Artikelilmiahs

Menampilkan 51.521-51.540 dari 52.046 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5152151939F1B018068Penerapan Digitalisasi Pelayanan Kesehatan Pada Pendaftaran Online Pasien di Unit Teknis Pelaksana Daerah Puskesmas Banjarnegara ITransformasi digital pada layanan kesehatan mendorong pendaftaran pasien secara online di fasilitas pelayanan primer. Penelitian ini menganalisis penerapan digitalisasi pendaftaran online pasien di UPTD Puskesmas Banjarnegara I menggunakan kerangka pengembangan e-government yang meliputi support, capacity, dan value. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan aspek support terlihat dari dukungan pimpinan, koordinasi internal, dan sosialisasi, namun pemanfaatan oleh masyarakat masih terbatas. Pada aspek capacity, kesiapan SDM dan fasilitas teknologi cukup adaptif, tetapi masih terdapat gangguan jaringan serta kebutuhan penguatan kompetensi petugas. Pada aspek value, digitalisasi meningkatkan efisiensi administrasi dan memudahkan akses layanan, namun dampaknya belum maksimal karena banyak pasien masih memilih pendaftaran manual. Penggunaan pendaftaran online meningkat dari 0% (2023) menjadi 13,5% (2024) dan 20,0% (hingga Agustus 2025). Secara umum, penerapannya belum optimal, tetapi tprogresif secara perlahan.Digital transformation in health services has encouraged online patient registration at primary healthcare facilities. This study analyzes online registration digitalization at UPTD Puskesmas Banjarnegara I using an E-government framework of support, capacity, and value. A descriptive qualitative in study case approach was used, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings show that support appears in leadership commitment, internal coordination, and socialization, yet community uptake remains limited. For capacity, staff readiness and IT facilities are fairly adaptive, but network disruptions and competency gaps still occur. For value, online registration improves administrative efficiency and access, but the impact is not fully realized because many patients still register manually. Usage rose from 0% (2023) to 13.5% (2024) and 20.0% (to Aug 2025). Overall, not yet optimal.
5152229617E1A115118PELANGGARAN IMUNITAS DAN INVIOLABILITAS PERWAKILAN DIPLOMATIK DITINJAU DARI HUKUM INTERNASIONAL (Studi Tentang Kasus Duta Besar Italia yang Dilarang Meninggalkan India Tahun 2013)ABSTRAK
Kekebalan dan keistimewaan berlaku pada perwakilan diplomatik untuk menjalankan tugasnya sebagai perwakilan suatu negara berdasarkan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik Pasal 29. Pada 14 Maret 2013, Hakim Ketua Mahkamah Agung India, Altamas Kabir menerbitkan larangan bepergian Duta Besar Italia untuk India, Daniele Mancini untuk tidak meninggalkan India. Kasus penahanaan Duta Besar Italia bermula dari tuduhan penembakan di perairan zona ekonomi eksklusif/ZEE India yang dilakukan marinir Italia dari kapal Enrica Lexie kepada dua orang nelayan India yang kemudian menyebabkan kematian kedua nelayan India tersebut pada 25 Februari 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan dalam hukum diplomatik mengenai pemberian imunitas dan inviolabilitas pada seorang perwakilan diplomatik serta mengetahui pengaturan hukum internasional mengenai pemberian kekebalan diplomatik oleh negara penerima yaitu India kepada Duta Besar Italia, Daniel Mancini. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis yang menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Semua data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yang disusun secara sistematis dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perwakilan diplomatik mempunyai kekebalan yang bersumber dari hukum kebiasaan internasional dan kemudian dikukuhkan dalam konvensi internasional. Larangan yang dikeluarkan oleh India kepada Duta Besar Italia Daniele Mancini untuk meninggalkan India muncul sebagai akibat dari peristiwa penembakan dua nelayan India oleh marinir Italia. Perwakilan diplomatik mempunyai kekebalan dari jurisdiksi pidana, perdata, dan administratif negara penerima serta memiliki kebebasan bepergian berdasarkan Pasal 26 Konvensi Wina 1961 tentang hubungan diplomatik, hukum kebiasaan internasional dan perjanjian internasional. Setiap perwakilan diplomatik dilindungi oleh hak kekebalan (imunitas) dan tidak dapat diganggu gugat (inviolabilitas) serta memiliki kekebalan jurisdiksi yang diatur dalam Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik.
ABSTRACT
Immunities and privileges apply to diplomatic representatives to carry out their duties as representatives of a country under Article 29 of the 1961 Vienna Convention on Diplomatic Relations. On 14 March 2013, Chief Justice of the Supreme Court of India, Altamas Kabir issued a travel ban on the Italian Ambassador to India, Daniele Mancini not to leave India. The case of the Italian ambassador's detention stems from allegations of shooting in the waters of India's exclusive economic zone/EEZ by Italian marines from the Enrica Lexie ship to two Indian fishermen which then caused the deaths of the two Indian fishermen on February 25, 2012.
This study aims to determine the arrangements in diplomatic law regarding the granting of immunity and inviolability to a diplomatic representative and to find out about international legal arrangements regarding the granting of diplomatic immunity by the receiving country, namely India to the Italian Ambassador, Daniel Mancini. This research is a juridical research that uses a statutory approach and a case approach. All data in this study came from secondary data which were arranged systematically and analyzed by qualitative normative methods.
The results show that diplomatic representatives have immunity which comes from international customary law which is then confirmed in international conventions. India's ban on Italian Ambassador Daniele Mancini from leaving India came as a result of the shooting of two Indian fishermen by Italian marines. Diplomatic representatives have immunity from the criminal, civil and administrative jurisdictions of the receiving country and have freedom of travel under Article 26 of the 1961 Vienna Convention on Diplomatic Relations, international customary law and international treaties. Every diplomatic representative is protected by the right to immunity and inviolability and has the immunity of jurisdiction provided for in the 1961 Vienna Convention on Diplomatic Relations.
5152355412I4D025018Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Pelatihan Antropometri untuk Deteksi Dini Masalah Gizi pada BalitaMasalah gizi pada anak balita bersifat multidimensi, meliputi stunting, wasting, berat badan kurang (underweight), dan gizi lebih (overweight). Kader posyandu berperan penting dalam deteksi dini melalui pengukuran antropometri. Namun, berbagai studi menunjukkan tingginya angka kesalahan teknis pengukuran dalam praktik, antara lain posisi anak yang tidak tepat, penentuan titik tengah lingkar lengan atas (LiLA) yang tidak akurat, dan pencatatan yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan antropometri terhadap pengetahuan dan keterampilan kader posyandu. Desain yang digunakan adalah pra-eksperimental one-group pretest-posttest dengan melibatkan seluruh kader posyandu aktif di Desa Kalicupak Lor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas (n=6). Para kader mengikuti pelatihan satu hari berjudul "Kader Hebat, Balita Sehat" yang berbasis pembelajaran eksperiensial, dengan memadukan ceramah, demonstrasi, dan simulasi praktik langsung. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner 10 butir (skor 0–100), sedangkan keterampilan diukur dengan lembar observasi 55 poin. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor pengetahuan yang signifikan (median 85 menjadi 100; p=0,026), dengan seluruh responden (100%) memperoleh skor sempurna pada post-test. Sementara itu, rerata skor keterampilan meningkat dari 44,00 menjadi 51,83 (dari 55), dan seluruh kader mempertahankan atau meningkatkan kategori terampil mereka. Pelatihan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pengukuran antropometri. Pelatihan terstruktur berbasis praktik direkomendasikan sebagai strategi pemberdayaan kader yang berkelanjutan.Nutritional problems among children under five are multidimensional, encompassing stunting, wasting, underweight, and overweight, with posyandu cadres playing a key role in early detection through anthropometric measurement; however, studies show a high rate of technical measurement errors in practice, including incorrect child positioning, inaccurate MUAC midpoint determination, and imprecise recording. This study aimed to determine the effect of anthropometric training on the knowledge and skills of posyandu cadres, using a pre-experimental one-group pretest-posttest design involving all active posyandu cadres in Kalicupak Lor Village, Kalibagor District, Banyumas Regency (n=6), who received a one-day training titled "Kader Hebat, Balita Sehat" based on experiential learning combining lectures, demonstrations, and hands-on practice simulations; knowledge was measured using a 10-item questionnaire (score 0–100) and skills with a 55-point observation checklist, with data analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test (α=0.05). Results showed a significant improvement in knowledge scores (median 85 to 100; p=0.026), with all respondents (100%) achieving perfect post-test scores, while the mean skill score increased from 44.00 to 51.83 (out of 55), with all cadres maintaining or improving their skilled category. The training was proven effective in improving cadres' knowledge and skills in anthropometric measurement, and structured, practice-based training is recommended as a sustainable cadre empowerment strategy.
