Artikelilmiahs

Menampilkan 47.881-47.900 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4788151278H1D022064SISTEM PAKAR REKOMENDASI OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER-SHAFER THEORY UNTUK MENDUKUNG GERAKAN MASYARAKAT CERDAS MENGGUNAKAN OBATPenggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas yang tidak sesuai dengan gejala dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat, sehingga diperlukan suatu sistem yang dapat membantu pemilihan obat secara tepat sebagai upaya mendukung Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat). Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem pakar rekomendasi obat bebas dan obat bebas terbatas berbasis website menggunakan metode Dempster–Shafer Theory (DST) berdasarkan gejala ringan yang dialami pengguna. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah Rapid Application Development (RAD), yang meliputi tahapan perancangan kebutuhan, desain sistem, pengembangan sistem, dan implementasi sistem. Pengujian sistem dilakukan menggunakan metode blackbox testing untuk menguji fungsionalitas sistem serta confusion matrix untuk mengukur tingkat akurasi sistem. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem pakar mampu memberikan rekomendasi obat yang sesuai dengan rekomendasi pakar pada 29 dari 30 data uji, sehingga diperoleh tingkat akurasi sebesar 96,67%. Kontribusi ilmiah dari penelitian ini terletak pada penerapan metode Dempster–Shafer dalam mengombinasikan beberapa gejala yang saling menguatkan sebagai evidensi untuk menghasilkan rekomendasi obat, sehingga tingkat keyakinan terhadap hasil rekomendasi menjadi lebih terukur. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas dan ketepatan data serta bobot kepercayaan yang diberikan pakar sangat berpengaruh terhadap akurasi hasil rekomendasi sistem. Dengan demikian, sistem pakar yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu konsultasi awal bagi masyarakat dalam mendukung penggunaan obat yang tepat dan rasional.The inappropriate use of over-the-counter and limited over-the-counter medicines that do not match the experienced symptoms may pose health risks to the community. Therefore, a system is needed to assist in selecting appropriate medicines as an effort to support the Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat). This study aims to design and implement a web-based expert system for recommending over-the-counter and limited over-the-counter medicines using the Dempster–Shafer Theory (DST) based on mild symptoms experienced by users. The system was developed using the Rapid Application Development (RAD) method, which consists of the stages of requirements planning, system design, system development, and system implementation. System testing was conducted using blackbox testing to verify system functionality and a confusion matrix to measure system accuracy. The results indicate that the expert system provided recommendations consistent with expert judgments in 29 out of 30 test cases, achieving an accuracy of 96.67%. The scientific contribution of this study lies in the application of the Dempster–Shafer method to combine multiple mutually reinforcing symptoms as evidence in generating medicine recommendations, resulting in a more measurable level of confidence in the recommendations. Furthermore, the study demonstrates that the quality and accuracy of data and expert-assigned belief weights significantly affect the accuracy of the system’s recommendations. Therefore, the developed expert system can be used as an initial consultation tool to support rational and appropriate medicine use in the community.
4788251276I1B022041Hubungan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dengan Regulasi Emosi pada Remaja Perempuan di SMALatar Belakang: Remaja perempuan lebih rentan mengalami kesulitan dalam mengatur emosi, dan salah satu faktor yang memengaruhinya adalah keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Namun, tingkat keterlibatan ayah di Indonesia masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan regulasi emosi pada remaja perempuan di SMA. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional. Sampel terdiri dari 202 siswi SMAN 5 Purwokerto yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Skala Father Involvement (Ramadhani, 2020) dan Skala Regulasi Emosi (Sari & Naqiyah, 2023). Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Somers’d. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan regulasi emosi pada remaja perempuan di SMA (p-value = 0,001) dengan kekuatan hubungan lemah ke arah positif (r = 0,243). Tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan mayoritas berada pada nilai sedang (66,3%) dan tingkat regulasi emosi pada remaja perempuan mayoritas juga berada pada nilai sedang (71,8%). Kesimpulan: Semakin tinggi keterlibatan ayah dalam pengasuhan, maka semakin tinggi regulasi emosi pada remaja perempuan di Sekolah Menengah Atas (SMA)
Kata Kunci: keterlibatan ayah, regulasi emosi, remaja perempuan, SMA
Background: Adolescent girls are more vulnerable to difficulties in regulating emotions, and one of the factors influencing this ability is father involvement in parenting. However, the level of father involvement in Indonesia remains relatively low. This study aims to determine the relationship between father involvement in parenting and emotion regulation among female high school students. Methods: This research employed a quantitative correlational design. The sample consisted of 202 female students from SMAN 5 Purwokerto selected using proportionate stratified random sampling. The instruments used were the Father Involvement Scale (Ramadhani, 2020) and the Emotion Regulation Scale (Sari & Naqiyah, 2023). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with Somers’d test. Results: The results of the study indicate that there is a significant relationship between father involvement in parenting and emotional regulation among female high school adolescents (p-value = 0.001), with a weak positive correlation (r = 0.243). The level of father involvement in parenting was predominantly in the moderate category (66.3%), and the emotional regulation level of female adolescents was also mostly in the moderate category (71.8%). Conclusion: Higher levels of father involvement in parenting are associated with better emotion regulation among female high school students.
Keywords: emotional regulation, father involvement, female adolescents, Senior High School
4788351277I1B022079ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN POST-STROKE FATIGUE DI POLIKLINIK SARAF
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
Latar Belakang: Post-stroke fatigue merupakan salah satu sekuel stroke dengan prevalensi global berkisar 25-85%. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan berdampak negatif terhadap proses pemulihan, luaran fungsional, dan kualitas hidup. Prevalensi PSF baik secara global maupun nasional tergolong tinggi, sehingga penting untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan PSF dalam upaya peningkatan perawatan dan rehabilitasi pasien stroke.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik consecutive sampling pada pasien stroke yang melakukan kontrol di Poliklinik Saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Jumlah sampel sebanyak 162. Data primer didapatkan menggunakan kuesioner Fatigue Severity Scale, Stroke Self-efficacy Questionnaire, dan Spiritual well-being Scale versi Indonesia, sedangkan data sekunder diperoleh dari rekam medis. Analisis dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan PSF.
Hasil Penelitian: Prevalensi PSF didapatkan sebesar 80,9%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia (aOR = 17,77; IK95%: 2,98-105,73;p = 0,002), self-efficacy (aOR = 7,85; IK95%: 2,23-27,62; p = 0,001), dan spiritual well-being (aOR: 3,4; IK95% 1,07-11,20; p=0,037) merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian PSF.
Kesimpulan: Post-stroke fatigue merupakan kondisi yang umum dialami oleh pasien stroke. Usia, self-efficacy, dan spiritual well-being berperan sebagai faktor yang berhubungan kejadian PSF. Oleh karena itu, identifikasi faktor usia serta aspek psikososial dan spiritual perlu mendapat perhatian dalam perawatan dan rehabilitasi pasien stroke untuk menurunkan risiko PSF.
Background: Post-stroke fatigue (PSF) is a common sequela of stroke, with a reported global prevalence ranging from 25% to 85%. PSF is a multifactorial condition that negatively affects recovery, functional outcomes, and quality of life. PSF shows consistently high prevalence across global and national populations, therefore analyzing factors associated with PSF is important to improve care and rehabilitation for stroke patients.
Methods: A cross-sectional study was conducted among stroke patients attending follow-up visits at the Neurology Outpatient Clinic of Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. Consecutive sampling was applied, resulting in a total of 162 participants. Primary data were collected using the Fatigue Severity Scale, the Stroke Self-efficacy Questionnaire, and the Indonesian version of the Spiritual well-being Scale. Secondary data were obtained from medical records. Multivariate logistic regression was used to identify factors associated with PSF.
Results: The prevalence of PSF was 80.9%. Multivariate analysis revealed that older age (aOR = 17.77; 95% CI: 2.98–105.73; p = 0.002), lower self-efficacy (aOR = 7.85; 95% CI: 2.23–27.62; p = 0.001), and lower spiritual well-being (aOR=3.40; 95% CI: 1.07–11.20; p=0.037) were factors associated with PSF.
Conclusion: Post-stroke fatigue is a common condition among stroke patients. Age, self-efficacy, and spiritual well-being are significant roles as factors associated with PSF. Therefore, attention to age-related factors as well as psychosocial and spiritual aspects is essential in the care and rehabilitation of stroke patients to reduce the risk of PSF.
4788451280J1E019055THE EFFECTIVENESS OF USING FLIPGRID PLATFORM ON STUDENTS’
SPEAKING FLUENCY
(An Experimental Research to the 11th Grade Students of MAN 2 Banyumas in
the Academic Year of 2023/2024)

