Artikelilmiahs

Menampilkan 47.861-47.880 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4786151257I1J022002EFFECT OF YOGURT FERMENTED RAMBUTAN SEED INFUSION ON BLOOD GLUCOSE LEVELS IN DIABETIC WISTAR RATS
Abstrak

EFFECT OF YOGURT FERMENTED RAMBUTAN SEED INFUSION ON BLOOD GLUCOSE LEVELS IN DIABETIC WISTAR RATS
Vlora Cleofinna Ari Adhi1, Saryono2, Hikmi Muharromah Pratiwi2

Jl. Dr. Soeparno, Karangwangkal, Purwokerto Utara 53123 Telp (0281) 642838
E-mail: vloracleofinna@gmail.com

Latar Belakang:
Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. Biji rambutan (Nephelium lappaceum L.) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin yang berpotensi berperan dalam penurunan kadar glukosa darah, dan proses fermentasi diharapkan dapat meningkatkan aktivitas biologisnya.
Metode:
Penelitian eksperimental ini menggunakan desain pretest–posttest control group dengan melibatkan 35 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu kontrol sehat, kontrol negatif, empat kelompok perlakuan yang diberikan seduhan biji rambutan terfermentasi selama 0, 3, 5, dan 7 hari dengan dosis 32 mg/kg berat badan, serta kelompok glibenklamid. Perlakuan diberikan selama 14 hari, dan kadar glukosa darah sewaktu (GDS) diukur sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji one way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Duncan.
Hasil:
Analisis perbedaan kadar glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah perlakuan menunjukkan bahwa infus biji rambutan terfermentasi menurunkan kadar glukosa darah pada seluruh kelompok perlakuan. Penurunan terbesar ditemukan pada kelompok fermentasi 7 hari (46,25 ± 4,11 mg/dL), diikuti oleh kelompok fermentasi 5 hari (33,00 ± 4,32 mg/dL) dan 3 hari (13,25 ± 6,02 mg/dL). Kelompok dengan fermentasi 7 hari menunjukkan penurunan kadar glukosa darah tertinggi hingga 50 mg/dL.
Kesimpulan:
Pemberian rebusan biji rambutan terfermentasi selama 14 hari berpengaruh terhadap kadar glukosa darah sewaktu pada tikus Wistar yang diinduksi streptozotosin, dengan fermentasi selama 7 hari menunjukkan efek penurunan glukosa darah yang paling besar.
Kata kunci: Diabetes melitus; fermentasi; biji rambutan; glukosa darah sewaktu; yogurt

¹ Mahasiswa Program Studi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
² Dosen, Departemen Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
Abstract

EFFECT OF YOGURT FERMENTED RAMBUTAN SEED INFUSION ON BLOOD GLUCOSE LEVELS IN DIABETIC WISTAR RATS
Vlora Cleofinna Ari Adhi1, Saryono2, Hikmi Muharromah Pratiwi2

Jl. Dr. Soeparno, Karangwangkal, Purwokerto Utara 53123 Telp (0281) 642838
E-mail: vloracleofinna@gmail.com

Background: Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia. Rambutan seeds (Nephelium lappaceum L.) contain bioactive compounds such as flavonoids, alkaloids, and tannins that may contribute to blood glucose reduction, and fermentation is expected to enhance their biological activity.
Method: This experimental study employed a pretest–posttest control group design involving 35 male Wistar rats divided into seven groups: healthy control, negative control, four treatment groups receiving fermented rambutan seed decoction for 0, 3, 5, and 7 days at a dose of 32 mg/kg body weight, and a glibenclamide group. Interventions were administered for 14 days, and random blood glucose (RBG) levels were measured before and after treatment. Data were analyzed using one-way ANOVA and Post Hoc Duncan.
Result: The analysis of pre–post differences in random blood glucose levels showed that fermented rambutan seed infusion reduced blood glucose levels in all treatment groups, with the greatest reduction observed in the 7-day fermentation group (46.25 ± 4.11 mg/dL), followed by the 5-day (33.00 ± 4.32 mg/dL), and 3-day (13.25 ± 6.02 mg/dL). Group with 7 days fermentation displayed the highest decrease of blood glucose level with 50 mg/dl
Conclusion: Administration of fermented rambutan seed decoction for 14 days affected random blood glucose levels in streptozotocin-induced Wistar rats, with the 7-day fermentation showing the greatest glucose-lowering effect.
Keywords: Diabetes mellitus; Fermentation; Rambutan seed; Random blood glucose; Yogurt

