Home
Login.
Artikelilmiahs
54908
Update
MUHAMMAD RAIHAN BINTANG PRADANA
NIM
Judul Artikel
Analisis Distribusi dan Komponen Sedimen di Perairan Utara Jawa
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Perairan utara Jawa (Laut Jawa) memiliki dinamika oseanografi kompleks akibat pengaruh monsun dan pasokan material terigen. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi spasial-vertikal ukuran butir sedimen, mengidentifikasi komponen penyusunnya (biogenik dan non-biogenik), serta mengkaji keterkaitan faktor hidrodinamika terhadap variasi sedimentasi. Sampel inti sedimen diambil dari tiga stasiun (JMF 01, JMF 03, JMF 05) dan dianalisis menggunakan Particle Size Analyzer (PSA), mikroskop digital 3D, serta data pendukung TSS, arus, suhu, dan salinitas Marine Copernicus. Hasil menunjukkan Laut Jawa didominasi oleh sedimen berenergi rendah-sedang berupa lempung, lanau lempungan, hingga lanau pasiran berpemilahan buruk. Secara vertikal, stasiun JMF 01 menunjukkan tren mengasar ke bawah (~6.000 ke ~14.000) dengan kelimpahan cangkang moluska hingga 10% di lapisan atas. Stasiun JMF 03 merekam fluktuasi energi dengan lapisan pasir kekuningan akibat Monsun Barat purba (kedalaman 45–65 cm) dan dominasi komponen biogenik hingga 75% (ooze) pada kedalaman 25–27 cm. Stasiun JMF 05 merekam event deposit simetris berupa lonjakan ukuran butir (23.000) pada kedalaman 25–27 cm akibat resuspensi oleh arus pasang surut, dengan proporsi biogenik stabil (50%–60%). Proses transportasi dan zonasi deposisi ini dikontrol secara simultan oleh input terigen masif dari sungai-sungai utama, tingginya konsentrasi TSS pesisir, variasi suhu (warm pool 29,35°C–29,50°C), serta gradien salinitas (<31– 33,2 PSU) yang dipengaruhi Arus Lintas Indonesia dan El Niño 2015. Dinamika hidrodinamika musiman dan suplai fluvial menjadi faktor utama yang mengontrol evolusi sedimen dasar di perairan ini.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The northern waters of Java (Java Sea) exhibit complex oceanographic dynamics driven by monsoonal systems and terrigenous inputs. This study analyzes the spatial-vertical distribution of sediment grain size, identifies its biogenic and non-biogenic components, and assesses the impact of hydrodynamic factors on sedimentation variations. Core sediment samples from three stations (JMF 01, JMF 03, JMF 05) were analyzed using a Particle Size Analyzer (PSA) and a 3D digital microscope, integrated with TSS, current, temperature, and salinity Marine Copernicus data. Results indicate a low-to-moderate energy regime dominated by poorly sorted clay, clayey silt, and sandy silt fractions. Vertically, core JMF 01 shows a coarsening downward trend (~6,000 to ~14,000) with up to 10% mollusk shell fragments in the upper layer. Core JMF 03 records fluctuating energy, marked by a yellowish sand layer (45–65 cm depth) from paleomonsoons and a strong biogenic dominance up to 75% (ooze) at 25–27 cm depth. Meanwhile, core JMF 05 captures a symmetrical event deposit at 25–27 cm depth with a sharp grain size spike (~23,000) caused by tidal current-induced resuspension, maintaining a stable biogenic proportion (50%–60%). Transport and depositional zoning are driven by massive fluvial inputs, high coastal TSS, sea surface temperature variations (warm pool of 29.35°C-29.50°C), and a steep salinity gradient (<31 to 33.2 PSU) modulated by the Indonesian Throughflow and the 2015 El Niño. Overall, seasonal hydrodynamics and fluvial supply govern the evolution of bottom sediments in the Java Sea.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save