5152455413A1F021017Karakteristik Fisikokimia dan Sensori French Fries Ubi Jalar Madu dengan Perlakuan Lama Waktu Perendaman dan Steam BlanchingUbi jalar madu (Ipomoea batatas L.) merupakan komoditas lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku french fries alternatif pengganti kentang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dalam larutan kalsium klorida (CaCl₂) dan lama steam blanching terhadap karakteristik fisikokimia dan sensoris french fries ubi jalar madu serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu lama perendaman dalam larutan CaCl₂ (15, 30, dan 45 menit) dan lama steam blanching (2, 4, dan 6 menit). Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar asam lemak bebas (FFA), kadar β-karoten, kapasitas penyerapan minyak, tekstur, warna, dan sifat sensoris. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Duncan's Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%, serta penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode indeks efektivitas De Garmo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman, lama steam blanching, dan interaksi keduanya berpengaruh nyata (p≤0,05) terhadap kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar β-karoten, kapasitas penyerapan minyak, warna L*, warna b*, dan crunchiness, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar protein, kadar asam lemak bebas, warna a*, hardness, dan crispiness. Kombinasi perendaman 15 menit x steam blanching 4 menit menghasilkan kadar lemak dan kapasitas penyerapan minyak yang rendah serta warna produk yang lebih cerah, sedangkan kombinasi perendaman 30 menit x steam blanching 4 menit dan perendaman 45 menit x steam blanching 6 menit menghasilkan retensi β-karoten tertinggi. Perlakuan pendahuluan menggunakan larutan CaCl₂ dan steam blanching berpotensi meningkatkan mutu fisikokimia french fries ubi jalar madu, terutama dalam mempertahankan warna, menekan penyerapan minyak, dan meningkatkan retensi β-karoten.Honey sweet potato (Ipomoea batatas L.) is a local commodity with great potential as an alternative raw material for French fries. This study aimed to evaluate the effects of calcium chloride (CaCl₂) soaking duration and steam blanching time on the physicochemical and sensory characteristics of honey sweet potato French fries and to determine the optimum treatment combination. The experiment employed a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors: soaking duration in CaCl₂ solution (15, 30, and 45 min) and steam blanching time (2, 4, and 6 min). Each treatment combination was replicated three times, resulting in 27 experimental units. The observed parameters included moisture, ash, fat, protein, free fatty acids (FFA), β-carotene content, oil absorption capacity, texture, color, and sensory properties. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level, while the best treatment was determined using the De Garmo effectiveness index. The results showed that soaking duration, steam blanching time, and their interaction significantly affected (p≤0.05) moisture content, ash content, fat content, β-carotene content, oil absorption capacity, L* value, b* value, and crunchiness, but had no significant effect on protein content, free fatty acids, a* value, hardness, or crispiness. The combination of 15 min soaking x 4 min steam blanching produced lower fat content, lower oil absorption, and brighter color, whereas the combinations of 30 min soaking x 4 min steam blanching and 45 min soaking x 6 min steam blanching resulted in the highest β-carotene retention. Pretreatment using CaCl₂ soaking combined with steam blanching has the potential to improve the physicochemical quality of honey sweet potato French fries by enhancing color retention, reducing oil absorption, and increasing β-carotene retention.
5152555414I4D025032Pengembangan Formula Enteral “Hepasoy” dari Kedelai, Putih Telur, dan Susu Skim untuk Pasien Penyakit Hati Pasien penyakit hati berisiko mengalami malnutrisi akibat gangguan metabolisme protein sehingga memerlukan formula enteral tinggi branched-chain amino acids (BCAA). Formula enteral komersial umumnya memiliki harga relatif mahal sehingga diperlukan alternatif formula berbasis pangan lokal yang lebih ekonomis. Penelitian ini bertujuan menganalisis food cost, kandungan gizi, viskositas, daya alir, dan organoleptik formula enteral “Hepasoy” berbasis kacang kedelai, putih telur, dan susu skim untuk pasien penyakit hati. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental dengan empat formula, terdiri atas tiga formula blenderized (H1, H2, H3) dan satu formula komersial (H4). Analisis meliputi food cost, kandungan energi, protein, BCAA, densitas energi, uji viskositas, daya alir, serta uji organoleptik menggunakan uji hedonik dan mutu hedonik. Data food cost, kandungan gizi, viskositas, dan daya alir dianalisis secara deskriptif sedangkan data organoleptik dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan formula Hepasoy memiliki food cost sebesar Rp17.678 – 22.057 per 1.000 mL, lebih rendah dibandingkan formula komersial sebesar Rp134.500 per 1.000 mL. Formula H3 merupakan formula terbaik dengan kandungan energi, protein, total BCAA, dan densitas energi yaitu 1.318 kkal, 55 g, 16 g, dan 1,32 kkal/mL secara berurutan. Formula H3 memiliki nilai viskositas 13,63 mPa*s dan daya alir 3,22 cc/detik. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa formula Hepasoy memperoleh tingkat penerimaan dalam kategori cukup suka (skor 3) hingga suka (skor 4). Perbedaan signifikan terdapat pada parameter aroma (uji hedonik, p=0,001) dan aroma serta tekstur (uji mutu hedonik, p<0,05), sedangkan pada parameter warna, rasa, dan penilaian keseluruhan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Formula enteral Hepasoy berbasis kacang kedelai, putih telur, dan susu skim berpotensi dikembangkan sebagai formula enteral tinggi BCAA berbasis pangan lokal yang ekonomis untuk pasien penyakit hati. Patients with liver disease are at risk of malnutrition due to protein metabolism disorders and therefore require enteral formulas high in branched-chain amino acids (BCAA). Commercial enteral formulas are generally relatively expensive, so there is a need for more economical alternatives based on local food sources. This study aims to analyze the food cost, nutritional content, viscosity, flowability, and organoleptic properties of the “Hepasoy” enteral formula based on soybeans, egg whites, and skim milk for patients with liver disease. The study employed an experimental design with four formulas, consisting of three blenderized formulas (H1, H2, H3) and one commercial formula (H4). Analyses included food cost, energy content, protein content, BCAA content, energy density, viscosity testing, flowability testing, and organoleptic testing using hedonic and hedonic quality assessments. The organoleptic data were analyzed using the Kruskal Wallis test followed by the Mann Whitney test, while the data on food cost, nutritional content, viscosity, and flowability were analyzed descriptively. The study results show that the Hepasoy formula has a food cost of Rp17,67822,057 per 1,000 mL, which is lower than that of commercial formulas at Rp134,500 per 1,000 mL. Formula H3 was the best formula, with energy content, protein, total BCAA, and energy density of 1,318 kcal, 55 g, 16 g, and 1.32 kcal/mL, respectively. Formula H3 has a viscosity of 13.63 mPa·s and a flow rate of 3.22 cc/second. Organoleptic test results showed that the Hepasoy formula received acceptance ratings ranging from “fairly like” (score 3) to “like” (score 4). Significant differences were found in the aroma parameter (hedonic test, p=0.001) and in both aroma and texture (hedonic quality test, p<0.05), while no significant differences were observed in the color, taste, and overall evaluation parameters. The Hepasoy enteral formula, based on soybeans, egg whites, and skim milk, has the potential to be developed as an economical, locally sourced, BCAA-rich enteral formula for patients with liver disease.
