Artikelilmiahs

Menampilkan 51.481-51.500 dari 52.043 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5148123930A1M014042OPTIMASI FORMULA DAN ANALISIS DESKRIPTIF KUANTITATIF MUFFIN BERBASIS TIWUL INSTANMuffin adalah sejenis cake yang dibuat dalam ukuran personal, teksturnya padat, agak menggumpal dibagian isinya, dan bentuknya mirip dengan cupcake serta pembuatannya lebih sederhana dibandingkan membuat cake. Penelitian ini ditujukan untuk: 1) memperoleh proporsi optimal antara tiwul instan dengan terigu dan tepung kentang dengan pati jagung; 2) mengkaji karakteristik sensori produk dengan formula optimum dengan uji deskriptif kuantitatif; 3) Mengkaji tingkat kesukaan konsumen terhadap muffin tiwul instan yang dihasilkan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah CCD (Central Composit Design) dengan 14 formula terdiri atas 2 faktor dan 3 respon. Analisis yang dilakukan meliputi analisis deskriptif dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum muffin terdiri dari proporsi tiwul : terigu (61,46:18,54%) dan proporsi tepung kentang : pati jagung (14,27: 5,73%). Formula tersebut menghasilkan muffin dengan respon kesukaan 6,14 (agak suka), kelembutan 4,74 (agak tidak lembut-netral), keremahan 5,26 (netral). Hasil uji deskriptif kuantitatif menunjukkan bahwa muffin dengan formula optimum menghasilkan rasa buttery, cheesy, dan sweet yang lebih kuat dibanding kontrol 100% tiwul dan terigu. Muffin kontrol 100% terigu memiliki mouthfeel kelembutan dan keempukkan tertinggi, dan muffin kontrol 100% tepung tiwul memiliki tekstur keremahan, aroma dan rasa tiwul tertinggi. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa muffin dengan formula optimum memiliki nilai kesukaan 3,6 (agak suka-suka) lebih rendah dibandingkan muffin kontrol 100% terigu yaitu 4 (suka).Muffin is a type of cake made in personal size, the texture is dense, somewhat lumpy in its contents, and its shape is similar to a cupcake and its making is simpler than making a cake. This research is aimed at: 1) obtaining optimal proportions between instant tiwul and flour and potato flour with corn starch; 2) assess the sensory characteristics of the product with the optimum formula with quantitative descriptive tests; 3) Assess the level of consumer preference for instant tiwul muffins produced. The experimental design used was CCD (Central Composit Design) with 14 formulas consisting of 2 factors and 3 responses. The analysis carried out included descriptive analysis and preferences. The results showed that the optimum formula for muffin tiwul : wheat flour (61,46 : 18.54% and proportion of potato flour : corn starch (14,27 : 5,73%). The formula produce muffin with a overall acceptability 6.14 (rather like), softness 4,74 (rather not soft-neutral) and crumbness 5,26 (neutral). The quantitative descriptive test result showed that muffin with the optimum formula produced a buttery, cheesy, and sweet taste that was stronger than the 100% tiwul and wheat flour control. Control muffins 100% flour has the highest mouthfeel of softness and tenderness, and control muffins 100% tiwul flour has the highest texture of crumbness, aroma, and taste tiwul. The hedonic test result showed that the muffin with optimum formula had a favorite value of 3,6 (rather like to like) lower thas than muffin control 100% wheat flour is 4,1 (like).

