Artikelilmiahs
Menampilkan 51.441-51.460 dari 51.466 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 51441 | 54855 | K2C024006 | ANALISIS MODEL PREDIKSI CUACA MENGGUNAKAN ALGORITMA MACHINE LEARNING BERBASIS DATA INDEKS STABILITAS ATMOSFER DI WILAYAH CILACAP JAWA TENGAH | Wilayah Cilacap merupakan daerah pesisir tropis dengan dinamika atmosfer yang kompleks sehingga memerlukan informasi prediksi cuaca yang akurat untuk mendukung berbagai sektor industri dan mitigasi bencana hidrometeorologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi indeks stabilitas atmosfer hasil radiosonde terhadap prediksi kondisi cuaca serta menginterpretasikannya berdasarkan karakteristik fisis atmosfer, mengevaluasi kinerja algoritma Extreme Gradient Boosting (XGBoost), Random Forest (RF), dan Support Vector Machine (SVM) pada berbagai tingkat kompleksitas kategori, kondisi musim, dan jumlah indeks, serta mengevaluasi kesesuaian hasil prediksi terhadap kondisi cuaca yang teramati dan membandingkannya dengan prediksi BMKG berbasis Numerical Weather Prediction (NWP). Data yang digunakan berupa observasi radiosonde dan laporan sinoptik BMKG Cilacap periode 2015–2024 dengan enam indeks stabilitas atmosfer, yaitu Showalter Index (SI), Lifted Index (LI), K Index (KI), Total Totals Index (TTI), Severe Weather Threat Index (SWEAT), dan Convective Available Potential Energy (CAPE). Analisis karakteristik indeks dilakukan menggunakan matriks korelasi, Principal Component Analysis (PCA), dan Random Forest Feature Importance, sedangkan evaluasi model dilakukan pada skema klasifikasi dua, tiga, dan empat kategori, variasi musim, serta percobaan reduksi jumlah indeks. Hasil analisis menunjukkan bahwa KI, CAPE, dan SWEAT merupakan indeks yang memberikan kontribusi dominan terhadap proses klasifikasi cuaca. Peningkatan kompleksitas klasifikasi menurunkan kinerja model akibat meningkatnya kemiripan karakteristik atmosfer antar kategori, sedangkan kemampuan model dalam mendeteksi hujan lebih tinggi pada musim hujan dibandingkan musim kemarau. Percobaan reduksi menunjukkan bahwa penggunaan empat indeks, yaitu KI, CAPE, SWEAT, dan TTI, mampu mempertahankan kinerja model yang relatif serupa dengan penggunaan enam indeks. Di antara algoritma yang diuji, SVM menunjukkan kinerja yang paling konsisten pada berbagai skenario pengujian. Evaluasi terhadap laporan sinoptik dan citra satelit Himawari menunjukkan bahwa hasil prediksi lebih konsisten pada kondisi atmosfer dengan karakteristik yang jelas, sedangkan ketidaksesuaian lebih sering terjadi pada kondisi atmosfer transisi. Perbandingan pada periode pengujian tahun 2024 menunjukkan bahwa SVM memiliki kemampuan deteksi hujan yang relatif sebanding dengan prediksi BMKG berbasis NWP, meskipun NWP memiliki kemampuan yang lebih seimbang dalam membedakan kondisi cerah dan hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa machine learning berbasis indeks stabilitas atmosfer dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan pendukung dalam prediksi kondisi cuaca di wilayah tropis Cilacap. | Cilacap is a tropical coastal region characterized by complex atmospheric dynamics, requiring accurate weather prediction information to support various industrial sectors and hydrometeorological disaster mitigation. This study aims to analyze the contribution of radiosonde-derived atmospheric stability indices to weather condition prediction and interpret their contributions based on the physical characteristics of the atmosphere; evaluate the performance of Extreme Gradient Boosting (XGBoost), Random Forest (RF), and Support Vector Machine (SVM) algorithms across different levels of classification complexity, seasonal conditions, and numbers of indices; and evaluate the consistency of the prediction results with observed weather conditions and compare their performance with BMKG weather forecasts based on Numerical Weather Prediction (NWP). The dataset consisted of radiosonde observations and SYNOP reports from BMKG Cilacap for the 2015–2024 period, using six atmospheric stability indices: Showalter Index (SI), Lifted Index (LI), K Index (KI), Total Totals Index (TTI), Severe Weather Threat Index (SWEAT), and Convective Available Potential Energy (CAPE). Atmospheric stability characteristics were analyzed using a correlation matrix, Principal Component Analysis (PCA), and Random Forest Feature Importance, while model performance was evaluated using two-, three-, and four-category classification schemes, seasonal variations, and a feature reduction experiment. The results of the study show that KI, CAPE, and SWEAT provide dominant contributions to weather classification. Increasing classification complexity reduced model performance due to greater overlap in atmospheric characteristics among categories, whereas the ability to detect rainfall was higher during the rainy season than during the dry season. The feature reduction experiment showed that using four indices, namely KI, CAPE, SWEAT, and TTI, was able to maintain model performance at a level relatively similar to that obtained using all six indices. Among the evaluated algorithms, SVM demonstrated the most consistent performance across the different testing scenarios. Evaluation against SYNOP reports and Himawari satellite imagery showed that the predictions were more consistent under atmospheric conditions with distinct characteristics, whereas discrepancies occurred more frequently under transitional atmospheric conditions. Comparison during the 2024 testing period showed that SVM had a rainfall detection capability relatively comparable to the BMKG NWP-based forecast, although NWP provided a more balanced ability to distinguish between clear and rainy conditions. These findings indicate that radiosonde-based machine learning using atmospheric stability indices can serve as a supporting approach for weather condition prediction in tropical Cilacap. | |
| 51442 | 54856 | F1G022011 | FOREIGN POLICY CHANGE OF CHINA IN GLOBAL CLIMATE GOVERNANCE: THE CASE STUDY OF COP29 | Studi ini mengevaluasi cakupan pengalihan arah kebijakan luar negeri Tiongkok pada Conferences of Parties ke-29 (COP29) di bawah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Baku, Azerbaijan, dengan berlandaskan pada Analisis Kebijakan Luar Negeri (FPA) serta taksonomi bertingkat Perubahan Kebijakan Luar Negeri (FPC) menurut Charles F. Hermann (1990). Melalui analisis dokumen kualitatif dan process tracing terhadap tonggak sejarah COP (COP15, COP21, COP27, dan COP28) yang mengarah pada COP29, studi ini melakukan triangulasi atas laporan resmi negara, catatan negosiasi UNFCCC, dan penilaian multilateral untuk menganalisis bagaimana agen-agen perubahan diproses melalui filter pengambilan keputusan Tiongkok. Temuan empiris menunjukkan bahwa Tiongkok tidak melakukan Perubahan Kebijakan Luar Negeri yang ekstrem atau mendasar dalam orientasi geopolitik makronya, mengingat Tiongkok tetap teguh memperjuangkan prinsip Common but Differentiated Responsibilities (CBDR). Sebaliknya, langkah tersebut dikategorikan sebagai Pengalihan Arah Kebijakan Luar Negeri yang bersifat selektif. Di antara empat agen perubahan menurut Hermann, Realitas Domestik muncul sebagai pendorong utama dan paling berpengaruh, sementara tingkat pengalihan arah tertinggi yang dicapai adalah Perubahan Program, di mana Tiongkok memperbarui kerangka NDC 3.0 secara kualitatif. Studi ini menyimpulkan bahwa Tiongkok memodernisasi instrumen operasional dan memperluas parameter targetnya demi menjaga ekonomi ekspor serta memperkuat kepemimpinan regulasi global, tanpa mengubah keberpihakan geopolitik intinya terhadap Global Selatan. | This study evaluates the extent of China’s foreign policy redirection at the 29th Conference of the Parties (COP29) under the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) in Baku, Azerbaijan, 2024, grounded in Foreign Policy Analysis (FPA) through Charles F. Hermann’s (1990) graduated taxonomy of Foreign Policy Change (FPC). Using qualitative document analysis and process tracing across historical COP benchmarks (COP15, COP21, COP27, and COP28) leading up to COP29, the study triangulates official state reports, UNFCCC negotiation records, and multilateral assessments to analyze how change agents were processed through China's decision-making filter. The empirical findings reveal that China did not execute an extreme or fundamental Foreign Policy Change in its macro-geopolitical orientation, as China firmly championed Common but Differentiated Responsibilities (CBDR). Instead, characterized as a selective Foreign Policy Redirection. Among Hermann’s four change agents, Domestic Realities emerged as the primary and most influential driver, whilst the greatest level of redirection achieved was a Program Change, where China qualitatively updated the NDC 3.0 framework. The study concludes that China modernizes its operational instruments and broadens its target parameters to safeguard its export economy and strengthen global regulatory leadership without altering its core geopolitical alignment with the Global South. | |
