Home
Login.
Artikelilmiahs
54985
Update
NAUFAL FIRLY FAUZIAH
NIM
Judul Artikel
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kencana Ungu (Ruellia tuberosa L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Cutibacterium acnes
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Infeksi kulit merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di daerah tropis seperti Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Cutibacterium acnes. Infeksi ini biasanya diobati dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah resistensi. Kondisi tersebut mendorong alternatif antibakteri alami dengan memanfaatkan tanaman Ruellia tuberosa L. yang mudah ditemukan dan memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian mengenai antibakteri tanaman R. tuberosa terhadap S. aureus dan C. acnes masih terbatas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun R. tuberosa, menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) ekstrak daun R. tuberosa terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes, serta menentukan nilai Minimum Bactericidal Concentration (MBC) ekstrak daun R. tuberosa terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Biologi dan Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Maret hingga Juni 2026 menggunakan metode survei dan eksperimental dengan analisis RAL satu arah yaitu konsentrasi ekstrak daun R. tuberosa. Penelitian ini meliputi sampling daun R. tuberosa, pembuatan ekstrak daun R.tuberosa, uji aktivitas antibakteri, menentukan nilai MIC dan MBC, uji aktivitas antibakteri pada perlakuan suhu, serta uji kandungan senyawa bioaktif daun R.tuberosa. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel bebas yang diamati yaitu konsentrasi ekstrak daun R. tuberosa, sedangkan variabel terikat yaitu kemampuan aktivitas antibakteri ekstrak daun R. tuberosa terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes. Parameter utama yang diamati yaitu aktivitas antibakteri, nilai MIC dan nilai MBC, serta parameter pendukung yang diamati adalah kandungan senyawa bioaktif daun R. tuberosa dan aktivitas antibakteri pada perlakuan suhu suhu. Data hasil eksperimen dianalisis menggunakan uji ANOVA pada tingkat signifikasi sebesar 95%, dilanjutkan dengan uji Duncan`s Multiple Range Test (DMRT), uji normalitas atau homogenitas tidak signifikan, maka dilakukan uji Kruskal-Wallis dan dilanjut dengan uji post hoc Dunn dengan koreksi Bonferroni. Sampel daun R. tuberosa diperoleh sebanyak 265 g simplisia menghasilkan sebanyak 37 g ekstrak kasar. Terdapat aktivitas antibakteri ekstrak daun R. tuberosa terhadap S. aureus dan C. acnes. Namun pada S. aureus seluruh konsentrasi uji tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan diameter tertinggi sebesar 15,45±0,13 mm dan terendah sebesar 11,23±0,43 mm, sedangkan pada C. acnes perlakuan seluruh konsentrasi uji menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan diameter tertinggi sebesar 14,97±0,64 mm dan diameter terendah sebesar 8,75±0,68 mm. Nilai MIC ekstrak daun R.tuberosa pada bakteri S. aureus terdapat pada konsentrasi 250 mg/mL, sedangkan pada bakteri C. acnes terletak pada konsentrasi 1000 mg/mL. Nilai MBC belum ditemukan pada seluruh konsentrasi uji baik pada S. aureus maupun C. acnes. Hasil aktivitas antibakteri pada perlakuan pemanasan ekstrak menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri mengalami peningkatan setelah ekstrak dipanaskan pada suhu tinggi terhadap bakteri S. aureus dan C. acnes. Ekstrak daun R. tuberosa mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin yang berpotensi sebagai antibakteri alami.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Skin infections are common health problems in tropical regions such as Indonesia. These infections are caused by Staphylococcus aureus and Cutibacterium acnes. They are usually treated with antibiotics; however, inappropriate use of antibiotics can lead to resistance issues. This condition encourages the exploration of natural antibacterial alternatives, such as Ruellia tuberosa L., a plant that is easily found and contains secondary metabolites with potential antibacterial activity. Research on the antibacterial properties of R. tuberosa against S. aureus and C. acnes remains limited. Therefore, this study aimed to determine the antibacterial activity of R. tuberosa leaf extract, establish its Minimum Inhibitory Concentration (MIC) against S. aureus and C. acnes, and evaluate its Minimum Bactericidal Concentration (MBC) against both bacteria. This study was conducted at the Microbiology Laboratory, Faculty of Biology, and the Research Laboratory of Universitas Jenderal Soedirman from March to June 2026, using survey and experimental methods with a one-way Completely Randomized Design (CRD) analysis based on the concentration of R. tuberosa leaf extract. This study included sampling of R. tuberosa leaves, preparation of R. tuberosa leaf extract, antibacterial activity testing, determination of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) values, antibacterial activity testing under temperature treatment, and analysis of the bioactive compound content of R. tuberosa leaves. Each treatment was replicated three times. The independent variable observed was the concentration of R. tuberosa leaf extract, while the dependent variable was the antibacterial activity of R. tuberosa leaf extract against S. aureus and C. acnes bacteria. The main parameters observed were antibacterial activity, MIC value, and MBC value, while the supporting parameters observed were the bioactive compound content of R. tuberosa leaves and antibacterial activity under temperature treatment. The experimental data were analyzed using ANOVA at a 95% significance level, followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT). If the normality or homogeneity test results were not significant, the data were analyzed using the Kruskal-wallis test, followed by Dunn's post hoc test with Bonferroni correction. A total of 265 g of R. tuberosa leaf simplicia yielded 37 g of crude extract. Antibacterial activity of R. tuberosa leaf extract was observed against S. aureus and C. acnes. However, for S. aureus, none of the tested concentrations showed a significant difference, with the highest inhibition zone diameter of 15.45±0.13 mm and the lowest of 11.23±0.43 mm, whereas for C. acnes, all tested concentrations showed significant differences, with the highest diameter of 14.97±0.64 mm and the lowest of 8.75±0.68 mm. The MIC value of R. tuberosa leaf extract for S. aureus was found at a concentration of 250 mg/mL, while for C. acnes it was found at a concentration of 1000 mg/mL. The MBC value was not found at any of the tested concentrations for either S. aureus or C. acnes. The results of the antibacterial activity test under extract heating treatment showed that antibacterial activity increased after the extract was heated at high temperature against both S. aureus and C. acnes. R. tuberosa leaf extract contains secondary metabolite compounds such as flavonoids, alkaloids, saponins, and tannins, which have potential as natural antibacterial agents.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save