Sebuah pengamatan pendahuluan mengungkap bahwa siswa kelas XI MAN 2
Banyumas mengalami beberapa masalah seperti minat , kepercayaan diri, dan ketakutan
terhadap bahasa Inggris. Situasi ini mempengaruhi penguasaan mereka dalam berbicara
bahasa Inggris. Hal ini, pada kenyataannya, memberikan kesempatan untuk melakukan
penelitian terhadap masalah yang dihadapi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pengimplementasian penggunaan platform Flipgrid, efektifitas pengunaan platform
Flipgrid, dan pendapat siswa pada platform Flipgrid dalam pembelajaran kelancaran
berbicara mereka. Metode kuantitatif, dengan menggunakan desain kuasi-experimental,
diterapkan untuk melakukan penelitian ini. Dari 160 siswa kelas XI , 2 kelas yaitu kelas
XI IPA 1 XI IPA 2 dijadikan sebagai kelas sampel dari penelitian ini, dan sebanyak 82
siswa dipilih secara purposif sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui observasi,
test, dan kuesioner. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pertama
pengimplementasian penggunaan platform Flipgrid sebagai fasilitator dapat berjalan
dengan baik dalam proses pembelajaran. Kedua, hasil test menunjukan adanya kenaikan
nilai siswa. Hasil pra-test menunjukan rata-rata nilai siswa pada kelas eksperimen
sebanyak 62,3 dan pada kelas kontrol sebanyak 58,9. Hasil pasca-tes menunjukan rata-
rata nilai siswa pada kelas eksperimen sebanyak 87,7 dan kelas control sebanyak 76,4.
Ketiga, hasil kuesioner terhadap pendapat siswa mengenai platform Flipgrid menunjukan
bahwa Flipgrid dapat membantu meningkatkan kemampuan kelancaran berbicara. Pada
kelas kontrol sebanyak 76,4. 90% siswa mengatakan mereka mampu memahami tugas
berbicara di Flipgrid. Lebih lanjut, 85% responden percaya bahwa Flipgrid berdampak
positif pada kelancaran berbicara mereka, sementara 90% mengatakan Flipgrid telah
meningkatkan minat mereka dalam berbicara bahasa Inggris. Penelitian ini menegaskan
bahwa platform Flipgrid dapat meningkatkan efektivitas kemampuan kelancaran
berbicara bahasa Inggris siswa.
Kata kunci: Flipgrid, kemampuan, kelancaran berbicara