| 51443 | 54857 | F1F022068 | ANALISIS CHIPS ACT SEBAGAI INSTRUMEN GEOECONOMIC STATECRAFT DALAM RIVALITAS AMERIKA SERIKAT-TIONGKOK (2022-2024) | Skripsi ini menganalisis efektivitas implementasi CHIPS and Science Act 2022 sebagai instrumen geoeconomic statecraft Amerika Serikat dalam menghambat kebangkitan (ambisi) Tiongkok menuju hegemoni teknologi semikonduktor global pada periode 2022–2024. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pergeseran rivalitas Amerika Serikat-Tiongkok dari sengketa dagang konvensional menjadi persaingan sistemik yang berpusat pada penguasaan rantai pasok semikonduktor global. Dengan menggunakan metode kualitatif eksplanatif, penelitian ini membedah mekanisme kebijakan lewat kerangka teori Geoeconomic Statecraft (Blackwill & Harris, 2016) yang diperdalam dengan konsep Weaponized Interdependence (Farrell & Newman, 2019), khususnya melalui efek chokepoint dan efek panopticon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CHIPS Act, melalui sinergi dimensi insentif (subsidi $52,7 miliar) dan dimensi restriktif (klausul guardrails), efektif secara taktis dalam memperlambat laju inovasi semikonduktor dan kecerdasan buatan Tiongkok sekitar satu hingga tiga tahun dari standar Barat. Namun, kebijakan ini juga memicu respons adaptif Tiongkok yang signifikan, ditandai dengan keberhasilan SMIC-Huawei memproduksi chip 7 nanometer tanpa mesin litografi EUV serta peluncuran Big Fund Fase III senilai $47,5 miliar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas CHIPS Act bersifat parsial dan temporal, menghasilkan kondisi kebuntuan asimetris (asymmetric standoff) di mana Amerika Serikat unggul pada teknologi frontier, sementara Tiongkok unggul pada resiliensi rantai pasok dan kemandirian teknologi jangka panjang. | This thesis analyzes the effectiveness of the CHIPS and Science Act 2022 as an instrument of United States geoeconomic statecraft in constraining China's semiconductor technology hegemony during the 2022–2024 period. The research is grounded in the shift of US-China rivalry from conventional trade disputes toward systemic competition centered on control over the global semiconductor supply chain. Employing an explanatory qualitative method, this study examines the policy mechanism through the framework of Geoeconomic Statecraft (Blackwill & Harris, 2016), deepened by the concept of Weaponized Interdependence (Farrell & Newman, 2019), particularly through the chokepoint effect and the panopticon effect. The findings show that the CHIPS Act, through the synergy of its incentive dimension ($52.7 billion in subsidies) and restrictive dimension (guardrails provisions), was tactically effective in slowing China's semiconductor and artificial intelligence innovation by roughly one to three years relative to Western standards. However, the policy also triggered significant adaptive responses from China, marked by SMIC-Huawei's success in producing 7-nanometer chips without EUV lithography machines and the launch of the $47.5 billion Big Fund Phase III. This research concludes that the effectiveness of the CHIPS Act is partial and temporal, producing a condition of asymmetric standoff in which the United States retains its edge in frontier technology while China gains ground in supply chain resilience and long-term technological self-sufficiency. | |
| 51444 | 54859 | A1A022070 | Analisis Efisiensi Produksi Gula Kelapa Kristal di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas | Penelitian ini menganalisis efisiensi produksi gula kelapa kristal di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Latar belakang penelitian didasarkan pada besarnya potensi agroindustri gula kelapa kristal sebagai salah satu produk unggulan berbahan baku nira kelapa yang berperan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat serta mendukung perekonomian daerah. Namun, penggunaan faktor produksi oleh perajin masih banyak didasarkan pada kebiasaan, pengalaman, dan intuisi sehingga diperlukan analisis mengenai faktor-faktor yang memengaruhi produksi serta tingkat efisiensi produksi gula kelapa kristal. Rumusan masalah penelitian meliputi gambaran umum agroindustri gula kelapa kristal, faktor-faktor yang memengaruhi jumlah produksi gula kelapa kristal, dan tingkat efisiensi produksi gula kelapa kristal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum agroindustri gula kelapa kristal, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi jumlah produksi gula kelapa kristal, dan menganalisis efisiensi produksi gula kelapa kristal di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner kepada 62 perajin gula kelapa kristal yang dipilih menggunakan teknik proportionate random sampling, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur dan instansi terkait. Variabel penelitian meliputi jumlah produksi gula kelapa kristal sebagai variabel dependen, sedangkan variabel independennya terdiri atas jumlah pohon yang disadap, nira kelapa, laru, kayu bakar, dan tenaga kerja. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif, analisis regresi linear berganda, dan Data Envelopment Analysis (DEA) dengan pendekatan Variable Return to Scale (VRS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran umum agroindustri gula kelapa kristal di Kecamatan Cilongok didominasi oleh perajin yang berada pada usia produktif, memiliki tingkat pendidikan dasar, pengalaman usaha yang relatif baru, serta frekuensi mengikuti penyuluhan yang tergolong rendah. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa secara simultan seluruh faktor produksi berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi gula kelapa kristal. Secara parsial, jumlah pohon yang disadap, nira, kayu bakar, dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi gula kelapa kristal, sedangkan laru tidak berpengaruh nyata. Sementara itu, hasil analisis efisiensi menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,939, efisiensi alokatif sebesar 0,862, dan efisiensi ekonomis sebesar 0,809. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produksi gula kelapa kristal di Kecamatan Cilongok telah mendekati efisien secara teknis, tetapi penggunaan dan pengalokasian faktor produksi masih perlu disesuaikan agar biaya produksi lebih efisien. | This study analyzes the production efficiency of crystal coconut sugar in Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency. The background of this study is based on the potential of the crystal coconut sugar agroindustry as one of the leading coconut sap-based products in supporting community income and regional economic development. However, the use of production factors by producers is still largely based on habits, experience, and intuition. The research questions focus on the general overview of the crystal coconut sugar agroindustry, the factors influencing crystal coconut sugar production, and the production efficiency of crystal coconut sugar. The study aims to determine the general overview of the crystal coconut sugar agroindustry, analyze the factors influencing crystal coconut sugar production, and analyze the production efficiency of crystal coconut sugar in Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency. This research employs a quantitative descriptive approach. Primary data were obtained through interviews and observations using a questionnaire with respondents selected through proportionate random sampling, while secondary data were obtained through literature review. The variables used in this study to analyze crystal coconut sugar production include crystal coconut sugar production, the number of tapped trees, coconut sap, laru, firewood, and labor. Data analysis utilized descriptive analysis, multiple linear regression analysis, and Data Envelopment Analysis (DEA) with the Variable Return to Scale (VRS) approach. The results of the study indicate that, in the context of the crystal coconut sugar agroindustry in Cilongok Subdistrict, the majority of respondents are of productive age, have a basic level of education, have relatively short business experience, and have a low level of participation in extension programs. Factors that significantly influence crystal coconut sugar production are the number of tapped trees, coconut sap, firewood, and labor, while laru does not significantly affect crystal coconut sugar production. Meanwhile, the results of the efficiency analysis show that the technical efficiency level is 0.939, the allocative efficiency is 0.862, and the economic efficiency is 0.809. These results indicate that crystal coconut sugar production in Cilongok Subdistrict is relatively close to achieving technical efficiency. However, the use and allocation of production factors still need to be adjusted to improve production cost efficiency. | |
| 51445 | 54860 | J1C022049 | Bentuk dan Fungsi Fatis Tuturan Sapaan dalam Live Stream Totsumachi Virtual YouTuber Shikinagi Akira | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fungsi tuturan sapaan yang digunakan oleh Virtual YouTuber (VTuber) dari Nijisanji dalam live stream totsumachi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan metode simak. Data penelitian berupa tuturan yang mengandung unsur sapaan, yang diperoleh dari live stream totsumachi Shikinagi Akira. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teori tindak tutur yang dikemukakan oleh Kreidler (1998) untuk mengidentifikasi bentuk serta fungsi tindak tutur fatis sapaan yang muncul dalam interaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur fatis diwujudkan dalam beberapa bentuk, yaitu sapaan kepada penonton, penggunaan honorific suffixes dalam sapaan, dan yobisute. Bentuk-bentuk tersebut berfungsi sebagai sarana untuk membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal, menciptakan keakraban, serta menunjukkan kedekatan sesuai dengan konteks interaksi selama live stream berlangsung. | ABSTRACT This research explores the forms and functions of phatic of greetings used by Nijisanji Virtual YouTubers (Vtubers) during totsumachi live streams. This research applied qualitative method using the observing method. The data consisted of utterances containing greetings or address expression collected from Shikinagi Akira’s totsumachi live streams. The collected data were analyzed using speech act theory proposed by Kreidler (1998) to identify the forms and fuctions of phatic speech acts of greetings that emerged during the interactions. The results show that phatic speech acts of greetings have several forms, greetings addressed to the audience, the use of honorific suffixes in form of address, and yobisute. These forms function as a means of establishing and maintaining interpersonal relationships, creating familiarity, and expressing closeness in accordance with the context of interaction throughout the live stream. | |
