP). The research was conducted in Karangnangka Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency, from October 2025 to February 2026, using a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors: fertilization treatment (100% NPK, 50% NPK+biochar, 50% NPK+organic fertilizer, and biochar+organic fertilizer) and companion crop combination (sweet corn with leek and sweet corn with cauliflower), replicated three times. Data were analyzed using the F test at a 95% confidence level, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) when significant effects were found. The results showed that fertilization, companion crop combination, and their interaction had no significant effect on the plant height and leaf number of sweet corn at 14 and 28 DAP. Plant height at 14 DAP ranged from 5.63–7.31 cm and at 28 DAP from 15.75–18.77 cm, while leaf number at 14 DAP ranged from 3.62–4.20 leaves and at 28 DAP from 5.58–6.25 leaves. This indicates that during the early vegetative phase, plant growth is still largely supported by seed food reserves and has not yet | |
| 51483 | 54899 | F2A024009 | PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MENDORONG TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS ADMINISTRASI PUBLIK | Perkembangan teknologi yang pesat akibat Revolusi Industri 4.0 telah mengintegrasikan internet ke dalam industri, meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah melalui media online. Media sosial memfasilitasi komunikasi interaktif antara pemerintah dan warga, memperkuat reformasi birokrasi dengan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Meskipun ada tantangan seperti keamanan data, media sosial tetap menjadi alat penting untuk memantau dan mengevaluasi kinerja pemerintah serta memperkuat hubungan dengan masyarakat. Di Indonesia, beberapa instansi pemerintah telah memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan partisipasi publik dan responsivitas, menunjukkan potensi besar dalam administrasi publik. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, yang melibatkan pengumpulan dan analisis berbagai sumber pustaka untuk membangun landasan teori dan kerangka berpikir. Studi literatur membantu peneliti mengorganisasikan informasi dari berbagai literatur, memperkuat argumen, dan mengembangkan hipotesis yang relevan. Dengan demikian, penelitian ini dapat mengidentifikasi tren terbaru dan kesenjangan dalam literatur terkait penggunaan media sosial dalam administrasi publik. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam administrasi publik dengan memfasilitasi penyebaran informasi yang cepat dan luas. Penggunaan media sosial dalam pelayanan publik, seperti inovasi "Si Cepat Mesi" di Kecamatan Kota Bangun, dapat meningkatkan efisiensi meskipun menghadapi hambatan seperti kurangnya sosialisasi dan infrastruktur. Media sosial juga berfungsi sebagai platform untuk meningkatkan interaksi antara pemerintah dan masyarakat, memperkuat kepercayaan publik. Tantangan seperti infrastruktur yang tidak memadai dan kurangnya literasi digital perlu diatasi untuk memaksimalkan potensi media sosial. Disarankan agar pemerintah meningkatkan akses internet dan pelatihan literasi digital, serta mengembangkan kebijakan dan strategi komunikasi yang efektif untuk mengatasi tantangan ini. | The rapid technological advancements resulting from the Fourth Industrial Revolution have integrated the internet into industries, enhancing public trust in government through online media. Social media facilitates interactive communication between the government and citizens, strengthening bureaucratic reform by increasing transparency and accountability. Despite challenges such as data security, social media remains a crucial tool for monitoring and evaluating government performance and strengthening relationships with the public. In Indonesia, several government agencies have utilized social media to enhance public participation and responsiveness, demonstrating significant potential in public administration. This research employs a literature study method, involving the collection and analysis of various sources to build a theoretical foundation and framework. Literature studies help researchers organize information from diverse literature, strengthen arguments, and develop relevant hypotheses. Thus, this research can identify the latest trends and gaps in the literature related to the use of social media in public administration. Based on the findings of this study, it can be concluded that social media plays a vital role in enhancing transparency and accountability in public administration by facilitating the rapid and widespread dissemination of information. The use of social media in public services, such as the "Si Cepat Mesi" innovation in the Kota Bangun District, can improve efficiency despite facing obstacles such as a lack of socialization and infrastructure. Social media also serves as a platform to enhance interaction between the government and the public, strengthening public trust. Challenges such as inadequate infrastructure and a lack of digital literacy need to be addressed to maximize the potential of social media. It is recommended that the government improve internet access and digital literacy training, as well as develop effective communication policies and strategies to address these challenges. | |
| 51484 | 54903 | J0A023080 | Immigration Scam Awareness Campaign: A Public Service Video to Promote Safe and Legal Immigration Practices | Laporan tugas akhir ini membahas pembuatan media promosional berupa video Iklan Layanan Masyarakat mengenai penipuan yang mengatasnamakan Kantor Imigrasi Cilacap. Selain menyajikan produk akhir, laporan ini juga menjelaskan pelaksanaan praktik kerja, proses pembuatan video Iklan Layanan Masyarakat (Public Service Announcement), serta kendala yang dihadapi beserta solusi yang diterapkan selama proses pengembangan produk.Proyek ini dilaksanakan selama kegiatan pelatihan kerja pada tanggal 11 Agustus hingga 28 November 2025 dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai modus penipuan yang dilakukan demi kepentingan pribadi pelaku. Metode yang digunakan dalam proyek ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terkait penipuan yang mengatasnamakan instansi imigrasi, sedangkan wawancara dengan petugas dan pemohon memberikan informasi mengenai bentuk penipuan yang sering terjadi serta dampaknya terhadap masyarakat. Dokumentasi dilakukan untuk mendukung pengumpulan data berdasarkan sumber resmi dan kegiatan selama proyek berlangsung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang kurang memahami informasi mengenai penipuan sehingga beberapa pemohon masih menjadi korban dari tindakan tersebut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis membuat video promosional berbentuk mini-drama yang dikembangkan berdasarkan referensi film agar penyampaian informasi menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat. Proses pembuatan video meliputi penentuan target audiens, penyusunan konsep cerita dan adegan, proses produksi dan promosi media, serta validasi isi materi agar informasi yang disampaikan tetap akurat. Melalui proyek ini, diharapkan masyarakat dapat lebih berhati-hati terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan pihak imigrasi serta memahami pentingnya memperoleh informasi dari sumber resmi. | This job training report discusses the creation of an promotional media product in the form of a Public Service Announcement (PSA) video about scam committed under the name of the Cilacap Immigration Office. In addition to presenting the final product, this report also describes the Job Training Implementation, the Process of Creating the Public Service Announcement Video, and the Obstacles and Solutions encountered during the development of the product. The project was conducted during the internship program from August 11 to November 28, 2025, with the aim of increasing public awareness of various scam schemes carried out for the perpetrators’ personal interests. The methods applied in this project included observation, interviews, and documentation. Observation was conducted to identify the public’s understanding regarding scams that misuse the name of the Immigration Office, while interviews with officers and applicants provided information about common scam cases and their impacts on society. Documentation was also carried out to support data collection from official sources and activities during the implementation of the project. The findings revealed that many people still lacked understanding of fraud-related information, causing several applicants to become victims of such crimes. To address this issue, the writer created an promotional video in the form of a mini-drama inspired by film references to make the information more engaging and easier for the public to understand. The process of producing the video included identifying the target audience, developing the storyline and scenes, conducting media production and promotional activities, and validating the content to ensure the accuracy of the information presented. Through this project, it is expected that the public will become more cautious of scam carried out under the name of the Immigration Office and understand the importance of obtaining information from official sources. | |