¹ Student of Nursing Department, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
² Lecturer, Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
4786251258I1B022060Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Pada Komunitas Ojek Online Dalam Memberikan Pertolongan Pertama Kecelakaan di Kabupaten Banyumas Latar Belakang: Kecelakaan lalu lintas merupakan kondisi kegawatdaruratan yang berpotensi
mengancam nyawa serta memerlukan penanganan segera. Kejadian ini dapat menimpa siapa saja,
kapan saja, dan di mana saja tanpa diprediksi serta diharapkan. Salah satu kelompok masyarakat
yang berpotensi menjadi penolong pertama adalah pengemudi ojek online. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap pada komunitas ojek online dalam
memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan di Kabupaten Banyumas.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional dengan pendekatan non-
eksperimental. Populasi penelitian adalah seluruh anggota ojek online (KOCAK) yang berjumlah
105 orang. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan
menggunakan uji non parametrik yaitu uji somer’s D.
Hasil Penelitian : Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 77 responden (73,5%)
memiliki pengetahuan baik dan 66 orang (62,9%) memiliki sikap positif dalam memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan. Berdasarkan uji Somer’s D memperoleh nilai p<0,0001 dan
koefisien somer’s D sebesar 0,383 yang artinya terdapat korelasi antar dua variabel menunjukkan
kekuatan hubungan yang sedang.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap pengemudi ojek online
dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Banyumas.
Background: Traffic accidents are a situation that can potentially treaten lives and require
immediate intervention. These incidents can be happened to anyone, anytime, and anywhere without
warning. One of the group with the potential to act as the first responders are driver online, who
frequently present on the road and may witness accidents firsthand. This study aims to examine the
relationship between the level of knowledge and attitudes of driver online community in providing
first aid for traffic accidents in Banyumas Regency.
Method: The design of this research using cross-sectional with a non experimental approach. The
research population included all 105 members of driver online community (KOCAK). Data were
collected using a structured questionnaire and analysis was conducted using the non-parametric
Sommer’s D test.
Result: The results of this study show that 77 respondents (73,5%) have a good level of knowledge
and 66 respondents (62,9%) demonstrate a positive attitude toward providing first aid in traffic
accidents. Based on somer’s D test, the obtained p-value was 0.000 (p<0,05) with a coefficient of
0,383, indicating a significant correlation between the two variable and reflecting a moderate
strength of association.
Conclusion : There is significant correlation between the level of knowledge and attitudes of driver
online community in providing first aid for traffic accidents in Banyumas Regency.
Keyword: Driver online; first aid; first aid attitude; knowledge; traffic accidents.
4786351259K1B021059PENERAPAN GENERALIZED METHOD OF MOMENT PADA PERSAMAAN SIMULTAN DURBIN SPASIAL UNTUK PEMODELAN KEMISKINAN DI JAWA TENGAHPenelitian ini bertujuan untuk melihat kondisi umum kemiskinan dan indeks pembangunan manusia dalam persamaan simultan, serta mendapatkan model persamaan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi. Data yang digunakan adalah data jumlah penduduk miskin dan IPM di Jawa Tengah tahun 2018 sampai 2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Generalized Method of Moment (GMM) untuk membentuk model persamaan simultan durbin spasial dengan pembobot rook contiguity dengan bantuan software RStudio. Variabel spasial lag kemiskinan signifikan terhadap kenaikan kemiskinan dan variabel spasial lag IPM tidak signifikan terhadap kenaikan IPM. Artinya, hubungan spasial hanya ada pada model kemiskinan. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap kemiskinan yaitu IPM, pengangguran, dan investasi penanaman modal dalam negeri, sedangkan yang tidak langsung yaitu kepadatan penduduk dan produk domestik regional bruto, dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,9268 menunjukkan bahwa 92,68 persen variabilitas data kemiskinan mampu dijelaskan oleh model. Faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap IPM yaitu kemiskinan, angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran per-kapita dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,9956 menunjukkan bahwa 99,56 persen variabilitas data IPM mampu dijelaskan oleh model.This study aims to examine the general conditions of poverty and the Human Development Index within a simultaneous equation system, while developing an equation model to identify the influencing factors. The data employed consists of figures on the number of poor people and the Human Development Index (HDI) in Central Java from 2018 to 2024, sourced from the Central Statistics Agency. The method employed is the Generalized Method of Moments (GMM) to construct a spatial Durbin simultaneous equations model with rook contiguity weighting, facilitated by RStudio software. The findings indicate that the spatial lag variable of poverty significantly contributes to an increase in poverty, whereas the spatial lag of HDI does not significantly affect HDI increases. This suggests that spatial relationships are present only in the poverty model. Furthermore, the study reveals that factors directly influencing poverty include HDI, unemployment and domestic investment, whereas indirect factors are population density and regional gross domestic product, with a coefficient of determination value of 0.9268, indicating that 92.68% of the variability in poverty data is explained by the model. Meanwhile, factors directly and indirectly influencing HDI encompass poverty, life expectancy, average years of schooling, and per capita expenditure, with a coefficient of determination value of 0.9956, signifying that 99.56% of the HDI data variability is accounted for by the model.
4786451260I1B022053HUBUNGAN PROMOSI SUSU FORMULA DENGAN TINGKAT EFIKASI DIRI IBU MENYUSUI BAYI USIA 0–6 BULAN Latar belakang : Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik bagi bayi tetapi cakupan ASI eksklusif masih belum optimal. Rendahnya efikasi diri ibu dapat dipengaruhi oleh promosi susu formula yang menurunkan kepercayaan diri dalam menyusui. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan promosi susu formula dengan efikasi diri ibu menyusui bayi usia 0–6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Timur I.
Metodologi : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 52 ibu menyusui bayi usia 0–6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Timur I dengan teknik convenience sampling. Instrumen penelitian meliputi kuesioner demografi, promosi susu formula, dan BSES-SF. Analisis data menggunakan uji Spearman’s Rank Correlation.
Hasil : Penelitian ini menunjukkan sebagian besar ibu memiliki keterpaparan promosi susu formula rendah (69,2%) dan efikasi diri tinggi (63,5%). Hasil uji Spearman menunjukkan nilai r = -0,322 (p = 0,020).
Kesimpulan : Terdapat hubungan signifikan antara promosi susu formula dan efikasi diri ibu menyusui bayi usia 0–6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Timur I dengan arah negatif. Semakin tinggi paparan promosi susu formula, semakin rendah efikasi diri ibu. Oleh karena itu, ibu diharapkan memahami pentingnya efikasi diri untuk mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Background: Breast milk is the best nutrition for infants, However, exclusive breastfeeding coverage remains inadequate.. Low levels of self-efficacy can be influenced by formula milk promotion, which reduces confidence in breastfeeding. This study aimed to analyze relationship between formula milk promotion and breastfeeding self-efficacy among mothers of infants aged 0-6 months.
Methodology: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 52 mothers breastfeeding infants aged 0–6 months in the Purwokerto Timur I Community Health Center working area using convenience sampling. The research instruments included demographic questionnaires, formula milk promotion, and BSES-SF. Data analysis used Spearman's Rank Correlation test.
Result: This study showed that most mothers had low exposure to formula milk promotion (69.2%) and high self-efficacy (63.5%). The Spearman test results showed a p-value of 0.020 and r = -0.322.
Conclusion: There is a significant negative correlation between formula milk promotion and breastfeeding self-efficacy among mothers of infants aged 0-6 months. The higher the exposure to formula milk promotion, the lower the mothers' self-efficacy. Therefore, mothers are expected to understand the importance of self-efficacy in supporting the success of exclusive breastfeeding.
4786551261J1E019017A Correlational Study Between Habit Of Listening English Pop Songs and Students’ Vocabulary Mastery Through Spotify Music Application (A Study on The Second Semester Students’ Of English Language Education Program Study of Jenderal Soedirman University in The Academic Year of 2024/2025). Studi korelasi campuran ini menyelidiki hubungan antara kebiasaan mendengarkan lagu pop Inggris melalui aplikasi musik Spotify oleh mahasiswa semester kedua (angkatan 2024, n=136) dan penguasaan kosakata mereka dalam Program Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan korelasi yang signifikan antara kebiasaan mendengarkan dan penguasaan kosakata melalui aplikasi musik Spotify, dan (2) mengidentifikasi keunggulan Spotify dalam penguasaan kosakata pada pembelajaran bahasa Inggris. Studi ini menggunakan sampling purposif untuk 32 responden yang mengisi kuesioner dikotomis pada tiga kategori (kebiasaan mendengarkan, penguasaan kosakata, dan penggunaan Spotify) serta sampling kenyamanan untuk 15 wawancara semi-terstruktur. Analisis data melibatkan kondensasi (P = F/N × 100%), tampilan tabel, triangulasi metodologis, dan validasi ahli untuk memastikan keandalan. Temuan ini mengkonfirmasi korelasi yang signifikan: 97% responden mendengarkan musik setiap hari (1-3 jam), 100% menggunakan fitur lirik Spotify untuk kata-kata yang tidak dikenal, dan 60% melaporkan peningkatan dalam pemahaman idiom, slang, akurasi pengucapan, dan kelancaran berbahasa secara keseluruhan, dengan mengacu pada artis seperti Taylor Swift dan Ariana Grande. Wawancara menyoroti manfaat seperti pembelajaran kata secara tidak sengaja, peningkatan mood, dan pengurangan kebosanan selama belajar, meskipun ada tantangan dengan pengucapan yang cepat. Spotify