Artikelilmiahs
Menampilkan 47.821-47.840 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47821 | 51208 | I1B022085 | GAMBARAN PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN KETERAMPILAN DASAR KESEHATAN: ANALISIS INTEGRASI LAYANAN PRIMER | Latar Belakang: Keberhasilan program Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) salah satunya bergantung pada kompetensi kader sebagai ujung tombak layanan. Namun, penguasaan 25 keterampilan dasar kesehatan oleh kader masih tergolong rendah, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran peran serta keterampilan dasar kesehatan kader posyandu ILP di wilayah kerja Puskesmas Baturraden II. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 136 kader aktif dari 6 desa diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner teruji validitasnya (s-CVI = 0,980) dan dianalisis secara univariat. Hasil: Karakteristik mayoritas kader adalah ibu rumah tangga (84,6%), berpendidikan SMA (46,3%), berusia rata-rata 44,7 tahun, dan berpengalaman >3 tahun (82,4%). Rata-rata tingkat keterampilan kader adalah 57,88 (kategori sedang) dengan standar deviasi 14,072. Sebagian besar kader (86,8%) memiliki keterampilan rendah meskipun seluruhnya telah mengikuti pelatihan ILP. Keterampilan tertinggi pada pengelolaan posyandu (87,5%) dan komunikasi efektif (87,5%), sedangkan terendah pada domain ibu hamil dan remaja, seperti penjelasan isi piringku remaja (64%) dan penggunaan buku KIA (62,5%). Kesimpulan: Peran kader Posyandu ILP dalam melaksanakan keterampilan dasar kesehatan belum optimal dan tidak merata. Kesenjangan antara pelatihan dengan implementasi di lapangan mengindikasikan perlunya pendekatan pelatihan yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan adanya sistem rotasi tugas. | Background: The success of the Integrated Primary Health Care (ILP) Posyandu program depends among other things, on the competence of cadres as the spearhead of the service. However, cadres' mastery of 25 basic health skills is still relatively low, requiring a deeper understanding of this condition. The purpose of this study was to determine the role and basic health skills of ILP Posyandu cadres in the working area of the Baturraden II Community Health Center. Methods: This was a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. A sample of 136 active cadres from 6 villages was taken using total sampling technique. Data were collected using a validated questionnaire (s-CVI = 0.980) and analyzed univariately. Results: The majority of cadres are housewives (84.6%), have a high school education (46.3%), are 44.7 years old on average, and have more than 3 years of experience (82.4%). The average skill level of cadres is 57.88 (medium category) with a standard deviation of 14.072. Most cadres (86.8%) have low skills despite all having participated in ILP training. The highest skills are in posyandu management (87.5%) and effective communication (87.5%), while the lowest are in the domains of pregnant women and adolescents, such as explaining the contents of the adolescent plate (64%) and using the KIA book (62.5%). Conclusion: The role of ILP Posyandu cadres in implementing basic health skills is not yet optimal and is uneven. The gap between training and implementation in the field indicates the need for a more structured, sustainable training approach and a task rotation system. | |
| 47822 | 51209 | I1B022013 | Hubungan Interaksi Sosial Dengan Mekanisme Koping Pada Remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) | Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami berbagai masalah seperti kenakalan remaja akibat ketidakstabilan emosi, perubahan biologis serta interaksi sosial yang kurang baik yang dapat mengarahkan penggunaan mekanisme koping maladaptif. Oleh karena itu, interaksi sosial yang baik diperlukan oleh remaja untuk membantu memilih mekanisme koping yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan interaksi sosial dengan mekanisme koping pada remaja SMA. Metodologi: Penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan teknik simple random sampling, yang melibatkan 219 Siswa. Penelitian ini menggunakan kuesioner interaksi sosial dan kuesioner Brief COPE Inventory. Analisis data menggunakan uji Somers’d. Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden memiliki interaksi sosial sedang yaitu 74%, mekanisme koping adaptif yaitu 55,3%. dan terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi sosial dengan mekanisme koping & memiliki kekuatan sedang (p-value = 0,0001 dan r = 0,568). Kesimpulan: Semakin tinggi tingkat interaksi sosial yang dimiliki remaja maka semakin adaptif mekanisme koping yang digunakan. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti selanjutnya disarankan untuk mengkaji faktor lain yang memengaruhi mekansime koping seperti dukungan sosial, konsep diri ataupun tipe kepribadian karena kekuatan hubungan dalam penelitian ini berada pada kategori sedang. Kata Kunci: Interaksi_sosial, Mekanisme_koping, Remaja_pertengahan, SMA | Background: Adolescents are a vulnerable group experiencing various problems, such as juvenile delinquency, due to emotional instability, biological changes, and poor social interactions, which can lead to the use of maladaptive coping mechanisms. Therefore, adolescents need effective social interactions to help them choose appropriate coping mechanisms. This study aims to determine the relationship between social interactions and coping mechanisms in high school adolescents. Methods: This study was a cross-sectional study using a simple random sampling technique, involving 219 students. This study used a social interaction questionnaire and a Brief COPE Inventory questionnaire. Data analysis used the Somers'd test. Results: The results of this study indicate that most respondents have moderate social interactions, namely 74%, and adaptive coping mechanisms, namely 55.3%. There is a significant relationship between social interactions and coping mechanisms & has moderate strength (p-value = 0.0001 and r = 0.568). Conclusion: The higher the level of social interaction an adolescent has, the more adaptive their coping mechanisms will be. Based on these results, future researchers are advised to examine other factors influencing coping mechanisms, such as social support, self-concept, or personality type, as the strength of the relationships in this study was moderate. Keywords: Social_interaction, Coping_mechanisms, Middle_adolescence, High_school | |
| 47823 | 51210 | I1B022034 | ANALISIS PERBEDAAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS ANTARA LANSIA YANG MELAKUKAN DAN TIDAK MELAKUKAN AKTIVITAS FISIK BERSAMA: STUDI KOMPARASI | Latar Belakang: Lansia mengalami penurunan perkembangan fisik dan psikologis yang berdampak pada kesejahteraan psikologis. Penurunan aktivitas fisik lansia mengakibatkan penurunan kondisi fisik dan psikologis yang berdampak terhadap kualitas hidup. Salah satu upaya untuk menunjang peningkatan kualitas hidup dapat dilakukan dengan pendekatan komunitas. Bentuk pendekatan komunitas ditinjau dari produktivitas dalam aktivitas fisik bersama sebagai kelompok swabantu. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kesejahteraan psikologis antara lansia yang melakukan dan tidak melakukan aktivitas fisik bersama. Metode: Penelitian ini menggunakan studi komparatif, desain cross sectional. Pemilihan sampel dengan teknik simple random sampling, total jumlah sampel responden sebanyak 100 lansia (50 pada setiap kategori kelompok). Pengukuran menggunakan instrumen Psychological Well-Being Scale (PWBS) dan Physical Activities Scale for Elderly (PASE) untuk mengetahui gambaran kesejahteraan psikologis dan aktivitas fisik pada lansia. Analisis data menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan perbedaan skor kesejahteraan psikologis signifikan antara lansia yang melakukan aktivitas fisik bersama dengan yang tidak (nilai p = 0,001). Kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan pada domain penerimaan diri ( p = 0,001), hubungan positif dengan orang lain (p = 0,001), penguasaan lingkungan (p = 0,001), tujuan hidup (p = 0,038), dan pertumbuhan pribadi (p = 0,001). Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan antara lansia yang melakukan dan tidak melakukan akivitas fisik bersama, sehingga aktivitas fisik bersama perlu diperhatikan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Kesejahteraan Psikologis, PASE, PWBS. | Background: Older adults experience physical and psychological decline that affects their psychological well-being. Decreased physical activity among older adults results in physical and psychological decline that impacts their quality of life. One effort to support improved quality of life can be done through a community approach. The community approach is reviewed in terms of productivity in physical activities as a self-help group. This study aims to determine the differences in psychological well-being between elderly people who participate in and those who do not participate in joint physical activities. Method: This study used a comparative study with a cross-sectional design. Samples were selected using simple random sampling, with a total of 100 elderly respondents (50 in each category). Measurements were taken using the Psychological Well-Being Scale (PWBS) and Physical Activities Scale for Elderly (PASE) instruments to determine the psychological well-being and physical activity of the elderly. Data analysis used an unpaired t-test. Results: The results of the study show a significant difference in psychological well-being scores between elderly people who engage in physical activity and those who do not (p = 0.001). Both groups showed significant differences in the domains of self-acceptance (p = 0.001), positive relationships with others (p = 0.001), environmental mastery (p = 0.001), life purpose (p = 0.038), and personal growth (p = 0.001). Conclusion: There are significant differences between elderly people who engage in physical activity together and those who do not, so physical activity together needs to be considered to improve psychological well-being. Keywords: Physical Activity, Psychological Well-being, PASE, PWBS | |
| 47824 | 51212 | E1A021143 | IMPLEMENTASI PEDOMAN PELAKSANAAN PELAYANAN RAMAH PENYANDANG DISABILITAS DI PENGADILAN DALAM LINGKUNGAN PERADILAN AGAMA (Studi di Pengadilan Agama Sleman) | Penelitian ini bertujuan untuk melihat Pengadilan Agama Sleman mengimplementasikan Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Ramah Penyandang Disabilitas di lingkungan Peradilan Agama yang tertuang dalam SK Dirjen Badilag Nomor 2078/DjA/HK.00/SK/8/2022 dan faktor yang memengaruhi pelaksanaannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan spesifikasi deskriptif dan pendekatan yuridis sosiologis. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi pedoman tersebut secara umum telah terlaksana dengan optimal. Hal ini tercermin dari tujuh parameter, yaitu: perlakuan non-diskriminatif; pemenuhan rasa aman dan nyaman; komunikasi yang efektif; penyediaan informasi mengenai hak penyandang disabilitas; penyediaan fasilitas komunikasi audio visual jarak jauh; penyediaan SOP pelayanan dan tata cara persidangan bagi penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum; serta penyediaan pendamping dan/atau juru bahasa isyarat yang masih belum optimal. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi implementasi pedoman ini terdiri dari faktor pendukung yang meliputi: adanya kepastian hukum dari pembuat aturan dalam memberikan jaminan perlindungan pelayanan ramah penyandang disabilitas di pengadilan agama; adanya pelatihan bagi aparat penegak hukum melalui internal dan eksternal Mahkamah Agung; kelengkapan fasilitas penunjang di lingkungan PA Sleman; akses terhadap komunitas dan organisasi yang melek isu kesetaraan penyandang disabilitas; banyaknya kegiatan diskusi dengan organisasi penyandang disabilitas; serta petugas yang telah terbiasa bersikap ramah dan sopan santun. Faktor penghambat meliputi: adanya mutasi bagi hakim dan panitera; dan anggaran belum tersedia bagi pendamping dan/atau juru bahasa isyarat. | This study examines the implementation of the Guidelines for Disability-Friendly Services in the Sleman Religious Court as stipulated in the SK Dirjen Badilag Nomor 2078/DjA/HK.00/SK/8/2022, as well as the factors influencing their implementation. This research employs a qualitative, descriptive method with a sociological juridical approach, using primary and secondary data. The findings indicate that the implementation of the guidelines has been largely optimal, as reflected in seven key parameters: non-discriminatory treatment; the provision of safety and comfort; effective communication; access to information on the rights of persons with disabilities; the availability of remote audiovisual communication facilities; the provision of Standard Operating Procedures (SOPs) for services and court proceedings involving persons with disabilities; and the provision of companions and/or sign language interpreters, which remains suboptimal. The study further identifies supporting factors, including legal certainty provided by policymakers, training for judicial officers, adequate supporting facilities, collaboration with disability communities and organizations, various group discussions with disability organizations, and the courteous attitude of court officers. In contrast, inhibiting factors include the rotation of judges and court clerks and the absence of a specific budget for companions and/or sign language interpreters. | |
| 47825 | 51214 | I1C022045 | STUDI POTENSI SENYAWA FLAVONOID TERPRENILASI TERHADAP RESEPTOR ALK DAN RET MELALUI PENDEKATAN MOLECULAR DOCKING | Anaplastic lymphoma kinase (ALK) dan rearranged during transfection (RET) merupakan keluarga tirosin kinase yang teridentifikasi pada subset non-small cell lung cancer (NSCLC). Penggunaan obat inhibitor ALK dan RET pada jangka panjang seringkali mengembangkan mutasi resistensi sehingga upaya pencarian kandidat inhibitor baru perlu dikembangkan untuk mengoptimalkan terapi NSCLC. Flavonoid terprenilasi sebagai metabolit sekunder alami dilaporkan memiliki aktivitas antikanker karena sifat lipofilisitas yang tinggi dan afinitas yang baik dengan protein targetnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi interaksi senyawa flavonoid terprenilasi dengan protein ALK dan RET melalui pendekatan molecular docking. Penelitian ini dilakukan secara in silico yang terdiri tahap skrining drug likeness dan toksisitas senyawa flavonoid terprenilasi. Senyawa yang lolos kriteria kemudian dilakukan preparasi untuk selanjutnya ditambatkan pada protein ALK dan RET. Hasil kemudian dianalisis interaksi antara ligan dan protein, serta dibandingkan dengan kontrol positif. Hasil skrining drug likeness dan toksisitas diperoleh enam senyawa kandidat terbaik, yaitu senyawa xanthoangelol D, derricidine, xanthoangelol J, lespeol, TB2, dan TB3. Hasil molecular docking menunjukkan bahwa keenam senyawa tersebut secara prediktif memiliki afinitas pengikatan yang lebih kuat terhadap protein RET dibandingkan ALK, dengan binding affinity yang berkisar antara -7,7 hingga -9,3 kkal/mol, yang menunjukkan pengikatan lebih baik dibandingkan kontrol positifnya dengan nilai -5,8 kkal/mol. | Anaplastic lymphoma kinase (ALK) and rearranged during transfection (RET) are members of the tyrosine kinase family that are identified in a subset of non-small cell lung cancer (NSCLC). Long-term use of ALK and RET inhibitor leads to the development of resistance mutations. Therefore, efforts to find new inhibitor candidates are required to optimize NSCLC treatment. Prenylated flavonoids, as natural secondary metabolites, have been reported to exhibit anticancer activity due to high lipophilicity and strong affinity for target proteins. This study aims to evaluate the interaction potential of prenylated flavonoid compounds with ALK and RET proteins using a molecular docking approach. This study involved drug-likeness screening and toxicity evaluation of prenylated flavonoid compounds. The compounds that met the screening criteria were prepared for binding studies with ALK and RET proteins. The results were analyzed for ligand-protein interactions and compared to positive controls. Drug likeness and toxicity screening identified six best candidate compounds, namely xanthoangelol D, derricidine, xanthoangelol J, lespeol, TB2, and TB3. The molecular docking results indicate that the six compounds are predicted to have stronger binding affinity toward the RET protein than ALK, with binding affinity values ranging from −7.7 to −9.3 kcal/mol, demonstrating better binding compared to the positive control, which has a value of −5.8 kcal/mol. | |