| 51485 | 54904 | I1D022061 | Pengaruh Tele-Nutrition Education Dan Diet Intermittent Fasting terhadap Kecukupan Gizi Makro dan IMT pada Dewasa Obesitas di Wilayah Banyumas | Latar Belakang: Masalah obesitas terus meningkat yang disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan dan pengeluaran energi, dengan IMT sebagai indikator sederhana untuk mengukurnya. Diet intermittent fasting (IF) berpotensi dapat menurunkan berat badan. Diet yang ditambah dengan edukasi dapat meningkatkan efektivitas penurunan berat badan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tele-nutrition education dan diet IF terhadap kecukupan gizi makro dan IMT pada dewasa obesitas di Banyumas. Metode: Penelitian ini menggunakan quasi-experimental rancangan pre-post test control group design. Sejumlah 38 responden dewasa obesitas dipilih dengan purposive sampling dengan matching dan dibagi pada kelompok intervensi (n=19) dan kontrol (n=19). Kelompok intervensi menerima tele-nutrition education dan menjalankan IF 5:2 selama 8 minggu. Berat badan diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) InBody 270, tinggi badan dengan stadiometer dan asupan zat gizi dengan food recall 2x24 jam. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, paired t-test, Mann-whitney, dan independent sample t-test. Hasil: Terdapat perubahan signifikan pada kecukupan energi (p=0,007), protein (p=0,034), dan karbohidrat (p=0,004), sedangkan lemak (p=0,126) dan IMT (p=0,326) tidak berubah signifikan pada kelompok intervensi. Pada kelompok kontrol, kecukupan energi (p=0,004), protein (p=0,029), dan karbohidrat (p=0,04) berubah signifikan, sedangkan lemak (p=0,093) dan IMT (p=0,864) tidak berubah signifikan. Pada uji beda antar kelompok, tidak terdapat perbedaan signifikan pada IMT (p=0,907), energi (p=0,162), protein (p=0,442), lemak(p=0,373), dan karbohidrat (p=0,161). Kesimpulan: Tele-nutrition education dan diet IF selama 8 minggu berpengaruh signifikan terhadap kecukupan energi, protein, dan karbohidrat pada kedua kelompok, meski penurunan IMT dan lemak belum signifikan. Tidak terdapat perbedaan antar kelompok pada seluruh variabel. Diperlukan perhatian terhadap asupan dan pemilihan makan berkualitas. Kata Kunci: diet intermittent fasting, IMT, kecukupan zat gizi makro, obesitas, tele-nutrition education | Background: The problem of obesity continues to rise, caused by an imbalance between energy intake and expenditure, with BMI serving as a simple indicator for measuring this. Intermittent fasting (IF) has the potential to promote weight loss. Combining a diet with education can enhance the effectiveness of weight loss. This study aims to analyse the effect of tele-nutrition education and an IF diet on macronutrient adequacy and BMI in obese adults in Banyumas. Methods: This study employed a quasi-experimental pre-post test control group design. A total of 38 obese adult participants were selected using purposive sampling with matching and divided into intervention group (n=19) and control group (n=19). The intervention group received tele-nutrition education and intermittent fasting (IF) 5:2 regimen for 8 weeks. Body weight was measured using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) InBody270, height using stadiometer, and nutrient intake via 2×24-hour food recall. Data analysis utilised the Wilcoxon test, paired t-test, Mann-Whitney test, and independent samples t-test. Results: There were significant changes in energy adequacy (p=0.007), protein (p=0.034) and carbohydrates (p=0.004), whilst fat (p=0.126) and BMI (p=0.326) did not change significantly in the intervention group. In the control group, energy adequacy (p=0.004), protein (p=0.029) and carbohydrate (p=0.04) showed significant changes, whilst fat (p=0.093) and BMI (p=0.864) did not change significantly. In the between-group comparison, there were no significant differences in BMI (p=0.907), energy (p=0.162), protein (p=0.442), fat (p=0.373) and carbohydrates (p=0.161). Conclusion: Tele-nutrition education and the IF diet over an 8-week period had a significant effect on energy, protein and carbohydrate adequacy in both groups, although the reduction in BMI and body fat was not yet significant. There were no differences between the groups for any of the variables. Attention should be paid to dietary intake and the selection of high-quality foods. Keywords: intermittent fasting diet, BMI, macronutrient adequacy, obesity, tele-nutrition education | |
| 51486 | 54905 | J0A023060 | English Tour Guiding Practice with the Production of a Learning Video at the Sonobudoyo Museum Yogyakarta | Laporan praktik kerja ini berjudul “English Tour Guiding Practice with the Production of a Learning Video at the Sonobudoyo Museum Yogyakarta.” Praktik kerja dilaksanakan pada 19 Agustus hingga 19 Desember 2025 di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Tujuan praktik kerja ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan praktik kerja, menjelaskan proses pembuatan video pembelajaran pemanduan wisata berbahasa Inggris serta mengidentifikasi hambatan dan solusi dalam kegiatan pemanduan wisata berbahasa Inggris dan pembuatan video pembelajaran guna meningkatkan kualitas kegiatan pemanduan wisata di Museum Sonobudoyo. Metode yang digunakan dalam praktik kerja ini meliputi observasi, wawancara, dan praktik langsung. Observasi dilakukan secara nonpartisipatif untuk mengamati kegiatan pemanduan wisata yang menjadi dasar dalam pelaksanaan praktik pemanduan. Wawancara informal dengan edukator museum dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai hambatan dan strategi komunikasi dalam memandu wisatawan asing. Praktik langsung dilakukan melalui kegiatan sebagai gallery sitter, escort, dan pemandu wisatawan asing secara langsung menggunakan bahasa Inggris, yang juga menjadi dasar dalam pembuatan video pembelajaran. Hambatan utama yang ditemui dalam praktik pemanduan wisata berbahasa Inggris adalah kesulitan dalam menangani pertanyaan spontan dari wisatawan asing, khususnya pertanyaan terkait informasi sejarah dan budaya yang belum sepenuhnya dikuasai. Untuk mengatasi hambatan tersebut, praktikan berusaha tetap tenang, menjelaskan kondisi secara jujur apabila diperlukan, dan berkonsultasi dengan edukator museum untuk memperoleh informasi yang akurat. Pendekatan ini membantu menjaga komunikasi dan profesionalisme selama kegiatan pemanduan. Secara keseluruhan, praktik kerja ini memberikan pengalaman berharga dalam menerapkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris di lingkungan museum secara nyata serta mendukung pengembangan keterampilan pemanduan wisata dan kepercayaan diri profesional praktikan. | This job training report is entitled “English Tour Guiding Practice with the Production of a Learning Video at the Sonobudoyo Museum Yogyakarta.” The job training activity was conducted from August 19 to December 19, 2025, at the Sonobudoyo Museum Yogyakarta. The purposes of this job training were to describe the implementation of job training, explain the process of producing an English tour guide learning video, and identify the obstacles and solutions in English tour guiding activities and learning video production to enhance the quality of tour guiding activities at the Sonobudoyo Museum. The methods used were observation, interviews, and hands-on practice. Observation was conducted non-participatively to observe tour guiding activities, which provided a basis for the guiding practice. Informal interviews with museum educators provided information about challenges and communication strategies in guiding foreign tourists. Hands-on practice was carried out through gallery sitting, escorting, and guiding foreign tourists directly in English, which was also used as the basis for producing a learning video. The main obstacle encountered during the English tour guiding practice was difficulty in handling spontaneous questions from foreign visitors, particularly questions related to historical and cultural information that had not been fully mastered. To overcome this obstacle, the intern remained calm, explained the situation honestly when necessary, and consulted museum educators to obtain accurate information. This approach helped maintain effective communication and professionalism during the tour. Overall, the job training provided valuable experience in applying English communication skills in a real museum setting and supported the development of the intern’s tour guiding skills and professional confidence. | |