| 51446 | 54861 | F1A019104 | Ibu Nurhayatni, Perempuan Pejuang Kebersihan Lingkungan dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat | Masih minimnya pelibatan perempuan dalam berbagai program pemberdayaan membuat mereka harus melakukan aksi perubahan sendiri. Aksi perubahan yang dilakukan para perempuan biasanya timbul karena permasalahan yang ada di lingkungan sekitar mereka. Salah satu contohnya yaitu ibu Nurhayatni, yang berupaya melakukan perubahan melalui pemberdayaan agar lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat, serta bermanfaat untuk masyarakat secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran-peran yang dilakukan oleh ibu Nurhayatni dalam hal kebersihan lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui program pemberdayaan di Dusun I, Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif biografi dengan sasaran utamanya adalah ibu Nurhayatni, dan sasaran pendukungnya meliputi suami ibu Nur, serta anggota dari program pemberdayaan yang ia jalankan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ibu Nurhayatni merupakan sosok penuh semangat yang cukup banyak berperan dalam pemberdayaan masyarakat di dusunnya. Ibu Nurhayatni berperan sebagai motor penggerak Bank Sampah Inyong yang menjadi wadah sosialisasi pengelolaan sampah, dan KWT Makmur Berkah untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Ibu Nur juga berperan mendorong pelaku UMKM di desanya agar lebih maju lagi melalui ASPIKMAS. Diharapkan, melalui penelitian ini bisa menjadi arah penyadaran masyarakat dan juga pemerintah akan pentingnya masyarakat dalam suatu pemberdayaan guna menciptakan perubahan yang lebih baik. | The lack of women’s involvement in various empowerment programs forces them to take action to change themselves. The actions of change carried out by women usually arise from problems in their surrounding environment. One example is Mrs. Nurhayatni, who strives to make changes through empowerment so that the environment becomes cleaner and healthier, and benefits the community economically. This study aims to describe the roles played by Mrs. Nurhayatni in terms of environment cleanliness and improving the community’s ecomony through empowerment programs in Hamlet I, Kutasari Village, Baturraden District. This research method uses a qualitative biography with the main target being Mrs. Nurhayatni, and supporting targets including Mrs. Nur’s husband, as well as members of the empowerment program she runs. The results of this study indicate that Mrs. Nurhayatni is passionate figure who plays a significant role in community empowerment in her hamlet. Mrs. Nurhayatni plays a driving force behind the Bank Sampah Inyong which serves as a forum for socializing waste management, and the KWT Makmur Berkah to realize family food security while increasing community income. Mrs. Nur also plays a role in encouraging UMKMs in her village to progress further through ASPIKMAS. It is hoped that this research can become a direction for raising public and government awareness of the importance of community empowerment in order to create better change. | |
| 51447 | 54862 | A1D022240 | Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon Varietas Golden Aroma pada Aplikasi Pupuk KNO3 dan CaCO3 Secara Sistem Hidroponik Dutch Bucket | Melon (Cucumis melo L.) varietas golden aroma merupakan komoditas hortikultura unggulan yang memiliki potensi nilai ekonomi tinggi, namun produksinya di Indonesia masih belum memenuhi permintaan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk kalium (KNO₃), kalsium (CaCO₃), serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon varietas golden aroma yang dibudidayakan secara hidroponik sistem dutch bucket. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Mei 2026 di screenhouse Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas (110 mdpl) menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah dosis kalium (0, 3, dan 6 g/L), dan faktor kedua adalah dosis kalsium (0; 2,5; dan 5 g/L). Data dianalisis dengan ANOVA taraf 5% dan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk kalium berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (28–56 HST), luas daun (21 dan 42 HST), diameter batang (14–56 HST), serta seluruh variabel hasil. Dosis kalium 6 g/L (K6) memberikan respons pertumbuhan vegetatif terbaik, sedangkan dosis 3 g/L (K3) lebih optimal pada variabel hasil. Pemberian kalsium berpengaruh nyata pada luas daun (21 dan 42 HST), jumlah daun (14 HST), diameter batang (14 HST), serta seluruh variabel hasil. Interaksi kalium dan kalsium berpengaruh nyata pada jumlah daun (14 dan 28 HST), diameter batang (14 dan 21 HST), bobot segar dan kering tanaman, bobot dan diameter buah, tingkat kemanisan, serta ketebalan daging buah. Kombinasi K3C2 menghasilkan bobot segar tanaman tertinggi (378 g), sedangkan kombinasi K6C5 menghasilkan mutu buah terbaik dengan tingkat kemanisan mencapai ±18° Brix | Melon (Cucumis melo L.) cv. Golden Aroma is a high-value horticultural commodity; however, national production remains insufficient to meet market demand. This study aimed to determine the effects of potassium (KNO₃) and calcium (CaCO₃) fertilizers, as well as their interactions, on the growth and yield of Golden Aroma melon grown in a Dutch Bucket hydroponic system. The research was conducted from January to May 2026 in a screenhouse in Pasir Kulon Village, Karanglewas District, Banyumas Regency (110 m a.s.l.), using a two-factor Randomized Block Design (RBD) with 4 replications. The first factor was potassium dosage (0, 3, and 6 g/L), and the second factor was calcium dosage (0, 2.5, and 5 g/L). Data were analyzed using ANOVA at the 5% significance level, followed by DMRT. The results showed that potassium fertilizer significantly affected plant height (28–56 DAP), leaf area (21 and 42 DAP), stem diameter (14–56 DAP), and all yield variables. A potassium dose of 6 g/L (K6) promoted vegetative growth, whereas 3 g/L (K3) was optimal for yield parameters. Calcium application significantly influenced leaf area (21 and 42 DAP), leaf number (14 DAP), stem diameter (14 DAP), and all yield variables. The interaction between potassium and calcium significantly affected leaf number (14 and 28 DAP), stem diameter (14 and 21 DAP), plant fresh and dry weight, fruit weight and diameter, sweetness level, and flesh thickness. The K3C2 combination yielded the highest plant fresh weight (378 g), while K6C5 produced the best fruit quality with a sweetness level of ±18° Brix | |
| 51448 | 54863 | F1C022003 | Upaya Public Relations RRI Purwokerto Dalam Mempertahankan Citra Positif Melalui Program Halo RRI | Penelitian ini berjudul “Upaya Public Relations RRI Purwokerto Dalam Mempertahankan Citra Positif RRI Purwokerto Melalui Program Siaran Halo RRI”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis upaya Public Relations RRI Purwokerto dalam mempertahankan citra positif dimata masyarakat pelapor dan stakeholder eksternal melalui program siaran Halo RRI. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Data penelitian diperoleh dari wawancara dengan produser, pengelola, dan penyiar program Halo RRI. Selain menggunakan data, penelitian ini menggunakan perspektif dari masyarakat pelapor, dan stakeholder seperti Dinas Perhubungan Banyumas untuk melihat informasi yang diperoleh dari narasumber utama disesuaikan dan divalidasi sehingga meningkatkan kredibilitas hasil penelitian. Kredibilitas juga didukung oleh dokumen internal RRI Purwokerto dan arsip siaran Halo RRI. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Upaya Public Relations RRI Purwokerto melalui program Halo RRI yang merupakan media yang menyediakan dialog dua arah antara masyarakat, instansi terkait maupun internal RRI Purwokerto dapat secara menjalankan fungsi Public Relations, dan strategi Four Step Public Relations. Hasil penelitian menunjukkan Public Relations RRI Purwokerto dapat mempertahankan citra positif melalui laporan masyarakat program Halo RRI yang dapat terselesaikan, dan kepuasan stakeholder melalui kerjasama yang baik dalam pelaksanaan program siaran. | This study is titled “RRI Purwokerto’s Public Relations Efforts to Maintain Its Positive Image Through the ‘Halo RRI’ Broadcast Program.” The objective of this study is to describe and analyze RRI Purwokerto’s public relations efforts to maintain a positive image in the eyes of the reporting public and external stakeholders through the “Halo RRI” broadcast program. The research method used is descriptive qualitative, with data collection techniques including in-depth interviews, non-participatory observation, and documentation. Research data were obtained from interviews with the producers, managers, and broadcasters of the “Halo RRI” program. In addition to using this data, this study incorporated perspectives from the reporting public and stakeholders such as the Banyumas Transportation Agency to ensure that information obtained from primary sources was cross-checked and validated, thereby enhancing the credibility of the research findings. Credibility is further supported by internal documents from RRI Purwokerto and the “Halo RRI” broadcast archives. Data analysis was conducted using the Miles & Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Data validity was tested through source triangulation and methodological triangulation. RRI Purwokerto’s public relations efforts through the Halo RRI program a platform that facilitates two-way dialogue among the public, relevant agencies, and RRI Purwokerto’s internal staff—enable the organization to effectively carry out its public relations functions and implement the Four-Step Public Relations strategy. The research findings indicate that RRI Purwokerto’s public relations efforts can maintain a positive image through successfully resolved public reports submitted via the Halo RRI program, as well as stakeholder satisfaction resulting from effective collaboration in the implementation of broadcast programs. | |