514826144G1A009108HUBUNGAN KADAR ASAM URAT SERUM DAN LAJU FILTRASI GLOMERULUS PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II OBES
DI RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
Latar Belakang. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang banyak diderita oleh penduduk di dunia. Penderita DM mengalami gangguan metabolisme dalam tubuh, salah satunya adalah ketidakseimbangan kadar asam urat. Kadar asam urat pada penderita DM dengan obesitas akan cenderung meningkat. Kadar asam urat yang tinggi dapat mempengaruhi fungsi ginjal. Salah satu parameter untuk mengetahui gangguan fungsi ginjal adalah menurunnya Laju Filtrasi Glomerulus (LFG).
Tujuan Penelitian. Untuk mengkaji adanya hubungan antara kadar asam urat serum dengan LFG pada pasien DM tipe II obes.
Metode Penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek yang digunakan adalah penderita DM dengan obesitas berjumlah 40 orang dan berusia 35-60 tahun. Subjek yang telah menggunakan terapi insulin, obat penurun asam urat, obat diuretik, alkohol, dan memiliki hipertensi.
Hasil Penelitian. Nilai maksimum asam urat adalah 9,37 mg/dl dan nilai minimum 4,08 mg/dl. Asam urat serum memiliki rata-rata, 5,83 mg/dl. Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) memiliki nilai maksimum 86 mL/Min/1,73 m2 dan nilai minimum 37 mL/Min/1,73 m2, dan rata-rata 58,03 mL/Min/1,73 m2. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar asam urat serum dengan LFG, dengan kekuatan korelasi sedang dan arah korelasi negatif (p = 0,007; r = -0,420).
Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar asam urat serum dengan Laju Filtrasi Glomerulus pada pasien DM tipe 2 obes.
Background. Diabetes Melitus (DM) is a disease that suffered by people around the world. DM patients suffered metabolism disorders in their body, including imbalance of uremic acid level. Uremic acid level in diabetes melitus with obesity patient tends to increase. High level of uremic acid level will effect kidney function. One of parameter to diagnose kidney function disorder is the decrease of Glomerular filtration rate (GFR).
Objectives. To understand the correlation of uremic acid serum level and Glomerular filtration rate (GFR) in tipe II DM with obesity patient.
Methods. This research was analitic observational with cross sectional study. Subjects enrolled were 40 tipe II DM with obesity patients, aged 35-60 years old. Subjects that already received insulin therapy, decrease uremic acid level drugs, diuretic drugs, alcohol, and had hypertension.
Result. Uremic acid serum level max value were 9,37 mg/dl , min value were 4,08 mg/dl and mean value were 5,83 mg/dl. GFR max value were 86 mL/Min/1,73 and min value were 37 mL/Min/1,73 m2, and mean value were 58,03 mL/Min/1,73 m2. The result of Pearson correlational test showed significantly correlation betweed uremic acid serum level and GFR, with negative, moderate correlational strength (p = 0,007; r = -0,420).
Conclusions. There was correlation between uremic acid serum level and GFR in tipe II diabetes melitus with obesity patient.
5148337077C1C015021ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) SEBAGAI ALAT BANTU PERENCANAAN LABA PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI BANYUMAS
(Studi Kasus pada Elly Co-Sweet dan Kelompok Tani Lereng Slamet)
Analisis Break Even Point (BEP) merupakan teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya total, laba yang diharapkan dan volume penjualan. Secara umum analisa ini juga memberikan informasi mengenai margin of safety yang memiliki kegunaan sebagai indikasi dan gambaran kepada manajemen berapakah penurunan penjualan dapat ditaksir sehingga usaha yang dijalankan tidak menderita rugi. Analisis BEP dapat membantu manajemen dalam hal perencanaan laba. Analisis BEP dapat dijadikan sebagai dasar untuk membantu manajeman dalam penentuan harga dari suatu produk, selain itu BEP juga membantu manajemen untuk menentukan berapa jumlah penjualan produk minimal yang harus dijual perusahaan agar suatu perusahaan tidak mengalami kerugian. BEP dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan jumlah penjualan untuk memeroleh laba yang maksimal dan sebagai dasar atau landasan manajemen dalam merencanakan kegiatan operasional dalam usaha untuk memeroleh laba tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis break even point sebagai perencanaan laba pada Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gula kelap di Kabupaten Banyumas yakni Elly Coco-Sweet dan Kelompok Tani Lereng Slamet. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis break even point, yaitu melalui pengumpulan data-data dari UMKM seperti data biaya, data pendapatan dan data penjulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Elly Co-Sweet akan mencapai BEP pada penjualan sebanyak 16.001 unit sedangkan pada Kelompok Tani Lereng Slamet aan mencapai BEP pada penjualan 19.883 unit. Penelitian ini memberikan gambaran kepada kedua UMKM bagaimana untuk melakukan perencanaan laba sehingga UMKM dapat menentukan target penjualan untuk dapat memeroleh laba yang diinginkan.Break Even Point (BEP) is an analytical technique to study the relations between total cost, profit and sales volume. BEP analysis also provide an information about margin of safety for management about the reduction in sales that can occur in business to avoid the risk of loss . BEP analysis helps management in terms of profit planning. BEP analysis can be used to determine the price of a product, on the other hand BEP also helps management to determine the minimum number of product sales needed by the company to avoid loss. BEP can be used to determine the amount of sales needed to obtain maximum profit and for operational planning to obtain certain profit. The purpose of this research is to determine the analysis of break even points as profit planning in coconut sugar micro small and medium enterprises (MSMEs) in Banyumas Regency. The method used in this research is quantitative method. Data analysis was carried out using break even point analysis, namely through collecting data from MSMEs such as cost data, revenue data and sales data. The results show that Elly Co-Sweet will achieve BEP on sales of 16,001 units or Rp400.031.354, while the Lereng Slamet Farmers Group will achieve BEP on sales of 19,883 units or Rp.436.408.046. This study provides an overview to both MSMEs how to make profit planning so that MSMEs can determine sales targets to be able to obtain the desired profit.
5148428796L1C016053PERBANDINGAN KELIMPAHAN ORNAMENTAL FISH PADA
TERUMBU HARD DAN SOFT CORAL DI PULAU MENJANGAN
BESAR, TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
Penelitian ini mengkaji tentang perbandingan kelimpahan ornamental fish
pada terumbu hard dan soft coral di Pulau Menjangan Besar, Taman Nasional
Karimunjawa. Sebagai salah satu potensi sumber daya hayati ornamental fish
selain sebagai komoditas perdagangan bernilai ekonomis cukup tinggi juga
memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan. Terumbu hard dan soft coral
merupakan habitat dari ornamental fish. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
kelimpahan ornamental fish, persentase tutupan hard dan soft coral, serta
mengetahui hubungan dari kedua variabel ukur tersebut. Metode penelitian
penelitian yang digunakan antara lain Line Intercept Transect (LIT) dan Belt
Transect untuk mengukur persentase hard dan soft coral kemudian Underwater
Visual Census (UVC) digunakan untuk mengetahui kelimpahan ornamental fish.
Analisis data menggunakan deskriptif dan statistik Uji-U Mann Whitney dan
analisis korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukan terdapat 6 famili
ornamental fish dengan jumlah sebanyak 3.139 individu pada hard coral dan 470
individu pada soft coral. Kelimpahan ornamental fish pada terumbu hard coral
3,45 ind/300m² dan 0,52 ind/300m² pada soft coral. Hasil analisis perbedaan
kelimpahan ornamental fish pada terumbu hard dan soft coral menunjukan
perbedaan yang nyata (p<0,05). Hasil analisis korelasi pearson terhadap
kelimpahan ornamental fish dengan persentase tutupan hard coral menunjukan
adanya korelasi sangat kuat (0,926), terhadap soft coral menunjukan adanya
korelasi sedang (0,497). Kelimpahan ornamental fish pada terumbu hard coral
sebesar 3,45 individu/300m2 dan pada terumbu soft coral sebesar 0,52 individu/300m2. Persentase tutupan hard coral termasuk dalam kategori sedang-baik (46,3-61,7%). Persentase tutupan soft coral termasuk dalam kategori buruk (3,8-15,5%). Hasil analisis menunjukan perbedaan yang nyata antara kelimpahan ornamental fish pada hard dan soft coral (P<0,05).
This study examined a comparation of ornamental fish abundance on hard and
soft coral reefs in Menjangan Besar Island, Karimunjawa National Park. As one of the
potential biological resources ornamental fish in addition to being a trading commodity
is quite high economical value also has a high appeal for tourists. Hard coral and soft
coral is a habitat of ornamental fish. The purpose of this research is to know the
abundance of ornamental fish, hard and soft coral cover percentage, and to know the
relationship of these two measuring variables. Methods of research studies were used
include Line Intercept Transect (LIT) and Belt Transect to measure the percentage of
hard and soft coral and then the Underwater Visual Census (UVC) was used to know
the abundance of ornamental fish. Data analysis used the both descriptive Mann
Whitney test statistical and the Pearson correlation analysis. The results showed that
there were 6 family ornamental fish with a total of 3,139 individuals in hard coral and
470 individuals on soft coral. The abundance of ornamental fish on reef hard coral is
3.45 ind/300m ² and 0.52 ind/300m ² on soft Coral. The result of analysis of the
difference ornamental fish abundance in hard reefs and soft coral shows a noticeable
difference (p < 0.05). The results of Pearson's correlation analysis of ornamental fish
abundance with hard coral cover percentages showed a very strong correlation (0.926),
against soft corals indicating moderate correlation (0.497). The abundance of
ornamental fish on reef hard coral is 3.45 individual/300m2 and on soft coral reefs of
0.52 individual/300m2. The hard coral cover percentage belongs to the medium-fine
category (46,3-61,7%). Soft coral cover percentage belongs to the bad category (3.8-
15.5%). Analysis results show a noticeable difference between the abundance of
ornamental fish on hard and soft coral (p < 0.05).
514853337G1G008020EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KAYU SIWAK
(Salvadora persica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012

INTISARI

ABINNAHL ASHSHOBIRIN A.
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KAYU SIWAK (Salvadora persica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis

Kayu siwak mengandung senyawa kimia yang diduga memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kayu siwak dengan nilai IC50 dan golongan senyawa kimia yang terkandung. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris. Kayu siwak yang diperoleh dalam bentuk kemasan, diekstrak mengunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Uji antibakteri dilakukan secara in vitro dengan 7 macam perlakuan yaitu: 0,753%, 1,563%, 3,125%, 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%. Uji daya hambat dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumuran, sedangkan uji efektivitas dilakukan dengan menggunakan analisis probit untuk mengetahui nilai IC50. Hasil penelitian menunjukan ekstrak kayu siwak ini mengandung senyawa kimia yang diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu saponin, flavonoid, tanin, alkaloid, dan terpenoid. Aktivitas zona hambat terendah dihasilkan pada konsentrasi 6,25% dengan persentase daya hambat 6,22% sedangkan zona hambat tertinggi yaitu pada konsentrasi 50% dengan persentase daya hambat 30,22%. Nilai IC50 yaitu konsentrasi yang dapat menghambat 50% pertumbuhan bakteri P. gingivalis. Nilai IC50 yang didaptkan yaitu 49,5%.

Kata kunci: Antibakteri, IC50, Porphyromonas gingivalis, Salvadora persica, Siwak,
Kepustakaan: 26 (1986-2011)
DEPARTEMENT OF DENTISTRY
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY
PURWOKERTO
2012


ABSTRACT

ABINNAHL ASHSHOBIRIN
EFFECTIVITY OF EXTRACT Siwak (Salvadora persica) TO BACTERIA Porphyromonas gingivalis

Siwak contains chemical compounds believed to have antibacterial activity. This study aims to determine the antibacterial activity of siwak extracts with IC50 values and the chemical compound contained. The research method used was experimental laboratory. Siwak obtained in the from of packaging and extracted using maceration method using 96% ethanol. Antibacterial test conducted in vitro with 7 kinds of treatment are: 0.753%, 1.563%, 3.125%, 6.25%, 12.5%, 25%, and 50%. Tests conducted by the inhibition of diffusion method, whereas effectiveness trials conducted using probit analysis to determine the IC50 values. The results showed siwak extract contains a chemical compound that is thought to have antibacterial activity of saponins, flavonoids, tannins, alkaloids, and terpenoids. Activity lowest inhibition zone produced at a concentration of 6.25%, with the percentage inhibition of 6.22%, while the highest inhibition zone on the concentration of 50% with the percentage inhibition of 30.22%. IC50 value is the concentration that can inhibit 50% growth of bacteria P. gingivalis. IC50 values were be obtained is 49.5%.