unggul dalam pembelajaran kosakata secara tidak sengaja di lingkungan EFL yang sibuk, melengkapi studi kuantitatif sebelumnya (misalnya, Balerina dkk., 2022; Lestari, 2020) dengan kedalaman kualitatif tentang paparan genre pop, integrasi lirik, strategi pengulangan, dan pencatatan. Rekomendasi meliputi pendidik mengintegrasikan playlist Spotify ke dalam kurikulum, siswa mengadopsinya untuk latihan autentik yang menyenangkan, dan penelitian masa depan mengeksplorasi efek jangka panjang lintas genre, platform, atau keterampilan terintegrasi. This mixed-methods correlational study investigated the relationship between second-semester students' (batch 2024, n=136) habits of listening to English pop songs via the Spotify music application and their vocabulary mastery in the English Language Education Program at Jenderal Soedirman University. The research addressed two objectives: (1) to determine the significant correlation between listening habits and vocabulary mastery through spotify music application, and (2) to identify Spotify's advantages for vocabulary acquisition in English language learning. The study employed purposive sampling for 32 respondents who completed dichotomous questionnaires across three categories (listening habits, vocabulary mastery, and Spotify usage) and convenience sampling for 15 semi-structured interviews. Data analysis involved condensation (P = F/N × 100%), tabular display, methodological triangulation, and expert validation for robustness. Findings confirmed a significant correlation: 97% of respondents listened daily (1-3 hours), 100% utilized Spotify's lyrics feature for unfamiliar words, and 60% reported improvements in idioms, slang comprehension, pronunciation accuracy, and overall fluency, drawing from artists like Taylor Swift and Ariana Grande. Interviews highlighted benefits such as incidental learning of words, enhanced mood, and reduced boredom during study, despite challenges with fast-paced pronunciation. Spotify excelled for incidental vocabulary learning in busy EFL contexts, complementing quantitative prior studies (e.g., Balerina et al., 2022; Lestari, 2020) with qualitative depth on pop genre exposure, lyrics integration, repetition strategies, and note-taking. Recommendations included educators integrating Spotify playlists into curricula, students adopting it for enjoyable authentic practice, and future research exploring longitudinal effects across genres, platforms, or integrated skills.
4786651263J1E019037A BEGINNING ENGLISH TEACHER’S EXPERIENCES IN CREATING A LESSON PLAN FOR TEACHING A PROCEDURE TEXT (A Narrative Inquiry on An EFL Teacher at SMA Negeri 1 Purwokerto in the Academic Year 2024/2025)
Perencanaan pembelajaran merupakan kegiatan wajib bagi guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Namun, kemampuan ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran membutuhkan beberapa proses. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengalaman seorang guru Bahasa Inggris pemula dalam membuat rencana pembelajaran. Masalah ini muncul karena guru tersebut menghadapi tantangan dalam perencanaan pembelajaran. Lebih jauh lagi, guru tersebut menerima sedikit pelatihan untuk membuat rencana pembelajaran selama studinya karena pandemi COVID-19. Menggunakan penelitian kualitatif dan pendekatan naratif, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman seorang guru Bahasa Inggris pemula dalam merancang rencana pembelajaran secara mendalam. Ia memulai karir mengajarnya di SMA Negeri 1 Purwokerto. Wawancara semi-terstruktur dan analisis dokumen digunakan untuk mengumpulkan data. Selain itu, analisis tematik digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan data dalam kaitannya dengan temuan yang ada. Dalam penelitian ini, beberapa temuan menunjukkan bahwa: 1) Seorang guru Bahasa Inggris pemula menerapkan pendekatan yang disebut Post-Method Pedagogy dalam melaksanakan proses perencanaan pembelajaran, yang terdiri dari persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran; 2) Seorang guru bahasa Inggris pemula menghadapi beberapa masalah seperti menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka, menyesuaikan gaya belajar di setiap kelas yang dinamis, dan beradaptasi dengan evaluasi pembelajaran dalam jumlah besar; 3) Seorang guru bahasa Inggris pemula memiliki caranya sendiri untuk mengatasi masalah-masalah ini seperti terlibat aktif dalam komunitas guru (MGMP), belajar mandiri melalui publikasi ELT, dan menerapkan teknologi untuk pembelajaran berkelanjutan dan evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu, temuan ini menggarisbawahi pentingnya kemampuan seorang guru bahasa Inggris pemula untuk beradaptasi, terus belajar secara mandiri, dan menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi untuk secara efektif mendukung pembelajaran di kelas.Lesson planning is a mandatory activity for teachers before conducting the learning process. However, this ability indicates that lesson planning requires several processes. Therefore, this study aimed to examine the experiences of a beginning English teacher in creating lesson plans. This problem arose because he encountered challenges in lesson planning. Furthermore, he received limited training in lesson planning during his studies due to the COVID-19 pandemic. Using qualitative research and a narrative approach, this study explored the lived experiences of a beginning English teacher in designing a lesson plan in depth. He began his early teaching career at SMA Negeri 1 Purwokerto. Semi-structured interviews and document analysis were used to collect data. In addition, thematic analysis was used to analyze and interpret the data in relation to existing findings. In this study, several findings indicated that: 1) A beginning English teacher applied an approach called Post-Method Pedagogy in carrying out the lesson planning process, consisting of lesson preparation, lesson execution, and lesson assessment; 2) A beginning English teacher encountered several problems such as adjusting learning objectives with Merdeka Curriculum, adjusting learning styles in each dynamic class and adapting to learning evaluations in large numbers; 3) A beginning English teacher had his own ways of overcoming these problems such as being actively involved in teacher communities (MGMP), independent learning on ELT publications and the application of technology for ongoing learning and learning evaluation. Therefore, this finding underscored the importance of a beginning English teacher's ability to adapt, continue learning independently, and adjust to various conditions to effectively support classroom learning.
4786751264I1C022043STUDI IN SILICO POTENSI GASTROPROTEKTIF
SENYAWA AKTIF JAHE (ZINGIBER OFFICINALE
ROSCOE) TERHADAP RESEPTOR HISTAMIN H2
Peptic Ulcer Disease (PUD) merupakan gangguan lambung yang
salah satu penyebabnya adalah penggunaan NSAID. Zat aktif pada tanaman jahe
(Zingiber officinale Roscoe) berupa 6-gingerol, 6-shogaol, dan zingerone dapat
digunakan sebagai pengobatan gangguan lambung karena memiliki efek
gastroprotektif. Sampai saat ini belum ada penelitian yang menyebutkan secara
molekuler bahwa jahe dapat berikatan dengan protein reseptor Histamin H2 (HRH2).
Perlakuan uji in silico ini diawali dengan mempersiapkan senyawa yang terkandung
dalam jahe, kemudian senyawa tersebut dicari yang berikatan dengan protein HRH2
dan lolos seleksi ADMET, senyawa jahe yang terpilih dilakukan uji Molecular
docking terhadap senyawa uji dan protein target HRH2 dengan memperhatikan
binding affinity, jenis ikatan, dan RMSD. Setelah didapatkan hasil uji molecular
docking, dilakukan uji molecular dynamics dengan menggunakan parameter RMSD
dan RMSF. Terdapat dua senyawa yang berikatan dengan protein HRH2 dan lolos
seleksi ADMET, yaitu 2-Acetoxy-1,8-cineole dan 2-(3-Methyl-2-butenyl)-3-
methylfuran. Kedua senyawa tersebut dilakukan uji molecular docking dan diketahui
bahwa senyawa 2-Acetoxy-1,8-cineole dan 2-(3-Methyl-2-butenyl)-3-methylfuran
berikatan dengan asam amino TYR250 dengan membentuk ikatan hydrogen bond.
Senyawa 2-Acetoxy-1,8-cineole memiliki binding affinity yang lebih baik dengan
nilai -6,4 kkal/mol dengan native ligand famotidine -6,5 kkal/mol. Senyawa 2-
Acetoxy-1,8-cineole dilakukan uji molecular dynamics. Hasilnya menyebutkan
bahwa hasil RMSD rata-rata 1,869 Å. Hasil RMSF menyebutkan bahwa asam amino
TYR250 memiliki fleksibilitas yang rendah yaitu 1,156 Å. Senyawa 2-Acetoxy-1,8-
cineole tidak berpotensi berikatan dengan reseptor histamin H2 (HRH2) karena
binding affinity yang tidak lebih baik native ligand dari senyawa uji. Namun, asam
amino dapat berikatan dengan senyawa tersebut lebih lama karena memiliki
fleksibilitas yang rendah
Peptic ulcer disease (PUD) is a gastric disorder, one of the causes of
which is the use of NSAIDs. The active compounds in ginger (Zingiber officinale
Roscoe), 6-gingerol, 6-shogaol, and zingerone, can be used to treat gastric disorders
due to their gastroprotective effects. To date, no molecular studies have demonstrated
that ginger can bind to the histamine H2 (HRH2) receptor protein. This in silico
studying process began by preparing the compounds found in ginger, then the
compounds are searched for which bind to the HRH2 protein and pass the ADMET
selection, the selected ginger compounds are subjected to Molecular docking tests
against the test compounds and the HRH2 target protein by paying attention to binding
affinity, bond type, and RMSD. After obtaining the results of the molecular docking
test, a molecular dynamics test is carried out using the RMSD and RMSF parameters.
There are two compounds that bind to the HRH2 protein and pass ADMET screening:
2-Acetoxy-1,8-cineole and 2-(3-Methyl-2-butenyl)-3-methylfuran. Both compounds
underwent molecular docking tests, and it was found that 2-Acetoxy-1,8-cineole and
2-(3-Methyl-2-butenyl)-3-methylfuran bind to the amino acid TYR250, forming
hydrogen bonds. 2-Acetoxy-1,8-cineole has better binding affinity with a value of -
6.4 kcal/mol compared to the native ligand famotidine at -6.5 kcal/mol. 2-Acetoxy1,8-cineole was subjected to molecular dynamics testing. The results indicate an
average RMSD of 3.706 Å. The RMSF results show that the amino acid TYR250 has
low flexibility, with a value of 1.156 Å. The compound 2-Acetoxy-1,8-cineole does
not have the potential to bind to the histamine H2 receptor (HRH2) because its binding
affinity is not better than that of the native ligand of the test compound. However,
amino acids can bind to the compound for a longer time because they have low
flexibility
4786851265C1I019036THE INFLUENCE OF GOOD CORPORATE GOVERNANCE AND TAX PLANNING ON THE VALUE OF COMPANIES IN THE FINANCIAL SECTOR LISTED ON THE IDX IN 2023