| 47826 | 51215 | I1B022023 | Gambaran Kesejahteraan Psikologis Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Di Kecamatan Sumbang | Latar Belakang : Kesejahteraan psikologis adalah kemampuan individu menerima diri, berhubungan positif, mandiri, dan memiliki tujuan hidup. Kader Posyandu memiliki peran strategis yang bersifat sukarela, sehingga perlu pelatihan manajamen stres dan insentif yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesejahteraan psikologis kader Posyandu di Kecamatan Sumbang. Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan total sampel sebanyak 110 responden menggunakan teknik cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner Psychological Well-Being Scale (PWBS) dan data menggunakan analisis univariat. Hasil Penelitian : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas kesejahteraan psikologis kader Posyandu di Kecamatan Sumbang berada pada kategori sedang (72,2%), sementara kategori tinggi (16,4%) dan kategori rendah (10,9%). Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar kader telah memiliki kesejahteraan psikologis yang cukup, tetapi masih dibutuhkan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Kesimpulan : Rendahnya kesejahteraan psikologis kader dapat mengganggu kesehatan mental dan kualitas pelayanan Posyandu. Kata Kunci : Kader_posyandu, Kesejahteraan_psikologis | Background : Psychological well-being is an individual's ability to accept themselves, have positive relationships, be independent, and have a purpose in life. Posyandu cadres play a strategic, voluntary role, so they need stress management training and adequate incentives. This study aims to determine the psychological well-being of Posyandu cadres in Sumbang District. Methodology : This study used a quantitative descriptive design with a total sample of 110 respondents using cluster random sampling. The study used the Psychological Well-Being Scale (PWBS) questionnaire, and data were analyzed using univariate analysis. Research Result : The results of this study indicate that the majority of Posyandu cadres in Sumbang district have a moderate psychological well-being (72,2%), while 16,4% are high and 10,9% are low. These findings indicate that althought most cadres have adequate psychological well-being, efforts are still needed to improve their psychological well-being. Conclusion : Low psychological well-being of cadres can disrupt mental health and the quality of Posyandu services. Keyword : Posyandu _cadres, Pyschological_well-being | |
| 47827 | 51216 | I1B022058 | Hubungan Sikap Ergonomi Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders Pada Mahasiswa Profesi Ners Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Musculoskeletal disorders merupakan keluhan pada bagian musculo dan skeletal akibat pekerjaan yang banyak dialami oleh perawat maupun mahasiswa profesi ners. Sikap ergonomi merupakan sikap tubuh yang baik dan benar sesuai dengan prinsip ergonomi. Penerapan sikap ergonomi yang kurang optimal berpotensi meningkatkan beban biomekanik tubuh, sehingga menyebabkan keluhan musculoskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara sikap ergonomi dan keluhan musculoskeletal disorders pada mahasiswa profesi ners Universitas Jenderal Soedirman. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 38 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis data yang digunakan yaitu uji Somer’s D. Hasil Penelitian: Karakteristik usia responden memiliki nilai median 22, hampir seluruh responden berjenis kelamin perempuan (94,7%), dan mayoritas memiliki IMT berada di kategori normal (63,2%). Hasil analisis menunjukkan mayoritas responden memiliki sikap ergonomi berada pada kategori baik (52,7%), mayoritas memiliki keluhan musculoskeletal disorders rendah (57,9%). Hasil analisis uji Somer’s D diperoleh nilai p-value = 0,003 dan nilai koefisien korelasi (r) = 0,420. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan dengan tingkat korelasi sedang antara sikap ergonomi dengan keluhan musculoskeletal disorders pada mahasiswa profesi ners Universitas Jenderal Soedirman. Hasil ini menunjukkan pentingnya penerapan dan pembiasaaan sikap ergonomi sejak pendidikan profesi untuk meminimalkan keluhan musculoskeletal. Peneliti lain dapat meneliti lebih lanjut mengenai faktor lain yang memengaruhi musculoskeletal disorders atau menggunakan metode penelitian yang berbeda. | Background: Musculoskeletal disorders are complaints involving the muscular and skeletal system caused by occupational factors, commonly experienced by nurses and nursing students. Ergonomic attitudes refers to proper and correct body posture in accordance with ergonomic principles. Suboptimal application of ergonomic attitudes may increase the body's biomechanical load, thereby causing musculoskeletal complaints. This study aims to examine the relationship between ergonomic attitudes and musculoskeletal disorders among nursing students at Jenderal Soedirman University. Methods: This study used a quantitative correlational design with cross-sectional research design. The sample consisted of 38 respondents selected using a total sampling technique. Data analysis was conducted using Somer’s D test. Research Results: The median age of respondents was 22 years, almost all respondents were female (94,7%), and the majority had a normal body mass (63,2%). The analysis showed the most respondents had good ergonomic attitude (52,7%) and low levels of musculoskeletal disorders complaints (57,9%). The results of Somer’s D test analysis obtained a p-value = 0,003 and a correlation coefficient (r) = 0,420. Conclusion: There is a significant relationship with a moderate correlation between ergonomic posture and complaints of musculoskeletal disorders among nursing profession students at Jenderal Soedirman University. These findings highlight the importance of implementing and habituating ergonomic attitudes early in professional education to minimize musculoskeletal complaints. Future researchers may explore other factors influencing musculoskeletal disorders or employ different research methods. | |
| 47828 | 51219 | I1B022042 | Gambaran Sikap Kader Posyandu dalam Pelaksanaan Keterampilan Dasar Kesehatan pada Program Integrasi Layanan Primer | Latar Belakang: Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Pelaksanaan program posyandu ILP sangat bergantung pada sikap kader posyandu dalam melaksanakan tugas keterampilan dasar kesehatan. Namun demikian, kajian yang menggambarkan sikap kader pada program posyandu ILP masih terbatas sehingga penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sikap kader dalam pelaksanaan tugas keterampilan dasar kesehatan program ILP. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling sebanyak 224 responden yang terbagi dalam 8 desa di wilayah kerja Puskesmas Sumbang II. Penelitian ini menggunakan analisis data univariat dengan uji statistik deskriptif. Data diperoleh dari kuesioner sikap kader yang berasal dari 25 keterampilan dasar kader yang sudah teruji valid dan reliabel. Hasil Penelitian: Rata-rata usia kader posyandu ILP adalah 41,25 tahun, sebagian besar berpendidikan SMP, bekerja sebagai ibu rumah tangga, memiliki masa kerja ≥ 3 tahun, telah menerima insentif, dan telah mengikuti pelatihan posyandu ILP. Nilai median sikap kader sebesar 86 dengan rentang nilai 41-100 yang menggambarkan variasi sikap kader dalam melaksanakan tugas keterampilan dasar kesehatan. Kesimpulan: Mayoritas kader posyandu ILP memiliki sikap positif dalam melaksanakan tugas keterampilan dasar kesehatan yang menunjukkan kesiapan kader dalam mendukung pelaksanaan program posyandu ILP serta perlunya penguatan kapasitas melalui pelatihan berkelanjutan. | Background: Primary Care Integration (ILP) Posyandu is a government program aimed at improving the quality of community-based health services. The implementation of the ILP Posyandu program is highly dependent on the attitude of Posyandu cadres in carrying out basic health skills tasks. However, studies describing the cadre’s attitudes in the ILP Posyandu program are still limited, therefore this research needs to be conducted. This study aims to determine the attitudes of cadres in performing basic health skills in the ILP program. Methods: This study employed a quantitative study using descriptive methods. Sampling was conducted using simple random sampling with 224 respondents divided into 8 villages in the working area of the Sumbang II Community Health Center. This study used univariate data analysis with descriptive statistical tests. Data were obtained from a cadre attitude questionnaire consisting of 25 basic cadre skills that had been tested for validity and reliability Research Results: The average age of ILP posyandu cadres was 41.25 years, most respondents had a junior high school education, worked as housewives, had worked for ≥ 3 years, had received incentives, and had participated in ILP posyandu training. The median attitude score of the cadres was 86 with a range of 41-100, which describes the variation in the attitudes of cadres in carrying out basic health skills tasks. Conclusion: The majority of ILP posyandu cadres have a positive attitude in carrying out basic health skills tasks, which shows the cadres' readiness to support the implementation of the ILP posyandu program and the need for capacity building through continuous training. | |