Key words: Antibactery, IC50, Porphyromonas gingivalis, Salvadora persica, Siwak,
Bibliography: 26 (1986-2011)
5148628482F1B015054AKUNTABILITAS PENGELOLAAN DANA ZAKAT PADA BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL KABUPATEN BANYUMASPentingnya akuntabilitas publik dalam pengelolaan keuangan sangat diperlukan guna menimbulkan kepercayaan masyarakat. Salah satu lembaga pemerintahan yang juga turut mengelola keuangan di daerah adalah Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan teori akuntabilitas dari Koppell dengan pendekatan transparansi, liabilitas, kontrol, responsibilitas, dan responsivitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling pemilihan informan yang benar-benar mengerti tentang informasi objek penelitian dan informan dapat dipercaya sebagai sumber data yang berkompeten dan untuk memperoleh data dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Sedangkan validitas data menggunakan triangulasi sumber yaitu dengan membandingkan dan mengecek kembali tingkat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukan akuntabilitas pengelolaan dana zakat pada Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Banyumas dinilai sudah cukup akuntabilitas, yang dinilai dari aspek transparansi bahwa laporan pertanggungjawaban dana zakat sudah berjalan baik, namun masih sering terlambat karena keterbatasan sumber daya dan sistem pendataan zakat yang masih manual, dari aspek kontrol sudah cukup baik karena diaudit dari internal Baznas dan ekternal KAP (Kantor Akuntan Publik), dari aspek liabilitas sudah cukup baik hal ini dibuktikan dengan diraihnya dua penghargaan yakni dukungan APBD dari pemerintah daerah Baznas Kabupaten Banyumas, kedua yaitu Program Unggulan dalam Pentasharufan Baznas Kabupaten Banyumas. Dari aspek responsibilitas dalam hal ini ketaatan Baznas terhadap hukum sudah berjalan baik, seluruh aturan disesuaikan sehingga dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya, aspek responsivitas sudah cukup baik karena masyarakat dapat datang langung mengajukan bantuan ke Baznas, akan tetapi masih perlu ditingkatkan dari sisi sosialisasi program – program Baznas sehingga manfaat dapat lebih luas dirasakan masyarakat.The importance of public accountability in financial management is needed to generate public trust. One of the government institutions that also helps manage finances in the region is the National Amil Zakat Agency of Banyumas Regency. This study uses Koppell's theory of accountability with approaches of transparency, liability, control, responsibility, and responsiveness. This research uses descriptive qualitative method. The selection of informants uses purposive sampling techniques the selection of informants who truly understands the information of the research object and the informant can be trusted as a competent source of data and to obtain data using interviews, observation, and documentation. The data analysis technique uses an interactive analysis model and continues until it is completed, so that the data is already saturated. While the validity of the data uses triangulation of sources by comparing and re-checking the level of confidence in the information obtained. The results showed the accountability of zakat fund management at the National Amil Zakat Agency in Banyumas Regency was considered to be sufficient accountability, which was assessed from the aspect of transparency that the accountability report on zakat funds had gone well, but it was still often too late due to limited resources and a manual zakat data collection system, from the control aspect is good enough because it is audited from Baznas internal and external KAP (Public Accountant Office), from the liability aspect it is good enough. Banyumas. From the aspect of responsibility in this case Baznas obedience to the law has been going well, all the rules are adjusted so that they can carry out their duties properly, the responsiveness aspect is good enough because the community can come directly asking for assistance to Baznas, but it still needs to be improved in terms of program socialization Baznas so that the benefits can be more widely felt by the community.
5148755391I4D025008Evaluasi Dinamika Popularitas dan Profitabilitas Menu Dine-In Pengilon Menggunakan Menu Engineering Tahun Penjualan 2024-2025Menu engineering merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja dari setiap item menu dalam suatu usaha makanan sebagai dasar pengambilan keputusan manajerial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kinerja menu pada data penjualan dine-in tahun 2024-2025 pada restoran Pengilon menggunakan desain penelitian desktriptif kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan penjualan pada kedua tahun tersebut. Data yang digunakan adalah 106 item menu yang terdapat pada tahun 2024 dan 2025. Selanjutnya dilakukan penghitungan terhadap tingkat popularitas dan margin kontribusi, kemudian setiap menu diklasifikasikan dalam kategori star, plowhorse, puzzle, dan dog. Perbedaan distribusi kategori antara tahun 2024 dan 2025 dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan kategori star tetap sebanyak 30 menu (28,3%), puzzle menurun dari 28 menu (26,4%) menjadi 26 menu (24,5%), plowhorse meningkat dari 23 menu (21,7%) menjadi 24 menu (22,6%), dan dog meningkat dari 25 menu (23,7%) menjadi 26 menu (24,5%). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada seluruh kategori (star=1,00; plowhorse=0,317; puzzle=0,317; dog=0,317), meskipun tidak terdapat perubahan perbedaan secara signifikansi, terdapat beberapa item menu yang mengalami dinamika pergeseran kategori antar-tahun. Perpindahan beberapa menu antar-kategori menunjukkan perlunya evaluasi berkala sebagai dasar penyusunan strategi perencanaan menu selanjutnya, berdasarkan hasil analisis pendekatan menu engineering yang telah dilakukan. Menu engineering is an approach for evaluating menu performance and providing evidence-based managerial decisions for each item. This study aimed to analyze changes in menu performance using a menu engineering approach based on Pengilon restaurant’s dine-in sales data from 2024-2025. A descriptive quantitative design was employed using secondary sales data. This study used 106 comparable data menus in the analysis. Menu popularity and contribution margin were calculated, and each item was classified into star, plowhorse, puzzle, and dog categories. Differences in category distribution between the two years were analyzed using the Kruskal-Wallis test. The results showed that the star category remained unchanged at 30 items (28,3%), while puzzle decreased from 28 items (26,4%) to 26 items (24,5%). In contrast, plowhorse increased from 28 items (26,4%) to 26 items (22,6%), and dog increased from 25 items (23,7%) to 26 items (24,5%). There is no statistically significant differences were found across all categories (star=1,00; plowhorse=0,317; puzzle=0,317; dog=0,317). Although there is no difference in the data shifts, there are several menus that have category shifts in this menu engineering analysis. Shifts in several items across categories indicate the need for regular menu evaluation as a basis for developing future menu planning strategies.
5148825298A1D015141EFEKTIVITAS BERBAGAI KONSENTRASI DAN INTERVAL PUPUK ORGANIK CAIR PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA (Brassica oleracea L.)
DI LAHAN PASIR PANTAI
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk organik cair yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga, 2) mengetahui pengaruh interval pemberian pupuk organik cair yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga, 3) mengetahui kombinasi perlakuan konsentrasi dan interval pemberian pupuk organik cair yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2018 di lahan pasir pantai Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu konsentrasi pupuk organik cair yang terdiri dari 3 taraf yaitu 0 ml liter-1, 5 ml liter-1 dan 10 ml liter-1. Faktor kedua yaitu interval pemberian pupuk organik cair yang terdiri dari 3 taraf yaitu 5 hari sekali, 10 hari sekali dan 15 hari sekali. Data dianalisis menggunakan uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT 5%. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, luas daun, volume akar, kadar kehijauan daun, bobot akar segar, bobot akar kering, bobot batang segar, bobot batang kering, bobot daun segar, bobot daun kering, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot bunga segar, bobot bunga kering, umur pembentukan bunga, diameter bunga, dan hasil bunga segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair konsentrasi 10 ml liter-1 dengan dosis 25 ml/tan meningkatkan variabel hasil dibanding perlakuan kontrol 0 ml liter-1 pada diameter bunga 2,71 cm atau 32,93%, bobot bunga segar 40,09 gr/tan atau 56,09%, hasil bunga segar 1,6 t/ha atau 55,94%, dan umur pembentukan bunga lebih cepat 4 hari atau 10%. Interval pemberian pupuk organik cair 5 hari sekali, 10 hari sekali, dan 15 hari sekali belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga. Kombinasi perlakuan konsentrasi pada berbagai interval pemberian pupuk organik cair memberikan respon yang sama pada pertumbuhan dan hasil tanaman.
The purpose of this research is to:¬¬ 1) determine the effect of different liquid organic fertilizer concentrations on growth and yield of cauliflower, 2) determine the effect of different intervals of liquid organic fertilizer on growth and yield of cauliflower, 3) determine the best combination of concentration and interval providing liquid organic fertilizer for the growth and yield of cauliflower. The research was conducted in October until December 2018, at coastal sandy land of Banjarsari Village, Nusawungu Sub-district, Cilacap Regency. The research was used Randomized Complete Block Design (RCBD) factorial with 2 factors and 3 replications. The first factor is the concentration of liquid organic fertilizer which consists of 3 levels, there are 0 ml liter-1, 5 ml liter-1 dan 10 ml liter-1. The second factor is the interval of giving liquid organic fertilizer which consists of 3 levels, there are 5 days, once every 10 days and 15 days. Data were analyzed by F test, tested further by DMRT 5% if significantly different. Observed variables are plant height, number of leaves, root length, leaf area, root volume, greenish leaves, fresh root weight, dry root weight, fresh stem weight, dry stem weight, fresh leaf weight, dry leaf weight, fresh plant weight, dry plant weight, fresh flower weight, dry flower weight, the age of flower formation, flower diameter, and fresh flower yields. The results showed that the liquid concentration of 10 ml liter-1 with a dose of 25 ml / tan increased the yield variable compared to the control treatment of 0 ml liter-1 at flower diameter of 2,71 cm or 32,93%, fresh flowers weight of 40,09 gr/tan or 56,09%, fresh flower yield of 1,6 t/ha or 55.94%, and the age of flower formation is 4 days or 10% faster. The interval of giving liquid organic fertilizer 5 days, once every 10 days and 15 days has not been able to increase the growth and yield of flower cabbage plants. The combination of treatment concentrations at various intervals of giving liquid organic fertilizer gives the same response to plant growth and yield.