| 51487 | 54906 | J0A023099 | Designing an Information Video about the Check-in Process for Yogyakarta International Airport's Instagram Platform | Laporan praktik kerja ini membahas kegiatan magang yang dilaksanakan di Yogyakarta International Airport (YIA) dengan fokus pada perancangan video informasi berbahasa Inggris mengenai proses check-in untuk platform Instagram YIA. Video informasi tersebut dibuat sebagai media pendukung komunikasi kepada penumpang dengan menyampaikan panduan mengenai prosedur check-in, ketentuan bagasi, serta informasi penting sebelum keberangkatan. Melalui kegiatan ini, penulis menghasilkan sebuah video informasi berbahasa Inggris yang dilengkapi dengan subtitle bahasa Indonesia untuk membantu penumpang domestik maupun internasional memahami proses keberangkatan dengan lebih mudah sekaligus mendukung strategi komunikasi digital YIA. Pembuatan video informasi dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Tahapan tersebut meliputi kegiatan observasi dan wawancara, penyusunan konsep, penulisan naskah dan storyboard, pengambilan gambar serta perekaman voice-over, proses penyuntingan video, hingga penambahan subtitle sebelum dilakukan peninjauan akhir. Meskipun terdapat beberapa kendala, seperti penyesuaian jadwal pengambilan gambar dengan aktivitas operasional bandara, seluruh proses dapat diselesaikan dengan baik. Video informasi yang dihasilkan diharapkan dapat membantu penumpang memahami prosedur check-in dengan lebih baik, mengurangi pertanyaan yang berulang kepada petugas customer service, serta mendukung penyampaian informasi digital Yogyakarta International Airport melalui Instagram. | This job training report discusses the internship conducted at Yogyakarta International Airport (YIA), which focused on designing an English informational video about the check-in process for the airport's Instagram platform. The informational video was created to support passenger communication by providing clear guidance on check-in procedures, baggage regulations, and essential travel information. Through this project, the writer produced an Englishlanguage informational video with Indonesian subtitles to help both domestic and international passengers understand the departure process more easily while supporting YIA's digital communication strategy. The development of the informational video involved three main stages: pre-production, production, and post-production. These stages included conducting observations and interviews, preparing the concept, script, and storyboard, recording video footage and voice-over, editing the video, and adding subtitles before the final review. Although several challenges were encountered during the production process, such as coordinating the filming schedule and adjusting to airport operational activities, the project was completed successfully. The final video is expected to improve passenger understanding of the check-in process, reduce repetitive inquiries received by customer service officers, and strengthen Yogyakarta International Airport's digital information services through Instagram. | |
| 51488 | 54886 | F1A021099 | Strategi Guru Sekolah Dasar dalam Mengatasi Permasalahan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan dalam implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya di jenjang sekolah dasar. Kurikulum Merdeka memiliki tujuan untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan efektif untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia sebagai pelajar berkarakter Pancasila. Namun, guru masih menghadapi kendala dalam proses implementasinya. Kondisi tersebut mendorong guru untuk menerapkan beberapa strategi agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan strategi guru sekolah dasar dalam mengatasi permasalahan implementasi Kurikulum Merdeka. Sekolah dasar merupakan tingkat pendidikan paling awal yang membentuk karakter dan literasi siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan di SDN 1 Banteran, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian ditentukan secara purposive yang terdiri dari guru kelas, kepala sekolah, dan siswa kelas 6. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji validitas data dilakukan menggunakan triangulasi sumber untuk menghindari bias penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga permasalahan yang dihadapi oleh guru yaitu kurangnya pemahaman dan kesiapan guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka, terbatasnya sarana dan prasarana terhadap akses teknologi, dan rendahnya motivasi belajar siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru melakukan strategi dengan menyesuaikan capaian pembelajaran, memanfaatkan media pembelajaran sederhana, dan meningkatkan keterlibataban aktif siswa melalui pembelajaran berbasis proyek. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka tidak hanya bergantung pada kemampuan guru, tetapi juga kesiapan sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana, serta motivasi belajar siswa. Strategi tersebut mendorong peningkatan profesional guru terutama dalam merancang pembelajaran dan melakukan penyesuaian terhadap berbagai kondisi yang ada. Oleh karena itu, guru disarankan untuk meningkatkan pemahaman mengenai Kurikulum Merdeka melalui pelatihan, komunitas belajar, dan kegiatan pengembangan profesional lainnya. Pihak sekolah juga perlu memberikan dukungan berupa penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran, khususnya pada fasilitas teknologi. Dengan adanya kerjasama antara guru, sekolah dan siswa, diharapkan implementasi Kurikulum Merdeka dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. | This research is motivated by problems in the implementation of the Independent Curriculum, especially at the elementary school level. The Independent Curriculum aims to create meaningful and effective learning to enhance faith, piety, and noble character as students with Pancasila values. However, teachers still face challenges in the implementation process. This situation encourages teachers to apply several strategies so that the learning process can run according to the goals of the Independent Curriculum. The purpose of this study is to describe the strategies of elementary school teachers in addressing the problems of implementing the Merdeka Curriculum. Elementary school is the earliest level of education that shapes students' character and literacy. Therefore, this study was conducted at SDN 1 Banteran, Sumbang District, Banyumas Regency. This study was carried out using a descriptive qualitative method. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. Research informants were selected purposively and consisted of class teachers, the principal, and sixth-grade students. Data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, which includes data condensation, data presentation, and drawing conclusions. Data validity was tested using source triangulation to avoid research bias. The research results show that there are three problems faced by teachers: the lack of understanding and readiness in implementing the Merdeka Curriculum, limited facilities and infrastructure for technology access, and low student motivation to learn. To address these issues, teachers use strategies like adjusting learning outcomes, utilizing simple learning media, and increasing active student involvement through project-based learning. Based on the findings, it can be concluded that the success of implementing the Merdeka Curriculum depends not only on the teachers' abilities but also on the school's readiness, the availability of facilities and infrastructure, and student learning motivation. This strategy encourages teachers to improve their professionalism, especially in planning lessons and adapting to different conditions. Therefore, teachers are advised to boost their understanding of the Merdeka Curriculum through training, learning communities, and other professional development activities. Schools also need to support this by providing learning facilities and infrastructure, particularly technology. With cooperation between teachers, schools, and students, it is expected that the implementation of the Merdeka Curriculum can run more effectively and sustainably. | |
| 51489 | 54907 | J0B022056 | Penerjemahan Dokumen Material Safety Data Sheet (MSDS) Kalium hidroksida ke dalam Bahasa Mandarin di PT Mulia Agung Chemindo | Artikel ini membahas kegiatan penerjemahan dokumen Material Safety Data Sheet (MSDS) Kalium Hidroksida dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Mandarin yang dilaksanakan di PT Mulia Agung Chemindo selama periode 2 November 2024 hingga 17 April 2025. Kegiatan ini berangkat dari persoalan nyata di lapangan: perusahaan belum memiliki dokumen MSDS Kalium Hidroksida berbahasa Mandarin, padahal PT Mulia Agung Chemindo menargetkan ekspor bahan kimia tersebut ke pasar Tiongkok pada tahun 2026. Tanpa dokumen keselamatan bahan yang dapat dipahami oleh mitra maupun pengguna di negara tujuan, proses ekspor berisiko terhambat, mengingat MSDS merupakan syarat administratif sekaligus panduan penanganan bahan kimia yang bersifat korosif seperti Kalium Hidroksida. Data dikumpulkan melalui penelusuran pustaka digital, studi dokumen, wawancara dengan pihak Sumber Daya Manusia perusahaan, dan observasi langsung di lingkungan kerja. Proses penerjemahan ditempuh melalui tiga tahap, yaitu analisis atau pemahaman teks sumber, pengalihan pesan (transfer), dan restrukturisasi kalimat agar sesuai kaidah bahasa Mandarin. Metode penerjemahan komunikatif dipilih karena menitikberatkan pada keterbacaan dan ketersampaian pesan bagi pembaca sasaran, bukan pada kesetiaan harfiah kata demi kata. Penerapan metode ini tampak, misalnya, pada penerjemahan larangan “Jangan memicu muntah pada korban” menjadi 切勿对患者进行催吐 (qiēwù duì huànzhě jìnxíng cuītù), yang memakai diksi 切勿 (qiēwù, “dilarang keras”) alih-alih padanan harfiah 不要 (búyào, “jangan”) agar bobot larangan dalam konteks keselamatan kerja tetap terasa. Hasil kegiatan ini adalah tersedianya dokumen MSDS Kalium Hidroksida berbahasa Mandarin dalam bentuk cetak dan berkas digital, yang telah diserahkan kepada Ibu Nova Puspita Rini selaku staf HR PT Mulia Agung Chemindo sebagai salah satu perangkat pendukung rencana ekspor perusahaan ke pasar Tiongkok. | This article discusses the translation of the Material Safety Data Sheet (MSDS) for potassium hydroxide from Indonesian into Mandarin, carried out at PT Mulia Agung Chemindo between 2 November 2024 and 17 April 2025. The work responded to a concrete operational gap: the company had no Mandarin-language MSDS for potassium hydroxide, even though it plans to export the substance to the Chinese market in 2026. Without a safety document that partners and end users in the destination country can understand, the export process risks delay, since an MSDS functions both as an administrative requirement and as a practical guide for handling a corrosive substance such as potassium hydroxide. Data were gathered through digital literature searches, document study, interviews with the company's Human Resources staff, and direct observation in the workplace. The translation followed three stages: analysis of the source text, message transfer, and restructuring to fit Mandarin grammar. A communicative translation method was applied throughout, prioritizing readability and message delivery for the target reader over strictly literal wording — evident, for instance, in rendering the safety instruction "do not induce vomiting in the victim" with the emphatic 切勿 (qiēwù, "never, under any circumstance") rather than the more literal 不要 (búyào, "don't"), preserving the force of the warning in an occupational-safety context. The result of this work is a printed and digital Mandarin MSDS for potassium hydroxide, delivered to Ms. Nova Puspita Rini, the company's HR representative, as a supporting document for PT Mulia Agung Chemindo's export plan to the Chinese market. | |
