Artikelilmiahs
Menampilkan 47.921-47.940 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 47921 | 51313 | C1B022011 | Pengaruh likuiditas, kecukupan modal, profitabilitas, efisiensi, risiko kredit, dan ESG terhadap stabilitas bank dengan kompetisi sebagai moderasi | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh likuiditas, kecukupan modal, profitabilitas, efisiensi, risiko kredit, dan ESG terhadap stabilitas bank, serta menguji peran kompetisi dalam memoderasi pengaruh kecukupan modal, profitabilitas, dan ESG terhadap stabilitas bank. Metode yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan pendekatan Common Effect Model (CEM) dan Moderated Regression Analysis (MRA). Sampel penelitian terdiri dari 15 bank umum konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020-2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap stabilitas bank, (2) Kecukupan modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap stabilitas bank, (3) Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap stabilitas bank, (4) Efisiensi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap stabilitas bank, (5) Risiko kredit berpengaruh negatif dan signifikan terhadap stabilitas bank, (6) ESG tidak berpengaruh terhadap stabilitas bank, (7) Kompetisi memperlemah pengaruh kecukupan modal terhadap stabilitas bank, (8) Kompetisi memperkuat pengaruh profitabilitas terhadap stabilitas bank, dan (9) Kompetisi tidak memoderasi pengaruh ESG terhadap stabilitas bank. Temuan ini menegaskan bahwa ketahanan perbankan lebih dipengaruhi oleh fundamental keuangan dibandingkan faktor keberlanjutan, serta dinamika kompetisi memiliki peran penting dalam memoderasi hubungan antara kinerja keuangan dan stabilitas bank. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi bagi manajer bank dan regulator dalam merumuskan strategi untuk memperkuat stabilitas perbankan di era persaingan industri yang semakin ketat. | This study aims to analyze the effect of liquidity, capital adequacy, profitability, efficiency, credit risk, and ESG on bank stability, and examine the role of competition in moderating the effect of capital adequacy, profitability, and ESG on bank stability. The method used is panel data regression analysis with the Common Effect Model (CEM) approach and Moderated Regression Analysis (MRA). The research sample consists of 15 conventional commercial banks listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2020-2025 period. The results of the study indicate that: (1) Liquidity has a positive and significant effect on bank stability, (2) Capital adequacy has a positive and significant effect on bank stability, (3) Profitability has no effect on bank stability, (4) Efficiency has a negative and significant effect on bank stability, (5) Credit risk has a negative and significant effect on bank stability, (6) ESG has no effect on bank stability, (7) Competition weakens the effect of capital adequacy on bank stability, (8) Competition strengthens the effect of profitability on bank stability, and (9) Competition does not moderate the effect of ESG on bank stability. These findings confirm that banking resilience is more influenced by financial fundamentals than sustainability factors, and that competitive dynamics play a significant role in moderating the relationship between financial performance and bank stability. Overall, this research contributes to bank managers and regulators in formulating strategies to strengthen banking stability in an era of increasingly fierce industry competition. | |
| 47922 | 51314 | G1A022088 | Pengaruh Nanostructured Lipid Carriers Ekstrak Etanol Sambiloto (Andrographis paniculata) Terhadap Ekspresi mRNA Glutathione Peroksidase-1 Pada Mencit yang Diinduksi CCl4” | Latar Belakang: Karbon tetraklorida (CCl₄) merupakan hepatotoksin yang menyebabkan kerusakan oksidatif melalui peningkatan reactive oxygen species (ROS) dan penurunan pertahanan antioksidan endogen. Sambiloto (Andrographis paniculata) mengandung andrografolida yang memiliki aktivitas antioksidan, namun memiliki kelarutan air dan bioavailabilitas rendah. Nanostructured Lipid Carriers (NLC) dapat menjadi strategi untuk meningkatkan bioavailabilitas senyawa aktif tersebut. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian NLC ekstrak etanol sambiloto terhadap ekspresi mRNA Glutathione Peroxidase-1 (GPx-1) pada mencit yang diinduksi CCl₄. Metodologi: Penelitian eksperimental dengan posttest only control group design menggunakan 30 mencit Balb/C jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok: kontrol sehat, kontrol sakit (CCl₄ 1 mL/kgBB), CCl₄ + NLC ekstrak sambiloto 70 mg/kgBB, CCl₄ + ekstrak sambiloto 70 mg/kgBB, dan CCl₄ + NLC kosong. Induksi CCl₄ diberikan intraperitoneal hari ke-1, perlakuan oral hari ke-3 dan ke-5. Ekspresi mRNA GPx-1 dianalisis dengan qPCR pada hari ke-6. Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan (p=0,630) ekspresi mRNA GPx-1 antar kelompok. Namun secara deskriptif, kelompok kontrol sakit menunjukkan median tertinggi (1,20), sedangkan kelompok CCl₄ + NLC kosong terendah (0,30). Kelompok yang mendapat ekstrak sambiloto menunjukkan nilai mendekati kontrol sehat. Kesimpulan: NLC ekstrak sambiloto tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap ekspresi mRNA GPx-1 dibandingkan ekstrak konvensional pada model kerusakan hepar akut akibat CCl₄. | Background: Sambiloto (Andrographis paniculata) contains andrographolide with hepatoprotective potential via antioxidant mechanisms, but has low bioavailability. Nanostructured Lipid Carriers (NLC) formulation is expected to enhance its effectiveness. Objective: To determine the effect of NLC sambiloto ethanol extract on Glutathione Peroxidase-1 (GPx-1) mRNA expression in CCl₄- induced mice. Method: Experimental study with post-test only control group design using 30 male Balb/C mice divided into 5 groups: healthy control, disease control (CCl₄ 1 mL/kgBW), CCl₄ + NLC sambiloto extract 70 mg/kgBW, CCl₄ + sambiloto extract 70 mg/kgBW, and CCl₄ + blank NLC. CCl₄ induction was given intraperitoneally on day 1, treatments orally on days 3 and 5. GPx-1 mRNA expression was analyzed by qPCR on day 6. Results: No significant difference (p=0.630) in GPx-1 mRNA expression among groups. However descriptively, the disease control group showed the highest median (1.20), while the CCl₄ + blank NLC group showed the lowest (0.30). Groups receiving sambiloto extract showed values close to healthy control. Conclusion: NLC sambiloto extract did not significantly affect GPx-1 mRNA expression compared to conventional extract in acute CCl₄-induced liver damage model. | |
| 47923 | 51227 | C1G019037 | NATURAL TOURISM DEVELOPMENT STRATEGY TO INCREASE THE INCOME OF LOCAL COMMUNITIES IN MATENGGENG VILLAGE, DAYEUHLUHUR DISTRICT | ABSTRAK Indonesia dilintasi garis khatulistiwa, yang berarti Indonesia memiliki iklim tropis, sehingga Indonesia merupakan negara yang kaya akan keindahan alam yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Dilengkapi dengan modal alam yang kaya, Indonesia dapat menjadikan daerah-daerah potensial sebagai destinasi wisata di mata dunia. Pariwisata merupakan salah satu pemanfaatan sumber daya alam yang dapat memiliki nilai ekonomi tinggi bagi suatu daerah yang mengelola sumber daya alam tersebut untuk menjadi tempat wisata yang dapat menarik pengunjung dari dalam dan luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi pengembangan objek wisata alam untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan merangsang aktivitas ekonomi di masyarakat sekitar Desa Matenggeng, Kecamatan Dayeuhluhur. Desa Matenggeng merupakan salah satu desa di Kabupaten Cilacap yang memiliki objek wisata alam lokal dengan potensi pengembangan dan diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah terkait. Penelitian ini menggunakan data primer dengan teknik wawancara berbasis kuesioner. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis SWOT sehingga strategi pengembangan pariwisata di Desa Matenggeng, Kecamatan Dayeuhluhur terletak di kuadran 4 atau berada di antara kelemahan internal dan ancaman eksternal sehingga dapat dikatakan berada dalam posisi stabil dan membutuhkan pengembangan serta perhatian dari pemerintah terkait, khususnya dinas pariwisata. Implikasi dari penelitian ini adalah Desa Matenggeng memiliki potensi signifikan untuk pengembangan lebih lanjut dalam hal pengembangan pariwisata karena memiliki peluang dan kekuatan yang relatif lebih signifikan dibandingkan dengan kelemahan dan ancamannya. Kata kunci: Analisis SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman) | ABSTRACT Indonesia is crossed by the equator, which means Indonesia has a tropical climate, so Indonesia is a country rich in natural beauty spread from Sabang to Merauke. Equipped with rich natural capital, Indonesia can make potential areas tourist destinations in the eyes of the world. Tourism is one of the uses of natural resources that can have high economic value for a region that manages natural resources to become a tourist spot that can attract visitors from both within and outside the country. This research aims to develop a strategy for developing natural tourism objects to increase community income and stimulate economic activity in the surrounding community in Matenggeng Village, Dayeuhluhur District. Matenggeng Village is one of the villages in Cilacap Regency that has local natural tourism objects with potential for development and is expected to receive attention from the relevant government.. This study uses primary data using questionnaire-based interview techniques. Data analysis in this study uses a SWOT analysis so that the tourism development strategy in Matenggeng Village, Dayeuhluhur District is located in quadrant 4 or is between internal weaknesses and external threats so that it can be said to be in a stable position and requires development and attention from the relevant government, especially the tourism office. The implication of this study is that Matenggeng Village has significant potential for further development in terms of tourism development due to its relatively more significant opportunities and strengths compared to its weaknesses and threats. Keywords: SWOT Analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats). | |
| 47924 | 51315 | I1J022007 | The Relationship Between Knowledge And Attitude With Landslide Disaster Preparedness Among Karang Taruna Members In Cihonje Village, Gumelar Sub-District, Banyumas Regency | Latar Belakang: Longsor merupakan bencana alam yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan dan mata pencaharian masyarakat. Kesiapan masyarakat merupakan faktor krusial dalam upaya pengurangan risiko bencana dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengetahuan dan sikap. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara pengetahuan, sikap, dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana longsor. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 73 anggota organisasi Karang Taruna di Desa Cihonje berpartisipasi sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup variabel pengetahuan, sikap, dan kesiapsiagaan terhadap bencana longsor. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil: Analisis karakteristik responden menunjukkan bahwa sebagian besar peserta berada dalam kelompok usia remaja akhir (17–25 tahun) (47,9%), laki-laki (80,8%), memiliki pendidikan SMA/SMK (63%), dan sebagian besar bekerja secara mandiri (43,2%). Analisis korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan kesiapan (p = 0,114), sedangkan terdapat hubungan antara sikap dan kesiapan (p = 0,003). Kesimpulan: Temuan menunjukkan bahwa analisis korelasi menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan kesiapan, sementara hubungan yang signifikan ditemukan antara sikap dan kesiapan. Hal ini menyarankan bahwa kesiapan bencana dipengaruhi tidak hanya oleh pengetahuan dan sikap, tetapi juga oleh faktor lain seperti pengalaman bencana sebelumnya, akses informasi, pelatihan, dan simulasi bencana. | Background: Landslides are natural disasters that have the potential to cause serious impacts on community safety and livelihoods. Community preparedness is a crucial factor in disaster risk reduction efforts and is influenced by various factors, including knowledge and attitudes. This study aimed to examine the relationship between knowledge and attitudes and community preparedness in facing landslide disasters. Methodology: This study employed a quantitative research design with a cross-sectional approach. A total of 73 members of the Karang Taruna organization in Cihonje Village participated as respondents. Data were collected using questionnaires covering the variables of knowledge, attitudes, and preparedness for landslide disasters. Data analysis was conducted using the Spearman’s rho correlation test. Results: The analysis of respondents’ characteristics showed that most participants were in the late adolescent age group (17–25 years) (47.9%), male (80.8%), had a senior high school/vocational high school education (63%), and were predominantly self-employed (43.2%). Correlation analysis indicated that there was no significant relationship between knowledge and preparedness (p = 0.114) and there is a relationship between attitude and preparedness (p = 0.003). Conclusion: The findings indicate that the Correlation analysis showed that there was no significant relationship between knowledge and preparedness, while a significant relationship was found between attitude and preparedness. This suggests that disaster preparedness is influenced not only by knowledge and attitudes, but also by other factors such as previous disaster experience, access to information, training and disaster simulations. | |
| 47925 | 51364 | G1A018073 | PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PASIEN STROKE RAWAT INAP DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO PADA TAHUN 2022 | Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama morbiditas, mortalitas, dan kecacatan jangka panjang. Peningkatan kejadian stroke di Indonesia menuntut tersedianya data lokal yang akurat sebagai dasar perencanaan pencegahan dan penatalaksanaan stroke, khususnya di tingkat rumah sakit. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh secara retrospektif dari rekam medis pasien stroke rawat inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode 1 Januari–31 Desember 2022. Variabel yang diteliti meliputi jenis stroke, usia, jenis kelamin, serta faktor risiko hipertensi dan diabetes melitus. Analisis data dilakukan secara deskriptif univariat. Hasil: Sebanyak 1.607 pasien stroke rawat inap tercatat selama periode penelitian, terdiri atas stroke hemoragik sebesar 50,2% dan stroke iskemik sebesar 49,8%. Mayoritas pasien berusia ≥55 tahun (69,9%) dan berjenis kelamin laki-laki (52,6%). Faktor risiko yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi (48,4%), diikuti oleh diabetes melitus (14,4%). Kesimpulan: Stroke hemoragik sedikit lebih banyak dibandingkan stroke iskemik pada pasien rawat inap. Usia lanjut dan hipertensi merupakan karakteristik dan faktor risiko dominan pada pasien stroke. Kata kunci: stroke, karakteristik pasien, faktor risiko, rawat inap | Background: Stroke is one of the leading causes of morbidity, mortality, and long-term disability. The increasing incidence of stroke in Indonesia highlights the need for accurate local data to support effective stroke prevention and management strategies, particularly at the hospital level. Methods: This study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. Data were collected retrospectively from the medical records of hospitalized stroke patients at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto from January 1 to December 31, 2022. The variables analyzed included type of stroke, age, sex, and risk factors such as hypertension and diabetes mellitus. Data were analyzed using univariate descriptive analysis. Results: A total of 1,607 hospitalized stroke patients were recorded during the study period, consisting of 50.2% hemorrhagic stroke and 49.8% ischemic stroke. The majority of patients were aged ≥55 years (69.9%) and were male (52.6%). The most common risk factor identified was hypertension (48.4%), followed by diabetes mellitus (14.4%). Conclusion: Hemorrhagic stroke was slightly more prevalent than ischemic stroke among hospitalized patients. Advanced age and hypertension were the dominant characteristics and risk factors among stroke patients. Keywords: stroke, patient characteristics, risk factors, hospitalization | |
