Artikelilmiahs

Menampilkan 51.341-51.345 dari 51.345 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5134154758C1B020087PENGARUH KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KINERJA PEGAWAI
(Studi Pada Badan Usaha Milik Desa Pagedangan Jaya Sejahtera Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten)
ABSTRAK :
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kompetensi sumber daya manusia terhadap kinerja pegawai pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pagedangan Jaya Sejahtera Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Populasi sasaran penelitian ini adalah 35 pegawai. Penelitian ini menggunakan teknik sampel yang disebut sampling jenuh (sensus), yaitu mensurvei seluruh anggota populasi. Oleh karena itu jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 35 orang. Berdasarkan hasil analisis dan Analisa data menggunakan Statistical Program Service Solution (SPSS) Ver. 25 menunjukkan bahwa instrument penelitian valid dan reliabel karena terbukti konsisten dan akurat. Asumsi klasik terpenuhi yaitu berdistribusi normal (didukung secara visual oleh Q-Q Plot), tidak terdapat gejala heteroskedastisitas (Uji Glejser Sig. 0,669), dan memiliki hubungan yang linear (Sig. 0,563). Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan (Ha diterima), hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai t-hitung sebesar 5,649. Artinya, semakin tinggi kompetensi sumber daya manusia, maka akan semakin meningkat pula kinerja pegawai secara nyata. Kompetensi SDM memberikan kontribusi terhadap kinerja pegawai sebesar 49,2% (sebagaimana ditunjukkan oleh nilai R Square sebesar 0,492). Sementara itu, sisanya sebesar 50,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini seperti motivasi kerja, gaya kepemimpinan, kompensasi, maupun lingkungan kerja.
ABSTRACT:
This study aims to analyze the influence of human resource competence on employee performance at the Village-Owned Enterprise (BUMDes) Pagedangan Jaya Sejahtera, Pagedangan District, Tangerang Regency. A quantitative research method was employed. The target population consisted of 35 employees. The study utilized a "saturated sampling" technique (census), surveying the entire population; consequently, the sample size was 35 individuals. Data analysis using SPSS Version 25 demonstrated that the research instrument was valid and reliable, showing consistency and accuracy. Classical assumptions were met: the data followed a normal distribution (visually supported by a Q-Q Plot), there was no heteroscedasticity (Glejser Test Sig. 0.669), and a linear relationship existed (Sig. 0.563). Competence was found to have a positive and significant effect (Ha accepted), evidenced by a significance value of 0.000 (< 0.05) and a t-statistic of 5.649. This implies that higher human resource competence leads to a tangible increase in employee performance. Human resource competence contributed 49.2% to employee performance (as indicated by an R-Square value of 0.492). Meanwhile, the remaining 50.8% was influenced by variables not examined in this study, such as work motivation, leadership style, compensation, and the work environment.
5134254759J1B019006ANALISIS KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA S. THAYFKarya sastra tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga
sebagai media untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial yang
terjadi di masyarakat. Salah satu novel yang memuat kritik sosial adalah Tanah
Tabu karya Anindita S. Thayf yang mengangkat kehidupan masyarakat Papua
dengan berbagai permasalahan sosial yang melingkupinya. Penelitian ini bertujuan
untuk mengungkap bentuk-bentuk kritik sosial dalam novel Tanah Tabu karya
Anindita S. Thayf dengan menggunakan konsep masalah sosial Soerjono Soekanto.
Teori ini menekankan lima aspek utama dalam mengidentifikasi masalah sosial,
yaitu pendidikan, moral, ekonomi, budaya, dan politik. Metode penelitian yang
digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi, yaitu mengkaji teks
novel secara mendalam untuk menemukan wujud kritik sosial yang diangkat
pengarang. Sumber data penelitian berupa novel Tanah Tabu karya Anindita S.