| 51490 | 54908 | L1C022048 | Analisis Distribusi dan Komponen Sedimen di Perairan Utara Jawa | Perairan utara Jawa (Laut Jawa) memiliki dinamika oseanografi kompleks akibat pengaruh monsun dan pasokan material terigen. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi spasial-vertikal ukuran butir sedimen, mengidentifikasi komponen penyusunnya (biogenik dan non-biogenik), serta mengkaji keterkaitan faktor hidrodinamika terhadap variasi sedimentasi. Sampel inti sedimen diambil dari tiga stasiun (JMF 01, JMF 03, JMF 05) dan dianalisis menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), mikroskop digital 3D, serta data pendukung TSS, arus, suhu, dan salinitas Marine Copernicus. Hasil menunjukkan Laut Jawa didominasi oleh sedimen berenergi rendah-sedang berupa lempung, lanau lempungan, hingga lanau pasiran berpemilahan buruk. Secara vertikal, stasiun JMF 01 menunjukkan tren mengasar ke bawah (~6.000 ke ~14.000) dengan kelimpahan cangkang moluska hingga 10% di lapisan atas. Stasiun JMF 03 merekam fluktuasi energi dengan lapisan pasir kekuningan akibat Monsun Barat purba (kedalaman 45–65 cm) dan dominasi komponen biogenik hingga 75% (ooze) pada kedalaman 25–27 cm. Stasiun JMF 05 merekam event deposit simetris berupa lonjakan ukuran butir (23.000) pada kedalaman 25–27 cm akibat resuspensi oleh arus pasang surut, dengan proporsi biogenik stabil (50%–60%). Proses transportasi dan zonasi deposisi ini dikontrol secara simultan oleh input terigen masif dari sungai-sungai utama, tingginya konsentrasi TSS pesisir, variasi suhu (warm pool 29,35°C–29,50°C), serta gradien salinitas (<31– 33,2 PSU) yang dipengaruhi Arus Lintas Indonesia dan El Niño 2015. Dinamika hidrodinamika musiman dan suplai fluvial menjadi faktor utama yang mengontrol evolusi sedimen dasar di perairan ini. | The northern waters of Java (Java Sea) exhibit complex oceanographic dynamics driven by monsoonal systems and terrigenous inputs. This study analyzes the spatial-vertical distribution of sediment grain size, identifies its biogenic and non-biogenic components, and assesses the impact of hydrodynamic factors on sedimentation variations. Core sediment samples from three stations (JMF 01, JMF 03, JMF 05) were analyzed using a Particle Size Analyzer (PSA) and a 3D digital microscope, integrated with TSS, current, temperature, and salinity Marine Copernicus data. Results indicate a low-to-moderate energy regime dominated by poorly sorted clay, clayey silt, and sandy silt fractions. Vertically, core JMF 01 shows a coarsening downward trend (~6,000 to ~14,000) with up to 10% mollusk shell fragments in the upper layer. Core JMF 03 records fluctuating energy, marked by a yellowish sand layer (45–65 cm depth) from paleomonsoons and a strong biogenic dominance up to 75% (ooze) at 25–27 cm depth. Meanwhile, core JMF 05 captures a symmetrical event deposit at 25–27 cm depth with a sharp grain size spike (~23,000) caused by tidal current-induced resuspension, maintaining a stable biogenic proportion (50%–60%). Transport and depositional zoning are driven by massive fluvial inputs, high coastal TSS, sea surface temperature variations (warm pool of 29.35°C-29.50°C), and a steep salinity gradient (<31 to 33.2 PSU) modulated by the Indonesian Throughflow and the 2015 El Niño. Overall, seasonal hydrodynamics and fluvial supply govern the evolution of bottom sediments in the Java Sea. | |
| 51491 | 54909 | I1B022103 | HUBUNGAN KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN DENGAN KRISIS IDENTITAS DIRI PADA REMAJA DI SMA NEGERI 1 BATURRADEN | Latar Belakang : Pada masa remaja, individu mulai membentuk identitas diri sebagai bagian dari tugas perkembangan. Kegagalan dalam pembentukan identitas diri yang optimal dapat menyebabkan krisis identitas diri. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kemampuan ini adalah keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Namun, keterlibatan ayah dalam pengasuhan di Indonesia masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan krisis identitas diri pada remaja di sekolah menengah atas (SMA). Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 204 siswa SMA Negeri 1 Baturraden yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Skala Father Involvement dan Skala Krisis Identitas Diri. Analisis data dilakukan secara univariat kemudian untuk bivariat menggunakan uji Somers' d. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan krisis identitas diri remaja di SMA (p-value = 0,002) dengan kekuatan hubungan lemah ke arah negatif (somers’ d = -0,202). Tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan mayoritas berada pada kategori sedang (70,1%), sedangkan tingkat krisis identitas diri remaja mayoritas juga berada pada kategori sedang (66,2%). Kesimpulan : Semakin tinggi keterlibatan ayah dalam pengasuhan, maka semakin rendah kecenderungan remaja mengalami krisis identitas diri di Sekolah Menengah Atas (SMA). | Background: Adolescence is a developmental stage during which individuals begin to establish their identity as part of their developmental tasks. Failure to develop a well established identity may lead to an identity crisis. One of the factors that may influence this process is father involvement in parenting. However, father involvement in parenting in Indonesia remains relatively low. Therefore, this study aimed to examine the relationship between father involvement in parenting with identity crisis among adolescent in senior high schools. Methodology: This study employed a quantitative correlational design with a cross sectional approach. The sample consisted of 204 students from SMA Negeri 1 Baturraden, selected using a convenience sampling technique. The instruments used were the Father Involvement Scale and the Identity Crisis Scale. Data were analyzed using univariate analysis, while the relationship between variables was examined using Somers' d test. Results: The results showed a statistically significant relationship between father involvement in parenting and identity crisis among senior high school adolescents (p-value = 0.002), with a weak negative correlation (Somers' d = −0.202). Most respondents had a moderate level of father involvement in parenting (70.1%), while the majority also experienced a moderate level of identity crisis (66.2%). Conclusion: The higher the level of father involvement in parenting, the lower the level of identity crisis among senior high school adolescents. | |
| 51492 | 54920 | B1A022077 | Skrining dan Optimasi Beberapa Bakteri Termofilik dalam Menghasilkan Enzim Lakase | Kebutuhan industri akan enzim lakase yang dapat bekerja dan stabil pada suhu tinggi memicu pencarian sumber enzim lakase di luar bakteri mesofilik. Bakteri termofilik dapat menjadi pilihan karena adaptasi seluler dan molekulernya dapat menghasilkan enzim yang aktif bekerja pada suhu tinggi. Pada penelitian sebelumnya telah diisolasi beberapa bakteri termofilik dari sumber air panas Ie Suum, Aceh Besar, dan sumber air panas Kawasan Candi Songgoriti, Kota Batu, Malang. Hasil skrining secara kualitatif menunjukan enam isolat bakteri (1A, 1B, 1D, 1E, PO, dan PC) memiliki kemampuan menghasilkan enzim lakase. Namun, kondisi optimum untuk menghasilkan aktivitas enzim lakase dari isolat bakteri termofilik tersebut belum diketahui. Aktivitas enzim lakase dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan nutrisi, antara lain suhu, konsentrasi substrat, induser, sumber karbon dan nitrogen. Sehingga diperlukan optimasi kondisi kultur untuk meningkatkan aktivitas enzim lakase. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan skrining bakteri dalam memproduksi enzim lakase dan mengoptimasi beberapa faktor lingkungan yaitu suhu inkubasi, substrat, induser serta sumber karbon dan nitrogen yang dapat menghasilkan aktivitas enzim lakase tertinggi. Penelitian ini dilakukan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong. Waktu penelitian berlangsung selama 6 bulan, dimulai sejak Februari hingga Juli 2026. Penelitian diawali dengan skrining terhadap keenam isolat bakteri termofilik berdasarkan kemampuan menghasilkan aktivitas enzim lakase pada suhu optimum pertumbuhan. Satu isolat terpilih dilanjutkan optimasi beberapa faktor dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) dan faktorial. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah suhu dengan variasi (40°C, 50°C, 60°C, dan 70°C), lignin konsentrasi (0,5 g/L, 1 g/L, dan 1,5 g/L), CuSO4 konsentrasi (0,1 mM, 0,5 mM, dan 1 mM), serta jenis dan konsentrasi sumber karbon (glukosa dan sukrosa dengan variasi konsentrasi 1%, 3%, dan 5%), dan sumber nitrogen (yeast extract dan pepton dengan variasi konsentrasi 1%, 3%, dan 5%). Variabel kontrol yaitu kecepatan agitasi, pH, konsentrasi inokulum dan volume media. Variabel terikat yaitu pertumbuhan bakteri dan aktivitas enzim lakase. Parameter utama yang diamati adalah nilai optical density (OD) dari pertumbuhan bakteri dan aktivitas enzim lakase. Data eksperimen dianalisis menggunakan ANOVA dengan perangkat SPSS dan dilanjutkan dengan uji least significant difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan isolat 1D memiliki suhu optimum 40⁰C. Isolat 1A, 1B, 1E dan PO memiliki suhu optimum 50⁰C. Isolat PC memiliki suhu optimum 60⁰C dan menghasilkan aktivitas enzim lakase tertinggi 018±0,002 U/mL dibandingkan dengan isolat 1A, 1B, 1D, 1E, dan PO. Lignin 0,5 g/L adalah konsentrasi optimum substrat lakase isolat PC dengan aktivitas enzim lakase sebesar 0,047±0,003 U/mL. CuSO4 0,5 mM adalah konsentrasi optimum induser lakase isolat PC dengan aktivitas enzim lakase sebesar 0,036±0,002 U/mL. Sukrosa 5% adalah konsentrasi optimum sumber karbon isolat PC dengan aktivitas enzim lakase sebesar 0,046±0,007 U/mL. Yeast extract 3% adalah konsentrasi optimum sumber nitrogen isolat PC dengan aktivitas enzim lakase sebesar 0,128±0,019 U/mL. Kombinasi lignin 0,5 g/L, CuSO4 0,5 mM dan yeast exctract 3% pada mineral salt medium (MSM) menjadi medium produksi terbaik untuk menghasilkan aktivitas enzim lakase tertinggi dibandingkan kombinasi lignin 0,5 g/L, CuSO4 0,5 mM, yeast exctract 3% dan sukrosa 5% pada medium MSM yang menghasilkan aktivitas enzim lakase sebesar 0,085±0,10 U/mL. | Industrial demand for laccase enzymes that remain functional and stable at high temperatures has driven the search for sources beyond mesophilic bacteria. Thermophilic bacteria are a promising option, as their cellular and molecular adaptations enable the production of enzymes active at high temperatures. Previous studies have isolated several thermophilic bacteria from the Ie Suum hot springs in Aceh Besar and the Songgoriti Temple area hot springs in Batu City, Malang. Qualitative screening results indicated that six bacterial isolates (1A, 1B, 1D, 1E, PO, and PC) were capable of producing laccase enzymes. However, the optimal conditions for laccase enzyme production by these thermophilic isolates remain unknown. Laccase activity is influenced by environmental and nutritional factors, including temperature, substrate concentration, inducers, and carbon and nitrogen sources; therefore, optimizing culture conditions is necessary to enhance laccase activity. This study aims to screen bacteria for laccase production and optimize key factorsspecifically incubation temperature, substrate, inducer, and carbon and nitrogen sources to achieve maximum laccase activity. This research was conducted at the National Research and Innovation Agency (BRIN), Soekarno Science and Technology Area, Cibinong. The study spanned six months, from February to July 2026. It began with the screening of six thermophilic bacterial isolates based on their ability to produce laccase enzyme activity at their optimum growth temperatures. One selected isolate was then subjected to optimization of several factors using completely randomized design (CRD) and factorial methods. The independent variables included temperature (40°C, 50°C, 60°C, and 70°C), lignin concentration (0.5 g/L, 1 g/L, and 1.5 g/L), CuSO4 concentration (0.1 mM, 0.5 mM, and 1 mM), as well as the type and concentration of carbon sources (glucose and sucrose at 1%, 3%, and 5%) and nitrogen sources (yeast extract and peptone at 1%, 3%, and 5%). Control variables included agitation speed, pH, inoculum concentration, and medium volume. The dependent variables were bacterial growth and laccase enzyme activity. The primary parameters observed were optical density (OD) values for bacterial growth and laccase enzyme activity. Experimental data were analyzed using ANOVA via SPSS software, followed by the least significant difference (LSD). The research results indicate that isolate 1D has an optimum temperature of 40°C. Isolates 1A, 1B, 1E, and PO have an optimum temperature of 50°C. Isolate PC has an optimum temperature of 60°C and yielded the highest laccase enzyme activity (0.118 ± 0.002 U/mL) compared to isolates 1A, 1B, 1D, 1E, and PO. A lignin concentration of 0.5 g/L was optimal for isolate PC laccase activity (0.047 ± 0.003 U/mL). A CuSO4 concentration of 0.5 mM was optimal for isolate PC laccase induction (0.036 ± 0.002 U/mL). A sucrose concentration of 5% was optimal as a carbon source for isolate PC (0.046 ± 0.007 U/mL). A yeast extract concentration of 3% was optimal as a nitrogen source for isolate PC (0.128 ± 0.019 U/mL). The combination of 0.5 g/L lignin, 0.5 mM CuSO4, and 3% yeast extract in mineral salt medium (MSM) proved to be the best production medium for achieving the highest laccase enzyme activity, compared to the combination of 0.5 g/L lignin, 0.5 mM CuSO4, 3% yeast extract, and 5% sucrose in MSM, which yielded an activity of 0.085 ± 0.10 U/mL. | |
| 51493 | 54926 | B1A022191 | Status Kerentanan Nyamuk Aedes aegypti Terhadap Insektisida Deltametrin di Kota Purwokerto. | Demam dengue (DD) telah menjadi masalah kesehatan global dengan peningkatan kasus yang signifikan. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa dalam empat bulan pertama tahun 2024 tercatat lebih dari 7,6 juta kasus, yang menunjukkan peningkatan dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2023 yang mencapai 4,6 juta. Di Kabupaten Banyumas, terjadi fluktuasi jumlah kasus. Pada tahun 2022 terjadi 307 kasus, dan pada tahun 2023 terjadi penurunan menjadi 273 kasus, namun di tahun 2024 terjadi peningkatan menjadi 580 kasus. Salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyumas yaitu di Kecamatan Purwokerto Selatan mengalami peningkatan kasus DD sebesar 28 kasus pada tahun 2023 menjadi 231 kasus pada tahun 2024, yang mengindikasikan terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama DD telah menunjukkan penurunan kerentanan terhadap insektisida piretroid, termasuk deltametrin di beberapa wilayah Indonesia. WHO menentukan konsentrasi 0,03% untuk deltametrin dalam pemantauan kerentaanan nyamuk Ae. aegypti dengan metode susceptibility. Namun, di Kota Purwokerto belum terdapat informasi tentang status kerentanan nyamuk Ae. aegypti terhadap piretroid, khususnya deltametrin. Pemantauan status kerentanan nyamuk terhadap insektisida penting untuk mendukung program pengendalian vektor yang efektif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai Lethal Time 50 (LT50) dan Lethal Time 90 (LT90), nilai Rasio Resistensi 50 (RR50) dan Rasio Resistensi 90 (RR90), serta status kerentanan nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida deltametrin 0,03% di Kota Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Setiap perlakuan menggunakan 10 ekor nyamuk Ae. aegypti betina berusia 3-5 hari dalam kondisi kenyang gula, dengan 3 kali pengulangan. Nyamuk dewasa diperoleh dari hasil pengambilan telur menggunakan ovitrap pada empat wilayah endemis demam dengue di Kota Purwokerto (Purwokerto Utara, Barat, Selatan, dan Timur). Telur dipelihara di laboratorium hingga stadium dewasa. Uji kerentanan dilakukan menggunakan metode susceptibility test standar WHO. Data mortalitas dianalisis menggunakan program POLO untuk mendapatkan nilai Lethal Time 50 (LT50) dan Lethal Time 90 (LT90). Rasio resistensi 50 (RR50) dihitung dengan membandingkan nilai LT50 dari masing-masing strain lapangan terhadap nilai LT50 dari strain rentan (strain IPB). Hasil penelitian menunjukkan nilai Lethal Time 50 (LT50) dan Lethal Time 90 (LT90) nyamuk Ae. aegypti terhadap deltametrin 0,03% pada keempat populasi lapangan berturut-turut yaitu Purwokerto Utara (LT50=36,073 jam; LT90=121,002 jam), Purwokerto Timur (LT50=51,245 jam; LT90=172,862 jam), Purwokerto Barat (LT50=57,846 jam; LT90=226,672 jam), dan Purwokerto Selatan (LT50=79,996 jam; LT90=254,490 jam), sedangkan populasi kontrol/rentan (strain IPB) menunjukkan LT50=24,079 jam dan LT90=50,714 jam. Nilai Rasio Resistensi 50 (RR50) pada keempat populasi berkisar antara 1,50 hingga 3,32, sedangkan nilai Rasio Resistensi 90 (RR90) berkisar antara 2,39 hingga 5,02. Populasi nyamuk Ae. aegypti di tiga wilayah di Kota Purwokerto (Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Timur) menunjukkan status resisten rendah dan satu wilayah yaitu Purwokerto Selatan sudah resisten menengah terhadap insektisida deltametrin 0,03% dengan tingkat resistensi berkisar 1,50-3,32 kali. | Dengue fever (DF) has become a global health issue with a significant increase in cases. The World Health Organization (WHO) reported that in the first four months of 2024, more than 7,6 million cases were recorded, representing an increase compared to the 4,6 million cases reported in 2023. In Banyumas Regency, the number of cases has fluctuated. In 2022, there were 307 cases, and in 2023, the number decreased to 273 cases; however, in 2024, it rose to 580 cases. One of the subdistricts in Banyumas Regency, South Purwokerto