| 47926 | 51317 | I1J022017 | EFFECT OF YOGURT-FERMENTED RAMBUTAN SEED INFUSION ON LDL LEVELS IN WISTAR RATS | Latar Belakang: Hiperkolesterolemia yang ditandai dengan peningkatan kadar low-density lipoprotein (LDL) merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Meskipun terapi farmakologis efektif dalam menurunkan kadar LDL, potensi efek sampingnya mendorong penggunaan alternatif alami. Biji rambutan (Nephelium lappaceum L.) mengandung flavonoid, tanin, dan alkaloid yang memiliki potensi aktivitas antikolesterolemia, dan proses fermentasi dengan yogurt dapat meningkatkan bioavailabilitas senyawa aktif tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan pretest–posttest control group pada 30 ekor tikus jantan galur Wistar yang dibagi ke dalam enam kelompok. Hiperkolesterolemia diinduksi menggunakan diet tinggi lemak dan propiltiourasil. Kelompok perlakuan diberikan seduhan biji rambutan yang difermentasi dengan yogurt selama 0, 3, 5, atau 7 hari dengan dosis 19,2 mg/kg berat badan selama 14 hari. Kadar LDL diukur sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah yang dilanjutkan dengan uji post hoc Duncan. Hasil: Induksi hiperkolesterolemia secara signifikan meningkatkan kadar LDL pada seluruh kelompok kecuali kelompok kontrol sehat. Pemberian seduhan biji rambutan terfermentasi menurunkan kadar LDL pada semua kelompok perlakuan, dengan penurunan terbesar ditemukan pada kelompok fermentasi selama 7 hari. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok (p = 0,001). Kesimpulan: Seduhan biji rambutan yang difermentasi dengan yogurt efektif menurunkan kadar LDL pada tikus Wistar hiperkolesterolemia, dengan fermentasi selama 7 hari memberikan efek paling optimal. Temuan ini menunjukkan potensi seduhan biji rambutan terfermentasi sebagai pangan fungsional atau terapi komplementer. | Background: Hypercholesterolemia marked by elevated low-density lipoprotein (LDL) levels is a major risk factor for cardiovascular disease. Although pharmacological therapies are effective in lowering LDL, their potential adverse effects encourage the use of natural alternatives. Rambutan seeds (Nephelium lappaceum L.) contain flavonoids, tannins, and alkaloids with potential anticholesterolemic activity, and fermentation with yogurt may enhance their bioavailability. Method: This study employed a true experimental pretest–posttest control group design using 30 male Wistar rats divided into six groups. Hypercholesterolemia was induced using a high-fat diet and propylthiouracil. Treatment groups received yogurt-fermented rambutan seed infusion fermented for 0, 3, 5, or 7 days at a dose of 19.2 mg/kg body weight for 14 days. LDL levels were measured before and after intervention and analyzed using one-way ANOVA followed by Duncan’s post hoc test. Result: Induction significantly increased LDL levels in all groups except the healthy control. Administration of fermented rambutan seed infusion reduced LDL levels in all treatment groups, with the greatest reduction observed in the 7-day fermentation group. Statistical analysis showed significant differences among groups (p = 0.001). Conclusion: Yogurt-fermented rambutan seed infusion effectively reduces LDL levels in hypercholesterolemic Wistar rats, with 7-day fermentation providing the optimal effect, indicating its potential as a functional food or complementary therapy. | |
| 47927 | 51318 | L1A021091 | Keanekaragaman Makrozoobentos Sebagai Bioindikator Kualitas Air di Hulu Sungai Tajum Kabupaten Bantumas Jawa Tengah | Hulu Sungai Tajum merupakan kawasan yang banyak ditemukan berbagai aktivitas manusia seperti pertanian, pemukiman, penambangan pasir, dan keberadaan pabrik semen yang berpotensi memengaruhi kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indeks ekologi (keanekaragaman, keseragaman, dominansi) makrozoobentos, menganalisis pengaruh faktor fisika-kimia perairan dengan makrozoobentos, dan menentukan status kualitas air berdasarkan Family Biotic Index (FBI) di Hulu Sungai Tajum. Metode penelitian yang digunakan Adalah metode survey. Penelitian dilakukan pada bulan Mei – Juni 2025. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun dengan berbagai kondisi lingkungan. Hasil penelitian didapatkan rata-rata indeks ekologi makrozoobentos menunjukkan nilai indeks keanekaragaman sebesar 2,057 (keanekaragaman sedang), indeks keseragaman 0,737 (keseragaman sedang), dan indeks dominansi 0,083 (dominansi rendah), sedangkan nilai Family Biotic Index (FBI) pada seluruh stasiun berada pada kategori sangat baik dengan nilai sekitar 1,31–1,83. Analisis PCA menunjukkan bahwa stasiun dengan pengaruh dari parameter seperti suhu, TDS, dan TSS menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap indeks ekologi makrozoobentos, sedangkan stasiun yang memiliki pengaruh dari arus dan pH memberikan korelasi berlawanan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perairan Hulu Sungai Tajum masih baik dan mampu mendukung keanekaragaman makrozoobentos. | The Tajum River Upstream are an area where various human activities are found, such as agriculture, settlements, sand mining, and the presence of cement factories, which have the potential to affect water quality. This study aims to identify the ecological indices (diversity, evenness, dominance) of macrozoobenthos, analyze the relationship between physicochemical parameters and macrozoobenthos, and determine the water quality status based on the Family Biotic Index (FBI) in the upper Tajum River. The research employed a survey method and was conducted from May to June 2025. Sampling was carried out at three stations representing different environmental conditions. The results showed that the average ecological indices of macrozoobenthos consisted of a diversity index of 2,057 (moderate diversity), an evenness index of 0,737 (moderate evenness), and a dominance index of 0,083 (moderate dominance), while the Family Biotic Index (FBI) at all stations fell within the “very good” category with values ranging from 1,31 to 1,83. PCA analysis shows that stations influenced by parameters such as temperature, TDS, and TSS are the most influential factors in determining the ecology index of macrozoobenthos, whereas stations influenced by current velocity and pH exert an opposite effect on benthic communities. Overall, the results of this study indicate that the water quality of the upper reaches of the Tajum River remains good and is capable of supporting macrozoobenthic diversity. | |
| 47928 | 51322 | G1B021046 | Hubungan Pola Konsumsi Makanan Kariogenik dan Kebiasaan Menggosok Gigi dengan Karies Gigi Anak SD Usia 9-12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan | Latar belakang. Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dialami oleh anak usia sekolah. Faktor perilaku seperti pola konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi memiliki peran penting dalam terbentuknya karies. Tujuan. Mengetahui hubungan antara pola konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar usia 9–12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan. Metode. Jenis penelitian metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian merupakan anak usia 9-12 tahun di SD Kecamatan Purwokerto Selatan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan pemeriksaan karies menggunakan indeks dmft/DMFT. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi (p<0,05) dengan coefficient correlation (cc) 0,415 dan -0,612 dan terdapat hubungan antara kebiasaan menggosok gigi dengan karies gigi (p<0,05) dengan coefficient correlation (cc) -0,242 dan -0,441. Simpulan. Terdapat hubungan antara pola konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi, semakin tinggi konsumsi makanan kariogenik semakin tinggi pula karies gigi dan terdapat hubungan antara kebiasaan menggosok gigi dengan karies gigi, semakin buruk kebiasaan menggosok gigi, semakin tinggi karies gigi pada anak SD usia 9-12 tahun di Kecamatan Purwokerto Selatan. | Background. Dental caries is one of the most common oral health problems experienced by school-aged children. Behavioral factors such as cariogenic food consumption patterns and toothbrushing habits play an important role in the formation of caries. Purpose. To determine the relationship between cariogenic food consumption patterns and tooth brushing habits with the incidence of dental caries in elementary school children aged 9–12 years in South Purwokerto District. Methods. The type of research was analytical observational method with a cross-sectional approach. The study sample consisted of children aged 9–12 years in elementary schools in South Purwokerto District using simple random sampling. The research instruments used were the Food Frequency Questionnaire (FFQ) and caries examination using the dmft/DMFT index. Data analysis was performed using the Spearman's rank correlation test. Result. The results showed that there was a relationship between cariogenic food consumption patterns and dental caries (p<0.05) with a correlation coefficient (cc) of 0,415 dan -0,612, and there was a relationship between tooth brushing habits and dental caries (p<0.05) with a correlation coefficient (cc) of -0.242 and -0.441. Conclusion. There is a relationship between cariogenic food consumption patterns and dental caries; the higher the consumption of cariogenic foods, the higher the incidence of dental caries. There is also a relationship between toothbrushing habits and dental caries; the poorer the toothbrushing habits, the higher the incidence of dental caries. | |