515266431P2CA12015FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENANAMAN MODAL ASING LANGSUNG (PMA) DI INDONESIA PERIODE 2000.I – 2012.IV
Indonesia sebagai negara berkembang yang mengejar percepatan pembangunan nasional memerlukan biaya pembangunan yang relatif besar. Namun sumber pembiayaan dari dalam negeri tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan investasi tersebut. Pemerintah harus mencari sumber pembiayaan lain yakni sumber pembiayaan luar negeri.
Ada dua jenis investasi asing yaitu investasi portofolio dan penanaman modal asing langsung. PMA langsung merupakan jenis sumber pembiayaan yang memiliki dampak luas pada sektor riil serta merupakan jenis long-term investment. Beda halnya dengan dua sumber pembiayaan lainnya dimana merupakan short-term investment dan dapat membebani pemerintah di tahun fiskal berikutnya jika itu berbentuk pinjaman luar negeri. Aliran modal asing yang masuk ke Indonesia dalam bentuk investasi masih didominasi oleh portofolio investment yang merupakan short-term invesment.
Tujuan dari penelitian ini adalah menguji masing-masing variabel bebas PDB, suku bunga, inflasi, upah pekerja, dan stablitas sosial/politik baik secara bersama-sama maupun parsial terhadap PMA di Indonesia selama periode 2000.I – 2012.IV. Penelitian ini menggunakan metode estimasi OLS dengan menggunakan enam model regresi berganda. Variabel bebas yang diteliti terdiri dari lima variabel, yaitu PDB (X1), suku bunga(X2), inflasi (X3), upah pekerja (X4), dan stablitas sosial/politik (X5) dan juga satu variabel terikat PMA (Y).
Berdasarkan hasil penelitian maka kesimpulan penelitian ini menunjukan bahwa variabel PDB berpengaruh positif signifikan terhadap PMA, sedangkan upah pekerja dan stabilitas sosial/politik berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA. Dua variabel bebas lain suku bunga dan inflasi berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap PMA. Variabel lag PDB yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel PDBt-2 paling signifikan mempengaruhi PMA dibanding variabel lag PDB lainnya.
Implikasi dari penelitian ini adalah pemerintah harus mengambil kebijakan mengenai PDBt-2, upah pekerja, dan stabilitas sosial/politik. Kebijakan tersebut terutama untuk PDB t-2 sebagai variabel PDB yang paling signifikan terhadap FDI mengharuskan pemerintah mendorong output nasional. Pemerintah juga harus mempertimbangkan pelatihan dan pendidikan. Stabilitas sosial/politik perlu dijaga karena negara pemberi akan mempertimbangkan resiko politik di negara penerima.
As a developing country which pursues to accelerate the national development, Indonesia needs higher rate of development budget. However domestic financing source is not sufficient to fulfill the investment. Therefore the goverment have to find foreign financing source.
There are two types of foreign investment: portfolio and foreign direct investment (FDI). FDI is a kind of financing source which have the impact to actual/real sector and also kind of long-term investment. It has different type from another two financing sources which is they are short-term investment and could burdening goverment in the next fiscal year, if it in foreign debt. Capital flow in Indonesia in investment type still dominated by portofolio investment which is short-term investment.
This research aims to test the influence of each independent variable: GDP, interest rate, inflation, worker wages, and social/politic stability either jointly or partially toward FDI in Indonesia during 2000.I – 2012.IV period. This research used ordinary least square (OLS) estimation method with six model of multiple regression. There are five independent variables: GDP (X1), interest rate (X2), inflation (X3), worker wages (X4), and social/politic stability (X5) and also one dependent variable: PMA (Y).
Based on the test result, then the conclusion of this research are showed that GDP variable partially has positive significant effect on FDI, whereas worker wages and social/politic stability variable partially have negative significant effect on FDI. Another two independent variables: interest rate and inflation variable partially have negative yet not significant effect on FDI. Lagged GDP variable are use in this research shows that GDPt-2 is the most significant variable toward FDI compared to other lagged variable
The implication of this research are require the government to take policies about GDPt-2, worker wages, and social/politic stability. Especially GDPt-2 as the most significant toward FDI requires the government to support economic with raise the national output. Government also have to consider training and education for workers to raise their skill and productivity. Social/politic stability is necessary to armed at all points because the home country always consider the political risk in host country for guarantee their funds
5152714081A1H011040ANALISIS SISTEM REFLEKTOR PADA SISTEM KONSENTRATOR SURYA TIPE PARABOLAEnergi surya merupakan sumber energi utama terbesar di dunia dan sangat mungkin dimanfaatkan sebagai sumber energi yang tidak terbatas karena ketersediaannya yang bersifat kontinyu. Namun, pemanfaatan energy surya menjadi listrik di Indonesia masih kurang optimal. Jenis reflektor pada konsetrator tipe parabola untuk mengkonversi panas matahari menjadi listrik dapat mengoptimalkan pemanfaatan energy surya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisa dan mengoptimalkan penggunaan reflektor pada sistem konsentrator surya tipe parabola, 2) Mengetahui efisiensi reflektor pada sistem konsentrator surya tipe parabola. Penelitian ini menganalisa pemilihan material reflektor, reflektor pada konsentrator dan efisiensi energy. Hasil analisis menunjukan bahwa material reflektor yang digunakan yaitu stainless steel dengan nilai reflektansi 0,62 dan nilai modulus young 193 GN/m2 serta memiliki harga yang murah dibandingkan material lain. Konsentrator menggunakan tipe parabola dish dengan reflektor berbentuk potongan trapesium. Dimensi potongan reflektor untuk panjang sisi sejajar sebesar 53 cm dan 4 cm dengan tinggi 103,13 cm dan kemiringan 20,4o. Pengukuran suhu dilakukan selama 4 jam dengan interval 5 menit. Hasil suhu tertinggi terjadi pada Iradiasi 1010 watt/m2 dengan suhu permukaan reflektor 68,5oC, suhu belakang reflektor 65oC, suhu receiver 146,2oC dan suhu fluida 103,6oC. Efisiensi tertinggi yang dihasilkan oleh system sebesar 23%.Solar energy is the most enormous and primary source of energy on earth and conceivably could be harnessed as an unlimited energy source because of its continuous availability of energy. Furthermore, the use of solar energy as an electricity in Indonesia is less optimal.A variety of reflector on concentrator parabolic type to convert solar cell to be electricity could increase the use of solar energy to be more optimal in Indonesia.The research aims to : 1)analyze and optimalize the use of reflector on solar concentrator parabolic type system, 2)recognize the efficiency of reflector on solar concentrator parabolic type system. The research analyzes the selection of material of a reflector,reflector on concentrator and efficiency of energy. The research presents the material of reflector which is used is stainless steel with reflectancy value 0,62 and young's modulus value 193 GN/m2 and also it has lower cost than other materials.Concentrator uses parabolic dish type with trapezoid cut shaped reflector. The dimension of reflector is about 53cm and 4cm for the length of the parallel sides with 103,13cm of height and 20,4o of gradient/elevation. The temperature measurement is conducted during 4 hours with 5 minutes interval.The result presents highest temperature achieves when irradiation is at 1010 watt/m2 with outer side reflector's temperature is 68,5oC, the back of reflector's temperature is 65oC, receiver's temperature is 146,2oC and fluid temperature is 103,6oC. Efficiency which is resulted by the highest system is about 23%.