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN PERENCANAAN PAJAK TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DI SEKTOR KEUANGAN YANG TERDAFTAR DI IDX PADA TAHUN 2023
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) dan perencanaan pajak terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (IDX) pada tahun 2023. Mekanisme GCG diwakili oleh kepemilikan institusional, komisioner independen, dan komite audit, sedangkan perencanaan pajak diukur menggunakan Tingkat Pajak Efektif (ETP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan sektor keuangan. Populasi terdiri dari 104 perusahaan keuangan yang terdaftar di IDX, dengan 88 perusahaan dipilih sebagai sampel melalui purposive sampling. Analisis regresi linier berganda diterapkan, bersama dengan uji asumsi klasik termasuk uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komisioner independen memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, menunjukkan pentingnya pengawasan independen dalam mengurangi konflik keagenan dan meningkatkan nilai perusahaan. Kepemilikan institusional memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, menunjukkan bahwa investor institusional mungkin belum memainkan peran pengawasan yang optimal. Komite audit ditemukan memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, yang mungkin mencerminkan inefisiensi dalam implementasi atau fungsi pengawasannya. Sementara itu, perencanaan pajak memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, menunjukkan bahwa meskipun efisiensi pajak dapat berkontribusi pada nilai perusahaan, dampaknya tidak kuat secara statistik. Temuan ini mendukung teori keagenan dengan menekankan peran tata kelola perusahaan yang efektif dalam meningkatkan nilai perusahaan. Secara praktis, studi ini memberikan wawasan bagi manajemen perusahaan, investor, dan regulator, menyoroti bahwa nilai perusahaan di sektor keuangan lebih kuat dipengaruhi oleh kualitas praktik tata kelola perusahaan daripada strategi perencanaan pajak.This study aims to examine the influence of Good Corporate Governance (GCG) and tax planning on firm value in financial sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2023. The GCG mechanism is proxied by institutional ownership, independent commissioners, and audit committees, while tax planning is measured using the Effective Tax Rate (ETR). This research employs a quantitative approach using secondary data obtained from the annual financial reports of financial sector companies. The population consists of 104 financial companies listed on the IDX, with 88 companies selected as samples through purposive sampling. Multiple linear regression analysis is applied, along with classical assumption tests including normality, multicollinearity, heteroscedasticity, and autocorrelation tests. The results show that independent commissioners have a positive and significant effect on firm value, indicating the importance of independent oversight in reducing agency conflicts and enhancing company value. Institutional ownership has a positive but insignificant effect on firm value, suggesting that institutional investors may not yet play an optimal monitoring role. The audit committee is found to have a negative effect on firm value, which may reflect inefficiencies in its implementation or oversight function. Meanwhile, tax planning has a positive but insignificant effect on firm value, indicating that although tax efficiency may contribute to firm value, its impact is not statistically strong. The findings support agency theory by emphasizing the role of effective corporate governance in enhancing firm value. Practically, this study provides insights for company management, investors, and regulators, highlighting that firm value in the financial sector is more strongly influenced by the quality of corporate governance practices than by tax planning strategies.
4786951463A1D022197POTENSI EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) SEBAGAI MOLUSKISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA KEONG MAS (Pomacea canaliculata L.) PADA TANAMAN PADIKeong mas (Pomacea canaliculata L.) adalah salah satu hama utama tanaman padi yang pengendaliannya masih bergantung pada pestisida kimia. Salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan adalah penggunaan pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun pepaya dapat menimbulkan mortalitas pada keong mas, memperoleh konsentrasi efektif ekstrak daun pepaya, mengetahui kemampuan ekstrak daun pepaya dalam menekan intensitas serangan hama keong mas dan mengetahui apakah ekstrak daun pepaya menyebabkan fitotoksisitas pada tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan September hingga November 2025. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari empat tahap pengujian yaitu uji pendahuluan, uji efektivitas, uji intensitas serangan dan uji fitotoksisitas. Penentuan Lethal Concentration (LC) dilakukan menggunakan analisis probit, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA dan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya berpotensi dalam mengendalikan hama keong mas. Ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 10% dapat menimbulkan mortalitas keong mas sebesar 90% pada 36 jam setelah aplikasi (JSA), sedangkan LC35 (4,365%) efektif menekan intensitas serangan hingga 97,5%. Selain itu, ekstrak daun pepaya tidak menimbulkan fitotoksisitas pada tanaman padi. Golden apple snail (Pomacea canaliculata L.) is one of the main pests of rice, which is still largely controlled using chemical pesticides. An environmentally friendly alternative is the use of botanical pesticides. This study aims to examine the effect of papaya leaf extract on golden apple snail mortality, to determine the effective concentration, to assess its ability to suppress damage intensity of golden apple snails, and to observe potential phytotoxic effects on rice plants. The study was conducted at the Greenhouse of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from September to November 2025. The study used a Randomized Block Design (RBD) consisting of four stages of testing, namely preliminary testing, effectiveness testing, damage intensity testing, and phytotoxicity testing. The Lethal Concentration (LC) was determined using probit analysis, while data analysis was performed using ANOVA and DMRT. The results showed that papaya leaf extract has the potential to control golden apple snails. Papaya leaf extract at a concentration of 10% caused 90% mortality of golden apple snails 36 hours after application (HAA), while the LC35 (4.365%) is effective in reducing damage intensity by up to 97.5%. Furthermore, papaya leaf extract did not cause phytotoxicity in rice plants.
4787051266F1F021075Dilema Non-Intervensi dan Ketidakefektifan ASEAN Senior Official on Drugs Matters (ASOD) dalam Menanggulangi Narkoba sejak Kudeta Junta Militer (2021-2024) MyanmarPenelitian ini menganalisis efektivitas prinsip non-intervensi sebagai norma ASEAN terhadap kinerja ASEAN Senior Officials on Drug Matters (ASOD) dalam menanggulangi permasalahan narkoba di Myanmar pasca-kudeta militer periode 2021-2024. Masalah yang diangkat adalah bagaimana norma tersebut menghambat penanganan narkoba di tengah lonjakan produksi narkoba yang signifikan. Menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis konten dan dokumen, penelitian ini mengkaji data dari laporan UNODC, ASEAN, pemerintah Myanmar, dan independen. Melalui teori Liberalisme Institusionalisme (LI) dan Foreign Policy Analysis (FPA), ditemukan adanya dilema institusional, dimana prinsip non-intervensi memberikan perlindungan bagi junta militer (Tatmadaw) dari pengawasan eksternal yang mendalam, sementara Tatmadaw secara rasional memanfaatkan bisnis narkoba (crime-conflict nexus) sebagai strategi bertahan hidup finansial untuk mensponsori kegiatannya. Penelitian menyimpulkan bahwa prinsip non-intervensi menetralisir efektivitas ASOD, sehingga mekanisme tersebut hanya mampu mengobati gejala sosial tanpa menyentuh akar permasalahan politik di Myanmar.This study analyzes how the ASEAN norm of non-intervention impacts the efficacy of the ASEAN Senior Officials on Drug Matters (ASOD) in addressing Myanmar’s drug crisis during the post-coup period (2021–2024). It investigates how this norm impedes drug control efforts despite a significant surge in production. Using qualitative methods with content and document analysis techniques, this study examines data from UNODC, ASEAN, Myanmar government, and independent reports. Through the lenses of Institutional Liberalism (LI) and Foreign Policy Analysis (FPA), the study identifies an institutional dilemma: the principle of non-intervention protects the military junta (Tatmadaw) from external scrutiny, while the Tatmadaw rationally exploits the drug business (crime-conflict nexus) as a survival strategy to finance its operations. The study concludes that the principle of non-intervention undermines the effectiveness of ASOD, rendering the mechanism capable only of treating symptoms rather than addressing the root political causes in Myanmar.
4787151267I1C022110Aktivitas Antibakteri dan Antibiofilm Jamur Endofit Penicillium citrinum K6 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureusStaphylococcus aureus merupakan agen penyebab infeksi yang sulit ditangani akibat tingginya resistensi terhadap antibiotik. Kemampuannya dalam membentuk biofilm berperan hingga 80% dalam infeksi kronis dan berulang. WHO menetapkan S. aureus sebagai patogen prioritas yang memerlukan pengembangan antibiotik baru. Berbagai pendekatan telah dikembangkan, termasuk eksplorasi senyawa bioaktif dari mikroorganisme laut. Salah satu kandidat potensial yaitu jamur endofit Penicillium citrinum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah jamur endofit P. Citrinum K6 simbion nudibranchia memiliki aktivitas antibakteri dan antibiofilm terhadap S. aureus. Jamur diinokulasi pada media PDA hingga diperoleh kultur murni, kemudian di fermentasi pada media beras selama 14 hari, dilanjutkan dengan maserasi menggunakan etil asetat selama 24 jam. Ekstrak yang diperoleh diuji aktivitas antibakteri dan antibiofilmnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat P. Citrinum K6 memiliki aktivitas antibakteri lemah pada konesntrasi 1% dengan zona hambat sebesar 1,59±0,99 mm. Akan tetapi dengan konsentrasi yang sama mampu menghambat pertumbuhan biofilm lebih dari 50%.Staphylococcus aureus is a causative agent of infections that are difficult to manage due to its high resistance to antibiotics. Its ability to form biofilms contributes up to 80% to chronic and recurrent infections. The World Health Organization has designated S. aureus as a priority pathogen requiring the development of new antibiotics. Various approaches have been explored, including the investigation of bioactive compounds from marine microorganisms. One potential candidate is the endophytic fungus Penicillium citrinum. This study aimed to determine whether the endophytic fungus P. citrinum K6, a symbiont of nudibranch, exhibits antibacterial and antibiofilm activity against S. aureus. The fungus was inoculated on PDA medium to obtain a pure culture, then fermented on rice medium for 14 days, followed by maceration using ethyl acetate for 24 hours. The resulting extract was tested for antibacterial and antibiofilm activity. The findings revealed that the ethyl acetate extract of P. citrinum K6 exhibited weak antibacterial activity at a concentration of 1%, with an inhibition zone of 1.59 ± 0.99 mm. However, at the same concentration, it was able to inhibit biofilm growth by more than 50%.