5148955347A1D022261PENAMPILAN KARAKTER AGRONOMI POPULASI F2 HASIL PERSILANGAN PADI PANDANWANGI × INPARI 48 DAN KEERATAN HUBUNGANNYA DENGAN HASIL
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penampilan karakter agronomi populasi F2 hasil persilangan Pandanwangi × Inpari 48, mengidentifikasi karakter yang berhubungan dengan bobot gabah per rumpun, serta memperoleh individu F2 berpotensi unggul. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2025–Januari 2026 di screenhouse Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Sebanyak 71 individu F2 dievaluasi menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) augmented dengan varietas pembanding. Karakter yang diamati meliputi tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, bobot 1.000 butir, bobot gabah per rumpun, dan sifat aromatik. Data dianalisis dengan ANOVA 5%, uji Least Significant Increase (LSI) 5%, korelasi, dan analisis sidik lintas. Genotipe
berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah gabah per malai, bobot gabah per rumpun, dan bobot 1.000 butir, serta berpengaruh nyata terhadap persentase gabah isi dan sifat aromatik. Bobot gabah per rumpun berkorelasi positif dengan persentase gabah isi (0,41), panjang malai (0,37), dan jumlah gabah per malai (0,55), serta negatif dengan umur berbunga (−0,41). Jumlah gabah per malai dan persentase gabah isi memberikan pengaruh langsung terbesar, masing-masing 0,4203 dan 0,3195. Berdasarkan kombinasi bobot gabah per rumpun, umur berbunga, dan sifat aromatik diperoleh 10 individu F2 terpilih, yaitu E5, E3, E27, E16, E15, E53, E2, E34, E4, dan E23.
This study evaluated agronomic character performance of an F2 population derived from the Pandanwangi × Inpari 48 rice cross, identified agronomic characters associated with grain weight per hill, and obtained potentially superior F2 individuals. The study was conducted from July 2025 to January 2026 in the screenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. Seventy-one F2 individuals were evaluated using an augmented randomized complete block design with comparison varieties. Characters observed included plant height, flowering time, total tillers, productive tillers, panicle length, grains per panicle, filled-grain percentage, 1,000-grain weight, grain weight per hill, and aroma. Data were analyzed using 5% ANOVA, 5% Least Significant Increase (LSI), correlation, and path analysis. Genotype effects were highly significant for plant height, flowering time, grains per panicle, grain weight per hill, and 1,000 grain weight, and significant for filled-grain percentage and aroma. Grain weight per hill was positively correlated with filled-grain percentage (0.41), panicle length (0.37), and grains per panicle (0.55), but negatively correlated with flowering time (−0.41). Grains per panicle and filled-grain percentage had the largest direct effects on grain weight per hill, with coefficients of 0.4203 and 0.3195, respectively. Selection based on grain weight per hill, flowering time, and aroma identified ten F2 individuals: E5, E3, E27, E16, E15, E53, E2, E34, E4, and E23.
5149055393C1C022006IMPLEMENTASI THEORY OF PLANNED BEHAVIOR (TPB) TERHADAP PERILAKU KEPATUHAN PEMBAYARAN RETRIBUSI PASAR DAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PADA UMKM DI PASAR WAGE PURWOKERTOPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Theory of Planned Behavior (TPB) terhadap perilaku kepatuhan pembayaran retribusi pasar dan pajak kendaraan bermotor pada UMKM di Pasar Wage Purwokerto. Variabel TPB yang dikaji meliputi sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku persepsian terhadap niat wajib pajak serta dampaknya terhadap kepatuhan wajib pajak. Penelitian kuantitatif ini mengumpulkan data melalui kuesioner kepada pelaku UMKM Pasar Wage. Menggunakan teknik purposive sampling, diperoleh 95 responden yang dianalisis menggunakan path analysis dengan SPSS. Hasil pengujian hipotesis pada jalur 1 yaitu sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku persepsian berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat wajib pajak, di mana persepsi kemudahan prosedur serta dukungan lingkungan sosial menjadi pembentuk utama niat patuh. Pada jalur 2 hanya kontrol perilaku persepsian yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan, sedangkan sikap, norma subjektif dan niat tidak berpengaruh signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa pandangan positif maupun tingginya niat pedagang tidak secara otomatis terwujud menjadi tindakan patuh nyata akibat terbentur kendala operasional, fluktuasi pendapatan harian, dan hambatan situasional di lapangan. Implikasi dari penelitian ini menegaskan pentingnya efisiensi dan penyederhanaan sistem pembayaran fiskal bagi UMKM. Pengelola pasar dan instansi perpajakan disarankan untuk berfokus pada peningkatan kontrol perilaku persepsian melalui kemudahan akses layanan, digitalisasi transaksi yang praktis, serta skema pembayaran yang fleksibel agar niat baik para pedagang dapat terwujud secara nyata menjadi kedisiplinan pembayaran retribusi dan pajak kendaraan bermotor.This study aims to analyze the implementation of the Theory of Planned Behavior (TPB) regarding compliance with market levy and motor vehicle tax payments among MSMEs at Pasar Wage, Purwokerto. The TPB variables examined include attitude, subjective norms, and perceived behavioral control in relation to taxpayer intention and its subsequent impact on taxpayer compliance. This quantitative study collected data via questionnaires distributed to MSME operators at Pasar Wage. Using a purposive sampling technique, 95 respondents were selected, and the data were analyzed using path analysis in SPSS. Hypothesis testing results for the first path indicate that attitude, subjective norms, and perceived behavioral control have a positive and significant effect on taxpayer intention, with the perception of procedural ease and social environment support serving as the primary drivers of the intention to comply. In the second path, only perceived behavioral control exerts a positive and significant influence on compliance, whereas attitude, subjective norms, and intention do not show a significant effect. This indicates that positive attitudes or high intentions among traders do not automatically translate into actual compliance actions due to operational constraints, daily income fluctuations, and situational obstacles in the field. The study's implications underscore the importance of efficiency and the simplification of fiscal payment systems for MSMEs. Market administrators and tax authorities are advised to focus on enhancing perceived behavioral control through accessible services, practical digital transaction methods, and flexible payment schemes, thereby enabling traders' positive intentions to materialize into actual discipline regarding market levy and motor vehicle tax payments.
5149155394I4D025031Asuhan Gizi Pasien Vomitus Frekuen, Dehidrasi Sedang Ec Low Intake, Obs Dyspnea dengan
Tuberculosis dan HIV
Komplikasi infeksi Tuberkulosis dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan kondisi yang saling memperberat dan berkontribusi terhadap terjadinya malnutrisi melalui mekanisme inflamasi kronis, peningkatan kebutuhan metabolic, gangguan absorpsi zat gizi, serta penurunan asupan makan. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan proses asuhan gizi pada pasien TB dan HIV dengan malnutrisi berat serta mengevaluasi efektivitas intervensi gizi terhadap perbaikan asupan dan kondisi klinis pasien. Subjek merupakan pasien laki – laki berusia 62 tahun dengan diagnosis medis Vomitus Frekuen, dehidrasi sedang ec Low Intake, Obs Dyspnea dengan Tuberkulosis dan HIV disertai oral candidiasis yang menyebabkan pasien mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Asuhan gizi dilakukan menggunakan pendekatan Nutrition Care Process (NCP) yang meliputi asesmen, diagnosis, intervensi, dan monitoring dan evaluasi selama empat hari. Kebutuhan gizi mengacu pada ESPEN Guideline on Clinical Nutrition in HIV patient (2025) dan pedoman PERSAGI & AsDI (2019). Skrining gizi menggunakan Mini Nutritional Asessment – Short Form (MNA – SF) menghasilkan skor 4, dilanjutkan menggunakan MNA – LF sebagai Asessment Tools (AT) dan didapatkan skor sebesar 10,5 yang mengindikasikan malnutrisi. Status gizi pasien tergolong dalam kategori gizi buruk berdasarkan %LLA dan lingkar betis. Intervensi gizi yang diberikan meliputi diet Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), modifikasi tekstur makanan sesuai kemampuan pasien, pemberian formula enteral tinggi protein, dan edukasi gizi kepada keluarga. Setelah empat hari intervesi, tingkat kecukupan energi meningkat dari 44,1% menjadi 83%, sedangkan kecukupan karbohidrat meningkat hinga 99,5%. Asupan protein dan lemak juga mengalami peningkatan meskipun belum mencapai 60% dari kebutuhan. Selain itu, terjadi perbaikan bertahap pada keluhan yang dirasakan pasien. Penerapan asuhan gizi terstandar pada pasien TB dan HIV dengan malnutrisi mampu meningkatkan asupan energi dan zat gizi serta memperbaiki kondisi klinis pasien. Namun, diperlukan intervensi dan pemantauan gizi lebih lanjut untuk mendukung proses pemulihan pasien.Tuberculosis (TB) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) creates a mutually exacerbating condition that contributes to malnutrition through mechanisms such as chronic inflammation, increased metabolic demands, impaired nutrient absorption, and reduced food intake. This article aims to describe the nutrition care process for a patient with TB, HIV, and severe malnutrition, and to evaluate the effectiveness of nutritional interventions in improving the patient's intake and clinical condition. The subject was a 62-year-old male diagnosed with frequent vomiting, moderate dehydration due to low intake, and dyspnea associated with TB and HIV, also presented with oral candidiasis, which caused difficulties in chewing and swallowing. Nutrition care was administered using the Nutrition Care Process (NCP) approach comprising assessment, diagnosis, intervention, and monitoring and evaluation over a four day period. Nutritional requirements were determined based on the ESPEN Guideline on Clinical Nutrition in HIV Patients (2025) and guidelines from PERSAGI & AsDI (2019). Nutritional screening using the Mini Nutritional Assessment – Short Form (MNA-SF) yielded a score of 4, a subsequent assessment using the MNA – Long Form (MNA-LF) resulted in a score of 10.5, indicating malnutrition. The patient's nutritional status was classified as severe malnutrition based on Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and calf circumference measurements. Nutritional interventions included a High Energy High Protein diet, food texture modification tailored to the patient's capabilities, administration of a high-protein enteral formula, and nutritional education for the family. After four days of intervention, energy intake adequacy rose from 44.1% to 83%, while carbohydrate intake adequacy increased to 99.5%. Protein and fat intake also improved, although they remained below 60% of the required levels. Additionally, there was a gradual improvement in the patient's reported symptoms. Implementing standardized nutrition care for patients with TB, HIV, and malnutrition can effectively increase energy and nutrient intake and improve clinical outcomes. However, further nutritional intervention and monitoring are required to support the patient's recovery process.