5152819038C1A013108FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERTUMBUHAN PREMI ASURANSI JIWA DI INDONESIA: DARI SISI PERMINTAAN TAHUN 1996-2015Penelitian ini berjudul “Faktor-faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Premi Asuransi Jiwa di Indonesia: dari Sisi Permintaan Tahun 1996-2015” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh PDB per kapita, tingkat bunga, pertumbuhan sektor keuangan, dan pendidikan terhadap premi bruto asuransi jiwa dan mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap premi bruto asuransi jiwa. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dan data sekunder dengan metode time series dalam kurun waktu dua puluh tahun (1996-2015). Teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS).
Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel PDB perkapita, suku bunga, pertumbuhan sektor keuangan, dan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap premi bruto asuransi jiwa di Indonesia. Adapun secara parsial variabel suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap premi asuransi jiwa di Indonesia, variabel PDB perkapita dan pertumbuhan sektor keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap premi bruto asuransi jiwa di Indonesia, dan variabel pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap premi bruto asuransi jiwa di Indonesia. Sementara itu, variabel yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan premi bruto asuransi di Indonesia adalah pertumbuhan sektor keuangan.
Implikasi dari penelitian ini yaitu pemerintah hendaknya perlu menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai dengan target untuk mencegah terjadinya krisis terutama memberi perhatian pada inflasi yang akan memengaruhi variabel-variabel makro lainnya dan perlu adanya komitmen yang kuat dari seluruh level manajemen untuk mengembangkan bancassurance untuk lebih baik kedepannya.
This research titled “Affecting Factors of the Growth of Life Insurance Premiums in Indonesia: from The Demand Side within 1996-2015”. The purpose of this research is to analyze the influence of GDP per capita, Interest Rate, Financial Development, and Education to Gross Premiums of Life Insurance and analyze most influential variable to Gross Premiums of Life Insurance. This research method is quantitative research and secondary data using time series method within twenty years period (1996-2015). Data analysis technique used multiple linear regressions with Ordinary Least Square (OLS) method.
From the research, it was concluded that the GDP percapita, Interest Rate, Financial Development, and Education had influence on Gross Premiums of Life Insurance in Indonesia. The partial variable Interest rate has a negative and significant impact on gross premiums of life insurance, GDP per capita and financial development has a positive and significant impact on gross premiums of life insurance, and variable education has no significant on gross premiums of life insurance. Meanwhile, the most influential variable on gross premiums of life insurance is financial development
The implications of this research should to keep the economic growth in line with the targets to prevent the crisis and giving attention to inflation that will affect other macro variables and strong commitment from all levels of management to develop bancassurance for the better in the future.
5152937670E1A016114RATIO DECIDENDI HAKIM TERHADAP PEMBUKTIAN KASUS PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM GANTI KERUGIAN TERHADAP TINDAKAN MALPRAKTIK MEDISRumah sakit merupakan institusi yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam pelayanannya rumah sakit terdapat dokter yang berperan dalam penanganan medis. Dokter dalam melakukan tugasnya tidak jarang ditemui kasus-kasus yang merugikan pasien, salah satunya malpraktik. Suatu pembenaran hukum dalam malpraktik dokter yang menyebabkan pasien merasa dirugikan, sehingga sisi korban mengajukan gugatan. Karena ada gugatan maka pembuktian dilakukan terhadap barang siapa mendalilkan terhadap suatu hak atau peristiwa. Sehingga menjadi menarik mengenai penerapan hukum pembuktian perdata positif dan pertimbangan hukum hakim dalam kasus. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan konseptual (conseptual approach). Data penelitian bersumber dari data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan didapati bahwa penerapan hukum pembuktian Pasal 163 HIR/283 RBg/1865 BW jo Pasal 164 HIR/284 RBg/1866 BW dimana penggugat mengajukan alat bukti surat dan saksi. Kemudian terhadap ratio decidendi hakim dalam pemberian ganti rugi mengacu tanggung jawab perdata RS Asri, Sammarie FH, dr. Tamtam OS, PT. Rashal Siar CM, PT. Sammarie Purnafiat dalam hal terjadinya malpraktik medik dilihat dari perspektif hukum perdata yaitu tanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum dengan memberi ganti rugi dan hal tersebut juga didukung bukti konkrit mengenai besaran kerugian yang diderita penggugat. Dalam pertanggungjawaban pada kasus a quo mendasar pada Pasal 1365 jo 1367 KUHPerdata.Medical services were originally a trusting relationship between doctors and patients. Patients who come always entrust to the doctor about the condition of the disease, his health and hope that the doctor can overcome and help the health problems of the patient concerned. But it is not uncommon for doctors who in doing their duties have done the wrong thing (medical malpractice). A legal justification in the malpractice of doctors that causes patients to feel aggrieved, so the victim's side filed a lawsuit. Because there is a lawsuit, proof is made against who postulates a right or event and to confirm his rights or to dispute the rights of others must be proven the existence of rights. The approach methods used in this study are statute approach methods, case approaches, conceptual approaches(conseptual approaches). Research data is sourced from secondary data. The method of data collection is done with literature studies. The analytical methods used in this study are qualitative normative. Based on the results of research and discussion it was found that the application of the law of proof in case a quo refers to Article 163 HIR/283 RBg/1865 BW jo Article 164 HIR/284 RBg/1866 BW where the plaintiff submits evidence of letters and witnesses. Then against the judge's decidendi ratio in awarding damages refers to the civil liability of doctors in the event of medical malpractice seen from the perspective of civil law, namely responsibility for unlawful acts by providing compensation so that it proves the existence of errors and it is also supported by concrete evidence about the amount of losses suffered by plaintiffs. In the accountability of the doctor in the case of a quo fundamental in Article 1365 jo 1367 Kuh Civil.
5153040943E1B019030MORATOIRE INTEREST LAWSUIT DUE TO DEFAULT IN SALE AND PURCHASE AGREEMENT
(Analysis of Case Decision Number 40/Pdt.G/2022/PN.Sby)
This research was conducted on Court Decision Number 40/Pdt.G/2022/PN.Sby regarding the moratoire interest lawsuit due to default in sale and purchase agreement. The purpose of this study is to analyze the legal consequences of default in a sale and purchase agreement and the judges legal considerations in deciding moratoire interest due to default in Case Decision Number 40/Pdt.G/2022/PN.Sby. The research method used in this research is juridical normative with descriptive analysis research specifications. The data source in this research is secondary data which includes primary legal material, secondary legal material and tertiary legal material. The data collection method is done by literature studies. Data presentation in this research is done systematically in the form of narrative text and data analysis is done normative qualitative.