4787251268C1B021118Peran Profitabilitas dalam hubungan antara Pengungkapan ESG dan Leverage terhadap Financial distress dengan GCG sebagai Variabel ModerasiPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran profitabilitas dalam hubungan antara pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG) dan leverage terhadap financial distress dengan Good Corporate Governance (GCG) sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2021–2024. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab kesenjangan hasil studi sebelumnya serta memperdalam pemahaman mengenai faktor-faktor keuangan dan non keuangan yang dapat memengaruhi tingkat financial distress perusahaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui perangkat lunak SmartPLS 3.0. Sampel ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan sumber data sekunder dari laporan tahunan dan keberlanjutan perusahaan sektor energi di BEI. Variabel FID diukur menggunakan model Altman Z-score modifikasi, pengungkapan ESG mengacu pada indikator Global Reporting Initiative (GRI), leverage diukur dengan Debt to Asset Ratio (DAR), profitabilitas menggunakan Return on Assets (ROA), dan GCG diproksikan melalui proporsi dewan komisaris independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan ESG berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap financial distress, namun berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Sementara itu, leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap financial distress dan profitabilitas, serta profitabilitas terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap financial distress. Temuan lainnya menunjukkan bahwa profitabilitas tidak memediasi pengaruh pengungkapan ESG terhadap financial distress, namun memediasi hubungan antara leverage dan financial distress. Selain itu, Good Corporate Governance tidak memoderasi hubungan leverage terhadap financial distress.This study aims to analyze the role of profitability in the relationship between Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure and leverage on financial distress, with Good Corporate Governance (GCG) as a moderating variable in energy sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2021–2024 period. This study was conducted to address gaps in previous studies and deepen understanding of financial and non-financial factors that can influence a company's level of financial distress. The research method used is a quantitative approach with Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) analysis using SmartPLS 3.0 software. The sample was determined using a purposive sampling technique with secondary data sources from annual and sustainability reports of energy sector companies on the IDX. The FID variable is measured using a modified Altman Z-score model, ESG disclosure refers to the Global Reporting Initiative (GRI) indicators, leverage is measured by the Debt to Asset Ratio (DAR), profitability uses Return on Assets (ROA), and GCG is proxied by the proportion of independent commissioners. The results show that ESG disclosure has a positive but insignificant effect on financial distress, but a positive and significant effect on profitability. Meanwhile, leverage has a significant negative effect on both financial distress and profitability, and profitability has a significant positive effect on financial distress. Other findings indicate that profitability does not mediate the effect of ESG disclosure on financial distress, but it does mediate the relationship between leverage and financial distress. Furthermore, good corporate governance does not moderate the relationship between leverage and financial distress.
4787351271I1C021087PENGARUH METODE DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP RENDEMEN DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANII)Penelitian ini mengevaluasi efektivitas metode maserasi dan sokletasi serta variasi waktu ekstraksi (2, 4, dan 6 jam) terhadap rendemen dan aktivitas antioksidan kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil menunjukkan bahwa maserasi selama 6 jam menghasilkan rendemen tertinggi (22,083%) dan inhibisi antioksidan maksimal (48,927%). Analisis Two-Way ANOVA mengonfirmasi pengaruh signifikan metode (sig<0,001) dan waktu (sig=0,011) terhadap rendemen tanpa interaksi antarvariabel. Selain itu, terdapat korelasi positif yang kuat (R=0,903) antara perolehan rendemen dengan aktivitas antioksidan.This study evaluated the effects of maceration and Soxhlet extraction methods, as well as extraction time (2, 4, and 6 hours), on the yield and antioxidant activity of Cinnamomum burmannii bark using 96% ethanol. The results showed that 6-hour maceration produced the highest yield (22.083%) and maximum antioxidant inhibition (48.927%). Two-Way ANOVA confirmed significant effects of the extraction method (sig<0.001) and time (sig=0.011) on yield, with no interaction between variables. Furthermore, a strong positive correlation (R=0.903) was observed between extract yield and antioxidant activity.
4787451471C2D023022PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN TERHADAP KINERJA ORGANISASI YANG DIMEDIASI INOVASI PADA RUMAH SAKIT DI JAWA TENGAHPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) terhadap Kinerja Organisasi dengan Inovasi sebagai variabel mediasi pada rumah sakit di Jawa Tengah. Penelitian ini berlandaskan pada kerangka teori Resource Based View (RBV) yang menekankan bahwa keunggulan kinerja organisasi dapat dicapai melalui pengelolaan sumber daya internal yang bernilai strategis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan alat analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan aplikasi SmartPLS 3, serta pengukuran kinerja organisasi melalui perspektif Balanced Scorecard.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sistem Pengendalian Manajemen berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja organisasi rumah sakit. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan SPM yang terstruktur melalui perencanaan, pengukuran, pengawasan, dan evaluasi kinerja mampu meningkatkan efektivitas proses bisnis, efisiensi operasional, kualitas layanan, kinerja keuangan, serta kepuasan pasien. SPM tidak hanya berfungsi sebagai alat pengendalian administratif, tetapi juga sebagai kapabilitas strategis yang mendukung pencapaian tujuan organisasi secara berkelanjutan.
Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa Sistem Pengendalian Manajemen berpengaruh positif dan signifikan terhadap inovasi. Melalui penerapan Levers of Control, khususnya diagnostic control dan interactive control, rumah sakit mampu mendorong budaya pembelajaran organisasi, meningkatkan keterlibatan lintas unit, serta menciptakan ruang bagi pengembangan ide dan solusi baru baik dalam aspek klinis maupun administratif. Hal ini menegaskan bahwa SPM dapat berperan sebagai pendorong kapabilitas inovatif organisasi.
Penelitian ini juga menemukan bahwa inovasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja organisasi. Kemampuan rumah sakit dalam mengembangkan dan mengimplementasikan inovasi layanan, proses, teknologi, serta tata kelola terbukti berkontribusi terhadap peningkatan mutu layanan, percepatan proses kerja, pengurangan biaya operasional, dan peningkatan kepuasan pemangku kepentingan. Inovasi menjadi elemen strategis yang memperkuat daya saing dan responsivitas rumah sakit terhadap dinamika lingkungan kesehatan yang semakin kompleks.
Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi memediasi secara signifikan hubungan antara Sistem Pengendalian Manajemen dan kinerja organisasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian pengaruh positif SPM terhadap kinerja terjadi melalui penciptaan kondisi organisasi yang mendukung inovasi. Dengan demikian, hubungan antara SPM dan kinerja bersifat saling melengkapi (complementary), di mana inovasi berperan sebagai mekanisme penguat dampak SPM terhadap kinerja organisasi.
Dari sisi implikasi praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi kebijakan bagi manajemen rumah sakit untuk memperkuat SPM melalui perencanaan strategis berbasis kinerja, penguatan sistem pengukuran dan evaluasi, serta integrasi Balanced Scorecard dalam pengelolaan organisasi. Selain itu, rumah sakit perlu mengembangkan kebijakan yang mendorong inovasi berkelanjutan melalui pembentukan unit inovasi, mekanisme pengajuan ide, pelatihan, serta percepatan digitalisasi layanan kesehatan. Kebijakan pengendalian dan inovasi perlu diintegrasikan secara seimbang agar mekanisme kontrol tidak menghambat kreativitas, melainkan memfasilitasi perbaikan berkelanjutan.
Namun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain tingkat response rate yang relatif rendah, keterbatasan wilayah penelitian di Jawa Tengah, penggunaan data berbasis persepsi, desain penelitian cross-sectional, serta penggunaan satu variabel mediasi. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan wilayah, meningkatkan metode pengumpulan data, menggunakan data objektif, menerapkan desain longitudinal, serta mengembangkan model penelitian dengan variabel tambahan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi antara Sistem Pengendalian Manajemen yang efektif dan kapabilitas inovasi yang kuat merupakan fondasi utama dalam mencapai kinerja organisasi rumah sakit yang unggul. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan RBV serta kontribusi praktis bagi pengelolaan rumah sakit yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan publik
Management Control Systems (MCS) on Organizational Performance with Innovation as a mediating variable in hospitals in Central Java. This study is based on the Resource-Based View (RBV) theoretical framework, which emphasizes that superior organizational performance can be achieved through strategic management of internal resources. The research method used was a quantitative approach using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) analysis using the SmartPLS 3 application, and organizational performance was measured through a Balanced Scorecard perspective.
The results showed that the Management Control System had a positive and significant impact on hospital organizational performance. This finding indicates that the implementation of a structured MCS through planning, measurement, monitoring, and performance evaluation can improve business process effectiveness, operational efficiency, service quality, financial performance, and patient satisfaction. MCS serves not only as an administrative control tool but also as a strategic capability that supports the sustainable achievement of organizational goals.
Furthermore, this study demonstrated that the Management Control System has a positive and significant impact on innovation. Through the implementation of Levers of Control, particularly diagnostic control and interactive control, hospitals are able to foster a culture of organizational learning, increase cross-unit engagement, and create space for the development of new ideas and solutions in both clinical and administrative aspects. This confirms that MCS can act as a driver of organizational innovative capabilities.
This study also found that innovation has a positive and significant impact on organizational performance. The hospital's ability to develop and implement innovations in services, processes, technology, and governance has been shown to contribute to improved service quality, accelerated work processes, reduced operational costs, and increased stakeholder satisfaction. Innovation is a strategic element that strengthens the hospital's competitiveness and responsiveness to the increasingly complex dynamics of the healthcare environment.
Furthermore, the study results show that innovation significantly mediates the relationship between Management Control Systems and organizational performance. This finding indicates that part of the positive influence of MCS on performance occurs through the creation of organizational conditions that support innovation. Thus, the relationship between MCS and performance is complementary, with innovation acting as a reinforcing mechanism for the impact of MCS on organizational performance.
In terms of practical implications, this study provides policy recommendations for hospital management to strengthen MCS through performance-based strategic planning, strengthening measurement and evaluation systems, and integrating the Balanced Scorecard into organizational management. Furthermore, hospitals need to develop policies that encourage continuous innovation through the establishment of innovation units, idea submission mechanisms, training, and accelerating the digitalization of healthcare services. Control and innovation policies need to be balanced so that control mechanisms do not stifle creativity but instead facilitate continuous improvement.
However, this study has several limitations, including a relatively low response rate, the limited study area in Central Java, the use of perception-based data, a cross-sectional study design, and the use of a single mediating variable. Therefore, future research is recommended to expand the scope, improve data collection methods, use objective data, implement a longitudinal design, and develop research models with additional variables.
Overall, this study concludes that the combination of an effective Management Control System and strong innovation capabilities is the main foundation for achieving superior hospital organizational performance. These findings provide theoretical contributions to the development of the RBV and practical contributions to adaptive, innovative hospital management, oriented toward improving the quality of public services.
4787551475H1A024087
4787651269C1A022041ENABLIND (ENABLE THE BLIND): MEREVOLUSI KESEMPATAN KERJA YANG INKLUSIF BAGI PARA PENYANDANG DISABILITAS
(Perolehan Kejuaraan pada Kegiatan Internasional Youth Business Competition 2024)
Kompetisi ilmiah berperan strategis dalam mendorong inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Keikutsertaan penulis dalam International Youth Business Competition (IYBC) 2024 menjadi wujud kontribusi akademik melalui pengembangan gagasan berjudul “Enablind (Enable the Blind): Revolutionizing Inclusive Employment Opportunities for Individuals with Disability”. Inovasi ini berangkat dari permasalahan tingginya angka pengangguran di kalangan penyandang disabilitas penglihatan yang masih menghadapi keterbatasan akses informasi dan teknologi kerja. Berdasarkan data WHO, sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan, dengan kerugian produktivitas global mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun akibat minimnya intervensi.

