Artikelilmiahs
Menampilkan 51.461-51.466 dari 51.466 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51461 | 52660 | K1C022083 | Analisis Dosis Radiasi CT Angiografi Kepala Berdasarkan Diagnostic Reference Level dan Body Mass Index di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo | CT Angiografi (CTA) kepala merupakan metode pencitraan yang memanfaatkan radiasi sinar-X untuk mendiagnosis kelainan pembuluh darah kepala. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi dosis radiasi adalah Body Mass Index (BMI). Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai Diagnostic Reference Level (DRL) serta hubungan antara BMI dan dosis radiasi. Penelitian ini melibatkan 30 pasien berusia 19–74 tahun yang menjalani pemeriksaan CTA kepala di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Data yang dikumpulkan meliputi tinggi badan, berat badan, CTDIvol, dan DLP. Hasil penelitian diperoleh nilai DRL lokal (Q2) untuk CTDIvol dan DLP masing-masing sebesar 14,05 mGy dan 1320,84 mGy.cm, sedangkan DRL nasional (Q3) sebesar 16,22 mGy dan 1561,19 mGy.cm. Nilai rata-rata CTDIvol pada pasien dengan BMI normal, overweight, dan obesitas masing-masing sebesar 12,60±0,67 mGy; 15,20±2,82 mGy; dan 18,02±3,66 mGy, DLP sebesar 1119,33±92,77 mGy.cm; 1547,63±394,63 mGy.cm; dan 1656,79±478,41 mGy.cm, serta dosis efektif sebesar 3,47±0,29 mSv; 4,80±1,22 mSv; dan 5,14±1,48 mSv. Hasil menunjukkan bahwa nilai DRL nasional (Q3) berada di bawah standar I-DRL BAPETEN sehingga pemeriksaan CTA kepala yang dilakukan termasuk aman. Selain itu, rata-rata dosis radiasi cenderung meningkat seiring meningkatnya BMI pasien. | Head CT Angiography (CTA) is an imaging method that uses X-rays radiation to diagnose abnormalities in the blood vessels of the head. One of the factors that can influence radiation dose is Body Mass Index (BMI). This study aims to analyze the Diagnostic Reference Level (DRL) values and the relationship between BMI and radiation dose. This study involved 30 patients aged 19–74 years who underwent head CTA examinations at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Regional General Hospital. The data collected included height, weight, CTDIvol, and DLP. The study results yielded the local DRL (Q2) values for CTDIvol and DLP were 14.05 mGy and 1320.84 mGy.cm, respectively, while the national DRL (Q3) values were 16.22 mGy and 1561.19 mGy.cm. The average CTDIvol values for patients with normal BMI, overweight, and obesity were 12.60±0.67 mGy, 15.20±2.82 mGy, and 18.02±3.66 mGy, respectively, the DLP values were 1119.33±92.77 mGy.cm, 1547.63±394.63 mGy.cm; and 1656.79±478.41 mGy.cm, and the effective doses were 3.47±0.29 mSv; 4.80±1.22 mSv; and 5.14±1.48 mSv. This study showed that the national DRL (Q3) value is below the I-DRL BAPETEN standard, so the head CTA examinations conducted are safe. Additionally, the average radiation dose tends to increase as the patient’s BMI increases. | |
| 51462 | 54879 | A1C022047 | Pertumbuhan dan Hasil Bibit Kentang pada Variasi Media Tanam dan Lingkungan Tumbuh dengan Sistem Fertigasi Kapiler | Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas hortikultura penting sebagai sumber karbohidrat setelah beras, gandum, dan jagung, namun produksi kentang nasional masih belum sebanding dengan kebutuhan, salah satunya karena keterbatasan bibit kentang bermutu. Budidaya kentang umumnya dilakukan di dataran tinggi, namun praktik ini berisiko menimbulkan erosi akibat penggunaan lahan yang terus-menerus. Pengembangan budidaya kentang di dataran medium dapat menjadi opsi karena ketersediaan lahan yang lebih luas, meskipun iklim di dataran medium kurang optimal bagi pertumbuhan kentang. Untuk mengatasinya, digunakan screenhouse guna memodifikasi iklim mikro, dikombinasikan dengan sistem fertigasi sumbu kapiler yang efisien dalam penggunaan air pada skala pembibitan polybag. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi media tanam, lingkungan tumbuh, serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan dan produktivitas bibit kentang menggunakan sistem fertigasi kapiler di dataran medium. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu lingkungan tumbuh dan media tanam yang terdiri atas cocopeat, arang sekam, tanah utuh, dan pasir utuh. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah batang, diameter batang, jumlah daun, Leaf Area Index (LAI), biomassa basah, biomassa kering, dan jumlah umbi. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA untuk data yang memenuhi asumsi uji parametrik, sedangkan data yang tidak memenuhi asumsi dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan beberapa parameter biomassa, dengan media cocopeat menghasilkan pertumbuhan vegetatif terbaik dibandingkan media lainnya. Sebaliknya, faktor lingkungan tumbuh tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sebagian besar parameter pertumbuhan secara statistik, meskipun tanaman di dalam screenhouse cenderung memiliki kondisi mikroklimat yang lebih stabil dan menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik secara deskriptif. Interaksi antara lingkungan tumbuh dan media tanam juga tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sebagian besar variabel yang diamati. Secara keseluruhan, media cocopeat merupakan media tanam yang paling sesuai untuk budidaya bibit kentang dengan sistem fertigasi kapiler pada kondisi penelitian ini. | Potato (Solanum tuberosum L.) is an important horticultural commodity and a major source of carbohydrates after rice, wheat, and maize, yet national potato production in Indonesia still falls short of demand, partly due to a shortage of high-quality potato seedlings. Conventional potato cultivation is typically carried out in highland areas, but continuous use of these lands poses a serious risk of soil erosion. As an alternative, developing potato cultivation in medium-elevation areas is a promising strategy given the wider availability of such land in Indonesia, although the climate at these elevations is less optimal for potato growth. To overcome this climatic constraint, a screenhouse is used to modify the microclimate, combined with a capillary wick fertigation system that is water-efficient and well suited for polybag-scale seedling production. This study aimed to evaluate the effects of different planting media, growing environments (inside and outside a screenhouse), and their interaction on the growth and productivity of potato seedlings cultivated using a capillary fertigation system in a medium-altitude area. The experiment employed a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors: growing environment and planting. Growth parameters observed included plant height, stem number, stem diameter, leaf number, Leaf Area Index (LAI), fresh biomass, dry biomass, and tuber production. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) for datasets meeting the assumptions of normality and homogeneity, while non-parametric Kruskal-Wallis tests were applied to datasets that did not satisfy these assumptions. The results indicated that planting media significantly affected plant height, leaf number, and several biomass parameters. Cocopeat consistently produced superior vegetative growth and biomass compared with the other planting media. The growing environment did not significantly affect most observed variables, although plants grown inside the screenhouse generally exhibited better vegetative performance under more favorable microclimatic conditions. Furthermore, no significant interaction was found between planting media and growing environment for most growth and productivity parameters. Overall, cocopeat was identified as the most suitable planting medium for potato seedling cultivation using a capillary fertigation system under the conditions of this study. | |
| 51463 | 54882 | K1C022067 | Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Daerah Potensi Panas Bumi Kecamatan Wanayasa Berdasarkan Data Gravitasi Satelit GGMPlus | Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara memiliki potensi energi terbarukan berupa panas bumi ditandai oleh kemunculan manifestasi air panas Kaliputih dan Tempuran. Namun, informasi tentang struktur geologi di bawah permukaan yang memengaruhi sistem panas bumi wilayah tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi bawah permukaan dan menginterpretasikan komponen penyusun sistem panas bumi Wanayasa berdasarkan data gravitasi satelit GGMPlus. Pengolahan data dilakukan melalui koreksi Bouguer dan koreksi medan agar diperoleh nilai Complete Bouguer Anomaly (CBA), dilanjutkan dengan reduksi bidang datar, pemisahan anomali regional dan residual dengan metode upward continuation, analisis struktur