Based on the research results and discussion, it shows that first, the legal consequences of default committed by the Defendant as the buyer, namely having to pay compensation in the form of the remaining bills that were not paid in the amount of IDR 509.313.500 (five hundred nine million three hundred thirteen thousand five hundred rupiah) along with moratoire interest of 6% (six percent) of the total losses suffered by the Plaintiff as the seller, this is in accordance with the provisions in Article 1243 of the Civil Code. In addition, the Defendant was burdened with court costs of IDR 755.000 (seven hundred and fifty five thousand rupiah) as stated in Article 181 HIR. The form of default committed by the defendant is late achievement. Second, the results showed that the judges legal consideration in deciding moratoire interest due to default was appropriate and in accordance with Article 1250 of the Civil Code and State Gazette 1848 Number 22 by punishing the Defendant to compensate in the form of moratoire interest of 6% (six percent) a year, starting from the time the case was registered with the Surabaya District Court.
Penelitian ini dilaksanakan terhadap Putusan Pengadilan Nomor 40/Pdt.G/2022/PN.Sby mengenai gugatan bunga moratoir akibat wanprestasi dalam perjanjian jual beli. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis akibat hukum wanprestasi dalam perjanjian jual beli dan pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan bunga moratoir akibat wanprestasi pada Putusan Pengadilan Nomor 40/Pdt.G/2022/PN.Sby. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis dalam bentuk teks naratif dan analisis data dilakukan secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa pertama, Akibat hukum terjadinya wanprestasi yang dilakukan oleh Tergugat selaku pembeli yaitu harus membayar ganti rugi berupa sisa tagihan yang tidak dilunasi sebesar Rp509.313.500 (lima ratus sembilan juta tiga ratus tiga belas ribu lima ratus rupiah) beserta bunga moratoir sebesar 6% (enam persen) dari total kerugian yang dialami Penggugat selaku penjual, hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1243 KUHPerdata. Selain itu Tergugat dibebani biaya perkara sebesar Rp755.000 (tujuh ratus lima puluh lima ribu rupiah) sebagaimana tercantum dalam Pasal 181 HIR. Adapun bentuk wanprestasi yang dilakukan tergugat yaitu terlambat berprestasi. Kedua, diperoleh hasil penelitian bahwa pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan bunga moratoir akibat wanprestasi sudah tepat dan sesuai dengan Pasal 1250 KUHPerdata dan Lembaran Negara Tahun 1848 Nomor 22 dengan menghukum Tergugat untuk mengganti kerugian berupa bunga moratoir sebesar 6% (enam persen) per tahun, dimulai sejak perkara didaftarkan ke Pengadilan Negeri Surabaya.
5153132949C1C017042PENGARUH KESADARAN WAJIB PAJAK,
KUALITAS PELAYANAN PERPAJAKAN DAN SANKSI PERPAJAKAN
TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK RESTORAN
(Studi Pada Pengusaha Rumah Makan Di Kabupaten Kebumen)
Abstraksi: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan perpajakan, sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak restoran di Kabupaten Kebumen. Sampel diambil menggunakan teknik Cluster Sampling dengan jumlah 97 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda.

Hasil menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak dan kualitas pelayanan perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak restoran di Kabupaten Kebumen, namun sanksi perpajakan berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak restoran di Kabupaten Kebumen.

Abstract: This study aims to determine taxpayer awareness of Kebumen Regency's restaurant taxpayer compliance, the quality of tax services, and the impact of tax sanctions. Samples were taken using a cluster sampling technique with a total of 97 respondents. Use surveys to collect data and analyze it using multiple linear regression analysis.
The results show that taxpayer awareness and quality of tax service have a positive impact on Kebumen Regency's restaurant taxpayer compliance, while tax sanctions have a negative impact on Kebumen Regency's restaurant taxpayer compliance.

5153227055D1A015072MORFOLOGI CACING DAUN Fasciola hepatica DI HATI DAN TELUR CACING DI FESES
PADA SAPI YANG DI POTONG DI RPH BANTARWUNI BANYUMAS
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cacing dan telur cacing Fasciola hepatica serta mengetahui hubungan antara jumlah cacing dengan jumlah telur cacing Fasciola hepatica. Materi penelitian yang digunakan yaitu hati sapi potong yang terinfeksi cacing Fasciola hepatica dan jumlah telur cacing yang terdapat pada feses sapi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan uji regresi untuk membandingkan jumlah telur dan jumlah cacing Fasciola hepatica pada hati, analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan morfologi cacing. Variabel yang diukur yaitu jumlah cacing, morfologi cacing, dan jumlah telur cacing. Hasil analisis menunjukan adanya perbedaan nyata (P<0,05) antara jumlah cacing dalam hati dan jumlah telur pada feses. Disimpulkan bahwa jumlah cacing Fasciola hepatica pada hati berpengaruh terhadap jumlah telur yang keluar lewat feses. Hasil analisis persamaan regresi y= 362,96 + 3,3 x yang dapat disimpulkan bahwa dalam tiap kenaikan satu cacing Fasciola hepatica memberikan pengaruh terhadap jumlah telur sebanyak 363 butir.This study aimed to identify the worms and eggs of theworm Fasciola hepatica and find out the relationship between the number of worms and the number ofworm eggs Fasciola hepatica. The research material used is beef liver infected withworms Fasciola hepatica and the number of worm eggs found in catle feces. The research method used was a survey method. The data obtained were then analyzed using a regression test to compare the number of eggs and the number ofworms Fasciola hepatica in the liver, descriptive analysis was used to describe the morphology of the worms. The variables measured were the number of worms, morphology of worms, and the number of worm eggs. The analysis showed a significant difference (P <0.05) between the number of worms in the liver and the number of eggs in the stool. It was concluded that the number ofworms Fasciola hepatica in the liver affects the number of eggs that come out of feces. The results of the analysis of the regression equation y= 362,96 + 3,3 x which can be concluded that in each increase of one worm Fasciola hepatica gives an influence on the number of eggs as many as 363 eggs.