Enablind dirancang sebagai platform digital inklusif yang memfasilitasi akses informasi lowongan kerja, layanan pendampingan, serta fitur aksesibilitas seperti text-to-speech dan antarmuka ramah pembaca layar. Dengan menggunakan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) dan Technology Readiness and Acceptance Model (TRAM), inovasi ini berupaya meningkatkan penerimaan, kesiapan teknologi, dan kepercayaan diri penyandang disabilitas dalam memanfaatkan teknologi digital.

Melalui implementasi prinsip No One Left Behind dalam Sustainable Development Goals (SDGs), Enablind diharapkan dapat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 10 (Berkurangnya Ketimpangan), dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa inovasi ini dinilai relevan dan aplikatif, sehingga berhasil meraih Gold Medal serta IYSA Special Award dalam ajang IYBC 2024.
Scientific competitions play a strategic role in encouraging technological innovation and community empowerment. The author’s participation in the International Youth Business Competition (IYBC) 2024 represents an academic contribution through the development of an innovation titled Enablind (Enable the Blind): Revolutionizing Inclusive Employment Opportunities for Individuals with Visual Disabilities. This idea emerges from the persistent issue of high unemployment rates among persons with visual impairments, who face limited access to job information and digital recruitment platforms. According to WHO, at least 2.2 billion people worldwide experience visual impairment, resulting in hundreds of billions of dollars in global productivity losses annually due to insufficient intervention.