5149246238K1A020010SINTESIS Ag3PO4/AgI/Chl DAN UJI AKTIVITAS FOTOKATALITIKNYA DALAM MENDEGRADASI ZAT WARNA METILEN BIRUMaterial Ag3PO4 merupakan fotokatalis yang bagus dalam mendegradasi limbah organik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan stabilitas dan kemampuan fotodegradasi Ag3PO4 dengan penambahan AgI dan Klorofil (Chl). Material ini nantinya akan digunakan untuk mendegradasi zat warna metilen biru. Materia Ag3PO4/AgI/Chl telah berhasil disintesis dengan prekursor AgNO3, Na2HPO4.12H2O, KI, dan Klorofil (Chl) yang berasal dari ekstraksi daun ketapang (Terminalia catappa). Sintesis dilakukan menggunakan metode kopresipitasi dengan proses aging atau didiamkan selama satu malam pada penambahan klorofil (Chl). Penambahan AgI sudah terbukti meningkatkan stabilitas material dan mengontrol ukuran kristal dibandingkan dengan material kontrol yang tidak ditambahkan AgI. Selain itu, penambahan klorofil (Chl) juga memberikan peningkatan pada aktivitas fotokatalitiknya dalam mendegradasi zat warna metilen biru dibawah sinar tampak. Sampel yang dihasilkan pada penelitian ini menghasilkan aktivitas fotokatalitik yang tinggi sebesar 82,06%. Hal tersebut membuktikan bahwa penambahan AgI dan klorofil memberikan perbedaan yang signifikan pada stabilitas dan aktivitas fotokatalitik material.Ag3PO4 material is a good photocatalyst for degrading organic waste. This study
was conducted to increase the stability and photodegradation ability of Ag3PO4
with the addition of AgI and chlorophyll (Chl). This material is used to degrade
methylene blue dye. Ag3PO4AgI/Chl material has been successfully synthesized
with precursors AgNO3, Na2HPO4.12H2O, KI, and chlorophyll (Chl) derived from
tropical almond leaf (Terminalia catappa) extraction. Synthesis was carried out
using the coprecipitation method with an aging process or left overnight with the
addition of chlorophyll (Chl). The addition of AgI has been proven to increase
material stability and control crystal size compared to control material that is not
added with AgI. Furthermore, the addition of chlorophyll (Chl) also increases its
photocatalytic activity in degrading methylene blue dye under visible light. The
samples produced in this study had a high photocatalytic activity of 82.06%. This
proves that the addition of AgI and chlorophyll provides a significant difference in
the stability and photocatalytic activity of the material.
5149340512K1A019010Pengaruh Konsentrasi PS-PEG terhadap Karakteristik Membran dari Kulit Jagung dalam Penurunan Nilai BOD, COD dan TSS Limbah Cair BatikSerbuk kulit jagung dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan membran selulosa asetat. Serbuk kulit jagung diubah menjadi selulosa asetat melalui proses asetilasi. Selulosa asetat digunakan untuk pembuatan membran yang akan diaplikasikan untuk menurunkan kadar BOD, COD dan TSS pada limbah cair batik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik membran selulosa asetat dari serbuk kulit jagung berdasarkan nilai fluks dan persentase penurunan nilai BOD, COD dan TSS pada limbah cair batik. Membran selulosa asetat dari serbuk kulit jagung dibuat dengan dua variasi konsentrasi aditif yaitu 6 dan 12%. Hasil penelitian menunjukkan aditif 6% memiliki nilai fluks air sebesar 29,167 L/m2.jam dan fluks limbah sebesar 26,576 L/m2.jam, sedangkan aditif 12% memiliki nilai fluks air sebesar 33,777 L/m2.jam dan fluks limbah sebesar 32,495 L/m2.jam. Persentase penurunan BOD, COD, dan TSS pada membran aditif 6% adalah sebesar 57,163; 64,706; dan 66,667% dan pada membran aditif 12% adalah sebesar 42,873; 52,941; dan 55,556%.The corn husk powder was used as the main material to produce cellulose acetate membrane. The corn husk powder transformed into cellulose acetate through acetylation process. Cellulose acetate was used to produce a membrane that would be applied to decrease BOD, COD, and TSS level on batik liquid waste. The purpose of this research is to determine the characteristic of cellulose acetate membrane made from corn husk powder based on flux value and the percentage of BOD, COD, and TSS reduction on batik liquid waste. Cellulose acetate membrane from corn husk powder made in two additive concentration variation of 6 and 12%. The result showed that additive of 6% had water flux value of 29.167 L/m².hour, waste flux of 26.576 L/m².hour and for additive 12% had water flux value of 33,777 L/m2.hour and waste flux value of 32.495 L/m2.hour. The precentage decrease of BOD, COD and TSS for the 6% additive membrane were 57.163; 64.706; and 66.667%, and for 12% additive membrane were 42.873; 52.941; and 55.556%.
5149439935A1A017063KOMPARATIF USAHA TANI TUMPANGSARI
CABAI MERAH DAN TERONG DENGAN CABAI MERAH
DAN PAKCOY DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS
Hortikultura merupakan salah satu sub-sektor pertanian yang fokus pada
budidaya tanaman sayuran, buah, dan tanaman hias. Permasalahan utama sektor
pertanian yaitu semakin terbatasnya lahan sedangkan kebutuhan konsumsi terus
meningkat, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan dengan
tumpangsari. Salah satu komoditas hortikultura yang dapat dibudidayakan secara
tumpangsari yaitu cabai merah. Kecamatan Sumbang merupakan salah satu sentra
hortikultura di Kabupaten Banyumas. Usaha tani tumpangsari cabai merah di
Kecamatan Sumbang terdiri dari cabai merah-pakcoy dan cabai merah-terong.
Tujuan penelitian ini adalah (1) menghitung biaya, penerimaan, dan pendapatan,
(2) mengetahui kelayakan usaha tani, dan (3) menghitung perbandingan biaya,
pendapatan, dan kelayakan tumpangsari cabai merah-pakcoy dan cabai merahterong. Metode yang digunakan yaitu survei. Teknik sampling yang digunakan
adalah Simple Random Sampling dan Sensus. Analisis data yaitu analisis biaya,
penerimaan, pendapatan dan kelayakan, serta analisis komparasi usaha tani
tumpangsari cabai merah-pakcoy dan cabai merah-terong dengan menggunakan
uji t. Hasil penelitian menunjukkan (1) rata-rata pendapatan tumpangsari cabai
merah-pakcoy sebesar Rp77.490.587 per hektar per musim tanam dengan
penerimaan sebesar Rp90.336.587 per hektar per musim tanam dan biaya
produksi sebesar Rp12.846.000 per hektar per musim tanam. Rata-rata pendapatan
tumpangsari cabai merah-terong sebesar Rp79.058.077 per hektar per musim
tanam dengan penerimaan sebesar Rp91.620.833 per hektar per musim tanam dan
biaya produksi sebesar Rp12.562.756 per hektar per musim tanam. (2) Usaha tani
tumpangsari cabai merah-terong lebih memperoleh banyak keuntungan
dibandingkan usaha tani tumpangsari cabai merah-pakcoy, namun kedua usaha
tani tersebut layak dijalankan karena memiliki nilai R/C ratio lebih dari 1. (3)
Analisis komparatif biaya, pendapatan dan kelayakan menunjukkan bahwa tidak
terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata biaya produksi, pendapatan dan
kelayakan usaha tani tumpangsari cabai merah-pakcoy dengan petani tumpangsari
cabai merah-terong
Horticulture is one of the agricultural sub-sectors that focus on the
cultivation of vegetables, fruit, and ornamental plants. The main problem of the
agricultural sector is the increasingly limited land while consumption needs
continue to increase, so to overcome this problem is done by intercropping. One
of the horticultural commodities that can be cultivated intercropped is red chili.
Sumbang Sub-district is one of the horticultural centers in Banyumas Regency.
Red chili intercropping farming in Sumbang Sub-district consists of red chilipakcoy and red chili-eggplant. The objectives of this study were (1) to calculate
costs, revenue, and income, (2) to determine the feasibility of farming, and (3) to
calculate the comparison of costs, revenue, and feasibility of intercropping red
chili-pakcoy and red chili-eggplant. The method used was a survey. The sampling
technique used is Simple Random Sampling and Census. Data analysis is the
analysis of costs, revenue, income and feasibility, as well as comparative analysis
of intercropping farming of red chili-pakcoy and red chili-eggplant using the t
test. The results showed (1) the average income of intercropping red chili-pakcoy
was Rp77,490,587 per hectare per growing season with receipts of Rp90,336,587
per hectare per growing season and production costs of Rp12,846,000 per
hectare per growing season. The average income of red chili-eggplant
intercropping is Rp79,058,077 per hectare per growing season with receipts of
Rp91,620,833 per hectare per growing season and production costs of
Rp12,562,756 per hectare per growing season. (2) Red chili-eggplant
intercropping farming is more profitable than red chili-pakcoy intercropping
farming, but both farms are feasible because they have an R/C ratio value of more
than 1. (3) Comparative analysis of costs, income and feasibility shows that there
is no significant difference between the average production costs, income and
feasibility of red chili-pakcoy intercropping farming and red chili-eggplant
intercropping farming
5149555395I4D025003Faktor-Faktor Kejadian Wasting pada Balita di Desa Karangdadap Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas (Mixed Method)Wasting merupakan masalah gizi balita yang biasa terjadi pada balita dengan rentan usia 0-59 bulan yang ditandai dengan berat badan tidak sesuai dengan tinggi badan. Wasting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia termasuk di Desa Karangdadap Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas yang memiliki prevalensi 9,83%, yang termasuk lebih tinggi dari standar WHO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor penyebab terjadinya wasting di Desa Karangdadap, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan Mixed Method yaitu kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksplorasi, pemilihan informan utama menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu ibu dengan balita wasting dan tidak wasting, jarak rumah dengan fasilitas kesehatan, jarak rumah dengan sungai, pendidikan ibu balita, dan kondisi sosial ekonomi. Sedangkan informan pendukung terdiri dari kader posyandu, bidan desa, dan ahli gizi puskesmas. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode in-dept interview dengan instrument panduan wawancara dan form 24 H Food Recall. Analisis data dilakukan dengan proses transkripsi, coding, pengelompokan kategori, dan penentuan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi balita wasting meliputi status gizi kurang, infeksi, pola makan yang kurang baik, pengetahuan ibu yang kurang, kepedualian orang tua terhadap gizi balita hygiene sanitasi yang kurang baik, serta sosial ekonomi yang rendah. Kesimpulan pada penelitian ini adalah wasting dipengaruhi oleh faktor langsung berupa infeksi dan pola makan yang kurang baik, serta faktor tidak langsung berupa hygiene sanitasi yang kurang tepat, kurangnya kepedualian orang tua terhadap gizi balita, dan sosial ekonomi yang rendah.Wasting is a nutritional problem among toddlers, commonly occurring in children aged 0–59 months and characterized by a body weight that is not commensurate with their height. Wasting remains a health problem in Indonesia, including in Karangdadap Village, Kalibagor Subdistrict, Banyumas Regency, which has a prevalence of 9.83%—a rate higher than the WHO standard. This study aims to identify the factors contributing to wasting in Karangdadap Village, Kalibagor Subdistrict, Banyumas Regency. This study employed both quantitative and qualitative methods using an exploratory case study approach. Key informants were selected using purposive sampling based on the following inclusion criteria: mothers of both wasted and non-wasted toddlers; distance from home to health facilities; distance from home to a river; the mother’s educational level; and socioeconomic status. Supporting informants included Posyandu cadres, village midwives, and public health center nutritionists. Data collection in this study used in-depth interviews with a guided interview guide and a 24-hour food recall form. Data analysis was conducted through transcription, coding, categorization, and theme identification. The results of the study indicate that factors influencing wasting in toddlers include undernutrition, infections, poor dietary patterns, insufficient maternal knowledge, parental neglect regarding toddler nutrition, poor hygiene and sanitation, and low socioeconomic status. The conclusion of this study is that wasting is influenced by direct factors such as infections and poor dietary patterns, as well as indirect factors such as inadequate hygiene and sanitation, a lack of parental concern for the toddler’s nutrition, and low socioeconomic status.