| 47929 | 51319 | G1A022029 | KORELASI JUMLAH LEUKOSIT DAN NEUTROPHIL TO LYMPHOCYTE RATIO (NLR) DENGAN SUBTIPE CARCINOMA MAMMAE DI RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Latar belakang: Carcinoma mammae merupakan kanker dengan insidensi dan mortalitas tinggi pada wanita dan memiliki karakteristik biologis yang berbeda berdasarkan subtipe molekuler, seperti Luminal A, Luminal B, HER2, dan Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Proses inflamasi berperan penting dalam perkembangan keganasan, dan biomarker hematologi seperti jumlah leukosit serta Neutrophil to Lymphocyte Ratio (NLR) dapat mencerminkan aktivitas inflamasi sistemik. Pemeriksaan leukosit dan NLR bersifat sederhana, murah, dan mudah diakses dibandingkan biomarker serum lainnya, sehingga berpotensi digunakan sebagai penanda tambahan dalam karakterisasi subtipe carcinoma mammae. Namun, bukti hubungan antara jumlah leukosit dan NLR dengan subtipe carcinoma mammae masih terbatas dan belum banyak diteliti di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Tujuan: Mengetahui korelasi antara jumlah leukosit dan Neutrophil to Lymphocyte Ratio (NLR) dengan subtipe carcinoma mammae pada pasien di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien carcinoma mammae yang telah didiagnosis. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah leukosit, nilai NLR, serta subtipe carcinoma mammae (Luminal A, Luminal B, HER2, dan TNBC). Analisis statistik dilakukan untuk menilai hubungan antara jumlah leukosit dan NLR dengan subtipe carcinoma mammae menggunakan uji korelasi Chi-Square. Hasil: Sebanyak 76 subjek penelitian dianalisis, dengan mayoritas pasien memiliki nilai NLR tinggi (57,9%) dan leukosit dalam batas normal (71,1%). Subtipe carcinoma mammae yang paling banyak ditemukan adalah Luminal B (34,2%), diikuti HER2 (25,0%), TNBC (23,7%), dan Luminal A (17,1%). Nilai rata-rata NLR pada seluruh subjek adalah 4,07 ± 2,21, sedangkan rata-rata jumlah leukosit sebesar 9,83 ± 3,17 ×10³/µL. Rata-rata NLR tertinggi terdapat pada subtipe Luminal B (5,17 ± 2,61), diikuti HER2 (4,05 ± 1,70), TNBC (3,73 ± 1,80), dan terendah pada Luminal A (2,39 ± 1,23). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa jumlah leukosit tidak memiliki korelasi bermakna dengan subtipe carcinoma mammae (p = 0,613), sedangkan NLR menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan subtipe carcinoma mammae (p = 0,033). Kesimpulan: Jumlah leukosit tidak berhubungan signifikan dengan subtipe carcinoma mammae, sedangkan NLR menunjukkan hubungan yang bermakna dengan subtipe carcinoma mammae. NLR berpotensi digunakan sebagai parameter hematologi sederhana untuk mendukung penilaian karakteristik biologis tumor pada carcinoma mammae. | Background: Carcinoma mammae is a cancer with high incidence and mortality in women and has distinct biological characteristics based on molecular subtypes, including Luminal A, Luminal B, HER2, and Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Inflammatory processes play an important role in cancer progression, and hematological biomarkers such as total leukocyte count and the Neutrophil to Lymphocyte Ratio (NLR) may reflect systemic inflammatory activity. Leukocyte and NLR examinations are simple, inexpensive, and easily accessible compared with other serum biomarkers, making them potential additional markers in the characterization of carcinoma mammae subtypes. However, evidence regarding the association between leukocyte count and NLR with carcinoma mammae subtypes remains limited and has not been widely investigated at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Objective: To determine the correlation between leukocyte count and Neutrophil to Lymphocyte Ratio (NLR) with carcinoma mammae subtypes in patients at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Methods: This research was an analytical observational study with a cross-sectional design using medical record data from patients diagnosed with carcinoma mammae. The collected variables included leukocyte count, NLR value, and carcinoma mammae subtypes (Luminal A, Luminal B, HER2, and TNBC). Statistical analysis was performed to assess the correlation between leukocyte count and NLR with carcinoma mammae subtypes using the Chi-Square test. Results: A total of 76 subjects were included in the analysis. Most patients had high NLR values (57.9%), while leukocyte counts were generally within the normal range (71.1%). The most frequent subtype was Luminal B (34.2%), followed by HER2 (25.0%), TNBC (23.7%), and Luminal A (17.1%). The mean NLR value was 4.07 ± 2.21, while the mean leukocyte count was 9.83 ± 3.17 ×10³/µL. The highest mean NLR value was found in the Luminal B subtype (5.17 ± 2.61), followed by HER2 (4.05 ± 1.70), TNBC (3.73 ± 1.80), and the lowest in Luminal A (2.39 ± 1.23). The Chi-Square test showed that leukocyte count had no significant correlation with carcinoma mammae subtypes (p = 0.613), whereas NLR demonstrated a statistically significant correlation with carcinoma mammae subtypes (p = 0.033). Conclusion: Leukocyte count is not significantly associated with carcinoma mammae subtypes, whereas NLR shows a significant association with carcinoma mammae subtypes. NLR has the potential to be used as a simple hematological parameter to support the assessment of tumor biological characteristics in carcinoma mammae. | |
| 47930 | 51373 | K1B021052 | Pemodelan Risiko Relatif Kasus DBD di Provinsi Jawa Tengah tahun 2024 | Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan menjadi masalah kesehatan utama di Provinsi Jawa Tengah, salah satu provinsi dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran spasial kasus DBD, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kasus DBD, serta memetakan risiko relatif antarwilayah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2024. Beberapa model dibandingkan dalam penelitian ini, meliputi model regresi Poisson, model regresi Negative Binomial, serta model Negative Binomial Conditional Autoregressive (NB-CAR) dengan prior ICAR dan BYM menggunakan pendekatan Integrated Nested Laplace Approximation (INLA). Pemilihan model terbaik menggunakan nilai Deviance Information Criterion (DIC) dan nilai Watanabe Akaike Information Criterion (WAIC) menunjukkan bahwa model NB-CAR dengan prior ICAR dan pendekatan INLA merupakan model terbaik. Berdasarkan nilai resiko relatif (RR) dari model terbaik, Kabupaten Jepara adalah wilayah dengan risiko tertinggi, sedangkan Kota Salatiga adalah wilayah dengan risiko terendah. Selain itu, kepadatan penduduk, jumlah penduduk miskin, jumlah sarana kesehatan, jumlah tenaga kesehatan, curah hujan, dan ketinggian wilayah berpengaruh signifikan terhadap kasus DBD di Provinsi Jawa Tengah tahun 2024. | Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a disease transmitted through the bite of Aedes aegypti mosquito and is a major health problem in Central Java Province, one of the provinces with the highest number of DHF cases in Indonesia. This study aims to analyze the spatial distribution pattern of DHF cases, identify factors that influence DHF incidence, and map the relative risk across regions in Central Java Province in 2024. Several models were compared in this study, including the Poisson regression model, the Negative Binomial regression model, and the Negative Binomial Conditional Autoregressive (NB-CAR) models with ICAR and BYM priors using the Integrated Nested Laplace Approximation (INLA) approach. The selection of the best model based on the Deviance Information Criterion (DIC) and Watanabe Akaike Information Criterion (WAIC) showed that the NB-CAR model with the ICAR prior and the INLA approach was the best model. Based on the relative risk (RR) value from the best model, Jepara Regency had the highest risk, while Salatiga City had the lowest risk. In addition, population density, the number of poor people, the number of health facilities, the number of health workers, rainfall, and altitude significantly influenced DHF cases in Central Java Province in 2024. | |