Enablind is designed as an inclusive digital platform that provides access to job vacancies, mentoring services, and accessibility features such as text-tospeech and screen-reader-friendly interfaces. By adopting the Technology Acceptance Model (TAM) and the Technology Readiness and Acceptance Model (TRAM), this innovation aims to enhance users’ technological readiness, confidence, and acceptance in using digital platforms.

Aligned with the No One Left Behind principle of the Sustainable Development Goals (SDGs), Enablind supports SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 10 (Reduced Inequalities), and SDG 4 (Quality Education). The results show that this innovation is considered relevant, feasible, and socially impactful, leading the team to win a Gold Medal and an IYSA Special Award at IYBC 2024.
4787751270I1B022059PENERAPAN PERILAKU CERDIK PADA REMAJA DENGAN RIWAYAT KELUARGA DIABETES MELITUS
DI KECAMATAN PURWOKERTO BARAT

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) terus meningkat pada kelompok remaja, terutama pada mereka yang memiliki riwayat keluarga. Penerapan perilaku pencegahan melalui program CERDIK sangat penting, namun tingkat penerapannya masih belum optimal. CERDIK adalah salah satu upaya pencegahan PTM yang telah disusun oleh pemerintah Indonesia, diantaranya Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres (CERDIK).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerapan perilaku CERDIK pada remaja dengan riwayat keluarga DM di Kecamatan Purwokerto Barat.

Metodologi: Penelitian deskriptif kuantitatif dilakukan pada 60 remaja usia 14–19 tahun di Kelurahan Bantarsoka dan Rejasari. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner CERDIK yang diadaptasi dari Kemenkes (2017) dan Pambudi (2019), kemudian dianalisis secara univariat.

Hasil: Sebagian besar responden berusia 17 tahun dengan distribusi jenis kelamin sama yaitu 50% laki-laki dan 50% perempuan. Sebanyak 73,7% tidak mengetahui bahwa riwayat keluarga meningkatkan risiko DM. Skor CERDIK berada pada rentang 2–11 dengan median 6,5 menunjukkan tingkat penerapan perilaku pencegahan kategori sedang.

Kesimpulan: Penerapan perilaku CERDIK pada remaja dengan riwayat keluarga DM masih berada pada tingkat sedang, terutama pada aspek pemeriksaan kesehatan, aktivitas fisik, serta konsumsi garam dan lemak. Edukasi kesehatan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran pencegahan DM sejak dini.
Background: The prevalence of Diabetes Mellitus (DM) among adolescents has continued to increase, particularly among those with a family history of the disease. Preventive behaviors play a crucial role in reducing the risk of DM, one of which is promoted through the CERDIK program. CERDIK is a national initiative for the prevention of non-communicable diseases (NCDs) developed by the Indonesian government, encompassing regular health check-ups, avoidance of cigarette smoke, regular physical activity, a healthy and balanced diet, adequate rest, and stress management. However, the implementation of these preventive behaviors among adolescents remains suboptimal. This study aims to describe the implementation of CERDIK preventive behaviors among adolescents with a family history of DM in West Purwokerto District.
Methodology: This descriptive quantitative study was conducted on 60 adolescents aged 14–19 years in Bantarsoka and Rejasari Villages. Data were collected using the CERDIK questionnaire adapted from the Ministry of Health (2017) and Pambudi (2019), and analyzed using univariate methods.
Results: Most respondents were 17 years old, with an equal gender distribution of 50% male and 50% female. A total of 73.7% of respondents were unaware that a family history increases the risk of diabetes mellitus. The CERDIK score ranged from 2 to 11, with a median of 6.5, indicating a moderate level of preventive behavior implementation.
Conclusion: The implementation of CERDIK behaviors among adolescents with a family history of DM remains at a moderate level, particularly in the aspects of health check-ups, physical activity, and regulation of salt and fat intake. Continuous health education is needed to enhance adolescents’ awareness of early DM prevention.
4787851200I1B022050PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN FERMENTASI BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) DENGAN YOGHURT TERHADAP KADAR HIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus)

PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN FERMENTASI BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) DENGAN YOGHURT TERHADAP KADAR
HIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus)
Aisyah Farikha Azmi, Saryono, Hasby Pri Choiruna

Latar Belakang: Dislipidemia dengan kadar HDL yang rendah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Biji rambutan (Nephelium lappaceum L.) yang difermentasi dengan yoghurt mengandung senyawaa bioaktif yang berpotensi meningkatkan kadar HDL.
Metodologi: Penelitian ini merupakan true experimental dengan rancangan pre-post-test with control group pada enam kelompok tikus Wistar jantan, terdiri dari kontrol sehat, kontrol negative, dan empat kelompok perlakuan dengan fermentasi biji rambutan selama 0, 3, 5 dan 7 hari. Tikus diinduksi HFD dan PTU selama 14 hari sebelum perlakuan. Kadar HDL diukur menggunakan spektrofotonometer UV-Vis, dan uji fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder

Hasil Penelitian: Seluruh kelompok perlakuan mengalami peningkatan HDL dengan nilai terbesar pada fermentasi 7 hari (21,5 mg.dL), diikuti fermentasi 3 hari (17,5 mg/dL), 0 hari (14,5 mg/dL), dan 5 hari (11,6 mg/dL). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok (p
= 0,019). Flavonoid, tanin-polifenol, dan alkaloid terdeteksi pada seluruh fermentasi.
Kesimpulan: Seduhan biji rambutan yang difermentasi dengan yoghurt efektif meningkatkan kadar HDL pada tikus Wistar yang diinduksi HFD dan PTU, dengan efektivitas tertinggi pada fermentasi 7 hari.