Subdistrict experienced an increase in dengue fever (DD) cases from 28 in 2023 to 231 in 2024, indicating an outbreak (KLB). The Aedes aegypti mosquito, the primary vector for DD, has shown reduced susceptibility to pyrethroid insecticides, including deltamethrin, in several regions of Indonesia. The WHO specifies a concentration of 0,03% for deltamethrin in monitoring the susceptibility of Ae. aegypti mosquitoes using the susceptibility method. However, in Purwokerto City, there is currently no information on the susceptibility status of Ae. aegypti mosquitoes to pyrethroids, particularly deltamethrin. Monitoring the susceptibility status of mosquitoes to insecticides is crucial for supporting effective vector control programs. The objectives of this study were to determine the Lethal Time 50 (LT50) and Lethal Time 90 (LT90) values, the Resistance Ratio 50 (RR50) and Resistance Ratio 90 (RR90) values, as well as the susceptibility status of Ae. aegypti to the insecticide deltamethrin 0,03% in Purwokerto City. This study employed an experimental design. Each treatment group consisted of 10 female Ae. aegypti mosquitoes aged 3–5 days that had been fed until satiated with sugar, with three replicates. Adult mosquitoes were obtained from eggs collected using ovitraps in four dengue-endemic areas of Purwokerto City (North, West, South, and East Purwokerto). The eggs were reared in the laboratory until the adult stage. Susceptibility testing was conducted using the WHO standard susceptibility test method. Mortality data were analyzed using the POLO program to determine the Lethal Time 50 (LT50) and Lethal Time 90 (LT90) values. The Resistance Ratio 50 (RR50) was calculated by comparing the LT50 values of each field strain to the LT50 value of the susceptible strain (IPB strain). The results showed that the Lethal Time 50 (LT50) and Lethal Time 90 (LT90) values for Ae. aegypti mosquitoes exposed to 0,03% deltamethrin in the four field populations were, in order: North Purwokerto (LT50 = 36,073 hours; LT90 = 121,002 hours), East Purwokerto (LT50 = 51,245 hours; LT90 = 172,862 hours), West Purwokerto (LT50 = 57,846 hours; LT90 = 226,672 hours), and South Purwokerto (LT50 = 79,996 hours; LT90 = 254,490 hours), whereas the control/susceptible population (IPB strain) showed LT50 = 24,079 hours and LT90 = 50,714 hours. The Resistance Ratio 50 (RR50) values for the four populations ranged from 1,50 to 3,32, while the Resistance Ratio 90 (RR90) values ranged from 2,39 to 5,02. The Ae. aegypti mosquito populations in three districts of Purwokerto City (North Purwokerto, West Purwokerto, and East Purwokerto) showed low resistance, while one district, South Purwokerto exhibited moderate resistance to 0,03% deltamethrin, with resistance levels ranging from 1,50 to 3,32 times. | |
| 51494 | 54927 | A1C022003 | KARAKTERISTIK PEMBUKAAN STOMATA BASIL (Ocimum basilicum L.) PADA PLANT FACTORY TERHADAP INTENSITAS CAHAYA, SUHU, DAN KELEMBAPAN | Stomata merupakan struktur penting pada daun yang berperan dalam mengatur pertukaran gas antara tanaman dan lingkungan. Pembukaan stomata memungkinkan karbon dioksida (CO₂) masuk ke dalam daun untuk mendukung fotosintesis, tetapi juga meningkatkan kehilangan air melalui transpirasi. Oleh karena itu, pembukaan stomata yang optimal diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan antara pemasukan CO₂ dan kehilangan air. Respons pembukaan stomata dipengaruhi oleh kondisi mikroklimat, seperti intensitas cahaya, suhu, dan kelembapan relatif. Plant factory menyediakan lingkungan budidaya terkendali yang memungkinkan kondisi mikroklimat dan respons fisiologis tanaman diamati secara lebih terarah. Namun, hubungan antara kondisi mikroklimat dan lebar bukaan stomata basil (Ocimum basilicum L.) pada sistem plant factory masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik mikroklimat di dalam plant factory, menganalisis hubungan antara intensitas cahaya, suhu, dan kelembapan relatif terhadap lebar bukaan stomata, serta mendeskripsikan perubahan lebar bukaan stomata tanaman basil pada beberapa waktu pengamatan selama fase terang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengelolaan dan Pengendalian Bio-Lingkungan, Universitas Jenderal Soedirman menggunakan sistem hidroponik ebb and flow di dalam plant factory dengan pencahayaan LED merah dan biru (3:1) serta fotoperiode 16 jam terang dan 8 jam gelap. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis korelasional. Data mikroklimat berupa intensitas cahaya, suhu, dan kelembapan relatif direkam secara otomatis menggunakan sensor BH1750 dan SHT20 Modbus selama 40 hari. Data intensitas cahaya hasil pengukuran sensor kemudian dikalibrasi dan dikonversi ke satuan Photosynthetic Photon Flux Density (PPFD). Pengamatan lebar bukaan stomata dilakukan setiap delapan hari sekali pada pukul 08.00, 12.00, dan 17.00 WIB menggunakan metode leaf printing pada permukaan abaksial daun yang diamati dengan mikroskop perbesaran 400×. Analisis data meliputi statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, uji korelasi Pearson dan Spearman sesuai karakteristik data, serta regresi polinomial orde dua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi mikroklimat di dalam plant factory relatif stabil dengan tingkat keragaman yang rendah. Nilai intensitas cahaya yang telah dikonversi ke PPFD selama 40 hari pengamatan berkisar antara 74,8–87,3 µmol m⁻² s⁻¹. Berdasarkan 15 data pengamatan stomata, hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa intensitas cahaya memiliki hubungan positif sedang dan signifikan dengan lebar bukaan stomata (r = 0,592; p = 0,020). Suhu juga menunjukkan hubungan positif sedang dan signifikan dengan lebar bukaan stomata (r = 0,572; p = 0,026), sedangkan kelembapan relatif menunjukkan hubungan negatif lemah dan tidak signifikan (r = −0,339; p = 0,216). Lebar bukaan stomata menunjukkan perubahan pada waktu pengamatan selama fase terang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perubahan lebar bukaan stomata basil berkaitan dengan kondisi mikroklimat, terutama intensitas cahaya dan suhu, sedangkan hubungan dengan kelembapan relatif tidak menunjukkan hubungan yang nyata. Penelitian ini memberikan informasi mengenai karakteristik respons pembukaan stomata basil terhadap kondisi mikroklimat pada lingkungan plant factory dan dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya terkait pengelolaan mikroklimat dan respons fisiologis tanaman pada sistem budidaya terkendali. | Stomata are important leaf structures that regulate gas exchange between plants and their surrounding environment. Stomatal opening allows carbon dioxide (CO₂) to enter the leaf to support photosynthesis, but it also increases water loss through transpiration. Therefore, optimal stomatal opening is required to maintain a balance between CO₂ uptake and water loss. Stomatal opening responses are influenced by microclimate conditions, including light intensity, temperature, and relative humidity. A plant factory provides a controlled cultivation environment that allows microclimate conditions and plant physiological responses to be observed more systematically. However, the relationship between microclimate conditions and stomatal aperture width of basil (Ocimum basilicum L.) in a plant factory remains limited. This study aimed to analyze the microclimate characteristics inside a plant factory, analyze the relationships between light intensity, temperature, and relative humidity and stomatal aperture width, and describe changes in basil stomatal aperture width at several observation times during the light period. The research was conducted at the Bio-Environmental Management and Control Engineering Laboratory, Jenderal Soedirman University, using an ebb and flow hydroponic system inside a plant factory equipped with red and blue LED lighting (3:1) under a 16-hour light and 8-hour dark photoperiod. A quantitative descriptive approach with correlational analysis was employed. Microclimate data, consisting of light intensity, temperature, and relative humidity, were automatically recorded using BH1750 and SHT20 Modbus sensors for 40 days. The measured light intensity data were calibrated and converted into Photosynthetic Photon Flux Density (PPFD). Stomatal aperture width was observed every eight days at 08:00, 12:00, and 17:00 using the leaf-printing method on the abaxial leaf surface under a 400× light microscope. Data analysis included descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, Pearson and Spearman correlation analyses according to data characteristics, and second-order polynomial regression. The results showed that the microclimate conditions inside the plant factory were relatively stable with low variability. Light intensity values converted into PPFD during the 40-day observation period ranged from 74.8 to 87.3 µmol m⁻² s⁻¹. Based on 15 stomatal observation data points, Spearman correlation analysis showed that light intensity had a moderate positive and significant relationship with stomatal aperture width (r = 0.592; p = 0.020). Temperature also showed a moderate positive and significant relationship with stomatal aperture width (r = 0.572; p = 0.026), whereas relative humidity showed a weak negative and non-significant relationship (r = −0.339; p = 0.216). Stomatal aperture width varied across the observation times during the light period. These results indicate that changes in basil stomatal aperture width were associated with microclimate conditions, particularly light intensity and temperature, while the relationship with relative humidity was not significant. This study provides information on the characteristics of basil stomatal responses to microclimate conditions in a plant factory and may serve as a basis for further studies on microclimate management and plant physiological responses in controlled cultivation systems. | |