| 47931 | 51321 | H1D022010 | ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMA WEBSOCKET MENGGUNAKAN PUSHER DAN LARAVEL REVERB PADA IMPLEMENTASI LIVE CAM WEBSITE MUNCAK.ID | Aktivitas pendakian gunung di Indonesia mengandung risiko yang memerlukan informasi kondisi jalur secara real-time untuk keselamatan pendaki. Platform website muncak.id membutuhkan implementasi fitur Live Cam menggunakan teknologi WebSocket dengan performa optimal untuk menyediakan siaran langsung kondisi jalur pendakian. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan fitur Live Cam menggunakan Pusher dan Laravel Reverb, menganalisis dan membandingkan performanya melalui metrik teknis, serta memberikan rekomendasi solusi optimal berdasarkan hasil pengujian. Metode pengembangan menggunakan Rapid Application Development (RAD) dengan pengembangan dua versi website secara paralel yang diuji melalui tiga tahap: pengujian fungsional end- to-end menggunakan Laravel Dusk, pengujian beban menggunakan Artillery.js dengan simulasi 100 virtual users selama 300 detik, dan monitoring sumber daya server secara real-time. Parameter pengujian yang diukur meliputi latensi koneksi WebSocket, throughput request, penggunaan CPU, penggunaan memori, dan kemampuan menangani koneksi bersamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pusher unggul dalam aspek latensi dengan median koneksi WebSocket 162,4 ms dibandingkan Reverb 2.186,8 ms (13 kali lebih cepat), stabilitas sempurna 100% tanpa error, dan efisiensi CPU 52% lebih baik dengan rata-rata penggunaan 23,4% versus 48,7%. Sementara itu, Laravel Reverb unggul dalam throughput 53% lebih tinggi (23 request/detik versus 15 request/detik), kemampuan menangani 52% lebih banyak koneksi bersamaan (2.114 versus 1.394 koneksi), dan efisiensi memori 6% lebih hemat dengan rata-rata penggunaan 41,2% versus 43,8%, namun mengalami kegagalan koneksi 28,07% pada lonjakan trafik mendadak. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini merekomendasikan Pusher untuk aplikasi yang memprioritaskan latensi rendah, stabilitas tinggi, dan auto-scaling otomatis, sedangkan Laravel Reverb cocok untuk aplikasi dengan beban stabil, budget terbatas, dan tim teknis yang mampu melakukan optimisasi infrastruktur. | Mountain climbing activities in Indonesia contain inherent risks requiring real- time trail condition information for climber safety. The muncak.id website platform requires optimal WebSocket technology performance for Live Cam feature implementation to provide live broadcasts of hiking trail conditions. This research aims to implement Live Cam features using Pusher and Laravel Reverb, analyze and compare their performance through technical metrics, and provide optimal solution recommendations based on testing results. The development method employs Rapid Application Development (RAD) with parallel development of two website versions tested through three stages: end-to-end functional testing using Laravel Dusk, load testing using Artillery.js with 100 virtual users simulation for 300 seconds, and real-time server resource monitoring. Measured testing parameters include WebSocket connection latency, request throughput, CPU usage, memory usage, and concurrent connection handling capabilities. Research results demonstrate that Pusher excels in latency aspects with median WebSocket connection of 162.4 ms compared to Reverb's 2,186.8 ms (13 times faster), perfect stability at 100% with zero errors, and 52% better CPU efficiency with average usage of 23.4% versus 48.7%. Meanwhile, Laravel Reverb excels in throughput with 53% higher performance (23 requests/second versus 15 requests/second), capability to handle 52% more concurrent connections (2,114 versus 1,394 connections), and 6% better memory efficiency with average usage of 41.2% versus 43.8%, although experiencing 28.07% connection failures during sudden traffic spikes. Based on these results, this research recommends Pusher for applications prioritizing low latency, high stability, and automatic auto-scaling, while Laravel Reverb is suitable for applications with stable loads, limited budgets, and technical teams capable of infrastructure optimization. | |
| 47932 | 51324 | I1C022075 | STUDI POTENSI SENYAWA FLAVONOID TERPRENILASI TERHADAP RESEPTOR EGFR DAN C-MET MELALUI PENDEKATAN MOLECULAR DOCKING | Reseptor tirosin kinase yaitu ephitalial growth factor receptor (EGFR) dan cellular mesenchymal to epithelial transition factor (C-MET) dapat mengalami mutasi yang berperan dalam pertumbuhan non small cell lung cancer (NSCLC). Mutasi tersebut dapat menyebabkan resistensi terhadap terapi NSCLC. Salah satu senyawa yang memiliki potensi untuk terapi NSCLC, yaitu flavonoid terprenilasi. Beberapa Flavonoid terprenilasi dilaporkan menghambat sel NSCLC secara in vitro. Namun belum diketahui adanya potensi interaksi spesifik antara flavonoid terprenilasi dengan EGFR dan C-MET sehingga diperlukan metode untuk memprediksi afinitas keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi senyawa flavonoid terprenilasi terhadap target protein EGFR dan C-MET melalui molecular docking. Penelitian ini dilakukan dengan mengevaluasi parameter Lipinski dan toksisitas senyawa flavonoid terprenilasi menggunakan ADMETlab. Penambatan senyawa flavonoid terprenilasi pada protein dilakukan dengan menggunakan PyMOL, PyRx, dan BIOVIA Discovery Studio. Potensi senyawa flavonoid terprenilasi dianalisis berdasarkan nilai binding affinity dan interaksi dengan residu penting. Pada protein EGFR, dua senyawa uji yaitu senyawa TB2 dan TB3 memiliki binding affinity yang lebih negatif (-8,5 kkal/mol dan -8,6 kkal/mol) daripada kontrol positif (-8,4 kkal/mol) dan jumlah interaksi residu penting yang sama banyaknya dengan kontrol positif, yaitu sebanyak 4 ikatan. Pada protein C-MET, senyawa uji memiliki binding affinity dan jumlah interaksi dengan residu penting yang tidak lebih baik dari kontrol positifnya. | Receptor tyrosine kinases, such as the epidermal growth factor receptor (EGFR) and the cellular mesenchymal to epithelial transition factor (C-MET), can acquire mutations that contribute to the development of non-small cell lung cancer (NSCLC). These mutations may result in resistance to current NSCLC treatment. Prenylated flavonoids are a group of compounds with potential for NSCLC treatment. In vitro studies have reported that several prenylated flavonoids inhibit NSCLC cell growth. However, the specific interaction potential between prenylated flavonoids and EGFR or C-MET remains unknown, necessitating the use of methods to predict their affinities. This study aimed to characterize the potential interactions of prenylated flavonoid compounds with the target proteins EGFR and C-MET through molecular docking. This study evaluated the drug-likeness and toxicity profiles of the compounds using ADMETlab. Compounds docking against protein targets were performed using PyMOL, PyRx, and BIOVIA Discovery Studio. The potential of the compounds were analyzed based on their binding affinity values and interactions with critical residues. compounds TB2 and TB3 exhibited more favorable binding affinities (−8,5 kcal/mol and −8,6 kcal/mol) than the positive control (−8,4 kcal/mol) and formed an equivalent number of interactions with critical residues, namely four bonds in the EGFR protein. However, the test compounds demonstrated neither stronger binding affinities nor more interactions than the positive control in the C-MET protein. | |
| 47933 | 51326 | J1E021024 | THE CORRELATION BETWEEN SPEAKING ANXIETY AND SPEAKING TEST RESULTS IN ENGLISH LEARNING AT SMP DIPONEGORO 3 KEDUNGBANTENG (A Study on 8th Grade Students at SMP Diponegoro 3 Kedungbanteng in the Academic Year 2024/2025) | Kecemasan berbicara merupakan permasalahan yang umum dialami oleh siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) dan dapat memengaruhi kemampuan berbicara mereka, khususnya pada jenjang sekolah menengah pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan berbicara siswa dan hasil tes berbicara pada siswa kelas VIII SMP Diponegoro 3 Kedungbanteng tahun ajaran 2024/2025. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional. Subjek penelitian terdiri dari 22 siswa kelas VIII yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS) untuk mengukur tingkat kecemasan berbicara siswa serta nilai tes berbicara yang diperoleh dari penilaian pembelajaran di kelas untuk mengukur kemampuan berbicara siswa. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 27. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal, sehingga analisis dilanjutkan dengan uji korelasi Pearson Product-Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang sangat kuat antara kecemasan berbicara dan hasil tes berbicara siswa (r = –0.973, p < 0.001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecemasan berbicara siswa, semakin rendah hasil tes berbicara yang diperoleh, dan sebaliknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecemasan berbicara memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berbicara siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan dapat mengurangi kecemasan siswa dalam berbicara bahasa Inggris. | Speaking anxiety is a common issue experienced by students in English as a Foreign Language (EFL) classrooms and may influence their speaking performance, particularly at the junior high school level. This study aimed to examine the correlation between students’ speaking anxiety and their speaking test results among eighth-grade students at SMP Diponegoro 3 Kedungbanteng in the academic year 2024/2025. A quantitative correlational research design was employed in this study. The participants consisted of 22 eighth-grade students selected through total sampling. The data were collected using the Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS) questionnaire to measure students’ speaking anxiety and speaking test scores obtained from regular classroom assessments to measure speaking performance. The data were analyzed using SPSS version 27. The normality test results showed that both variables were normally distributed; therefore, the Pearson Product-Moment Correlation test was applied. The findings revealed a very strong negative correlation between students’ speaking anxiety and their speaking test results (r = –0.973, p < 0.001). This indicates that higher levels of speaking anxiety were associated with lower speaking test scores, while lower anxiety levels were related to better speaking performance. Based on these findings, it can be concluded that speaking anxiety has a significant influence on students’ speaking performance. Therefore, creating a supportive and anxiety-reducing learning environment is essential to help students improve their English-speaking skills. | |
| 47934 | 51327 | C2C024008 | THE INFLUENCE OF TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP AND DIGITAL WORK COMPETENCE ON EMPLOYEE AGILITY: THE MEDIATING ROLE OF INNOVATIVE WORK BEHAVIOR | Studi ini meneliti pengaruh kepemimpinan transformasional dan kompetensi kerja digital terhadap kelincahan karyawan melalui peran mediasi perilaku kerja inovatif di kalangan pegawai lembaga pemasyarakatan di Jawa Tengah. Dalam lingkungan kerja yang berubah dengan cepat, kelincahan menjadi sangat penting, terutama di lembaga sektor publik yang bercirikan prosedur yang kaku dan otonomi yang terbatas. Berdasarkan Teori Penyesuaian Kerja (P–E Fit), studi ini berpendapat bahwa kepemimpinan dan kompetensi digital mungkin tidak secara langsung meningkatkan kelincahan tanpa adanya mekanisme perilaku inovatif. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan SEM–PLS dengan SmartPLS 4.0, data dikumpulkan dari 50 petugas lembaga pemasyarakatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi kerja digital dan kepemimpinan transformasional tidak memiliki pengaruh signifikan langsung terhadap kelincahan karyawan. Sebaliknya, kedua variabel tersebut secara signifikan memengaruhi perilaku kerja inovatif, yang sangat memprediksi kelincahan karyawan. Analisis mediasi lebih lanjut menunjukkan bahwa perilaku kerja inovatif memberikan mediasi penuh dalam hubungan antara kepemimpinan transformasional dan kelincahan karyawan, serta antara kompetensi kerja digital dan kelincahan karyawan. Temuan ini menggarisbawahi bahwa inovasi di tingkat individu merupakan jalur penting untuk mengembangkan karyawan yang lincah di lingkungan birokrasi. Studi ini berkontribusi dengan menyoroti inovasi sebagai mekanisme perilaku yang menghubungkan kepemimpinan dan kompetensi dengan kelincahan dan menawarkan wawasan praktis untuk mendorong tenaga kerja sektor publik yang adaptif. | This study examines the influence of transformational leadership and digital work competence on employee agility through the mediating role of innovative work behavior among correctional institution employees in Central Java. In rapidly changing work environments, agility has become essential, particularly in public sector institutions characterized by rigid procedures and limited autonomy. Grounded in Work Adjustment Theory (P–E Fit), this study argues that leadership and digital competence may not directly enhance agility without the presence of innovative behavioral mechanisms. Using a quantitative approach and SEM–PLS with SmartPLS 4.0, data were collected from 50 correctional officers. The results reveal that digital work competence and transformational leadership do not have a direct significant effect on employee agility. Instead, both variables significantly influence innovative work behavior, which strongly predicts employee agility. Mediation analysis further shows that innovative work behavior provides full mediation in the relationships between transformational leadership and employee agility, as well as between digital work competence and employee agility. These findings underscore that innovation at the individual level is a critical pathway for developing agile employees in bureaucratic environments. The study contributes by highlighting innovation as a behavioral mechanism linking leadership and competence to agility and offers practical insights for fostering adaptive public-sector workforces. | |
| 47935 | 51325 | I1J022004 | Overview of Knowledge and Skills in Hands-Only Cardiopulmonary Resuscitations (CPR) First Aid Members of The Limpakuwus Pine Forest Tourism Cooperation | Latar Belakang : Henti jantung mendadak adalah kondisi darurat yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di kawasan wisata yang memiliki aktivitas fisik pengunjung yang relatif tinggi. Resusitasi Jantung Paru (Hands-Only CPR) adalah salah satu tindakan pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum untuk meningkatkan peluang bertahan hidup korban sebelum bantuan medis lanjutan tiba. Metodologi : Studi ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari 45 anggota Koperasi Pariwisata Hutan Pinus Limpakuwus, dengan ukuran sampel 30 responden yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi pada November–Desember 2025. Alat penelitian meliputi kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan tentang Hands-Only CPR dan lembar observasi keterampilan CPR Tanpa Alat melalui simulasi menggunakan manikin. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang Hands-Only CPR sebagian besar berada dalam kategori memadai (46,7%), diikuti oleh baik (30,0%) dan kurang (23,3%). Tingkat keterampilan Hands-Only CPR responden didominasi oleh kategori keterampilan sedang (53,3%), diikuti oleh kurang terampil (26,7%) dan terampil (20,0%). Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar responden mampu melakukan tahap awal dan mengaktifkan bantuan dengan baik, namun masih terdapat keterbatasan dalam aspek teknis kompresi dada, seperti posisi tubuh penolong, penempatan tangan, rebound dada, dan evaluasi korban. Kesimpulan : Anggota Koperasi Pariwisata Hutan Pinus Limpakuwus memiliki pengetahuan dasar tentang CPR Tanpa Alat, namun keterampilan praktis mereka belum sepenuhnya mencapai tingkat kompetensi optimal untuk pelaksanaan CPR yang efektif. Keywords: Hands-Only CPR, Henti Jantung Mendadak, Keterampilan, Koperasi Wisata, Pengetahuan. | Latar Belakang : Henti jantung mendadak adalah kondisi darurat yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di kawasan wisata yang memiliki aktivitas fisik pengunjung yang relatif tinggi. Resusitasi Jantung Paru (Hands-Only CPR) adalah salah satu tindakan pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum untuk meningkatkan peluang bertahan hidup korban sebelum bantuan medis lanjutan tiba. Metodologi : Studi ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari 45 anggota Koperasi Pariwisata Hutan Pinus Limpakuwus, dengan ukuran sampel 30 responden yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi pada November–Desember 2025. Alat penelitian meliputi kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan tentang Hands-Only CPR dan lembar observasi keterampilan CPR Tanpa Alat melalui simulasi menggunakan manikin. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang Hands-Only CPR sebagian besar berada dalam kategori memadai (46,7%), diikuti oleh baik (30,0%) dan kurang (23,3%). Tingkat keterampilan Hands-Only CPR responden didominasi oleh kategori keterampilan sedang (53,3%), diikuti oleh kurang terampil (26,7%) dan terampil (20,0%). Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar responden mampu melakukan tahap awal dan mengaktifkan bantuan dengan baik, namun masih terdapat keterbatasan dalam aspek teknis kompresi dada, seperti posisi tubuh penolong, penempatan tangan, rebound dada, dan evaluasi korban. Kesimpulan : Anggota Koperasi Pariwisata Hutan Pinus Limpakuwus memiliki pengetahuan dasar tentang CPR Tanpa Alat, namun keterampilan praktis mereka belum sepenuhnya mencapai tingkat kompetensi optimal untuk pelaksanaan CPR yang efektif. Keywords: Hands-Only CPR, Henti Jantung Mendadak, Keterampilan, Koperasi Wisata, Pengetahuan. | |
