Artikelilmiahs
Menampilkan 51.421-51.440 dari 51.470 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51421 | 54834 | K1C022097 | ANALISIS VARIASI KEDALAMAN TERHADAP BERKAS KELUARAN FOTON 6 MV DAN 10 MV PESAWAT LINAC | Ketepatan keluaran dosis radiasi menjadi faktor krusial dalam menjamin efektivitas terapi dan keselamatan pasien, sehingga pengujian berkala sesuai standar dosimetri internasional wajib dilakukan. Linear Accelerator (LINAC) adalah perangkat radioterapi yang memproduksi berkas foton berenergi tinggi untuk penanganan kanker. Verifikasi akurasi dosis secara rutin menjadi prasyarat mutlak dalam menjaga mutu layanan radioterapi. Kajian ini difokuskan pada analisis dampak perbedaan kedalaman terhadap hasil berkas foton berenergi 6 MV dan 10 MV yang dihasilkan pesawat LINAC, dengan penerapan protokol dosimetri IAEA TRS-398. Pengambilan data dilaksanakan di Instalasi Radioterapi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, memanfaatkan perangkat LINAC Elekta Versa HD, water phantom, bilik ionisasi Farmer, elektrometer, termometer, serta barometer. Pengukuran dilakukan pada kedalaman 5 cm dan 10 cm menggunakan lapangan penyinaran berukuran 10 × 10 cm² dengan Source to Surface Distance (SSD) 100 cm. Faktor koreksi temperatur dan tekanan (kTP), polaritas (kpol), rekombinasi ion (ks), kualitas berkas (kQ,Q0), serta dosis serap keluaran berkas foton pada kedalaman referensi dan kedalaman maksimum menjadi fokus analisis. Nilai PDD dan TPR yang lebih tinggi ditunjukkan oleh energi foton 10 MV dibandingkan dengan 6 MV berdasarkan hasil penelitian. Kinerja pesawat LINAC dalam pelayanan radioterapi tetap memenuhi standar dosimetri internasional karena seluruh nilai keluaran dosis yang tercatat berada pada rentang 0,9844–1,0146 cGy/MU dengan deviasi 0,1042–1,4581%, masih dalam batas toleransi ±3% sesuai IAEA TRS-398. Karakteristik keluaran berkas foton terbukti dipengaruhi oleh variasi kedalaman, namun hal tersebut tidak menghalangi kelayakan pesawat untuk digunakan. Standar internasional yang ditetapkan IAEA TRS-398 menjadi acuan bahwa deviasi tersebut masih dapat diterima, sehingga keselamatan dan efektivitas pelayanan radioterapi tetap terjamin meskipun terdapat pengaruh kedalaman terhadap keluaran berkas foton. | The accuracy of radiation dose output is a crucial factor in ensuring therapeutic effectiveness and patient safety; therefore, periodic testing in accordance with international dosimetry standards is mandatory. A Linear Accelerator (LINAC) is a radiotherapy device that generates high-energy photon beams for cancer treatment. Routine verification of dose accuracy is an absolute prerequisite for maintaining the quality of radiotherapy services. This study focuses on analyzing the impact of depth variations on the output of 6 MV and 10 MV photon beams generated by a LINAC unit, applying the IAEA TRS-398 dosimetry protocol. Data collection was conducted at the Radiotherapy Unit of Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital (RSUD) in Purwokerto, utilizing an Elekta Versa HD LINAC, a water phantom, a Farmer ionization chamber, an electrometer, a thermometer, and a barometer. Measurements were taken at depths of 5 cm and 10 cm using a 10 × 10 cm² radiation field and a Source-to-Surface Distance (SSD) of 100 cm. The analysis focused on correction factors for temperature and pressure (kTP), polarity (kpol), ion recombination (ks), and beam quality (kQ,Q0), as well as the absorbed dose of the photon beam output at reference and maximum depths. The study results indicate higher PDD and TPR values for the 10 MV photon energy compared to the 6 MV energy. The LINAC unit's performance in radiotherapy services continues to meet international dosimetry standards, as all recorded dose output values fell within the range of 0.9844–1.0146 cGy/MU, with deviations of 0.1042–1.4581%—well within the ±3% tolerance limit specified by IAEA TRS-398. While photon beam output characteristics were influenced by depth variations, this did not compromise the unit's suitability for clinical use. The international standard established by IAEA TRS-398 serves as the benchmark indicating that such deviation remains acceptable; thus, the safety and effectiveness of radiotherapy services are ensured, despite the influence of depth on photon beam output. | |
| 51422 | 54835 | C1I019035 | The Effect of Accounting Knowledge, Use of Information Technology and Business Size on Intention in Implementing SME Accounting Standard in Purwokerto | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan akuntansi, penggunaan teknologi informasi, dan ukuran usaha terhadap minat penggunaan SAK EMKM pada UMKM di Purwokerto. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penerapan standar akuntansi dalam membantu UMKM menghasilkan laporan keuangan yang lebih terstruktur dan sesuai dengan standar yang berlaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, dengan data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada pelaku UMKM di Purwokerto. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen terhadap minat penggunaan SAK EMKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan akuntansi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat penggunaan SAK EMKM. Sementara itu, penggunaan teknologi informasi dan ukuran usaha tidak berpengaruh signifikan terhadap minat penggunaan SAK EMKM. Secara simultan, ketiga variabel independen berpengaruh signifikan terhadap minat penggunaan SAK EMKM. Nilai Adjusted R-Square sebesar 0,537 menunjukkan bahwa pengetahuan akuntansi, penggunaan teknologi informasi, dan ukuran usaha mampu menjelaskan 53,7% variasi minat penggunaan SAK EMKM, sedangkan 46,3% sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya peningkatan pengetahuan akuntansi bagi pelaku UMKM untuk mendorong minat dalam menggunakan SAK EMKM. Penelitian ini juga memberikan implikasi bagi pemerintah dan pihak terkait untuk meningkatkan pelatihan, sosialisasi, dan pendampingan mengenai penyusunan laporan keuangan sesuai SAK EMKM. Kata kunci: Pengetahuan Akuntansi, Penggunaan Teknologi Informasi, Ukuran Usaha, Minat Penggunaan SAK EMKM, UMKM. | This study aims to analyze the influence of accounting knowledge, the use of information technology, and business size on the interest in using SAK EMKM among MSMEs in Purwokerto. This research is motivated by the importance of implementing accounting standards to help MSMEs produce more structured financial reports that comply with applicable standards. This research uses a quantitative approach with a survey method, with data obtained thru the distribution of questionnaires to MSME actors in Purwokerto. The data obtained were analyzed using multiple linear regression to test the influence of each independent variable on the interest in using SAK EMKM. The research results show that accounting knowledge has a positive and significant effect on the interest in using SAK EMKM. Meanwhile, the use of information technology and business size do not have a significant effect on the interest in using SAK EMKM. Simultaneously, the three independent variables have a significant effect on the interest in using SAK EMKM. The adjusted R-Square value of 0.537 indicates that accounting knowledge, the use of information technology, and business size can explain 53.7% of the variation in interest in using SAK EMKM, while the remaining 46.3% is explained by factors outside the research model. The research results indicate the importance of enhancing accounting knowledge for MSME actors to encourage interest in using SAK EMKM. This study also provides implications for the government and related parties to improve training, socialization, and assistance regarding the preparation of financial statements in accordance with SAK EMKM. Keywords: Accounting Knowledge, Use of Information Technology, Business Size, Interest in Using SAK EMKM, MSMEs. | |
