Home
Login.
Artikelilmiahs
51267
Update
MOCHAMMAD REZA DISTA PERMANA
NIM
Judul Artikel
Aktivitas Antibakteri dan Antibiofilm Jamur Endofit Penicillium citrinum K6 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Staphylococcus aureus merupakan agen penyebab infeksi yang sulit ditangani akibat tingginya resistensi terhadap antibiotik. Kemampuannya dalam membentuk biofilm berperan hingga 80% dalam infeksi kronis dan berulang. WHO menetapkan S. aureus sebagai patogen prioritas yang memerlukan pengembangan antibiotik baru. Berbagai pendekatan telah dikembangkan, termasuk eksplorasi senyawa bioaktif dari mikroorganisme laut. Salah satu kandidat potensial yaitu jamur endofit Penicillium citrinum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah jamur endofit P. Citrinum K6 simbion nudibranchia memiliki aktivitas antibakteri dan antibiofilm terhadap S. aureus. Jamur diinokulasi pada media PDA hingga diperoleh kultur murni, kemudian di fermentasi pada media beras selama 14 hari, dilanjutkan dengan maserasi menggunakan etil asetat selama 24 jam. Ekstrak yang diperoleh diuji aktivitas antibakteri dan antibiofilmnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat P. Citrinum K6 memiliki aktivitas antibakteri lemah pada konesntrasi 1% dengan zona hambat sebesar 1,59±0,99 mm. Akan tetapi dengan konsentrasi yang sama mampu menghambat pertumbuhan biofilm lebih dari 50%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Staphylococcus aureus is a causative agent of infections that are difficult to manage due to its high resistance to antibiotics. Its ability to form biofilms contributes up to 80% to chronic and recurrent infections. The World Health Organization has designated S. aureus as a priority pathogen requiring the development of new antibiotics. Various approaches have been explored, including the investigation of bioactive compounds from marine microorganisms. One potential candidate is the endophytic fungus Penicillium citrinum. This study aimed to determine whether the endophytic fungus P. citrinum K6, a symbiont of nudibranch, exhibits antibacterial and antibiofilm activity against S. aureus. The fungus was inoculated on PDA medium to obtain a pure culture, then fermented on rice medium for 14 days, followed by maceration using ethyl acetate for 24 hours. The resulting extract was tested for antibacterial and antibiofilm activity. The findings revealed that the ethyl acetate extract of P. citrinum K6 exhibited weak antibacterial activity at a concentration of 1%, with an inhibition zone of 1.59 ± 0.99 mm. However, at the same concentration, it was able to inhibit biofilm growth by more than 50%.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save