| 47829 | 51220 | H1D022018 | IMPLEMENTASI LARGE LANGUAGE MODEL SEBAGAI TUTOR PERSONAL SISWA MENGGUNAKAN METODE RETRIEVAL AUGMENTED GENERATION PADA LEARNING MANAGEMENT SYSTEM UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA | Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan semakin dibutuhkan untuk mengatasi keterbatasan pendampingan personal dalam kelas konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan Large Language Model (LLM) sebagai tutor personal siswa dengan menggunakan metode Retrieval Augmented Generation (RAG) pada Learning Management System (LMS) guna mendukung peningkatan pemahaman siswa. Pengembangan sistem dilakukan menggunakan metode incremental melalui tiga tahapan increment yang mencakup fondasi data, pipeline RAG, dan integrasi antarmuka. Pengujian sistem dilakukan menggunakan metode Blackbox testing untuk fungsionalitas, BERTScore untuk evaluasi kualitas jawaban semantik, serta User Acceptance Test (UAT) dengan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) untuk mengukur penerimaan pengguna. Hasil pengujian Blackbox menunjukkan bahwa seluruh fitur berfungsi sesuai harapan. Evaluasi kinerja AI menghasilkan nilai rata-rata Precision sebesar 81%, Recall sebesar 77%, dan F1 Score sebesar 79% yang mengindikasikan bahwa jawaban sistem memiliki relevansi semantik yang tinggi terhadap materi referensi. Analisis penerimaan pengguna menunjukkan respon positif dari guru dan siswa pada seluruh variabel UTAUT, dengan guru memiliki tingkat penerimaan yang relatif lebih tinggi dibandingkan siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi LLM dengan metode RAG pada LMS layak digunakan dan berhasil menyediakan penjelasan kontekstual yang akurat untuk membantu proses pembelajaran siswa. | The integration of artificial intelligence in education offers new opportunities for personalized learning, yet providing contextualized guidance within platforms remains a challenge. This study aims to implement a Large Language Model (LLM) as a personal tutor using the Retrieval Augmented Generation (RAG) method within a Learning Management System (LMS) to enhance student comprehension. The development followed an incremental approach focusing on material management, RAG data pipeline, and chat interface integration. Testing methods included Blackbox testing for functionality, BERTScore for semantic evaluation, and User Acceptance Test (UAT) using the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) model. Blackbox testing results demonstrated that all system functionalities operated as expected. The AI performance evaluation yielded an average Precision of 81%, Recall of 77%, and F1 Score of 0.79, indicating high semantic relevance between generated answers and reference materials. User acceptance analysis showed positive perception from both teachers and students across all UTAUT variables, with teachers showing higher acceptance rates than students. The study concludes that integrating LLM with RAG in an LMS is feasible, successfully provides accurate and contextual explanations, and is well-accepted as a supportive tool in the learning process. | |
| 47830 | 51221 | C1A022046 | Determinan Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017-2023 | Tingkat Pengangguran Terbuka di Jawa Tengah menunjukkan ketimpangan yang signifikan di antara 35 kabupaten dan kota di wilayah tersebut. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia, Upah Minimum Kabupaten/Kota, Investasi Dalam Negeri, dan Investasi Asing terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di wilayah-wilayah tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan analisis regresi panel data selama tujuh tahun, temuan menunjukkan bahwa Jumlah Penduduk dan Upah Minimum Kabupaten/Kota memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka, sementara Indeks Pembangunan Manusia memiliki pengaruh negatif yang signifikan. Sebaliknya, Investasi Domestik dan Investasi Asing tidak secara signifikan mempengaruhi tingkat pengangguran. Hasil ini menyarankan bahwa upaya pengurangan pengangguran harus memprioritaskan pengendalian populasi, peningkatan pembangunan manusia, dan implementasi strategis kebijakan upah minimum. Selain itu, penting bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi dampak aktual aliran investasi terhadap penyerapan tenaga kerja untuk memastikan keselarasan dengan tujuan penciptaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi regional. | The Open Unemployment Rate in Central Java shows significant disparities across its 35 regencies and cities. This study aims to analyze the influence of Total Population, Human Development Index, Regency/City Minimum Wage, Domestic Investment, and Foreign Investment on the Open Unemployment Rate across these regions. Employing a quantitative approach with panel data regression analysis over a seven-year period, the findings reveal that Total Population and Regency/City Minimum Wage have a significant positive effect on the Open Unemployment Rate, while the Human Development Index has a significant negative effect. Conversely, Domestic Investment and Foreign Investment do not significantly affect the unemployment rate. These results suggest that unemployment reduction efforts should prioritize population control, enhancement of human development, and strategic implementation of minimum wage policies. Furthermore, it is important for local governments to evaluate the actual impact of investment inflows on labor absorption to ensure alignment with employment goals and regional economic development. | |
| 47831 | 51236 | C1C021084 | PENGARUH PROFITABILITAS TERHADAP PENGUNGKAPAN LAPORAN KEBERLANJUTAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR BASIC MATERIALS DI BURSA EFEK INDONESIA: STUDI PERBANDINGAN MASA DAN PASCA PANDEMI COVID-19 | Penelitian ini berfokus pada pengaruh profitabilitas terhadap pengungkapan laporan keberlanjutan pada perusahaan sektor basic materials yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan membandingkan kondisi pada masa pandemi dan pasca pandemi COVID-19. Seiring meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, perusahaan di sektor basic materials dituntut untuk menyampaikan informasi keberlanjutan secara transparan. Namun, tingkat profitabilitas perusahaan belum tentu sejalan dengan luas pengungkapan laporan keberlanjutan yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Assets (ROA) berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keberlanjutan yang diukur berdasarkan standar Global Reporting Initiative (GRI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan dan laporan keberlanjutan perusahaan periode 2020–2024. Sampel penelitian terdiri dari 59 perusahaan sektor basic materials yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, baik pada papan utama maupun papan pengembangan, yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan laporan keberlanjutan, baik pada masa pandemi maupun pasca pandemi COVID-19. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat profitabilitas perusahaan tidak menjadi faktor yang memengaruhi luas pengungkapan laporan keberlanjutan pada sektor basic materials. | This study focuses on the effect of profitability on sustainability report disclosure among basic materials sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange by comparing conditions during and after the COVID-19 pandemic. As attention to sustainability issues continues to increase, companies in the basic materials sector are required to disclose sustainability information transparently. However, the level of company profitability does not necessarily align with the extent of sustainability report disclosure. Therefore, this study aims to examine whether profitability, proxied by Return on Assets (ROA), affects sustainability report disclosure measured based on the Global Reporting Initiative (GRI) standards. This study employs a quantitative approach using secondary data obtained from companies’ financial statements and sustainability reports for the 2020–2024 period. The research sample consists of 59 basic materials sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange, including firms on the main board and the development board, selected using purposive sampling. The results indicate that profitability does not have a significant effect on sustainability report disclosure during either the COVID-19 pandemic or the post-pandemic period. Thus, it can be concluded that company profitability is not a determining factor in the extent of sustainability report disclosure in the basic materials sector. | |