A preliminary observation revealed that eleventh-grade students at MAN 2
Banyumas encountered several challenges, including a lack of interest, low self-
confidence, and anxiety toward the English language. This situation adversely affected
their English speaking proficiency. Consequently, these circumstances provided an
opportunity to conduct research on the issues identified.
This study was conducted to examine the implementation and effectiveness of the
Flipgrid platform, as well as students' perceptions of its use in developing their speaking
fluency. A quantitative method employing a quasi-experimental design was applied. Out
of 160 eleventh-grade students, two classes—XI IPA 1 and XI IPA 2—were selected as
the sample, with a total of 82 students chosen through purposive sampling as participants.
Data were collected via observations, tests, and questionnaires.
The results of the study revealed several key findings. First, the implementation
of Flipgrid as a learning facilitator was executed effectively within the instructional
process. Second, test results indicated a significant improvement in students' scores. The
pre-test results showed an average score of 62.3 for the experimental class and 58.9 for
the control class. Meanwhile, the post-test results showed an average score of 87.7 for the
experimental class and 76.4 for the control class. Third, questionnaire data regarding
students' perceptions indicated that Flipgrid assisted in enhancing their speaking fluency.
Specifically, 90% of the students reported they were able to comprehend the speaking
tasks on Flipgrid. Furthermore, 85% of respondents believed that Flipgrid had a positive
impact on their speaking fluency, while 90% stated that the platform increased their
interest in speaking English. This research confirms that the Flipgrid platform can
effectively improve students' English speaking fluency.
4788551285B1B018039DIVERSITY OF MORPHOLOGY, ANATOMY CHARACTERS, AND CURCUMIN CONTENT OF THE RHIZOME OF THREE Curcuma SPECIES IN PURWODADI BOTANICAL GARDENCurcuma merupakan genus terkemuka dalam famili Zingiberaceae, yang seringkali menimbulkan tantangan identifikasi karena ciri morfologi yang tumpang tindih. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi variasi morfologi dan anatomi, serta kandungan kurkumin, dari tiga spesies Curcuma (Curcuma aeruginosa Roxb., Curcuma mangga Val. & van Zijp, dan Curcuma heyneana Val. & Zjip) dari Kebun Raya Purwodadi. Metode survei dengan pengambilan sampel acak digunakan. Parameter morfologi difokuskan pada dimensi rimpang, warna, aroma, dan pola percabangan, sedangkan analisis anatomi meneliti karakteristik butiran pati. Kandungan kurkumin diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis dan dianalisis melalui ANOVA satu arah dengan uji HSD Tukey. Hasil penelitian menunjukkan penanda morfologi yang berbeda, seperti cincin biru pada C. aeruginosa dan aroma seperti mangga pada C. mangga. Secara anatomi, butiran pati sebagian besar berbentuk oval dengan ukuran berkisar antara 10 hingga 40 µm. Kandungan kurkumin bervariasi secara signifikan antar spesies (p < 0,05), dengan C. mangga menghasilkan konsentrasi tertinggi (629,63 ± 6,17 mg), diikuti oleh C. aeruginosa (76,24 ± 1,05 mg), dan C. heyneana (3,43 ± 0,09 mg). Temuan ini menunjukkan bahwa C. mangga merupakan sumber kurkumin yang paling potensial di antara spesies yang diteliti, dan baik ciri morfologi maupun anatomi berfungsi sebagai penanda yang dapat diandalkan untuk diferensiasi spesies.Curcuma is a prominent genus in the Zingiberaceae family, often presenting identification challenges due to overlapping morphological traits. This study aimed to evaluate the morphological and anatomical variations, as well as the curcumin content, of three Curcuma species (Curcuma aeruginosa Roxb., Curcuma mangga Val. & van Zijp, and Curcuma heyneana Val. & Zjip) from the Purwodadi Botanical Garden. A survey method with random sampling was employed. Morphological parameters focused on rhizome dimensions, color, aroma, and branching patterns, while anatomical analysis examined the characteristics of starch grains. Curcumin content was quantified using UV-Vis spectrophotometry and analyzed via one-way ANOVA with Tukey’s HSD test. The results demonstrated distinct morphological markers, such as the blue ring in C. aeruginosa and the mango-like aroma in C. mangga. Anatomically, starch grains were predominantly oval with sizes ranging from 10 to 40 µm. Curcumin content varied significantly across species (p < 0.05), with C. mangga yielding the highest concentration (629.63 ± 6.17 mg), followed by C. aeruginosa (76.24 ± 1.05 mg), and C. heyneana (3.43 ± 0.09 mg). These findings suggest that C. mangga is the most potential source of curcumin among the studied species, and both morphological and anatomical traits serve as reliable markers for species differentiation.
4788651287I1J022006THE RELATIONSHIP BETWEEN NURSES SELF-EFFICACY AND THE INCIDENCE OF PHLEBITIS AMONG INPATIENTS AT RSUD KOTA BANJARBackground: Phlebitis is one of the most common healthcare-associated infections resulting from intravenous infusion and serves as an indicator of the quality of nursing care in hospitals. One factor is presumed to play a role in preventing phlebitis is nurses’ self-efficacy, defined as nurses’ beliefs in their ability to perform nursing interventions optimally.
Methodology: This study employed a quantitative design with a correlational approach and a cross-sectional method. The study included 148 inpatient nurses at RSUD Kota Banjar selected using total sampling. The research instrument included Nursing Profession Self-Efficacy Scale (NPSES) and Data on the incidence of phlebitis were obtained from the hospital’s Infection Prevention and Control (IPC) reports. Hypothesis testing was conducted using the Spearman Rank test.
Results: The analysis showed no significant relationship between nurses’ self-efficacy and the incidence of phlebitis.
Conclusions: There is no significant relationship between nurses’ self-efficacy and the incidence of phlebitis among inpatients at RSUD Kota Banjar. These findings indicate that high self-efficacy does not necessarily reflect nurses’ clinical skills and adherence in phlebitis prevention efforts. Therefore, efforts to reduce the incidence of phlebitis need to be focused on improving clinical competence through continuous training, adherence to standard operating procedures, and ongoing evaluation within infection prevention and control programs.
Background: Phlebitis is one of the most common healthcare-associated infections resulting from intravenous infusion and serves as an indicator of the quality of nursing care in hospitals. One factor is presumed to play a role in preventing phlebitis is nurses’ self-efficacy, defined as nurses’ beliefs in their ability to perform nursing interventions optimally.
Methodology: This study employed a quantitative design with a correlational approach and a cross-sectional method. The study included 148 inpatient nurses at RSUD Kota Banjar selected using total sampling. The research instrument included Nursing Profession Self-Efficacy Scale (NPSES) and Data on the incidence of phlebitis were obtained from the hospital’s Infection Prevention and Control (IPC) reports. Hypothesis testing was conducted using the Spearman Rank test.
Results: The analysis showed no significant relationship between nurses’ self-efficacy and the incidence of phlebitis.
Conclusions: There is no significant relationship between nurses’ self-efficacy and the incidence of phlebitis among inpatients at RSUD Kota Banjar. These findings indicate that high self-efficacy does not necessarily reflect nurses’ clinical skills and adherence in phlebitis prevention efforts. Therefore, efforts to reduce the incidence of phlebitis need to be focused on improving clinical competence through continuous training, adherence to standard operating procedures, and ongoing evaluation within infection prevention and control programs.
4788751300C1C021037Pengaruh Return on Equity, Sales Growth, dan Kepemilikan Institusional terhadap Financial Distress pada Perusahaan dalam Pemantauan Khusus yang Terdaftar di BEI Tahun 2024Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh return on equity, sales growth, dan kepemilikan
institusional terhadap financial distress pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2024.
Sampel penelitian terdiri dari 60 perusahaan yang tercatat di BEI, memiliki notasi khusus “X”, serta mencatatkan
kerugian selama periode pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) return on equity tidak berpengaruh
signifikan terhadap financial distress, (2) sales growth tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress,
dan (3) kepemilikan institusional juga tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress. Temuan ini
mengindikasikan bahwa indikator profitabilitas, pertumbuhan penjualan, dan struktur kepemilikan institusional
belum mampu secara efektif menjelaskan kondisi tekanan keuangan perusahaan. Secara simultan, model
penelitian terbukti layak digunakan berdasarkan hasil uji F yang signifikan, meskipun kemampuan penjelasan
model masih terbatas dengan nilai Adjusted R² sebesar 14,8 persen. Hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa
financial distress dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian, seperti leverage, likuiditas, efisiensi
operasional, kualitas tata kelola perusahaan, serta kondisi ekonomi makro, sehingga diperlukan pendekatan yang
lebih komprehensif dalam memprediksi dan mengantisipasi risiko financial distress.
This study aims to analyze the effect of return on equity, sales growth, and institutional ownership on
financial distress in companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2024. The research sample consists
of 60 companies listed on the IDX that received a special notation “X” and reported losses during the
observation period. The results show that (1) return on equity has no significant effect on financial distress,
(2) sales growth has no significant effect on financial distress, and (3) institutional ownership also has no
significant effect on financial distress. These findings indicate that profitability indicators, sales growth, and
institutional ownership structure are not sufficient to effectively explain corporate financial distress conditions.
Simultaneously, the research model is proven to be statistically feasible based on a significant F-test result,
although its explanatory power remains limited, with an Adjusted R² value of 14.8 percent. This study implies
that financial distress is influenced by other factors beyond the variables examined, such as leverage, liquidity,
operational efficiency, corporate governance quality, and macROEconomic conditions, indicating the need for
a more comprehensive approach to predicting and mitigating financial distress risk.
4788851360I1B022035Hubungan Penggunaan Gadget dengan Perkembangan Bahasa pada Anak Berkebutuhan Khusus Usia 9-12 TahunLatar Belakang: Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik. Hambatan ini menyebabkan beberapa permasalahan, salah satunya adalah kesulitan berbicara dan berbahasa. Beberapa penelitian pada anak normal, penguasaan bahasa dapat dipengaruhi oleh penggunaan teknologi gadget. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan perkembangan bahasa pada ABK usia 9-12 tahun.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan cross sectional dan total sampling sebanyak 30 ABK usia 9-12 tahun di SLB Aisyiyah Al Walidah dan Kuncup Mas yang dilaksanakan pada bulan November 2025. Penelitian ini menggunakan kuesioner penggunaan gadget dan lembar assesmen perkembangan bahasa yaitu ROWPVT dan EOWPVT. Analisis data menggunakan uji Gamma.
Hasil Penelitian: Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki dan tunarungu. Orang tua mayoritas memiliki pendidikan SD/SMP dan tidak bekerja. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden menggunakan gadget kategori sedang dan perkembangan bahasa baik. Tidak terdapat hubungan antara penggunaan gadget dengan perkembangan bahasa pada anak berkebutuhan khusus usia 9-12 tahun (p-value= 0,442 dan r= -0,235). Penelitian ini memiliki kekuatan hubungan antar variabel lemah dan memiliki arah hubungan negatif.
Kesimpulan: Penggunaan gadget tidak berhubungan signifikan dengan perkembangan bahasa ABK. Pengawasan dan pendampingan orang tua dibutuhkan pada saat anak menggunakan gadget.