5153350395I1C020069FORMULASI BODY SCRUB EKSTRAK ETANOL KACANG HIJAU (Vigna radiata) DAN SERBUK BERAS PUTIH (Oryza sativa L.)Penelitian ini bertujuan memformulasikan body scrub dari ekstrak kacang hijau (Vigna radiata) dan serbuk beras putih (Oryza sativa L.) sebagai agen pelembab dan eksfoliator alami. Asam stearat dan trietanolamin sebagai emulgator divariasikan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat fisik dan stabilitas sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk menguji pengaruh sifat dan stabilitas fisik sediaan body scrub ekstrak kacang hijau (Vigna radiata) dan beras putih (Oryza sativa L.) dengan variasi konsentrasi trietanolamin dan asam stearat serta untuk mengetahui konsentrasi trietanolamin dan asam stearat yang menghasilkan body scrub dengan sifat dan stabilitas fisik yang paling baik. Kacang hijau diekstraksi dengan metode maserasi, kemudian dibuat dalam bentuk krim body scrub dengan variasi konsentrasi Asam Stearat dan Trietanolamin. Body scrub dibuat 3 formula yaitu F0 (6;0,5), F1 (6:0,5), F2 (8:1), dan F3 (10:2). Uji stabilitas fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Setelah dilakukan uji sifat fisik, dilakukan pula uji stabilitas fisik dengan metode Freeze-Thaw. Seluruh formula telah memenuhi kriteria sifat fisik dan stabilitas fisik krim body scrub, kecuali daya sebar yang masih dibawah 5 cm, dengan daya sebar terbaik yaitu F1 dengan rata-rata 3,98 cm. Variasi konsentrasi asam stearat dan trietanolamin mempengaruhi sifat fisik sediaan krim body scrub yaitu pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Konsentrasi asam stearat dan trietanolamin yang tinggi akan meningkatkan pH, viskositas, dan daya lekat, namun akan menurunkan daya sebar sediaan. Body scrub dengan konsentrasi asam stearat 6% dan trietanolamin 0,5% (F1) adalah body scrub dengan formula yang paling baik.This study aims to formulate a body scrub from mung bean extract (Vigna radiata) and white rice powder (Oryza sativa L.) as a natural moisturizer and exfoliator. Stearic acid and triethanolamine as emulsifiers were varied to determine their effect on the physical properties and stability of the preparation. This study aims to test the effect of the physical properties and stability of the body scrub formulation made from green bean extract (Vigna radiata) and white rice (Oryza sativa L.) with varying concentrations of triethanolamine and stearic acid, as well as to determine the concentrations of triethanolamine and stearic acid that produce a body scrub with the best physical properties and stability. Green beans were extracted using the maceration method, then made into a body scrub cream with varying concentrations of stearic acid and triethanolamine. Three body scrub formulas were created: F0 (6:0.5), F1 (6:0.5), F2 (8:1), and F3 (10:2). Physical stability tests include organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, and adhesion. After the physical property tests, physical stability tests were also conducted using the Freeze-Thaw method. All formulas met the criteria for physical properties and physical stability of body scrub creams, except for spreadability, which was still below 5 cm, with the best spreadability being F1 with an average of 3.98 cm. Variations in the concentrations of stearic acid and triethanolamine affect the physical properties of the body scrub cream formulation, namely pH, viscosity, spreadability, and adhesion. High concentrations of stearic acid and triethanolamine increase pH, viscosity, and adhesion, but reduce the spreadability of the formulation. The body scrub with a stearic acid concentration of 6% and triethanolamine concentration of 0.5% (F1) is the body scrub with the best formulation.
515346225C1A009115FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI NLAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA TAHUN 2007.I-2011.IVPenelitian ini berjudul “Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika Tahun 2007.I-2011.IV”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika dengan variabel penelitiannya BI Rate, pinjaman dollar Amerika, jumlah uang beredar (M2), inflasi dan cadangan devisa.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif menggunakan metode analisis regresi linier berganda, uji statistik (Uji R2, Uji t, Uji F) dan uji asumsi klasik (Multikolinieritas, Heterokedastisitas, Autokorelasi dan Normalitas). Data yang digunakan adalah data time series, yaitu data triwulanan periode 2007.I-2011.IV atau jumlah data sebanyak 20 pengamatan.
Berdasarkan hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel BI Rate, pinjaman dollar Amerika, jumlah uang beredar, inflasi dan cadangan devisa berpengaruh secara simultah terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Namun secara parsial variabel BI Rate, pinjaman dollar Amerika dan jumlah uang beredar (M2) yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Sementara itu, hasil uji elastisitas menunjukkan bahwa jumlah uang beredar (M2) merupakan variabel yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.
Implikasi dari penelitian ini adalah untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tetap stabil, BI Rate yang merupakan instrumen kebijakan Bank Indonesia sebaiknya fleksibel mengikuti perkembangan ekonomi domestik maupun dunia, persediaan atau supply dollar Amerika juga perlu diperhatikan karena apabila kebutuhan akan dollar Amerika tidak tercukupi akan menyebabkan rupiah terdepresiasi, sementara untuk jumlah uang beredar (M2) pemerintah dan Bank Indonesia juga perlu mengaturnya karena terlalu banyak jumlah uang beredar akan menyebabkan inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terdepresiasi.
This research is entitled “The Factors That Effect of Exchange Rate of Rupiah Against The U.S Dollar 2007.I-2011.IV Period”. The aims of the research are to find out the factors of the influence of exchange rate Rupiah/U.S. Dollar using variables are BI Rate, commercial loan (U.S. Dollar), broad money (M2), inflation and foreign exchange reserves.
The research methods that used in this study are quantitative analysis using multiple linear regression , statistical tests (R2 test, t test, F test) and classical assumption tests (multicollinearity, heteroskedasticity, autocorrelation and normality). The data used in the research are time series data in quarter period from 2007.I-2011.IV or as many as 20 observations.
Based on the result of multiple linear regression test shows that the variable BI Rate, commercial loan (U.S. Dollar), broad money (M2), inflation and foreign exchange reserves simultaneously has significant effect to exchange rate Rupiah/U.S. Dollar. However, partially the variable of inflation and foreign exchange reserves that has significant effect to exchange rate Rupiah/U.S Dollar. Meanwhile, the result of elasticity test explains that the broad money variable is a variable that has the most impact to exchange rate Rupiah/U.S Dollar.
The implications of the research are BI rate is main instrument Central Bank of Indonesia’s policy must be flexible according to Indonesia and global economic, supply of US dollar must be sufficient to fulfilled US dollar loan demand and broad money (M2) are regulated by government and Bank Indonesia not occur inflation and depreciation, in order to stability of exchange rate rupiah/US dollar.

515356870F1D006009Perspektif Ekonomi Politik Peran Disperindakop Dalam Pengelolaan Pasar Segamas Untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Di Kabupaten PurbalinggaTujuan penelitian ini adalah untuk memahami peran Disperindagkop dalam pengelolan Pasar Segamas di Kabupaten Purbalingga, dan menjelaskan faktor-faktor ekonomi politik yang dominan mendukung dan menghambat pengelolaan Pasar Segamas dalam peningkatan Penghasilan Asli Daerah Kabupaten Purbalingga Metode yang gunakan penelitian kualitatif deskriptif. Sasaran penelitian ini ialah kepala Disperindagkop Kabupaten Purbalingga, DPRD Komisi B, Tokoh Masyarakat, Paguyuban Pasar Segamas, Pedagang. Teknik pengambilan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan Wawancara mendalam, observasi, dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah dengan model analisis interaktif dengan keabsahan data diuji mengunakan Triagulasi Sumber.
Hasil penelitian menunjukan bahwa peran Disperindagkop dalam pengelolaan pasar segamas, yang dikelola secara mandiri oleh pemerintah daerah dan UPTD Pasar Segamas. Hubungan interaksi antara pemerintah daerah (Disperindagkop) dan UPTD Pasar Segamas tercipta hubungan kerjasama yang saling menguntungkan dengan meningkatnya pendapatan asli daerah dari sektor pasar. Didasarkan analisa ekonomi politik (nilai, kepentingan, kekuasaan) peran Disperindagkop dalam hubunganya dengan aktor lain (UPTD Pasar Segamas) memiliki posisi dominan dan kuat dalam hubungan pengelolaan pasar segamas. Hal ini dikarenakan faktor pendukung lebih berpengaruh pada peran pemerintah daerah dalam mengelola pasar segamas. Adapun faktor pendukung memiliki legal formal, letak pasar segamas yang strategis, adanya dukungan masyarakat Purbalingga, pasar segamas sebagai sumber pendapatan daerah dan adanya otonomi daerah. Sedangkan faktor penghambat peran Disperindagkop dalam pengelolaan pasar segamas yaitu minimnya Sumber daya manusia dalam pengelolaan akiabatnya kurang maksiamal serta kurangnya fasiliats dalam pasar sehingga pengunjung kurang nyaman .

The purpose of this study is to understand the role in the management Disperindagkop Segamas Markets in Purbalingga , and explain the political economy factors that support and hinder dominant market management Segamas in regional real income increased Purbalingga method used descriptive qualitative research . Objectives of this study is to head Disperindagkop Purbalingga , Commission B DPRD , Community Leaders , Circle Segamas Market , Trader . Informant retrieval technique using purposive sampling and snowball sampling . Data was collected through in-depth interviews , observation , documentation . The analytical method used is to model the interactive analysis with the data validity was tested using Triagulasi sources .