Thayf, sedangkan data penelitian berupa narasi dan dialog yang mengandung kritik
sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini merepresentasikan berbagai
persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Papua, antara lain ketimpangan ekonomi
akibat eksploitasi sumber daya alam, diskriminasi politik terhadap penduduk asli,
keterbatasan akses pendidikan, lemahnya penegakan hukum, degradasi moral
akibat kekerasan dan konflik bersenjata, ketidakadilan dalam kehidupan rumah
tangga, serta benturan budaya antara nilai-nilai lokal dengan pengaruh luar. Kritik
sosial yang disampaikan pengarang menyoroti ketidakadilan struktural sekaligus
mengajak pembaca untuk memahami kompleksitas permasalahan di Papua.
Penelitian ini menegaskan bahwa Tanah Tabu tidak hanya berfungsi sebagai karya
sastra, tetapi juga sebagai media perlawanan simbolik terhadap ketidakadilan sosial.
Literary works function not only as a form of entertainment but also as a medium
for conveying criticism of various social issues occurring in society. One novel that
contains social criticism is Tanah Tabu by Anindita S. Thayf, which portrays the
lives of Papuan people and the social problems surrounding them. This study aims
to identify the forms of social criticism in the novel Tanah Tabu by Anindita S.
Thayf using Soerjono Soekanto's concept of social problems. This theory
emphasizes five main aspects in identifying social problems, namely education,
morality, economy, culture, and politics. This research employed a descriptive
qualitative method with content analysis techniques, examining the text of the novel
in depth to identify the forms of social criticism presented by the author. The data
source was the novel Tanah Tabu by Anindita S. Thayf, while the data consisted of
narrative passages and dialogues containing elements of social criticism. The
findings reveal that the novel represents various social problems faced by Papuan
society, including economic inequality resulting from the exploitation of natural
resources, political discrimination against indigenous people, limited access to
education, weak law enforcement, moral degradation caused by violence and armed
conflict, injustice within household life, and cultural conflicts between local values
and external influences. The social criticism conveyed by the author highlights
structural injustice while encouraging readers to understand the complexity of
social issues in Papua. This study concludes that Tanah Tabu functions not only as
a literary work but also as a medium of symbolic resistance against social injustice.
5134354579L1A022027STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DI HULU SUNGAI PEMALI KABUPATEN BREBES JAWA TENGAHHulu Sungai Pemali, Brebes, menghadapi tekanan antropogenik dari pasar, pabrik kayu, pemukiman, dan lahan pertanian. Penelitian ini menganalisis karakteristik fisika-kimia air, struktur komunitas makrozoobenthos, dan status kualitas perairan menggunakan Family Biotic Index (FBI). Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun secara purposive sampling sebanyak tiga kali dengan interval dua minggu. Parameter fisika-kimia meliputi suhu, arus, kecerahan, kedalaman, pH, DO, BOD, dan total nitrogen. Makrozoobenthos dikoleksi menggunakan Surber Net dan diidentifikasi hingga genus. Data dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman (H'), keseragaman (E), dominansi (C), FBI, PCA, dan One-Way ANOVA. Hasilnya, ditemukan 768 individu dari 22 genus. Nilai H' 2,03–2,48 (kategori sedang), E tinggi (0,82–0,90), dan C rendah (0,10–0,18). Nilai FBI 4,51–4,77 mengindikasikan kualitas air "Baik". PCA menunjukkan Stasiun 1 berasosiasi dengan DO, arus, dan kecerahan; Stasiun 2 dengan BOD; Stasiun 3 dengan suhu, pH, dan kedalaman. Uji ANOVA menunjukkan hanya suhu yang berbeda signifikan antar stasiun (p=0,049). Berdasarkan seluruh indeks, Stasiun 3 memiliki kualitas perairan terbaik dengan FBI terendah dan H' tertinggi.The upstream of Pemali River in Brebes faces anthropogenic pressures from markets, timber mills, settlements, and agricultural land. This study analyzed the physicochemical characteristics of the water, the structure of the macrozoobenthos community, and water quality status using the Family Biotic Index (FBI). Sampling was conducted at three stations using purposive sampling three times at two-week intervals. Physicochemical parameters included temperature, current, turbidity, depth, pH, dissolved oxygen (DO), biochemical oxygen demand (BOD), and total nitrogen. Macrozoobenthos were collected using a Surber net and identified to the genus level. Data were analyzed using the diversity index (H'), evenness index (E), dominance index (C), FBI, principal component analysis (PCA), and one-way ANOVA. The results revealed 768 individuals from 22 genera. The H' values ranged from 2.03 to 2.48 (moderate category), E was high (0.82–0.90), and C was low (0.10–0.18). FBI values of 4.51–4.77 indicated “Good” water quality. PCA analysis showed that Station 1 was associated with DO, current, and turbidity; Station 2 with BOD; and Station 3 with temperature, pH, and depth. The ANOVA test showed that only temperature differed significantly among stations (p=0.049). Based on all indices, Station 3 had the best water quality with the lowest FBI and the highest H'.