Background: Children with special needs are children who have physical, mental, intellectual, or sensory limitations. These limitations cause several problems, one of which is difficulty speaking and using language. Several studies on normal children have shown that language acquisition can be influenced by the use of technological gadgets. This study aims to determine the relationship between gadget use and language development in children with special needs aged 9-12 years.
Methodology: This study was a cross-sectional study with a total sampling involving 30 children with special needs aged 9-12 years at SLB Aisyiyah Al Walidah and SLB Kuncup Mas, conducted in November 2025. This study used a questionnaire on gadget use and language development assessment sheets, namely ROWPVT and EOWPVT. Data analysis used the Gamma test.
Research Results: Most respondents were male and deaf. The majority of parents had elementary/junior high school education and were unemployed. The results of this study indicate that most respondents used gadgets in the moderate category and had good language development. There was no relationship between gadget use and language development in children with special needs aged 9-12 years (p-value = 0.442 and r = -0.235). This study found a weak relationship between variables and a negative relationship.
Conclusion: The use of gadgets does not have a significant relationship with the language development of children with special needs. Parental supervision and guidance are needed when children use gadgets.

4788951281F1A020047Rekognisi Axel Honneth dalam Sosiologi KritisTeori rekognisi yang dikembangkan Axel Honneth menawarkan arah baru bagi Teori Kritis dengan mengganti pijakan analitisnya dari rasionalitas instrumental dan model komunikatif menuju paradigma pengakuan. Berangkat dari kritik imanen terhadap generasi sebelumnya, Honneth menegaskan bahwa potensi emansipatoris justru berakar pada pengalaman moral yang sering kali berlangsung pra-linguistik. Melalui pembacaan naturalistik atas Hegel dan sintesis dengan psikologi sosial Mead, ia merumuskan tiga ranah pengakuan, cinta, hak, dan solidaritas, yang masing-masing menopang pembentukan relasi-diri praktis, yakni kepercayaan diri dasar, rasa hormat diri, dan harga diri.
Dinamika sosial dipahami bergerak melalui pengalaman ketiadaan penghormatan yang melukai integritas personal dan memicu perlawanan moral. Untuk mengungkap struktur moral konflik sosial tersebut, Honneth mengembangkan pendekatan berlapis yang memadukan rekonstruksi materialis, fenomenologi-empiris, dan pembacaan historis-kritis. Secara normatif, teori ini mengarah pada konsepsi formal mengenai kehidupan etis yang menuntut tatanan sosial berbasis kondisi-kondisi intersubjektif bagi realisasi diri. Dengan demikian, proyek Honneth memperluas horizon Teori Kritis dengan menautkannya pada pengalaman konkret ketidakadilan dan pada kapasitas transformatif yang lahir dari perjuangan untuk pengakuan.
Axel Honneth’s theory of recognition offers a renewed orientation for Critical Theory by shifting its analytical foundation away from instrumental rationality and communicative models toward a recognition-centered paradigm. Drawing on immanent critiques of the predecessors, Honneth argues that emancipatory potential is rooted in moral experiences that often operate at a pre-linguistic level. Through a naturalistic reinterpretation of the Hegel in dialogue with Mead’s social psychology, he formulates three spheres of recognition, love, rights, and solidarity, each of which underpins practical self-relations, that is basic self-confidence, self-respect, and self-esteem.
Social dynamics are understood to be propelled by experiences of disrespect that injure personal integrity and provoke moral resistance. To uncover the moral grammar of such conflicts, Honneth develops a multilayered methodological approach that combines materialist reconstruction, phenomenological-empirical inquiry, and historical-critical interpretation. Normatively, the theory converges on a formal conception of ethical life, one that demands social arrangements capable of securing intersubjective conditions for self-realization. In this way, Honneth’s project broadens the horizon of Critical Theory by grounding it in concrete experiences of injustice and in the transformative potential inherent in struggles for recognition.
4789050593H1D019009PENERAPAN METODE REGRESI LOGISTIK MULTINOMIAL DAN METODE VISUALISASI DATA PADA INTEGRASI SISTEM INFORMASI TERHADAP FLUKTUASI HARGA CRYPTOCURRENCY DOGE (DOGECOIN)Penelitian ini mengembangkan integrasi sistem informasi untuk analisis volatilitas dan fluktuasi harga Cryptocurrency Dogecoin menggunakan metode Regresi Logistik Multinomial dan visualisasi data dengan memanfaatkan data dari Yahoo Finance dan Kaggle. Metode Regresi Logistik Multinomial digunakan untuk mengklasifikasikan sentimen secara otomatis ke dalam tiga kategori, yaitu positif, netral, dan negatif. Sistem ini diintegrasikan dengan sistem informasi untuk memvisualisasikan data. Proses pengembangan perangkat lunak menggunakan metodologi Rapid Application Development (RAD). Hasil akhir mencakup visualisasi data seperti grafik interaktif, daftar tweet Elon Musk dari media sosial X (Sebelumnya twitter), daftar harga, perhitungan indikator, dan tabel, yang memberikan gambaran informasi mengenai volatilitas dan fluktuasi harga Cryptocurrency Dogecoin. Integrasi analisis sentimen dan sistem informasi untuk volatilitas Dogecoin diharapkan dapat mempermudah serta meningkatkan pemahaman para investor mengenai volatilitas harga Dogecoin tersebut.This study develops an integrated information system for analyzing the volatility and price fluctuations of Dogecoin cryptocurrency using the Multinomial Logistic Regression method and data visualization, utilizing data from Yahoo Finance and Kaggle. The Multinomial Logistic Regression method is applied to automatically classify sentiment into three categories: positive, neutral, and negative. The system is integrated with an Information System to enable data visualization. The software development process adopts the Rapid Application Development (RAD) methodology. The final outcome includes data visualizations such as interactive charts, a list of Elon Musk’s tweets from the social media platform X (formerly Twitter), and tables that provide an intuitive representation of Dogecoin’s volatility and price fluctuations. The integration of sentiment analysis and information systems for Dogecoin volatility is expected to facilitate and enhance investors’ understanding of Dogecoin price movements.
4789151282I1B022038HUBUNGAN POSISI DAN POSTUR MENYUSUI DENGAN RISIKO GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA IBU DI DESA REMPOAH BANYUMAS
Abstrak
HUBUNGAN ANTARA POSISI DAN POSTUR MENYUSUI DENGAN
RISIKO GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA IBU
DI DESA REMPOAH, KABUPATEN BANYUMAS

Bela Muldiana Ryki1, Desiyani Nani2, Hikmi Muharromah Pratiwi3

Latar Belakang: Gangguan muskuloskeletal sering ditemukan pada ibu menyusui. Pemilihan posisi dan postur menyusui yang tidak ergonomis meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal. Tujuan studi ini adalah untuk menentukan hubungan antara posisi dan postur menyusui dengan risiko gangguan muskuloskeletal.