| 51423 | 54836 | K1C022077 | ANALISIS KELUARAN BERKAS FOTON 10 MV DENGAN VARIASI SOURCE TO SURFACE DISTANCE DAN FIELD SIZE PADA PESAWAT TERAPI LINAC (STUDI KASUS : RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO) | Pesawat terapi Linear Accelerator (LINAC) digunakan dalam radioterapi untuk menghasilkan berkas foton berenergi tinggi sehingga ketepatan keluaran dosis menjadi faktor penting dalam keberhasilan terapi dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keluaran dosis berkas foton 10 MV pada variasi Source to Surface Distance (SSD) dan Field Size berdasarkan protokol IAEA TRS-398 serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap batas toleransi ±3%. Pengukuran dilakukan menggunakan fantom air dan detektor ionisasi Farmer chamber pada variasi SSD 90 cm, 95 cm, dan 100 cm serta field size 5×5 cm², 10×10 cm², dan 15×15 cm². Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan SSD menyebabkan keluaran dosis menurun, sedangkan peningkatan field size menyebabkan keluaran dosis meningkat akibat bertambahnya radiasi hambur. Dari sembilan kondisi pengukuran, hanya dua kondisi yang memenuhi batas toleransi ±3%, yaitu SSD 95 cm dengan field size 5 × 5 cm² dengan deviasi 0,50% dan SSD 100 cm dengan field size 10 × 10 cm² dengan deviasi 0,40%, sedangkan tujuh kondisi lainnya melebihi batas toleransi dan memerlukan adjustment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi SSD dan field size berpengaruh signifikan terhadap keluaran dosis berkas foton 10 MV pada pesawat LINAC dan perlu diperhatikan dalam proses quality assurance dan quality control (QA/QC) radioterapi. | The Linear Accelerator (LINAC) is used in radiotherapy to produce high energy photon beams, making accurate dose output an important factor in treatment efficacy and patient safety. This study aimed to analyze the dose output of a 10 MV photon beam under variations in Source to Surface Distance (SSD) and Field Size based on the IAEA TRS-398 protocol and to evaluate its compliance with the ±3% tolerance limit. Measurements were performed using a water phantom and a Farmer chamber ionization detector at SSDs of 90 cm, 95 cm, and 100 cm, with field sizes of 5 × 5 cm², 10 × 10 cm², and 15 × 15 cm². The results showed that increasing the SSD decreased the dose output, while increasing the field size increased the dose output due to increased scattered radiation. Of the nine measurement conditions, only two met the ±3% tolerance limit, namely an SSD of 95 cm with a field size of 5 × 5 cm², with a deviation of 0.50%, and an SSD of 100 cm with a field size of 10 × 10 cm², with a deviation of 0.40%. The other seven conditions exceeded the tolerance limit and required adjustment. The results indicate that variations in SSD and field size significantly affect the dose output of the 10 MV photon beam from the LINAC and should therefore be considered in radiotherapy quality assurance and quality control (QA/QC) processes. | |
| 51424 | 54838 | L1B022109 | UJI EFEKTIVITAS ECO-ENZYME BERBAHAN DASAR LIMBAH BUAH JERUK (Citrus sp.) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Aeromonas hydrophila | Aeromonas hydrophila merupakan bakteri patogen yang sering menyerang ikan air tawar dan menyebabkan penyakit Motile Aeromonad Septicemia (MAS). Pengendalian bakteri ini umumnya menggunakan bahan kimia atau antibiotik, namun penggunaannya dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri serta pencemaran lingkungan. Eco-enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik yang berpotensi digunakan sebagai alternatif antibakteri alami yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri dan dosis yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian dilakukan secara ekperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 6 perlakuan dan 3 ulangan. Konsentrasi Eco-enzyme yang digunakan 25%, 50%, 75%, dan 100%. Uji daya hambat dilakukan dengan metode difusi sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata diameter zona hambat yang diperoleh pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%, serta kontrol positif berturut-turut sebesar 1,67 mm, 4,83 mm, 5,50 mm, 7,33 mm, dan 26,50 mm. Sedangkan kontrol negatif tidak memiliki zona hambat (0,00 mm). Hasil uji fitokimia mengidentifikasi adanya senyawa metabolit sekunder berupa tanin dan flavonoid pada Eco-enzyme. Eco-enzyme berbahan dasar limbah buah jeruk terbukti memiliki daya antibakteri terhadap Aeromonas hydrophila, dengan konsentrasi 75% sebagai perlakuan yang paling efektif dengan diameter zona hambat sebesar 5,50 ± 1,80 mm. | Aeromonas hydrophila is a pathogenic bacterium that frequently infects freshwater fish and causes Motile Aeromonad Septicemia (MAS). Control of this bacterium typically involves the use of chemicals or antibiotics; however, their use can lead to bacterial resistance and environmental pollution. Eco-enzymes, produced through the fermentation of organic waste, have the potential to serve as a more environmentally friendly natural antibacterial alternative. This study aims to determine the inhibitory effect on bacterial growth and the most effective dose for inhibiting bacterial growth. The study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 6 treatments and 3 replicates. The concentrations of eco-enzyme used were 25%, 50%, 75%, and 100%. The inhibitory activity test was performed using the well diffusion method. The results showed that the average diameter of the inhibition zones obtained at concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%, as well as the positive control, were 1.67 mm, 4.83 mm, 5.50 mm, 7.33 mm, and 26.50 mm, respectively. Meanwhile, the negative control showed no inhibition zone (0.00 mm). Phytochemical analysis identified the presence of secondary metabolites, namely tannins and flavonoids, in the eco-enzyme. The citrus fruit waste-based Eco-enzyme was shown to possess antibacterial activity against Aeromonas hydrophila, with the 75% concentration proving to be the most effective treatment, yielding an inhibition zone diameter of 5.50 ± 1.80 mm. | |
| 51425 | 54839 | A1D022219 | Studi Populasi Serangga Pemakan Gulma pada Pertanaman Padi (Oryza sativa L.) di Kabupaten Banyumas | Gulma merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang secara langsung menjadi kendala dalam budidaya padi. Salah satu pengendalian gulma padi adalah dengan pemanfaatan musuh alami serangga pemakan gulma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis gulma, jenis-jenis serangga pemakan gulma, dan serangga pemakan gulma yang berpotensi sebagai agen pengendali gulma di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian dilakukan secara survei di 12 kecamatan yang terbagi dalam 4 rentang ketinggian yaitu 0-200, 201-400, 401-600, dan 601-800 mdpl, serta dengan metode pelaksaan berupa Stratified Purposive Ramdom Samping. Gulma yang ditemukan pada lahan padi terdapat 31 jenis yang terdiri dari 17 famili berbeda. Serangga pemakan gulma diantaranya adalah Altica sp. dengan inang Ludwigia sp., Monolepta sp. dengan inang Ludwigia sp., Gesonula sp. dengan inang M. vaginalis dan C. difusa, Spodoptera sp. dengan inang P. stratiotes, dan Leptocorisa sp. dengan inang M. vaginalis. Sedangkan serangga yang berpotensi sebagai agen pengendali gulma, yaitu Altica sp., dan Gesonula sp. | Weeds are plant pests (OPT) that directly become obstacles in rice cultivation. One of the rice weed control is by utilizing natural enemies of weed-eating insects. This study aims to determine the types of weeds, types of weed-eating insects, and weed-eating insects that have the potential as weed control agents in Banyumas Regency. The research method was conducted through a survey in 12 sub-districts divided into 4 altitude ranges, namely 0-200, 201-400, 401-600, and 601-800 masl, and with the implementation method of Stratified Purposive Random Side. There were 31 types of weeds found in rice fields consisting of 17 different families. Weed-feeding insects include Altica sp. host Ludwigia sp., Monolepta sp. host Ludwigia sp., Gesonula sp. hosts M. vaginalis and C. difusa, Spodoptera sp. host P. stratiotes, and Leptocorisa sp. host M. vaginalis. Meanwhile, insects with potential as weed control agents are Altica sp. and Gesonula sp. | |
| 51426 | 54840 | K2C024004 | Pemodelan Hidrodinamika Multi-Skenario Banjir Rob Akibat Kenaikan Muka Aair Laut Di Kabupaten Cilacap | Banjir rob merupakan salah satu bencana di daerah pesisir yang disebabkan oleh interaksi berbagai parameter oseanografi terutama pasang surut, gelombang, dan angin serta berpotensi meningkat akibat kenaikan muka air laut. Kabupaten Cilacap merupakan salah satu wilayah pesisir yang rentan terhadap banjir rob karena memiliki topografi yang rendah. Penelitian ini akan menentukan threshold banjir rob, memodelkan genangan banjir rob dengan tiga skenario, dan menganalisis pengaruh kenaikan muka air laut terhadap tinggi dan luas genangan banjir rob di Kabupaten Cilacap. Penentuan threshold menggunakan metode Hazard Index (HI) dengan mengintegrasikan parameter pasang surut, gelombang, dan angin. Pemodelan banjir rob menggunakan persamaan penyederhanaan Navier-Stokes dua dimensi dengan metode beda hingga dengan grid ukuran 20x20 meter. Model divalidasi dengan membandingkan tinggi genangan dari model dengan data banjir rob tahun 2018-2023 dari BPBD Cilacap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasang surut menjadi faktor dominan penyebab banjir rob, diikuti tinggi gelombang dan kecepatan angin. Nilai HI menghasilkan tiga kategori yaitu aman, waspada, dan bahaya. Pemodelan skenario rendah tidak ada genangan, skenario sedang menghasilkan genangan dengan tinggi 0.15 meter dan luas 6.36 Ha. Skenario tinggi menghasilkan genangan dengan tinggi 0.76 m dan luas 19753.08 Ha dengan wilayah Kampung Laut menjadi daerah yang paling rentan. Kenaikan muka air laut di Cilacap sebesar 3.4 mm/tahun, sehingga menyebabkan tinggi dan luas genangan banjir rob pada masa mendatang meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kondisi oseanografi dan kenaikan muka air laut dapat meningkatkan risiko banjir rob di Cilacap, sehingga perlu adanya upaya mitigasi dan peringatan dini. | Tidal flooding is one of the disasters affecting coastal areas caused by the interaction of various oceanographic parameters—particularly tides, waves, and wind—and has the potential to intensify due to sea-level rise. Cilacap Regency is one of the coastal areas vulnerable to tidal flooding because it consists of low-lying terrain. This study will determine the tidal flooding threshold, model