| 51449 | 54864 | A1F022113 | KAJIAN TINGKAT KEPENTINGAN DAN KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PRODUK SOFT COOKIES VARIAN SMORES PADA UMKM COCOA BUTTER PURWOKERTO | Cocoa Butter Purwokerto merupakan usaha di bidang bakery dan dessert yang berlokasi di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dengan soft cookies smores sebagai salah satu produk yang ditawarkan kepada konsumen. Tingkat kepentingan dan kepuasan konsumen terhadap produk tersebut perlu dievaluasi melalui kajian persepsi konsumen. Kepuasan konsumen menjadi salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan produk karena mencerminkan kemampuan produk memenuhi harapan konsumen. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil konsumen, menganalisis tingkat kepuasan konsumen, menentukan indeks kepuasan konsumen, serta mengidentifikasi atribut produk yang perlu diperbaiki maupun dipertahankan pada produk soft cookies smores UMKM Cocoa Butter Purwokerto.Penelitian ini dilaksanakan di UMKM Cocoa Butter Purwokerto pada bulan Mei hingga Agustus 2026. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara online dan offline dengan metode purposive sampling kepada 112 responden berusia minimal 17 tahun yang pernah mengonsumsi soft cookies smores dalam enam bulan terakhir. Tahapan penelitian mencakup penyusunan kuesioner, pengujian validitas dan reliabilitas instrumen, penyebaran kuesioner, identifikasi profil konsumen, penentuan indeks kepuasan konsumen, analisis tingkat kepentingan, kepuasan, dan kesesuaian konsumen, serta identifikasi atribut yang perlu diperbaiki maupun dipertahankan. Analisis data menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) untuk mengukur tingkat kepuasan konsumen dan Importance Performance Analysis (IPA) untuk menentukan prioritas perbaikan atribut. Hasil analisis CSI menunjukkan nilai sebesar 71,49%, termasuk dalam kategori puas, nilai ini mengindikasikan soft cookies smores UMKM Cocoa Butter Purwokerto telah mampu memenuhi harapan konsumen. Hasil analisis IPA menempatkan atribut tingkat kemanisan, kesesuaian harga dengan kualitas, dan kesesuaian harga dengan produk sejenis pada Kuadran I sebagai prioritas utama perbaikan. Atribut tekstur produk, kemasan yang melindungi produk, tampilan kemasan, responsivitas dan kemudahan pelayanan, serta daya tarik promosi di media sosial berada pada Kuadran II dan perlu dipertahankan. Atribut warna produk, keseragaman bentuk dan ukuran, serta daya tarik visual topping berada pada Kuadran III, sedangkan atribut rasa, aroma, ketersediaan produk, kenyamanan lokasi penjualan, dan kemudahan memperoleh informasi produk berada pada Kuadran IV. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi bagi UMKM Cocoa Butter Purwokerto dalam meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasaran guna meningkatkan kepuasan konsumen terhadap soft cookies smores. Kata kunci: soft cookies smores, Cocoa Butter Purwokerto, Customer Satisfaction Index (CSI), Importance Performance Analysis (IPA) | Cocoa Butter Purwokerto is a bakery and dessert business located in Purwokerto, Banyumas Regency, Central Java, offering soft cookies smores as one of its products. Evaluating consumers’ perceptions of the product’s importance and satisfaction levels is essential for understanding its performance in the market. Consumer satisfaction is a key indicator of product success, as it reflects the extent to which a product meets consumer expectations. This study aimed to identify consumer profiles, analyze consumer satisfaction levels, determine the Consumer Satisfaction Index (CSI), and identify product attributes that should be improved or maintained for Cocoa Butter Purwokerto’s soft cookies smores.The study was conducted at Cocoa Butter Purwokerto from May to August 2026. Primary data were collected through both online and offline questionnaires using a purposive sampling method involving 112 respondents aged 17 years or older who had consumed soft cookies smores within the previous six months. The research stages included questionnaire development, validity and reliability testing, questionnaire distribution, consumer profile identification, CSI determination, analysis of consumer importance, satisfaction, and conformity levels, and identification of attributes requiring improvement or maintenance.Data were analyzed using the Customer Satisfaction Index (CSI) to measure overall consumer satisfaction and Importance Performance Analysis (IPA) to determine attribute improvement priorities. The CSI analysis resulted in a score of 71.49%, indicating that consumers were satisfied and that the soft cookies smores product had generally met consumer expectations. The IPA results identified sweetness level, price suitability relative to quality, and price suitability compared with similar products as attributes in Quadrant I, indicating top priorities for improvement. Product texture, protective packaging, packaging appearance, service responsiveness and convenience, and the attractiveness of social media promotions were classified in Quadrant II and should be maintained. Product color, uniformity of shape and size, and the visual appeal of toppings were placed in Quadrant III, while taste, aroma, product availability, the comfort of the sales location, and ease of obtaining product information were categorized in Quadrant IV. The findings of this study can serve as an evaluation tool for Cocoa Butter Purwokerto in improving product quality and marketing strategies to enhance consumer satisfaction with its soft cookies smores product. Keywords: soft cookies smores, Cocoa Butter Purwokerto, Customer Satisfaction Index (CSI), Importance Performance Analysis (IPA) | |
| 51450 | 54865 | B1A022029 | Studi Komparatif Metode Ekstraksi DNA Berbasis Magnetic Beads dan Spin Column Pada Deteksi Legionella sp. Menggunakan End-Point PCR | Legionella merupakan genus bakteri patogen perairan penyebab legionellosis dengan tingkat fatalitas tinggi, terutama pada kelompok berisiko. Peningkatan kasus global dan nasional mendorong kebutuhan deteksi molekuler cepat melalui End-Point PCR. Ekstraksi DNA menjadi tahap krusial karena kualitas dan kuantitas templat menentukan keberhasilan amplifikasi bakteri tersebut. Ketersediaan metode ekstraksi DNA, mulai dari spin column (manual) hingga magnetic beads (otomatis), memberikan pilihan bagi laboratorium biomedis untuk menyesuaikan prosedur ekstraksi dengan kebutuhan diagnostik masing-masing. Kedua metode tersebut memiliki prinsip kerja yang berbeda sehingga berpotensi menghasilkan kualitas dan kuantitas DNA yang bervariasi, yang pada akhirnya turut memengaruhi keberhasilan amplifikasi patogen tersebut melalui End-Point PCR. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas DNA, kuantitas DNA, dan keberhasilan amplifikasi Legionella sp. menggunakan End-Point PCR dari hasil ekstraksi berbasis magnetic beads (otomatis) dan spin column (manual). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional dengan desain sampel berpasangan yang melibatkan 40 sampel, terdiri atas 38 sampel klinis Legionella sp. dan 2 kontrol negatif ekstraksi. Parameter yang dianalisis meliputi kualitas DNA (rasio A260/A280), kuantitas DNA (ng/µL), dan hasil amplifikasi PCR. Data kualitas dan kuantitas DNA dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk dan Wilcoxon Signed-Rank Test, sedangkan hasil amplifikasi PCR dianalisis menggunakan uji Cohen’s kappa untuk menilai kesesuaian antara kedua metode ekstraksi, dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian diharapkan memberikan dasar pemilihan metode ekstraksi DNA yang optimal untuk mendukung deteksi molekuler Legionella sp. di laboratorium diagnostik. Hasil pengukuran kualitas DNA menunjukkan bahwa rasio kemurnian DNA (A260/A280) tidak berbeda (p = 0,301) antara metode ekstraksi magnetic beads (1,636 ± 0,107) dan spin column (1,599 ± 0,177). Hasil pengukuran kuantitas DNA menunjukkan perbedaan signifikan (p = 0,001**), dengan metode magnetic beads menghasilkan konsentrasi rata-rata lebih tinggi (2,534 ± 2,166 ng/µL) dibandingkan metode spin column (1,239 ± 2,372 ng/µL). Amplifikasi End-Point PCR dengan target gen ssrA (101 bp) berhasil mendeteksi Legionella sp. pada 38 sampel klinis (100%) dari total 40 sampel, sedangkan 2 sampel lainnya merupakan kontrol negatif ekstraksi yang menunjukkan hasil negatif. Uji Cohen’s Kappa menunjukkan keselarasan sempurna antara kedua metode (κ = 1,000; p < 0,001) dalam hasil deteksi Legionella sp. Temuan ini menunjukkan bahwa metode ekstraksi magnetic beads unggul dalam kuantitas DNA, namun kedua metode memiliki reliabilitas setara dalam mendukung keberhasilan deteksi Legionella sp. melalui End-Point PCR. | Legionella is a genus of waterborne pathogenic bacteria that causes legionellosis, a disease with a high fatality rate, particularly among high-risk populations. The increasing incidence of legionellosis globally and nationally highlights the need for rapid molecular detection using End-Point PCR. DNA extraction is a critical step because the quality and quantity of DNA templates can affect bacterial amplification. The availability of DNA extraction methods, ranging from manual spin column to automated magnetic beads, provides laboratories with alternatives that can be adapted to diagnostic needs. This study aimed to compare DNA quality, DNA quantity, and the amplification success of Legionella sp. using End-Point PCR from DNA extracted using automated magnetic beads and manual spin column methods. This study employed a descriptive cross-sectional design with a paired-sample approach involving 40 samples, consisting of 38 clinical samples and 2 negative extraction controls. The analyzed parameters included DNA quality (A260/A280 ratio), DNA quantity (ng/µL), and PCR amplification results. DNA quality and quantity were analyzed using the Shapiro–Wilk test and Wilcoxon Signed-Rank Test, while PCR amplification results were analyzed using Cohen’s kappa to assess agreement between the two extraction methods, with a significance level of 0.05. The results of DNA quality measurements showed no significant difference (p = 0.301) in DNA purity (A260/A280 ratio) between the magnetic beads (1.636 ± 0.107) and spin column (1.599 ± 0.177) extraction methods. DNA quantity measurements showed a significant difference (p = 0.001**), with the magnetic beads method producing a higher mean DNA concentration (2.534 ± 2.166 ng/µL) than the spin column method (1.239 ± 2.372 ng/µL). End-Point PCR amplification targeting the ssrA gene (101 bp) successfully detected Legionella sp. in all 38 clinical samples (100%), while the other 2 samples were extraction negative controls that showed negative results. Cohen’s Kappa analysis showed perfect agreement between the two methods (κ = 1.000; p < 0.001) in the detection of Legionella sp. These findings indicate that the magnetic beads extraction method was superior in terms of DNA quantity, while both methods demonstrated equivalent reliability in supporting the successful detection of Legionella sp. using End-Point PCR. | |
| 51451 | 54866 | A1D022029 | Keragaman Genetik Tanaman Mutan Kaempferia parviflora Hasil Iradiasi Sinar Gamma Dengan Penanda Molekuler Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) | Peningkatan keragaman genetik dapat dilakukan melalui iradiasi sinar gamma yang dapat merubah susunan DNA terjadi perubahan anatomi, morfologi, biokimia dan fisiologi tanaman. Analisis keragaman diperlukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi melalui analisis morfologi dan molekuler. Penanda molekuler Random Amplification of Polymorphic DNA (RAPD) telah digunakan dalam penelitian menganalisis hubungan kekerabatan dan keragaman genetik spesies Kaempferia parviflora. Hasil analisis morfologi dengan indeks disimilaritas Gower menunjukkan klaster terbagi menjadi dua, genotipe yang memiliki kekerabatan paling dekat yakni pasangan genotipe G6 dan G8 sedangkan genotipe dengan kekerabatan terjauh yakni pasangan G2 dan G6. Hasil analisis RAPD menunjukkan total polimorfisme sebesar 58,62% yang termasuk ke dalam kategori tinggi. Setiap genotipe terbagi menjadi dua berdasarkan indeks disimilaritas Jaccard. Genotipe yang berpasangan dengan genotipe G4 menunjukkan nilai ketidaksamaan yang tinggi dibandingkan genotipe lainnya. Hasil analisis dendrogram dan PCoA berdasarkan karakter morfologi dan marka RAPD menunjukan terdapat perbedaan klaster pola sebaran yang terbentuk dibandingkan hasil analisis berdasarkan karakter morfologi. | Increasing genetic diversity can be achieved through gamma ray irradiation, which can alter the DNA structure, resulting in changes in plant anatomy, morphology, biochemistry, and physiology. Diversity analysis is necessary to identify these changes through morphological and molecular analysis. Random Amplification of Polymorphic DNA (RAPD) molecular markers have been used in research to analyze the phylogenetic relationships and genetic diversity of the Kaempferia parviflora species. Morphological analysis using the Gower dissimilarity index showed two clusters: the most closely related genotypes were the G6 and G8 genotype pair, and the most distantly related genotypes were the G2 and G6 pair. The RAPD analysis showed a total polymorphism of 58.62%, which is considered high. Each genotype was divided into two clusters based on the Jaccard dissimilarity index. Genotypes paired with the G4 genotype showed a higher dissimilarity value compared to the other genotypes. The results of the dendrogram and PCoA analysis based on morphological characters and RAPD markers indicate differences in the distribution pattern clusters formed compared to the results of the analysis based on morphological characters. | |
| 51452 | 54867 | F1B019075 | Analisis Kualitas Pelayanan Pelatihan Tenaga Kerja di Balai Latihan Kerja Kabupaten Wonosobo | Tingginya angka pengangguran di Kabupaten Wonosobo menuntut peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan kerja. Penurunan Indeks Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) terhadap Balai Latihan Kerja (BLK) Wonosobo pada 2025 mengindikasikan perlunya evaluasi pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas pelayanan pelatihan di BLK Wonosobo menggunakan lima dimensi SERVQUAL. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap tujuh informan yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan kualitas pelayanan pada tingkat interaksi langsung (instruktur, kedisiplinan, fasilitas) tergolong sangat baik. Namun, ditemukan kerentanan pada sistem pendukung administratif, seperti kendala teknis platform SIAPkerja dan kebijakan efisiensi anggaran pusat yang meniadakan penerbitan sertifikat BNSP pada angkatan tertentu. Disimpulkan bahwa operasional pelayanan BLK sangat optimal pada skala teknis, namun membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah dan pusat untuk mengatasi celah struktural administratif. | The high unemployment rate in Wonosobo Regency demands the enhancement of human resource competencies through workforce training. The decline in the Community Satisfaction Survey (SKM) index for the Wonosobo Vocational Training Center (BLK) in 2025 indicates the need for service evaluation. This study aims to analyze the training service quality at BLK Wonosobo using the five SERVQUAL dimensions. Using a descriptive qualitative method, data were collected through interviews, observations, and documentation from seven informants selected via purposive sampling. The results show that service quality at the direct interaction level (instructors, discipline, facilities) is classified as excellent. However, vulnerabilities were found in the administrative support system, such as technical constraints on the SIAPkerja platform and central budget efficiency policies eliminating BNSP certificate issuance for certain batches. In conclusion, BLK's operational service is optimal on a technical scale but requires strong synergy between local and central governments to address structural administrative gaps. | |
| 51453 | 54869 | A1C022009 | Life Cycle Assessment (LCA) Biobriket Berbahan Baku Kulit Durian dengan Penambahan KNO₃ sebagai Oksidator | Peningkatan kebutuhan energi dan semakin terbatasnya ketersediaan bahan bakar fosil mendorong pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan. Salah satu alternatif yang berpotensi dikembangkan adalah biobriket berbahan baku limbah kulit durian. Meskipun dapat meningkatkan nilai tambah limbah biomassa, proses produksinya tetap memerlukan energi dan bahan pendukung yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak lingkungan produksi biobriket kulit durian dengan penambahan oksidator KNO3 menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA). Kegiatan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan (TSTET), Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan yaitu pada bulan Februari hingga Juli tahun 2026, yang dimulai dengan proses pembuatan briket dan pengambilan data primer di laboratorium, kemudian dilanjutkan dengan proses pengolahan data menggunakan software SimaPro 9.6. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak SimaPro 9.6 dengan basis data Ecoinvent 3. Penilaian dampak dilakukan menggunakan metode ReCiPe 2016 Midpoint (H) dan IPCC 2021 GWP100 dengan batas sistem gate-to-gate serta unit fungsional 1 kg biobriket kulit durian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai karakterisasi pada kategori terrestrial ecotoxicity, human non-carcinogenic toxicity, dan global warming masing-masing sebesar 9,85 kg 1,4-DCB eq, 5,40 kg 1,4-DCB eq, dan 2,82 kg CO₂-eq. Hasil analisis menggunakan metode IPCC 2021 GWP100 menunjukkan potensi pemanasan global 2,79 kg CO₂-eq per 1 kg biobriket. Berdasarkan hasil normalisasi, kategori dampak yang memiliki tingkat signifikansi tertinggi adalah human carcinogenic toxicity, diikuti oleh freshwater ecotoxicity dan freshwater eutrophication. Analisis kontribusi menunjukkan bahwa tahap pengeringan awal merupakan hotspot utama karena memiliki konsumsi listrik terbesar, sedangkan emisi gas rumah kaca didominasi oleh CO₂ fosil 92,47% dari total emisi. Optimalisasi penggunaan perekat tapioka berpotensi menurunkan dampak lingkungan produksi. Meskipun proses produksinya masih menghasilkan emisi, pemanfaatan limbah kulit durian sebagai biobriket tetap memiliki prospek sebagai sumber energi terbarukan yang mendukung pengelolaan limbah biomassa dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. | The increasing demand for energy and the depletion of fossil fuel resources have encouraged the utilization of biomass as a renewable energy source. One promising alternative is bio-briquettes produced from durian peel waste. Although this approach increases the value of biomass waste, the production process still requires energy and supporting materials that may generate environmental impacts. Therefore, this study aimed to evaluate the environmental impacts of durian peel bio-briquette with KNO3 oxidator production using the Life Cycle Assessment (LCA) approach. The research was located at the Laboratorium Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan (TSTET), Department of Agricultural Technology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The study was carried out over a six-month period, from February to July 2026. The research began with the production of briquettes and the collection of primary data in the laboratory, followed by data processing using SimaPro 9.6 software. The environmental impact assessment was performed using SimaPro 9.6 with the Ecoinvent 3 database. The impact assessment methods applied were ReCiPe 2016 Midpoint (H) and IPCC 2021 GWP100. The study employed a gate-to-gate system boundary with a functional unit of 1 kg of durian peel biobriquettes. The characterization results showed values of 9.85 kg 1,4-DCB eq for terrestrial ecotoxicity, 5.40 kg 1,4-DCB eq for human non-carcinogenic toxicity, and 2.82 kg CO₂- eq for global warming. The IPCC 2021 GWP100 analysis indicated a global warming potential of 2.79 kg CO₂-eq per 1 kg of bio-briquettes. Based on the normalization results, the most significant impact category was human carcinogenic toxicity, followed by freshwater ecotoxicity and freshwater eutrophication. Contribution analysis identified the initial drying stage as the main environmental hotspot due to its high electricity consumption, while fossil CO₂ accounted for 92.47% of the total greenhouse gas emissions. Optimizing the tapioca binder composition has the potential to reduce the environmental impacts of production. Although emissions are still generated during the production process, converting durian peel waste into bio-briquettes remains a promising renewable energy alternative that supports biomass waste management and reduces dependence on fossil fuels. | |
| 51454 | 54870 | F2E024003 | DILEMA ETIS KONTRAK PUBLIK DENGAN PIHAK SWASTA: TINJAUAN ETIKA DAN AKUNTABILITAS DALAM SEKTOR ADMINISTRASI PUBLIK | Abstrak Penelitian ini membahas isu etis dan akuntabilitas dalam kontrak publik melalui mekanisme Public-Private Partnership (PPP), yang banyak diadopsi untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan pelayanan publik. PPP menawarkan solusi inovatif terhadap keterbatasan sumber daya pemerintah, namun menimbulkan tantangan berupa konflik kepentingan, korupsi, dan ketidakseimbangan pembagian risiko. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi tantangan utama dalam implementasi PPP terkait etika, transparansi, dan akuntabilitas, serta menawarkan rekomendasi untuk meningkatkan tata kelola kerja sama. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggabungkan analisis literatur dan wawancara dengan para ahli di bidang pengadaan publik dan PPP. Temuan utama menunjukkan bahwa perbedaan orientasi sektor publik dan swasta sering memicu konflik kepentingan, sementara transparansi yang minim dalam pengadaan kontrak membuka peluang penyalahgunaan wewenang. Risiko proyek juga cenderung lebih besar ditanggung oleh sektor publik dibandingkan sektor swasta yang menikmati keuntungan signifikan. Penelitian ini merekomendasikan pengintegrasian etika dalam seluruh tahap PPP, peningkatan transparansi melalui akses informasi publik, pengawasan independen, dan regulasi yang seimbang antara tujuan sosial dan keuntungan ekonomi. Kajian ini menekankan pentingnya etika, transparansi, dan akuntabilitas untuk meningkatkan kepercayaan publik dan efektivitas PPP, terutama di negara berkembang. Kata Kunci: Public Private Partnership, Etika Kontrak Publik, Transparansi dan Akuntabilitas | Abstract This research discusses ethical and accountability issues in public contracts through the Public- Private Partnership (PPP) mechanism, which is widely accepted to meet public infrastructure and service needs. PPPs offer innovative solutions to limited government resources, but pose challenges in the form of conflicts of interest, corruption, and risk sharing. This study aims to identify the main challenges in implementing PPPs related to ethics, transparency and accountability, and offers recommendations for improving governance of the same work. Using a qualitative descriptive approach, this research combines literature analysis and interviews with experts in the fields of public procurement and PPP. Key findings show that differences in public and private sector organizations often lead to conflicts of interest, while minimal transparency in contract procurement leaves opportunities for formal approval. Project risks also tend to be borne to a greater extent by the public sector compared to the private sector which enjoys significant profits. This research recommends integrating ethics in all stages of PPPs, increasing transparency through access to public information, independent oversight, and regulations that balance social goals and economic benefits. This study emphasizes the importance of ethics, transparency and accountability to increase public trust and effectiveness of PPPs, especially in developing countries. Keywords: Public Private Partnership, Public Contract Ethics, Transparency and Accountability | |
| 51455 | 54871 | F2C023027 | STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN RUMAH JAWA GUEST HOUSE YOGYAKARTA: ANALISIS INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION DALAM KONTEKS PENGINAPAN SYARIAH | Rumah Jawa Guest House merupakan sebuah penginapan di Yogyakarta, Indonesia, yang mengedepankan sisi tradisional akan tetapi menggunakan konsep syariah dalam operasional dan pelayanannya. Namun demikian, ternyata tamu yang datang menginap adalah tamu dari luar negeri yang asing dengan konsep penginapan syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Rumah Jawa Guest House. Beberapa hal yang dibahas antara lain konsep penginapan syariah, strategi komunikasi pemasaran, dan media yang digunakan oleh Rumah Jawa Guest House. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dan merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Integrated Marketing Communication (IMC) dan Electronic Word-of-Mouth (E-WoM). Hasil dan pembahasan penelitian menunjukkan bahwa konsep syariah yang diterapkan di Rumah Jawa Guest House meliputi fasilitas, dekorasi, makanan, minuman, pelayanan, lokasi, keamanan, kenyamanan, dan operasional yang berkaitan dengan nilai-nilai syariah agama Islam. Strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Rumah Jawa Guest House meliputi strategi periklanan, pemasaran langsung, promosi penjualan, penjualan personal, pemasaran interaktif, hubungan masyarakat, dan evaluasi pemasaran. Media yang digunakan dalam pemasaran oleh Rumah Jawa Guest House adalah media sosial seperti Instagram dan juga menggunakan e-WoM yang merupakan pemasaran organik berisi ulasan-ulasan dari para tamu yang pernah menginap baik itu ditulis di Google Maps ataupun Online Travel Agents (OTA) yang bekerjasama dengan penginapan tersebut. | Rumah Jawa is an guest house in Yogyakarta, Indonesia, that emphasizes traditional values but applies sharia principles in its operations and services. However, it turns out that the guests who come to stay are foreigners who are unfamiliar with the concept of sharia accommodation. This study aims to determine how the marketing communications carried out by Rumah Jawa Guest House. Several things discussed include the concept of sharia accommodation, marketing communication strategies, and media used by Rumah Jawa Guest House. This study uses a constructivist paradigm and is a descriptive qualitative study. The theories used in this study are Integrated Marketing Communication (IMC) and Electronic Word-of-Mouth (E-WoM). The results and discussion of the study indicate that the sharia concepts applied at Rumah Jawa Guest House include facilities, decoration, food, beverages, services, location, security, comfort, and operations related to Islamic sharia values. The marketing communication strategies carried out by Rumah Jawa Guest House include advertising strategies, direct marketing, sales promotions, personal selling, interactive marketing, public relations, and marketing evaluation. The media used in marketing by Rumah Jawa Guest House are social media such as Instagram and also use e-WoM which is organic marketing containing reviews from guests who have stayed either written on Google Maps or Online Travel Agents (OTA) who collaborate with the guest house. | |