| 47936 | 51320 | H1D022016 | IMPLEMENTASI RETRIEVAL-AUGMENTED GENERATION PADA ASISTEN VIRTUAL UNTUK PENINGKATAN LAYANAN INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN WEBSITE SIWUR BERBASIS TALL STACK | Di era digital, kebutuhan pengguna terhadap akses informasi yang cepat, relevan, dan terpercaya melalui website semakin meningkat, namun metode konvensional seperti Frequently Asked Questions (FAQ) statis dan pencarian berbasis kata kunci seringkali belum mampu menjawab pertanyaan kompleks secara efisien; untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan implementasi asisten virtual berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG) pada website Siwur yang dikembangkan menggunakan TALL Stack (Tailwind CSS, Alpine.js, Laravel, Livewire), di mana RAG dipilih karena mampu menggabungkan kekuatan pencarian berbasis basis pengetahuan terkurasi dengan kemampuan generatif Large Language Model (LLM) sehingga jawaban yang dihasilkan lebih relevan, kontekstual, dan dapat dipertanggungjawabkan; sistem kecerdasan buatan dibangun sebagai layanan backend terpisah menggunakan FastAPI (Python), dengan Google Gemini Flash 2.0 sebagai LLM, ChromaDB sebagai vector store, dan Sentence-Transformers untuk embedding, sementara metode penelitian yang digunakan adalah Rapid Application Development (RAD) yang menekankan iterasi cepat dan keterlibatan pengguna; evaluasi kinerja dilakukan secara kuantitatif menggunakan kerangka kerja RAGAS (Retrieval-Augmented Generation Assessment) dan secara kualitatif melalui User Acceptance Test (UAT), di mana hasil evaluasi RAGAS menunjukkan nilai Faithfulness sebesar 0.7401 dan Answer Relevancy sebesar 0.8053 yang mengindikasikan bahwa sistem mampu menghasilkan jawaban yang faktual dan relevan, sedangkan nilai Context Precision sebesar 0.4279 dan Context Recall sebesar 0.4624 menunjukkan kemampuan sistem dalam mengambil konteks yang cukup relevan, serta pengujian UAT menghasilkan skor rata-rata 83% dengan kategori “Sangat Baik”, yang menegaskan bahwa integrasi RAG pada asisten virtual Siwur dapat meningkatkan kualitas layanan informasi, mengurangi halusinasi jawaban, dan dapat diterima dengan baik oleh pengguna untuk mendukung operasional toko. | In the digital era, users’ demand for fast, relevant, and trustworthy access to information through websites has increased significantly; however, conventional methods such as static Frequently Asked Questions (FAQ) and keyword-based search often fail to efficiently address complex queries. To address this challenge, this study proposes the implementation of a Retrieval-Augmented Generation (RAG)-based virtual assistant on the Siwur website, developed using the TALL Stack (Tailwind CSS, Alpine.js, Laravel, and Livewire). RAG is chosen for its ability to combine curated knowledge-base retrieval with the generative capabilities of a Large Language Model (LLM), enabling more relevant, contextual, and accountable responses. The artificial intelligence system is built as a separate backend service using FastAPI (Python), with Google Gemini Flash 2.0 as the LLM, ChromaDB as the vector store, and Sentence-Transformers for embeddings, while the research methodology adopts Rapid Application Development (RAD), emphasizing rapid iteration and user involvement. Performance evaluation is conducted quantitatively using the RAGAS (Retrieval-Augmented Generation Assessment) framework and qualitatively through a User Acceptance Test (UAT). The RAGAS results show a Faithfulness score of 0.7401 and an Answer Relevancy score of 0.8053, indicating that the system is capable of producing factual and relevant answers, while Context Precision 0.4279 and Context Recall 0.4624 reflect the system’s ability to retrieve sufficiently relevant context. Furthermore, the UAT yields an average score of 83% in the “Very Good” category, confirming that the integration of RAG into the Siwur virtual assistant enhances the quality of information services, reduces answer hallucination, and is well accepted by users in supporting store operations. | |
| 47937 | 51328 | I1B022049 | Hubungan Tingkat Pengetahuan Petani tentang Posisi Kerja Ergonomis dengan Kejadian Musculoskeletal Disorders (MSD's) | Latar Belakang: Petani merupakan pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik berat dalam durasi yang panjang dengan melibatkan posisi tidak ergonomis. Posisi yang tidak ergonomis mampu menimbulkan masalah kesehatan, salah satunya musculoskeletal disorders. Masalah kesehatan ini mampu memengaruhi produktivitas petani sehingga penerapan posisi kerja ergonomis adalah hal yang penting untuk diterapkan dalam aktivitas pertanian. Penerapan posisi kerja ergonomis saat bekerja dapat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang berperan dalam membentuk sikap dan perilaku kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan petani tentang posisi kerja ergonomis dengan kejadian musculoskeletal disorders. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode studi kuantitatif one group dengan pendekatan cross sectional dengan analisis korelasional Spearman rank. Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling dengan jumlah responden 131 petani. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan ergonomis dan Nordic Body Map. Hasil Penelitian:Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,6% petani memiliki tingkat pengetahuan sedang dan 80,9% mengalami MSDs dengan kategori rendah. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan ditandai dengan nilai p=0,046 dan nilai r=-0,175. Kesimpulan: Semakin tinggi tingkat pengetahuan petani tentang posisi kerja ergonomis maka tingkat MSDs yang dialami akan semakin rendah. Sehingga diperlukan tindakan intervensi berupa edukasi sebagai upaya peningkatan tingkat pengetahuan untuk menurunkan tingkat MSDs pada petani. Kata kunci: ergonomis, musculoskeletal_disorders, pengetahuan, petani | Background: Farming is an occupation that involves heavy physical activities over long durations and is often performed in non ergonomic working postures. Non ergonomic working positions can lead to health problems, one of which is musculoskeletal disorders (MSDs). These conditions can affect farmers’ productivity, therefore the application of ergonomic working postures is essential in agricultural activities. The implementation of ergonomic working postures may be influenced by the level of knowledge, which plays an important role in shaping work attitudes and behaviors. This study aims to determine the relationship between farmers’ level of knowledge about ergonomic working postures and the occurrence of musculoskeletal disorders.. Methodology: This study used a one gorup quantitative study method and cross sectional with Spearman's rank correlation analysis. The sampling technique used was convenience sampling with 131 farmer respondents. Data were collected using an ergonomic knowledge level questionnaire and the Nordic Body Map. Research Results: The results showed that 46.6% of farmers had a moderate level of knowledge and 80.9% experienced low-level MSDs. The analysis results showed that the two variables had a significant relationship, indicated by a p-value=0,046 and an r-value=-0,175. Conclusion: The higher the farmers' level of knowledge about ergonomic work positions, the lower the level of MSDs experienced. Therefore, intervention in the form of education is needed as an effort to increase knowledge levels to reduce the level of MSDs among farmers. Keywords: ergonomics, farmers,knowledge, musculoskeletal_disorders | |