The results showed that Disperindagkop role in the management of Segamas market , which is managed independently by local governments and UPTD Segamas Market . Interaction between local government ( Disperindagkop ) and UPTD Segamas Market created a mutually beneficial partnership with the increasing revenue of market sectors . Based analysis of political economy ( the value , importance , power ) Disperindagkop role in relation to the other actors ( UPTD Segamas Market ) has a dominant position in relationship management and strong Segamas market . This is because the supporting factors have more influence on local government's role in managing Segamas market . The contributing factors have formal legal Segamas strategic market location , the community support Purbalingga , Segamas market as a source of regional income and regional autonomy . While inhibiting factor Disperindagkop role in market management Segamas namely the lack of human resources in the management and lack akiabatnya less maksiamal fasiliats in the market so that visitors are less comfortable .
5153614917F1B010005Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Etiket Pelayanan
Terhadap Kepuasan Masyarakat Dalam Pembuatan Sertifikat Tanah
di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Ciamis
Masyarakat menginginkan pelayanan publik yang efektif dan efisien dari pemerintah dalam berbagai hal. Pelayanan publik merupakan masalah yang terus menerus selalu ada bagi instansi pemerintah atau badan usaha milik negara yang menyelenggarakan. Instansi pemerintah dalam hal ini Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Ciamis terus berupaya memberikan pelayanan yang prima. Dalam beberapa tahun terakhir ini berbagai masalah di Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Ciamis muncul ke permukaan, hal ini terkait dengan pelayanan yang berbelit, biaya yang tinggi, dan waktu yang lama.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh kualitas pelayanan (X1) terhadap kepuasan masyarakat (Y), besarnya pengaruh etiket pelayanan (X2) terhadap kepuasan masyarakat (Y), dan besarnya pengaruh kualitas pelayanan (X1) dan etiket pelayanan (X2) terhadap kepuasan masyarakat (Y) di Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Ciamis.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif, untuk mengetahui adakah pengaruh dari variabel kualitas pelayanan dan etiket pelayanan terhadap kepuasan masyarakat. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling metode pengumpulan data menggunakan kuisioner, wawancara, dan observasi. Sasaran dalam penelitian ini adalah masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan pembuatan sertifikat tanah di Kantor BPN Kabupaten Ciamis dalam setahun terakhir.
Berdasarkan hasil yang didapatkan dari uji regresi ordinal menunjukkan bahwa dari dua variabel yang terdiri dari kualitas pelayanan dan etiket pelayanan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepuasan masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa semua variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap variabel dependen yaitu kepuasan masyarakat.
People want a public service that is effective and efficient than the government in various ways. Public service is an ongoing problem that has always existed for government agencies or state-owned enterprises were organized. Government agencies in this case the National Land Agency Ciamis Regency continues to provide excellent service. In recent years, various problems in the Office of the National Land Agency Ciamis Regency surfaced, it is associated with convoluted service, high cost, and a long time.
The purpose of this study was to magnitude the effect of quality of service (X1) to the public satisfaction (Y), magnitude the effect of etiquette service (X2) to the public satisfaction (Y), and the magnitude the effect of quality of service (X1) and the etiquette service (X2) to public satisfaction (Y) in the Office of the National Land Agency Ciamis District.
The method used is quantitative method to know is there any effect of the variable quality of service and etiquette of service to the public satisfaction. The sampling technique using cluster random sampling method of data collection using questionnaires, interviews, and observations. The targets of this research are people who use services titling of land in Ciamis District Land Office in the past year.
Based on the results of ordinal regression test showed that two variables consisting of quality of service and service etiquette significant and positive impact on people's satisfaction. This proves that all independent variables have a significant and positive effect on the dependent variable, namely the satisfaction of the public.
5153755415I4D025002Asuhan Gizi Pada Pasien Tuberkulosis Paru Milier, Colic Abdomen, dan AnemiaPasien masuk dengan diagnosis Tuberkulosis milier, colic abdomen, dan anemia. Studi
kasus dilakukan di RSUD Welas Asih pada April 2026 selama 3 hari intervensi.
Pengumpulan data meliputi pengukuran menggunakan tinggi lutut dan Lingkar
Lengan Atas (LiLA), biokimia darah, fisik/klinis, asupan menggunakan food recall 24
jam dan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), serta menggunakan
data rekam medis. Intervensi diet diberikan pada hari pertama sebesar 67% dari
kebutuhan energi, 1325 kkal (67%), protein 49 g (62%), lemak 50 gram (91%),
karbohidrat 157 gram (54%) dengan bentuk makanan lunak. Pada hari kedua dan
ketiga, pemberian diet ditingkatkan menjadi 73% dari kebutuhan energi, 1444 kkal
(73%), protein 55 gram (70%), lemak 38 gram (69%), karbohidrat 213 gram (73%)
dengan bentuk makanan cincang. Diagnosis gizi meliputi asupan oral inadekuat,
malnutrisi akibat penyakit kronis, dan pemilihan makanan yang tidak diinginkan.
Intervensi diberikan berupa Diet Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP) dengan
kebutuhan energi 2022,3 kkal, protein 79,4 g, lemak 56,2 g, dan karbohidrat 298,3 g,
disertai edukasi, konseling, dan kolaborasi tim kesehatan. Hasil monitoring dan
evaluasi menunjukkan peningkatan asupan dari 17,2% menjadi 71,9%, ditandai dengan
meningkatnya nafsu makan.
The patient was admitted with diagnoses of miliary tuberculosis, abdominal colic, and
anemia. This case study was conducted at RSUD Welas Asih in April 2026 over a 3 day
intervention period. Data collection included anthropometric assessment using knee
height and Mid-Upper Arm Circumference (MUAC), blood biochemical tests, physical
and clinical examinations, dietary intake assessment using a 24-hour food recall and
Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), and medical record
review. On the first day, the patient received a soft diet providing 1,325 kcal (67% of
energy requirements), 49 g protein (62%), 50 g fat (91%), and 157 g carbohydrates (54%).
On the second and third days, the diet was increased to 1,444 kcal (73%), 55 g protein
(70%), 38 g fat (69%), and 213 g carbohydrates (73%) with a minced-food texture.
Nutrition diagnoses included inadequate oral intake, chronic disease-related
malnutrition, and undesirable food choices. A High Energy High Protein diet was
prescribed, providing 2.022,3 kcal, 79,4 g protein, 56,2 g fat, and 298,3 g carbohydrates,
accompanied by nutrition education, counseling, and multidisciplinary collaboration.
Monitoring and evaluation results showed that dietary intake improved from 17,2% to
71,9%, accompanied by an increase in appetite.