| 51456 | 54868 | F1A019089 | Internalisasi Nilai Anti-Bullying Di Sekolah Berbasis Agama Islam | Kasus bullying di lingkungan pendidikan masih menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian, termasuk pada sekolah berbasis agama Islam yang mengedepankan nilai keagamaan, akhlak, dan karakter. Hal tersebut disebabkan karena penerapan nilai-nilai keagamaan dalam hubungan sosial antarpeserta didik belum selalu berjalan secara optimal, serta adanya perbedaan karakter pada peserta didik yang dapat memicu terjadinya perilaku bullying. Perkembangan era digital juga menyebabkan bentuk bullying semakin beragam, termasuk cyberbullying yang dapat dilakukan melalui media sosial dan teknologi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses internalisasi nilai anti-bullying di sekolah berbasis agama Islam, khususnya di SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yang terdiri atas empat informan, yaitu satu Guru BK, satu wali kelas, dan dua peserta didik. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai anti-bullying berlangsung melalui tiga tahap konstruksi sosial, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses tersebut diwujudkan melalui sosialisasi, bimbingan konseling, pembiasaan keagamaan, keteladanan guru, edukasi, serta kolaborasi antara sekolah, peserta didik, dan orang tua. Nilai anti-bullying kemudian menjadi bagian dari budaya sekolah dan tercermin dalam sikap saling menghargai, peduli, bertanggung jawab, serta menolak tindakan bullying. | Bullying cases in educational environments remain a critical issue requiring serious attention, including within Islamic-based schools that prioritize religious values, morals, and character. This occurs because religious values are not yet fully applied in social relations among students, and character differences among them can lead to bullying behaviour. The development of the digital era has also diversified the forms of bullying, including cyberbullying which can be carried out through social media and information technology. This study aims to investigate the process of internalizing anti-bullying values in an Islamic-based school, specifically at SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. This research employs a qualitative approach with a phenomenological method. Data were obtained through observation, in-depth interviews, and documentation. The research informants were selected using a purposive sampling technique, consisting of four informants: a guidance and counselling teacher, a homeroom teacher, and two students. Data analysis was conducted interactively through the stages of data collection, data condensation, data display, and drawing conclusions. Data trustworthiness was tested using source triangulation. The results indicate that the internalisation process of anti-bullying values occurs through three stages of social construction: externalisation, objectivation, and internalisation. This process is manifested through socialisation, guidance counselling, religious habituation, teacher role modelling, education, and collaboration among the school, students, and parents. Consequently, anti-bullying values become an integral part of the school culture, reflected in mutual respect, caring, responsibility, and the explicit rejection of bullying behaviors. | |
| 51457 | 54872 | H1D019060 | UJI KUALITAS INFORMASI AKADEMIK POLITEKNIK GUSDURIAN PURWOKERTO MENGGUNAKAN USABILITY TEST | Politeknik Gusdurian Purwokerto adalah sebuah instansi pendidikan terbaru di Purwokerto yang bertanggung jawab atas pengolahan informasi dalam pembelajaran antar mahasiswa/i dan dosen Politeknik Gusdurian Purwokerto. Politeknik Gusdurian Purwokerto memanfaatkan sistem informasi akademik yang dibuat untuk membantu fungsi manajemen akademik bagi mahasiswa dan dosen. Kualitas sistem informasi akademik sering menghadapi tantangan, seperti integritas data, kemudahan penggunaan (usability), keandalan sistem, dan layanan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sistem akademik milik Politeknik Gusdurian Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sistem informasi akademik dengan berdasarkan standard pengujian kualitas perangkat lunak ISO 25010 dari aspek usability dengan metode USE Questionnaire milik Arnold M. Lund. Berdsarkan penelitian yang telah dilakukan sistem mendapatkan skor akhir 74,4% dengan predikat baik menurut standar usability sistem ISO 25010. Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem informasi akademik Politeknik Gusdurian Purwokerto perlu peningkatan pada aspek khususnya usability dan ease of use. | Politeknik Gusdurian Purwokerto is a newly established educational institution in Purwokerto that is responsible for managing academic information and facilitating learning interactions between students and lecturers. To support academic management functions, the institution utilizes an academic information system designed to assist students and lecturers in accessing and managing academic information. However, the quality of academic information systems often faces several challenges, including data integrity, usability, system reliability, and user support services. This study aims to evaluate and improve the quality of the academic information system at Politeknik Gusdurian Purwokerto based on the ISO/IEC 25010 software quality standard, particularly from the usability aspect, using Arnold M. Lund’s USE Questionnaire method. The results of the study show that the system achieved a final usability score of 74.4%, which is categorized as good according to the ISO/IEC 25010 usability standard. These findings indicate that the academic information system of Politeknik Gusdurian Purwokerto still requires improvements, particularly in terms of usability and ease of use, to provide a more effective and user-friendly experience for students and lecturers. | |
| 51458 | 54875 | A1D019159 | Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada Merah (Lactuva sativa var. Crispa) Pada Sistem Hidroponik Wick Dengan Perlakuan Variasi Dosis AB Mix dan Bakteri Penghasil IAA | Budidaya selada merah secara hidroponik umumnya bergantung pada larutan nutrisi AB Mix dalam konsentrasi penuh sehingga biaya produksi menjadi relatif tinggi. Upaya pengurangan penggunaan nutrisi perlu dilakukan tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pemanfaatan bakteri penghasil indole-3-acetic acid (IAA) yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pengurangan konsentrasi AB Mix dan aplikasi bakteri penghasil IAA terhadap pertumbuhan serta hasil selada merah pada sistem hidroponik wick. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dua faktor. Faktor pertama terdiri atas konsentrasi AB Mix 100%, 75%, dan 50%, sedangkan faktor kedua meliputi tanpa bakteri, isolat N19, isolat S3, dan isolat N15. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 36 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, perkembangan akar, biomassa tanaman, karakter stomata, dan kandungan klorofil. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi AB Mix 75% mampu menghasilkan pertumbuhan dan biomassa yang setara dengan konsentrasi penuh, sedangkan konsentrasi 50% menurunkan performa tanaman secara nyata. Aplikasi bakteri penghasil IAA meningkatkan perkembangan akar, biomassa tanaman, dan lebar bukaan stomata, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan kandungan klorofil. Interaksi kedua faktor ditemukan pada jumlah daun, luas daun, dan bobot segar tanaman. Kombinasi terbaik diperoleh pada perlakuan AB Mix 75% dengan isolat S3. Temuan ini menunjukkan bahwa pengurangan nutrisi sebesar 25% dapat diterapkan secara efektif apabila dikombinasikan dengan bakteri penghasil IAA yang tepat. | Red leaf lettuce cultivation in hydroponic systems generally relies on full-strength AB Mix nutrient solution, resulting in relatively high production costs. Reducing nutrient use without compromising crop productivity is therefore essential. One potential approach is the application of indole-3-acetic acid (IAA)-producing bacteria, which function as plant growth-promoting microorganisms. This study aimed to evaluate the effects of reduced AB Mix concentrations and the application of IAA-producing bacteria on the growth and yield of red leaf lettuce cultivated in a wick hydroponic system. The experiment employed a two-factor factorial randomized complete block design. The first factor consisted of three AB Mix concentrations: 100%, 75%, and 50%. The second factor included four bacterial treatments: no bacterial inoculation, isolate N19, isolate S3, and isolate N15. Each treatment combination was replicated three times, resulting in a total of 36 experimental units. The observed parameters included vegetative growth, root development, plant biomass, stomatal characteristics, and chlorophyll content. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the 5% significance level. The results showed that the 75% AB Mix concentration produced growth and biomass comparable to the full-strength nutrient solution, whereas the 50% concentration significantly reduced plant performance. The application of IAA-producing bacteria enhanced root development, plant biomass, and stomatal aperture width but had no significant effect on plant height or chlorophyll content. Significant interactions between the two factors were observed for leaf number, leaf area, and fresh weight. The best treatment combination was 75% AB Mix supplemented with isolate S3. These findings indicate that a 25% reduction in nutrient concentration can be effectively implemented when combined with an appropriate IAA-producing bacterial isolate. | |