5134454760J1E022061LEVELS OF WRITING ANXIETY AND THEIR CORRELATION WITH
THE ACADEMIC WRITING PERFORMANCE
(A Correlational Study of The English Language Educational Students,
2023 Cohort, at Jenderal Soedirman University)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan menulis yang
dialami mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris serta menguji
hubungan antara kecemasan menulis dan hasil belajar menulis akademik. Penelitian
ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan
86 mahasiswa semester empat dan enam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Jenderal Soedirman. Data kecemasan menulis dikumpulkan
menggunakan Second Language Writing Anxiety Inventory (SLWAI) yang
dikembangkan oleh Cheng (2004). Setelah melalui penilaian ahli (expert judgment)
dan uji validitas empiris, diperoleh 18 butir pernyataan yang dinyatakan valid
dengan nilai reliabilitas yang sangat tinggi (Cronbach's Alpha = 0,934). Data hasil
belajar menulis akademik diperoleh dari nilai akhir mata kuliah Academic Writing.
Selanjutnya, data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi
Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kecemasan
menulis mahasiswa sebesar 60,17, yang termasuk dalam kategori sedang. Di antara
tiga dimensi kecemasan menulis, somatic anxiety merupakan dimensi yang paling
dominan, diikuti oleh cognitive anxiety dan avoidance behavior. Hasil uji korelasi
juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
kecemasan menulis dan hasil belajar menulis akademik (rₛ = 0,123; p = 0,261). Hal
ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat kecemasan menulis yang lebih
tinggi tidak selalu memperoleh hasil belajar menulis akademik yang lebih rendah.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa Inggris secara umum memiliki tingkat kecemasan menulis pada
kategori sedang dengan somatic anxiety sebagai dimensi yang paling dominan.
Namun, kecemasan menulis tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil
belajar menulis akademik mahasiswa.
This study aimed to identify the level of writing anxiety experienced by
English Education students and examine the correlation between writing anxiety
and academic writing performance. This research employed a quantitative
correlational design involving 86 fourth- and sixth-semester English Education
students at Jenderal Soedirman University. Data on writing anxiety were collected
using the Second Language Writing Anxiety Inventory (SLWAI) developed by
Cheng (2004). After expert judgment and empirical validity testing, 18 valid items
were retained, with the instrument demonstrating excellent reliability (Cronbach's
Alpha = 0.934). Students' academic writing performance was measured using their
Academic Writing course scores. Descriptive statistics and Spearman Rank
Correlation were used to analyze the data. The findings showed that the students'
mean writing anxiety score was 60.17, indicating a moderate level of writing
anxiety. Among the three dimensions of writing anxiety, somatic anxiety was the
most dominant, followed by cognitive anxiety and avoidance behavior.
Furthermore, the correlation analysis revealed no significant relationship between
writing anxiety and academic writing performance (rₛ = 0.123, p = 0.261). These
findings indicated that students with higher writing anxiety did not necessarily
achieve lower academic writing scores. In conclusion, English Education students
generally experienced a moderate level of writing anxiety, with somatic anxiety as
the dominant dimension. However, writing anxiety was not significantly correlated
with students' academic writing performance.