Metode: Studi ini merupakan studi korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada November 2025 di Desa Rempoah, Banyumas, melibatkan 74 ibu menyusui sebagai responden. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner demografi dan posisi menyusui, Rapid Upper Limb Assessment (RULA), dan Nordic Body Map (NBM) untuk mengukur keluhan muskuloskeletal. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-square dan korelasi Somers' D.

Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara posisi menyusui dan risiko gangguan muskuloskeletal (p = 0.162, x2 = 5.143). Sementara itu, untuk postur, terdapat hubungan yang signifikan dan unidirectional antara postur menyusui dan risiko gangguan muskuloskeletal dengan kekuatan korelasi sedang (p = 0.003, D = 0.26).

Kesimpulan: Posisi menyusui tidak terkait dengan risiko gangguan muskuloskeletal. Sementara itu, semakin tinggi risiko postur menyusui, semakin tinggi risiko gangguan muskuloskeletal. Memilih postur ergonomis oleh ibu selama menyusui dapat mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal.

Kata Kunci: Ergonomi, Ibu Menyusui, Posisi Menyusui, Postur Menyusui, Risiko Gangguan Muskuloskeletal


1Mahasiswa Program Studi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
2,3Program Studi Keperawatan Masyarakat, Program Studi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
Abstract
ASSOCIATION BETWEEN BREASTFEEDING POSITION AND POSTURE AND
THE RISK OF MUSCULOSKELETAL DISORDERS AMONG MOTHERS
IN REMPOAH VILLAGE, BANYUMAS REGENCY

Bela Muldiana Ryki1, Desiyani Nani2, Hikmi Muharromah Pratiwi3

Background: Musculoskeletal disorders are commonly found in breastfeeding mothers. The selection of non-ergonomic breastfeeding positions and postures increases the risk of musculoskeletal disorders. The purpose of this study was to determine the relationship between breastfeeding positions and postures and the risk of musculoskeletal disorders.

Methods: This study was a correlational study with a cross-sectional approach. The study was conducted in November 2025 in Rempoah Village, Banyumas, involving 74 breastfeeding mothers as respondents. The instruments used in this study were a demographic and breastfeeding position questionnaire, the Rapid Upper Limb Assessment (RULA), and the Nordic Body Map (NBM) to measure musculoskeletal complaints. Bivariate data analysis used Chi-square tests and Somers' D correlation.

Research Results: The results of this study did not show a significant relationship between breastfeeding position and the risk of musculoskeletal disorders (p = 0.162, x2 = 5.143). Meanwhile, for posture, there is a significant and unidirectional relationship between breastfeeding posture and the risk of musculoskeletal disorders with a moderate correlation strength (p = 0.003, D = 0.26).

Conclusion: Breastfeeding position is not associated with the risk of musculoskeletal disorders. Meanwhile, the higher the risk of breastfeeding posture, the higher the risk of musculoskeletal disorders. Choosing an ergonomic posture by mothers during breastfeeding can reduce the risk of musculoskeletal disorders.

Keywords: Ergonomic, Breastfeeding Mothers, Breastfeeding Position, Breastfeeding Posture, Risk of Musculoskeletal Disorders


1Student of Nursing Department, Faculty of Health Science, Jenderal Soedirman University
2,3Department of Nursing Community, Nursing Department, Faculty of Health Science, Jenderal Soedirman University
4789251283I1B022081Hubungan Dukungan Istri dengan Intensi Berhenti Merokok pada Laki-laki Dewasa Awal yang Sudah Berkeluarga di Kelurahan CilacapLatar Belakang: Merokok merupakan perilaku berisiko yang berdampak serius bagi kesehatan. Meskipun banyak perokok memiliki niat untuk berhenti, keberhasilan upaya tersebut masih rendah dan dipengaruhi oleh intensi berhenti merokok. Berdasarkan Theory of Planned Behavior, intensi dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku. Dalam hal ini dukungan istri berperan penting sebagai bagian dari norma subjektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan istri dengan intensi berhenti merokok pada laki-laki dewasa awal yang telah berkeluarga.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling dengan responden sebanyak 108 orang. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan November 2025. Intensi berhenti merokok diukur menggunakan kuesioner Perilaku Berhenti Merokok berbasis Theory of Planned Behavior, sedangkan dukungan istri diukur menggunakan kuesioner Dukungan Keluarga. Analisis hubungan antara dukungan istri dan intensi berhenti merokok dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara kedua variabel tersebut (p < 0,001; r = 0,610).
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menerima dukungan istri yang baik dan memiliki intensi tinggi untuk berhenti merokok. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan istri dan intensi berhenti merokok.
Kesimpulan: Dukungan istri yang baik memiliki hubungan yang signifikan dan kuat dengan intensi berhenti merokok
Background: Smoking was a risky behavior that had serious impacts on health. Although many smokers had the intention to quit, the success of these efforts is still low and is influenced by the intention to quit smoking. Based on the Theory of Planned Behavior, intention was influenced by attitudes, subjective norms, and behavioral control. In this case, wives’ support played an important role as part of subjective norms. This study aimed to examine the relationship between wives’ support and the intention to quit smoking among adult married men.
Method: This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. The sampling technique used was cluster sampling with a total of 108 respondents. Data collection was conducted out in November 2025. Intention to quit smoking was measured using the Theory of Planned Behavior-based Smoking Quit Behavior Questionnaire, while wives’ support was measured using the Family Support Questionnaire. Analysis of the relationship between wives’ support and intention to quit smoking was carried out using the Spearman Rank correlation test. The results of the analysis showed there is a significant and strong relationship between these two variables (p < 0.001; r = 0.610).
Results: The results of the study showed that the majority of respondents received good wives’ support and had a high intention to quit smoking. Correlation analysis indicated ta significant positive relationship between wives’ support and intention to stop smoking.
Conclusion: Good wives’ support had a significant and strong relationship with the intention to stop smoking
4789351275C2C023036Peran Keterlibatan Jejaring Dan Orientasi Wirausaha Untuk Meningkatkan Kinerja Pemasaran Pada UMKM Kedai Kopi di Clacap Melalui Kolaborasi PemasaranAbstrak
Pertumbuhan UMKM kedai kopi di Kabupaten Cilacap mendorong meningkatnya persaingan usaha, sehingga menuntut pelaku usaha untuk menerapkan strategi pemasaran yang adaptif dan berbasis sumber daya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterlibatan jejaring dan orientasi wirausaha terhadap kinerja pemasaran, serta menguji peran kolaborasi pemasaran sebagai variabel mediasi dengan pendekatan Resource-Based View (RBV). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap pelaku UMKM kedai kopi di Kabupaten Cilacap. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan jejaring tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja pemasaran, namun berpengaruh positif dan signifikan terhadap kolaborasi pemasaran. Orientasi wirausaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap kolaborasi pemasaran serta kinerja pemasaran. Kolaborasi pemasaran terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara keterlibatan jejaring dan orientasi wirausaha terhadap kinerja pemasaran. Temuan ini mengonfirmasi bahwa kolaborasi pemasaran merupakan mekanisme strategis dalam mengonversi jejaring dan orientasi kewirausahaan menjadi kapabilitas pemasaran yang unggul. Secara praktis, hasil penelitian menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antar pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing dan kinerja pemasaran secara berkelanjutan.
Kata kunci: keterlibatan jejaring, orientasi wirausaha, kolaborasi pemasaran, kinerja pemasaran, UMKM kedai kopi.
Abstract