5149648433E1A020220PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG POLIS ASURANSI ATAS SENGKETA KLAIM ASURANSI JIWA PT AXA FINANCIAL INDONESIASengketa yang sering terjadi dalam perjanjian asuransi adalah masalah pembayaran klaim asuransi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dasar penolakan klaim asuransi jiwa serta perlindungan hukum bagi pemegang polis pada Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL. Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan undang-undang, metode pendekatan konseptual, dan metode pendekatan kasus. Spesifikasi penelitian menggunakan preskriptif. Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Pengumpulan data menggunakan metode kepustakaan. Penyajian data disajikan secara naratif. yang disusun secara sistematis, logis, dan rasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penolakan klaim oleh PT AXA Financial Indonesia dalam Putusan Nomor 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL menunjukkan pelanggaran Pasal 1320 dan Pasal 1338 KUHPerdata. Dibuktikan dengan ketidakjujuran dalam SPAJ tidak dapat dibuktikan secara hukum dan bertentangan dengan prinsip itikad baik, dan tergugat dinyatakan wanprestasi karena gagal melaksanakan kewajiban kontraktualnya, yang menyebabkan kerugian besar bagi Penggugat. Perlindungan hukum terhadap pemegang polis telah sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan dan juga Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, POJK Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, dan UUPK. Putusan pengadilan yang memberikan perlindungan kepada pemegang polis yaitu penggugat dalam bentuk perlindungan hukum preventif dan represif.Dispute that often occurs in insurance agreements are insurance claims payment issues. The research aims to determine the basis for rejection of life insurance claims and legal protection for policy holders in the South Jakarta District Court Decision Number 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL. The type of legal research used is normative juridical with a statutory approach method, conceptual approach method, and case approach method. Research specifications use prescriptive. The type and source of data used is secondary data. Data collection uses library methods. Data presentation is presented narratively. which are arranged systematically, logically and rationally. The research results show that the rejection of the claim by PT AXA Financial Indonesia in Decision Number 269/Pdt.G/2023/PN JKT.SEL indicates a violation of Article 1320 and Article 1338 of the Civil Code. It was proven that dishonesty in SPAJ could not be proven legally and was contrary to the principle of good faith, and the defendant was declared in default because he failed to carry out his contractual obligations, which caused major losses for the Plaintiff. Legal protection for policy holders is in accordance with applicable laws and regulations in Indonesia, namely Law Number 21 of 2011 concerning the Financial Services Authority and also Law Number 40 of 2014 concerning Insurance, POJK Number 1/POJK.07/2013 concerning Consumer Protection in the Financial Services Sector, and UUPK. Court decisions that provide protection to policy holders, namely plaintiffs, in the form of preventive and repressive legal protection.
5149722945B1J014117Variasi Morfologi Carassius auratus auratus yang Diperdagangkan Di Wilayah PurwokertoIkan mas koki (Carassius auratus auratus) merupakan salah satu ikan hias popular yang banyak digemari dan dibudidayakan oleh masyarakat. Ikan mas koki memiliki banyak jenis yang diakibatkan karena perkawinan antara mutan dengan induk atau antara mutan dengan mutan dari induk yang sama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter pembeda antar strain, jumlah strain ikan mas koki yang terdapat di wilayah Purwokerto. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling pada lokasi pedagang ikan mas koki yang terdapat di wilayah Purwokerto. Variabel yang diamati adalah karakter morfologi, morfometrik standar, meristik dan truss morphometrics. Parameter yang diukur adalah pengamatan morfologi, pengukuran morfometrik standar, perhitungan meristik dan perbandingan rasio antara jarak truss dengan panjang standar. Data morfologi dan morfometrik standar ditabulasikan kemudian dirasiokan dengan panjang standar tubuh kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan nilai rata-rata, standar deviasi, modus dan median menggunakan program Excel. Hasil pengukuran truss morphometrics dianalisis dengan Uji F menggunakan program SPSS 16. Hasil penelitian ini diperoleh sebanyak enam strain keturunan ikan mas koki yang diperdagangkan di wilayah Purwokerto, diantaranya pearlscale, oranda, blackmoor, ranchu, tosakin dan telescope eye. Karakter morfologi yang dapat membedakan diantara enam keturunan adalah warna tubuh, warna sirip caudal, variasi bentuk mata, operkulum, bentuk kepala, bentuk tubuh, dan pola batang caudal.Goldfish (Carassius auratus auratus) is a popular ornamental fish are much favored and cultivated by the people. Goldfish have many types caused by marriage between mutant and mother or between mutants with mutants from the same parent. This study aims to determine the number of strain, distinguishing characters between strain of goldfish traded in the Purwokerto. The method used is a survey method with a purposive sampling technique at the location of goldfish farmers and traders located in the Purwokerto area. Variables observed were morphological characters, standard morphometrics, meristic and truss morphometrics. Parameters measured were morphological observations, standard morphometric measurements, meristic calculations and comparison of the ratio between truss distances and standard lengths. The tabulated morphology and standard morphometrics data were then laced with standard body length and then analyzed descriptively based on the mean value, standard deviation, mode and median using the Excel program. Truss morphometrics measurement results were analyzed by F test using SPSS 16. The results of this study obtained six strain of goldfish generation traded in the Purwokerto, including pearlscale, oranda, blackmoor, ranchu, tosakin, and telescope eye. Morphological characters that can distinguish between six breeds are body color, caudal fin color, variation in eye shape, operculum, head shape, body shape, and caudal stem pattern.
5149855397I4D025037INOVASI SATE LILIT AYAM DENGAN PENAMBAHAN LABU KUNING SEBAGAI
MENU SARAPAN HOTEL BERBASIS PANGAN LOKAL
Menu sarapan hotel berbahan dasar ayam yang kurang bervariasi dapat menimbulkan monotonitas sehingga diperlukan inovasi menu berbasis pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi sate lilit ayam dengan penambahan labu kuning sebagai menu sarapan hotel
serta mengevaluasi sensori dan kelayakan komersial. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimantal dengan desain Research and Development (R&D) yang berfokus pada pengembangan
produk pangan dan membandingkan produk kontrol dan inovasi menggunakan uji triangle, uji
hedonik, dan uji mutu hedonik pada 30 panelis semi terlatih. Data dianalisis menggunakan uji
Binomial dan Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan 19 dari 30 panelis mampu membedakan
produk kontrol dan inovasi. Penambahan labu kuning meningkatkan aspek warna dan tekstur, namun
menurunkan tingkat kesukaan rasa. Pada produk inovasi memiliki biaya yang lebih rendah
dibandingkan kontrol. Sate lilit ayam dengan penambahan labu kuning berpotensi dikembangkan
sebagai menu sarapan hotel yang inovatif dan layak secara sensori maupun komersial.
Hotel breakfast menus based on chicken with limited variation may lead to menu monotony, highlighting the need for local food-based menu innovation. This study aimed to develop an innovative chicken sate lilit with pumpkin addition as a hotel breakfast menu and to evaluate its sensory characteristics and commercial feasibility. This experimental study employed a Research
and Development (R&D) design focusing on food product development and compared control and innovative products using triangle, hedonic, and hedonic quality tests involving 30 semi-trained panelists. Data were analyzed using Binomial and Wilcoxon tests. The results showed that 19 out of 30 panelists were able to distinguish between the control and innovative products. The addition of pumpkin improved color and texture attributes but reduced preference for taste. The innovative product also had lower production costs than the control. Chicken satay lilit with pumpkin addition has the potential to be developed as an innovative hotel breakfast menu with acceptable sensory and commercial feasibility.
5149947720I1B021047Hubungan Kecerdasan Spiritual dan Strategi Koping dengan Stres Akademik dalam Penyusunan Tugas AKhir Mahasiswa KeperawatanLatar Belakang: Stres akademik sering dialami oleh mahasiswa, terutama saat menyusun tugas akhir. Mahasiswa keperawatan memiliki tingkat stres yang lebih tinggi akibat beban akademik. Strategi koping dan kecerdasan spiritual berperan dalam mengelola stres akademik. Strategi koping adaptif membantu menurunkan stres, sedangkan strategi koping maladaptif berisiko memperburuk stres. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecerdasan spiritual dan strategi koping dengan stres akademik dalam penyusunan tugas akhir.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari mahasiswa keperawatan tingkat akhir yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur kecerdasan spiritual, strategi koping, dan stres akademik. Analisis data dilakukan dengan regresi logistik untuk melihat hubungan antara variabel independen dan stres akademik.