| 47832 | 51242 | G1A022080 | Pengaruh Pemberian Ekstrak Ciplukan (Physalis angulata L.) Terhadap Kadar Albumin Serum Tikus Model Diabetes | Latar belakang : Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang sering menimbulkan komplikasi mikrovaskular, salah satunya nefropati diabetik. Kondisi ini ditandai oleh kerusakan ginjal yang menyebabkan peningkatan kehilangan albumin melalui urin sehingga berdampak pada penurunan kadar albumin serum. Tanaman Ciplukan (Physalis angulata L.) diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antifibrosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Ciplukan dosis 75 mg/kgBB, 150 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB terhadap kadar albumin serum tikus model diabetes. Metode : Penelitian ini menggunakan bahan biologis tersimpan berupa serum tikus putih jantan galur Wistar yang berasal dari penelitian sebelumnya. Tikus telah diinduksi diabetes menggunakan STZ-NA dan dibagi ke dalam lima kelompok, yaitu kelompok kontrol sehat, kelompok kontrol diabetes, serta tiga kelompok diabetes yang mendapat ekstrak Ciplukan (Physalis angulata L.) dosis 75 mg/kgBB, 150 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB. Kadar albumin serum diukur menggunakan metode Bromocresol Green (BCG). Analisis kadar albumin serum dilakukan dengan uji Welch ANOVA. Hasil : Kelompok kontrol sehat, kontrol sakit, dan kelompok perlakuan memiliki nilai kadar albumin dalam rentang normal yaitu 3,0 – 5,0 g/dL. Hasil uji Welch ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok dengan nilai p=0,496 (p > 0,05). Kesimpulan : Pemberian ekstrak Ciplukan (Physalis angulata L.) dosis 75 mg/kgBB, 150 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB tidak berpengaruh terhadap kadar albumin serum tikus model diabetes. | Background : Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease that frequently leads to microvascular complications, including diabetic nephropathy. This condition is characterized by renal damage that increases urinary albumin loss, which subsequently affects serum albumin levels. Physalis angulata L. is known to possess antioxidant, anti-inflammatory, and antifibrotic properties. This study aimed to determine the effect of Physalis angulata L. extract at doses of 75 mg/kgBW, 150 mg/kgBW, and 300 mg/kgBW on serum albumin levels in a diabetic rat model. Methods : This study used stored biological materials in the form of serum samples obtained from a previous experimental study involving male Wistar rats. Diabetes had been induced using STZ-NA, and the rats had been divided into five groups: a healthy control group, a diabetic control group, and three diabetic groups receiving Physalis angulata L. extract at doses of 75 mg/kgBW, 150 mg/kgBW, and 300 mg/kgBW. Serum albumin levels were measured using the Bromocresol Green method. Data analysis was performed using Welch ANOVA. Results : The results show that serum albumin levels in the healthy control group, diabetic control group, and treatment groups remain within the normal range of 3.0-5.0 g/dL. Welch ANOVA indicates no statistically significant difference in serum albumin levels among the groups with p-value=0.496 (p > 0.05). Conclusion : In conclusion, administration of Physalis angulata L. extract at doses of 75 mg/kgBW, 150 mg/kgBW, and 300 mg/kgBW does not affect serum albumin levels in diabetic rats. | |
| 47833 | 51222 | I1B022048 | Hubungan Aktivitas Berorganisasi dengan Kecerdasan Emosional dan Berpikir Kritis pada Mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Kecerdasan emosional dan kemampuan berpikir kritis merupakan kompetensi krusial bagi perawat. Aktivitas berorganisasi diduga dapat menjadi wahana pengembangan kedua kompetensi tersebut melalui pembelajaran pengalaman. Namun, bukti empiris mengenai hubungan aktivitas berorganisasi dengan kecerdasan emosional dan berpikir kritis pada mahasiswa keperawatan di Indonesia masih terbatas. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional ini melibatkan 197 mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman yang aktif berorganisasi, dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus hingga Desember tahun 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner aktivitas berorganisasi, Trait Emotional Intelligence Questionnaire-Short Form (TEIQue-SF), dan Critical Thinking Disposition Self-Rating Form. Analisis data menggunakan uji Somers’ D. Hasil: Sebagian besar responden memiliki aktivitas berorganisasi kategori sedang (65,5%), kecerdasan emosional kategori rendah (50,8%), dan berpikir kritis kategori baik (52,3%). Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas berorganisasi dengan kecerdasan emosional (Somers’ D = 0,280; p < 0,001) dan dengan berpikir kritis (Somers’ D = 0,162; p = 0,015). Hubungan bersifat positif, dengan kekuatan lemah hingga sedang. Kesimpulan: Aktivitas berorganisasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kecerdasan emosional dan berpikir kritis mahasiswa keperawatan, meskipun kekuatan hubungannya lemah hingga sedang. Temuan ini mendukung peran organisasi sebagai wahana pengembangan kompetensi psikososial dan kognitif, sekaligus menunjukkan bahwa masih banyak faktor lain yang turut berpengaruh. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan menggunakan desain kualitatif untuk memahami mekanisme hubungan secara mendalam serta mengeksplorasi variabel lain seperti tipe kepribadian (Big Five), dukungan keluarga, dan gaya kepemimpinan organisasi, | Background: Emotional intelligence and critical thinking ability are crucial competencies for nurses. Organizational activities are hypothesized to serve as a platform for developing both competencies through experiential learning. However, empirical evidence on this relationship, particularly among nursing students in Indonesia, remains limited. Methods: This quantitative correlational study involved 197 active student organization members from the Nursing Department of Universitas Jenderal Soedirman, selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected using questionnaires on organizational activity, the Trait Emotional Intelligence Questionnaire-Short Form (TEIQue-SF), and the Critical Thinking Disposition Self-Rating Form. Data analysis employed Somers’ D test. Results: The majority of respondents had a moderate level of organizational activity (65.5%), low emotional intelligence (50.8%), and good critical thinking (52.3%). There was a significant relationship between organizational activity and emotional intelligence (Somers’ D = 0.280; p < 0.001) and between organizational activity and critical thinking (Somers’ D = 0.162; p = 0.015). The relationships were positive, with weak to moderate strength. Conclusion: Organizational activities have a significant relationship with the emotional intelligence and critical thinking of nursing students, although the strength of the relationship is weak to moderate. This finding supports the role of organizations as a vehicle for developing psychosocial and cognitive competencies, while also indicating that many other factors still play a role. For future research, it is recommended to use a qualitative design to understand the mechanisms of the relationship in depth and to explore other variables such as personality type (Big Five), family support, and organizational leadership style. | |