5134554761I1A022118FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENYIMPANAN OBAT DI PUSKESMAS WILAYAH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2026Latar belakang: Penyimpanan obat di Puskesmas Kabupaten Banyumas masih menghadapi kendala terkait pelatihan petugas, sarana prasarana, serta penerapan sistem dan SOP. Kondisi ini ditunjukkan oleh dua dari 40 Puskesmas yang memiliki ketersediaan obat esensial di bawah 80%, disertai indikasi obat kedaluwarsa, kerusakan fisik, ketidaksesuaian stok, keterbatasan ruang dan lemari pendingin, serta penerapan FEFO yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, pelatihan, sistem dan SOP, serta sarana prasarana dengan penyimpanan obat di Puskesmas Kabupaten Banyumas tahun 2026.
Metodologi: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 101 petugas pengelola obat, terdiri atas 57 apoteker dan 44 tenaga teknis kefarmasian pada 40 Puskesmas, dengan teknik total sampling. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Fisher Exact Test, dan multivariat menggunakan regresi logistik.
Hasil: Sebanyak 85 responden (84,2%) memiliki penyimpanan obat baik dan 16 responden (15,8%) kurang baik. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan, pelatihan, sistem dan SOP, serta sarana prasarana dengan penyimpanan obat (masing-masing p<0,001). Model regresi logistik secara keseluruhan signifikan (Omnibus Test p<0,001) dengan Nagelkerke R Square 0,864. Nilai p masing-masing variabel pada analisis multivariat adalah pengetahuan 0,999, pelatihan 0,999, sistem dan SOP 1,000, serta sarana prasarana 1,000, dengan OR yang tidak stabil dan tidak bermakna. Namun, secara individual seluruh variabel tidak berpengaruh signifikan karena karakteristik Puskesmas relatif homogen dan variasi data kecil, sehingga tidak terdapat variabel dominan.
Kesimpulan: Perbaikan penyimpanan obat perlu dilakukan melalui peningkatan kompetensi petugas, konsistensi penerapan SOP, dan pemenuhan sarana prasarana secara bersama-sama.
Background: Medication storage at community health centers in Banyumas Regency still faces challenges related to staff training, infrastructure, and the implementation of systems and standard operating procedures (SOPs). This situation is evidenced by the fact that two out of 40 CHS have an essential drug availability rate below 80%, along with indications of expired drugs, physical damage, stock discrepancies, limited space and refrigeration capacity, and suboptimal implementation of the FEFO principle. This study aims to analyze the relationship between knowledge, training, systems and SOPs, as well as infrastructure and facilities, and medication storage at CHS in Banyumas Regency in 2026.
Methodology: This study employed a quantitative method with a cross-sectional approach. The population consisted of 101 medication management staff, 57 pharmacists, and 44 pharmaceutical technicians at 40 Puskesmas, selected using total sampling. Analyses were conducted using univariate, bivariate (Fisher’s Exact Test), and multivariate methods, including logistic regression.
Results: A total of 85 respondents (84.2%) had good medication storage practices, while 16 respondents (15.8%) had inadequate practices. Bivariate analysis showed a significant association between knowledge, training, systems and SOPs, and facilities and infrastructure with medication storage (p < 0.001 for each). The logistic regression model was significant overall (Omnibus Test p<0.001) with a Nagelkerke R-squared of 0.864. The p-values for each variable in the multivariate analysis were as follows: knowledge 0.999, training 0.999, systems and SOPs 1.000, and facilities and infrastructure 1.000, with unstable and non-significant odds ratios (ORs). However, individually, none of the variables had a significant effect because the characteristics of the community health centers were relatively homogeneous and data variation was small, so there were no dominant variables.
Conclusion: Improvements in medication storage need to be implemented through a combination of enhancing staff competence, consistent application of SOPs, and ensuring adequate facilities and infrastructure.