Hasil Penelitan: Hasil penelitian menunjukkan strategi koping emotional-focused coping memiliki hubungan yang signifikan dengan stres akademik (p= 0,000; OR > 1), sedangkan less useful coping juga menunjukkan hubungan signifikan namun dengan kecenderungan menurunkan stres akademik (p= 0,005; OR < 1). Sementara itu, kecerdasan spiritual tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan stres akademik (p= 0,078; OR= 0,384).

Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan stres akademik, sementara strategi koping berperan dalam mengelola stres. Emotional-focused coping cenderung dikaitkan dengan tingkat stres akademik yang lebih tingg, sedangkan less useful coping justru dikaitkan dengan tingkat stres akademik yang lebih rendah. Hasil ini menunjukkan pentingnya pemilihan strategi koping yang tepat dalam menghadapi tekanan akademik pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir.
Background: Academic stress is often experienced by students, especially when preparing a thesis. Nursing students have higher stress levels due to academic load and clinical practice. Coping strategies and spiritual intelligence play a role in managing academic stress. Adaptive coping strategies help reduce stress, while maladaptive coping strategies risk exacerbating stress. This study aimed to analyze the relationship of spiritual intelligence and coping strategies with academic stress in preparing a thesis.

Methodology: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of final year nursing students selected using total sampling technique. Data were collected through questionnaires measuring spiritual intelligence, coping strategies, and academic stress. Data was analyzed using logistic regression to see the relationship between the independent variables and academic stress.