| 47834 | 51223 | I1B022037 | Hubungan Pemenuhan Kebutuhan Hubungan Interpersonal dengan Harga Diri pada Mahasiswa Keperawatan Gen Z | Latar Belakang : Mahasiswa gen Z adalah generasi yang tumbuh dengan perkembangan digital dan masuk dalam fase dewasa awal yang memerlukan penyesuaian. Individu dengan harga diri rendah cenderung memiliki penyesuaian diri yang buruk dan tingkat kecemasan yang tinggi. Harga diri positif dapat menunjang prestasi akademik dan bekal persiapan karir bagi mahasiswa keperawatan. Menurut teori hierarki Maslow hubungan interpersonal menjadi faktor yang memengaruhi harga diri. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan antara pemenuhan kebutuhan hubungan interpersonal dengan harga diri mahasiswa keperawatan gen Z Universitas Jenderal Soedirman. Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan metode kuantitatif. Teknik sampel yang digunakan proportionate stratified random sampling dengan responden penelitian berjumlah 237 mahasiswa untuk menjadi responden menggunakan instrumen INQ-15 dan RSES. Analisis bivariat menggunakan uji Somer’s D. Hasil Penelitian : Karakteristik responden berada pada rentang usia 18-23 tahun dan mayoritas berjenis kelamin perempuan 206 responden (86,9%), durasi penggunaan media sosial mayoritas lebih dari 4 jam sehari 187 responden (78,9%), mayoritas mengikuti organisasi mahasiswa internal 186 responden (78,5%), dan didominasi angkatan 2023 sebanyak 83 responden (35%). Hasil analisis uji Somer’s D didapatkan nilai r = -0,387 dan nilai p-value <0,001. Terdapat hubungan negatif berkorelasi lemah antara pemenuhan kebutuhan hubungan interpersonal dengan harga diri pada mahasiswa Keperawatan gen Z. Kesimpulan : Mahasiswa dengan hubungan interpersonal terpenuhi maka harga diri mahasiswa cenderung semakin tinggi, sebaliknya mahasiswa dengan hubungan interpersonal tidak terpenuhi maka harga diri mahasiswa cenderung rendah. | Background : Gen Z students are a generation that has grown up with digital developments and are entering early adulthood, which requires adjustment. Individuals with low self-esteem tend to have poor self-adjustment and high anxiety levels. Positive self-esteem can support academic achievement and career preparation for nursing students. According to Maslow's hierarchy theory, interpersonal relationships are a factor that influences self-esteem. The purpose of this study was to analyze the relationship between the fulfillment of interpersonal relationship needs and the self-esteem of Gen Z nursing students at Jenderal Soedirman University. Methodology : This study used a correlational design with quantitative methods. The sampling technique used was proportionate stratified random sampling with 237 students as respondents using the INQ-15 and RSES instruments. Bivariate analysis used Somer's D test. Results : The characteristics of the respondents were in the age range of 18-23 years old, and the majority were female, with 206 respondents (86.9%). The majority spent more than 4 hours a day on social media, with 187 respondents (78.9%). the majority joined internal student organizations (186 respondents, 78.5%), and were dominated by the class of 2023 (83 respondents, 35%). The results of Somer's D test analysis obtained a value of r = -0.387 and a p-value <0.001. There is a weak negative correlation between the fulfillment of interpersonal relationship needs and self-esteem among Gen Z nursing students. Conclusion : Students with fulfilling interpersonal relationships tend to have higher self-esteem, whereas students with unsatisfactory interpersonal relationships tend to have low self-esteem. | |
| 47835 | 51225 | H1A022005 | ANALISIS DAMPAK FITUR MOMEN WARNA PADA RUANG WARNA YUV, LAB, DAN RGB SERTA KOMBINASINYA DENGAN FITUR TEKSTUR GLRLM, TAMURA DAN LBP TERHADAP DETEKSI DINI PRA-KANKER SERVIKS | Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada perempuan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) banyak digunakan karena murah dan sederhana, namun hasilnya bergantung pada subjektivitas tenaga medis sehingga berisiko menimbulkan kesalahan diagnosis. Untuk meningkatkan objektivitas dan akurasi deteksi dini, penelitian ini mengusulkan pendekatan pengolahan citra digital melalui analisis fitur momen warna pada ruang warna RGB, YUV, dan LAB, serta kombinasi dengan fitur tekstur GLRLM, Tamura, dan LBP. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan 162 citra kolposkopi pasca-IVA dari IARC Colposcopy Image Bank (75 abnormal, 87 normal). Tahapan meliputi prapemrosesan, ekstraksi fitur warna (mean, standar deviasi, skewness), dan tekstur (LBP, GLRLM, Tamura). Model diuji menggunakan algoritma XGBoost dan AdaBoost dengan evaluasi akurasi, presisi, spesifisitas, recall, dan F1-score serta analisis feature ranking. Hasil menunjukkan bahwa model XGBoost dengan kombinasi fitur warna YUV dan tekstur memberikan performa terbaik dengan akurasi 90,91%, presisi 93,75%, spesifisitas 93,75%, recall 88,24%, dan F1-score 90,91%. Ruang warna YUV terbukti paling efektif karena mampu memisahkan luminansi dan krominansi secara optimal, sementara fitur tekstur berperan dominan dalam mendeteksi pola lesi. Kombinasi fitur warna dan tekstur secara keseluruhan meningkatkan akurasi dan stabilitas model klasifikasi. | Cervical cancer is one of the leading causes of death among women, particularly in developing countries such as Indonesia. The Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) method is widely used due to its affordability and simplicity; however, its results heavily depend on the subjectivity of medical personnel, which may lead to diagnostic errors. To enhance objectivity and accuracy in early detection, this study proposes a digital image processing approach through the analysis of color moment features in RGB, YUV, and LAB color spaces, combined with texture features including GLRLM, Tamura, and LBP. The study was conducted experimentally using 162 post-VIA colposcopy images from the IARC Colposcopy Image Bank, consisting of 75 abnormal and 87 normal images. The stages included preprocessing, extraction of color features (mean, standard deviation, skewness), and texture features (LBP, GLRLM, Tamura). The extracted features were evaluated using XGBoost and AdaBoost algorithms, with performance assessed through accuracy, precision, specificity, recall, and F1-score, as well as feature ranking analysis. The results show that the XGBoost model with a combination of YUV color features and texture features achieved the best performance, with 90.91% accuracy, 93.75% precision, 93.75% specificity, 88.24% recall, and 90.91% F1 score. The YUV color space proved to be the most effective, as it separates luminance and chrominance components efficiently, while texture features played a dominant role in detecting cervical lesion patterns. Overall, the combination of color and texture features enhanced the accuracy and stability of the classification model. | |
| 47836 | 51226 | H1C019052 | GEOLOGI DAN EVALUASI KERENTANAN LINGKUNGAN TERHADAP KONTAMINAN DARI PERMUKAAN DI KECAMATAN KALIMANAH KABUPATEN PURBALINGGA, JAWA TENGAH | Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kerentanan lingkungan terhadap kontaminan dari permukaan pada Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, dengan memanfaatkan pendekatan geologi dan metode indeks GOD (Groundwater occurrence, Overall lithology of aquifer/aquitard, Depth to groundwater table). Pengambilan data dilakukan melalui survei 16 sumur gali dan pengukuran geolistrik konfigurasi Schlumberger pada 5 titik yang tersebar merata. Data lapangan yang dikumpulkan meliputi kedalaman muka air tanah, litologi lapisan penutup, serta karakteristik akuifer yang ditafsirkan dari nilai resistivitas. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa sistem akuifer di daerah penelitian didominasi oleh akuifer bebas yang disusun oleh material aluvial berupa lempung, lempung pasiran, dan soil. Variasi litologi penutup menghasilkan nilai skor O antara 0,4–0,5, sedangkan skor G umumnya bernilai 1 karena tipe akuifer yang tidak tertekan. Kedalaman muka air tanah berkisar dari 0 hingga 5 meter, menghasilkan skor D antara 0,9–1. Nilai indeks GOD yang diperoleh berada pada rentang 0,4–0,5, yang mengelompokkan wilayah penelitian ke dalam kelas kerentanan sedang hingga tinggi. Sebaran spasialnya menunjukkan bahwa kerentanan tertinggi terkonsentrasi pada zona elevasi rendah di bagian selatan–tenggara, sementara zona elevasi lebih tinggi di utara–barat cenderung berada dalam kelas kerentanan sedang. Penelitian ini menegaskan bahwa kondisi geologi, khususnya litologi penutup dan kedalaman muka air tanah, memiliki pengaruh langsung terhadap tingkat kerentanan akuifer pada lingkungan permukiman aluvial. Temuan ini dapat menjadi dasar pengelolaan kualitas air tanah serta perencanaan tata ruang yang lebih berkelanjutan di Kecamatan Kalimanah. | This study aims to evaluate the environmental vulnerability to surface-derived contaminants in Kalimanah District, Purbalingga Regency, by integrating geological observations with the GOD index method (Groundwater occurrence, Overall lithology of aquifer/aquitard, Depth to groundwater table). Data were collected from 16 hand-dug wells and five Schlumberger-array geoelectrical sounding points distributed evenly across the study area. Field measurements included groundwater table depth, lithology of the protective layer, and aquifer characteristics interpreted from resistivity values. The results indicate that the area is predominantly characterized by an unconfined aquifer system composed of alluvial deposits such as clay, sandy clay, and soil. Variations in protective layer lithology yield O-scores ranging from 0.4 to 0.5, while G-scores remain at 1 due to the dominance of unconfined groundwater conditions. Groundwater table depths range from 0 to 5 meters, producing D-scores between 0.9 and 1. The resulting GOD index values fall within the range of 0.4–0.5, classifying the region into moderate to high vulnerability categories. Spatially, the highest vulnerability is concentrated in the low-elevation southern and southeastern zones, while higher-elevation areas in the north and west generally fall into the moderate class. These findings highlight the significant influence of geological conditions—particularly protective-layer lithology and groundwater table depth—on aquifer vulnerability in alluvial residential settings. The results provide a scientific basis for groundwater quality management and sustainable spatial planning in Kalimanah District. | |