Kata kunci: Biji rambutan, Fermentasi, Yoghurt, HDL, Tikus Wistar

THE EFFECT OF FERMENTED RAMBUTAN SEED (Nephelium lappaceum L.) INFUSION WITH YOGURT ON HIGH DENSITY LIPOPROTEIN LEVELS IN WISTAR RATS (Rattus norvegicus)

Aisyah Farikha Azmi, Saryono, Hasby Pri Choiruna
Background: Dyslipidemia with low levels of HDL increases the risk of cardiovascular disease. Rambutan seed (Nephelium lappaceum L.) which fermented with yoghurt contain bioactive compounds that potentially increase HDL levels.

Method: This study was true experimental research with a pre-pro test towards control group involving six groups of male Wistar rats, consisting of a healthy control, a negative control, and four treatment groups with rambutan seed fermentation for 0, 3, and 7 days. The rats were induced with HFD and PTU for 14 days prior to treatment. HDL levels were measured using a UV-Vis spectrophometer, and phytochemical tests were conducted to identify secondary metabolites.
Result: All of the treatment groups experienced an increase in HDL, with the highest value observed in the 7-day fermentation (21.5 mg.Dl), followed by the 3-day fermentation groups (17.5 mg.dl), and 5-day (11.6 mg/dL). The Kruskal-Wallis test showed significant differences between groups (p = 0.019). Flavonoid, tannin-polyphenols, and alkaloids were detected in all fermentation.

Conclusion: The fermented rambutan seed extract with yogurt effectively increased HDL levels in Wistar rats which induced with HFD and PTU, with the highest effectiveness observed in 7-day fermentation.
Keywords: Fermentation, HDL, Rambutan seed, Wistar Rats, Yoghurt,
4787951272J1C019039Hubungan Kriminalitas Dan Afeksi Pada Karakter Kenji Yamamoto dalam Film Yakuza To Kazoku : Psikososial Erik EriksonPenelitian ini mengkaji hubungan antara kriminalitas dan afeksi pada karakter Kenji Yamamoto dalam film Yakuza to Kazoku yang disutradarai oleh Michihito Fujii. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori 8 tahap perkembangan psikososial Erik Erikson. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kriminalitas dan afeksi pada karakter Kenji Yamamoto. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kriminalitas dan afeksi pada karakter Kenji Yamamoto merupakan dua sisi naluri manusia yang berdampingan. Kenji Yamamoto melakukan tindakan kriminal karena keberhasilan mencapai identitasnya pada tahap perkembangan psikososial ke 5, afeksi dalam diri Kenji Yamamoto terbentuk mulai pada tahap perkembangan psikososial ke 6 yang menghasilkan nilai positif cinta, dan berlanjut ke tahap perkembangan psikososial ke 7 yang membuatnya merasakan kebahagiaan mempunyai keluarga biologis dan merasa berguna. Kesimpulan penelitian Kenji Yamamoto sebenarnya bukanlah seseorang yang benar-benar jahat, melainkan ia hanya membutuhkan orang-orang yang dapat menjadi keluarganya.

This study examines the relationship between criminality and affection in the character of Kenji Yamamoto in the film Yakuza to Kazoku, directed by Michihito Fujii. This study uses a qualitative descriptive research method with an approach based on Erik Erikson's 8 stages of psychosocial development theory. This study aims to determine the relationship between criminality and affection in the character of Kenji Yamamoto. Data collection techniques used observation and note-taking. The results of the study show that the relationship between criminality and affection in the character of Kenji Yamamoto are two sides of human instinct that coexist. Kenji Yamamoto commits crimes because he has successfully achieved his identity in the fifth stage of psychosocial development. The affection within Kenji Yamamoto began to form in the sixth stage of psychosocial development, which produced positive values of love, and continued into the seventh stage of psychosocial development, which made him feel happy to have a biological family and feel useful. The conclusion of the research on Kenji Yamamoto is that he is not actually a truly evil person, but rather he simply needs people who can become his family.

4788051274L1A021015Hubungan Kerapatan Mangrove dan Parameter Fisika Kimia Perairan terhadap Struktur Komunitas Gastropoda di Ekosistem Pesisir, Muara Sungai Pemali, Kabupaten BrebesMuara Sungai Pemali, yang terletak di Desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes,
Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu daerah yang memiliki ekosistem
mangrove. Namun, ekosistem tersebut mengalami tekanan akibat alih fungsi
lahan menjadi tambak bandeng dan udang. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan kerapatan vegetasi mangrove dengan struktur
komunitas gastropoda. Pengambilan data dilakukan di musim kemarau pada
bulan Agustus 2025. Metode penelitian yang digunakan pada peneilitian ini
adalah metode survei dengan pengamatan langsung dan metode analisis data
statistik. Analisis data statistik menggunakan Principal Component Analysis (PCA).
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan dua spesies mangrove, yaitu Rhizopora
mucronata dan Avicennia marina, dengan kisaran kerapatan 1.522 – 1.789 ind/ha.
Berdasarkan hasil pengamatan struktur komunitas gastropoda di Hutan
Mangrove Muara Sungai Pemali ditemukan 10 spesies dari 5 Famili, yaitu Famili
Littorinidae, Ellobiidae, Cerithium, Potamididae, dan Neritidae. Kondisi fisika
dan kimia perairan pada Muara Sungai Pemali masih mendukung kelangsungan
hidup gastropoda karena memiliki nilai yang sesuai dengan baku mutu kualitas
air. Hubungan kerapatan mangrove dan parameter fisika kimia perairan
terhadap struktur komunitas gastropoda menunjukkan bahwa variabilitas
kondisi lingkungan sangat menentukan struktur dan stabilitas komunitas biota.
Faktor-faktor seperti salinitas, DO, suhu, serta pH berperan sebagai
pengendali utama kondisi struktur komunitas gastropoda di ekosistem
mangrove.
Pemali River Estuary, located in Kaliwlingi Village, Brebes Regency, Central Java
Province, is one of the areas with a mangrove ecosystem. However, this
ecosystem is under pressure due to land conversion into milkfish and shrimp
ponds. The purpose of this study was to determine the relationship between
mangrove vegetation density and gastropod community structure. Data
collection was carried out in the dry season in August 2025. The research method
used in this study was a survey method with direct observation and statistical
data analysis methods. Statistical data analysis used Principal Component
Analysis (PCA). Based on the results of the study, two mangrove species were
found, namely Rhizopora mucronata and Avicennia marina, with a density range of
1,522 - 1,789 ind / ha. Based on the results of observations of the gastropod
community structure in the Pemali River Estuary Mangrove Forest, 10 species
from 5 Families were found, namely the Littorinidae, Ellobiidae, Cerithium,
Potamididae, and Neritidae Families. The physical and chemical conditions of
the waters in the Pemali River Estuary still support the survival of gastropods, as
they meet water quality standards. The relationship between mangrove density
and water physicochemical parameters and gastropod community structure
indicates that environmental variability significantly determines the structure
and stability of the biota community. Factors such as salinity, dissolved oxygen
(DO), temperature, and pH plays a role as the main controller of the condition of
the gastropod community structure in the mangrove ecosystem.
Keywords: Mangrove, Gastropod Community Structure, Water Parameters, PCA