menggunakan Second Vertical Derivative (SVD), serta pemodelan inversi 2D. Hasil analisis grafik SVD teridentifikasi 22 patahan (8 naik, 14 turun) yang berperan sebagai jalur migrasi fluida panas bumi. Hasil pemodelan inversi 2D menunjukkan keberadaan batuan intrusi diorit berdensitas tinggi (>2,95 g/cm³) yang diinterpretasikan sebagai sumber panas (heat source), sedangkan Anggota Gunungapi Jembangan (Qjyf) pada kedalaman sekitar 400 m diinterpretasikan sebagai batuan reservoir karena tersusun oleh lava dan breksi vulkanik yang memiliki rekahan. Formasi QLa, Tpb1, Tmph, QTlc, dan Tmr berkembang sebagai batuan penudung (cap rock). Berdasarkan hasil tersebut, sistem panas bumi Wanayasa tersusun atas batuan penudung, reservoir vulkanik, dan sumber panas berupa intrusi diorit yang dikontrol oleh struktur patahan. | Wanayasa Subdistrict, Banjarnegara Regency, has renewable energy potential in the form of geothermal energy, as evidenced by the presence of the Kaliputih and Tempuran hot springs. However, information on the subsurface geological structure that influences the geothermal system in the region remains limited. This study aims to identify subsurface conditions and interpret the components of the Wanayasa geothermal system based on GGMPlus satellite gravity data. Data processing was performed using Bouguer correction and field correction to obtain the Complete Bouguer Anomaly (CBA) values, followed by plane reduction, separation of regional and residual anomalies using the upward continuation method, structural analysis using the Second Vertical Derivative (SVD), and 2D inversion modeling. The results of the SVD graphical analysis identified 22 faults (8 up-dipping, 14 down-dipping) that act as migration pathways for geothermal fluids. The results of the 2D inversion modeling indicate the presence of high-density diorite intrusive rocks (>2.95 g/cm³), interpreted as the heat source, while the Jembangan Volcanic Member (Qjyf) at a depth of approximately 400 m is interpreted as the reservoir rock because it consists of lava and volcanic breccia containing fractures..The QLa, Tpb1, Tmph, QTlc, and Tmr formations developed as cap rocks. Based on these results, the Wanayasa geothermal system consists of cap rocks, a volcanic reservoir, and a heat source in the form of a diorite intrusion controlled by fault structures. | |
| 51464 | 54883 | J0A023087 | Producing a Bilingual Informative Video on Affidavit Services for Limited Dual Citizenship Children at the Cilacap Class I Immigration Office | Laporan praktik kerja ini mendeskripsikan pelaksanaan praktik kerja selama lima belas minggu, yang dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus hingga 28 November 2025, serta proses produksi video informatif bilingual mengenai layanan Affidavit di Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap. Proyek ini dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai prosedur layanan Affidavit, persyaratan pengajuan, dan batas waktu hukum dalam pemilihan kewarganegaraan, mengingat pemohon yang tidak memahami ketentuan tersebut berisiko melewatkan batas waktu yang ditetapkan sehingga kehilangan hak untuk memilih kewarganegaraannya. Produk akhir yang dihasilkan berupa video informatif bilingual sebagai media informasi publik yang mudah diakses, disajikan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan narasi sederhana dan ilustrasi visual, sehingga dapat dipahami oleh pemohon dengan berbagai tingkat literasi hukum dan bahasa. Proyek ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Observasi dilakukan untuk merekam alur kerja aktual layanan Affidavit di Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap, wawancara dilakukan dengan petugas imigrasi untuk mengidentifikasi kendala dan kesalahpahaman yang umum dihadapi pemohon, sedangkan dokumentasi digunakan untuk menghimpun peraturan resmi, pedoman prosedural, dan konten digital yang telah dimiliki kantor. Hasil pengumpulan data menjadi dasar dalam penyusunan video informatif yang disajikan secara jelas, sistematis, dan sesuai dengan ketentuan hukum, melalui penyusunan materi berdasarkan urutan prosedur yang sebenarnya serta verifikasi seluruh informasi hukum bersama petugas imigrasi sebelum dituangkan ke dalam naskah video. Selama pelaksanaan praktik kerja dan proses produksi video, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, terutama