Result: The results showed that emotional-focused coping strategy had a significant relationship with academic stress (p = 0.000; OR > 1), while less useful coping also showed a significant relationship but with a tendency to reduce academic stress (p = 0.005; OR < 1). Meanwhile, spiritual intelligence did not have a significant relationship with academic stress (p = 0.078; OR = 0.384).

Conclusion: This study showed that spiritual intelligence had no significant relationship with academic stress, while coping strategies played a role in managing stress. Emotional focused coping tended to be associated with higher levels of academic stress, while less useful coping was associated with lower levels of academic stress. These result indicate the importance of selecting appropriate coping strategies in dealing with academic stress in final year nursing students.
5150042806B1A019108Keanekaragaman Adiantum Berdasarkan Morfologi Dan Epidermis Daun Di Wilayah Purwokerto UtaraAdiantum merupakan tumbuhan paku yang terkenal dengan nama suplir yang banyak digunakan sebagai tanaman hias. Adiantum termasuk salah satu tumbuhan paku terestrial atau epilitik (permukaan bebatuan) dengan rimpang tegak atau merayap. Purwokerto Utara yang terletak di kaki Gunung Slamet memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, suhu yang hangat, dan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun, sehingga kondisinya cukup ideal untuk pertumbuhan tumbuhan paku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies anggota dan variasi Adiantum berdasarkan morfologi dan epidermis daun.

Penelitian dilakukan di Purwokerto Utara menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tumbuhan paku Adiantum, sedangkan variabel terikat berupa karakter morfologi dan epidermis daun tumbuhan paku Adiantum. Parameter yang diamati berupa karakter morfologi terdiri atas panjang ental, panjang tangkai ental,
warna tangkai ental, panjang helaian daun, panjang rakis, panjang dan lebar anak daun, bentuk anak daun, panjang tangkai anak daun, bentuk sorus, jumlah sorus, tipe indusium serta epidermis terdiri atas bentuk sel epidermis, ukuran sel epidermis, tipe stomata, ukuran stomata, kerapatan stomata dan trikoma. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pengukuran kemiripan atau Indeks Similaritas (IS).

Berdasarkan hasil pengamatan Adiantum yang ditemukan tumbuh di Purwokerto Utara terdapat A. raddianum, A. capillus-veneris, A. peruvianum, A. lunulatum, A. jordanii, A. grossum. Variasi morfologi pada Adiantum memiliki tipe percabangan pinnate, 2-3 pinnate, dan 4-5 pinnate. Selain itu bentuk pinnule ada lunate, dimidate, dan reniform, serta tidak semua Adiantum memiliki indusium dan kebanyakan indusiumnya palsu. Variasi epidermis Adiantum yaitu, pada bagian adaksial daun, epidermis memiliki bentuk berlekuk beraturan, sedangkan pada bagian abaksial daun, epidermis memiliki bentuk berlekuk yang tidak beraturan. Variasi stomata pada Adiantum, yaitu stomata hanya dapat ditemukan pada bagian abaksial daun dengan tipe stomata anomositik dan parasitik. Hasil penghitungan analisis indeks similaritas pada Adiantum didapatkan dengan nilai kesamaan tertinggi IS yaitu 65,22% sedangkan nilai kesamaan terendah IS yaitu 21,47%.
Adiantum is a fern known as suplir which is widely used as an ornamental plant. Adiantum is one of the terrestrial or epilithic (rock surface) ferns with upright or creeping rhizomes. North Purwokerto, which is located at the foot of Mount Slamet, has a tropical climate with quite high rainfall, warm temperatures and high humidity throughout the year, so the conditions are quite ideal for the growth of ferns. This research aims to determine the diversity of member species and variations of Adiantum based on leaf morphology and epidermis.

The research was conducted in North Purwokerto using a survey method with a purposive sampling technique. The independent variable in this study was the Adiantum fern, while the dependent variable was the morphological and epidermal characters of the Adiantum fern leaves. The parameters observed in the form of morphological characters consisted of ental length, ental stalk length,
color of ental stalk, length of leaf blade, length of rakis, length and width of leaflets, shape of leaflets, length of leaf stalk, shape of sorus, number of sorus, type of indusium and epidermis consisting of epidermal cell shape, size of epidermal cells, type of stomata, size stomata, stomatal density and trichomes. The data obtained was analyzed using similarity measurements or Similarity Index (IS).

Based on observations, the Adiantum found growing in North Purwokerto contained A. raddianum, A. capillus-veneris, A. peruvianum, A. lunulatum, A. jordanii, A. grossum. Morphological variations in Adiantum have pinnate, 2-3 pinnate, and 4-5 pinnate branching types. Apart from that, the pinnule forms are lunate, dimidate and reniform, and not all Adiantum have an indusium and most of the indusium is fake. Adiantum epidermis variations, namely, on the adaxial part of the leaf, the epidermis has a regular curved shape, while on the abaxial part of the leaf, the epidermis has an irregular curved shape. Stomata variations in Adiantum, namely stomata can only be found on the abaxial part of the leaves with anomocytic and parasitic stomata types. The results of calculating the similarity index analysis on Adiantum were obtained with the highest similarity value IS, namely 65.22%, while the lowest similarity value IS, namely 21.47%.