tidal flooding inundation under three scenarios, and analyze the impact of sea-level rise on the height and extent of tidal flooding inundation in Cilacap Regency. The threshold will be determined using the Hazard Index (HI) method by integrating tidal, wave, and wind parameters. Tidal flooding is modeled using a simplified two-dimensional Navier-Stokes equation with the finite difference method on a 20-meter grid. The model is validated by comparing the flood depths from the model with tidal flood data from 2018–2023 provided by the Cilacap Regional Disaster Management Agency (BPBD). The results show that tides are the dominant factor in tidal flooding, followed by wave height and wind speed. The HI value yields three categories: safe, alert, and danger. The low-scenario simulation resulted in no inundation, while the moderate scenario produced inundation with a height of 0.15 meters and an area of 6.36 hectares. The high-scenario simulation resulted in flooding with a depth of 0.76 m and an area of 19753.08 ha, with the Kampung Laut area being the most vulnerable. Sea level rise in Cilacap is 3.4 mm/year, causing sea levels to rise further and thereby increasing the depth and extent of tidal flooding in the future. The research findings indicate that a combination of oceanographic conditions and sea-level rise can increase the risk of tidal flooding in Cilacap; therefore, these findings can serve as a basis for mitigation efforts and early warning systems. | |
| 51427 | 54841 | K2C024007 | IDENTIFIKASI INTRUSI AIR LAUT DENGAN METODE GRAVITY, ELECTRICAL RESISTIVITY TOMOGRAPHY (ERT), DAN UJI PARAMETER FISIKA-KIMIA AIR TANAH DI PESISIR CILACAP | Pemodelan data gravity GGMPlus, pengukuran resistivitas batuan dengan ERT konfigurasi Wenner dan pengambilan sampel air tanah telah dilakukan di pesisir Kabupaten Cilacap. Uji rasio Cl⁻/HCO₃⁻ juga juga sudah dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jenderal Soedirman. Tujuan dari pengukuran dan pengujian ini adalah melihat formasi dan jenis batuan dari model densitas, menentukan litologi batuan bawah permukaan berdasarkan model nilai resistivitas batuan dan menganalisis kemenerusan litologi batuan sebagai jalur masuknya intrusi air laut. Pengukuran parameter fisika dan kimianya berupa pH, TDS, DHL, Salinitas, rasio Cl^-/ HCO_3^- juga dilakukan untuk melihat sebaran intrusi air laut. Hasil memperlihatkan bahwa Formasi dan jenis batuan yang menyusun daerah penelitian yang berpotensi menjadi jalur intrusi air laut adalah endapan aluvial (Qa) dan endapan pantai (Qac) yang tersusun atas material lepas berupa lempung, lanau, pasir, kerikil, dan kerakal dengan nilai densitas sebesar 2,31-2,71 g/cm³. Lapisan batuan yang menjadi jalur masuknya intrusi air laut merupakan lapisan batuan keempat (Akuifer 2) dengan nilai resistivitas 0,57–8,80 Ωm dan zona intrusi teridentifikasi mulai dari Kelurahan Tegalkamulyan, Sidakaya, dan sebagian Gunungsimping yang berada di Kecamatan Cilacap Selatan menuju ke bagian utara menjauhi garis pantai sejauh 443 m. | GGMPlus gravity data modeling, rock resistivity measurements using ERT Wenner configuration, and groundwater sampling were conducted in the coastal area of Cilacap Regency. Cl⁻/HCO₃⁻ ratio analysis was also performed at the Inorganic Chemistry Laboratory of the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Jenderal Soedirman University. The objectives of these measurements and analyses were to identify rock formations and types from density models, determine subsurface lithology based on resistivity models, and analyze lithological continuity regarding seawater intrusion pathways. Measurements of physical and chemical parameters—including pH, TDS, DHL, salinity, and the Cl⁻/HCO₃⁻ ratio—were also carried out to map the extent of seawater intrusion. The results indicate that the rock formations and types constituting the study area—which potentially serve as pathways for seawater intrusion—are alluvial deposits (Qa) and coastal deposits (Qac); these consist of loose materials such as clay, silt, sand, gravel, and cobbles, with densities ranging from 2.31 to 2.71 g/cm³. The rock layer serving as the entry point for seawater intrusion is the fourth layer (Aquifer 2), characterized by resistivity values of 0.57–8.80 Ωm. The identified intrusion zone extends from the Tegalkamulyan, Sidakaya, and parts of the Gunungsimping areas (in South Cilacap District) northward, reaching a distance of 443 meters inland from the coastline. | |
| 51428 | 54843 | A1D022156 | RESPON HASIL TANAMAN SAWI PAGODA PADA BERBAGAI KONSENTRASI EKOENZIM DAN MEDIA TANAM DENGAN SISTEM HIDROPONIK DEEP FLOW TECHNIQUE (DFT) | Produksi sawi pagoda (Brassica narinosa L.) pada sistem hidroponik dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi dan media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekoenzim, media tanam, dan interaksi keduanya terhadap hasil tanaman sawi pagoda pada sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua konsentrasi ekoenzim (1500 dan 2500 ppm) dan tiga media tanam (rockwool, spons, dan cocopeat), masing-masing diulang empat kali. Variabel hasil yang diamati meliputi indeks kehijauan daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar, dan bobot kering akar. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekoenzim berpengaruh terhadap seluruh variabel hasil yang diamati, media tanam berpengaruh terhadap variabel bobot segar tanaman, sedangkan kombinasi antara konsentrasi ekoenzim dan media tanam berpengaruh nyata terhadap bobot segar tanaman. Kombinasi ekoenzim 1500 ppm dan media tanam cocopeat menghasilkan hasil tanaman terbaik pada sistem hidroponik DFT. | The productivity of pagoda mustard (Brassica narinosa L.) in hydroponic cultivation is influenced by nutrient availability and growing media. This study aimed to evaluate the effects of eco enzyme concentration, growing media, and their interaction on the yield of pagoda mustard grown in a Deep Flow Technique (DFT) hydroponic system. A factorial randomized complete block design was applied using two eco-enzyme concentrations (1500 and 2500 ppm) and three growing media (rockwool, sponge, and cocopeat) with four replications. The observed yield variables included leaf greenness index, fresh plant weight, dry plant weight, fresh root weight, and dry root weight. Data were analyzed using ANOVA followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the 5% significance level. Eco-enzyme concentration significantly affected all yield variables, while growing media significantly affected resh plant weight, and whereas the interaction between eco-enzyme concentration and growing media significantly affected fresh plant weight. The combination of 1500 ppm eco-enzyme and cocopeat produced the highest yield of pagoda mustard in the DFT hydroponic system. | |
| 51429 | 54845 | F1A022037 | DINAMIKA PERUBAHAN SOSIAL DAN STRATEGI BERTAHAN HIDUP PETANI DESA TAMANSARI KECAMATAN KARANGLEWAS | Penelitian ini mengkaji dinamika perubahan sosial dan strategi bertahan hidup petani di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perubahan sosial yang menimbulkan tekanan sosial ekonomi sehingga mendorong petani melakukan berbagai strategi bertahan hidup untuk mempertahankan ketahanan pangan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi petani pemilik lahan, petani penggarap, ketua kelompok tani, ketua gabungan kelompok tani, dan tokoh masyarakat yang ditentukan menggunakan snowball sampling. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, sedangkan validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber. Teori strategi bertahan hidup James C. Scott digunakan untuk menganalisis bentuk strategi yang dilakukan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial berlangsung secara bertahap dan multidimensional, meliputi perubahan mata pencaharian, pola produksi, penggunaan teknologi, dan interaksi sosial. Perubahan tersebut mendorong petani menerapkan strategi aktif, pasif, dan jaringan sebagai bentuk adaptasi. Pemberdayaan melalui pelatihan dan edukasi teknologi budidaya diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan, inovasi, dan kapasitas petani. | This study examines the dynamics of social change and the survival strategies of farmers in Tamansari Village, Karanglewas District, Banyumas Regency, Central Java. The research is motivated by social changes that have generated socio-economic pressures, compelling farmers to adopt various survival strategies to maintain household food security. A descriptive qualitative approach was employed, utilizing data collection techniques such as in-depth interviews, observation, and documentation. Research informants—including landowner-farmers, tenant farmers, farmer group leaders, leaders of farmer group associations, and community figures—were selected using snowball sampling. Data analysis followed the Miles and Huberman interactive model, while data validation was achieved through source triangulation. James C. Scott’s theory of survival strategies was used to analyze the specific strategies employed by the farmers. The findings indicate that social change occurred gradually and multidimensionally, encompassing shifts in livelihoods, production patterns, technology adoption, and social interactions. These changes prompted farmers to implement active, passive, and network-based strategies as forms of adaptation. Empowerment through training and education on cultivation technology is essential to enhance the farmers' knowledge, innovation, and capacity. | |