5153855416I4D025020Laporan Kasus: Asuhan Gizi Terstandar pada Pasien Fistel Rectovaginal Post Laparotomi Abdominoperineal Resection dengan Kolostomi Permanen Fistel rectovaginal merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada tumor rektum, yaitu adanya hubungan abnormal antara rektum dan vagina sehingga menyebabkan keluarnya gas atau fese melalui vagina. Laparotomi abdominoperineal resection (APR) merupakan tindakan pengangkatan rektum, anus, dan sfingter ani sehingga pasien memerlukan kolostomi permanen sebagai jalur keluarnya feses. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan proses asuhan gizi pada pasien fistel rectovaginal post laparotomi abdominoperineal resection dengan kolostomi permanen. Subjek merupakan pasien berusia 61 tahun dengan riwayat massa rektum dan telah melakukan operasi laparatomi APR dengan kolostomi permanen. Desain penelitian ini berupa studi kasus yang dilaksanakan di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten pada bulan Januari 2026 dengan empat hari intervensi dan monitoring evaluasi. Asuhan gizi pasien dimulai dengan asesmen, diagnosis, intervensi, monitoring, dan evaluasi gizi. Pasien diberikan diet tinggi protein dan rendah serat dengan tekstur secara bertahap (cair, saring, dan lumak). Berdasarkan prinsip dan syarat diet ESPEN pemberian intervensi target asupan pada hari pertama dan kedua yaitu 50%, hari ketiga 60%, dan hari keempat 90% meningkat secara bertapah beririsan dengan kondisi fisik klinis pasien. Pemantauan selama empat hari menunjukkan adanya peningkatan asupan energi, lemak, dan karbohidrat. Kondisi fisik klinis juga mengalami perbaikan pada hari terakhir intervensi.A rectovaginal fistula is a complication of rectal tumors characterized by an abnormal connection between the rectum and the vagina, resulting in the passage of gas or feces through the vagina. Abdominoperineal resection (APR) is a surgical procedure to remove the rectum, anus, and anal sphincter, requiring the patient to undergo a permanent colostomy as a route for fecal elimination. This case report aims to describe the nutritional care process for patient with a rectovaginal fistula following an abdominoperineal resection (APR) with a permanent colostomy. The subject was a 61 year old patient with a history of a rectal mass who had undergone an APR with colostomy permanent. This study was designed as a case study conducted at RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten in Januari 2026, involving four days of intervention, monitoring, and evaluation. The patient’s nutritional care began with assessment, diagnosis, intervention, monitoring, and nutritional evaluation. The patient was placed on a high-protein, low-fiber-diet with a gradually progressing texture (liquid, strained, and pureed). Based on ESPEN dietary principles and requirements, the target intake for the first and second days was 50%, the third day 60%, and the fourth day 90%, increasing gradually in accordance with the patient clinical physical condition. Monitoring over the foru days showed an increase in energy, fat, and carbohydrate intake. Clinical physical condition also improved by the last day of the intervention.
5153941996I1C019012FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS SEDIAAN KRIM KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera) DAN SIRIH MERAH (Piper crocatum) SEBAGAI ANTIJERAWATJerawat merupakan suatu kondisi peradangan pada kulit yang dapat disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Kombinasi ekstrak etanol daun kelor dan sirih merah terbukti dapat menghambat bakteri P. acnes dengan sangat kuat karena mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, fenol, dan eugenol. Tujuan penelitian adalah untuk melihat pengaruh kombinasi ekstrak etanol daun kelor dan sirih merah terhadap sifat dan stabilitas fisik krim serta aktivitas antibakteri terhadap P. acnes. Penelitian eksperimental ini dilakukan pembuatan sediaan krim pada perbandingan F0 (0%:0%), F1 (5%:0%), F2 (0%:5%), F3 (2,5%:2,5%), dan F4 (1,25%:1,25%), evaluasi sifat dan stabilitas fisik serta uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi sumuran. Hasil menunjukkan kombinasi ekstrak daun kelor dan sirih merah berpengaruh signifikan terhadap viskositas dan daya lekat krim, tidak berpengaruh terhadap stabilitas fisik krim selama penyimpanan, dan memiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik dibandingkan krim ekstrak tunggal. Formula 3 (2,5%:2,5%) memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. acnes paling besar yaitu sebesar 11,67 mm. Acne is an inflammatory condition of the skin that can be caused by the bacterium Propionibacterium acnes. The combination of the ethanol extracts of moringa leaf and red betel leaf has been shown to inhibit P. acnes bacteria powerfully because they contain flavonoid, saponins, tannins, alkaloids, phenols, and eugenol. This study aims to see the effect of a combination of ethanol extracts of moringa and betel leaf on properties and physical stability of the cream as well as antibacterial activity against P. acnes. This experimental research was carried out to make cream in the ratio of F0 (0%: 0%), F1 (5%: 0%), F2 (0%: 5%), F3 (2.5%: 2.5%), and F4 (1.25%:1.25%), evaluation of physical properties and stability and antibacterial activity test using the well diffusion method. The results showed that the combination of Moringa leaf extract and red betel had a significant effect on the viscosity and stickiness of the cream, had no effect on the physical stability of the cream during storage, and had better antibacterial activity than single extract cream. Formula 3 (2.5%:2.5%) had the greatest antibacterial activity against P. acnes, which was 11.67 mm.
5154028669I1D015035HUBUNGAN FREKUENSI KONSUMSI JUNK FOOD,
PENGETAHUAN GIZI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN
STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI SMA IT AL-IRSYAD
PURWOKERTO
Latar Belakang: Remaja putri merupakan salah satu kelompok sasaran yang berisiko
mengalami gizi lebih dan dapat mengalami gizi kurang. Kelebihan energi pada remaja
salah satunya disebabkan oleh kebiasaan konsumsi junk food. Pola hidup masyarakat
yang saat ini cenderung sedentary perlu mendapatkan perhatian karena aktivitas fisik
yang rendah meningkatkan risiko kejadian obesitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan antara frekuensi konsumsi junk food, pengetahuan gizi, dan
aktivitas fisik dengan status gizi pada remaja putri di SMA IT Al-Irsyad Purwokerto.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Sampel pada
penelitian ini berjumlah 39 responden menggunakan metode random sampling. Data
frekuensi konsumsi junk food diambil menggunakan kuesioner FFQ, data aktivitas fisik
menggunakan kuesioner PAQ-A, dan kuesioner pengetahuan gizi dibuat oleh peneliti
yang disesuaikan dengan variabel yang diteliti dengan uji validitas dan reliabilitas
terlebih dahulu.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan 13% responden mengalami
overweight, dan 87% memiliki status gizi normal. Tidak ada hubungan signifikan antara
status gizi dengan frekuensi konsumsi junk food, pengetahuan gizi, dan aktivitas fisik
dinilai secara berurutan p=0,52; p=0,57; p=0,57.
Kesimpulan: Frekuensi konsumsi junk food, pengetahuan gizi, dan aktivitas fisik tidak
berhubungan signifikan dengan status gizi pada remaja putri SMA IT Al-Irsyad
Purwokerto.
Background: Girl teenage is including one of nutritionally vulnerable age group to get
overweight and it also has possibility to have lack of nutrition. Junk food daily
consumption is one of causes that makes overweight in adolescent. Nowadays, the
community lifestyle has changed into sedentary lifestyle, and it has to get more attention
because the lower physical activities increasing the risk of obesity. This research has
aim to know the relationship between junk food consumption, nutrition knowledge, and
physical activity of nutritional status teenage girl at SMA IT Al-Irsyad Purwokerto.
Method: This research used cross sectional method. Samples in this research had
amount 39 respondents which was taken by random sampling method. The data of junk
food consumption frequency was taken by FFQ, physical activities data was taken by
PAQ-A, and questionnaire of nutritional knowledge was made by the researcher that
had adjusted with the variables which had gotten validity and reliability tests.
Result: This research was showing 13% respondents get overweight, and 87% had
normal nutritional status. There was no significant correlated between nutritional status
with frequency of junk food consumption, nutritional knowledge, and physical activity
that has value p=0,52; p=0,57; p=0,57.
Conclusion: The frequency of junk food consumption, nutritional knowledge, and
physical activity were not correlated with nutritional status at girl teenage in SMA ITAl-Irsyad Purwokerto.