The growth of
coffee shop MSMEs in Cilacap Regency has led to increased business competition,
requiring business actors to implement adaptive and resource-based marketing strategies.
This study aims to analyze the influence of
network involvement and entrepreneurial orientation on marketing performance, as well as
to examine the role of marketing collaboration as a mediating variable using the
Resource-Based View (RBV). The study uses a quantitative approach with a
survey method targeting coffee shop SMEs in Cilacap Regency. Data
was collected through a structured questionnaire and analyzed using Structural
Equation Modeling based on Partial Least Squares (SEM-PLS). The results of the study
show that network involvement does not have a direct effect on
marketing performance, but has a positive and significant effect on marketing
collaboration. Entrepreneurial orientation has a positive and significant effect on
marketing collaboration and marketing performance. Marketing collaboration is proven to
significantly mediate the relationship between network involvement and entrepreneurial
orientation on marketing performance. These findings confirm that marketing collaboration is a strategic mechanism for converting networks and entrepreneurial orientation into superior marketing capabilities. In practical terms, the results of this study emphasize the importance of strengthening collaboration among MSME actors to improve competitiveness and marketing performance in a sustainable manner.
Keywords: network involvement, entrepreneurial orientation, marketing collaboration, marketing performance, coffee shop SMEs.
4789451284I1B022111PENGARUH EDUKASI KESEHATAN DENGAN MEDIA FLIPCHART
TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2
Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis dan membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Tingkat pengetahuan berperan penting dalam pengendalian penyakit, namun banyak penderita memiliki pengetahuan rendah. Edukasi kesehatan menggunakan media flipchart diharapkan meningkatkan pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan dengan media flipchart terhadap tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Purwokerto Timur II.
Metodologi: Desain pre-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 76 penderita yang mengikuti program prolanis dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan Diabetes Knowledge Questionnaire-24 (DKQ-24). Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan responden rata-rata berusia 63 tahun dengan mayoritas perempuan (69,7%), tingkat pendidikan SMA/SLTA (32,9%), tidak bekerja (82,9%), dan lama menderita DM > 5 tahun (57,9%). Tingkat pengetahuan sebelum edukasi 78,9% dalam kategori sedang dan sesudah edukasi 90,8% kategori tinggi. Hasil penelitian terdapat pengaruh signifikan edukasi kesehatan dengan media flipchart terhadap tingkat pengetahuan penderita diabetes melitus tipe 2 (p=0,001).
Kesimpulan: Edukasi kesehatan dengan media flipchart terbukti meningkatkan pengetahuan penderita diabetes melitus tipe 2. Media flipchart direkomendasikan sebagai sarana edukasi kesehatan di Puskesmas karena menyajikan informasi secara visual dan sederhana.
Kata Kunci: Diabetes melitus, edukasi kesehatan, flipchart, tingkat pengetahuan.

Background: Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease that requires long-term management. Health education using flipchart media is expected to improve patients’ knowledge. This study aimed to determine the effect of health education using flipchart media on the knowledge level of patients with type 2 diabetes mellitus.
Methodology: This study employed a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. The sample consisted of 76 patients and were selected using total sampling. Data were collected thgough questionnaires and analyzed using Wilcoxon Signed-Rank Test.
Results: The respondents had a mean age of 63 years, the majority being female (69.7%), having a senior high school education (32.9%), unemployed (82.9%), having a duration of diabetes mellitus >5 years (57.9%). Before the intervention, 78.9% of respondents had a moderate level of knowledge, while after the intervention 90.8% had a high level of knowledge. The results showed a significant effect of health education using flipchart media on the knowledge level of patients with type 2 diabetes mellitus (p = 0.001).
Conclusion: Health education using flipchart media significantly improved the knowledge level of patients with type 2 diabetes mellitus. Flipchart media are recommended as a health education tool in public health centers.


4789551307H1D019036PENGEMBANGAN PLATFORM MARKETPLACE JASA LES PRIVAT BERBASIS WEB MENGGUNAKAN METODE RAPID APPLICATION DEVELOPMENT (RAD) DENGAN PENDEKATAN PROTOTYPINGPeningkatan kebutuhan akan pendidikan yang berkualitas mendorong munculnya berbagai inovasi dalam layanan pendidikan, salah satunya adalah jasa les privat. Namun, proses pencarian dan penemuan guru les yang sesuai seringkali memakan waktu dan tenaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan platform marketplace online berbasis web untuk jasa les privat guna mempermudah proses pencarian guru les bagi siswa dan menyediakan peluang bagi guru les untuk memasarkan jasanya. Platform ini dibangun menggunakan tech stack modern: Rust dengan Axum framework dan PostgreSQL untuk backend, serta React dengan TypeScript untuk frontend, dengan penerapan adaptasi metode Rapid Application Development (RAD) yang menekankan pada siklus prototyping iteratif. Rust dipilih karena kemampuannya dalam menghasilkan kode yang efisien dan aman, sedangkan React dipilih karena fleksibilitas dan kemudahan dalam membangun antarmuka pengguna yang dinamis. Fitur-fitur utama yang akan diimplementasikan meliputi profil pengguna, pencarian guru les berdasarkan mata pelajaran, lokasi, dan pengalaman, sistem pesan, simulasi sistem pembayaran online, serta sistem ulasan. Diharapkan platform ini dapat menjadi solusi yang efektif dalam menghubungkan siswa dengan guru les yang berkualitas, serta meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi layanan jasa les privat.The increasing demand for quality education has led to various innovations in educational services, one of which is private tutoring. However, the process of searching for and finding a suitable tutor is often time-consuming and labor-intensive. This study aims to develop a web-based online marketplace platform for private tutoring services to simplify the process of finding tutors for students and provide opportunities for tutors to market their services. This platform is built using a modern tech stack: Rust with the Axum framework and PostgreSQL for the backend, and React with TypeScript for the frontend, with the application of the Rapid Application Development (RAD) method, which emphasizes iterative prototyping cycles. Rust was chosen for its ability to produce efficient and secure code, while React was chosen for its flexibility and ease in building dynamic user interfaces. The main features to be implemented include user profiles, tutor search based on subject, location, and experience, a messaging system, online payment system simulation, and a review system. It is hoped that this platform can be an effective solution in connecting students with qualified tutors, as well as improving the accessibility and efficiency of private tutoring services.
4789651316I1B022077Hubungan Dukungan Keluarga dengan Motivasi dalam Pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP)Latar Belakang: Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan primer yang memerlukan peran kader secara optimal. Keberhasilan pelaksanaannya dipengaruhi oleh motivasi kader, yang dapat ditingkatkan melalui dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan motivasi kader dalam pelaksanaan posyandu ILP.

Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 73 kader Posyandu ILP di Kelurahan Kober menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dukungan keluarga dan motivasi kader yang telah tervalidasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Somers’ D.

Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kader memiliki tingkat dukungan keluarga yang tinggi (57,5%) serta motivasi yang tinggi (57,5%). Bentuk dukungan keluarga yang paling dominan adalah dukungan instrumental dan dukungan emosional. Analisis bivariat memperoleh p-value < 0,001; r = 0,439 dengan kekuatan hubungan pada kategori cukup.