| 51459 | 54878 | A1F022034 | Pengaruh Penambahan Ekstrak Jahe Merah dan Serai terhadap Karakteristik Mikrobiologi, Fisikokimia, dan Sensori Yoghurt Susu Kambing | Yoghurt susu kambing merupakan produk pangan fermentasi yang memiliki nilai gizi dan potensi manfaat kesehatan, tetapi masih menghadapi kendala sensori berupa aroma prengus (goaty flavor) dan rasa asam yang dapat memengaruhi penerimaan konsumen. Pengembangan yoghurt susu kambing dapat dilakukan melalui penambahan bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif. Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan serai (Cymbopogon citratus) mengandung senyawa fenolik dan minyak atsiri yang berpotensi meningkatkan aktivitas antioksidan serta karakteristik sensori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi ekstrak jahe merah, serai, dan kombinasi jahe merah-serai serta menentukan perlakuan terbaik berdasarkan karakteristik mikrobiologi, fisikokimia, dan sensori yoghurt susu kambing. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 × 3 dengan jenis ekstrak berupa ekstrak jahe merah, ekstrak serai, dan kombinasi ekstrak jahe merah dan serai (1:1), serta konsentrasi 1%, 3%, dan 5% (b/b), dengan tiga kali ulangan sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Parameter yang diamati meliputi total bakteri asam laktat (BAL), pH, total asam tertitrasi, kadar total fenol, aktivitas antioksidan, kadar protein terlarut, kadar gula reduksi, serta karakteristik sensori. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf 5% dan DMRT apabila terdapat pengaruh nyata, sedangkan data sensori dianalisis menggunakan uji Friedman yang dilanjutkan dengan pairwise comparisons dengan koreksi Bonferroni. Perlakuan terbaik ditentukan menggunakan analisis indeks efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ekstrak tidak berpengaruh nyata terhadap total BAL, pH, total asam tertitrasi, dan kadar total fenol, tetapi berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan, kadar protein terlarut, dan kadar gula reduksi. Konsentrasi ekstrak berpengaruh nyata terhadap total BAL, pH, total asam tertitrasi, kadar total fenol, dan aktivitas antioksidan, sedangkan interaksi jenis ekstrak dan konsentrasi berpengaruh nyata terhadap total BAL, pH, total asam tertitrasi, kadar protein terlarut, kadar gula reduksi, serta seluruh karakteristik sensori. Peningkatan konsentrasi ekstrak cenderung meningkatkan kadar total fenol, aktivitas antioksidan, total asam tertitrasi, dan intensitas kekentalan berdasarkan atribut tekstur serta menurunkan pH dan jumlah BAL. Seluruh perlakuan memenuhi persyaratan minimum jumlah BAL yoghurt, sedangkan peningkatan karakteristik fungsional tidak selalu diikuti peningkatan tingkat kesukaan keseluruhan panelis. Berdasarkan analisis indeks efektivitas, ekstrak serai dengan konsentrasi 5% (J2K3) merupakan perlakuan terbaik dengan nilai indeks efektivitas 0,66 dan menghasilkan keseimbangan karakteristik mikrobiologi, fisikokimia, dan sensori paling baik. | Goat milk yogurt is a fermented food product with nutritional value and potential health benefits, but its utilization still faces sensory challenges due to its characteristic goaty flavor and sour taste, which may affect consumer acceptance. The development of goat milk yogurt can be achieved through the addition of natural ingredients containing bioactive compounds. Red ginger (Zingiber officinale var. rubrum) and lemongrass (Cymbopogon citratus) contain phenolic compounds and essential oils that have the potential to increase antioxidant activity and improve sensory characteristics. This study aimed to determine the effects of extract type and concentration of red ginger, lemongrass, and their combination, as well as to determine the best treatment based on the microbiological, physicochemical, and sensory characteristics of goat milk yogurt. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with a 3 × 3 factorial pattern, consisting of extract type, namely red ginger extract, lemongrass extract, and a 1:1 combination of red ginger and lemongrass extracts, and extract concentrations of 1%, 3%, and 5% (w/w), with three replications, resulting in 27 experimental units. The observed parameters included total lactic acid bacteria (LAB), pH, titratable acidity, total phenolic content, antioxidant activity, soluble protein content, reducing sugar content, and sensory characteristics. Data were analyzed using ANOVA at a 5% significance level followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) when significant effects were observed, while sensory data were analyzed using the Friedman test followed by pairwise comparisons with Bonferroni correction. The best treatment was determined using the effectiveness index analysis. The results showed that extract type had no significant effect on total LAB, pH, titratable acidity, and total phenolic content, but significantly affected antioxidant activity, soluble protein content, and reducing sugar content. Extract concentration significantly affected total LAB, pH, titratable acidity, total phenolic content, and antioxidant activity, while the interaction between extract type and concentration significantly affected total LAB, pH, titratable acidity, soluble protein content, reducing sugar content, and all sensory characteristics. Increasing extract concentration tended to increase total phenolic content, antioxidant activity, titratable acidity, and the intensity of thickness based on the texture attribute, while decreasing pH and LAB count. All treatments met the minimum LAB requirement for yogurt, whereas improvements in functional characteristics were not always accompanied by increased overall acceptance by panelists. Based on the effectiveness index analysis, lemongrass extract at a concentration of 5% (J2K3) was the best treatment, with an effectiveness index of 0.66, providing the best balance of microbiological, physicochemical, and sensory characteristics. | |
| 51460 | 54877 | L1B022098 | UJI EFEKTIVITAS ECO-ENZYME KOMBINASI LIMBAH BUAH JERUK, PEPAYA DAN KULIT PISANG SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophila | Aeromonas hydrophila merupakan bakteri patogen pada ikan budidaya. Ecoenzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik dengan molase dan air yang berpotensi menghasilkan senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas antibakteri eco-enzyme kombinasi limbah buah jeruk, pepaya, dan kulit pisang terhadap A. hydrophila serta menentukan konsentrasi efektifnya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam perlakuan, yaitu eco-enzyme 25%, 50%, 75%, 100%, kontrol positif, dan kontrol negatif, masing-masing tiga ulangan. Karakteristik eco-enzyme diamati berdasarkan suhu, pH, TDS, dan uji fitokimia, sedangkan aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi sumuran. Suhu fermentasi berkisar 25,0–31,4°C, pH 2,7–5,4, dan TDS 2090–4590 ppm. Skrining fitokimia menunjukkan adanya flavonoid dan tanin. Zona hambat pada 25% tidak terbentuk, sedangkan 50%, 75%, dan 100% berturut-turut sebesar 3,00 ± 2,60; 6,50 ± 0,87; dan 8,58 ± 2,63 mm. Uji Kruskal-Wallis pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05), dilanjutkan Pairwise Comparisons dengan koreksi Bonferroni. Konsentrasi 50% berbeda nyata dengan 100%, sedangkan 50% dengan 75% dan 75% dengan 100% tidak berbeda nyata. Eco-enzyme menunjukkan efektivitas antibakteri terhadap A. hydrophila, tetapi konsentrasi efektif belum dapat ditentukan. Konsentrasi 100% menghasilkan zona hambat terbesar secara numerik. | Aeromonas hydrophila is a pathogenic bacterium in aquaculture. Eco-enzyme is a liquid produced through the fermentation of organic materials with molasses and water, which has the potential to produce antibacterial compounds. This study aimed to analyze the antibacterial effectiveness of eco-enzyme made from a combination of citrus fruit waste, papaya waste, and banana peels against A. hydrophila and to determine its effective concentration. The study used a Completely Randomized Design with six treatments, namely 25%, 50%, 75%, and 100% eco-enzyme, positive control, and negative control, with three replications for each treatment. The characteristics of the eco-enzyme were evaluated based on temperature, pH, TDS, and phytochemical screening, while antibacterial activity was tested using the well diffusion method. The fermentation temperature ranged from 25.0–31.4 °C, pH from 2.7–5.4, and TDS from 2090–4590 ppm. Phytochemical screening indicated the presence of flavonoids and tannins. No inhibition zone was observed at 25%, while inhibition zones at 50%, 75%, and 100% were 3.00 ± 2.60, 6.50 ± 0.87, and 8.58 ± 2.63 mm, respectively. The Kruskal-Wallis test at concentrations of 50%, 75%, and 100% showed a significant difference (p<0.05), followed by Pairwise Comparisons with Bonferroni correction. A significant difference was observed between 50% and 100%, while no significant differences were found between 50% and 75% or between 75% and 100%. Eco-enzyme demonstrated antibacterial effectiveness against A. hydrophila; however, its effective concentration could not be determined. The 100% concentration produced the largest inhibition zone numerically. |