| 51430 | 54846 | F1A022068 | ANALISIS ISI KASUS FEMISIDA INTIM DALAM PORTAL BERITA ONLINE DETIK.COM TAHUN 2023-2024 | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kasus femisida intim pada pemberitaan portal berita online Detik.com tahun 2023 – 2024. Fokus penelitian ini meliputi karakteristik pelaku dan korban femisida intim yaitu usia, status pernikahan, status hubungan pelaku dengan korban, serta karakteristik kejadian femisida intim seperti motif, modus, lokasi, senjata yang digunakan pelaku, serta perlakuan pelaku terhadap jasad korban femisida intim. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif. Total sampel yang digunakan adalah 161 berita (kasus) dengan menggunakan teknik sampel jenuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku dan korban didominasi kelompok usia dewasa, sedangkan status pernikahan didominasi menikah (72,7%) dengan hubungan pelakukorban terbanyak adalah suami (70,2%). Motif femisida intim didominasi cemburu atau over protective (27,3%), diikuti dendam atau sakit hati (16,1%) dan emosi atau kesal terhadap korban (13,0%). Modus yang paling banyak digunakan ialah ditusuk (24,8%), dengan penggunaan senjata tajam (41,6%), serta sebagian besar peristiwa terjadi di ruang privat (79,5%). Perlakuan pelaku terhadap jasad korban didominasi meninggalkan jasad di tempat kejadian perkara (43,5%). Temuan tersebut menunjukkan bahwa femisida intim tidak hanya tindak pembunuhan terhadap perempuan, tetapi juga mencerminkan relasi kuasa yang timpang dalam hubungan intim. Ketimpangan tersebut mendorong munculnya kontrol, dominasi, dan kepemilikan laki-laki terhadap perempuan yang ketika dianggap terancam dapat berkembang menjadi kekerasan fatal hingga femisida intim. | This study aims to analyze cases of intimate femicide reported by the online news portal Detik.com between 2023 and 2024. The research focuses on the characteristics of perpetrators and victims specifically age, marital status, and the nature of the relationship between them as well as the characteristics of the incidents, such as motives, methods (modus operandi), locations, weapons used, and the perpetrators' treatment of the victims' bodies. A quantitative content analysis method was employed, utilizing a total sample of 161 news reports (cases) selected through a saturation sampling technique. The results indicate that both perpetrators and victims were predominantly adults; the majority were married (72.7%), with husbands constituting the largest group of perpetrators (70.2%). The primary motives for intimate femicide were jealousy or over-protectiveness (27.3%), followed by revenge or resentment (16.1%) and emotional outbursts or frustration with the victim (13.0%). Stabbing was the most common method (24.8%), involving the use of sharp weapons (41.6%), and the majority of incidents occurred in private spaces (79.5%). Regarding the treatment of the victim's body, the most common action was abandoning the body at the crime scene (43.5%). These findings demonstrate that intimate femicide is not merely an act of killing women but also reflects unequal power dynamics within intimate relationships. Such inequality fosters male control, dominance, and a sense of ownership over women; when these are perceived as threatened, the situation can escalate into fatal violence, culminating in intimate femicide. | |
| 51431 | 54847 | E1A022093 | DUALISME PENGAWASAN HAKIM DALAM DUGAAN PELANGGARAN KODE ETIK HAKIM OLEH BADAN PENGAWAS MAHKAMAH AGUNG DAN KOMISI YUDISIAL | Dualisme pengawasan hakim oleh Badan Pengawas Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial dalam dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim menimbulkan persoalan mengenai batas kewenangan, potensi tumpang tindih pemeriksaan, dan efektivitas penegakan etik. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme pengawasan hakim oleh Badan Pengawas Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial serta menganalisis dualisme kewenangan keduanya dalam penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan analitis. Bahan hukum dianalisis secara deduktif untuk memperoleh pemahaman mengenai kewenangan, mekanisme pengawasan, dan hubungan kedua lembaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Badan Pengawas Mahkamah Agung melaksanakan pengawasan internal terhadap hakim, sedangkan Komisi Yudisial melaksanakan pengawasan eksternal terhadap perilaku hakim dan mengusulkan penjatuhan sanksi kepada Mahkamah Agung. Dualisme pengawasan terjadi karena kedua lembaga memiliki kewenangan pengawasan yang berbeda secara kelembagaan, tetapi terdapat irisan dalam pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik dan belum terdapat batas yang tegas antara ranah etik dan teknis yudisial serta mekanisme koordinasi yang mengikat. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pemeriksaan berulang dan mengurangi efektivitas pengawasan. Oleh karena itu, diperlukan penegasan batas ranah etik dan teknis yudisial, integrasi sistem pelaporan satu pintu, serta kewajiban Mahkamah Agung memberikan alasan tertulis atas tindak lanjut usulan sanksi Komisi Yudisial untuk memperkuat akuntabilitas tanpa mengurangi independensi kekuasaan kehakiman. | The dualism of judicial oversight by the Supervisory Body of the Supreme Court and the Judicial Commission in alleged violations of the Code of Ethics and Code of Conduct for Judges raises issues concerning the boundaries of authority, potential overlapping investigations, and the effectiveness of ethical enforcement. This study aims to analyze the mechanisms of judicial oversight conducted by the Supervisory Body of the Supreme Court and the Judicial Commission and to examine the dualism of their respective oversight authorities in enforcing the Code of Ethics and Code of Conduct for Judges. This study employs normative legal research using a statutory approach, conceptual approach, and analytical approach. Legal materials are analyzed deductively to obtain an understanding of the authorities, oversight mechanisms, and relationship between the two institutions. The results show that the Supervisory Body of the Supreme Court conducts internal oversight of judges, while the Judicial Commission exercises external oversight of judicial conduct and proposes the imposition of sanctions to the Supreme Court. The dualism of oversight arises because the two institutions possess different institutional oversight authorities, while their investigations into alleged violations of the judicial code of ethics may overlap, and there are no clear boundaries between ethical and judicial-technical matters or binding coordination mechanisms. This condition potentially leads to repeated investigations and reduces oversight effectiveness. Therefore, it is necessary to clarify the boundaries between ethical and judicial-technical matters, integrate a single-entry reporting system, and require the Supreme Court to provide written reasons for its follow-up to sanction proposals submitted by the Judicial Commission in order to strengthen accountability without compromising judicial independence. | |
| 51432 | 54250 | A1C022035 | Preferensi Konsumen Coffee Shop Starbuck Di Daerah Istimewa Yogyakarta Menggunakan Metode Analisis Konjoin | Perkembangan industri kopi di Indonesia telah mendorong pertumbuhan coffee shop modern, termasuk Starbucks. Perubahan perilaku konsumen menyebabkan keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh harga dan kualitas produk, tetapi juga oleh berbagai atribut yang membentuk pengalaman konsumsi. Penelitian mengenai preferensi konsumen Starbucks menggunakan analisis konjoin masih relatif terbatas, khususnya di Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosiodemografis dan perilaku konsumsi konsumen Starbucks di Kota Yogyakarta, mengidentifikasi kombinasi atribut yang paling disukai konsumen, serta menentukan atribut yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi dalam memengaruhi preferensi konsumen. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan analisis konjoin. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 100 konsumen Starbucks di Kota Yogyakarta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden, sedangkan analisis konjoin dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu penentuan atribut dan level, penyusunan kartu stimulus (stimuli) menggunakan desain ortogonal, pemberian peringkat (ranking) oleh responden terhadap setiap kombinasi atribut, pengolahan data menggunakan SPSS versi 25 untuk memperoleh nilai utilitas (utility estimate) dan tingkat kepentingan relatif (importance value), serta pengujian validitas, reliabilitas, dan akurasi model menggunakan Pearson's R dan Kendall's Tau. Atribut yang dianalisis meliputi harga, rasa, aroma, asal kopi, roasting, varian, kandungan gula, kemasan, penyajian, fasilitas, dan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen Starbucks di Kota Yogyakarta didominasi oleh perempuan (62%), Generasi Z (73%), berdomisili di Yogyakarta (76%), berpendidikan D3/S1 (48%), bekerja di sektor swasta (42%), memiliki pendapatan Rp2.100.000–Rp3.000.000 per bulan (27%), dan belum menikah (71%). Berdasarkan analisis konjoin, atribut pelayanan merupakan atribut yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi (importance value 17,049) dengan level yang paling disukai berupa pelayanan yang memuaskan (utility estimate 0,267). Atribut penting berikutnya adalah kandungan gula (11,886) dengan preferensi pada level sedikit gula (0,036), fasilitas (10,765) dengan fasilitas lengkap (0,051), rasa (9,979) dengan rasa seimbang (0,043), dan penyajian (9,520) dengan penyajian cold (0,054). Sementara itu, atribut asal kopi, aroma, dan roasting memiliki tingkat kepentingan relatif paling rendah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen Starbucks lebih mengutamakan kualitas pelayanan dan pengalaman konsumsi dibandingkan atribut produk semata dalam menentukan preferensi terhadap coffee shop Starbucks di Kota Yogyakarta | The growth of Indonesia's coffee industry has encouraged the expansion of modern coffee shops, including Starbucks. Consumer purchasing decisions are influenced not only by price and product quality but also by various attributes that shape the overall consumption experience. Studies examining Starbucks consumer preferences using conjoint analysis remain limited, particularly in Yogyakarta City. Therefore, this study aims to analyze the sociodemographic characteristics and consumption behavior of Starbucks consumers in Yogyakarta, identify the most preferred combination of product attributes, and determine the most influential attributes affecting consumer preferences. This study employed a descriptive quantitative approach using conjoint analysis. Data were collected through questionnaires distributed to 100 Starbucks consumers in Yogyakarta selected using purposive sampling. Descriptive analysis was conducted to describe respondents' characteristics, while conjoint analysis was carried out through several stages, including determining the attributes and their levels, generating orthogonal stimulus profiles, asking respondents to rank each profile, processing the data using SPSS version 25 to estimate utility values and relative importance values, and evaluating the validity, reliability, and predictive accuracy of the model using Pearson's R and Kendall's Tau. The evaluated attributes included price, taste, aroma, coffee origin, roasting, variety, sugar content, packaging, serving method, facilities, and service. The results indicate that Starbucks consumers in Yogyakarta are predominantly female (62%), belong to Generation Z (73%), reside in Yogyakarta (76%), hold diploma or bachelor's degrees (48%), work in the private sector (42%), earn monthly incomes of Rp2,100,000–Rp3,000,000 (27%), and are unmarried (71%). The conjoint analysis revealed that service was the most influential attribute (importance value = 17.049), with satisfactory service showing the highest utility estimate (0.267). Other important attributes were sugar content (11.886), with a preference for less sugar (0.036); facilities (10.765), with complete facilities (0.051); taste (9.979), with balanced flavor (0.043); and serving method (9.520), with cold beverages (0.054). Meanwhile, coffee origin, aroma, and roasting were the least influential attributes. These findings indicate that Starbucks consumers prioritize service quality and consumption experience over product attributes alone when choosing Starbucks coffee shops in Yogyakarta | |
| 51433 | 54848 | J1E022056 | The Correlation Among Students' Self-Efficacy, Academic Resilience, and English Achievement (A Correlational Study on Eleventh-Grade Students at SMK Negeri 2 Purwokerto in the Academic Year 2025/2026) | Lestari, Mega Tri. 2026. The Correlation Among Students’ Self-Efficacy, Academic Resilience, and English Achievement (A Correlational Study on the Eleventh-Grade Students at SMK Negeri 2 Purwokerto in the Academic Year of 2025/2026). Skripsi. Pembimbing Pertama: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D. Pembimbing Kedua: Drs. Ashari, M.Pd. Ketua Penguji Eksternal: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum. Penguji Eksternal: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto. Fokus utama penelitian ini adalah hubungan antara efikasi diri, ketangguhan akademik, dan prestasi bahasa Inggris siswa di sekolah menengah kejuruan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat rata-rata efikasi diri dan ketangguhan akademik siswa kelas XI di SMK Negeri 2 Purwokerto, untuk mengidentifikasi hubungan antara efikasi diri siswa dan prestasi bahasa Inggris, serta untuk mengidentifikasi hubungan antara ketangguhan akademik dan prestasi bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasi. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI di SMK Negeri 2 Purwokerto. Sampel diambil dari empat kelas. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dokumen. Nilai rata-rata data efikasi diri menunjukkan nilai 41,49, sedangkan nilai rata-rata data ketahanan akademik menunjukkan nilai 58,43. Baik efikasi diri maupun ketahanan akademik berada dalam kategori sedang. Nilai peringkat Spearman untuk efikasi diri dan prestasi bahasa Inggris menunjukkan nilai -0,049, yang mengindikasikan korelasi negatif dan sangat lemah. Nilai p efikasi diri dan prestasi bahasa Inggris menunjukkan nilai 0,585, yang lebih besar dari 0,05. Nilai r untuk ketahanan akademik dan prestasi bahasa Inggris menunjukkan nilai 0,033, yang mengindikasikan korelasi positif namun sangat lemah. Nilai p antara ketahanan akademik dan prestasi bahasa Inggris menunjukkan nilai 0,715, yang lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis nol (H0) diterima, dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Dapat disimpulkan bahwa baik efikasi diri maupun ketahanan akademik tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan prestasi bahasa Inggris siswa. | Lestari, Mega Tri. 2026. The Correlation Among Students’ Self-Efficacy, Academic Resilience, and English Achievement (A Correlational Study on the Eleventh-Grade Students at SMK Negeri 2 Purwokerto in the Academic Year of 2025/2026). Thesis. First Supervisor: Muhamad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D. Second Supervisor: Drs. Ashari, M.Pd. Chief External Examiner: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum. External Examiner: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Language Education Study Program, Purwokerto. The main focus of this research is the relationship among students’ self-efficacy, academic resilience, and English achievement in Vocational High School. The purposes of this research are to determine the average levels of self-efficacy and academic resilience among eleventh-grade students at SMK Negeri 2 Purwokerto, to identify the relationship between students’ self-efficacy and English achievement, and to identify the relationship between academic resilience and English achievement. This research used a quantitative method with a correlational design. The participants involved in this study were eleventh-grade students at SMK Negeri 2 Purwokerto. The samples were taken from four classes. The data were collected using questionnaires and documents. The mean score of self-efficacy data showed a value of 41.49, and the mean score of academic resilience data showed a value of 58.43. Both self-efficacy and academic resilience lie within the medium category. The Spearman’s rank value for self-efficacy and English achievement showed a value of -0.049, indicating a negative and very weak correlation. The p-value of self-efficacy and English achievement showed a value of 0.585, which is more than 0.05. The r-value for academic resilience and English achievement showed a value of 0.033, indicating a positive but very weak correlation. The p-value of academic resilience and English achievement showed a value of 0.715, which is more than 0.05. Based on the results, the null hypotheses (H0) were accepted, and the alternative hypotheses (Ha) were rejected. It can be concluded that both self-efficacy and academic resilience have no significant correlation with students’ English achievement. | |