Kesimpulan: Terdapat hubungan positif dan signifikan antara dukungan keluarga dan motivasi kader dalam pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Semakin tinggi dukungan keluarga, semakin tinggi motivasi kader. Oleh karena itu, peningkatan dukungan dari keluarga, puskesmas, dan pemerintah setempat diperlukan untuk mempertahankan motivasi kader.
Background: Integrated Primary Health Care Posyandu is part of the transformation of primary health care that requires the optimal role of cadres. Its successful implementation is influenced by the motivation of cadres, which can be improved through family support. This study aims to determine the relationship between family support and cadre motivation in the implementation of ILP Posyandu.

Methods: Quantitative research used a cross-sectional design on 73 ILP Posyandu cadres in Kober Village using total sampling. Data were collected through validated questionnaires on family support and cadre motivation, then analyzed univariately and bivariately using Somers' D test.

Results: The results showed that most cadres had a high level of family support (57.5%) and high motivation (57.5%). The most dominant forms of family support were instrumental support and emotional support. Bivariate analysis obtained a p-value < 0.001; r = 0.439 with a moderate strength of relationship.

Conclusion: There was a positive and significant relationship between family support and cadre motivation in the implementation of Primary Care Integration (ILP) Posyandu. The higher the family support, the higher the cadre motivation. Therefore, increased support from families, health centers, and local governments is needed to maintain cadre motivation.
4789751288I1B022018Gambaran Pendidikan dan Pengetahuan Seksualitas pada Remaja Disabilitas di Kabupaten Cilacap

Latar Belakang: Remaja disabilitas merupakan kelompok yang memiliki kerentanan lebih tinggi dalam memahami isu-isu seksualitas akibat keterbatasan akses informasi, minimnya pendidikan seksualitas, serta kurangnya dukungan dari lingkungan sekolah maupun keluarga. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko seperti ketidaksiapan menghadapi pubertas, perilaku seksual yang tidak tepat, serta kerentanan terhadap kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pendidikan dan pengetahuan seksualitas pada remaja disabilitas di Kabupaten Cilacap. Metode: Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 31 responden yang ditentukan dengan teknik total sampling di wilayah SLB Putra Mandiri Cilacap. Pengukuran menggunakan kuesioner demografi serta kuesioner pendidikan dan pengetahuan seksualitas. Analisis data menggunakan uji univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden didominasi oleh remaja awal hingga pertengahan, berjenis kelamin perempuan, dan mayoritas adalah remaja tunarungu. Pendidikan seksualitas yang diterima masih berfokus pada aspek biologis dengan frekuensi yang jarang, bersumber utama dari guru/sekolah, serta menggunakan metode audiovisual. Pengetahuan seksualitas responden memiliki skor yang bervariasi pada setiap aspek. Kesimpulan: Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan seksualitas pada remaja disabilitas di Kabupaten Cilacap belum diberikan secara komprehensif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pendidikan seksualitas melalui kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga guna meningkatkan pemahaman remaja disabilitas pada seluruh aspek pengetahuan seksualitas.Background: Adolescents with disabilities are a group that is more vulnerable in understanding sexuality issues due to limited access to information, lack of sexuality education, and lack of support from school and family environments. These conditions have the potential to cause risks such as unpreparedness for puberty, inappropriate sexual behavior, and vulnerability to sexual violence. This study aims to determine the description of sexuality education and knowledge among adolescents with disabilities in Cilacap Regency. Method: This research design uses a descriptive quantitative research type with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 31 respondents selected using total sampling technique in the Putra Mandiri Cilacap Special School area. Measurements were taken using demographic questionnaires and sexuality education and knowledge questionnaires. Data analysis was performed using univariate tests.
Results: The results showed that the respondents were predominantly early to mid-adolescents, female, and the majority were deaf adolescents. Sexuality education was still focused on biological aspects, was infrequent, came mainly from teachers/schools, and used audiovisual methods. Respondents' knowledge of sexuality varied in each aspect. Conclusions: Based on these results, it can be concluded that sexuality education for adolescents with disabilities in Cilacap Regency has not been provided comprehensively and continuously. Therefore, it is necessary to strengthen sexuality education through collaboration between schools, health workers, and families to improve the understanding of adolescents with disabilities on all aspects of sexuality knowledge.
4789851286H1D022077ANALISIS PENGARUH STRATEGI PREPROCESSING
TERHADAP RISIKO DATA LEAKAGE DALAM PENGEMBANGAN
MODEL MACHINE LEARNING
Data leakage merupakan permasalahan metodologis yang sering terjadi pada pipeline machine learning, khususnya pada tahap preprocessing, dan berpotensi menginflasi performa model secara tidak valid. Penelitian ini menganalisis dampak strategi preprocessing terhadap risiko data leakage serta pengaruhnya terhadap evaluasi kinerja model pada tugas klasifikasi klinis. Pendekatan kuantitatif eksperimental diterapkan menggunakan dataset klinis pediatric appendicitis yang terdiri atas fitur numerik dan kategorikal. Dua skenario preprocessing dibandingkan, yaitu leakage-free pipeline, di mana pemisahan data dilakukan sebelum seluruh transformasi, dan leakage-prone pipeline, di mana preprocessing diterapkan sebelum data splitting. Tahapan yang dianalisis meliputi imputasi missing values, encoding fitur kategorikal, penanganan ketidakseimbangan kelas, seleksi fitur, dan feature scaling. Model Logistic Regression dan XGBoost dievaluasi menggunakan ROC-AUC sebagai metrik utama dan F1-score sebagai metrik klasifikasi pendukung. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa skenario leakage menghasilkan nilai ROC-AUC test yang lebih tinggi, berada pada rentang 0,966–0,972, dibandingkan skenario leakage-free yang hanya mencapai 0,941–0,948. Selain itu, konfigurasi leakage juga menunjukkan nilai F1-score yang lebih tinggi (0,884–0,907) dibandingkan skenario leakage-free (0,802–0,834). Meskipun tampak unggul secara evaluasi, peningkatan performa pada skenario leakage tidak merefleksikan kemampuan generalisasi yang valid. Analisis lebih lanjut mengidentifikasi bahwa feature selection dan feature scaling yang dilakukan sebelum data splitting merupakan kontributor utama inflasi kinerja model. Temuan ini menegaskan pentingnya perancangan preprocessing pipeline yang ketat untuk memastikan evaluasi model machine learning yang valid dan andal secara ilmiah.Data leakage is a methodological issue that frequently occurs in machine learning pipelines, particularly during the preprocessing stage, and can lead to artificially inflated model performance. This study investigates the impact of preprocessing strategies on data leakage risk and their effects on model evaluation in a clinical classification task. A quantitative experimental approach was conducted using a pediatric appendicitis clinical dataset comprising numerical and categorical features. Two preprocessing scenarios were compared: a leakage-free pipeline, in which data splitting is performed prior to all transformations, and a leakage-prone pipeline, in which preprocessing steps are applied before data splitting. The analyzed stages include missing value imputation, categorical feature encoding, class imbalance handling, feature selection, and feature scaling. Logistic Regression and XGBoost models were evaluated using ROC-AUC as the primary metric and F1-score as the supporting classification metric. The experimental results show that leakage-prone preprocessing yields higher test ROC-AUC values (0.966–0.972) compared to the leakage-free scenario (0.941–0.948). Similarly, higher F1-scores are observed under leakage conditions (0.884–0.907) than in leakage-free configurations (0.802–0.834). Despite the apparent performance gains, the inflated results produced by leakage-prone pipelines do not reflect valid generalization capability. Further analysis identifies feature selection and feature scaling performed prior to data splitting as the primary contributors to performance inflation. These findings highlight the critical importance of rigorously designed preprocessing pipelines to ensure valid, reliable, and scientifically sound evaluation of machine learning models.
4789951289C1C022070Tugas Akhir Non-Skripsi Atas Dasar Perolehan Lomba Internasional atau Nasional yang Diadakan Oleh Pusat Prestasi Nasional/Lembaga Kredibel Konferensi Ilmiah Mahasiswa Bisnis dan Akuntansi Profesional 2025Persaingan kerja di masa kini menjadi salah satu tantangan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya para lulusan sarjana. Dampak dari peristiwa ini adalah meningkatnya standar kualifikasi yang tinggi membuat calon pekerja harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang lebih dibandingkan dengan calon pekerja lainnya. Salah satu cara untuk mempersiapkan keterampilan tersebut adalah dengan mengikuti berbagai kompetisi semasa perkuliahan. Kompetisi Konferensi Ilmiah Mahasiswa Bisnis dan Akuntansi Profesional (KIMAP) 2025 merupakan salah satu perlombaan mahasiswa tingkat nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesioanlisme mahasiswa di bidang audit dan akuntansi. Kompetii ini dilaksanakan secara online dan offline selama kurang lebih dua bulan, mulai dari 23 Agustus 2025 sampai 10 Oktober 2025.