| 47837 | 51232 | A1G023008 | Persepsi Petani terhadap Sistem Budidaya Minapadi di Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas | Sistem budidaya minapadi adalah metode pengelolaan ikan diantara tanaman padi (Bobihoe et al., 2015). Desa Panembangan merupakan wilayah yang pernah mengikuti program pengembangan minapadi di Jawa Tengah. Program tersebut berhasil dijalankan dan terbukti meningkatkan pendapatan. Namun, setelah program tersebut berakhir sebagian besar petani tidak melanjutkan adopsi sistem budidaya minapadi sehingga persepsi petani penting untuk diteliti. Pengetahuan tentang persepsi petani terhadap sistem budidaya minapadi diperlukan untuk mengetahui apakah ketidakberlanjutan adopsi sistem budidaya minapadi disebabkan oleh persepsi petani yang kurang baik sehingga dapat menjadi bahan evaluasi mengenai pengembangan minapadi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui karakteristik petani yang pernah menerapkan sistem budidaya minapadi, 2) mengetahui persepsi petani terhadap sistem budidaya minapadi, 3) mengetahui hubungan antara karakteristik dengan persepsi petani terhadap sistem budidaya minapadi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas menggunakan metode sensus. Objek penelitian ini adalah karakteristik dan persepsi petani terhadap sistem budidaya minapadi. Data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari petani responden melalui kuesioner. Data sekunder diperoleh dari arsip desa, jurnal, buku, dan sebagainya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu karakteristik petani yang terdiri dari umur, pendidikan, pengalaman, luas lahan, dan pendapatan serta persepsi petani yang terdiri dari keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dapat dicoba, dapat diamati, dan sifat sistem sosial. Tujuan penelitian pertama dan kedua untuk mengetahui karakteristik dan persepsi petani yang pernah menerapkan sistem budidaya minapadi dianalisis menggunakan analisis deskriptif, tujuan penelitian ketiga untuk mengetahui hubungan antara karakteristik dengan persepsi petani dianalisis menggunakan analisis rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani yang pernah menerapkan sistem budidaya minapadi di Desa Panembangan termasuk dalam kategori umur lanjut usia (>60 tahun), tingkat pendidikan yang paling banyak tamat SD, sebagian besar petani memiliki pengalaman budidaya minapadi pada rentang 1 – 1,9 tahun, sebagaian besar petani pernah menerapkan budidaya minapadi di lahan seluas >0,2 hektar, dan pendapatan sebagian besar petani dari budidaya minapadi sebesar ≥Rp3.000.000. Tingkat persepsi petani dari indikator keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dapat dicoba, dapat diamati, dan sifat sistem sosial termasuk kategori baik dan sangat baik. Hal tersebut berarti bahwa ketidakberlanjutan adopsi sistem budidaya minapadi di Desa Panembangan bukan disebabkan oleh persepsi petani yang kurang baik sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut. Karakteristik petani yang berhubungan dengan persepsi yaitu pengalaman bertani. Karakteristik petani yang tidak berhubungan dengan persepsi diantaranya umur, pendidikan, luas lahan, dan pendapatan. | The minapadi cultivation system is a method of fish management among rice plants (Bobihoe et al., 2015). Panembangan Village is an area that has participated in the minapadi development program in Central Java. The program was successfully implemented and proven to increase income. However, after the program ended, most farmers did not continue to adopt the minapadi cultivation system, so farmers' perceptions were important to be researched. Knowledge of farmers' perception of the minapadi cultivation system is needed to find out whether the unsustainable adoption of the minapadi cultivation system is caused by poor farmers' perception so that it can be used as an evaluation material regarding the development of minapadi. This study aims to 1) find out the characteristics of farmers who have implemented the minapadi cultivation system, 2) find out the farmers' perception of the minapadi cultivation system, 3) find out the relationship between the characteristics and farmers' perception of the minapadi cultivation system. This research was carried out in Panembangan Village, Cilongok District, Banyumas Regency using the census method. The object of this research is the characteristics and perception of farmers towards the minapadi cultivation system. The data used are primary data and secondary data. Primary data was obtained directly from the respondent farmers through a questionnaire. Secondary data is obtained from village archives, journals, books, and so on. The variables used in this study are the characteristics of farmers consisting of age, education, experience, land area, and income as well as farmers' perceptions consisting of relative profits, suitability, complexity level, triability, observability, and the nature of social systems. The first and second research objectives were to determine the characteristics and perceptions of farmers who had implemented the minapadi cultivation system was analyzed using descriptive analysis, the third research objective was to determine the relationship between characteristics and farmers' perceptions was analyzed using spearman rank analysis. The results of the study showed that most farmers who had implemented the minapadi cultivation system in Panembangan Village were included in the elderly age category (>60 years), the highest level of education graduated from elementary school, most farmers have experience in minapadi cultivation in the range of 1 – 1,9 years, most farmers have applied minapadi cultivation on an area of >0,2 hectares, and the income of most farmers from minapadi cultivation is ≥Rp3.000.000. From the indicators of relative profitability, the level of suitability, the level of complexity, tryable, observable, and the nature of the social system are included in the good and very good categories. This means that the unsustainable adoption of the minapadi cultivation system in Panembangan Village is not caused by poor perception of farmers, so further research is needed. Characteristics of farmers related to perception are farming experience. Characteristics of farmers that are not related to perception include age, education, land area, and income. | |