| 51434 | 54849 | J1E022087 | THE RELATIONSHIP BETWEEN STUDENTS’ SOCIOECONOMIC STATUS AND ENGLISH ACHIEVEMENT (A Correlational Study of 10th Grade Students at SMK 75 2 Purwokerto During the Academic Year 2025/2026) | Fadjrin, Hafsa Mayra, 2026. The Relationship Between Students’ Socioeconomic Status And English Achievement (A Correlational Study of 10th Grade Students at SMK 75 2 Purwokerto During the Academic Year 2025/2026). Thesis Supervisor 1: Muhammad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., Thesis Supervisor 2: Drs. Ashari, M.Pd., Chief External Examiner: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum., External Examiner: Slamet Riyadi, S.S., M.Pd.. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Education Study Program, Purwokerto. Penelitian ini mengkaji permasalahan mengenai perbedaan kondisi sosial ekonomi di antara siswa sekolah menengah kejuruan serta hubugannya dengan pencapaian Bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara status sosial ekonomi siswa dan prestasi belajar bahasa Inggris di SMK 75 2 Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Populasi penelitian terdiri atas 178 siswa kelas X, dengan sampel sebanyak 123 siswa yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner status sosial ekonomi dan nilai ujian akhir semester mata pelajaran bahasa Inggris. Kuesioner tersebut mengukur tiga indikator status sosial ekonomi, yaitu tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan pendapatan keluarga. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, dan uji Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki status sosial ekonomi pada kategori sedang, sedangkan prestasi belajar bahasa Inggris mereka berada pada kategori baik. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga analisis hubungan antara kedua variabel dilakukan menggunakan uji Korelasi Rank Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat lemah antara status sosial ekonomi siswa dan prestasi belajar bahasa Inggris. Namun, hubungan tersebut tidak signifikan karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, status sosial ekonomi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang kemungkinan lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar bahasa Inggris dibandingkan status sosial ekonomi. Sebagai kesimpulan, status sosial ekonomi siswa tidak memiliki hubungan signifikan dengan pencapaian Bahasa Inggris mereka, meskipun ditemukan korelasi positif yang sangat lemah. | Fadjrin, Hafsa Mayra, 2026. The Relationship Between Students’ Socioeconomic Status And English Achievement (A Correlational Study of 10th Grade Students at SMK 75 2 Purwokerto During the Academic Year 2025/2026). Thesis Supervisor 1: Muhammad Ahsanu, S.Pd., M.Sc., M.Hum., Ph.D., Thesis Supervisor 2: Drs. Ashari, M.Pd., Chief External Examiner: Erna Wardani, S.Pd., M.Hum., External Examiner: Slamet Riyadi, S.S., M.Pd. Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Education Study Program, Purwokerto. This study addresses the issue of socioeconomic status differences among vocational high school students and their relationship with English Achievement. This study aimed to examine the relationship between students’ socioeconomic status and English achievement at SMK 75 2 Purwokerto. This study used a quantitative approach with a correlational research design. The population consisted of 178 tenth-grade students, and 123 students were selected using random sampling. The data were collected through a socioeconomic status questionnaire and students’ English final examination scores. The questionnaire measured three indicators of socioeconomic status, namely parents’ education, parents’ occupation, and family income. The data were analyzed using descriptive statistics, the Kolmogorov-Smirnov normality test, and the Spearman Rank Correlation test. The results showed that most students had a medium level of socioeconomic status, while their English achievement was in the good category. The normality test showed that the data were not normally distributed. Therefore, the Spearman Rank Correlation test was used to analyze the relationship between the two variables. The analysis showed a very weak positive correlation between students’ socioeconomic status and English achievement. However, the relationship was not statistically significant because the significance value was higher than 0.05. This means that students’ socioeconomic status was not significantly related to their English achievement. The findings suggest that other factors may have a greater influence on students’ English achievement than socioeconomic status. In conclusion, students’ socioeconomic status was not significantly related to their English Achievement, although a very weak positive correlation was found. | |
| 51435 | 54842 | F1A022021 | PERSEPSI GENERASI Z TERHADAP PELAKSANAAN TRADISI SEDEKAH BUMI DI DESA JUNTIWEDEN KECAMATAN JUNTINYUAT KABUPATEN INDRAMAYU | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi dan sikap Generasi Z terhadap pelaksanaan Tradisi Sedekah Bumi di Desa Juntiweden, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan field research. Informan penelitian dipilih secara purposive, terdiri atas enam informan utama dari Generasi Z dan tiga informan pendukung yang meliputi tokoh adat, kepala desa, dan petani. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung memiliki persepsi positif terhadap Tradisi Sedekah Bumi. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi, sarana mempererat kebersamaan dan gotong royong, serta bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat. Meskipun demikian, Generasi Z menunjukkan sikap yang lebih selektif dan kritis, terutama terhadap kepercayaan yang bersifat mistis dan anggapan bahwa Sedekah Bumi wajib dilakukan untuk menghindari musibah. Dalam perspektif Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer, pemaknaan tersebut terbentuk melalui interaksi sosial dalam keluarga dan masyarakat serta pengalaman individu yang kemudian diinterpretasikan kembali oleh Generasi Z. Dengan demikian, Generasi Z tidak sepenuhnya menolak Tradisi Sedekah Bumi, tetapi melakukan penyesuaian makna sesuai dengan pemahaman dan nilai yang mereka miliki. | This study aims to analyze Generation Z’s perceptions and attitudes toward the implementation of the Sedekah Bumi tradition in Juntiweden Village, Juntinyuat District, Indramayu Regency. This study employed a descriptive qualitative method with a field research approach. The research informants were selected purposively and consisted of six main informants from Generation Z and three supporting informants, including a traditional figure, the village head, and a farmer. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. Data validity was established through source and technique triangulation. The findings show that Generation Z tends to have a positive perception of the Sedekah Bumi tradition. The tradition is interpreted as an expression of gratitude to God for agricultural produce, a means of strengthening togetherness and mutual cooperation, as well as a part of the community’s cultural identity and heritage. However, Generation Z demonstrates a more selective and critical attitude, particularly toward mystical beliefs and the notion that Sedekah Bumi must be performed to prevent misfortune. From the perspective of Herbert Blumer’s Symbolic Interactionism, these meanings are formed through social interactions within families and communities, as well as through individual experiences that are subsequently reinterpreted by Generation Z. Thus, Generation Z does not completely reject the Sedekah Bumi tradition but rather adapts its meaning according to their understanding and values. | |
| 51436 | 54811 | A1A022020 | Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Atribut Beras Premium di Purwokerto | Penelitian di latarbelakangi oleh peningkatan minat masyarakat perkotaan terhadap beras premium di Purwokerto, yang ditandai dengan kelangkaan produk di pasar meski permintaan tetap tinggi, mendorong perlunya kajian mengenai atribut yang menjadi pertimbangan konsumen dalam pembelian beras premium. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi atribut beras premium yang dipertimbangkan konsumen, menganalisis tingkat preferensi konsumen terhadap atribut beras premium, serta menentukan faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian beras premium di Purwokerto menggunakan metode analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam atribut yang dipertimbangkan konsumen, yaitu kebersihan, varietas, tekstur, harga, aroma, dan warna, dengan kombinasi paling disukai berupa beras premium varietas Pandan Wangi, kondisi bersih, harga Rp15.700–Rp17.400 per kilogram, tekstur butiran utuh dan seragam, serta warna putih susu, di mana varietas beras menjadi faktor utama dengan nilai kepentingan tertinggi sebesar 22,397%. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar petani memprioritaskan penanaman varietas Pandan Wangi dan varietas alternatif dengan tetap menjaga mutu, pelaku usaha memprioritaskan pengadaan produk sesuai preferensi konsumen dengan harga yang kompetitif, serta pemerintah daerah memperkuat pengawasan mutu beras premium agar sesuai standar SNI dan menjaga kepercayaan konsumen. | The research is motivated by the growing interest of urban consumers in premium rice in Purwokerto, marked by product scarcity in the market despite persistently high demand, has raised the need to examine the attributes consumers consider when purchasing premium rice. This study aims to identify the premium rice attributes considered by consumers, analyze consumer preference levels toward the premium rice attributes, and determine the main factors influencing purchasing decisions for premium rice in Purwokerto using conjoint analysis. The results show that consumers consider six attributes, namely cleanliness, variety, texture, price, aroma, and color, with the most preferred combination being premium rice of the Pandan Wangi variety, clean condition, priced between Rp15,700–Rp17,400 per kilogram, whole and uniform grain texture, and milky white color, with rice variety identified as the main factor with the highest importance value of 22.397%. Based on these findings, it is recommended that farmers prioritize cultivating the Pandan Wangi variety along with alternative varieties while maintaining quality, that business actors prioritize procuring products aligned with consumer preferences at competitive prices, and that local governments strengthen quality supervision of premium rice to ensure compliance with SNI standards and maintain consumer trust. | |