Kompetisi KIMBAP 2025 dilaksanakan melalui dua tahap perlombaan. Tahap pertama, babak preliminary round dengan menyusun paper atau karya tulis ilmiah sesuai dengan tema perlombaan yang telah ditentukan, yaitu “Audit di Ujung Jari: Menelusuri Transformasi Digital Menuju Audit berbasis Teknologi”. Lalu, tahapan yang kedua adalah babak final round presentation dilakukan dengan mewajibkan setiap tim yang terpilih untuk persentasi hasil karya tulisnya secara offline di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Hasil dari keikutsertaan dalam perlombaan ini yaitu memperolah juara I pada Kompetisi KIMBAP 2025 dengan score akhir sebesar 250,70. Pencapaian ini membawa berbagai manfaat seperti pemahaman ilmu pengetahuan mengenai audit, peningkatan soft skills dan kesempatan untuk berkoneksi dengan para peserta dan juri professional. Selain itu, perolehan kejuaran ini dapat memotivasi mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai perlombaan baik tingkat nasional maupun internasional sehingga dapat meningkatkan reputasi dan nama almamater Universitas Jenderal Soedirman.
Employment competition has become one of the major challenges faced by Indonesian society, particularly fresh graduates. As a result, rising qualification standards require job seekers to possess stronger abilities and skills compared to other candidates. One way to prepare these competencies is by participating in various competitions during university studies. The 2025 Business and Professional Accounting Student Scientific Conference Competition (KIMBAP) is a national- level student competition designed to enhance competence and professionalism in the fields of auditing and accounting. This competition was conducted both online and offline for approximately two months, from 23 August 2025 to 10 October 2025.

The KIMBAP 2025 competition consisted of two stages. The first stage was the preliminary round, in which participants were required to prepare a scientific paper in accordance with the competition’s theme, “Audit at Your Fingertips: Exploring the Digital Transformation Toward Technology-Based Auditing.” The second stage was the final round presentation, where selected teams were required to present their papers offline at Sanata Dharma University, Yogyakarta.

Participation in this competition resulted in achieving First Place in KIMBAP 2025 with a final score of 250.70. This accomplishment brought various benefits, including increased knowledge in auditing, enhanced soft skills, and opportunities to build networks with fellow participants and professional judges. Moreover, this achievement can motivate students to actively participate in both national and international competitions, thereby contributing to the reputation and recognition of Jenderal Soedirman University.
4790051299H1D022081IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR GIZI MENGGUNAKAN METODE FUZZY LOGIC DAN DECISION TREE UNTUK DIAGNOSA STATUS GIZI DAN REKOMENDASI POLA HIDUP SEHAT PADA GENERASI MUDAPenelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem pakar gizi berbasis web yang mampu mendiagnosis status gizi serta memberikan rekomendasi pola hidup sehat pada generasi muda. Sistem ini dikembangkan dengan mengintegrasikan metode Fuzzy Logic Mamdani dan Decision Tree untuk menangani data gizi yang bersifat tidak pasti, ambigu, dan linguistik. Variabel input yang digunakan meliputi Indeks Massa Tubuh (IMT), frekuensi kondisi klinis 5L (lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai), penurunan berat badan, serta frekuensi makan per hari. Metode Fuzzy Logic Mamdani digunakan untuk menghasilkan diagnosa lokal pada masing-masing kategori indikator melalui proses fuzzifikasi, inferensi, agregasi, dan defuzzifikasi menggunakan Maximum Membership Principle (MMP). Selanjutnya, hasil diagnosa lokal diproses menggunakan metode Decision Tree untuk menentukan diagnosis akhir status gizi dan rekomendasi pola hidup sehat yang sesuai. Sistem dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman Python dengan framework Flask dan basis data SQLite, serta menerapkan metode pengembangan Waterfall. Hasil pengujian menggunakan Black Box Testing dan User Acceptance Testing (UAT) menunjukkan bahwa sistem mampu berjalan sesuai kebutuhan fungsional, menghasilkan diagnosis status gizi yang konsisten dengan pengetahuan pakar, serta memberikan rekomendasi pola hidup sehat yang relevan dan mudah dipahami oleh pengguna. Dengan demikian, sistem pakar gizi ini dapat digunakan sebagai alat bantu pendukung keputusan dalam pemantauan dan edukasi status gizi pada generasi muda.This study aims to design and implement a web-based nutrition expert system capable of diagnosing nutritional status and providing healthy lifestyle recommendations for the young generation. The system was developed by integrating the Fuzzy Logic Mamdani and Decision Tree methods to handle nutritional data that are uncertain, ambiguous, and linguistic in nature. The input variables used in this system include Body Mass Index (BMI), frequency of clinical symptoms known as 5L (weakness, fatigue, lethargy, tiredness, and inattentiveness), weight loss, and daily meal frequency. The Fuzzy Logic Mamdani method is applied to generate local diagnoses for each indicator category through the processes of fuzzification, inference, aggregation, and defuzzification using the Maximum Membership Principle (MMP). The resulting local diagnoses are then processed using the Decision Tree method to determine the final nutritional status diagnosis and appropriate healthy lifestyle recommendations. The system was developed using the Python programming language with the Flask framework and SQLite database, following the Waterfall development method. The results of system testing using Black Box Testing and User Acceptance Testing (UAT) indicate that the system functions properly according to the defined requirements, produces nutritional status diagnoses consistent with expert knowledge, and provides relevant, clear, and easily understandable healthy lifestyle recommendations for users. Therefore, this nutrition expert system can be utilized as a decision support tool for nutritional status monitoring and health education among the young generation.