| 51495 | 54910 | A1A019069 | Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi dan Analisis Usahatani Padi di Desa Caruban Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen Jawa Tengah | Desa Caruban, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen merupakan salah satu desa penghasil padi yang mengalami fluktuasi produksi paling tinggi dibandingkan desa-desa sekitarnya selama tahun 2020–2024 akibat penggunaan faktor-faktor produksi oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap produksi padi serta mengetahui rata-rata pendapatan petani padi di Desa Caruban. Penelitian dilaksanakan pada musim tanam kedua tahun 2024 dengan 70 petani sebagai sampel yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Data dianalisis menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas serta analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor produksi luas lahan, pupuk urea, pupuk phonska, insektisida, fungisida, benih, tenaga kerja, jarak tanam, umur, pendidikan, dan pengalaman bertani secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi padi. Secara parsial, faktor yang berpengaruh signifikan adalah luas lahan, pupuk urea, insektisida, tenaga kerja, dan jarak tanam. Pendapatan riil usahatani padi di Desa Caruban tercatat sebesar Rp14.351.480 per musim tanam. | Caruban Village, Adimulyo District, Kebumen Regency, is one of the rice-producing villages that experienced the highest production fluctuation among its neighboring villages during 2020–2024, driven by farmers' use of production factors. This study aims to analyze the factors that significantly affect rice production and to determine the average income of rice farmers in Caruban Village. The research was conducted during the second planting season of 2024 with a sample of 70 farmers selected through cluster random sampling. Data were analyzed using the Cobb-Douglas production function along with cost, revenue, and income analyses of rice farming. The results show that land area, urea fertilizer, phonska fertilizer, insecticides, fungicides, seeds, labor, planting distance, age, education, and farming experience simultaneously have a significant effect on rice production. Partially, the factors that significantly influence production are land area, urea fertilizer, insecticides, labor, and planting distance. The real income of rice farming in Caruban Village was recorded at IDR 14,351,480 per planting season. | |
| 51496 | 54911 | L1A022109 | POLA SEBARAN SPASIAL DAN PENENTUAN STATUS MUTU AIR BERDASARKAN METODE INDEKS PENCEMARAN DI KAWASAN MANGROVE SEGARA ANAKAN TIMUR, CILACAP | Kawasan mangrove Segara Anakan merupakan ekosistem estuari yang dipengaruhi oleh percampuran air laut dan air tawar serta mendapat tekanan dari berbagai aktivitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai parameter fisika-kimia, menggambarkan pola sebaran spasial kualitas air, dan menentukan status mutu air berdasarkan metode Indeks Pencemaran (IP). Penelitian dilakukan pada Oktober 2025 dan April 2026 di empat kawasan pengamatan, yaitu Sapuregel, Donan, Kutawaru, dan Kalipanas, dengan 10 stasiun, parameter yang diukur meliputi suhu, kekeruhan, salinitas, pH, Dissolved Oxygen (DO), nitrat, dan fosfat. Analisis spasial dilakukan menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW) pada QGIS, sedangkan status mutu air ditentukan berdasarkan Kepmen LH Nomor 51 Tahun 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berkisar 28,5 – 39,0°C, kekeruhan 1,80 – 20,60 NTU, salinitas 10 – 29,1 ppt, pH 6,00 – 8,00, DO 1,20 – 4,30 mg/L, nitrat 0,106 – 0,256 mg/L, dan fosfat 0,012 – 0,052 mg/L. Sebagian besar parameter, terutama kekeruhan, DO, nitrat, dan fosfat, tidak memenuhi baku mutu. Pola sebaran spasial menunjukkan distribusi yang heterogen, dengan Kalipanas dan Kutawaru cenderung memiliki kualitas air lebih rendah. Hasil perhitungan IP menunjukkan bahwa seluruh kawasan berada pada kategori tercemar sedang pada kedua periode pengamatan. | The Segara Anakan mangrove area is an estuarine ecosystem influenced by the mixing of seawater and freshwater and subject to pressure from various activities. This study aims to analyze pHysicochemical parameters, describe the spatial distribution patterns of water quality, and determine water quality status based on the Pollution Index (PI) method. The study was conducted in October 2025 and April 2026 at four observation sites Sapuregel, Donan, Kutawaru, and Kalipanas with 10 stations, The parameters measured included Temperature, Turbidity, Salinity, PH, Dissolved Oxygen (Do), Nitrate, and PHospHate. Spatial analysis was performed using the Inverse Distance Weighted (IDW) method in QGIS, while water quality status was determined based on Ministry of Environment Decree No. 51 of 2004. The results of the study showed that the temperature ranged from 28,5 – 39,0 °C, turbidity 1,80 – 20,60 NTU, salinity 10 – 29,1 ppt, pH 6,00 – 8,00, DO 1,20 – 4,30 mg/L, nitrate 0,106 – 0,256 mg/L, and pHospHate 0,012 – 0,052 mg/L. Most parameters particularly turbidity, dissolved oxygen (DO), nitrate, and pHospHate did not meet quality standards. The spatial distribution pattern showed a heterogeneous distribution, with Kalipanas and Kutawaru tending to have lower water quality. IP calculation results indicated that the entire area fell into the “moderately polluted” category during both observation periods. | |
| 51497 | 54912 | F1A022121 | SARKASME TERHADAP GEN Z PADA PODCASTKESELAJE DI TIKTOK | Perkembangan media sosial memengaruhi pembentukan representasi terhadap Gen Z. Gen Z kerap direpresentasikan negatif melalui humor dan sarkasme, salah satunya dalam konten Podcastkeselaje. Penelitian ini bertujuan menganalisis sarkasme terhadap Gen Z pada Podcastkeselaje di TikTok. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough meliputi dimensi teks, praktik diskursus, dan praksis sosio-budaya. Data yang digunakan berupa lima konten diantaranya Gen Z vs Kantor, SaNdWich Shaming bagi Gen Z, Kerja Shaming bagi Gen Z, kULiaH bagi Gen-Z, dan FOMO SPOTIFY WRAPPED 2024. Analisis didukung teori Problem of Generations Karl Mannheim dan wacana Michel Foucault. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z direpresentasikan sebagai generasi yang lemah, tidak mandiri, tidak produktif, dan haus validasi melalui sarkasme, hiperbola, ironi, satire, dan pelabelan. Representasi tersebut diproduksi dari fenomena dan stereotip di media sosial, dan dikemas sebagai humor. Mannheim menjelaskan karakteristik Gen Z melalui pengalaman historis, sedangkan Foucault menunjukkan pelabelan direproduksi melalui relasi kuasa dan pengetahuan. | The rise of social media has influenced the formation of representations of Gen Z. Gen Z is often potrayed negatively through humor and sarcasm, as seen, for example, in the content of Podcastkeselaje. This study aims to analyze the sarcasm directed at Gen Z in Podcastkeselaje on TikTok. This study employs a qualitative research method using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis approach, which encompasses the dimensions of text, discursive practices, and sociocultural praxis. The data used consist of five topics: Gen Z vs Kantor, SaNdWich Shaming bagi Gen Z, Kerja Shaming bagi Gen Z, kULiaH bagi Gen-Z, dan FOMO SPOTIFY WRAPPED 2024. The analysis is grounded in Karl Mannheim’s “Problem of Generations” theory and Michel Foucault’s discourse theory. The research findings indicate that Gen Z is potrayed as generation that weak, dependent, unproductive, and craving validation through sarcasm, hyperbole, irony, satire, and labeling. These representations are derived from phenomena and stereotypes on social media and presented as humor. Mannheim explains the characteristics of Gen Z through historical experience, while Foucault demonstrates how labeling is reproduced through relations of power and knowledge. | |
