Artikel Ilmiah : A1C022053 a.n. FATHUR NUR ROHMAN

Kembali Update Delete

NIMA1C022053
NamamhsFATHUR NUR ROHMAN
Judul ArtikelAnalisis Neraca Air Irigasi Berbasis Pemodelan Hidrologi pada Daerah Irigasi Banjaran Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi besaran ketersediaan air, kebutuhan air irigasi, status neraca air (water balance), serta efisiensi kinerja fisik pada sistem interkoneksi Daerah Irigasi (DI) Banjaran di Kabupaten Banyumas yang melayani luasan baku sawah sebesar 1.406 Ha. Pemodelan hidrologi dilakukan menggunakan metode F.J. Mock yang diintegrasikan dengan data iklim satelit NASA POWER (2016 – 2025) yang telah divalidasi dan dikoreksi bias (linear scaling) terhadap data observasi stasiun BMKG Cilacap. Perhitungan curah hujan wilayah menggunakan metode Poligon Thiessen pasca-pengisian data hujan yang hilang melalui regresi linier. Penentuan luas area tangkapan air secara presisi dieksekusi melalui delineasi digital memanfaatkan peta DEMNAS pada perangkat lunak QGIS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalibrasi parameter metode F.J. Mock pada DAS Logawa menghasilkan persentase kesalahan relatif rata-rata sebesar 32%. Deviasi ini dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya kesalahan pencatatan oleh petugas pengamat, tingginya laju sedimentasi yang mengubah profil dasar sungai secara temporer, serta anomali cuaca ekstrem yang mendistorsi keakuratan tabel konversi lengkung debit (rating curve) pada papan duga (peilschaal). Meskipun demikian, perhitungan lain menggunakan metode PBIAS menunjukkan nilai eror 11% yang artinya dalam keadaan baik. Keselarasan fluktuasi debit simulasi menunjukkan hasil yang sangat representatif terhadap kondisi alaminya.
Analisis neraca air yang dievaluasi melalui dua pendekatan membuktikan bahwa pada skala akumulatif keseluruhan sistem, DI Banjaran memiliki surplus ketersediaan air yang tinggi pada musim penghujan dan hanya berpotensi mengalami defisit hidrologis pada puncak kemarau (Agustus – Oktober). Namun, pada area dengan tangkapan air (DAS) kecil di bagian hilir (seperti Sekunder Menyawak dan Kaliterus), defisit terjadi nyaris sepanjang tahun dan memiliki ketergantungan pada aliran suplesi.
Evaluasi kinerja fisik jaringan irigasi yang dihitung secara spesifik pada masing-masing subsistem bendung utama mengonfirmasi terjadinya tingkat efisiensi pengaliran yang sangat rendah, jauh di bawah standar Kriteria Perencanaan Irigasi (KP-01). Efisiensi total sistem terburuk dicatatkan oleh subsistem Bendung Logawa (Saluran Induk Logawa) sebesar 50% dan Bendung Banjaran II (mencakup Induk Banjaran II, Sekunder Sidemung, Sidabowa, dan Kedungrandu) sebesar 53%. Penurunan nilai efisiensi secara drastis ini dipicu oleh akumulasi water losses akibat penyadapan air secara ilegal yang masif untuk operasional kolam ikan warga, kebocoran fisik dinding saluran, serta tingginya laju sedimentasi yang menghambat kelancaran distribusi. Terdapat kesenjangan yang besar antara ketersediaan air alamiah yang berstatus surplus dengan tingginya rasio lahan sawah yang tidak tertanami (bero) di area hilir pada saat musim hujan. Hal ini menyimpulkan bahwa krisis pasokan air di tingkat usaha tani murni disebabkan oleh kegagalan fungsi interkoneksi suplesi akibat rusaknya infrastruktur distribusi, bukan merupakan indikasi dari minimnya potensi sumber daya air alamiah.
Abtrak (Bhs. Inggris)This study aims to evaluate water availability, irrigation water requirements, water balance status, and physical performance efficiency in the interconnected system of the Banjaran Irrigation Area (DI) in Banyumas Regency, which serves a standard rice field area of 1,406 Ha. Hydrological modeling was conducted using the F.J. Mock method integrated with NASA POWER satellite climate data (2016–2025), which was validated and bias-corrected (linear scaling) against observational data from the BMKG Cilacap station. Areal rainfall calculation utilized the Thiessen Polygon method following the estimation of missing rainfall data through linear regression. Precise catchment area determination was executed via digital delineation utilizing DEMNAS maps on QGIS software.
The results indicated that the parameter calibration of the F.J. Mock method in the Logawa Watershed resulted in an average relative error of 32%. This deviation was triggered by several factors, including recording errors by observers, a high sedimentation rate that temporarily altered the riverbed profile, and extreme weather anomalies that distorted the accuracy of the rating curve on the staff gauge (peilschaal). Nevertheless, further evaluation using the PBIAS (Percent Bias) method demonstrated an error value of 11%, which is classified as 'Good'. The alignment of the simulated discharge fluctuations indicates that the results are highly representative of the natural conditions.
The water balance analysis, evaluated through a dual approach, proved that on a cumulative scale of the entire system, DI Banjaran has a high surplus of water availability during the rainy season and is only potentially prone to hydrological deficits during the peak of the dry season (August–October). However, in downstream areas with exceptionally small catchments (such as the Menyawak and Kaliterus Secondary Canals), deficits occur nearly year-round and have a dependence on supplementary flows.
The physical performance evaluation of the irrigation network, calculated specifically for each main weir subsystem, confirmed remarkably low conveyance efficiency levels, falling significantly below the Irrigation Planning Criteria (KP-01) standards. The poorest total system efficiencies were recorded by the Logawa Weir subsystem (Logawa Main Canal) at 50% and the Banjaran II Weir (covering Banjaran II Main Canal, and Sidemung, Sidabowa, and Kedungrandu Secondary Canals) at 53%. This drastic decline in efficiency was triggered by the accumulation of water losses caused by massive illegal water tapping for residents' fish ponds, physical leakage of the canal walls, and high sedimentation rates hindering distribution flow. A significant gap exists between the natural surplus of water availability and the high ratio of uncultivated (fallow) rice fields in the downstream areas during the rainy season. This concludes that the water supply crisis at the farming level is purely caused by the failure of the interconnection supplementation function driven by damaged distribution infrastructure, rather than an indication of minimal natural water resources potential.
Kata kunciIrigasi Permukaan, Pemodelan, Ketersediaan Air, Kebutuhan Air, Efisiensi Irigasi
Pembimbing 1Dr. Ir. Irawadi, CES
Pembimbing 2Dr. Asna Mustofa, S.TP., M.P.
Pembimbing 3
Tahun2026
Jumlah Halaman15
Tgl. Entri2026-08-21 11:50:27.310994
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.