tidak adanya pemohon Affidavit sehingga proses pengajuan tidak dapat direkam secara langsung. Kendala tersebut diatasi dengan memanfaatkan motion graphics, animasi, teks pada layar, dan narasi bilingual sebagai media penyampaian informasi. Secara keseluruhan, praktik kerja ini memberikan pengalaman dalam pelayanan keimigrasian sekaligus menghasilkan video informatif yang mendukung penyebarluasan informasi layanan Affidavit di Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap. | This job training report describes the implementation of a fifteen-week internship, conducted from 11 August to 28 November 2025, and the production of a bilingual informative video on Affidavit services at the Cilacap Class I Immigration Office. The project aimed to improve public understanding of Affidavit procedures, application requirements, and the legal deadline for nationality selection, as applicants unfamiliar with these requirements risk missing the deadline and losing their right to choose their nationality. The final product is a bilingual informative video presented in Indonesian and English with simple narration and visual illustrations, making it accessible to applicants with varying levels of legal and language literacy. Three data collection methods were used in this project: observation, interviews, and documentation. Observation captured the actual workflow of Affidavit services at the Cilacap Class I Immigration Office. Interviews with immigration officers revealed applicants’ common difficulties and misconceptions, later verified before scripting. Documentation of official regulations and procedural guidelines supported a clear, structured, and legally accurate informative video, arranged according to the real application sequence. Several challenges were encountered during the production process, particularly the absence of Affidavit applicants for direct recording. Motion graphics, animation, on screen text, and bilingual voice-over narration were used to overcome this limitation. Overall, the internship strengthened practical skills in immigration services while producing an informative video that supports public access to Affidavit service information. | |
| 51465 | 14892 | A1C009063 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEUNTUNGAN PERAJIN GULA NIPAH DI DESA NUSADADI KECAMATAN SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS | Tanaman Nipah ( Nypa fruticans) adalah salah satu tanaman perkebunan yang sangat potensial dalam hal meningkatkan ekonomi rumah tangga. Tanaman nipah sebagian besar tumbuh secara liar dan belum diusahakan secara intensif, karena baru dimanfaatkan oleh sebagian perajin untuk membuat gula. Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah penghasil gula nipah yang ada di Kabupaten Banyumas. Salah satu mata pencaharian dari masyarakat desa nusadadi adalah sebagai perajin gula kelapa dan gula nipah (qiwel). Menjadi perajin gula nipah merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan keluarga setiap hari untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil perajin dan usaha gula nipah, menghitung besar pendapatan perajin gula nipah, serta mengetahui pengaruh harga faktor produksi yaitu harga nira, harga obat nira, harga kayu bakar, upah tenaga kerja terhadap keuntungan perajin gula nipah di Desa Nusadadi Data yang digunakan adalah data penggunaan faktor produksi pada usaha gula nipah periode april sampai mei 2014 di Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode sensus. Sasaran penelitian adalah seluruh perajin gula nipah Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas yang berjumlah 12 orang perajin. Data penelitian berupa primer dan sekunder diambil dengan cara wawancara dan studi pustaka. Alat analisis yang digunakan adalah analisis usahatani dan fungsi keuntungan Cobb-Douglas. Peubah bebas yang diamati adalah harga nira yang dinormalkan, harga obat nira yang dinormalkan, harga kayu bakar yang dinormalkan dan upah tenaga kerja yang dinormalkan. Berdasarkan perhitungan penerimaan rata-rata per perajin nipah di Desa Nusadadi adalah Rp670.958,33 dan biaya produksi rata-rata per perajin adalah Rp393.835,64 , sehingga keuntungan yang diterima adalah Rp277.122,68. Secara simultan faktor harga nira, harga obat nira, harga kayu bakar dan upah tenaga kerja berpengaruh terhadap