| 51437 | 54852 | A1A019067 | Analisis Preferensi Petani dalam Pemilihan Varietas Padi Menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP): Studi Kasus di Desa Bojanegara, Kabupaten Purbalingga. | Ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada peningkatan produktivitas padi melalui pemanfaatan varietas unggul, namun adopsinya di tingkat petani sering terhambat oleh perbedaan preferensi dan kondisi spesifik lokasi. Petani di Desa Bojanegara, Kabupaten Purbalingga dihadapkan pada pilihan antara varietas unggul nasional (Inpari 32 dan IR64), varietas lokal (Padi Merah), serta varietas unggul baru Inpago Unsoed Protani. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur hierarki dan bobot prioritas kriteria yang menjadi pertimbangan utama petani, serta menentukan prioritas varietas padi yang paling sesuai dengan preferensi petani dan kondisi lingkungan setempat. Penelitian menggunakan metode studi kasus di Desa Bojanegara, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga pada Maret–April 2026, dengan 12 responden kunci yang dipilih secara purposive sampling. Analisis data menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan lima kriteria (potensi hasil, umur panen, ketahanan hama dan penyakit, kecocokan lingkungan, dan harga benih) serta empat alternatif varietas. Data dikumpulkan melalui kuesioner perbandingan berpasangan skala Saaty, digabungkan menggunakan geometric mean, dan diuji konsistensinya (CR ≤ 0,1). Hasil menunjukkan kriteria prioritas utama petani adalah ketahanan hama dan penyakit (37%), diikuti potensi hasil (32%), kecocokan lingkungan (19%), harga benih (6%), dan umur panen (6%). Sintesis akhir menunjukkan Inpari 32 memperoleh prioritas tertinggi (39,0%), diikuti Padi Merah (23,1%), Inpago Unsoed Protani (21,1%), dan IR64 (16,8%). | National food security depends heavily on increasing rice productivity through the use of improved varieties, yet adoption at the farmer level is often hindered by differences in preferences and location-specific conditions. Farmers in Bojanegara Village, Purbalingga Regency, are faced with a choice between nationally improved varieties (Inpari 32 and IR64), a local variety (Padi Merah), and the newly developed improved variety Inpago Unsoed Protani. This study aimed to analyze the hierarchical structure and priority weights of the criteria that are the main considerations for farmers, as well as to determine the priority of rice varieties that best suit farmers' preferences and local environmental conditions. This study employed a case study method conducted in Bojanegara Village, Padamara District, Purbalingga Regency, from March to April 2026, involving 12 key respondents selected through purposive sampling. Data were analyzed using the Analytic Hierarchy Process (AHP) with five criteria (yield potential, maturity period, resistance to pests and diseases, environmental suitability, and seed price) and four alternative varieties. Data were collected through pairwise comparison questionnaires using Saaty's scale, aggregated using the geometric mean, and tested for consistency (CR ≤ 0.1). The results showed that the farmers' main priority criterion was resistance to pests and diseases (37%), followed by yield potential (32%), environmental suitability (19%), seed price (6%), and maturity period (6%). The final synthesis showed that Inpari 32 obtained the highest priority (39.0%), followed by Padi Merah (23.1%), Inpago Unsoed Protani (21.1%), and IR64 (16.8%). | |
| 51438 | 54853 | F1G022023 | The Impact of Cryptocurrency Funding by Terrorist Groups on U.S. Anti-Terrorism Policy (2020-2024) | Pertumbuhan mata uang kripto selama dekade terakhir telah membuka banyak peluang baru bagi masyarakat untuk menyimpan aset dengan menawarkan berbagai fitur, termasuk desentralisasi dan pseudonimitas; namun, hal ini juga telah menciptakan peluang bagi organisasi teroris untuk memanfaatkan fitur-fitur tersebut guna mengumpulkan dana tanpa terdeteksi oleh pihak berwenang. Penelitian ini menelaah bagaimana penggunaan mata uang kripto secara luas sebagai alat pendanaan terorisme telah membentuk kebijakan kontra-terorisme AS antara tahun 2020 dan 2024. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori sekuritisasi yang dikembangkan oleh Buzan, Wæver, dan de Wilde (1998) sebagai kerangka analisis utama. Dengan menggunakan desain studi kualitatif instrumental kasus tunggal, penelitian ini menganalisis data sekunder yang diambil dari dokumen resmi pemerintah AS, termasuk Strategi Nasional untuk Memerangi Pendanaan Terorisme dan Pendanaan Ilegal Lainnya (2018 dan 2020), Perintah Eksekutif 14067, tindakan penegakan hukum Departemen Kehakiman (DoJ), serta pedoman kebijakan Departemen Keuangan. Temuan menunjukkan bahwa pemerintah AS—melalui DoJ, Perintah Eksekutif, dan Departemen —secara sistematis menggambarkan pendanaan terorisme berbasis kripto sebagai ancaman eksistensial, sehingga melegitimasi serangkaian langkah kebijakan luar biasa di luar prosedur politik normal. Proses sekuritisasi ini telah berlangsung di antara berbagai aktor kelembagaan dan semakin intensif setelah serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sekuritisasi mata uang kripto mencerminkan strategi negara yang disengaja dan kumulatif yang sedang membentuk kembali tata kelola aset digital baik di tingkat domestik maupun internasional. Temuan-temuan ini berkontribusi pada literatur mengenai teori sekuritisasi, tata kelola keuangan digital, dan kebijakan kontra-terorisme AS pada era pasca-9/11. | The growth of cryptocurrencies over the past decade has opened up many new opportunities for the public to store assets by offering various features, including decentralization and pseudonymity; however, this has also created opportunities for terrorist organizations to exploit these features to raise funds undetected by authorities. This study examines how the widespread use of cryptocurrencies as a tool for terrorist financing has shaped U.S. counterterrorism policy between 2020 and 2024. The analysis in this study employs the securitization theory developed by Buzan, Wæver, and de Wilde (1998) as the primary analytical framework. Using a single-case instrumental qualitative study design, this research analyzes secondary data drawn from official U.S. government documents, including the National Strategy to Combat Terrorist Financing and Other Illegal Financing (2018 and 2020), Executive Order 14067, DoJ enforcement actions, and Department of the Treasury policy guidance. The findings indicate that the U.S. government—through the DoJ, the EO, and the Department of the Treasury—systematically constructs crypto-based terrorist financing as an existential threat, thereby legitimizing a series of extraordinary policy measures outside normal political procedures. This securitization process has unfolded among various institutional actors and has intensified following Hamas’s attack on Israel in October 2023. This study concludes that the securitization of cryptocurrency reflects a deliberate and cumulative state strategy that is reshaping the governance of digital assets at both the domestic and international levels. These findings contribute to the literature on securitization theory, digital financial governance, and U.S. counterterrorism policy in the post-9/11 era. | |
| 51439 | 54854 | E1A019022 | TINJAUAN YURIDIS HAMBATAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL DALAM WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) (Studi Kasus Penyelesaian Sengketa Impor Daging Ayam antara Brasil melawan Indonesia oleh Dispute Settlement Body-WTO pada 2017) | Dalam penyelesaian sengketa perdagangan internasional yang terjadi antarnegara anggotanya, World Trade Organization (WTO) memiliki badan penyelesaian yang secara khusus menangani sengketa, yaitu Dispute Settlement Body (DSB). Sengketa yang terjadi dalam WTO dapat berupa hambatan perdagangan yang secara umum diatur dalam WTO. Salah satu sengketa yang ditangani oleh DSB WTO adalah kasus sengketa impor daging ayam antara Brasil melawan Indonesia pada 2017. Tindakan Indonesia dinyatakan tidak konsisten dengan aturan WTO mengenai hambatan non-tarif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan hambatan perdagangan dalam WTO serta penyelesaian sengketa perdagangan internasional oleh DSB WTO dalam sengketa impor daging ayam antara Brasil melawan Indonesia pada 2017. Tipe penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang- undangan dan kasus. Spesifikasi penelitian berupa deskriptif analitis dengan sumber data sekunder dan metode pengumpulan data studi kepustakaan. Penyajian data dibuat dalam uraian deskriptif naratif dengan metode analisis data yuridis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa hambatan