| 51498 | 54914 | J0A023055 | MAKING A BILINGUAL INFOGRAPHIC BANNER FOR PASSENGERS WITH DISABILITY AT YOGYAKARTA INTERNATIONAL AIRPORT | Laporan akhir ini berjudul “Pembuatan Spanduk Infografis Dua Bahasa untuk Penumpang Penyandang Disabilitas di Bandara Internasional Yogyakarta”. Laporan ini disusun berdasarkan kegiatan pelatihan kerja yang dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 2025 sampai 4 Desember 2025 di Bandara Internasional Yogyakarta. PT. Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo, adalah salah satu perusahaan perseroan terbatas di bidang transportasi yang beroperasi di Indonesia. Tujuan khusus kegiatan magang ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan pelatihan kerja di Yogyakarta International Airport, untuk membuat infografis bilingual khusus penumpang disabilitas di Yogyakarta International Airport serta untuk menjelaskan kendala dan solusi terkait prosedur penggunaan layanan SOS Help Service di Yogyakarta International Airport. The method of collecting the data was dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penulis mengamati fasilitas yang tersedia di bandara, mewawancarai staf yang bertugas dan pelanggan untuk memperoleh informasi yang akurat, serta mendokumentasikan fasilitas yang diperlukan guna melengkapi laporan. Proses ini menghadapi berbagai hambatan, terutama dalam perancangan infografis. Untuk mengatasinya, saya melakukan observasi dengan meneliti desain infografis lain yang tersedia di bandara tujuan, guna memastikan desain saya konsisten dan tidak bertabrakan dengan desain yang sudah ada. Saya juga menyerahkan desain tersebut kepada staf di sana untuk ditinjau dan melakukan satu putaran revisi guna memastikan data yang ditampilkan akurat. Tujuan akhir dari pembuatan infografis ini adalah untuk membantu Bagian Layanan Pelanggan dalam mencegah antrean panjang di meja informasi dan fasilitas SOS. | This final report is entitled “Making A Bilingual Infographic Banners for Passengers with Disability at Yogyakarta International Airport”. This report is based on a work placement programme conducted from 4 August 2025 to 4 December 2025 at Yogyakarta International Airport. PT. Angkasa Pura I (Persero) Yogyakarta International Airport, Kulon Progo, is a state-owned limited liability company operating in the transport sector in Indonesia. The specific objectives of this internship were to describe the implementation of on-the-job training at Yogyakarta International Airport, to create bilingual infographics specifically for passengers with disabilities at Yogyakarta International Airport, and to identify challenges and solutions related to the procedures for using the SOS Help Service at Yogyakarta International Airport. Data was collected through observation, interviews, and documentation. The author observed the facilities available at the airport, interviewed on-duty staff and passengers to obtain accurate information, and documented the necessary facilities to complete the report. This process faced various obstacles, particularly in the design of the infographic. To overcome this, I conducted observations by studying other infographic designs available at the destination airport to ensure my design was consistent and did not clash with existing designs. I also submitted the design to staff there for review and made one round of revisions to ensure the displayed data was accurate. The ultimate goal of creating this infographic is to help the Customer Service Department prevent long lines at the information desk and SOS facilities. | |
| 51499 | 54915 | F1A022065 | STRATEGI KELOMPOK PEREMPUAN DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI DAN KEBERLANJUTAN PEMBERDAYAAN MELALUI BUDI DAYA LEBAH KLANCENG | Program pemberdayaan masyarakat sering kali mengalami kegagalan dikarenakan hambatan dari internal, seperti kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat. Selain itu, terdapat hambatan dari ekternal yaitu kurangnya jumlah anggaran dan bantuan, serta pihak fasilitator tidak bekerja sesuai dengan prosedur. Oleh karena itu, kegiatan pemberdayaan yang dilaksanakan harus menggunakan strategi dan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan proses pemberdayaan dan strategi yang dilakukan kelompok perempuan untuk mempertahankan eksistensi kelompok dan keberlanjutan pemberdayaan melalui budi daya lebah klanceng di Desa Langgongsari. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan proses pemberdayaan sudah dilaksanakan melalui tahapan-tahapan pemberdayaan yaitu penyadaran (sosialisasi potensi dan pelaksanaan pemberdayaan), pengkapasitasan (pelatihan teknis, pembentukan kelompok dan struktur organisasi, serta penetapan norma dan kesepakatan bersama), dan pendayaan (pengelolaan koloni lebah secara bersama hingga mandiri). Adapun strategi yang digunakan kelompok dalam mempertahankan eksistensi dan keberlanjutan pemberdayaan budi daya lebah klanceng yaitu menumbuhkan kepercayaan antaranggota, memperlancar komunikasi dan mengefektifkan saluran informasi, serta memperkuat norma kelompok dan kesepakatan bersama. Tahapan yang terstuktur dari awal hingga akhir, serta strategi yang dilakukan kelompok saling berkaitan dalam mempertahankan eksistensi kelompok dan keberlanjutan kegiatan budi daya. | Community empowerment programs often face failure due to internal obstacles, such as lack of public awareness and participation. Additionally, there are external obstacles, namely insufficient budgets and assistance, as well as facilitators who do not work according to standard procedures. Therefore, implemented empoworment activities must utilize strategies and actions tailored to the community’s needs. This study aims to describe the empowerment process and the strategies employed by a women’s group to maintain group existence and empoworment sustainability through stingless bee (klanceng) cultivation in Langgongsari Village. The research methodology utilized is a descriptive qualitative approach. Data collection techniques included observation, in-depth interviewa, and documentation. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interctive analysis model, consisting of data, condensation, data display, and drawing and verifying conclusions. The research results show that the empowerment process has been carried out through empowerment stages, namely awarness-building (socialization of potential dan empowerment implementation), capacity-building (technical training, group formation, and organizational structure, as well as the establishment of norms and joint agreements), and enabling (managing bee colonies together until independence). Furthermore, the strategies used by the group to maintain the esistence and sustainability of stingless bee cultivation empowerment are fostering trust among members, smoothing communication and maximzing information channels, as well as strengthening group norms and joint agreements. The structured stages form beginning to end, along with the strategies implemented by the group, are interconnected in maintaining the group’s existence and the sustainability of cultivation activities. | |
| 51500 | 54938 | A1D022238 | APLIKASI KONSORSIUM BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI AGENS PENGINDUKSI KETAHANAN TANAMAN PISANG CAVENDISH TERHADAP INFEKSI BANANA BUNCHY TOP VIRUS (BBTV) | Produktivitas pisang Cavendish (Musa acuminata AAA Group) di Indonesia masih sangat dibatasi oleh infeksi Banana bunchy top virus (BBTV) yang ditularkan oleh vektor Pentalonia nigronervosa. Pemanfaatan bakteri endofit dalam bentuk konsorsium merupakan alternatif pengendalian hayati yang ramah lingkungan untuk menginduksi ketahanan sistemik tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas konsorsium bakteri endofit dalam meningkatkan ketahanan tanaman pisang Cavendish terhadap infeksi BBTV serta menentukan formulasi konsorsium terbaik. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2025–Juni 2026 di Laboratorium dan screenhouse Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan, yaitu: kontrol sehat (N0), kontrol sakit (N1), Konsorsium 1 (Serratia sp., Enterobacter sp., dan Stenotrophomonas sp. [N2]), serta Konsorsium 2 (Bacillus velezensis, Stenotrophomonas sp., dan Enterobacter sp. [N3]). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konsorsium 1 (N2) merupakan formulasi terbaik dalam menginduksi ketahanan tanaman. Perlakuan N2 secara nyata mampu memperlambat masa inkubasi hingga 30,75 HSI, menekan intensitas penyakit menjadi 75,00%, menurunkan nilai AUDPC menjadi 2,13 ± 0,25, serta mempertahankan pertumbuhan tinggi tanaman optimal sebesar 17,80 cm. Secara biokimia dan fisiologis, perlakuan N2 juga meningkatkan klorofil total (2.632,74 mg/L), akumulasi glukosa (65,38 g mol⁻¹), karbohidrat total (98,76 mg g⁻¹), kadar IAA internal (6,57 µg g⁻¹ FW), dan aktivitas enzim peroksidase adaptif sebesar 6,11 ΔA" " 〖"menit" 〗^(-1). Melalui analisis PCR, keberadaan pita DNA target BBTV terbukti negatif/tidak terdeteksi pada tanaman yang diberi perlakuan konsorsium bakteri endofit. | Cavendish banana (Musa acuminata AAA Group) productivity in Indonesia is highly constrained by Banana bunchy top virus (BBTV) infection, transmitted by the aphid vector Pentalonia nigronervosa. The application of endophytic bacterial consortia serves as an environmentally friendly biocontrol alternative to trigger induced systemic resistance. This study aimed to evaluate the effectiveness of endophytic bacterial consortia in enhancing Cavendish banana resistance to BBTV and to select the best consortium formulation. The research was conducted from August 2025 to June 2026 at the Laboratories and screenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The experiment employed a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and four replications: healthy control (N0), infected control (N1), Consortium 1 (Serratia sp., Enterobacter sp., and Stenotrophomonas sp. [N2]), and Consortium 2 (Bacillus velezensis, Stenotrophomonas sp., and Enterobacter sp. [N3]). The results revealed that Consortium 1 (N2) was the most effective formulation for inducing plant resistance. The N2 treatment significantly delayed the disease incubation period to 30.75 days after inoculation, suppressed disease intensity to 75.00%, reduced the AUDPC value to 2.13 ± 0.25, and maintained optimal plant height at 17.80 cm. Biochemically and physiologically, N2 increased total chlorophyll (2,632.74 mg/L), glucose accumulation (65.38 g mol⁻¹), total carbohydrate (98.76 mg g⁻¹), endogenous IAA (6.57 µg g⁻¹ fresh weight), and adaptive peroxidase (POX) activity to 6.11 ΔA" " 〖"min" 〗^(-1). PCR analysis confirmed that the BBTV DNA target band was negative or undetected in the consortia-treated plants. |