| 47838 | 51174 | C1B022052 | THE INFLUENCE OF ENTREPRENEURIAL MARKETING AND DIGITAL MARKETING CAPABILITIES ON MARKETING PERFORMANCE: EVIDENCE FROM CULINARY MSMES | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh entrepreneurial marketing terhadap marketing performance pada UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) kuliner di daerah Barlingmascakeb, dengan digital marketing capabilities sebagai variabel mediasi dan market turbulence sebagai variabel moderasi. Temuan ini mengungkapkan bahwa entrepreneurial marketing memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap marketing performance dan secara signifikan meningkatkan digital marketing capabilities. Lebih lanjut, digital marketing capabilities ditemukan berpengaruh positif terhadap marketing performance, mendukung pentingnya kesiapan digital dalam memperkuat kinerja pemasaran. Namun, peran digital marketing capabilities sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara entrepreneurial marketing dan marketing performance tidak didukung, menunjukkan bahwa jalur langsung lebih berpengaruh daripada jalur mediasi. Demikian pula, market turbulence tidak secara signifikan memoderasi hubungan antara entrepreneurial marketing dan marketing performance, yang menunjukkan bahwa perubahan lingkungan eksternal tidak memperkuat dampak strategi pemasaran dalam konteks ini. Hasil ini menawarkan wawasan yang berharga bagi UMKM, menyoroti peran entrepreneurial marketing dan digital marketing capabilities dalam meningkatkan marketing performance. | This study aims to analyze the effect of entrepreneurial marketing on marketing performance in food and beverage MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises) in the Barlingmascakeb area, with digital marketing capabilities as a mediating variable and market turbulence as a moderating variable. The findings reveal that entrepreneurial marketing has a significant and positive effect on marketing performance and significantly enhances digital marketing capabilities. Furthermore, digital marketing capabilities were found to positively influence marketing performance, supporting the importance of digital readiness in strengthening marketing performance. However, the role of digital marketing capabilities as a mediating variable in the relationship between entrepreneurial marketing and marketing performance was not supported, indicating that the direct path remains more influential than the mediated one. Similarly, market turbulence did not significantly moderate the relationship between entrepreneurial marketing and marketing performance, suggesting that external environmental changes did not amplify the impact of marketing strategies in this context. These results offer valuable insights for MSMEs, highlighting the central role of entrepreneurial marketing and digital marketing capabilities in enhancing marketing performance. | |
| 47839 | 51234 | I1B022022 | Pengaruh Intervensi Kombinasi Senam Tera dan Jalan Tandem terhadap Penurunan Risiko Jatuh pada Lansia di Posyandu Margosari 7 Desa Ledug | Latar Belakang: Proses penuaan menyebabkan penurunan kekuatan otot dan keseimbangan tubuh yang dapat meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Diperlukan intervensi nonfarmakologis yang efektif dan aman untuk menurunkan risiko jatuh, salah satunya melalui intervensi kombinasi senam tera dan jalan tandem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi senam tera dan jalan tandem terhadap penurunan risiko jatuh pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental pretest-posttest with control group design pada 34 lansia yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=17) dan kelompok kontrol (n=17). Kelompok eksperimen diberikan intervensi kombinasi senam tera dan jalan tandem, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Risiko jatuh diukur menggunakan Tinetti Balance Assessment Tool (TBAT). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, Paired t-Test, dan uji Mann–Whitney dengan tingkat signifikansi (p=0,05). Hasil: Sebanyak 34 lansia mengikuti penelitian yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=17) dan kontrol (n=17). Median usia 66 tahun, mayoritas perempuan, dan pendidikan terbanyak SMA. Hasil uji Wilcoxon kelompok eksperimen menunjukkan adanya perbedaan bermakna dengan nilai signifikansi (p<0,001), sedangkan hasil uji Paired t-Test kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna dengan nilai p=0,332. Uji Mann–Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok (p=0,001). Kesimpulan: Kombinasi senam tera dan jalan tandem berpengaruh terhadap penurunan risiko jatuh pada lansia, sehingga latihan ini direkomendasikan sebagai intervensi alternatif untuk menurunkan risiko jatuh. Kata kunci: Jalan Tandem, Lansia, Risiko Jatuh, Senam Tera | Background: The aging process causes a decline in muscle strength and body balance, which can increase the risk of falls in the elderly. Effective and safe non-pharmacological interventions are needed to reduce fall risk, one of which is a combination intervention of tera gymnastics and tandem walking. This study aimed to determine the effect of a combination of tera gymnastics and tandem walking on reducing fall risk in the elderly. Methodology: This study used a quasi-experimental pretest-posttest with control group design involving 34 elderly participants divided into an experimental group (n=17) and a control group (n=17). The experimental group was given a combination intervention of tera gymnastics and tandem walking, while the control group did not receive any intervention. Fall risk was measured using the Tinetti Balance Assessment Tool (TBAT). Data analysis was performed using the Wilcoxon test, Paired t-Test, and Mann–Whitney test with a significance level of (p<0.05). Research Results: A total of 34 elderly participants were included in the study, divided into an experimental group (n=17) and a control group (n=17). The median age was 66 years, the majority were female, and the highest level of education was senior high school. The Wilcoxon test results in the experimental group showed a significant difference with a significance value of (p<0.001), while the Paired t-Test results in the control group showed no significant change with a p=0.332. The Mann–Whitney test showed a significant difference between groups (p=0.001). Conclusion: The combination of tera gymnastics and tandem walking has an effect on reducing fall risk in older adults; therefore, this exercise is recommended as an alternative intervention. Keywords: Fall Risk, Older Adults, Tandem Walking, Tera Gymnastics | |
| 47840 | 51233 | C1C022094 | PENGARUH VOLATILITAS LABA, KOMPLEKSITAS AUDIT, AUDITOR SWITCHING, DAN PENGUNGKAPAN KEY AUDIT MATTERS TERHADAP AUDIT DELAY | Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh volatilitas laba, kompleksitas audit, auditor switching, dan pengungkapan key audit matters (KAM) terhadap audit delay pada perusahaan sektor consumer cyclicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2022–2024. Penelitian didasarkan pada teori agensi dan teori sinyal. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan auditor independen yang diperoleh dari situs resmi BEI dan situs perusahaan dengan teknik dokumentasi. Sampel ditentukan menggunakan purposive sampling dan menghasilkan 97 perusahaan (291 observasi firm-year). Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik dengan bantuan SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas laba berpengaruh positif terhadap audit delay; kompleksitas audit berpengaruh positif terhadap audit delay; auditor switching berpengaruh positif terhadap audit delay; serta pengungkapan Key Audit Matters berpengaruh positif terhadap audit delay. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketidakstabilan laba, semakin kompleksnya akun yang diaudit, pergantian auditor, serta meningkatnya pengungkapan area audit signifikan cenderung memperpanjang proses audit sehingga meningkatkan peluang keterlambatan penerbitan laporan keuangan audit. Secara praktis, perusahaan perlu memperkuat kesiapan data dan koordinasi audit, sementara auditor perlu meningkatkan perencanaan dan alokasi sumber daya untuk meminimalkan audit delay. | This study examines the effects of earnings volatility, audit complexity, auditor switching, and key audit matters (KAM) disclosure on audit delay in consumer cyclicals firms listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during 2022–2024. Grounded in agency theory and signaling theory, the study employs secondary data from audited financial statements and independent auditors’ reports collected through documentation from the IDX website and corporate websites. Using purposive sampling, the final sample comprises 97 firms, yielding 291 firm-year observations. The hypotheses are tested using logistic regression with SPSS 26. The results indicate that earnings volatility has a positive effect on audit delay; audit complexity positively affects audit delay; auditor switching positively affects audit delay; and Key Audit Matters disclosure positively affects audit delay. These findings suggest that higher uncertainty in earnings, more complex audit tasks, auditor changes, and greater disclosure of significant audit matters tend to lengthen audit procedures, thereby increasing the likelihood of delayed audit reporting. Practically, firms should enhance data readiness and internal coordination, while auditors should improve audit planning and resource allocation to reduce audit delay. |