| 47938 | 51329 | I1B022040 | Pengaruh Penggunaan Gadget Pada Sosial Emosional Remaja: A Literature Review | Latar Belakang: Remaja usia 10–19 tahun berada pada masa transisi yang ditandai perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional, serta memiliki rasa ingin tahu tinggi yang mendorong penggunaan gadget sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Meskipun gadget bermanfaat sebagai sarana komunikasi, hiburan, dan akses informasi, penggunaan yang berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental dan perkembangan sosial emosional remaja, seperti perubahan emosi dan menurunnya interaksi sosial. Oleh karena itu, remaja sebagai kelompok yang rentan memerlukan perhatian khusus melalui kajian literatur terkait pengaruh penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial emosional di Indonesia. Tujuan: Menilai kualitas artikel secara sistematis dan mensintesis artikel terkait pengaruh penggunaan gadget pada sosial emosional remaja. Metode: Literature review ini menggunakan artikel yang dipublikasikan dari tahun 2015-2025 dengan bersumber databased Pubmed dan Google scholar. Kata kunci yang digunakan adalah penggunaan gadget dan Sosial emosional remaja. Seleksi artikel mengikuti alur PRISMA. Penilaian kualitas artikel dilakukan penulis dengan menggunakan instrumen dari The Joanna Brigs Institute. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan berkaitan dengan peningkatan masalah sosial emosional, seperti penurunan kemampuan interaksi sosial, empati, dan regulasi emosi serta meningkatkan kecenderungan isolasi sosial dan masalah perilaku. Namun, penggunaan gadget yang terkontrol dan edukatif dapat memberikan dampak positif. Kesimpulan: Penggunaan gadget memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan sosial emosional remaja, baik secara positif maupun negatif tergantung pada durasi, tujuan, dan pada penggunaannya. Oleh karena itu, diperlukan peran orang tua, pendidik, dan lain-lain untuk mengarahkan ke arah yang lebih positif Kata kunci: Penggunaan gadget, remaja, sosial emosional. | Background: Adolescents aged 10–19 years are in a transitional period marked by biological, cognitive, and social-emotional changes, accompanied by high curiosity that encourages gadget use as part of daily life. Although gadgets are beneficial for communication, entertainment, and access to information, excessive use may have negative impacts on mental health and adolescents’ social-emotional development, such as emotional changes and reduced social interaction. Therefore, adolescents as a vulnerable group require special attention through a literature review examining the effects of gadget use on social-emotional development in Indonesia. Objective: To systematically assess the quality of articles and synthesize evidence related to the effects of gadget use on adolescents’ social-emotional development. Methods: This literature review included articles published between 2017 and 2025, sourced from the PubMed and Google Scholar databases. The keywords used were gadget use and adolescents’ social-emotional development. Article selection followed the PRISMA flowchart. The quality of the articles was assessed by the authors using the Joanna Briggs Institute (JBI) appraisal tools. Results: The results of the review indicate that excessive gadget use is associated with an increase in socio-emotional problems, such as decreased social interaction skills, empathy, and emotional regulation, as well as a higher tendency toward social isolation and behavioral problems. However, controlled and educational use of gadgets can have positive effects. Conclusion: Gadget use has a significant impact on adolescents’ social and emotional development, both positively and negatively, depending on the duration, purpose, and manner of use. Therefore, the role of parents, educators, and other relevant parties is essential in guiding gadget use toward more positive outcomes. Keywords: Adolescents, gadget use, social-emotional. | |
| 47939 | 51330 | I1B022045 | Gambaran Praktik MPASI dan Status Gizi Anak pada Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga | Latar Belakang: Prevalensi masalah gizi pada anak usia 6-24 bulan saat ini masih tinggi. Masalah gizi pada anak salah satunya disebabkan praktik pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang belum sesuai rekomendasi Kemenkes. Pekerjaan ibu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi belum optimalnya praktik pemberian MPASI. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pemberian MPASI dan status gizi anak usia 6-24 bulan pada ibu bekerja dan ibu rumah tangga (IRT). Metodologi Penelitian: Penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.Teknik sampling yang digunakan yaitu convenience sampling dengan jumlah sampel sebanyak 103 ibu. Pengambilan data menggunakan kuesioner praktik pemberian MPASI dan standar antropometri berdasarkan z-score BB/PB. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar praktik pemberian MPASI pada ibu bekerja (57,9%) dan IRT (60,7%) termasuk dalam kategori cukup. Adapun status gizi anak pada ibu bekerja (89,5%) dan IRT (89,3%) sebagian besar memiliki status gizi baik/normal. Kesimpulan: Praktik pemberian MPASI pada ibu bekerja dan IRT mayoritas masuk kategori cukup dengan status gizi anak baik/normal. Penguatan edukasi terkait prinsip pemberian MPASI dan perancangan strategi menu MPASI praktis padat nutrisi diperlukan untuk meningkatkan praktik pemberian MPASI dan menurunkan masalah gizi yang masih ditemui di Kelurahan Arcawinangun. | Background: The prevalence of nutritional problems in children aged 6-24 months remains high. One contributing factor is suboptimal complementary feeding (MPASI) practices that do not align with Ministry of Health recommendations. Maternal occupation is a significant factor influencing these practices. This study aims to describe MPASI practices and the nutritional status of children aged 6-24 months among working mothers and housewives. Methodology: This descriptive quantitative study employed a cross-sectional design. Convenience sampling was used, with a sample size of 103 mothers. Data were collected using an MPASI practice questionnaire and standard anthropometric measurements based on the Height-for-Weight (H/W) Z-score. Results: The study found that the majority of MPASI practices among working mothers (57,9%) and housewives (60,7%) were categorized as moderate. Regarding nutritional status, the majority of children of working mothers (89,5%) and housewives (89,3%) had good nutritional status. Conclusion: MPASI practices among both working mothers and housewives are predominantly moderate, with the majority of children exhibiting good/normal nutritional status. Strengthening education on MPASI principles and designing practical, nutrient-dense feeding strategies are necessary to improve MPASI practices and reduce the persisting nutritional problems in Arcawinangun Village. | |
| 47940 | 51331 | I1B022008 | Hubungan Self-Efficacy dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak Menular pada Remaja. | Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok rentan terhadap penyakit tidak menular (PTM) akibat perubahan pola hidup. Self-efficacy berperan penting dalam membentuk peran perilaku pencegahan PTM, namun tingkat self-efficacy diremaja Indonesia masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan perilaku pencegahan PTM pada remaja di SMK Mulya Husada Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 202 siswa yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Instrumen pengumpulan data mencakup kuesioner Self-Efficacy dan Health Promoting Lifestyle Profile II (HPLP-II). Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Pearson Product Moment. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara self-efficacy dengan perilaku pencegahan penyakit tidak menular pada remaja (p-value = 0,001) dengan kekuatan hubungan kuat ke arah positif (r = 0,652). Skor self-efficacy responden cukup baik 70,76 (SD = 18,778) dan skor perilaku pencegahan PTM dalam kategori baik 133,20 (SD = 19,829). Kesimpulan: Semakin tinggi self-efficacy maka, semakin tinggi perilaku pencegahan PTM pada remaja. | Background:. Adolescents are a vulnerable group for non-communicable diseases (NCDs) due to lifestyle changes. Self-efficacy plays an essential role in shaping preventive health behaviors; however, the level of self-efficacy among Indonesian adolescents remains relatively low. This study aims to examine the relationship between self-efficacy and NCD preventive behaviors among adolescents at SMK Mulya Husada Purwokerto. Methods:. This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 202 students selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected using the Self-Efficacy questionnaire and the Health Promoting Lifestyle Profile II (HPLP-II). The relationship between variables was analyzed using Pearson Product Moment test. Results:. The findings revealed a significant relationship between self-efficacy and NCD preventive behaviors among adolescents (p-value = 0,001), with a strong positive correlation (r = 0,652). The self-efficacy score of the respondents was categorized as fairly good (mean = 70.76; SD = 18.778), while their NCD preventive behavior score was categorized as good (mean = 133.20; SD = 19.829). Conclusion: Higher levels of self-efficacy are associated with better NCD preventive behaviors among adolescents. |