keuntungan perajin gula nipah. Secara parsial faktor upah tenaga kerja berpengaruh terhadap keuntungan perajin gula nipah. | Plants Nipah (Nypa fruticans) is one of the plantation crop with huge potential in terms of improving the household economy. Nypa plants mostly grows wild and is not cultivated intensively, because only used by some craftsmen to make sugar. Nusadadi village, Sumpiuh District of Banyumas Regency is one of the nipa palm sugar producing areas in Banyumas. One of the livelihood of rural communities nusadadi is as coconut sugar craftsmen and sugar palm (qiwel). Being a craftsman sugar nypa is one activity that families make every day to make ends meet them. The purpose of this study was to determine the profile of craftsmen and businesses sugar palm, calculate the income craftsmen sugar palm, as well as determine the effect of the price production factor prices sap, sap drug prices, the price of firewood, fee for employment to benefit craftsmen of nypa sugar in the Nusadadi village. The data used was the data on the use of production factors nipa palm sugar business period April to May 2014 in the village Nusadadi Sumpiuh District of Banyumas. The method used was a case study. The sampling method used wasthe method of census. Objective research was all sugar crafters village nypa Nusadadi Sumpiuh District of Banyumas totaling 12 people craftsman.Data in the form of primary and secondary research was taken by interview and literature study. The analysis tool used is the analysis of farming and advantages Cobb-Douglas function. Free variables measured were normalized prices sap, sap normalized drug prices, the price of firewood is normalized and normalized labor costs. Based on the calculation of the average receipt per craftsmen in the village of Nusadadi nypa is Rp670.958,33 and average production costs per crafters are Rp393.835,64, so that the benefits received are Rp277.122,68. Simultaneously the price factor sap, sap drug prices, the price of fuel wood and labor costs affect the profits of sugar crafters nypa. Partially labor factors affect the profits of sugar crafters nypa. | |
| 51466 | 54884 | L1B022038 | PERBANDINGAN CEMARAN BAKTERI DAN DETEKSI SALMONELLA spp. PADA DAGING UDANG VANNAMEI (Litopenaeus Vannamei) DARI PEMBUDIDAYA TAMBAK CIREBON UTARA DAN TIMUR | Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Cirebon yang berisiko mengalami cemaran mikrobiologis, termasuk Salmonella spp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat cemaran bakteri dan mendeteksi keberadaan Salmonella spp. pada daging udang vannamei dari tambak Cirebon Utara dan Cirebon Timur. Penelitian dilaksanakan pada Februari–Maret 2026 dengan metode observasi dan random sampling. Pengujian Angka Lempeng Total (ALT) dilakukan berdasarkan ISO 4833-1:2013/Amd.1:2020, sedangkan deteksi Salmonella spp. berdasarkan ISO 6579-1:2017/Amd.1:2020 melalui uji biokimia dan serologi. Hasil menunjukkan nilai ALT Cirebon Utara sebesar 3,4 × 10⁶ CFU/g dan Cirebon Timur sebesar 1,4 × 10⁵ CFU/g. Salmonella spp. terdeteksi positif pada sampel Cirebon Utara dan dikonfirmasi melalui reaksi aglutinasi antigen O dan H, sedangkan Cirebon Timur menunjukkan hasil negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cirebon Utara memiliki cemaran mikrobiologis lebih tinggi. | Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the major fishery commodities in Cirebon and is susceptible to microbiological contamination, including Salmonella spp. This study aimed to determine the level of bacterial contamination and detect the presence of Salmonella spp. in vannamei shrimp meat from farms in North Cirebon and East Cirebon. The study was conducted from February to March 2026 using an observational method and random sampling. Total Plate Count (TPC) analysis was performed based on ISO 4833-1:2013/Amd.1:2020, while Salmonella spp. detection was conducted according to ISO 6579-1:2017/Amd.1:2020 through biochemical and serological tests. The results showed TPC values of 3.4 × 10⁶ CFU/g in North Cirebon and 1.4 × 10⁵ CFU/g in East Cirebon. Salmonella spp. was detected in the North Cirebon sample and confirmed by positive agglutination reactions with O and H antigens, while the East Cirebon sample was negative. These results indicate that North Cirebon had a higher level of microbiological contamination. |