perdagangan dalam WTO meliputi hambatan tarif dan non-tarif. Pasal 1 ayat (1) General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) mengatur tentang prinsip Most Favored Nation yang bertujuan untuk memastikan tarif harus diterapkan secara non-diskriminatif antarnegara anggota WTO. Hambatan non-tarif lebih kompleks dan lebih sulit diukur, di antaranya adalah pembatasan kuantitatif yang diatur dalam Pasal 11 GATT serta tindakan sanitasi dan fitosanitasi yang diatur dalam Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS Agreement). Sengketa yang terjadi antara Brasil dan Indonesia terkait impor daging ayam diselesaikan melalui DSB WTO, dengan tindakan Indonesia yang dinyatakan tidak konsisten dengan aturan WTO mengenai hambatan non-tarif. Empat klaim Brasil terhadap Indonesia dianggap tidak konsisten dengan WTO Agreement dan tiga klaim lainnya dapat disanggah dan berhasil dimenangkan oleh Indonesia. Indonesia harus mematuhi rekomendasi hasil panel WTO untuk meninjau kembali kebijakan impor terkait. Kata kunci: hambatan perdagangan, sengketa perdagangan, impor daging ayam, Brasil, Indonesia, WTO | In the resolution of international trade disputes arising between its members, the World Trade Organization (WTO) has a body specifically dedicated to handling disputes, the Dispute Settlement Body (DSB). Disputes arising within the WTO involves trade barriers and generally regulated under the WTO framework. One of the trade barrier disputes handled by the WTO’s DSB was the 2017 dispute between Brazil and Indonesia regarding chicken meat imports. Indonesia’ s measures has been found to be inconsistent with the WTO rules regarding non- tariff barriers. The purposes of this research are to examine and analyze the regulations regarding trade barriers within the WTO, as well as the resolution of the international trade dispute concerning chicken meat imports between Brazil and Indonesia in 2017. This research uses a normative- juridical research type, utilizing both statutory and case-based approaches. Specified with descriptive-analytical, based on secondary data sources, and collected by literature review method. The data is presented through a descriptive-narrative text, with a qualitative juridical data analysis method. Based on the results of this research, trade barriers within the WTO involves both tariff and non-tariff barriers. Article 1 paragraph (1) of the General Agreement on Tariffs and Trade establishes the Most Favored Nation principle, to ensure that tariffs are applied in a non- discriminatory manner among WTO members. Non-tariff barriers are more complex and difficult to measure, they include quantitative restrictions on Article 11 of the GATT and sanitary and phytosanitary measures regulated under the Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS Agreement). The dispute between Brazil and Indonesia regarding chicken meat imports was settled through the WTO’s DSB, with Indonesia’ s measures found to be inconsistent with the WTO rules concerning non-tariff barriers. Four of Brazil’s claims against Indonesia were found to be inconsistent with the WTO Agreement, while the other three claims were successfully refuted by Indonesia. Indonesia was required to comply with the WTO panel’ s recommendations to review the relevant import policies. Keywords: trade barriers, trade disputes, chicken meat imports, Brazil, Indonesia, World Trade Organization | |
| 51440 | 54855 | K2C024006 | ANALISIS MODEL PREDIKSI CUACA MENGGUNAKAN ALGORITMA MACHINE LEARNING BERBASIS DATA INDEKS STABILITAS ATMOSFER DI WILAYAH CILACAP JAWA TENGAH | Wilayah Cilacap merupakan daerah pesisir tropis dengan dinamika atmosfer yang kompleks sehingga memerlukan informasi prediksi cuaca yang akurat untuk mendukung berbagai sektor industri dan mitigasi bencana hidrometeorologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi indeks stabilitas atmosfer hasil radiosonde terhadap prediksi kondisi cuaca serta menginterpretasikannya berdasarkan karakteristik fisis atmosfer, mengevaluasi kinerja algoritma Extreme Gradient Boosting (XGBoost), Random Forest (RF), dan Support Vector Machine (SVM) pada berbagai tingkat kompleksitas kategori, kondisi musim, dan jumlah indeks, serta mengevaluasi kesesuaian hasil prediksi terhadap kondisi cuaca yang teramati dan membandingkannya dengan prediksi BMKG berbasis Numerical Weather Prediction (NWP). Data yang digunakan berupa observasi radiosonde dan laporan sinoptik BMKG Cilacap periode 2015–2024 dengan enam indeks stabilitas atmosfer, yaitu Showalter Index (SI), Lifted Index (LI), K Index (KI), Total Totals Index (TTI), Severe Weather Threat Index (SWEAT), dan Convective Available Potential Energy (CAPE). Analisis karakteristik indeks dilakukan menggunakan matriks korelasi, Principal Component Analysis (PCA), dan Random Forest Feature Importance, sedangkan evaluasi model dilakukan pada skema klasifikasi dua, tiga, dan empat kategori, variasi musim, serta percobaan reduksi jumlah indeks. Hasil analisis menunjukkan bahwa KI, CAPE, dan SWEAT merupakan indeks yang memberikan kontribusi dominan terhadap proses klasifikasi cuaca. Peningkatan kompleksitas klasifikasi menurunkan kinerja model akibat meningkatnya kemiripan karakteristik atmosfer antar kategori, sedangkan kemampuan model dalam mendeteksi hujan lebih tinggi pada musim hujan dibandingkan musim kemarau. Percobaan reduksi menunjukkan bahwa penggunaan empat indeks, yaitu KI, CAPE, SWEAT, dan TTI, mampu mempertahankan kinerja model yang relatif serupa dengan penggunaan enam indeks. Di antara algoritma yang diuji, SVM menunjukkan kinerja yang paling konsisten pada berbagai skenario pengujian. Evaluasi terhadap laporan sinoptik dan citra satelit Himawari menunjukkan bahwa hasil prediksi lebih konsisten pada kondisi atmosfer dengan karakteristik yang jelas, sedangkan ketidaksesuaian lebih sering terjadi pada kondisi atmosfer transisi. Perbandingan pada periode pengujian tahun 2024 menunjukkan bahwa SVM memiliki kemampuan deteksi hujan yang relatif sebanding dengan prediksi BMKG berbasis NWP, meskipun NWP memiliki kemampuan yang lebih seimbang dalam membedakan kondisi cerah dan hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa machine learning berbasis indeks stabilitas atmosfer dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan pendukung dalam prediksi kondisi cuaca di wilayah tropis Cilacap. | Cilacap is a tropical coastal region characterized by complex atmospheric dynamics, requiring accurate weather prediction information to support various industrial sectors and hydrometeorological disaster mitigation. This study aims to analyze the contribution of radiosonde-derived atmospheric stability indices to weather condition prediction and interpret their contributions based on the physical characteristics of the atmosphere; evaluate the performance of Extreme Gradient Boosting (XGBoost), Random Forest (RF), and Support Vector Machine (SVM) algorithms across different levels of classification complexity, seasonal conditions, and numbers of indices; and evaluate the consistency of the prediction results with observed weather conditions and compare their performance with BMKG weather forecasts based on Numerical Weather Prediction (NWP). The dataset consisted of radiosonde observations and SYNOP reports from BMKG Cilacap for the 2015–2024 period, using six atmospheric stability indices: Showalter Index (SI), Lifted Index (LI), K Index (KI), Total Totals Index (TTI), Severe Weather Threat Index (SWEAT), and Convective Available Potential Energy (CAPE). Atmospheric stability characteristics were analyzed using a correlation matrix, Principal Component Analysis (PCA), and Random Forest Feature Importance, while model performance was evaluated using two-, three-, and four-category classification schemes, seasonal variations, and a feature reduction experiment. The results of the study show that KI, CAPE, and SWEAT provide dominant contributions to weather classification. Increasing classification complexity reduced model performance due to greater overlap in atmospheric characteristics among categories, whereas the ability to detect rainfall was higher during the rainy season than during the dry season. The feature reduction experiment showed that using four indices, namely KI, CAPE, SWEAT, and TTI, was able to maintain model performance at a level relatively similar to that obtained using all six indices. Among the evaluated algorithms, SVM demonstrated the most consistent performance across the different testing scenarios. Evaluation against SYNOP reports and Himawari satellite imagery showed that the predictions were more consistent under atmospheric conditions with distinct characteristics, whereas discrepancies occurred more frequently under transitional atmospheric conditions. Comparison during the 2024 testing period showed that SVM had a rainfall detection capability relatively comparable to the BMKG NWP-based forecast, although NWP provided a more balanced ability to distinguish between clear and rainy conditions. These findings indicate that radiosonde-based machine learning using atmospheric stability indices can serve as a supporting approach for weather condition prediction in tropical Cilacap. |